Anda di halaman 1dari 5

Term of Reference

PELATIHAN
COLD CHAIN INVENTORY

1. Latar Belakang
Penilaian manajemen vaksin efektif dalam 2011/12 di Indonesia
dilaporkan area utama bagi perbaikan untuk memenuhi standar
internasional pada penyimpanan vaksin, manajemen suhu dan
manajemen stok vaksin dengan maksud untuk mencapai tujuan lebih
tinggi yang memiliki keberlangsungan penyediaan vaksin yang aman
dan ampuh bila diperlukan di sarana pelayanan kesehatan pada waktu
yang tepat, dalam jumlah yang tepat sebagai kunci untuk memastikan
kecakupan vaksinasi yang tinggi dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Di antara kunci utama untuk memperbaiki kesenjangan pada kapasitas
cold chain dan kinerja peralatan, tidak dapat mengandalkan sistem
pemantauan suhu terus menerus, pemeliharaan yang buruk pada
tingkat vaksin maksimum minimum dan perangkat yang diperlukan
pada tingkat subnasional-province, kabupaten dan fasilitas Puskesmas.
Terakhir persediaan peralatan cold chain di Indonesia dilakukan pada
tahun 2008 dengan menggunakan lembar excel pengumpulan data
pasif dengan tingkat respons data kabupaten hanya 37% (sumber:
Konsultan UNICEF Keertie Kumar Laporan Akhir 2008). Ada rencana
untuk pengadaan peralatan Massive Cold Chian di 2014 di negara yang
menggunakan dana GAVI HSS yang perlu dipandu oleh persediaan
rantai cold chian yang kuat, diperbarui dan lengkap.
Mendata area ini lebih penting karena tidak hanya untuk memperkuat
sistem imunisasi rutin, tetapi juga untuk meningkatkan kesiapan sistem
suatu negara dalam memperkenalkan vaksin baru di tahun-tahun
berikutnya seperti IPV pada bulan Juni 2015, Campak Rubella pada 2016
dengan rencana kampanye nasional, PCV dan RCV pada tahun 2017 dan
seterusnya. Biaya tambahan dari vaksin baru dan peralatan serta
kebutuhan sumber daya manusia akan meningkatkan akuntabilitas
program, sehingga mengurangi kerugian akibat penyimpanan yang
salah dan tempat untuk membekukan dan suhu panas yang diperlukan
untuk memastikan penggunaan yang lebih baik dan efisien dari sumber
daya program.
Inovatif teknologi global yang tersedia untuk program yang akan
membantu sistem pada : (1) pendataan data base web persediaan
yang dapat diperbarui secara berkala dibandingkan dengan persediaan
statis; (2) pemantauan suhu 30 hari lebih akurat pada vaksin di dalam

