Anda di halaman 1dari 21

CASE REPORT

FRAKTUR OS FEMUR 1/3 DISTAL SINISTRA

Oleh:
Fabela Khairiah

1118011037

Jihan Nurlela

1118011063

Rozi Kodarusman Warganegara

1118011117

Ratih Nur Indah

1118011106
Preceptor:

dr. Edy Marudut, Sp.OT

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. H. ABDUL MOELOEK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
MEI 2015

I. STATUS PASIEN
A. IDENTIFIKASI PASIEN
Nama lengkap

: Tn. S

Usia

: 42 Tahun

Status perkawinan

: Menikah

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Babulang Dusun I Kec. Kalianda Kab Lampung


Selatan

Jenis kelamin

: Laki-Laki

Suku bangsa

: Jawa

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

MR

: 412641

MRS

: 11 Mei 2015

B. ANAMNESIS
Diambil dari : Alloanamnesa
Tanggal : 25 Mei 2015

Pukul : 15.00 WIB

Keluhan Utama
Penurunan kesadaran sejak 2 minggu SMRS
Keluhan Tambahan

Nyeri pada kaki kiri dan tangan kiriRiwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 6 jam SMRS dengan
kejadian sebelumnya pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien berada
dalam keadaan membawa motor dan menabrak sebuah mobil. Menurut keluarga
pasien, motor pasien menabrak mobil dari arah samping dengan kecepatan 80
km/jam sehingga pasien terpental dari motor dan terjatuh dari motor. Pada saat
kejadian tersebut pasien tidak mengingat kejadian yang terjadi dan sempat
pingsan selama 3 hari. Setelah itu pasien sadar dan mengeluhkan nyeri kepala
yang hebat dan berbicara cenderung dengan kata-kata yang melantur. Perdarahan
dari hidung dan telinga, mual dan muntah disangkal oleh pasien. Selain itu pasien
juga mengeluhkan nyeri pada tangan kiri dan kaki kiri yang dirasakan sangat
hebat dan terjadi pembengkakan pada lutut kiri sehingga kaki sulit digerakkan.
Riwayat Keluarga
Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien
Riwayat masa lampau
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Penyakit terdahulu
Trauma terdahulu
Operasi
Sistem saraf
Sistem kardiovaskular
Sistem gastrointestinal
Sistem urinarius
Sistem genitalis
Sistem genitalis

C.
a.
b.
c.
d.
D.

STATUS UMUM
Keadaan Umum
Kesadaran
Keadaan Gizi
Kulit
PEMERIKSAAN FISIK
TANDA VITAL
Tekanan Darah
Pernafasan
Nadi
Suhu

:::::::::: Tampak sakit berat


: Somnolen dengan GCS 11
: Baik
: Turgor kulit baik berwarna sawo matang
: 120/70 mmHg
: 22x/menit
: 78x/menit
: 37,6C

KEPALA DAN MUKA


Bentuk dan Ukuran : normocephal
Mata
:

Konjungtiva

: anemis (-/-)

Sklera

: Ikterik (-/-)

Refleks cahaya

: (+/+)

Pupil

: Isokor (+/+)
o Telinga
o Hidung

: Simetris, Otorrhea (-), lesi (-)


: Deviasi (-), hiperemis(-), Rinorrhea

(-)
o Tenggorokan
o Mulut
o Gigi

: hiperemis (-), edema (-)


: Normal, Simetris
: Normal

Leher
o Kelenjar Getah Bening: Tidak terdapat pembesaran
o Kelenjar Gondok
: Tidak terdapat pembesaran
o JVP
: Tidak terdapat peningkatan

Dada
o
o
o
o

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: datar, lesi (-)


: fremitus kanan=kiri
: sonor (+/+)
: vesikuler (+/+)wheezing (-), rhonki

(-)

Perut (Abdomen)
o Inspeksi
o Palpasi
o Perkusi
o Auskultasi

: datar, lesi (-), massa (-), scar (-)


: nyeri tekan (-)
: timpani
: BU + 10x/menit

Regio Lumbal (Flank Area )


o Inspeksi
o Palpasi
o Perkusi
o Auskultasi

: normal, lesi (-), bulging (-)


: nyeri tekan (-), massa(-)
: timpani, nyeri ketok CVA (-)
: Bruit (-)

