Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat
kronis progresif, merupakan penyakit tersering kedua setelah demensia
Alzheimer. Penyakit ini memiliki dimensi gejala yang sangat luas sehingga
baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup penderita
maupun keluarga. Penyakit Parkinson yaitu penyakit system saraf yang
tersering. Penyakit ini disebut juga dengan Parkinson idiopati dan paralisis
(yang tidak diam). Penyakit ini untuk pertama kalinya diperbincangkan pada
tahun 1817 oleh James Parkinson.
Penyakit ini merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami
ganguan pergerakan. Tanda-tanda khas yang ditemukan pada penderita
diantaranya resting tremor, rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural.
Tanda-tanda motorik tersebut merupakan akibat dari degenerasi neuron
dopaminergik pada system nigrostriatal. Namun, derajat keparahan deficit
motorik tersebut beragam. Tanda-tanda motorik pasien sering disertai depresi,
disfungsi kognitif, gangguan tidur, dan disfungsi autonom.
Penyakit ini terjadi pada pria ataupun wanita pada usia pertengahan
dan usia lanjut (50-60 tahun) jumlah penderita wanita dan laki-laki seimbang.
Penyakit ini terjadi pada semua suku bangsa dan semua kelas anggota
masyarakat, kelangsungan penyakitnya bervariasi dari satu orang dengan
orang lainnya. 5 10 % orang yang terjangkit penyakit parkinson, gejala
awalnya muncul sebelum usia 40 tahun, tapi rata-rata menyerang penderita
pada usia 65 tahun. Secara keseluruhan, pengaruh usia pada umumnya
mencapai 1 % di seluruh dunia dan 1,6 % di Eropa, meningkat dari 0,6 % pada
usia 60 64 tahun sampai 3,5 % pada usia 85 89 tahun.
Penyakit ini dimulai secara samar-samar dan berkembang secara
perlahan. Pada banyak penderita, pada mulanya Penyakit Parkinson muncul
sebagai tremor (gemetar) tangan ketika sedang beristirahat, tremor akan
berkurang jika tangan digerakkan secara sengaja dan menghilang selama tidur.
Stres emosional atau kelelahan bisa memperberat tremor. Pada awalnya
tremor terjadi pada satu tangan, akhirnya akan mengenai tangan lainnya,
lengan dan tungkai. Tremor juga akan mengenai rahang, lidah, kening dan
kelopak mata. Penderita penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam
memulai suatu pergerakan dan terjadi kekakuan otot.
Jika lengan bawah ditekuk ke belakang atau diluruskan oleh orang
lain, maka gerakannya terasa kaku. Kekakuan dan imobilitas bisa
menyebabkan sakit otot dan kelelahan. Kekakuan dan kesulitan dalam
1

memulai suatu pergerakan bisa menyebabkan berbagai kesulitan. Penderita


Penyakit Parkinson mengalami kesulitan dalam melangkah dan seringkali
berjalan tertatih-tatih dimana lengannya tidak berayun sesuai dengan
langkahnya. Jika penderita Penyakit Parkinson sudah mulai berjalan, mereka
mengalami kesulitan untuk berhenti atau berbalik. Langkahnya bertambah
cepat sehingga mendorong mereka untuk berlari kecil supaya tidak terjatuh.
Sikap tubuhnya menjadi bungkuk dan sulit mempertahankan keseimbangan
sehingga cenderung jatuh ke depan atau ke belakang. Wajah penderita
Penyakit Parkinson menjadi kurang ekspresif karena otot-otot wajah untuk
membentuk ekspresi tidak bergerak. Kadang berkurangnya ekspresi wajah ini
disalah artikan sebagai depresi, walaupun memang banyak penderita Penyakit
Parkinson yang akhirnya mengalami depresi. Pandangan tampak kosong
dengan mulut terbuka dan matanya jarang mengedip. Penderita Penyakit
Parkinson seringkali mengeluarkan air liur tanpa disadari atau tersedak karena
kekakuan pada otot wajah dan tenggorokan yang menyebabkan kesulitan
menelan. Penderita Penyakit Parkinson berbicara sangat pelan dan tanpa aksen
(monoton) dan menjadi gagap karena mengalami kesulitan dalam
mengartikulasikan fikirannya. Sebagian besar penderita memiliki intelektual
yang normal, tetapi ada juga yang menjadi pikun.
Oleh karena banyak masalah yang muncul pada kasus Parkinson disini
kami akan mencoba untuk membuat makalah yang akan membahas tentang
penyakit Parkinson. Dari sini dampak psikologinya juga akan berpengaruh
terhadap penderita, maka dari itu kelompok kami akan lebih membahas
pengaruh psikologi pada pasien gangguan neurobehaviour Parkinson.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah konsep dasar dan asuhan keperawatan pada gangguan
neurobehaviour Parkinson terlebih dari aspek psikologinya?
1.3 Tujuan
1.3.1

1.3.2

Tujuan Umum
Mengetahui konsep dasar dan asuhan keperawatan pada gangguan
neurobehaviour Parkinson.
Tujuan Khusus

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang ingin dicapai dengan adanya makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Mahasiswa
Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami definisi, patofisiologi,
manifestasi klinis, penatalaksanaan medis pada gangguan neurobehaviour
2

Parkinson serta dapat menerapkan asuhan keperawatan pada ganguan


neurobehaviour Parkinson, khususnya untuk mahasiswa keperawatan.
2. Dosen
Makalah ini dapat dijadikan tolok ukur sejauh mana mahasiswa mampu
mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen dan sebagai bahan
pertimbangan dosen dalam menilai mahasiswa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Stress dan Respon Stress


