Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.
Shalat sudah diatur dalam ilmu fiqih, shalat harus sesuai dengan
tuntunan

Nabi

Muhammad

SAW. Baik

yang

menyangkut

tentang

rukun/sunnah qauliyah maupun filiyah. Hal ini memang sudah ditegaskan


oleh Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa beliau
pada suatu kesempatan shalat berjamaah di atas mimbar takbir dengan keras,
lalu ketika sujud beliau turun ke belakang agar terlihat oleh para makmumnya.
Setelah selesai shalat beliau bersabda: 'Saudara-saudara! Sesungguhnya aku
lakukan ini agar kalian bisa jelas dalam bermakmum kepadaku, dan agar
kalian mempelajari cara shalatku.Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Bani:
Muslim: 2/74.
Oleh karena itu shalat wajib dikerjakan sesuai syarat dan rukunnya.
Dalam keadaan mukim maupun sedang bepergian. Dalam keadaan sehat
maupun dalam keadaan sakit, sepajang masih dalam keadaan sadar (terjaga).
Berakitan dengan hal tersebut, dalam proses pembelajaran peserta
didik diberi pelajaran shalat sampai betul. Baik shalat fardu yang munfarid
maupun berjamaah, shalat jamak dan qasar (di atas kendaraan, dan shalat
dalam keadaan sakit/berbaring).
Dalam beberapa kasus, masih banyak peserta didik yang belum bisa
(masih bingung), shalat ketika wisata. Atau ketika bepergian ke luar kota
dengan menggunakan kendaraan umum. Bahkan ketika sedang sakit, sehingga
tidak shalat. Padahal ketika wisata atau bepergian bersama keluarga ke luar
kota bisa shalat diatas kendaraan. Shalat dengan dijamak sekaligus qasar,
sehingga menghemat waktu. Atau kalau sedang sakit bisa sambil berbaring.
Shalat yang benar, baik dalam keadaan mukim, bepergian, maupun
sakit tetap sesuai syarat dan rukunnya, syarat wajib shalat antara lain:
Islam. balig (dewasa) berakal sehat. Suci dari hadas besar dan
kecil. Telah sampai dakwah kepadanya. Sedangkan syarat sah shalat
meliputi: Telah masuk waktunya. Jaga (tidak tidur dan lupa) Syarat sah

salat yaitu: Suci. (yaitu badan, tempat, pakaian dari najis, hadas besar dan
kecil). Salat pada waktunya masing-masing. Menutup aurat (laki-laki
antara pusar dan lutut sedang perempuan seluruh tubuh kecuali muka dan
telapak tangan). Menghadap kiblat. Yasin. E.J: 2007: 80.
Bagaimana cara berwudu yang akan shalat di atas kendaraan atau kita
sedang sakit yang tidak memungkinkan untuk berdiri/berjalan. Kalau
keadaannya demikian, maka wudu diganti dengan tayamum, seperti
disebutkan dalam QS. Al Maidah (5): 6:
6. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai
dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan
kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu
sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air
(kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air,
maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu
dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu,
tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya
bagimu, supaya kamu bersyukur.
[403]. Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.
[404]. Artinya: menyentuh. Menurut jumhur ialah: menyentuh
sedang sebagian mufassirin ialah: menyetubuhi. (Al Quran dan
Terjemahnya versi 1.2. 2003. Buku digital. Diunggah: down load: 2009).
Sedangkan rukun shalat adalah sebagai berikut:
Niat. Berdiri bagi yang mampu. Takbiratul ihram. Membaca
Fatihah. Rukuk dengan tumakninah (diam sebentar). Iktidal dengan
tumakninah. Sujud dengan tumakninah. Duduk diantara dua sujud dengan
tumakninah (duduk iftiras = duduk selain tahyat akhir). Duduk akhir
(duduk tawaruk = duduk saat tahiyat akhir). Membaca tasyahud akhir.
Membaca salawat nabi. Mengucapkan salam yang pertama (menoleh ke
kanan). Tertib (berurutan). Yasin. E.J: 2007: 81.
Idealnya shalat dilakukan sehari semalam 5 waktu, dilaksanakan tepat
waktu, seperti dijelaskan dalam QS. Al Isra (17): 78. Jumlah rakaatnya harus
tepat, misalnya zuhur 4 rakaat, mahgrib 3 rakaat.
78. Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai
gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh[865]. Sesungguhnya
shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

