Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan hak yang penting guna setiap penduduk di

Indonesia, terutama bagi anak-anak muda sebagai penerus bangsa


Indonesia. Pendidikan yang baik akan memberikan pengaruh yang baik
pula bagi masa depan anak-anak muda Indonesia dan pasti akan
berimbas positif pula bagi negara.
Namun, pendidikan di Indonesia rupanya masih belum merata.
Banyak anak-anak Indonesia yang kurang beruntung di bidang
pendidikan. Mereka tidak bisa mendapatkan fasilitas yang layak untuk
menuntut ilmu, bahkan beberapa di antara mereka tidak bisa
melanjutkan pendidikannya. Sekolah yang bobrok, tenaga pengajar
yang terbatas, dan lokasi sekolah yang jauh dengan medan yang
berbahaya merupakan beberapa kenyataan yang

harus kita terima

bahwa memang pendidikan di Indonesia belum merata. Salah satu


contoh kasus terjadi di Cianjur. Ratusan siswa SDN Hegar Waas, Desa
Mekarsari, Cianjur, terpaksa menyeberangi Sungai Cisokan untuk
berangkat ke sekolah. Mereka terpaksa menyeberangi sungai dengan
meninggikan tas dan buku serta baju agar tidak basah, karena sekolah
mereka terletak di sisi lain kampung tempat tinggal mereka. Satusatunya alternatif adalah dengan memutar jalan yang berjarak 10 km
untuk sampai ke sekolah.
Tak hanya itu, kasus lain pun kini melibatkan penyandang difable.
Sempat terjadi pergunjingan seputar ketentuan yang dibuat oleh
Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) mengenai peserta
SNMPTN. Pada ketentuan tersebut dijelaskan bahwa pada beberapa
jurusan eksakta dan sosial mensyaratkan pendaftar bukan seorang
penyandang difable alias cacat tubuh. Hal ini tentunya tidaklah adil
bagi para penyandang difable, karena setiap insan manusia berhak
mendapatkan

pendidikan

yang

layak.

Padahal,

bisa

saja

para

penyandang difable tersebut lebih berprestasi dibanding dengan


murid-murid yang normal, terbukti dengan banyaknya penyandang
1

difable

yang

berprestasi,

baik

di

bidang

akademis

maupun

nonakademis. Dikarenakan adanya perlakuan yang berbeda, tak jarang


para penyandang difable mengalami krisis kepercayaan diri dan
terpuruk, meskipun tak jarang pula yang mampu bangkit dan
membuktikan bahwa ia juga memiliki peluang yang sama dengan
anak-anak normal.
Universitas Brawijaya memulai program untuk penyandang difable
sejak tahun 2012. Pada tahun ajaran 2014/2015, Pusat Studi dan
Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya menerima mahasiswa
baru disabilitas melalui jalur seleksi program khusus penyandang
difable sebanyak 20 orang. Seleksi ini dilakukan dengan sesama
penyandang difable, berbeda dengan SNMPTN dan SPMK. Hal ini
merupakan awal yang baik demi terciptanya kesetaraan

untuk

mendapatkan pendidikan yang layak. Dengan begitu, penyandang


difable mampu menuntut ilmu dengan kadar yang sama dengan
mahasiswa yang normal. Para penyandang difable yang diterima
menjadi mahasiswa Universitas Brawijaya akan didampingi oleh
relawan

yang

akan

membantunya

selama

proses

perkuliahan.

Meskipun sampai sekarang fasilitas khusus untuk mahasiswa difable


masih terus dikembangkan oleh pihak universitas, tapi hal ini adalah
awal yang baik bagi pendidikan Indonesia.
Namun, dengan dibukanya program untuk penyandang difable,
timbul pertanyaan mengenai bagaimana mahasiswa yang notabene
seorang penyandang difable mampu beradaptasi di lingkungan yang
bisa dikatakan normal dan berbeda dengan dirinya. Hal inilah yang
menjadi perhatian kami sebagai peneliti untuk meneliti bagaimana
proses adaptasi yang dilakukan oleh mahasiswa difable.
1.2

Rumusan Masalah

Rumusan

masalah

dari

penelitian

ini

adalah

sebagai

berikut:

Bagaimana proses adaptasi yang dilakukan mahasiswa difable di


lingkungan Kampus FISIP Universitas Brawijaya Malang?
1.3

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses adaptasi


yang dilakukan oleh mahasiswa difable di Kampus FISIP Universitas
Brawijaya Malang.
1.4

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai


berikut:
1. Hasil penelitian ini disusun untuk memenuhi tugas akhir semester
mata kuliah Metode Penelitian Psikologi II.
2.

Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk membantu mahasiswa


difable dalam melakukan proses adaptasi di lingkungan Kampus
FISIP UB.

1.5

Penelitian Terdahulu

No
1

Aspek Review
Judul

Content
Makna Hidup Penyandang Cacat Fisik
Postnatal Karena Kecelakaan
Penyandang cacat fisik yang mengalami
amputasi disebabkan karena kecelakaan
tentunya

memiliki

dampak

psikologis

yang negatif pada situasi yang dialami.


Kehilangan

semangat

dan

berpikiran

pendek ketika jiwanya terguncang yang


dapat menyebabkan tindakan bunuh diri
tersebut dapat terjadi.
2

Latar Belakang Masalah

Reaksi negatif atau positif yang dimiliki


oleh tiap individu itu yang membuat
makna hidup berbeda satu sama lain.
Individu

yang

mengalami

cacat

fisik

postnatal karena kecelakaan memiliki


makna hidup yang berbeda dibandingkan
dengan individu yang mengalami cacat
fisik sejak lahir yang telah beradaptasi
sejak awal.

Bagaimanakah makna hidup bagi


penyandang cacat fisik postnatal yang
disebabkan karena kecelakaan?
Perubahan seperti apa yang terjadi

Rumusan Masalah

pada hidup penyandang cacat fisik


setelah mengalami kecelakaan?
Bagaimana penyandang cacat fisik

menjalani
4

Tujuan Penelitian

kecelakaan?
Penelitian
ini

kehidupan
bertujuan

setelah
untuk

mengetahui makna hidup penyandang


4

cacat fisik postnatal setelah mengalami


5

Teori

kecelakaan.
Penelitian ini menggunakan teori makna
hidup

dari

Victor

Frankl.

Menurut

pandangan Frankl makna hidup dapat


ditemukan

dalam

setiap

keadaan,

termasuk dalam penderitaan sekalipun,


kehidupan ini selalu mempunyai makna.
Frankl

(Koeswara,

1992;

2007)

menyimpulkan

Bastaman,

bahwa

makna

hidup bisa ditemukan melalui realisasi


tiga

nilai,

yaitu

Nilai

Kreatif,

yang

realisasinya melalui berbagai kegiatan


seperti

berkarya,

bekerja

yang

menghasilkan, potensi dapat tersalurkan,


interaksi
tugas

sosial

dan

serta

melaksanakan

kewajiban

sebaik-baiknya

dengan penuh tanggung jawab; Nilai


Penghayatan, yang realisasinya

dapat

diperoleh dengan menerima apa yang


ada penuh pemaknaan dan penghayatan
yang mendalam seperti penerimaan diri
yang

baik,

keyakinan

diri,

perasaan

emosi positif, serta meningkatkan ibadah


melalui realisasi nilai-nilai yang berasal
dari agama maupun yang berasal dari
filsafat hidup yang sekuler; dan Nilai
Bersikap yang sering dianggap paling
tinggi karena dengan merealisasikan nilai
bersikap ini berarti individu menunjukkan
keberanian dan kemuliaan menghadapi
penderitaannya,

realisasi

tersebut

melalui penyikapan terhadap apa yang


terjadi

seperti

ikhlas

dan

tawakal,

perasaan bangga pada


diri, optimis, serta dapat mengambil

hikmah dari
setiap peristiwa.
Penelitian ini menggunakan
penelitian

kualitatif

Pengumpulan

data

metode
deskriptif.

menggunakan

metode wawancara konvensional yang


informal dengan dibantu menggunakan
pedoman

umum.

pengorganisasian
6

Metodologi

data

Teknik
menggunakan

analisis tematik berupa open koding,


aksial koding, dan selektif koding. Subjek
dalam penelitian ini adalah orang-orang
yang mengalami kecacatan permanen
dan fungsi tubuh yang yang tidak normal
seperti semula karena kecelakaan yang
dialami

pada

rentang

usia

dewasa

madya, yaitu antara usia 30-45 tahun.


Ketiga subjek (NK, AR, YS) sama-sama
memaknai hidup dengan memandang
kecekalakaan yang mereka alami adalah
7

Hasil

risiko pekerjaan dan merupakan takdir.


