Anda di halaman 1dari 319

Bagian I

GEOLOGI
SUMBER: Pedoman Praktikum Geologi Dasar, Teknik Geologi,
Institut Teknologi Bandung; Diktat Praktikum Geomorfologi
dan Penginderaan Jauh, Teknik Geologi, Institut Teknologi
Bandung.

PEDOMAN PRAKTIKUM
GEOLOGI DASAR
(Gl-2011)
2009

LABORATORIUM GEOLOGI DINAMIK


PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS ILMU TEKNIK KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

PEDOMAN PRAKTIKUM
GEOLOGI FISIK
DAFTAR ISI
Pendahuluan
1. Definisi dan Ruang Lingkup
2. Cabang Ilmu dalam geologi

1
1
1

1.

Kristal dan Mineral


1.1 Definisi
1.2 Pengenalan Mineral
1.3 Sifat-sifat Mineral
1.4 Klasifikasi Mineral

3
3
3
3
9

2.

Batuan Beku
2.1 Batuan Beku
2.2 Asal Kejadian Batuan Beku
2.3 Bentuk dan Keberadaan Batuan Beku
2.4 Pengenalan Batuan Beku
2.5 Klasifikasi Batuan Beku

14
14
15
16
17
20

3.

Batuan Sedimen
3.1 Kejadian Batuan Sedimen
3.2 Tekstur Batuan Sedimen
3.3 Struktur Sedimen
3.4 Komposisi Batuan Sedimen
3.5 Klasifikasi Batuan Sedimen

21
21
21
23
24
25

4.

Batuan Metamorfik
4.1 Kejadian Batuan Metamorf
4.2 Jenis Metamorfisme
4.3 Tekstur Batuan Metamorf
4.4 Struktur Batuan Metamorf
4.5 Beberapa Batuan Metamorf ynag Penting
4.6 Klasifikasi

29
29
29
29
30
31
32

5.

Peta Topografi
5.1 Peta Topografi
5.2 Garis Kontur & Karakteristiknya
5.3 Skala Peta
5.4 Cara Membuat Peta Topografi
5.5 Penampang Topografi
5.6 Analisa Peta Topografi
5.7 Foto Udara

35
35
35
37
37
39
40
44

6.

Fosil

46
46
46
46
46
47

6.1 Fosil
6.2 Kegunaan Fosil
6.3 Taxonomi
6.4 Umur Geologi
6.5 Skala Waktu Geologi
7.

Peta Geologi
7.1 Pengertian Peta Geologi
7.2 Penyebaran Batuan Pada Peta
7.3 Jurus dan Kemiringan Lapisan Batuan
7.4 Hubungan kedudukan lapisan dan topografi
7.5 Cara Penulisan Kedudukan Lapisan
7.6 Simbol Pada Peta dan Tanda Litologi
7.7 Peta Geologi dan Penampang Geologi

48
48
48
48
50
53
53
54

8.

Pengertian dalam Hubungan Geologi


8.1 Prinsip Dasar Perlapisan Batuan Sedimen
8.2 Prinsip Superposisi
8.3 Prinsip Perlapisan Sejajar dan Kesamaan Waktu
8.4 Prinsip Kesinambungan
8.5 Keselarasan dan Bukan Keselarasan
8.6 Ketidakselarasan Bersudut (angular unconformity)
8.7 Hubungan antar satuan batuan dan struktur

57
57
57
57
57
58
58
58

9.

Struktur Geologi
9.1 Struktur Geologi
9.2 Kekar (Joint)
9.3 Sesar (Fault)
9.4 Lipatan

62
62
62
63
65
***

Pendahuluan
1. Definisi dan Ruang Lingkup
Kata geologi berasal dari kata latin, gea berarti bumi, dan logos berarti ilmu.
Geologi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan
pemahaman tentang bumi. Geologi merupakan ilmu yang mempelajari bumi
sebagai obyek utama, dan sebagian besar berhubungan dengan bagian terluar dari
bumi yaitu kerak bumi.
Geologi meliputi studi tentang mineral, batuan, fosil, tidak hanya sebagai obyek,
tetapi menyangkut penjelasan tentang sejarah pembentukannya. Geologi juga
mempelajari dan menjelaskan gambaran fisik serta proses yang berlangsung
dipermukaan dan dibawah permukaan bumi, pada saat sekarang dan juga pada
masa lalu. Geologi fisik didalam hal ini merupakan dasar untuk mempelajari
kesemuanya ini, dengan dimulai mempelajari unsur utama, yaitu batuan sebagai
penyusun kerak bumi, mengenal proses pembentukannya, serta menjelaskan
kehadiran serta sifat-sifat fisiknya di bumi.
2. Cabang Ilmu dalam Geologi
Ilmu geologi mempunyai ruang lingkup sangat luas, yang didalam pengkajiannya
lebih dalam berkembang sebagai cabang ilmu yang bersifat lebih khusus dan
terinci.
Petrologi adalah studi tentang batuan, asal mula kejadiannya, terdapatnya serta
penjelasan lingkungan pembentukannya. Disiplin ini akan berhubungan dengan
studi tentang mineral (mineralogi) dan bentuk-bentuk kristal dari mineral
(kristalografi).
Stratigrafi adalah studi tentang urutan perlapisan pada batuan, membahas
tentang hubungannya dan proses-proses sedimentasinya (sedimentologi) serta
sejarah perkembangan cekungan sedimentasinya.
Paleontologi adalah studi tentang fosil dan aspek kehidupan purba yang terekam
didalam batuan. Studi ini akan membahas tentang lingkungan pembentukan
batuan, umur relatif, serta menjelaskan keadaan dan proses yang terjadi pada
masa lalu (paleogeografi).
Geologi struktur adalah studi tentang bentuk batuan dan kerak bumi, sebagai hasil
dari proses perubahan (deformasi) akibat tektonik, yaitu proses gerak yang terjadi
didalam bumi.
Didalam perkembangannya, geologi sebagai dasar dari ilmu kebumian, sangat
berhubungan dengan ilmu dasar yang lain yaitu ilmu-ilmu fisika dan kimia.
Geofisika adalah ilmu yang membahas tentang sifat-sifat fisika dari bumi,
Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

mempelajari parameter fisika, menerapkan hukum dan teori fisika untuk


menjelaskan tentang proses yang terjadi di bumi. Demikian pula Geokimia,
beberapa sifat kimia dari batuan dan kerak bumi dipelajari lebih lanjut dengan
prinsip dan teori kimia untuk dapat menjelaskan proses kejadiannya.
Selain itu geologi berhubungan dengan ilmu sebagai dasar ilmu terapan misalnya,
dibidang pertambangan (Geologi pertambangan), perminyakan (Geologi Minyak),
teknik sipil (Geologi Teknik), hidrologi (Hidrogeologi),
lingkungan (Geologi
Lingkungan) dan sebagainya.

Geologi Dinamik - Geologi ITB

1. Kristal dan Mineral


1.1 Definisi
Mineral adalah bahan anorganik, terbentuk secara alamiah, seragam dengan
komposisi kimia yang tetap pada batas volumenya, dan mempunyai struktur
kristal karakteristik yang tercermin dalam bentuk dan sifat fisiknya.
Saat ini telah dikenal lebih dari 2000 mineral. Sebagian merupakan mineralmineral utama yang dikelompokkan sebagai Mineral Pembentuk Batuan. Mineralmineral tersebut terutama mengandung unsur-unsur yang menempati bagian
terbesar di bumi, antara lain unsur Oksigen (O), Silikon (Si), Aluminium (AL),
Besi (Fe), Kalsium (Ca), Sodium (Na), Potasium (K) dan Magnesium (Mg).
1.2. Pengenalan Mineral
Mineral dapat dikenal dengan menguji sifat fisik umum yang dimilikinya. Sebagai
contoh, garam dapur halite (NaCl) dapat dengan mudah dirasakan. Komposisi
kimia seringkali tidak cukup untuk menentukan jenis mineral, misalnya mineral
grafit (graphite) dan intan (diamond) mempunyai satu komposisi yang sama yaitu
karbon (C). Mineral-mineral yang lain dapat terlihat dari sifat fisik seperti bentuk
kristal, sifat belahan atau warna, atau dengan peralatan yang sederhana seperti
pisau atau potongan gelas dengan mudah diuji kekerasannya.
Mineral dapat dipelajari dengan seksama dengan memerikan dari bentuk
potongan (hand specimen) dari mineral, atau batuan dimana dia terdapat, dengan
menggunakan lensa pembesar (hand lens/loupe), dan mengujinya dengan alat
lain, seperti pisau, kawat baja, potongan gelas atau porselen dan cairan asam
(misalnya HCL). Mineral juga dipelajari lebih lanjut sifat fisik dan sifat optiknya
dalam bentuk preparat sayatan tipis (thin section) dengan ketebalan 0,03 mm,
dibawah mikroskop polarisasi.
1.3 Sifat-sifat Mineral
Bentuk Kistal dan Perawakan (Crystal Habit)
Suatu kristal dibatasi permukaan (sisi kristal) yang mencerminkan struktur dalam
dari mineral. Bentuk kristal merupakan kumpulan dari sisi-sisi yang membentuk
permukaan luar kristal. Sifat simetri kristal adalah hubungan geometri antara sisisisinya, yang merupakan karakteristik dari tiap mineral. Satu mineral yang sama
selalu menunjukkan hubungan menyudut dari sisi-sisi kristal yang disebut
sebagai sudut antar sisi (constancy of interfacial angels), yang merupakan dasar dari
sifat simetri. Bentuk kristal ditentukan berdasarkan sifat-sifat simetrinya yaitu,
bidang simetri dan sumbu simetri.
Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Dikenal tujuh bentuk kristal (gambar 1.1) yaitu ; Kubus (Cubic), Tetragonal,
Ortorombik (Orthorombic), Monoklin (Monoclonic), Triklin (Triclinic), Hexagonal
dan Trigonal.

Gambar 1.1. Karakteristik dari bentuk kristal dan beberapa contohnya

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Beberapa mineral umumnya berupa bentuk kristal (gambar 1.2) yang terdiri dari
kristal tunggal atau rangkaian kristal, yang dikenal istilahnya sebagai perawakan
(crystal habit).

Gambar 1.2. Beberapa contoh perawakan kristal

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Warna dan Gores (Streak)


Warna dari mineral adalah warna yang terlihat di permukaan yang bersih dan
sinar yang cukup. Suatu mineral dapat berwarna terang, transparan (tidak
berwarna atau memperlihatkan warna yang berangsur atau berubah). Warna
sangat berariasi, umumnya karena perbedaan kompisisi kimia atau pengotoran
pada mineral.
Gores (streak) adalah warna dari serbuk mineral. Terlihat bila mineral digoreskan
pada lempeng kasar porselen meninggalkan warna goresan. Untuk mineralmineral logam gores dapat dipakai sebagai petunjuk.
Kilap (Luster)
Kilap adalah kenampakan hasil pantulan cahaya pada permukaan mineral. Ini
akan tergantung pada kwalitas fisik permukaan (kehalusan dan trasparansi).
Tebel 1.1 Beberapa istilah kilap mineral
Metallic (logam)
Dull (tanah)
Vitrous (kaca)
Resinous (minyak)
Silky (sutera)
Pearly (mutiara)

Seperti logam terpoles >> digunakan untuk pemerian mineral bijih


buram seperti tanah
seperti pecahan kaca
>> terutama untuk mineral silikat
berminyak
seperti serat benang, sejajar permukaan.
seperti mutiara

Belahan (Cleavage)
Belahan adalah kecenderungan dari beberapa kristal mineral untuk pecah melalui
bidang lemah yang terdapat pada struktur kristalnya. Arah belahan ini umumnya
sejajar dengan satu sisi-sisi kristal. Kesempurnaan belahan diperikan dalam istilah
sempurna, baik, cukup atau buruk. Beberapa bentuk belahan ditunjukkan pada
gambar 1.3.
Sifat pecah adakalanya tidak berhubungan dengan struktur kristal, atau mineral
tersebut pecah tidak melalui bidang belahannya, yang disebut sebagai rekahan
(fracture). Beberapa sifat rekahan karakteristik, misalnya pada kwarsa membentuk
lengkungan permukaan yang kosentris (conchoidal fracture). Beberapa istilah lain
adalah, serabut (fibrous) pada asbes, hackly, even (halus), uneven (kasar), earhty,
pada mineral yang lunak misalnya kaolinit.
Kekerasan (Hardness)
Kekerasan mineral adalah ketahanannya terhadap kikisan. Kekerasan ini
ditentukan dari dengan cara menggoreskan satu mineral yang tidak diketahui
6

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

denga mineral lain yang telah diketahui. Dengan cara ini Mohs membuat skala
kekerasan relatif dari mineral-mineral, dari yang paling lunak hingga yang paling
keras. Untuk pemakaian praktis, dapat digunakan kuku ( 2,5), jarum tembaga (
3,5), pisau silet (5 - 5,5), pecahan kaca ( 5,5) dan kawat baja dengan kekerasan (
6,5).

Gambar 1.3. Beberapa pemerian pada bidang belahan

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Tabel 1.2 Skala Kekerasan Mohs


10
9
8
7
6,5
6
5,5
5-5, 5
5
4
3,5
3
2,5
2
1

Diamond (Intan)
Corundum (korundum)
Topaz
Quartz (Kwarsa)
> Kawat baja
Felspar
> Kaca
> Pisau silet
Apathite (Apatit)
Fluorite (Fluorit)
> Jarum tembaga
Calcite (Kalsit)
> Kuku
Gypsum (Gips)
Talc (Talk)

Densitas (Specific Gravity)


Densitas mineral dapat diukur dengan sederhana di labolatorium bila kristal
tersebut tidak terlalu kecil. Hubungan ini dinyatakan sebagai berikut :
Spesific Gravity (SG) = W1 / (W1 - W2)
W1 = berat butir mineral di udara
W2 = berat butir mineral di dalam air
Dilapangan agak sulit menentukan dengan pasti biasanya dengan perkiraan;
berat, sedang atau ringan. Beberapa mineral yang dapat dipakai sebagai
perbandingan misalnya :
- Silikat, Karbonat, Sulfat, dan Halida SG berkisar antara 2,2 - 4,0.
- Bijih logam, termasuk Sulfida, dan Oksida berkisar antara 4,5 - 7,5.
- Native elemen (logam), Emas dan Perak umumnya termasuk logam berat.
Transparansi (Transparency)
Transparansi merupakan kemampuan (potongan pipih) mineral untuk
meneruskan cahaya. Suatu obyek terlihat jelas melalui cahaya yang menembus
potongan mineral yang transparan. Bila obyek tersebut terlihat secara samar,
dipakai istilah transculent.

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Tabel 1.3 Derajat Transparansi


Transparent obyek terlihat jelas
Sub-transparent obyek sulit terlihat
Transculent
obyek tak terlihat, sinar masih diteruskan/menembus kristal.
Sub-translucent
sinar diteruskan hanya pada tepi kristal
Opaque
sinar tidak tembus.

Keliatan (Tenacity)
Keliatan adalah tingkat ketahanan mineral untuk hancur atau melentur. Beberapa
istilah untuk memerikan sifat ini seperti pada tabel 1.4.
Tabel 1.4 Istilah pemerian Keliatan mineral.
Brittle (tegar)
Elastic (lentur)
Flexible (liat)
Malleable
Sectille
Ductille

mudah hancur/pecah
dapat dibentuk, dapat kembali keposisi semula
dapat dibetuk, tidak kembali ke posisi semula
dapat dibelah menjadi lembaran
dapat dipotong dengan pisau
dapat dibentuk menjadi tipis

Reaksi dengan asam


Beberapa mineral akan bereaksi bila ditetesi dengan asam hidroklorit (Hcl). Pada
kalsit terbentuk gelembung-gelembung CO2, dan pada beberapa sulfida bijih
terbentuk H2S.
Sifat lain untuk beberapa mineral misalnya rasa (taste), sifat refraksi ganda, dan
sifat kemagnetan. Dalam pengenalan mineral sering digunakan asosiasi mineral
untuk mengenal jenis mineral yang lain. Beberapa mineral dapat bersamaan, dan
adakalanya tidak pernah ditemukan dengan mineral lain.
1.4 Klasifikasi Mineral
Mineral Silikat
Mineral silikat merupakan bagian terbesar dari mineral pembentuk batuan.
Mineral ini merupakan kombinasi unsur-unsur utama yang terdapat di bumi ; O,
Si, Al, Fe, Ca, Na, K, Mg. Perbedaan yang mudah dapat dilihat dari contoh
potongan dari dua mineral dalam batuan adalah warna, yaitu terang dan gelap.
Pengelompokan sederhana ini merupakan dasar yang berguna, karena terdapat
hubungan empiris antara warna, kompisisi mineral, serta peranan individu dalam
kristalisasi dan pembentukan batuan.
Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Mineral Silikat Gelap


Kelompok mineral ini umumnya memiliki kilap vitrous sampai dull, sifat -sifatnya
diringkas dalam tabel 1.5.
Tabel 1.5 Sifat fisis Mineral Silikat Gelap
Mineral
Olivine (Olivin)
Pyroxene (piroksen)
Hornblende
Biotit
Garnet

Warna SG
hijau (gelap)
hitam-coklat
hitam
coklat
merah (coklat)

H
Belahan
3,5+6,5
1 Buruk
3,3
5,5
2
3,3
5,5
2
3,0
2,5
1 sempurna
3,5
7
tidak ada

Olivin ((Mg, Fe) K2SiO4) adalah mineral yang terbentuk pada temperatur tinggi,
mengkristal paling awal. Dalam batuan seringkali dijumpai tidak sempurna
karena pelarutan oleh magma sekitarnya sebelum pemadatan selesai. Pengaruh
kandungan air yang cukup besar setelah atau saat konsolodasi menyebabkan
olivin ber-alterasi ke serpentin.
Serpentin berwarna hijau, SG = 2,6, H = 3,5, pembentukannya melibatkan
pembesaran volume dari olivin asalnya, sehingga pada beberapa batuan basa
seringkali timbul retakan-retakan dan melemahkan struktur batuan. Kehadiran
serpentin merubah sifat fisis batuan beku yang banyak mengandung olivin.
Beberapa batuan yang baik untuk pelapis jalan (dolerit, basalt, gabro) yang
mengandung olivin, dan derajat altrasinya sebaiknya diperiksa.
Piroksen (X2Y2 O6) dengan X : Ca, Fe atau Mg, dan Y : Si atau Al. Mineral ini
banyak jenisnya yang terpenting dalam batuan beku adalah Augit. Augit
mengandung silika dengan presentasi relatif rendah, seringkali terdapat
bersamaan dengan olivin. Pengaruh air menyebabkan alterasi menjadi Khlorit
(chlorite), mineral yang mirip dengan serpentin. Mineral-mineral ini jarang pada
batuan sedimen, umum merupakan mineral batuan Metamorf.
Hornblende (X2-3 Y5 Z8 O22 (OH)2) dengan X : Ca, Y : Mg atau Fe, dan Z : Si atau
Al. Hornblende mengandung silikat cukup banyak. Kristalisasinya dari magma
mengandung komponen air (disebut mineral basah), dan kemungkinan beralterasi
menjadi klorit bila kandungan air cukup banyak. Mineral ini sangat tidak stabil
pada kondisi permukaan (pelapukan).
Biotit (K (Mg, Fe)6 Si6 Al2 O20 (OH)4) merupakan bagian dari kelompok mineral
mika (Mica Group) yang berwarna gelap. Ikatan mineral ini sangat lemah, sangat
mudah membelah sepanjang bidang kristalnya. Mengkristal dari magma yang
mengandung air pada batuan beku yang banyak mengandung silika, juga pada
batuan sedimen dan metamorf. Dapat beralterasi menjadi klorit. Biotit

10

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

dimanfaatkan untuk bahan isolasi pada peralatan listrik, bila kristalnya cukup
besar.
Garnet (R3, Al2 Si3 O12) dengan R mungkin Fe, Mg, Ca, Mn, Cr, dll. Terdapat pada
batuan metamorf. Kriteria untuk mengenalnya terutama adalah kekerasannya
menyamai kwarsa dan hampir tidak ada belahan. Mineral ini digunakan sebagai
bahan kertas yang cukup baik, dengan memanfaatkan butirannya.
Mineral Silikat Terang
Beberapa sifat penting dari mineral-mineral ini ditunjukkan pada tabel dibawah :
Tabel 1.6 Sifat Mineral Silikat Terang
Mineral
Feldspar (Felspar)
Clays (Lempung)
Quartz (kwarsa)

Muscovite (Muskovit)

Warna
SG
putih, merah
putih
tak berwarna,
putih, merah,
beragam
tak berwarna

Belahan

2,6

2-2,5

1 sempurna

2,65
2,7

7
2,5

tidak ada
1 sempurna

Felspar, dibagi dalam dua jenis utama ; Felspar ortoklas (Orthoclase feldspar) atau
K feslpar, K Al Si3 O8 dan Feslpar plagioklas (Plagioclase feldspar), (Na-Ca) Si3 O8Ca Als-Si3 O8. Felspar ortoklas terdapat pada batuan beku yang kaya akan silika.
Felspar plagioklas merupakan kandungan utama yang penting dan dipakai
sebagai dasar klasifikasi batuan beku.
Mineral Lempung terbentuk hasil alterasi dari mineral lain, sebagai contoh hasil
alterasi felspar dengan hadirnya air.
Ortoklas berubah menjadi Kaolin : Al2 Si2 O5 (OH)4 bila K (K-hidroksida)
dipindah oleh reaksi dengan air.
Ortoklas + air = Kaolin + silika + K
Perubahan menjadi Illite : Al2 Si2 O5 (OH)4 bila K tidak dipindah secara
keseluruhan.
Ortoklas + air = Illite + K
Plagioklas baralterasi menjadi Montmorilonite 2H + 2Al2 (Al Si3) O10 (OH)2 :
plagioklas + air = Montmorilonite + Ca hidroksida.
Kandungan air yang cukup besar dapat merubah montmorilonite menjadi kaolin.
Dalam beberapa hal kaolin merupakan hasil akhir, misalnya, pada proses
pelapukan.
Mineral lempung dimanfaatkan dibanyak tempat. Kaolin digunakan sebagai
bahan industri keramik. Montmorilonite dimanfaatkan kandungan bentonite nya.
Geologi Dinamik - Geologi ITB

11

Praktikum Geologi Fisik

Kwarsa (SiO2) tidak berwarna bila murni penambahan zat lain akan merubah
warna beragam, misal hadirnya mangan memberi warna kemerahan (rose
quartz) besi menjadi ungu (amethyst), dan merah coklat (jasper) tergantung pada
kandungan kombinasi dengannya. Jenis silika yang lain Kalsedon (Chalcedonic
silika) Chert, Flint, Opal dan Agate.
Kwarsa dijumpai pada batuan yang kaya akan silika misalnya granit, juga didapat
bersama mineral lain, termasuk bijih. Kwarsa digunakan sebagai bahan gelas dan
untuk indusri alat-alat listrik.
Muskovit K2 Al4 Si6 Al2 O20 (OH)4 termasuk kelompok mika yang hampir sama
dengan biotit. Terdapat pada batuan beku yang kaya akan silika. Digunakan
sebagai bahan isolasi panas atau listrik. Muskovit terdapat juga pada batuan
sedimen dan metamorf. Seperti jenis mika lainnya, muskovit beralterasi menjadi
montmorilonite.
Mineral Non Silikat
Secara garis besar hampir semua mempunyai komposisi kimia yang sederhana ;
berupa unsur, sulfida (bila unsur logam bersenyawa dengan sulfur), atau oksida
(bila unsur logam bersenyawa dengan oksigen). Native element seperti tembaga,
perak atau emas agak jarang terdapat. Sulfida kecuali Pirit, tidak jarang
ditemukan, tetapi hanya cukup berarti bila relatif terkonsentrasi dalam urat (Vein)
dengan cukup besar.
Tabel 1.7 Sifat Mineral Bijih
Mineral
Sulfida
Galena PbS
Sphalerite T
Pyrite FeS2
Oksida
Magnetitte Fe3O4
Limonite Fe2O3
Heamatite Fe2O3

Warna

Gores

SG

Belahan

abu-abu
Coklat-kemerahan
Kuning

hitam
hitam
hitam

7,5
4
5

2,5
4
6

3 sejajar sisi kubus hl


3
tidak ada

hitam
hitam tanah
hitam, abu-abu

hitam
coklat
coklat

5
4
5

5
5,5

rekahan buruk
rekahan buruk
tidak ada

Pirit berbentuk kubus, terdapat dibatuan beku yang kaya silika. Pirit pernah
dimanfaatkan untuk diambil sulfurnya.
Magnetit terdapat dihampir semua batuan beku, juga batuan metamorf sering kali
berasosiasi dengan kholrit. Pada batuan sedimen, mineral-mineral ini dijumpai

12

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

sebagai butiran yang terkonsentrasi secara ilmiah karena densitas yang berbeda,
kadang-kadang juga karena adanya kandungan besi pada endapan.
Hematit, terdapat dari hampir semua batuan, juga terkosentrasi dalam bentuk
urat, membentuk jebakan yang ekonomis. Pada batupasir sering kali berfungsi
sebagai semen. Limonit dan Geotit terbentuk oleh kombinasi oksida besi dan air.
Mineral Non Logam
Mineral yang paling umum dijumpai adalah karbonat, sebagian besar kalsit, gips ;
yaitu kalsium sulfat. Semuanya berwarna putih atau tak berwarna. Sering
dijumpai dalam bentuk urat bersama bijih logam, umumnya bernilai ekonomis
dan hanya sebagai gangue mineral.
Gips dan asosiasi mineral sulfat, andhidrit, keduanya didapatkan dengan
batugaram (halite) pada endapan yang terbentuk karena penguapan garam-garam
air laut. Nama yang umum dipakai adalah Kelompok Evaporite, Gips, andhidrit dan
halit digunakan bahan industri kimia, bahan bangunan dll. Kalsit adalah mineral
yang penting dalam batugamping dan juga terdapat di banyak sedimen.
Merupakan unsur mineral yang prinsip dalam marmer dan juga terdapat dalam
urat sebagai gangue mineral bersama kwarsa, barite, dan fluorite.
Tabel 1.8 Sifat fisik Mineral Non logam, Non Silikat
Mineral
Barite, BaSO4
Fluorite, CaF2
Kelompok Evaporite
Gypsum, CaSO4.2H2O
Halite, NaCl
Kelompok Karbonat
Kalsit, CaCO3
Dolomite, CaMg(CO3)2

Warna
putih
beragam

SG
4,5
3

H
3,5
4

2
4 sejajar sisi oktahedron

putih-tak berwarna
tak berwarna

2
2

2
2

1 sempurna
3 sempurna sejajar sisi kubus

putih-tak berwarna
putih pucat

3
4

2,7
3

3 sejajar sisi rhombohedron


3 sejajar sisi rhombohedron

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Belahan

13

2. Batuan Beku
2.1 Batuan
Batuan adalah kumpulan dari satu atau lebih mineral, yang merupakan bagian
dari kerak bumi. Terdapat tiga jenis batuan yang utama yaitu : batuan beku
(igneous rock), terbentuk dari hasil pendinginan dan kristalisasi magma didalam
bumi atau dipermukaan bumi ; batuan sedimen (sedimentary rock), terbentuk dari
sedimen hasil rombakan batuan yang telah ada, oleh akumulasi dari material
organik, atau hasil penguapan dari larutan ; dan batuan metamorfik (metamorphic
rock), merupakan hasil perubahan dalam keadaan padat dari batuan yang telah
ada menjadi batuan yang mempunyai komposisi dan tekstur yang berbeda,
sebagai akibat perubahan panas, tekanan, kegiatan kimiawi atau perpaduan
ketiganya. Semua jenis batuan ini dapat diamati dipermukaan sebagai
(singkapan). proses pembentukannya juga dapat diamati saat ini. Sebagai contoh,
kegiatan gunung api yang menghasilkan beberapa jenis batuan beku, proses
pelapukan , erosi, transportasi dan pengendapan sedimen yang setelah melalui
proses pembatuan (lithification) menjadi beberapa jenis batuan sedimen.
Kerak bumi ini bersifat dinamik, dan merupakan tempat berlangsungnya berbagai
proses yang mempengaruhi pembentukan ketiga jenis batuan tersebut. Sepanjang
kurun waktu dan akibat dari proses-proses ini, suatu batuan akan berubah
menjadi jenis yang lain. Hubungan ini merupakan dasar dari jentera (siklus)
batuan, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Siklus batuan, tanda panah hitam merupakan siklus lengkap,
tanda panah putih merupakan siklus yang dapat terputus.

14

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

2.2. Asal Kejadian Batuan Beku


Batuan beku merupakan kumpulan (aggregate) dari bahan yang lebur yang
berasal dari selubung bumi (mantel). Sumber panas yang diperlukan untuk
meleburkan bahan ini berasal dari dalam bumi, dimana temperatur bertambah
dengan 300 C setiap kilometer kedalaman (geothermal gradient) . Bahan yang lebur
ini, atau magma, adalah larutan yang kompleks, terdiri dari silikat dan air, dan
berbagai jenis gas. Magma dapat mencapai permuakaan, dikeluarkan (ekstrusi)
sebagai lava, dan didalam bumi disebut batuan beku intrusif dan yang membeku
dipermukaan disebut sebagai batuan beku ekstrusif.
Komposisi dari magma tergantung pada komposisi batuan yang dileburkan pada
saat pembentukan magma. Jenis batuan beku yang terbentuk tergantung dari
berbagai faktor diantaranya, komposisi asal dari peleburan magma, kecepatan
pendinginan dan reaksi yang terjadi didalam magma ditempat proses pendinginan
berlangsung. Pada saat magma mengalami pendinginan akan terjadi kristalisasi
dari berbagai mineral utama yang mengikuti suatu urutan atau orde, umumnya
dikenal sebagai Seri Reaksi Bowen.
Seri reaksi seperti ditunjukkan pada gambar 2.2 memberikan petunkuk
pembentukan berbagai jenis batuan beku dan menjelaskan asosiasi dari beberapa
mineral.

Gambar 2.2 Seri reaksi untuk pembentukan batuan beku dari magma

Pada gambar ditunjukkan bahwa mineral pertama yang terbentuk cenderung


mengandung silika rendah. Seri reaksi menerus (continuous) pada plagioklas
dimaksudkan bahwa, kristal pertama, plagioklas-Ca (anorthite), menerus bereaksi
Geologi Dinamik - Geologi ITB

15

Praktikum Geologi Fisik

dengan sisa larutan selama pendinginan berlangsung. Disini terjadi substitusi


sodium (Na) terhadap kalsium (Ca).
Seri tak-menerus (discontinuous) terdiri dari mineral-mineral feromagnesian (FeMg). Mineral pertama yang terbentuk adalah olivine. Hasil reaksi selanjutnya
antara olivine dan sisa larutannya membentuk piroksen (pyroxene). Proses ini
berlanjut hingga terbentuk biotite.
Apabila magma asal mempunyai kandungan silika rendah dan kandungan besi
(Fe) dan magnesium (Mg) tinggi, magma dapat membentuk sebelum seluruh seri
reaksi ini terjadi. Batuan yang terbentuk akan kaya Mg dan Fe, yang dikatakan
sebagai batuan mafic , dengan mineral utama olivin, piroksen dan plagioklas-Ca.
Sebaliknya, larutan yang mengandung Mg dan Fe yang rendah, akan mencapai
tahap akhir reaksi, dengan mineral utama felspar, kwarsa dan muskovit, yang
dikatakan sebagai batuan felsic atau sialic.
Seri reaksi ini adalah ideal, bahwa perubahan komposisi cairan magma dapat
terjadi di alam oleh proses kristalisasi fraksional (fractional crystallization), yaitu
pemisahan kristal dari cairan karena pemampatan (settling) atau penyaringan
(filtering), juga oleh proses asimilasi (assimilation) dari sebagaian batuan yang
terlibat akibat naiknya cairan magma, atau oleh percampuran (mixing) dua
magma dari komposisi yang berbeda.
2.3. Bentuk dan Keberadaan Batuan Beku
Batuan intrusif dan batuan ekstrusif dapat berupa bentuk geometri yang
bermacam-macam. Gambar 2.3 menunjukkan bentuk-bentuk batuan beku yang
umumnya dijumpai dialam, dan hubungan antara jenis batuan dan
keberadaannya ditunjukkan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Hubungan antara jenis batuan dan kebaradaannya pada kerak bumi
Jenis Batuan
Pumice
Scoria
Obsidian
Ryolit
Andesit
Basalt
Ryolit porfir
Andesit porfir
Basalt porfir
Granit
Diorit
Gabro
Peridotit

EKS

INT

16

Bentuk
Aliran lava, piroklastik
Kerak pada aliran lava, piroklastik
Aliran lava
Aliran lava, intrusi dangkal
Korok (Dikes), sill, lakolit,
diintrusikan pada kedalaman
menengah - dangkal
Batolit dan stock berasal dari
intrusi dalam

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Gambar 2.3 Bentuk umum tubuh batuan beku pada kerak bumi

Masa batuan beku (pluton) intrusif adalah batolit (batholith), umumnya berkristal
kasar (phaneritic), dan berkomposisi granitik. Stok (stock), mempunyai komposisi
yang sama, berukuran lebih kecil (< 100 km). Korok (dike) berbentuk meniang
(tabular), memotong arah struktur tubuh batuan. Bentuk-bentuk ini, didasarkan
pada hubungan kontaknya dengan struktur batuan yang diterobos disebut
sebagai bentuk batuan beku yang diskordan (discordant igneous plutons). Sill,
berbentuk tabular, dan Lakolit (lacolith), tabular dan membumbung dibagian
tengahnya, memotong sejajar arah umum batuan, yang disebut sebagai bentuk
batuan beku yang konkordan (concordant igneous plutons).
2.4 Pengenalan Batuan Beku
Batuan beku diperikan dan dikenal berdasarkan komposisi mineral dan sifat tekstur
nya. Komposisi mineral batuan mencerminkan informasi tentang magma asal
batuan tersebut dan posisi tektonik (berhubungan struktur kerak bumi dan
mantel) tempat kejadian magma tersebut. Tekstur akan memberikan gambaran
tentang sejarah atau proses pendinginan dari magma.

