Anda di halaman 1dari 179

Fakultas Kedokteran Universitas

Hasanuddin

Tumor
Payudara
Prof. Dr. dr. Daniel Sampepajung, SpB(K)Onk
Sub Bagian Bedah Tumor, Bagian Ilmu Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
Makassar

Kelainan Payudara

Bisa disebabkan oleh :


- Kelainan Pertumbuhan
- Anomali
- Infeksi
- Neoplasma

Tumor : setiap benjolan yang tidak


normal dalam tubuh
Neoplasma : pertumbuhan abnormal dari
suatu bagian tubuh yang tidak dapat
dikendalikan oleh tubuh itu sendiri

Tumor Payudara

Neoplasma
* Jinak
* Ganas

Non Neoplasma

Neoplasma jinak :
Tumbuh lambat dan terbatas
Tidak berakar, jadi mudah digerakkan
Tidak sakit
Konsistensi kenyal / padat
Permukaan rata, batas jelas

Neoplasma ganas :
Tumbuh cepat
Berakar, sehingga sulit digerakkan
Konsistensi padat-keras
Bila terlambat diketahui dapat menyebar
ke bagian lain dari tubuh
Sering menimbulkan kematian, terutama
bila terlambat ditemukan/ diobati

TUMOR JINAK
PAYUDARA

KLASIFIKASI
TUMOR JINAK PAYUDARA
Dupont, Pages dan Rogers
1. Non Proliferative
2. Proliferative lesions
without atypia
3. Atypical Hyperplasia

KLASIFIKASI
TUMOR JINAK
PAYUDARA

Dupont, Pages dan Rogers


1 Non Proliferative
* Cysts
* Papillary apocrine change
* Epithelial-related calcification
* Mild Hyperplasia of the usual
type

2 Proliferative Lesions without


Atypia
* Moderate or Florid ductal
hyperplasia of
the usual type
* Intraductal Papilloma
* Sclerosing adenosis
* Fibroadenoma

3 Atypical Hyperplasia
* Atypical ductal hyperplasia
* Atypical lobular hyperplasia

TUMOR JINAK
PAYUDARA

Kelainan Fibrokistik
Fibroadenoma
Tumor Phyllodes
Papiloma Intraduktal
Adenosis Sklerosis
Nekrosis lemak

Fibrocystic Changes

Umumnya ditemukan pada umur 20


40 tahun
Diduga akibat gangguan
Perubahan morfologik
keseimbangan
hormon yang dominan
adalah :
- Cyst formation and Fibrosis
- Epithelial hyperplasia
- Sclerosing adenosis

Sclerosing Adenosis

Gambaran histologik yang


khas : Fibrosis intralobular
dan proliferasi acini dan
duktus kecil
Risiko Ca Mamma meningkat
1,5 2 x

Fibroadenoma Mamma

Bentuk bulat atau lobulated


Konsistensi seperti karet
Mobil dan tidak nyeri
Umumnya soliter
10 15 % multiple
Mamma kiri > kanan
Paling sering pada kwadran
lateral atas

Intraductal Papilloma

Terjadi pada duktus subareola


Paling sering menyebabkan
serous atau
serosanguinous nipple discharge
10 % multiple
Soliter Papilloma bukan lesi
prakanker
Terapi terpilih adalah :
microdochectomy.

Tumor Phyllodes

Pertama kali dipaparkan oleh :


Johannes Muller ( 1838 )
Dahulu disebut Cystosarcoma phyllodes
WHO : Tumor Phyllodes
Merupakan tumor Fibroepitelial.
0,3 0,5% dari semua Neoplasma
payudara
Sering residif lokal
Tidak metastasis ke kelenjar regional

Tumor Phyllodes
Gambaran klinik
- Bentuk bulat atau lonjong
- Batas tegas, mobil
- Konsistensi ada bagian yang kistik
dan padat
seperti karet
- Tidak melekat pada kulit dan otot
pectoralis
- Kulit tegang dan mengkilat

Atypical Hyperplasia
Risiko Kanker Payudara :
* meningkat jadi 5 x

TUMOR GANAS
PAYUDARA

KANKER PAYUDARA
- Insidens tinggi di negara maju.
- Penyebab kematian ke 2
- Mencemaskan penderita dan
keluarga.
- Sering ditemukan sendiri.
- Fase preklinik.
- Fase klinik.

