Anda di halaman 1dari 6

Pada pasien ini, untuk menurunkan tekanan intrakranialnya

maka diberikan terapi diuretik. Manitol merupakan antidiuretik


yang paling sering digunakan. Gliserol, sorbitol, dan glukosa
hipertonik atau larutan NaCl juga bisa diberikan. Syarat pasien
yang bisa mendapat terapi manitol adalah memiliki nilai
osmolalitas yang kecil dari 300-320 mOsm, tetapi di RSSN
nilai yang digunakan adalah 300 mOsm. Adapaun cara
perhitungan osmolalitas adalah:
Osmolalitas darah = 2 Na + GDS/18 + Ureum/6
= 2 (139 ) + 104/18 + 65/6
= 278 + 5,78 + 15
= 298, 78 mOsm ( < 300 mOsm)
Karena nilai osmolalitas pasien ini lebih kecil dari 300 mOsm
maka pasien ini memenuhi syarat untuk diberikan manitol.
Manitol merupakan agen osmotik, yang digunakan untuk
menurunkan tekanan intrakranial dan meningkatkan urin pada
pasien gagal ginjal akut. Saat diberikan secara parenteral,
manitol meningkatkan tekanan osmosis plasma sehingga
cairan keluar dari jaringan tubuh dan menghasilkan diuretik
osmosis. Manitol tidak boleh diberikan pada pasien dengan
pendarahan intrakranial dan juga harus dihindari pada pasien
yang dehidrasi. Manitol menurunkan tekanan intrakranial dan
meningkatkan aliran darah dengan efek osmotik dan dengan
menurunkan viskositas darah. Pasien yang diberikan manitol
harus diperhatikan tanda-tanda ketidakseimbangan elektrolit.
Untuk itu, keseimbangan cairan dan elektrolit pasien harus
selalu dicek karena resiko hiperosmolaritas dan pergeseran
cairan yang cepat.ritas seharusnya dipertahankan antara 300310 mOsm 5,15.
Manitol tidak boleh diberikan secara IM atau SC. Dosis yang
diberikan untuk menurunkan TIK adalah 1,5-3 g/kg lebih dari
30-60 menit dalam larutan 20%. Onsetnya akan terjadi dalam
15 menit, puncaknya 60-90 menit, dan durasi kerjanya 3-8 jam
setelah infus di stop16. Dosis IV sebesar 1 dan 2g/kgBB
meningkatkan osmolalitas serum sebesar 11 dan 32
mOsm/kg, menurunkan Na serum 8,7 dan 20,7 mEq/L, dan
menurunkan Hb 2,2 dan 2,5 g/dL. Manitol dieliminasikan
hampir tidak berubah dalam urin.

Pasien ini diberikan mannitol 20%, secara tapering off. Tujuan


pemberian tapering off adalah untuk menghindari terjadinya
pergeseran cairan secara cepat yang bisa menyebabkan
udem pulmonary dan CHF. Efek samping pada pemberian
dosis besar adalah bisa menyebabkan terjadinya ARF
terutama pada pasien dengan gangguan ginjal16. Untuk hari
pertama mannitol 20% diberikan 4x125 ml, hari kedua 3 x 125
ml, hari ketiga 2x 125 ml, hari ke empat 1 x125 mL. dosis
yang diberikan pada pasien adalah 125 ml x 20 % = 25 g.
berat badan pasien adalah 78 kg, jadi dosis yang diberikan
untuk 1 kali pakai adalah 0.32 g/kg dan dosis yang diberikan
untuk hari pertama adalah 4 x 0,32 g/kg = 1,28 g/kg, pada hari
kedua dosis yang diberikan adalah 3 x0,32 g/kg = 0,96 g/kg,
pada hari ketiga dosis yang diberikan adalah 2 x 0.32 g/kg =
0,64 g/kg dan pada hari ke 4 dosis yang diberikan adalah 0,32
g/kg. disini terlihat bahwa dosis yang diberikan perharinya
tidak melebihi dosis yang dianjurkan yaitu 1.5-3g/kg.

