Anda di halaman 1dari 9

REVIEW MATERI DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN

PHT

REVIEW MATERI DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN “ PHT ” Disusun oleh Nama : Muhammad Khairi NIM :

Disusun oleh

Nama

: Muhammad Khairi

NIM

: 145040101111163

Kelas

: F

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015

Prinsip pengendalian OPT Terpadu (PHT). PHT dapat dilakukan dengan cara

Mekanik, pengendalian yang dilakukan secara manual

Fisik, membunuh organisme pengganggu dengan cara mengatur faktor-faktor fisik yang mempengaruhi perkembangan hama.

Hayati, memanfaatkan peranan agens hayati seperti predator dan patogen

Kimiawi, merupakan alternatif terakhir, dengan mempertimbangkan ambang ekonomi

Kultur teknis, dengan penanaman varietas toleran, pengaturan jarak tanam, pengaturan drainase, pemupukan berimbang, penjarangan buah, dll

1. Pengendalian Mekanik

Pengendalian mekanik mencakup usaha untuk menghilangkan secara langsung hama serangga yang menyerang tanaman. Pengendalian mekanis ini biasanya bersifat manual. Mengambil hama yang sedang menyerang dengan tangan secara langsung atau dengan melibatkan tenaga manusia telah banyak dilakukan oleh banyak negara pada permulaan abad ini. Cara pengendalian hama ini sampai sekarang masih banyak dilakukan di daerah-daerah yang upah tenaga kerjanya masih relatif murah. Contoh pengendalian mekanis yang dilakukan di Australia adalah mengambil ulat-ulat atau siput secara langsung yang sedang menyerang tanaman kubis. Pengendalian mekanis juga telah lama dilakukan di Indonesia terutama terhadap ulat pucuk daun tembakau oleh Helicoverpa sp. Untuk mengendalikan hama ini para petani pada pagi hari turun ke sawah untuk mengambil dan mengumpulkan ulat-ulat yang berada di pucuk tembakau. Ulat yang telah terkumpul itu kemudian dibakar atau dimusnahkan.

2. Pengendalian Fisik

Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengatur faktor-faktor fisik yang dapat mempengaruhi perkembangan hama, sehingga memberi kondisi tertentu yang menyebabkan hama sukar untuk hidup.Bahan-bahan simpanan sering diperlakukan dengan pemanasan (pengeringan) atau pendinginan. Cara ini dimaksudkan untuk membunuh atau menurunkan populasi hama sehingga dapat mencegah terjadinya peledakan hama. Bahan-bahan tersebut biasanya disimpan di tempat yang kedap udara sehingga serangga yang bearada di dalamnya dapat mati lemas oleh karena CO2 dan nitrogen. Pengolahan tanah dan pengairan dapat pula dimasukkan dalam pengendalian fisik;karena cara-cara tersebut dapat menyebabkan kondisi tertentu yang tidak cocok bagi pertumbuhan serangga. Untuk mengendalikan nematoda dapat dilakukan dengan

penggenangan karena tanah yang mengandung banyak air akan mendesak oksigen keluar dari partikel tanah. Dengan hilangnya kandungan O2 dalam tanah, nematoda tidak dapat hidup lebih lama.

3. Pengendalian Hayati

Pengendalian hayati adalah pengendalian hama dengan menggunakan jenis organisme hidup lain (predator, parasitoid, pathogen) yang mampu menyerang hama. Di suatu daerah hampir semua serangga dan tunggau mempunyai sejumlah musuh-musuh alami. Tersedianya banyak makanan dan tidak adanya agen-agen pengendali alami akan menyebabkan meningkatnya populasi hama. Populasi hama ini dapat pula meningkat akibat penggunaan bahan-bahan kimia yang tidak tepat sehingga dapat membunuh musuh-musuh alaminya.

Sebagai contoh, meningkatnya populasi tunggau di Australia diakibatkan meningkatnya penggunaan DDT.

4. Pengendalian Hama dan Penyakit Secara Kimiawi

Pengendalian dengan cara ini merupakan pengendalian yang biasanya dilakukan sebagai alternatif terakhir. Karena kebanyakan masing menggunakan bahan kimia sintetik yang membahayakan. Akan tetapi pada dasarnya penggunaan bahan kimia untuk pengendalian OPT tidak serta merta membasmi keseluruhan opt dengan membunuhnya. Bahan kimia yang banyak dikenal untuk melakukan pemberantasan hama adalah pestisida. Di bidang pertanian penggunhaan pestisida mampu menekan kehilangan hasil tanaman akibat serangan hama dan penyakit yang memungkinkan peningkatan produksi pertanian dapat dicapai.

