Anda di halaman 1dari 4

The Origin of Attachment Theory : John Bowlby anf Mary Ainsworth

Inge Breatherton
Perkembangan Sosial Emosional Menurut Bowlby (1969), terdapat empat fasa dalam
pembentukan perapatan antara ibu bapa dengan anak-anak.
Fasa pertama membabitkan usia bayi yang baru lahir hingga 8 minggu. Pada fasa ini,
bayi menerima orang yang berada di sekelilingnya seperti ibu, bapa, abang, kakak, datuk
dan nenek. Kebolehan untuk membezakan orang berada di sekelilingnya amat terhad. Bayi
tidak kisah sesiapa yang ingin memegangnya.
Fasa kedua pula membabitkan bayi yang berusia lapan minggu hingga enam bulan.
Pada tahap ini bayi mula membezakan tingkah laku orang yang berada disekelilingnya atau
orang yang sedang memegangnya. Sebagai contoh, jika ibu sedang memegang mereka
dalam keadaan marah, bayi tersebut akan menangis kerana bayi boleh mengenal emosi
ibunya itu.
Pada masa bayi berumur kurang daripada tiga bulan, emosi yang dialaminya
merupakan tindak balas terhadap keadaan kebangkitan ( ketidakselesaan kerana lapar atau
basah ) . Ketika berumur tiga bulan, emosi suka dan duka lebih jelas kelihatan. Bayi sudah
pandai senyum pada penjaganya. Bayi dapat menunjukkan emosi marah, terkejut dan sedih.
Kadangkala bayi dapat melibatkan diri dalam interaksi dengan seseorang yang cuba rapat
dengannya.
Fasa ketiga melibatkan usia bayi di antara enam bulan hingga dua tahun. Pada tahap
ini, bayi memilih individu tertentu dan berhati-hati dengan individu lain. Kebiasaannya, bayi
sudah mula mengenal ibunya serta kaum kelurga yang selalu berada di sampingnya. Bayi
akan menangis jika seseorang yang tidak dikenalinya memegangnya. Bayi berasa selamat
berada dengan orang yang selalu berada dengannya. Pada masa umurnya kira-kira enam
bulan, duka berpecah menjadi takut, jijik dan marah. Pada masa umurnya kira-kira dua belas
bulan, emosi suka berpecah kepada seronok., bangga apabila berjaya terhadap benda dan
keadaan serta rasa sayang terhadap orang.Pada masa umurnya lapan belas bulan, rasa
cemburu mulai timbul daripada perasaan duka dan sara sayang dibezakan antara
sayangterhadap orang dewasa dengan sayang terhadap kanak-kanak.
Fasa keempat pula ialah melibatkan bayi yang berusia dua tahun ke atas. Pada
peringkat ini, kanak-kanak mula dapat membezakan hubungan emosinya dengan orang lain.

Peringkat ini dianggap permulaan hubungan emosi yang sebenar. Pada masa umurnya kirakira dua puluh empat bulan, satu emosi baru iaitu keriangan mulai timbul daripada emosi
gembira. Pada umur tersebut, mereka menyatakan emosi secara tidak terkawal seperti
membaling sesuatu objek ketika marah ), terutamanya mereka tidak dapat sesuatu yang
dikehendaki. Dalam keadaan letih dan lapar, kemarahan mereka lebih jelas kelihatan.
Kanak-kanak pada peringkat prasekolah juga agak imaginatif. Mereka mungkin mempunyai
pelbagai perasaan takut dan antaranya yang tidak rasional.
Teori tentang kelekatan bayi :
a) . Ethological Explanation (John Bowlby 1969)
Teori ini percaya pada peranan pengasuh (ibu, nenek, bibi, dll), konsistensi, dan lingkungan.
Pengasuh yang sering bersama anak dapat membaca tanda-tanda / respon anak. Demikian
juga lingkungan yang konsisten akan membuat anak lebih dekat dengan orang-orang dan
situasi yang selalu bersama anak.
Diperlukan objek lekat yang memenuhi kebutuhan psikologis anak.
Bowlby menjelaskan sejumlah kunci yang menunjukkan kelekatan anak pada orang dewasa:
i.

Seorang anak dilahirkan dengan predisposisi untuk lekat pada pengasuhnya.

ii.

Seorang anak akan dapat mengatur perilakunya dan menjaga hubungan kelekatan
dengan orang yang dekat dengannya yang merupakan kunci kemampuan bertahan
hidupnya secara fisik dan psikologis.

iii.

Perkembangan social sangat berhubungan dengan perkembangan kognisi.


Seorang bayi berusia 6 bulan ke atas bertemu dg wanita selain ibunya, dia mulai bisa
mengenali bahwa dia bukan ibunya. Seorang bayi mengenali ibunya dengan
menunjukkan senyum

iv.

Seorang anak akan memelihara hubungan dengan orang lain jika orang tersebut
banyak menunjukkan fungsinya yang bertanggungjawab pada diri anak itu.

v.

Jika orang tua tidak mampu menjalankan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan
anak, maka anak akan mengalami hambatan dalam perkembangan emosi dan
kemampuan berpikirnya.

vi.

Perilaku anak seperti tersenyum, memanggil, menangis, menggelayut menunjukkan


perilaku kelekatan pada orang yang ada di hati anak.