lemari es di provinsi, kabupaten/kota, pusat kesehatan tingkat pusat


dengan menggunakan perangkat elektronik, Kulkas Tag 2, dengan fungsi
alarm saat suhu berada di luar kisaran normal 2-8 deg Celcius; dan (3)
menghubungkan peralatan cold chain berbasis web dan persediaan
kinerja dengan pelaporan SMS dan FT2 alarm berfungsi.
Frekuensi fungsi alarm saat suhu berada di luar kisaran normal 2-8 deg
celcius adalah prediksi yang baik pada kinerja peralatan cold chain.
Penyebab umum dari lemari es rusak yang masuk ke modus rentang
luar antara lain adalah pemeliharaan yang buruk, kerusakan thermostat,
kompresor, dan sumbat karet lemah. Gangguan listrik, baik sering atau
lama dan untuk apa pun yang menyebabkan, pemeliharaan buruk pada
kulkas bertenaga surya juga faktor yang mempengaruhi kinerja
peralatan cold chain.
Indonesia telah memperkenalkan dan memproduksi 30 DTR perangkat
elektronik, Kulkas versi Tag 1 model (FT1) sejak tahun 2009. Selama
EVMA, ditemukan bahwa penggunaan perangkat tidak optimal sebagai
perangkat desired- tidak diaktifkan, jika diaktifkan pekerja kesehatan
tidak dapat membaca alarm, atau menanggapi alarm, informasi yang
dihasilkan
oleh
perangkat
tidak
optimal
digunakan
untuk
menginformasikan kinerja peralatan. Saat ini tidak ada sistem di daerah
Indonesia yang menginformasikan secara teratur pengelolaan jenis
kebutuhan ini informasi dan monitoring real time pada tingkat fasilitas
kesehatan.
Sebuah sistem informasi manajemen yang kuat yang menginformasikan
program yang teratur pada real time tentang status komoditas,
peralatan dan sumber daya di semua tingkat yang diperlukan untuk
mencapai cakupan berkualitas tinggi dan kekebalan di antara populasi
sasaran. Selanjutnya, karena Indonesia merupakan negara yang rawan
bencana sehingga peralatan cold chain memilik daya tahan terhadap
bencana, lebih banyak penggunaan jenis teknologi inovatif dari kulkas
berkendara surya di pulau-pulau terpencil dengan tag kulkas adalah
praktik yang baik dalam mengelola risiko bencana pengurangan.
2. Tujuan kegiatan
a. Untuk memperbarui persediaan peralatan cold chain nasional
untuk kapasitas penyimpanan, pemantauan suhu, dan lain-lain
dengan menggunakan data base web yang diaktifkan untuk
memungkinkan
informasi
berkala
sistem
memperbarui
menggunakan teknologi terbaru dari UNICEF / WHO Cold Chain
Management Equipment (CCEM) software dan link ke daerah
Indonesia melalui sistem informasi kesehatan yang sesuai.
b. Untuk mengidentifikasi tantangan utama pada vaksin dan
manajemen cold chain serta sistem informasi di tingkat
kabupaten dan tingkat Puskesmas.

c. Memberikan rekomendasi terkait dengan prioritas pengadaan


perangkat peralatan cold chain, tingkat kabupaten pada fungsi
peralatan sistem pemantauan, sistem manajemen stok, dan isuisu terkait.
d. Untuk melatih petugas kesehatan tentang penggunaan Kulkas
tag versi 1 atau 2 melalui penggunaan bahan pelatihan yang
tersedia baru-baru ini, alat-alat, membantu pekerjaan terutama
pada rekaman dan alarm pemantauan serta menanggapi alarm.
e. Untuk memperkenalkan pelaporan SMS di 2 provinsi yang dipilih
dan kabupaten/kota pada alarm pemantauan yang dipicu oleh
30DTR FT 2 perangkat dan tingkat stok vaksin.
3. Hasil Yang Diharapkan
a. Updated nasional persediaan peralatan cold chain dalam excel
data dan web yang diaktifkan serta basis yang dikelola oleh
server pusat ditugaskan oleh Depkes. Informasi dapat
menganalisa dan menginformasikan program pada pengadaan
dan prioritas daftar peralatan cold chain, perangkat, persyaratan
lainnya.
b. Tantangan kapasitas pekerja kesehatan di vaksinasi dan
manajemen cold chain dan sistem informasi terkait real time dan
daftar rekomendasi untuk mengatasi tantangan utama.
c. Cold chain area dan petugas EPI sebagai pelatih inti pada
penggunaan yang benar dan optimal Kulkas Tag diatur dan
mereka diberitahu / diperkenalkan dari ujung ke ujung sistem
30DTR pemantauan serta penggunaan bahan yang relevan.
Rencana ekspansi di daerah mereka dapat dieksplorasi.
d. Distrik EPI dan staf cold chain di 2 provinsi dipilih akan
diperkenalkan dengan pedoman dan bahan pelaporan SMS pada
FT alarm dan tingkat stok vaksin sebagai dasar untuk memicu
tindakan pada tingkat akuntabel tepat.

