Anda di halaman 1dari 7

TETANUS NEONATORUM

1. PENDAHULUAN

Tetanus neonatorum merupakan penyebab kejang yang sering dijumpai pada bayi
baru lahir, yang bukan karena trauma kelahiran atau asfiksia tetapi disebabkan oleh
infeksi selama neonatal, yang antara lain terjadi sebagai pemotongan tali pusat
atau perawatan yang tidak aseptik.

Perjalanan penyakit seperti pada tetanus anak, tetapi lebih cepat dan berat. Dimana
tetanus ini merupakan penyakit infeksi akut yang menunjukan gangguan
neuromuskuler akut. Tetanus neonatorum juga tidak dibagi menjadi 3 stadium
seperti tetanus anak.

2. DEFINISI

Tetanus neonatorum adalah kelainan neurologik yang terdapat pada neonatal, yang
ditandai oleh peningkatan tonus dan spasme otot, yang disebabkan oleh
tetanospasmin, suatu toksin protein kuat yang dihasilkan oleh clostridium tetani.

3. ETIOLOGI

Penyebab penyakit ini adalah clostridium tetani yang hidup anaerob. Kuman ini
mudah dikenal karena pembentukan spora dan karena bentuk yang khas, tersebar
luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Sporanya dapat
bertahan sampai bertahun-tahun bila tidak kena sinar matahari, tersebar luas di
tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Toksin daripada tetanus ini
dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit dan merupakan
tetanospasmin, yaitu toksin yang neurotropik dapat menyebabkan ketegangan dan
spasme otot.

Selain itu juga tidak jarang ditemukan pada feses manusia, juga pada feses kuda,
anjing, dan kucing.

4. MIKROBIOLOGI

Kuman ini adalah kuman gram-positif berbentuk batang yang anaerob, motil, yang
berbentuk spora terminalis berbentuk lonjong yang tak berwarna. Spora ini
menyerupai bentuk raket tenis atau drum stick. Tetanospasmin dibentuk pada sel
vegetatif di bawah kendali plasmid. Toksin ini merupakan rantai polipeptida tunggal.

5. EPIDEMIOLOGI

Penyakit tetanus biasanya timbul di daerah yang mudah terkontaminasi dengan


tanah dengan kebersihan dan perawatan luka yang buruk. Tetanus terdapat secara
sporadik dan hampir selalu menjangkiti orang yang tak kebal atau sebagian kebal,
atau orang yang terimunisasi lengkap tetapi yang gagal mempertahankan
kekebalan yang adekuat dengan dosis booster vaksin. Walaupun dapat dicegah
sama sekali dengan imunisasi, di seluruh dunia beban penyakit ini besar sekali. Di
negara yang tanpa program imunisasi utama, tetanus neonatal dan tetanus pada
orang muda mendominasi. Di seluruh dunia diperkirakan 800.000 neonatus
meningggal setiap tahun akibat tetanus.

6. PATOGENESIS

Kontaminasi luka dengan spora mungkin sering. Biasanya penyakit ini terjadi
setelah luka tusuk yang dalam misalnya luka yang disebabkan tertusuk paku,
pecahan kaca, kaleng, atau luka tembak, dimana luka tersebut menimbulkan
keadaan anaerob yang ideal. Selain itu luka laserasi yang kotor, luka bakar dan
patah tulang terbuka juga akan menimbulkan keadaan anaerob.

Sedangkan pada tetanus neonatorum luka yang terjadi akibat pemotongan tali
pusat dengan alat-alat yang tidak steril atau perawatan tali pusat yang salah.
Dimana clostridium tetani masuk ke dalam tubuh melalui luka. Pada neonatus/bayi
baru lahir clostridium tetani dapat masuk melalui umbilikus setelah tali pusat
dipotong tanpa memperhatikan kaidah asepsis antisepsis.

