Anda di halaman 1dari 9

KERANGKA ACUAN KERJA

PEKERJAAN :

EVALUASI KINERJA TPA SAMPAH BATULAYANG


PONTIANAK
A. LATAR BELAKANG
Kota Pontianak dengan luas 10.782 Ha dan jumlah penduduk sebesar
579.276 yang tersebar di 6 (enam) kecamatan dengan kepadatan
penduduk antara 31 sampai 96 orang/hektar dan pertumbuhan 1,69
persen per tahun. Berdasarkan data kependudukan tersebut dan
perkiraan timbulan sampah 2.75 liter per orang per hari (sesuai SK SNI S04-1993, DPU 1993), maka jumlah sampah yang dihasilkan di seluruh
kota adalah sekitar 1.593 m3/hari atau sekitar 358 ton/hari (apabila
kerapatan curah 225 kg/m3). Apabila tidak ada tindakan pengurangan,
jumlah sampah akan bertambah sekitar 1,01 ton/hari.
Sampah yang ditimbulkan di Kota pontianak, berasal dari beberapa
sumber yaitu : perumahan, kawasan komersial, industri, perkantoran,
ruang terbuka publik, kawasan pertanian dan kawasan lainnya. Kawasan
hunian/perumahan dan komersial merupakan penyumbang sampah
terbesar di Kota Pontianak. Kawasan hunian/perumahan di Kota Pontianak
terdiri dari kawasan hunian tunggal, komplek perumahan dan kawasan
perkampungan tepian sungai, dimana masing-masing kategori hunian
tersebut secara umum memiliki sistem pengelolaan sampah yang
berbeda.
Sampah yang tertangani oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan
(terangkut ke TPA) Tahun 2013 rata-rata 300 ton per hari atau sekitar
1.335 m3 per hari (Tahun 2012 sekitar 1.200 m3/hari ). Volume sampah
tersebut sebagian besar (77,4 %) berasal dari rumah tangga (domestik),
14,5 % sampah pasar dan 7,9 % sampah dari perkantoran dan fasilitas
umum, serta 0,15 % sampah yang berasal dari penyapuan jalan dan
taman.
Ini berarti tingkat pelayanan persampahan mencapai 65,85 % dari
timbulan sampah. Jumlah sampah yang tertangani ini mengalami
peningkatan dari Tahun 2010 sebesar 5,95 % per tahun (lihat Tabel 11).
Peningkatan jumlah penduduk yang terlayani fasilitas persampahan yang
diswakelola ini juga mengalami peningkatan dari sekitar 62 % pada tahun
2010 menjadi 71% pada tahun 2013. Dengan angka pertumbuhan

