Anda di halaman 1dari 3

Teori Tindakan Sosial Menurut Max Weber

October 24, 2014

Filled under Sosiologi

No Comments

Teori Tindakan Sosial Menurut Max Weber - Eksemplar paradigma definisi sosial ini salah satu aspeknya
yang sangat khusus adalah dari karya Max Weber yakni, mengartikan sosiologi sebagai studi tentang
tindakan sosial dan antar hubungan sosial. Inti tesisnya adalah tindakan yang penuh arti dari individu.
Tindakan sosial yang dimaksud Weber dapat berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang
lain.
Juga dapat berupa tindakan membatin atau bersifat subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh
positif dari situasi tertentu, atau merupakan tindakan perulangan dengan sengaja sebagai akibat dari
pengaruh situasi yang serupa, atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu.
Contoh dari tindakan sosial ini adalah upaya dari LSM Mitra Alam dalam menanggulangi masalah
HIV/AIDS di Surakarta dalam melakukan peranan nya terhadap penanggulangan masalah HIV/AIDS di
kota Surakarta berdasarkan tindakan yang penuh arti. LSM Mitra Alam melakukan tindakan yang nyata
yang diarahkan kepada IDU (Injection Drug User) dan Orang Dengan HIV/AIDS dalam rangka
menanggulangi masalah HIV/AIDS.
Bertolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial dan antar hubungan sosial itu Weber mengemukakan
lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi yaitu :

Tindakan manusia, yang menurut aktor mengandung makna yang subyektif. Ini meliputi tindakan
nyata.

Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif.

Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta
tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.

Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.

Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu (Ritzer, 2002 :
38-39).

Atas dasar rasionalitas tindakan sosial, Max Weber membedakan dalam empat tipe. Dimana semakin
rasional tindakan sosial itu semakin mudah dipahami. Tipe tindakan tersebut adalah:
a. Zwerk rational
Yaitu tindakan sosial murni. Dalam tindakan ini aktor tidak hanya sekedar menilai cara yang baik untuk
mencapai tujuanya tapi juga menentukan nilai dari tujuan itu sendiri. Tujuan dalam Zwerk Rational tidak
absolute. Ia dapat juga menjadi cara dari tujuan lain berikutnya. Bila aktor berkelakuan dengan cara yang
paling rasional maka mudah memahami tindakan itu.
b. Wrektrational action
Dalam tindakan tipe ini aktor tidak dapat menilai apakah cara-cara yang dipilihnya itu merupakan yang
paling tepat ataukah lebih cepat untuk mencapai tujuan yang lain. Ini menunjuk kepada tujuan itu sendiri.
Dalam tindakan ini memang antara tujuan dan cara-cara mencapainya cenderung menjadi sukar untuk
dibedakan. Namun tindakan ini rasional, karena pilihan terhadap cara-cara kiranya sudah menentukan

tujuan yang diinginkan. Tindakan kedua ini masih rasional meski tidak serasional yang pertama. Karena
itu dapat dipertanggungjawabkan untuk dipahami.
c. Affectual action
Tindakan yang dibuat-buat. Dipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepura-puraan si aktor. Tindakan ini
sukar dipahami. Kurang atau tidak rasional.
d. Traditional action
Tindakan yang didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu dimasa lalu saja
(Ritzer, 2002:40-41).
Paradigma definisi sosial memiliki 3 teori menjelaskan, yaitu Teori Aksi, Teori Simbolik dan Fenomenologi.
Ketiga teori tersebut mengambil dari karya Max Weber. Secara definitif Weber merumuskan sosiologi
sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami tindakan sosial serta antar hubungan
sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal. Dalam definisi ini terkandung dua konsep dasar, pertama
konsep tindakan sosial, kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman.
Penelitian ini menggunakan teori aksi dalam paradigma definisi sosial yang pada mulanya dikembangkan
oleh Max Weber. Teori ini memandang bahwa manusia adalah akor yang kreatif dari realitas sosialnya.
Sesuatu yang terjadi didalam pemikiran manusia antara setiap stimulus dan respon yang dipancarkan
adalah merupakan hasil tindakan kreatif manusia (Ritzer, 2002:44).
Dalam teori aksi yang diterangkan oleh konsepsi Parson tentang kesukarelaan (Voluntarisme). Beberapa
asumsi fundamental teori aksi dikemukakan oleh Hinkle adalah sebagai berikut,
1. Tindakan manusia muncul dari kesadarannya sendiri sebagai subyek dan dari situasi eksternal
dalam posisinya sebagai obyek.
2. Sebagai subyek manusia bertindak atau berperilaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Jadi
tindakan manusia bukan tanpa tujuan.
3. Dalam bertindak manusia menggunankan cara, teknik, prosedur, metode serta perangkat yang
diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut.
4. Kelangsungan tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi yang tak dapat diubah dengan
sendirinya.
5. Manusia memilih, menilai dan mengevaluasi terhadap tindakan yang akan, sedang dan yang
telah dilakukannya.
6. Ukuran-ukuran, aturan-aturan atau prinsip-prinsip moral diharapkan timbul pada saat
pengambilan keputusan (Ritzer, 2002: 46).
Talcot Parson sebagai tokoh teori aksi menginginkan pemisahan antara teori aksi dan aliran
behaviorisme, karena menurutnya mempunyai konotasi yang berbeda. Menurut Parson suatu teori yang
menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan dan mengabaikan aspek subjektif tindakan manusia tidak
termasuk kedalam teori aksi, sehubungan dengan itu Parson menyusun skema unit unit dasar tindakan
sosial dengan karakteristik sebagai berikut:

1. Adanya individu sebagai aktor.


2. Aktor dipandang sebagai pemburu tujuan tersebut.
3. Aktor memiliki alternatif cara,alat serta tehnik untuk mempunyai tujuan.
4. Aktor berhadapan dengan sejumlah kondisi situasional yang dapat membatasi tindakan dalam
mencapai tujuan.
5. Aktor dibawah kendali dari nilai nilai,norma-norma dan berbagai ide abstrak yang
mempengaruhinya dalam memilih dan menentukan tujuan serta tindakan alternatif untuk
mencapai tujuan (Ritzer, 2002:48-49).
Aktor mengejar tujuan dalam situasi dimana norma norma mengarahkan dalam memilih alternatif cara
dan alat dalam mencapai tujuan. Norma-norma tersebut tidak dapat menentukan pilihannya terhadap
cara atau alat, tetapi ditentukan oleh kemampuan aktor untuk memilih. Kemampuan ini oleh Parson
disebut voluntarism, yaitu kemampuan individu melakukan tindakan dalam arti menetapkan cara atau alat
dari sejumlah alternatif yang tersedia dalam rangka mencapai tujuan. Aktor menurut konsep voluntarism
adalah perilaku aktif dan kreatif serta mempunyai kemampuan menilai dan memilih alternatif tindakan