Geologi Dinamik - Geologi ITB

17

Praktikum Geologi Fisik

Komposisi Mineral
Pada dasarnya sebagian besar (99%) batuan beku hanya terdiri dari unsur-unsur
utama yaitu ; Oksigen, Silikon, Aluminium, Besi, Kalsium, Sodium, Potasium dan
Magnesium. Unsur-unsur ini membentuk mineral silikat utama (>> lihat kembali
butir 2.2, hal. 16-17) yaitu ; Felspar, Olivin, Piroksen, Amfibol, kwarsa dan Mika.
Mineral-Mineral ini menempati lebih dari 95% volume batuan beku, dan menjadi
dasar untuk klasifikasi dan menjelaskan tentang magma asal.
Komposisi mineral berhubungan dengan sifat warna batuan. Batuan yang banyak
mengandung mineral silika dan alumina (felsik) akan cenderung berwarna terang,
sedangkan yang banyak mengandung magnesium, besi dan kalsium umumnya
mempunyai warna yang gelap. Bagan yang ditunjukkan pada gambar 2.4
merupakan cara pengenalan secara umum yang didasarkan terutama pada
komposisi mineral.

Gambar 2.4 Bagan untuk pengenalan dan klasifikasi umum batuan beku

Sebagai penjelasan, muskovit dan biotit adalah mineral tambahan dan bukan
mineral utama untuk dasar pengelompokan. Amfibol dan piroksen menjadi
mineral tambahan pada kelompok batuan granitik.

18

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Tekstur
Tekstur adalah kenampakkan dari ukuran, bentuk dan hubungan keteraturan
butiran atau kristal dalam batuan. Didalam pemerian masroskopik, dikenal
tekstur-tekstur yang utama yaitu :
Fanerik (phaneric)
Terdiri dari mineral yang dapat diamati secara makroskopik, berbutir (kristal)
kasar, umumnya lebih besar dari 1 mm sampai lebih besar dari 5 mm. Pada
pengamatan lebih seksama dibawah mikroskop, dapat dibedakan bentuk-bentuk
kristal yang sempurna (euhedral), sebagaian sisi kristal tidak baik (subhedral)
bentuk kristal tak baik (anhedral).
Afanitik (aphanitic)
Terdiri dari mineral berbutir (kristal) halus, berukuran mikroskopik, lebih kecil
dari 1 mm, dan tidak dapat diamati dibawah pengamatan biasa.
Porfiritik (Porphyritic)
Tekstur ini karakteristik pada batuan beku, yang memperlihatkan adanya butiran
(kristal) yang tidak seragam (inequigranular), dimana butiran yang besar, disebut
sebagai fenokris (phenocryst), berbeda didalam masadasar (groundmass) atau
matriks (matrix) yang lebih halus.
Vesikuler (Vesicular)
Tekstur yang ditujukkan adanya rongga (vesicle) pada batuan, berbentuk lonjong,
oval atau bulat. Rongga-rongga ini adalah bekas gelembung gas yang
terperangkap pada saat pendinginan. Bila lubang-lubang ini telah diisi mineral
disebut amygdaloidal.
Gelas (glassy)
Tekstur yang menyerupai gelas, tidak mempunyai bentuk kristal (amorph).
Beberapa tekstur karakteristik yang masih dapat diamati secara makroskopik
diantaranya adalah; tekstur ofitik (ophytic) atau tekstur diabasik (diabasic).
Tekstur pada batuan beku merupakan pencerminan mineralogi dan proses
pembekuan magma atau lava pada tempat pembentukannya. Tekstur fanerik
adalah hasil pembekuan yang lambat, sehingga dapat terbentuk kristal yang
kasar. Umumnya terdapat pada batuan plitonik. Tekstur afanitik atau berbutir
halus, umumnya terdapat pada batuan ekstrusif, yang merupakan hasil
pembekuan yang bertahap, dari proses pendinginan yang lambat, dan sebelum
keseluruhan magma membeku, kemudian berubah menjadi cepat. Tekstur
vesikuler merupakan ciri aliran lava, dimana terjadi lolosnya gas pada saat lava
masih mencair, menghasilkan rongga-rongga. Tekstur gelas terjadi karena
pendinginan yang sangat cepat tanpa disertai gas, sehingga larutan mineral tidak
sempat membentuk kristal (amorf). tekstur ini umumnya terdapat pada lava.
Geologi Dinamik - Geologi ITB

19

Praktikum Geologi Fisik

2.5. Klasifikasi Batuan Beku


Dasar untuk mengelompokan batuan beku yang terutama adalah kriteria tentang
komposisi mineral dan tekstur. Kriteria ini tidak saja berguna untuk pemerian
batuan, akan tetapi juga untuk menjelaskan asal kejadian batuan.
Banyak sekali klasifikasi yang dapat dipakai, yang penting untuk diketahui untuk
kriteria mineralogi adalah ;
- Kehadiran Mineral Kwarsa
Kwarsa adalah mineral utama pada batuan felsik, dan merupakan mineral
tambahan pada batuan menengah atau mafik.
- Komposisi dari Felspar
K-Felspar dan Na-Felspar adalah mineral-mineral utama pada batuan
felsik, tetapi jarang atau tidak terdapat pada batuan menengah atau mafik.
Ca-Plagioklas adalah mineral karakteristik batuan mafik.
-Proporsi Mineral Feromagnesia (Fe-Mg)
Sebagai batasan umum, batuan mafik kaya akan mineral Fe-Mg, dan
batuan felsik kaya akan kwarsa. Olivin umumnya hanya terdapat pada
batuan mafik. Piroksen dan amfibol hadir pada batuan mafik sampai
menengah. Biotit umumnya terdapat pada batuan menengah sampai felsik.
Gambar 2.4 adalah bagan klasifikasi yang umum, yang dapat dipakai untuk
pemberian jenis batuan beku secara makroskopik.

20

Geologi Dinamik - Geologi ITB

3. Batuan Sedimen
3.1 Kejadian Batuan Sedimen
Batuan sedimen terbentuk dari bahan yang pernah lepas dan bahan terlarut hasil
dari proses mekanis dan kimia dari batuan yang telah ada sebelumnya, dari
cangkang binatang, sisa tumbuhan. Proses yang terlihat disini mencakup
penghancuran batuan oleh pelapukan dan erosi, hasil keduanya dan
pengangkutan hasil tersebut kemudian terubah oleh proses kompaksi, sementasi
menjadi batuan yang padat.

3.2 Tekstur Batuan Sedimen


Besar butir (grain size)
Besar butir adalah ukuran (diameter dari fragmen batuan). Skala pembatasan
yang dipakai adalah skala Wentworth

Diameter butir
Lebih besar 256 mm
64 mm s/d 256 mm
4 mm s/d 64
2 mm s/d 4 mm
1/16 mm s/d 1/16 mm
1/256 mm s/d 1/16 mm
Lebih kecil 1/256

Istilah
Bourder (bongkah)
Cobble (berangkal)
Pebble (kerakal)
Granuale (kerikil)
Sand (pasir)
Silt (lanau)
Clay (lempung)

Pemilahan (Sorting)
Pemilahan adalah tingkat keseragaman besar butir.
Istilah-istilah yang dipakai adalah terpilah baik (butir-butir sama besar), terpilah
sedang dan terpilah buruk (gambar 3.1).

Gambar 3.1 : Perbandingan pemilahan


Geologi Dinamik - Geologi ITB

21

Praktikum Geologi Fisik

Kebundaran (roundness)
Kebundaran adalah tingkat kelengkungan dari setiap fragmen/butiran. Istilahistilah yang dipakai adalah (gambar 3.2) :
- membundar baik (well rounded)
- membundar (rounded)
- membundar tanggung (sub rounded)
- menyudut tanggung (sub angular)
- menyudut (angular)

Gambar 3.2 : Perbandingan kebundaran

Kemas (Fabric)
Kemas adalah sifat hubungan antar butir di dalam suatu masa dasar atau di
antara semennya.
Istilah-istilah yang dipakai adalah kemas terbuka digunakan untuk butiran yang
tidak saling bersentuhan, dan kemas tertutup untuk butiran yang saling
bersentuhan
Porositas
Porositas adalah perbandingan antara jumlah volume rongga dan volume
keseluruhan dari satu batuan. Dalam hal ini dapat dipakai istilah-istilah kualitatif
yang merupakan fungsi daya serap batuan terhadap cairan. Porositas ini dapat
diuji dengan meneteskan cairan. Istilah-istilah yang dipakai adalah Porositas
dangat baik (very good), baik (good) sedang (fair) buruk (poor)

22

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Semen dan Masa Dasar


Semen adalah bahan yang mengikat butiran. Semen terbentuk pada saat
pembentukan batuan, dapat berupa silika, karbonat, oksida besi atau mineral
lempung.
Masa dasar (matrix) adalah masa dimana butiran/fragmen berada dalam satu
kesatuan. Masa dasar terbentuk bersama-sama fragmen pada saat sedimentasi,
dapat berupa bahan semen atau butiran yang lebih halus.
3.3 Struktur Sedimen
Struktur sedimen termasuk ke dalam struktur primer, yaitu struktur yang
terbentuk pada saat pembentukan batuan (pada saat sedimentasi). Beberapa
struktur sedimen yang dapat diamati pada satuan antara lain :
Perlapisan
Perlapisan adalah bidang kemasan waktu yang dapat ditunjukkan oleh perbedaan
besar butir atau warna dari bahan penyusunannya. Jenis perlapisan beragam dari
sangat tipis (laminasi) sampai sangat tebal.
Perlapisan bersusun (graded bedding)
Merupakan susunan perlapisan dari butir yang kasar berangsur menjadi halus
pada satu satuan perlapisan. Struktur ini dapat dipakai sebagai petunjuk bagian
bawah dan bagian atas dari perlapisan tersebut. Umumnya butir yang kasar
merupakan bagian bawah (bottom) dan butiran yang halus merupakan bagian
atas (top).
Perlapisan silang-siur (cross bedding)
Merupakan bentuk lapisan yang terpotong pada bagian atasnya oleh lapisan
berikutnya dengan sudut yang berlainan dalam satu satuan perlapisan (Gambar
3.3). Lapisan ini terutama terdapat pada batupasir.
Gelembur gelombang (current ripple)
Bentuk perlapisan bergelombang, seperti berkerut dalam satu lapisan (gb 3.3).
Flute cast
Struktur sedimen berbentuk suling dan terdapat pada dasar suatu lapisan yang
dapat dipakai untuk menentukan arus purba (gambar 3.2).

Geologi Dinamik - Geologi ITB

23

Praktikum Geologi Fisik

Load cast
Struktur sedimen yang terbentuk akibat pengaruh beban sedimen diatasnya
(gambar 3.3).

Gambar 3.3 : Struktur-struktur sedimen pada batuan sedimen

3.4 Komposisi Batuan Sedimen


Batuan sedimen dibentuk dari material batuan lain yang telah mengalami
pelapukan dan stabil dalam kondisi temperature dan tekanan permukaan. Batuan
sedimen dibentuk oleh 4 material utama yaitu :
a. Kwarsa
b. Karbonat
c. Lempung
d. Fragmen batuan
Kwarsa
Kwarsa adalah salah satu dari mineral-mineral klastik pada batuan sedimen yang
berasal dari batuan granit kerak kontinental, bersifat keras, stabil dan tahan
terhadap pelapukan. Kwarsa tidak mudah lapuk walaupun telah mengalami
transportasi oleh air, malahan sering terakumulasi seperti endapan pasir fluvial
pada lingkungan pantai.
Kalsit
Kalsit adalah mineral utama pembentuk batugamping (limestones) yang juga
dapat berfungsi sebagai semen pada batupasir dan batulempung. Kalsium (Ca)
berasal dari batuan-batuan beku, sedangkan karbonat berasal dari air dan karbon
dioksida. Kalsium diendapkan sebagai CaCO3 atau diambil dari air laut oleh
organisme-organisme dan dihimpun sebagai material cangkang. Ketika organisme
24

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

tersebut mati, fragmen-fragmen cangkangnya biasanya terkumpul sebagai


partikel klastik yang paling kaya membentuk macam-macam batugamping.
Lempung
Mineral-mineral lempung berasal dari pelapukan silikat, khususnya feldspar.
Mereka sangat halus serta terkumpul dalam lumpur dan serpih. Kelimpahan
feldspar dalam kerak bumi dan bukti bahwa pelapukan secara cepat dibawah
kondisi atmosfer, terlihat dari mineral-mineral lempung pada batuan-batuan
sedimen dalam jumlah yang besar.
Fragmen-fragmen batuan
Batuan sumber yang telah mengalami pelapukan membentuk fragmen-fragmen
berbutir kasar dan endapan klastik seperti kerikil. Fragmen-fragmen batuan
adalah juga hadir sebagai butiran dalam beberapa batuan berukuran halus.
3.5 Klasifikasi Batuan Sedimen
a. Golongan detritus/klastik
Breksi (Breccia)
Berukuran butir lebih besar dari 2 mm, dengan fragmen menyudut, umumnya
terdiri dari fragmen batuan hasil rombakan yang tertanam dalam masa dasar
yang lebih halus dan tersemenkan. Bahan penyusun dapat berupa bahan dari
proses vulkanisme yang disebut breksi volkanik.
Konglomerat (Conglomerate)
Berukuran butir lebih besar dari 1/16 mm - 2 mm. Dapat dikelompokkan menjadi,
Batupasir halus, sedang dan kasar.
Jenis-jenis batupasir ditentukan oleh bahan penyusunannya misalnya ;
Greywacke yaitu batupasir yang banyak mengandung material volkanik.
Arkose, yaitu batupasir yang banyak mengandung felspar dan kwarsa. Kadangkadang komposisi utama dipakai untuk penamaannya misalnya; Batupasir
kwarsa, Kalkarenit yaitu hampir keseluruhannya terdiri dari butiran gamping.
Batulanau (Siltstone)
Berukuran butir antara 1/256 - 1/16 mm, perbedaan dengan batupasir atau
betulempung hanya perbedaan besar butirnya.
Batulempung (Claystone)

Geologi Dinamik - Geologi ITB

25

Praktikum Geologi Fisik

Berukuran butir sangat luas, lebih kecil dari 1/256 mm. Umumnya terdiri dari
mineral-mineral lempung. Perbedaan komposisinya dapat dicirikan dari
warnanya (berhubungan dengan lingkungan pengendapan)
Serpih (Shale)
Serpih mempunyai sifat-seperti batulempung atau batulanau, tetapi pada bidangbidang lapisan memperlihatkan belahan yang menyerpih (berlembar).
Napal (Marl)
Napal adalah batulempung yang mempunyai komposisi karbonat yang tinggi,
yaitu antara 30% - 60%. Sifat ini dapat berangsur menjadi lebh kecil dari 30% yang
dikenal dengan nama batulempung gampingan dan dapat lebih besar dari 60%
yang disebut batugamping lempungan (umum dijumpai dalam pemerian batuan
detrius yang mengandung unsur karbonat).
b. Golongan karbonat
Secara umum dinamakan batugamping (Limestone) karena komposisi utamanya
adalah mineral kalsit (CaCO2). Termasuk pada kelompok ini adalah Dolomit (ca,
Mg (CO3)2).
Sumber yang utama batugamping adalah terumbu (reef), yang berasal dari
kelompok binatang laut. Macam-macam batugamping dapat dilihat pada
gambar.3.6.
Pada batugamping klastik, sedimentasi mekanis sangat berperan, dimana bahan
penyusun merupakan hasil rombakan dari sumbernya.
Dikenal beberapa jenis batugamping :
- Kalkarenit yaitu batupasir dengan butiran gamping/kalsit
- Kalsirudit yaitu berukuran butir lebih besar dari 2 mm dan
- Batugamping bioklastik atau batugamping kerangka (Skeletal), merupakan
batugamping klastik.
Pada sedimentasi organik dikenal Batugamping terumbu
dimana bahan
penyusun terdiri dari Koral, Foraminifera dan Ganggang yang saling mengikat
satu sama lainnya.
Sedimentasi yang sifatnya kimiawi, merupakan hasil penguapan larutan gamping,
dikenal sebagai Batugamping kristalin, terdiri dari kristal kalsit. Dapat disebut
dolomit, jika terjadi penggantian kristal kalsit menjadi dolomit.
Golongan evaporit

26

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Umumnya batuan ini terdiri dari mineral, dan merupakan nama dari batuan
tersebut. misalnya :
Anhidrit yaitu garam CaSO4
Gypsum yaitu garam CaSO4xH2O
Halit (Rocksalt) yaitu garam NaCl.
d. Batubara
Termasuk dari sisa tumbuhan yang telah mengalami proses tekanan dan
pemanasan.
Dapat dibedakan jenisnya berdasarkan kematangannya dan variasi komposisi
Carbon dan Hidrogen :
- Gambut (peat)
- Batubara muda
- Batubara (Coal)
- Antrasit

= 54% C - 5% H
= 67% C - 6% H
= 78% C - 6% H
= 91% C - 3% H

e. Kelompok yang digolongkan jenis silika


Terdiri dari batuan yang umumnya diendapkan pada lingkungan laut dalam,
bersifat kimiawi dan kadang-kadang juga berasosiasi dengan organisme seperti
halnya radiolaria dan diatomea. Contoh batuan ini adalah :
Shert (Rijang)
Radiolarit
Tanah Diatomea

Geologi Dinamik - Geologi ITB

27

Praktikum Geologi Fisik

Gambar 3.4 : Bagan klasifikasi batuan sediment

Gambar 3.5 : Determinasi batuan sedimen


28

Geologi Dinamik - Geologi ITB

4. Batuan Metamorfik
4.1 Kejadian Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah batuan ubahan yang terbentuk dari batuan asalnya,
berlangsung dalam keadaan padat, akibat pengaruh peningkatan suhu (T) dan
tekanan (P), atau pengaruh kedua-duanya yang disebut proses metamorfisme dan
berlangsung di bawah permukaan.
Proses metamorfosis meliputi :
- Rekristalisasi.
- Reorientasi
- pembentukan mineral baru dari unsur yang telah ada sebelumnya.
Proses metamorfisme membentuk batuan yang sama sekali berbeda dengan
batuan asalnya, baik tekstur maupun komposisi mineral. Mengingat bahwa
kenaikan tekanan atau temperatur akan mengubah mineral bila batas
kestabilannya terlampaui, dan juga hubungan antar butiran/kristalnya. Proses
metamorfisme tidak mengubah komposisi kimia batuan. Oleh karena itu
disamping faktor tekanan dan temperatur, pembentukan batuan metamorf ini jika
tergantung pada jenis batuan asalnya.
4.2. Jenis metamorfisme
a. Metamorfisme thermal (kontak), terjadi karena aktiftas intrusi magma, proses
yang berperan adalah panas larutan aktif.
b. Metamorfisme dinamis, terjadi di daerah pergeseran/pergerakan yang
dangkal (misalnya zona patahan), dimana tekanan lebih berperan dari pada
panas yang timbul. Seringkali hanya terbentuk bahan yang sifatnya hancuran,
kadang-kadang juga terjadi rekristalisasi.
c. Metamorfisme regional, proses yang berperan adalah kenaikan tekanan dan
temperatur. Proses ini terjadi secara regional, berhubungan dengan lingkungan
tektonis, misalnya pada jalur pembentukan pegunungan dan zona
tunjaman dsb.
4.3. Tekstur batuan metamorf
Tekstur batuan metamorf ditentukan dari bentuk kristal dan hubungan antar
butiran mineral (gambar 4.1).
a. Homeoblastik, terdiri dari satu macam bentuk :
Lepidoblastik, mineral-mineral pipih dan sejajar
Geologi Dinamik - Geologi ITB

29

Praktikum Geologi Fisik

Nematoblastik, bentuk menjarum dan sejajar


Granoblastik, berbentuk butir
b. Heteroblastik, terdiri dari kombinasi tekstur homeoblastik

Gambar 4.1 : Tekstur batuan metamorfik

4.4. Struktur batuan metamorf


Struktur pada batuan metamorf yang terpenting adalah foliasi, yaitu hubungan
tekstur yang memperlihatkan orientasi kesejajaran. Kadang-kadang foliasi
menunjukkan orientasi yang hampir sama dengan perlapisan batuan asal (bila
berasal dari batuan sedimen), akan tetapi orientasi mineral tersebut tidak ada
sama sekali hubungan dengan sifat perlapisan batuan sedimen. Foliasi juga
mencerminkan derajat metamorfisme.
Jenis-jenis foliasi di antaranya :
a. Gneissic : perlapisan dari mineral-mineral yang membentuk jalur terputusputus, dan terdiri dari tekstur-tekstur lepidoblastik dan granoblastik.
b. Schistosity, perlapisan mineral-mineral yang menerus dan terdiri dari selangseling tekstur lepodoblastik dan granoblastik.
c. Phyllitic, perlapisan mineral-mineral yang menerus dan terdiri dari tekstur
lepidoblastik.
30

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

d. Slaty, merupakan perlapisan, umumnya terdiri dari mineral yang pipih dan
sangat luas.
Beberapa batuan metamorf tidak menunjukkan foliasi, umumnya masih
menunjukkan tekstur granulose (penyusunan mineral)berbentuk butir,
berukuran relatif sama), atau masif. Ini terjadi pada batuan metamorf hasil
metamorfisme dinamis, teksturnya kadang-kadang harus diamati secara langsung
dilapangan misalnya; breksi kataklastik dimana fragmen-fragmen yang terdiri
dari masa dasar yang sama menunjukkan orentasi arah ; jalur milonit, yaitu sifat
tergerus yang berupa lembar/bidang-bidang penyerpihan pada skala yang sangat
kecil biasanya hanya terlihat dibawah mikroskop.
4.5. Beberapa batuan metamorf yang penting
a. Berfoliasi
Batu sabak (Slate)
Berbutir halus, bidang foliasi tidak memperlihatkan pengelompokan mineral.
Jenis mineral seringkali tidak dapat dikenal secara megakopis, terdiri dari mineral
lempung, serisit, kompak dan keras.
Sekis (Schist)
Batuan paling umum yang dihasilkan oleh metamorfosa regional. Menunjukkan
tekstur yang sangat khas yaitu kepingan-kepingan dari mineral-mineral yang
menyeret, dan mengandung mineral feldspar, augit, hornblende, garnet, epidot.
Sekis menunjukkan derajat metamorfosa yang lebih tinggi dari filit, dicirikan
adanya mineral-mineral lain disamping mika.
Filit (Phyllite)
Derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate, dimana lembar mika sudah cukup
besar untuk dapat dilihat secara megaskopis, memberikan belahan phyllitic,
berkilap sutera pecahan-pecahannya. Juga mulai didapati mineral-mineral lain,
seperti turmalin dan garnet.
Gneis (Gneiss)
Merupakan hasil metamorfosa regional derajat tinggi, berbutir kasar, mempunyai
sifat bended (gneissic). Terdiri dari mineral-mineral yang mengingatkan
kepada batuan beku seperti kwarsa, feldspar dan mineral-mineral mafic, dengan
jalur-jalur yang tersendiri dari mineral-mineral yang pipih atau merabut
(menyerat) seperti chlorit, mika, granit, hornblende, kyanit, staurolit, sillimanit.

Geologi Dinamik - Geologi ITB

31

Praktikum Geologi Fisik

Amfibolit
Sama dengan sekis, tetapi foliasi tidak berkembang baik, merupakan hasil
metamorfisme regional batuan basalt atau gabro, berwarna kelabu, hijau atau
hitam dan mengandung mineral epidot, (piroksen), biotit dan garnet.
b. Tak berfoliasi
Kwarsit
Batuan ini terdiri dari kwarsa yang terbentuk dari batuan asal batupasir kwarsa,
umumnya terjadi pada metamorfisme regional.
Marmer/pualam (Marble)
Terdiri dari kristal-kristal kalsit yang merupakan proses metamorfisme pada
batugamping. Batuan ini padat, kompak dan masive dapat terjadi karena
metamorfosa kontak atau regional.
Grafit
Batuan yang terkena proses metamorfosa (Regional/thermal), berasal dari batuan
sedimen yang kaya akan mineral-mineral organik. Batuan ini biasanya lebih
dikenal dengan nama batu bara.
Serpentinit
Batuan metamorf yang terbentuk akibat larutan aktif (dalam tahap akhir proses
hidrotermal) dengan batuan beku ultrabasa.
4.6. Klasifikasi
Untuk mengindentifikasi batuan metamorf, dasar utama yang dipakai adalah
strukturnya (foliasi atau tak berfoliasi), dan kandungan mineral utamanya atau
mineral khas metamorf (lihat tabel 4.1 dan 4.2). Sedangkan klasifikasi secara
umum dapat mempergunakan gambar 4.2.
Tabel 4.1. Mineral pembentuk batuan metamorf
A. MINERAL DARI BATUAN ASAL ATAU HASIL METAMORFOSA
Kwarsa
Muskovit
Plagioclas
Hornblende
Ortoklas
Kalsit
Biotit
Dolomit
B. MINERAL KHAS BATUAN METAMORF
Sillimanit 1)
Kyanit 1)
32

Garnet 2)
Korundum 2)
Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Andalusit 1)
Staurolit 1)
Talk 1)

Wolastonit 2) & 3)
Epidot 3)
Chlotit 3)

1). metamorfosa regional


2). metamorfosa thermal
3). larutan kimia

Tabel 4.2. Zona derajat metamorfosa regional


DERAJAT METAMORFOSA

MINERAL KHAS

RENDAH (Low grade Metamorphism)

Chlorit
Biotit

PERTENGAHAN (medium grade metamorphism) Almandit


Staurolit
Kyanit
TINGGI (High grade metamorphism)

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Sillimanit

33

Praktikum Geologi Fisik


Gambar 4.2 : Bagan untuk Determinasi batuan metamorf

Gambar 4.3 : Bagan untuk Determinasi batuan beku


34

Geologi Dinamik - Geologi ITB

5.PetaTopografi

5.1PetaTopografi

Peta topografi adalah peta yang menggambarkan bentuk permukaan bumi


melalui garisgaris ketinggian. Gambaran ini, disamping tinggirendahnya
permukaandaripandangandatar(relief),jugameliputipolasaluran,parit,sungai,
lembah, danau, rawa, tepilaut dan adakalanya pada beberapa jenis peta,
ditunjukkanjuga,vegetasidanobyekhasilaktifitasmanusia.Padapetatopografi
standard, umumnya dicantumkan juga tandatanda yang menunjukkan geografi
setempat.

Peta topografi mutlak dipakai, terutama didalam perencanaan pengembangan


wilayah, sehubungan dengan pemulihan lokasi atau didalam pekerjaan
konstruksi. Didalam kegiatan geologi, peta topografi terpakai sebagai peta dasar
untukpemetaan,baikyangbersifatregionalataupundetail,disampingfotoudara
atau jenis citra yang lain. Peta topografi juga dipelajari sebagai tahap awal dari
kegiatan lapangan untuk membahas tentang kemungkinan proses geologi muda
yang dapat terjadi, misalnya proses erosi, gerak tanah/bahaya longsor dan
sebagainya.Selainitu,keadaanbentangalam(morfologi)yangdapatdibacapada
peta topografi sedikit banyak merupakanpencerminandari keadaan geologinya,
terutamadistribusibatuanyangmembawahidaerahitudanstrukturgeologinya.

5.2Gariskontur&karakteristiknya

Pada topografi menunjukkan bentuk dan ketinggian permukaan melalui garis


garis ketinggian (garis kontur). Garis kontur pada prinsipnya adalah garis
perpotonganbentukmukabumidenganbidanghorizontalpadasuatuketinggian
yangtetap.

Gariskonturmempunyaisifatsifatberikut:

Setiaptitikpadagariskonturmempunyaiketinggianyangsama.
Garisgariskonturtidakmungkinberpotongansatudenganyanglain,ataudiluar
peta.
Setiap garis kontur yang berspasi seragam (uniformly spaced contour)
menunjukkansuatulerengyangseragam.
Garisgariskonturyangrapatmenunjukkansuatulerengcuram.
Garisgariskonturyangrenggangmenunjukkansuatulerenglandai.
Garis kontur yang bergigi menunjukkan suatu depresi (daerah yang rendah),
yangtandagiginyamenunjukkankearahdepresitersebut.

Geologi Dinamik - Geologi ITB

35

Praktikum Geologi Fisik

Gariskonturmembelokkearahhulusuatulembah,tetapimemotongtegaklurus
permukaansungai.

Gambar5.1Tandatandapadapetatopografi
36

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Garisgaris kontur umumnya membulat pada punggung bukit atau gunung


tetapimembentuklengkungyangtajampadaaluralurlembahsungai.
Nilai garis kontur terbesar suatu punggung bukit dan nilai terkecil pada suatu
lembah selalu terdapat berpasangan, yang berarti bahwa tidak terdapat nilai satu
konturyangmaksimumatauminimum.

Pada peta topografi yang standard, disamping titik ketinggian hasil pengukuran
topografi, umumnya dicantumkan tandatanda menunjukkan sifat fisik
permukaan, misalnya sifat sungai, garis pantai dan juga obyek hasil aktifitas
manusia(gambar5.1)

5.3SkalaPeta

Skala yang dipakaidalamtopografibisabermacammacammisalnya,skalaverbal


contoh one inch to the smile, atau sering kali dipakai Skala grafis berupa pita
garisyangdicantumkanpadapeta.Skalainiseringkalidipakaisebagaipelengkap
dariskalaperbandinganangkayangsudahdicantumkan.

DiIndonesia,dikenalberbagaiukuranskalaperbandinganskalaskalaseperti1:
250.000, 1 : 500.000, 1 : 1.000.000 dikenal sebagai skala iktisar. Skala 1 :25.000, 1 :
50.000, 1 : 100.000 merupakan skala standard. Skala 1 : 1.000, 1:5.000 ataulebih
umumnyadisebutskaladetail.

5.4Caramembuatpetatopografi

Untuk dapat menggambarkan peta topografi yang baik, perlu diketahui unsur
unsurpentingdiantaranya;bukit,lembahataualursungaidanjugaobyekbuatan
manusia.

Relief atau bentuk tinggi rendahnya bentangalamdiukur denganmenggunakan


alat ukur seperti ; teodolit, alidade, waterpas, kompas dan lain lain. Titik yang
menunjukkanketinggian(umumnyadiambildaridatarpermukaanlautditerakan
padapetamenurutskalayangtertentu.

Cara membuat kontur ketinggian yaitu dengan menggunakan titik ketinggian


sebagaikerangka.Contohpadagambar5.2titiktitikketinggianadalahAsampai
F dan titiktitik P sampai S adalah yang mewakili ketinggian dari bentang alam
diukur.
MisalnyapadagarisABdenganbedatinggi150makandibuatkonturketinggian
600 m dan 650 m, maka spasi antar kontur dapat diinterpolasikan jaraknya dari

Geologi Dinamik - Geologi ITB

37

Praktikum Geologi Fisik

selisihhargakonturdengantitiktsb.(A)dibandingkanbedatinggiAB,dikalikan
denganjarakABpadapeta.

Demikian pula misalnya antara PS akan dibuat kontur 650, maka konturnya
adalahselisihtinggiPdanhargakontur(650)dibandingkandenganbedatinggiP
SdikalikanjarakPSsebenarnyapadapeta.

Gambar5.2Caramembuatpetatopografi

Dalam penggambaran garis kontur ketinggian, kadangkadang diperlukan


gambaran atau sketsa bentang alamnya misalnya bukitbukit dan lembah, alur
sungainya,sehinggadapatmengurangikesalahandalaminterpolasi.

38

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

5.5PenampangTopografi

Penampang topografi adalah profil yang menunjukkan muka bumi sepanjang


garis penampang tertentu. Penampang ini dibuat dengan memproyeksikan titik
potong kontur dan garis penampang pada ketinggian (gambar 5.3). Kadang
kadang skala tegak dibuat lebih besar dengan maksud lebih memperlihatkan
profilnya.

Gambar5.3Caramembuatpenampangtopografi
Geologi Dinamik - Geologi ITB

39

Praktikum Geologi Fisik

5.6AnalisaPetaTopografi

Analisa peta topografi dilakukan sebagai studi pendahuluan sebelum dilakukan


penyelidikan dilapangan ataupun pembukaan suatu wilayah. Analisa ini
umumnya disertai foto udara, atau dengan bantuan informasi keadaan geologi
regional.

Seringkali keadaan topografi sangat dicerminkan oleh keadaan geologinya,


sehinggastudipendahuluaninisangatmembantupenyelidikanselanjutnyaHal
hal yang perlu dipelajari pada peta topografi antara lain, pola garis kontur,
kerapatan, bentukbentuk bukit, kelurusan punggungan, bentuk lembah atau
aliran, pola aliran sungai dan sebagainya. Bebarapa sifat yang menonjol dari
topografi misalnya bentuk morfologi yang landai, umumnya ditempati oleh
endapanaluvialsungai/pantai,ataubatuanbatuanyanglunakmisalnyalempung,
napal dan sebagainya. Bentuk perbukitan yang bergelombang, umumnya
ditempati oleh batuan yang berselangseling, misalnya batupasir dan lempung
ataubreksi.

Bukitbukit yang menonjol dan tersendiri, seringkali merupakan suatu tubuh


batuanintruksi,misalnyaandesit,basalt.Padabatugamping,sangatkhasdikenal
bentuktopografikarstdansebagainya.
Kelurusan punggungan atau sungai biasanya menunjukkan struktur geologi,
misalnyaperlapisanbatuan,jalurpatahanataubatasperbedaanjenisbatuan.

Pola aliran sungai, apabila dapat dikelompokkan menjadi kelompokkan menjadi


kelompokyangmendirikanbatuanataustrukturtertentu.

Beberapabentukpolaaliranantaralainadalah(gambar5.4):

Dendritik
Mempunyai pola seperti ranting pohon dimana anak sungai menggabung pada
sungai utama dengan sudut yang tajam, menunjukkan batuan yang homogen
terdiridaribatuansedimenyanglunakatauvulkanik.

