Anda di halaman 1dari 8

Pancasila : Membentuk Karakter Mahasiswa Anti-Plagiarisme

Oleh : Eldo Tobing1


Prof. Dr. Quraish Shihab berkata : "Tanamkanlah tindakan, anda
akan menuai kebiasaan. Tanamkanlah kebiasaan, anda akan mendapatkan
karakter. Tanamkanlah karakter anda akan mengukir nasib"
Kutipan diatas merupakan urutan dalam proses berperilaku manusia. Bila sejak
awal tindakan yang ditanamkan baik maka kedepannya hasil yang diperoleh juga baik,
begitu pula dengan sebaliknya. Plagiarisme merupakan salah satu tindakan yang tidak
baik untuk dilakukan. Ketika plagiarisme tetap dilakukan seseorang maka akan
menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter orang tersebut. Plagiarisme menjadi
permasalahan mengemuka dalam kepenulisan dewasa ini. Plagiarisme merupakan salah
satu kejahatan akademik dan melanggar kode etik pendidikan yang banyak dilakukan
oleh akademisi di negeri ini. 2 Plagiarisme menurut Swansea University (2008)
didefinisikan sebagai aksi menyalin atau meminjam hasil kerja atau ide tanpa
memberikan pengakuan kepada pengakuan kepada penulis asli. 3 Adapun ciri ciri
yang termasuk plagiarisme menurut Dr. C. Barnbaum (Valdosta State University) yaitu
copy & paste, mengganti dengan bahasa sendiri, mengikuti gaya penalaran kutipan,
penulisan metafora dan mengikuti ide penulis. 4 Kelima ciri ini tentunya dengan tidak
mencantumkan sumber penulis sebenarnya. Tindakan plagiat ini dilakukan mulai dari
menjiplak tugas kuliah, skripsi hingga aksi plagiarisme karya ilmiah yang dilakukan
termasuk oleh seorang mahasiswa. Budaya plagiarisme di lingkungan mahasiswa bukan
hal baru yang menjadi perbincangan. Mahasiswa yang dianggap oleh publik sebagai
intelektual muda ternyata melalukan pencurian karya intelektual orang lain. Contoh
1

Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Brawijaya Angkatan 2009
2

Dewi Mardiani. 2012. Inilah Cara Deteksi Plagiarisme Karya Ilmiah. http://www.republika.co.id
/berita/nasional/umum/12/04/22/m2vond-inilah-cara-deteksi-plagiarisme-karya-ilmiah, diakses pada 30
April 2013.
3

Swansea University. A Glossary of Library, Information and Computing Terms. http://www.swan


.ac.uk/lis/HelpAndGuides/library Jargon/ GlossaryM -Z/, diakses pada 30 April 2013.
4

Barnbaum, C.1998. Plagiarism: A Students Guide to Recognizing It and Avoiding It. Valdosta State
University. http://www.valdosta.edu/~cbarnbau/personal/teaching_MISC/plagiarism.htm, diakses pada
30 April 2013.

kasus plagiarisme yang terjadi di tanah air yaitu pada 2 mahasiswa Jurusan Ilmu
Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang ketahuan plagiat pada
skripsinya pada November 2012 lalu. Bahkan kasus ini terjadi pada mahasiswa S3
Institut Teknologi Bandung pada 2010 lalu bernama Mochammad Zuliansyah yang
melakukan plagiat pada disertasinya.5
Kasus plagiarisme yang dilakakukan mahasiswa sebenarnya bukan hanya terjadi
di Indonesia saja, bahkan di Australia sendiri pada

menurut laporan The West

Australian hari Jumat (19/4/2013), angka yang didapat dari empat universitas di
Australia Barat

