Anda di halaman 1dari 7

Tugas Makalah Biologi

Reaksi fotosintesis adalah sebagai berikut:6H2O(l) + 6CO2(g) +cahaya Klorofil


C6H12O6(l) ( glukosa ) + 6O2(g)
Produktivitas primer adalah suatu proses pembentukan senyawa-senyawa organik melalui
proses fotosintesis. Proses fotosintesis sendiri dipengaruhi oleh faktor konsentrasi klorofil a,
serta intensitas cahaya matahari. Nilai produktivitas primer dapat digunakan sebagai indikasi
tentang tingkat kesuburan suatu ekosistem perairan. Sejauh ini, data dan informasi mengenai
hubungan produktivitas primer dengan konsentrasi klorofil a serta hubungannya dengan
faktor fisik-kimia air di perairan.
Fotosintesis adalah suatu proses yang hanya terjadi pada tumbuhan yang berklorofil dan
bakteri fotosintetik, dimana energi matahari (dalam bentuk foton) ditangkap dan diubah
menjadi energi kimia (ATP dan NADPH). Energi kimia ini akan digunakan untuk fotosintesa
karbohidrat dari air dan karbon dioksida. Jadi, seluruh molekul organik lainnya dari
tanaman disintesa dari energi dan adanya organisme hidup lainnya tergantung pada
kemampuan tumbuhan atau bakteri fotosintetik untuk berfotosintesis. (Devlin, 1975).
Klorofil adalah pigmen hijau fotosintetis yang terdapat dalam tanaman, Algae dan
Cynobacteria. nama "chlorophyll" berasal dari bahasa Yunani kuno : choloros = green
(hijau), and phyllon= leaf (daun). Fungsi krolofil pada tanaman adalah menyerap energi
dari sinar matahari untuk digunakan dalam proses fotosintetis yaitusuatu proses biokimia
dimana tanaman mensintesis karbohidrat (gula menjadi pati), dari gas karbon dioksida dan
air dengan bantuan sinar matahari. (Subandi, 2008).
Klorofil merupakan pigmen hijau tumbuhan dan merupakan pigmen yang paling
penting dalam proses fotosintesis. Sekarang ini, klorofil dapat dibedakan dalam 9 tipe :
klorofil a, b, c, d, dan e. Bakteri klorofil a dan b, klorofil chlorobium 650 dan 660. klorofil a
biasanya untuk sinar hijau biru. Sementara klorofil b untuk sinar kuning dan hijau. Klorofil
lain (c, d, e) ditemukan hanya pada alga dan dikombinasikan dengan klorofil a. bakteri
klorofil a dan b dan klorofil chlorobium ditemukan pada bakteri fotosintesin. (Devlin, 1975).
Klorofil pada tumbuhan ada dua macam, yaitu klorofil a dan klorofil b. perbedaan
kecil antara struktur kedua klorofil pada sel keduanya terikat pada protein. Sedangkan
perbedaan utama antar klorofil dan heme ialah karena adanya atom magnesium
(sebagai pengganti besi) di tengah cincin profirin, serta samping hidrokarbon yang
panjang, yaitu rantai fitol. (Santoso, 2004).
Kloroplas berasal dari proplastid kecil (plastid yang belum dewasa, kecil dan hampir tak
berwarna, dengan sedikit atau tanpa membran dalam). Pada umumnya proplastid berasal
hanya dari sel telur yang tak terbuahi, sperma tak berperan disini. Proplastid membelah pada
saat embrio berkembang, dan berkembang menjadi kloroplas ketika daun dan batang
terbentuk. Kloroplas muda juga aktif membelah, khususnya bila organ mengandung
kloroplas terpajan pada cahaya. Jadi, tiap sel daun dewasa sering mengandung beberapa
ratus kloroplas. Sebagian besar kloroplas mudah dilihat dengan mikroskop cahaya, tapi
struktur rincinya hanya bias dilihat dengan mikroskop elektron. (Salisbury dan Ross,
1995).