Rectangular
Arahanaksungaidanhubungandengansungaiutamadikontrololehjoint(kekar
kekar),fracturedanbidangfolasi,umumnyaterdapatpadabatuanmetamorf.

Angulate
Mempunyaianaksungaiyangpendekpendek,sejajar,anaksungaidikontrololeh
sifatsepertibatupasirataugampingyangmempunyaipolakekarparalel.

40

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Trellis
Mempunyai anakanak sungai yang pendekpendek sejajar, pola ini lebih
menunjukkan struktur dari pada jenis batuannya sendiri, umumnya terdapat
padadaerahbatuansedimenyangmempunyaikemiringan,sertaadanya

Gambar5.4JenispolaaliranSungai

Geologi Dinamik - Geologi ITB

41

Praktikum Geologi Fisik

Perselinganantarabatuanyanglunakdankerasdimanasungaiutamaumumnya
dikontrololehadanyasesarataurekahanrekahan.

Paralel
Terbentuk pada permukaan yang mempunyai kemiringan yang seragam. Sudut
anak sungai dengan sungai utama hampir sama, sungai utama umumnya
dikontrololehsesarataurekahanrekahan.

Radial
Aliransungaisungaimenyebardaripuncakyanglebihtinggi.Umumnyaterdapat
padapuncakgunungataubukitbukit.

Sentripetal
Sungai menuju kesatu arah, umumnya menunjukkan adanya depresi atau akhir
daripadaantiklinatausiklinyangtererosi.

Pada peta topografi, proses geologi muda, terutama erosi akan tercermin pada
bentuk lembah dan aliran sungainya. Pada prinsipnya gaya pengikis erosi
cenderunguntukmeratakanmukabumiini,sampaipadabatasdasarerosiyang
berupa, laut, danau atau sungai yang besar. Sehubungan dengan ini dikenal
jenjangjenjang atau stadium erosi dari tingkat muda (youth), dewasa (mature)
dan lanjut (old) untuk suatu wilayah yang terbatas. Suatu wilayah dikatakan
stadiumerosinyatingkatmudaapabiladicirikanolehbentuklembahyangcuram,
berbentuk V, lurus erosi vertikal dasar lembah sangat berperan. Pada stadium
dewasa,erosilateralmulaiberperan,dindinglembahmulailandaidanberbentuk
U, dan mulai ada pengendapan. Pada stadium lanjut, dinding lembah sudah
sangat landai, bahkan berupa dataran limpahan banjir, banyak sekali meander.
Seringkalimeandertersebutsudahterputusmembentukoxbowlake.

Pada peta topografi juga dipelajari keadaan hidrografi terutama hubungan nya
dengancurahhujandandaerahaliransungai(DAS),dimanabatasgarispemisah
air (water divide) dapat dipelajari dengan melihat bentukbentuk punggungan
yangmeliputialiransungaiutama.

42

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Gambar5.5Perkembangantingkaterosisungai

Geologi Dinamik - Geologi ITB

43

Praktikum Geologi Fisik

5.7FotoUdara

Fotoudaraadalahalatyangfundamentaldalammempelajarigeologikarenafoto
udara dapat menunjukkan gambaran permukaan bumi secara terinci dari
perspektifvertikal.

Gambaran vertikal pada foto udara tidak selalu menunjukkan keadaan alamiah
seperti tampak pada bentang alam. Objekobjek seperti jalan, bangunan, sawah,
danau akan mudah diketahui. Akan tetapi untuk mengidentifikasi jenis bentang
alam, tubuh batuan dan gambaran geologi lainnya, diperlukan pengalaman dan
dengankontrolkeadaangeologiyangdiketahui.

Salah satu kelebihan dari foto udara adalah dapat memberikan gambaran
stereoskopik sehingga citra bentang alam akan tampil dalam gambaran tiga
dimensi.Fotoudaradiambilsecaraberurutansearahjalurterbangdengankurang
lebih60%mengulangidaerahyangtercakuppadafoto(overlap).Apabiladuafoto
pada satu jalur digabungkan dan dilihat dengan stereoskop dengan konsentrasi
pandanganpadakeduafoto,akanterlihatgambarantigadimensi.

Beberapa foto udara vertikal telah ditampilkan dalam cetak pasangan berbentuk
stereogram. Untuk melihat gambaran tiga dimensi, letakkan stereoskop diatas
stereogram dan lakukan pandangan tepat pada garis tengah (Gambar 5.6). Atur
jaraklensastereoskopsesuaidenganjarakmata

Gambar5.6:Caramelihatgambarantigadimensidenganmenggunakanstereoskop

44

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Geologi Dinamik - Geologi ITB

45

6.Fosil

6.1. Fosil
Fosil adalah sisa kehidupan purba yang telah terawetkan dan terawetkan pada
lapisan-lapisan batuan pembentuk kerak bumi. Sisa-sisa kehidupan tersebut dapat
berupa cangkang binatang, jejak atau cetakan yang telah terisi oleh mineral lain.
Fosil merupakan pencerminan dari sifat binatang atau tumbuhan, lingkungan
kehidupan serta evolusi dari kehidupan purba.

6.2. Kegunaan Fosil


Suatu kelompok fosil merupakan petunjuk di dalam mempelajari lingkungan
kehidupannya selang waktu yang tertentu, serta penyebaran kehidupannya. Oleh
karena itu fosil sangat berguna didala :
a. Menentukan umur fosil
Fosil yang ditemukan dalam batuan mempunyai selang waktu yang tertentu.
Dengan membandingkan urutan perlapisan pada batuan sedimen dan
kandungan fosilnya, dapat ditentukan umur relatif suatu lapisan terhadap
lapisan yang lain.
b. Urutan korelasi
Korelasi adalah prinsip menghubungkan lapisan yang sama umurnya pada
lapisan batuan. Dengan melihat kumpulan fosil yang sama pada satu lapisan
dengan lapisan yang lain, maka dapat dihubungkan suatu garis kesamaan
waktu pembentukan batuan tersebut.
c. Menentukan lingkungan pengendapan
Beberapa binatang dapat dipelajari lingkungan hidupnya (misalnya :
lingkungan laut dalam, laut dangkal, payau, darat dsb). Hal ini akan membantu
didalam merekontruksikan paleogeografi dari pengendapan satuan batuan.
6.3. Taxonomi
Taxonomi ialah suatu cara pengelompokkan dari kehidupan tumbuhan atau
binatang berdasarkan sifat dan hubungan genetiknya. Urutan taxonomi ialah :
Kingdom, Phyllum, Subphyllum, klas, ordo, genus dan species.
6.4. Umur Geologi
Umur geologi pada umumnya dikaitkan dengan sejarah kehidupan terdahulu
(purba), urut-urutan satuan batuan dan peristiwa geologi yang menyangkut skala
yang besar, misalnya : pengangkatan, pembentukan pegunungan, pembentukan
cekungan dsb.
46

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Penentuan umur geologi didasarkan pada fosil penunjuk yang biasa disebut
sebagai umur relatif,
sedangkan penentuan umur geologi dengan
mempergunakan metoda radioaktif dari unsur-unsur yang terkandung dalam
batuan sebagai umur absolut.

6.5. Skala waktu geologi


Perkembangan zaman geologi disusun didalam urutan skala waktu geologi yang
meliputi : Masa, Zaman, dan skala. Skala waktu geologi ditunjukan pada tabel 6.1.
Umur relatif
E R A
MASA

Umur absolut
PERIOD
ZAMAN

EPOCH
KALA

KWARTER

HOLOSEN
PLISTOSEN
PLIOSEN
MIOSEN
OLIGOSEN
EOSEN
PALEOSEN

KENOZOIKUM
TERSIER

MESOZOIKUM

DALAM TAHUN
JANGA
WAKTU
10.6
10 . 106
15 . 106
10 . 106
20 . 106
14 . 106

KAPUR

55 . 106

YURA

40 . 106

TRIAS

35 . 106

PERM

30 . 106

KARBON

60 . 106

DEVON

40 . 106

SILUR

30 . 106

ORDO VISIUM

60 . 106

KAMBRIM

80 . 106

PALEOZOIKUM

Tabel 6.1. Skala Waktu Geologi


Geologi Dinamik - Geologi ITB

47

7. Peta Geologi
7.1.PengertiandanKegunaan

Peta geologi adalah gambaran tentang keadaan geologi suatu wilayah, yang
meliputi susunan batuan yang ada dan bentukbentuk struktur dari masing
masingsatuanbatuantersebut.

Petageologimerupakansumberinformasidasardarijenisjenisbatuan,ketebalan,
kedudukan satuan batuan (jurus dan kemiringan), susunan (urutan) satuan
batuan, struktur sesar, perlipatan dan kekar serta prosesproses yang pernah
terjadididaerahini.

Peta geologi ada kalanya dibuat berdasarkan kepentingan, misalnya untuk


kepentingan ilmiah (science), untuk kepentingan pertambangan, teknik sipil
(engineering), pertanian, lingkungan dsb. Hal ini akan menghasilkan bermacam
macampetageologi,misalnyapetageologiteknik.

7.2.Penyebaranbatuanpadapeta

Petageologidihasilkandaripengamatandanpengukuransingkapandilapangan,
yangkemudiandiplotpadapetadasaryangdipakai(petatopografi).Untukdapat
menggambarkankeadaangeologipadasuatupetadasar,dipakaibeberapaaturan
teknis, antara lain : perbedaan jenis batuan dan struktur geologi digambarkan
berupa garis. Penyebaran batuan beku akan mengikuti aturan bentuk tubuh
batuan beku (misalnya sill, dike, lakolit dsb Bab II, Gb. 2.3), sedangkan
penyebaranbatuansedimenakantergantungpadajurusdankemiringannya.

7.3Jurusdankemiringanlapisanbatuan

Jurusdankemiringanadalahbesaranuntukmenerangkankedudukanperlapisan
suatu batuan sedimen. Pada suatu singkapan batuan berlapis, jurus dinyatakan
sebagaigarisarahdankemiringandinyatakansebagaibesaransudut(Gb.7.2).

Gambar7.2:Jurusdankemiringanpadasingkapanbatuanberlapis
48

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Secara geometris jurus dapat dinyatakan sebagai perpotongan antara bidang


miring (perlapisan batuan, bidang sesar) dengan bidang horizontal yang
dinyatakan sebagai besaran sudut, diukur dari Utara atau Selatan. Kemiringan
adalahbesaransudutvertikalyangdibentukolehbidangmiringtersebutdengan
bidanghorizontal.Dalamhalinidiambilyangmaksimum,yaitupadaarahyang
tegaklurusjuruslapisanbatuan(Gb.7.3).

EBCH
EH
BC

FG

= bidang perlapisan
= jurus pada ketinggian 200 m
= jurus pada ketinggian 100 m
= kemiringan lapisan
= kemiringan semu
= proyeksi jurus 100 m pada
horizontal

Gambar7.3:Geometrijurusdankemiringansuatulapisanbatuan

Jurusumumnyadiambilpadaselangketinggianyangpasti,misalnyajuruspada
ketinggian100m,200m,300m,danseterusnya.Padatampakpeta(proyeksipada
bidang horizontal), dengan sendirinya garisgaris jurus merupakan garisgaris
yangsejajardenganspasiyangtetap.Padasuatusatuanbatuanyangmempunyai
ketebalantertentudapatdibatasiadanyajuruslapisanbagianatas(top)danjurus
lapisan bagian bawah (bottom) pada ketinggian yang sama. Dari sini dapat
ditentukan ketebalan tiap satuan, apabila penyebaran atau jurus top dan
bottomnyadapatdiketahui(Gb.7.4).

Geologi Dinamik - Geologi ITB

49

Praktikum Geologi Fisik

m
botto
200

s
Juru

N
Jurus

top
200

m.
200
ggian
ketin

M
t'

t
t
I
D

Penampang ketebalan (t)


satuan batuan

Satu satuan
batuan

F
B
t

tom
bot
200

I
a
top
E
A

top
200

bottom
I

t
F

C Proyeksi jurus
top dan bottom, dan
penentuan ketebalan
satuan

Gambar7.4:Penentuanketebalanlapisandenganmetodaorthografi

7.4Hubungankedudukanlapisandantopografi

Penyebaran singkapan batuan akan tergantung bentuk permukaan bumi. Suatu


urutanperlapisanbatuanyangmiring,padapermukaanyangdatarakanterlihat
sebagailapisanlapisanyangsejajar.Akantetapipadapermukaanbergelombang,
batasbatas lapisan akan mengikuti aturan sesuai dengan kedudukan lapisan
terhadap peta topografi. Aturan yang dipakai adalah, bahwa suatu batuan akan
tersingkap sebagai titik, dimana titik tersebut merupakan perpotongan antara
ketinggian (dalam hal ini dapat dipakai kerangka garis kontur) dengan lapisan
batuan (dalam hal ini dipakai kerangka garis jurus) pada ketinggian yang sama
(Gb.7.5).

50

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

7
.
200 m
Jurus
.
300 m
Jurus

C
B
F
A

.
400 m
Jurus

Proyeksi
pada peta

E
D

Titik-titik singkapan
(perpotongan kontur dan jurus)
400
300

r 200
kontu

300 400

600
500

L
K

A
600
500

40 0

300

Titik-titik kedudukan
lapisan

C.

600

500

400
x

300

Penampang

B
A- B

Gambar7.5:Hubunganjuruslapisanbatuan,topografidanpenyebaransingkapan

Aturan ini dapat dipakai untuk menggambarkan penyebaran batuan


dipermukaan dengan mencari titiktitik tersebut, apabila jurusjurus untuk
beberapa ketinggian dapat ditentukan. Sebaliknya, dari suatu penyebaran
singkapan dapat pula ditentukan kedudukan lapisan dengan mencari jurus
jurusnya.
Geologi Dinamik - Geologi ITB

51

Praktikum Geologi Fisik

Sehubungan dengan ini terdapat suatu keteraturan antara bentuk topografi,


penyebaran singkapan dan kedudukan lapisan. Pada suatu bentuk torehan
lembah,keteraturaninimengikutiHukumV(Gb.7.6).

Gambar7.6:PolasingkapanmenuruthukumV
a.Lapisanhorizonta
b.Lapisandengankemiringanberlawanandenganarahaliran
c.Lapisanvertikal
d.Lapisandengankemiringansearahdanlebihbesardenganarahaliran
e.Lapisandengankemiringansearahdansamabesardenganarahaliran
f.Lapisandengankemiringansearahdanlebihkecildenganarahaliran

52

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

7.5Carapenulisankedudukanlapisan

Kedudukan lapisan batuan diukur dengan kompas geologi di lapangan. Oleh


karenaitukerangkayangdipakaiumumnyaarahUtaraatauSelatan.Dikenaldua
jenisskalakompasyaituskalaazimut(003600)danskalakwadran(00900).

Suatu lapisan mempunyai kemiringan berarah Selatan Barat, dituliskan sebagai


berikut:
SkalaazimuthN1200E/45SWatau
SkalakwadranS600E/45SW(Gb.7.7)

60

120

60
S

Gambar7.7:CarapenggambarankedudukanlapisansecaraskalaAzimutdanKwadran

Lazimnya lebih sering dipakai skala azimuth karena lebih praktis karena selalu
ditulisN.... 0Euntukarahjurusnya,sehinggakadangkadangtidakdicantumkan
padakwadranarahkemiringandicantumkan.

7.6.Simbolpadapetadantandalitologi

Peta geologi menggunakan tandatanda yang menunjukkan jenis batuan,


kedudukan, serta struktur geologi yang ada pada daerah tersebut. Beberapa
simbol yang umum dipakai ditunjukkan pada gambar 7.8. Disamping tanda
(simbol) litologi, juga sering dipakai warna, untuk membedakan jenis satuan
(Gambar7.9).

Geologi Dinamik - Geologi ITB

53

Praktikum Geologi Fisik


25

Jurus dan kemiringan lapisan


25

Arah kemiringan dan kemiringan lapisan


60

Jurus dan kemiringan lapisan terbalik

90

Lapisan vertikal
Lapisan horisontal
Jurus dan kemiringan foliasi
Foliasi vertikal
Foliasi horisontal
Jurus dan kemiringan kekar
Kekar vertikal
Kekar horisontal
Sumbu antiklin
20

Antiklin dengan arah penunjaman

13

Antiklin rebah
Sumbu sinklin
Sinklin dengan arah penunjaman
Sinklin rebah
Sesar mendatar

U
D
60

Sesar dengan bidang sesar miring ke arah panah


U = up, D = down
Sesar normal
Sesar sungkup (thrust fault)

Gambar 7.8 : Tanda-tanda pada peta geologi

7.7.Petageologidanpenampanggeologi

Peta geologi selalu dilengkapi dengan penampang geologi, yang merupakan


gambaran bawah permukaan dari keadaan yang tertera pada peta geologi.
Keadaanbawahpermukaanharusdapatditafsirkandaridatageologipermukaan
dengan menggunakan prinsip dan pengertian geologi yang telah dibahas
sebelumnya.

54

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Konglomerat

Jingga / Coklat

Breksi

Jingga / Coklat

Batupasir

Kuning

Napal (marl)

Biru muda

Lempung

Hijau

Serpih (shale)

Kelabu

Lanau (silt)

Kuning muda

Batugamping

Biru

Dolomit

Biru tua

Evaporit

Merah muda

Batubara

Hitam

+ ++ + +
+ ++ + +
+ +
+

Batuan beku

Merah

Tuff

Coklat / ungu

Batu Metamorf

Ungu / jingga

.
.
.
.

.
.
.
.

v
v

.
.
.
.

.
.
.
.

v
v

Gambar7.9:simboldanwarnabatuan

Untuk dapat lebih jelas menunjukkan gambaran bahwa permukaan penampang


dibuatsedemikianrupasehinggaakanmencakuphalhalyangpenting,misalnya;
memotongseluruhsatuanyangadastrukturgeologidansebagainya.

Untuk menggambarkan kedudukan lapisan pada penampang, dapat dilakukan


penggambaran dengan bantuan garis jurus (Gambar 7.10), yaitu dengan

Geologi Dinamik - Geologi ITB

55

Praktikum Geologi Fisik

memproyeksikantitikperpotonganantaragarispenampangdenganjuruslapisan
padaketinggiansebenarnya.

Apabilapenampangyangdibuattegakluruspadajuruslapisan,makakemiringan
lapisan yang nampak pada penampang merupakan kemiringan lapisan
sebenarnya, sehingga kemiringan lapisan dapat langsung diukur pada
penampang, akan tetapi bila tidak tegak lurus jurus, kemiringan lapisan yang
tampak merupakan kemiringan semu, sehingg harus dikoreksi terlebih dahulu
denganmenggunakantabelkoreksiatausecaragrafis.

750

700

650

650

700

750

750

650

700

750

900

a
0
85

80
0

e
f

75
0

70
0

800

750

700

a, b, c,......h
PQ

700

750

800

850

850

= Garis proyeksi jurus


= Garis penampang

m
950
900
850

800
750

700

650
600

Q
METER
100

100

200

300

400

500

Gambar7.10:Caramembuatpenampangdenganbatuangarisjurus
56

Geologi Dinamik - Geologi ITB

8.PengertiandalamHubunnganGeologi

8.1 Prinsip dasar perlapisan batuan sedimen


Peta geologi umumnya menggambarkan bermacam-macam batuan dan struktur
geologinya. Gambaran tersebut mengikuti aturan atau pengertian mengenai
hubungan dan kejadian geologi suatu lapisan batuan, serta sifat-sifat
hubungannya. Pengertian ini meliputi : umur batuan, urut-urutan kejadian dan
sejarah pembentukannya. Dalam membahas urut-urutan kejadian dan sejarah
pembentukannya. Dalam membahas urut-urutan satuan batuan sedimen, dikenal
beberapa prinsip dasar tentang letak (posisi) lapisan batuan dengan lapisan yang
lain.
8.2 Prinsip Superposisi
Dalam keadaan normal, suatu lapisan batuan yang letaknya diatas satuan lapisan
batuan lain, selalu berumur lebih muda dari lapisan batuan dibawah nya.
Pada dasarnya lapisan sedimen diendapkan secara horizontal, kecuali pada
lingkungan dimana posisi sedimen terhadap cekungan mempunyai kemiringan
asal (initial dip). Pada kedudukan lapisan yang sudah terganggu karena tektonik
(miring, terlipat dan terbalik), prinsip ini dapat diterapkan apabila dapat
diketahui bagian atas (top) dan bawah (bottom) lapisan, dengan mempelajari
struktur sedimennya (lihat Gb. 3.3).
8.3. Prinsip perlapisan sejajar dan kesamaan waktu
Lapisan sedimen diendapkan dan membentuk perlapisan yang sejajar. Batas
perlapisan (garis pengendapan) merupakan garis kesamaan waktu dari satu
tempat ke tempat yang lainnya pada lapisan yang sama.
8.4. Prinsip kesinambungan
Lapisan sedimen diendapkan secara menerus atau bersinambungan (continuity),
sampai batas cekungan sedimentasinya. Suatu lapisan sedimen tidak mungkin
terpotong secara lateral dengan tiba-tiba, dan berubah menjadi batuan lain dalam
keadaan normal. Kecuali apabila sudah dipengaruhi oleh aktifitas tektonik
(misalnya sesar), atau memang terjadi penipisan secara berangsur-angsur,
kemungkinan adanya perubahan facies, atau hubungan yang tak selaras.
Dengan prinsip-prinsip diatas, digunakan cara korelasi yang menghubung kan
satuan batuan di suatu tempat dengan satuan batuan di tempat yang lain
didasarkan pada kesamaan waktu pembentukannya. Untuk korelasi ini dapat
dipakai sifat-sifat batuan (korelasi litologi = kesebandingan) atau sifat kandungan
Geologi Dinamik - Geologi ITB

57

Praktikum Geologi Fisik

fosilnya (korelasi paleontologi) yang pada dasarnya merupakan petunjuk


kesamaan waktu kejadian pembentuknya.
Bila di dalam menghubungkan satuan sedimen pada satu garis waktu yang sama
terdapat perubahan sifat litologinya, misalnya batugamping disuatu tempat
berubah menjadi napal ditempat lain, dikatakan bahwa lapisan batuan tersebut
berubah fasies. Fasies menyangkut aspek lingkungan dan biologisnya.
8.5. Keselarasan dan bukan keselarasan
Suatu urutan beberapa satuan batuan sedimen dikatakan mempunyai hubungan
yang selaras (conformity), apabila pada pembentukannya, urutan satuan-satuan
tersebut secara vertikal merupakan hasil pengendapan yang menerus tanpa
adanya selang waktu dalam pengendpan. Adanya selang waktu yang hilang (time
gap), dan berhentinya pengendapan menyangkut kejadian pengangkatan,
perlipatan dan pensesaran isi cekungan, pengikisan (erosi), penurunan dan
pengendapan kembali diatas batuan tersebut. Umumnya bidang ketidakselarasan
dicirikan oleh suatu batas hasil erosi, dengan endapan lingkungan darat (misal
konglomerat dasar).
8.6. Ketidakselarasan bersudut (angular unconformity)
Bentuk ketidakselarasan, dimana urutan batuan di bawah bidang
ketidakselarasan membentuk sudut dengan satuan batuan di atasnya. Dalam hal
ini pengangkatan sudah disertai dengan pemiringan lapisan (tilting) atau
perlipatan (folding).
Hubungan bukan keselarasan (Nonconformity), merupakan hubungan antara
batuan beku ataupun metamorf dengan batuan sedimen yang diendapkan
diatasnya. pada dasarnya hubungan ini juga merupakan ketidak selarasan,
mengingat proses pengendapan diatas batuan jenis lain akan menyangkut proses
pengangkatan, pengikisan dan penurunan kembali sehingga merupakan alas bagi
batuan sedimen di atasnya.
8.7. Hubungan antar satuan batuan dan struktur
Pada keadaan geologi dengan berbagai jenis dan satuan batuan, berlaku aturan
yang menyangkut kedudukan batuan (lihat Gb. 7.2) dan hubungan antar satuan
batuan tersebut. Hubungan antar satuan batuan bisa merupakan hubungan yang
teratur (lihat Gb. 8.1), berupa tidak selaras (lihat Gb. 8.2) dan dapat juga saling
berpotongan. Keadaan potong memotong ini berhubungan dengan umur relatif
dan waktu kejadiannya (lihat Gb. 8.3).

58

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Pada batuan beku intrusi, dapat dipastikan bahwa umurnya akan lebih muda
terhadap batuan yang diintrusi. Suatu intrusi dapat menerobos batuan sedimen,
beku metamorf. Dengan demikian hubungan potong memotong akan dapat
menjelaskan kejadiannya. Demikian halnya dengan hubungan ketidak selarasan
dan juga struktur geologi (sesar). Urutan batuan di atas bidang ketidak selarasan
merupakan kejadian berikutnya dari satuan batuan dibawahnya yang
memungkinkan juga sudah mengalami beberapa kejadian, misal, perlipatan,
pensesaran dsb.
Umur sesar umumnya dapat ditentukan berdasarkan satuan batuan paling muda
yang ikut tersesarkan. umurnya adalah relatif lebih muda dari satuan batuan
tersebut.

Menghubungkan lapisan batuan yang sama

Menghubungkan batas lapisan batuan, satuan batuan berubah fasies

Gambar 8.1 : Prinsip kesebandingan dan korelasi pada satuan batuan

Geologi Dinamik - Geologi ITB

59

Praktikum Geologi Fisik

Ketidakselarasan sejajar
(paralel unconformity)

Ketidakselarasan bersudut
(angular unconformity)

+
+

+
+

+
+
+

+
+

+
+

+
+

+
+

+
+

Tak selaras
(non conformity)

Gambar 8.2 : Jenis-jenis ketidak selarasan (unconformity)

60

Geologi Dinamik - Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

E
D
C
B
A
Urutan batuan dari tua ke muda ( A - B - C - D - E )

Umur perlipatan patahan lebih tua dari lapisan di atas bidang ketidakselarasan

+ +
+ +B +

+
+
+
D
+ + + + +A + + + + +
+ + + + + + + + +

+
+

+ + +
+ C+ +
+ + + +
+ + +
+ + + +

_
+ +
_
_
+
+E
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +
+ + +

Urutan kejadian perlipatan intrusi ( C - A - B - D ), intrusi E

Gambar 8.3 : Hubungan antara struktur dengan satuan batuan serta kejadiannya
Geologi Dinamik - Geologi ITB

61

9.StrukturGeologi

9.1. Struktur geologi


Struktur geologi adalah gambaran bentuk arsitektur batuan-batuan penyusunan
kerak bumi. Akibat sedimentasi dan deformasi. berdasarkan kejadiannya, struktur
geologi dapat dibedakan menjadi :
- Struktur primer
- Struktur sekunder
Struktur primer adalah struktur geologi yang terbentuk pada saat
pembentukan batuan. Misalnya, struktur sedimen (silang siur, flute cast, dll, lihat
gambar 3.3); struktur kekar akibat pendinginan magma (columnar joint dan
sheeting joint) dan struktur perlapisan.
Struktur sekunder
adalah struktur geologi yang mempelajari dan
membahas bentuk-bentuk deformasi kerak bumi dan gejala-gejala penyebab
pembentukannya. Dibedakan dengan geotektonik atau tektonik, geologi struktur
mempunyai ruang lingkup yang lebih sempit, yang meliputi deformasi-deformasi
pada isi cekungan, sedangkan tektonik menyangkut skala yang lebih luas dari ini,
misalnya proses pembentukan pegunungan (orgenesa) dsb.
Struktur geologi terutama mempelajari struktur-struktur sekunder yang meliputi
kekar (joint), sesar (fault) dan lipatan (fold).
9.2. Kekar (Joint)
Kekar adalah struktur rekahan pada batuan yang tidak memperlihatkan
pergeseran. Hampir tidak ada suatu singkapan di muka bumi ini yang tidak
memperlihatkan gejala rekahan. Kekar bukan merupakan gejala yang kebetulan,
tetapi merupakan hasil kekandasan/kegagalan batuan akibat tegasan (stress).
Karena itu kekar akan mempunyai sifat-sifat yang menuruti hukum-hukum fisika.
Struktur kekar merupakan gejala yang paling umum dijumpai dan banyak
dipelajari secara luas tetapi merupakan struktur yang paling sukar untuk
dianalisa.
Berdasarkan cara terbentuknya kekar dapat diklasifikasikan menjadi :
- Kekar tektonik, misalnya kekar gerus (shear joint) dan kekar tarik (tension joint).
- Kekar non tektonik, misalnya mudcrack, columnar joint dan sheeting joint.
Struktur ini banyak dipelajari karena sangat berhubungan erat dengan masalahmasalah :
a. geologi teknik
b. geologi minyak bumi, terutama masalah cadangan dan produksi.
62

Geologi Dinamik Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

c. geologi untuk pertambangan, baik dalam hal sistim penambangannya


maupun pengerahan terhadap bentuk-bentuk mineralisasi dll.
Di dalam teknik sipil dan pertambangan, masalah kekar merupakan hal yang
sangat penting, karena meraka merupakan jalur-jalur lemah dalam batuan.
Kesukaran yang dihadapi dalam membuat analisa struktur ini terletak pada
banyaknya sifat-sifat dasar yang dimilikinya, artinya terdapat bukti-bukti bahwa
rekahan-rekahan ini dapat terbentuk pada setiap waktu kejadian.
Umumnya, dalam batuan sedimen, kekar dapat terbentuk mulai dari saat
pengendapan, atau segera terbentuk setelah pengendapannya, dimana sedimen
tersebut masih dalam proses kompaksi.
Kekar non-tektonik, yaitu kekar, yang terbentuk bukan karena gaya tektonik,
misalnya kekar akibat pendinginan (cooling joint) pada batuan beku, misalnya
kekar kolom (columnar joints) atau dapat juga terbentuk akibat pembebanan,
misalnya sheeting joints.
Struktur kekar dipelajari dengan cara statistik, mengukur dan mengelompokkan
nya dalam bentuk diagram roset (diagram bunga) atau diagram kontur.
9.3. Sesar (Fault)
Sesar adalah rekahan atau zona rekahan pada batuan yang telah mengalami
pergeseran sehingga terjadi perpindahan antara bagian-bagian yang berhadapan,
dengan arah yang sejajar dengan bidang patahan. Pergeseran pada sesar bisa
terjadi sepanjang garis lurus yang disebut sesar translasi atau terputar yang
dinamakan sesar rotasi. Pergeseran-pergeseran ini mempunyai demensi berkisar
antara beberapa cm sampai mencapai ratusan km.
Bahan yang hancur akibat pergeseran yang terdapat pada jalur sesar, dapat
berupa gouge yaitu suatu bahan yang halus karena lumat akibat gerusan dan
breksi sesar yaitu zona hancuran yang memperlihatkan orientasi fragmen akibat
gerusan.
a. Istilah-istilah penting yang berhubungan dengan sesar.
- Bidang sesar adalah bidang rekahan dimana terjadi pergeseran antara blok-blok
yang saling berhadapan. Seringkali bidang sesar tercerminkan secara
morfologis sebagai gawir sesar (gambar 9.1).
- Hanging wall adalah blok patahan yang berada dibagian atas bidang sesar.
- Foot wall adalah blok yang ada dibagian bawah bidang sesar (gambar 9.1).
Geologi Dinamik Geologi ITB

63

Praktikum Geologi Fisik

- Throw (loncatan vertikal) adalah jarak slip / separation yang diukur pada
bidang vertikal (gambar 9.1).
- Heave (loncatan horizontal) adalah jarak slip / separation yang diukur pada
bidang horizontal (gambar 9.1).

Foot Wall

s
ru
Ju

DA
BI

NG

SE

SA

Se

r
sa

Hanging Wall

X Z = Pergeseran sesar
X Y = Throw
Y Z = Heave

= Kemiringan sesar

Gambar 9.1 : Diagram blok yang memperlihatkan bagian-bagian dari sesar

b. Klasifikasi Sesar
Berdasarkan pada sifat gerak, sesar dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu :
a. Sesar normal yaitu gerak hanging wall relatif turun terhadap foot wall
b. Sesar mendatar yaitu gerak relatif hanging wall relatif naik terhadap foot wall
c. Sesar mendatar yaitu gerak relatif mendatar pada bagian-bagian yang
tersesarkan.
Gerak-gerak ini sangat berhubungan dengan sifat atau posisi tegasan utama yang
bekerja pada daerah atau tubuh batuan yang mengalami deformasi (gambar 9.2).

64

Geologi Dinamik Geologi ITB

In
te
rm
ed
ia
te

Praktikum Geologi Fisik

Maximum

SESAR NAIK

In
te
rm
ed
ia
te

(a)

Minimum

SESAR NORMAL

Minimum

SESAR MENDATAR

Maximum

(b)

M
ax
im
um

Intermediate

(c)

Gambar 9.2 : Diagram blok yang memperlihatkan jenis-jenis sesar

9.4. Lipatan
Lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang
ditunjukkan sebagai lengkungan atau kumpulan dari lengkungan akibat
pengaruh suatu tegasan (stress). Pada umumnya refleksi pelengkungan
ditunjukkan pada perlapisan batuan sedimen atau foliasi batuan metamorf.
a. Beberapa definisi pada struktur lipatan
- Hinge point adalah titik maksimum pelengkungan pada lapisan yang terlipat
(b. pada gambar 9.3). garis yang menghubungkan titik-titik tersebut, disebut
juga hinge-line atau axis line (sumbu perlipatan) (d pada gb. 9.3).
- Crest point adalah titik tertingi pada lipatan (a. pada gambar 9.3). Garis yang
melalui titik-titik tersebut crestal-line (c pada gambar 9.3).
- Trough point dan Trough line adalah titik dan garis terendah pada lipatan (g
pada gamb 9.3).

