Anda di halaman 1dari 14

Tugas Makalah Kelompok ITMKG 3

Pengaruh Perbedaan Perlakuan Permukaan


terhadap Ikatan Semen Resin ke Keramik
Zirkonia

Disusun oleh:

Vanny Putri Natasha

041210040

Dina Oktavia Marlamsya

04121004036

Heztri Sela Prima

04121004066

Dosen Pembimbing : drg. Maya Hudiyati, MDSc.

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi


Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya
2014

Ringkasan Jurnal 1

Durability of the resin bond strength to zirconia ceramic


after using different surface conditioning methods1

Ringkasan Jurnal 2

Evaluasi Perlakuan Permukaan Keramik Zirkonia dan Efeknya


terhadap Ikatan ke Semen Resin2
Zirkonia adalah jenis keramik dengan tingkat kekuatan tinggi. Selain kekuatannya
yang tinggi, keramik zirkonia pun memiliki struktur yang bebas logam,
biokompatibel, serta konduktivitas termal yang rendah. Oleh karena sifat-sifat
tersebut, zirkonia dapat digunakan baik untuk gigi anterior maupun gigi posterior.
Dalam, pengaplikasiannya, zirkonia membutuhkan sebuah lem yang dapat
melekatkannya ke permukaan gigi. Akan tetapi pada kenyataannya, lem saja
tidak cukup kuat untuk mengikatkan antara zirkonia dengan permukaan gigi,
sehingga diperlukan suatu perlakuan khusus terhadap permukaan zirkonia.
Tahapan metode dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:
Persiapan Blok Zirkonia
1. Bahan cetak elastomer dicetak dalam balok logam yang berukuran 5x5x2
mm untuk kemudian dijadikan sebagai wadah cetak untuk ke-15 sampel
zirkonia.
2. Adonan zirkonia dituangkan, kemudian dikondensasi, dipanaskan selama
60 menit dan terakhir didinginkan (seperti di gambar).
3. 15 zirkonia tersebut dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan perlakuan
permukaan yaitu kelompok kontrol (grup A), kelompok abrasi partikel
udara dengan 30 silikon dioksida (grup B), dan kelompok abrasi partikel
udara dengan 110 silikon dioksida (grup C).
4. Perlakuan permukaan grup B dan grup C dilakukan dengan tekanan 0,28
MPa dan jarak 10 mm menggunakan alat abrasi udara intraoral.
5. Setelah ketiga kelompok siap, kemudian mereka ditempatkan di dalam
pembersih ultrasonik berisi air suling selama 10 menit.

Persiapan Resin Komposit


6. Di sisi lain, resin komposit berbentuk tabung 5x3 mm disiapkan dengan
perlapis disinar selama 40 detik, dan terakhir disinar selama 20 detik.
7. Resin komposit tersebut di etsa dengan 37 % asam fosfat, dicuci, dan
dikeringkan.
8. Kemudian diaplikasikan bonding agent, dan disinar selama 10 detik.
Perlekatan Blok Zirconia dan Resin Komposit
9. Pada sampel zirkonia diaplikasikan silane bonding agent, dan dikeringkan
selama 5 menit.
10. Kemudian selapis tipis bonding agent ditambahkan di atasnya, dan disinar
selama 20 detik. Setelahnya diaplikasikan semen resin dual cure.
11. Selanjutnya tabung resin komposit ditekankan di atasnya dengan jari.
Terakhir, keseluruhan sampel disinar selama 40 detik.
Semua sampel selanjutnya dilakukan tes shear bond strength menggunakan mesin
tes universal. Hasil didapatkan melalui tes one-way ANOVA bahwa shear bond
strength grup C lebih besar dari grup A sedangkan grup B (30 silikon dioksida),
paling tinggi di antara ketiganya.
Dalam penelitian ini dinyatakan bahwa tidak adanya fase silica dari struktur
kristal zirconia yang membuatnya resisten terhadap etsa asam. Perlakuan
permukaan yang dilakukan menghasilkan kekasaran yang halus pada permukaan
zirkonia dan hal ini membuat retensi mikromekaniknya menjadi lebih baik.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kombinasi retensi mikromekanik dan kimiawi
harus dipertimbangkan untuk meningkatkan adhesi antara luting agent-resin dan
keramik zirkonia.