menunjukkan bahwa dalam dua tahun terakhir, 4.000 mahasiswa

mendapatkan peringatan ataupun tindakan indisipliner karena plagiarissme dalam


tulisan mereka.6 Bahkan kasus ini terjadi di Amerika Serikat yaitu di Universitas
Harvard dimana pada Agustus 2012 lalu skandal plagiarisme massal mahasiswa
terungkap yang melibatkan 125 orang mahasiswa universitas Harvard. 7 Ini tentunya
menjadi polemik di negara negara tersebut termasuk Indonesia. Namun perbedaan
plagiarisme di kedua negara itu dengan Indonesia yaitu negara maju itu sudah mengecek
dengan teliti dan detail setiap tugas mahasiswa dan dibantu oleh lembaga- lembaga antiplagiarisme. Selain itu pula plagiarisme dianggap kriminal di negara- negara tersebut
dan diberikan sanksi yang tegas terhadap pelakunya hingga dapat dilakukan penahanan
berupa penjara. Sedangkan kasus di Indonesia, kasus plagiat baru diketahui pada
penulisan tugas akhir saja seperti skripsi hingga disertasi, padahal pada tugas akademik
sehari-hari tindakan plagiat banyak terjadi namun tidak diketahui.
Tindakan copy-paste tugas sehari-hari hingga skripsi tanpa mencantumkan
sumber memang menjadi kebiasaan mahasiswa pada umumnya terutama di Indonesia.
Penyelesaian penulisan secara instan, pragmatis dan diikuti dengan kebiasaan malas
kerap terjadi di kalangan civitas akademika untuk memperoleh hasil tulisan yang baik
tanpa perlu bekerja keras. Apalagi ini diperparah dengan tidak telitinya dosen
5

Detiknews. 2010. Kasus Plagiarisme Bikin Geger Alumni ITB. http://news.detik.com/read /


2010/04/16/093509/1339462/10/kasus-plagiarisme-bikin-geger-alumni-itb, diakse pada 29 April 2013.
6

Rusdi Amral.2013. Semakin Banyak Mahasiswa di Australia Menjadi Plagiat. http://internasional


.kompas.com/read/2013/04/19/09161797/Semakin.Banyak.Mahasiswa.di.Australia.Menjadi.Plagiat,
diakses pada 29 April 2013.
7

Mjeducation.2012. Mengupas Kasus Plagiarisme Massal Harvard. http://mjeducation.co/mengupaskasus-plagiarisme-massal-harvard/, diakses pada 29 April 2013.

pembimbing dalam memeriksa tugas dan tidak adanya sanksi yang tegas secara
implementasi terhadap pelaku plagiarisme.

Fenomena ini kemudian menyebabkan

terjadinya degradasi moral di kalangan mahasiswa dan tumbuh suburnya tindakan


plagiarisme.

Pendidikan

kepribadiaan

yang

seharusnya

alat

untuk

mendidik

manusia

memiliki

baik dan luhur. Namun, pendidikan ini menjadi rusak karena

implementasinya yang menyimpang salah satunya dengan adanya plagiarisme ini.


Dalam mencegah banyaknya kasus plagiarisme, sebenarnya pemerintah sudah
melakukan berbagai upaya. Salah satunya dengan diterbitkannya Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional No 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan
Plagiat di Perguruan Tinggi.8 Sanksi Plagiat ini berupa teguran hingga pemberhentian
dari jabatan dan pembatalan ijazah. Kemudian ada pula penggunaan software anti
plagiarisme seperti Turnitin ataupun Viper untuk mengecek tingkat plagiarisme tulisan
seseorang. Namun, ini belumlah efektif tanpa sikap kejujuran dan integritas dari para
penulis karya ilmiah (mahasiswa). Diperlukan pencegahan dan pemberantasan sejak
dini aksi plagiarisme tersebut sebelum karya seseorang dipublikasikan. Solusi yang
diajukan penulis yaitu melalui nilai filosofis yang terdapat pada Pancasila untuk
mencegah plagiarisme sejak dini di kalangan mahasiswa. Alasan digunakan Pancasila
yaitu berdasarkan ketetapan MPR No. II/MPR/1979, dimana Pancasila dikatakan
sebagai jiwa seluruh rakyat, pandangan hidup bangsa dan dasar negara Indonesia.
Sila Pertama berbunyi ketuhanan yang maha esa. Ini berarti Bangsa Indonesia
menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa (butir 1
sila pertama) . Tindakan plagarisme termasuk kategori kejahatan secara akademik.
Kejahatan menurut Drs Moh Kemal Dermawan merupakan ulah manusia yang dalam
usahanya untuk memenuhi kebutuhannya atau memuaskan nafsunya sehingga sering
lalai serta sama sekali tidak peduli dengan kepentingan orang lain. 9 Tindakan kejahatan
ini tentunya berakibat dosa jika dilakukan. Kejahatan ini tidak sesuai dengan nilai
nilai kebaikan dan moral yang diajarkan agama. Mahasiswa tentunya akan
8

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional.2010. Pencegahan dan Penanggulangan Plaguat Perguruan


Tinggi. http://unnes.ac.id/wp-content/uploads/Permen-Nomor-17-Thn-2010-tentang- pencegahan-danpenanggulangan-plagiat.pdf, diakses pada 30 April 2013.
9