Dosis awal manitol 20% 1-1,5 g/kgBB IV bolus,


diikuti dengan 0,25-0,5 g/kgBB IV bolus tiap 4-6
jam. Efek mak-simum terjadi setelah 20 menit
pemberian dan durasi kerjanya 4 jam.Pernberian
manitol ini harus disertai pemantauan kadar
osmolalitas serum. Osmolalitas darah yang terlalu
tinggi akan meningkatkan risiko gagal ginjal
(terutama pada pasien yang sebelumnya sudah
mengalami vollyrfg depletion). Kadar osmolalitas
serum tidak boleh lebih dan 320 mOsmol/L.
Obat yang menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urine
disebut diuretik. Obat-obat ini merupakan penghambat transport ion
yang menurunkan reabsorbsi Na+ dan ion lain seperti Cl+ memasuki
urine dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dalam keadaan normal
bersama air, yang mengangkut secara pasif untuk mempertahankan
keseimbangan osmotic. Perubahan osmotik dimana dalam tubulus
menjadi meningkat karena natrium lebih banyak dalam urine, dan
mengikat air lebih banyak didalam tubulus ginjal. Dan produksi urine
menjadi lebih banyak. Dengan demikian diuretic meningkatkan volume
urine dan sering mengubah PH-nya serta komposisi ion didalam urine
dan darah.
Pada gangguan neurologis, diuretic osmotik (Manitol) merupakan jenis

diuretik yang paling banyak digunakan untuk terapi oedema otak.


Manitol adalah suatu hiperosmotik agent yang digunakan dengan
segera meningkat volume plasma untuk meningkatkan aliran darah otak
dan menghantarkan oksigen. Ini merupakan salah satu alasan manitol
sampai saat ini masih digunakan untuk menurunkan peningkatan
tekanan intra cranial.

DEFINISI
Manitol merupakan 6-karbon alkohol, yang tergolong sebagai obat
diuretic osmotik. Istilah diuretik osmotik terdiri dari dua kata yaitu
diuretik dan osmotik. Diuretik ialah obat yang dapat menambah
kecepatan pembentukan urine dengan adanya natriuresis (peningkatan
pengeluaran natrium) dan diuresis (peningkatan pengeluaran H2O).
Diuretik Osmotik (manitol) adalah diuretik yang mempunyai efek
meningkatkan produksi urin, dengan cara mencegah tubulus
mereabsorbsi air dan meningkatkan tekanan osmotic di filtrasi
glomerulus dan tubulus.
Istilah diuretic osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang
mudah dan cepat diekskresi oleh ginjal.
Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretic osmotic apabila memenuhi 4
syarat:
(1) difiltrasi secara bebas oleh glomerulus;
(2) tidak atau hanya sedikit direbasorbsi sel tubulus ginjal;
(3) secara farmakologis merupakan zat yang inert,
(4) umumnya resisten terhadap perubahan-perubahan metabolic.
FARMAKODINAMIK
Tempat kerja utama manitol adalah:
(1) Tubuli proksimal, yaitu dengan menghambat reabsorpsi natrium dan
air melalui daya osmotiknya;
(2) Ansa henle, yaitu dengan penghambatan reabsorpsi natrium dan air
oleh karena hipertonisitas daerah medula menurun;
(3) Duktus koligentes, yaitu dengan penghambatan reabsorbsi natrium
dan air akibat adanya papillary wash out, kecepatan aliran filtrat yang
tinggi, atau adanya faktor lain.
Diuresis osmotic digunakan untuk mengatasi kelebihan cairan di
jaringan (intrasel) otak. Diuretic osmotic yang tetap berada dalam
kompartemen intravaskuler efektif dalam mengurangi pembengkakan
otak. Manitol adalah larutan hiperosmolar yang digunakan untuk terapi
meningkatkan osmolalitas serum. Dengan alasan fisiologis ini, Cara
kerja Diuretic Osmotik (Manitol) ialah meningkatkan osmolalitas plasma
dan menarik cairan normal dari dalam sel otak yang osmolarnya

