Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH ISBD

MANUSIA, NILAI, MORAL, DAN HUKUM

Oleh
SAHRI (NIM H1031131014)
ALVIN SALENDRA (NIM H1031131032)
AUDITYA MEIDIANTO (NIM H1031131010)
TOTO HERMANTO (NIM H1031131013)
SUFYAN (NIM H1031131019)

PRODI KIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah S.W.T, yang telah melimpahkan rahmat
dan karunia-Nya. Berkat rahmat dan karunia-Nya pulalah makalah mata kuliah Ilmu Sosial dan
Budaya Dasar (ISBD) berjudul Manusia, Nilai, Moral, dan Hukum dapat diselesaikan dengan
baik dan lancar. Atas dukungan dan tugas yang telah diberikan oleh dosen dan teman-teman
maka kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah ISBD dan teman-teman yang
telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna dan memerlukan kritik dan saran
dari pembaca dan teman-teman sehingga makalah ini menjadi sempurna.

Pontianak, 30 Mei 2014

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia dalam kehidupannya tidak akan terlepas dalam bingkai nilai, moral dan hukum.
Generasi muda adalah generasi pembangun negeri. Jika rusak generasi muda suatu Negara maka
rusak jugalah Negara tersebut. Pendidikan adalah salah satu elemen penting untuk mewujudkan
manusia yang tertib. Pendidikan membangun generasi muda dalam suatu Negara sehingga
pendidikan akan nilai, moral, dan hukum sangat penting bagi masyarakat.
Nilai-nilai, moral dan hukum merupakan solusi untuk menjadikan suatu Negara menjadi
lebih baik. Dengan mempelajari konsep dan tujuan dari nilai, moral dan hukum diharapkan
masyarakat dapat bersikap, bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi nilai tugas ISBD tentang
mempelajari konsep dan tujuan nilai, moral dan hukum yang berlaku di masyarakat. Dari
penulian makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami makna manusia, nilai, moral dan
hukum serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat, Fungsi, dan Perwujudan Nilai, Moral dan Hukum Dalam Kehidupan
Manusia, Masyarakat dan Negara
Manusia tidak lepas dari bingkai nilai, moral dan hukum. Pendidikan tentang dimensi nilai,
moral, dan hukum sangat penting bagi masyarakat yang pada kenyataannya akan memerlukan
suatu perubahan kearah yang lebih baik. Kematangan secara moral (morally nature) menjadikan
seeoarang mampu memperjelas dan menetukan sikap terhadap substansi nilai dan norma baru yang
muncul dalam proses perubahan. Kematangan tersebut akan menjadi pembuktian akan jati diri dan
totalitas suatu bangsa.
Pendidikan menjadi salah satu elemen penting dalam mewujudkan manusia yang tertib. Yang
perlu dibangun terlebih dahulu adalah pemudanya, sebab suatu Negara akan hancur apabila
generasi mudanya tidak lagi menghiraukan akan nilai, moral, dan hukum yang ada dalam
lingkungan masyarakatnya. Sesuatu yang perlu dibangun pertama kali di dalam diri pemuda adalah
kepribadian.
Perubahan dalam kepribadian tidak terjadi secara spontan melainkan hasil pematangan,
pengalaman, tekanan dari lingkungan sosial budaya, dan faktor-faktor individu.
1. Pengalaman Awal . Sigmund Freud menekankan tentang pentingnya pengalaman awal
(masa kanak-kanak) dalam perkembangan kepribadian. Trauma kelahiran, pemisahan dari
ibu adalah pengalaman yang sangat sulit dihapus dari ingatan;
2. Pengatuh Budaya. Dalam menerima budaya anak mengalami tekanan untuk
mengembangkan pola kepribadian yang sesuai dengan standar yang ditentukan budayanya;
3. Kondisi Fisik. Kondisi fisik berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap
kepribadian seseorang. Kondisi fisik mempengaruhi kepribadian antara lain adalah
kelelahan, malnutrisi, gangguan fisik, penyakit menahun, dan gangguan kelenjar endoktrin
ke kelenjar tiroid(membaung gelisah, pemarah, hiperaktif, depresi, tidak puas, curiga, dan
sebagainya);