Struktur klorofil berbeda-beda dari struktur karotenoid, masing-masing terdapat penataan


selang-seling ikatan kovalen tunggal dan ganda. Pada klorofil, sistem ikatan yang
berseling mengitari cincin porfirin, sedangkan pada karotoid terdapat sepasang rantai
hidrokarbon yang menghubungkan struktur cincin terminal. Sifat
inilah
yang
memungkinkan molekul-molekul menyerap cahaya tampak demikian kuatnya, yakni
bertindak sebagai pigmen. Sifat ini pulalah yang memungkinkan molekul-molekul
menyerap energi cahaya yang dapat digunakan untuk melakukan fotosintesis. (Santoso,
2004).
Klorofil akan memperlihatkan fluoresensi, berwarna merah yang berarti warna larutan
tersebut tidak hijau pada cahaya yang diluruskan dan akan merah tua pada cahaya yang
dipantulkan. (Noggle dan Fritz, 1979).
Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer
dan fotometer akan menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang
energi secara relatif. Jika energi tersebut ditransmisikan maka akan ditangkap oleh
klorofil yang terlarut tersebut. Pada fotometer filter sinar dari panjang gelombang yang
diinginkan akan diperoleh dengan berbagai filter yang punya spesifikasi melewati
banyaknya panjang gelombang tertentu. (Noggle dan Fritz, 1979).
Sel penutup memiliki klorofil di dalam selnya sehingga dengan bantuan cahaya
matahari akan sangat berpengaruh buruk pada klorofil. Larutan klorofil yang dihadapkan
pada sinar kuat akan tampak berkurang hijaunya. Daun-daun yang terkena langsung
umumnya akan tampak kekuning-kuningan, salah satu cara untuk dapat menentukan kadar
klorofil adalah dengan metoda spektofotometri (Dwijiseputro, 1981).
Cahaya hijau, kuning, jingga dan merah dipantulkan oleh kedua pigmen ini. Kombinasi
panjang gelombang yang dipantulkan oleh kedua pigmen karotenoid ini tampak berwarna
kuning. Ada bukti yang menunjukkan bahwa beta -karoten lebih efektif dalam
mentransfer energi ke kedua pusat reaksi dibanding lutein atau pigmen xanthofil yang disebut
fucoxanthofil adalah sangat efektif dalam mentrensfer energi. Di samping berperan sebagai
penyerap cahaya, karotenoid pada tilakoid juga berperan untuk melindungi klorofil dari
kerusakan oksidatif oleh O2, jika intensitas cahaya sangat tinggi. (Lakitan, 2007).
Sejak tipe-tipe atom atau molekul yang sedikit berbeda pada tingkat energinya, yang
substansi menyerap cahaya dengan suatu karakteristik panjang gelombang yang berbeda.
Ini biasanya ditunjukkan selama penyerapan sinar pada tiap gelombangnya. Sebagai
contoh, klorofil a sangat kuat pada panjang gelombang 660 nm pada sinar merah dan paling
rendah pada panjang gelombang 430 nm pada sinar biru. Ketika gelombang itu berpindah
maka sinar yang ada di sebelah kiri adalah sinar hijau yang bisa kita lihat. (Guiltmond and
Hopkins, 1983).
Laju fotosintesis berbagai spesies tumbuhan yang tumbuh pada berbagai daerah yang
berbeda seperti gurun kering, puncak gunung, dan hutan hujan tropika, sangat berbeda.
Perbedaan ini sebagian disebabkan oleh adanya keragaman cahaya, suhu, dan ketersediaan
air, tapi tiap spesies menunjukkan perbedaan yang besar pada kondisi khusus yang optimum
bagi mereka. Spesies yang tumbuh pada lingkungan yang kaya sumberdaya mempunyai
kapasitas fotosintesis yang jauh lebih tinggi daripada spesies yang tumbuh pada
lingkungan dengan persediaan air, hara, dan cahaya yang terbatas. (Salisbury dan Ross,
1995).