INSIDENS :
Bervariasi
Tinggi
: AS dan Eropa
Utara.
Rendah
: Asia
Sangat jarang
: pada < 20
th
Jarang
: pada < 30 th

INSIDENS :

Tinggi pada :
- Umur 45 49 th.
( Indonesia)
- Umur
> 50 th ( Negara
maju )
Laki laki
:
1%
Herediter
:
5%

INSIDENS :
Indonesia
No. 1 : Kanker Serviks
No. 2 : Kanker Payudara
Sul-Sel dan negara maju :
No. 1 : Kanker Payudara
No. 2 : Kanker Serviks

Penyebab Kanker
Yang pasti ???
Payudara

Hormon

Genetik ( Mutasi Gena )

Diet

Radiasi

FAKTOR RISIKO

Haid pertama dini ( < 12 th


)
Menopause lambat
Tidak pernah hamil
Riwayat keluarga ( + )
Tidak kawin.
Melahirkan anak I > 35 th.

Faktor risiko tinggi


Tidak menyusui anak
Pernah operasi payudara
sebelahnya
Ada keluarga yang menderita
Pernah radiasi daerah dada
Pernah terapi hormon yang lama

Gejala dan tanda


- Terjadi perubahan bentuk
payudara
- Ada benjolan dengan luka yang
sukar sembuh
- Retraksi papilla mamma
- Nipple discharge

Gejala dan tanda


- Kulit payudara berubah warna
- Peau dorange ( gambaran kulit
jeruk )
- Dimpling ( lekukan kulit )
- Ada pembesaran kelenjar
regional
- Luka lecet di areola yang tidak
sembuh setelah diterapi 2 minggu

PENATALAKSANAAN :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Diagnosis.
Stadium.
Status penampilan.
Rencana terapi.
Pelaksanaan.
Follow-up / Rekonstruksi /
Rehabilitasi.

DIAGNOSIS :
Anamnesis.
Pemeriksaan fisik.
Pemeriksan penunjang.

TRIPLE DIAGNOSTIC
1.
2.
3.

Clinical Breast Examination ( CBE )


Imaging : Mammography / U S G
Cytology : F N A B

PEMERIKSAAN
PAYUDARA

Inspeksi
Palpasi
Posisi Duduk dan baring
Periksa dengan Jari-jari
Periksa seluruh payudara

PEMERIKSAAN
PAYUDARA

Inspeksi :
- Bentuk payudara
- Simetris
- Kelainan di areola
- Retraksi papilla
- Peau dorange
- Dimpling
- Warna kulit

PEMERIKSAAN
PAYUDARA
Palpasi :
- Lokalisasi Tumor
- Ukuran Tumor
- Konsistensi Tumor
- Permukaan Tumor
- Perlekatan dengan jaringan
sekitar
- Suhu raba
- Pembesaran kel. limfe regional

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium
- Rutin
- Kimiawi
- Tumor Marker
Foto Thorax
Bone Survey
USG
Mammografi

Pemeriksaan Penunjang

FNA
Tru Cut Needle Aspiration
Frozen Section
Biopsi Insisi
Biopsi Eksisi

DIAGNOSIS DINI :

Pemeriksaan Payudara sendiri


(SADARI).
Pemeriksaan Payudara.
BAJAH (Biopsi Jarum Halus)
Biopsi.

Diagnosis Pasti
Standar Baku Emas :
Pemeriksaan Histopatologis

STAGING :
Berfungsi untuk :
- Menentukan stadium
- Menentukan jenis tindakan /
terapi.
- Evaluasi hasil terapi
- Menentukan Prognosis.
- Membandingkan hasil suatu terapi
dengan
jenis terapi lain.