5. Pengendalian Secara Kultur Teknik (Cultural Control)

Pada prinsipnya yang termasuk dalam pengendalian secara kultur teknik adalah cara- cara pengendalian dengan memanfaatkan lingkungan untuk menekan perkembangan populasi hama. Termasuk dalam cara ini adalah :

Pengolahan Tanah Pengolahan tanah setelah panen menyebabkan larva-larva hama yang hidup di dalam tanah akan mati terkena alat-alat pengolahan. Di samping itu akibat lain dari pengolahan tanah ini akan menaikkan larva dan telur dari dalam tanah ke permukaan tanah. Dengan demikian larva-larva yang terdapat permukaan tanah akan memberikan kesempatan pada burung untuk memangsanya. Sedangkan telur-telurnya yang terdapat pada permukaan tanah terkean sinar

matahari secara langsung sehinga keadaan T dan H berbeda dengan keadaan semula dan mengakibatkan telur tidak menetas.

Sanitasi Dengan membersihkan tempat-tempat yang kemungkinan dignakan oleh serangga untuk berbiak, berlindung, menyembunyikan diri atau berdiapause, maka perkembangan serangga hama dapat dicegah, walang sangit akan lebih cepat berbiak bila sanitasi lingkungannya kurang baik.

Pemupukan . Penggunaan pupuk, menjadikan tanaman sehat dan lebih mudah mentolrir serangga hama. Pemupukan pada tanaman padi mengakibatkan tanaman lebih cepat membentuk anakan sehingga adanya serangga hama sundep dapat ditolerir oleh tumbuhnya anakan. Contoh, Uret pada ketela pohon menyerang akar, dengan pemupukan akar akan segera terbentuk kembali.Agromiza sp menyerang batang kedelai, dengan pemupukan yangh baik maka akan mempercepat pertumbuhasn tunas-tunas cabang.

Irigasi Pengelolaan air dapat menghambat perkembangan hama tertentu. Akan tetapi bila cara pengelolaan air kurang tepat dapat menyebabkan meningkatnya perkembangan populasi hama. Penggenangan pada sawah-sawah setelah panen selama kurang lebih 5 hari merupakan cara yang baik untuk memberentas larva maupun pupa penggerek batang padi. Penggenangan pada areal bekas pertanaman ketela pohon dapat membunuh uret.

Strip Farming Yaitu bercocok tanam menurut jalur-alur memanjang. Bercocok tanaman monokultur akanmemudahkan tanaman terserang hama. Serangan dari hama-hama tertentu dapat diatasi dengan cara : Catch crop” yaitu bercocok tanam secara berselang seling antara tanaman yang berumur panjang dengan tanaman yang berumur pendek. Cara pengendalian seperti ini sering dilakukan bersama cara pengendalian yang lain. Sebagai contoh yaitu pemberantasan walang sangit.

Rotasi Tanaman Menanam tanaman yanmg berbeda-beda jenisnya dalam satu tahun dapat memutus /meotong siklus atau daun hidup hama terutama hama-hama yang sifatnya monofagus. Contoh : Hama Sundep. Hama ini menyukaitanaman padi, maka dengan menanam tanaman palawija, setelah padi maka serangan hama ini akan berkurang.

Pengaturan waktu tanam. Penggeseran waktu tanam dapat mengurangi serangan hama-hama tertentu Sebagai contoh hama sundep. Hama sundep pada musim kemarau berdaiapause dalam tanah kemudian menjadi kupu dan bertelur. Kupu bertelur setelah penerbangan pertama dan biasanya meletakkan telurnya pada tanaman pembibitan yang berumur dua minggu. Penggeseran waktu tanam menyebabkan kupu tidak dapat bertelur pada waktunya (pada saat akan bertelur tidak terdapat tanaman yang berumur dua minggu).

6. Pengendalian Dengan Tanaman Tahan Hama Menurut Painter yang dimaksud dengan tanaman tahan hama adalah tanaman yang mempunyai turunan yang kualtas atau sifatnya menyebabkan tanaman mampu menyembuhkan diri terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh serangan hama.

