Anda di halaman 1dari 5

A.

Penyalahgunaan Alkohol
Alkohol merupakan salah satu golongan narkoba (narkotik, alcohol dan
obat-obatan) yang berbahaya baik bagi diri sendiri dan orang lain. Dari segi medis
pengguna alkohol yang sudah mengalami kecanduan dalam jangka panjang akan
memiliki gangguan kesehatan, misalnya serangan penyakit kanker, stroke, gagal
jantung, impotensi, gangguan sistem saraf pusat. Dari segi kinerja kognitif
individu terjadi penurunan daya ingat, konsentrasi dan prestasi belajar atau
kerjanya (Mekim, 1999). Seseorang yang sering mengkonsumsi alkohol dapat
diketahui dengan melihat roman mukanya. Biasanya seorang pecandu alcohol
memperlihatkan roman muka kemerah-merahan. Bukan karena ia merasa malu
terhadap orang lain, melainkan karena efek samping dari pengomsumsian alkohol
yang berlebihan. Dari segi kepribadiannya sering kali orang sulit mengetahui
kalau seseorang itu pecandu karena ia memiliki karakteristik sebagai orang yang
periang atau gembira, selalu senang atau bahagia. Namun disisi lain, pecandu
alkohol merasa sulit untuk mengendalikan diri. Seandainya seseorang pecandu
alcohol mengalami sakaw (Dariyo, 2003), yang terjadi dalam dirinya ialah
badannya gemetar, muntah-muntah, kejang-kejang, gelisah, sulit tidur, tetapi bisa
juga mengalami gangguan jiwa (Dariyo, 2003).
Penyalahgunaan alkohol adalah pemakaian alkohol diluar indikasi medik,
tanpa petunjuk atau resep dokter, pemakaian sendiri secara teratur atau berkala
sekurang-kurangnya selama satu bulan. Pemakaian bersifat potologik dan
menimbulkan hendaya (impairment) dalam fungsi sosial, pekerjaan dan sekolah
(Hawari, 1991). Penyalahgunaan alcohol merupakan pemakaian alkohol yang
bukan untuk tujuan pengobatan atau yang digunakan tanpa mengikuti aturan atau
pengawasan dokter digunakan berkali-kali atau terus menerus, seringkali
menyebabkan ketagihan atau ketergantungan baik secara fisik atau jasmani
maupun psikologis, menimbulkan gangguan pada tubuh, pikiran, perasaan, dan
perilaku (Macliono, 2003)
B. Jenis/Golongan Minuman Beralkohol
Jenis/golongan minuman beralkohol menurut Istiqomah (2005), meliputi :
a. Golongan A kadar alkohol 1%-5%, yaitu : bir bintang, green sand.
b. Golongan B kadar alkohol 5%-20%, yaitu : anggur Malaga/weni.
1

c. Golongan C kadar alkohol 20%-45%, yaitu : brandy, whisky, vodka, TKW,


manson, johny walker, kamput.
C. Jenis Ketergantungan
Santrock (1999) menyebutkan jenis ketergantungan menjadi 2 jenis, meliputi :
a) Ketergantungan psikologis adalah kondisi ketergantungan yang ditandai
dengan stimulasi kognitif dan afektif yang mendorong konatif (perilaku).
Stimulasi kognitif tampak pada individu yang selalu membayangkan,
memikirkan dan merencanakan untuk dapat menikmati alkohol. Stimulasi
afektif adalah rangsangan emosi yang mengarahkan individu untuk
merasakan kepuasan yang pernah dialami sebelumnya. Kondisi konatif
merupakan hasil kombinasi dari stimulasi kognitif dan afektif. Dengan
demikian ketergantungan psikologis ditandai dengan ketergantungan pada
aspek-aspek kognitif dan afektif.
b) Ketergantungan fisiologis adalah kondisi ketergantungan yang ditandai
dengan kecenderungan sakaw (lapar/haus akan alkohol). Kondisi sakaw
seringkali tidak mampu dihambat atau dihalangi pecandu mau tidak mau
harus

memenuhinya.

Dengan

demikian

orang

yang

mengalami

ketergantungan secara fisiologis akan sulit dihentikan atau dilarang untuk


mengkonsumsinya.
D. Pengaruh Alkohol
Pengaruh alkohol menurut Martono (2006), antara lain :
a. Pengaruh segera alkohol setelah pemakaian
1. Kemampuan mengendarai motor terganggu, kehilangan koordinasi, salah
menilai, refleksi lambat.
2. Pusing, kulit menjadi merah, merasa gembira dan rileks.
3. Perasaan dan ingatan menjadi tumpul.
4. Dosis tinggi menyebabkan mabuk, bicara cedal, penglihatan ganda, inveral
tumpul, kendali diri berkurang, dan tidak sadarkan diri.
b. Pengaruh jangka panjang

