Anda di halaman 1dari 13

SALINAN

MENTERI
PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
DAN REFORMASI BIROKRASI
REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI
PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA
DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 5 TAHUN 2015
TENTANG
UNIT LAYANAN PENGADAAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN
PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN
REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang

a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14


Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70
Tahun

2012

tentang

Perubahan

Kedua

atas

Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang


Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, mewajibkan
setiap Kementerian/ Lembaga/ Daerah/ Institusi
Lainnya membentuk Unit Layanan Pengadaan;
b. bahwa

berdasarkan

dimaksud

dalam

pertimbangan

huruf

a,

perlu

sebagaimana
menetapkan

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara


dan Reformasi Birokrasi tentang Unit Layanan
Pengadaan Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi;
Mengingat

: 1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor


Tahun

2010

Pemerintah,

tentang

Pengadaan

sebagaimana

telah

54

Barang/Jasa

diubah

terakhir

dengan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012


tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden
Nomor

54

Tahun

2010

Barang/Jasa Pemerintah;

tentang

Pengadaan

2. Peraturan . . .

-22. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang


Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara
serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon
I Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa
kali

diubah

terakhir

dengan

Peraturan

Presiden

Nomor 135 Tahun 2014);


3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 165
Tahun 2014 tentang Penataan Tugas dan Fungsi
Kabinet Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 339;
4. Keputusan

Presiden

Nomor

121/P

Tahun

2014

tentang Pembentukan Kementerian dan Pengangkatan


Menteri Kabinet Kerja Periode 2014-2019;
5. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 31
Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR
NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI TENTANG UNIT
LAYANAN PENGADAAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN
PENDAYAGUNAAN
APARATUR
NEGARA
DAN
REFORMASI BIROKRASI.

BAB I . . .

-3BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan.
1.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan


Reformasi Birokrasi yang selanjutnya disebut
Menteri adalah Pengguna Anggaran (PA) yang
memiliki

kewenangan

penggunaan

anggaran

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan


Reformasi Birokrasi.
2.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan


Reformasi Birokrasi yang selanjutnya disebut
Kementerian PANRB adalah lembaga Pemerintah
atas

UU

Nomor

39

Tahun

2008

tentang

Kementerian Negara dan Perpres Nomor 77 Tahun


2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan
Presiden

Nomor

Pembentukan

47

dan

Tahun

2009

Organisasi

tentang

Kementerian

Negara.
3.

Pengadaan
selanjutnya

Barang/Jasa
disebut

Pemerintah
dengan

yang

Pengadaan

Barang/Jasa adalah kegiatan untuk memperoleh


barang/jasa

oleh

Kementerian

PANRB

yang

prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan


sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk
memperoleh barang/ jasa.
4.

Kuasa

Pengguna

Anggaran

yang

selanjutnya

disebut KPA adalah pejabat yang ditetapkan oleh


PA untuk menggunakan APBN.
5.

Pejabat Pembuat

Komitmen yang selanjutnya

disebut PPK adalah pejabat yang bertanggung


jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa.
6. Unit . . .

6.

-4Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut


ULP adalah unit organisasi pemerintah yang
berfungsi melaksanakan pengadaan barang/jasa
di Kementerian PANRB.

7.

Pejabat Pengadaan adalah personil yang ditunjuk


untuk melaksanakan pengadaan langsung.

8.

Kelompok Kerja ULP selanjutnya disebut Pokja


ULP adalah kelompok kerja yang berjumlah gasal,
beranggotakan paling kurang 3 (tiga) orang dan
dapat

ditambah

sesuai

dengan

kompleksitas

pekerjaan yang bertugas untuk melaksanakan


pemilihan penyedia pengadaan barang/jasa di
Kementerian PANRB.
9.

Sertifikat

Keahlian

Pengadaan

Barang/Jasa

adalah tanda bukti pengakuan dari Pemerintah


atas

kompetensi

dan

kemampuan

profesi

di

bidang pengadaan barang/jasa.


10.

Penyedia Barang/Jasa adalah badan usaha atau


orang

perseorangan

yang

menyediakan

barang/pekerjaan

konstruksi/jasa

konsultansi/jasa lainnya.
11.

Dokumen

Pengadaan

adalah

dokumen

yang

ditetapkan oleh ULP/Pejabat Pengadaan yang


memuat informasi dan ketentuan yang harus
ditaati oleh para pihak dalam proses pengadaan
barang/jasa.
12.