Laju fotosintesis ditingkatkan tidak hanya oleh naiknya tingkat radiasi, tapi juga oleh
konsentrasi CO2yang lebih tinggi, khususnya bila stomata tertutup sebagian karena
kekeringan. (Salisbury dan Ross, 1995).
Semua klorofil atau karotenoid terbenam atau melekat pada molekul protein oleh ikatan
nonkovalen. Secara keseluruhan, pigmen-pigmen kloroplas meliputi separuh dari
kandungan kandungan lipida total pada membran tilakoid, sisanya adalah galaktolipida
dan sedikit fosfolipida. Sterol sangat jarang dijumpai pada membran tilakoid. (Lakitan,
1993).
Dilihat dari strukturnya, kloroplas terdiri atas membran ganda yang melingkupi ruangan
yang berisi cairan yang disebut stroma. Membran tersebut membentak suatu sistem
membran tilakoid yang berwujud sebagai suatu bangunan yang disebut kantung tilakoid.
Kantung-kantung tilakoid tersebut dapat berlapis-lapis dan membentak apa yang disebut
grana Klorofil terdapat pada membran tilakoid dan pengubahan energi cahaya menjadi
energi kimia berlangsung dalam tilakoid, sedang pembentukan glukosa sebagai produk
akhir fotosintetis berlangsung di stroma.(Subandi, 2008).
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan klorofil antara lain gen, bila gen
untuk klorofil tidak ada maka tanaman tidak akan memiliki klorofil.Cahaya, beberapa
tanaman dalam pembentukan klorofil memerlukan cahaya,tanaman lain tidak
memerlukan cahaya. Unsur N, Mg, Fe merupakan unsur-unsur pembentuk dan katalis
dalam sintesis klorofil. Air, bila kekurangan air akan terjadi desintegrasi klorofil. (Subandi,
2008).
Antara klorofil a dan klorofil b mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda, dimana
klorofil a di samping bias menyerap energi cahaya, klorofil ini juga bias merubah
energi cahaya dan tidak bisa merubahnya menjadi energi kimia dan energi itu akan ditransfer
dari klorofil b ke klorofil a. Klorofil b ini tidak larut dalam etanol tai dapat larut dalam ester,
dan kedua jenis klorofil ini larut dalam senyawa aseton (Devlin, 1975).
Klorofil merupakan zat hijau daun yangterdapat pada semua tumbuhan hijau
yangberfotosintesis. Berdasarkan penelitian, klorofilternyata tidak hanya berperan sebagai
pigmenfotosintesis. Klorofil mempunyai manfaatantara lain, sebagai obat kanker otak, paruparu,dan mulut [10]. Klorofil juga dapat digunakansebagai desinfektan, antibiotik dan
foodsuplemen. Klorofil dapat digunakan sebagaifood suplemen karena mengandung nutrisi
yangdibutuhkan untuk tubuh manusia [2].Adanya manfaat klorofil yang banyaktersebut,
maka diperlukan suatu usaha untukmeningkatkan kandungan klorofil padatanaman. Usaha
peningkatan kandunganklorofil tersebut salah satunya bisa dilakukandengan volume
penyiraman yang sesuai denganjenis tanaman yang ditanam. Oleh karena ituperlu diketahui
volume penyiraman yang tepatpada suatu tanaman agar pertumbuhan dankandungan
klorofilnya maksimal.
Fotosintesis adalah proses sintesis karbohidrat dari bahan-bahan anorganik (CO2 dan H2O)
pada tumbuhan berpigmen dengan bantuan energi cahaya matahari. Fotosintesis terdiri
atas 2 fase, yaitu fase I yang berlangsung pada grana dan menghasilkan ATP dan NADPH2
serta fase II yang berlangsung pada stroma dan menghasilkan karbohidrat. Molekul air
tidak dipecah dalam fotosintesis primitif dan setelah evolusi molekul air dipecahkan melalui
2 fotosistem sehingga O 2dilepaskan ke atmosfir. Fotosintesis berkembang menjadi lebih
kompleks secara biokimia sampai terjadinya pemisahan antara respirasi dan fotosintesis