4. Materi Kegiatan
a. Daftar peralatan cold chain.
b. Manajemen cold chain.
c. Kesepakatan dan rekomendasi.
5. Metode kegiatan
Pelatihan ini menggunakan pendekatan pendidikan orang dewasa.
Proses fasilitasinya dilaksanakan dengan menggunakan metode Asset
Based Thinking, di mana keseluruhan proses didorong dengan semangat

dan prinsip membangun pembelajaran dengan merefleksikan dan


mengoptimalkan kekuatan dan pengalaman yang dimiliki peserta yang
terlibat dalam kegiatan ini.
Persediaan peralatan cold chain adalah koleksi data aktif secara
nasional di seluruh Puskesmas, kabupaten dan provinsi penyediaan
lokasi pendingin. Sebuah kuesioner sederhana dalam bentuk excel
untuk digunakan oleh staf tingkat kabupaten yang terlatih akan
dikembangkan. Dua pelatihan sehari penuh di antara semua Trainers
Provinsi penggunaan alat ini, proses pengumpulan data, monitoring,
supervisi, pembersihan data, sintesis dan analisis yang akan dilakukan
dan dikelola oleh Dinas Kesehatan Aceh dengan dukungan dari UNICEF,
WHO,mitra lainnya.
Tim Provinsi EPI akan diselenggarakan untuk merencanakan, melatih
(1,5 hari) staf kabupaten yang relevan serta mengawasi secara acak,
memantau pengumpulan data dengan tujuan memiliki data yang tepat
waktu dan dapat diandalkan yang dihasilkan dari pelatihan ini di semua
kabupaten/kota dan Puskesmas.
Training di tingkat kabupaten/kota akan dilatih EPI dan staf yang relevan
akan aktif mengumpulkan data dengan menggunakan kuesioner standar
di semua pusat kesehatan tangkapan mereka selama sekitar 2-3
minggu dengan perkiraan 1 wawancara dan observasi kegiatan penuh
per Puskesmas. Mengambil koordinat GPS smartphone dari masingmasing Puskesmas dan kabupaten/kota akan disertakan. Penggunaan
smartphone android didorong selama pengumpulan data untuk dapat
memperoleh informasi ini. Meng-upload data excel di setiap fasilitas
untuk basis data web yang ditugaskan akan dieksplorasi untuk
memfasilitasi konsolidasi data maka penggunaan internet dan ponsel
pintar sangat penting. Di daerah di mana hanya ponsel tua yang
digunakan, cara yang biasa manual dan excel pelaporan dan konsolidasi
di tingkat provinsi akan diterapkan.
6. Peserta
Workshop diseminasi strategi nasional komunikasi imunisasi ini
berjumlah 69 (enam puluh sembilan) orang, yang berasal dari :
23 (dua puluh tiga) orang Pemegang Program Imunisasi di Dinas
Kesehatan kabupaten/kota se Aceh.
23 (dua puluh tiga) orang Penanggungjawab Cold Chain (yang
memahami Akses) di Dinas Kesehatan kabupaten/kota se Aceh.
7 (tujuh) orang dari Dinas Kesehatan Aceh.
8 (delapan) orang dari Dinas Kesehatan Banda Aceh.
8 (delapan) orang dari Dinas Kesehatan Aceh Besar.

7. Fasilitator dan Narasumber


Proses pelatihan cold chain inventory ini akan difasilitasi oleh 2 (dua)
orang fasilitator yang berasal dari PT Aksara Strategic Initiative.
Sementara narasumber yang akan terlibat dalam kegiatan ini adalah :
Bapak Marzuki (Dinas Kesehatan Aceh).
Ibu Safriati (Dinas Kesehatan Aceh).
8. Waktu dan Tempat
Pelatihan cold chain inventory ini dilaksanakan selama 1,5 (satu
setengah) hari yaitu pada tanggal 29-30 Oktober 2014 di Hotel Hermes
Banda Aceh.
9. Penutup
Term of Reference ini merupakan kerangka acuan bersama mengenai
pelaksanaan pelatihan cold chain inventory. Pengembangan dan
penyesuaian dalam hal teknis pelaksanaan disesuaikan dengan kondisi
dan akan dikomunikasikan serta dikoordinasikan dengan Dinas
Kesehatan Aceh, dan UNICEF Kantor Banda Aceh.