Ekstremitas

o Superior

: lemah (-/-), edema (-/-), hipertonus

(-/-), vulnus ekskoriasi pada lengan kiri


o Inferior
: lemah (-/-), edema (-/-), hipertonus
(-/-),vulnus

ekskoriasi

pada

patella

kiri

dengan

ditemukannya adanya krepitasi

Genitalia
o Tidak dilakukan pemeriksaan

Perianal
o Tidak dilakukan pemeriksaan

Neuromuskular
o Tidak ada Kelainan, reflex patologis (-)
o Sensibilitas
: normal
o Refleks fisiologis
: normal, biseps (+), triseps (+)
o Refleks patologis
: Tidak ada
Tulang Belakang
o Tidak terlihat kelainan

Status Lokalis

o Terdapat vulnus ekskoriasi pada mentus berukuran 6x4 cm


o Terdapat jejas pada thoraks

o Terdapat vulnus ekskoriasi pada patella dekstra dan sinistra


Look : Terdapat pembengkakan pada patella sinistra dan
lengan kiri
Feel : Teraba krepitasi pada patella sinistra
Move : Pergerakan pasif (+)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM
Hb
Ht
LED
Leukosit
Hitung
jenis

10,1 gr/dl
33%
2 mm/jam
21.100
Basofil : 0 %
Eosinofil : 0%
Batang : 0%
Segmen : 87%
Limfosit : 5%
Monosit : 8%
Trombosit 267.000/ul
SGOT
43/ ul
GDS
139 mg/dl
Cl
108 mmol/L
RADIOLOGI

Kesan : Terdapat Fraktur Os Femur 1/3 distal sinistra

F. RESUME
Seorang pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 6 jam
SMRS, sebelumya pasien mengalami KLL pada saat membawa motor dan
menabrak sebuah mobil dari arah samping dengan kecepatan 80 km/jam.
Pasien terjatuh dari motor dan terpental dari motor sehingga pasien terseret
pada aspal. Pasien sempat tidak sadarkan diri selama 3 hari dan tidak ingat
kejadian yang terjadi dan pada saat sadar pasien mengeluhkan nyeri kepala
yang hebat dan nyeri pada tangan dan kaki kiri yang dirasakan hebat pula.
Dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya Terdapat vulnus ekskoriasi pada
mentus berukuran 6x4 cm terdapat jejas pada thoraks, terdapat vulnus
ekskoriasi pada patella dekstra dan sinistra, terdapat pembengkakan pada
patella sinistra dan lengan kiri, teraba krepitasi pada patella sinistra,
pergerakan pasif (+) .
G. DIAGNOSIS BANDING
Dislokasi sendi coxae sinistra
Dislokasi sendi genu sinistra
H. DIAGNOSIS KERJA
Fraktur Os Femur 1/3 distal simple oblique ad latum sinistra
I. PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN
Farmakologi :
Nacl 0,9%
Ceftriaxone vial 1 gr
Kalnex 3x500 mg
Ranitidin 2x1 amp
Manitol 125 mg-125 mg-125mg
Ketorolac 3x1 mg
Diet Cair
Non Farmakologi :

Imobilisasi Fraktur
ORIF (Open Reduction Intra Fixation)
J. PROGNOSIS
Qua at vitam

: Bonam

Qua at fungtionam

: Bonam

Qua at Sonation

: Bonam

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

1.1.

Definisi Fraktur

Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya. Tulang yang patah akan mempengaruhi jaringan sekitar sehingga dapat
mengakibatkan edema jaringan lunak, perdarahan pada otot dan sendi, dislokasi
sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf, dan kerusakan pembuluh darah, organ tubuh
dapat mengalami cedera akibat gaya yangdisebabkan fraktur atau fragmen tulang.
1.2 Etiologi Fraktur
Etiologi dari fraktur menurut Price dan Wilson (2006) ada 3 yaitu:
1. Cidera atau benturan
2. Fraktur patologik. Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang
telah menjadi lemah oleh karena tumor, kanker dan osteoporosis.
1.2.1 Peristiwa Trauma (kekerasan)
a) Kekerasan langsung
Kekerasan langsung dapat menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya
kekerasan itu, misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil, maka tulang akan
patah tepat di tempat terjadinya benturan. Patah tulang demikian sering bersifat
terbuka, dengan garis patah melintang atau miring.
b) Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari
tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling
lemah dalam hantaran vektor kekerasan. Contoh patah tulang karena kekerasan
tidak langsung adalah bila seorang jatuh dari ketinggian dengan tumit kaki
terlebih dahulu. Yang patah selain tulang tumit, terjadi pula patah tulang pada tibia
dan kemungkinan pula patah tulang paha dan tulang belakang. Demikian pula bila
jatuh dengan telapak tangan sebagai penyangga, dapat menyebabkan patah pada
pergelangan tangan dan tulang lengan bawah.
c) Kekerasan akibat tarikan otot
Kekerasan tarikan otot dapat menyebabkan dislokasi dan patah tulang. Patah

