Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Kegiatan Inventarisasi


Dengan berpegang pada UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
yang telah mengamanatkan perlunya pengembangan kawasan yang memiliki
fungsi pelestarian warisan budaya lokal dalam bentuk kawasan strategis
maupun bentuk kawasan perdesaan, UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar
Budaya yang telah mengamanatkan pelestarian cagar budaya pada dimensi
darat dan air melalui pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar
budaya; dan PP No.15 Tahun

2010

tentang Penyelenggaraan Penataan

Ruang yang mengamanatkan pengembangan kawasan strategis dari sudut


kepentingan sosial dan budaya yang mencakup berbagai kawasan peninggalan
budaya maupun yang memberikan fungsi peningkatan kualitas sosial dan
budaya; maka Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan
Umum bersama-sama Badan Pelestarian Pusaka Indonesia telah menginisiasi
Pelaksanaan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) yang
berjalan secara efektif di berbagai provinsi di Indonesia khususnya pada kotakota yang tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).
Tujuan dari inisiasi ini adalah untuk mendorong pemerintah daerah dapat
melaksanakan P3KP dan menyusun Rencana Aksi Kota Pusaka dalam
rangka untuk melestarikan aset pusaka, meningkatkan kapasitas pengelolaan
kota pusaka, dan meningkatkan kualitas ruang kota pusaka yang lebih
berkelanjutan baik secara lingkungan, ekonomi dan sosial budaya.
Dalam rangka mendukung pelaksanaan Program Penataan dan Pelestarian
Kota Pusaka (P3KP) agar target terwujudnya Kota Pusaka Indonesia (IHC) dapat
tercapai, maka melalui Surat Keputusan Walikota dibentuklah tim pengarah dan
pelaksana teknis yang tergabung dalam Tim Kota Pusaka Daerah untuk
Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) yang terdiri dari SKPD
1

terkait, akademisi dan unsur masyarakat yang bertugas merumuskan dan


melaksanakan P3KP baik dari segi konsep, kebijakan, subtansi, koordinasi,
maupun fasilitasi. Untuk melengkapi tugas dari Tim Kota Pusaka Daerah
tersebut, maka pada tahun 2013 dilakukan kegiatan fasilitasi inventarisasi aset
pusaka secara menyeluruh untuk 10 kota terpilih salah satunya adalah Kota
Baubau.
Bicara tentang sejarah kerajaan Buton, maka tak lepas dari proses
perkembangan bentukan kota Bau-Bau. Sebagai ibu kota kerajaan Buton, Kota
Bau-Bau menyimpan berbagai pusaka budaya berdasarkan jejak sejarah
maupun alam yang masih terjaga hingga saat ini. Seperti yang telah banyak
diketahui bersama, kota Bau-Bau terkenal dengan karakter alam pesisirnya yang
indah, kekayaan seni budaya yang unik, juga berbagai benda kuno, bangunan,
serta tempat terjadinya peristiwa bersejarah selama masa kerajaan
maupun kesultanan Buton, termasuk benteng terbesar di dunia.
Namun dari berbagai pusaka yang telah teridentifikasi, masih terdapat
kesimpangsiuran informasi akan peristiwa dibalik pusaka negeri Buton.
Kondisi ini membuat pemaknaan akan sejarah negeri Buton menjadi samar.
Melihat fenomena ini, sangatlah penting untuk menggali lebih dalam akan
peristiwa yang terjadi di masa lampau, dan memaknainya menjadi satu
rangkaian peristiwa penting dalam perjalanan panjang negeri Buton.

1.2. Maksud, Tujuan dan Sasaran Kegiatan Inventarisasi


Kegiatan inventarisasi aset pusaka Kota Baubau dalam melengkapi
Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) dimaksudkan untuk
mengetahui seluruh aset pusaka yang dimiliki oleh kota Baubau beserta nilai
keunggulan sejagat

didalamnya

yang

dijadikan

dasar dalam upaya

dan strategi pengembangan kota pusaka kedepannya.