2.1.1. Definisi
Stress menunjukkan adanya tekanan atau kekuatan pada tubuh.
Dalam Psikologi, stress digunakan untuk menunjukkan suatu tekanan
atau tuntutan yang dialami individu atau organisme agar ia beradaptasi
atau menyesuaikan diri. Definisi stress menurut Selye adalah respon non
spesifik dari badan terhadap setiap tuntutan yang dibuat atasnya.
Sedangkan menurut Robert S. Feldman (1989), stress adalah proses yang
menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang,
membahayakan dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis,
emosional, kognitif dan perilaku. Stress adalah keadaan yang kita alami
ketika ada sebuah ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan yang diterima
dan kemampuan untuk mengatasinya (Looker & Gregson, 2005).
Jadi stres adalah keadaan dimana individu merasa terancam oleh
lingkungannya, dan individu tersebut berusaha untuk menyeimbangkan
antara psikis dan fisik terhadap lingkungan tersebut.
Sumber stres disebut stresor (stressor), stressor menyangkut faktorfaktor psikologis. Stres berbeda dengan distres, distress mengacu pada
penderitaan fisik atau mental, Dalam batasan tertentu stres sehat untuk
diri kita, stres membantu kita untuk tetap aktif dan waspada. Akan tetapi,
stres yang sangat kuat atau berlansung lama dapat melebihi kemampuan
kita untuk mengatasi dan menyebabkan distres emosional seperti depresi
atau kecemasan, atau keluhan fisik seperti kelelahan dan sakit kepala.
Richard Lazarus pada tahun 1974 yang membagi stress ke dalam 2
bentuk yaitu eustress dan distress.( Lazarus RS , 1993:1) stress yang
berpengaruh positif adalah eustress sedangkan distress adalah stress yang
bersifat negatif yang menyebabkan gangguan fungsional maupun organ
tubuh. Istilah stress sendiri ditemukan oleh Hans Selye, seorang ahli
fisiologi dari Universitas Montreal merumuskan bahwa stress adalah
tanggapan tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap aksi tuntutan atasnya.
Sehingga tubuh bereaksi secara emosi dan fisis untuk mempertahankan
kondisi fisis yang optimal reaksi ini disebut General adaptation syndrome
(GAS) 1936.
Distress juga dapat menjadi akut, ini adalah bentuk yang lebih
ekstrim dari stress yang buruk, yang menyebabkan ganguan fisik atau
bahkan kematian sebagai akibat serangan jantung, kanker, kecemasan,
4

depresi, dan gangguan saraf. Di lain pihak stress merupakan pengalaman


yang menyenangkan, menggairahkan, merangsang, dan menggetarkan.
Menyelesaikan tugas-tugas yang menarik dan merangsang dan menjadi
kreatif dan produktif, mencapai tujuan-tujuan dan hasrat-hasrat dan
berpartisipasi dalam pertandingan olahraga dapat menjadi kesenangankesenangan dalam stress, ini disebut dengan eustress. Stres berimplikasi
secara luas pada masalah-masalah fisik maupun psikologi.
2.1.2 Tanda dan gejala stress
Proses terjadinya stress merupakan hal yang kompleks dan
melibatkan hubungan antara perasaan dan tubuh manusia. Informasi dari
lingkungan diproses melalui dua mekanisme dasar, yaitu:
1. Mekanisme subkonsius (autonomic nervous system)
Mekanisme ini merupakan refleks fisik dan emosional yang bekerja
untuk mempersiapkan tubuh terhadap segala aksi potensial yang
mungkin diperlukan. Persiapan tubuh ini berdiri sendiri atau terpisah
dari aksi akhir.
2. Mekanisme konsius
Mekanisme volunter berupa persepsi, evaluasi, dan pembuatan
keputusan. Mekanisme ini memiliki peran untuk menentukan apakah
stressor yang timbul diperlukan dan berguna atau tidak dan
menimbulkan sesuatu yang buruk atau tidak. Aksi atau respon itu
sendiri adalah konsius dan dapat timbul hanya apabila kita dapat
melihat dan mengevaluasi situasi.
Respon terhadap stress berupa tekanan fisik selanjutnya dapat
ditimbulkan oleh konsius, aksi volunter atau subkonsius, aktivasi
involunter yang menjaga tubuh dalam keadaan tetap siaga.
Stress bersifat subyektif dan individual. Keadaan ini bermula
ketika kita mengamati satu situasi, seseorang, satu kejadian atau bahkan
satu obyek yang kita sebut sebagai stressor. Hal ini berarti bahwa otak
tidak memberikan respon secara buta tetapi respon yang terjadi merupakan
hasil dari satu derajat latihan terhadap interpretasi subyektif.
Bagaimana kita melihat suatu kejadian secara luas tergantung
kepada konsep terhadap diri pribadi, kekuatan ego, sistem nilai dan bahkan
hereditas.
Peristiwa-peristiwa menyenangkan seperti menikah,
memenangkan undian atau bertemu dengan seseorang yang dicintai setelah
lama tidak bertemu, juga menimbulkan stress, meskipun kebanyakan stress
berawal dengan peristiwa-peristiwa negatif, menyakitkan dan tidak
diharapkan dalam kehidupan kita.
5

Situasi yang sama dapat dilihat, secara keseluruhan, secara berbeda


oleh dua individu. Yang satu dapat memandang situasi yang ada sebagai
tantangan yang menarik sementara individu yang lain memandang situasi
tersebut sebagai ancaman terhadap kehidupannya. Satu lampu merah
diinterpretasikan oleh yang satu sebagai obyek yang berguna untuk
mengatur suatu usaha dan oleh yang lain merupakan sumber yang
menyakitkan. Lebih jauh, kita memandang dan bereaksi terhadap suatu
peristiwa yang sama secara berbeda pada saat yang berbeda, tergantung
pada keadaan perasaan dan fisik kita saat tersebut.
Stress yang datang dari peristiwa-peristiwa dan kondisi kehidupan
yang tidak menyenangkan dapat mengganggu perasaan dan tubuh kita.
Stress menyebabkan kesedihan dan menghalangi untuk melakukan
pekerjaan yang bermanfaat. Sangatlah penting untuk mengenali seseorang
yang menderita stress yang berat. Stress dapat mempengaruhi semua
bagian dari kehidupan seseorang, menyebabkan stress mental, keluhankeluhan fisik, perubahan perilaku, dan masalah-masalah dalam interaksi
dengan orang lain. Seseorang yang menderita stress seringkali tidak
mengeluh tentang stress secara langsung. Sebagai gantinya, mereka
mengeluhkan banyak keluhan fisik dan mental yang berbeda. Mereka
dapat saja menderita sakit yang serius sehingga memerlukan perawatan
medis.
Seseorang yang berada dalam keadaan stress dapat memiliki
berbagai gejala yang bervariasi.
Gejala-gejala tersebut dapat
bermanifestasi pada perasaan, tubuh kita, pada perilaku dan terhadap
pergaulan dengan orang lain. Pada perasaan kita gejala-gejala tersebut
dapat berupa:
a)
b)
c)
d)

Rasa cemas atau mudah marah


Rasa sedih, menangis atau rasa tidak diperhatikan
Perubahan mood yang cepat
Konsentrasi yang jelek, memerlukan penjelasan beberapa
kali baru bisa memahami dan mengingatnya
e) Berpikir tentang satu hal yang sama berulang-ulang

Orang-orang sulit untuk mengenali dan menggambarkan gejala


yang mereka derita. Sedangkan pada tubuh gejala-gejala stress yang
timbul dapat berupa:
a)
b)
c)
d)

Kelelahan
Sakit kepala
Ketegangan otot
Berdebar-debar atau denyut jantung tidak teratur
6

e)
f)
g)
h)

