Anda di halaman 1dari 8

PENGOLAHAN NIKEL

LAPORAN
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pengantar Rekayasa dan Desain

oleh

SOBIT APRILIANA (16413164)

FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMIYAKAN


INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2013

PENGOLAHAN BIJIH NIKEL


I. PREPARASI
Preparasi merupakan proses awal dalam pengolahan bahan galian yang
meliputi :
1.1 Sampling
Sampling merupakan pengidentifikasian bahan galian baik sifat fisik, kimia,
kemagnetan, serta kelistrikan dari mineral yang terkandung dalam bahan galian
diantaranya macam dan komposisi mineral dalam bahan galian, Kadar masingmasing mineral dalam bahan galian, besar ukuran dan distribusi ukuran, distribusi
mineral-mineralnya, macam dan tipe ikatan mineral-mineralnya, derajat liberasi
mineral-mineralnya, sifat-sifat fisik mineralnya seperti berat jenis, kemagnetan,
konduktivitas listrik, sifat-sfat permukaan mineralnya dan sebagainya.
1.2 Kominusi
Kominusi adalah suatu proses untuk mengubah ukuran suatu bahan galian
menjadi lebih kecil, hal ini bertujuan untuk memisahkan atau melepaskan bahan
galian tersebut dari mineral pengotor yang melekat bersamanya. Kominusi bahan
galian meliputi kegiatan berikut :
a. Crusher
Crusher yaitu suatu proses yang bertujuan untuk meliberalisasi mineral
yang diinginkan agar terpisah dengan mineral pengotor yang lain. Dimana proses
ini bertujuan juga untuk reduksi ukuran dari bahan galian / bijih yang langsung
dari tambang (ROM = run of mine) dan berukuran besar-besar (diameter sekitar
100 cm) menjadi ukuran 20-25 cm bahkan bisa sampai ukuran 2,5 cm. Alat yang
digunakan pada Primary Crusher dan Secondery Crusher yaitu antara lain: Jaw
crusher, Gyratory crusher, Cone crusher, Roll crusher, Impact crusher, Rotary
breaker, dan Hammer mill.
b. Grinding
Grinding merupakan tahap pengurangan ukuran dalam batas ukuran halus
yang diinginkan. Tujuan grinding yaitu mengadakan liberalisasi mineral berharga,
mendapatkan ukuran yang memenuhi persyaratan industri, mendapatkan ukuran
yang memenuhi persyaratan proses. Alat yang digunakan meliputi ball mill,
hammer mill, impactor.

1.3 Sizing
Sizing merupakan proses pemilahan bijih yang telah melalui proses kominusi
sesuai ukuran yang dibutuhkan. Kegiatan sizing meliputi screening yaitu salah
satu pemisahan berdasarkan ukuran adalah proses pengayakan (screening). Sizing
dibagi menjadi dua antara lain :
a. Pengayakan / Penyaringan (Screening / Sieving)

Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik


berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam
skala industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.

Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu:


a.1 Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
a.2 Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan
(undersize).
b. Klasifikasi (Classification)
Klasifikasi adalah proses pemisahan partikel berdasarkan kecepatan
pengendapannya dalam suatu media (udara atau air). Klasifikasi dilakukan dalam
suatu alat yang disebut classifier.
Produk dari proses klasifikasi ada 2 (dua), yaitu antara lain:
b.1 Produk yang berukuran kecil/halus (slimes) mengalir di bagian atas
disebut overflow.
b.2 Produk yang berukuran lebih besar/kasar (sand) mengendap di bagian
bawah (dasar) disebut underflow.
Proses pemisahan dalam classifier dapat terjadi dalam tiga cara (concept)
yaitu : Partition concept, Tapping concept, dan Rein concept.

II. PROSES EKSTRAKSI NIKEL


Proses metalurgi untuk mengolah nikel ada dua jalur; pirometalurgi dan
hidrometalurgi. Pirometalurgi merupakan proses peleburan nikel yang dilakukan
pada suhu relative tinggi, sedangkan hidrometalurgi adalah proses ekstraksi,
pemurnian dan daur ulang (recycling) logam dengan menggunakan larutan
aqueous. Beberapa jalur pemurnian dilakukan baik dari jalur pirometalurgi
kembali atau melalui proses elektrometalurgi (melalui proses elektrolisis dengan
memanfaatkan energy listrik). Pemilihan proses pengolahan nikel ini tergantung
dari beberapa aspek, seperti kadar nikel dalam bijih dan kondisi mineral (yaitu
kandungan pengotor).
2.1 Peleburan
Proses pirometalurgi nikel laterit dilakukan dengan melebur bijih nikel yang
bertujuan memisahkan nikel dari pengotornya. Tahap awal yang dilakukan adalah
kalsinasi dan reduksi konsentrat. Kalsinasi bertujuan untuk mengubah senyawa
nikel oksida menjadi logam. Proses peleburan lanjutan dilakukan di tanur. Proses
ini secara umum merupakan proses ekstraksi logam dengan produksi paling
banyak, namun, menghabiskan banyak energy dan menghasilkan gas polusi yang
berlimpah.
Proses pirometalurgi terbagi atas 5 proses, yaitu :
a. Drying (Pengeringan)
Drying adalah proses pemindahan panas kelembapan cairan dari material.
Pengeringan biasanya sering terjadi oleh kontak padatan lembap dengan
pembakaran gas yang panas oleh pembakaran bahan bakar fosil. Pada beberapa
kasus, panas pada pengeringan bisa disediakan oleh udara panas gas yang secara
tidak langsung memanaskan. Biasanya suhu pengeringan di atur pada nilai diatas
titik didih air sekitar 120C. Pada kasus tertentu, seperti pengeringan air garam
yang dapat larut, suhu pengeringan yang lebih tinggi diperlukan.