SISTEM TNM :

T = Tumor.
N = Node ( kelenjar )
M = Metastasis jauh.

Sistem TNM
c TNM.
p TNM.
s TNM.
r TNM
a TNM

Sistem TNM
Tx = tunor primer tidak bisa
diketahui
To = tumor primer tidak teraba
Tis = carcinoma insitu
T1 = < 2 cm
T2 = >2 - < 5 cm
T3 = > 5 cm
T4 = tumor melekat pada kulit atau
otot pectoralis

Sistem TNM
N

kelenjar limfe regional

Nx = N tidak dapat ditentukan


No = Tidak ada metastasis ke kelenjar
limfe regional
N1 = metestasis ke kel. limfe aksila
ipsilateral dan
mobil
N2 = metastasis ke kel.limfe aksila
ipsilateral dan
terfiksir satu dengan lainnya

Sistem TNM
N3 = metastasis ke kel.limfe
infraclavicular ipsilateral atau pada kel.limfe
mammaria interna
ipsilateral + aksila atau
metastasis ke
kel. supraclavicular + mammaria
int dan
aksila

Sistem TNM
M = Metastasis jauh
Mx = metastasis jauh belum dapat
dibuktikan
Mo = Tidak ada metastsaia jauh
M1 = Ada metastasis jauh ( termasuk
metastasis ke
kel. supraclavicular ipsilateral )

Stadium
Stadium T
0
Tis
I
T1
II a
To
T1
T2
II b
T2
T3

N
No
No

M
Mo
Mo
N1

N1
No

Mo
Mo
Mo

N1
No

Mo
Mo

Stadium
Stadium
III a

III b

T
To
T1
T2
T3
T3
T4
T4
T4

N
N2
N2
N2
N1
N2
No
N1
N2

M
Mo
Mo
Mo
Mo
Mo
Mo
Mo
Mo

Stadium
Stadium T

III c

Any T

N3

Mo

IV

Any T

Any N

M1

STATUS PENAMPILAN :
-

KARNOFSKY : 0 - 100

WHO: 0-4

Status Penampilan WHO:


0. Baik, dapat bekerja normal.
1. Cukup, tidak dapat bekerja berat,ringan bisa.
2. Lemah, tidak dapat bekerja,tapi dapat jalan &
merawat diri sendiri 50% dari waktu sadar.
3. Jelek, tidak dapat jalan,dapat bangun &rawat
diri
sendiri,perlu tiduran > 50% waktu sadar
4. Jelek sekali : tidak dapat bangun & rawat diri
sendiri,hanya tiduran saja.

Status Karnofsky :
100 % : mampu melaksanakan aktivitas normal, tanpa keluhan/tidak
ada
kelainan.
90 % : tidak perlu perawatan khusus, keluhan gejala minimal.
80 % : tidak perlu perawatan khusus, dengan beberapa keluhan /
gejala.
70 % : tidak mampu bekerja, mampu merawat diri.
60 % : kadang perlu bantuan tetapi umumnya dapat melakukan
untuk
keperluan sendiri.
50 % : perlu bantuan dan umumnya perlu obat-obatan.
40 % : tidak mampu merawat diri, perlu bantuan dan perawatan
khusus.
30 % : perlu pertimbangan rawat di Rs.
20 % : sakit berat, perlu perawatan Rs.
10 % : mendekati kematian.
0 % : meninggal dalam iman ( Dying in dignity )

RENCANA TERAPI :

Operasi.
Kemoterapi.
Radioterapi.
Terapi Hormonal .
Immunoterapi.

