Anda di halaman 1dari 3

I.

STERILISASI RADIASI UV (Ultraviolet)

November 24, 2014 herusasongko No comments

METODE STERILISASI RADIASI UV (Ultraviolet)


(Oleh Gorra S, Hana R P, Hanifah C W, Ishlahul R, Kartika M, Khoiruli F, Krisna B W)
dipresentasikan dalam kuliah Farmasi Rumah Sakit

Sterilisasi adalah suatu proses perlakuan terhadap bahan atau barang di mana pada akhir proses
tidak dapat ditunjukkan adanya mikroorganisme hidup pada bahan/barang tersebut. Teknik
sterilisasi ruangan ada beberapa metode diantaranya adalah penyinaran, penyaringan dan
sterilisasi dengan bahan kimia atau gas (Muzakar, 2005)
Sterilisasi radiasi menurut Ratna (1985) dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Ultraviolet
Merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 100-400 mm dengan efek
optimal pada 254 nm. Sumbernya adalah lampu uap merkuri dengan daya tembus hanya 0,01-0,2
mm. Ultraviolet digunakan untuk sterilisasi ruangan pada penggunaan aseptic
2. Jon
Mekanisme mengikuti teori tumbukan yaitu sinar langsung menghantam pusat kehidupan
mikroba (kromosom) atau secara tidak langsung dengan sinar terlebih dahulu membentuk
molekul dan mengubahnya menjadi bentuk radikatnya yang menyebabkan terjadinya reaksi
sekunder pada bagian molekul DNA mikroba.
3. Gamma
Gamma bersumber dari Cu60 dan Cs137 dengan aktivitas sebesar 50-500 kilo curie serta
memiliki daya tembus sangat tinggi. Dosis efektifitasnya adalah 2,5 Mrad. Gamma digunakan
untuk mensterilkan alat-alat yang terbuat dari logam, karet, serta bahan sintesis seperti polietilen.
Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan
pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme
(germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 253,7
nm. Sinar UV menembus udara bersih dan air murni dengan baik, tetapi suatu penambahan
garam atau bahan tersuspensi dalam air atau udara menyebabkan penurunan derajat penetrasi
dengan cepat. Untuk kebanyakan pemakaian lama penetrasi dihindarkan dan setiap tindakan
membunuh mikroorgaisme dibatasi pada permukaan yang dipaparkan. Prinsipnya adalah radiasi
menembus dinding sel dengan langsung mengenai DNA dari inti sel sehingga mikroba

mengalami mutasi. Digunakan untuk sterilisasi bahan atau produk yang peka terhadap panas
(termolabil). Kerugian penggunaan germisida radiasi sinar UV adalah penetrasinya terbatas, pada
panjang gelombang 253,7 nm, diserap oleh banyak bahan dan membuat penggumpalan
organisme dan hal tersebut dilindungi oleh debu dan puing-puing (Lachman, 1998).
Sebagai contoh sterlisasi menggunakan radiasi UV yaitu pada jurnal JUMLAH ANGKA
KUMAN DI UDARA RUANGAN OPERASI RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN DI
PROPINSI LAMPUNG 2012 menjelaskan prosedur sterilisasi ruangan operasi di tiga RSU
Kabupaten di Provinsi Lampung, yaitu RSUD Mayjen H.M Ryacudu Kota Bumi Kabupaten
Lampung Utara, RSUD Kalianda Kabupaten Lampung Selatan, dan Demang Sepulau Raya
Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah.
Sterilisasi dilakukan setiap selesai operasi dengan tahapan sebagai berikut:
1. Lantai dipel dengan cairan disinfektan.
2. Untuk meja porselen dan tempat tidur operasi, diberi alkohol 70 %.
3. Setelah itu dilakukan sterilisasi dengan sinar UV selama 7 jam.

Untuk mensterilkan udara ruangan operasi, seharusnya lampu sinar UV dipasang tinggi-tinggi
pada dinding dan cahaya UV diarahkan ke langit-langit ruangan. Tetapi di RSUD Kalianda,
ketika mensterilkan ruangan operasi lampu sinar UV diletakan pada salah satu sudut ruangan
operasi, sehingga kuman yang dekat dengan sinar UV mati, sedangkan kuman yang jauh dari
sinar UV hanya dirusak bentuk vegetatifnya.
Pada panjang gelombang tertentu, sinar UV akan memecah obligasi molekul dalam DNA,
sehingga menghancurkan organ dalam organisme. UV memiliki panjang gelombang 200-270
nm.
Pada hasil sterilisasi, angka kuman di ruangan operasi berkurang jumlahnya dibandingkan
dengan sebelum disterilisasi yaitu dari 177 CFU/m3 udara menjadi 45 CFU/m3 udara (maksimal
10 CFU/m3 udara).
Terdapat perbedaan jumlah angka kuman pada tiga RSU Kabupaten di Provinsi Lampung
tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya:

Sumber pengotor (tenaga medis yang keluar masuk ruang operasi)


Luas permukaan (luas area ruang operasi)

Cara mensterilkan ruangan (beberapa permukaan masih menggunakan


disinfektan dan alkohol 70%)

Jumlah pasien operasi (permukaan kulit/tubuh terdapat flora normal yang


dapat lepas ke udara ruangan operasi sehingga mengkontaminasi ruangan
operasi

Beberapa barang di dalam ruang operasi yang terlewatkan untuk dibersihkan


(debu menempel pada permukaan barang)

Jeda ruang operasi untuk dapat digunakan setelah dilakukan sterilisasi selam 7 jam adalah 4,5
jam. Menuruit pendapat Nedrosuwito (2002) ukuran ruang 6 m x 6 m x 3 m dan lampu sinar UV
120 watt yang dihidupkan selama 4,5 jam akan lebih efektif membunuh kuman di udara ruangan
operasi. Apabila jumlah pasien operasi banyak maka dibuat jadwal operasi dan cukup alat-alat
keperluan operasi yang disterilkan.

DAFTAR PUSTAKA
Hadieotomo, Ratna Sari. 1985. Mikrobiologi Dasar dalam Praktik. Jakarta: Gramedia
Lachman. 1998. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta: UI Press
Muzakar, Kahar. 2005. Pengaruh Lama Waktu Sterilisasi Sinar Ultraviolet Terhadap Angka
Kuman Udara di Ruang Operasi Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr Moerwadi Surakarta. Skripsi
Nendrosuwito, Drajat. 2002. Pedoman Praktikum Laboratorium yang Benar (Good Laboratory
Practice) Cet. Jakarta: Direktorat Laboratorium Kesehatan Depkes R

Anda mungkin juga menyukai