10

tulang akibat tarikan otot biasanya jarang terjadi. Contohnya patah tulang akibat
tarikan otot adalah patah tulang patella dan olekranom, karena otot triseps dan
biseps mendadak berkontraksi.
1.2.2 Peristiwa Patologis
a) Kelelahan atau stres fraktur
Fraktur ini terjadi pada orang yang yang melakukan aktivitas berulang ulang
pada suatu daerah tulang atau menambah tingkat aktivitas yang lebih berat dari
biasanya. Tulang akan mengalami perubahan struktural akibat pengulangan
tekanan pada tempat yang sama, atau peningkatan beban secara tiba tiba pada
suatu daerah tulang maka akan terjadi retak tulang.
b) Kelemahan Tulang
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal karena lemahnya suatu tulang
akibat penyakit infeksi, penyakit metabolisme tulang misalnya osteoporosis, dan
tumor pada tulang. Sedikit saja tekanan pada daerah tulang yang rapuh maka akan
terjadi fraktur.

FRAKTUR FEMUR

11

I.

Klasifikasi fraktur femur


Femur adalah tulang terkuat dan terpanjang pada tubuh manusia, fraktur dapat
terjadi baik dari distal sampai ke proksimal femur. Fraktur femur secara umum
dibedakan atas: fraktur leher femur, fraktur daerah trokanter, fraktur
subtrokanter, fraktur diafisis femur, dan fraktur suprakondiler femur.
a. Fraktur leher femur
Fraktur leher femur terjadi pada proksimal hingga garis intertrokanter pada
regio intrakapsular tulang panggul. Fraktur ini seirng terjadi pada wanita usia
di atas 60 tahun dan biasanya berhubungan dengan osteoporosis. Fraktur leher
femur disebabkan oleh trauma yang biasanya terjadi karena kecelakaan, jatuh
dari ketinggian atau jatuh dari sepeda dan biasanya disertai trauma pada
tempat lain. Jatuh pada daerah trokanter baik karena kecelakaan lalu lintas atau
jatuh dari tempat yang tidak terlalu tinggi seperti terpeleset di kamar mandi di
mana panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi dapat menyebabkan fraktur
leher femur.
Berikut ini adalah klasifikasi fraktur leher femur berdasarkan Garden

Stadium I adalah fraktur yang tak sepenuhnya terimpaksi.


Stadium II adalah fraktur lengkap tetapi tidak bergeser.
Stadium III adalah fraktur lengkap dengan pergeseran sedang.
Stadium IV adalah fraktur yang bergeser secara hebat.

Gambar 4.1 Klasifikasi fraktur leher femur menurut Garden2


A. Stadium I

C. Stadium III

12

B. Stadium II

D. Stadium IV
C.

Fraktur leher femur harus ditatalaksana dengan cepat dan tepat sekalipun
merupakan fraktur leher femur stadium I. jika tidak, maka akan berkembang
dengan cepat menjadi fraktur leher femur stadium IV. Selain Garden, Pauwel
juga membuat klasifikasi berdasarkan atas sudut inklinasi leher femur seperti
yang tertera pada gambar 4.2, yaitu sebagai berikut:

Tipe I, yaitu fraktur dengan garis fraktur 30.


Tipe II, yaitu fraktur dengan garis fraktur 50.
Tipe III, yaitu fraktur dengan garis fraktur 70.

Gambar 4.2 Klasifikasi fraktur leher femur menurut Pauwel2


A. Tipe I

B. Tipe II

C. Tipe III

Anamnesis biasanya menunjukkan adanya riwayat jatuh dari ketinggian


disertai nyeri panggul terutama daerah inguinal depan. Tungkai pasien
dalam posisi rotasi lateral dan anggota gerak bawah tampak pendek. Pada
foto polos penting dinilai pergeseran melalui bentuk bayangan yang tulang
yang abnormal dan tingkat ketidakcocokan garis trabekular pada kaput
femoris dan ujung leher femur. Penilaian ini penting karena fraktur yang
terimpaksi atau tak bergeser (stadium I dan stadium II berdasarkan Garden)

13

dapat membaik setelah fiksasi internal, sementara fraktur yang bergeser


sering mengalami non-union dan nekrosis avaskular.

