Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

KEPANITERAAN KLINIK MADYA


APPENDICITIS.

OLEH :
Dolfince Sory
007 084 00 68

PEMBIMBING :
dr. James Gedy,Sp.B

SMF BEDAH RSUD JAYAPURA


UNIVERSITAS CENDERAWASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN
JAYAPURA
2014

DAFTAR ISI
Appendicitis akut2

DAFTAR ISI..............................................................................................................................2
BAB I. TINJAUANPUSTAKA.................................................................................................3
1.1

Apendisitis...........................................................................................................3
a. Anatomi...........................................................................................................3
b. Histologi..........................................................................................................4
c. Fisiologi..........................................................................................................4
d. Epidemiologi...................................................................................................5
e. Etiologi............................................................................................................5
f. Patofisologi.....................................................................................................5
g. Klasifikasi........................................................................................................6
h. Klasifikasi........................................................................................................6
i. Gambaran Klinis.............................................................................................8
j. Diagnosis.........................................................................................................9
J. Penatalaksanaan...........................................................................................18
K. Komplikasi.....................................................................................................19
L. Pencegahan...................................................................................................19

BAB II. LAPORAN KASUS PASIEN....................................................................................20


2.1. Identitas Pasien.................................................................................................20
2.2. Anamnesis..........................................................................................................20
2.3

Pemeriksaan Fisik.............................................................................................21

2.4

Pemeriksaan Penunjang....................................................................................21

2.5

Diagnosa............................................................................................................23

2.6

Follow Up..........................................................................................................24

2.8

Resume...............................................................................................................25

2.9

Daftar Masalah..................................................................................................25

BAB III. PEMBAHASAN.......................................................................................................26


DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................32

Appendicitis akut3

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Apendisitis
Appendicitis adalah peradangan pada Appendiks vermiformis atau peradangan
infeksi pada usus buntu (Appendiks) yang terletak di perut kuadran kanan bawah
(Smelzer, 2002). Walaupun apendisitis dapat terjadi pada setiap usia, namun paling sering
terjadi pada remaja dan dewasa muda.
a. Anatomi
Appendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran
3-15 cm), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan
melebar pada bagian distal.

Appendiks vermivormis terletak pada puncak caecum,

pada pertemuan ke-3 tinea coli yaitu:

Taenia libra

Taenia omentalis

Taenia mesokolika
Dari ke tiga taenia tersebut terutama taenia anterior yang digunakan sebagai

penanda untuk mencari basis appendiks . basis appendiks terletak di fossa iliaka
kanan, bila diproyeksikan ke dinding abdomen, terletak di kuadran kanan bawah
yang disebut dengan titik Mc Burney.
Organ lain di luar appendiks yang mempunyai peranan besar apabila terjadi
peradangan apendiks adalah omentum, yang merupakan salah satu alat pertahanan
tubuh apabila terjadi suatu proses intra abdominal termasuk apendiks. Pada anakanak appendiks lebih panjang dan lebih tipis dari pada dewasa. Oleh karena itu pada
peradangan akan lebih mudah mengalami perforasi. Sampai umur kurang lebih 10
tahun omentum mayus masih tipis, pendek dan lembut serta belum mampu
membentuk pertahanan atau pendindingan pada perforasi, sehingga peritonitis umum
karena appendicitis akut lebih sering terjadi apada anak-anak dari pada dewasa.
Namun demikian, pada bayi, appendiks berbentuk kerucut, lebar

pada

pangkalnya dan menyempit pada bagian ujung, Appendiks terletak intraperitoneal.


Kedudukan ini memungkinkan Appendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung
pada panjang mesoAppendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya, Appendiks
terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang colon asendens, atau di
tepi lateral kolon assendens (Snell, 2000).
Appendicitis akut4

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang mengikuti


a.mesenterika superior dan a.apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal
dari n.torakalis X (Snell, 200).
Perdarahan Appendiks berasal dari a.appendikularis yang merupakan arteri
tanpa kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi,
Appendiks akan mengalami ganggren (Snell, 200).

Gambar 1.1 anatomi usus besar


b. Histologi
Secara histologis, Appendiks mempunyai basis struktur yang sama seperti usus
besar. Glandula mukosanya terpisahkan dari vascular submucosa oleh mucosa
muskularis. Bagian luar dari submukosa adalah dinding otot yang utama. Appendiks
terbungkus oleh tunika serosa yang terdiri atas vaskularisasi pembuluh darah besar
dan bergabung menjadi satu di mesoAppendiks. Jika appendik terletak
retroperitoneal, maka appendik tidak terbungkus oleh tunika serosa. Mukosa
Appendiks terdiri atas sel-sel dari gastrointestinal endokrin sistem. Sekresi dari
mukosa ini adalah serotonin dan terkenal dengan nama sel argentaffin. Tumor ganas
paling sering muncul pada appendik dan tumbuh dari sel ini (victor, 2003).
.

c. Fisiologi
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Pada keadaan normal lendir
ini dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran
lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada pathogenesis apendisitis. Pada
keadaan normal tekanan dalam lumen Appendiks antara 15-25 cm H 2O pada waktu
kontraksi. Pada keadaan normal tekanan pada lumen sekum antara 3 - 4 cm H 2O,

Appendicitis akut5

sehingga terjadi perbedaan tekanan berakibat cairan di dalam lumen Appendiks


terdorong masuk ke sekum (Pieter, 2005 & Sherwood, 2001).
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid
tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk Appendiks, ialah IgA.
Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun
demikian, pengangkatan Appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena
jumlah jaringan limfe di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlah yang ada
di saluran cerna dan di seluruh tubuh (Pieter, 2005)
Appendiks menghasilkan lender 1-2 ml per hari.
d. Epidemiologi
Appendicitis merupakan kedaruratan paling sering di negara-negara barat.
Namun dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun secara bermakna.
Hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam
menu sehari-hari. Appendiks dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak
kurang dari 2 tahun jarang dilaporkan. Insiden apendisitis tertinggi pada kelompok
umur 20-30 tahun. Setelah umur 30 tahun insiden Appendicitis mengalami penurunan
jumlah. Insiden pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada
umur 20-30 tahun, insiden laki-laki lebih sering (Pieter, 2005).

e. Etiologi dan Faktor Resiko


Penyebab belum diketahui secara pasti. Berikut adalah faktor-faktor yang

Hiperplasi kelenjar getah bening 60% ( pada anak)

Fekolit yaitu feses yang terperangkap dalam luman apendiks mengalami


penyerapan air dan terbentuklah fekolit 35%, (pada dewasa)

Corpus alienum 4%, biji-bijian

Striktur lumen 1%, kinking, karena mesoappendiks pendek, adesi.