Layanan

Pengadaan

selanjutnya

disebut

Kementerian

PAN

Secara
LPSE

RB

Elektronik

adalah

yang

unit

dibentuk

yang
kerja
untuk

menyelenggarakan sistem pelayanan pengadaan


barang/jasa secara elektronik.
13.

Strategi pengadaan adalah usaha terbaik yang


dilakukan untuk mencapai tujuan pengadaan
dalam

mendapatkan

barang/jasa

yang

tepat

kualitas, tepat kuantitas, tepat waktu, tepat


sumber,

dan

tepat

harga

berdasarkan

aturan/prosedur, etika, kebijakan dan prinsip


pengadaan.
BAB II . . .

-5-

BAB II
UNIT LAYANAN PENGADAAN
Pasal 2
(1)

Menteri selaku Pengguna Anggaran membentuk


ULP pada Unit Kerja yang memiliki sifat tugas dan
fungsi pengadaan.

(2)

Kepala Bagian Rumah Tangga dan Perlengkapan,


karena sifat tugas dan fungsinya di bidang
pengadaan

menjadi

Pengadaan

Kepala

Barang/Jasa

Unit
di

Layanan
lingkungan

Kementerian PANRB.
(3)

Menteri menetapkan susunan keanggotan ULP


melalui keputusan Menteri.

(4)

(5)

Perangkat ULP terdiri atas:


a.

Kepala;

b.

Ketatausahaan/Sekretariat; dan

c.

Kelompok Kerja.

Kementerian

PANRB

menyediakan

anggaran

untuk membiayai seluruh kegiatan ULP


Pasal 3
Pembentukan ULP bertujuan untuk:
a.

menjamin pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa


lebih terintegrasi atau terpadu sesuai dengan Tata
Nilai Pengadaan; dan

b.

meningkatkan

efektifitas

dan

efisiensi

dalam

pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian PANRB.


Pasal 4
ULP

dapat

membantu

melaksanakan

Pengadaan

Barang/Jasa pada Kantor Perwakilan/ Unit Pelaksana


Teknis

suatu

Daerah/Institusi

Kementerian/Lembaga/Pemerintah
yang

persetujuan Menteri.

tidak

memiliki

ULP

atas

Pasal 5 . . .

-6-

Pasal 5
Ruang lingkup tugas dan kewenangan ULP mencakup
pelaksanaan pengadaan barang/jasa melalui penyedia
barang/jasa
seluruhnya

yang

pembiayaannya

bersumber

dari

sebagian

Anggaran

atau

Pendapatan

Belanja Negara/Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.


Pasal 6
Tugas ULP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5,
meliputi:
a.
mengkaji ulang Rencana Umum Pengadaan
Barang/Jasa bersama PPK;
b.
menyusun rencana pemilihan penyedia barang/
jasa;
c.
mengumumkan
pelaksanaan
pengadaan
barang/jasa di website Kementerian PANRB dan
papan pengumuman resmi untuk masyarakat,
serta menyampaikan ke LPSE untuk diumumkan
pada Portal Pengadaan Nasional;
d.
menilai kualifikasi penyedia barang/jasa melalui
prakualifikasi atau pascakualifikasi;
e.
melakukan evaluasi administrasi, teknis, dan
harga terhadap penawaran yang masuk;
f.
menjawab sanggahan;
g.
menyampaikan hasil pemilihan dan menyerahkan
salinan dokumen pemilihan penyedia barang/
jasa kepada PPK;
h.
menyimpan dokumen asli pemilihan penyedia
barang/ jasa;
i.
mengusulkan perubahan Harga Perkiraan Sendiri,
Kerangka Acuan Kerja/ spesifikasi teknis
pekerjaan dan rancangan kontrak kepada PPK;
j.
membuat laporan mengenai proses dan hasil
Pengadaan kepada Menteri;
k. memberikan . . .

-7memberikan
pertanggungjawaban
atas
pelaksanaan kegiatan Pengadaan Barang/Jasa
kepada PA/KPA;
menyusun dan melaksanakan strategi Pengadaan
Barang/Jasa di lingkungan ULP;
melaksanakan pengadaan barang/jasa dengan
menggunakan
system
pengadaan
secara
elektronik di LPSE; dan
melaksanakan
evaluasi
terhadap
proses
pengadaan barang/jasa yang telah dilaksanakan.

k.

l.
m.

n.

Pasal 7
Kewenangan ULP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5,
meliputi:
a. menetapkan Dokumen Pengadaan;
b. menetapkan besaran nominal Jaminan Penawaran;
c.
menetapkan pemenang untuk:
1)

2)

d.