4. Daya Tarik . Orang yang dinilai oleh lingkungannya menarik biasanya memiliki lebih
banyak karakteristik kepribadian yang diinginkan daripada orang yang dinilai kurang
menarik, dan bagi mereka yang memiliki karakeristik menarik akan memperkuat sikap
sosial yang menguntungkan;
5. Inteligensi. Perhatian yang berlebihan terhadap anak yang pandai dapat menjadikan ia
sombong, dan anak yang kurang pandai merasa bodoh apabila berdekatan dengan orang
yang pandai tersebut, dan tidak jarang memberikan perhatian yang kurang baik;
6. Emosi. Ledakan emosional tanpa sebab yang tinggi dinilai sseorang yang tidak matang.
Penekanan ekspresi emosional membuat seseorang murung dan cenderung kasar, tidak
mau bekerja sama dan sibuk sendiri;
7. Nama. Walaupun hanya sekedar nama, tetapi memiliki sedikit pengaruh terhadap konsep
diri, namun pengaruh itu hanya terasa apabila anak menyadari bahwa itu mempengaruhi
orang yang berarti dalam hidupnya. Nama yang dipakai memanggil mereka(karena nama
itu mempunyai asosiasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam pikiran
orang lain) akan mewarnai penilaian orang terhadap dirinya;
8. Keberhasilan dan Kegagalan. Keberhasilan dan kegagalan akan mempengaruhi konsep
diri, kegagalan dapat merusak konsep diri, sedangkan keberhasilan akan menunjang
konsep diri itu;
9. Penerimaan sosial. Anak yang diterima dalam kelompok sosialnya dapat mengembangkan
rasa percaya diri dan kepandaiannya. Sebaliknya anak yang tidak diterima dalam
lingkungan sosialnya akan membenci orang lain cemberut , dan mudah mudah tersinggung;
10. Pengaruh keluarga. Pengaruh keluarga sangat mempengaruhi kepribadian anak, sebab
waktu tebanyak anak adalah keluarga dan didalam keluarga itulah diletakkan sendi-sendi
dasar kepribadian;
11. Perubahan Fisik. Perubahan kepribadian dapat disebabkan oleh adanya perubahan
kematangan fisik yang mengarah kepada perbaikan kepribadian. Akan tetapi perubahan
fisik yang mengarah pada klimakterium dengan meningkatnya usia dianggap sebagai suatu
kemunduran menuju kearah yang lebih buruk.
Kesebelas faktor tersebut harus selalu dibingkai oleh nilai, moral, dan hukum, baik dalam
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Para ahli memberi pandangan yang berbeda terkait pengertian nilai, adalah sebagai berikut.
1. Menurut Gordon allport (1964) sebagai seorang ahli psikologi kepribadian, mengartikan
nilai sebagai keyakinan yang membuat seseorang berbuat atas dasar keinginannya;
2. Menurut Kupperman (1983) mengartikan nilai sebagai patokan normatif yang
mempengaruhi manusia dalam menetukan pilihannya diantara cara-cara tindakan
alternatif. Salah satu bagian terpenting dalam proses pertimbangan nilai (value judgement)
adalah pelibatan nilai-nilai normatif yang berlaku di masyarakat;
3. Menurut Hans Jonas (Bertens, 1999). Ia menyatakan bahwa nilai adalah alamat sebuah kata
ya (value is address of a yes), atau kalau diterjemahkan secara kontekstual, nilai adalah
sesuatu yang ditunjukkan dengan kata iya. Kata iya dapat mencakup nilai keyakinan
individu secara psikologis maupun nilai patokan normatif secara sosiologis;
4. Menurut Kluckhohn (Brameld, 1957) mengartikan nilai sebagai konsepsi (tersirat atau
tersurat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang
diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir
tindakan. Menurut Brameld, definisi itu memiliki banyak implikasi terhadap pemaknaan
nilai-nilai budaya dalam pengertian yang lebih spesifik andaikata dikaji secara mendalam.
Kodhi memandang bahwa menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk
menghubungkan sesuatu yang lain, kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan. Berbicara
tentang nilai berarti berbicara tentang das Sollen, bukan das Sein, kita masuk kerokhanian bidang
makna normatif, bukan kognitif, kita masuk kedunia ideal bukan dunia real.
Dalam kaitannya dengan derivasi atau penjabarannya maka nilai-nilai dapat dikelompokkan
menjadi empat macam yaitu nilai dasar, nilai instrumental, nilai praktis dan nilai terminal.
1.