penduduk sekitar 1,45 % per tahun (rata-rata 3 tahun terakhir), maka


optimis pengelolaan persampahan Kota Pontianak bergerak maju dengan
level of service yang semakin baik.
Bila usaha dan kinerja DKP sebagai pengelola persampahan kota dapat
dipertahankan seperti sekarang, maka diperkirakan 5 sampai 6 tahun ke
depan tingkat pelayanan bisa mencapai 100 %. Namun hal ini tentu akan
meninmbulkan permasalahan baru terkait dengan volume sampah yang
terus meningkat yang membebani TPA dan lingkungan kota secara umum,
sehingga dibutuhkan usaha-usaha dan terobosan baru untuk mengurangi
jumlah timbulan sampah.
Fasilitas pembuangan sampah di Kota Pontianak terdiri dari satu unit TPA
(tempat pembuangan sampah akhir) yang berlokasi di Batu Layang
Kecamatan Pontianak Utara, dengan luas lahan efektif 26,6 Ha. Jarak TPA
Batu Layang dari pusat Kota kurang lebih sejauh 15 km dan jarak dari
badan air penerima (Sungai Kapuas) ke TPA sekitar kurang lebih 3 km.
Kondisi Topografi TPA relative datar dan jarak TPA dengan pemukiman
penduduk kurang lebih 2 km, dengan lahan TPA yang memiliki jenis tanah
bergambut. Rata-rata sampah yang masuk ke TPA setiap harinya sekitar
300 ton/hari.
TPA Batulayang menerapkan sistem lahan urug terkendali atau controled
landfill manajemen dan open dumping dan sejak tahun 1996 telah
menampung 300.000 ton sampah yang menumpuk hampir setinggi lima
meter, ditambah masuknya sampah baru rata-rata 250-300 ton/hari.
Pengelolaan sampah dengan sistem ini memerlukan dana cukup besar.
Pemkot Pontianak berharap TPA menjadi tempat yang nyaman dan hijau.
Saat ini kondisi TPA Batulayang mulai kurang tertata, berbau, berbahaya
(mengandung gas) dan volumenya mulai berkurang karena saat
tumpukan sampah mencapai 2 meter segera ditutup dan dipadatkan lagi.
Tumpukan sampah dibagi dalam beberapa cel (cel A dan cel B) untuk
diteruskan pada tahap selanjutnya, yaitu pembakaran gas. Pengumpulan
gas yang diperoleh dapat digunakan sebagai tenaga listrik dan bahan
bakar untuk menggerakkan generator mesin sehingga tidak perlu
menggunakan solar.
Dalam proses kajian ini akan dievaluasi dan dikaji dengan seksama
system pembuangan akhir sampah di TPA akan ditinjau dengan 4 aspek
yakni aspek teknis,aspek pembiayaan, aspek kelembagaan dan aspek
lingkungan. Dengan berdasarkan metode yang digunakan dan analisis
yang relevan pada setiap aspek diharapkan akan tersusun strategi guna
mengoptimalkan penggunaan lahan TPA dengan sistem pengolahan dan
pemanfaatan sampah yang lebih baik sehingga dapat meminimalkan
permasalahan-permasalahan yang dapat memperpanjang umur pakai dari
TPA tersebut. Tidak menutup kemungkinan hasil kajian dan evaluasi ini

akan melahirkan rekomendasi untuk pemindahan lokasi TPA ini ke lokasi


baru, bila permasalahan-permasalahan di keempat aspek yang dikaji sulit
ditangani bila TPA tetap berlokasi disana.

B. DASAR HUKUM
Kebijakan-kebijakan Pemerintah yang masih ada kaitannya dengan
pengelolaan sampah di TPA adalah sebagai berikut ini :
1. Pembangunan Bidang Permukiman dalam RPJM Nasional 2004-2009
yakni Percepatan pembangunan Infrastruktur terutama pada
pembangunan persampahan dengan sasaran meningkatkan kinerja
pengelolaan TPA sampah yang berwawasan lingkungan pada semua
kota-kota metropolitan, kota besar dan sedang.
2. Arah Kebijakan dalam RPJM nasional 2004-2009 yaitu pembangunan
persampahan menciptakan iklim yang kondusif bagi dunia
usaha/sawsta untuk peran aktif dalam memberikan pelayanan
persampahan terutama pengelolaan TPA
3. Hasil Diskusi Nasional(Jakarta,10 Agustus 2005) Reposisi pencapaian
target MDGs tentang Infrastruktur Perkotaan bidang persampahan
yakni Meningkatkan kualitas TPA dan fasilitas lain untuk menjamin
pelayanan yang sesuai dengan ketentuan teknis lingkungan,
meningkatkan kapasitas pembiaayaan untuk menjamin kualitas
pelayanan yang mengarah pada pemulihan biaya pengelolaan,
meningkatkan pelayanan dengan mengedepankan peran dan
partisipasi aktif masyarakat
4. Target Diskusi nasional (target 10) yaitu Peningkatan penelitian dan
pengembangan serta aplikasi teknologi tepat guna, penyusunan
pedoman
pengelolaan
TPA
dan
penerapan
Waste
to
Energy,Optimalisasi pemanfaatan TPA dalam peningkatan kapasitas
pelayanan
melalui
peningkatan
dan
rehabilitasi
TPA
dan
pengembangan TPA regional.
5. PERMEN PU NO.21/PRT/M/2006, tentang Kebijakan dan strategi
Nasional Pengembangan sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP),
Kebijakan adalah sebagai berikut :
a. Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya.
b. Peningkatan peran aktif masyarakat dalam dunia usaha/swasta
sebagai mitra pengelolaan.
c. Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem pengelolaan.
d. Melaksanakan rehabilitasi TPA yang mencemari lingkungan.
e. Meningkatkan kualitas pengelolaanTPA kearah sanitary landfill.
f. Meningkatkan pengelolaan TPA regional.
g. Penelitian, pengembangan dan aplikasi teknologi penanganan
persampahan tepat guna dan berwawasan lingkungan.