Pelelangan paket Pengadaan Barang/Pekerjaan


Konstruksi Jasa Lainnya yang bernilai paling
tinggi Rp 100.000.000.000,00 (seratus miliar
rupiah); atau
Seleksi paket Pengadaan Jasa Konsultansi yang
bernilai paling tinggi Rp 10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah);

mengusulkan penetapan pemenang kepada PA pada


Kementerian/Lembaga/Institusi atau Kepala Daerah
untuk Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa
Lainnya yang bernilai di atas Rp.100.000.000.000,(seratus miliar rupiah) dan penyedia Jasa
Konsultansi
yang
bernilai
di
atas
Rp.
10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah) melalui
Kepala ULP;
e. mengusulkan . .
.

e.

f.

-8mengusulkan kepada PA/KPA agar Penyedia


Barang/Jasa yang melakukan perbuatan dan
tindakan
seperti
penipuan,
pemalsuan
dan
pelanggaran lainnya untuk dikenakan sanksi
pencantuman dalam Daftar Hitam; dan
memberikan sanksi administratif kepada Penyedia
Barang/Jasa
yang
melakukan
pelanggaran,
perbuatan atau tindakan sebagaimana yang berlaku
dalam Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden
Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah.
Pasal 8

(1)

(2)

Ruang lingkup tugas Kepala ULP meliputi:


a.
memimpin dan mengkoordinasikan seluruh
kegiatan ULP;
b.
menyusun
dan
melaksanakan
strategi
Pengadaan Barang/Jasa ULP;
c.
menyusun program kerja dan anggaran ULP;
d.
mengawasi seluruh kegiatan pengadaan
barang/jasa di ULP dan melaporkan apabila
ada penyimpangan dan/ atau indikasi
penyimpangan;
e.
membuat laporan pertanggungjawaban atas
pelaksanaan
kegiatan
pengadaan
barang/jasa kepada Menteri;
f.
melaksanakan
pengembangan
dan
pembinaan Sumber Daya Manusia ULP;
g.
menugaskan anggota Pokja sesuai dengan
beban kerja masing masing;
h.
mengusulkanpenempatan/pemindahan/pem
berhentian anggota Pokja ULP kepada
Menteri, dan
i.
mengusulkan Staf Pendukung ULP sesuai
dengan kebutuhan.
Kepala ULP sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat merangkap dan bertugas sebagai anggota
Pokja ULP.
Pasal 9 . . .

-9Pasal 9

(1)

(2)

Ruang
lingkup
tugas
fungsi
Ketatausahaan/Sekretariat ULP meliputi:
a.
melaksanakan
pengelolaan
urusan
keuangan,
kepegawaian,
ketatausahaan,
perlengkapan, dan rumah tangga ULP;
b.
menginventarisasi paket-paket yang akan
dilelang/ diseleksi;
c.
menyiapkan
dokumen
pendukung
dan
informasi yang dibutuhkan Pokja ULP;
d.
memfasilitasi
pelaksanaan
pemilihan
penyedia barang/jasa yang dilaksanakan oleh
Pokja ULP;
e.
mengagendakan
dan
mengkoordinasikan
sanggahan yang disampaikan oleh penyedia
barang/jasa;
f.
mengelola sistem pengadaan dan sistem
informasi data manajemen pengadaan untuk
mendukung
pelaksanaan
pengadaan
barang/jasa;
g.
mengelola dokumen pengadaan barang/jasa;
h.
melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan
pengadaan dan menyusun laporan; dan
i.
menyiapkan dan mengkoordinasikan tim
teknis dan Staf Pendukung ULP dalam proses
pengadaan barang/ jasa
Sekretaris ULP sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat merangkap dan bertugas sebagai anggota
Pokja ULP.
Pasal 10

(1)

Ruang lingkup tugas Pokja ULP meliputi:


a.
melakukan kaji ulang terhadap spesifikasi
dan Harga Perkiraan Sendiri paket-paket
yang akan dilelang/seleksi;
b.mengusulkan . .
.

b.

c.

d.

e.

f.

- 10 mengusulkan perubahan Harga Perkiraan


Sendiri, Kerangka Acuan Kerja/ spesifikasi
teknis pekerjaan dan rancangan kontrak
kepada PPK;
menyusun rencana pemilihan penyedia
barang/jasa dan menetapkan dokumen
pengadaan;
melakukan pemilihan penyedia barang/ jasa
mulai dari pengumuman kualifikasi atau
pelelangan
sampai
dengan
menjawab
sanggah;
mengusulkan penetapan pemenang kepada
PA
pada
Kementerian/Lembaga/Institusi
Lainnya atau Kepala Daerah untuk Penyedia
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya
yang bernilai di atas Rp. 100.000.000.000,(seratus miliar rupiah) dan penyedia Jasa
Konsultansi yang bernilai di atas Rp.
10.000.000.000,(sepuluh
miliar
rupiah)
melalui Kepala ULP;
menetapkan Pemenang untuk:
1)

2)

g.
h.