Perasaan tidak dapat bernapas/sesak


Mual-mual (merasa sakit) atau nyeri di perut
Nafsu makan kurang
Nyeri yang tidak jelas, misalnya pada lengan, tungkai, atau
dada

Sangatlah penting untuk berbicara dengan anggota keluarga yang


lain atau orang lain yang mengetahui dengan baik mengenai seseorang
yang mengalami stress. Pertama-tama yang harus diketahui adalah apakah
perilaku saat ini dari orang yang mengalami stress adalah normal.
Kemudian perlu diketahui bagaimana terjadinya perubahan menjadi tidak
normal.
2.1.3 Sumber stress
Ada beberapa sumber stress, antara lain:
a) Tekanan
Kita dapat mengalami tekanan dari dalam maupun luar, ataupun
keduanya. Ambisi personal bersumber dari dalam, tapi kadang
dikuatkan oleh harapan-harapan dari pihak diluar diri.
b) Konflik
Konflik terjadi ketika kita berada dibawah tekanan untuk berespon
simultan terhadap dua atau lebih kekuatan yang berlawanan.
Konflik ada tiga macam:
Konflik menjauh-menjauh: individu terjerat pada dua pilihan
yang sama-sama tidak disukai.
Konflik mendekat-mendekat: individu terjerat dalam dua
pilihan yang sama-sama diinginkannya.
Konflik mendekat-menjauh: terjadi ketika individu terjerat
dalam situasi dimana ia tertarik sekaligus ingin menghindar
dari situasi tertentu.
c) Frustasi
Frustasi terjadi ketika motif atau tujuan kita mengalami hambatan
dalam pencapaiannya.
Bila kita sudah berjuang keras kemudian gagal, kita mengalami
frustasi.
Bila kita dalam keadaan terdesak dan terburu-buru, kemudian
terhambat untuk melakukan.
Bila kita sangat memerlukan dan sesuatu itu tidak dapat
diperoleh, kita juga mengalami frustasi.
d) Krisis
Adalah suatu keadaan dimana seseorang berada dalam suatu
keadaan mendekati nilai ambang frustasi (kekuatan maksimal jiwa
7

seseorang untuk menahan beberapa beban jiwa sekaligus), dan bila


melaluinya dengan baik akan menjadi lebih matang tetapi bila
tidak akan memperburuk keadaan jiwanya.
2.1.4. Biokimia stress
Stress fisik atau emosional mengaktivasi amygdala yang
merupakan bagian dari sistem limbik yang berhubungan dengan
komponen emosional dari otak. Respon emosional yang timbul
ditahan oleh input dari pusat yang lebih tinggi di forebrain. Respon
neurologis dari amygdala ditransmisikan dan menstimulasi respon
hormonal dari hipotalamus. Hipotalamus akan melepaskan hormon
CRF (corticotropin- releasing factor) yang menstimulasi hipofisis
untuk melepaskan hormon lain yaitu ACTH (adrenocorticotropic
hormone) ke dalam darah. ACTH sebagai gantinya menstimulasi
kelenjar adrenal, suatu kelenjar kecil yang berada di atas ginjal.
Kelenjar adrenal berisi dua daerah yang berbeda, bagian dalam atau
medulla yang mensekresi adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin
(norepinefrin) dan lapisan luar atau korteks yang mensekresi
kortikosteroid mineral (aldosteron) dan glukokortikoid (kortisol).
Secara simultan, hipotalamus bekerja secara langsung pada sistem
otonom untuk merangsang respon yang segera terhadap stress. Sistem
otonom sendiri diperlukan dalam menjaga keseimbangan tubuh.
Sistem otonom terbagi dua yaitu sistem simpatis dan parasimpatis.
Sistem simpatis bertanggung jawab terhadap adanya stimulasi atau
stress. Reaksi yang timbul berupa peningkatan denyut jantung, napas
yang cepat, penurunan aktivitas gastrointestinal.
Sementara sistem parasimpatis membuat tubuh kembali ke
keadaan istirahat melalui penurunan denyut jantung, perlambatan
pernapasan, meningkatkan aktivitas gastrointestinal. Perangsangan
yang berkelanjutan terhadap sistem simpatis menimbulkan respon
stress yang berulang-ulang dan menempatkan sistem otonom pada
ketidakseimbangan. Keseimbangan antara kedua sistem ini sangat
penting bagi kesehatan tubuh.
Dengan demikian tubuh dipersiapkan untuk melawan atau reaksi
menghindar melalui satu mekanisme rangkap: satu respon saraf,
jangka pendek, dan satu respon hormonal yang bersifat lebih lama.
2.1.5. Cara Mengatasi Stres
Secara umum, terdapat dua cara untuk mengatasi stress,
yaitu problem focus dan emotion focus

Problem focus, adalah cara mengatasi stres dengan memfokuskan diri


pada masalah atau sumber stres. Cara ini dapat di lakukan jika masalah
yang dialami bersifat controllable
Cara yang kedua adalah emotion focus, dimana mengatasi stres dengan
cara memfokuskan diri dengan emosi yang dialami. Cara ini biasanya
dilakukan ketika menghadapi masalah yang bersifat uncontrollable
(tidak dapat dikontrol). Contohnya ketika merasa stres akibat
kehilangan saudara karena bencana, hal yang dapat dilakukan misalnya
berdoa agar diberikan kekuatan oleh Tuhan dalam menghadapi
masalah ini.
Kedua cara tersebut, problem atau emotion focus, sebenarnya tidak
ada yang lebih baik. Cara tersebut dapat anda lakukan tergantung pada
masalah apa yang dialami.

2.2 Perubahan Psikologi Pada Pasien Parkinson


2.2.1 Depresi
Depresi adalah penyakit atau gangguan mental yang sering
dijumpai. Penyakit ini menyerang siapa saja tanpa memandang usia, ras
atau golongan, maupun jenis kelamin. Salah satu penyakit degenerasi
yang sering disertai depresi adalah penyakit Parkinson. Frekuensi
depresi pada penyakit Parkinson berkisar antara 20% sampai 90%, ratarata 40% - 50%. Depresi pada penyakit Parkinson cenderung mengenai
usia yang lebih muda dan lebih sering pada perempuan. Kebanyakan
peneliti beranggapan tidak ada hubungan antara usia pasien saat ini atau
usia saat onset penyakit Parkinson dengan terjadinya depresi.
Santamaria dan Mayeux menemukan bahwa depresi cenderung terjadi
pada mereka yang berusia lebih muda sat onset gejala parkinson.
Lamanya penyakit Parkinson diderita semula diduga dapat
mempengaruhi derajat depresinya. Namun nyatanya tidak ada kaitan
antara lamanya penyakit Parkinson dengan perubahan suasana perasaan
atau afek.
Analisis Brown dkk. terhadap nilai Beck's Depression
Inventory mendapatkan adanya peningkatan dysphoria, rasa pesimistik
terhadap masa yang akan datang, sedih dan gagasan bunuh diri. Sedikit
sekali ditemukan gejala menyalahkan diri sendiri, perasaan gagal dan
tersiksa. Penyakit Parkinson ditandai oleh adanya gejala motorik klasik
berupa rigiditas, bradikinesi, tremor. Huber dkk. menemukan bahwa
pasien penyakit Parkinson dengan depresi memperlihatkan bradikinesi
dan rigiditas yang lebih hebat dari pada pasien tanpa depresi, sedangkan
pasien Parkinson tanpa depresi tampak lebih tremor. Pasien dengan
gangguan stabilitas sikap dan gangguan cara berjalan tampak lebih
9