Adapun tujuan yang menguraikan lebih rinci dari kegiatan ini selain
mengetahui seluruh aset pusaka yang dimiliki oleh kota Baubau beserta nilai
2

keunggulan

universal di dalamnya yang

dijadikan

dasar

dalam

upaya

pengembangan kota pusaka ke depannya juga bertujuan memfasilitasi Tim Kota


Pusaka Kota Baubau agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik
serta mendorong dan meningkatkan kinerja pelaksanaan P3KP dalam rangka
perwujudan pengembangan Kota Pusaka Indonesia 2014 dan Kota Pusaka Dunia
2020.
Kegiatan fasilitasi ini terdiri dari :
Fasilitasi Kegiatan Pendampingan Tim KP dalam Proses Inventarisasi
Fasilitasi Pelaksanaan Inventarisasi Aset Pusaka Kota Baubau
Fasilitasi Penyusunan Program
Sasaran dari kegiatan ini adalah :
1). Terselenggaranya pelaksanaan Program Penataan dan Pelestarian Kota
Pusaka (P3KP) di Kota Baubau;
2). Tersusunnya data base inventarisasi aset pusaka kota dan pada
kawasan prioritas;
3). Tersusunnya peta pusaka skala makro !:25.000 dan skala mikro
1:5.000;
4). Tersedianya dokumen hasil inventarisasi aset pusaka.

Sasaran lain dari kegiatan ini antara lain adanya bantuan teknis dari
konsultan kepada tim P3KP daerah terhadap tugasnya pada tahun anggaran
2013 untuk;
- Menginventarisasi aset pusaka;
- Menyusun peta kawasan pusaka.

1.3. Ruang Lingkup Kegiatan Inventarisasi


Lingkup Kegiatan Fasilitasi Tim Kota Pusaka Kota Baubau dalam
Kegiatan Inventarisasi Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP)
dilakukan melalui beberapa tahapan pelaksanaan yaitu:
1. Persiapan kegiatan
3

a. Persiapan tim teknis inventarisasi bersama-sama dengan tim Kota


Pusaka Kota Baubau dengan dukungan supervisi dari ditjen Penataan
Ruang Kemen PU dan fasilitator dari BPPI dalam kegiatan Pelaksanaan
Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka;
b. Perumusan Kerja;
c. Penajaman metodologi.
2. Penyiapan perangkat kegiatan, antara lain:
a. Format pelaporan
b. Format persuratan, seperti: SK Tim Teknis Kota Pusaka, undangan
koordinasi (bila diperlukan), dan lain-lain.
c.

Jadwal kerja pelaksanaan proses Kegiatan Inventarisasi Aset

Pusaka Kota Baubau.


3. Melakukan koordinasi dengan pemerintah kota Baubau dan pihak-pihak
terkait dalam rangka persiapan penyusunan peta pusaka makro dan penentuan
alternatif kawasan pusaka prioritas;
4. Penyusunan peta pusaka makro dengan skala 1:25.000 (kedalaman RTRW);
5. Penentuan delineasi kawasan pusaka prioritas (core zone dan buffer zone);
6. Perumusan desain survei, format isian pendataan aset pusaka makro
berbasis GIS dan pendataan detail mikro, serta peta

kawasan

terpilih

dengan skala 1:5.000 sebagai acuan dalam melakukan survei lapangan;


7. Survei (observasi lapangan) dalam rangka mengumpulkan data primer
terkait aset pusaka alam, budaya ragawi, budaya tak ragawi, dan saujana serta
bekerjasama dengan tim mahasiswa teknik arsitektur Univesitas Haluoleo di
Kota Kendari dan mahasiswa teknik sipil Univesitas Dayanu Ikhsanudin di Kota
Baubau;
8. Penempatan para tenaga ahli di lapangan sesuai bidang yang dibutuhkan
minimal 2 bulan dalam proses survei dan kegiatan inventarisasi aset
pusaka;
9. Melakukan verifikasi data hasil survei dengan melibatkan tim kota pusaka
4

daerah bersama arahan tim supervisi dan fasilitator Kota Baubau;


10. Perumusan dan analisis data base aset pusaka yang terintegrasi dengan
peta berbasis GIS berdasarkan hasil survei lapangan;
11. Penyusunan peta pusaka skala mikro 1:5.000 dan buku hasil inventarisasi
aset pusaka;
12. Pembuatan film pendek resolusi tinggi (durasi 5-6 menit) terkait hasil
inventarisasi aset pusaka yang telah dilakukan;
13. Pembahasan laporan progres atau hasil kegiatan sebanyak 3 (tiga) kali
(awal, antara dan akhir); dan
14. Pelaporan Hasil Kegiatan Inventarisasi Aset Pusaka Kota Baubau secara
menyeluruh dalam Pelaksanaan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka.
Sementara itu kegiatan inventarisasi aset pusaka Kota Baubau dalam
pelaksanaan Program Penataan dan Pelestarian Kota Baubau dilaksanakan
dalam lingkup wilayah Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara.