Nilai Dasar. Walaupun nilai memiliki sifat abstrak artinya tidak dapat diamati melalui indra
manusia, namun dalam realisasinya nilai berkaitan dengan tingkah laku atau segala aspek
kehidupan manusia yang bersifat nyata (praksis) namun demikian setiap nilai memiliki nilai
dasar (onotologis), yaitu merupakan hakikat, esensi, intisari atau makna yang terdalam dari
nilai-nilai tersebut. Nilai dasar ini bersifat universal dan mutlak.

2.

Nilai Instrumental. Realisasi dalam suatu kehidupan praksis maka nilai dasar tersebut di atas
harus memiliki formulasi serta parameter atau ukuran yang jelas. Nilai instrumental inilah

yang merupakan suatu pedoman yang dapat diukur dan dapat diarahkan. Nilai instrumental
merupakan suatu eksplisitasi dari nilai dasar.
3.

Nilai Praksis. Nilai praksis pada hakikatnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai
instrumental dalam suatu kehidupan yang nyata.

4.

Nilai Terminal. Menurut Rokeach bahwa nilai terminal merupakan keadaan Whir eksistensi
yang sangat diinginkan selama hayat, sedangkan nilai instrumental merupakan modusmodus perilaku yang lebih diinginkan atau cara-cara mencapai nilai terminal tersebut.
Menurut Max Scheler, nilai memiliki hirearki yang dapat dikelompokkan ke dalam empat

tingkatan, yaitu:
1.

Nilai kenikmatan. Pada tingkatan ini terdapat sederetan nilai yang menyenangkan atau
sebaliknya yang kemudian orang merasa bahagia atau menderita;

2.

Nilai kehidupan. Pada tingkatan ini terdapat nilai-nilai yang penting bagi kehidupan, misalnya
kesehatan, kesegaran badan, kesejahteraan umum, dan seterusnya;

3.

Nilai kejiwaan. Nilai ini tidak tergantung pada keadaan jasmani atau lingkungan, misalnya
keindahan, kebenaran, dan pengetahuan murni yang dicapai melalui filsafat;

4.

Nilai kerohanian. Pada tingkatan ini terdapat nilai yang suci maupun tidak suci. Nilai-nilai ini
terutama lahir dari nilai ketuhanan sebagai nilai tertinggi.
Negara Indonesia, dalam sistem tata hukum kenegaraan, mempunyai ideologi Pancasila yang

sarat dengan nilai. Sebagai ideologi terbuka, Pancasila mengandung nilai-nilai sebagai berikut.
1.

Nilai Dasar
Nilai dasar yaitu hakikat kelima sila Pancasila yaitu Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan,
kerakyatan dan keadilan. Nilai dasar tersebut adalah merupakan esensi dari sila-sila Pancasila
yang bersifat universal, sehingga dalam nilai dasar tersebut terkandung cita-cita, tujuan serta
nilai-nilai yang baik dan benar. Sebagai ideologi terbuka nilai dasar inilah yang bersifat tetap
dan terlekat pada kelangsungan hidup negara.

2.