depresi dari pada pasien dengan tremor. Pada umumnya para peneliti
menganggap tidak ada hubungan antara abnormalitas suasana
perasaan (mood) dengan abnormalitas motorik, tetapi depresi mungkin
lebih sering pada sindrom dengan perubahan gaya berjalan dan sikap
tubuh. Di antara gejala penyakit Parkinson, tremor adalah gejala yang
paling tidak responsif terhadap dopamin. Jadi depresi lebih sering pada
sindrom Parkinson dengan gejala - gejala yang nyata responsif terhadap
dopamin.
Patofisiologi depresi pada penyakit Parkinson sampai saat ini
belum diketahui pasti. Namun teoritis diduga hal ini berhubungan
dengan defisiensi serotonin, dopamin dan noradrenalin.
Diagram. Patofisiologi Depresi pada Penyakit Parkinson
Kehilangan neuron batang otak
akibat penyakit Parkinson

Deplesi (penyusutan)
biokimiawi korteks dan
ganglia basalis

Penurunan reward mediation,


ketergantungan terhadap lingkungan,
dan respons terhadap stres yang tidak
adekuat

Apatis, rasa tidak berharga, rasa tidak berguna


tidak ada harapan, putus asa

2.2.2 Perubahan Kognitif


Dalam
perkembangan
penyakitnya,
Parkinson
dapat
menyebabkan gangguan kognitif yang bervariasi tingkat keparahannya.
Penyebabnya adalah multifaktorial, menyangkut didalam sistem
dopamin di subkortikal frontal dan sistem ekstrastriatum. Gangguan
kognitif (disfungsi eksekutif, visuospasial, memori, dan atensi) pada
10

pasien Parkinson dapat menimbulkan hendaya pada pasien dalam


melaksanakan pekerjaan sehari-hari ataupun kegiatan rumah tangga
serta dapat membuat pasien menjadi tertekan. Terdapatnya gangguan
mood yang terjadi, menyertai, atau mengikuti perubahan kognitif dapat
mengganggu dalam penilaian gangguan fungsi kognitif yang terjadi dan
gangguan yang terjadi seakan lebih berat daripada kenyataannya.
Sekitar 25 % pasien berkembang menjadi demensia tipe Alzheimer
dengan terdapatnya afasia, apraksia, dan defisit memori. Sementara
depresi dapat terjadi bersamaan pada pasien Parkinson dengan
demensia, keluarga dan klinisi yang melihat terjadinya kurangnya
sosialisasi pada pasien menganggapnya sebagai suatu kelainan depresi
dibandingkan suatu keadaan hendaya fungsi kognitif sehingga pasien
diberikan obat-obatan antidepresan. Pengenalan gejala demensia pada
Parkinson sangatlah penting bagi klinisi karena pada pasien-pasien ini
sangat rentan dalam pemberian obat-obatan psikoaktif yang dapat
mengakibatkan terjadinya delirium, dan lebih jauh lagi sebagai
penyebab nursing home pada pasien Parkinson.
Gangguan neuropsikiatrik dapat mengganggu sama halnya
seperti gejala motorik. Studi yang dilakukan oleh Sydney Multicenter of
Parkinson Disease menunjukkan bahwa 84% pasien mengalami
penurunan fungsi kognitif yang setelahdiikuti selama 15 tahun, 48%
diantaranya memenuhi kriteria diagnosis untuk demensia. Prospektif
studi lainnya menunjukkan bahwa pasien penyakit Parkinson memiliki
resiko enam kali lipat lebih besar untuk terjadinya demensia
dikemudian hari. Penyakit parkinson yang dihubungkan dengan
terjadinya demensia jugadihubungkan komorbiditas neuropsikiatri.
Diantara 537 pasien, depresi (58%), apatis (54%), anxietas (49%), dan
halusinasi (44%) merupakan hal yang tersering dilaporkan. Sehubungan
dengan disfungsi afektif dan kognitif, banyak pasiendengan penyakit
parkinson dilaporkan memiliki tingkah laku obsesif-kompulsif dan
impulsif. Gejala tingkah laku ini terkadang merupakan gejala
hedonistichomeostatic dysregulation.
2.3. Perubahan Neurotransmitter pada penyakit Parkinson
Pada penyakit parkinson terjadi degenerasi sel-sel neuron yang meliputi
berbagai inti subkortikal termasuk di antaranya substansia nigra, area ventral
tegmental, nukleusbasalis, hipotalamus, pedunkulus pontin, nukleus raphe
dorsal, lokus sereleus, nucleuscentral pontine dan ganglia otonomik. Beratnya
kerusakan struktur ini bervariasi. Padaotopsi didapatkan kehilangan sel
substansia nigra dan lokus sereleus bervariasi antara 50%-85%, sedangkan
pada nukleus raphe dorsal berkisar antara 0% - 45%, dan pada nucleus
11