j. patofisiologi
Appendisitis paling sering disebabkan mula-mula oleh sumbatan lumen akibat fekolit
dan hiperplasia jaringan limfoid submukosa.obtruksi lumen apendiks merupakan
faktor penyebab dominan pada appendisitis akut. Peradangan pada apendiks berawal
di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu
24-48 jam. Obstruksi pada bagian yang lebih proksimal lumen menyebabkan stasis
bagian distal apendiks,sehingga mucus yang terbentuk secara terus menerus akan
Appendicitis akut6

terakumulasi. Selanjutnya akan menyebabkan tekanan intralimunal meningkat,


kondisi ini akan memacu proses translokasi kuman dan terjadi peningkatan jumlah
kuman di dalam lumen apendiks. Selanjutnya terjadi gangguan sirkulasi limfe yang
menyebabkan udem. Kondisi ini memudahkan invasi bakteri dari dalam lumen
menembus mukosa dan menyebabkan ulserasi mukosa apendiks maka

terjadi

keadaan yang disebut appendisitis fokal.


Obstruksi yang terus menerus menyebabkan tekanan intraluminal semakin
tinggi dan menyebabkan udem bertambah berat,terjadilah iskemia, dan invasi bakteri
semakin berat sehingga terjadi penumpukan nanah pada dinding apendiks atau
disebut appendisitis akut supuratif
Pada keadaan yang lebih lanjut, dimana tekanan intraluminar semakin tinggi,
udema terjadi lebih hebat, terjadi ganggren sirkulasi arterial. Hal ini menyebabkan
terjadi ganggren.keadaan ini disebut appendisitis genggrenosa
Bila tekanan terus meningkat, maka akan tejadi perforasi yang mengakibatkan cairan
mukosa apendiks akan tercurah ke rongga peritoneum dan terjadilah peritonitis.
Usaha pertahanan tubuh adalah membatasi proses radang dengan menutup
appendiks dengan omentum, usus halus atau adneksa sehingga terbentuk massa
periappendikuler (Pieter, 2005). Apabila terjadi pernanahan maka akan terbentuk
suatu rongga yang berisi nanah di sekitar Appendiks disebut abses periappendikuler.
Appendiks yang pernah meradang tidak sembuh sempurna, tetapi akan membentuk
jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya.
Perlengketan ini dapat menimbulkan serangan berulang di perut kanan bawah disebut
dengan Appendicitis rekurens. Pada suatu ketika organ ini meradang akut lagi dan
dinyatakan mengalami eksaserbasi akut (Pieter, 2005
Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang,
dinding apendiks lebih tipis, Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh
yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orangtua
perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah

f. Klasifikasi
Appendicitis akut7

Apendisiti terbagi menjadi dua yaitu,Appendicitis akut dan kroni (Sjamsuhidayat,


2005).
a. Appendicitis akut
Sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak
appendiks yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai
rangsang peritonieum lokal. Gajala apendisitis akut adalah nyeri samar-samar
dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar
umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah.Umumnya nafsu
makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ketitik
mcBurney.Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga
merupakan nyeri somatik setempat
b. Appendicitis kronik.
Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya
riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik Appendiks
secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik apendisitis kronik
adalah fibrosis menyeluruh dinding Appendiks,sumbatan parsial atau total lumen
Appendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan adanya
sel inflamasi kronik.Insiden apendisitis kronik antara 1-5%.

g. Klasifikasi apendisitis menurut klinikopatologi :


a) Appendicitis akut
Appendicitis akut adalah keadaan akut abdomen yang memerlukan
pembedahan segera untuk mencegah komplikasi yang lebih buruk jika telah
terjadi perforasi, maka komplikasi dapat terjadi seperti peritonitis umum,
terjadinya abses, dan komplikasi pasca operasi seperti fistula dan infeksi luka
operasi (Jaffe & Berger, 2005).
Appendicitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh
radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai
maupun tidak disertai rangsangan peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis
ialah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viceral di daerah
epigastrium di sekitar umblicus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada
muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke kanan bawah ke titik Mc Burney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam
dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatic setempat. Kadang
tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita seperti
memerlukan obat pencahar.
Bila dilakukan penekanan kemudian dilepaskan pada titik McBurney maka
pasien apendisitis akut akan merasa sangat nyeri. Penekanan juga dapat dilakukan
di abdomen kiri bawah, dikatakan apendisitis bila merasa nyeri pada abdomen
kanan bawah (bedah UGM, 2009).

Appendicitis akut8

b) Appendicitis infiltrate/supuratif
Appendicitis Infiltrate adalah proses radang appendiks yang penyebarannya
dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga
membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang
lainnya.
c) Appendicitis Abses
Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah.
d) Appendicitis Perforasi
Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah gangren yang
menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis
umum.
h. Menurut Helmut (1988) posisi Appendiks sangat bervariasi, sehingga kemungkinan
sulit untuk menentukan posisi normal appendiks.
1. Posisi retrocecal,kira-kira 65% (psoas dan obturator iritasi M.iliopsoas.
2. Posisi pelvic / appendiks tergantung menyilang linea terminal masuk ke pelvis
minor, tipe desenden 31 %.
3. Posisi paracolica / appendiks terletak horizontal di belakang sekum 2 %.
4. Posisi preileal / appendiks di depan ujung akir ileum 1 %

i. Gambaran Klinis
Appendicitis sering ditandai dengan gejala khas yang didasari oleh radang
mendadak appendiks yang memberikan

tanda setempat, disertai maupun tidak

disertai rangsangan peritoneum lokal. Gejala klasik adalah rasa nyeri samar-samar
dan tumpul yang merupakan nyeri viceral di daerah epigastrium di sekitar umblicus.
Gejala ini umumnya berlangsung lebih dari 1 atau 2 hari (Pieter, 2005). Biasanya
disertai keluhan tambahan berupa mual dan muntah, nafsu makan menurun,
anoreksia, pada beberapa penderita kadang mengalami diare dan obstipasi. Demam
ringan dan leukositosis sedang dapat ditemukan. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ke kanan bawah ke titik Mc Burney. Nyeri dirasakan lebih hebat dan