1.4. Sistematika Pelaporan


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Kegiatan Inventarisasi
1.2. Maksud, Tujuan dan Sasaran Kegiatan Inventarisasi
1.3. Ruang Lingkup Kegiatan Inventarisasi
1.4. Sistematikan Pelaporan
1.5. Metode dan Pendekatan Kegiatan Inventarisasi

BAB II TINJAUAN KEBIJAKAN


2.1. Tinjauan Kebijakan RTRW Kota 2010-2030 terkait Tema
Pusaka Kota Baubau
2.1.1. Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang
Wilayah Kota
5

2.1.2. Rencana Struktur Tata Ruang


2.1.3.

Rencana

Pola

Ruang

(Peruntukan

Kawasan

Strategis)
2.1.4. Penetapan Kawasan Strategis Wilayah Kota (Aspek
Sosial Budaya)
2.1.5. Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Kota (Indikasi
Program Utama)
2.2. Tinjauan Kebijakan RDTR terkait Tema Pusaka Kota Baubau
2.3. Tinjauan Kebijakan terkait Penataan dan Pelestarian Kota
Pusaka Kota Baubau
Visi dan Misi Pembangunan Kota Baubau
2.4. Renstra Kota Pusaka (Rencana Aksi Kota Pusaka) Kota
Baubau

BAB III PROFIL MAKRO KOTA PUSAKA DAN INVENTARISASI ASET


PUSAKA KOTA BAUBAU
3.1. Sejarah Perkembangan Kota Baubau (Morfologi Kota)
3.2. Kondisi eksisting (Data Geografis) Kota Baubau
(Kondisi fisik, kependudukan, eksosbud, tata guna lahan,
sarana prasarana, dan data kerawanan bencana secara singkat)
3.3. Sebaran Aset Pusaka Makro Kota Pusaka Kota Baubau
3.3.1. Peta Sebaran Aset Pusaka 1:25.000 berbasis GIS
3.3.2. Tabel Inventarisasi Pusaka Makro
(yang dijabarkan lengkap dalam buku dokumen
inventarisasi aset pusaka)
1. Sebaran Aset Pusaka Alam
2. Sebaran Aset Pusaka Budaya Ragawi
3. Sebaran Aset Pusaka Budaya Tak Ragawi
4. Sebaran Aset Pusaka Saujana

BAB IV USULAN KONSEP STRATEGI PENGEMBANGAN KOTA PUSAKA


KOTA BAUBAU (CITY WIDE)
4.1. Usulan Konsep Tematik Pengelompokan Kawasan-kawasan
Pusaka
(menampilkan peta tematik skala kota dengan konsep penamaan
untuk

pengelompokkan

kawasan-kawasan

pusaka

serta

permasalahan umum kawasan-kawasan pusaka Kota Baubau dan


keterajutannya antara 1 kawasan pusaka dengan kawasan pusaka
lainnya)
4.2. Usulan Konsep Tematik Penataan dan Pengembangan
Kawasan-kawasan Pusaka
4.3. Peran Stake Holder terkait Pengelolaan Kawasan- kawasan
Pusaka
(menampilkan

dalam

bentuk

skema/tabel

peran

stake

holder/peran kelembagaan pusaka dan ekonomi pusaka)

BAB V PROFIL MIKRO DAN INVENTARISASI ASET PUSAKA KAWASAN


PRIORITAS: KAWASAN BENTENG KERATON WOLIO SEBAGAI
ZONA INTI DAN KAWASAN PERMUKIMAN SEKITARNYA SERTA
PELABUHAN LAMA SEBAGAI ZONA PENYANGGA
5.1. Delineasi dan Kondisi Eksisting Kawasan

Prioritas

(berdasarkan FGD dengan Tim KP Baubau)