Nilai Instrumental
Nilai instrumental merupakan arahan, kebijakan, strategi, sasaran serta lembaga
pelaksanaannya. Nilai instrumental adalah keseluruhan nilai yang dipedomani di dalam sistem
politik, ekonomi, sosial budaya serta sistem hankam, yang bersumber pada nilai dasar dan
bersifat berubah.

3.

Nilai Praksis
Nilai praksis yaitu merupakan realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu realisasi
pengalaman yang bersifat nyata dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Dalam realisasi praksis inilah maka penjabaran nilai-nilai Pancasila senantiasa
berkembang dan selalu dapat dilakukan perbahan dan perbaikan (reformasi) sesuai dengan
perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta aspirasi masyarakat.
Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila dalam Pancasila ialah sebagai berikut.

1.

Ketuhanan Yang Maha Esa


Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini nilai-nilainya meliputi dan menjiwai keempat sila lainnya.
Dalam sila ini terkandung nilai bahwa negara yang didirikan adalah sebagai pengejawantahan
tujuan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

2.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab


Sila kemanusiaan yang adil dan beradab secara sistematis didasari dan dijiwai oleh sila
Ketuhanan Yang Maha Esa serta mendasari dan menjiwai ketiga sila berikutnya. Sila
kemanusiaan sebagai dasar fundamental dalam kehidupan kenegaraan, kebangsaan, dan
kemasyarakatan. Nilai kemanusiaan ini bersumber pada dasar filosofis antropologis bahwa
hakikat manusia adalah susunan kodrat rohani (jiwa) dan raga.
Kemanusiaan yang adil dan beradap mengandung nilai suatu kesadaran sikap moral dan
tingkah laku manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungan
dengan norma-norma dan kebudayaan pada umumnya baik terhadap diri sendiri, terhadap
sesama manusia maupun terhadap lingkungannya. Nilai kemanusian yang beradab adalah
perwujudan nilai kemanusiaan sebagai makhluk yang berbudaya, bermoral, dan beragama.
Dalam kehidupan kenegaraan harus senantiasa dilandasi oleh moral kemanusiaan antara lain

dalam kehidupan pemerintahan negara, politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, pertahanan, dan
keamanan serta dalam kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, dalam kehidupan bersama dalam
negara harus dijiwai oleh moral kemanusiaan untuk saling menghargai sekalipun terhadap suatu
perbedaan karena itu merupakan suatu bawaan kodrat manusia untuk saling menjaga
keharmonisan dalam kehidupan bersama.
Menurut Darmodihardjo, nilai kemanusiaan yang adil mengandung suatu makna bahwa
hakikat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab harus adil. Hal ini mengandung

suatu pengertian bahwa hakikat manusia harus adil dalam hubungan dengan diri sendiri, adil
terhadap manusia lain, adil terhadap lingkungannya, adil terhadap masyarakat,bangsa dan negara,
dan adil terhadap Tahan Yang Maha Esa.
3. Persatuan Indonesia
Nilai yang terkandung dalam sila Persatuan Indonesia tidak dapat dipisahkan dipisahkan
dengan keempat sila lainnya karena seluruh sila merupakan suatu kesatuan yang bersifat
sistematis. Sila Persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan
Kemanusiaan yang adil dan beradab serta mendasari dan dijiwai sila Kerakyatan yang dipimpin
oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia. Dalam sila persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai
penjelmaan sifat kodrat manusia monodualis yaitu manusia sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial.
Nilai Persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini dapat dinyatakan bahwa nasionalisme Indonesia
adalah nasionalisme religious yang artinya nasionalisme yang humanistik yang menjujung tingkat
harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan. Oleh karena itu nilai-nilai nasionalisme ini
harus tercermin dalam segala aspek penyelenggaraan negara termasuk dalam era reformasi dewasa
ini. Era Reformasi tanpa mendasarkan pada moral Ketuhanan, Kemanusian dan memegang teguh
persatuan dan kesatuan, maka bukan tidak mungkin akan membawa kehancuran bagi bangsa
Indonesia.
4.