Ketiga individu memiliki nilai bersikap
dengan menunjukkan keberanian dan
kemuliaan dalam dalam menghadapi
penderitaan.
Subjek meyakini kecelakaan yang
dialami merupakan murni kecelakaan.

Kesimpulan

Keyakinan itu membuat ia mencapai


makna hidup yang membuat ia pasrah
menghadapi cacat fisik post-natal yang

Kelebihan dan

dialaminya.
Kelebihan dari penelitian ini adalah

Kekurangan

penjelasan tentang tujuan penelitian


sudah cukup rinci.
Kekurangan dari jurnal ini adalah tidak
dijelaskannya manfaat praktis dari hasil
penelitian, sehingga masyarakat luas

tidak dapat langsung mengaplikasikan


hasil penelitiannya.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1

Penyesuaian Diri

2.1.1

Definisi Penyesuaian Diri


Penyesuaian diri didefinisikan sebagai interaksi yang kontinyu

dengan diri sendiri, yaitu apa yang telah ada pada diri sendiri,
tubuh, perilaku, pemikiran serta perasaan, dengan orang lain dan
dengan lingkungan (Calhoun dalam Kumalasari, 2012).
Penyesuaian diri juga dapat diartikan sebagai penguasaan, yaitu
memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi
respon-respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala
macam konflik, kesulitan dan frustrasi-frustrasi secara efisien
(Sunarto dan Hartono dalam Kumalasari, 2012).
Menurut Mappiare (dalam Kumalasari, 2012) penyesuaian diri
merupakan suatu usaha yang dilakukan agar dapat diterima oleh
kelompok dengan jalan mengikuti kemauan kelompoknya.
Schneiders

(dalam

Rohmah,

2004)

mengatakan

bahwa

penyesuaian diri adalah proses kecakapan mental dan tingkah laku


seseorang dalam menghadapi tuntunan-tuntunan baik dari dalam
diri sendiri maupun lingkungannya.
2.1.2

Proses Penyesuaian Diri


Proses penyesuaian diri menurut Scheinders (dalam Ali, 2004)

melibatkan tiga unsur, yaitu:


a. Motivasi
Faktor motivasi merupakan kunci untuk memahami proses
penyesuaian diri. Motivasi merupakan kekuatan internal yang
menyebabkan ketegangan dan ketidakseimbangan dalam
organisme.

Penyesuaian

diri

secara

sederhana

dapat

dipandang sebagai usaha untuk mereduksi atau menjauhi


ketegangan tersebut dan memelihara keseimbangan yang
lebih wajar. Kualitas respon tersebut ditentukan oleh kualitas
motivasi dan juga hubungan individu dengan lingkungan.
b. Sikap terhadap realitas
8

Berbagai aspek penyesuaian diri ditentukan oleh sikap dan


cara

individu

bereaksi

terhadap

lingkungan

sekitarnya.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa sikap yang sehat


terhadap realitas dan kontak yang baik terhadap realitas itu
sangat diperlukan bagi proses penyesuaian diri yang sehat.
Berbagai tuntutan realitas menuntut individu untuk terus
belajar menghadapi dan mengatur suatu proses ke arah
hubungan yang harmonis antara tuntutan internal yang
dimanifestasikan

dalam

bentuk

sikap

dengan

tuntutan

eksternal dari realitas.


c. Pola dasar proses penyesuaian diri
Dalam penyesuaian diri sehari-hari terdapat suatu pola dasar
penyesuaian diri. Sesuai dengan konsep dan prinsip-prinsip
penyesuaian diri yang ditujukan kepada diri sendiri, orang
lain, maupun lingkungannya, maka proses penyesuaian diri
menurut Sunarto (dalam Ali, 2004) dapat ditujukan sebagai
berikut.
-

Di satu sisi, individu memiliki dorongan keinginan untuk


memperoleh makna dan eksistensi dalam kehidupannya
dan di sisi lain mendapat peluang atau tuntutan dari luar
dirinya sendiri.

Kemampuan menerima dan menilai kenyataan lingkungan


secara

objektif

sesuai

pertimbangan-pertimbangan

rasional dan perasaan.


-

Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi kemampuan


yang ada pada dirinya dan kenyataan objektif di luar
dirinya.

Kemampuan bertindak secara dinamis dan tidak kaku


sehingga menimbulkan rasa aman.