5.2. Justifikasi Kawasan Prioritas
(kaitkan dengan keunggulan Nilai sejagad/ouv untuk proses
justifikasi)
5.3. Sebaran Aset Pusaka Mikro Kawasan Prioritas
5.3.1. Identifikasi Pusaka Alam
(yang dijabarkan lengkap dalam buku dokumen
inventarisasi aset pusaka)
1. Peta Sebaran/Keragaman Aset Pusaka Alam
7

pada Kawasan Prioritas 1:5000


2. Peta Tematik 1:5000
(Peta Fungsi Ruang Terbuka, Alam dan Buatan,
Peta Jalur Aliran Air, Alam dan Buatan dan lainnya
jika ada)
3. Deskripsi Ragam Pusaka Alam (Tabel Mikro
terlampir)
5.3.2. Identifikasi Pusaka Budaya Ragawi
(yang dijabarkan lengkap dalam buku dokumen
inventarisasi aset pusaka)
1. Peta Sebaran/Keragaman Aset Pusaka Budaya
Ragawi pada Kawasan Prioritas 1:5000
2. Peta Tematik 1:5000
(Peta Sebaran Bangunan Pusaka dan Non-Pusaka,
Peta

Tipe Bangunan, Peta Ketinggian Bangunan,

Peta

Fungsi/Guna

Bangunan,

Peta

Kondisi

Bangunan)
3. Deskripsi Ragam Pusaka Budaya Ragawi (Tabel
Mikro terlampir)
4. Identifikasi Detail pada Struktur Kawasan
(Contoh beberapa Struktur Kawasan berupa
Komponen

Arsitektur

Bangunan

dan

yang

Lingkungan

Dominan,
serta

Pola

Elemen

Pembentuk Kota)
5. Identifikasi Detail pada Bangunan Tunggal
(Contoh beberapa informasi bangunan yang
signifikan tentang kepemilikan, langgam, ciri
arsitektur, kondisi fisik, dan lainnya)
5.3.3. Identifikasi Pusaka Budaya Tak Ragawi
(yang dijabarkan lengkap dalam buku dokumen
8

inventarisasi aset pusaka)


1. Peta Sebaran/Keragaman Aset Pusaka Budaya
Tak Ragawi pada Kawasan Prioritas 1:5000
2. Peta Tematik 1:5000
(Peta Sosial Budaya, Peta Sosial Ekonomi)
3. Identifikasi Detail Sosbud dan Sosek pada Skala
Kawasan (Beberapa contoh program dan kegiatan
sosbud dan sosek yang dominan, kaitkan dengan
tema pusaka)
4. Deskripsi Ragam Pusaka Budaya Tak Ragawi
(Tabel Mikro terlampir)
5.3.4. Identifikasi Pusaka Saujana (jika ada)
(yang dijabarkan lengkap dalam buku dokumen
inventarisasi aset pusaka)
1. Peta Sebaran/Keragaman Aset Pusaka Saujana
pada Kawasan Prioritas 1:5000
2. Deskripsi Ragam Pusaka Saujana (Tabel Mikro
terlampir)
5.4. Analisis Kebutuhan Fisik dan Non Fisik Kawasan Prioritas
(tampilkan dalam peta analisis dan tabel kebutuhan fisik dan Non
fisik untuk melengkapi, masukan kebutuhan galeri Pusaka dan
rencana penempatannya dalam kawasan prioritas)

BAB VI KONSEP PENATAAN DAN PELESTARIAN KAWASAN KOTA LAMA


KESULTANAN BUTON (KAWASAN BENTENG

KERATON WOLIO DAN

PELABUHAN LAMA) - BAUBAU


6.1. Isu Strategis
6.1.1. Permasalahan Kawasan Kota Lama Kesultanan Buton
6.1.2. Tantangan Kawasan Kota Lama Kesultanan Buton
6.1.3. Harapan Kawasan Kota Lama Kesultanan Buton
9

6.2. Maksud dan Tujuan


6.3. Konsep Penataan Kawasan Kota Lama Kesultanan Buton
6.4. Strategi Penataan Kawasan Kota Lama Kesultanan Buton
6.5. Rencana Kerja Penataan Kawasan Kota Lama Kesultanan
Buton
LAMPIRAN