Bentuk spora akan berubah menjadi bentuk vegetatif bila lingkungannya


memungkinkan untuk berubah bentuk dan kemudian mengeluarkan eksotoksin.
Kuman tetanus sendiri tetap tinggal di daerah luka. Kuman ini membentuk dua
macam eksotoksin yang dihasilkan yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. Toksin ini
diabsorpsi oleh organ saraf di ujung saraf motorik dan diteruskan melalui saraf
sampai sel ganglion dan susunan saraf pusat dan terikat dengan sel saraf, toksin
tersebut tidak dapat dinetralkan lagi.

7. GEJALA KLINIS

Masa tunas biasanya 5 14 hari, kadang-kadang sampai beberapa minggu pada


infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh antiserum.

Penyakit ini terjadi biasanya secara mendadak dengan ketegangan otot yang
mungkin bertambah terutama pada rahang dan leher. Dalam 48 jam penyakit ini
menjadi nyata dengan :

Malas minum, mudah terangsang dan anak menangis terus menerus.


Tidak sanggup mengisap dan belakangan bayi berhenti menangis karena rahang
sukar dibuka disebabkan terjadinya kekakuan.
Kemudian diikuti kekakuan pada seluruh tubuh disertai kejang yang tersentak
(intermiten jerking spasm), terutama hal ini terjadi bila ada rangsangan dari luar
seperti suara yang keras, cahaya dan tactile stimuli antara lain bila dipegang pada
pemberian injeksi untuk pengobatan dan pada waktu pengisapan lendir.
Mulut mencucur, dan bila bayi menangis suaranya tangisan tidak jelas, terdengar
seperti mendesir.
Suhu meninggi (sub febris)
Kaku kuduk
Opistotonus
Kesadaran pulih setelah kejang
8. DIAGNOSIS

Diagnosis tetanus neonatorum biasanya dapat ditegakan berdasarkan pemeriksaan


klinis. Biasanya tidak sukar, anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot yang
khas terutama pada rahang sangat membantu.

Biasanya pada pemeriksaan laboratorium didapati peninggian leukosit,


pemeriksaan cairan otak biasanya normal, dan pada pemeriksaan elektromiogram
dapat memperlihatkan adanya lepas muatan unit motorik secara terus-menerus dan
pemendekan atau tanpa interval yang tenang, yang biasanya tampak setelah
potensial aksi.

Keadaan lain yang mungkin dapat dikacaukan dengan tetanus adalah


meningitis/ensefalitis, rabies, dan proses intra abdomen akut (karena abdomen
yang kaku). Peninggian nyata tonus pada otot pusat (wajah, leher, dada, punggung,
dan perut), disertai spasme generalisata yang menjadi tersamar dan bebas gejala
pada tangan dan kaki, maka kuat mendukung adanya tetanus.

9. KOMPLIKASI

Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saliva) di dalam
rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi
pneumonia aspirasi.
Aspiksia.
Atelektasis karena obstruksi oleh sekret.
Fraktur kompresi.
10. PROGNOSIS

Dipengaruhi oleh beberapa faktor dan akan buruk bila:

Masa tunas yang pendek (kurang dari 7 hari).


Usia yang sangat muda (neonatus) dan usia lanjut.
Disertai frekwensi kejang yang tinggi.

Kenaikan suhu tubuh yang tinggi.


Pengobatan yang terlambat.
Periode of onset yang pendek (jarak antara trismus dan timbulnya kejang).
Serta adanya komplikasi terutama pada otot pernapasan dan obstruksi saluran
pernapasan.
Mortalitas untuk bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia RSCM Jakarta di dapatkan angka 80% untuk tetanus neonatorum.

11. PENCEGAHAN

Mencegah terjadinya luka.