Appendicitis akut9

terlokalisir dengan tepat sehingga merupakan nyeri somatik setempat (Jaffe & Berger,
2005)
Karakter klinis dari Appendicitis dapat bervariasi, namun umumnya ditampikan
dengan riwayat sakit perut yang samar-samar, dimana dirasakan pertama kali di ulu
hati. Mungkin diikuti mual dan muntah, demam ringan. Nyeri biasanya berpindah
dari fossa ilaka kanan setelah beberapa jam, sampai dengan 24 jam. Titik maksimal
nyeri adalah

pada 1/3 dari umblikus ke fossa ilaka kanan, itu disebut titik Mc

Burney. Nyeri biasanya tajam dan diperburuk dengan gerakan (seperti batuk dan
berjalan). Nyeri pada titik Mc Burney juga dirasakan pada penekanan iliaka kiri,
yang biasa disebut tanda Rovsing. Posisi pasien dipengaruhi oleh posisi dari
appendiks. Jika Appendiks ditemukan di posisi retrosekal (terpapar antara sekum dan
otot psoas) nyeri tidak terasa di titik Mc Burney, namun ditemukan lebih ke lateral
pinggang.
Jika appendiks terletak retrosekal nyeri jika ilaka kiri ditekan tidak terasa. Ketika
appendiks dekat dengan otot psoas, pasien datang dengan pinggul tertekuk dan jika
kita coba meluruskan maka akan terjadi nyeri pada lokasi appendiks (tanda psoas).
Ketika appendiks terletak retrosekal maka bisa menyebabkan iritasi pada ureter
sehingga darah dan protein dapat ditemukan dalam urinalisis. Jika appendiks terletak
di pelvis, maka tanda klinik sangat sedikit, sehingga harus dilakukan pemeriksaan
rektal, menemukan nyeri dan bengkak pada kanan pemeriksaan. Jika appendiks
terletak di dekat otot obturator internus, rotasi dari pinggang meningkatkan nyeri
pada pasien (tanda obturator). Jika appendiks terletak di depan ileum terminal dekat
dengan dinding abdominal, maka nyeri sangat jelas. Jika appendiks terletak di
belakang ileum terminal maka diagnosa sangat sulit, tanda-tanda yang ada samar dan
nyeri terletak tinggi di abdomen.
j. Diagnosis
A. Anamnesa
Variasi pada posisi appendiks usia, dan derajat inflamasi menjadikan presentase
klinis dari appendisitis menjadi tidak konsisten. Gejala utama appendisitis akut
adalah nyeri abdomen. Pada mulanya terjadi nyeri viseral, yaitu nyeri yang
sifatnya hilang timbul tumpul dengan sifat nyeri ringan sampai berat, kadangkadang disertai dengan kram intermiten. Hal tersebut timbul oleh karena apendiks
Appendicitis akut10

dan usus halus mempunyai persarafan yang sama, maka nyeri viseral itu akan
dirasakan mula-mula didaerah epigastrium dan periumbilikal.
Nyeri abdomen yang ditimbulkan oleh karena adanya hiperperistaltik untuk
mengatasi obstruksi, distensi dari lumen apendiks ataupun karena tarikan dinding
appendiks yang mengalami peradangan. Apabila telah terjadi inflamasi (>6jam),
nyeri akan beralih dan menetap di kuadran kanan bawah. Pada keadaan tersebut
sudah terjadi nyeri somatik yang berarti sudah terjadi rangsangan pada peritonium
parietal dengan sifat nyeri yang lebih tajam, terlokalisir, serta nyeri akan lebih
hebat bila batuk ataupun berjalan. Pasien biasanya lebih menyukai posisi supine
dengan paha kanan ditarik lebih keatas,karena suatu gerakan akan meningkatkan
nyeri.muntah merupakan rangsangan viseral akibat aktivasi n.vagus. Anoreksia
nausea dan vomitus yang timbul beberapa jam sesudahnya, merupakan kelanjutan
dari rasa nyeri yang timbul saat permulaan, keadaan anoreksia hamir selalu ada
pada setiap penderira apandisitis akut, bila hal ini tidak ada maka diagnosis
apendisitis akut perlu dipertanyakan. Hamper 75% penderita disertai dengan
vomitus, namun jarang berlanjut menjadi berat dan vomitus hanya sekali atau dua
kali. Gejala disuria juga timbul apabila peradang Appendiks dekat dengan vesika
urinaria. Penderita appendisitis

akut

juga mengeluh Obstipasi

sebelum

datangnya rasa nyeri dan beberapa penderita mengalami diare, hal tersebut timbul
biasanya pada letak appendiks pelvika yang merangsang daerah rectum. Obstipasi
dapat juga terjadi karena penderita takut mengejan.
Variasi lokasi anatomi appendiks akan menjelaskan keluhan nyeri somatik
yang beragam. Sebagai contoh appendiks yang panjang dengan

ujung yang

mengalami inflamasi di kuadran kiri bawah akan menyebabkan nyeri didaerah


tersebut, nyeri kuadran kanan bawah secara klasik ada bila apendiks yang
meradang berada di anterior. Appediks retrosekal akan menyebabkan nyeri flank
area atau punggung, appendiks pelvika akan meyebabkan nyeri pada suprapubic
dan appendiks retroileal biasa menyebabkan nyeri testikuler, mungkin karena
iritasi pada arteri spermatika dan ureter. Tanda vital tidak berubah banyak,
peninggian temperatur jarang lebih dari 37,5 -38,5 tetapi bila suhu lebih tinggi,
diduga telah terjadi komplikasi seperti perforasi atau diagnosis lain yang perlu
diperhatikan.
B. Pemeriksaan fisisk
Kesalahan membuat diagnostik dapat terjadi kalau apendiks terletak pada tempat
yang bukan tempat biasa yaitu kuadran kanan bawah.
Appendicitis akut11

Inspeksi
perut kanan bawah terlihat Apakah ada tanda-tanda peradangan.
Palpasi
Palpasi dinding abdomen apakah terdapat penonjolan perut kanan bawah
terlihat pada appendikuler abses Status lokalis abdomen kuadran kanan
bawah antara lain:
Nyeri tekan Mc Burney
Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan maksimal pada kuadran
kanan bawah atau titik Mc.Burney dan ini merupakan tanda kunci
diagnosis. Mc. Burney terletak antara 1,5-2 inchi dari spina illiaca
anterior superior(SIAS) pada garis lurus yang ditarik dari SIAS ke
umbilikus.
Rebound tenderness
Nyeri lepas adalah rasa nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah
saat dilakukan penekanan yang perlahan dan dalam sampai pasien
tidak merasa nyeri pada daerah titik Mc. Burney dan dilepaskan
secara tiba-tiba. Hal ini karena rangsangan atau iritasi peritoneum.

