Anda di halaman 1dari 11

Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979-98300-1-2

Bandung, 19-20 Oktober 2009

PENURUNAN KADAR LOGAM BERAT LIMBAH CAIR


INDUSTRI EMAS (PT X) DI SURABAYA

Nyoman Puspa Asri


Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas WR Supratman Surabaya
Jl. Arief Rachman Hakim no 14 Surabaya 60111, Telp. 031-5923815, Fax. 031-523815
Email: nyoman_puspaasri@yahoo.com
Rachmad Abadi, Arfina, Sita
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Adhitama Surabaya
Jl. Arief Rachman Hakim no 100 Surabaya 60111

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar logam berat pada limbah cair industri
emas (PT X) di Surabaya. Limbah industri PT. X ini memiliki kandungan logam – logam berat yang
dapat disetarakan dengan limbah industri Electroplating. Limbah cair dari industri perhiasan emas
sebagian besar merupakan limbah anorganik dengan kandungan asam yang cukup tinggi (pH
rendah). Metode yang digunakan adalah metode presipitasi(pengendapan) dengaan beberapa
variable yaitu jenis bahan pengendap(NaOH dan CaOH), pH larutan dan waktu pengendapan. Dari
hasil penelitian diketahui bahwa , dengan penambahan Ca(OH) maupun NaOH semakin tingi pH ,
maka semakin besar pula % Removal logam Cu, Ni, Zn dan Fe. Demikian pula dengan variable
waktu flokulasi maka semakin lama waktu flokulasi maka semakin besa.% Removal logam Cu, Ni,
Zn dan Fe. Untuk pH optimum yang dapat menurunkan kadar logam Cu, Ni, Zn dan Fe adalah
pada pH 12. Besarnya % removal logam Cu, Ni, Zn & Fe dengan penambahan koagulan NaOH
berturut – turut adalah 99.993% , 99.877%, 99.946% dan 99.935%. Besarnya % removal logam Cu,
Ni, Zn dan Fe dengan penambahan koagulan Ca(OH)2 berturut – turut adalah 99.994%, 99.936%,
99.949% dan 99.941%. Sedangkan waktu flokulasi optimum untuk menurunkan kadar logam Cu, Ni,
Zn dan Fe adalah pada waktu flokulasi 30 menit.

Kata kunci: Logam berat, limbah cair, presipitasi.

Abstract

This research has purpose to reduce heavy metal contain in liquid waste of gold industries (PT X) in
Surabaya. Industrial waste of PT X has heavy metals that equal with electroplating waste industries.
Liquid waste from gold jewellery industry most of it is an inorganic waste high acid composition
(low pH). The method that being used is pressipitation method with some variables such as type of
presipitatior pH of solution and time of presipitation. From the research’s result with Ca(OH)2 and
NaOH, the high pH, then the bigger % removal of metal Cu, Ni, Zn, and Fe. The same with variables
of floculation’s time when the longer floculation time than the bigger % removal of metal (Cu, Ni,
Zn and Fe). For the optimum pH which can decrease metal content Cu, Ni, Zn and Fe is pH 12. The
percentage of removal with additioned by reductor NaOH in order are 99,93 %, 99,77 %, 99,46 %,
and 99,35 %., with additioned Ca(OH)2 are 99,94%, 99,936% 99,949%, 99,941%, mean while the
optimum time of floculation to decrease metal concentrate is 30 minute. So from the result the
additional of Ca(OH)2 is much better than NaOH.

Keywords : Heavy metals, liquid waste, presipitation

1. Pendahuluan air penerima maka dapat menimbulkan dampak


PT. X (Industri perhiasan emas di negatif terhadap lingkungan sekitar.
Surabaya Timur) merupakan industri yang
menghasilkan perhiasan yang terbuat dari bahan Limbah industri PT. X ini memiliki
emas, dimana dalam proses pembuatan kandungan logam – logam berat yang dapat
perhiasan tersebut juga menghasilkan limbah disetarakan dengan limbah industri
cair yang banyak mengandung logam berat. Electroplating. Limbah cair dari industri
Apabila limbah ini langsung di buang ke badan perhiasan emas sebagian besar merupakan