Penanganan Kanker
Payudara
- Terapi Kuratif
- Terapi Paliatif

Penanganan Kanker
Payudara
Terapi Kuratif
- Terapi operatif
- Terapi Adjuvant
* Kemoterapi
* Radioterapi
* Terapi Hormonal

Penanganan Kanker
Payudara

Terapi Paliatif
- Terapi operatif
- Kemoterapi
- Radioterapi
- Terapi Hormonal

Penanganan Kanker
Payudara

Terapi Operatif ( Kuratif )


- BCT
- Radical Mastectomy
- Modified Radical Mastectomy
Terapi operatif ( Paliatif )
- Simple Mastectomy

Penanganan Kanker
Payudara

Terapi Hormonal :
- Bilateral Ovarektomi
- Adrenalektomi
- Hypophisektomi
- Anti Oestrogen

STADIUM DINI :
( KURATIF )

- B C T.
- M R M.
- Adjuvant terapi :
Kemoterapi
Radioterapi
Terapi Hormonal

STADIUM LANJUT :
( PALIATIF )

Utama

: Terapi Hormonal

Tambahan :
- Radioterapi / Kemoterapi.
- Operasi.

EVALUASI RESPONS
PENGOBATAN
REMISI KOMPLIT.

REMISI SEBAGIAN.
PERBAIKAN.
TIDAK ADA PERBAIKAN.
PROGRESIF.

PROGNOSIS :

Ketahanan
Stage I :
Stage II :
Stage III :
Stage IV :

Hidup 5 Tahun :
85%
66%
41%
10%

Haid dan Zuckerman :


Stage I : 95%.
Stage II : 80%

10 Tahun :
70%
50%
?
?

FOLLOW UP
* 3 BULAN, 6 BULAN.
* 1, 3, 5 TAHUN.
* SAMPAI 20 TAHUN.

TERIMA KASIH

Bagian yg sering terkena kanker

Kanker leher rahim dan kanker payudara


Kanker paru, kanker hati
Kanker darah, kanker kulit
Kanker hidung/nasofaring
Kanker usus besar

WASPADA

KANKER PAYUDARA
Pengertian :

Kanker payudara : kanker yang


berasal dari kelenjar, saluran dan
jaringan penunjang pada payudara

INSIDENS
Sul-Sel dan negara
maju :
No. 1 Kanker Payudara
No. 2 Kanker Serviks
Indonesia
No. 1 Kanker Serviks
No. 2 Kanker Payudara

Penyebab kanker
Penyebab pasti belum diketahui
payudara

Kemungkinan akibat :

Keturunan, pengaruh hormon


virus, makanan, radiasi

Yang penting diketahui adanya


faktor resiko pada individu

Faktor resiko tinggi

Usia makin lanjut


Haid pertama pada usia < 12 tahun
Mati haid/menopause lambat (>50 th)
Tidak pernah melahirkan/tidak kawin
Anak I dilahirkan setelah usia 35 tahun

Faktor resiko tinggi

Tidak menyusui anak


Pernah operasi payudara sebelahnya
Ada keluarga yang menderita
Pernah radiasi daerah dada
Pernah terapi hormon yang lama

Gejala dan tanda

Terjadi perubahan bentuk payudara


Ada benjolan (nyeri/tidak), dapat timbul
luka yang sukar sembuh
Puting susu : keluar cairan, menjadi rata
dengan sekitarnya, tertarik ke dalam
Kulit payudara berubah warna, berkerut,
tertarik ke dalam
Adanya benjolan di ketiak

DIAGNOSIS

Anamnesis
Pemeriksaan fisis
Pemeriksaan penunjang :

Mammografi
Termografi
USG

TERAPI
PENGOBATAN

Operasi
Penyinaran (Radiasi)
Khemoterapi
Hormonal terapi
Immuno terapi

STADIUM DINI : ( KURATIF )


BCT
M R M
Adjuvant :

Kemoterapi
Radioterapi
Hormonal terapi

SADARI :

Setiap bulan, rutin.


Setelah menstruasi.
Awal 20-an.
Kenal payudara sendiri.
Sensitifitas : 20 30%.
Penyuluhan.