ganglia basalis antara 32% -87%. Inti-inti subkortikal ini merupakan sumber
utama neurotransmitter. Terlibatnya struktur ini mengakibatkan berkurangnya
dopamin di nucleus kaudatus (berkurang sampai75%), putamen (berkurang
sampai 90%), hipotalamus (berkurang sampai 90%). Norepinefrin berkurang
43% di lokus sereleus, 52% di substansianigra, 68% di hipotalamus posterior.
Serotonin berkurang 40% di nukleus kaudatus dan hipokampus, 40% di lobus
frontalis dan 30% di lobus temporalis, serta 50% di ganglia basalis. Selain itu
juga terjadi pengurangan nuropeptid spesifik seperti met-enkephalin, leuenkephalin, substansi P, dan bombesin. Perubahan neurotransmiter dan
neuropeptid menyebabkan perubahan neurofisiologik yang berhubungan
dengan perubahan suasana perasaan. Sistem transmiter yang terlibat ini
menengahi proses reward, mekanisme motivasi, dan respons terhadap stres.
2.3.1. Sistem Dopamin
Sistem dopamin berperan dalam proses reward dan
reinforcement. Febiger mengemukakan hipotesis bahwa abnormalitas
sistem neurotransmiter pada penyakit parkinson akan mengurangi
keefektifan mekanisme reward dan menyebabkan anhedonia,
kehilangan motivasi dan apatis. Sedang Taylor menekankan
pentingnya peranan sistemdopamin forebrain dalam fungsi-fungsi
tingkah laku terhadap pengharapan dan antisipasi. Sistem ini berperan
dalam motivasi dan dorongan untuk berbuat, sehingga disfungsi ini
akan mengakibatkan ketergantungan yang berlebihan terhadap
lingkungan dengan berkurangnya keinginan melakukan aktivitas,
menurunnya
perasaan
kemampuan
untuk mengontrol
diri.
Berkurangnya perasaan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri
dapat bermanifestasi sebagai perasaan tidak berguna dan kehilangan
harga diri. Ketergantungan terhadap lingkungan dan ketidakmampuan
melakukan aktivitas akan menimbulkan perasaan tidak berdaya dan
putus asa.
Metabolisme dopamin endogen juga menyebabkan peningkatan
produksi racun yang mempertinggi terjadinya stress oksidatif pada
pasien dengan penyakit parkinson. Kemungkinan ini pada akhirnya
menimbulkan kecemasan tersendiri terhadap terapi dengan levodopa
yang pada akhirnya levodopa ini akan dikonversi menjadi dopamine
sehingga pada mekanisme lebih lanjut akan mempercepat kematian sel
neuron dalam pars kompakta substansia nigra. Tentu saja, argumen ini
merupakan salah satu penyebab penundaan pemakaian levodopa pada
pasien penyakit parkinson. Walaupun bukti nyatadari berbagai
penelitian mengenai efek toksik levodopa masih diperdebatkan dan
observasiklinik terhadap manusia tanpa penyakit parkinson namun
12

diberi terapi dengan levodopa, tidak menampakkan timbulnya


toksisitas.
2.3.2. Sistem serotonergik
Serotonin disekresikan oleh nukleus yang berasal dari rafe
medial batang otak dan berproyeksi disebahagian besar daerah otak,
khususnya yang menuju radiks dorsalis medula spinalis dan menuju
hipotalamus. Serotonin bekerja sebagai bahan penghambat jaras rasa
sakit dalam medula spinalis, dan kerjanya di daerah sistem syaraf yang
lebih tinggi diduga untuk membantu pengaturan kehendak seseorang,
bahkan mungkin juga menyebabkan tidur (Guyton 1997: 714).
Serotonin berasal dari dekarboksilasi triptofan, merupakan
vasokontriksi kuat dan perangsang kontraksi otak polos. Produksi
serotonin sangat meningkat pada karsinoid ganas penyakit yang
ditandai sel-sel tumor penghasil serotonin yang tersebar luas didalam
jaringan argentafin rongga abdomen (Martin,David .1987:364).
Sistem serotonergik berperan dalam regulasi suasana perasaan,
regulasi bangun tidur, aktivitas agresi dan seksual. Disfungsi sistem ini
akan menyebabkan gangguan pola tidur, kehilangan nafsu makan,
berkurangnya libido, danmenurunnya kemampuan konsentrasi.
Penggabungan disfungsi semua unsur yang tersebut di atas merupakan
gambaran dari sindrom klasik depresi.
Dalam keadaan normal, terdapat sebuah regulasi yang ketat
dalam produksi dan pembuangan beberapa oksidan yang dihasilkan
dari metabolisme sel neuron. Termasuk didalamnya hydrogen peroksida,
superoksida, radikal peroksida, nitric oxide, dan hidroksi radikal.
Molekul-molekul ini bereaksi dengan asam nukleat, protein, lemak dan
molekul lainnya sehingga terjadilah perubahan struktur molekul yang
mengakibatkan kerusakan sel. Beberapa fakta mengemukakan bahwa
pada penyakit parkinson, terdapat kelebihan oksigen reaktif dan
peningkatan stress oksidatif.
2.3.3. Sistem Norepinephrine
Sistem Norepinephrine memiliki konsentrasi tinggi di dalam
locus ceruleus serta dalam konsentrasi sekunder dalam hippocampus,
amygdala, dan kortex cerebral. Selain itu ditemukan juga dalam
konsentrasi tinggi di saraf simpatis. Norepinephrine dipindahkan dari
celah synaptic dan kembali ke penyimpanan melalui proses reuptake
aktif. Fungsi Utama adalah mengatur fungsi kesiagaan, pusat perhatian
dan orientasi; mengatur fight-flightdan proses pembelajaran dan
memory. Gejala bila mengalami defisit Norepinephrine mencakup
kurang energi (Fatique), Depresi.
13

Dan bila berlebihan akan menimbulkan gejala kecemasan,


kesiagaan berlebih, penurunan rasa awas, paranoia, kurang nafsu
makan dan paranoid. Badan sel neuron adrenergik yang menghasilkan
norepinefrin terletak di locus ceruleus (LC) batang otak dan
berproyeksi ke korteks serebri, sistem limbik, basal ganglia,
hipotalamus dan talamus. Ia berperan dalam mulai dan
mempertahankan keterjagaan (proyeksi ke limbiks dan korteks).
Proyeksi noradrenergik ke hipokampus terlibat dalam sensitisasi
perilaku terhadap stressor dan pemanjangan aktivasi locus
ceruleus dan juga berkontribusi terhadap rasa ketidakberdayaan yang
dipelajari. Locus ceruleus juga tempat neuron-neuron yang berproyeksi
ke medula adrenal dan sumber utama sekresi norepinefrin ke dalam
sirkulasi darah perifer.
Stresor akut dapat meningkatkan aktivitas LC. Selama terjadi
aktivasi fungsi LC, fungsi vegetatif seperti makan dan tidur menurun.
Persepsi terhadap stressor ditangkap oleh korteks yang sesuai dan
melalui talamus diteruskan ke LC, selanjutnya ke komponen
simpatoadrenalsebagai respon terhadap stressor akut tsb. Porses
kognitif dapat memperbesar atau memperkecil respon simpatoadrenal
terhadap stressor akut tersebut.
Rangsangan terhadap bundel forebrain (jaras norepinefrin
penting di otak) meningkat pada perilaku yang mencari rasa senang
dan perilaku yang bertujuan. Stressor yang menetap dapat menurunkan

14

kadar norepinefrin di forbrain medial. Penurunan ini dapat


menyebabkan anergia, anhedonia, dan penurunan libido pada depresi.
Hasil
metabolisme
norepinefrin
adalah 3-methoxy-4hydroxyphenilglycol (MHPG). Penurunan aktivitas norepinefrin sentral
dapat dilihat berdasarkan penurunan ekskresi MHPG. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa MHPG mengalami defisiensi pada
penderita depresi. Kadar MHPG yang keluar di urin meningkat
kadarnya pada penderita depresi yang di ECT (terapi kejang listrik).
2.4. Terapi pada Parkinson