Ringkasan Jurnal 3

Kekuatan Ikatan Semen Resin terhadap Keramik Zirkonia dengan


Perlakuan Permukaan yang Berbeda2

Keramik YTZP (yttrium-stabilized tetragonal zirkonia) merupakan suatu material


berkekuatan tinggi yang dipakai secara luas dalam kedokteran gigi. Keramik ini
digunakan sebagai orthodontic bracket, inti pasak, jembatan implant serta
kerangka crown dan bridge. Zirkonia berbeda dengan keramik dental lain
disebabkan mekanismenya yang langka dalam menghadapi tekanan. Keramik
YTZP dapat menahan terjadinya perambatan crack akibat tekanan melalui
perubahan mikrostruktural pada ujung crack yaitu dari fase tetragonal menjadi
fase monoklinikal. Keramik YTZP memiliki kemampuan resistensi yang lebih

tinggi terhadap tekanan fleksural dan tekanan geser dibandingkan dengan keramik
dental lain.
Meskipun kekuatan mekanis yang tinggi dari keramik merupakan suatu
hal yang penting, kesuksesan klinis penggunaan protesa keramik dalam jangka
waktu panjang sangat bergantung pada prosedur sementasi. Dibutuhkan kekuatan
ikatan yang kuat antara resin semen dengan keramik dan resin semen dengan gigi
untuk memperoleh kesuksesan penggunaan keramik dalam jangka waktu yang
lama. Beberapa literatur mengatakan bahwa abrasi udara dapat meningkatkan
perlekatan sementasi pada zirkonia namun memiliki efek positif dan negatif.
Karena itu, perlakuan permukaan yang paling sesuai untuk keramik zirkonia
masih belum ditentukan. Selain itu terdapat juga bukti bahwa penggunaan
material dengan logam oksida dapat meningkatkan ikatan sementasi pada keramik
YTZP namun efeknya masih harus diteliti lebih lanjut. Penelitian ini
mengevaluasi efek logam primer yang berbeda dan metode perlakuan permukaan
yang berbeda pada kekuatan ikatan dua resin semen dengan keramik Y-TZP.
Empat puluh irisan dentin diperoleh dari gigi molar ketiga non karies yang
telah diekstraksi. Setiap irisan dentin dipotong enam sehingga menghasilkan 240
spesimen dentin berbentuk batang dengan dimensi 2 x 2 x 3.5-mm. 240 plat
keramik diperoleh dari 94% ZrO2 yang dicampur dengan 5% keramik Y2O3. Plat
keramik tersebut dibagi menjadi 3 kelompok (n=80) berdasarkan perlakuan
permukaannya, yaitu tidak diberi perlakuan permukaan (kontrol), abrasi udara,
dan penyinaran dengan laser. Setiap kelompok diakhiri dengan pembersihan
secara ultrasonik dengnan 96 % isopropanol selama tiga menit.
Delapan puluh plat keramik dari setiap kelompok dibagi menjadi empat
sub (n=20) kelompok: tanpa lapisan (kontrol), Alloy Primer, Logam Primer II, dan
Metaltite. Selanjutnya, dua puluh plat keramik dari tiap sub kelompok dibagi
menjadi 2 kelompok (n=10) berdasarkan semen resin yang digunakan: MDPbased resin cement (Panavia F2.0, Kuraray Medical Inc) dan Bis-GMA-based
resin cement (Calibra, Dentsply Caulk, Milford, DE, USA). Spesimen dentin
disemenkan menggunakan dua semen resin tersebut ke semua plat keramik yang
ada.

Setiap plat keramik dengan spesimen dentinnya diletakkan pada alat uji
ikatan microshear. Tekanan geser diberikan sampai terjadi debonding (ikatan
spesimen dan plat keramik lepas). Setelah debonding, permukaan yang fraktur
dievaluasi dengan mikroskop optik (pembesaran 100x) untuk mengklasifikasikan
mode kegagalan dalam kategori berikut: (A) kegagalan adhesif pada interface
antara keramik dan resin luting-agent atau interface antara resin luting-agent dan
dentin (C) kegagalan kohesif dalam keramik, resin luting-agent, atau dentin (M)
kegagalan adhesif dan kohesif pada daerah yang sama atau campuran dari
kegagalan A dan M. Data kekuatan ikatan dianalisis secara statistik dengan
ANOVA tiga arah, dengan faktor utama semen resin, perlakuan permukaan, dan
logam utama. Perbandingan ganda berpasangan dilakukan dengan uji Tukey.
Sembilan plat keramik tambahan diperiksa menggunakan scanning electron
microscopy untuk mengevaluasi perubahan topografi keramik setelah diberikan
perlakuan permukaan (n=2 untuk tiap kelompok perlakuan permukaan).
Penelitian ini memberikan hasil sebagai berikut:

Terdapat kemiripan hubungan antara dua faktor utama (semen resin dan
perlakuan permukaan) pada empat level faktor logam utama. Maksudnya,
besar perbedaan nilai kekuatan ikatan antara dua semen resin di setiap

kelompok perlakuan permukaan sama pada setiap logam utama


Pada kelompok abrasi udara dan penyinaran laser, semen resin Bis-GMAbased memberikan kekuatan ikatan lebih tinggi daripada semen MDP-

based
Pada kelompok tanpa perlakuan permukaan (kontrol), kedua semen resin
memberikan kekuatan ikatan yang hampir sama
Pada kelompok yang disementasi dengan semen MDP-based:
Pada plat yang diabrasi udara, nilai kekuatan ikatannya lebih
tinggi secara signifikan dibandingkan dengan plat yang tidak

diberi perlakuan permukaan dan disinari laser


Pada plat yang tidak diberi perlakuan permukaan dan disinari

laser, nilai kekuatan ikatannya hampir sama


Pada kelompok yang disementasi dengan semen Bis-GMA-based:
Terdapat perbedaan nilai kekuatan ikatan yang signifikan antara
seluruh perlakuan permukaan yang diberikan pada plat

Urutan nilai kekuatan ikatan dimulai dari yang paling tinggi adalah

abrasi udara, penyinaran laser, tanpa perlakuan permukaan


Kegagalan adhesif (A) merupakan kejadian yang paling tinggi pada plat

dan dentin yang telah debonding dengan rata-rata 78 %


Rata-rata kegagalan campuran adhesif dan kohesif (M) 22 %
Tidak terdapat kegagalan kohesif (C)
Plat permukaan yang diabrasi udara menghasilkan permukaan yang lebih
kasar dibandingkan dengan permukaan plat kontrol dan permukaan plat

yang disinari laser.


Plat yang disinari laser Er:YAG menghasilkan permukaan dengan
beberapa retakan yang dapat dilihat
Perlakuan-perlakuan permukaan yang dilakukan dalam penelitian ini

menghasilkan kekuatan ikatan yang berbeda secara signifikan. Gambar SEM


menunjukkan bahwa abrasi udara merupakan metode yang lebih efisien untuk
memodifikasi permukaan zirkonia dibandingkan dengan penyinaran laser yang
dilakukan pada studi ini. Temuan ini dapat dihubungkan dengan hasil kekuatan
ikatan yang menunjukkan bahwa kedua semen resin menghasilkan kekuatan
ikatan yang lebih tinggi. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ikatan
yang sangat baik diperoleh ketika permukaan diabrasi udara. Abrasi udara dapat
memperluas

area

permukaan

sehingga

pembasahannya

baik.

Namun,

mikroporositas yang terebentuk karena perlakuan permukaan dapat bertindak


sebagai inisiator crack yang melemahkan material keramik. Maka dari
itu,diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentikan apakah retensi yang baik
dari abrasi udara dapat mengimbangi perubahan properti mekanisnya dalam
percobaan klinis masa panjang.
Penyinaran permukaan plat dengan laser ditemukan tidak seefektif abrasi
udara dalam meningkatkan kekuatan ikatan spesimen. Ketika semen resin MDPbased digunakan, permukaan yang disinari dan tidak disinari menunjukkan hasil
yang sama. Pabrik material MDP-based tidak merekomendasikan penggunaan
lapisan sitem adheif sebelum aplikasi semen MDP-based sehingga kontak antara
semen resin dan permukaan plat kurang baik. Ketika material Bis-GMA
digunakan, kekuatan ikatan permukaan yang disinari laser lebih baik daripada
permukaan yang tidak disinari. Hal ini terjadi karena adanya aplikasi sistem