STAGING :
Stage I
II A
II B
III A
III B
stad.lanjut
IV

stad. dini

PEMERIKSAAN FISIS
Periksa pandang :

Asimetri payudara
Perubahan pada kulit :

Berlekuk,tertarik kedalam,kemerahan
Gambaran pembuluh darah, kulit jeruk

Puting susu dan areola


Tertarik ke dalam, kulit kering/bersisik,
luka
Pengeluaran cairan, bengkak

PEMERIKSAAN FISIS
Periksa raba :
Perubahan suhu kulit, ketegangan
kulit, penebalan kulit
Bila ada benjolan di payudara :

Lokasi, besar, bentuk, konsistensi, batas


Permukaannya, perlekatannya, nyeri

Benjolan di ketiak :
Besar, bentuk, konsistensi, batas
permukaannya, perlekatannya, nyeri

DIAGNOSIS

Pemeriksaan Histopatologis (D/ pasti)


BAJAH = FNAB
Needle core biopsy
Biopsi : insisi atau eksisi
Potong beku

KELAINAN PAYUDARA
Bisa disebabkan oleh :

Kelainan Pertumbuhan
Anomali
Infeksi
Neoplasma
Hormonal

KELAINAN PERTUMBUHAN

Makromastia
= hypertropi payudara
Ginekomastia
= hypertropi payudara lakilaki

ANOMALI PAYUDARA

Amastia
Sangat jarang

Mamma Aksesoris
Terletak di garis susu
Umumnya di ketiak

Mamma Aberan

INFEKSI PAYUDARA

Mastitis Puerperalis Akut


Infeksi payudara pada minggu pertama
laktasi
Disebabkan Stafilokokus

Mastitis Tuberkulosa
Galaktokel
Fistel Paraareola

NEOPLASMA PAYUDARA

Neoplasma Jinak
Neoplasma Ganas

KLASIFIKASI

Kriteria
Dupont, Pages dan Rogers
1.
Non Proliferative
2.
Proliferative lesions without atypia
3.
Atypical Hyperplasia

KLASIFIKASI
Kriteria
Dupont, Pages dan Rogers
1. Non Proliferative

Cysts
Papillary apocrine change
Epithelial-related calcification
Mild Hyperplasia of the usual type

Kriteria
Dupont, Pages dan Rogers
2.

Proliferative Lesions without Atypia

3.

Moderate or Florid ductal hyperplasia


of the usual type
Intraductal Papilloma
Sclerosing adenosis
Fibroadenoma

Atypical Hyperplasia

Atypical ductal hyperplasia


Atypical lobular hyperplasia

NEOPLASMA JINAK
PAYUDARA

Kelainan Fibrokistik
Fibroadenoma
Tumor Phyllodes
Papiloma Intraduktal
Adenosis Sklerosis
Nekrosis lemak

FIBROCYSTIC CHANGES

Umumnya ditemukan pada umur 20 40 tahun


Diduga akibat gangguan keseimbangan hormon

FIBROCYSTIC CHANGES
Perubahan morfologik yang dominan
adalah :
Cyst formation and Fibrosis
Epithelial hyperplasia
Sclerosing adenosis

SCLEROSING ADENOSIS

Gambaran histologik yang khas :


Fibrosis intralobular dan pro-liferasi
acini dan duktus kecil
Risiko Ca Mamma meningkat 1,5 2 x

FIBROADENOMA
MAMMA
Bentuk bulat atau lobulated
Konsistensi seperti karet
Mobil dan tidak nyeri
Umumnya soliter
10 15 % multiple
Mamma kiri > kanan
Paling sering pada kwadran lateral
atas

INTRADUCTAL
PAPILLOMA

Terjadi pada duktus subareola


Paling sering menyebabkan serous atau
serosanguinous nipple discharge
10 % multiple
Soliter papilloma bukan lesi pra-kanker
Terapi terpilih adalah : microdochectomy

TUMOR PHYLLODES

Pertama kali dipaparkan oleh : Johannes Muller (1838)


Dahulu disebut Cystosarcoma phyllodes
WHO : Tumor Phyllodes
Merupakan tumor Fibroepitelial
0,3 0,5% dari semua Neoplasma payudara
Sering residif lokal
Tidak metastasis ke kelenjar regional