beserta regulasinya. Evolusi tipe-tipe fotosintesis seperti C4 dan CAM merupakan


akibat menurunnya rasio CO2/O2 dan radiasi yang intensif pada atmosfir.
Masa depan manusia sedikit banyak ditentukan oleh produksi bahan makanan, bahan
bakar dan serat melalui proses fotosintesis. Proses sintesis karbohidrat dari bahan-bahan
anorganik (CO2 dan H2O) pada tumbuhan berpigmen dengan bantuan energi cahaya
matahari disebut fotosintesis dengan persamaan reaksi kimia berikut ini.cahaya matahari
6 CO2 + 6 H2O C6H12O6 + 6 O2pigmen fotosintesis
Berdasarkan reaksi fotosintesis di atas, CO2dan H2O merupakan substrat dalam reaksi
fotosintesis dan dengan bantuan cahaya matahari dan pigmen fotosintesis (berupa
klorofil dan pigemen-pigmen lainnya) akan menghasilkan karbohidrat dan melepaskan
oksigen. Cahaya matahari meliputi semua warna dari spektrum tampak dari merah
hingga ungu, tetapi tidak semua panjang gelombang dari spektrum tampak diserap
(diabsorpsi) oleh pigmen fotosintesis. Atom O pada karbohidrat berasal dari CO2 dan
atom H pada karbohidrat berasal dari H2O(Sasmitamihardja dan Siregar, 1996).
Energi cahaya diubah menjadi energi kimia oleh pigmen fotosintesis yang terdapat pada
membran interna atau tilakoid.
Pigmen fotosintesis yang utama ialah klorofil dan
karotenoid. Klorofil a dan b menunjukkan absorpsi yang sangat kuat untuk panjang
gelombang biru dan ungu, jingga dan merah (lembayung) dan menunjukkan absorpsi yang
sangat kurang untuk panjang gelombang hijau dan kuning hijau (500-600 nm)
(Sasmitamihardja dan Siregar, 1996). Klorofil merupakan komponen kloroplas yang
utama dan kandungan klorofil relatif berkorelasi positif dengan laju fotosintesis (Li et al.,
2006). Klorofil disintesis di daun dan berperan untuk menangkap cahaya matahari yang
jumlahnya berbeda untuk tiap spesies. Sintesis klorofil dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti cahaya, gula atau karbohidrat, air, temperatur, faktor genetik, unsur-unsur hara
seperti N, Mg, Fe, Mn, Cu, Zn, S dan O (Hendriyani dan Setiari, 2009). Karotenoid
menunjukkan absorpsi kuat untuk panjang gelombang biru dan ungu; memantulkan dan
mentransmisikan panjang gelombang hijau, kuning, lembayung, merah (kombinasi
warna-warna tersebut tampak kuning)(Sasmitamihardja dan Siregar, 1996).
Kompleks protein-klorofil merupakan komponen fotosintesis yang penting (van der
Mescht et al. 1999). Radiasi cahaya yang diterima oleh tanaman dalam fotosintesis
diabsorbsi oleh klorofil dan pigmen tambahan yang merupakan kompleks protein-klorofil.
Selanjutnya energi radiasi akan ditransfer ke pusat reaksi fotosistem I dan II yang
merupakan tempat terjadinya perubahan energi cahaya menjadi energi kimia (Li et al.,
2006). Dua mekanisme yang terlibat dalam pembentukan kompleks protein-klorofil adalah
distribusi klorofil yang baru disintesis dan redistribusi klorofil yang sudah ada. Klorofil
b adalah hasil biosintesis dari klorofil a dan berperan penting dalam reorganisasi
fotosistem selama adaptasi terhadap kualitas dan intensitas cahaya. Oleh sebab itu
hilangnya klorofil a dan b berpengaruh negatif terhadap efisiensi fotosintesis (van der
Mescht et al., 1999).
Fotosintesis mengalami evolusi sehingga dikenal adanya tumbuhan C3, C4dan CAM
yang dapat diamati sebagai variasi dalam fotosintesis fase II atau reaksi fiksasi CO2.
Tulisan ini akan menguraikan penggolongan tumbuhan C3, C4 dan CAM, proses
evolusi fotosintesis yang berkaitan dengan perubahan kondisi atmosfir bumi berserta