Andrias C .2011. Hapuskan Terorisme dengan Pancasila. http://kampus.okezone.com


/read/2011/10/02/367/509639/hapuskan-terorisme-dengan-pancasila, diakses pada 30 April 2013.

menghindarkan dan tidak melakukan plagiarisme jika ini perbuatan dosa dan tidak
sesuai dengan nilai nilai ketuhanan. Apalagi bangsa Indonesia mayoritas masih
memegang teguh ajaran agamanya, ini dapat membantu mencegah agar tidak dilakukan
perbuatan yang merugikan ini.
Sila kedua berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab. Ini berarti mengakui
dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa (butir 1 sila kedua). Maksudnya sesuai harkat dan martabat yaitu
mengembangkan sikap menghormati dan tidak semena-mena terhadap orang lain.
Plagiarisme merupakan pengakuan gagasan (properti intelektual) orang lain sebagai
pemikiran sendiri.10 Tindakan ini menandakan bahwa seseorang tidak menghormati dan
menghargai karya dan hasil pemikiran orang lain. Melakukan tindakan plagiat berarti
pula melanggar hak milik orang lain (property right). Pelanggaran hak milik orang lain
akan berakibat sanksi berupa denda bahkan dapat lebih buruk dari itu. Sila kedua ini
ketika dipegang teguh dan dilaksanakan, maka tindakan plagiat dapat dicegah
dikarenakan adanya perlakuan sesuai harkat dan martabat terhadap sesama termasuk
dalam hal menghargai karya orang lain.
Sila ketiga berbunyi persatuan Indonesia. Ini berarti mengembangkan rasa
kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia (butir 4 sila ketiga). Tindakan
plagiarisme oleh mahasiswa apalagi terhadap karya anak bangsa sendiri merupakan
tindakan yang tidak menghargai rasa kebangsaan. Ini tidak sesuai dengan semangat
kebersamaan untuk memajukan bangsa melalui karya kepenulisan yang dapat dimulai
dari generasi muda. Peniruan karya sesama ini kemudian jika ketahuan dan
terpublikasikan, maka dapat melunturkan semangat persatuan dan kesatuan.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan menempatkan persatuan, kesatuan, serta
kepentingan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan
pribadi dan golongan. Kepentingan bersama hendaknya didahulukan daripada ingin
menghasilkan tulisan baik untuk mendapatkan penghargaan terhadap diri sendiri, namun
proses pembuatan karyanya penuh kecurangan.

10

ISS. 2006. Plagiarism: What Is and How to Avoid It. http://www.indiana.edu/~wts/ pamphlet/
plagiarism.pdf, diakses pada 30 April 2013.

Sila keempat berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan


dalam permusyawaratan/perwakilan (prinsip demokrasi) . Ini berarti sebagai warga
negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak
dan kewajiban yang sama (butir 1 sila keempat). Jika dikaitkan dengan tindakan
plagiarisme, maka pelaku aksi tersebut tidaklah menghargai penulis sebenarnya yang
seharusnya mendapatkan hak atas karya mereka. Kedudukan, hak dan kewajiban
sebagai warga negara dalam kepenulisan akan terabaikan jika seorang mahasiswa
menggunakan tulisan orang lain tanpa mencantumkan referensi untuk memperoleh
penghargaan serta pencapaian bagi dirinya sendiri. Diperlukan ketegasan hukuman dan
sanksi berupa dikeluarkan dari perguruan tinggi, pencopotan gelar, jabatan hingga
penjara bagi seseorang yang terbukti melakukan plagiarisme agar para penulis bangsa
tidak melakukan tindakan yang merugikan. Tindakan plagiarisme tersebut bukanlah
wujud demokrasi yang menekankan adanya penghargaan yang sama terhadap setiap
manusia.
Sila kelima berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini berarti
menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan
bersama (butir sepuluh sila kelima). Ini berkaitan dengan menghormati dan
mengembangkan sikap adil terhadap sesama. Tindakan plagiarisme dianggap tidak
menghargai karya orang lain, dikarenakan mengutip gagasan tanpa mencantumkan
nama penulis dan sumbernya. Ini tentunya tidak adil dan tidak sesuai dengan sila kelima
bagi orang yang dikutip tulisannya namun tidak dicantumkan sumbernya. Selain itu
pula, karya hasil plagiat ini tidak untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama, namun
hanya untuk kepentingan pihak yang melakukan plagiat semata.
Kelima sila Pancasila diatas dapat menjadi solusi alternatif bagi pembangunan
karakter bangsa yang tangguh dan menuju kebangkitan nasional dengan tidak
melakukan kecurangan. Pada nilai filosofis Pancasila terdapat falsafah hidup bangsa
yang perlu diimplementasi untuk membangkitkan semangat juang bangsa. Semangat
juang itu bukan saja untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, tetapi juga untuk
meningkatkan kualitas SDM Indonesia.11 Menurut Poespowardojo dan Hardjatno (2010)
11