Geologi Dinamik Geologi ITB

65

Praktikum Geologi Fisik

- Garis sumbu lipatan (Axial line) adalah perpotongan antara bidang sumbu
dengan bidang horizontal. (Garis ini lazim dicantumkan pada peta geologi).
- Axial plane (bidang sumbu) adalah bidang yang melalui garis sumbu dan garis
pusat perlipatan dan membagi sama besar sudut yang dibentuk sayapsayapnya (f pada gambar 9.3).
- Crestal plane adalah bidang yang melalui crestal-line dan pusat perlipatan (e
pada gambar 9.3).
- Sayap lipatan (Limb) adalah bagian sebelah-menyebelah dari sisi lipatan (I
pada gambar 9.3).
- Core adalah pusat lipatan (h pada gambar 9.3)

a c d e
f
i

Gambar 9.3 : diagram blok yang memperlihatkan bagian-bagian dari lipatan

b. Jenis-jenis lipatan
Secara umum bentuk lipatan dapat dibedakan menjadi :
- Antiklin yaitu lipatan yang kedua sayaonya mempunyai arah kemiringan yang
saling menjauh.
- Sinklin yaitu lipatan yang kedua sayapnya mempunyai arah kemiringan yang
saling mendekat.

66

Geologi Dinamik Geologi ITB

Praktikum Geologi Fisik

Berdasarkan posisi bidang sumbunya, lipatan dapat diklasifikasikan menjadi


(gambar 9.4) :
- lipatan tegak
- lipatan miring
- lipatan rebah

Lipatan tegak

Lipatan miring

Lipatan rebah

Gambar 9.4 : Jenis-jenis lipatan berdasarkan bidang sumbu

secara diskriptif (berdasarkan posisi bidang sumbu dan sayap), lipatan


diklasifikasikan menjadi :
- lipatan simetri yaitu lipatan yang kedua sayapnya mempunyai sudut
kemiringan
- lipatan asimetri
yaitu lipatan yang kedua sayapnya mempunyai sudut
kemiringan tidak sama besar.

Lipatan simetri

Lipatan asimetri

Gambar 9.5 : Jenis-jenis lipatan berdasarkan bentuknya

Geologi Dinamik Geologi ITB

67

Peta Topografi - 1

Bab 1 PETA TOPOGRAFI


I. PENDAHULUAN
Peta merupakan tampilan dari gambaran permukaan. Gambaran ini dapat dinyatakan
dalam tampilan dua dimensi misalnya peta planimetrik, yang menunjukkan ukuran
panjang dan lebar, atau dalam gambaran dua dimensi. Peta topografi merupakan
gambaran tiga dimensi seperti kenampakan bukit, lembah dan sebagainya melalui
garis kontur. Peta topografi umumnya juga menunjukkan gambaran aktifitas manusia
seperti bangunan, jalan, batas-batas lahan dan sebagainya. Gambaran dari
penyebaran batuan yang tersingkap di permukaan dan kaitannya dengan topografi
dikenal sebagai peta geologi. Gabungan antara informasi unsur-unsur seperti;
topografi, geologi, dataran limpah banjir, lokasi kebencanaan, tanah pertanian,
umumnya dianamakan sebagai peta tata-guna lahan.
I. KOORDINAT PETA
1.1 Garis Lintang (Latitude) dan Garis Bujur (Longitude)
Garis lintang (Latitude) adalah garis lingkaran yang sejajar pada arah barat-timur.
Garis katulistiwa adalah salah satu garis lintang yang menunjukkan nol (0 latitude).
Suatu titik dikatakan terletak pada 40 N, berarti terletak pada garis lintang 40 di
uatara katulistiwa. Kutub geografik terletak pada garis lintang 90 N dan 90 S
(Gambar 1.1 A).
Garis bujur (Longitude) adalah garis lingkaran yang melalui dan memotong utaraselatan melalui kutub, disebut juga meridian. Garis tersebut dipisahkan satu sama lain
oleh interval sudut lancip, yang diukur dari pusat bumi pada bidang katulistiwa
(Gambar 1.1 B). Longitude 0 didefinisikan sebagai garis bujur yang melalui Royal
Observatory di Greenwich, Inggris, yang dikenal sebagai Prime Meridian. Garis 50
barat dari prime meridian disebut sebagai garis bujur 50 W.

A
Gambar 1.1

A. Garis lintang (latitude) sejajar katulistiwa dan garis bujur (longitude)


memotong utara-selatan. B. Potongan bumi yang menunjukkan garis
lintang 40 N dan garis bujur 50 W.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Peta Topografi - 2

Peta yang digunakan umumnya merupakan bagian kecil dari rangkaian yang dibatasi
oleh garis lintang dan bujur. Beberapa peta dibatasi dengan lembar yang disebut
sebagai Quadrangle yang diikuti dengan nama tempat yang terbesar (kota, daerah).
Pembagian lembar ini ditentukan oleh negara masing-masing, di Indonesia diatur oleh
Bakosurtanal.
2.2 Sistem Koordinat UTM
Sistem koordinat UTM (Universal Transerve Mercator) dipakai hampir oleh seluruh
negara. Koordinat ini didasarkan pada pembagian (grid) dari 60 zona utara-selatan,
masing-masing lebarnya 6.
Batas lintang di dalam sistem koordinat ini adalah 80 LS (lintang selatan) hingga 84
LU (lintang utara). Setiap bagian derajat memiliki lebar 8 yang pembagiannya
dimulai dari 80 LS ke arah utara. Bagian derajat dari bawah (LS) dinotasikan dimulai
dari C, D, E, F, hingga X (tetapi huruf I dan O tidak digunakan). Jadi, bagian derajat
80 LS hingga 72 LS diberi notasi C, 72 LS hingga 64 LS diberi notasi D, 64 LS
hingga 56 LS diberi notasi E, dan seterusnya.
Setiap zone UTM memiliki system koordinat sendiri dengan titik nol sejati pada
perpotongan antara meridian sentralnya dengan ekuator. Dan, untuk menghindari
koordinat negatif, meridian tengah diberi nilai awal abis (x) 500,000 meter. Untuk
zone yang terletakdi bagian selatan ekuator (LS), juga untuk menghindari koordinat
negatif, ekuator diberi nilai awal ordinat (y) 10,000,000 meter. Sedangkan untuk zone
yang terletak di bagian utara ekuator, ekuator tetap memiliki nilai ordinat 0 meter.
Wilayah Indonesia terbagi dalam 9 zone UTM, mulai dari meridian 90 BT (bujur
timur) hingga meridian 144 BT dengan batas parallel (lintang) 11 LS hingga 6 LU.
Dengan demikian, wilayah Indonesia dimulai dari zone 46 (meridian sentral 93 BT)
hingga zone 54 (meridian sentral 141 BT).

Gambar 1.2 Pembagian zona UTM

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Peta Topografi - 3

Gambar 1.3 Contoh salah satu zona UTM


III UNSUR-UNSUR PETA
3.1 Skala
Skala harus dicantumkan dalam peta. Terdapat tiga jenis skala yang dipakai. Skala
rasio atau fraksi misalnya 1:25.000 (atau 1/25.000), yang artinya 1 satuan, misalnya
cm di peta akan sebanding dengan 25.000 cm kenyataannya di alam. Skala grafik
umumnya berupa garis balok yang menunjukkan jarak km atau mil. Skala verbal
umumnya dipakai untuk komunikasi, misalnya satu centimeter ke satu kilometer;
artinya 1 cm di peta menunjukkan 1 km di lapangan.
3.2 Deklinasi Magnetik
Tanda Utara peta pada umumnya dicantumkan di bagian atas peta. Arah utara
tersebut disebut juga sebagai utara geografik yang sebenarnya. Di beberapa tempat
jarum kompas tidak menunjukkan arah utara sebenarnya, akan tetapi menunjuk
kepada arah utara magnetik. Perbedaan ini disebut sebagai deklinasi magnetik. Arah
ini tidak tetap sepanjang tahun. Pada peta umumnya informasi ini dicanumkan dan
apabila akan menggunakan kompas harus dilakukan koreksi skala terlebih dahulu.
Simbol Peta
Pada peta yang standard, misalnya peta yang diterbitkan oleh Bakosurtanal,
umumnya dicantumkan semua informasi tentang peta dan juga simbol-simbol yang
ada di peta, misalnya objek geografi, perhubungan, lahan dan sebagainya. Beberapa
informasi dan symbol dapat dilihat pada lampiran.
IV PETA TOPOGRAFI
Peta topografi menunjukkan ukuran, bentuk dan distribusi atau gambaran bentang
alam, disebut sebagai topografi, atau konfigurasi dari permukaan alam. Gambaran
ketinggian (elevasi) ditunjukkan pada garis kontur, yang merupakan semua
kedudukan dari titik-titik yang mempunyai elevasi (altitude) sama. Elevasi adalah
jarak vertikal yang diukur dari suatu datum, umumnya dipakai rata-rata dari muka
laut (mean sea level).
Gambar 1.4 menunjukkan wilayah sepanjang pantai, dengan laut sebagai datum ratarata dengan elevasi 0.
Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Peta Topografi - 4

Gambar 1.4 Sketsa wilayah pantai dan peta topografi dengan interval kontur 20 kaki
dimulai dengan 0 sebagai rata-rata elevasi laut.
4.1 Karakteristik Garis Kontur
Beberapa karakteristik garis kontur ini merupakan dasar untuk membaca dan
membuat peta topografi;
1.
2.
3.
4.

Setiap titik pada garis yang sama akan mempunyai ketinggian yang sama.
Garis kontur akan menyambung atau merupakan garis yang tertutup.
Garis kontur tidak pernah bercabang.
Garis kontur tidak pernah berpotongan, kemungkinan dapat berimpit pada
topografi tertentu.
5. Antara garis kontur menunjukkan besaran sudut lereng, naik atau turun;
- Spasi kontur yang seragam menunjukkan lereng yang seragam
- Spasi kontur yang rapat menunjukkan lereng terjal
- Spasi kontur yang lebar menunjukkan lereng yan g landai
- Spasi kontur yang tak seragam menunjukkan lereng yang tak teratur
6. Kontur umumnya mengitari bukit, bila puncak bukit berada di daerah peta,
titik tertinggi akan berda dibagian kontur yang paling dalam (lihat butir 10)
7. Kontur pada puncak bukit atau di dasar lembah selalu berpasangan dengan
ketinggian yang sama (tidak terdapat satur garis kontur dengan harga
maksimum atau minimum).
8. Kontur akan berbelok ke arah hulu apabila memotong lembah sungai
membentuk belokan tajam (bentuk V) pada lembah sempit.
9. Bila dua garis kontur mempunyai harga sama, perubahan ketinggian akan
berda diantara keduanya.
10. Bentuk depresi digambarkan dengan garis kontur bergigi pada sisi yang turun,
dan mempunyai harga yang sama dengan garis kontur normal yang
berdekatan (Gambar 1.5).

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Peta Topografi - 5

Gambar 1.5 Contoh penggambaran bentuk topografi depresi

Interval kontur adalah perbedaan harga kontur yang digambarkan pada peta dengan

nilai yang teratur. Pemilihan harga interval kontur tergantung pada tingkat ketelitian
peta, skala peta dan tingkat perbedaan ketinggian atau relief. Umumnya untuk peta
yang standard digunakan harga interval per 2000 dari skala yang dibuat, misalnya
pada skala peta 1: 25.000, interval kontur yang dipakai adalah 12.5 meter.

Kontur indeks umumnya ditunjukkan dengan garis tebal, sebagai kelipatan setiap 5
atau 10 kontur, dan diberi harga ketinggian dari kontur tersebut.
Suatu besaran tinggi (height) dari bukit dapat dinyatakan sebagai perbedaan
elevasi dari puncak dan dasar bukit. Relief adalah istilah yang mirip, namun
sebenarnya merupakan perbedaan antar elevasi yang tertinggi dan terendah dari
suatu wilayah (Gambar 1.6).

Gambar 1.6 Suatu penampang topografi yang menunjukkan datum (muka air laut)
elevasi, tinggi dan relief.
4.2 Cara Membuat Peta dan Penampang Topografi
Peta topografi dapat dibuat dari suatu distribusi titik-titik di peta yang mempunyai
elevasi. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan interval kontur yang
dipilih dari distribusi elevasi yang ada (Gambar 1.7).
Carilah titik-titik yang dapat dipakai sebagai acuan bila interval kontur sudah dipilih,
lakukan interpolasi dari titik-titik yang berdekatan yang elevasinya diketahui.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Peta Topografi - 6

Gambar 1.7 A. Distribusi titik dengan elevasi (X), interval kontur dipilih 10 m kontur.
B. Dengan cara interpolasi, titik-titik dengan elevasi kelipatan 10 dapat
ditentukan (dot). C. Garis kontur ditarik berdasarkan elevasi yang sama.
Penampang topografi umumnya dibuat dengan skala yang sama atau lebih besar dari
skala horisontal. Cara membuat penampang ditunjukkan pada gambar 1.8.

Gambar 1.8 Cara membuat penampang topografi. Pilih garis penampang, tandai
perpotongan garis kontur, aluran sungan dan catatlah ketinggian. Pilih
skala vertikal yang dipakai dan proyeksikan pada ketinggian yang sesuai.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Peta Topografi - 7

Perbesaran vertikal ditekankan untuk menunjukkan gambaran topografi yang kurang


tampak pada penampang. Besaran ini merupakan perbandingan dengan skala
horisontalnya. Untuk mendapatkan skala vertikal yang diperbesar lakukan konversi
sesuai dengan perbandingan yang diinginkan. Gambar 1.9 merupakan contoh dari
penampang gambar 1.8 yang dirubah skala vertikalnya.

Gambar 1.9

Penampang gambar 1.8 dengan skala vertikal yang berbeda. Skala


ditunjukkan pada masing profil A, B dan C.

4.3 Gradien
Gradien mencerminkan perubahan dari elevasi dalam jarak yang tertentu, umumnya
meter atau feet untuk setiap kilometer atau mile. Suatu gradien 10 m/km berarti
bahwa ketinggian dari suatu titik adalah 10 m lebih tinggi dibandingkan titik ditempat
lain sejauh 1 km ke arah bawah lereng. Untuk menentukan gradien dapat dipakai
interval kontur yang ada (perbedaan elevasi) dan jarak horizontal yang terukur pada
peta, kemudian pembagian dari perbedaan elevasi dan jarak horizontal. Sebagai
contoh, suatu elevasi sepanjang aliran sungai berubah 10 m pada jarak 5 km. Gradien
yang didapat adalah 5 m/km.
TUGAS PRAKTIKUM
1. Dari Peta I, Buatlah peta topografi dengan interval kontur 20 atau 10 m
2. Dari Peta II, Tentukan interval kontur, ketinggian titik A, B, C, D, E dan F.
Buatlah penampang topografi melalui A-B dengan skala 1 cm ke 80 m.
3. Dari Peta III, Lakukan pengamatan terhadap peta topografi yang ada,
kemudian berikan analisis pembahasan (hanya berdasarkan topografi)
tentang; bentuk perbukitan, sifat lereng dan gawir, sifat sungai yang utama
dan cabang-cabangnya dan sebagainya, dengan mengacu koordinat yang ada
dan elevasi dari titik triangulasi.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Peta Topografi - 8

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Foto Udara & Citra Satelit -

Bab 2 FOTO UDARA DAN CITRA SATELIT


I. PENDAHULUAN
Gambaran bumi dari suatu perspektif pesawat atau satelit sangat berguna untuk
berbagai kepentingan geologi. Gambaran ini direkam melalui foto udara atau secara
tidak langsung dengan electronic scanning dari panjang gelombang terpilih dari
spektrum elekromagnetik. Foto udara, dalam hitam-putih, warna alamiah ataupun
warna infra-merah, yang diambil dari pesawat mempunyai skala 1: 50.000 atau 1:
25.000. Pasangan foto udara yang overlapping dapat menunjukkan gambaran 3
dimensi dengan menggunakan stereoscope. Citra satelit (Landsat, Spot, Ikonos dsb.
atau Radar), didapatkan dari scan orbit pada ketinggian antara 200 sampai 1000 km,
tersedia dalam gambaran hitam-putih atau warna semu (false color).
1.1 Spektrum Elektromagnetik
Energi elektromagnetik (e.m.) dipancarkan (radiasi) atau di pantulkan (refleksi) dari
suatu obyek dipermukaan dalam bentuk gelombang e.m. Gelombang ini
dikarakteristikkan oleh panjang gelombang dan frekwensi yang spesifik. Jenis-jenis
yang berbeda dari energi e.m.ini sebagian diringkaskan pada Gambar 2.1, yang
disebut sebagai spectrum elektromagnetik. Mata manusia hanya dapat mendeteksi
visible light. Film yang lebih khusus dapat mendeteksi seperti infra-merah, dan
beberapa instrument dapat mendeteksi seperti gelombang mikro (microwave)

Gambar 2.1 Spektrum gelombang elektromagnetik

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Foto Udara & Citra Satelit - 10

1.2 Fotografi
Foto dapat diambil melalui kamera dan di rekam di film. Jenis-jenisnya diantaranya
adalah hitam-putih, warna alamiah, infra-merah hitam-putih, dan berbagai kombinasi
dengan menggunakan filter. Hitam-putih dan warna sebenarnya dapat terlihat oleh
manusia dan sedikit bagian dari ultra-violet (0,3 0,7 m), sedangkan film inframerah hitam-putih dan berwarna dapat mendeteksi kearah mendekati infra-merah
(0,7-0,9 m). Filter kamera umumnya digunakan dengan fillm infra-merah untuk
menghilangkan semua spectrum visible. Warna yang dihasilkan adalah warna semu
(false color).
1.3 Electronic Scanning
Scanner adalah detector yang merekam secara elektronik sebagian dari spectrum
elektromagnetik. Data ini dapat ditransmisikan dari pesawat atau satelit dan
dikorvesikan menjadi gambaran pada layar (televisi, video) atau citra (image) seperti
foto Pada umumnya scanner yang digunakan dapat mendeteksi panjang gelombang
natural visible dan infra merah yang dipantulkan dari permukaan (reflected i.r.).
Disamping itu gelombang radar atau gelombang mikro (1-30 cm) juga banyak
dimanfaatkan. Diawali dengan pemotretan miring (Side Looking Airborne Radar,
SLAR) dengan memancarkan gelombang mikro yang pantulannya kemudian direkam
kembali oleh scanner. Kelebihan dari radar adalah menembus awan dan sebagian
vegetasi. Saat ini pengambilan berbagai jenis radar juga telah dilakukan melalui satelit
(Synthetic Aperture Radar, SAR) dengan memanfaatkan berbagai panjang gelombang
radar.
II. FOTO UDARA
Foto udara umumnya diambil melalui pesawat, namun untuk berbagai kepentingan
dapat pula diambil dengan cara lain (pesawat tanpa awak, pesawat ringan atau
satelit). Foto udar diambil secara vertical untuk menghindari kesalahan. Foto udara
miring, diambil dari sisi menyudut baik untuk menunjukkan ilustrasi namun akan
menunjukkan gambaran yang terganggu. Foto vertikal diambil dengan selang yang
teratur pada jalur terbang yang sudah ditentukan dengan ketinggian yang tertentu.
Foto yang diambil akan saling overlap, kurang lebih 60 % dalam satu jalur terbang
dan 30 % antar jalur terbang. Ukuran foto umumnya 23 cm setiap sisinya.
2.1 Skala
Bila jarak antara dua titik yang sama dengan di permukaan dan di foto udara
diketahui skala perbandingan rata-rata dapat ditentukan dengan mengalikan rasio
dengan skala perbandingan:
Skala = (jarak foto/jarak peta) x skala perbandingan
Misalnya jarak perpotongan jalan satu dengan yang lain dari foto 31 mm, jarak
perpotongan jalan yang sama di peta 25 mm. Bila skala perbandingan pada peta
1:25.000, maka skala foto adalah kurang lebih (31/25) X (1/25.000) = 1/40.000.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Foto Udara & Citra Satelit - 11

2.2 Distorsi
Pendekatan skala digunakan karena pada kenyataannya permukaan bumi tidak benarbenar datar. Skala foto dari masing-masing lembar tidak sama. Distorsi terbesar
terjadi pada daerah pinggir foto sedangkan dan pada topografi yang tinggi. Bila
dibandingkan dengan ketinggian rata-rata, titik dengan elevasi tinggi bergeser kearah
pusat foto. Ketinggian diatas bukit atau gunung akan lebih rendah dibandingkan
dengan diatas lembah, oleh karena itu skala foto akan lebih besar diatas bukit dan
lebih kecil diatas lembah. Skala lebih besar dimaksudkan adalah koefisien skala
perbandingan adalah lebih besar; skala 1: 50.000 dengan koefisien 0,00002, lebih
besar dari pada 1:62.500, dengan koefisien 0,00016).
2.3 Gambaran Stereoskopik
Gambaran steroskopik didapatkan dengan dengan melakukan overlap dari dua foto
yang bersebelahan dalam satu jalur dan dibantu dengan alat stereoskop. Caranya
adalah dengan menemukan obyek yang sama dari masing-masing foto dan disatukan
didalam pandangan dua mata sampai terlihat gambaran 3 dimensi (Gambar 2.2).

Gambar 2.2 Stereoskop pada posisi untuk melihat pasangan foto udara
Gambaran obyek pada ketinggian akan tampak lebih besar kurang lebih 3 sampai 4
kali. Efek yang terjadi juga tampak pada lereng, misalnya lereng yang besarannya 150
akan tampak seperti 400 dan lereng 300 akan tampak seperti lereng 600.
2.3 Perbandingan dengan Peta Topografi
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih nyata, setelah melakukan pengamatan foto
udara, harus dilakukan perbandingan dengan memakai acuan peta topografi. Perlu
diperhatikan bahwa perbesaran vertical dan lereng akan tampak lebih menyolok
sehingga perlu dilakukan koreksi.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Foto Udara & Citra Satelit - 12

III. CITRA SATELIT


Hampr semua satelit penginderaan jauh diambil dari dua jenis orbit yaitu polar (Polar
orbit) dan geostationer (Geostationary). Orbit polar mengambil satelit disekitar kutub
utara dan selatan pada ketinggian 200 sampai 1000 km (Gambar 2.3).. Sebagaimana
satelit mengorbit, Bumi berputar, dengan berjalannya waktu, satelit akan melewati
hampir diatas seluruh muka bumi. Orbit geostationer mempunyai altitude yang lebih
tinggi (35.900 km) dan mengikuti katulistiwa. Satelit komunikasi dan cuaca umumnya
menggunakan orbit ini.

Gambar 2.3 Orbit polar dan geostationer dari satelit


Berbagai jenis satelit penginderaan telah dikembangkan hingga sekarang. Misalnya
Landsat (umumnya satelit penelitian tentang bumi menggunakan orbit polar) sampai
generasi 7, dengan menggunakan berbagai rekaman interval panjang gelombang
yang dinyatakan dengan Band tertentu, SPOT Multispectral dan sebagainya. Berbagai
satelit Radar juga sudah banyak dikembangkan seperti ERS, JERS, SIR dan
sebagainya.
Perbedaan utama citra yang dihasilkan dibandingkan dengan foto udara adalah
struktur citra direkam dalam data digital dengan struktur berupa rangkaian dalam
kolom dan baris (raster array). Setiap komponen yang terkecil atau pixel (picture
element) mempunyai harga numerik yang disebut dengan digital number (DN).
Dengan demikian pemanfaatan citra tidak hanya dengan melihat gambaran visual
tetapi sebelumnya dari berbagai data digital tersebut juga dapat diolah sesuai dengan
kepentingannya. Umumnya pemilihan interval panjang gelombang yang dipilih
disesuaikan dengan kepentingan penggunaannya.
Pengolahan data digital dapat dilakukan dengan cara sederhana, misalnya
penajaman, komposit warna, hingga sangat kompleks seperti ekstraksi dari informasi
nilai digital. Dari segi interpretasi pemanfaatan citra disamping pemrosesan digital
juga dibantu dengan visual dari citra yang dihasilkan. Disamping itu, dengan data
digital dapat dilakukan komposit dari berbagai teknologi penginderaan yang ada,
misalnya penggabungan antara data citra Landsat dengan SPOT, atau dengan Radar
dan sebagainya.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Foto Udara & Citra Satelit -

13

TUGAS PRAKTIKUM
1. Latihan melihat obyek tiga dimensi dengan mata telanjang.
2. Dari foto 1a, dibantu dengan stereoskop, kenalilah obyek dengan tanda A s/d H.
3. Dari foto 1b, dibantu dengan stereoskop, bandingkan dengan peta topografinya
(skala 1: 24.000); a. Mana yang dimaksud dengan Menan Buttes pada foto udara
? b. Dari mana datangnya sinar matahari ?. c. Tentukan skala (kurang-lebih) dari
foto, tunjukkan perhitungan anda.
4. Dari foto 2, dan 3, Lakukan pengamatan, Deskripsikan bentuk lembah dan profil
dari kedua foto tersebut dan sifat dari dataran limpah banjir (floodplain). Apakah
bukti yang menunjukkan adanya pengangkatan atau turunnya level sungai pada
foto tersebut?.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Sungai & Dataran Fluvial - 14

Bab 3 SUNGAI & DATARAN FLUVIAL


I. PENDAHULUAN
Aliran sungai merupakan agent yang sangat penting dari erosi karena sangat
berperan dalam membentuk bantang alam dari hampir semua permukaan daratan
dan merupakan proses geologi yang sangat signifikan. Karakteristik dari suatu individu
lembah aliran dan daerah sekitarnya akan ditentukan oleh material yang berkembang
didalamnya, iklim, waktu dan perubahan elevasi terhadap base level.
Aliran sungai merupakan bagian dari siklus hidrologi Gambar 3.1). Air hujan yang
sampai di permukaan (presipitasi) kembali ke laut melalui permukaan (runoff).
Sebagian dari air ini kembali ke atmosfer melalui penguapan (evaporasi) dan melalui
tumbuhan (transpirasi), dan sebagian menyerap kebawah sebagai air tanah. Air yang
masuk dalam aliran dan menyebabkan aliran permukaan (runoff) datang dari suatu
limpahan aliran, dan dari air yang bergerak kedalam tanah sebelum dikeluarkan
(discharge) melalui sungai.

Gambar 3.1 Siklus Hidrologi


Aliran pemukaan (runoff) dapat dirumuskan sebagai ;
Air permukaan (runoff) = presipitasi (infiltrasi + evaporasi +transpirasi)
Air di permukaan akan menuju ke bawah dan menuju aliran sungai (stream), yang
merupakan jaringan drainase (drainage network) didalam aliran yang lebih besar.
Area yang merupakan tempat tumpahan air (drain) disebut sebagai cekungan
drainase (drainage basin >> daerah aliran sungai). Derah ini dipisahkan oleh batas
yang disebut garis pemisah air.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Sungai & Dataran Fluvial - 15

1.1 Paritan Sungai dan Lembah


Gambaran penampang topografi melalui sepanjang sungai (Gambar 3.2) merupakan
penampang longitudinal yang memperlihatkan perubahan gradient yang menurun dari
bagian hulu kea rah mulut sungai (hilir, tempat bertemunya dengan sungai besar).
Mulut sungai merupakan base level dari suatu aliran sungai, yang merupakan batas
erosi kearah yang lebih dalam. Suatu sungai mengatur salurannya dan penampang
longitudinal nya sebagai repon dari perubahan jumlah air yang dipindahkan
(discharge), base level, kemampuan batuan yang dilaluinya untuk menahan erosi dan
waktu berlansungnya proses. Idealnya penyesuaian ini akan menuju keseimbangan
(balance) antara erosi dan sedimentasi sepanjang aliran sungai dan akan membuat
penampang longitudinal yang teratur. Sungai yang tidak menunjukkan penampang
yang teratur dari hasil erosi atau sediment akan terdapat kemungkinan berikut; air
terjun atau jeram yang tererosi, danau atau bendung sepanjang aliran yang terisi.

Gambar 3.2 Penampang longitudinal dari sungai yang memperlihatkan perubahan


gradient sungai
Ukuran dari paritan dan kecepatan dan volume air akan bertambah kearah hilir.
Jumlah volume air tiap satuan waktu (Discharge) di tentukan dengan;
Discharge = kecepatan x luas penampang paritan. (satuan M3/det, ft3/det)

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Sungai & Dataran Fluvial - 16

1.2 Sungai dan Bentuk Lembah


Suatu aliran sungai bervariasi dari mulai aliran turbulen di daerah pegunungan,
melalui lembah sempit hingga sungai dengan yang lebar, sampai ke daerah dataran.
Karena sifat yang beragam ini, maka suatu aliran juga menunjukkan gambaran yang
karakteristik.
Aliran dengan bentuk lereng yang besar cenderung mengerosi kearah bawah lebih
cepat dibandingkan dengan kearah lateral. Lembah yang dihasilkan di daerah hulu
mempunyai bentuk huruf V (Gambar 3.3 A). Dengan menurunnya gradient, erosi
lateral menjadi lebih penting, dan lembah mulai berkembang.
Beberapa istilah dari bentuk-bentuk bentang alam pada aliran sungai diantaranya
ditunjukkan pada Gambar 3.3 B;
-

Floodplain (dataran limpah banjir), merupakan wilayah yang ditempati air pada

saat sungai melimpah


Natural levee, pematang yang ditempati oleh endapan pada sat banjir.
Meander, bentuk lengkungan dari paritan.
Cutbank, hasil erosi diluar meander.
Point bar, bentuk hasil pengendapan didalam meander.
Meander belt, jalur didalam limpahan sungai yang terdiri dari beberapa
meander.
Cutoff, pemotongan dari meander akibat perubahan aliran
Oxbow lake, bentuk genangan dari meander yang sebelumnya pernah ada.
Yazoo stream, bentuk atau jejak dari aliran dari cabang sungai akibat levee yang
sudah terlalu tinggi dari limpahan yang lebar.
Stream terrace, bentuk tangga diatas tingkat dataran limpah banjir yang
terbentuk terakhir.

Gambar 3.3 A, Bentuk Lembah akibat erosi dan B, bentuk-bentuk karakteristik dari
system aliran

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Sungai & Dataran Fluvial - 17

II. POLA ALIRAN DAN PERKEMBANGAN LEMBAH


2.1 Pola Aliran
Di daerah dengan iklim tropic dan lembab pada umumnya mempunyai bentuk
perbukitan yang membulat, lereng yang tertutup tanah, bentuk punggungan dan
lembah, dan endapan sungai yang melimpah. Bentuk bentang alam tidak hanya
dipengaruhi oleh iklim akan tetapi juga dikontrol oleh sifat dari material yang
mendasarinya dan oleh perubahan dari base level. Pola erosi akan dicerminkan oleh
sifat dari material dibawahnya yang tercermin dari pola alirannya (Gambar 3.4). Bila
suatu wilayah terangkat atau base level turun, erosi kedasar akan bertambah, bila
base level naik atau daratan turun akan terjadi pengendapan.

Gambar 3.4 Perkembangan erosi sungai dan pola aliran yang terbentuk

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Sungai & Dataran Fluvial - 18

Berbagai jenis pola aliran dan sifat-sifat geologi yang berpengaruh ditunjukkan pada
gambar 3.5. dan Tabel 3.1

Gambar 3.5. Berbagai jenis pola aliran, Keterangan geologi dan proses yang
berhubungan ditunjukkan pada Tabel 3.1

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Sungai & Dataran Fluvial - 19

Tabel 3.1 Pola aliran dan sifat geologi yang berhubungan

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Sungai & Dataran Fluvial - 20

2.2 Perkembangan Lembah


Perubahan sifat aliran akan tercermin dari perkembangan bentang alam. Dengan
perkembangan dari cabang-cabang sungai dan pemanjangan sungai maka daerah
sekitarnya akan menjadi bagian dari sistem daerah aliran, perbukitan berkurang,
daerah pemisah aliran menjadi lebih luas dan gradien sungai akan berkurang.
Tahapan ini seringkali disebut sebagai Siklus Erosi yang memperlihatkan perkembangan bentang alam melalui tahap awal, menengah dan akhir yang masing-masing
menunjukkan karakteristik. Namun demikian siklus erosi hanya menunjukkan
penyederhanaan, karena factor pengontrol tidak selamanya tetap. Misalnya iklim tidak
selalu sama dari satu tempat ke tempat lain, perubahan waktu, base level dan
perubahan muka laut, serta aktifitas tektonik merupakan factor yang mempengaruhi
bagaimana suatu bentang alam akan terbentuk.
TUGAS PRAKTIKUM
1. Latihan mengamati peta topografi. Dari peta 1, 2 dan 3, amati sifat karakteristik
sungai sebagai berikut; a. Adanya floodplain, meander. Natural levee, back
swamps, yazoo stream, cutoff, oxbow lake, fill channel (paritan).
2. Buatlah profil sepanjang sungai, menentukan besaran gradient, lebar daerah
limpahan, lebar jalur meander, perbandingan daerah limpahan dan jalur meander.
3. Buatlah sket bentuk lembah dan paritan.
4. Bahas tentang pentingnya erosi vertical dan lateral.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pantai - 21

Bab 4 PANTAI
I. PENDAHULUAN
Pantai merupakan tempat interaksi antara air laut dan daratan. Gelombang, yang
dihasilkan dari angin yang menerpa air laut, mempunyai peran utama dari interaksi
ini. Gambar 4.1 menggambarkan suatu gelombang yang menunjukkan bagaimana
pergerakan dari air laut. Pada saat puncak gelombang berjalan sepanjang air, air
tersebut bergerak mundur-maju dalam gerak yang berputar. Pergerakan air menurun
sampai batas dasar gelombang (wave base), dengan kedalaman kurang lebih
setengah panjang gelombang.

Gambar 4.1 Penampang gelombang yang menunjukkan pergerakan dari air.


Bila gelombang mendekati pantai, maka gelombang mulai berinteraksi dengan bagian
alas, bentuknya berubah dan pola pergerakan air juga berubah seperti yang
ditunjukkan pada gambar 4.2. Bila kedalaman air menjadi lebih dangkal dari dasar
gelombang, maka gelombang akan mengerosi dan memindahkan bahan sediment
didasarnya. Pada surf zone yang dangkal, bentuk air akan pecah dan akan terjadi
turbulensi; butiran pasir dan kerikil akan dihempaskan dalam suspensi oleh turbulansi
dan dalam pergerakan yang hamper tetap.