Dapat bertindak sesuai dengan potensi-potensi positif


yang layak dikembangkan sehingga dapat menerima dan
diterima lingkungan.

Selalu

menunjukkan

perilaku

hormat

dan

mampu

bertindak toleran dengan keadaan orang lain.


-

Kesanggupan merespon frustrasi, konflik, dan stress


secara wajar, sehat, dan profesional.

Kesanggupan bertindak secara terbuka dan sanggup


menerima kritik dan tindakannya dapat bersifat murni
sehingga sanggup memperbaiki tindakan yang tidak
sesuai.

Dapat beritndak sesuai dengan norma yang dianut oleh


lingkungannya

serta

selaras

dengan

hak

dan

kewajibannya.
-

Secara positif ditandai oleh kepercayaan terhadap diri


sendiri, orang lain, dan segala sesuatu di luar dirinya
sehingga tidak pernah merasa tersisih dan kesepian.

2.1.3

Faktor-faktor Penyesuaian Diri


Menurut Scheinders (dalam Ali, 2004), terdapat lima faktor yang

mempengaruhi proses penyesuaian diri.


a. Kondisi fisik
Seringkali kondisi fisik mempengaruhi proses penyesuaian
diri. Aspek-aspek dalam hal ini adalah:
-

Hereditas dan konstitusi fisik

Sistem utama tubuh

Kesehatan fisik

b. Kepribadian
Aspek-aspek dalam kepribadian adalah:
-

Kemauan dan kemampuan untuk berubah (modifiability)

Pengaturan diri (self-regulation)

Realisasi diri (self-realization)

Inteligensi (intelligency)

c. Edukasi
Unsur-unsur penting yang mempengaruhi penyesuaian diri
adalah:
-

Belajar

Pengalaman

Latihan

Determinasi diri

d. Lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
penyesuaian diri antara lain:
-

Lingkungan keluarga

10

Lingkungan sekolah

Lingkungan masyarakat

e. Agama dan budaya


Agama secara konsisten mengingatkan manusia tentang
nilai-nilai intrinsik dan kemuliaan manusia yang diciptakan
oleh

Tuhan,

bukan

sekedar

nilai-nilai

instrumental

sebagaimana dihasilkan oleh manusia.


Karakteristik budaya yang diwariskan oleh individu melalui
berbagai
maupun

media

dalam

masyarakat,

lingkungan

secara

keluarga,

langsung

sekolah,

ataupun

tidak

menyebabkan konflik pribadi, kecemasan, frustrasi, serta


berbagai perilaku neurotik atau penyimpangan perilaku.
Dengan

demikian,

faktor

agama

dan

budaya

memiliki

pengaruh yang berarti bagi perkembangan penyesuaian diri


individu.
2.2

Mahasiswa Difable
Mahasiwa adalah individu yang sedang menempuh pendidikan

formal, mulai dari diploma-1 sampai dengan strata-3.


Difable mulai digunakan masyarakat luas pada tahun 1999 untuk
memperhalus sebutan bagi penyandang cacat. Difable adalah singkatan
dari different abled people, yang berarti orang-orang yang memiliki
keterampilan berbeda dari kebanyakan orang. Terdapat beberapa
definisi mengenai apa itu difable dari beberapa sumber, yaitu:
-

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), difable adalah


suatu kekurangan yang menyebabkan nilai atau mutunya kurang
baik atau kurang sempurna dan tidak sempurnanya diakibatkan
oleh kecelakaan atau lainnya yang menyebabkan keterbatasan
pada dirinya secara fisik.

Menurut World Health Organization (WHO), difable adalah suatu


kehilangan

atau

ketidaknormalan

baik

psikologis,

fisiologis,

maupun kelainan struktur atau fungsi anatomis.


Jadi, mahasiswa difable adalah individu yang sedang menempuh
pendidikan formal, mulai dari diploma-1 sampai dengan strata-3 yang
memiliki kemampuan yang berbeda atau different ability.

11

2.3

Kerangka Berpikir

12

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah desain penelitian
kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pada penelitian ini, peneliti
akan melihat proses adaptasi yang dilakukan mahasiswa difable dan
memaparkan seperti apa adanya tanpa diikuti persepsi peneliti.
3.2 Definisi Operasional
3.2.1 Penyesuaian Diri
Definisi operasional dari penyesuaian diri adalah segala usaha
yang dilakukan mahasiswa difable FISIP UB agar diterima oleh
lingkungan perkuliahannya, yang notabene adalah warga-warga di
dalam FISIP UB.
3.2.2 Mahasiswa Difable
Definisi operasional dari mahasiswa difable adalah individu yang
sedang

menempuh

pendidikan

strata-1

di

FISIP

UB

yang

menyandang different ability.


