Anda di halaman 1dari 7

Museum

Mataram

PUSAT INFORMASI KERAJAAN MATARAM


KUNA
Pengantar: Arti Penting Mataram,
Medang dan Syailendra
Bentang Alam dan Monumen Kerajaan
Mataram
Sistem Sosial (Kemasyarakatan,
Pemerintahan dan Ekonomi) Kerajaan
Mataram

PENGANTAR: ARTI PENTING


MATARAM, MEDANG DAN
SYAILENDRA
kamung rahyang ta rumuhun ri mang ri po pitu rakai
matarm sang ratu sajaya r mahrja rakai Panangkaran r
mahrja rakai panunggalan r mahrja rakai warak r
mahrja rakai garung r mahrja rakai pikatan r mahrja
rakai kayuwangi r mahrja rakai watu humalang (Prasasti
Mantyasih I)

Prasasti tersebut memerinci para raja yang bertahta di


kerajaan Mataram yang terletak di Medang dalam suatu
alur kesilsilahan Wangsa Syailendra. Kerajaan, Ibukota
dan Wangsa yang memeerintah ini menjadi bagian
terpenting sejarah Nusantara pada abad ke-8 hingga ke10.
Mataram menjadi penting karena:
Riwayatnya yang panjang
Pengaruhnya yang luas, tidak hanya di Jawa, tapi juga
Sumatra, Malaysia dan Kamboja
Jejaknya yang mendalam sehingga beberapa aspek
pola pikir dan tata masyarakatnya masih

BENTANG ALAM DAN MONUMEN


KERAJAAN MATARAM
Jejak yang paling dikenal dari masa gemilang Kerajaan
Mataram adalah monumen-monumen keagamaan yang
terserak di bentang alam pulau Jawa. Konsentrasi yang
penting dari mahakarya arsitektur ini ada di Dataran
Tinggi Dieng, Perbukitan Menoreh di Kedu dan di alur
Sungai Progo (Prambanan Plain dan Syiwa Plateau).
Di tempat-tempat yang diyakini menyandang makna
kosmologis dan sosial tersebut, Mataram meninggalkan
candi-candi dengan beragam peran dan langgam yang
menunjukkan dinamika adaptasi budaya dari peradaban
Hindu-Buddha di India dalam konteks budaya dan alam
Jawa. Candi Borobudur yang membusung, Candi
Prambanan yang menjulang, Candi Plaosan dan Sewu
yang membentuk mandala yang kompleks hingga candicandi kecil unik menjadi kekayaan budaya yang penting.
Deretan gunung berapi yang melimpahkan kesuburan
sekaligus menumpahkan bencana adalah komponen
bentang alam yang terpenting untuk memahami

SISTEM SOSIAL KERAJAAN


MATARAM
Sistem sosial ekonomi Mataram didasarkan pada basis
pertanian lahan basah terutama padi di pedalaman
dan basis perniagaan internasional yang terjalin di
bandar-bandar yang terletak di muara sungai besar.
Pertanian ini sangat didukung oleh kesuburan tanah
aluvial yang diperkaya oleh abu vulkanik yang
melimpah.
Raja yang berkedudukan di pedalaman berpengaruh
terutama pada masyarakat agraris. Namun demikian
Raja memanfaatkan secara efektif atribut reliogiokultural HinduBuddha yang diadaptasi dari India
melalui jalur perniagaan internasional di pesisir.
Raja Mataram memerintah berdasarkan prinsip aliansi
antar penguasa lokal yang acapkali diperkokoh dengan
pernikahan. Secara simbolis Raja memegang
kedaulatan spiritual dengan menciptakan monumenmonumen keagamaan yang menakjubkan serta
menghimpun biarawan, agamawan dan ilmuwan di

SISTEM KEPERCAYAAN DAN


SIMBOLISMENYA
Agama Hindu (Brahmanisme) dan Buddha (Mahayana)
mendominasi kehidupan Kerajaan Mataram, paling tidak di
kalangan elit penguasa. Agama yang berasal dari India ini
berjalin dengan kepercayaan setempat berupa pemujaan
kepada leluhur dan bentang alam (gunung, sungai dan
samudra). Kesemuanya menjadi pelindung kerajaan:
mangraksa kadatwan srl maharaja ing bhumi mataram
Prasasti Sugihmanek
Bangunan pemujaan Hindu (candi) menggambarkan
dengan baik kepercayaan ini. Candi dibangun dengan
gambaran Gunung Mahameru, tempat persemayaman para
dewa untuk menyelaraskan lingkungan manusia dengan
kahyangan. Di pusat candi didirikan arca Siwa Mahadewa
dengan perwujudan Siwa sebagai Mahaguru (Agastya) di
kanannya, Ganesya sebagai panglima di belakangnya dan
Durga sebagai pasangan Siwa di sebelah kirinya.
Kesemuanya menggambarkan pantheon Hindu sekaligus
perwujudan dari elit penguasa kerajaan (raja-pendetapanglima-permaisuri). Dengan menyandang atribut

UPAYA-UPAYA PENGKAJIAN &


PELESTARIAN WARISAN KERAJAAN
MATARAM
Puing-puing monumen gemilang Kerajaan Mataram menarik
perhatian bangsa Eropa yang menguasai Jawa pada awal
abad ke-19. Sejumlah gambar dan laporan yang diterbitkan
dalam History of Java disusun Thomas S. Raffles semasa
menjabat Letnan Gubernur Kumpeni Inggris untuk Jawa
dengan cepat mengundang penelitian intensif yang
kemudian berlanjut dengan pembentukan Oudheidkundige
Dienst (Jawatan Purbakala Hindia Belanda). Saat ini upaya
pelestarian dan pengkajian tinggalan tersebut dilakukan
oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala dan Balai
Arkeologi beserta lembaga penelitian terkait.
Penelitian dilakukan untuk tujuan (1) pengembangan
keilmuan dalam upaya mempelajari peradaban di masa
silam, dan (2) pelestarian warisan peradaban itu sendiri.

CONTOH PENYUSUNAN RANCANGAN


PAMERAN

SUB UNIT

Unit
: 4.2.
Tema : PANTHEON DAN
MANDALA
HINDUPESAN
& BUDDHA
OBSERVASI TUJUAN
OBJEK
PAMERAN

4.2.1.
Pantheon
Hindu

Representas
i Pantheon
Hindu dalam
Candi

Memberikan
gambaran
peran candi
sebagai
persemaya
man dewa
sehingga
penting
untuk
melambang
kan
kekuasaan
para dewa

Memperken
alkan para
dewa dalam
pantheon
Hindhu,
representasi
, ikonografi
dan
keterkaitann
ya dengan
bangunan
candi
peninggalan
Kerajaan
Mataram

Beberapa
lingga-yoni
baik yang
dari batu
maupun
logam
(portable),
patungpatung
pantheon
utama
(Syiwa
Mahadewa,
Agastya,
Ganesya
dan Durga),
patung

TEKNIK
DISPLAY
Diagram
dan skema
candi dalam
bentuk
poster dan
artefak
pantheon
Hindu
disusun
dalam
konstelasi
kosmologisn
ya