Ada 2 jenis terapi dalam menangani gangguan psikologis pada penyandang


Parkinson yaitu terapi farmakalogis dan non farmakalogis.
2.4.1. Terapi Farmakologis

a. Golongan Trisiklik
Obat ini bekerja pada sistem noradrenergic dan serotonergik.
Tertiary amine (impramin, amitriptilin, klomipramin) bekerja pada
sistem serotorgenik. Secondary amine (desipramin, nortriptylin,
proptylin) bekerja mengaktifkan sistem noradrenergic. Impramin
dan desipramin dilaporkan mempunyai pengaruh yang bermanfaat
terhadap abnormalitas motorik.
b. Golongan Seretonin Reuptake Inhibitor
Golongan ini bekerja menghambat reuptake serotonin di celah
sinaps, sehingga kadar serotonin dicelah sinaps meningkat. Yang
termasuk golongan ini yaitu, fluoksetin, sertralin dan fluvoksamin.
Fluvoksamin dilaporkan bermanfaat dalam pengobatan depresi
pada penyakit Parkinson serta dapat menurunkan dosis levodopa
yang digunakan untuk penyakit Parkinson, sedangkan fluoksetin
dapat meningkatkan dsisabilitas pasien.
c. Bromokriptin
Bromokriptin adalah salah satu agonis dopamine yang
mempunyai pengaruh mengurangi depresi pada pasien dengan
Parkinson
d. Antokolinergik
Selain digunakan sebagai obat anti Parkinson, obat ini juga
mempunyai efek euphoria ringan sehingga akan memperbaiki
suasana perasaan depresi, tetapi secara relative obat ini mempunyai
efek antidepresan. Obat dari golongan ini yang paling sering
digunakan adalah Triheksifenidil.
e. Terapi Pembedahan
Talamoktomi dan palidektomi sekarang sduah jarang dilakukan,
tapi transplantasi jaringan medulla adrenal atau jaringan subtansia
15

nigra fetus ke nucleus kaudatus telah diperkenalkan sebagai suatu


terapi percobaan terhadap pengobatan Parkinson.
2.4.2. Non Farmakologi
a. Konseling
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang diberikan oleh
seorang ahli (konselor) kepada individu yang mengalami suatu
masalah (konsele) yang bermuara pada teratasinya masalah yang
dihadapi klien. Diharapkan dengan pasien menceritakan seluruh
keluh kesahnya dapat mengurangi gangguan psikologis seperti
cemas, stress, dan depresi dapat berkurang.
b. Electro Convulsie Therapy (ECT)
ECT banyak digunakan dalam pengobatan depresi berat.
Namun ternyata ECT juga terbukti dapat bermanfaat dalam
memperbaiki gejala motorik pada penyakit Parkinson seperti,
tremor, rigiditas, bradikinesi membaik dengan ECT, tetapi hanya
singkat.
c. Hypnoterapy
Sebuah pengobatan yang menjangkau pemikiran bawah
sadar yang merupakan sumber program kecemasan tersimpan.
Hypnotherapy bisa membenarkan program pikiran bawah sadar
yang salah.

16

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian
Anamnesis
Anamnesis pada Parkinson meliputi identitas klien, keluhan utama, riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan pengkajian psikososial.
a.

Identitas Klien.

b.

Meliputi nama, umur (lebih sering pada kelompok usia lanjut, pada

usia 50-60 tahun), jenis kelamin (lebih banyak pada laki-laki),


pendidikan. Alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam
masuk RS, nomor register, dan diagnosa medis.
c.

Keluhan Utama

Gangguan gerakan, kaku otot, tremor menyeluruh, kelemahan otot, dan


hilangnya refleks postural.
d.

Riwayat penyakit saat ini

Klien mengeluhkan adanya tremor pada salah satu tangan dan lengan,
kemudian ke bagian yang lain, dan akhirnya bagian kepala, walaupun
tremor ini tetap unilateral. Adanya perubahan pada sensasi wajah, sikap
tubuh, dan gaya berjalan. Adanya keluhan rigiditas deserebrasi,
berkeringat, kulit berminyak dan sering menderita dermatitis seboroik,
sulit menelan, konstipasi.
e.

Riwayat penyakit dahulu

Riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, anemia,


penggunaan

obat-obat

antikoagulan,

aspirin,

vasodilator,

dan

penggunaan obat-obat antikolinergik dalam jangka waktu yang lama.


f.

Riwayat penyakit keluarga

Menanyakan apakah ada anggota keluarga terdahulu yang menderita


hipertensi dan diabetes melitus.
g.

Pengkajian psiko-sosio-spiritual

Menilai respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya,perubahan


peran klien dalam keluarga dan masyarakat,dan respons atau pengaruhnya
17

dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam


masyarakat.
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Adanya perubahan

pada tanda vital,yaitu

bradikardi,hipotensi,dan

penurunan frekuensi pernapasan


B1 (Breathing)
Inspeksi: penurunan kemampuan untuk batuk efektif, peningkatan
produksi sputum,sesak napas,dan penggunaan otot bantu napas.
Palpasi: ditemukan taktil premitus seimbang kanan dan kiri.
Perkusi: ditemukan adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru.
Auskultasi: ditemukan bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi,
stridor, ronkhi.
B2 (Blood)
Hipotensi postural.
B3 (Brain)
Perubahan pada gaya berjalan,tremor secara umum pada seluruh otot,dan
kaku pada seluruh gerakan.
Tingkat kesadaran
Biasanya compos mentis
Pemeriksaan fungsi serebri
Status mental : penurunan status kognitif, penurunan persepsi, dan
penurunan memori baik jangka pendek dan memori jangka panjang.
Pemeriksaan saraf kranial
Saraf I: Fungsi penciuman tidak ada kelainan
Saraf II: Penurunan ketajaman penglihatan
Saraf III,IV,dan VI: Sewaktu melakukan konvergensi penglihatan menjadi
kabur karena tidak mampu mempertahankan kontraksi otot-otot bola mata.
Saraf V: Adanya keterbatasan otot wajah menyebabkan ekspresi wajah
klien mengalami penurunan,saat bicara wajah seperti topeng (sering
mengedipkan mata)
Saraf VII: Persepsi pengecapan dalam batas normal
18

Saraf VIII : Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi yang berhubungan
dengan proses senilis dan penurunan aliran darah regional
Saraf IX dan X: Ditemukan kesulitan dalam menelan makanan
Saraf XI : Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius
Saraf XII: Lidah simetris, tidak ditemukan deviasi pada satu sisi dan tidak
ada fasikulasi.
Sistem motorik
Inspeksi gaya berjalan,tremor dan kaku pada seluruh gerakan tonus otot,
ditemukan meningkat.
Keseimbangan dan koordinasi,ditemukan mengalami gangguan karena
adanya kelemahan otot,kelelahan,perubahan pada gaya berjalan,tremor dan
kaku pada seluruh gerakan.
Sistem Sensorik
Mengalami penurunan terhadap sensasi sensorik secara progresif
B4 (Bladder)
Penurunan refleks kandung kemih perifer dihubungkan dengan disfungsi
kognitif

dan

persepsi

klien

secara

umum.