Gambar 4.2 Penampang kedalaman air laut dan sifat interaksi dengan dasar pantai.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pantai - 22

Gelombang akan menuju pantai dengan puncak gelombang umumnya membentuk


sudut dengan garis pantai. Bila gelombang mulaui berinteraksi dengan dasar,
gelombang akan melemah, atau dibiaskan (refraksi), dan menjadi lebih sejajar
dengan garis pantai, seperti detunjukkan pada gambar 4.3. Gelombang masih akan
menerpa tepi pantai dengan arah menyudut. Ini akan menyebabkan air pada didalam
surf zone membentuk longshore current, yang bergerak sepanjang tepi pantai
dengan arah dorongan dari datangnya gelombang. Sedimen dari surf zone dibawa
oleh arus ini yang prsesnya dikenal sebagai longshore drift. Energi angin ini
kemudian dipindahkan melalui surf zone, tempat berlangsungnya proses erosi,
transportasi dan sedimentasi, bersama untuk merubah garis pantai.

Gambar 4.3 Peta yang menunjukkan pembiasan darigelombang yang mendekati


pantai.
II. PROSES PERUBAHAN DI PANTAI
2.1 Erosi
Semua tempat di pantai terpengaruh proses erosi, akan tetapi intensitasnya berbeda
sepanjang pantai. Bukti erosi terlihat di daerah dengan bentuk pantai yang terdiri dari
batuan. Pembiasan gelombang terjadi terutama pada headland, tonjolan yang
berupa batuan diantara teluk (lekuk) pantai. Tempat ini secara aktif tererosi
membentuk gawir yang disebut wave-cut cliffs.
Erosi aktif terkonsentrasi disekitar bawah dan atas dari level air laut. Pengikisan
dibawah gawir apabila erosi terlalu kuat akan mengakibatkan ada bagian yang jatuh
meninggalkan bentuk hasil erosi yang landai yang disebut sebagai wave-cut
platform. Bagian batuan cukup resistan terhadap erosi meninggalkan bentuk yang
berada di wave-cut platform membentuk sea stacks.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pantai - 23

Gambar 4.4 Bagan yang menunjukkan hempasan gelombang pada batuan relative
keras dan bentuk-bentuk tepi pantai yang ditimbulkan.
2.2 Pengendapan
Pada saat energi gelombang mengikis daerah headland, pengendapan terjadi di
daerah teluk kaera energi gelombang melemah di bagian ini. Pengendapan
menghasilkan bentuk beach, umumnya terdiri dari endapan pasir, kerikil dan kerakal
yang dierosi dari headland, dan material yang terbawa kelaut dari sungai. Perubahan
ini makin lama akan mengurangi ketidakteraturan bentuk pantai.

Longshore drift membantu berperan merubah atau membuat keteraturan bentuk lurus
pantai, bila longshore current memasuki bagian dalam dan kecepatan berubah,
sehingga terjadi pengendapan. Bentuk ini dikenal sebagai spit, punggungan pasir
yang muncul searah dengan longshore current (Gambar 4.5).Spit yang berkembang
penuh melalui mulut teluk disebut sebagai baymouth bar. Sedangkan punggungan
pasir yang menghubungkan pulau ke pantai disebut tombolo. Ini berkembang

karena adanya pulau dan membiaskan gelombang dan secara setempat membelokkan
arah longshore current, atau mengurangi energi untuk membawa material.

Gambar 4.5 Bagan yang menunjukkan pengaruh bentuk pantai dan perubahan pada
longshore current serta bentuk-bentuk tepi pantai yang ditimbulkan.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pantai - 24

Sungai memberikan hampir semua sediment untuk pantai dan longshore drift. Bila
arus ini kuat sediment dari sungai akan terbawa. Bila arus cukup lemah atau sediment
dari sungai cukup banyak, sediment akan diendapkan dimulut sungai sebagai delta.
Pada daerah dengan bentuk pantai yang landai dapat berkembang pulau yang terdiri
dari sandbar yang sempit, memanjang sejajar dengan pantai disebut sebagai barrier
island, yang dipisahkan dengan daratan utama oleh lagoon (Gambar 4.6). Daerah
selang antara pulau-pulau tersebut disebut sebagai tidal inlet, yang memungkinkan
arus pasang-surut yang kuat membentuk gelombang pasang-surut. Sedimen yang
dibawa oleh arus ini disebut tidal delta, baik learah darat maupun laut.

Gambar 4.6 Bagan yang menunjukkan pengaruh pasang-surut dan longshore current
serta bentuk-bentuk tepi pantai yang ditimbulkan.
Perubahan pantai dapat terjadi karena aktifitas manusia untuk berbagai hal menurut
kepentingannya. Namun perlu diperhatikan bahwa kekuatan proses alam akan sulit
dicegah. Misalnya pencegahan erosi dapat dibuat dengan dinding penghalang badai.
Walaupun demikian pantulan dari energi gelombang akan memperbesar erosi pantai
didepan dindingnya, dan bentuk beach dibawahnya akan hilang. Pelindung yang
dipakai untuk menahan erosi dipantai adalah bentuk groins dan breakwater (Gambar
4.7). Bentuk ini akan merubah bentuk pantai apabila peran longshore drift cukup
besar.
2.3 Penurunan dan Pengangkatan Pantai
Posisi pantai berfluktuasi sepanjang waktu geologi. Ini terjadi tidak hanya karena
fluktuasi air di lautan akan tetapi juga kaena proses tektonik atau gaya yang lain yang
membuat daratan relative turun atau naik terhadap muka laut. Perubahan yang paling
menyolong terjadi pada dua juta tahun yang lalu pada glasiasi Pleistosen.
Karakteristik dari pantai yang mengalami penurunan akan tergantung pada bentuk
bentang alam sebelum penurunan. Contoh pada bentuk pantai yang tidak teratur dan
topografi yang berelief tinggi akan menghasilkan bentuk seperti estuarie (lembah
sungai) atau fyord (lembah glasiasi).

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pantai - 25

Gambar 4.7 Bagan yang menunjukkan pengaruh pembuatan groins dan breakwater
serta akibat yang ditimbulkan karena pengaruh longshore drift
Pantai yang naik umumnya terjadi di daerah tektonik aktif. Gambaran tentang pantai
yang naik umumnya dicirikan dengan hadirnya teras endapan laut yang naik (marine
terrace). Sebagian dari teras ini terbentuk di bawah muka laut yang disebut sebagai
wave-cut platform. Teras ini merupakan hasil dari pengangkatan yang menerus,
dengan pengaruh fluktuasi level air laut selama kala Pleistosen.
TUGAS PRAKTIKUM
I. Gambar foto udara menggambarkan barrier islands. Pada gambar terlihat bagian
dari Pulau Matagorda, sebuah barrier di luar pantai Texas di Teluk Mexico.
Petunjuk Gb. 4.5 dan 4.6 dapat membantu untuk menjawab pertanyaan berikut.
a. Foto A menunjukkan tidal inlet (Gren Bayou) tahun 1943, perhatikan jalan
raya pada bagian kiri (barat daya) Berapakah lebar minimum dari tidal inlet ?
(skala 1: 10.200).
b. Berdasarkan orientasi gelombang dari foto A, tentukan arah longshore current.
Bila ada, apakah bukti yang menunjukkan arah yang ditunjukkan merupakan
arah longshore current sebenarnya?
c. Foto B menunjukkan daerah yang sama pada tahun 1957. Perhatikan jalan
raya sekarang. Berapakah lebar minimum Green Bayou sekarang? (skala
1:25.400)
d. Dimanakah terjadi erosi? Dimanakan terjadi pengendapan? Jelaskan asal mula
garis lengkung dimana Green Bayou pernah berada. Bentuk apakah yang
terbentuk pada lagoon di bagian kiri Green Bayou? Jelaskan bagaimana
perubahan kondisi sejak 1943 yang memungkinkan pembentukan bentukan
tersebut.
e. Foto C memperlihatkan daerah yang sama pada tahun 1961 setelah Topan
Carla menerjang pantai Texas. Jalan masih dapat terlihat , namun dapat dilihat
dari balik pantai. Berapakah lebar minimum Green Bayou pada foto ini? (skala
1:18.500). Jelaskan apa yang terjadi pada sekitar Green Bayou selama topan
terjadi. Apakah barrier island merupakan tempat yang baik untuk mendirikan
apartemen ?

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pantai - 26

II. Peta topografi daerah Cayucos, California, lembar 1:62.500.


a. Merupakan pantai berpasir atau pantai berbatu?
b. Apakah bentang alam pantai yang ditunjukkan oleh daerah darat berbentuk
lingkaran kecil 2-6 km di lepas pantai utara pantai Morro (contoh, Whale
Rock)?
c. Apakan bentuk bentang alam bagian barat Teluk Morro yang diberi nama
Morro Bay State Park? Morro Rock diperlihatkan sebagai sebuah pulau pada
peta yang lebih tua.
d. Apakah bentuk bentang alam yang sekarang menghubungkan Morro Rock
dengan daratan?
e. Apakah yang terjdi pada Morro creeks bila ini mendekati pantai? Jelaskan
bagaimana situasi ini dapat berubah selama periode turun hujan yang
berlimpah?
f. Mununjukkan apakah titik-titik pada Moro Bay. Apakah bentuk daerah rawa
pada bagian timur Moro Bay, bagaimana keadaan Moro Bay di masa datang ?
g. Pada arah mana longshore drift di daerah antara kota Moro Beach dan batas
bawah peta yang ditunjukkan pada (1) break water dan (2) natural lanform.
Apa buktinya ?

Latihan 14-6
Amati foto udara Pulau Kiawah, yang merupakan mesotidal barrier island di pantai
Carolina Selatan (Gb.14-4).
1. Bagaimanakah relief dari barrier island tersebut. Bentukan apa yang terdapat pada
topografi tinggian di daerah ini?
2. Temukan dan tandai contoh bentukan topografi yang terdapat pada foto udara
yaitu pantai (P) modern fordune ridge (FD), Older foredune ridge (OFD), cat-eye
(CE) pond, tidal flat (TF), and tidal creeks (TC).
3. Jelaskan pola drainase pada tidal creeks yang lebih kecil yang terdapat di daerah
back-barrier.
4. Amati foto udara dengan seksama. Tandai puncak gelombang yang datang.
Bagaimanakah arah umum gelombang yang mendekati Pulau Kiawah ?
Bagaimanakah arah longshore drift pada pantai? Tunjukkan dengan arah panah
pada foto udara.
Latihan 14-7
Di tanjung Cod, Massachusetts terdapat sebuah spit besar yang terbentuk akibat
gelombang yang menghasilkan rombakan endapan glasial Pleistosen akhir di sebelah
tenggara pantai Inggris. Gelombang mendekati spit ini melalui berbagai arah
sepanjang musim, tetapi gelombang terkuat muncul dari barat laut dan barat.
1. Amati foto satelit Tanjung Cod (Gb. 14-5). Gumakan spidol atau pensil warna
untuk menggambarkan puncak dari gelombang berarah barat laut yang
kemungkinan mendekat dan terpencar di sekeliling spit. Tunjukkan arah longshore
currents yang kemungkinan akan terbentuk oleh gelombang yang akan datang
sepanjang spit.
2. Apakah bentuk garis pantai yang akan terbentuk sebagai hasil longshore currents?

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pantai - 27

3. Amati peta topografi ujung bagian utara Tanjung Cod (Peta 14-4). Buatlah profil
topografi sepanjang garis mulai dari pemecah air (breakwater) di provincetown
Harbor melalui Oak Head hingga tanda kedalaman air 60 kaki pada bagian utara
spit.
a. apakah asal mula tinggian topografi sepanjang pantai utara spit? Tandai
puncaknya pada peta topografi dengan garis padat.
b. apakah asal mula tinggian dan dataran rendah topografi di dalam spit? Tandai
puncaknya pada peta topografi dengan garis putus- putus.
c. Apakah umur relatif semua tinggian topografi dan bagaimana hal tersebut
dapat menceritakan sejarah dan pertumbuhan ujung bagian utara Tanjung
Cod?
d. Amati tinggian batimetri pada bagian utara profil. Bagaimanakan asal mula
bentuk ini? Bagaimanakah hal tersebut dapat menceritakan pertumbuhan
lanjut ujung bagian utara Tanjung Cod?
4. Tandai puncak gelombang bagian barat yang mendekat dan berpencar sekitar
Long Point. Tunjukkan arah longshore currents dengan panah.
5. Dengan anggapan bahwa suplai sedimen ke longshore currents adalah tetap,
apakah kemungkinan fates dataran pasang surut pada Long Point dan bagian
selatan Provincetown Harbor? Jelaskan jawaban anda.

Latihan 14-8
Teluk Delaware merupakan pantai estuari yang terbentuk akibat tenggelamnya mulut
sungai Delaware. Saat ini, estuari terisi sedimen yang terkumpul sepanjang pantainya
pada dataran pasang surut.
1. Amati foto pantai bagian selatan teluk (Gb 14-6). Tentukan dan tandai contoh
dataran pasang surut, tidal creeks dan supratidal marsh dan tentukan posisi garis
pasang.
2. Tandai dan jelaskan pola drainase tidal creeks.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Delta -

29

Bab 5 DELTA
I. PENDAHULUAN
Seperti telah dibahas sebelumnya bahwa pantai merupakan tempat interaksi antara
air laut dan daratan. Bentuk dari garis pantai dan jenis bentang alam yang terjadi
sepanjang pantai adalah pencerminan dari keseimbangan antara kecepatan dari
pasokan sediment dan kecepatan dari olahan dan penyebaran sedimen oleh
gelombang, pasang surut dan fluktuasi muka laut. Level dari muka laut tidak selalu
tetap untuk periode yang lama, tetapi berfluktuasi sebagai respon dari proses tektonik
dan iklim. Beberapa proses ini bersifat global dan menghasilkan fluktuasi muka laut
eustatic sepanjang garis pantai di seluruh dunia. Misalnya rifting dan pembentukan
punggungan samudera akan diikuti oleh kenaikan muka laut eustatic. Pengaruh
utama dari fluktuasi ini adalah kenaikan atau regresi dari pantai atau penurunan
pantai atau transgresi.
Dua jenis pantai dapat didefinisikan dari sifat keseimbangan ini yaitu; pantai yang
bersifat destruktif dan pantai yang konstruktif, yang fenomenanya merupakan
proses erosi dan pengendapan di pantai. Bentuk bentuk pantai destruktif telah dikenal
sebagai wave-cut clift, platform, terrace, sea arch dan stack. Sedangkan bentukbentuk pantai yang konstruktif sangat dipengaruhi oleh dominasi fluvial, gelombang
pantai dan pasang surut.
II. PANTAI KONSTRUKTIF
Pantai yang konstruktif terbentuk apabila kecepatan penyediaan sediment melampaui
kapasitas dari gelombang dan pasang-surut untuk menyebarkannya sehingga
sediment diakumulasikan sepanjang pantai. Bentuk sediment hasil dari dominasi
gelombang pantai dikenal sebagai beach, barrier island, spits, baymouth bar. (lihat
bab/sub bab. 4.2).
2.1 Pengaruh Sungai (Fluvial) dan Perkembangan Delta
Pantai konstruktif yang didominasi oleh pengaruh aliran sungai, akan terbentuk
disekitar dimulut sungai yang besar yang berakhir pada laut yang tenang atau danau.
Bentuk ini dikarakteristikkan oleh hadirnya delta dengan bentuk seperti kaki burung
(birdfoot deltas), yang merupakan perkembangan dari dataran alluvial yang mencapai
laut atau danau.
Bentuk delta kaki burung terdiri dari rangkaian-rangkaian cabang yang disebut
sebagai distributary channel, yang dibatasi oleh tinggian levee dan dipisahkan
swamp (payau) yang luas dan dangkal dan interdistributary bay. Distributary
channel mengisi sediment dari lembah alluvial ke garis pantai, yaitu tempat
diendapkannya bahan pasir di distributary mouth bar, dan bahan Lumpur akan
diteruskan ke laut terbuka. Daerah payau umumnya terdiri dari dataran limpahan
yang mempunyai vegetasi lebat, yang merupakan akumulasi dari dari endapan kaya
organic seperti peat (gambut) dan lignite (batubara muda). Di daerah teluk
merupakan lingkungan laut dangkal yang seringkali diisi oleh bahan pasir berbentuk
kipas yang disebut sebagai crevasse splay, didalam channel levee.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Delta -

30

2.2 Pengaruh Gelombang dan Pasang Surut


Pantai yang didominasi gelombang dikarakteristikkan oleh adanya aktifitas gelombang
yang pengendapannya menghasilkan beach, barrier island, spits, baymouth bar.
Bentuk beach terdiri dari daerah pengaruh gelombang antara garis pasang dan surut
yang disebut sebagai foreshore. Sedangkan daerah yang dipengaruhi angin diatas
pasang disebut sebagai backshore. Batas antara forshore dan backshore umumnya
ditandai oleh akumulasi pasir hasil hempasan angina yang ditumbuhi vegetasi yang
disebut sebagai foredune ridges. Pertumbuhan kea rah pantai dari beach
menghasilkan punggungan yang dipisahkan oleh lekukan rendah yang disebut sebagai
cat-eye pond.
Pantai yang didominasi oleh pasang surut dikarakteristikkan oleh pengaruh sediment
pantai akibat pasang-surut yang diendapkan di tidal flat. Tidal flat umumnya
terbentuk sepanjang bagian dalam dari estuarine dan laut terbuka sepanjang pantai
macrotidal (lebih besar 4 m, Microtidal < 2 m, Mesotidal 2 4 m). Tidal flat umumnya
luas, mempunyai relief rendah, terdiri dari endapan Lumpur dari arus pasang-surut.
Tidal flat juga dipotong oleh tidal creek yang berupa pasir dan batasnya kearah
daratan ditandai oleh supratidal marsh, yang umumnya terdiri dari vegetasi yang
lebat.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Delta -

31

TUGAS PRAKTIKUM (Pantai Lanjutan & Delta)


Latihan 1
Foto udara Pulau Kiawah, yang merupakan mesotidal barrier island di pantai Carolina
Selatan. Amati foto tersebut dan jelaskan pertanyaan berikut;
1. Bagaimanakah relief dari barrier island tersebut. Bentuk apa yang terdapat pada
topografi tinggian di daerah ini?
2. Temukan dan tandai contoh bentuk topografi yang terdapat pada foto udara yaitu
pantai (P) modern fordune ridge (FD), Older foredune ridge (OFD), cat-eye (CE)
pond, tidal flat (TF), and tidal creeks (TC).
3. Jelaskan pola aliran pada tidal creeks yang lebih kecil yang terdapat di daerah
back-barrier.
4. Tandai puncak gelombang yang datang. Bagaimanakah arah umum gelombang
yang mendekati Pulau Kiawah ? Bagaimanakah arah longshore drift pada pantai?
Tunjukkan dengan arah panah pada foto udara.
Latihan 2
Di tanjung Cod, Massachusetts terdapat sebuah spit besar yang terbentuk akibat
gelombang yang menghasilkan rombakan endapan glasial Pleistosen akhir di sebelah
tenggara pantai New England. Gelombang mendekati spit ini melalui berbagai arah
sepanjang musim, tetapi gelombang terkuat muncul dari barat laut dan barat.
1. Amati foto satelit Tanjung Cod. Gumakan spidol atau pensil warna untuk
menggambarkan puncak dari gelombang berarah barat laut yang kemungkinan
mendekat dan terpencar di sekeliling spit. Tunjukkan arah longshore currents
yang kemungkinan akan terbentuk oleh gelombang yang akan datang sepanjang
spit.
2. Apakah bentuk garis pantai yang akan terbentuk sebagai hasil longshore currents?
3. Amati peta topografi ujung bagian utara Tanjung Cod. Buatlah profil topografi
sepanjang garis mulai dari pemecah air (breakwater) di provincetown Harbor
melalui Oak Head hingga tanda kedalaman air 60 kaki pada bagian utara spit.
a. Apakah asal mula tinggian topografi sepanjang pantai utara spit? Tandai
puncaknya pada peta topografi dengan garis padat.
b. Apakah asal mula tinggian dan dataran rendah topografi di dalam spit? Tandai
puncaknya pada peta topografi dengan garis putus- putus.
c. Apakah umur relatif semua tinggian topografi dan bagaimana hal tersebut
dapat menceritakan sejarah dan pertumbuhan ujung bagian utara Tanjung
Cod?
d. Amati tinggian batimetri pada bagian utara profil. Bagaimanakan asal mula
bentuk ini? Bagaimanakah hal tersebut dapat menceritakan pertumbuhan
lanjut ujung bagian utara Tanjung Cod?
4. Tandai puncak gelombang bagian barat yang mendekat dan berpencar sekitar
Long Point. Tunjukkan arah longshore currents dengan panah.
5. Dengan anggapan bahwa pasokan sedimen ke longshore currents adalah tetap,
apakah kemungkinan terjadinya dataran pasang surut (tidal flat) pada Long Point
dan bagian selatan Provincetown Harbor? Jelaskan jawaban anda.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Delta -

32

Latihan 3
Teluk Delaware merupakan pantai estuari yang terbentuk akibat tenggelamnya mulut
sungai Delaware. Saat ini, estuari terisi sedimen yang terkumpul sepanjang pantainya
pada dataran pasang surut.
1. Amati foto pantai bagian selatan teluk (Gb 14-6). Tentukan dan tandai contoh
dataran pasang surut, tidal creeks dan supratidal marsh dan tentukan posisi garis
pasang.
2. Tandai dan jelaskan pola aliran tidal creeks.
Latihan 4
Salah satu contoh dominasi fluvial pada pantai adalah sepanjang pantai Lousiana,
disekitar mulut Sungai Mississippi, sungai terbbesar yang mengaliri daerah seluas 3
juta km2. Endapan yang terjadi di pantai kurang dari 1 juta ton setiap hari dengan
interval pasang surut kurang dari 1 foot. Selama 7000 tahun sungai ini menghasilkan
7 bentuk delta lobe, sepanjang 130 mil pantai menghasilkan daerah 24.000 km2
daratan baru.
1 Amati foto udara dari Delta Mississippi ini. Tandai gambaran berikut; distributary
channel (D), distributary mouth bar (DMB), levee (L), crevasse splay (CS), swamp
(S), dan interdistributary bays (B).
2 Bagaimana kaitan antara morfologi delta dan lokasi-lokasi seperti daerah
pertanian, jalan, dan gambaran aktifitas manusia lain ?.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pegunungan Lipatan - 33

Bab 6 PEGUNUNGAN LIPATAN


I. PENDAHULUAN
Gambaran bentang alam, bentuk dan topografi, lereng dan jejak aliran sungai, secara
umum merupakan refleksi dari sifat struktur dan litologi dari batuan dasar
penyususnnya. Hal ini merupakan akibat dari dua proses geologi, pelapukan
diferensial dan erosi dari aliran. Pelapukan diferensial merupakan kecenderungan dari
batuan pada suatu wilayah yang sama untuk lapuk dan tererosi pada kecepatan yang
berbeda. Ini akan menghasilkan perbedaan pada topografi dari batuan yang
tersingkap dipermukaan.
Batuan yang relatif resistan akan membentuk kubah, punggungan dan bentuk
topografi tinggi lainnya. Sedangkan batuan yang relatif tidak resistan cenderung
tererosi lebih cepat membentuk lembah dan bentuk topografi rendah. Sifat dari
kecenderungan erosi dari suatu aliran akan menghasilkan bentu bentang alam yang
berbeda, yang merupakan refleksi dari struktur dan sifat litologi dari batuan dasar
(Gambar 6.1)

Gambar 6.1 Topografi dan Pola Aliran dari lapisan miring dari batupasir dan serpih.
Sebagai contoh pada gambar 6.1, batupasir yang resistan akan membentuk topografi
tinbbi dan serpih yang tak resistan akan membentuk topografi rendah. Tepian yang
terangkat dari lapisan batupasir akan membentuk punggungan jurus (strike ridges),
Hogback atau Cuesta. Lembah diantara laisan batupasir akan membentuk
lembah jurus (strike valley) yang dialiri oleh aliran sejajar jurus (strike stream).
Punggungan batupasir akan terdiri dari dip slope yang sejajar lapisan atas dan
Scarp slope (back slope) yang berlawanan dengan kemiringan. Punggungan ini di

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pegunungan Lipatan - 34

kedua sisi akan dialiri oleh consequent stream (dip stream) dan aliran yang lebih
pendek yaitu scarp stream (obsequent stream). Keduanya mengalir pada strike
stream atau subsequent stream.
II. POLA ALIRAN SUNGAI
Pola aliran merupakan susunan atau keteratuan aliran sungai dalam suatu wilayah.
Beberapa pola yang umum dijumpai diantaranya adalah; parallel, trelis, annular,
rectangular, radial dan dendritic (Gambar 6.2) yang merupakan petunjuk dari struktur
batuan dasar.

Gambar 6.2 Pola aliran sungai dan struktur batuan dasar


Pola paralel terdiri dari keseluruhan aliran yang sejajar. Ini umumnya didapatkan pada
suatu lerung dari lapisan miring atau bidang sesar yang tersingkap. Pola trelis dan
anular umumnya dijumpai pada perlapisan yang terlipat. Pola ini terdiri dari 3 aliran
yaitu dip dan scarp stream yang mengalir ke arah strike stream dari punggungan, dan
aliran utama yang memotong perlapisan (lihat Gambar 6.1). Pola rektangular
umumnya terdapat daerah jejak sesar atau rekahan, pada batuan yang beragam. Pola
radial merupakan dip stream yang tersebar dari suatu pusat yang dapat berupa kubah
atau bentuk kerucut gunung api. Pola dendritik terdiri dari aliran utama dengan
cabang-cabang yang arahnya berbeda seperti pohon.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pegunungan Lipatan - 35

III. DATARAN TINGGI, KUBAH DAN PEGUNUNGAN LIPATAN


Ekspresi topografi dari perlapisan batuan, termasuk batuan sedimen dan volkanik
dapat membentuk topografi dan pola aliran yang karakteristik, yang dipengaruhi oleh
sifat litologi dan strukturnya (lihat I & Gambar 6.2).
3.1 Topografi Perlapisan Mendatar
Perlapisan mendatar yang terangkat mempunyai ciri relief datar yang terbatas
(Plateau) yang dipotong oleh lembah besar dan curam. Batuan tertua tersungkap
pada dasar lembah (Gambar 6.3)

Gambar 6.3 Topografi dan pola aliran dari perlapisan horizontal


Erosi dari dataran tinggi (plato) ini akan menyisakan bentuk dataran tinggi yang kecil
yang disebut Mesa dan bukit terisolasi yang disebut Butte. Singgkapan dari batuan
yang resistan akan membentuk lereng terjal mengitari butte dan mesa, sedangkan
batuan yang tak resistan akan membentuk lereng landai dengan endapat talus. Pola
aliran yang ada umumnya dendritik atau random karena tak ada kontrol struktur.
3.2 Topografi Perlipatan
Topografi perlipatan bervariasi terhadap geometri lipatan. Topografi dari lapisan yang
tak menunjam akan mirip dengan perlapisan miring (lihat I & II). Punggungan Jurus
dari lipatan yang menunjam akan terpotong dengan bentuk lembah V (Gambar 6.4).

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Pegunungan Lipatan - 36

Gambar 6.4 Topografi dan pola aliran dari lipatan menunjam


3.2 Topografi Kubah
Punggungan jurus dari kubah dan cekungan berbentuk melingkar atau elips dan
konsentris mengelilingi pusat struktur (Gambar 6.5)

Gambar 6.5 Topografi dan pola aliran dari kubah dan cekungan

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Karst - 37

Bab 7 KARST
I. PENDAHULUAN
Pada umumnya aliran air tanah didalam akuifer (lapisan pembawa air tanah) sangat
lambat. Pengecualian dari sifat ini terjadi di daerah Karst, yaitu tempat terjadinya
pelarutan dengan skala yang besar dari batuan dasar. Pelarutan oleh air tanah ini
akan menimbulkan gerak aliran cepat yang mengalir melalui rongga-rongga (cavern)
dan lorong alamiah (natural tunnel) seperti ditunjukkan pada gambar 7.1.
Karst pada umumnya terjadi pada batuan gamping dan dolomite, yang mengandung
mineral gampingan yang mudah larut (kalsit dan dolomite). Proses Karstifikasi dari
suatu satuan batuan memerlukan aliran dari air tanah dengan volume yang besar
melalui batuan dasar, karena sifat pelarutan dari mineral-mineral ini sangat rendah.
Oleh karena itu proses karstifikasi umumnya terjadi di daerah yang lembab dan
beriklim tropic, dengan tingkat penguapan (presipitasi) dan penurapan (recharge) air
tanah yang tinggi. Namun demikian tingkat pelarutan kalsit dan dolomite dapat
bertambah dengan pengaruh karbon dioksida (CO2) kedalam air, yang menjadikan
lebih bersifat asam mengikuti reaksi;
CO2

Karbon
dioksida

+ H2O H2CO3 H+
Air

Asam Karbon

Ion Hidrogen
(asam)

HCO3-

Ion Bikarbonat

Karbon dioksida di dalam air tanah dapat berasal dari atmosfer, terutama dari gunung
api dan ubahan dari fosil bahan bakar. Unsur itu juga dapat berasal dari sumber yang
berasal dari kerak bumi seperti batuan plutonik dan reservoir hidrokarbon, yang
melepas CO2 sebagai produk sampingan dari pematangan minyak dan gas bumi.
Proses Karstifikasi diawali dengan hadirnya rekahan, kekar dan bidang perlapisan
pada batuan dasar, yang menjadikan jalan bagi batuan untuk lebih mudah meluluskan
air (permeable), sehingga air tanah dapat bersirkulasi dan melarutkan menjadi
jaringan rongga-rongga dan lorong (Gambar 7.1).
II. BENTUK BENTANG ALAM KARST
Daerah Karst dilimpahi oleh sungai yang mengalir dengan berbagai variasi jarak, baik
di permukaan maupun di bawah permukaan. Daerah ini dicirikan pada peta topografi
oleh pola aliran permukaan yang tidak teratur (terintegrasi), dan hadirnya bentuk
depresi (singking creeks, blind valleys, sinks) dan perbukitan (rises, haystack
hills) (Gambar 7.2).

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Karst - 38

Gambar 7.1 Kejadian dan pergerakan air tanah. A, Air tanah pada akuifer batupasir
yang didasari serpih, keluar melalui mata air dan mengalir di permukaan.
B, Air tanah keluar langsung melalui aliran. C, Air tanah pada batuan
rekah, keluar melalui arah rekahan pada batuan dasar. D, Air tanah pada
batuan batuan dasar batugamping yang mudah larut, mengalir melalui
aliran bawah permukaan, rongga dan terowongan, yang terbentuk pada
lapisan yang mudah larut

Gambar 7.2 Bentuk bentang alam Karst


Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Karst - 39

Pola aliran permukaan dari daerah karst terdiri dari beberapa amblesan (sinking
creeks) yang muncul dan mengalir kearah lembah dan berakhir kedalam. Aliran
sungai berlanjut mengalir ke bawah permukaan melalui terowongan dan rongga
hingga mencapai aliran utama.
Sinks (atau sinkholes) merupakan depresi berbentuk sirkuler atau lonjong di
permukaan karst. Bentuk ini dapat terbentuk dengan dua cara; runtuhnya atap dari
rongga (collaps sinkholes) dan pelarutan melalui rekahan dan bidang perlapisan oleh
air tanah kearah bawah (dolines) Bila muka air tanah tinggi, aliran akan mengisi
dalam bentuk sinkhole ponds. Haystack hills, disebut juga pepinos adalah bentuk
membulat hasil sisa erosi pada permukaan karst. Umumnya terdiri dari batuan yang
tidak mudah larut dibandingkan batuan sekitarnya, sehingga lebih lambat untuk
dilarutkan.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Karst - 40

TUGAS PRAKTIKUM (Karst)


Latihan 1 Interlachen, Florida
Latihan 2 Mammoth Cave, Kentacky

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Intrusi & Gunung Api - 41

Bab 8 INTRUSI DAN GUNUNG API


I. PENDAHULUAN
Aktifitas magmatik akan menghasilkan batuan batuan intrusif plutonik maupun batuan
dari produk volkanisme (Gambar 8.1). Beberapa bentuk batuan beku plutonik secara
umum adalah batolit, stok, lakolit, sill dan dike. Batuan volkanik mempunyai bentuk
yang sangat karakteristik, disamping bentuk gunung apinya, juga ragam dari hasil
erupsinya. Pada umumnya dari bentuknya terdapat dua bentuk gunung api yaitu
bentuk perisai (shield) dan kerucut (cone) yang merupakan cerminan dari sifat
magma atau lavanya yang encer dan pekat.

Gambar 8.1 Bagan berbagai kemungkinan bentuk dan kejadian batuan beku.
Gunung api di Indonesia umumnya berbentuk kerucut dengan variasi dari berbagai
produk dan sifat erupsinya. Produk yang karakteristik diantaranya adalah sisa hasil
erupsi yang besar (danau volkanik), kaldera, endapan lahar yang luas. Disamping itu
sebagian besar wilayah Indonesaia merupakan bagian dari busur magmatik yang
sudah ada sejak awar Tersier, sehingga berbagai kemungkinan bentuk batuan beku
dan sisa dari kegiatan volkanik akan tercermin sebagai morfologi volkanik yang
kompleks.
II. TOPOGRAFI BATUAN INTRUSIF DAN VOLKANIK
Gambaran bentang alam yang dibentuk oleh batuan plutonik umumnya merupakan
batuan yang resistan terhadap pelapukan dan erosi, yang menunjukkan bentuk
topografi yang menonjol dan relief yang tinggi dengan lereng yang terjal. Singkapan
batolit dan stok membentuk kubah yang terjal, punggungan atau bentuk bukit yang
sirkular atau elips, yang memotong tegas batuan sekitarnya. Singkapan dari dike
berbentuk punggungan tabular yang sempit, sedangkan sill atau lakolit berbentuk
Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Intrusi & Gunung Api - 42

butte, mesa atau punggungan yang sejajar jurus, yang konkordan terhadap batuan
sekitarnya yang diterobos. Batuan sekitarnya cenderung membentuk topografi yang
rendah dengan lereng yang lebih landai, karena pada umumnya batuan ini telah
terdeformasi secara termal dan kurang resistan terhadap erosi (Gambar 8.2).