Terjadi hangover (pengaruh sisa) sehingga merasa mual, sakit kepala,


pencernaan terganggu, pikiran tidak jernih, seluruh tubuh sakit, dehidrasi
(kehilangan cairan tubuh).
c. Pengaruh pada sistem tubuh manusia
1) Sistem saraf pusat : Memperlambat fungsi otak yang mengontrol
pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat menimbulkan kematian.
Dapat menyebabkan hilangnya memori (amnesia), sakit jiwa, kerusakan
tetap pada otak dan sistem saraf.
2) Sistem pernafasan: Memperlambat pernafasan dan denyut jantung,
sehingga dapat menimbulkan kematian.
3) Sistem pencernaan :
a). Dapat menyebabkan luka dan radang lembung serta hati.
b). Dapat menyebabkan kangker mulut, kerongkongan dan lambung.
c). Selera makan hilang dan kekurangan vitamin.
d). Menyebabkan peradangan dan pengerasan (serosis) hati.
4) Sistem jantung dan pembuluh darah
a). Dapat menyebabkan pembengkakan jantung.
b). Dapat menyebabkan kegagalan fungsi jantung.
5) Sistem reproduksi dan pengaruhnya pada bayi
a). Dapat menyebabkan cacat bayi yang dikandung ibu peminum alkohol
meningkatnya aborsi dan kelahiran premature.
b). Dapat menyebabkan impotensi pada pria
E. Gejala Gangguan Mental
Miras atau minuman keras, adalah jenis NAPZA dalam bentuk minuman yang
mengandung alkohol tidak perduli berapa kadar alcohol didalamnya. Alkohol zat
aditif, artinya zat tersebut menimbulkan adikasi (adictor) yaitu ketagihan dan
dependensi (ketergantungan). Penyalahgunaan atau ketergantungan NAPZA jenis
alkohol ini dapat menimbulkan gangguan mental yaitu gangguan dalam fungsi
berfikir, berperasaan dan berperilaku. Ganguan mental organic ini disebabkan
reaksi langsung alkohol pada neuro transmitter sel-sel saraf pusat (otak). Karena
sifat adiktifnya itu, maka orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa disadari

akan menambah takaran atau dosis sampai pada dosis keracunan (intoksikasi) atau
mabuk. Menurut Hawari (2006), gangguan mental organik yang terjadi pada diri
seorang ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut :
a) Terdapat dampak berupa perilaku misalnya perkelahian dan tindak
kekerasan lainnya, ketidak mampuan menilai realitas dan gangguan dalam
fungsi sosial dan pekerjaan (perilaku mal adaptif).
b) Terjadi gejala fisiologik sebagai berikut yaitu : Pembicaraan cedal (slurred
speech), gangguan koordinasi, cara jalan yang tidak mentap, mata jering
(histakmus), muka merah.
c) Tampak gejala-gejala psikologik sebagai berikut yaitu : Perubahan alam
perasaan (afek/mood) misalnya euphoria atau disforia, mudah marah dan
tersingung (iritabilitas), banyak bicara (melantur), hendaya atau gangguan
perhatian atau konsentrasi. hendaya ini besar pengaruhnya bagi kecelakaan
lalu lintas.
F. Tanda/ Gejala Ketergantungan
Menurut Hawari (2006), bagi mereka yang sudah ketagihan atau ketergantungan
alkohol ini bila pemakaiannya dihentikan akan menimbulkan sindrom putus
alkohol, yaitu gejala ketagihan atau ketergantungan yang ditandai dengan gejalagejala sebagai berikut :
a) Gemetaran (tremor) kasar pada tangan, lidah dan kelopak mata.
b) Tampak gejala fisik sebagai berikut yaitu : Mual muntah, letih, lemah dan
lesu, hiperaktif saraf otonom, misalnya jantung berdebar-debar, kekeringan
berlebihan dan tekanan darah meningkat, hipotensi ortostatik (tekanan
darah menurun karena perubahan posisi tubuh : terbaring duduk dan
berdiri).
c) Tampak gejala psikologik sebagai berikut yaitu : kecemasan dan
ketakutan, perubahan alam perasaan afektif/mood, menjadi pemurung dan
mudah tersinggung. banyak diantaranya peminum berat jatuh dalam
depresi berat, timbul pikiran ingin bunuh diri dan melakukn tindakan
bunuh diri, mengalami halusianasi dan delusi.

Sindrom putus alkohol merupakan yang tidak mengenakkan baik psikis maupun
fisik, untuk mengatasinya yang bersangkutan meminum alkohol dengan takaran
yang lebih banyak dan lebih sering (penyalahgunaan dan ketergantungan alkohol
semakin bertambah baik dari segi kuantitas maupun kualitas) (Hawari, 2006).
Alkohol adalah zat yang paling sering disalahgunakan manusia, alkohol
diperoleh atas peragian atau fermentasi madu, gula, sari buah atau umbu-umbian.
Dari peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15% tetapi proses
penyulingan (distilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tingi bahkan
mencapai 100%. Kadar alkohol dalam darah maksimal dicapai 30-90 menit.
Setelah diserap alkohol atau etanol disebarkan keseluruh jaringan dan cairan
tubuh. Dengan demikian peningkatan kadar alkohol dalam darah orag akan
menjadi euphoria, namun dengan penurunannya orang tersebut menjadi depresi
(Reza, 2007).
G. Intoksikasi alcohol
Dapat menyebabkan koma, depressi nafas bahkan kematian. Penanganan
intoksikasi alcohol berat memerlukan dukungan ventilasi mekanis di unit
perawatan intensif, dengan memperhatikan keseimbangan asam-basa, elektrolit,
dan suhu. Keparahan gejala intoksikasi alcohol berhubungan dengan konsentrasi
alcohol dalam darah, yang mencerminkan konsentrasi alcohol di otak. Pada
awitan intoksikasi, beberapa orang menjadi banyak omong dan suka berkumpul,
yang lain menjadi menarik diridan merajuk atau berkelahi. Sejumlah pasien
menunjukkan labilitas mood dengan episode intermiten tertawa dan menangis.
Orang dengan intoksikasi alcohol juga mungkin rentan terhadap infeksi akibat
supresi system imun.

Anda mungkin juga menyukai