b. Calcining (Kalsinasi)
Kalsinasi adalah dekomposisi panas material, contohnya dekomposisi
hydrate seperti ferric hidroksida menjadi ferric oksida dan uap air atau
dekomposisi kalsium karbonat menjadi kalsium oksida dan karbon diosida dan
atau besi karbonat menjadi besi oksida. Proses kalsinasi membawa dalam variasi
tungku/furnace termasuk shaft furnace, rotary kilns dan fluidized bed reactor.
c. Roasting (Pemanggangan)
Adalah pemanasan dengan kelebihan udara dimana udara dihembuskan
pada bijih yang dipanaskan disertai penambahan regen kimia dan pemanasan ini
tidak mencapai titik leleh (didih).
d. Smelting
Smelting adalah proses peleburan logam pada temperature tinggi sehingga
logam leleh dan mencair setelah mencapai titik didihnya
e. Refining (Pemurnian)
Permunian adalah pemindahan kotoran dari material dengan proses panas.
2.2 Hidrometalurgi
Pada umumnya, proses hidrometalurgi meliputi dua tahap, yaitu pelindian dan
pemerolehan kembali logam dari larutan hasil pelindian. Pelindian merupakan
proses pelarutan selektif dengan hanya melarutkan logam berharga tertentu saja
dalam konsentrat tanpa melarutkan pengotornya, mineral pengotor ini tetap
berbentuk solid. Untuk mengendapkan logam tertentu dari hasil pelindian
kemudian dilakukanlah perolehan. Diharapkan agar konsentrasi logam tertentu
dapat ditingkatkan hingga level tertentu dan konsentrasi pengotornya dapat
diminimalkan sehingga proses pada tahap selanjutnya dapat berlangsung dengan
efisien.
Secara garis besar, proses hidrometalurgi terdiri dari tiga tahapan yaitu:
a. Leaching atau pengikisan logam dari batuan dengan bantuan reduktan
organik.
b. Pemekatan larutan hasil leaching dan permurniannya.
c. Recovery yaitu pengambilan logam dari larutan hasil leaching.

III. PEMADUAN DAN PEMBENTUKAN NIKEL


Nikel (Ni) adalah logam perak-putih yang ditemukan pada tahun 1751 dan
unsur paduan utama yang memberikan kekuatan, ketangguhan, dan ketahanan
korosi, biasanya digunakan secara luas pada baja stainless dan paduan berbasis
nikel (yang biasa disebut superalloy). Paduan nikel digunakan pada aplikasi
temperatur tinggi (seperti komponen mesin jet, roket, dan pembangkit listrik
tenaga nuklir), dalam penanganan makanan dan peralatan pengolahan kimia, koin,
dan dalam perangkat kapal laut. Karena nikel mempunyai sifat magnetik, paduan
nikel juga digunakan dalam aplikasi elektromagnetik, seperti solenoida.
Penggunaan utama nikel yaitu sebagai logam untuk electroplating dari part untuk
permukaannya dan untuk peningkatan ketahanannya terhadap korosi dan keausan.
Paduan nikel memiliki kekuatan tinggi dan tahan korosi pada temperatur tinggi.