Gambar 8.2 Topografi dan Pola Aliran dari batuan plutonik


Batuan volkanik mempunyai bentuk dan karakter yang beragam (Gambar 8.3). Hasil
erupsi rekahan dari lava yang mempunyai viskositas rendah seperti flood basalts
akan membentuk hamparan morfologi berelief rendah seperti lava plateaus. Pada
umumnya hasil erupsi ini tidak terlalu resistan terhadap pelapukan dan erosi dan
seringkali membentuk mesa dan butte. Serupa dengan ini bentuk gunung api aktif
shield akan membentuk kubah dengan kemiringan rendah, yang merupakan
merupakan bentukan dari perlapisan lava.
Bentuk cinder cone yang aktif umumnya berukuran kecil (ketinggian kurang dari 400
m), umumnya akan tererosi cukup cepat karena terdiri dari material piroklastik yang
belum terpadatkan. Bentuk yang spesifik dari sisa hasil erosi ini adalah volcanic
neck dan dike yang berpola radial yang terdiri dari batuan intrusif yang mengkristal di
saluran erupsi (vent) dan cabang dari dike (feeder dike).
Gunung api strato yang aktif mempunyai bentuk menonjol dengan lereng yang
landai di kaki gunung dan terjal di bagian puncaknya. Pada umumnya membentuk
gunung yang besar dengan puncak yang terjal. Namun karena hasil erupsi yang
cukup besar, seringkali meninggalkan bentuk torehan yang besar dari puncaknya
pada sisi lerengnya.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Intrusi & Gunung Api - 43

Kepundan (crater) berbentuk sirkular disekeliling pusat saluran di puncak gunung


api. Erupsi yang besar seringkali menyebabkan dinding dan lantai kepundan runtuh
kedalam dan membentuk Kaldera.

Gambar 8.3 Topografi dan Pola Aliran dari batuan volkanik.

III. POLA ALIRAN SUNGAI


Pola aliran pada batuan plutonik akan tergantung pada strukturnya. Pola dendritik
sangat umum bila tidak ada kontrol stuktur yang berpengaruh. Bila batuan
mempunyai sruktur patahan atau kekar umumnya berpola rectangular, dan berpola
radial bila berupa kubah granit yang masif.
Kerucut volkanik dikarakteristikkan oleh pola aliran yang radial yang merupakan aliran
searah kemiringan kesemua arah. Pola aliran ini juga mungkin terbentuk oleh aliran
yang mengalir kearah kepundan dan kalderanya.

Geologi Dinamik GL ITB

Praktikum Geomorfologi & Penginderaan Jauh

Bagian II
OSEANOGRAFI

SUMBER: Materi Pembekalan Peserta 1st International


Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea
Selatan, Oleh Ir. Wahyu Budi Setyawan, M.T.

Oseanografi, Pendahuluan.
5/22/2012

1. PENDAHULUAN
1.1. PENGERTIAN OSEANOGRAFI DAN OSEANOLOGI
Kata Oseanografi di dalam Bahasa Indonesia adalah terjemahan dari kata Bahasa Inggris
Oceanography, yang merupakan kata majemuk yang berasal dari kata ocean dan graphy dari
Bahasa Yunani atau graphein dari Bahasa Latin yang berarti menulis. Jadi, menurut arti
katanya, Oseanografi berarti menulis tentang laut.
Selain Oseanografi kita juga sering mendengar kata Oseanologi. Kata Oseanologi di
dalam Bahasa Indonesia adalah terjemahan dari kata Bahasa Inggris Oceanology, yang juga
merupakan kata majemuk yang berasal dari kata ocean dan logia dari Bahasa Yunani atau
legein dari Bahasa Latin yang berarti berbicara. Dengan demikian, menurut arti katanya,
Oseanologi berarti berbicara tentang laut.
Menurut Ingmanson dan Wallace (1973), akhiran -grafi mengandung arti suatu proses
menggambarkan, mendeskripsikan, atau melaporkan seperti tersirat dalam kata Biografi dan
Geografi. Akhiran -ologi mengandung arti sebagai suatu ilmu (science) atau cabang
pengetahuan (knowlegde). Dengan demikian Oseanologi berarti ilmu atau studi tentang laut,
sedang Oseanografi berati deskripsi tentang laut. Meskipun demikian, kedua kata itu sering
dipakai dengan arti yang sama, yaitu berarti sebagai eksplorasi atau study ilmiah tentang laut dan
berbagai fenomenanya. Negara-negara Eropa Timur, China dan Rusia cenderung memakai kata
Oseanologi, sedang negara-negara Eropa Barat dan Amerika cenderung memakai kata Oseanografi.
Istilah Hidrografi yang berasal dari kata Bahasa Inggris Hydrography kadang-kadang
digunakan secara keliru sebagai sinonim dari Oseanografi. Hidrografi terutama berkaitan dengan
penggambaran garis pantai, topografi dasar laut, arus, dan pasang surut untuk penggunaan praktis
dalam navigasi laut (Ingmanson dan Wallace, 1985). Oseanografi meliputi bidang ilmu yang lebih
luas yang menggunakan prinsip-prinsip fisika, kimia, biologi, dan geologi dalam mempelajari laut
secara keseluruhan.

1.2. DISIPLIN ILMU TERKAIT


Secara sederhana, oseanografi dapat disebutkan sebagai aplikasi semua ilmu (science)
terhadap fenomena laut (Ross, 1977). Definisi tersebut menunjukkan bahwa oseanografi bukanlah
suatu ilmu tunggal, melainkan kombinasi berbagai ilmu.
Untuk mempermudah mempelajari laut, para ahli oseanografi secara umum membagi
oseanografi menjadi lima kelompok, yaitu:
1) Oseanografi kimia (chemical oceanography): mempelajari semua reaksi kimia yang terjadi
dan distribusi unsur-unsur kimia di samudera dan di dasar laut.
2) Oseanografi biologi (biological oceanography): mempelajari tipe-tipe kehidupan di laut,
distribusinya, saling keterkaitannya, dan aspek lingkungan dari kehidupan di laut itu.
3) Oseanografi fisika (physical oceanography): mempelajari berbagai aspek fisika air laut
seperti gerakan air laut, distribusi temperatur air laut, transmisi cahaya, suara, dan berbagai
tipe energi dalam air laut, dan interaksi udara (atmosfer) dan laut (hidrosfer).
4) Oseanografi geologi (geological oceanography): mempelajari konfigurasi cekungan laut,
asal usul cekungan laut, sifat batuan dan mineral yang dijumpai di dasar laut, dan berbagai
proses geologi di laut. Kata lain untuk menyebutkan oseanografi geologi adalah geologi laut
(marine geology).
5) Oseanografi meteorologi (meteorological oceanography): mempelajari fenomena atmosfer
di atas samudera, pengaruhnya terhadap perairan dangkal dan dalam, dan pengaruh
permukaan samudea terhadap proses-proses atmosfer
Pengelompokan oseanografi menjadi lima kelompok seperti di atas menunjukkan bahwa
oseanografi adalah ilmu antar-disiplin. Sebagai contoh, proses atau kondisi geologi suatu kawasan
laut dapat mempengaruhi karakteristik fisika, kimia dan biologi laut tersebut.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Pendahuluan.
5/22/2012

1.3. MENGAPA MEMPELAJARI OSEANOGRAFI?


Orang mempelajari oseanografi antara lain karena alasan-alasan berikut ini:
1). Memenuhi rasa ingin tahu. Di masa lalu, ketika otoritas ilmu pengetahuan masih terbatas
pada kalangan tertentu, hal ini terutama dilakukan oleh para filosof. Sekarang, di masa
moderen, ketika semua orang memiliki kebebasan berpikir dan berbuat yang lebih luas,
mempelajari laut hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu dapat dilakukan oleh siapa pun.
2). Kemajuan ilmu pengetahuan. Mempelajari oseanografi untuk kemajuan ilmu pengetahuan
banyak dilakukan di masa sekarang. Berbeda dari mempelajari untuk memenuhi rasa ingin
tahu di masa lalu, mempelajari untuk kemajuan ilmu pengetahuan dilakukan secara
sistimatis dan ilmiah berdasarkan hasil-hasil penelitian atau pengetahuan yang telah ada
sebelumnya. Kemudian, hasil-hasil dari kegiatan ini dipublikasikan secara luas di dalam
jurnal-jurnal atau majalah-majalah ilmiah.
3). Memanfaatkan sumberdaya hayati laut: seperti memanfaatkan ikan-ikan dan berbagai
jenis biota laut sebagai sumber bahan pangan, dan bahan obat-obatan. Mempelajari
oseanografi untuk tujuan ini secara umum dilakukan berkaitan dengan upaya untuk
mengetahui keberadaan sumberdaya, potensinya, cara mengambil dan, dan upaya-upaya
melestarikannya.
4). Memanfaatkan sumberdaya non-hayati laut: seperti mengambil bahan tambang (bahan
galian dan mineral), minyak dan gas bumi, energi panas, arus laut, gelombang dan pasang
surut. Berkaitan dengan tujuan ini, studi oseanografi dilakukan untuk mengetahui kehadiran,
potensi, dan karakter sumberdaya.
5). Memanfaatkan laut untuk sarana komunikasi: seperti membangun sistem komunikasi
kabel laut. Studi dilakukan untuk menentukan bagaimana teknik atau cara atau lokasi untuk
meletakkan alat komunikasi itu di laut.
6). Memanfaatkan laut untuk sarana perdagangan: misal untuk pelayaran kapal-kapal
dagang. Studi oseanografi perlu dilakukan untuk menentukan dan merawat alur-alur
pelayaran, serta tempat-tempat berlabuh atau pelabuhan.
7). Untuk pertahanan negara menentukan batas-batas negara. Studi oseanografi untuk
pertahanan negara terutama berkaitan dengan keperluan pertahanan laut, seperti untuk
menentukan alur-alur pelayaran baik untuk kapal di permukaan laut maupun kapal selam,
tempat-tempat pendaratan atau berlabuh yang aman, kehadiran saluran suara. Sementara itu,
untuk keperluan menentukan batas-batas negara di laut perlu dilakukan studi oseanografi
berkaitan dengan penentuan batas landas kontinen yang dipakai sebagai dasar untuk
menentukan batas-batas negara di laut.
8). Menjaga lingkungan laut dari kerusakan dan pencemaran lingkungan karena aktifitas
manusia. Berkaitan dengan tujuan ini, oseanografi dipelajari untuk mengetahui bagaimana
respon lingkungan laut terhadap berbagai bentuk aktifitas manusia.
9). Mitigasi bencana alam dari laut, seperti erosi pantai oleh gelombang laut, banjir dan
bencana karena gelombang tsunami. Bencana alam dari laut berkaitan erat dengan prosesproses yang terjadi di laut. Dengan demikian, untuk dapat menghindari atau mengurangi
kerugian karena bencana tersebut, kita perlu memahami karakter proses-proses tersebut dan
hasil-hasilnya.
10).Untuk rekreasi. Sekarang, kegiatan rekreasi banyak dilakukan di laut atau daerah pesisir,
seperti menikmati pemandangan laut, berenang di laut, berjemur di pantai, menyelam,
berselancar, berlayar. Untuk dapat menentukan lokasi yang sesuai untuk berbagai kegiatan
rekreasional tersebut perlu dilakukan studi oseanografi. Sebagai contoh, untuk kegiatan
wisata selam untuk menikmati keindahan terumbu karang, perlu dilakukan penelitian
mengenai terumbu karang itu sendiri sehingga dapat diketahui lokasi keberadaan tempattempat yang menarik. Selain itu, untuk keamanan selama menyelam perlu dipelajari kondisi
arus dan hewan-hewan yang berbahaya di lokasi wisata menyelam tersebut.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Pendahuluan.
5/22/2012

Indonesia adalah suatu negara kepulauan. Diakuinya konsep wawasan nusantara dan negara
kepulauan oleh dunia internasional membuat Indonesia menjadi suatu negara kepulauan terbesar di
dunia. Dengan wilayah negara yang sangat luas dan sebagian besar berupa laut, dan memiliki
daratan berpulau-pulau, maka bagi Indonesia mempelajari oseanografi menjadi sangat penting.
Banyak sumberdaya alam Indonesia yang berada di laut, baik sumberdaya hayati maupun
sumberdaya non-hayati. Sumberdaya laut yang sangat banyak itu hanya akan dapat dimanfaatkan
dengan berkesinambungan bila kita mempelajarinya.
Selain sebagai sumberdaya, laut juga menjadi sumber bencana, terutama bagi penguni
daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. Bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut yang sangat luas
dan pulau-pulau yang sangat banyak, tentu akan besar pula potensi bencana dari laut. Oleh karena
itu, dalam rangka upaya melakukan mitigasi bencana alam dari laut, maka mempelajari oseanografi
juga merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1973. Oceanography: An Introduction, Wadsworth Publishing
Company, Inc., Belmont, California, 325 p.
Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1985. Oceanography: An Introduction, 3rd Edition, Wadsworth
Publishing Company, Belmont, California, 530 p.
Ross, D.A., 1977. Introduction to Oceanography, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey,
438 p.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

2. SAMUDERA
2.1. BEBERAPA DEFINISI
Apabila diamati dari ketinggian melalui satelit atau pesawat ruang angkasa, secara garis
besar, permukaan Bumi terdiri dari 2 macam, yaitu yang berupa massa padat yang disebut sebagai
Benua (continent, lithosphere) dan massa cair yang disebut Samudera (ocean, biosphere). Benua
menyusun kira-kira sepertiga permukaan Bumi.
Benua (continent) dapat didefinisikan sebagai massa daratan yang sangat besar yang muncul
dari permukan samudera, termasuk bagian tepinya yang digenangi air dengan kedalaman air yang
dangkal (kurang dari 200 meter). Berkaitan dengan massa air itu, ada juga beberapa kata yang sering
dipergunakan untuk menyebutkan hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti cekungan samudera,
laut, teluk atau estuari. Berikut ini adalah pengertian dari masing-masing kata tersebut.
Samudera (ocean) dapat didefinisikan sebagai tubuh air asin yang sangat besar dan menerus
yang dibatasi oleh benua.
Cekungan samudera (ocean basin) adalah cekungan yang sangat besar dan dalam yang
dipenuhi oleh air asin dan satu atau lebih sisinya dibatasi oleh benua.
Laut (sea). Dalam penggunaan umum, kata laut (sea) dan samudera (ocean) sering dipakai
bergantian sebagai sinonim. Di dalam oseanografi atau oseanologi, kedua kata itu memiliki
perbedaan. Kata laut umumnya dipakai untuk menyebutkan kawasan perairan dangkal di tepi
benua, seperti Laut Utara, Laut Cina Selatan dan Laut Arafura; massa air yang terkurung dan
memiliki hubungan yang terbatas dengan samudera, seperti Laut Tengah, dan Laut Baltik; atau
kawasan laut yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu, seperti Laut Merah, Laut Hitam, Laut
Karibia, dan Laut Banda. Di samping itu, kata laut, kadang-kadang dipakai untuk menyebutkan
nama danau seperti Laut Kaspi.
Teluk (bay, gulf) adalah tubuh air yang relatif kecil yang tiga sisinya dibatasi oleh daratan.
Teluk sering juga disebut sebagai Laut Setengah-tertutup (Semi-enclosed Sea).
Estuari (estuary) adalah kawasan perairan muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut
dengan massa air yang memiliki salinitas lebih rendah daripada air laut dan lebih tinggi daripada air
tawar.

2.2. ASAL USUL SAMUDERA DAN CEKUNGAN SAMUDERA


Sampai sekarang, asal usul air laut tidak diketahui dengan pasti. Salah satu hipotesa yang
banyak diterima adalah bahwa air laut berasal dari aktifitas volkanisme. Hipotesa tersebut dibuat
berdasarkan fakta saat ini yang menunjukkan bahwa aktifitas volkanisme mengeluarkan banyak uap
air, disamping gas nitrogen dan karbon dioksida.
Pertanyaan selanjutnya yang perlu mendapat jawaban adalah tentang asal usul cekungan
samudera. Tentang bagaimana cekungan samudera dapat terbentuk?. Berbagai hipotesa dan teori
telah muncul dalam upaya mencari jawaban atas pertanyaan itu. Saat ini, teori yang diterima oleh
banyak ahli adalah Teori Tektonik Lempeng (Plate Tectonic Theory). Teori ini adalah teori yang
didukung oleh sangat banyak data dan fakta.

2.2.1. Bebarapa Fakta Tentang Bumi dan Laut


Berbicara tentang asal usul Cekungan samudera, beberapa fakta berikut ini perlu mendapat
perhatian di awal pembicaraan sebelum melangkah lebih jauh sampai kepada teori pembentukannya.
Fakta-fakta tersebut adalah:
1). Bumi berumur kira-kira 4,6 miliar tahun yang lalu, sedang bukti-bukti pertama tentang
adanya laut muncul dari sekitar 3,8 3 miliar tahun yang lalu.
2). Bukti-bukti tertua tentang adanya samudera ditemukan di benua, bukan di samudera.
3). Batuan yang tertua di laut hanya berumur 70 juta tahun.
Serangkaian fakta tersebut memunculkan pertanyaan berikut: Bagaimana mungkin
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

cekungan samudera yang lebih muda dapat menampung samudera yang lebih tua?.

2.2.2. Teori Tektonik Lempeng


Menurut teori ini, seluruh kerak Bumi dipandang tersusun oleh beberapa lempengan besar
yang bergerak seperti balok yang kaku di atas permukaan Bumi. Batas-batas lempeng adalah
kawasan memiliki aktifitas seikmik tinggi, yang terjadi karena pembentukan material kerak baru di
sepanjang pematang tengah samudera, maupun karena material kerak yang tua ter-subduksikan di
daerah palung. Dengan demikian, batas lempeng ditentukan oleh aktifitas seismik (Gambar 1).
Kontak antar lempeng dapat berupa (Gambar 2):
1). Kontak divergen, yang disebut juga dengan spreading center (pusat pemekaran). Pada
kontak ini, lithophere yang baru terus menerus terbentuk karena dua lempeng saling
menjauh. Pembentukan cekungan laut terjadi pada kontak lempeng jenis ini, seperti
Samudera Atlantik.
2). Kontak konvergen, yang terjadi bila dua lempeng bergerak saling mendekat satu sama lain.
Pada kontak konvergen, salah satu lempeng menyusup ke bagian bawah yang lain, yang
dalam kasus ini kita sebut subduction zone (zona penunjaman atau zona subduksi). Pada
kontak ini dapat pula terjadi dua lempeng saling benturan, yang disebut sebagai collision
zone (zono kolisi). Zona subduksi adalah zona tempat lempeng samudera dikonsumsi,
seperti Palung Jawa di sebelah selatan Pulau Jawa; sedang zona kolisi adalah zona tempat
terbentuknya kawasan pegunungan, seperti Pegunungan Himlaya.
3). Kontak transform fault, terjadi bila dua lempeng berpapasan satu sama lain dengan tepi-tepi
lempeng yang saling menggerus. Gempa bumi sering terjadi di kontak lempeng jenis ini.
Contohnya adalah kawasan Sesar San Andreas.
Menurut teori ini, laut baru dapat terbentuk karena pecahnya continental crust (Gambar 3).
Selanjutnya, cekungan samudera tidak tetap posisi maupun ukurannya, dan samudera dapat
mengalami pembukaan dan bertambah luas, seperti Samudera Atlantik; dan dapat pula mengalami
penutupan dan bertambah sempit, seperti Samudera Pasifik. Selain itu, teori ini juga menerangkan
tentang pembentukan deretan gunungapi (Gambar 4) dan kawasan pegunungan (Gambar 5).

Gambar 1. Penyebaran lempeng kerak Bumi. Dikutip dari Le Pichon et al. (1973).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

Gambar 2. Macam-macam kontak antar lempeng. (A) kontak divergen, (B) kontak konvergen dengan
satu lempeng mengalami subduksi, (C) kontak konvergen dengan lempeng mengalami kolisi, (D)
kontak lempeng berbentuk transform fault. Dikutip dari Skinner dan Porter (2000).

Gambar 3. Mekanisme pembentukan laut baru melalui pecahnya continental crust.


Dikutip dari Skinner dan Porter (2000).
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

Gambar 4. Pembentukan gunungapi menurut teori plate tectonic. Dikutip dari Skinner dan Porter
(2000).

2.2.3. Sejarah Pembentukan Samudera


Membicarakan tentang asal-usul samudera atau laut tidak dapat dilepaskan dari
membicarakan tentang asal-usul bumi. Sementara itu, membicarakan asal-usul bumi tidak dapat
dilepaskan dari membicarakan tentang asal-usul sistem tatasurya. Kita tidak tahu secara tepat
bagaimana awal pembentukan sistem tatasurya, tetapi secara garis besar kita dapat mengetahuinya
berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh oleh para ahli astronomi, pengetahuan kita tentang sistem
tatasurya, dan hukum-hukum fisika dan kimia. Selanjutnya, tentang sejarah bumi, secara garis besar
dapat kita ketahui dari bukti-bukti geologis dan teori-teori yang berlaku.
Pembentukan Matahari
Pembentukan bumi dimulai dari suatu ledakan bintang yang telah ada sebelumnya yang oleh
para ahli astronomi disebut Supernova. Ledakan tersebut menyebarkan atom-atom dari berbagai
unsur ke ruang angkasa, dan sebagian besar dari atom-atom yang disebarka itu adalah atom hidrogen
(H) dan helium (He). Atom-atom tersebut berputar membentuk turbulensi awan dari gas-gas kosmis.
Setelah melewati waktu yang sangat lama, awan gas kosmis tersebut makin tinggi densitasnya dan
makin panas, karena gaya gravitasi yang ditimbulkannya menarik atom-atom yang tersebar dan
bergerak bersama-sama. Di daerah dekat pusat putarannya, temperatur menjadi sangat tinggi dan
atom-atom hidrogen mendapat tekanan sedemikian tinggi dan sangat panas sehingga terjadi reaksi
fusi yang menghasilkan atom helium. Matahari lahir ketika reaksi fusi itu terjadi, dan peristiwa itu
terjadi sekitar 4,6 milliyar tahun yang lalu (Skinner dan Porter, 2000). Pada suatu tahap tertentu,
bagian terluar dari gas kosmis itu menjadi cukup dingin dan densitasnya memadai untuk mengalami
kondensasi membentuk objek-objek padat. Objek-objek padat itulah yang kemudian menjadi planetplanet dan bulan-bulan di dalam sistem tatasurya.
Pembentukan Bumi dan Atmosfernya
Pada mulanya, bumi adalah suatu massa batuan cair yang berbentuk bulat dengan
temperatur lebih dari 8000oC (Lutgens dan Tarbuck, 1979). Saat itu, temperatur bumi yang sangat
tinggi dan medan gravitasi awal bumi yang lemah menyebabkan gas-gas yang membentuk atmosferawal bumi segera terlepas dari gaya gravitasi bumi dan menghilang ke ruang angkasa. Gas-gas
penyusun atmosfer-awal bumi adalah gas-gas ruang angkasa, yaitu hidrogen dan helium yang
keduanya merupakan gas yang paling ringan di bumi.
Selanjutnya, seinring dengan mendinginnya bumi, kerak bumi yang padat (litosfer)
terbentuk, dan gas-gas yang terlarut di dalam massa batuan cair itu secara bertahap dilepaskan
melalui suatu proses yang disebut degassing. Dengan demikian, dipercaya bahwa atmosfer yang
baru itu tersusun oleh gas-gas yang sama dengan gas-gas yang dilepaskan oleh bumi melalui proses
erupsi gunungapi pada masa sekarang. Gas-gas itu antara lain H2O, CO2, SO2, S2, Cl2, N2, H2, NH3
Materi Pembekalan Peserta
4
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

(ammonia), dan CH4 (methan). Kemudian, bukti-bukti dari data geologi menunjukkan bahwa ketika
itu belum ada oksigen bebas (O2), dan kandungan oksigen bebas di dalam atmosfer bertambah
dengan berjalannya waktu (Stimac, 2004).

Gambar 5. Salah satu contoh mekanisme penutupan samudera dan pembentukan kawasan
pegunungan menurut teori plate tectonic. Dikutip dari Skinner dan Porter (2000).
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

Pembentukan Samudera
Pendinginan yang diamali bumi terus berlanjut, awan-awan terbentuk dan akhirnya terjadi
hujan. Pada mulanya air hujan mengalami penguapan kembali sebelum mencapai permukaan bumi.
Kondisi ini membantu mempercepat proses pendinginan permukaan bumi. Setelah bumi mencapai
temperatur tertentu, hujan yang sangat lebat terjadi terus menerus selama jutaan tahun, dan airnya
mengisi cekungan-cekungan di permukaan bumi membentuk samudera. Peristiwa tersebut
mengurangi kandungan uap air dan CO2 di dalam udara (Lutgens dan Tarbuck, 1979).
Perkembangan Benua dan Samudera
Pada kira-kira 3 Ga (giga anum) terbentuk ratusan mikrokontien dan busur kepulauan yang
disebut Ur, yang antara lain terdiri dari apa yang kita kenal sekarang sebagai Afrika, India,
Australia, dan Antartika.
Pada sekitar 1,2 Ga yang lalu, fragmen-fragmen kerak benua berkumpul menjadi satu
membentuk satu superkontinen yang disebut Rodinia melalui gerak tektonik lempeng. Kata
Rodinia berasal dari bahasa Rusia yang berarti homeland atau daratan asal (Burke Museum of
Natural History and Culture, 2004). Superkontinen Rodinia dikelilingi oleh samudera tunggal yang
disebut Pan-Rodinia Mirovoi Ocean (vide, Cawood, 2005).
Pada 830 Ma, Superkontinen Rodinia terbelah menjadi Gondwana Barat dan Gondwana
Timur. Peristiwa ini menghasilkan Samudera Mirovoi, Mozambique, dan Pasifik. Kemudian pada
630 Ma, pecahan kontinen tersebut berkumpul kembali dan membentuk Superkontinen Gondwana
atau Pannotia. Pembentukan superkontiken ini melibatkan penutupan Samudera Adamastor,
Brazilide, dan Mozambique. Pada 530 Ma, Superkontinen Gondwana terbelah menjadi Lauresia (inti
benua yang sekarang disebut Amerika Utara), Baltika (Eropa Utara), Siberia, dan Gondwana.
Peristiwa ini menyebabkan terbukanya Samudera Pasifik dan Iapetus di sisi barat dan timur
Laurensia, dan menutup Samudera Mirovoi atau Mozambique. Pada kira-kira 300 Ma, pecahanpecahan superkontinen itu berkumpul kembali dan membentuk superkontinen yang ke-tiga yang
disebut dengan Pangea (Cawood, 2005). Pembentukan Superkontinen Pangea ini terjadi melalui
penutupan samudera dan pembentukan pegunungan Gondwana, Laurussia dan Siberia, serta
penyelesaian pembentuka Pegunungan Altai
Akhirnya, pada sekitar 200-150 Ma, Superkontinen Pangea terbelah membentuk konfigurasi
benua dan samudera seperti yang sekarang. Terbelahnya superkontinen ini menyebabkan lahirnya
Samudera Atlantik, Antartika dan Hindia, serta penyempitnya Samudera Pasifik; pembentukan
Pegunungan Himalaya dan Kepulauan Indonesia.

2.3. MORFOLOGI DASAR LAUT


Berdasarkan pada definisi tentang benua dan samudera maka, dalam membicarakan
morfologi dasar laut, secara garis besar morfologi dasar laut dapat dibedakan menjadi morfologi
dasar laut yang berada di tepi benua (continental margin), dan morfologi dasar laut yang berasa di
cekungan samudera (ocean basin).

2.3.1. Tepi Benua


Tepi benua (continental margin) meliputi bagian dari benua yang tenggelam dan zona
transisi antara benua dan cekungan samudera.
Berdasarkan pada kondisi aktifitas kegempaan, volkanisme, dan pensesaran, tepi benua
dapat dibedakan menjadi tepi benua aktif (active margin) yang ditandai oleh banyaknya aktifitas
kegempaan, volkanisme, dan pensesaran. Sebaliknya, tepi benua pasif (pasif margin) dicirikan oleh
sedikitnya aktifitas kegempaan, volkanisme, dan pensesaran.
Perbedaan aktifitas tektonik menghasilkan perbedaan struktur batuan dan sedimentasi di
sepanjang tepi benua. Tepi benua aktif dicirikan dengan perselangan yang sempit antara bank dan
trough, sesar-sesar, paparan (shelf) yang sempit. Palung laut dalam (deep sea trench) dan busur
kepulauan volkanik umum dijumpai disepanjang tepi benua. Sementara itu, tepi benua pasif
memiliki paparan yang lebar, delta-delta yang luas, atau terumbu karang yang tersebar meluas.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

Tidak ada pensesaran ataupun volkanisme.


Menurut teori tektonik lempeng, tepi benua aktif terjadi pada batas lempeng konvergen.
Hasil dari dua lempeng yang konvergen adalah zona penunjaman (subduction zone) yang
menghasilkan busur kepulauan volkanik dan palung (trench). Sedimen yang terjebab di antara dua
lempeng konvergen dapat membentuk pegunungan.
Tepi benua pasif terbentuk di sisi jauh dari lempeng divergen. Seiring dengan lempeng
bergerak menjauhi pusat pemekaran, sedimen diendapkan di dasar laut yang berdampingan dengan
pantai. Pada saat yang bersamaan, kerak samudera mendingin, mengkerut dan tenggelam.
Akumulasi sedimen di sepanjang tepi benua pasif menghasilkan paparan benua yang lebar.
Berdasarkan morfologinya, tepi benua dapat dibedakan menjadi:
1). Paparan Benua (continental shelves) adalah bagian benua yang tenggelam dengan
kemiringan lereng yang sangat kecil (1 meter per 1000 meter). Berbagai kenampakan yang
dijumpai di kawasan ini terjadi karena tujuh proses, yaitu glasiasi (glaciation), perubahan
muka laut (sea level changes), aktifitas berbagai kekuatan alam (seperti gelombang laut,
aliran sungai, pasang surut), sedimentasi, pengendapan karbonat, pensesaran, dan
volkanisme.
2). Lereng Benua (continental slope) adalah tepi benua dengan lereng curam, dimulai dari
tekuk lereng dari paparan benua sampai daerah tinggian benua (continental rise) dengan
lereng sekitar 4 dejarad. Di kawasan ini banyak terjadi proses longsoran bawah laut
(submarine landslide) dan erosi yang menghasilkan berbagai kenampakan. Sedimensedimen di kawasan ini tersesarkan dan terlipat. Kenampakan yang sangat mengesankan di
kawasn ini adalah alur bawah laut (submarine canyon).
3). Tinggian Benua (continental rise) adalah daerah transisi antara benua dan cekungan
samudera. Kawasan ini tersusun oleh material yang tidak terkonsolidasikan (unconsolidated
materials) yang terdiri dari lumpur, lanau dan pasir yang diturunkan dari paparan benua atau
lereng benua oleh mekanisme arus turbid (turbidity currents), longsoran bawah laut, atau
proses-proses lain. Pola dari tinggian benua ini berkaitan dengan gerakan tektonik lempeng.
Pada tepi benua aktif, sedimen-sedimen telah terubah dan dibawa masuk ke dalam mantel
oleh mekanisme menunjaman. Pada tepi benua pasif, sedimen-sedimen terawetkan dan
melampar jauh ke lantai samudera (ocean floor).

2.3.2. Cekungan Samudera


Cekungan samudera (ocean basin) didefinisikan sebagai lantai samudera (ocean floor) yang
luas yang terletak pada kedalaman lebih dari 2000 meter. Benua (continent) didefiniskan sebagai
daratan menerus yang besar (Ingmanson dan Wallace, 1985). Definisi ini meletakkan cekungan
samudera sebagai lawan dari benua. Bila benua terlihat jelas memiliki gunung-gunung dan lembahlembah, maka, demikian pula dengan cekungan samudera. Berbagai kenampakan dari cekungan
samudera yang utama adalah:
1). Pematang samudera (oceanic ridges) yang keberadaannya berkaitan dengan pembentukan
sistem retakan (rifting) karena dua blok kerak samudera yang bergerak saling menjauh.
Kehadirannya berkaitan dengan proses pembentukan kerak samudera yang baru. Contohnya:
Mid-Atlantic Ridge di Samudera Atlantik dan Mid-Indian Ridge di Samudera Hindia.
2). Dataran abisal (abyssal plain) adalah kawasan yang luas dan agak datar dengan kedalaman
dengan kedalaman berkisar dari 4000 sampai 5000 meter yang dibatasi oleh pematang
samudera atau benua. Dataran abisal umumnya tertutup oleh sedimen pelagis. Di kawasan
yang berbatasan dengan lereng benua, bila terdapat alur bawah laut di lereng benua, maka,
akan terbentuk kipas bawah laut (submarine fan) atau kipas laut dalam (deep-sea fan).
3). Pulau-pulau terumbu (coral islands) yaitu pulau yang terbentuk karena pertumbuhan
koral.
4). Palung (trences), terdapat di zona menunjaman lempeng tektonik.
5). Gunung-laut (seamounts) adalah gubungapi bawah laut yang telah mati. Bila gununggunung tersebut muncul maka, menjadi pulau.
6). Rangkaian pulau-pulau (island chains).
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

2.4. SEDIMEN LAUT


Berdasarkan pada asal usulnya, sedimen laut dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu:
1). Sedimen Litogenik (terigennous), yaitu sedimen yang berasal dari pelapukan batuan yang telah
ada sebelumnya di daratan atau benua. Komponen sedimen ini adalah lumpur terrigen, endapan
longsoran atau turbidit, dan endapan es. Sekitar 30% dari lumpur terigen itu terdiri dari lanau
dan lempung yang. Mineral penyusunnya yang utama adalah kuarsa dan feldspar, dan mineralmineral lempung seperti illit, kaolinit, dan chlorit.
2). Sedimen Volkanogenik (volcanogenic sediments), yaitu sedimen yang berupa material volkanik
yang dilontarkan ketika terjadi erupsi gunungapi. Sedimen ini banyak dijumpai di kawasan
bergunungapi.
3). Sedimen Biogenik (biogenic sediments), yaitu sedimen yang dihasilkan oleh organisme atau
organisme itu sendiri. Organisme yang sangat umum adalah foraminifera, diatom, dan
radiolaria. Mineral-mineral yang utama di dalam sedimen biogenik adalah kalsit, aragonit,
silika, dan apatit. Ooze adalah sedimen biogenik berbutir halus yang tersusun oleh cangkangcangkang organisme mikro yang terakumulasi di laut dalam, seperti di dataran abisal.
4). Sedimen Hidrogenik (hydrogenic sediments), yaitu sedimen yang terbentuk oleh reaksi kimia
inorganik dari unsur-unsur yang terlarut di dalam air. Sedimen kelompok ini juga disebut
sebagai sedimen autigenik (authigenic sediments). Jenis-jenis sedimen ini yang umum adalah
zeolit, nodul mangan, nodul fosfat, dan endapan logam hidrotermal (metalliferous hydrothermal
deposits).
5). Sedimen Kosmogenik (cosmogenic sediments), yaitu sedimen yang berasal dari luar angkasa,
seperti meteorit atau debu ruang angkasa yang jatuh ke Bumi.