3.3 Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang.
3.4 Sampel Penelitian
Teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling
dengan jenis purposive sampling. Teknik ini dipilih karena penelitian ini
memiliki tujuan tertentu untuk meneliti proses adaptasi mahasiswa
difable. Sehingga, peneliti langsung menjadikan mahasiswa difable yang
berkuliah di FISIP sebagai sampel.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah
metode observasi dan wawancara. Peneliti melakukan wawancara guna
menggali informasi atas persepsi subjek penelitian terhadap proses
13

adaptasi yang dijalaninya di lingkungan kampus. Sementara itu, metode


observasi yang digunakan peneliti adalah observasi nonpartisipatif,
dimana peneliti tidak ikut serta dalam kegiatan subjek penelitian dan
hanya mengamati kegiatan subjek di kampus.
3.6 Analisis Data
Model analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah model
analisis interaktif Miles dan Huberman. Model interaktif ini terdiri dari
tiga hal utama, yaitu (1) reduksi data; (2) penyajian data; dan (3)
penarikan kesimpulan atau verifikasi.
3.7 Reliabilitas dan Validitas
Pembuktian validitas pada penelitian ini mengacu pada Moleong
(dalam Idrus, 2009) di mana hasil temuan di lapangan diinterpretasi dan
ditafsirkan sesuai dengan kondisi sebenarnya dan disetujui oleh subjek
penelitian.
Validitas dapat dipenuhi dengan cara memperpanjang observasi,
pengamatan yang terus menerus, triangulasi, membicarakan hasil
temuan

dengan

orang

lain,

menganalisis

kasus

negatif,

dan

menggunakan bahan referensi. Reliabilitas dapat dilakukan dengan


pengamatan sistematis, berulang, dan dalam situasi yang berbeda.
Data dikatakan valid dan reliabel jika penelitian sudah mencapai
keadaan data jenuh. Data jenuh merupakan kondisi yang menunjukkan
di mana dan kapan saja suatu pertanyaan ditanyakan pada informan,
dan pada siapapun pertanyaan yang sama ditanyakan, jawaban akan
tetap konsisten dan sama.

14

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Analisis Data

No
Tema
Subtema
1 Proses
1.
Moti
penyesuaian
vasi
diri

2.

Sika
p
terhadap
realitas

Bagian
Dorongan internal
untuk melakukan
penyesuaian diri.

Verbatim
Ya saya juga tidak mau
berputus asa dan saya juga
tidak
mau
dipandang
sebelah mata hanya karena
kekurangan saya. Saya
pasti bisa menunjukkan
kepada
orang-orang
terdekat saya
maupun
orang-orang yang pernah
merendahkan saya bahwa
saya
juga
punya
kemampuan seperti yang
lain. Meskipun saya tidak
punya kemampuan secara
fisik, tapi secara mental
saya
juga
berhak
mendapatkan apa yang
didapatkan oleh orang lain,
terutama
pendidikan.
Seperti itu. (Baris 46, M,
230414P1)
Sikap yang sehat Iya memang saya terlahir
dan cara individu dengan
kondisi
tidak
bereaksi terhadap sempurna. Kedua kaki dan
lingkungan
tangan saya mengalami
sekitarnya.
kelumpuhan. Yaa, yang saya
tahu
saya
memang
dilahirkan dalam kondisi
seperti ini.
(Baris 14, M, 230414P1)
Ya pada awalnya saya
merasa minder karena saya
tidak bisa seperti yang lain,
tidak bisa berdiri sendiri,
selalu membutuhkan orang
lain. Ya awalnya saya
memiliki pikiran bagaimana
kalau saya tidak diterima
dalam
lingkungan
ini,
15

3.

Pola
dasar
proses
penyesua
ian diri

1.

Dorongan
keinginan untuk
memperoleh
makna
dan
eksistensi dalam
kehidupan.

2.

Kemampuan
menerima dan
menilai
kenyataan
lingkungan
secara objektif.