Kerakyatan

yang

Dipimpin

Oleh

Hikmat

Kebijaksanaan

dalam

Permusyawaratan/Perwakilan
Nilai yang terkandung dalam sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan juga didasari oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan Kesadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Dalam sila ini terkandung nilai demokrasi yang secara mutlak harus dilaksanakan dalam
hidup bernegara. Nilai-nilai yang terkandung dalam sila keempat adalah sebagai berikut:
1. Adanya kebebasan yang harus disertai dengan tanggung jawab baik terhadap masyarakat,
bangsa dan negaran maupun secara moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

2. Menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusian.


3. Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama.
4. Mengakui atas perbedaan individu, kelompok, ras, suku, dan agama, karena perbedaan
adalah suatu bawaan kodrat manusia.
5. Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada setiap individu, kelompok, ras, suku,
maupun agama.
6. Mengarahkan perbedaan suatu kerja sama kemanusian yang beradab.
7. Menjunjung tinggi asas musyawarah sebagai moral kemanusiaan yang beradab.
8. Mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan sosial agar tercapainya
tujuan bersama.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Nilai yang terkandung dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia didasari dan
dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan
Indonesia,

serta

Kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksaan

dalama

permusyawaratan/perwakilan. Dalam kelima sila tersebut terkandung nilai-nilai yang merupakan


tujuan negara sebagai tujuan hidup bersama. Maka di dalam sila kelima tersebut terkandung nilai
keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama (kehidupan sosial). Keadilan tersebut
didasari dan dijiwai oleh hikmat keadilan kemanusiaan yaitu keadilan dalam hubungan manusia
dengan dirinya sendiri, manusia dengan manusia lain, manusia dengan masyarakat, bangsa dan
negaranya serta hubungan manusia dengan Tuhannya.
Konsekuensi nilai-nilai keadilan yang terwujud dalam hidup bersama meliputi:
a. Keadilan Distributif, yaitu suatu hubungan keadilan antara negara terhadap
warganya. Hal ini dalam arti pihak negara yang wajib memenuhi keadilan dalam
bentuk keadilan membagi, dalam bentuk kesejahteraan, bantuan, subsidi serta
kesempatan dalam hidup bersama yang didasarkan atas hak dan kewajiban.
b. Keadilan legal (keadilan bertaat), yaiti suatu hubungan keadilan antara warga
negara terhadap negara dan dalam masalah ini pihak warga yang wajib memenuhi
keadilan dalam bentuk menaati peraturan perundang-undangan yang berlaku
dalam negara.

c. Keadilan Komulatif, yaitu suatu hubungan keadilan antar warga yang satu dengan
yang lainnya seara timbal balik.
Berkenaan dengan nilai-nilai Pancasila di atas jika dilihat dari substansi dan prosesnya,
menurut Lickona menyebutkan bahwa yang perlu dikembangkan dalam rangka mengembangkan
karakter yang baik yang didalamnya mengandung tiga dimensi nilai moral sebagai berikut:
1. Wawasan Moral (Moral Knowing) yang mencakup:
a. Kesadaran moral (Moral Awareness)
b. Wawasan nilai moral (Knowing moral values)
c. Kemampuan mengambil pandangan orang lain (Perspective Taking)
d. Penalaran moral (Moral reasoning)
e. Mengambil keputusan (Decision-making)
f. Pemahaman diri sendiri (Self Knowledge)
2. Perasaan Moral
a. Kata hati atau nurani (Conscience)
b. Harapan diri sendiri (Self-esteem)
c. Merasakan diri orang lain (Empathy)
d. Cinta kebaikan (Loving the good)
e. Control diri (Self-control)
f. Merasakan diri sendiri (Humility)
3. Pelilaku Moral
a. Kompetensi (Competence)
b. Kemauan (Will)
c. Kebiasaan (Habit)