Pelelangan paket pengadaan barang


/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang
bernilai
paling
tinggi
Rp
100.000.000.000,00
(seratus
miliar
rupiah); atau
Seleksi
paket
Pengadaan
Jasa
Konsultasi yang bernilai paling tinggi Rp
10.000.000.000,00
(sepuluh
miliar
rupiah).

menyampaikan Berita Acara Hasil Pelelangan


kepada PPK melalui Kepala ULP;
membuat laporan mengenai proses dan hasil
Pengadaan Barang/ Jasa kepada Kepala ULP;

i.memberikan . . .

- 11 memberikan data dan informasi kepada


Kepala ULP mengenai Penyedia Barang/Jasa
yang melakukan perbuatan seperti penipuan,
pemalsuan dan pelanggaran lainnya; dan
j.
mengusulkan bantuan Tim Teknis dan/atau
Tim Ahli kepada Kepala ULP.
Dalam melaksanakan tugasnya, Ketua Pokja dan
setiap anggota Pokja ULP mempunyai kewenangan
yang sama dalam pengambilan keputusan yang
ditetapkan berdasarkan suara terbanyak.
Penetapan pemenang oleh Pokja ULP sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf f, tidak bisa diganggu
gugat oleh Kepala ULP.
Anggota Pokja ULP dapat bertugas dan menjadi
Pejabat Pengadaan di luar ULP.
i.

(2)

(3)

(4)

BAB III
TATA KERJA
Pasal 11
(1)

(2)

ULP di Kementerian PANRB wajib berkoordinasi


dan menjalin hubungan kerja dengan unit kerja
yang akan memanfaatkan barang/ jasa yang
diadakan dan unit kerja terkait lainnya;
ULP wajib berkoordinasi dan menjalin hubungan
kerja dengan LKPP.

Pasal 12
(1)

Hubungan kerja ULP Kementerian PANRB dengan


unit kerja yang akan memanfaatkan barang/jasa
yang diadakan meliputi:
a. penyampaian laporan periodik tentang proses
dan hasil pengadaan barang/ jasa; dan
b. memberikan pedoman dan petunjuk kepada
unit kerja dalam penyusunan perencanaan
pengadaan barang/ jasa.
Pasal 13 . . .

- 12 Pasal 13
Hubungan kerja ULP dengan LKPP, meliputi:
a.
penyampaian laporan hasil pelaksanaan pengadaan
barang/jasa
sesuai
dengan
pedoman
yang
ditetapkan oleh LKPP;
b.
konsultasi sesuai dengan kebutuhan, dalam rangka
penyelesaian persoalan yang dihadapi dalam proses
pengadaan barang/jasa;
c.
koordinasi dalam pelaksanaan tugasnya; dan
d.
penyampaian masukan untuk perumusan strategi
dan kebijakan pengadaan barang/jasa.
BAB IV
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 14
(1)

(2)

(3)

(4)

Anggota masing-masing Pokja ULP berjumlah gasal


beranggotakan paling kurang 3 (tiga) orang dan
dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan dan
kompleksitas pekerjaan.
Dalam menugaskan Anggota Pokja ULP, Kepala
ULP memperhatikan kompetensi dan rekam jejak
Anggota Pokja ULP.
Kepala, Kepala Tata Usaha/Sekretaris dan anggota
pokja ULP diangkat melalui proses seleksi yang
dilaksanakan oleh tim penilai;
Tim penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
terdiri atas unsur Pejabat Pembina Kepegawaian,
KPA,
dan
Aparat
Pengawas
Internal
Pemerintah/Institusi.
BAB V
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 15

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 29


Desember 2014.
Agar . . .

Agar

- 13 orang mengetahuinya,

Setiap

pengundangan
penempatannya

Peraturan
dalam

memerintahkan

Menteri
Berita

ini

Negara

dengan
Republik

Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 2 Januari 2015
MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR
NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
YUDDY CHRISNANDI

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 4 februari 2014
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
YASONNA H. LAOLY
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2015 NOMOR 186
Salinan sesuai dengan aslinya
KEMENTERIAN PANRB
Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik
ttd
Herman Suryatman