DAFTAR PUSTAKA
Cawood, P.A., 2005. Terra Australis Orogen: Rodinia breakup and development of the Pacific and
Iapetus margin of Gondwana during the Neoproterozoic and Paleozoic. Earth-Science
Review, 69: 249-279.
Dias, J.M.A., Gonzalez, R., Garcia, C. and Diaz-del-Rio, V., 2002. Sediment distribution pattern on
the Galicia-Minho continental shelf. Progress in Oceanography, 52: 215-231.
Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1985. Oceanography: an introduction, 3rd ed. Wadsworth
Publishing Company, Belmont, California, 530 p.
Le Pichon, X., Francheteau, J. and Bonnin, J., 1973. Plate Tectonics. Developments in Geotectonics
6, Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam, 300 p.
Skinner, B.J. and Porter, S.C., 2000. The Dynamic Earth: an introduction to physical geology, 4 th ed.
John Wiley & Sons, Inc., New York, 575 p.
Lutgens, F.K. and Tarbuck, E.J., 1979. The Atmosphere: introduction to meteorology. Prentice-Hall,
Inc., Englewood Cliff, New Jersey, 413 p.
Stimac, J.P., 2004. Origin of the Earths Atmosphere.
[Http://www.ux1.eiu.edu/%7Ecfjps/1400/atmos_origin.html]. Akses: 10 September 2005.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

Continental Margin. (http://www.harcourtschool.com/glossary/science/define/grb/abyssal_p6c.html)


10-3-2005

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Samudera
5/22/2012

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

10

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

3. SIFAT AIR LAUT


3.1. PENDAHULUAN
Air adalah penyusun utama laut. Air laut tersusun dari sekitar 97% air, dan mempunyai
beberapa karakteristik yang luar biasa dan sangat penting. Air memiliki titik didih yang tinggi
sehingga air umumnya dijumpai pada fase cair. Sesungguhnya, air adalah cairan utama di Bumi.
Air sangat penting bagi proses kehidupan. Hal itu karena kemampuan air yang unik
melarutkan hampir semua unsur dalam jumlah sedikit-sedikit. Selain itu, air penting karena
peranannya yang utama di dalam mengendalikan penyebaran panas di Bumi.
Bumi adalah salah satu planet di dalam sistem tatasurya. Di antara planet-planet yang ada di
dalam sistem tatasurya Matahari itu, Bumi sangat unik, karena adanya air bebas yang sangat banyak.
Air bebas di Bumi bergerak di antara daratan, lautan dan atmosfer dalam suatu siklus yang disebut
Siklus Hidrologi.
Air dari daratan masuk ke laut melalui aliran sungai-sungai dan air tanah. Di daratan, dalam
perjalanan ke laut, air mengerosi batuan dan tanah, dan secara perlahan-lahan melarutkan
bermacam-macam mineral dalam jumlah besar untuk selanjutnya dibawa masuk ke laut. Berkaitan
dengan sifat-sifat air laut yang luar biasa itu, di dalam bab ini akan diuraikan berbagai sifat fisik dan
kimia air laut yang utama.

3.2. SIFAT-SIFAT AIR


Air tersusun oleh dua aton hidrogen dan satu atom oksigen. Setiap atom hidrogen itu secara
kimiawi terikat pada atom oksigen. Atom oksigen memiliki sifat elektronegatif yang tinggi, karena
memiliki tiga pasang elektron bebas pada kulit atomnya. Setiap aton hidrogen yang berikatan
dengan aton oksigen, menyumbangkan satu elektron kepada aton oksigen, sehingga terbentuk suatu
keseimbangan. Ikatan atom-atom itu membentuk molekul air, seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur dan geometri molekul air. Dikutip dari Libes (1992).

Ujung-ujung atom hidrogen memiliki muatan positif yang kecil, sedang dua pasangan
elektron oksigen yang tidak berikanan membuat ujung atom oksigen memiliki muatan negatif.
Kemudian, karena muatan itu memiliki penyebaran muatan yang tidak sama, maka disebut polar
covalent bonds yang bersifat bipolar. Dua muatan positif dari atom hidrogen pada satu sisi dan
dua muatan negatif ganda dari atom oksigen membuat molekul-molekul air bersifat bipolar.
Akibatnya adalah, molekul-molekul air yang berdampingan cenderung untuk bergabung bersama,
tertahan oleh tarikan dari muatan yang berlawanan yang ada pada molekul yang berdampingan.
Muatan positif atom hidrogen dari satu molekul tertarik dengan muatan negatif atom oksigen dari
molekul yang lain, membentuk suatu ikatan yang disebut ikatan hidrogen (hydrogen bonds)
(Gambar 2).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

Gambar 2. Ikatan hidrogen diantara molekul-molekul air. Ikatan hidrogen


ditunjukkan dengan garis putus-putus. Dikutip dari Libes (1992).

Ikatan molekul air yang bermuatan itu lebih kuat daripada ikatan molekul tanpa muatan.
Keadaan itu membuat molekul air lebih stabil dan sulit terpisah untuk menjadi molekul-molekul air
yang terpisah. Susunan molekul air adalah susunan molekul yang sangat stabil.
Air adalah satu-satunya unsur di alam yang dijumpai dalam tiga fase (fase padat, cair dan
gas) secara bersamaan. Air dalam bentuk padat mempunyai susunan molekul yang sangat teratur,
sedang bila berada dalam bentuk gas susunan molekulnya sangat jarang (Gambar 3).

Gambar 3. Distribusi molekul unsur dalam fase padat, cair, dan gas. Volume
yang ditunjukkan dalam gambar adalah sama. Dikutip dari Libes (1992).

Tingkat kekompakan disebut dengan densitas (density), yang didefinisikan sebagai berikut:

Densitas

Massa
Volume

(1)

Densitas air murni pada temperatur 4oC adalah 1 g/cm3. Artinya 1 cm3 air memiliki massa 1
gram. Densitas adalah sifat bawaan (intrinsic) dari suatu unsur. Nilai densitas tetap konstan dan
tidak dipengaruhi oleh banyaknya unsur yang diukur. Misalnya, pada temperatur 4oC densitas 1000
kg dan 10 gram air tetap 1 g/cm3. Densitas air adalah fungsi dari temperatur. Makin tinggi
temperatur, makin rendah densitasnya (Gambar 3a).
Ikatan hidrogen menyebabkan diperlukan sejumlah energi untuk merubah air dari fase padat
menjadi cair dan gas. Ikatan hidrogen ini menyebabkan air meleleh pada temperatur 4 oC dan
mendidih pada 100oC. Bila tanpa ikatan hidrogen, maka air akan mendidih pada temperatur 68oC
dan membeku pada 90oC. Pada pemanasan air, kehadiran ikatan hidrogen menyebabkan panas yang
diberikan pada air bukan terpakai untuk menggerakkan molekul air, tetapi diserap oleh ikatan
hidrogen. Setelah ikatan hidrogen rusak, maka penambahan panas akan meningkatkan gerakan
molekul air. Peningkatan gerakan molekul air itulah yang diukur sebagai peningkatan temperatur
oleh termometer. Tingginya titik didih air menyebabkan air dapat menyerap panas dalam jumlah
besar (Gambar 4).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

Gambar 3a. Densitas air tawar dan es sebagai fungsi temperatur.


Perhatikan bahwa densitas maksimum air tawar adalah pada temperatur
4o C (Data dari Pauling 1953 dan Hutchinson 1957. Dikutip dari Berner
dan Berner, 1987).

Gambar 4. Transisi fase dari air yang disebabkan oleh perubahan kandungan
panas. Garis lereng menunjukkan kapasitas panas. Dikutip dari Libes (1992).

Specific heat (heat capacity, kapasitas panas) adalah banyaknya energi panas yang
diperlukan untuk menaikkan temperatur suatu unsur dalam jumlah tertentu. Kalori (energi) yang
diperlukan untuk menaikkan temperatur 1 gram cairan air sebesar 1 oC didefinisikan sebagai 1 kaloCMateri Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012
1 -1

g . Kapasitas panas es adalah 0,05 kaloC-1g-1 dan kapasitas panas uap air adalah 0,44 kaloC-1g-1.
Panas yang tersimpan di dalam sistem (air) disebut sebagai latent heat (panas laten). Panas ini
bisa dilepaskan ke atmosfer atau ke tubuh air yang lebih dingin.
Arti dari kapasitas panas dapat dipahami dari kasus berikut ini. Bila kita berada di pantai
pada siang hari dan memasukkan satu kaki ke air laut sedang kaki yang satunya tetap berada di atas
pasir. Kaki yang berada di dalam air akan merasakan air laut yang dingin sementara kaki yang
dipasir akan merasakan panas. Mengapa hal itu bisa terjadi, sementara pasir dan air laut menerima
energi panas dari sinar matahari dalam jumlah yang sama? Hal itu karena air menyerap panas
dengan tanpa mengalami peningkatan temperatur, sedang pasir mengalami peningkatan temperatur.
Tingginya kapasitas panas air penting bagi pengaturan iklim dan kehidupan di Bumi. Bila
musim panas, energi panas dapat disimpan oleh laut. Panas yang disimpan itu akan dilepas lagi ke
atmosfer pada saat musim dingin. Dengan demikian, samudera berperanan memoderatkan iklim,
mengurangi amplitudo variasi temperatur musiman.
Dengan demikian, panas laten yang tersimpan di dalam air laut adalah faktor penting di
dalam pertukaran energi yang menciptakan sistem cuaca di seluruh dunia. Pertukaran energi panas
antara samudera dan atmosfer juga merubah densitas massa air. Dengan demikian, energi panas juga
berperan di dalam sirkulasi air samudera (tentang sirkulasi karena densitas akan dibicarakan
kemudian).
Penambahan garam kepada air tawar akan menyebabkan terjadinya perubahan sifat-sifat air.
Penambahan ion garam ke dalam air menyebabkan molekul-molekul air terikat dan terbentuk hidrat.
Garam adalah material padat yang atom-atomnya terikat satu sama lain dengan ikatan ionik. Ikatan
tersebut adalah hasil dari tarikan elektrostatik antara ion-ion bermuatan positif (cation, kation) dan
ion-ion bermuatan negatif (anion, anion). Bila garam dimasukkan ke dalam air, seperti natrium
klorida (NaCl), akan mengalami pelarutan karena kation-kation dan anion-anion secara
elektrostatik menarik molekul-molekul air. Kation-kation menarik kutub oksigen dari molekul
air, dan anion-anion menarik kutub hidrogen. Karena dikelilingi oleh molekul-molekul air, ion-ion
terlalu jauh untuk dapat saling menarik satu sama lain. Dengan demikian, ikatan ionik rusak dan
ion-ion dikatakan terlarut (dissolved) atau terhidrasi (hydrated). Proses tersebut digambarkan
seperti pada Gambar 5.

Gambar 5. Dissolusi natrium (sodium) klorida di dalam air. Dikutip dari Libes (1992).

Beberapa perubahan penting yang terjadi itu antara lain (Gambar 6) adalah:
1) Kapasitas panas (specific heat, heat capacity) akan turun seiring dengan kenaikan salinitas. Di
pihak lain, pada air dengan salinitas normal, kapaitas panas akan naik seiring dengan naiknya
temperatur. Dengan kata lain, bila temperatur air naik, maka akan makin sulit untuk melepaskan
molekul air dari ion hidrat. Dengan demikian, titik didih air laut akan meningkat seiring dengan
Materi Pembekalan Peserta
4
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

peningkatan salinitas.
2) Densitas meningkat seiring hampir linier seiring dengan peningkatan salinitas.
Penambahan garam menurunkan temperatur densitas maksimum. Pada salinitas > 20, densitas
maksimum terjadi pada temperatur di bawah titik beku normal (0 oC).
3) Titik beku menurun seiring dengan penambahan garam. Karakter ini dikombinasikan
dengan efek temperatur dan salinitas terhadap densitas (densitas air laut naik bila temperatur
turun) memberi arti bahwa air dengan densitas tertinggi di samudera adalah air yang paling
dingin dan paling tinggi salinitasnya. Air dengan densitas terrendah adalah air dengan
temperatur tinggi dan bersalinitas rendah.
4) Tekanan uap (ukuran seberapa mudah molekul air lepas dari fase cair masuk ke fase gas) makin
turun seiring dengan peningkatan salinitas, karena garam cenderung membuat molekul air-bebas
untuk penguapan berkurang. Air tawar akan menguap lebih mudah daripada air laut. Diperlukan
panas yang banyak untuk meningkatkan tekanan uap sampai ke tekanan atmosfer, sehingga
sehingga titik didih air makin tinggi dengan meningkatnya salinitas.
5) Tekanan osmosis air naik seiring dengan peningkatan salinitas. Tekanan osmosis berkaitan
dengan aliran larutan melalui membran (selaput tipis berpori) semipermeabel. Banyak aliran
meningkat seiring dengan peningkatan salinitas.
6) Penambahan garam akan meningkatkan viskosita air. Hal ini karena tarikan elektrostatis antara
material terlarut dan air. Perbedaan viskositas akan mempengaruhi kecepatan suara di dalam air.
Pengetahuan tentang ini penting di dalam teknologi SONAR (sound navigation ranging).

Gambar 6. (a) Tekanan osmosis, (b) tekanan uap, (c) titik beku dan temperatur
densitas-maksimum sebagai fungsi salinitas. Dikutip dari Libes (1992).
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

Suatu konsekuensi penting dari keterkaitan antara salinitas, temperatur densitas-maksimum,


dan titik beku adalah:
1). Pada air dengan salinitas < 26, temperatur densitas-maksimum lebih tinggi dari pada
titik beku.. Dengan demikian, bila air laut terus mendingin, akan terus makin tinggi
densitasnya. Karena pendinginan dimulai dari permukaan, air permukaan akan lebih berat
daripada air di bawahnya dan akan turun. Air yang di sebelah bawah, yang lebih hangat dan
berdensitas lebih rendah, akan naik menggantikan air yang dingin dan, pada gilirannya air
itu sendiri akan mengalami pendinginan dan turun. Dengan cara seperti inilah sirkulasi airdalam terjadi, dan pembekuan akan terjadi bila seluruh tubuh air mengalami pendinginan
sampai titik beku.
2). Pada air dengan salinitas > 26, temperatur densitas-maksimum lebih rendah daripada
titik beku. Densitas air laut 33 37. Kalau air permukaan laut mengalami pendinginan
maka tidak mengalami anomali sifat densitas air tawar. Karena titik beku air laut lebih
tinggi daripada titik temperatur densitas maksimum, maka air akan tetap di dekat permukaan
dan mengalami pendinginan lebih lanjut, meskipun titik beku tercapai dan suatu lapisan es
terbentuk di permukaan. Lapisan es yang terbentuk di permukaan laut hampir seluruhnya air
tawar. Dengan demikian, hubungan antara salinitas, temperatur densitas-maksimum, dan
titik beku mencegah samudera membeku semuanya.
Menurut Tchernia (1980), perpotongan antara garis temperatur densitas maksimum dan titik beku
terjadi pada salinitas 24,7 (psu: ptactical salinity units).

3.3. KARAKTER UMUM AIR LAUT


Berikut diuraikan tentang tiga hal penting yang menggambarkan karakter umum air laut,
yaitu temperatur, salinitas, dan densitas. Selain itu, juga diuraikan tentang kecepatan suara, sinar di
laut, dan warna air laut. Kecepatan suara penting karena berkaitan dengan penerapan teknologi
ekosounder dalam mempelajari laut, sinar di laut berkaitan dengan kehidupan organisme, dan warna
air laut perlu dipelajari karena berkaitan erat dengan pengetahuan praktis berkaitan dengan berbagai
fenomena atau kondisi laut yang tercermin pada warna air laut.

3.3.1. Temperatur Air Laut


Permukaan samudera mendapat panas dari tiga sumber, yaitu: (1) radiasi sinar matahari, (2)
konduksi panas dari atmosfir, dan (3) kondensasi uap air. Sebaliknya, permukaan laut menjadi
dingin karena tiga sebab, yaitu: (1) radiasi balik dari permukaan laut ke atmosfer, (2) konduksi panas
balik ke atmosfer, dan (3) evaporasi. Sementara itu, di bawah permukaan laut, arus-arus horizontal
dapat mentransfer panas dari satu kawasan ke kawasan lain.
Radiasi sinar matahari adalah sumber panas utama bagi Bumi. Sebagian dari radiasi itu yang
sampai ke Bumi diserap dan sebagian yang lain dipantulkan oleh atmosfer. Radiasi yang diserap
oleh atmosfer itu selanjutnya sampai ke permukaan Bumi dan dikenal sebut sebagai insolation
(insolasi). Insolasi yang sampai ke permukaan laut sebagian dipantulkan dan sebagian yang lain
diserap oleh molekul-molekul air. Energi panas matahari yang diserap oleh molekul-molekul air
itulah yang dapat menyebabkan air menguap.
Insolasi tidak konstan, melainkan bervariasi sesuai dengan posisi geografi dan waktu.
Insolasi sinar matahari di suatu tempat di Bumi berkurang seiring dengan makin tingginya posisi
lintang karena sudut sinar matahari yang sampai ke Bumi juga meningkat (Gambar 7).
Daerah ekuator adalah daerah yang menerima insolasi terbanyak karena posisi matahari
berada pada sudut terbesar (90o) di atas ekuator. Sebaliknya, daerah kutub adalah daerah yang
menerima insolasi paling sedikit, karena matahari berada pada posisi sudut yang kecil. Pengaruh
sudut matahari adalah tiga kali. Di daerah lintang rendah, 1) sinar radiasi matahari tersebar di daerah
yang sempit, 2) sinar matahari juga melewati ketebalan atmosfer yang lebih kecil, dan 3) sedikit
insolasi yang dipantulkan dari permukaan Bumi.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

Gambar 7. Variasi intensitas penyinaran matahari sesuai dengan posisi lintang dan sudut
datang sinar matahari. Dikutip dari Berner dan Berner (1987).

Pengaruh variasi geografis terhadap insolasi menyebabkan temperatur permukaan air


meningkat seiring dengan menurunnya posisi lintang. Perubahan temperatur permukaan air laut
harian terjadi karena rotasi Bumi. Sedang fluktuasi musiman adalah akibat dari gerak revolusi Bumi
mengelilingi Matahari dan sumbu orbit Bumi yang miring 23,5o terhadap bidang orbit (Gambar 8).

Gambar 8. Revolusi Bumi mengelilingi Matahari. Dikutip dari Libes (1992).

Distribusi temperatur di permukaan samudera terbuka memperlihatkan pola zonal (berzonazona), dengan garis isotermal secara umum berarah timurbarat (Gambar 9). Di sepanjang sisi
timur samudera, temperatur permukaan yang rendah sering terjadi karena upwelling air dingin dari
bawah permukaan, seperti di pantai barat Amerika pada bulan Agustus. Variasi temperatur
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

permukaan dari daerah kutub utara dan selatan ke ekuator disajikan dalam Gambar 10.

Gambar 9A. Distribusi lateral temperatur permukaan di bulan Febuari. Dikutip dari Pickard dan
Emery (1995).

Gambar 9B. Distribusi lateral temperatur permukaan di bulan Agustus. Dikutip dari Pickard dan
Emery (1995).

Distribusi temperatur secara vertikal dapat dibagi menjadi tiga zona (Gambar 11), yaitu:
1) Lapisan campuran (mixed layer). Zona ini adalah zona homogen. Temperatur dan kedalaman
zona ini dikontrol oleh insolasi lokal dan pengadukan oleh angin. Zona ini mencapai kedalaman
50 sampai 200 meter.
2) Termoklin (thermocline). Di dalam zona transisi ini, temperatur air laut dengan cepat turun
seiring dengan bertambahnya kedalaman. Zona ini berkisar dari kedalaman 200 sampai 1000
meter.
3) Zona dalam (deep zone). Zona ini temperatur berubah sangat lambat atau relatif homogen.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

Gambar 10. Variasi temperatur, salinitas dan densitas permukaan


menurut posisi lintang. Nilai rata-rata untuk seluruh samudera. Dikutip
dari Pickard dan Emery (1995).

Termoklin di daerah kutub tidak terlihat, karena sebagian besar permukaan laut tertutup es
pada musim dingin dan mendapat radiasi sinar matahari yang kecil pada musim panas. Di daerah
tropis, termoklin dapat mendekat ke permukaan. Di daerah-daerah yang memiliki pemanasan
musiman yang kuat, yaitu di daerah lintang menengah, air laut memiliki termoklin temporer atau
musiman di lapisan permukaannya.

Gambar 11. Profil vertikal temperatur samudera pada (a) lintang menengah, (b) lintang
rendah, dan (c) lintang tinggi. Dikutip dari Libes (1992).

3.3.2. Salinitas Air Laut


Salinitas adalah ukuran yang dipergunakan untuk mengukur kandungan garam (saltiness) di
dalam ai laut. Unsur-unsur dalam bentuk ion yang melimpah menyusun kandungan garam di dalam
air laut adalah Cl-, Na+, Mg2+, SO42-, Ca2+, dan K+. Ion-ion tersebut proporsinya di dalam air laut
Materi Pembekalan Peserta
9
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

adalah konstan karena konsentrasinya ditentukan oleh proses-proses fisika. Karena sifatnya yang
demikian itu, ion-ion tersebut disebut ion konservatif (conservative ions). Secara keseluruhan,
semua unsur tersebut menyusun lebih dari 99,8% material yang terlarut di dalam air laut. Di antara
ion-ion itu, sodium (natrium, Na) dan klorin (Cl) menyusun sekitar 86%. Secara teoritis,
salinitas didefinisikan sebagai banyak gram total ion-ion garam yang terlarut di dalam 1 kg air laut.
Secara matematis definisi tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:

S ()

gram ion inorganik terlarut


x1000
1 kg air laut

(3.1)

Pengukuran salinitas berdasarkan teori itu sangat sulit dilakukan dan terlalu lambat untuk
dilakukan sebagai pekerjaan rutin. Hal itu terutama bila dilakukan di lapangan ketika penelitian
dilakukan dengan menggunakan kapal. Cara yang paling akurat dan teliti untuk mengukur salinitas
adalah dengan menggunakan salinometer induktif, yang mengukur konduktifitas sampel air laut.
Sebanyak 99% air laut di samudera mempunyai salinitas antara 33 sampai 37, dengan
rata-rata 35 yang ekivalen dengan larutan garam 3,5%. Di Laut Baltik, yang banyak curah
hujan dan aliran sungai masuk ke dalamnya, tercatat salinitas terrendah, yaitu 12. Di Laut Merah,
yang sedikit masukan air tawar dan berevaporasi tinggi, tercatat salinitas tertinggi, yaitu 40 sampai
42.
Salinitas air permukaan laut sangat ditentukan oleh evaporasi dan presipitasi. Salinitas akan
naik bila evaporasi naik dan presipitasi turun (Gambar 12). Faktor-faktor lain yang dapat juga
mempengaruhi salinitas air laut adalah pembekuan es, masuknya air sungai ke laut, dan pencairan
es.

Gambar 12. Salinitas permukaan (S, rata-rata untuk semua samudera) dan
perbedaan antara evaporasi dan presipitasi (E-P) menurut posisi lintang. Dikutip
dari Pickard dan Emery (1995).

Pola distribusi salinitas air permukaan laut pada dasarnya berzonasi, walaupun zona-zona
yang ada tidak sejelas temperatur (Gambar 13). Distribusi salinitas permukaan rata-rata memiliki
nilai minimum di sebelah utara equator dan nilai maksimum di daerah sub-tropis, yaitu kira-kira 25o
Lintang Utara dan Lintang Selatan. Salinitas minimum dan maksimum tampak di setiap samudera.
Nilai salinitas menurun ke arah lintang tinggi.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

10

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

Gambar 13. Pola distribusi salinitas permukaan bulas Agustus. Dikutip dari Pickard dan Emery
(1995).

Seperti halnya temperatur, profil vertikal salinitas air laut bervariasi sesuai dengan posisi
lintang. Berlainan dengan profil temperatur, profil vertikal salinitas tidak memperlihatkan adanya
pola seragam seiring dengan pertambahan kedalaman. Seperti diperlihatkan pada Gambar 14, di
daerah berlintang menengah dan rendah, air-dalam cenderung memiliki salinitas yang lebih rendah
daripada air permukaan. Di daerah berlintang tinggi, di daerah kutub, salinitas permukaan lebih
rendah daripada salinitas air-dalam.

Gambar 14. Tipe profil vertikal salinitas di samudera terbuka. Dikutip dari
Pickard dan Emery (1995).

Profil salinitas memperlihatkan adanya tiga atau empat zona (Gambar 14), yaitu:
1) Lapisan campuran (mixed layer). Ketebalannya 50 sampai 100 meter, dan mempunyai salinitas
seragam. Daerah tropis dan daerah berlintang tinggi dan menengah, memiliki salinitas
permukaan tinggi, sedang daerah berlintang tinggi memiliki salinitas rendah.
2) Haloklin (halocline), adalah zona dimana salinitas mengalami perubahan besar.
3) Zona dalam (deep zone) adalah zona di bawah haloklin sampai dasar laut, dan memiliki
salinitas relatif seragam.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

11

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

4) Di daerah berlintang rendah dan menengah, terdapat salinitas minimu pada kedalaman 600
sampai 1000 meter.

3.3.3. Densitas Air Laut


Nilai densitas air laut dikontrol oleh tiga variabel yang berinteraksi sangat kompleks, yaitu
salinitas, temperatur, dan tekanan. Secara umum, densitas meningkat dengan meningkatnya salinitas,
meningkatnya tekanan (atau kedalaman), dan turunnya temperatur. Densitas air laut dapat dihitung
bila ketiga variabl itu dapat diketahui. Di permukaan laut, perubahan densitas air laut terjadi karena
proses-proses evaporasi atau pemanasan yang terjadi di permukaan laut. Hubungan antara densitas
air laut dan temperatur dapat dilihat dalam Gambar 10.
Profil vertikal densitas (Gambar 15) memperlihatkan bahwa pengaruh yang kuat dari
temperatur terhadap densitas, terutama di daerah lintang rendah dan menengah. Di kedua daerah
tersebut, termoklin menghasilkan perubahan gradien densitas yang kuat yang disebut piknoklin
(pycnocline). Di daerah berlintang tinggi, kutub, tidak terlihat adanya piknoklin yang kuat.
Stratifikasi densitas di daerah lintang rendah dan menengah adalah sebagai berikut:
1) Lapisan atas, dengan ketebalan sekitar 100 meter, mempunyai densitas hampir seragam.
2) Piknoklin (pycnocline), yaitu zona dimana densitas bertambah dengan cepat seiring dengan
bertambahnya kedalaman.
3) Zona dalam, adalah zona di bawah piknoklin, dengan densitas meningkat sangat pelan dengan
bertambahnya kedalaman.

Gambar 15. Profil vertikal densitas samudera. Dikutip dari Libes (1992).

Statifikasi vertikal densitas menghambat terjadinya percampuran air laut secara vertikal.
Banyak energi yang diperlukan agar dapat terjadi percampuran vertikal di kedua kawasan tersebut.
Di daerah berlintang tinggi, kutub, lebih sedikit energi yang diperlukan untuk terjadinya
percampuran vertikal. Hal itu karena di daerah tersebut tidak terdapat piknoklin yang kuat.
Stratifikasi densitas dan perbedaan densitas diantara dua massa air di laut-dalam
mencerminkan asal-usul proses permukaan laut. Perubahan densitas disebabkan oleh pemanasan dan
pendinginan, evaporasi, penambahan air tawar, dan pendinginan oleh es di laut (Berner dan Berner,
1987). Di daerah berlintang tinggi, air di permukaan memiliki densitas yang lebih tinggi dari pada
air permukaan di daerah berlintang rendah, karena pengaruh pendinginan dari udara dan dari
pembentukan es. Di tempat-tempat tertentu di Samudera Atlantik di utara dan di selatan, air
permukaan memiliki densitas yang lebih tinggi dari pada air yang ada di bawahnya. Karena gaya
gravitasi dan gaya apung, air dengan densitas tinggi akan bergerak turun ke dalam laut dan air
dengan densitas rendah bergerak naik ke permukaan laut. Kecenderungan ini menyebabkan
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

12

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

terjadinya gerakan air laut dengan cara adveksi (advection), yaitu gerakan air laut horizontal dan
vertikal, seperti yang terjadi pada sirkulasi termohalin (thermohaline circulation) (Gambar 16).
Penurunan temperatur di daerah lintang tinggi meningkatkan densitas air laut. Karena densitasnya
yang tinggi air laut turun (tenggelam) hingga mencapai tingkat kedalaman dengan densitas yang
sesuai. Arus konveksi ini adalah contoh dari gerakan adveksi vertikal. Penenggelaman yang
berlanjut menyebabkan air-dalam tertekan secara horizontal di sepanjang daerah dengan densitas
yang sesuai, yang menghasilkan arus laut dalam. Arus laut dalam ini adalah contoh adveksi
horizontal.

Gambar 16. Sirkulasi termohalin. (a) memperlihatkan gradien temperatur, (b)


memperlihatkan gradien salinitas. Dikutip dari Libes (1992).

3.3.4. Suara di Laut


Suara di dalam air adalah alat yang sangat penting bagi para ahli oseanografi. Suara dipakai
untuk mengukur kedalaman laut, seperti yang dipergunakan para ahli geologi untuk mempelajari
karakter dan ketebalan kerak Bumi. Para ahli oseanografi biologi dapat mempergunakan suara untuk
mendetaksi dan mempelajari organisme laut. Bagi angkatan laut, suara dipergunakan untuk
mendeteksi kapal selam dan menentukan posisi suatu objek di dasar laut.
Kecepatan suara di laut tergantung pada temperatur, salinitas, dan tekanan (kedalaman).
Kecepatan suara di dalam air laut berkisar dari 1400 sampai 1570 meter per detik. Kecepatan suara
meningkat dengan meningkatnya temperatur, salinitas, dan kedalaman. Kecepatan suara di dalam air
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

13

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

dengan salinitas 34,85 dan temperatur 0oC adalah 1445 m/dt. Penigkatan salinitas sebesar 1%
akan meningkatkan kecepatan sebesar 1,5 m/dt; peningkatan temperatur 1 oC akan meningkatkan
kecepatan suara 4 m/dt; peningkatan kedalaman 1000 m akan meningkatkan kecepatan sekitar 18
m/dt.
Profil kecepatan suara di dalam samudera dapat dibagi menjadi tiga zona (Gambar 17),
yaitu:
1) Zona permukaan (ketebalan 100 150 m). Di dalam zona ini, kecepatan suara meningkat
dengan bertambahnya kedalaman karena pengaruh tekanan (kedalaman).
2) Zona tengah (dapat mencapai kedalaman 1500 m). Di dalam zona ini, kecepatan suara
berkurangkarena berkurangnya temperatur secara cepat (termoklin).
3) Zona bawah (di bawah 1500 m). Di dalam zona ini kecepatan suara meningkat dengan
meningkatnya tekanan (kedalaman), sedang temperatur relatif konstan.

Gambar 17. Pola rambatan suara di laut. Menurut R.A.Fosch seperti yang dikutip oleh
Victoria Kaharl, 1999, Sounding out the oceans secrets, dalam Beyond Discovery: The
Path from Research to Human Benefit, National Academic of Sciences.

Gambar 18. Posisi saliran suara di laut. Dikuti dari Victoria Kaharl, 1999, Sounding out
the oceans secrets, dalam Beyond Discovery: The Path from Research to Human
Benefit, National Academic of Sciences.

Gelombang suara, seperti gelombang samudera, dapat mengalami refraksi dan dengan
demikian akan membelok ke daerah kecepatan suara rendah. Refraksi gelombang berkombinasi
Materi Pembekalan Peserta
14
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

dengan variasi vertikal kecepatan suara di dalam laut dapat menghasilkan zona bayangan (shadow
zona) dan saluran suara (sound channels) (Gambar 18). Zona bayangan adalah suatu daerah dimana
relatif sedikit suara yang menembusnya. Zona ini terjadi di bagian atas samudera ketika gradien
kecepatan suara positif (peningkatan kecepatan suara) berada di atas gradien kecepatan suara negatif
(penurunan kecepatan suara) dan suara berada di dalam zona gradien positif (Gambar 18). Suara
mengalami refraksi ke arah atas di dalam daerah gradien positif dan ke arah bawah di dalam daerah
gradien negatif, dan menghasilkan zona bayangan.
Saluran suara terjadi di dalam area dimana kecepatan suara mencapai nilai minimum. Suara
yang terjadi dan merambat di dalam zona bernilai minimum ini mengalami refraksi ke atas dan ke
bawah ke daerah berkecepatan lebih rendah dan dengan demikian kembali masuk ke dalam zona
bernilai minimum. Di dalam zona ini, hanya sedikit energi yang hilang karena penyebaran vertikal,
dan suara dapat disalurkan sampai ribuan kilometer. Kecepatan suara minimum umumnya terjadi
pada kedalaman sekitar 150 m. Zona saluran suara ini disebut saluran SOFAR (sound fixing and
ranging).
Ketika suara merambat di dalam air, energinya berkurang karena tersebar, diserap, dan
terhamburkan. Suara hilang karena tersebar sebanding dengan jarak lintasannya. Suara dapat diserap
oleh air dan dikonversi menjadi panas. Suara dapat dihamburkan oleh partikel-partikel, organisme
laut, gelembung-gelembung gas, dan dasar laut. Suara juga dapat dipantulkan oleh dasar laut.