Berkenaan dengan nilai pancasila, jika dilihat dari substansi dan prosesnya, menurut
Lickona menyebutkan bahwa yang perlu dikembangkan dalam rangka mengembangkan karakter
yang baik yang didalamnya mengandung 3 dimensi :
1. Wawasan moral yang mencakup:
a. Kesadaran moral

b. Wawasan nilai moral


c. Kemampuan mengambil pandangan orang lain
d. Penalaran moral
e. Mengambil keputusan
f. Pemahaman diri sendiri
2. Perasaan moral
a. Kata hati atau nurani
b. Harapan diri sendiri
c. Merasakan diri orang lain
d. Cinta kebaikan
e. Control diri
f. Merasakan diri sendiri
3. Prilaku moral
a. Kompetensi
b. Kemauan
c. Kebiasaan
Dalam buku Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur (1997) ditegaskan bahwa budi
pekerti dapat dikatakan identik dengan moralitas. Namun juga ditegaskan bahwa sesungguhnya
pengertian budi pekerti yang paling hakiki adalah prilaku. Dalam kaitan ini sikap dan prilaku budi
pekerti mengandung lima jangkauan sebagai berikut :
(1) Sikap dan prilaku dalam hubungannya dengan tuhan
(2) Sikap dan prilaku dalam hubungannya dengan diri sendiri
(3) Sikap dan prilaku dalam hubungannya dengan keluarga
(4) Sikap dan prilaku dalam hubungannya dengan masyarakat dan bangsa
(5) Sikap dan prilaku dalam hubungannya dengan alam sekitar

Menurut Priyanto dan Khaidir, karakter dapat dibentuk melalui pengembangan unsurunsur Harkat dan Martabat Manusia (HMM) yang secara keseluruhan bersesuaian dengan nilai-

nilai luhur pancasila. Adapun nilai-nilai tersebut yaitu hakikat manusia, dimensi kemanusiaan dan
pancadaya kemanusiaan.

B. Keadilan Ketertiban dan Kesejahteraan sebagai Wujud Masyarakat yang Bermoral


dan Mentaati Hukum
Kebiasaan untuk mentaati hukum itu juga timbul dari kesadaran moral orang atau kelompok orang.
Yang dimaksud dengan kesadaran moral

adalah kesadaran tentang arti moral, yaitu moral

mempunyai 3 arti yaitu keyakinan diri, pengawasan diri, disiplin diri.


Penuh kepastian atau ketentraman (peaceful living together).sedangkan masalah norma dan hukum
adalah masalah yang cukup penting yang berkaitan dengan kode perilaku dan kode profesi humas.
Kebiasaan mentaati peraturan hukum positif dalam proses pembudayaan hukum itu
menyangkut 2 (dua) faktor intern orang atau kelompok orang. Pertama : faktor psychologist dan
faktor ratio

orang atau kelompok orang. Secara psychologist orang merasa terikat kepada

peraturan hukum tersebut, karena peraturan hukum itu adalah hasil kesepakatan kelompok orang
yang diberi fungsi lagislatif atau kesepakatan masyarakat hukum dimana hukum itu diberlakukan.
Kedua secara rational memang hukum itu berfungsi untuk melindungi hak-hak hukum orang
dari perbuatan sewenang-wenang yang dapat dilakukan oleh pihak siapapun juga, tidak dari pihak
pemerintah. Yang dimaksud dengan hak-hak hukum adalah hak yang diberikan oleh hukum
kepada orang, seperti : Hak Asasi Manusia, hak kebendaan, yaitu hak untuk memiliki atau untuk
menguasai suatu kebendaan, hak perorangan, yaitu hak untuk menuntut suatu tagihan kepada
seseorang tertentu, kemudian peraturan hukum itu juga dapat memaksakan orang yang mempunyai
kewajiban hukum, yaitu kewajiban yang dibebankan oleh hukum kepada orang untuk memenuhi
kewajiban itu atas tuntutan darii orang yang berhak.