TPL09-
TPL09-1
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

limbah anorganik dengan kandungan asam yang Dari latar belakang diatas ,dapat
cukup tinggi (PH rendah). diketahui bahwa kadar logam berat yang
melebihi baku mutu pemerintah adalah logam
Tabel 1.1. Karakteristik Limbah Cair PT. X Cu, Ni, Zn dan Fe sehingga dilakukan
penelitian untuk menurunkan kadar logam –
Kandungan Cu Ni Zn Fe logam berat tersebut sampai sekecil mungkin
Logam dengan metode prespitasi. Banyak faktor yang
mempengaruhi proses presipitasi, namun pada
(ppm) 29627.79 187.5 295.75 2562.79 penelitian ini difokuskan pada variabel pH,
waktu flokulasi dan jenis reduktor. Jenis
Standard reduktor yang digunakan adalah NaOH dan
Baku Mutu Ca(OH)2. Ca(OH)2 digunakan sebagai
(ppm) 5 1 20 20 pembanding NaOH yang selama ini digunakan
dengan harapan didapat reduktor yang lebih
efektif dan efisien.
Dari table diatas menunjukkan bahwa
kandungan logam berat yang berasal dari Tujuan dari penelitian ini adalah
limbah cair PT. X , seperti logam Cu, Ni, Zn, untuk mendapatkan harga pH larutan dan waktu
Cd dan Fe melebihi kadar maksimum baku pengendapan yang memberikan % removal dari
mutu limbah cair electroplating. Sehingga perlu logam Cu, Ni, Zn dan Fe yang paling besar..
untuk dilakukan pengolahan limbah cair Disamping itu juga untuk mengetahui diantara
tersebut untuk mereduksi kadar logam berat dua reduktor yang digunakan mana yang lebih
sebelum di buang ke badan air. Untuk efisien.
menurunkan kadar logam tersebut diatas, PT. X
telah melakukan pengolahan limbahnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat
sebelum dibuang ke badan air dengan digunakan sebagai referensi, sebagai bahan
menggunakan metode presipitasi , yaitu dengan perbandingan maupun sebagi acuan bagi
menambahkan NaOH sebagai bahan industri industri yang sejenis dalam mengolah
reduktornya pada pH 8.5-10, namun kadar limbah cair terutama dalam penurunan
logam beratnya masih diatas ambang batas baku logamberat yang terkandung didalamnya.
mutu yang diijinkan. Limbah cair PTX berasal
dari proses Refinary, Proses Bombing dan
glundung, Proses Pencucian dan Proses 2. Teori Dasar
Pengaturan warna dan Bilasan. Rachmad dkk) Pada dasaranya logam berat dalam air buangan
telah melakukan penelitian pendahuluan dapat dipisahkan dengan berbagai cara yaitu
menggunakan sample air limbah sebanyak 200
dengan proses fisika, kimia dan biologi. Proses
ml menggunakan metode Jar-tes dengan
pengambilan logam berat yang terlarut dalam
menggunakan komposisi air limbah dari suatu larutan biasanya dilakukan dengan cara
keempat proses diatas sebagai variabel, dengan prespitasi, reverse osmosis, ion exchange dan
penambahan NaOH pada pH sekitar 8,5-10.
adsorbsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH awal
limbah 2 sedangkan komposisi limbah terbaik Penurunan kandungan logam berat pada
adalah 13.37% limbah dari Bak penampung air limbah industri ini, dapat dilakukan dengan
limbah I (proses Refinery), 1.96% limbah dari proses secara fisik – kimia. Teknologi
Bak penampung limbah II (proses Bombing dan pengolahan air limbah yang mengandung logam
glundung), 5.72% limbah dari Bak penampung – logam, telah lama dikembangkan dan sampai
limbah III (proses pencucian) , 78.95%limbah saat tetap “establish” yaitu dengan prinsip.
dari Bak penampung limbah IV (proses
pengaturan warna & bilasan), dengan penurunan Proses Produksi PT. X :
kadar logam berat berkisar antara 96-98 %.
Roekmijati W.Soemantojo, Praswasti PDK. 1.Peleburan
Wulan, dan Yulianti (2001) telah melakukan
penelitian tentang “Presipitasi Bertahap Logam Proses ini adalah proses untuk
Berat Limbah Cair Industri Pelapisan Logam membuat kadar emas sesuai dengan keinginan.
Menggunakan Larutan Kaustik Soda”.Hasil Bahan baku terdiri dari emas, perak dan
penelitiannya menunjukkan bahwa dengan tembaga. Proses peleburan menggunakan
variabel pH 4,6 dan 8 tidak berpengaruh secara system induksi panas dengan menggunakan
signifikan terhadap penurunan kadar logam tenaga listrik dalam suatu bejana reactor. Hasil
berat Cudan Fe.