1.5. Metode dan Pendekatan Kegiatan Inventarisasi


Sesuai dengan pemahaman terhadap KAK di atas, untuk mempermudah
pemahaman dalam pelaksanaan kegiatan Inventarisasi Aset Pusaka Kota Baubau
dalam Pelaksanaan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) Kota
Bau-Bau, maka akan diuraikan dalam dua bahasan mendasar yaitu metodologi
pelaksanaan kegiatan inventarisasi dan pendekatan yang dilakukan.
1.5.1. Metodologi Kegiatan Inventarisasi
Metodologi merupakan bagian epistemologi yang mengkaji
perihal urutan langkah-langkah yang ditempuh agar pengetahuan yang
diperoleh memenuhi ciri- ciri Ilmiah. Metodologi juga dapat dipandang
sebagai bagian dari logika yang mengkaji kaidah penalaran yang tepat.
Jika kita membicarakan metodologi maka hal yang tak kalah pentingnya
adalah asumsi-asumsi yang melatarbelakangi berbagai metode yang
dipergunakan dalam aktivitas ilmiah.
Dalam kegiatan Pelaksanaan Program Penataan dan Pelestarian
Kota Pusaka (P3KP), perlu disusun langkah-langkah yang tersistematis
agar mendapatkan hasil sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan.
Metodologi yang digunakan dalam proses kegiatan Inventarisasi
Aset

Pusaka

dalam

Program

Penataan

dan

Pelestarian

Kota

Pusaka(P3KP), tentunya disesuaikan dengan ruang lingkup dan output


yang telah ditetapkan di dalam Kerangka Acuan Kerja.

10

A. Tahap Persiapan dan Inventarisasi Data Awal


Tahap persiapan dasar dan inventarisasi data awal kegiatan Inventarisasi
Aset Pusaka dalam Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka(P3KP) Kota
Baubau,

merupakan tahap awal kegiatan yang memuat kegiatan-kegiatan

pokok berupa persiapan dan mobilisasi, pengumpulan data awal, kajian awal
data sekunder, serta penyiapan desain/pedoman survei.
1. Persiapan dan Mobilisasi
Persiapan dan mobilisasi pada kegiatan ini meliputi :
a. Pemahaman KAK
Kerangka Acuan Kerja yang menjadi acuan

utama

dalam

pelaksanaan kegiatan inventarisasi aset pusaka ini, harus dipahami


dengan baik oleh pihak konsultan sehingga seluruh proses pelaksanaan
pekerjaan dapat berjalan dengan baik.
b. Penyelesaian Administrasi Pekerjaan
c. Persiapan Peralatan dan Personil
Persiapan peralatan dilakukan pada tahap awal, baik peralatan
untuk kepentingan survei lapangan maupun peralatan untuk pekerjaan
studio/kantor.
d. Penyusunan Pendekatan dan Metodologi Studi
Penyusunan pendekatan dan metodologi dijabarkan dalam
bentuk naratif serta bagan alir yang mencakup seluruh tahapan kegiatan
yang akan dilakukan.
e. Penyusunan Detail Rencana Kerja
Penyusunan rencana kerja dilakukan agar rangkaian tahapan
proses pelaksanaan kegiatan inventarisasi ini dapat dilakukan dengan
lebih terarah sesuai dengan maksud, tujuan, dan sasaran kegiatan.
f. Kegiatan Persiapan/Perijinan
Perijinan dilakukan sebagai persiapan awal untuk melakukan
survei ke daerah.
g. Inventarisasi dan Persiapan Perangkat survei
11

Persiapan peralatan meliputi peralatan untuk kepentingan survei


lapangan, misalnya alat GPS untuk mendeteksi titik koordinat setiap aset
pusaka yang diinventarisasi.
h. Mobilisasi tim
Kegiatan mobilisasi tim (tenaga ahli) dilakukan pada tahap awal
dimaksudkan untuk mendapatkan tenaga ahli sesuai dengan yang
diminta (sesuai KAK) dengan kualitas memadai, di samping itu untuk
mempercepat koordinasi antar tenaga ahli, agar tenaga ahli tersebut
mampu berkomunikasi dan bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan
terutama dengan Tim Kota Pusaka Kota Sawahlunto dan arahan supervis
dan fasilitator, hal ini dikarenakan informasi dari setiap tenaga ahli
diperlukan oleh tenaga ahli lainnya dan seluruh tim.

2. Penyiapan Desain/Pedoman Survei


Rencana kerja yang telah dimantapkan berdasarkan penyempurnaan
kerangka pikir pelaksanaan pekerjaan yang telah dibuat, dipakai dasar dalam
penyusunan desain survei.

Pada kegiatan perumusan desain survei ini,

sekaligus dipersiapkan alat-alat bantu (tools) yang dipergunakan dalam kegiatan


survei. Pada tahap ini dilakukan beberapa kegiatan pokok, meliputi :
Penyusunan peta pusaka makro skala 1 : 25.000 (kedalaman RTRW).
Penentuan delineasi kawasan pusaka prioritas (core zone dan buffer
zone).
Perumusan desain survei, format isian pendataan aset pusaka, dan
peta kawasan prioritas dengan skala 1 : 5.000 sebagai acuan dalam
melakukan survei lapangan.