faktor-faktor lingkungan yang menguntungkan bagi keberadaan tumbuhan dengan tipetipe fotosintesis tersebut.
Fotosintesis pada tumbuhan tingkat tinggi terdiri atas 2 fase (Sasmitamihardja dan
Siregar, 1996; Wirahadikusumah, 1985), yaitu:
a. Fase I: reaksi fotokimia, reaksi fotolisis, reaksi Hill, reaksi fotofosforilasi, reaksi terang
Reaksi ini berlangsung di grana dan membutuhkan cahaya. Energi matahari ditangkap
oleh pigmen penyerap cahaya dan diubah menjadi bentuk energi kimia, yaitu ATP dan
senyawa pereduksi, yaitu NADPH. Atom hidrogen dari molekul H2O dipakai untuk
mereduksi NADP+ menjadi NADPH dan O2 dilepaskan sebagai hasil sampingan reaksi
fotosintesis. Reaksi juga dirangkaikan dengan reaksi pembentukan ATP dari ADP dan
Pi. Fase ini dapat ditulis sebagai persamaan reaksi:
energi matahari H2O + NADP++ ADP + PiO2 + H++ NADPH + ATP
Pembentukan ATP dari ADP dan Pi merupakan mekanisme penyimpanan energi
matahari yang diserap dan kemudian diubah menjadi energi kimia, sehingga fase ini
disebut fotofosforilasi.Fase I ini melibatkan 2 tipe kelompok pigmen fotosintesis, yaitu
1) Pigmen utama (pigmen primer, pusat reaksi): bentuk-bentuk klorofil a, seperti klorofil
a 680 (P680) dan klorofil a 700 (P700),
2) Pigmen tambahan/pigmen antena (accessory pigment): berperan meneruskan energi
cahaya ke pigmen utama, seperti klorofil a lainnya, klorofil b ( 455-640 nm), karotenoid (
430-490 nm)
b. Fase II: reaksi termokimia, reaksi fiksasi/reduksi CO2, reaksi gelapReaksi ini
berlangsung di stroma dan sering kali disebut reaksi gelap, karena reaksi ini dapat
berlangsung tanpa adanya cahaya, walaupun tidak harus berlangsung dalam keadaan
gelap. Hal ini disebabkan karena enzim-enzim stroma kloroplas tidak membutuhkan
cahaya untuk aktivitasnya, tetapi membutuhkan ATP dan NADPH2. Fase II fotosintesis
ini berlangsung pada stroma dan menghasilkan karbohidrat.Dalam reaksi ini senyawa
kimia berenergi tinggi yang dihasilkan pada fase I, yaitu NADPH dan ATP dipakai
untuk reaksi reduksi CO2 yang menghasilkan glukosa dengan persamaan reaksi:
CO2 + NADP + H+ + ATP glukosa + NADP++ ADP + Pi
Ada 4 macam reaksi fiksasi CO2(Sasmitamihardja dan Siregar, 1996), yaitu:
1) Daur C3 (daur Calvin) Daur reaksi ini disebut daur C3 karena senyawa yang pertama
kali dihasilkan adalah senyawa dengan 3 atom karbon yaitu asam fosfogliserat dari
CO2; ribulosa-1,5-bifosfat dan H2O. Tumbuhan yang melaksanakan daur tersebut disebut
tumbuhan C3. Dalam daur ini satu molekul fosfogliseraldehida (PGAL) dibentuk dari
fiksasi 3 molekul CO2. Reaksi keseluruhan adalah sebagai berikut:
3 CO2 + 9 ATP + 6 NADPH2 PGAL + 9 ADP + 8 iP + 6 NADP
Selanjutnya PGAL akan diubah menjadi glukosa. Daur ini terjadi pada gandum, padi dan
bambu.