Keuntungan penggunaan varitas /tanaman tahan antara lain :

Sangat mudah dilakukan dengan biaya yang minimal

Tekniknya sederhana sehingga mudah dilakukan oleh petani

Persisten (sifat pengendaliannya tetap dalam jangka waktu yang lama)

Sifatnya spesifik (mengarah pada satu macam hama)

Komulatif, yaitu pengaruh sekarang dan berikutnya akan menurunkan populasi hama

Serasi terhadap lingkngan, artinya tidak menghasilkan residu terhadap lingkungan.

Compatibel dengan cara pengendalian lainnya

Kelemahannya :

Memerlukan tenaga dan waktu yang banyak untuk pengembangannya

Timbulnya biotipe yaitu strain baru yang biasa menyesuaikan diri pada tanaman yang tadinya tidak disukai.

Keterbatasan dari sumber genetiknya

Sifat-sifat ketahanannya yang bertentangan, artinya tanaman unggul terhadap hama tertentu tetapi peka terhadap hama lainnya.

Sifat-sifat ketahanan datangnya dari sifat morfologi, biokmia, biofisik atau perilau dari hama. Untuk memperoleh tanaman tahan hama bukan merupakan suatu hal yang mudah dan cepat, dibutuhkan pengetahuan yang luas mengenai morfologi, fisiologi, genetika tanaman, perilaku serangga dan pengetahuan lainnya. Oleh karena banyak faktor probabiltas yang

berpengaruh terhadap program pemuliaan, maka untuk mendapatkan varitas baru yang dijamin kelanggengan sifatnya, diperlukan waktu yang cukup lama 6-10 tahun

Taktik PHT

Menurut Chairudin (2011), Adapun beberapa taktik dasar PHT antara lain :

a) Memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut (indigenous),

b) Mengoptimalkan pengelolaan lingkungan melalui penerapan kultur teknik yang baik,

c) Penggunaan pestisida yang selektif sebagai alternatif pengendalian terakhir. Taktik penerapan PHT suatu cara penerapan pengendalian OPT agar memenuhi asas

ekologi yaitu tidak berdampak negatif pada agroekosistem dan azas ekonomi yaitu menguntungkan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Taktik-taktik tersebut yaitu :

a. Pemanfatan proses pengendali alami dengan mengurangi tindakan-tindakan yang merugikan atau mematikan perkembangan musuh alami.

b. Pengelolaan ekosistem melalui usaha bercocok tanam yang bertujuan agar lingkungan tanaman kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangbiakan atau pertumbuhan OPT serta mendorong berfungsinya agen pengendali alami/hayati.

c. Pengendalian fisik dan mekanis untuk menekan/mengurangi populasi OPT/kerusakan, mengganggu aktivitas fisiologis OPT yang normal, dan mengubah lingkungan fisik menjadi

kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangan OPT.

d. Penggunaan pestisida secara selektif untuk mengembalikan populasi OPT pada aras keseimbangannya. Selektivitas pestisida berdasarkan pada sifat fisiologis, ekologis dan cara aplikasi. Keputusan tentang penggunaan pestisida dilakukan setelah dilakukan analisis ekosistem terhadap hasil pengamatan dan ketetapan ambang ekonomi/pengendalian. Pestisida yang digunakan harus yang efektif, terdaftar dan diizinkan.

e. Prinsip Penerapan Ada 4 (empat) prinsip penerapan PHT, yaitu :

1. Budidaya tanaman sehat merupakan prinsip penting penerapan PHT dengan menggunakan praket teknologi produksi dan praktek agronomis, untuk mewujudkan tanaman sehat. 2. Pelestarian dan pendayagunaan musuh alami melalui pengelolaan dan pelestarian faktor biotik (pengendali alami) dan abiotik (iklim dan cuaca) agar mampu berperan secara maksimal dalam pengendalian populasi dan penekanan tingkat serangan OPT.

3.

Pengamatan mingguan secara teratur, yaitu pemantauan hasil interaksi faktor biotik dan abiotik dan menimbulkan serangan OPT. Kegiatan pemantauan merupakan kegiatan penting yang mendasari pengambilan keputusan pengendalian.

4. Petani berkemampuan melaksanakan dan ahli PHT, Petani sebagai ahli PHT merupakan tujuan penerapan agar petani memiliki kemampuan dan kemauan untuk menetapkan tindakan pengendalian sesuai prinsip PHT dan berdasarkan hasil pengamatan. Upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petani adalah latihan dan pemberdayaan petani.