rendah ke intravaskuler yang osmolar tinggi, untuk menurunkan


oedema otak. Pada sistem ginjal bekerja membatasi reabsobsi air
terutama pada segmen dimana nefron sangat permeable terhadap air,
yaitu tubulus proksimal dan ansa henle desenden. Adanya bahan yang
tidak dapat direabsobsi air normal dengan masukkan tekanan osmotic
yang melawan keseimbangan. Akibatnya, volume urine meningkat
bersamaan dengan ekskresi manitol. Peningkatan dalam laju aliran urin
menurunkan waktu kontak antara cairan dan epitel tubulus sehingga
menurunkan reabsobsi Na+. Namun demikian, natriureis yang terjadi
kurang berarti dibandingkan dengan diureisi air, yang mungkin
menyebabkan Hipernatremia. Karena diuretic Osmotik untuk
meningkatkan ekskresi air dari pada ekskresi natrium, maka obat ini
tidak digunakan untuk mengobati Retensi Na+. Manitol mempuyai efek
meningkatkan ekskresi sodium, air, potassium dan chloride, dan juga
elekterolit lainnya.
FARMAKOKINETIK
Manitol merupakan diuretik osmotik yang spesifik karena tidak
diabsorpsi dalam traktus gastrointestinal. Manitol sangat sedikit
dimetabolisme oleh tubuh, lebih kurang 7% dimetabolisme di hati dan
hanya 7% diabsorpsi. Sebagian besar manitol (>90%) dikeluarkan oleh
ginjal dalam bentuk utuh pada urin. Manitol diekresikan melalui filtrasi
glomerulus dalam waktu 30 60 menit setelah pemberian. Diuretic
osmotic absobsinya buruk bila diberikan peroral, sehingga obat ini
harus diberikan secara parenteral (intravena) dalam jumlah besar.
Berdasarkan farmakokinetik dan farmakodimik diketahui beberapa
mekanisme aksi dari kerja Manitol sekarang ini adalah sebagai berikut:
1)
Menurunkan Viskositas darah dengan mengurangi haematokrit,
yang penting untuk mengurangi tahanan pada pembuluh darah otak
dan meningkatkan aliran darah ke otak, yang diikuti dengan cepat
vasokontriksi dari pembuluh darah arteriola dan menurunkan volume
darah otak. Efek ini terjadi dengan cepat (menit).
2)
Manitol tidak terbukti bekerja menurunkan kandungan air dalam
jaringan otak yang mengalami injuri, manitol menurunkan kandungan
air pada bagian otak yang yang tidak mengalami injuri, yang mana bisa
memberikan ruangan lebih untuk bagian otak yang injuri untuk
pembengkakan (membesar).
3)
Cepatnya pemberian dengan bolus intravena lebih efektif dari
pada infuse lambat dalam menurunkan peningkatan tekanan intra
cranial.
4)
Terlalu sering pemberian manitol dosis tinggi bisa menimbulkan
gagal ginjal. ini dikarenakan efek osmolalitas yang segera merangsang
aktivitas tubulus dalam mensekresi urine dan dapat menurunkan
sirkulasi ginjal.
5)
Pemberian manitol bersama lasik (Furosemid) mengalami efek