[865]. Ayat ini menerangkan waktu-waktu shalat yang lima.


Tergelincir matahari untuk waktu shalat Zhuhur dan Ashar, gelap malam
untuk waktu Magrib dan Isya. (Al Quran dan Terjemahnya versi 1.2. 2003.
Buku digital. Diunggah: down load: 2009).
Namun demikian apabila dalam perjalanan atau dalam keadaan takut
dan sakit boleh shalat dengan duduk atau berbaring, dan boleh dijamak (shalat
tidak tepat pada waktunya, dengan syarat yang ditentukan) atau diqasar,
sehingga jumlah rakaatnya yang seharusnya 4 rakaat menjadi 2 rakaat. seperti
dijelaskan dalam QS An Nisa (4): 101.
101. Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah
mengapa kamu men-qashar[343] sembahyang(mu), jika kamu takut
diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah
musuh yang nyata bagimu.
[343]. Menurut pendapat jumhur arti qashar di sini ialah:
sembahyang yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Mengqashar di sini
ada kalanya dengan mengurangi jumlah rakaat dari 4 menjadi 2, yaitu di
waktu bepergian dalam keadaan aman dan ada kalanya dengan
meringankan rukun-rukun dari yang 2 rakaat itu, yaitu di waktu dalam
perjalanan dalam keadaan khauf. Dan ada kalanya lagi meringankan
rukun-rukun yang 4 rakaat dalam keadaan khauf di waktu hadhar. (Al
Quran dan Terjemahnya versi 1.2. 2003. Buku digital. Diunggah: down
load: 2009).
Dan dijelaskan pula dalam Qs An Nisa (4): 103
103. Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah
Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian
apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana
biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya
atas orang-orang yang beriman. (Al Quran dan Terjemahnya versi 1.2.
2003. Buku digital. Diunggah: down load: 2009).
Sedang shalat jamak dijelaskan dalam hadis Riwayat Imam Malik dari
Nafi, bahwasanya bia para amir menjamak shalat Mahgribdan Isya saat hujan
lebat maka Abdullah bin Umar ikut jamak bersama mereka. Yasin.E.J. 2007:
171.

Peserta didik juga masih ada yang belum mengerti bahwa shalat bagi
yang sakit boleh dalam keadaan berbaring. Melakukan rukun/sunnah filiyah
tidak harus seperti orang yang sehat, boleh dengan isyarat semampunya.
Dalam situasi yang kondusif shalat dilakukan dengan berdiri, tapi
karena sedang sakit atau di atas kereta api boleh sambil duduk. Demikian juga
ketika melakukan rukuk, kalau dalam keadaan duduk, cukup membukukkan
badan sewajarnya. Sedang dalam keadaan berbaring dengan isyarat
secukupnya. Demikian seterusnya dalam melakukan duduk tahiyat akhir,
karena di atas kendaraan boleh dengan posisi duduk di atas kursi. Dan bagi
yang shalat dengan berbaring, duduk tahiyat akhir dengan berbaring saja.
Prioritas utama peserta didik harus paham dan bisa shalat fardu, namun
perlu diajarkan juga cara shalat dalam keadaan sakit atau di perjalanan (shalat
di tempat shalat). Dan diparjalanan yang shalat di atas kenadaraan. Untuk cara
shalat di atas kendaraan dan dalam keadaan sakit, perlu mendapat perhatian
yang sungguh-sungguh. Karena sesuai pengalaman peneliti, ketika sekolah
mengadakan wisata ke luar kota masih banyak yang kurang paham tentang
shalat jamak qasar (di tempat shalat) dan shalat di atas kendaraan.
Selanjutnya dalam proses pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) khususnya di SMP khususnya pada materi shalat, dapat
dipaparkan beberapa tantangan maupun hambatannya. Adapun tantangan
maupun hambatannya antara lain adalah:
1. Rentang waktu yang terbatas dan cakupan materi shalat yang cukup
banyak.
Mengapa demikian, karena di kelas 7 terdapat materi shalat yang
cukup banyak antara lain yaitu: a. Shalat Fardu, b. Shalat Jamaah dan
Munfarid, c. Shalat Jamak dan Qasar, d. Shalat Jumat. Dalam pelaksanaan
proses pembelajaran yang mengarah kepada pemahaman konsep dan
penerapan. Sementara itu masih banyak peserta didik yang di rumah tidak
shalat, termasuk orang tua/wali murid yang bersangkutan.