2) Daur C4 (daur Hatch dan Slack)Daur reaksi ini disebut daur C4 karena sebagian besar
senyawa yang pertama kali dihasilkan adalah senyawa dengan 4 atom karbon yaitu asam
malat dan asam aspartat dan tumbuhan yang melaksanakan daur tersebut disebut
tumbuhan C4. Yang termasuk tumbuhan C4 adalah beberapa spesies Gramineae di daerah
tropis termasuk jagung, tebu, sorghum. Anatomi daun tumbuhan C4unik yang dikenal
dengan anatomi Kranz, yaitu terdapat sel-sel seludang parenkim yang mengelilingi ikatan
pembuluh dan memisahkannya dengan sel-sel mesofil. Pada tumbuhan C4 terdapat
pembagian kerja antara selsel mesofil dan sel-sel seludang parenkim, yaitu
pembentukan asam malat dan aspartat dari CO2 terjadi di sel-sel mesofil, sedangkan
daur Calvin berlangsung di sel-sel seludang parenkim.
3) Daur CAM (Crassulacean Acid Metabolism)Daur CAM merupakan fiksasi CO2 pada
spesies sukulen anggota famili Crassulaceae (misalnya kaktus, nenas) yang hidup di
daerah kering, mempunyai daun tebal dengan rasio permukaan terhadap volume rendah,
laju transpirasi rendah, sel-sel daun mempunyai vakuola relatif besar dan lapisan sitoplasma
yang tipis. Fiksasi yang menghasilkan asam malat terjadi pada malam hari pada saat
stomata terbuka dan daur Calvin yang menghasilkan glukosa terjadi pada siang hari pada
saat stomata tertutup. Jadi fiksasi CO2 pada tumbuhan CAM mirip dengan tumbuhan
C4, perbedaannya pada tumbuhan C4 terjadi pemisahan tempat sedangkan pada tumbuhan
CAM terjadi pemisahan waktu.
Kemampuan tumbuhan melaksanakan daur CAM ditentukan secara genetis, tetapi
kemampuan ini juga dikontrol oleh lingkungan. Umumnya CAM berlangsung lebih
cepat pada siang hari yang panasdengan tingkat cahaya yang tinggi dan malam hari yang
dingin dan tanah yang kering seperti di gurun. Fiksasi CO2 pada beberapa tumbuhan
CAM dapat beralih ke daur C3setelah hujan atau suhu malam hari yang lebih tinggi
daripada biasanya karena stomata terbuka lebih lama pada pagi hari (Campbell et al., 2006).
Penggolongan tumbuhan menjadi tumbuhan C3 dan C4 adalah didasarkan pada senyawa
yang diubah dari CO2 pada fase II dari fotosintesis (reaksi fiksasi atau reduksi CO2).
Pada tumbuhan C3, CO2 diubah menjadi senyawa C3 yaitu asam 3-fosfogliserat yang
selanjutnya akan diubah menjadi glukosa.
CO2 + H2ORibulosa-1,5-bifosfat --------------------->Enzim rubisco3-fosfogliserat + 3fosfogliserat
Sedangkan pada tumbuhan C4, CO2 diubah menjadi senyawa C4 yaitu
oksaloasetat yang selanjutnya diubah menjadi asam malat dan asam aspartat.

asam

CO2 + H2O Fosfoenol piruvat --------------------> fosfoenolpiruvat karboksilaseasam


oksaloaseta
\4) Daur C2 (daur glikolat atau fotorespirasi)Selain bereaksi dengan CO2, enzim ribulosa
bifosfat karboksilase yang mengkatalisis pembentukan fosfogliserat dalam daur C3, juga
dapat bereaksi dengan O2, sehingga pada kondisi demikian enzim ini disebut ribulosa
bisfosfat oksigenase. Aktivitas ribulosa bifosfat oksigenase adalah mengubah satu
molekul ribulosa bifosfat menjadi satu molekul asam fosfoglikolat dan satu molekul asam
fosfogliserat, bukan menjadi dua molekul asam fosfogliserat jika CO2 yang difiksasi.
Dengan demikian digunakan nama enzim rubisco (ribulosa bifosfat karboksilaseoksigenase)

untuk menyatakan keterlibatan enzim tersebut dalam fiksasi CO2 dan O2. Ada 4 hal
penting yang perlu diperhatikan dalam jalur glikolat, yaitu:
a) Jalur glikolat terjadi pada 3 tempat, yaitu kloroplas, peroksisom dan mitokondria.
b) Reaksi oksidasi ini membentuk glikolat dan produk sampingan H2O2 dan oksidan kuat
yang beracun ini diuraikan oleh katalase dalam peroksisom.
c) Asam amino glisin dan serin dihasilkan.
d) Satu molekul CO2 dihasilkan dan satu molekul O2 diserap untuk tiap dua molekul
glikolat yang dioksidasi. Oleh sebab itu daur glikolat disebut juga fotorespirasi karena
terjadi pengambilan O2 dan pembentukan CO2oleh jaringan yang berfotosintesis pada
saat ada cahaya (Sasmitamihardja dan Siregar, 1996).