Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH AGAMA ISLAM

PEMIMPIN MENURUT ISLAM DAN PLURALISME

Oleh
SAHRI (NIM H1031131014)
FREDY PRANOTO (NIM H10311310..)
AUDITYA MEIDIANTO (NIM H1031131010)
TOTO HERMANTO (NIM H1031131013)
OMARTA (NIM H10311310..)
MUHAMMAD KAFILAH (NIM H10311310..)
DOMIRUDDIN (NIM H10311310..)

PRODI KIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah S.W.T, yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya. Berkat rahmat dan karunia-Nya pulalah makalah mata kuliah Pendidikan
Agama Islam berjudul Pemimpin Menurut Islam dan Pluralisme dapat diselesaikan dengan
baik dan lancar. Atas dukungan dan tugas yang telah diberikan oleh dosen dan teman-teman
maka kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam dan
teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna dan memerlukan kritik dan saran
dari pembaca dan teman-teman sehingga makalah ini menjadi lebih baik.

Pontianak, 03 Juni 2014

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemimpin adalah sosok yang diciptakan Allah Swt di muka bumi ini dimana seorang
pemimpin memiliki wewenang dan kekuasaan untuk mengatur segala urusan yang dipimpinnya.
Disamping itu pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar dan nanti kepemimpinannya akan
dipertanggungjawabkan di dunia maupun di akhirat.
Pluralisme merupakan suatu paham yang berorientasi kemajemukan yang memiliki
berbagai penerapan yang berbeda dalam berbagai filsafat agama,moral,hukum dan
politik,termasuk adat,kebiasaan,dimana batas kolektifnya adalah pengakuan atas kemajemukan
didepan ketunggalan.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah
Pendidikan Agama Islam tentang pemimpin menurut pandangan islam dan juga tentang
pluralisme. Dari penulisan makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami makna pemimpin,
syarat, hak dan kewajiban pemimpin serta dapat memahami pengertian pluralisme dan dapat
mengatasi masalah yang berhubungan dengan pluralisme.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Pemimpin
Pemimpin adalah seluruh manusia yang diciptakan Allah Swt, di muka bumi ini. Pemimpin

ada yang formal dan nonformal. Pemimpin formal adalah tugas suatu pekerjaan dan jabatan
berdasarkan Surat Keputusan (SK) sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan telah disahkan
oleh pemerintah. Sedangkan pemimpin nonformal adalah tugas yang tidak ada SK, dan tidak ada
aturan dalam undang-undang yang ada dalam pemerintahan, hanya aturan tidak tertulis di
masyarakat, namun mengikat dan dibutuhkan tanggung jawab yang tinggi karena akan dinilai oleh
masyarakakat umum.
Istilah kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan keterampilan, kecakapan dan
tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu, kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang
yang bukan pemimpin. Kepemimpinan juga dapat mempengaruhi orang lain yang dimaksudkan
untuk membentuk perilaku sesuai dengan kehendak kita.
Ralph M. Stogdil seperti yang dikutip Anasom dalam Tim LPP-S da SDM (2010:70)
mengungkapkan bahwa dalam memberi arti kepemimpinan ini, yang dapat dilihat dan berbagai
sudut pandang.
1. Kepemimpinan sebagai titik pusat proses kelompok
2. Kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang mempunyai pengaruh
3. Kepemimpinan adalah seni untuk menciptakan kesesuaian paham atau kesepakatan
4. Kepemimpinan adalah pelaksanaan pengaruh
5. Kepemimpinan adalah tindakan atau perilaku
6. Kepemimpinan adalah suatu bentuk persuasi
7. Kepemimpinan adalah suatu hubungan kekuatan /kekuasaan
8. Kepemimpinan adalah sarana pencapaian tujuan
9. Kepemimpinan adalah suatu hasil dari interaksi
10. Kepemimpinan sebagai inisiasi (permulaan) dan strukt