yang sinergis dalam menurunkan PTIK. Respon paling baik akan terjadi
jika Manitol diberikan 15 menit sebelum Lasik diberikan.
INDIKASI dan DOSIS
Manitol dapat digunakan misalnya untuk profilaksis gagal ginjal akut,
suatu keadaan yang dapat timbul akibat operasi jantung, luka traumatik
berat, dan menderita ikterus berat. Manitol juga banyak digunakan
untuk menurunkan tekanan serebrospinal dan tekanan intraokuler, serta
pada pengelolaan terhadap reaksi hemolitik transfusi.
Terapi penatalaksanaan untuk menurunkan peningkatan tekanan intra
cranial dimulai bila mana tekanan Intra cranial 20-25 mmHg.
Managemen Penatalaksanaan Peningkatan tekanan Intra cranial salah
satunya adalah pemberian obat diuretik osmotik (Manitol), khususnya
pada keadaan patologis Oedema Otak.
Manitol tersedia dalam berbagai kemasan dan konsentrasi, yaitu:
manitol 10% dalam kemasan plabottle 250 ml (25 gr) dan 500 ml (50
gr). Manitol 20% dalam kemasan plabottle 250 ml (50 gr) dan 500 ml
(100 gr). Sebelum digunakan manitol dihangatkan terlebih dahulu untuk
melarutkan kristal-kristalnya. Untuk menurunkan tekanan Intra cranial,
dosis Manitol 0.25 1 gram/kgBB diberikan bolus intra vena atau dosis
tersebut diberikan selama lebih dari 10 15 menit. Manitol dapat juga
diberikan/dicampur dalam larutan Infus 1.5 2 gram/KgBB sebagai
larutan 15-20% yang diberikan selama 30-60 menit. Manitol diberikan
untuk menghasilkan nilai serum osmolalitas 310 320 mOsm/L dan
seringkali dipertahankan antara 290 310 mOsm. Tekanan Intra cranial
harus dimonitor, harus turun dalam waktu 60 90 menit, karena efek
manitol dimulai setelah 0.5 1 jam pemberian. Fungsi ginjal, elektrolit,
osmolalitas serum juga dimonitor selama mendapatkan terapi manitol.
Diperlukan perhatian dalam pemberian manitol bila osmolalitas lebih
dari 320 mOsm/L. Karena Diureis, Hipotensi dan dehidrasi dapat terjadi
dengan pemberian manitol dalam jumlah dosis yang banyak.
KONTRA INDIKASI
Pada penderita payah jantung pemberian manitol berbahaya, karena
volume darah yang beredar meningkat sehingga memperberat kerja
jantung yang telah gagal. Pemberian manitol juga dikontraindikasikan
pada penyakit ginjal dengan anuria, kongesti atau udem paru yang
berat, dehidrasi hebat, dan perdarahan intra kranial, kecuali bila akan
dilakukan kraniotomi, serta pada pasien yang hipersensitivitas terhadap
manitol.
TOKSISITAS
1) Ekspansi Cairan Ekstraseluler.

Manitol secara cepat didistribusikan ke ruangan ekstraseluler dan


mengeluarkan air dari ruang intraseluler. Awalnya, hal ini akan
menyebabkan ekspansi cairan ektraseluler dan hiponatremia. Efek ini
dapat menimbulkan komplikasi gagal jantung kongestif dan akan
menimbulkan edema paru. Sakit kepala, mual, dan muntah ditemukan
pada penderita yang mendapatkan diuretic ini.
2) Dehidrasi Dan Hipernatremia.
Penggunaan Manitol berlebihan tanpa disertai pergantian air yang
cukup dapat menimbulkan dehidrasi berat, kehilangan air dan
hipernatremia. Komplikasi ini dapat dihindari dengan memperhatikan
ion serum dan keseimbangan cairan.
3) Hiperkalemia
Hiperkalemia juga dapat timbul, dimana kadar potasium meningkat
dalam darah. Pasien harus segera diobservasi untuk tanda-tanda
ketidakseimbangan elektrolit dan cairan ini dengan pemeriksaan
elektrolit darah.
4) Reaksi anafilaksis atau alergi
Reaksi anafilaksis atau alergi bisa terjadi yang menyebabkan kardiak
output dan tekanan arterial gagal drastis. Destruksi eritrosit yang
ireversibel juga dapat terjadi pada pemberian manitol.
KESIMPULAN
Manitol merupakan diuretik osmotik yang bekerja dengan cara
meningkatkan tekanan osmotik cairan intravaskuler sehingga
diharapkan cairan tertarik ke dalam vaskuler dan efek pada ginjal dapat
meningkatkan aliran plasma, dan menghambat reabsorpsi air dan
elektrolit di tubulus proksimal, ansa henle, dan duktus koligentes.
Sehingga manitol dapat digunakan dalam penatalaksanaan
pencegahan gagal ginjal akut pada tindakan operasi dan luka traumatik
berat, juga dapat digunakan dalam menurunkan tekanan intrakranial
dan intraokuler pada penderita glaukoma serta dapat digunakan
sebagai anti oedem. Lebih spesifik lagi manitol sering digunakan
sebagai anti oedem otak.
Selain hal-hal yang memberikan manfaat, manitol juga dapat
memberikan efek yang tidak diharapkan seperti pada pasien-pasien
dengan payah jantung dan kongestif atau udem paru yang merupakan
kontra indikasi. Reaksi hipersensitifitas juga dapat timbul pada
pemberian manitol. Pengawasan pasien selama pemberian manitol
harus dilakukan terutama terhadap tanda-tanda adanya payah jantung,
kongesti atau oedem paru serta adanya tanda-tanda ketidak
seimbangan elektrolit terutama kalium.