TPL09-
TPL09-2
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

peleburan berupa emas cair yang siap untuk di 3. Proses Pengaturan Warna & Bilasan :
cetak / di casting. menghasilkan limbah bilasan yang
bersifat Basa
1. Pencetakan 4. Proses Refinery : menghasilkan limbah
Pada unit proses ini merupakan proses asam yang bersifat Asam
pembuatan perhiasan (kalung, gelang, cincin, Dengan volume limbah terbesar adalah limbah
dll) dimana emas cair dengan kadar (karat) dari proses Pengaturan warna & Bilasan.
tertentu yang dihasilkan dari proses peleburan
dicetak. Seperti diketahui bahwa pengolahan
limbah dengan metode presipitasi ini merupakan
2. Pembentukan salah satu metode pengolahan limbah yang
3. Finishing banyak digunakan untuk memisahkan logam
Pada unit proses ini semua produk dari berat dari limbah cair. Dalam metode presipitasi
unit pembentukkan dilakukan proses kimia dilakukan penambahan sejumlah zat
penghalusan & pencucian dengan menggunakan kimia tertentu untuk mengubah senyawa yang
air & NaCN. Proses penghalusan dilakukan mudah larut ke bentuk padatan yang tak larut.
dengan mesin penghalus pada unit Bombing dan Tiap-tiap logam memiliki karakteristik pH
unit Glundung. Dari proses ini dihasilkan optimum presipitasi tersendiri, yaitu pH pada
limbah cair yang bersifat basa cyanide, dan basa saat logam tersebut memiliki kelarutan
non cyanide minimum. Oleh karena itu pada limbah yang
mengandung beragam logam presipitasi
4. Pencucian dilakukan secara bertahap, yaitu dengan
Perhiasan yang telah dihaluskan melakukan perubahan pH pada tiap tahapannya
kemudian dicuci. Pencucian dilakukan berulang sehingga logam-logam tersebut dapat
– ulang sehingga di peroleh perhiasan dengan mengendap secara bertahap. (Mc Graw
kilap tertentu. Di dalam ini dilakukan proses “Resources and Enviromental Engineering).
penghilangan kotoran & lemak, dengan
menggunakan air dan detergen . Dari proses ini Presipitasi kimia adalah suatu prosedur
dihasilkan limbah detergen dan limbah yang standar untuk menyisihkan/menurunkan
mengandung NaCN serta logam berat. kandungan logam berat dari air dan air limbah.
Pembentukkan presipitat sangat ditentukan oleh
5. Pengaturan Warna & Bilasan penambahan bahan kimia sebagai pengikat
Pada proses ini penyepuhan di lakukan logam – logam. Dosis bahan kimia yang
dengan mencelupkan bahan – bahan ke dalam dibutuhkan relative sulit dihitung secra teoritis,
larutan electrolit yang mengandung emas. umumnya ditentukan melalui percobaan dalam
Setelah disepuh, perhiasan dicuci dengan skala Laboratorium. Percobaan dengan
larutan basa & di bilas dengan air. penentuan dosis bahan kimia untuk proses
presipitasi atau koagulasi ini sering disebut
6. Refinery sebagai Jar – Test. Adapun yang mempengaruhi
Barang rusak/gagal produksi percobaan dengan Jar – Test ini, antara lain :
dikumpulkan pada unit proses ini. Dimana pada
proses ini digunakan bahan pelarut emas yaitu 1. Bahan kimia yang dipakai untuk
air raja yang terdiri dari HCl dan HNO3 pekat mereduksi kadar logam berat
dalam reactor peleburan. Dari proses ini 2. Penambahan dosis bahan reduktor
dihasilkan limbah cair dan gas buang yang 3. pH
bersifat Asam. 4. Kecepatan pengadukan
5. Waktu flokulasi
Limbah cair pada PT X, merupakan Penurunan kadar logam berat terutama
limbah yang dihasilkan dari proses – proses tergantung pada dua factor, yaitu :
diatas adalah sebagai berikut :
1. Kelarutan teoritis yang
1. Proses bombing dan proses glundung : membentuk spesies padatan
menghasilkan limbah yang terlarut sebagai fungsi dari
mengandung Basa Cyanide & Basa konstanta kesetimbangan
non - Cyanide. kelarutan, pH dan konsentrasi
2. Proses pencucian : menghasilkan bahan pembentuk presipitat.
limbah detergen yang mengandung 2. Pemisahan padatan dari larutan
Basa detergen yang membawanya.
Logam – logam berat umumnya dipresipitasi

TPL09-
TPL09-3
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979
979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

sebagai hidroksidanya dengan penambahan Reaksi – reaksi Presipitasi hidroksida


Kapur Ca(OH)2 atau Soda Api (NaOH) untuk untuk semua logam – logam kationik (M++)
menjaga minimum PH kelarutan. Namun, ada adalah sama dengan yang ditunjukkan dengan
beberapa jenis logam yang bersifat amfoter
amf reaksi sebagai berikut :
sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1.
Kelarutan Chrom (Cr) dan Seng (Zn) secara 
teoritis minimum masing – masing pada pH 7.5   
       


   .1
dan 10.2 dan menunjukkan suatu kenaikan 
signifikan dalam konsentrasi jika diatas atau  
dibawah nilai PH tersebut.   
2      