C. Problematika Nilai, Moral dan Hukum dalam Masyarakat dan Negara


Berdasarkan pada pemaparan diatas, menyingkap problematika yang terjadi saat ini terkait
nilai, moral dan hukum. Sebagaimana pandangan pemerintah yang dikutip oeh sukadi bahwa
dewasa ini ada enampermasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam pembangunan
karakter bangsa yaitu : disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai pancasila sebagai filosofi dan
ideologi bangsa; keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai esensi

Pancasila; bergesernya nilai-nilai etika dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara;
memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan
melemahnya kemandirian bangsa.

Selanjutnya sejalan dengan enam permasalahan tersebut telah muncul berbagai perilaku yang
mencerminkan degradasi nilai-nilai dan moral Pancasila dan kehidupan masyarakat dan bangsa
Indonesia. Hal ini muncul dalam berbagai kasus, seperti ; kasus narkoba yang semakin subur,
pertikaian bersenjata antar kelompok massa yang makin menghiasi berita TV, kekerasan terhadap
anak dan perempuan, pornografi dan porno aksi yang semakin vulgar ditunjukkan oleh kalangan
muda hingga elit politik, hubungan seks bebas yang makin menjangkit kalangan generasi muda
siswa dan mahasiswa, tindakan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dimana-mana, serta kasus
mafia hukum, peradilan, dan pajak. Tidak kalah hebohnya adalah munculnya gerakan terorisme
oleh salah satu kelompok masyarakat Indonesia sendiri, kasus money politics dalam pilkada dan
pemilu legislative, pencemaran dan kehancuran lingkungan ekologis, kompetisi antar kepentingan
yang makin tajam dan tidak fair, pameran kekayaan yang makin tajam oleh kelompok kaya
terhadap kelompok miskin, kasus penggusuran kelompok miskin di kota-kota besar, dan sulitnya
menumbuhkan kepercayaan terhadap kejujuran masyarakat, kasus-kasus tersebut adalah sedikit
contoh kecil dari gunung es bagaimana degradasi nilai-nilai dan moral pancasila telah terjadi dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia dewasa ini,
Menurut data Kompas, kerusakan moral mencemaskan sebagai headline yang terpampang di
halaman depan. Dalam berita tersebut disampaikan sebagai ikhtisar hal-hal yang terkait
penyelenggara Negara berupa fakta :
1. Sepanjang 2014-2011, Kementerian Dalam Negeri mencatat sebanyak 158 kepala daerah yang
terdiri atas Gubernur, Bupati dan Wali Kota tersangkut korupsi.
2. Sedikitnya 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011.
3. 30 anggota DPR periode 1999-2004 dari parpol terlibat kasus dugaan suap pemilihan Deputi
Gubernur Senior Bank Indonesia.
4. Kasus korupsi terjadi di sejumlah institusi seperti KPU, Komisi Yudisial, KPPU, Ditjen Pajak,
Bank Indonesia, dan BKPM.
Terkait penegak hukum terungkap fakta :

1. Sepanjang 2010 Mahkamah Agung menjatuhkan sanksi kepada 107 hakim, baik berupa
pemberhentian maupun teguran, Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya,
yaitu sebanyak 78 hakim.
2. Pegawai kejaksaan yang dijatuhi sanksi sepanjang 2010 mencapai 288 orang, meningkat 60 %
dibandingkan tahun 2009 yang sebanyak 181 orang. Dari 288 orang pada tahun 2010 tersebut,
192 orang yang dijatuhi sanksi adalah jaksa.
3. Selama tahun 2010 sebanyak 294 polisi dipecat dari dinas POLRI yang terdiri dari 18 orang
Perwira, 272 orang Bentara, dan 4 orang Temtama.