Gangguan perlekatan merupakan dampak psikologis dari pengalaman negatif


dengan pengasuhnya, biasanya sejak kecil, yang mengganggu hubungan khusus dan
eksklusif antara anak dan pengasuh utamanya. Tingkah laku bertentangan dan bermusuhan
bisa diakibatkan oleh gangguan perlekatan. Banyak anak-anak yang mengalami kehilangan
pengasuh utamanya akibat terpisah secara psikis dari orang tuanya atau karena
pengasuhnya yang kurang mampu memberikan pengasuhan yang memadahi. Dipisahkan
dari pengasuh utama dapat mengakibatkan masalah serius dengan merusak perlekatan
primer, sekalipun pengasuh kedua cukup mampu.
John Bowlby tertarik pada perbandingan anak manusia dengan bayi binatang,
menggabungkan penelitian Harlow pada monyet resus dengan studinya tentang anak-anak
yang mengalami ketergantungan pada ibunya. Dia menyimpulkan bahwa perpisahan pada
bulan-bulan awal kehidupan akan berdampak pada pembentukan psikis pada seorang bayi
dan perpisahan dengan figur orang tua dapat mengakibatkan kecemasan.
Bowlby sebagai penemu teori perlekatan, membuat laporan untuk WHO menekankan
pentingnya sensitifitas sebagai orang tua dalam perkembangan anak yang adekuat.
Sensitifitas sebagai orang tua yaitu kemampuan orang tua untuk memahami keadaan pikiran
dan emosi pada anaknya dan meresponnya secara positif dan suportif.
Perlekatan mengarah pada serangkaian tingkah laku dan gambaran emosi yang
dapat diamati pada anak. Manusia membutuhkan perlekatan dengan manusia lain untuk
perlembangan psikologis dan emosional untuk dapat bertahan hidup. Gejala awal dari
perlekatan termasuk hubungan yang unik dan eksklusif antara seorang anak dengan orang
tuanya. Orang tua dan anak membentuk hubungan yang berkesinambungan yang memiliki
keistimewaan khusus. Kualitas hubungan ini akan mewarnai hubungan seseorang selama
hidupnya.
Teori attachment diangkat pertama kali oleh John Blowby tahun 1979. Menurut
Bowlby (1982) dalam Mikulincer, Gillath, & Shaver (2002), bayi memiliki kecenderungan
yang kuat untuk menjalin kedekatan dengan caregiver sebagai manifestasi nyata sistem
bawaan sejak lahir, sehingga mampu bertahan hidup dan kelak mampu bereproduksi.
Sistem tersebut berkembang seiring dengan adanya interaksi individu pada masa bayi dan
anak-anak dengan ibu atau caregiver, sehingga muncullah kecenderungan gaya attachment
diantaranya secure, avoidant, ambivalent, dan disorganized-disoriented (Papalia, Olds,&
Feldman, 2007). Gaya attachment tersebut mempengaruhi hubungan interpersonal individu
hingga akhir hayat (Bowlby, 1979 dalam Sternberg & Barnes, 1988). Menurut penelitian
Shaver & Brennan (1992), terdapat hubungan antara attachment style dengan hubungan
romantis. Individu dengan gaya anxious-ambivalent diasosiasikan dengan tidak memiliki

hubungan dan gaya insecure diasosiasikan dengan kecenderungan bercerai. Penelitian lain
menyimpulkan bahwa gaya secure memiliki korelasi positif dengan hubungan romantis yang
langgeng, sebaliknya dengan gaya unsecure (Monteoliva & Martinez, 2005).
Dalam kaitannya dengan unrequited love, attachment theory berpandangan bahwa
gejala tersebut merupakan hal yang lazim sebagai manifestasi usaha mempertahankan
kelangsungan hidup dan reproduksi. Individu dengan attachment style tertentu (anxiousambivalence, insecure, avoidance) cenderung mengalami unrequited love dibandingkan
yang lain (secure). Teori Attachment tersebut memiliki kelemahan dalam menjelaskan
bagaimana individu yang dikatakan secara universal memiliki keinginan untuk memiliki
keintiman dengan orang lain demi kehidupan yang optimal (Ryff & Singer, 2000 dalam
Baron, Byrne,& Branscombe, 2006) dapat berperan sebagai rejector yang menolak cinta
yang ditawarkan oleh would-be lover. Selain itu, attachment theory juga tidak dapat
menjelaskan fakta bahwa seorang would-be lover pada saat yang sama dapat pula menjadi
seorang rejector (Sinclair & Frieze, 2005). Jika would-be lover disebabkan oleh attachment
style yang unsecure maka seharusnya individu yang berperan sebagai would-be lover
secara ekstrem akan terus-menerus mengalami unrequited love.
Pada dasarnya gejala unrequited love merupakan gejala yang pernah dirasakan oleh
hampir semua orang. Menurut teori interdependence, faktor lingkungan dan situasi tertentu
adalah penyebab seseorang mengalami unrequited love. Berbeda halnya dengan
pandangan teori attachment yang beranggapan bahwa individu telah memiliki
kecenderungan untuk menjadi woud-be lover. Pada kenyataannya, teori interdependence
lebih relevan dalam menjelaskan gejala unrequited love, terbukti seorang would-be lover
tidak selamanya menjadi would-be lover melainkan pada waktu yang sama dapat pula
berperan sebagai rejector.