C. MAKSUD DAN TUJUAN


Kegiatan Evaluasi Kinerja TPA Sampah Batulayang secara umum
dimaksudkan untuk merumuskan rekomendasi bagi penanganan sampah
yang lebih baik di TPA Batulayang, sehingga kinerja TPA bisa ditingkatkan
melalui pemanfaatan secara optimal seluruh potensi yang ada pada
masyarakat, pemerintah kota, dan pemerintah propinsi, serta mitra kerja
pemerintah.
Tujuan dari penyusunan
Batulayang adalah :

Kegiatan

Evaluasi

Kinerja

TPA

Sampah

1) Tersusunnya suatu solusi yang menyeluruh (komprehensif) dan


sistematis terhadap penanggulangan masalah penanganan sampah di
TPA Batulayang serta langkah-langkah prospektif dan strategis dalam
mengantisipasi masalah-masalah persampahan yang mungkin timbul
di masa yang akan dating.
2) Tersusunnya suatu Kerangka Konseptual yang bermanfaat bagi
pembuatan keputusan dalam kaitannya dengan pengelolaan sampah
di TPA Batulayang untuk instansi terkait yang bertanggung jawab
terhadap pengelolaan sampah di TPA Batulayang.
3) Tersusunnya suatu kebijakan pengelolaan persampahan yang mampu
mengarahkan, membantu dan meningkatkan partisipasi masyarakat
dan swasta pengurangan volume sampah yang harus dibawa ke TPA
Batulayang.

D.KUALITAS
Dalam melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan ini harus
dilaksanakan dengan teliti dan cermat, sehingga hasil yang diperoleh
dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

E. TANGGUNG JAWAB
Konsultan harus bertanggung jawab penuh terhadap apa yang telah
dilaksanakan. Apabila dikemudian hari terdapat sesuatu kekurangan
terhadap apa yang sudah dibuat, Konsultan berkewajiban untuk
menyempurnakannya atas biaya sendiri.

F. LINGKUP WILAYAH
Lingkup wilayah kajian ini adalah areal TPA Sampah Batulayang dengan
luas 26,6 Ha serta kawasan sekitarnya dalam radius 1 km. Wilayah kajian
ini secara administratif terletak di Kelurahan Batulayang Kecamatan
Pontianak Utara

G.LINGKUP SUBSTANSI PEKERJAAN


Lingkup pekerjaan yang tercakup dalam kerangka acuan ini adalah :
1. Persiapan
Pada tahap pekerjaan persiapan Konsultan harus melaksanakan
kegiatan sebagai berikut :
1) Koordinasi dengan direksi pekerjaan.
2) Pengumpulan data awal, data primer dan sekunder, bukubuku
referensi yang berhubungan dengan pekerjaan ini sebagai bahan
referensi medan/lapangan dan untuk penyempurnaan program kerja
sehingga akan dicapai suatu hasil pekerjaan yang maksimal.
3) Desk studi dan diskusi awal
4) Pembuatan dan penyususunan program kerja, pembagian tugas dan
pengarahan.
2. Melakukan Survey Dan Pengukuran
Kegiatan survey ini meliputi :
1) Survey Lapangan untuk mengetahui kondisi eksisting TPA
Batulayang dan sekitarnya.
2) Survey Karakteristik timbulan dan pengelolaan sampah eksisting
untuk mengetahui besarnya sampah yang ditimbulkan baik
domestic maupun non domestic dan cara-cara pengelolaan yang
telah dilakukan terutama proses pengolahan sampah di TPA
Batulayang
3) Survey fisik dan situasi serta kondisi sarana prasarana
persampahan eksisting di TPA Batulayang, meliputi pemetaan
situasi lokasi bangunan di dalam TPA Batulayang skala 1 : 500 atau
1 : 1000 dan pemetaan kawasan sekitar TPA Batulayang dalam
skala 1:5.000 atau lebih besar.
4) Survey Penjaringan Aspirasi Masyarakat dengan metode sampling
untuk mengetahui dampak operasional TPA Batulayang terhadap
kawasan sekitarnya.