Hal yang lebih menyedihkan terjadinya karena di daerah, masayarakat bahkan melakukan
apresiasi kepada korputor sehingga :
1. Ada orang yang menangani Pilkada Kabupaten meskipun sebelumnya sudah divonis 4,5 tahun
penjara oleh pengadilan TIPIKOR dalam kasus korupsi APBD.
2. Ada orang yang menangani Pilkada sebagai Wali Kota padahal sebelumnya ditetapkan KPK
sebagai tersangka kasus korupsi APBD dan telah divonis Sembilan tahun penjara oleh
pengadilan TIPIKOR (10 mei 2011).
Sementara itu, dalam dunia pendidikan kasus bertindak curang

(cheating) baik berupa

tindakan mencontek, mencontoh pekerjaan teman atau mencontoh dari buku pelajaran seolah-olah
merupakan kejadian sehari-hari. Bahkan dalam pelaksanaan ujian akhir sekolah seperti Ujian
Akhir Nasional (UAN) di sementara daerah ditengarai ada guru memberikan kunci jawaban
kepada siswa. Jika beberapa tahun lalu seorang Kepala Sekolah tertangkap basah mencuri satu set
soal-soal untuk UAN, pada UAN 2011, di suatu Kabupaten, karena takut muridnya tidak lulus
seorang Kepala Sekolah SMA berani mencuri soal Fisika, kemudian menugasi guru bidang studi
yang bersangkutan untuk menjawab soal-soal tersebut, dengan rencana kuncinya akan diberikan
kepada para siswanya.
Menurut Elly dan Kolip, mengungkapkan bahwa masa ramaja adalah fase perkembangan anak
yang menginjak antara masa anak-anak ke masa dewasa. Masa tersebut dianggap juga sebagai
masa transisi. Di masa-masa tersebut biasanya anak memiliki kecenderungan untuk mencari figur
yang menjadi idola seperti bintang film, tokoh-tokoh ternama seperti tokoh dari dunia
keolahragaan dan figur-figur lainnya. Anak juga dihadapkan pada permasalahan pencarian jati diri
ditambah lagi di dalam jiwanya terdapat perasaan ingin diperhatikan oleh lingkungan masyarakat.

Akibatnya anak tersebut sering melakukan tindakan dan gaya sebagaimana tokoh yang diidolakan.
Dia juga dapat terjebak dalam tindakan Kontroversial

seperti terjerumus dalam tindakan

menyimpang yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya seperti mengkonsumsi narkoba,


berkelahi, dan lain sebagainya. Perilaku penyimpangan tersebut semata-mata dipicu oleh karakter
sebagai remaja yang masih labil jiwanya. Pada masa ini pengaruh luar juga lebih dominan sehingga
anak cenderung mengabaikan orang tuanya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manusia, nilai, moral dan hukum adalah suatu hal yang saling berkaitan dan saling
menunjang. Sebagai warga negara kita perlu mempelajari, menghayati dan melaksanakan dengan
ikhlas mengenai nilai, moral dan hukum agar terjadi keselarasan dan harmoni kehidupan.

3.2 Saran
Penegakan hukum harus memperhatikan keselarasan antara keadilan dan kepastian hukum.
Karena, tujuan hukum antara lain adalah untuk menjamin terciptanya keadilan (justice),
kepastian hukum (certainty of law), dan kesebandingan hukum (equality before the law).
Penegakan hukum-pun harus dilakukan dalam proporsi yang baik dengan penegakan hak
asasi manusia. Dalam arti, jangan lagi ada penegakan hukum yang bersifat diskriminatif,
menyuguhkan kekerasan dan tidak sensitif jender. Penegakan hukum jangan dipertentangkan
dengan penegakan HAM. Karena, sesungguhnya keduanya dapat berjalan seiring ketika para
penegak hukum memahami betul hak-hak warga negara dalam konteks hubungan antara negara
hukum dengan masyarakat sipil.

DAFTAR PUSTAKA

Supriadi, Isya W., Sukmayadi T.. 2013. Ilmu Sosial Budaya Dasar. CV. Maulana Media Grafika.
Bandung