Defans muskuler
Defans muskuler adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang
menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale pada m.rectus
abdominalis. Tahanan muskuler terhadap palpasi abdomen sejajar
dengan derajat proses peradangan,yang pada awalnya terjadi secara
volunter seiring dengan peningkatan iritasi peritoneal terjadi
peningkatan spamus otot, sehingga kemudian terjadi secara
involunter
Rovsing sign
Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah apabila
dilakukan penekanan pada abdomen bagian kiri bawah. Hal ini
dikarenakan tekanan merangsang peristaltik dan udara usus, sehingga
menggerakan peritoneum sekitar appendiks yang meradang ( iritasi
peritoneal).

Psoas sign
Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh
peradangan yang terjadi pada apendiks letak retrocaecal.
Ada 2 cara pemeriksaan:
o Aktif : pasien posisi supine. Tungkai kanan lurus ditangan
pemeriksa, pasien diminta memfleksikan articulatio coxae kanan,
dikatakan positif jika menimbulkan nyeri perut kanan bawah.
Appendicitis akut12

o Pasif; pasien miring kekiri, paha kanan dihiper-ekstensikan oleh


pemeriksa, dikatakan positif bila jika menimbulkan nyeri perut
kanan bawah.

Obturator sign
Adalah rasa nyeri yang terjadi jika panggul dan lutut di fleksikan
kemudian dirotasikan kearah dalam dan luar secara pasif, hal tersebut
menunjukan peradangan apendiks terletak pada daerah hipogastrium.

Perkusi
Nyeri ketok abdomen positif dan suara redup pada daerah yang terdapat
massa
Auskultasi :
Peristaltic normal, negative pada illeus paralitik karena peritonitis
generalisata akibat appendicitis perforate. Auskultasi tidak banyak
membantu dalam menegakkan diangnosis appendicitis, tetapi kalo sudah
terjadi peritonitis maka tidak terdengar bunyi peristaltic usus.
Rectal Toucher
Biasanya didapatkan nyeri tekan pada jam 9-12 . Rectal toucher juga di
gunakan untuk mengetahui adanya tumor atau massa di rectum serta
menilai adanya pembesaran prostat pada laki-laki yang berusia > 50 tahun.

a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium masih merupakan bagian penting untuk menilai
awal keluhan nyeri kuadran kanan bawah dalam menegakkan diagnosis
apendisitis akut. Penyakit infeksi pada pelvis terutama pada wanita akan
memberikan gambaran laboratorium yang terkadang sulit dibedakan dengan
apendisitis akut. Pemeriksaan laboratorium merupakan alat bantu diagnosis. Pada
Appendicitis akut13

pasien dengan apendisitis akut, 70-90% hasil laboratorium nilai leukosit dan
neutrofil akan meningkat, walupun hal ini bukan hasil yang karakteristik.
b. Hitung Leukosit
Hitung leukosit adalah menghitung jumlah leukosit per milimeterkubik atau
mikroliter darah. Leukosit merupakan bagian penting dari sitem pertahanan tubuh
terhadap benda asing, mikroorganisme atau jaringan asing, sehingga hitung
jumlah leukosit merupakan indikator yang baik untuk mengetahui respon tubuh
terhadap infeksi.
Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan
lain-lain. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000-30.000/l.
setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah
leukosit berkisar antara 4500-11.000/l. pada keadaan basal jumlah leukosit pada
orang dewasa berkisar antar 5000-10.000/L. Jumlah leukosit meningkat setelah
melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/l.
Peningkatan jumlah leukosit diatas normal disebut leukositosis, sedangkan
penurunan jumlah leukosit di bawah normal disebut leukopenia.
Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukosistosis
yang fisiologik dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang,
takhikardi paroksimal, partus dan haid.
Peningkatan leukosit juga dapat menunjukkan adanya proses infeksi atau
radang akut. Leukopenia adalah keadaan dimana jumlah leukosit kurang dari
5000/L darah. Karena pada hitung jenis leukosit, netrofil adalah sel yang paling
tinggi presentasinya hampir selalu leukopenia disebabkan netropenia.
Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu,
terutama virus, malaria, alkoholik, rematoid arthritis, dan penyakit hemopoetik
(anemia aplastik). Leukopenia juga dapat disebabkan penggunaan obat terutama
asetaminofen, sulfonamid, barbiturat, kemoterapi kanker, diazepam, diuretika,
antidiabetika oral, indometasin, metildopa, rifampisin, fenotiazin dan antibiotika
(penisilin, cefalosporin, dan kloramfenikol).
Pada penderita dengan keluhan dan pemeriksaan fisik yang karakteristik
apendisitis akut, akan ditemukan pada pemeriksaan darah adanya leukositosis
11.000-14.000/mm3, dengan pemeriksaan hitung jenis menunjukkan pergeseran
ke kiri hampir 75%. Jika jumlah lekosit lebih dari 18.000/mm 3 maka umumnya
sudah terjadi perforasi dan peritonitis (Raffensperger, 1990). Kombinasi antara
kenaikan angka leukosit dan granulosit adalah yang dipakai untuk pedoman
menentukan diagnosa apendisitis akut (Doraiswamy, 1979). Tes laboraorium
untuk apendisitis bersifat kurang spesifik, sehingga hasilnya juga kurang dapat
dipakai sebagai konfirmasi penekanan diagnosa. Jumlah leukosit untuk apendisitis
akut adalah >10.000/mm, sehingga gambaran leukositosis dengan peningkatan
granulosit dipakai sebagai pedoman untuk apendisitis akut. Kontroversi adalah
beberapa penderita dengan apendisitis akut memiliki jumlah leukosit dan
granulosit tetap normal. (Bolton et al, 1975).
c. Foto polos Abdomen
Appendicitis akut14

Pada apendisitis, pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak membantu.