    .2
Pada beberapa
pa keadaan faktor – faktor  
diatas dapat mengganggu proses presipitasi
karena kelebihan ion – ion yang berbeda
muatannya, yang dapat menyebabkan presipitat
tidak dapat mengendap/dipisahkan dari air yang Pemakaian kapur lebih menguntungkan
membawanya. Oleh karenanya diperlukan suatu daripada pemakaian Soda Api karena garam –
tambahan spesies
pesies kimia yang membantu proses garam kapur bersifat mengendap dan dapat
bertindak sebagai Ko-presipitat.
resipitat. Kerugian
presipitasi. Bahan kimia ini disebut sebagai
bahan kopresipitasi, yang berfungsi untuk pemakaian kapur adalah jumlah Lumpur yang
menyerap & menggumpalkan. Logam yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan dengan
bersifat kopresipitat adalah Alumunium penggunaan Soda, tetapi secara ekonomi lebih
hidroksida / Al(OH)3 dan Feri hidroksida / murah pemakaian kapur karena harganya lebih
Fe(OH)3. (Eckenfelder,
elder, W. Wesley, Jr. “ murah & mudah didapatkan dipasaran.
Industrial Water Pollution Control 2nd ed,”
Untuk presipitasi logam bberat limbah
McGraw – Hill International) cair industri electroplating dengan
Logam – logam berat umumnya menggunakan caustic soda, maka sebelumnya
dipresipitasi sebagai OH-, CO32-- , dan S2-
dilakukan penambahan NaHSO3 40% untuk
.Logam diendapkan sebagai hidroksida dengan
mengendapkan Cr(VI). Karena Cr(VI) sukar
penambahan Kapur Ca(OH)2 atau Soda Ap Api mengendap dengan menggunkan caustic.
(NaOH) untuk menjaga minimum pH kelarutan. Logam Cr akan mengalami kenaikan proses
Namun, ada beberapa jenis logam yang bersifat penyisihan
an dengan meningkatnya volume
amfoter sebagaimana ditunjukkan pada gambar
reduktor. Logam Cu, Fe dan Mn akan
1. Kelarutan Chrom (Cr) dan Seng (Zn) secara mengalami penurunan proses penyisihan logam
teoritis minimum masing – masing pada pH 7.5 dengan semakin besarnya volume reduktor.
dan 10.2 dan menunjukkan suatu kenaikan
Proses penyisihan tertinggi untuk logam Cr
signifikan dalam konsentrasi jika diatas atau
98.04% dicapai pada (pH 8.2) Cu sebesar
dibawah nilai pH tersebut. 3 99.94% pada (pH 8.5), Fee sebesar 99.97% (pH
7) sedangkan Mn sebesar 99.5% (pH 8.8)5

Logam berat dapat pula dipresipitasi


sebagai sulfide dan karbonat, seperti dalam
kasus pengolahan limbah timah (Pb). Kelarutan
Sulfida dan Karbonat umumnya lebih rendah
daripada bentuk Hidroksida,, sehingga lebih sulit
mencapai konsentrasi effluent pengolahan yang
diiinginkan. Beberapa bentuk reaksi Sulfida dan
Karbonat.

Presipitasi Karbonat baik untuk


pengendapan logam Pb dan Ni. Pengolahan
logam yang mengandung logam, kadang kala
diperlukan pengolahan
lahan pendahuluan untuk
menghilangkan ion – ion pengganggu proses
presipitasi logam. Cyanida dan Ammoniak
dapat membentuk senyawa kompleks dengan
logam – logam dan mengganggu proses
Gambar 1 : Pengaruh pH pada kelarutan presipitasi. Cyanida dapat dihilangkan dengan
logam berat sebagai Hidroksida dan Sulfid khlorinasi alkali atau dengann oksidasi katalitik.
Akan tetapi limbah Cyanida yang mengandung

TPL09-
TPL09-4
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979
979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

nickel dan perak sulit untuk dihilangkan dengan untuk menghilangkan ion – ion kompleks
metode khlorinasi alkali. tersebut. Pemakaian bahan kimia Hidrogen
Hid
Peroksida (H2O2) dapat mengoksidasi CN
Ammoniak bisa dihilangkan dengan aerasi, sekaligus membentuk presipitat Cd(OH)2.
khlorinasi titik retak. Kelarutan logam – logam
dengan atau tanpa adanya ammmoniakmoniak sebagai . Tembaga (Cu)
fungsi pH dapat dilihat pada gambar 2.
Metode pengolahan standart untuk
Pada presipitasi Arsen dan Besi, tembaga adalah presipitasi. pH optimum untuk
oksidasi mungkin memerlukan penggunaan klor
atau permanganate. Untuk pengolahan limbah presipitasi Cu adalah pH 9 dan pH 10.
khrom, khrom heksavalensi (Cr6+) harus Pengolahan yang efektif telah diobserva
diobservasi
direduksi terlebih dahulu menjadi khrom terjadi pada nilai pH operasi yang lebih rendah.
trivalent (Cr3+) dan kemudian di presipitasi
dengan kapur. 2 Kapur dan soda digunakan secara luas
untuk presipitasi Cu. Namun, dalam air limbah
tembaga sulfat, penambahan kapur akan
menghasilkan Kapur Sulfat yang mudah
mengendap sehingga disarankan tidak
menggunakann filter, karena dapat mengikat
media pasir menjadi gumpalan yang keras.