Kesuksesan pemimpin dapat dilihat dari kesuksesannya dalam mempengaruhi dan membujuk
orang lain. Definisi ini dikategorikan tiga elemen (Edwin A. Locke, 1997:3-4)
1. Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi (relational concept)
Kepemimpinan hanya ada dalam relasi dengan orang-orang lain, dalam hal ini para pengikut
atau bawahan. Jika tidak ada pengikut maka tidak ada pemimpin.
2. Kepemimpinan merupakan suatu proses
Agar bisa memimpin, pemimpin mesti melakukan sesuatu, tentu dengan berbagai daya dan
upaya. Seorang pemimpin harus inisiatif dan aktif melakukan berbagai tindakan dalam
mencapai tujuan organisasi dengan memberdayakan potensi-potensi yang dimiliki para
pengikutnya
3. Kepemimpinan harus membujuk orang-orang lain untuk mengambil tindakan
Pemimpin membujuk para pengikutnya dengan berbagai cara, seperti menggunakan otoritas
yang terlegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan sasaran, memberi
imbalan dan hukuman (punishment and reward), restrukturisasi organisasi, dan
mengkomunikasikan sebuah visi.
B. Sifat Dan Karakteristik Kepemimpinan
Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2003:115), sifat-sifat yang perlu dimiliki oleh seorang
pemimpin agar dapat mempertahankan kedudukannya cukup lama dan dapat menjalankan
fungsinya dengan efektif sebagai berikut:
1. Tanggung Jawab yang seimbang
Stamina, yaitu kemampuan bertahan dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi
kesulitan. Dengan stamina ini, seorang pemimpin yang mendapat kedudukannya karena nasib
baik pun dapat mempertahankan kedudukannya itu.
2. Ada sesuatu yang diperjuangkan
Dalam suatu kepemimpinan, pasti ada suatu yang diperjuangkan karena fungsi dari
kepemimpinan itu merealisasikan apa yang diperjuangkan, termasuk perjuangan untuk
mendapatkan kekuasaan. Tidak peduli itu berupa mempertahankan ide-ide lama atau tradisi

terhadap ancaman pengaruh sesuatu yang baru, ataukah berupa memperjuangkan ide-ide baru
terhadap kebiasaan atau tradisi lama.

3. Pemimpin harus punya pengikut


Tidak ada pemimpin yang tanpa pengikut, adanya pemimpin karena adanya yang dipimpin.
Dalam hal ini pemimpin yang baik adalah yang mengetahui dan mengenal dengan baik sifatsifat kelompok yang mengikutinya, sehingga pemimpin itu dapat mengatur atau mengarahkan
tingkah laku kelompok pengikutnya. Ini berarti seorang pemimpin perlu mengetahui latar
belakang para pengikutnya, kondisi psikoligis, dan berbagai masalah yang dihadapi oleh
pengikutnya. Dengan begitu seorang pemimpin mampu memberikan yang terbaik bagi para
pengikutnya.
4. Energi
Seorang pemimpin harus mempunyai semangat dan dorongan untuk memperjuangkan citacita dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Ia juga harus aktif dan mau terus bergerak,
terus bertindak tanpa henti. Akan tetapi yang patut menjadi perhatian disini adalah kesesuaian
antara aktifitas yang dilakukan dengan perkataan-perkataan yang dikemukakan. Kalau tidak
ada kesesuaian, maka seorang pemimpin dapat dianggap tidak konsisten. Oleh karena itu, bagi
seorang pemimpin diperlukan konsistensi antara perkataan dan perbuatan
5. Kecakapan
Kecakapan sangat diperlukan bagi seorang pemimpin, setidak-tidaknya dalam satu hal
pemimpin harus lebih daripada pengikutnya. Pendek kata pemimpin harus selangkah lebih
maju dari anggotanya. Kecakapannya bisa mengenai satu hal saja, bisa ada beberapa bidang.
Dalam hal, yang terakhir ini bidang-bidang itu dapat saling bersangkutan dapat pula masingmasing berdiri sendiri.
6. Kecerdasan
Kecerdasan memang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, karena ia tidak hanya dituntut
untuk berkerja keras bagi kemajuan organisasi yang dipimpinnya, akan tetapi juga ia dituntut
untuk manpu bekerja secara cerdas. Taraf kecerdasan harus cukup tinggi untuk dapat
memahami, menganalisa dan ,memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
7. Karakter

Pemimpin harus berkarakter dan berkepribadian yang kuat. Ia juga tidak berubah-ubah
pendirian dan kata-katanya dapat dipercaya. Ia mempunyai keyakinan akan kemampuan
dirinya sendiri.

8. Bersih
Pemimpin harus berpikiran bersih dan jujur. Ia tidak punya itikad lain selain
memperjuangkan kepentingan kelompoknya. Hal ini harus menjadi komitmen dari seorang
pemimpin, dan komitmen ini harus mampu menjadi landasan dalam beraktivitas untuk
memajukan organisasinya.
9. Simpati
Seorang pemimpin harus mampu menempatkan diri pada kedudukan pengikutpengikutnya dan memandang persoalan dar sudut pandang pengikutnya. Dengan demikian ia
dapat mengerti perasaan pengikutnya. Ia tampil sebagai sosok penuh simpati, disegani
sekaligus dicintai bawahannya.