TUMOR PHYLLODES
Gambaran klinik

Bentuk bulat atau lonjong


Batas tegas, mobil
Konsistensi ada bagian yang kistik dan
padat seperti karet
Tidak melekat pada kulit dan otot
pectoralis
Kulit tegang dan mengkilat

ATYPICAL HYPERPLASIA

Risiko Kanker Payudara


meningkat jadi 5x

KANKER PAYUDARA

Insidens tinggi di negara maju


Penyebab kematian ke 2
Mencemaskan penderita dan
keluarga
Sering ditemukan sendiri
Fase preklinik
Fase klinik

INSIDENS
Bervariasi

Tinggi
: AS dan Eropa Utara
Rendah
: Asia
Sangat jarang
: < 20 th
Jarang
: < 30 th

INSIDENS

Tinggi pada :
Umur 45 49 th. ( Indonesia)
Umur > 50 th ( Negara maju )

Laki laki : 1%
Herediter :
5%

INSIDENS
Indonesia

No. 1 Kanker Serviks


No. 2 Kanker Payudara

Sul-Sel dan negara maju :

No. 1 Kanker Payudara


No. 2 Kanker Serviks

Penyebab kanker
payudara

Yang pasti ???


Hormon
Genetik
Diet
Radiasi

FAKTOR RISIKO

Haid pertama dini ( < 12 th )


Menopause lambat
Tidak pernah hamil
Riwayat keluarga ( + )
Tidak kawin
Melahirkan anak I > 35 th

Faktor risiko tinggi

Tidak menyusui anak


Pernah operasi payudara sebelahnya
Ada keluarga yang menderita
Pernah radiasi daerah dada
Pernah terapi hormon yang lama

Gejala dan Tanda

Terjadi perubahan bentuk payudara


Ada benjolan dengan luka yang sukar sembuh
Retraksi papilla mamma
Nipple discharge
Kulit payudara berubah warna
Peau dorange
Dimpling
Ada pembesaran kelenjar regional
Luka lecet di areola yang tidak sembuh setelah diterapi 2
minggu

PEMERIKSAAN
PAYUDARA

Inspeksi
Palpasi
Posisi Duduk dan baring
Periksa dengan Jari-jari
Periksa seluruh payudara

PEMERIKSAAN
PAYUDARA

Inspeksi :

Bentuk payudara
Simetris
Kelainan di areola
Retraksi papilla
Peau dorange
Dimpling
Warna kulit

PEMERIKSAAN
PAYUDARA
Palpasi :

Lokalisasi Tumor
Ukuran Tumor
Konsistensi Tumor
Permukaan Tumor
Perlekatan dengan jaringan
sekitar
Suhu raba
Pembesaran kel. limfe regional

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Laboratorium
Rutin
Kimiawi
Tumor Marker

Foto Thorax
Bone Survey
USG
Mammografi

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

FNA
Tru Cut Needle Aspiration
Frozen Section
Biopsi Insisi
Biopsi Eksisi

DIAGNOSIS DINI

Pemeriksaan Payudara sendiri


(SADARI)
Pemeriksaan Payudara
BAJAH (Biopsi Jarum Halus)
Biopsi

Setiap bulan, rutin


Setelah menstruasi
Awal 20-an
Kenal payudara sendiri
Sensitifitas : 20 30%
Penyuluhan

PENATALAKSANAA
N
1. Diagnosis
2.
3.
4.
5.
6.