Cupri Oksida memiliki kelarutan


minimum antara pH 9.0 dan 10.3 dengan suatu
kelarutan sebesar 10 µg/l. Secara prakteknya
mengindikasikan bahwa secara teknis
maksimum tingkat pengolahann yang layak untuk
Tembaga dengan proses presipitasi adalah 20 –
70 µg/l sebagai tembaga terlarut. Presipitasi
dengan Sulfida pada pH 8.5 akan menghasilkan
effluent dengan konsentrasi Tembaga sekitar 10
– 20 µg/l.

Gambar 2 : Pengaruh pH dan Ammmoniak Proses presipitasi tembaga sulit


pada kelarutan Cu dan Cr mencapai konsentrasi sisa yang rendah jika air
limbah mengandung senyawa pengkompleksnya
Performansi (kinerja) Proses Penyisihan seperti CN atau Ammoniak. Sehingga senyawa
Logam pengkomplek ini harus dihilangkan terlebih
dahulu dengan penyerapan memakai karbon
Cadmium (Cd) aktif sebelum proses presipitasi.

Cadmium disisihkan dari air limbah Nickel (Ni)


dengan proses presipitasi dan dapat dilajutkan
dengan proses ion exchange. Pada beberapa Presipitasi
esipitasi adalah standart pengolahan
kasus untuk meningkatkan proses presipitasi untuk mengontrol Nickel dalam buangan
dapat diawali dengan proses pemekatan air industri, walaupun dalam hal yang khusus
limbah dengan pengupan. Cadmium membentuk seperti untuk recovery pada industri
suatu Hidroksida tak larut dan sangat stabil pada electroplating, telah digunakan metode reverse
pH tinggi, pada pH 8 kelarutan Cadmium osmosis. Teknologi ini sangat efektif, secara
sebesar 1000µg/l dan pada pH 10 – 11 kelarutan prinsip hanya
nya baik digunakan untuk buangan
Cadmium sebesar 50µg/l. Pemakaian kapur nickel yang bersifat alkali.
(CaO) menghasilkan pengendapan yang baik,
sedangkan pemakaian NaOH memerlukan Nickel membentuk Nickel Hidroksida
proses penyaringan. Pemakaian kopresipitat tak larut dengan penambahan Kapur,
Fe(OH)3 dapat mereduksi Cadmium ium sampai 8 menghasilkan suatu kelarutan minimum 120
µg/l pada pH 6.5 dan 50 µg/l pada PH 8.5 µg/l pada pH 10 – 11. Nickel dapat juga
dipresipitasi sebagai Karbonat atau Sulfat yang
Cadmium tidak dapat terpresipitasi jika digabungkan dengan system recovery. Dalam
ada ion kompleks seperti Cyanida (CN). Oleh prakteknya, penambahan Kapur (pH 11.5) dapat
karenanya diperlukan pengolahan pendahuluan diperkirakan menghasilkan konsentrasi residu

TPL09-
TPL09-5
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

Nickel sebesar 150µg/l setelah pengendapan Skema Percobaan Mulai


dan filtrasi. Recovery Nickel dapat dilakukan
dengan ion exchange atau evaporasi.
Siapkan Sample Limbah
3.Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui


beberapa tahap meliputi penyiapan sample, Persiapan Alat & Bahan
percobaan(eksperimen) dan analisa hasil.
Penyiapan sample sebanyak 200ml dilakukan
dengan mencampur keempat sumber limbah
yaitu limbah dari proses rifinary, limbah Tempatkan Beaker Glass diatas Hot
bombing dan glundung , proses pencucian, dan Plate masu dan kkan dan Styrer
limbah pengaturan warna dan bilasan masing
masing 13,37%, 1,96%, 5,72%dan 78,95%.
Kemudian dilakukan eksperimen (proses
Aduk sample dengan Kec. 80 rpm
presipitasi) dengan metode Jar-Tes dengan
variabel pH 8,9,10,11dan 12, waktu
pengendapan 15, 20, 25 dan 30 menit serta jenis
reduktor NaOH dan Ca(OH)2. Analisa hasil Check pH Sample
dilakukan dengan AAS. Adapun skema
penelitian , penyiapann sample maupun
prosedur penelitian secara keseluruhan dapat
Atur pH sample sesuai variabel, yaitu pH : 8,
dilihat pada skema-skema berikut.
9, 10, 11,& 12 dengan Penambahan Ca(OH)2
Skema Penelitian

Atur Kec. Pengadukan menjadi


MULAI 100 rpm, aduk selama 10 menit

Identifikasi Masalah Tambahkan Larutan Polimer sebanyak 10 ml

Tujuan Penelitian Atur Kec. Pengadukan menjadi 60


rpm, aduk selama 5 menit

Manfaat Penelitian
Diamkan sample sesuai dengan
Studi Literatur variable waktu flokulasi, yaitu :
15, 20, 25 & 30 menit

Percobaan
Saring Sample dengan Kertas Saring

Analysis Data
Masukkan sample hasil
penyaringan ke botol
Kesimpulan

Tes kadar Akhir logam dengan


Alat Spectrophotometry dan AAS
SELESAI

Selesai

TPL09-
TPL09-6
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

4.Hasil Pembahasan

Analisis kandungan logam berat pada


sample awal maupun setelah eksperimen
dilakukan dengan metode AAS, sedangkan
perhitungan % removal dihitung dengan rumus
sebagai berikut:

Kadar Awal – Kadar Akhir

(%) Removal = x100%

Kadar Awal

100.0%

100.0%
15 menit
100.0%
20 menit

% Removal
100.0% 25 menit

100.0% 30 menit

100.0%

100.0%

100.0%

100.0%
8 9 10 11 12

pH
SELESAI
Gambar 10. Skema percobaan
Grafik 1. pH Versus % Removal logam Cu
dengan reduktor NaOH.
Skema Pengambilan Sample Limbah Cair PT.
X
100.0%

15 menit
99.0%
MULAI 20 menit
% Removal

25 menit
98.0%
30 menit

97.0%
Ambil sample dari tangki penampung
Limbah Cair yang berasal dari unit proses 96.0%

Refinery (limbah 1)
95.0%
8 9 10 11 12

pH
Ambil sample dari tangki penampung Limbah
Cair yang berasal dari unit proses Bombing &
Glundung (limbah 2) Grafik 2. pH Vs % Removal logam Ni dengan
reduktor NaOH
Ambil sample dari tangki penampung Limbah
Cair yang berasal dari unit proses Pencucian
(limbah 3)

Ambil sample dari tangki penampung Limbah


Cair yang berasal dari unit proses Bilasan
(limbah 4)

Campur sample limbah dengan komposisi :


13.37% (limbah 1) , 1.96% (limbah 2) , 5.72%
(limbah 3) , 78.95% (limbah 4)

TPL09-
TPL09-7
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

100.0% OH- sehingga kelarutannya semakin


99.6%
15 menit besar. Hal ini ditunjukkan dengan
20 menit
% Removal 25 menit hubungan pH dengan kelarutan sebagai
berikut pH = log OH- dimana OH- = s dan
99.2%
30 menit

98.8% s = KSP
98.4%

98.0%
8 9 10 11 12

pH

100.0%
Grafik 3. p Vs % removal Logam Zn dengan
reduktor NaOH. 100.0%
15 menit
100.0% 20 menit

% Removal
25 menit
100.0% 100.0% 30 menit

100.0% 100.0%

99.9% 15 menit 100.0%


% Removal

20 menit
99.9%
99.9% 25 menit
8 9 10 11 12
30 menit
99.8% pH

99.8%

99.7%
Grafik 5. pH Vs % removal logam Cu dengan
8 9 10 11 12
reduktor Ca(OH)2
pH

100.00%
Grafik 4. pH Vs % Removal logam Fe dengan 99.50%
reduktor NaOH. 99.00% 15 menit
20 menit
% Removal

98.50%
Grafik 1, 2, 3, dan 4 menunjukan 25 menit
98.00% 30 menit
pengaruh pH terhadap % removal logam Cu, Ni, 97.50%
Zn dan Fe dengan penambahan reduktor NaOH 97.00%
pada waktu flokulasi sesuai dengan variable (15, 96.50%
20, 25 dan 30 menit). Dari grafik – grafik diatas 96.00%
terlihat bahwa semakin besar pH maka % 8 9 10 11 12

removal logam semakin besar. Sebagai contoh pH

dari Grafik 4. terlihat bahwa dengan


penambahan bahan reduktor NaOH dengan Grafik 6. pH Vs % removal logam Ni dengan
waktu flokulasi 30 menit, % removal logam Fe reduktor Ca(OH)2
pada pH 8, 9, 10, 11 & 12 berturut – turut
adalah 99.807%, 99.893%, 99.921%, 99.923%, 15 menit
100.0%
dan 99.935% . Dimana % removal tertinggi 20 menit
adalah pada pH 12 yaitu sebesar 99.935%, hal 100.0% 25 menit
30 menit
ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pH 99.9%
% Removal

maka % removal logam semakin besar. Dalam 99.9%


literature menyebutkan bahwa pH sangat
99.8%
berpengaruh pada saat ion – ion logam terikat
dengan OH- yang ada pada reduktor (NaOH) 99.8%

dan membentuk endapan. Reaksi ikatan ion – 99.7%


ion logam tersebut adalah sebagai berikut : 8 9 10 11 12
pH
2+
Cu Cu (OH ) 2
Ni 2+ Ni(OH ) 2 Grafik 7. pH Vs % removal logam Zn dengan
2+ + reduktor Ca(OH)2
Zn +2 NaOH → Zn(OH ) 2 ↓ + Na
2+
Fe Fe(OH ) 2
Selain itu semakin tinggi pH
maka semakin besar konsentrasi ion