5) Survey sekunder mengenai kelembagaan dan pembiayaan


pengolahan sampah secara umum dan secara khusus mengenai
kelembagaan dan pembiayaan operasional TPA Batulayang.
3. Evaluasi, Analisis dan Perencanaan Teknis, meliputi :
Evalusi dan analisis akan dilakukan setelah diperoleh data yang
dibutuhkan baik data primer maupun data sekunder. Evaluasi dan analisis
dilakukan untuk mencari jawaban dan permasalahan yang ada, meliputi
aspek teknis yakni bagaimana kemampuan TPA dalam menampung laju
pertambahan sampah, aspek pembiayaan yakni bagimana cara mencari
sumber pembiayaan untuk mengatasi biaya pengangkutan tanah urug
dan aspek kelembagaan yakni bagaimana kinerja aparat yang ada dalam
menangani pengelolaan persampahan di Kota .
a. Analisa kuantitatif
Merupakan analisis yang berupa hitungan-hitungan secara kuantitatif
dengan menggunakan metode-metode tertentu untuk menilai suatu
data terukur yang selanjutnya diinterpretasikan secara kualitatif
b. Analisis kualitatif
Merupakan analisis yang berupa deskriptif untuk menjelaskan hal-hal
yang tidak terukur yang tidak dijelaskan secara kualitatif
Sebelum analisis kualitatif dan analisis kuantitatif dilaksanakan perlu
ada suatu komposisi yang bisa dipakai dan diterapkan dalam
mengurangi laju timbulan sampah di TPA yang terkait dalam
pengelolaan TPA yakni dalam mengatasi masalah usia dari TPA
tersebut yaitu memperpanjang masa pakai TPA.
c. Analisis SWOT
SWOT merupakan alat (tool) yang dapat dipakai untuk analisis
kualitatif. SWOT dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan
menganalisis berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan
strategi pemerintah di dalam mengelola daerahnya. Analisis ini dapat
didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan
dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats)
(Rangkuti, 2004).
Pola pikir sederhana strategi SWOT adalah ketika kita mengetahui
kekuatan dan kelemahan diri sendiri (internal) maka peluang yang ada
dapat diraih dan ancaman yang akan timbul bisa diantisipasi
(eksternal). Faktor kekuatan dan kelemahan merupakan faktor internal

sedangkan peluang dan ancaman merupakan faktor eskternal yang


dihadapi oleh organisasi/instansi. Adapun yang dimaksud dengan
faktor SWOT adalah:

Faktor kekuatan adalah antara lain kompetensi yang terdapat dalam


organisasi yang berakibat pada pemilikan keunggulan komparatif
oleh suatu organisasi
Faktor kelemahan adalah keterbatasan/ kekurangan dalam hal
sumber keterampilan dan kemampuan yang menjadi penghalang
serius bagi penampilan kinerja organisasi. Dalam praktek berbagai
keterbatasan dan kekurangan kemampuan bisa terlihat pada sarana
dan prasarana yang dimiliki/tidak dimiliki bahkan kemampuan
manajerial yang rendah.
Faktor peluang adalah berbagai situasi lingkungan yang
menguntungkan bagi suatu satuan organisasi. Yang dimaksud
antara lain perubahan dalam kondisi persaingan dan perubahan
dalam peraturan dan perundang-undangan yang membuka bagi
kesempatan baru dalam setiap kegiatan.
Faktor ancaman adalah merupakan kebalikan pengertian peluang,
dengan demikian dapat dikatakan ancaman adalah faktorfaktor
lingkungan yang tidak menguntungan bagi suatu satuan organisasi.