Noorsyam, H. M. 2009. NKRI sebagai sistem kenegaraan Pancasila dalam wawasan Filosofis
Ideologis dan Konstitusional. Jurnal Konstitusi. Mahkamah Konstitusi dan Pusat kajian konstitusi
Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang. 1(2): 59-84.

kualitas itu akan lahir dari manusia yang berkarakter religius, berintegritas, percaya diri,
memegang prinsip keadilan dan berjiwa nasionalisme .12 Karakter karakter berbasis
kelima sila Pancasila inilah yang akan menciptakan mahasiswa sebagai penerus generasi
bangsa yang tidak melakukan plagiarisme dan mencapai kemajuan bangsa bersama.

Lampiran Esai
Plagiarisme Banyak Dilakukan
Oleh Mahasiswa

12

Melanggar Kode Etik dan Tidak Menghargai Karya


Poespowardojo, S dan Hardjatno, N. J. M. T. 2010.
Pancasila
Orang
lain Sebagai Dasar Negara Dan

Pandangan Hidup Bangsa. Pokja Ideologi. Lemhannas, Jakarta)

Mencegah Plagiarisme Menggunakan Pancasila


Sila I

Terciptanya Karakter Mahasiswa Anti-Plagiarisme


Sila II
Sila III
Sila IV
Sila V

Bagan 1 : Alur Pemikiran Pancasila Membentuk Karakter Mahasiswa AntiPlagiarisme

Daftar Pustaka
Andrias C .2011. Hapuskan Terorisme dengan Pancasila. http://kampus.okezone.com
/read/2011/10/02/367/509639/hapuskan-terorisme-dengan-pancasila,
diakses
pada 30 April 2013.

Barnbaum, C.1998. Plagiarism: A Students Guide to Recognizing It and Avoiding


It.
Valdosta
State
University.
http://www.valdosta.edu/~
cbarnbau/personal/teachingMISC/plagiarism.htm, diakses pada 30 April 2013.
Detiknews.
2010.
Kasus
Plagiarisme
Bikin
Geger
Alumni
ITB.
http://news.detik.com/read /2010/04/16/093509/1339462/10/kasus-plagiarismebikin-geger-alumni-itb, diakse pada 29 April 2013.
Dewi

Mardiani. 2012. Inilah Cara Deteksi Plagiarisme Karya Ilmiah.


http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/22/m2vond-inilah-caradeteksi-plagiarisme-karya-ilmiah, diakses pada 30 April 2013.

ISS. 2006. Plagiarism: What Is and How to Avoid It. http://www.indiana.edu/~wts/


pamphlet/ plagiarism.pdf, diakses pada 30 April 2013.
Mjeducation.2012.
Mengupas
Kasus
Plagiarisme
Massal
Harvard.
http://mjeducation.co/mengupas-kasus-plagiarisme-massal-harvard/, diakses pada
29 April 2013.
Noorsyam, H. M. 2009. NKRI sebagai sistem kenegaraan Pancasila dalam wawasan
Filosofis Ideologis dan Konstitusional. Jurnal Konstitusi. Mahkamah Konstitusi
dan Pusat kajian konstitusi Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana
Malang. 1(2): 59-84.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional.2010. Pencegahan dan Penanggulangan
Plaguat Perguruan Tinggi.
http://unnes.ac.id/wp-content/uploads/PermenNomor-17-Thn-2010-tentangpencegahan-dan-penanggulangan-plagiat.pdf,
diakses pada 30 April 2013.
Poespowardojo, S dan Hardjatno, N. J. M. T. 2010. Pancasila Sebagai Dasar Negara
Dan Pandangan Hidup Bangsa. Pokja Ideologi. Lemhannas, Jakarta)
Rusdi Amral.2013. Semakin Banyak Mahasiswa di Australia Menjadi Plagiat.
http://internasional.kompas.com/read/2013/04/19/09161797/Semakin.Banyak.Ma
hasiswa.di.Australia.Menjadi.Plagiat, diakses pada 29 April 2013.
Swansea University. A Glossary of Library, Information and Computing Terms.
http://www.swan .ac.uk/lis/HelpAndGuides/library Jargon/ GlossaryM -Z/,
diakses pada 30 April 2013.