Fandy Tjiptono dan Anatasia Diana (2001:153-154) menyampaikan secara umum seorang
pemimpin yang baik harus memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
A. Tanggung Jawab Yang Seimbang
Keseimbangan yang dimaksud disini adalah antara tanggungjawab terhadap perkerjaan
yang dilakukan dan tanggungjawab terhadap orang yang harus melaksanakan
perkerjaan tersebut. Ini harus dilakukan dengan seimbang. Jika tidak seimbang, maka
proses pendelegasian tanggungjawab tidak akan berjalan lancar.
B. Modal Peranan yang Positif
Peranan adalah tanggungjawab, perilaku, atau prestasi yang diharapkan seseorang yang
memiliki posisi khusus tertentu. Dalam hal sikap dan perilaku seorang pemimpin
menjadi tauladan bagi para pengikutnya. Segala tingkah laku pemimpin akan ditiru oleh
para pengikutnya. Oleh karena itu, sudah semestinya yang dilakukan oleh pemimpin
harus positif. Pemimpin harus menyerukan untuk bekerja secara tuntas akan ditiru oleh
para pengikutnya, jika pemimpin itu sendiri bekerja secara tuntas.
C. Memiliki Keterampilan Komunikasi yang Baik

Pembahasan tentang komunikasi dalam kepemimpinan ini secara lengkap dibahas pada
bab tersendiri. Akan tetapi dalam hal ini yang penting bagi seorang pemimpin adalah
kemampuan untuk mengkomunikasikan berbagai ide, pemikiran, instruksi, dan
langkah-langkah strategis kepada para pengikutnya.

3. Memiliki keterampilan komunikasi yang baik


Dalam hal ini yang penting bagi seorang pemimpin adalah kemampuan untuk
mengkomunikasikan berbagai ide, pemikiran, instruksi, dan langkah-langkah strategis
kepada para pengikutnya. Seorang pemimpin dituntut untuk menyampaikan secara luas,
tegas, dan jelas. Bahasa yang digunakan oleh pemimpin berkomunikasi haruslah bahasa
yang mudah dimengerti yang berfungsi memberikan orientasi, komunikasi, dan
pengendalian diri kepada manusia.
4. Memiliki pengaruh positif
Pengaruh adalah seni yang menggunakan kekuasaan untuk menggerakkan atau mengubah
pandangan orang lain kearah suatu tujuan atau sudut pendang tertentu. Pemimpin yang baik
adalah pemimpin yang mampu mempengaruhi para pengikutnya untuk melakukan sesuai
dengan yang diharapkan oleh pemimpin.
5. Mempunyai kemampuan untuk meyakinkan orang lain
Untuk mampu meyakinkan para pengikutnya, tentu dituntut ahli khusus dari seorang
pemimpin. Faktor komunikasi dan pengaruh menjadi sangat penting, tanpa komunikasi dan
pengaruh yang baik, pemimpin tidak akan mampu meyakinkan para pengikutnya untuk
melaksanakan tanggung jawabnya secara total dalam mensukseskan agenda-agenda
organisasi.

Disamping empat karakteristik di atas, ada beberapa karakteristik lainnya yang


harus dimiliki oleh seorang pemimpin:
1. Mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat
2. Memiliki mental pejuang
3. Penuh inisiatif dan kreatif
4. Semangat untuk mencapai tujuan

5. Penuh antusias
6. Sederhana
7. Jujur
8. Adil
9. Penuh keyakinan
10. Memiliki keberanian
11. Percaya diri dan tidak sombong
12. Bersikap objektif
13. Kematangan intelektual quotient (IQ), emosional quotient (EQ), spiritual quotient (SQ).
a) Intelektual Quotient (IQ)
Potensi intelektual adalah kemampuan berpikir analisis dan empiris.
b) Emosional Quotient (EQ)
Potensi emosional adalah kemampuan merasakan suasana hati dan perasaan orang
lain serta lingkungan, untuk pengambilan keputusan serta pembangunan
mentalitas.
c) Spiritual Quotient (SQ)
Potensi spiritual adalah kemampuan untuk memberikan makna tertinggi kehidupan
(ultimate meaning).

C.