Ketidakmampuan

mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk menggunakan


urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural.
B5 (Bowel)
Penurunan nutrisi berkurang yang berhubungan dengan asupan nutrisi
yang kurang karena kelemahan fisik umum dan kesulitan dalam
menelan,konstipasi karena penurunan aktivitas.
B6 (Bone)
Adanya kesulitan untuk beraktivitas karena kelemahan, kelelahan otot,
tremor dan kaku pada seluruh gerakan memberikan risiko pada trauma
fisik bila melakukan aktivitas

3.2 Diagnosa Keperawatan


a)

Koping individu tidak efektif berhubungan dengan depresi dan


disfungsi karena perkembangan penyakit.

19

b)

Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan volume


bicara, perlambatan bicara, ketidakmampuan menggerakan otot-otot
wajah.

c)

Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan


neuromuscular,

menurunnya

kekuatan,

kehilangan

kontrol

otot/koordinasi.

3.3 Intervensi
a)
KOPING INDIVIDU TIDAK EFEKTIF YANG BERHUBUNGAN DENGAN
DEPRESI DAN DISFUNGSI KARENA PERKEMBANGAN PENYAKIT (Arif
Muttaqin, 2008)
Tujuan koping individu menjadi efektif.
Kriteria : mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang
situasi dan perubahan yang sedang terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap
situasi, mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang
akurat tanpa harga diri yang negatif.
INTERVENSI

RASIONALISASI

Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan Menentukan bantuan individual dalam
hubungan dengan derajat ketidakmampuan

menyusun

rencana

perawatan

atau

pemilihan intervensi.
Dukung kemampuan koping

Kepatuhan terhadap program latihan dan


berjalan

membantu

memperlambat

kemajuan penyakit. Dukungan dansumber


bantuan dapat diberikan melalui ketekunan
berdoa dan penekanan keluar terhadap
aktivitas

dengan

mempertahankan

parsitpasi aktif.
Catat ketika klien menyatakan terpengaruh Mendukung penolakan terhadap bagian
seperti

sekarat

atau

mengingkari

menyatakan inilah kematian

dan tubuh atau perasaan negative terhadap


gambaran tubuh dan kemampuan yang
menunjukkan kebutuhan dan intervensi
20

serta dukungan emosional.


Pernyataan pengakuan terhadap penolakan Membantu klien untuk melihat bahwa
tubuh, mengingatkan kembali fakta kejadian peawat menerima kedua bagian sebagai
tentang

realitas

bahwa

masih

dapat bagian dari seluruh tubuh. Mengizinkan

menggunakan sisi yang sakit dan belajar klien untuk merasakan adanya harapan dan
mengontrol sisi yang sehat.
Beri

dukungan

psikologis

menyeluruh

mulai menerima situasi baru.


secara Klien penyakit Parkinson sering merasa
malu, apatis, tidak adekuat, bosan, dan
merasa

sendiri.

Perasaan

ini

dapat

disebakan akibat kedaan fisik yang labat


dan upaya yang besar dibutuhkan erhadap
tugas-tugas

kecil.

Klien

dibantu

dan

dudukung untuk mencapai tuuan yang


ditatpkan (seperti meningkatkan mobilitas).
Oleh karena Parkinson mengarah akan
menunjukkan menarik diri dan depresi,
klien

harus

aktif

berpartisasi

dalam

program trapi yang mencakup program


sosial dan rekreasi.
Bantu dan anjurkan perawatan yang baik Membantu peningkatan perasaan harga diri
dengan memperbaiki kebiasan

dan mengontrol lebih dari satu area


kehidupan.

Bentuk program aktivitas pada keseluruhan Bentuk program aktivitas pada keseluruhan
hari

hari untuk mencegah waktu tidur yang


terlalu banyak yang dapat mengarah pada
tidak adanya keinginan danapatis. Setia
upaya dibuat untuk mendukung klien
keluar dari tugas-tugas yang termasuk
koping dengan kebutuhan mereka setiap
hari dan untuk membentuk klien mandiri.
Apa pun yang dilakukan hanya untuk
keamanan sewaktu mencapai tujuan dengan
21

meningkatnya kemampuan koping.


Anjurkan

orang

yang

terdekat

untuk Menghidupkan

kembali

perasaan

mengizinkan kelian melakukan sebanyak- kemandirian dan membantu perkembangan


banyak hal-hal untuk dirinya.

harga

diri

serta

memengaruhi

proses

rehabilitasi.

Dukung

perilaku

atau

usaha

seperti Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan

peningkatan minat atau partisipasi dalam dan pengertian tentang peran individu masa
aktivitas rehabilitasi.
Monitor

gangguan

mendatang.
tidur

peningkatan Dapat mengindikasikan terjadinya depresi

kesulitan konsentrasi, letargi, dan menarik umumnya terjadi sebagai pengaruh dari
diri

stroke di mana memerlukan intervensi dan


evaluasi lebih lanjut.

Kolaborasi : rujuk, pada ahli neuropsikologi Dapat memfasilitasi perubahan peran yang
dan konseling bila ada indikasi.

penting untuk perkembangan perasaan.


Kerja sama fisioterapi, psikoterapi, terapi
obat-obatan,

dan

dukungan

partisipasi

kelompok dapat menolong mengurangi


depresi yang juga sering muncul pada
keadaan ini.

b)
KERUSAKAN KOMUNIKASI VERBAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PENURUNAN

VOLUME

KETIDAKMAMPUAN

BICARA,

MENGGERAKKAN

PERLAMBATAN
OTOT-OTOT

BICARA,
WAJAH. (Arif

Muttaqin, 2008)
Tujuan

: klien mampu membuat teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti

sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.


Kriteria

: klien dapat berkomunikasi dengan sumber kemampuan yang ada.