Untuk melaksanakan pembelajaran dengan hasil akhir pada


pemahaman konsep, peneliti tidak terlalu mengalami banyak hambatan.
Karena sudah disiapkan diktat, dan peserta didik dapat memperbanyak
sendiri. Sehingga proses pembelajaran dan ulangan dapat berlajan dengan
cepat dan tidak terlalu lama.
2. Beberapa peserta didik (walaupun mereka sudah bisa dan biasa shalat)
dalam pengucapan lafal doa shalat masih ada yang salah, terutama pada
mahorijul huruf dan fasohahnya.
3. Beberapa peserta didik (walaupun mereka sudah bisa dan biasa shalat)
dalam mengerjakan rukun/sunnah filiyah, masih ada yang salah.
4. Beberapa peserta didik (walaupun mereka sudah bisa dan biasa shalat)
masih ada yang belum paham tentang praktik/pelaksanaan shalat jamak
qasar (di tempat shalat) dan shalat di atas kendaraan, dan shalat dalam
keadaan berbaring (karena sakit).
5. Kesulitan dalam mengamati dan menilai pada ranah afektif.
Penilaian penerapan/afektif, penilaian ini memang memiliki
tantangan tersendiri. Bahkan kalau dibilang penilaian yang paling sulit.
Karena selain harus dilakukan secara terus-menerus. Selain itu untuk
mengamati peserta didik yang shalat/tidak dalam jumlah yang banyak
mengalami kendala tersendiri, Karena itu khusus pada materi yang
berkaitan dengan materi shalat, peneliti memandang bukan perkara mudah.
Yang namanya anak, walaupun sudah bisa shalat ketika waktu shalat tiba
belum tentu shalat. Belum jaminan peserta didik yang sudah bisa shalat,
nilai pemahaman konsepnya lulus, akan rajin shalat.
Dari beberapa persoalan mendasar tersebut, peneliti tidak mungkin
melaksanakan penelitian semuanya. Namun fokus pada satu persoalan, yaitu
pada kompetensi gerakan (rukun, sunnah filiyah) shalat. Hal ini dimaksudkan
agar lebih komprehensip, tidak terlalu luas dan hasilnya lebih baik.
Pada kesempatan ini, kami mengadakan penelitian dengan judul
KOLABORASI METODE DEMONSTRASI DENGAN PICTURE AND
PICTURE UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATERI

SHALAT DI KELAS 7H SMP NEGERI 1 SEMPOR KABUPATEN


KEBUMEN. Mencoba menggunakan Metode Demonstrasi dikolaborasikan
dengan metode picture and picture dalam proses pembelajaran materi shalat.
Dengan penelitian ini diharapkan peserta didik dapat belajar gerakan shalat
dengan benar. Sehingga dapat meningkatkan pemahaman teradap materi
materi shalat.
Metode demonstrasi dikolaborasikan dengan metode picture and
picture diharapkan akan membawa pengaruh yang positif bagi peserta didik,
yaitu:
1. Bagi peserta didik yang sudah memiliki kemampuan shalat, akan
meningkatkan kemampuan mereka, karena akan melihat peragaan yang
ditampilkan guru (baik secara langsung maupun melalui media) sudah
sesuai dengan cara gerakan shalat yang benar.
2. Bagi peserta didik yang belum memiliki kemampuan shalat, akan
terdorong untuk menirukan gerakan shalat dengan benar. Sehingga merasa
nyaman untuk belajar shalat karena ada bimbingan peragaan gerakan
shalat dari guru, baik secara langsung maupun melalui media.
B. Identifikasi Masalah.
Tujuan akhir dari proses pembelajaran materi shalat adalah, pertama:
muratul (terjaga) huruf (baik huruf, makhorijul huruf, sifat-sifat huruf Al
Quran) muraatul kharakat, muraatul ayat sesuai hukum bacaan Al
Quran/Tajwid ketika melafalkan doa shalat. Yang kedua: peserta didik dapat
mengerjakan shalat dengan gerakan (rukun, sunnah filiyah) shalat yang benar
sesuai qaidah fiqh. Yang ketiga peserta didik dapat mengerjakan shalat dengan
kesadaran sendiri, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Dari pengamatan peneliti dalam proses pembelajaran materi shalat
terdapat beberapa kasus yang layak diangkat dalam penelitian ini, antara lain:
1. Sebagian peserta didik telah dapat membaca doa dalam shalat, namun
belum muratul (terjaga) huruf (baik huruf, makhorijul huruf, sifat-sifat

huruf Al Quran) muraatul kharakat, muraatul ayat. Juga dalam


melakukan rukun/sunnah filiyah masih terdapat beberapa kekurangan.
2. Sebagian peserta didik melakukan kesalahan secara mutlak dalam
melakukan shalat (baik rukun maupun sunnah).
Dengan refleksi diri, kaji literatur dan diskusi dengan pengamat dapat
diketahui bahwa faktor penyebab rendahnya prestasi belajar peserta didik
dalam materi shalat, terutama pada rukun/sunnah filiyah (gerakan shalat),
adalah:
1.
2.

Metode pembelajaran yang digunakan tidak tepat.


Guru hanya memberi contoh secara singkat tentang materi shalat, terutama

3.

pada rukun/sunnah filiyah (gerakan shalat).


Guru tidak menggunakan media/peraga dalam proses pembelajaran materi

4.

shalat, terutama pada rukun/sunnah filiyah (gerakan shalat).


Guru tidak memberi kesempatan yang banyak kepada peserta didik untuk
mencoba menirukan tentang materi shalat, terutama pada rukun/sunnah

5.

filiyah (gerakan shalat).


Guru tidak melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses
pembelajaran materi shalat, terutama pada rukun/sunnah filiyah (gerakan
shalat).
Kalau dicermati lebih lanjut terdapat beberapa kesalah pada gerakan
(rukun, sunnah filiyah) shalat. Kesalahan pertama adalah ketika melakukan
cara mengangkat tangan ketika takbiratul ikhram, menduduki kesalahan
tertinggi. Kesalahan kedua adalah ketika melakukan duduk iftirasy dan
tawaruk. Kesalahan ketiga adalah ketika melakukan sujud. Kesalahan keempat
adalah ketika rukuk dan bersedakep.
Dari hasil ulangan harian Kompetensi Dasar Materi Shalat khususnya
pada gerakan shalat, sebanyak 19 peserta didik dari 32 di kelas 7H yang lulus
berdasarkan Ketentuan Kelulusan Minimal (KKM) mata pelajaran PAI yaitu
nilai sama dengan 75 atau lebih sebanyak 19 peserta didik (48,72 %). Dengan
nilai tertinggi 87 dan nilai terendah 65. (Data Hasil Nilai tahun pembelajaran
2011/2012).