Mungkin terlihat adanya fekalit pada abdomen sebelah kanan bawah yang sesuai
dengan lokasi Appendiks, gambaran ini ditemukan pada 20% kasus.
Pemeriksaan radiologi dengan kontras barium enema hanya digunakan pada
kasus-kasus menahun, pada apendisitis kronik. Pemeriksaan radiologi dengan
barium enema dapat menentukan penyakit lain yang menyertai apendisitis.
Barium enema adalah suatu pemeriksaan x-ray dimana barium cair
dimasukkan ke kolon dari anus untuk memenuhi kolon. Tes ini dapat sekaligus
menggambarkan keadaan kolon di sekitar appendiks dimana peradangan yang
terjadi juga didapatkan pada kolon. Barium enema juga dapat menyingkirkan
masalah-masalah intestinal lainnya yang menyerupai appendiks, misalnya
penyakit Chrons inveted appendicel stump, intususepsi, neoplasma
benigna/maligna.
d. Ultrasonografi
Ultrasonografi telah banyak digunakan untuk diagnosis apendisitis akut
maupun Appendicitis dengan abses. Appendicitis yang normal jarang tampak
sebagai lumen tubuler, diameter lebih dari 6 mm, tidak ada peristaltik pada
penampakan longitudinal, dan gambaran target pada penampakan transversal.
Keadaan awal Appendiks akut ditandai dengan perbedaan densitas pada lapisan
Appendiks, lumen yang utuh, dan diameter 9-11 mm. keadaaan appediks supurasi
atau gangren ditandai dengan distensi lumen oleh cairan, penebalan dinding
Appendiks dengan atau tanpa apendikolit. Keadaan Appendiks perforasi ditandai
dengan tebal dinding Appendiks yang asimetris, cairan bebas intraperitonial, dan
abses tunggal atau multiple (Bedah UGM, 2009).
Ultrasound dapat mengidentifikasi appendiks yang membesar atau abses.
Walaupun begitu, appendiks hanya dapat dilihat pada 50% pasien selama
terjadinya Appendicitis. Oleh karena itu, dengan tidak terlihatnya appendiks
selama ultrasound tidak menyingkirkan adanya Appendicitis. Hasil USG dapat
dikategorikan menjadi normal non spesifik, kemungkinan penyakit kelainan lain,
atau kemungkinan appendik. Hasil USG yang tidak spesifik meliputi adanya
dilatasi usus, udara bebas, atau ileus (Bedah UGM, 2009).
e. Computed Tomography Scanning (CT-Scan)
Pada keadaan normal Appendiks jarang tervisualisasi dengan pemeriksaan
skening ini. Gambaran penebalan dinding Appendiks dengan jaringan lunak
sekitar yang melekat, mendukung keadaan Appendiks yang meradang. CT-Scan
sangat baik untuk mendeteksi Appendiks dengan abses atau flegmon.

Sensitivitas
Spesifikasi
Akurasi
Keuntungan

Appendicitis akut15

Ultrasonografi
85%
92%
90 94%
Aman
Relatif tidak mahal

CT-Scan
90 100%
95 97%
94 100%
Lebih akurat
Mengidentifikasi abses

dan flegmon lebih baik

Kerugian

Dapat
mendiagnosis
kelainan
pada
wanita
Baik untuk anakanak
Tergantung
operator
Sulit secara tekhik
Nyeri
Sulit di RS daerah

Mengidentifikasi
Appendiks normal lebih
baik

Mahal
Radiasi ion
Kontras
Sulit di RS daerah

Tabel: perbandingan pemeriksaan penunjang apendisitis akut.


Pada pasien yang tidak hamil, CT-Scan pada daerah appendik sangat
berguna untuk mendiagnosis Appendicitis dan abses periapendikuler sekaligus
menyingkirkan adanya penyakit lain dalam rongga perut dan pelvis yang
menyerupai Appendicitis (Bedah UGM, 2009).
f. Laparoskopi
Dibidang bedah, laparoskopi dapat berfungsi sebagai alat diagnostik dan
terapi. Disamping dapat mendiagnosisi apendisitis secara langsung, laparoskopi
juga dapat digunakan untuk melihat keadaan organ intrabdomen lainnya. Hal ini
sangat bermanfaat terutama pada pasien wanita. Pada apendisitis akut laparoskopi
diagnostik biasanya dilanjutkan dengan apendiktomi laparoskopi (Smink &
Soybel, 2005).

g. Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas (gold standard) untuk
diagnosis Appendicitis akut. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai
gambaran histopatologi apendisitis akut. Perbedaan ini didasarkan pada kenyataan
bahwa belum adanya kriteria gambaran histopatologi apendisitis akut secara
universal dan tidak ada gambaran histopatologi Appendicitis akut pada orang yang
tidak dilakukan opersi Riber et al, pernah meneliti variasi diagnosis histopatologi
apendisitis akut (Yopi Simargi et al., 2008 ).
Definisi histopatologi apendisitis akut :
1. Sel granulosit pada mukosa dengan ulserasi fokal atau difus di lapisan epitel.
2. Abses pada kripte dengan sel granulosit di lapangan epitel

Appendicitis akut16

3. Sel granulosit dalam lumen Appendiks dengan infliltrasi ke dalam lapisan


epitel.
4. Sel granulosit di atas lapisan serora Appendiks dengan abses apendikuler,
dengan atau tanpa terlibatnya lapisan mukosa.
5. Sel granulosit pada lapisan serosa atau muskuler tanpa abses mukosadan
keterlibatan lapisan mukosa, bukan apendisitis akut tetapi periapendisitis.

h. Sistem skor Alvarado


Alfredo Alvaro tahun 1986 membuat sistem skor yang didasarkan pada tiga gejala,
tiga tanda dan dua temuan laboratorium. Klasifikasi ini berdasarkan pada temuan
pra operasi dan untuk menilai derajat keparahan appendisitis.
Berdasarkan skoring terhadap faktor risiko yang digunakan dalam sistem skor
Alvarado maka dapat di asumsikan bahwa semakin lengkap gejala,tanda dan
pemeriksaan laboratorium yang muncul atau keberadaanya positif maka skor
Alvarado akan semakin mendekati 10, dan ini mengarahkan kepada appendisitis
akut atau appendisitis perforasi. Demikian pula sebaliknya jika semakin tidak
lengkap maka skor Alvarado semakin mendekati 1, ini mengarahkan kepada
appendisitis kronis atau bukan appendisitis. Alvarado merekommendasikan untuk
melakukan operasi pada semua pasien dengan skor 7dan melakukan observasi
untuk pasien dengan skor 5 atau 6.
1. Skor Alvarado untuk diagnosis apendisitis akut :
Gejala dan tanda
Appendicitis pain (Nyeri fossa iliaka kanan)
Leukositosis > 10.000 sel/mm3
Vomitus (Mual-muntah)
Anoreksia
Rebound tendenees fenomen
Abdominal migrate pain (nyeri berpindah)
Degre of celsius ( > 37oc) ( peningkatan suhu tubuh)
Observation of hemogram ( segmen > 72% ( persentase
neutrofil > 75%)