3. Pelaksanaan Survei
Rencana kerja yang telah dimantapkan berdasarkan penyempurnaan
kerangka pikir pelaksanaan pekerjaan yang telah dibuat, dipakai dasar dalam
12

pelaksanaan survei.

Pada tahap ini dilakukan beberapa kegiatan pokok,

meliputi:
Pelaksanaan Survei (Observasi

Lapangan)

dalam

rangka

mengumpulkan data primer terkait aset pusaka alam, budaya ragawi,


budaya tak ragawi, dan saujana bekerjasama dengan tim mahasiswa
teknik arsitektur Univesitas Haluoleo di Kota Kendari dan mahasiswa
teknik sipil Univesitas Dayanu Ikhsanudin di Kota Baubau.
Penempatan beberapa tenaga ahli di lokasi lapangan selama 2 bulan
dalam proses kegiatan inventarisasi dan survei lapangan.
Melakukan verifikasi data hasil survei melibatkan tim kota pusaka daerah
dan tim supervisi serta fasilitator

4. Perumusan dan Analisis


Hasil survei yang telah dimantapkan berdasarkan penyempurnaan
kerangka pikir pelaksanaan pekerjaan yang telah dibuat, dipakai dasar dalam
pelaksanaan perumusan dan analisis. Pada tahap ini dilakukan beberapa
kegiatan pokok, meliputi :
Perumusan dan analisis data base aset pusaka Kota Baubau yang
terintegrasi dengan peta berbasis GIS berdasarkan hasil survei lapangan.
Penyusunan peta pusaka skala makro 1:25.000 dan peta skala mikro 1 :
5.000 serta buku deluxe hasil inventarisasi aset pusaka Kota Baubau.
Pembuatan film pendek resolusi tinggi (durasi 5-6 menit) terkait hasil
inventarisasi aset pusaka Kota Baubau yang telah dilakukan.

13

B. Diagram Metodologi Kegiatan Inventarisasi Aset Pusaka Kota Baubau

Dalam diagram metodologi kegiatan Pelaksanaan Kegiatan Inventarisasi Kota


Baubau, laporan tim inventarisasi ini sudah mencapai tahapan III yang sudah
melewati tahapan survei dan inventarisasi serta beberapa hasil analisis yang
menghasilkan Usulan Konsep Pengembangan Strategi Kota Pusaka Kota Baubau
dengan Kawasan Prioritas: Kawasan Benteng Keraton Wolio sebagai zona inti dan
Kawasan Permukiman sekitarnya serta Pelabuhan Lama sebagai zona penyangga.
Selanjutnya hasil-hasil ini akan didiskusikan bersama Tim Kota Pusaka Baubau,
Supervisi dan Fasilitator guna memfinalisasi output hasil akhir.
1.5.2. Pendekatan Kegiatan Inventarisasi
Dalam melaksanakan kegiatan Inventarisasi Aset Pusaka Kota
Baubau dalam Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) ini
pendekatan yang digunakan diantaranya adalah:
1. Pendekatan Aspiratif dan Partisipatif
Pengertian aspiratif: dalam proses dan tahapan perencanaan
kegiatan dari awal sampai akhir, masukan, ide, gagasan dan pendapat
seluruh komponen dan pelaku menunjang perwujudan hasil inventarisasi
aset pusaka Kota Baubau yang diharapkan bersama.
Pengertian

partisipatif:

konsekuensi

dari

pendekatan

perencanaan yang aspiratif, dalam proses dan tahapan perencanaan dari


awal sampai akhir akan melibatkan partisipasi pelaku kegiatan dalam
14

pelaksanaan survei, perumusan ide dan gagasan rencana yang


mendukung analisis dan rencana, memberi masukan dalam finalisasi
rencana dan berpartisipasi dalam perwujudan rencana itu sendiri.
Model perencanaan yang partisipatif dan aspiratif umumnya
diwujudkan dalam bentuk perencanaan yang melibatkan peran serta
masyarakat. Di Indonesia konsep peran serta masyarakat mulai muncul
pada UU No. 26 Tahun 2007 khususnya pasal
4 ayat 2 yang menyatakan bahwa Setiap orang dapat mengajukan
usul, memberi saran, atau mengajukan keberatan kepada pemerintah
dalam rangka penataan ruang.
Kota Baubau memiliki karakter kental dengan budaya masyarakat
lokal dan adat istiadat Kesultanan Buton yang masih melekat, oleh
karena itu setiap tahapan proses kegiatan benar-benar penting untuk
melibatkan unsur masyarakat lokal ini agar dihasilkan dokumen yang
sarat akan pola tradisi yang masih bertahan.
Secara teori terdapat beberapa model pemberdayaan atau peran
serta masyarakat, yaitu diantaranya:

Peran serta sebagai penelitian pasar, yaitu berkonsentrasi pada


survei-survei

dan

pengumpulan

pendapat

karena

kita

menganggap masyarakat sebagai konsumen/pelanggan;

Peran

serta

memberikan

sebagai

pembuat

kepercayaan

kepada

keputusan,

yaitu

masyarakat

dengan

untuk

ikut

membentuk badan-badan pengambil keputusan dan bahkan


mungkin

menyerahkan

pengambilan

keputusan

kepada

masyarakat;

Peran serta sebagai pemecah oposisi yang terorganisir (partisipasi


retorik) yaitu dengan memasukkan pemimpin-pemimpin golongan
radikal yang cenderung beroposisi sebagai anggota komisi yang
kemudian menurunkan kredibilitas mereka dalam pandangan
15

pendukung-pendukungnya;

Peran serta sebagai terapi sosial (social therapy) dengan


melibatkan masyarakat tidak terlalu banyak pada penentuan apa
yang harus disediakan, akan tetapi lebih pada proses penyediaan
nyata dari pelayanan itu sendiri (semacam aktivitas kerja
bakti/gotong royong);

Peran serta sebagai grass-root radicalism, yaitu sebagai ekspresi


puncak dengan mengorganisi kaum miskin untuk melawan
struktur kekuasaan dengan cara apapun yang dianggap tepat
dengan situasi dan kondisi yang ada, misalnya dengan
demonstrasi, pemogokan dan sebagainya;

Peran serta sebagai partaking in benefits yaitu dengan


memusatkan usaha untuk memperluas hubungan masyarakat
melalui brosur, selebaran dan forum
kepada

masyarakat

untuk

penerangan

menjelaskan

langsung

apa yang sedang

dikerjakan dan mengapa hal itu baik untuk mereka. Dengan


demikian peran serta masyarakat dalam berbagaI kegiatan dan
pembangunan sangat dipengaruhi oleh sistem nilai atau budaya
dan sikap- sikap perencanaan yang dominan di daerah yang
bersangkutan.

Dan pelibatan peran serta masyarakat Kota Baubau dalam


kegiatan inventarisasi ini sangat tepat jika dimasukkan dalam
kategori diatas.

Peran serta masyarakat mempunyai tahapan perilaku sebagai berikut:

Kognitif, masyarakat mengetahui secara baik dan benar tentang


kegiatan inventarisasi aset pusaka Kota Baubau ini serta peran
yang dapat dilakukan olehnya;

Afektif, masyarakat termotifasi dan timbul keinginan untuk


terlibat dan berperan serta dalam kegiatan inventarisasi aset
16

pusaka ini sesuai dengan alternatif peran yang dimungkinkan dan


kemampuannya;

Konasi, masyarakat telah terbiasa dan melakukan peran sertanya


dalam kegiatan inventarisasi aset pusaka ini yang secara aktif
menjadi bagian dalam kehidupannya.

2. Pendekatan Kebijakan Pengembangan Investasi


Dalam kebijakan pengembangan investasi sangat penting bagi
pengembangan ekonomi suatu wilayah. Dengan masuknya investasi,
kegiatan

produksi

akan

semakin

membesar

dan

menimbulkan

permintaan turunan terhadap berbagai produk lainnya yang secara


bertahap akan menimbulkan aktivitas ekonomi yang semakin membesar.
Konseppengembangan investasi di wilayah dapat dilakukan oleh
pemerintah, BUMN dan menggandeng pihak investor swasta baik dalam
maupun luar negeri dengan melakukan pemetaan pembagian bidangbidang investasi antara pihak pemerintah dan pihak swasta. Bidang
investasi yang dapat ditawarkan kepada pihak swasta adalah bidang
bidang yang menarik sektor swasta misalnya:

Investasi pengolahan sektor unggulan

Investasi pengembangan sektor pariwisata

Dalam proses inventarisasi aset pusaka Kota Baubau, pada saat


kita melakukan analisis yang akan menghasilkan usulan konsep strategi
pengembangan maka kita dapat melakukannya dengan menggunakan
pendekatan ini. Kota Baubau sendiri memilki potensi yang sangat bagus
dan bisa dikatakan hampir semua aset pusaka yang ada termasuk
alamnya masih utuh, murni dan belum tersentuh oleh sebuah
pengelolaan yang baik. Walaupun peran masyarakat lokal dapat kita lihat
mengelola secara pribadi aset per aset pusaka, termasuk bagaimana
keluarga dan keturunan kesultanan masih memegang aset-aset pusaka
17

penting Buton ini, namun tetap dibutuhkan suatu pengelolaan yang


komprehensif dan terkoordinir dengan baik termasuk didalamnya
melibatkan peran para investor (yang belum terlihat secara nyata di kota
ini) yang memiliki pemahaman akan pelestarian pusaka yang baik.

3. Pendekatan Kebijakan Pengembangan Wilayah


Pengembangan
upaya

wilayah

(regional

development) merupakan

untuk memacu perkembangan sosial ekonomi, mengurangi

kesenjangan antar wilayah dan menjaga kelestarian hidup pada suatu


wilayah (Dodi,2002).

Pengembangan wilayah sangat dibutuhkan untuk

mengkaji kondisi sosial, budaya, ekonomi, politik dan geografis secara


terpadu yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Penerapan konsep pengembangan wilayah harus disesuaikan dengan
potensi, permasalahan dan kondisi nyata wilayah bersangkutan.
Pengembangan

wilayah

berorientasi

pada

isu-isu

dan

permasalahan pokok wilayah yang saling berkaitan dan pengembangan


wilayah tidak akan terwujud tanpa adanya pengembangan sektoral
secara terintegrasi.

Tujuan pengembangan wilayah adalah menyerasikan berbagai


kegiatan pembangunan sektor dan wilayah, sehingga pemanfaatan ruang
dan sumber daya yang ada dapat optimal mendukung peningkatan
kehidupan masyarakat sesuai dengan tujuan dan sasaran program
pembangunan yang diharapkan. Optimalisasi berarti tercapainya tingkat
kemakmuran yang sesuai dan selaras dengan aspek sosial budaya dan
lingkungan yang berkelanjutan.
Secara khusus perencanaan tata ruang mempunyai tiga tujuan.
Pertama, meningkatkan efisiensi penggunaan ruang sesuai daya
dukungnya. Kedua, memberikan kesempatan kepada masing-masing
sektor untuk berpartisipasi dan berkembang secara maksimal tanpa
18

adanya konflik. Ketiga, meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara


merata (BPPT,1999).
Dengan demikian didalam proses inventarisasi aset pusaka Kota
Baubau ini, pada saat kita melakukan analisis yang akan menghasilkan
usulan konsep strategi pengembangan maka kitapun membutuhkan
pendekatan kebijakan pengembangan wilayah, dengan demikian Kota
Baubau dapat memiliki konsep-konsep pengembangan kawasan-kawasan
pusaka yang saling terajut dan bersinergi membentuk konsep citra dan
pemaknaan terhadap Kota Baubau sebagai Kota Pusaka Indonesia.

4. Pendekatan Kebijakan Prioritas


Dalam pelaksanaan suatu pembangunan yang terbatas sumber
dayanya, maka sulit untuk melakukan semua yang direncanakan secara
bersama-sama dengan besaran nilai sesuai kebutuhannya.

Karena

keterbatasan sumber daya yang ada (baik dana, sumber daya manusia,
waktu, dan sumber daya input lainnya), maka dalam pelaksanaan
kegiatan inventarisasi aset pusaka Kota Baubau dan dalam melakukan
pendetailan analisis untuk inventarisasi aset pusaka dari beberapa
kawasan pusaka yang ada, dilakukan secara gradual pemilihan kawasan
pusaka yang memiliki nilai prioritas yang paling tinggi melalui pendekatan
ini. Prioritas ini dapat ditentukan berdasarkan beberapa kriteria dan
diturunkan dari aspek-aspek yang berpengaruh pada analisis nilai sejagad
pada kawasan pusaka tersebut serta beberapa potensi dan kesiapan
untuk proses selanjutnya dalam tahapan pengembangan dan pengelolaan
pusaka secara berkelanjutan.

19