Akhlak Pemimpin
Dari Ibnu Umar r.a katanya : Aku hadir ketika bapaku (Umar Bin Khatab) kena musibah

ditikam orang. Para sahabat beliau yang hadir ketika itu memujinya.
Kata mereka : Semoga Allah membalasi anda dengan balasan yang baik
Jawab Umar : Aku penuh harap dan cemas.
Kata mereka : Tunjukkanlah pengganti anda (untuk menjadi khalifah)
Jawab Umar : Apakah aku harus memikul urusan pemerintahanku waktu hidup dan matiku ?. aku
ingin tugasku sudah selesai, tidak kurang dan tidak lebih. Jika aku menunjuk penggantiku,
memang orang yang lebih dariku, yakni Abu Bakar Shidiq, pernah menunjuk

penggantinya. Tetapi jika aku membiarkan kamu memilih siapa yang akan menjadi
khalifah maka orang yang paling baik darinya adalah Rasulullah SAW, pernah
membiarkan kamu memilih sendiri penggantinya.
Kata Abdullah, dengan ucapan itu tahulah aku bahwa beliau tidak akan menunjuk penggantinya
untuk menjadi khalifah (HR. Muslim, Hadist no.1790).
Umar tidak mau menunjuk penggantinya dengan alasan :
1. Umar ingin setelah wafat tidak terbebani dengan masalah dunia pemerintahan
2. Umar menyerahkan pemilihannya kepada umat sebagaimana Rasulullah SAW
memerintahkan hal itu Duduknya Abu Bakar Shidiq sebagai khalifah karena dipilih oleh
para sahabat orang yang dipilih adalah orang yang paling baik diantara umat, bukan orang
yang dekat dengan umar.
Dari Abdullah Bin Samurah r,a : Rasulullah SAW bersabda kepadaku : Hai Abdurahman!,
Janganlah engkau meminta-minta hendak menjadi pembesar Negara. Jika engkau menjadi
pembesar Negara karena permintaan, pertanggungjawabanmu akan besar sekali. Dan jika diangkat
tanpa permintaan engkau akan ditolong dalam tugasmu. (HR. Muslim)
Dari Abu Musa r.a. Katanya :Aku datang menemui Nabi SAW, bersama-sama dua orang
laki-laki anak pamanku. Yang seorang berkata Ya Rasulullah,angkatlah aku menjadi amir
(pembesar/pemimpin) disuatu daerah yang telah yang dikuasakan Allah kepada anda! Jawab
Rasullulah Demi Allah aku tidak akan mengangkat seseorang untuk memangku suatu jabatan.
Orang meminta-minta supaya diangkat, bahkan tidak pula orang yang berambisi untuk itu
(H.R.Muslim)
Dari Abu Zar Al-Ghifari Ra. Dia pernah bertanya pada Rasulullah SAW.Ya Rasulullah,
apakah engkau tidak hendak mengangkat ku (untuk memegang suatu jabatan)?.Lalu beliau
menepuk bahuku dengan tangan beliau seraya berkata,Hai Abi Zar, engkau ini lemah,sedangkan
pekerjaan itu adalah amanah yang kelak pada hari kiamat akan di pertanggungjawabkan dengan
resiko penuh kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang-orang yang melaksanakan tugasnya
dengan baik (H.R.Muslim).

D. Larangan Rasulullah SAW Kepada Para Pemimpin


Rasulullah SAW,tidak akan mengangkat seseorang untuk meminta-minta jabatan,bahkan
melarang untuk beramibisi untuk menjadi pejabat pemerintahan, karena ;
1) Tanggung Jawab seseorang pemimpin sangat besar disisi Allah SWT
2) Orang yang diangkat tanpa permintaan akan ditolong tugasnya oleh orang lain
3) Semua tugas kepemimpinan kelak di pertanggungjawabkan penuh penyesalan dan
kehinaan kecuali bagi orang-orang yang memenuhi syarat dan dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik
Dari Aisyah Ra.Aku mendengar Rasulullah SAW berdoa dirumah ku,
Katanya:Wahai Allah, Siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku, lalu
dia mempersulit urusan mereka maka persulit pula-lah dia, dan siapa yang menjabat suatu
jabatan dalam pemerintahan umatku, lalu dia beusaha menolong mereka maka tolong pula-lah
dia.(H.R Muslim).

A.