Pengobatan fraktur leher femur dapat berupa konservatif dengan indikasi


yang sangat terbatas dan terapi operatif. Pengobatan operatif hampir selalu
dilakukan baik pada orang dewasa muda ataupun pada orang tua karena
perlu reduksi yang akurat dan stabil dan diperlukan mobilisasi yang cepat
pada orang tua untuk mencegah komplikasi. Jenis operasi yang dapat
dilakukan, yaitu pemasangan pin, pemasangan plate dan screw, dan
artroplasti yang dilakukan pada penderita umur di atas 55 tahun, berupa:
eksisi artroplasti, herniartroplasti, dan artroplasti total.
Komplikasi tergantung dari beberapa faktor, yaitu:

Komplikasi yang bersifat umum: trombosis vena, emboli paru,

pneumonia, dekubitus
Nekrosis avaskuler kaput femur
Komplikasi ini biasanya terjadi pada 30% pasien fraktur leher femur
dengan pergeseran dan 10% pada fraktur tanpa pergeseran. Apabila
lokasilisasi fraktur lebih ke proksimal maka kemungkinan untuk terjadi

nekrosis avaskuler menjadi lebih besar.


Nonunion
Lebih dari 1/3 pasien fraktur leher femur tidak dapat mengalami union
terutama pada fraktur yang bergeser. Komplikasi lebih sering pada
fraktur dengan lokasi yang lebih ke proksimal. Ini disebabkan karena
vaskularisasi yang jelek, reduksi yang tidak akurat, fiksasi yang tidak
adekuat, dan lokasi fraktur adalah intraartikuler. Metode pengobatan
tergantung pada penyebab terjadinya nonunion dan umur penderita.

14

Osteoartritis sekunder dapat terjadi karena kolaps kaput femur atau

nekrosis avaskuler
Anggota gerak memendek
Malunion
Malrotasi berupa rotasi eksterna

b. Fraktur intertrokanter
Fraktur intertrokanter menurut definisi bersifat ekstrakapsular.2,8 Seperti
halnya fraktur leher femur, fraktur intertrokanter sering ditemukan pada
manula ataun penderita osteoporosis. Kebanyakan pasien adalah wanita
berusia 80-an.
Fraktur terjadi jika penderita jatuh dengan trauma lansung pada trokanter
mayor atau pada trauma yang bersifat memuntir. Fraktur intertrokanter
terbagi atas tipe yang stabil dan tak stabil. Fraktur yang tak stabil adalah
fraktur yang korteks medialnya hancur sehingga terdapat fragmen besar
yang bergeser yang mencakup trokanter minor; fraktur tersebut sangat
sukar ditahan dengan fiksasi internal.

Gambaran klinik fraktur intertrokanter biasanya pada pasien tua dan tak
sehat. Setelah jatuh pasien tidak dapat berdiri. Pada pemeriksaan
didapatkan pemendekkan anggota gerak bawah dan berotasi keluar
dibandingkan pada fraktur servikal (karena fraktur bersifat ekstrakapsular)
dan pasien tidak dapat mengangkat kakinya. Fraktur tanpa pergeseran
yang stabil pada foto polos dapat terlihat sebagai tidak lebih dari retakan
tipis di sepanjang garis intertrokanter. Fraktur tanpa pergeseran dapat
dilakukan terapi konservatif dengan traksi. Pemasangan fiksasi interna

15

dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh fiksasi yang kuat dan untuk
memberikan mobilisasi yang cepat pada orang tua.

c. Fraktur batang femur


Fraktur batang femur merupakan fraktur yang sering terjadi pada orang
dewasa muda. Jika terjadi pada pasien manula, fraktur ini harus dianggap
patologik sebelum terbukti sebaliknya

Gambaran klinik sebagian besar pasien adalah orang dewasa muda. Terjadi
syok hebat, dan pada fraktur tertutup emboli lemak sering ditemukan.
Ditemukan deformitas pada tungkai atas berupa rotasi eksterna dan
pemendekkan tungkai. Paha membengkak dan memar. Pada foto polos fraktur
dapat terjadi pada setiap bagian batang, tetapi yang paling sering terjadi adalah
sepertiga bagian tengah. Fraktur dapat berbentuk spiral atau melintang.
Pergeseran dapat terjadi pada setiap arah. Pelvis harus selalu difoto dengan
sinar X untuk menghindari terlewatkannya cedera panggul atau fraktur pelvis
yang menyertai.