16

bagaimana
nanti
saya
mengenal
teman-teman
yang lain, apa saya bisa
diterima
atau
nggak,.
Awalnya
sih
banyak
pemikiran seperti itu. Tapi
pada kenyataannya, ternyata
teman-teman
tidak
mempermasalahkan
kekurangan saya.
(Baris 26, M, 230414P1)
Ya kan saya kalau ke
kampus itu diantar jemput
oleh orangtua, saya juga
sehari-hari
di
kampus
menggunakan kursi roda. Ya
memang saya membutuhkan
teman yang membantu
mendorong kursi saya dan
yang mungkin membantu
saya
dalam
bergerak
kemana-mana. Begitu.
(Baris 63, M, 230414P1)
Ya kalau di lingkungan
kampus kan pasti sering ada
yang
ngelihatin
saya,
menganggap saya aneh.
Kadang
pandanganpandangan yang seperti itu
membuat
saya
merasa
rendah diri atau ada orang
yang
membicarakan
kekurangan saya.
(Baris 107, M, 230414P1)
Tapi di sisi lain, saya punya
kelebihan. Saya orang yang
mau membaur dengan
orang lain. Saya mau
mengikuti
kegiatankegiatan kampus, saya mau
mencoba
aktif
di
organisasi-organisasi.
(Baris 87, M, 230414P1)
Ya kalau kayak gitu ya
pastilah, keadaan saya kan
kayak gini. Fisik saya
nggak sempurna. Jadi ya
minderlah
kalau
lihat
orang-orang
yang
sempurna, bisa jalan. Pasti

adalah perasaan kayak gitu.


(Baris 77, M, 230414P1)

3.

Dapat
bertindak sesuai
dengan potensipotensi positif.

4.

Kesanggupan
merespon
frustasi, konflik,
dan
stress
secara
wajar,
sehat,
dan
profesional.

5.

Kesanggupan
bertindak secara
terbuka
dan
sanggup
menerima
kritik.

17

Ya saya menyadari kalau


saya
mempunyai
kekurangan fisik. Saya
nggak seperti orang-orang
lainnya.
(Baris 85, M, 230414P1)
Tapi ya saya kembalikan ke
diri saya lagi. Saya dari
awal sudah menerima
keadaan saya yang seperti
ini. Ya saya menerima
bahwa takdir saya seperti
ini.
(Baris 113, M, 230414P1)
Meskipun saya memiliki
kekurangan, tapi itu Cuma
kecacatan fisik. Toh saya
bisa
menunjukkan
ke
mereka, saya nggak sekedar
apa yang mereka omongin.
(Baris 118, M, 230414P1)
Meskipun saya memiliki
kekurangan, tapi itu Cuma
kecacatan fisik. Toh saya
bisa
menunjukkan
ke
mereka,
saya
nggak
sekedar apa yang mereka
omongin.
Saya
bisa
menjadi lebih dari mereka.
Itu sih cara saya merespon
kalau mereka memandang
rendah saya.
(Baris 118, M, 230414P1)
Ya saya kembalikan ke diri
saya sendiri, terserah orang
mau bilang apa.
(Baris 117, M, 230414P1)

6.

Kepercayaan
terhadap
diri
sendiri, orang
lain, dan segala
sesuatu di luar
dirinya.

4.2 Display Data

18

Jadi saya merasa memiliki


kelebihan
dibandingkan
teman-teman saya yang
sempurna. Ya itu yang
membuat saya percaya diri.
Jadi saya merasa, meskipun
saya memiliki kekurangan,
tapi
nggak
harus
menjadikan saya minder.
(Baris 92, M, 230414P1)

DAFTAR PUSTAKA
http://kbbi.web.id/
Ali,

Mohammad

dan

Mohammad

Asrori.

(2004).

Psikologi

Remaja,

Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.


Idrus, Muhammad. (2009). Metode Penelitian Ilmu Sosial, Edisi Kedua.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Kumalasari, Fani dan Latifah Nur Ahyani. (2012). Hubungan Antara
Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di Panti Asuhan.
Jurnal Psikologi Pitutur Vol. 1 No. 1 Juni 2012, 21-31.
Rohmah, Faridah Ainur. (2004). Pengaruh Pelatihan Harga Diri Terhadap
Penyesuaian Diri Pada Remaja. Humanitas: Indonesian Psychological
Journal Vol. 1 No. 1 Januari 2004, 53-63.

19