Sasaran dan Strategi Pengembangan PHT Menurut Smith dan Apple (1978), dalam Lissa (2012) langkah-langkah pokok yang perlu dikerjakan dalam pengembangan PHT adalah:

Mengenal status hama yang dikelola, Pengenalannya meliputi perilaku hama, dinamika

perkembangan populasi, tingkat kesukaan makanan, dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya. Dalam suatu agroekosistem, kelompok hama dikategorikan atas hama utama, hama minor, hama potensil, hama migran, dan bukan hama.

Mempelajari komponen saling ketergantungan dalam ekosistem. Salah satu komponen

ekosistem yang perlu ditelaah dan dipelajari adalah yang mempengaruhi dinamika perkembangan populasi hama-hama utama. Contohnya adalah menginventarisir musuh- musuh alami, sekaligus mengetahui potensi musuh alami sebagai pengendali alami. Interaksi berbagai komponen biotik dan abiotik, dinamika populasi hama dan musuh alami, studi fenologi tanaman dan hama, studi sebaran hama merupakan komponen yang sangat diperlukan dalam menetapkan strategi pengendalian hama yang tepat. Penetapan dan pengembangan Ambang Ekonomi. Ambang ekonomi atau ambang

pengendalian merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus dilaksanakan penggunaan pestisida sebagi alternatif terakhir pengendalian. Untuk menetapkan ambang ekonomi dibutuhkan banyak informasi data biologi, ekologi serta ekonomi. Penetapan kerusakan / kerugian produksi dan hubungannya dengan populasi hama, analisis biaya dan manfaat penggendalian merupakan bagian yang penting dalam penetapkan ambang ekonomi.

Pengembangan sistem pengamatan dan monitoring hama. Pengamatan atau monitoring hama secara rutin dan terorganisasi dengan baik diperlukan untuk mengetahui kepadatan populasi hama pada suatu waktu dan tempat. Metode pengambilan sampel di lapang dilakukan secara benar agar data yang diperoleh dapat dipercaya secara statistik. Disamping

itu jaringan dan organisasi monitoring juga perlu dikembangkan agar dapat menjamin ketepatan dan kecepatan arus informasi dari lapangan ke pihak pengambil keputusan pengendalian hama.

Pengembangan model diskriptif dan peramalan hama. Pengetahuan akan gejolak populasi hama dan hubungannya dengan komponen-komponen ekosistem mendorong perlu dikembangkannya model kuantitatif yang dinamis. Dimana model tersebut menggambarkan gejolak populasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada waktu yang akan datang. Sehingga, dinamika populasi hama dapat diperkirakan sekaligus dapat memberikan pertimbangan bagaimana penanganan pengendalian agar tidak sampai terjadi ledakan populasi yang merugikan secara ekonomi.

Pengembangan strategi pengelolaan hama. Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkoordinasi. Strategi PHT mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada dibawah ambang ekonomi. Srategi pengelolaan hama berdasarkan PHT, menempatkan pestisida sebagai alternatif terakhir.

Penyuluhan kepada petani agar menerima dan menerapkan PHT. Petani sebagai pelaksana utama pengendalaian hama, perlu menyadari dan mengerti tentang cara PHT dan penerapannya di lapangan.

Pengembangan organisasi PHT. Sistem PHT mengharuskan adanya suatu organisasi yang efisien dan efektif, yang dapat bekerja secara cepat dan tepat dalam menanggapi setiap perubahan yang terjadi pada agroekosistem. Organisasi PHT tersusun oleh komponen monitoring, pengambil keputusan, program tindakan, dan penyuluhan pada petani. Organisasi tersebut merupakan suatu organisasi yang mampu menyelesaikan permasalahan hama secara mandiri.

Chairudin.

2011.

Langkah

DAFTAR PUSTAKA

Operasional

Pengendalian

Penyakit

tanaman.

Online.

http://abimuja.blogspot.com/2011/10/normal-0-false-false-false.html

Smith, R.F and J.L. Apple. 1978. Principles of Integrated Pest Control. IRRI Mimeograph.

Lissa. 2012. Pengendalian HAMA dan PENYAKIT secara TERPADU (PHT).http://lissa-

blogku.blogspot.com/2012/02/pengendalian-hama-terpadu-pht.html.