Stadium
Status penampilan
Rencana terapi
Pelaksanaan
Prognosis
Follow-up
Rekonstruksi / Rehabilitasi

DIAGNOSIS

Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan penunjang

DIAGNOSIS PASTI
Standar Baku Emas

Pemeriksaan
Histopatologis

STAGING
Berfungsi untuk :

Menentukan stadium
Menentukan jenis tindakan /terapi
Evaluasi hasil terapi
Menentukan Prognosis
Membandingkan hasil suatu terapi
dengan jenis terapi lain

SISTEM TNM

T
=
N
=
M =

Tumor
Node ( kelenjar )
Metastasis jauh

SISTEM TNM

cTNM
pTNM
sTNM
rTNM
aTNM

SISTEM TNM

Tx = tumor primer tidak bisa diketahui


To = tumor primer tidak teraba
Tis = carcinoma insitu

T1 = < 2 cm
T2 = >2 - < 5 cm
T3 = > 5 cm

T4 = tumor melekat pada kulit atau otot pectoralis

SISTEM TNM

N = kelenjar limfe regional


Nx = N tidak dapat ditentukan
No = Tidak ada metastasis ke kelenjar limfe regional
N1 = Metastasis ke kel. limfe aksila ipsilateral dan mobil
N2 = Metastasis ke kel.limfe aksila ipsilateral dan terfiksir
satu dengan lainnya
N3
=
Metastasis ke kel.limfe infraclavicular ipsilateral
atau pada kel.limfe mammaria interna ipsilateral +aksila
atau metastasis ke kel. supraclavicular + mammaria int dan
aksila

SISTEM TNM

M
Mx
Mo

=
=
=

Metastasis jauh
Metastasis jauh belum dapat dibuktikan
Tidak ada metastsaia jauh

M1 = Ada metastasis jauh ( termasuk metastasis ke


kel. supraclavicular ipsilateral )

STADIUM
STADIUM

Tis

N0

M0

T1

N0

M0

T0

N1

M0

T1

N1

M0

T2

N0

M0

T2

N1

M0

T3

N0

M0

IIa

IIb

STADIUM
STADIUM

IIIa

IIIb

T0

N2

M0

T1

N2

M0

T2

N2

M0

T3

N1

M0

T3

N2

M0

T4

N0

M0

T4

N1

M0

T4

N2

M0

STADIUM
STADIUM

IIIc

Any T

N3

M0

IV

Any T

Any N

M1

STAGING

S
T
A
G
E

I
IIA
IIB
IIIA
IIIB
IV

Stadiu
m Dini
Stadiu
m
Lanjut

STATUS
PENAMPILAN

KARNOFSKY : 0 100

WHO

:04

RENCANA
TERAPI
Operasi
Kemoterapi
Radioterapi
Hormonal Terapi
Immunoterapi

PENANGANAN
KANKER
Terapi
PAYUDARA
Kuratif

Terapi Paliatif

PENANGANAN
KANKER PAYUDARA

Terapi Kuratif
Terapi operatif
Terapi Adjuvant

Kemoterapi
Radioterapi
Terapi Hormonal

PENANGANAN
KANKER PAYUDARA

Terapi Paliatif

Terapi operatif
Kemoterapi
Radioterapi
Hormonal terapi

PENANGANAN
KANKER PAYUDARA

Terapi Operatif ( Kuratif )

BCT
Radical Mastectomy
Modified Radical Mastectomy

Terapi operatif ( Paliatif )


Simple Mastectomy

PENANGANAN
KANKER PAYUDARA

Hormonal Terapi :

Bilateral Ovarektomi
Adrenalektomi
Hypophisektomi
Anti Oestrogen

STADIUM DINI :
( KURATIF )

BCT
MRM
Adjuvant terapi :

Kemoterapi
Radioterapi
Hormonal terapi

STADIUM LANJUT
( PALIATIF )

Utama : Hormonal Terapi


Tambahan :
Radioterapi / Kemoterapi
Operasi

EVALUASI RESPONS
PENGOBATAN

Remisi komplit
Remisi sebagian
Perbaikan
Tidak ada perbaikan
Progresif

PROGNOSIS

KETAHANAN HIDUP

S
T
A
G
E

5 tahun

10 tahun

85%

70%

II

66%

50%

III

41%

IV

10%

Haid Zuckerman
S
T
A
G
E

95%

II

80%

FOLLOW-UP

3 bulan, 6 bulan
1, 3, 5 tahun
Sampai 20 tahun