Pengobatan dapat berupa terapi konservatif, yaitu:

Traksi kulit merupakan pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi

definitif untuk mengurangi spasme otot.


Traksi tulang berimbang dengan bagian Pearson pada sendi lutut. Indikasi

traksi terutama fraktur yang bersifat komunitif dan segmental.


Menggunakan cast bracing yang dipasang setelah terjadi union fraktur
secara klinis.

16

Terapi operatif yang dapat dilakukan:

Pemasangan plate dan screw terutama pada fraktur proksimal dan distal

femur.
Mempergunakan K-nail, AO-nail atau jenis-jenis lain baik dengan operasi
tertutup ataupun terbuka. Indikasi K-nail, AO-nail terutama pada fraktur

diafisis.
Fiksasi ekterna terutama pada fraktur segmental, fraktur komunitif,
infected pseudoartrosis atau fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan
lunak yang hebat.

Komplikasi dini yang dapat terjadi adalah syok, emboli lemak, trauma
pembuluh darah besar, trauma saraf, trombo-emboli, dan infeksi.
Komplikasi lanjut dapat berupa:
a. Delayed union, fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam
4 bulan.
b. Nonunion, apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik dicurigai
adanya nonunion dan diperlukan fiksasi interna dan bone graft.
c. Malunion, bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen, maka
diperlukan pengamatan terus-menerus selama perawatan. Angulasi lebih
sering ditemukan. Malunion juga menyebabkan pemendekan pada tungkai
sehingga diperlukan koreksi berupa osteotomi.
d. Kaku sendi lutut, setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan
pergerakan pada sendi lutut. Hal ini disebabkan oleh adanya adhesi
periartikuler atau adhesi intramuskuler. Hal ini dapat dihindari apabila
fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih awal.
e. Refraktur, terjadi apabila mobilisasi dilakukan sebelum terbentuk union
yang solid.
d. Fraktur suprakondiler femur

17

Daerah suprakondiler adalah daerah antara batas proksimal kondilus


femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. Fraktur terjadi karena
tekanan varus atau valgus disertai kekuatan aksial dan putaran.
Klasifikasi fraktur suprakondiler femur terbagi atas: tidak bergeser,
impaksi, bergeser, dan komunitif, yang dapat dilihat pada gambar 4.3.

Gambar 4.3 Klasifikasi fraktur suprakondiler2


A. Fraktur tidak bergeser
B. Fraktur impaksi

C&D. Fraktur bergeser


E. Fraktur komunitif

Gambaran klinis pada pasien ditemukan riwayat trauma yang disertai


pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondiler. Krepitasi
mungkin ditemukan.
Pengobatan dapat dilakukan secara konservatif, berupa: traksi berimbang
dengan mempergunakan bidai Thomas dan penahan lutut Pearson, Castbracing, dan spika panggul. Terapi operatif dapat dilakuan pada fraktur
terbuka atau adanya pergeseran fraktur yang tidak dapat direduksi secara
konservatif. Terapi dilakukan dengan mempergunakan nail-plate dan
screw dengan macam-macam tipe yang tersedia.

Komplikasi dini yang dapat terjadi berupa: penetrasi fragmen fraktur ke


kulit yang menyebabkan fraktur menjadi terbuka. Komplikasi lanjut dapat

18

berupa malunion dan kekakuan sendi lutut.

d. Fraktur subtrokanter
Fraktur ini dapat terjadi pada setiap umur dan biasanya akibat trauma yang
hebat. Gambaran klinisnya berupa anggota gerah bawah keadaan rotasi
eksterna, memendek, dan ditemukan pembengkakan pada daerah
proksimal femur disertai nyeri pada pergerakan. Pada pemeriksaan
radiologis dapat menunjukkan fraktur yang terjadi di bawah trokanter
minor. Garis fraktur bisa bersifat tranversal, oblik, atau spiral dan sering
bersifat kominutif. Fragmen proksimal dalam keadaan posisi fleksi
sedangkan distal dalam keadaan posisi abduksi dan bergeser ke proksimal.
Pengobatan dengan reduksi terbuka dan fiksasi interna dengan
menggunakan plate dan screw. Komplikasi yang sering timbul adalah
nonunion dan malunion. Komplikasi ini dapat dikoreksi dengan osteotomi
atau bone grafting.