INTERVENSI
Kaji

kemampuan

RASIONAL
klien

untuk Gangguan bicara ada pada banyak klien yang


22

berkomunikasi

mengalami penyakit Parkinson. Bicara mereka


yang

lemah,

monoton,

halus

menuntut

kesadaran berupaya untuk bicara dengan


lambat, dengan penekanaan perhatian pada apa
yang mereka katakan.
Menentukan cara-cara berkomunikasi, Mempertahankan kontak mata akan membuat
seperti mempertahankan kontak mata, klien interes selama komunikasi. Jika klien
pertanyaan denga jwaban ya atau tidak, dapat menggerakkan kepala, mengedipkan
menggunakan kertas dan pensil/bolpoin, mata,

atau

senang

dengan

isyarat-isyarat

gambar atau papan tulis, bahasa isyarat, sederhana, lebih baik dengan menggunakan
perjelas arti dari komunikasi yang pertanyaan ya/tidak.
disampaikan.
Pertimbangkan bentuk komunikasi bila Kateter intravena yang terpasang di tangan
terpasang intravenous kateter.

akan mengurangi kebebasan menulis/memberi


isyarat.

Letakkan bel/lampu panggilan di tempat Ketergantungan klien pada ventilator akan


yang mudah dijangkau, dan berikan lebih baik dan rileks, persaan aman, dan
penjelasan

cara

menggunakannya. mengerti

Jawab

panggilan

tersebut

segera.

Penuhi

kebutuhan

bahwa

saelaam

menggunakan

dengan ventilator, perawat akan memenuhi segala


klien. kebutuhannya.

Katakana kepada klien bahwa perawat


siap membantu jika dibutuhkan.
Buatlah catatan di kantor perawatan Mengingatkan staf perawatan untuk berespons
tentang keadaan klien yang tak dapat dengan klien selama memberikan perawatan.
berbicara.
Buat rekaman pembicara klien.

Rekaman pembicaraan untuk beresons dengan


klien selama memberikan perawatan.

Anjurkan
dekat

keluarga/orang

dngan

klien

lain

untuk

yang Keluarga dapat merasakan akrab dengan klien

brbicara berada dekat klien selama berbicara, denga

dengan klien, memberikan informasi npengalaman

ini

tentang keluarganya dan keadaan yang membantu/mempertahankan

dapat
kontak

23

nyata

sedang terjadi.

seperti

merasakanan

kehadiran

anggota

keluarga yang dapat mengurangi perasaan


kaku.
Kolaborasi dengan ahli wicara bahasa.

Ahli terapi wicara bahasa dapat membantu


dalam

membentuk

peningkatan

latihan

percakapan dan membantu petugas kesehatan


untuk mengembangkan metoda komunikasi
untuk memenuhi kebutuhan klien.

c)
DEFISIT PERAWATAN DIRI YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELEMAHAN
NEUROMUSCULAR, MENURUNNYA KEKUATAN, KEHILANGAN KONTROL
OTOT/KOORDINASI. (Arif Muttaqin, 2008)
Tujuan

: keperawatan diri klien terpenuhi.

Kriteria : klien dapat menunjukkan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan merawat diri,
klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan, dan
mengidentifikasi personal/masyarakat yang dapat membantu.
INTERVENSI

RASIONALISASI

Kaji kemampuan dan tingkat penurunan Membantu


dalam skala 0-4 untuk melakukan ADL.

dalam

mengantisipasi

dan

merencanakan pertemuan kebutuhan individu

Hindari apa yang tidak dapat dilakukan Klien dalam keadaan cemas dan tergantung hal
klien dan bantu bila perlu.

ini dilakukan untuk mencegah frustasi dan harga


diri klien.

Ajarkan dan dukung klien selama Dukungan pada klien selama aktivitas kehidupan
aktivitas.
Rencanakan

sehari-hari dapat meningkatkan perawatan diri.


tindakan

untuk

defisit Klien akan mampu melihat dan memakan

penglihatan seperti tempatkan makanan makanan, akan mampu melihat keluar masuknya
dan peralatan dalam suatu tempat, orang ke ruangan.
dekatkan tempat tidur ke dinding.
Modifikasi lingkungan

Modifikasi

lingkungan

diperlukan

mengompensasi ketidak mampuan fungsi.


24

untuk

Gunakan pagar di sekeliling tempat Penggunaan pagar di sekeliing tempat tidur, baik
tidur

tempat tidur di rumah sakit maupun di rumah,


atau sebuah tali yang diikatkan pada kaki tempat
tidur untuk memberi bantuandalam mendorong
diri untuk bangun tanpa bantuan orang lain.

Kolaborasi :

Pertolongan utama terhadap fungsi usus atau

Pemberian supositoria dan pencahar;

defekasi. Untuk mengembangkan terapi dan

konsul ke dokter terapi okupasi

melengkapi kebutuhan khusus.

3.3 Evaluasi
1) Koping individu terhadap dapat menjadi efektif
2) klien dapat berkomunikasi dengan sumber kemampuan yang ada
3) klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat
kemampuan, dan mengidentifikasi personal/masyarakat yang dapat
membantu.

25

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Stress adalah keadaan yang kita alami ketika ada sebuah ketidaksesuaian
antara tuntutan-tuntutan yang diterima dan kemampuan untuk mengatasinya
(Looker & Gregson, 2005). Jadi stres adalah keadaan dimana individu merasa
terancam

oleh

lingkungannya,

dan

individu

tersebut

berusaha

untuk

menyimbangkan antara psikis dan fisik terhadap lingkungan tersebut.


Dalam perkembangan penyakitnya, Parkinson dapat menyebabkan
gangguan kognitif yang bervariasi tingkat keparahannya. Penyebabnya adalah
multifaktorial, menyangkut didalam sistem dopamin di subkortikal frontal dan
sistem ekstrastriatum. Gangguan kognitif (disfungsi eksekutif, visuospasial,
memori, dan atensi) pada pasien Parkinson dapat menimbulkan ketidaknyamanan
pada pasien dalam melaksanakan pekerjaan sehari-hari ataupun kegiatan rumah
tangga serta dapat membuat pasien menjadi tertekan.
Gangguan psikologi pada Parkinson sendiri dapat dikurangi dengan terapi
farmakologis (obat-obatan) dan terapi non farmakologis seperti konseling,
hypnotherapy, dan Electro Convulsie Therapy.

3.2 Saran
Penulis menyarankan agar pembaca mampu memahami tentang parkinson
sehingga mampu mengatasi dan mencegah penyebab terjadinya gangguan
psikologi terutama stress pada penderita parkinson sehingga mencegah resiko
prognosis yang lebih buruk.

26

DAFTAR PUSTAKA

http://klinikautisindonesia.wordpress.com/2012/11/04/neurotransmiter-otakgangguan-perilaku-dan-gangguan-psikiatrik/ (diakses pada 14 November 2012 pkl


19.00)
http://www.kalbefarma.com/files/cdk/files/156_07DepresiParkinson.pdf/156_07D
epresiParkinson.html (diakses pada 16 November 2012 pkl 16.00)

27