Berdasarkan hal tersebut peneliti meminta bantuan pengamat untuk


membantu mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan.
Dari hasil diskusi terungkap beberapa masalah yang terjadi dalam
pembelajaran, yaitu:
1.

Rendahnya tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi shalat,

2.

terutama pada rukun/sunnah filiyah (gerakan shalat).


Rendahnya minat belajar peserta didik terhadap materi shalat, terutama

3.

pada rukun/sunnah filiyah (gerakan shalat).


Rendahnya partisipasi peserta didik terhadap materi shalat, terutama pada
rukun/sunnah filiyah (gerakan shalat) ketika proses pembelajaran
berlangsung.
C. Pembatasan Masalah
Masalah yang telah diidentifikasi tersebut tidak akan dibahas
keseluruhan karena mengingat keterbatasan peneliti mengenai waktu dan
tenaga. Dalam penelitian ini hanya akan dibahas mengenai:
1. Peningkatan prestasi belajar peserta didik dalam materi shalat, terutama
pada rukun/sunnah filiyah (gerakan shalat).
2. Minat peserta didik yang rendah dalam belajar materi shalat, terutama
pada rukun/sunnah filiyah (gerakan shalat).
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan hal tersebut maka dapat dirumuskan masalahnya untuk
menjadi fokus perbaikan proses pembelajaran, adalah berikut ini Bagaimana
peningkatan prestasi belajar peserta didik Kelas 7 H pada materi shalat,
dengan menggunakan metode demonstrasi dikolaborasikan dengan metode
picture and picture.
E. Pemecahan Masalah
Penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dengan bagan
yang berbeda namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim

Putaran 1

Putaran 2

Putaran 3

dilalui yaitu: perencanaan, pelaksanaan/tindakan, pengamatan, dan refleksi.


Arikunto, Suharsimi dkk: 2010: 16. Langkah pada siklus berikutnya adalah
perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Siklus
dari tahap-tahap penelitian tindakan yaitu:
Gambar 01: Alur PTK

Refleksi

Rencana I

Tindakan I
Refleksi

Rencana II

Tindakan II

Refleksi

Rencana III

Tindakan III

Penjelasan alur di atas adalah:


1. Perencanaan awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun
rumusan masalah, tujuan, membuat rencana tindakan, dan perangkat
pembelajaran.
2. Tindakan dan observasi, meliputi tindakan yang dilakukan peneliti sebagai
upaya membangun pemahaman konsep peserta didik serta mengamati
hasil atau dampak dari diterapkannya metode demonstrasi dikolaborasikan
dengan metode picture and picture pada proses pembelajaran.
3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau
dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan
yang diisi oleh pengamat/kolabor.

10

4. Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat


membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus
berikutnya.
Adapun kegiatan sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan
pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan dari pembelajaran yang
biasa dilakukan guru. Setelah memperoleh alternatif tindakan maka kegiatan
selanjutnya adalah penelitian. Penelitian tindakan kelas ini dibagi dalam tiga
siklus, yaitu siklus I, II, dan III dimana pada tiap-tiap siklus dikenai perlakuan
yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu Standar Kompetensi
yang diakhiri dengan tes di akhir masing-masing siklus.
Untuk peningkatan prestasi belajar peserta didik dalam proses
pembelajaran materi shalat, maka model tindakan yang akan dilakukan adalah
penelitian