H.PENYUSUNAN LAPORAN
Konsultan harus membuat
pekerjaannya sebagai berikut :

dan

menyerahkan

laporan

produk

1) Laporan Pendahuluan
Laporan ini berupa hasil pengumpulan data, hasil peninjauan
pendahuluan ke lapangan, program kerja Konsultan, hasil pekerjaan
yang sudah dikerjakan dan masalah yang ada untuk didiskusikan
sebanyak 1 (satu) buku asli dan 4 (empat) buku copy kepada Direksi
Pekerjaan. Diskusi tersebut berupa seminar dengan mengundang Tim
Teknis yang ditunjuk oleh Direksi dan stakeholder lainnya yang
sekiranya perlu untuk memberikan masukanmasukan demi lebih
baiknya output yang akan dihasilkan.
2) Draft Laporan Akhir
Draft Laporan Akhir yang harus diserahkan pihak konsultan adalah 1
(satu) buku asli dan 9 (sembilan) buku copy. Draft Laporan akhir adalah
merupakan konsep yang direncanakan oleh konsultan dan akan
dikonsultasikan dengan direksi dan para pengambil keputusan serta
tim Teknis.

4. Laporan Akhir
Laporan harus berisikan semua perbaikan dan penyempurnaan dari
Draft Laporan Akhir yang telah didiskusikan dengan Direksi Pekerjaan.
Jumlah Laporan Akhir yang harus diserahkan adalah 1 (satu) buku Asli
dan 9 (sembilan) buku copy. Laporan akhir ini dilengkapi dengan
gambar-gambar perencanaan meliputi :

Gambar peta situasi detail skala 1 : 500 atau 1 : 1.000


Peta ini digambar dengan koordinat yang sesuai dengan kaidahkaidah dalam teknologi Geografis Informasi System berbasiis Map
Info / Arc Info

Gambar Detail skala 1 : 50, atau 1 : 20 atau 1 : 10

Gambar Perencanaan yang harus diserahkan oleh Konsultan berupa 5


(Lima) Set gambar A3
5. Laporan Digital Dalam CD
Merupakan rekaman softcoy dari seluruh laporan yang disampaikan
kepada direksi yang berjumlaj 3 (Tiga) Buah.

I. PERSONIL
a) Tenaga Profesional
i) Ketua Tim merangkap Ahli Perencanaan Prasarana Perkotaan : 1
(satu) orang
Lulusan Sarjana Teknik Lingkungan merangkap ahli lingkungan /
persampahan dengan pengalaman kerja profesional sedikitnya 7
(tujuh) tahun dalam perencanaan system pengelolaan persampahan
kota. Pemimpin tim harus mengkoordinir pekerjaan dari tim dan
menentukan standar yang seragam untuk pekerjaan yang dilakukan
oleh anggota tim.
ii) Tenaga Ahli Lingkungan Hidup : 1 (satu) orang
Lulusan Sarjana Biologi atau Sarjana Teknik Lingkungan dengan
pengalaman kerja minimal 4 (empat) tahun dalam Analisis Dampak
Lingkungan.
iii) Tenaga Ahli Kelembagaan : 1 (satu) orang

Lulusan Sarjana Sosial dengan pengalaman kerja minimal 4 (empat)


tahun dalam kegiatan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat
.
iv) Tenaga Ahli Analisis Pembiayaan : 1 (satu) orang
Lulusan Sarjana Ekonomi dengan pengalaman kerja minimal 4
(empat) tahun dalam analisis dan perencanaan pembiayaan
pengembangan prasarana kota dan atau kawasan.
b) Staf Pendukung
i) Staf Administrasi
ii) Operator Komputer
iii) Surveyor
iv) Juru Gambar (Draftman)

J. WAKTU PELAKSANAAN
Waktu pelaksanaan yang disediakan untuk menyelesaikan pekerjaan ini
adalah 90 (sembilan puluh) hari kalender.

K. PEMBIAYAAN
Biaya
pelaksanaan
pekerjaan
ini
dbebankan
pada
Anggaran
Pembangunan dan Belanja Daerah Kota Pontianak Tahun Anggaran 2015
melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah Kota Pontianak.