Total
1-4 : observasi
4.6 : antibiotik
7.10 operasi
Appendicitis akut17

Skor
2
2
1
1
1
1
1

10 point

2. Kalesanan score
Ramirez dan Deus (1994) telah mengemukakan sistem skor untuk diagnosis
appendisitis akut yang terbukti dapat menekan appendektomi negatif.
Beberapa hal yang menjadi kritik pada penelitian tersebut, sebagai berikut :
1. Salah satu parameter yang dipakai adalah foto polos abdomen, yang
sebenarnya bukan merupakan pemeriksaan utama dan rutin untuk
menegakkan diagnosa appendisitis akut, selain bahwa pemeriksaan ini
tidak mungkin dijadikan pemeriksaan rutin di rumah sakit di Indonesia
bagi penderita dengan keluhan nyeri perut kanan bawah akut
2. Masih ada parameter klinik lainya yang perlu diperhitungkan,khusunya
pada wanita tentang adanya kelainan atau infeksi organ genital dalam,
seperti riwayat keputihan, perdarahan pervaginam di luar haid, riwayat
nyeri hebat saat haid.
Di Indonesia untuk penggunaan sarana diagnostik seperti laparoskopi dan
Ultrasonografi masih banyak kendala, yaitu pengadaan alat yang tergolong
mahal dan membutuhkan keahlian untuk menginterprestasikan hasil
pemeriksaan, sehingga belum dijadikan pemeriksaan rutin dirumah sakit
tingkat kabupaten. Pertimbangan lainya bahwa dengan melakukan
pemeriksaan tersebut akan berakibat dengan perpanjangan waktu dalam
pengelolaan penderita.
Oleh karena itu dr.laurens B Kalesaran seorang peneliti dari Undip
semarang melakukan penelitian dimana parameter klinik yang sederhana
dan murah untuk bisa dipakai dengan mudah dan akurasi tinggi dalam
mendiagnosis

appendisitis

akut,

sehingga

dapat

menekan

angka

appendektomi negatif, menurunkan angka kesakitan karena pembedahan


yang sebenarnya tidak perlu, menekan biaya penderita

No
1
2
3
4

Pemeriksaan
Riwayat demam
Riwayat anoreksia
Cough sign
Demam (37,3)

Tanda rebound tenderness

18

-3

6
7

Tanda rovsing
Tanda psoas
Leukositosi
9000/mm3

16
20

-9
-6

19

-24

8
Appendicitis akut18

Nilai (+)
9
26
27
19

Nilai (-)
-7
-20
-19
18

Skor

Neutrofil 70 %

20

-24

Jika jumlah skory;


Lebih dari 10

: diagnosis Appendicitis akut dan segera


harus dilakukan tindakan operasi
Antara -7 sampai 10 : tindakan observasi
Kurang dari 7
: bukan Appendicitis akut
Kasus dengan skor -7 sampai 10, penderita harus rawat inap untuk di
evaluasi lebih lanjut, yaitu dengan penghitungan skor berulang sampai
ditegakan dengan diagnosis appendicitis akut atau bukan appendicisti
akut.

Tabel 1. Modified Linberg,s score


Variable
WBC x 1.000 mm3

Indicator
< 12.000
12.000 20.000
> 20.000
Duration of pain (h) <24
24 48
> 48
Progresion of pain
Yes
No
Temperature
Yes
No
37,5C
Vomit
Yes
No
Migration of pain
Yes
No
Rebound tenderness Yes
No
Rigidity
Yes
No
Tenderness outside Yes
No
RLQ
Constant

Appendicitis akut19

Score
-15
+2
+10
+3
0
-12
+3
-4
+7
-4
+7
-5
+4
-11
+5
-10
+15
-4
-6
+4
-10

Skor - 2 mengindikasikan operasi emergensi appendicitis, skor -3 / - 18


mengindikasikan observasi gejala appendicitis dalam 24 jam, dan skor - 19
bukan appendicitis.
Tabel 2. Paediatric Appendicitis Score (PAS)
Variable
Cough/percusion tenderness
Hopping tenderness
Anorexia
Pyrexia
Nausea
Tenderness in RLQ
Leucocytosis 10.000 mm3
Polymorphonuclear neutrophilia
Migration of pain

Score
2
1
1
1
1
2
1
1

Skor 5 bukan merupakan appendicitis, sedangkan skor 6 merupakan appendicitis Komplikasi

i. DIAGNOSIS BANDING
1. Adneksitis
2. Endometriosis
3. Kista ovarium terpuntir
4. Divertikulitis
5. Ilieitis regional
6. Adenitis mesenterika
7. Batu ureter
8. Abses psoas
9. Hernia inkaserata
j. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis meliputi
penanggulangan konservatif dan operasi.
a) Konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak
mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian
antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita appendicitis perforasi,
sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian
antibiotik sistemik.
Tindakan umum
Pada appendisitis akut dengan komplikasi berupa peritonitis karena perforasi
menuntut tindakan yang lebih intensif, karena biasanya keadaan pasien
sudah sakit berat. Timbul dehidrasi yang terjadi karena muntah, sekuestrasi
cairan dalam rongga abdomen dan febris. Pasien memerlukan perawatan
Appendicitis akut20

intensif sekurang-kurangnya 4-6 jam sebelum dilakukan pembedahan. Pipa


nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung agar mengurangi
distensi abdomen dan mencegah muntah dan pasien dipuasakan.
Jika pasien dalam keadaan syok hipovolemik akibat dehidrasi ataupun
sepsis maka diberikan cairan ringer laktat 20 mg/kgBB secara intravena,
kemudian diliputi oleh pemberian plasma atau darah sesuai indikasi. Setelah
pemberian cairan intravena sebaiknya dievaluasi kembali kebutuhan dan
kekurangan cairan, serta pantau output urin.
Masa apendiks terjadi bila terjadi apendisitis ganggrenosa atau
mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau leksus usus
halus. Pada massa periappendikular yang pendidingannya belum sempurna,
dapat terjadi penyabaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforasi
diikuti

peritonitis

purulenta

generalisata.

Oleh

karena

itu,

massa

periapendikuler yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk


mencegah penyulit tersebut. Selain itu operasi lebih mudah. Pada anak
dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Pasien dewasa dengan
periapendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna dianjurkan
untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh,
ukuran massa serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa
periapendikular hilang dan leukosit normal, penderita diperboleh pulang dan
appendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan
akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforasi,
akan terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan
frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta
bertambahnya angka leukosit.
Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya
dilakukan tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan, karena
dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persipan dan
pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit luka lebih
tinggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi.
Pada periapendikular infiltrat, dilarang keras membuka perut, tindakan
bedah apabila dilakukan akan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebihlebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak
serangan sakit perut. Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan
terjadi abses dengan atau pun tanpa peritonitis umum.
Appendicitis akut21

Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja. Pada


anak kecil, ibu hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak
membaik atau berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepat.
Bila pada waktu membuka perut terdapat periapendikular infiltrat maka luka
operasi ditutup lagi, apendiks dibiarkan saja, terapi konservatif

pada

periapendikular infiltrat:
1. Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum douglassi
2. Diet lunak bubur saring
3. Antibiotik parenteral dalam dosis tinggi, antibiotik kombinasi yang aktif
terhadap kuman anaerob dan aerob.
Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian, dilakukan
apendiktomi. Jika ternyata tidak

ada

keluhan atau gejala apapun, dan

pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukan tanda radang atau


abses,

dapat

dipertimbangkan

membatalkan

tindakan

operasi.Untuk

menurunkan demam diberikan antipiretik. Jika suhu diatas 38 oc pada saat


masuk rumah sakit, compres alkohol dan sedasi di indikasikan untuk
mengontrol demam. Berikan pula analgesik dan antiemetik parenteral untuk
kenyamanan pasien. Tetapi tidak dianjurkan pemberian analgetik pada
pasien dengan akut abdomen yang penyebabnya belum diketahui karena
dapat mengaburkan penegakkan diagnosis. Berikan pula antibiotik intravena
pada pasien yang menunjukan tanda- tanda sepsis dan pada pasien yang
menjalani prosedur pembedahan laparotomi.
b) Operasi
Bila diagosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendektomi
dan merupakan satu-satunya pilihan terbaik.
Indikasi dari apendektomi antara lain:
1. Appendisitis akut (apendiktomi chaud)
2. Appendisitis kronis (apendiktomi froid)
3. Peri appendikular infiltrat dalam stadium tenang ( a-froid)
4. Appendiks terbawa pada laparotomi operasi kandung empedu
5. Appendiks perforasi.
Penundaan appendiktomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan
abses

dan

perforasi.

(mengeluarkan nanah).

Appendicitis akut22

Pada

abses

Appendiks

dilakukan

drainage

Lapisan kulit yang dibuka pada Appendektomi:


1. Kutis
2. Subkutis
3. Fascia scarfa
4. Fascia camfer
5. Aponeurosis M.obliqus ekstesnus
6. M.obliqus internus
7. M.transversus
8. Fascia transversalis
9. Pre-peritoneum
10. Peritoneum
1. Insisi gridiron ( Mc Burney), yaitu insisi tegak lurus garis Mc.Burney
keutungannya adalah caecum lebih mudah dipegang dan kontaminasi
kuman minimal
2. Insisi Paramedian kanan, terutama digunakan pada wanita karena
dapat sekaligus melakukan eksplorasi adneksa, genitalia interna,
khususnya pada kasus-kasus yang meragukan. Kerugiannya yaitu
caecum lebih sukar di pegang dan kontaminasi lebih besar.
c. Komplikasi dan penyulit
Bila tidak ditangani dengan baik maka appenditis akut dapat mengalami perforasi
dan berlanjut menjadi peritonitis lokal maupun umum. Komplikasi yang paling
sering terjadi adalah perforasi baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada
bagian appendisitis yang telah mengalami pendindingan( walling off) sehingga
berupa massa yang terdiri dari kumpulan mesoapendiks, sekum,dan lengkung
usus yang disebut sebagai massa periapendikular.
Terjadinya massa periapendikuler bila apendisitis

ganggrenosa

atau

mikroperforasi ditutupi pendindingan oleh omentum dan lengkung usus. Pada


massa periapendikuler yang pendindingannyabelum sempurna, dapat terjadi
penyebaran pus ke seluruh rongga peritoneum saat terjadi perforasi, akibatnya
akan terjadi peritonitis umum.
Peritonitis merupakan komplikasi yang berbahaya yang dapat terjadi dalam
bentuk akut maupun kronik. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum
menyebabkan peritonitis umum. Gejala gejalanya : peristaltik usus (-), dehidrasi,
syok, gangguan sirkulasi.

Appendicitis akut23

Komplikasi

lain

yang

cukup

berbahaya

adalah

pylephebitis,

yaitu

trombophlebitis supurativa pada sistem vena porta akibat perluasan infeksi


appendisitis. Gejala berupa mengigil, demam tinggi, ikterik ringan, dan abses
hepatik.
d. Penyulit appendektomi
1. Pre operasi
Perdarahan dari a. mesenterika dan omentum
Robekan sekum atau usus lain
2. Pasca operasi
Perdarahan
Infeksi
Hematom
Paralitik ileus
Peritonitis
Fistel usus
Hernia sikatrik.

e. Pencegahan
Pencegahan bertujuan untuk menghilangkan faktor resiko terhadap kejadian
Appendicitis. Upaya untuk pencegahan adalah dengan mengkonsumsi serat untuk
membantu mempercepat pengeluaran sisa-sisa makanan sehingga tidak terjadi
konstipasi yang mengakibatkan penekanan pada dinding kolon. Selain itu,
defekasi yang teratur akan membantu pengurangan angka kejadian apendisitis
(Smink & Soybel, 2005)

Appendicitis akut24

BAB II
LAPORAN KASUS PASIEN
2.1.

2.2.

Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Menikah/belum menikah
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat
Tanggal MRS
Tanggal KRS
No. DM

: Tn. AR
: 47 Tahun
: Laki-laki
: Sudah menikah
: SMA
: Swasta
: Dok IX
: 23/01/2014
:27/01/2014
: 33 91 53

Anamnesis
a. Keluhan utama :
Nyeri Perut sebelah kanan bawah.
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien umur 47 tahun datang ke IGD rumah sakit dok II dengan keluhan nyeri
perut di sebelah kanan bawah yang dirasakan sejak 12 jam sebelum masuk rumah
sakit , awalnya pasien merasa nyeri di daerah ulu hati , nyerinya tumpul, hilang

Appendicitis akut25

timbul selanjutnya 6 -7 jam kemudian pasien merasa nyeri pada perut kanan
bawah sifatnya menetap, nyerinya makin lama makin hebat sehingga pasien minta di
bawa kerumah sakit karena sudah tidak bisa menahan nyerinya. Nyeri perut kanan
ini baru dirasakan pertama kali. Pasien merasa lebih nyaman bila berjalan agak
bungkuk. Riwayat pasien merasa demam (-), mual (-), muntah (-), diare (-),
konstipasi (-), sering kencing (-), napsu makan menurun (+), riwayat minum obat
penghilang rasa nyeri (-) nyeri saat kencing (-).
c. Riwayat Penyakit Dahulu :
- Operasi (-)
2.3 Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: Tampak Sakit Sedang
Kesadaran
: Compos Mentis (E4M5V6)
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi
: 90 x/menit
Respirasi
: 24 x/menit
Suhu rectal
: 36,80C
Kepala
: Conjungtiva Anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-)
Leher
: Pembesaran KGB (-)
Thorax (Pulmo): Inspeksi : Simetris, ikut gerak nafas, retraksi (-)
Palpasi
: V/F, D=S
Perkusi
: Sonor
Auskultasi : Rho (-/-), Whz (-/-)
Thorax (COR) : Inspeksi : IC (-)
Palpasi
: Thrill (-)
Perkusi
: Pekak
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur (-), galop (-)
Abdomen
: Inspeksi : Datar
Auskultasi : BU (+)
Palpasi
: supel, Hepar (ttb), Lien (ttb), NT MC Burney (+), rebound
tenderness (+), rovsing sing ( +), psoas sing (+), obturator (-), defans muscular (-).
Perkusi
: nyeri ketuk (+), Tymphani,
Ekstremitas