adhesif sebelum aplikasi semen Bis-GMA pada permukaan zirkonia YTZP


sehingga pembasahannya lebih baik.
Logam utama yang diselidiki dalam penelitian ini adalah vinyl-thione
coupling agents dengan monomer fungsional yang berbeda. Hasil penelitian
menunjukkan nilai kekuatan ikatan yang hampir sama pada tiga logam utama
yang digunakan dan logam tersebut secara signifikan meningkatkan ikatan
terhadap keramik YTZP untuk kedua semen resin. Temuan ini menunjukkan
bahwa vinyl-thione coupling agents dapat menghadirkan afinitas kimia terhadap
permukaan zirkonia dan meningkataka pembahasan permukaan plat.
Pada penelitian ini, semen resin MDP-based tidak menunjukkan kekuatan
ikatan yang lebih tinggi terhadap zirkonia dibandingkan dengan semen resin BisGMA-based. Kedua semen menunjukkan hasil yang hampir sama pada permukaan
plat tanpa perlakuan (kontrol), sedangkan pada permukaan yang diabrasi udara
dan disinar laser, semen resin Bis-GMA-based menunjukkan ikatan yang lebih
kuata secara signnifikan. Namun, penyelidikan lain menunjukkan bahwan ikatan
komposit Bis-GMA-based Nevertheless tidak resisten untuk penyimpana jangka
lama dan penuaan akibat suhu. Maka dari itu, penelitian in vitro lebih dalam harus
dilakukan untuk menentukan ketahanan jangka panjnag ikatan
Hasil mode kegagalan menunjukkan bahwa kegagalan kompleks struktur
gigi-semen resin-keramik YTZP yang paling banyak terjadi adalah kegagalan
adhesif. Temuan ini membuktikan bahwa, bahakn jika kekuatan ikatan yang lebih
tinggi terhadap zirkonia diperoleh, ikatan ini tidak sekuat antara dan material
restoratif.
Dapat disimpulkan bahwa logam utama dan abrasi udara dengan partikel
Al203 50 m bisa memiliki efek sinergis pada ikatan dentin terhadap keranik
YTZP. Semen resin Bis-GMA-based menunjukkan ikatan yang lumayan lebih
kuat pada permukaan yang diberi perlakuan dibandingkan dengan material MDPbased.

Latar Belakang
Keramik YTZP (yttrium-stabilized tetragonal zirconia) merupakan suatu
material berkekuatan tinggi yang dipakai secara luas dalam kedokteran gigi.
Keramik ini digunakan sebagai orthodontic bracket, inti pasak, jembatan implant
serta kerangka crown dan bridge. Zirconia berbeda dengan keramik dental lain
disebabkan mekanismenya yang langka dalam menghadapi tekanan. Keramik
YTZP dapat menahan terjadinya perambatan crack akibat tekanan melalui
perubahan mikrostruktural pada ujung crack yaitu dari fase tetragonal menjadi
fase monoklinikal. Keramik YTZP memiliki kemampuan resistensi yang lebih
tinggi terhadap tekanan fleksural dan tekanan geser dibandingkan dengan keramik
dental lain.2
Meskipun kekuatan mekanis yang tinggi dari keramik merupakan suatu
hal yang penting, kesuksesan klinis penggunaan protesa keramik dalam jangka
waktu panjang sangat bergantung pada prosedur sementasi. Dibutuhkan kekuatan
ikatan yang kuat antara resin semen dengan keramik dan resin semen dengan gigi

untuk memperoleh kesuksesan penggunaan keramik dalam jangka waktu yang


lama. Beberapa literatur meneliti mengenai perlakuan permukaan yang paling
tepat dan efektif untuk meningkatkan ketahanan pemakaian keramik zirkonia.
Beberapa perlakuan perlakuan permukaan yang diuji antara lain abrasi udara,
pembersihan menggunakan air-powder-water spray dengan larutan sodium
hidrokarbonat dan penyinaran dengan laser Er:YAG. Beberapa literatur
mengatakan bahwa abrasi udara merupakan perlakuan permukaan yang paling
efisien untuk meningkatkan perlekatan sementasi pada zirconia namun memiliki
efek positif dan negatif.2,4 Karena itu, perlakuan permukaan yang paling sesuai
untuk keramik zirconia masih belum ditentukan.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengulas ketiga
perlakuan permukaan tersebut meliputi cara kerja, efek positif dan efek negatif
dari masing-masing perlakuan permukaan.

Daftar Pustaka
1. Mona W., Frank L., Stefan W., and Matthias Kern. Durability of the resin
bond strength to zirconia ceramic after using different surface conditioning
methods. 2005.[DOI:10.1016/j.dental.2005.11.040.]
2. Sonu G., Sabita MR. Evaluation of Surface Conditioning of Zirconia and
Its Effect on Bonding to Resin-Luting Agent. Journal of Contemporary
Dentstry 2013; 3(1): 7-10. [DOI: 10.5005/jp-journals-10031-1026]
3. AN Cavalcanti, RM Foxton, TF Watson, et all. Bond Strength of Resin
Cements to a Zirconia Ceramic with Different Surface Treatments.
Operative Dentistry 2009; 34(3), 268-275. [DOI: 10.2341/08-80]
4. Anonymous.___. Bab 2 Tinjauan Pustaka [skripsi]. Lampung: Universitas
Lampung. Tersedia pada: http://unila.ac.id/