19

PEMBAHASAN

Pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 6 jam SMRS dengan
kejadian sebelumnya pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Pasien berada
dalam keadaan membawa motor dan menabrak sebuah mobil. Menurut keluarga
pasien, motor pasien menabrak mobil dari arah samping dengan kecepatan 80
km/jam sehingga pasien terpental dari motor dan terjatuh dari motor. Pada saat
kejadian tersebut pasien tidak mengingat kejadian yang terjadi dan sempat
pingsan selama 3 hari. Setelah itu pasien sadar dan mengeluhkan nyeri kepala
yang hebat dan berbicara cenderung dengan kata-kata yang melantur. Perdarahan
dari hidung dan telinga, mual dan muntah disangkal oleh pasien. Selain itu pasien
juga mengeluhkan nyeri pada tangan kiri dan kaki kiri yang dirasakan sangat
hebat dan terjadi pembengkakan pada lutut kiri sehingga kaki sulit digerakkan.
Penilaian kekuatan otot dilakukan menurut Medical Research Council
dimana kekuatan otot dibagi dalam grade 0-5, yaitu:2
a. Grade 0
Tidak ditemukan adanya kontraksi otot.
b. Grade 1
Kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan dari tonus oto yang dapat
diketahui dengan palpasi dan tidak dapat menggerakkan sendi.
c. Grade 2
Otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya tidak dapat
melwan gravitasi.

20

d. Grade 3
Disamping dapat menggerakkan sendi, otot juga dapat melawan pengaruh
gravitasi tetapi tidak kuat terhadap tahanan yang diberikan oleh pemeriksa.
e. Grade 4
Kekuatan otot seperti pada grade 3 disertai dengan kemampuan otot terhadap
tahanan yang ringan.
f. Grade 5
Kekuatan otot normal.
Adanya pembengkakan manandakan kemungkinan perdarahan yang diakibatkan
oleh fraktur pada tulang femur. Hal ini didukung dengan kadar hemoglobin
pasien 10,1 gr/dl. Untuk memastikan hal ini dilakukan pemeriksaan rontgen
femur sinistra posisi AP/Lateral. Dari hasi pemeriksaan memberikan kesan
adanya fraktur simple 1/3 distal femur sinistra. Oleh karena tidak ditemukannya
luka yang terbuka, maka diagnosis pada pasien ini adalah fraktur tertutup 1/3
distal femur sinistra.

Tatalaksana yang diberikan pada pasien ini meliputi maintenence cairan dengan
RL, immobilisasi sementara dengan pemasangan spalak serta pemberian antibiotik
dan analgetik. Antibiotik yang dipilih adalah ceftriaxone golongan sefalosforin
karena bersifat spektrum luas sedangkan untuk analgetiknya dipilih ketorolac.
Terapi operatif yang disarankan pada pasien ini adalah Open reduction
internal fixation (ORIF) dan dilakukan oleh ahli ortopedi.

DAFTAR PUSTAKA

21

1. Michael A. Anatomi dan fisiologi tulang dan sendi. Dalam : Patofisologi,


konsep klinis proses-proses penyakit. Ed 6. Editor : Sylivia.A, Lorraine M.
Jakarta: EGC, 2005p1357-64
2. Rasjad C. Struktur dan Fungsi Tulang. Dalam : Pengantar Ilmu Bedah
Ortopedi. Makassar : Bintang Lamumpatue, 2012.
3. Grace P, Borley N. Surgery at Glance. Ed 2. British : Blackwell publishing
company. 2002
4. Dorland, W.A Newman. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC,
2002
5. Sjamsuhidajat, de Jong. Sistem Muskuloskeletal. Dalam : Buku Ajar Ilmu
Bedah. Ed 3. Jakarta: EGC, 2010. p959-1083
6. Michael A. Fraktur dan dislokasi. Dalam : Patofisologi, konsep klinis prosesproses penyakit. Edisi 6. Editor : Sylivia.A, Lorraine M. Jakarta: EGC,
2005.p1365-73