Pemaduan unsur nikel kromium, kobalt, dan molibdenum. Sifat paduan nikel
dalam mesin, pembentuk, casting, dan pengelasan dapat dimodifikasi dengan
berbagai unsur paduan lainnya.
Superalloy sangat penting untuk aplikasi temperatur tinggi, oleh karena
itu, disebut sebagai paduan tahan suhu panas atau tinggi. Superaloy umumnya
memiliki ketahanan yang baik terhadap korosi, kelelahan mekanis dan termal,
getaran mekanik dan termal, rambatan, dan erosi pada temperatur tinggi. Aplikasi
utama dari superalloy adalah untuk mesin jet dan turbin gas. Aplikasi lain mesin
torak, mesin roket, alat-alat dan cetakan untuk perlakuan panas logam, nuklir,
kimia, dan industri petrokimia. Secara umum, superalloy diidentifikasi dengan
nama dagang atau sistem penomoran khusus, dan tersedia dalam berbagai bentuk.
Kebanyakan superalloy memiliki ketahanan suhu maksimum sekitar 1000 o C
dalam aplikasi struktural. Suhu dapat setinggi 1.200o C untuk komponen bantalan
non beban.
Superaloy terdiri dari berbasis besi, berbasis kobalt, atau berbasis nikel:
1. Superalloy berbasis Besi
Pada umumnya superalloy berbasis besi mengandung 32-67% Fe, dari 15
sampai dengan 22% Cr, dan 9-38% Ni. Paduan umum dalam kelompok ini adalah
seri incoloy.
2. Superalloy berbasis Cobalt
Pada umumnya superalloy berbasis cobalt mengandung 35-65% Co, dari 19
menjadi 30% Cr, dan naik 35% Ni. Superalloy ini tidak sekuat superalloy berbasis
nikel, tetapi mereka mampu mempertahankan kekuatan mereka pada suhu yang
lebih tinggi.
3. Superalloy berbasis Nikel
Superalloy berbasis Nikel adalah yang paling umum dari superalloy, dan
mereka tersedia dalam berbagai macam komposisi (tabel 6.9). komposisi nikel
adalah 38-76%. Mereka juga mengandung 27% Cr dan 20% paduan Co. Biasanya
paduan dalam kelompok ini adalah Hastelloys, Inconel, Nimonic, Rene, udimet,
astroloy, dan seri waspaloy.
a. Stainless Steel (SS)
Stainless Steel (SS) adalah baja(gambar
dengan sifat ketahanan korosi yang sangat
tinggi di berbagai kondisi lingkungan.
Nikel digunakan sebagai
6.9)
unsur penstabil austenit, yang berarti
penambahan nikel pada besi paduan
mempromosikan perubahan struktur
kristal dari bcc (ferritic) ke fcc
(austenitic). Jadi nikel digunakan
untuk
menaikkan
kekuatan,
memperbaiki sifat kelelahan dan
meningkatkan keuletan besi.
Penambahan nikel menunda
pembentukan fasa intermetalik yang merusak pada austenitic ss tetapi nikel
kurang efektif dibanding nitrogen pada DSS. Sruktur fcc membuat austenitic

stainless steels memiliki ketangguhan tinggi. Kehadirannya dari sekitar setengah


struktur mikro duplex meningkatkan ketangguhan duplex dibanding Ferritic SS.
b. Copper-Nikel-Silikon Alloys
Jika Nikel dan Silikon dalam perbandingan 4 : 1, yaitu 4 bagian Nikel dan 1
bagian Silikon dipadukan di dalam Copper (Tembaga) pada Temperatur tinggi
maka akan terbentuk sebuah unsur yang disebut Nikel Silicide (Ni 2Si) dan pada
temperatur rendah paduan ini akan sesuai untuk pengendapan dalam perlakuan
panas, dimana proses pelarutan akan diperoleh dalam proses quenching dari
temperatur 7000C dan akan diperoleh sifat paduan tembaga yang lunak dan ulet,
Kemudian dilanjutkan dengan memberikan pemanasan pada Temperatur 4500C
maka akan meningkatkan kekerasan serta tegangan dari paduan tembaga tersebut.
Persentase kadar nikel dan silikon ini disesuaikan dengan kebutuhan dari sifat
yang dihasilkannya, biasanya diberikan antara 1 % hingga 3 % . Paduan tembaga
sehingga akan memiliki sifat thermal dan electrical conductivity yang baik dan
tahan terhadap pembentukan kulit dan oxidasi serta dapat mempertahankan sifat
mekaniknya pada temperatur tinggi dalam jangka waktu yang lama.
c. Nikel Silver
Nikel Silver sebenarnya tidak mengandung unsur Silver, penamaan ini
dikarenakan penampilan dari paduan ini menyerupai silver. Komposisinya
terdiri atas Copper, Nikel dan Seng (Zinc). Semua paduan dari jenis ini dapat
dikerjakan atau dibentuk dengan pengejaan dingin (cold working), akan tetapi
dengan meminimalkan tingkat kemurniannya paduan ini juga memungkinkan
untuk pengerjaan panas (hot working). Nikel silver mengandung kadar tembaga
antara 55 % sampai 68 % dan paduan dengan kadar nikel antara 10 % hingga 30
% banyak digunakan dalam pembuatan sendok dan garpu. Paduan yang dibuat
dalam bentuk plat dengan tipe EPNS sebagai derajat kesatu dengan kadar nikel 18
% digunakan sebagai bahan pegas pada kontaktor peralatan listrik.

IV. APLIKASI PENGGUNAAN NIKEL

Nikel digunakan dalam berbagai aplikasi komersial dan industri, seperti :


pelindung baja (stainless steel), pelindung tembaga, industri baterai, elektronik,
aplikasi industri pesawat terbang, industri tekstil, turbin pembangkit listrik
bertenaga gas, pembuat magnet kuat, pembuatan alat-alat laboratorium (nikrom),
kawat lampu listrik, katalisator lemak, pupuk pertanian, dan berbagai fungsi lain
(Gerberding J.L., 2005)