TPL09-
TPL09-8
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

100.0% 15 menit Dari grafik 9. menunjukkan bahwa %


20 menit removal terbesar pada pH 12 dengan waktu
100.0% 25 menit
30 menit
flokulasi 30 menit adalah logam Cu baik dengan
% Removal 99.9% menggunakan reduktor NaOH maupun
99.9% Ca(OH)2. Dimana besarnya % removal hampir
99.8%
mendekati 100% yaitu 99.993% dengan
menggunakan bahan reduktor Ca(OH)2 dan
99.8%
99.990% dengan menggunakan reduktor NaOH.
99.7% Terlihat bahwa logam Cu sudah terlarut
8 9 10 11 12
pH
sempurna pada pH 12, hal ini terjadi karena
Cupri Oksida memiliki kelarutan minimum
antara pH 9.0 dengan suatu kelarutan sebesar 10
Grafik 8. pH Vs % removal logam Fe dengan µg/l 4 sehingga untuk mendapatkan % removal
reduktor Ca(OH)2 logam Cu yang besar diperlukan pH yang lebih
besar daripada pH kelarutan minimumnya.
Dari Grafik.5, 6, 7, dan 8 menunjukkan
pengaruh pH terhadap % removal logam Cu, Ni, Sedangkan % removal terkecil terjadi
Zn dan Fe dengan penambahan reduktor pada logam Ni yaitu 99.877% dengan reduktor
Ca(OH)2 dengan masing – masing variable NaOH dan 99.936% dengan reduktor Ca(OH)2.
waktu flokulasi (15, 20, 25 & 30 menit). Dari Dimana logam Nickel membentuk Nickel
grafik tersebut juga menunjukkan bahwa Hidroksida tak larut dengan penambahan Kapur,
semakin besar pH maka % removal masing – menghasilkan suatu kelarutan minimum 120
masing logam semakin besar. Sebagai contoh : µg/l pada pH 10 – 11. Dari grafik 17, terlihat
pada Grafik 8 terlihat bahwa dengan bahwa % removal logam Ni pada pH 12 cukup
penambahan bahan reduktor Ca(OH)2 dengan besar tetapi belum mencapai 99.99% hal ini
waktu flokulasi 30 menit, % removal logam Fe terjadi karena logam Ni yang terlarut mulai
pada pH 8, 9, 10, 11 & 12 berturut – turut terjadi pada pH 11 sehingga pada pH 12 logam
adalah 99.822 %, 99.913%, 99.924 %, 99.927% Ni yang terlarut tidak begitu besar.
dan 99.941% Dimana % removal tertinggi Begitu pula untuk logam Zn, dari
adalah pada pH 12 yaitu sebesar 99.941%, hal grafik 17 terlihat bahwa % removalnya belum
ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pH mencapai 99.99% yaitu hanya sebesar 99.949%
maka % removal logam semakin besar. Dalam dengan menggunakan reduktor Ca(OH)2 dan
literature menyebutkan bahwa pH sangat 99.946% dengan reduktor NaOH. Hal ini terjadi
berpengaruh pada saat ion – ion logam terikat
dengan OH- yang ada pada reduktor (NaOH) karena logam Zn mempunyai kelarutan
dan membentuk endapan. Reaksi ikatan ion – minimum pada pH 10.5 , dimana logam Zn
ion logam tersebut adalah sebagai berikut : mulai terlarut pada pH 10.5 sehingga pada pH
12 logam Zn yang terlarut masih sedikit.
Cu 2+ Cu(OH )2 Untuk logam Fe, dari grafik 17 terlihat
Ni 2+ Ni(OH )2 bahwa % removalnya belum mencapai 99.99%
+ Ca (OH )2 Ca 2+ yaitu hanya sebesar 99.941 % dengan
Zn(OH )2
+
Zn 2+ menggunakan reduktor Ca(OH)2 sedangkan
Fe 2+ Fe(OH )2 dengan reduktor NaOH diperoleh 99.935%. Hal
ini terjadi karena logam Fe mempunyai
100.000% kelarutan minimum pada pH 10, dimana logam
99.980% Fe mulai terlarut pada pH 10 sehingga pada pH
99.960%
99.940%
12 logam Fe yang terlarut masih sedikit.
% Removal

99.920%
99.900%
NaOH Dari uraian diatas menunjukkan bahwa
Ca(OH)2
99.880% besarnya % removal masing – masing logam
99.860%
99.840%
berbeda – beda, hal ini terjadi karena kelarutan
99.820% masing – masing logam berbeda – beda. Seperti
99.800% diketahui bahwa kelarutan logam sangat
Cu Ni Zn Fe

Logam
dipengaruhi oleh pH, konsentrasi bahan
reduktor dan bahan pembentuk presipitat
Grafik 9. % Removal logam Cu, Ni, Zn dan Fe (koagulan) sehingga perlakuan pH untuk masing
dengan reduktor NaOH dan Ca(OH)2 dan waktu – masing logam tidak sama. Seperti contoh
30 menit. logam Cu dapt terlarut optimum pada pH 12

TPL09-
TPL09-9
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

sedangkan logam Ni masih belum terlarut ekonomi harga kapur lebih murah dibandingkan
optimum pada pH tersebut. dengan NaOH