tindakan

kelas

melalui

penggunaan

metode

demonstrasi

dikolaborasikan dengan metode picture and picture. Inti tindakan yang


dilakukan adalah proses pembelajaran tidak membosankan dan peserta didik
kita terdorong utuk lebih semangat dalam belajar.
Proses pembelajaran ini menggunakan gambar dan dipasangkan/
diurutkan menjadi urutan logis yang berkaitan dengan materi shalat. Untuk
memperjelas pemahaman peserta didik tentang gerakan shalat dilakukan
peragaan gerakan shalat oleh guru, dan peserta didik.
Setelah suasana kelas kondusif diteruskan dengan pendalaman materi.
Peserta didik dibagi menjadi 7 kelompok. Dalam satu kelompok
beranggotakan 5 peserta didik. Yang nantinya akan belajar bersama, juga
menampilkan gerakan shalat. Dalam satu kelompok, setiap satu peserta didik
menampilkan gerakan shalat yang benar. Teman lain menilai, kemudian hasil
penilaian dikumpulkan kepada guru. Pada pertemuan berikutnya guru
mengkonfirmasi hasil penilaian sesama teman. Caranya peserta didik dibagi
dalam tiga gelombang, setelah siap peserta didik supaya melakukan gerakan
shalat sesuai pada tabel penilaian.

11

Pada siklus I, materi shalat fardu dibagi menjadi tiga sub, yaitu a.
materi pemahaman konsep shalat fardu, b. doa-doa shalat (rukun/sunnah
qauliyah dan Itiqadiyah), c. gerakan shalat (rukun/sunnah filiyah).
Pada siklus II dibahas materi shalat berjamaah sempurna (makmum
muwafiq), dan shalat berjamaah tidak sempurna (makmum masbuk). Yang
dibagi menjadi tiga sub yaitu: a. materi pemahaman konsep shalat berjamaah
sempurna (makmum muwafiq) dan makmum masbuk, b. doa-doa shalat
berjamaah sempurna (makmum muwafiq) dan makmum masbuk, c. gerakan
shalat berjamaah sempurna (makmum muwafiq) dan makmum masbuk.
Pada siklus III dibahas materi shalat jamak dan qasar, baik ketika
shalat di tempat shalat/masjid, di atas kendaraan dan berbaring/karena sakit.
Dibagi menjadi tiga sub yaitu: a. materi pemahaman konsep shalat berjamaah
jamak dan qasar, b. doa-doa shalat jamak dan qasar, c. gerakan jamak dan
qasar.
Pada setiap pelaksanaan tindakan selalu dipantau dan dievaluasi. Data
yang diperoleh dari pemantauan selama siklus pertama kemudian dianalisis
dan untuk selanjutnya dipergunakan sebagai refleksi terhadap tindakan untuk
perbaikan tindakan pada siklus berikutnya. Tindakan pada siklus kedua
merupakan perbaikan dari tindakan pada siklus pertama. Tindakan pada siklus
ketiga merupakan perbaikan dari tindakan pada siklus kedua. Setelah tindakan
pada siklus tiga, penelitian dihentikan. Walaupun belum tercapai indikator
yang direncanakan. Dan insya Allah dilanjutkan pada PTK tahun berikutnya
dengan metode yang berbeda.
F. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar peserta didik dalam
mengikuti pembelajaran materi shalat.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi peserta didik.

12

Untuk membangkitkan semangat belajar PAI, membangun


kepercayaan diri, meningkatkan keterampilan dalam melakukan
gerakan shalat, mendapatkan proses pembelajaran yang menyenangkan
dan meningkatkan prestasi belajar, dan lebih bergairah dalam
menjalankan shalat lima waktu, baik secara munfarid maupun
berjamaah.
b. Bagi guru.
Sebagai
pembelajaran,

bahan

pertimbangan

meningkatkan

dalam

kreativitas

menentukan
guru

guna

strategi
mencapai

pembelajaran yang berkualitas, meningkatkan profesionalisme melalui


upaya penelitian yang dilakukan.
c. Bagi sekolah.
Untuk meningkatkan kinerja sekolah dengan mengoptimalkan
kinerja guru serta sebagai kontribusi adanya inovasi pembelajaran di
sekolah, sehingga dapat meningkatkan nilai dalam akreditasi sekolah.