: Akral hangat, udem (-)

Diagnosa kerja : Appendicitis akuta

Terapi : IVFD RL / 8 jam


Inj. Cefuroxime 2x1
Inj.ketorolac 3x1
Inj.ranitidin 2x1
Pro. Pemeriksaan: DL, CT- BT, USG,
Rencana Appendiktomy

Appendicitis akut26

2.4 Pemeriksaan Penunjang


Darah lengkap
Per tgl 23/01/2014
Pemeriksaan
Hasil
3
3
WBC
12,88 x 10 /mm
6
3
RBC
1,74 x 10 /mm
HGB
15,0 gr/dl
HCT
47,5%
3
3
PLT
186x 10 /mm
Perdarahan
Pembekuan

9,00
2,30

Nilai rujukan
4.0 10.0
4.00 5.80
11.0 16.5
35.0 50.0
150 400
9,8 12,6
24,8 34,4

Pemeriksaan USG Abdomen 23/01/2014.

Hasil Pemeriksaan :
Hepar

: Ukuran normal,permukaan rata, tepi tajam, echostruktur parenchim


homogen,
tak tampak masa hiper/hipoechoic didalamnya, sistem
vaskuler dan bilier normal.

Kandung Empedu

:Uukuran normal,dinging tidak menebal,tak tampak


hiper/hipoechoic di dalamnya, CBD tidak melebar.

Pancreas

:Ukuran tidak membesar, struktur echoparenchim homogen, tak tampak


lesi hiper/hipoechoic di dalamnya.

Limpa

massa

:Ukuran tidak membesar, permukaan rata, echostruktur parenchim


homogen, tak tampak lesi hiper/hipoechoic didalamnya.

Appendicitis akut27

Ginjal Kanan

:Ukuran normal, permukaan rata, echostruktur parenchim


HETEROGEN,ratio parenchim medulla normal, sistem pelviocalyces
tidak melebar, tak tampak lesi hiper/hipoechoic di dalamnya.

Ginjal Kiri

:Ukuran normal, permukaan rata, echostruktur parenchim


HETEROGEN,ratio parenchim medulla normal, sistem pelviocalyces
tidak melebar, tak tampak lesi hiper/hipoechoic di dalamnya.

Kandung Kencing :Ukuran normal, dinding mukosa tidak menebal, tak tampak lesi
hiper/hipoechoic di dalamnya.
Lain lain

: APPENDIKS MELEBAR HYPOECHOIC

Kesimpulan
ILLEITIS.

: NEFRITIS BILATERAL, APPENDICITIS AKUT DD TERMINAL

ALVARADO SKOR
A: 2
L: 2
V:A: 1
R:1
A: D:1
O:Total = 7
1.8 Resume
Pasien umur 47 tahun datang ke IGD rumah sakit dok II dengan keluhan nyeri perut di
sebelah kanan bawah yang dirasakan sejak 12 jam sebelum masuk rumah sakit ,
awalnya pasien merasa nyeri di daerah ulu hati , nyerinya tumpul, hilang timbul
selanjutnya 6 -7 jam kemudian pasien merasa nyeri pada perut kanan bawah sifatnya
menetap, nyerinya makin lama makin hebat sehingga pasien minta di bawa kerumah
sakit karena sudah tidak bisa menahan nyerinya. Nyeri perut kanan ini baru dirasakan
pertama kali. Pasien merasa lebih nyaman bila berjalan agak bungkuk. Riwayat pasien
merasa demam (-), mual (-), muntah (-), diare (-), konstipasi (-), sering kencing (-),
napsu makan menurun (+), riwayat minum obat penghilang rasa nyeri (-) nyeri saat
Appendicitis akut28

kencing (-). TD : 110/60 mmHg, N : 68 x/menit,R:20x/menit, S: 37.8 0C. Pada


pemeriksaan fisik didapatkan Rebound tenderness (+), rovsing sign (+), nyeri tekan (+),
Jumlah alvarado skor = 7. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan: Leukosit (+) ,
USG ditemukan adanya gambaran APPENDIKS MELEBAR HYPOECHOIC yang
menunjukkan kecurigaan ke arah Appendicitis akut.yaitu APPENDIKS MELEBAR
HYPOECHOIC

BAB III
PEMBAHASAN
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang (laboratorium dan usg) pasien ini didiagnosa susp
Appendicitis akut. Dari anamnesa didapatkan: pasien mengeluh nyeri
perut hilang timbul awalnya di daerah ulu hati 6-7 jam kemudian
pasien merasa nyeri pada perut kanan bawah sifatnya menetap,
nyerinya makin lama makin hebat Hal ini terjadi karena
hiperperistaltik untuk mengatasi obtruksi, dan terjadi pada seluruh
saluran cerna, sehingga nyeri visceral dirasakan pada seluruh perut.
Mula-mula daerah epigastrium kemudian ke Mc Burney. Apabila
telah terjadi inflamasi (>6 jam) penderita dapat menunjukan letak
nyeri, karena bersifat somatic. Pada pasien ini tampak demam
( 37,5oc ) dan leukosit ( 12, 88x 103/mm3 hal ini karena pada gejala
Appendicitis lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi yaitu suhu
antara 37,5- 38,50C. pemeriksaan fisik abdomen pada pasien ini
didapatkan pemeriksaan rebound tenderness (+) hal ini karena
rangsangan atau iritasi peritoneum. rovsing sign (+)Hal ini
dikarenakan tekanan merangsang peristaltik dan udara usus, sehingga
menggerakan peritoneum sekitar appendiks yang meradang ( iritasi
peritoneal). Pada pasien merasa nyeri hebat apabila berjalan tegak
hal ini karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari
dorsal.

Appendicitis akut29

DAFTAR PUSTAKA

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Grace Pierce A, Borley Neil R. At a Glance Ilmu Bedah Edisi Ketiga.EMS.2005


R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Bukuajarilmubedahedisi 2. EGC. Jakarta. 2004
https://en.wikipedia.org/wiki/Appendicitis7
http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/4s1kedokteran/207311015/BAB%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31374/4/Chapter%20II.pdf
Kartono D, Apendisitis Akuta.ECG.jakarta.

Appendicitis akut30