Dari grafik 9 juga terlihat bahwa Dari penelitian yang telah dilakukan
penambahan bahan reduktor kapur (Ca(OH)2) oleh Praswasti PDK Wulan dalam penurunan
lebih bagus dibanding dengan menggunakan logam berat Cu dan Fe dengan variable pH 4, 6
caustic soda (NaOH) dalam meremoval logam, dan 8 tidak begitu berpengaruh terhadap
hal itu disebabkan kapur mengendapkan logam penurunan kadar logam karena pH minimal dari
lebih cepat dan dapat bertindak sebagai Ko- kedua logam tersebut adalah pada pH 10 untuk
presipitat. 4 logam Cu dan 12 untuk logam Fe. Sedangkan
penelitian ini variable pH yang diambil adalah
Reaksi – reaksi Presipitasi hidroksida pada pH 8, 9, 10, 11 dan 12 untuk menentukan
untuk semua logam – logam kationik (M++) pH optimum dari masing – masing logam. Dari
adalah sama dengan yang ditunjukkan dengan hasil penelitian ini didapatkan bahwa pH
reaksi sebagai berikut : optimum untuk logam Cu dan Fe ada diatas pH
10.
CO3 CO3 ↓
M ++ ++
SO4 + Ca (OH ) 2 → M (OH ) 2 + Ca SO4 ↓ 5. Kesimpulan
Cl2 Cl2 ↓ Dari penelitian yang telah dilakukan
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
CO3 CO3 ↓
1. % Removal terbesar pada pH dan waktu
++ ++
M SO4 + 2 NaOH → M (OH ) 2 + Ca SO4 ↓ flokulasi optimum dengan penambahan
Cl2 Cl2 ↓ bahan reduktor NaOH adalah logam Cu
dengan % removal sebesar 99.993%.
Sedangkan % removal terbesar pada pH
Perbedaan penambahan bahan reduktor NaOh dan waktu flokulasi optimum dengan
dengan Ca(OH)2 dari segi effisiensi biaya penambahan bahan reduktor Ca(OH)2
maupun operasionalnya ditunjukkan dengan adalah logam Cu dengan % removal
table dibawah : sebesar 99.994%
2. Penambahan bahan reduktor Ca(OH)2 lebih
baik dibandingkan NaOH karena
menghasilkan % removal logam Cu, Ni, Zn
Tabel 4.1 Perbandingan koagulan NaOH dan
dan Fe lebih besar dan dari segi effisiensi
Ca(OH)2 : 3
biaya maupun pengolahannya.
Parameter NaOH Ca(OH)2
6. Daftar Pustaka
Biaya Mahal Murah 1. Afiatun, Evi, Wahyui, Sri, Rachmawaty,
Agustini, (2004), “Perolehan Kembali Cu
operasional
dari Limbah Elektroplating dengan
Lumpur Sedikit Banyak Menggunakan Reaktor Unggun
Terfluidisasi”, Infomatek, Volume 6 No.1,
yang d 27 - 36.
ihasilkan 2. Day, R.A., Jr., and A.L. Underwood, (991),
“Analisa Kimia Kuantitatif Edisi ke-4”,
Kecepatan Lambat Cepat Penerbit Erlangga, Jakarta.
pengendapa 3. Eckenfelder, W.Wesley, Jr., (1989), “
n Industrial Water Pollution Control 2nd
ed.”,McGraw-HillInternational,Singapore.
4. N. HAAS, Charles, J.Vamos, Richard,
“Hazardous and Industrial Waste
Dari table diatas terlihat bahwa Treatment”, Prentice Hall, Engelwood
kerugian menggunakan kapur adalah jumlah Cliffs, New Jersey 07632
lumpur yang dihasilkan lebih banyak 5. Roekmijati W.Soemantojo, Praswasti PDK.
dibandingkan dengan penggunaan NaOH, tetapi Wulan, dan Yulianti (2001)“Presipitasi
Lumpur yang dihasilkan sebagai limbah padat Bertahap Logam Berat Limbah Cair
dapat diolah lagi menjadi Paving. Secara Industri Pelapisan Logam Menggunakan
Larutan Kaustik Soda”, Jurusan Teknik

TPL09-
TPL09-10
Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia – SNTKI 2009 ISBN 978-979-98300-1-2
Bandung, 19-20 Oktober 2009

Gas dan Petrokimia, Fakultas Teknik


Universitas Indonesia
6. Soeprijanto, Aryanto, Bambang, Fabella,
Ryan, (2007), “Biosorpsi Ion Logam Berat
Cu(II) dalam Larutan Menggunakan
Biomassa Phanerochaete Chrysosporium”,
Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Vol.6
No.1, 61-67
7. W. Patterson, James, “Industrial
Wasterwater Treatment Technology”,
second Edition, McGraw-Hill
International,Singapore
8. _________, Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor:KEP-
51/MENLH/10/1995.http//www.bapedal.go.
id./kepmen .

TPL09-
TPL09-11