Pengertian
Secara etimologi, Pluralisme adalah mengenal lebih dari satu. Sedangkan secara

terminologis, paham kemajemukan atau paham yang berorientasi kemajemukan yang memiliki
berbagai penerapan yang berbeda dalam berbagai filsafat agama, moral, hukum dan politik,
termasuk adat, kebiasaan, dimana batas kolektifnya adalah pengakuan atas kemajemukan didepan
ketunggalan.Seperti dalam filsafat, sebagian orang tidak mempercayai aspek kesatuan dalm
makhluk-makhluk Tuhan dan pandangan ini disebut dengan heterogenitas wujud dan maujud. Ada
juga yang mengatakan bahwa Pluralisme dipahami sebagai doktrin metafisik yang memandang
bahwa seluruh eksistensi secara umum bisa menunjukkan jalan keselamatan. Cara pandang yang
demikian ini merupakan cara pandang yang tidak bisa dihindari bagi seseorang yang dibatasi
sebuah tradisi agama tertentu.
Secara lebih luas, istilah pluralisme merupakan salah satu kata ringkas untuk menyebut suatu
tatanan dunia baru dimana perbedaan budaya, sistem sosial, sistem kepercayaan dan nilai-nilai
yang membangkitkan bergairahnya berbagai ungkapan manusia yang tidak kunjung habis
sekaligus mengilhami konflik yang berkepanjangan dan sulit didamaikan.Pluralisme tidak dapat
dipahami hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat kita majemuk, beraneka ragam, terdiri dari
berbagai suku, entis, ras dan agama, yang justru hanya menggambarkan kesan fragmentasi, bukan
Pluralisme. Pluralisme juga tidak boleh dipahami sekedar kebaikan negatif (negative good), hanya
ditilik dari kegunaannya untuk menyingkirkan fanatisme.

B.

Pluralisme dalam Perspektif Islam

Q. S. At-Tin(95) : 4-5
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya
5. Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
Q. S. Al-Baqarah (2) : 213

213. Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah
mengutus

para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka

Kitab yang

benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka

perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah
didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan
yang

nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang
yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan
kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada
jalan yang lurus.

Dalam memahami ayat diatas muncul 3 fakta khususnya tentang prluralisme agama :
1. Kesatuan uman manusia dibawah satu Tuhan.
2. Kekhususan agama-agama yang dibawa oleh para nabi.
3. Peran wahyu dalam mendamaikan perselisihan atau perdebatan diantara umat beragama.

C.

Hablumminannas

Hablumminannas yaitu hubungan antar manusia. Pada saat ini hablumminannas justru
yang mengusik umat. Terjadinya konflik antar umat islam dengan umat diluar islam, karena kurang
pahamnya terhadap konsep hablumminannas yang setengah-setengah.
Contoh konflik yang terjadi karena kurangnya pemahaman tentang konsep hablumminannas:
1. Dari segi akidah munculnya ajaran baru
2. Dari theologinya, tidak sedikit yang menyesatkan orang lain
3. Pemahaman tentang jihad
Al-Quran memandang konsep manusia sebagai bashar, seharusnya menyadarkan manusia bahwa
ada sisi kemanusiaan yang harus dupelihara oleh manusia itu sendiri.

Pengakuan yang Menggelikan

Banyaknya orang yang mengaku adanya tuhan lain selain Allah, padahal apabila di pelajari
lebih jauh pemahan mereka tentang tuhan mereka itu sangat salah bahkan tuhan yang mereka
agungkun tidak merasa atau tidak menganngap diri mereka tuhan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pemimpin adalah seluruh manusia yang diciptakan Allah Swt, di muka bumi ini. Pemimpin
ada yang formal dan nonformal. Pemimpin formal adalah tugas suatu pekerjaan dan jabatan
berdasarkan Surat Keputusan (SK) sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan telah disahkan
oleh pemerintah. Sedangkan pemimpin nonformal adalah tugas yang tidak ada SK, dan tidak ada
aturan dalam undang-undang yang ada dalam pemerintahan, hanya aturan tidak tertulis di
masyarakat, namun mengikat dan dibutuhkan tanggung jawab yang tinggi karena akan dinilai oleh
masyarakakat umum.
Pluralisme merupakan salah satu kata ringkas untuk menyebut suatu tatanan dunia baru
dimana perbedaan budaya, sistem sosial, sistem kepercayaan dan nilai-nilai yang membangkitkan
bergairahnya berbagai ungkapan manusia yang tidak kunjung habis sekaligus mengilhami konflik
yang berkepanjangan dan sulit didamaikan.

3.2 Saran
Memilih pemimpin seharusnya berhati-hati karena pemimpinlah yang akan merubah suatu
bangsa atau daerah yang dipimpinnya. Pemilihan pemimpin dan tanggung jawab dari pemimpin
di Indonesia seharusnya mengikuti cara islam.
Pluralisme sebaiknya dihilangkan dalam kehidupan bermasyarakat karena akan
mengakibatkan munculnya ajaran baru yang menyimpang dari ajaran islam.

DAFTAR PUSTAKA