Perawatan yang adekuat.
Pemberian ATS (anti tetanus serum) dalam beberapa jam setelah terkena luka.
Pemberian TT (tetanus toxoid) pada anak yang belum mendapat imunisasi.
PP (penisilin prokain) selama 2 3 hari setelah mendapat luka berat.
Tetanus toxoid yang diberikan 3 kali berturut-turut pada trimester ketiga kehamilan
dikatakan sangat bermakna mencegah tetanus neonatorum. Hendaknya sterilitas
diperhatikan benar pada waktu pemotongan tali pusat dan demikian pula
perawatan tali pusat selanjutnya
12. PENGOBATAN
Diberikan cairan intra vena (IVFD) dengan larutan glukosa 5% : NaCl fisiologis = 4 :
1 selama 48 72 jam sesuai dengan kebutuhan, sedangkan selanjutnya IVFD hanya
untuk memasukan obat.

Bila sakit penderita lebih dari 72 jam atau sering kejang atau apnoe, diberikan
larutan glukosa 10% : Natrium bikarbonat 1,5% = 4 : 1 (sebaiknya jenis cairan yang
dipilih disesuaikan dengan hasil pemeriksaan analisa gas darah).

Bila setelah 72 jam belum mungkin diberikan minuman per oral, maka melalui
cairan infus perlu diberikan tambahan protein dan kalium.

Diazepam dosis awal 2,5 mg intra vena perlahan-lahan selama 2 3 menit. Dosis
rumat 8 10 mg/kgBB/hari melalui IVFD (diazepam dimasukan ke dalam caian
intravena dan diganti tiap 6 jam).
Bila kejang masih sering timbul, boleh diberikan diazepam tambahan 2,5 mg secara
intra vena perlahan-lahan dalam 24 jam boleh diberikan tambahan diazepam 5
mg/kgBB/hari. Sehingga dosis diazepam keseluruhan menjadi 15 mg/kgBB/hari.
Setelah keadaan klinisnya membaik, diazepam diberikan per oral dan diturunkan
secara bertahap.

Pada penderita dengan hiperbilirubinemia berat atau makin berat diberikan


diazepam per oral dan setelah bilirubin turun boleh diberikan diazepam intravena.

ATS 10.000 U/hari dan diberikan selama 2 hari berturut-turut.


Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dibagi 4 dosis secara intra vena selama 10 hari.
Bila terdapat gejala sepsis hendaknya penderita diobati seperti penderita sepsis
pada umumnya dan kalau pungsi lumbal tidak dapat dilakukan, maka penderita
diobati sebagai penderita meningitis bakterial.

Tali pusat dibersihkan dengan alkohol 70% dan betadine.


Perhatikan jalan napas, diuresis dan keadaan vital lainnya. Bila banyak lendir jalan
napas harus dibersihkan dan bila perlu diberikan oksigen.
13. PERAWATAN

Os ditempatkan di tempat terhindar dari rangsangan yang berlebihan, observasi


untuk mengurangi rangsangan sekecil mungkin, catat pols, frekuensi napas,
frekuensi kejang dan lamanya kejang. Perubahan posisi 2 4 jam dan fisioterapi
pasif pada daerah tangan, kaki, dan dada.

Daftar Pustaka

Behrman RE, Vaughan VC. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Edisi ke-12, Bagian ke-2.
Nelson WE, Ed. EGC, Jakarta, 1993; 212-126.
Garna H, Widjaya J, Rustama DS, Rahman O, Sjahrodji AM. Pedoman Terapi Ilmu
Kedokteran, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNPAD. Bina Budaya Bandung,
Bandung, 1993; 84-85, 103-104.
Latief A, Napitupulu PM, Pudjiadi A, Ghazali MV, Putra ST. Buku Kuliah Ilmu
Kesehatan Anak, Jilid ke-2. Hassan R, Alatas H, Ed. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK
UI, Infomedika, Jakarta, 1997.
Masnjoer A, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid II. FKUI. Jakarta. 2000.
Ngastiah. Perawatan Anak Sakit. Setiawan, Ed. EGC. Jakarta. 1997; 351-57.