3.3.5. Sinar di Laut


Sinar matahari hanya dapat menembus lapisan permukaan laut. Kedalaman penetrasi cahaya
menentukan ketebalan zona eufotik (euphotic zone), yaitu zona tempat terjadinya fotosintesis yang
menghasilkan unsur-unsur organik oleh tumbuhan. Zona eufotik membentang dari permukaan laut
sampai kedalaman yang hanya 1% sinar dapat masuk. Kedalam zona ini sangat bervariasi. Di Laut
Mediterania dan Karibia, zona eufotik menacapai kedalaman 100 sampai 160 m. Di daerah dekat
pantai, penetrasi sinar matahari hanya sampai 15 m.
Tumbuhan adalah sumber makanan yang utama bagi organisme di laut. Oleh karena itu,
ketebalan zona eufotik sangat penting. Tumbuhan plankton umumnya tidak dapat tumbuh di
kedalaman dengan sinar yang tersedia <1%. Dengan demikian, sebagian besar produktifitas terjadi
di dekat permukaan.
Kedalam penetrasi sinar matahari ke dalam laut tergantung pada empat faktor utama, yaitu
(1) tutupan awan, (2) sudut inklinasi sinar matahari yang mencapai permukaan Bumi, (3) banyaknya
material inorganik yang tersuspensi, dan (4) densitas populasi organisme plankton.

3.6. Warna Laut


Samudera dan laut di Bumi mempunyai warna yang beraneka ragam. Nama dari beberapa
laut di Bumi mengacu kepada warna, seperti: Laut Hitam (Black Sea) diberi nama itu karena tampak
gelap yang disebabkan oleh dasar lautnya yang tertutup oleh sedimen berwarna hitam; Laut Kuning
(Yellow Sea) diberi nama itu karena tampak kuning yang disebabkan oleh banyaknya muatan lumpur
berwarna kuning yang dimasukkan oleh sungai, terutama selama musim banjir; Laut Merah (Red
Sea) diberi nama itu karena tampak merah yang disebabkan oleh adanya alga (blue-green algae)
yang berwarna merah; Laut Putih (White Sea) diberi nama itu karena permukaannya tampak putih
oleh air yang membeku lebih dari 200 hari dalam setahun.
Warna adalah fungsi dari spektrum sinar. Sinar putih tersusun oleh warna merah, oranye,
kuning, hijau, biru, dan ungu. Warna laut di kawasan tertentu kita lihat dapat berubah karena awan
yang melintas atau karena perubahan sudut matahari. Laut umumnya tampak biru karena sinar biru
yang memiliki panjang gelombang yang lebih pendek (dibandingkan warna merah), sehingga lebih
mudah dihamburkan oleh partikel-partikel air dan material-material mikroskopis di dalam air.
Sesungguhnya, warna laut pada umumnya adalah fungsi dari penghamburan sinar melalui partikelpartikel yang tersuspensi, refleksi warna langit, dan sifat dari material yang tersuspensi dan terlarut
di dalam air. Semua sinar berasal dari Matahari, dan sinar atau warna yang dilihat seseorang tidak
mewakili seluruh spektrum radiasi sinar matahari.
Warna laut juga dapat memberikan beberapa indikasi (Gambar 19A dan B), antara lain:
1) Laut berwarna biru gelap, bila laut dalam dan airnya jernih, dan tidak banyak mengandung
Materi Pembekalan Peserta
15
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

organisme plankton mikroskopis.


2) Laut berwarna coklat, coklat muda, coklat kekuningan, atau biru kecoklatan, bila banyak muatan
suspensi di dalam air laut. Keadaan ini umumnya terjadi atau dijumpai di perairan dangkal,
dekat pantai, khususnya di sekitar muara sungai pada saat banjir.
3) Laut berwarna biru muda jernih, bila air dangkal dan jernih, seperti di kawasan terumbu karang.
4) Laut berwarna merah, merak kecoklatan, hijau, hijau-kuning, oranye atau putih keruh,
mengindikasikan terjadinya blooming fitoplankton atau red tide. Pada peristiwa itu, terjadi
penigkatan jumlah fitoplankton dalam jumlah besar dalam waktu yang cepat.

Gambar 19. Warna laut yang memberikan indikasi tentang perbedaan kedalaman (19A-Foto kiri, Pantai
Bosnik, Biak September 2002), dan juga perbedaan kandungan muatan suspensi (19B-Foto kanan, Pantai utara
Pulau Seram bagian timur, difoto dari udara, September 2002).

Pada teknologi penginderaan jauh, intensitas warna air laut yang terekam dipakai sebagai
dasar untuk melakukan analisis dan interpretasi, seperti kondisi temperatur perairan laut, kondisi
lingkungan laut, kedalaman perairan, penyebaran kekeruhan, dan berbagai fenomena lain.

3.4. KOMPOSISI KIMIA AIR LAUT


Komposisi kimia air laut secara umum dapat dikelompokkan menjadi: (1) unsur-unsur
inorganik terlarut (dissolved inorganic matter), (2) unsur-unsur organik terlarut (dissolved organik
matter), dan (3) gas-gas terlarut (dissolved gases). Variasi komposis kimia air laut dar satu tempat ke
tempat lain tergantung pada kondisi lingkungan lokal, seperti kelimpahan biota, kehadiran muara
sungai, dan berbagai kondisi geologi dan meteorologi.

3.4.1. Unsur-unsur Inorganik Terlarut


Menurut beratnya, air laut terdiri dari sekiar 96,5% air murni dan sekitar 3,5% (atau 35)
unsur inorganik terlarut. Sebagian besar unsur-unsur kimia yang sekarang diketahui, dijumpai di
dalam aiur laut (Gambar 20). Unsur-unsur inorganik tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga
kelompok, yaitu:
1) Unsur Mayor, yaitu unsur-unsur yang jumlahnya lebih besar dari 100 ppm (part per million)
atau 100 mg per liter. Unsur-unsur tersebut adalah Klor (Cl: 19.353 ppm); Sodium atau Natrium
(Na: 10.760 ppm); Belerang atau Sulfur dalam bentuk Sulfat (SO42-: 2.712 ppm); Magnesium
(Mg: 1.294 ppm); Kalsium (Ca: 412 ppm); dan Potasium atau Kalium (K: 387 ppm).
2) Unsur Minor, yaitu unsur-unsur yang konsentrasinya lebih dari 1 ppm tetapi kurang dari 100
ppm. Unsur-unsur tersebut adalah Brom (Br: 65 ppm); Karbon (C: 28 ppm); Stronsium (Sr: 8
ppm); Boron (B: 4,6 ppm); Silikon (Si: 3 ppm); dan Fluor (F: 1 ppm).
3) Unsur Jejak (Trace Elements), yaitu unsur-unsur yang konsentrasinya kurang dari 1 ppm.
Beberapa unsur jejak yang utama adalah Nitrogen (N: 0,5 ppm); Litium (Li: 0,17 ppm);
Rubidium (Rb: 0,12 ppm); Fosfor (P: 0,07 ppm); Iodium (I: 0,06 ppm); Besi atau Ferum (Fe:
0,01 ppm); Seng (Zn: 0,01 ppm); Molibdenum (Mo: 0,01 ppm). Selain itu terdapat setidaknya
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

16

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

52 unsur yang dijumpai dengan konsentrasi lebih kecil.

Gambar 20. Susunan berkala unsur. Unsur-unsur yang tidak di dalam tanda
kurung, dijumpai di air laut. Dikutip dari Ingmanson dan Wallace (1973).

Sebagian besar unsur-unsur terlarut di dalam air laut dijumpai dalam bentuk ion. Garamgaram laut terdiri terutama dari beberapa unsur mayor yang dijumpai dalam berbagai bentuk variasi
kombinasi. Sebagian besar ion-ion garam-garam laut dihasilkan dari senyawa-senyawa berikut:
Sodium klorida atau Natrium klorida (NaCl); Magnesium klorida (MgCl 2); Magnesium sulfat
(MgSO4); Kalsium sulfat (CaSO4); Potasium sulfat atau Kalium sulfat (K2SO4); Magnesium
bromida (MgBr2); Kalsium karbonat (CaCO3); Sodium sulfat atau Natrium sulfat (NaSO4); dan
Potasium klorida atau Kalium klorida (KCl).

3.4.2. Unsur-unsur Organik Terlarut dan Nutrien


Kehadiran unsur-unsur organik di dalam air laut jumlahnya relatif sedikit, dan biasanya
hadir dalam jumlah yang bervariasi antara 0 6 mg per liter. Sumber dari unsur-unsur organik
adalah dari ekresi organisme dan hancuran dari organisme yang mati. Unsur-unsur yang termasuk ke
dalam unsur-unsur organik terlarut (dissolved organic matters DOM) adalah nitrogen (N) dan
fosfor (P) yang secara kimiawi membentuk senyawa organik dan bahkan teroksidasi, atau kadangkadangn oleh bakteri, terubah menjadi nitrat (NO3-) dan fosfat (PO43-). Nitrogen dan fosfos adalah
dua unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk membentuk unsur-unsur organik, karena itu,
keduanya disebut sebagai nutrien (nutrient). Di laut, konsentrasi nitrogen dan fosfat relatif kecil.
Akibatnya, penyebarannya di dalam air laut dikontrol oleh proses kimia yang berlangsung secara
biologis (biologically mediated redox processes) yang juga mengontrol siklus biogeokimia unsur
organik. Dengan demikian, nitrogen dan fosfor disebut sebagai biolimiting elements. Sebagai
pembanding, unsur karbon dan sulfur lebih banyak dijumpai di dalam air laut. Distribusinya
dipengaruhi oleh proses-proses fisika dan biogeokimia. Karena proses biologis memiliki pengaruh
yang kecil terhadap distribusinya di laut, maka keduanya disebut sebagai biointermediate elements.
Selain nitrat dan fosfat, senyawa-senyawa organik terlarut lainnya di dalam air laut adalah karbon
organik, karbohidrat, protein, asam-asam amino, asam-asam organik, dan vitamin-vitamin.
Selain nitrat (NO3-) dan fosfat (PO43-), di laut ada nutrien ke-tiga, yaitu silikat (SiO4-).
Silikat dibutuhkan oleh organisme laut untuk membentuk dinding luar yang keras pada organisme
bersel tunggal seperti diatom, dan skeletal pada beberapa protozoa. Ketiga unsur nutrien ini masuk
kelaut melalui sungai dan aliran permukaan bersama-sama unsur terlarut lainnya.
Semua unsur-unsur organik yang terbentuk di perairan permukaan terutama oleh proses
fotosintesis. Proses fotosintesis membutuhkan sinar matahari, oleh karena itu, hanya terjadi di
kedalaman air yang dapat ditembus oleh sinar matahari, yaitu hanya sampai 200 meter dari
permukaan samudera, yang disebut dengan zona eufotik (euphotic zone). Oganisme yang terlibat
dalam proses fotosintesis adalah fitoplankton.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

17

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

Persamaan reaksi fotosintesis adalah sebagai berikut:


Matahari
106CO2 16NO3-1 HPO-24 122H 2 O 18H 1 Sinar

C106 H 263O110 N16 P 138O2

Reaksi di atas memperlihatkan bahwa fotosintesis tidak hanya mengkonsumsi CO 2 dari larutan dan
menghasilkan O2, tetapi juga membutuhkan nutrien, seperti nitrat dan fosfat.
Konsentrasi nitrat dan fosfat di perairan permukaan bervariasi, oleh karena itu, laju
fotosintesis, yang dikenal dengan produktivitas planktonik (planktonic productivity), juga
bervariasi. Laut dengan produktifitas tinggi terjadi di samudera terbuka melalui proses percampuran
yang membawa air dari laut dalam yang kaya dengan nutrien ke permukaan. Di perairan pesisir
dekat pantai, produktifitas tinggi terjadi karena nutrien yang dimasukkan oleh aliran sungai dari
darat ke perairan pesisir. Konsentrasi nitrat dan fosfat yang sangat tinggi dijumpai di bawah lapisan
permukaan (Gambar 21 dan 22).
Oksige tampak tinggi di lapisan permukaan (Gambar 21), kondisi ini terjadi karena
percampuran dan fotosintesa yang terjadi. Fotosintesa mengkonsumsi nutrien dan karbon dioksida,
yang menyebabkan rendahnya konsentrasi ketiga unsur tersebut di permukaan. Selanjutnya,
tingginya fosfat dan nitrat di sebelah bawah termoklin menunjukkan banyak material organik
(Particulate Organic Matter = POM) yang turun dari lapisan permukaan dan tidak mengalami
pengadukan di lapisan termoklin.

Gambar 21. Profil kedalaman (a) salinitas, (b) temperatur, (c) oksigen terlarut (O2), (d)
nitrat, (e) fosfat, (f) silikon terlarut (g) inorganik karbon terlarut total di daerah lintang
menengah. Dikutip dari Libes (1992).

Kolom air di bawah lapisan permukaan atau zona eufotik tidak dapat ditembus oleh sinar
matahari, sehingga disebut zona afotik (aphotic zone). Oleh karena itu, proses apapun yang
membawa air dari bawah lapisan permukaan ke dalam zona permukaan yang dapat ditembus oleh
sinar matahari, akan membantu fotosintesis. Dua proses utama yang dapat menyebabkan hal tersebut
adalah coastal upwelling (upwelling di perairan pesisir) dan percampuran massa air di lintang
tinggi pada sirkulasi air dalam (deep water circulation). Gambaran profil vertikal konsentrasi nitrat
dan fosfat dari tiga samudera utama dapat dilihat pada Gambar 22.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

18

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

Gambar 22. Prifil kedalaman rata-rata nitrat dan fosfat terlarut di tiga samudera utama. Dikutip dari
Berner dan Berner (1987).

Gambar 23. Siklus biogeokimia dari detritus material organik (Particulate Organic Matter POM). (1)
fotosintesis, (2) komsumsi (3) mati, (4) konsumsi detritus, (5) ekskresi POM dan mati, (6) konsumsi,
(7) konsumsi detritus, (8) ekskresi POM dan mati, (9) degradasi oleh bakteri, (10) regenerasi nutrien,
(11) ekskresi nutrien, (12) POM tenggelam, (13) konsumsi, (14) sedimentasi, (15) regenerasi nutrien,
(16) konsumsi, (17) ekskresi, (18) regenerasi nutrien, (19) transportasi nuterien secara vertikal, (20)
asimilasi nutrien. Dikutip dari Libes (1992).
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

19

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

Fitoplankton dimakan oleh zooplankton, selanjutnya zooplankton dimakan oleh ikan, dan
seterusnya dalam suatu rantai makanan. Selama proses tersebut berlangsung, respirasi terjadi baik
oleh organisme tingkat tinggi maupun bakteri. Respirasi adalah kebalikan dari fotosintesis. Dengan
kata lain, oksigen diambil dari larutan dan CO2, nitrat dan fosfat dilepaskan ke dalam larutan. Laju
fotosintesis dan respirasi teratur dalam keseimbangan yang baik di perairan permukaan, tetapi tidak
betul-betul sama. Sebagian kecil unsur organik yang mati tenggelam ke perairan yang lebih dalam.
Unsur-unsur organik yang tenggelam itu kemudian mengalami oksidasi oleh bakteri di air dalam dan
menghasilkan CO2, nitrat dan fosfat, dan mengkonsumsi O2 (tanpa fotosintesis) (Gambar 23). Proses
oksidasi oleh bakteri ini menyebabkan tingginya konsentrasi nitrat, fosfat, dan CO 2, dan rendahnya
O2 di perairan dalam (Gambar 21 dan 22).

3.4.3. Gas-gas Terlarut


Gas-gas utama (major gases) yang terdapat di laut adalah nitrogen (N2), oksigen (O2), dan
karbon dioksida (CO2). Gas-gas lain yang hadir dalam jumlah yang sedikit adalah helium (He), dan
gas-gas inert (tidak reaktif), yaitu neon (Ne), argon (Ar), Krypton (Kr), dan Xenon (Xe).
Gas-gas hadir di dalam air laut umumnya masuk melalui atmosfer. Beberapa gas jarang
(rare gas) dapat hadir di dalam air laut melalui proses peluruhan radioaktif (radioactive decay) di
dalam sedimen di dasar laut.
Kelarutan gas, atau kemampuan gas untuk masuk ke dalam larutan, tergantung pada tiga hal,
yaitu: (1) temperatur gas dan larutan; kelarutan gas meningkat dengan berkurangnya temperatur, (2)
tekanan atmosfer parsial gas; kelarutan gas meningkat dengan menigkatnya tekanan, dan (3)
kandungan garam dalam larutan (salinitas); kelarutan gas berkurang dengan meningkatnya salinitas.
Kuantitas kandungan gas di dalam air laut, dengan pengecualian oksigen (O2) dan karbon dioksida
(CO2), sangat ditentukan oleh ketiga faktor tersebut di atas. Gas-gas yang konsentrasinya dapat
dipredikasi, relatif tidak rekatif di dalam lingkungan laut. Oleh karena itu, bila kuantitas gas lebih
tinggi atau lebih rendah dari pada yang ditunjukkan oleh ketiga faktor yang menentukan di atas,
maka hal itu menunjukkan adanya sesuatu di lingkungan laut yang menyebabkan variasi itu.
Oksigen dan karbon dioksida adalah gas-gas yang konsentrasinya dapat bervariasi secara
independen terhadap faktor di atas. Kedua gas itu dengan demikian bersifat reaktif di dalam
lingkungan laut.

3.4.3.1. Nitrogen
Kandungan nitrogen di dalam air laut adalah 64% dari seluruh kandungan gas terlarut di
dalam air laut. Secara biologis, nitrogen terlarut di dalam air tidak penting, karena sebagian hewan
tidak dapat memanfatkan nitrogen bebas. Senyawa nitrogen yang penting bagi makanan sebagian
besar hewan diperoleh dari tumbuhan dan hewan yang merupakan bagian dari rantai makanan
(Gambar 23). Agar bisa dimanfaatkan, nitrogen bebas harus berada dalam bentuk senyawa.
Organisme yang berperanan dalam proses ini adalah bakteri pengikat nitrogen (nitrogen-fixing
bacteria). Nitrat dihasilkan oleh reaksi kimia selama metabolisme tumbuhan dan hewan. Tumbuhan
dan hewan itu kemudian menjadi sumber nitrogen bagi tingkat kehidupan lain yang lebih tinggi.

3.4.3.2. Oksigen
Air laut mengandung oksigen sebanyak 34% dari seluruh total gas yang terlarut di dalam air
laut. Konsentrasi oksigen di dalam air laut sangat bervariasi. Di perairan permukaan (zona fotik),
konsentrasi oksigen berkaitan dengan temperatur. Makin tinggi temperatur, kelarutan gas makin
rendah. Beberapa ratus meter di bawah zona eufotik, biasanya terdapat zona oksigen-minimum
(oxygen-minimum zone) atau lapisan miskin oksigen (oxygen-poor layer) (Gambar 24). Zona itu
terbentuk karena fenomena biologis.
Air laut memiliki dua sumber oksigen, yaitu dari atmosfer dan fotosintesis. Seperti telah
diuraikan sebelumnya, fotosintesis menghasilkan oksigen. Unsur-unsur organik dan oksigen
dipergunakan dan dikonsumsi sebagian besar di dalam zona afotik oleh organisme, termasuk bakteri.
Proses ini, yang disebut respirasi (respiration), menyebabkan oksigen dikonsumsi dan dikeluarkan
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

20

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

sebagai gas dari air laut. Inilah yang menyebabkan terbentuknya zona oksigen-minimum.
Zona oksigen-minimum terjadi terutama karena respirasi hewan dan tumbuhan, dan karena
oksidasi detritus material organik oleh bakteri. Ada tidaknya zona ini tergantung pada apakah
deplesi oksigen oleh respirasi melewati oksigen yang diperbaharui oleh percampuran antara air
permukaan dengan air dalam. Peningkatan oksigen di bawah zona oksigen minimum dipercaya
adalah karena pemasukan air yang kaya oksigen dari daerah kutub ke bagian samudera yang dalam
(Gambar 25). Kehadiran oksigen di seluruh kedalaman air menunjukkan adanya sirkulasi dan
interaksi diantara massa air dari berbagai tingkat kedalaman. Sementara itu, tingginya kandungan
oksigen di lapisan permukaan laut (zona eufotik) adalah karena aktifitas fotosintesis dari
fitoplankton dan pelarutan dari atmosfer.

Gambar 24. Pola distribusi vertikal konsentrasi oksigen dan fosfor di


samudera. Dikutip dari Ross (1977).

Gambar 25. Profil vertikal Temperatur, Salinitas, dan Oksigen yang diukur
di Samudera Atlantik Selatan. Dikutip dari Ross (1977).

Oksigen dipergunakan oleh hewan, bakteri, dan mikroorganisme heterotropik untuk


respiras. Tanpa oksigen, atau kekurangan oksigen, dapat menyebabkan kematian semua organisme
tersebut.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

21

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

3.4.3.3. Karbon Dioksida


Gas karbon dioksida (CO2) adalah penyusun air laut yang penting. Gas ini masuk ke dalam
air laut sebagai gas terlarut, dan kemudian membentuk asam lemah H2CO3. Gas ini kemudian
berkombinasi dengan air laut dan menghasilkan material karbonat yang banyak dijumpai di dalam
batuan, koral, cangkang hewan laut dan berbagai sedimen laut.
Persamaan reaksi pembentukan karbonat itu adalah sebagai berikut:

CO 2 H 2 O
H 2 CO 3
2H 1 CO 3-2
HCO3-1 H 1
Gas karbon dioksida diperlukan untuk proses fotosintesis oleh tumbuhan hijau di laut di
siang hari. Di malam hari, karbon diosida dihasilkan oleh proses respirasi. Selain dihasilkan secara
alamiah, gas karbon dioksida juga dihasilkan oleh aktifitas manusia membakar bahan bakar fosil,
seperti minyak bumi dan batubara. Produksi gas karbon dioksida secara berlebihan dapat
meningkatkan temperatur atmosfer Bumi, yang dikenal sebagai efek rumah-kaca (greenhouse
effect). Oleh karena itu, gas karbon dioksida juga disebut sebagai gas rumah-kaca (greenhouse gas).
Kemampuan air laut menyerap gas karbon dioksida secara langsung mempengaruhi iklim global.

3.4.3.4. Hidrogen Sulfida


Gas hidrogen sulfida (H2S) di dalam air laut hanya sekitar 0,5% dari total gas yang terlarut
di dalam air laut. Meskipun demikian, gas ini penting untuk diperhatikan, karena gas ini
menunjukkan aktifitas bakteri, pembusukan material organik, kondisi air yang stagnan (tanpa
sirkulasi), rendahnya kandungan oksigen terlarut di dalam air, dan yang terpenting adalah bahwa gas
ini bersifat racun yang mematikan organisme.
Bila suatu daerah terisolasi dari sumber oksigen yang potensial, maka mungkin terjadi
sebagian besar atau semua oksigen di air dalam akan habis terpakai. Salah satu contoh daerah seperti
ini adalah Laut Hitam. Air yang kosong oksigen disebut anaerobik (anaerobic) dan lingkungannya
disebut lingkungan anaerobik. Materil organik di dalam lingkungan itu dapat mengalami
dekomposisi oleh bakteri pereduksi sulfat (sulfate-reducing bacteria). Sulfida yang terbentuk dapat
berkombinasi dengan hidrogen dan membentuk hidrogen sulfida (H2S) yang sangat berbau (seperti
telur busuk) dan mematikan bagi banyak organisme. Bila air-dalam di daerah anaerobik terbawa ke
permukaan oleh suatu proses tertentu, biasanya menyebabkan terjadinya kematian massal organisme
di perairan permukaan.

3.4.4. Sifat Kehadiran Unsur Kimia di Laut


Ion-ion utama (unsur mayor) di dalam air laut (Cl, Na, Ca, K, Mg, dan Sulfat) hadir dalam
proporsi yang relatif konstan, karena konsentrasinya di dalam air laut sangat dikendalikan oleh
proses-proses fisika, seperti penambahan dan pengurangan air. Dalam hal ini, proses fisika yang
terjadi atau pergerakan material lebih cepat daripada proses kimia yang terjadi, sehingga proses
kimia tidak berpengaruh. Oleh karena itu, unsur-unsur tersebut disebut sebagai unsur konservatif
(conservative elements). Konsentrasi dari unsur-unsur konservatif proporsional satu sama lain dan
sebanding dengan salinitas.
Selain dari unsur-unsur utama di atas, kehadiran unsur-unsur kimia di dalam air laut tidak
dalam proporsi yang konstan. Konsentrasi unsur-unsur tersebut sangat ditentukan oleh reaksi kimia
yang terjadi di dalam air laut dan sedimen di dasar laut, dan proporsional dengan salinitas secara
tidak langsung. Oleh karena itu, unsur-unsur kimia tersebut disebut sebagai unsur nonkonservatif
(nonconservative elements). Walaupun sebagian besar unsur-unsur kimia di dalam air laut bersifat
nonkonservatif, tetapi jumlahnya merupakan fraksi yang kecil dari total volume air laut.
Kehadiran unsur-unsur kimia di dalam suatu lingkungan adalah tidak tetap. Unsur-unsur
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

22

Oseanografi, Sifat Air Laut


5/22/2012

kimia tersebut bisa masuk ke suatu lingkungan dan keluar lagi dari lingkungan itu. Waktu rata-rata
yang diperlukan oleh suatu unsur berada di dalam suatu lingkungan atau reservoir sampai unsur
tersebut dikeluarkan dari lingkungan atau reservoir itu melalui suatu proses transportasi disebut
sebagai residence time (waktu-tinggal). Dalam keadaan seimbang (steady state), residence time
didefinisikan sebagai berikut:

Residencetime( )

Jumlah total unsur di dalamreservoir


Laju pemasukanatau pengeluaran dari
unsur tersebut ke atau dari reservoiritu

Lamanya suatu unsur berada di dalam suatu lingkungan tergantung pada sifat unsur tersebut.
Unsur-unsur yang reaktif memiliki residence time yang singkat. Unsur-unsur yang termasuk ke
dalam kelompok ini adalah unsur-unsur yang di dalam susunan berkala unsur masuk ke dalam
kelompok transisi, lantanida, dan aktinida.
Di dalam suatu lingkungan yang terbatas, misalnya sebuah teluk, residence time suatu unsur
di dalam teluk tersebut juga ditentukan oleh keluar dan masuknya massa air dari dan ke dalam
perairan teluk tersebut. Pemahaman tentang residence time dari suatu unsur kimia di dalam suatu
lingkungan tertentu sangat penting bagi pengelolalaan kondisi lingkungan tersebut.
Secara kimiawi, sifat reaktifitas unsur dapat ditentukan dari potensial ionik (ionic potential).
Sifat ini didefinisikan sebagai perbandingan antara muatan ion terhadap radius ion. Unsur-unsur
yang memiliki potensial ionik rendah, relatif tidak reaktif, dengan demikian cenderung untuk tetap
berada di dalam larutan, dan waktu-tinggalnya relatif lama. Ion-ion unsur-unsur mayor masuk ke
dalam kelompok ini. Unsur-unsur dengan potensial ionik tinggi bersifat reaktif, tetapi cenderung
membentuk senyawa kompleks yang dapat larut (soluble complex). Dengan demikian, unsur-unsur
itu cenderung untuk tetap di dalam larutan tetapi tersebar merata di dalam samudera karena rekasi
kimia yang dialaminya di dalam air laut. Unsur-unsur biolimiting termasuk di dalam kelompok ini.
Unsur-unsur dengan potensial ionik menengah bersifat reaktif, tetapi cenderung membentuk
endapan yang tak dapat larut (insoluble precipitates), terutama endapan hidroksida dan oksida.
Akibatnya, unsur-unsur ini secara cepat dikeluarkan dari samudera dan residence time-nya singkat.
Logam-logam transisi termasuk dalam kelompok ini.

DAFTAR PUSTAKA
Berner, E.K. and Berner, R.A., 1987. Global Water Cycle: geochemistry and environment. PrenticeHall, Inc., Englewood Cliff, New Jersey.
Culkin, F., 1965. The Major Constituents of Sea Water. In: J.P. Riley and G. Skirrow (eds.),
Chemical Oceanography, vol. 1, Academic Press, London, p. 121 161.
Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1973. Oceanography: an introduction. Wordsworth Publishing
Company, Inc., Belmont, California.
Kaharl, V., 1999. Sounding out the oceans secrets. In: Beyond Discovery: the parth from research
to human benefit. National Academic of Sciences. [Http://www2.nas.edu/bsi]. Akses: 10
Maret 2005.
Libes, S.M., 1992. An Introduction to Marine Biogeochemistry. John Wiley & Sons, Inc., New
York.
Pickard, G.L. and Emery, W.J., 1995. Descriptive Physical Oceanography: an introduction, 5 th (SI)
Enlarged Edition. Butterworth-Heinemann, Ltd., Oxford.
Ross, D.A., 1977. Introduction to Oceanography. Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey.
Tchernia, P., 1980. Descriptive Regional Oceanography, Pergamon Press, Oxford, 253 p + 19 plates
(English edition).
Weisberg, J. and Parish, H., 1974. Introductory Oceanography. McGraw-Hill Kogashuka, Ltd.,
Tokyo.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

23

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

4. GERAKAN AIR LAUT


4.1. PENGANTAR
Air laut bersifat dinamis, selalu bergerak. Sifat dinamis air laut tersebut terutama disebabkan
oleh interaksi antara samudera dengan atmosfer, pengaruh gerak rotasi Bumi, pengaruh gaya
gravitasi Bulan dan Matahari. Pada dasarnya gerakan air laut terjadi dalam bentuk: (1) gelombang,
(2) pasang surut, dan (3) arus. Gelombang adalah gerakan air laut yang sangat menonjol dan
menarik perhatian bila seseorang berdiri di tepi pantai. Di alam, fenomena gelombang muncul bila
ada dua massa yang berbeda densitasnya berada pada posisi yang berdampingan dan berinteraksi,
dimana yang satu bergerak terhadap yang lain. Oleh karena itu, fenomena gelombang tidak hanya
terjadi di permukaan laut saja interaksi antara udara dan air laut, tetapi juga terjadi di permukaan
tanah interaksi antara udara dengan pasir seperti di daerah gurun, atau di permukaan dasar laut
atau pantai interaksi antara dasar laut dengan air laut. Di permukaan laut, fenomena gelombang
dapat terlihat sebagai gerakan air laut yang bergelora atau air laut yang menghempas ke pantai.
Pasang surut adalah gerakan air laut naik dan turun karena pengaruh gaya gravitasi dari
Bulan dan Matahari. Air laut naik terjadi pada sisi Bumi yang menghadap ke arah Bulan dan sisi
sebaliknya. Fenomena gerakan pasang surut baru dapat terlihat bila kita mengamati ketinggian muka
laut di pantai selama antara 12 sampai 24 jam. Secara visual, gejala pasang naik terlihat dari
bertambah dalamnya genangan dan bergesernya genangan oleh air laut ke arah daratan, sedang
gejala surut terlihat dari berkurangnya kedalaman air dan bergesernya ke arah laut.
Arus laut adalah fenomena berpindahnya massa air laut dari satu tempat ke tempat lain,
yang terjadi antara lain terutama karena interaksi antara lautan dengan udara di atasnya maupun
karena pengaruh gerak rotasi Bumi. Fenomena ini dapat terjadi dalam skala kecil di perairan pantai
atau selat-selat, maupun skala besar seperi arus-arus yang terjadi di samudera-samudera yang
membentuk pola sirkulasi massa air global.

4.2. GELOMBANG
4.2.1. Teori Gelombang
4.2.1.1. Beberapa definisi gelombang
Gelombang bergerak secara periodik, yaitu bergerak berulang-ulang pada suatu periode
waktu tertentu. Sifat-sifat gelombang dapat diterangkan dengan bentuk gelombang sederhana untuk
menggambarkan panjang gelombang, tinggi gelombang, dan periode gelombang (Gambar 1).

Gambar 1. Gambar gelombang yang disederhanakan yang menunjukkan berbagai parameter


gelombang dan gerakan partikel air di dalam suatu bentuk gelombang. Lingkaran menunjukkan
gerakan partikel air yang diperbesar. Dikutip dari Ross (1977) dengan modifikasi.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Perioda gelombang (T) adalah waktu yang dibutuhkan oleh puncak (atau lembah) gelombang yang
berurutan untuk melalui titik tetap tertentu. Panjang gelombang (L) adalah jaral horizontal di antara
dua puncak (atau lembah) gelombang yang berurutan. Tinggi gelombang (H) adalah jarak vertikal
dari dasar lembah sampai puncak gelombang. Kedalaman air (d) adalah jarak vrtikal antara nuka
laut rata-rata sampai dasar laut.

4.2.1.2. Perambatan gelombang


Kecepatan merambat gelombang (C) adalah:

L
..................... (1)
T

Bila gelombang merambat di perairan dangkal, maka faktor kedalaman air adalah parameter penting
yang mempengaruhi gerakan gelombang.
Berdasarkan kedalaman relatif, yaitu perbandingan antara kedalaman air d dan panjang
gelombang L, perairan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelas (Triatmodjo, 1999), yaitu:
1) Perairan dalam (deep water), bila d/L >1/2.
2) Perairan kedalaman menengah (intermediate water), bila 1/2>d/L>1/20.
3) Perairan dangkal (shallow water), bila d/L<1/20.
Di perairan dalam, yaitu bila rasio d/L > 1/2:

g .T 2
2

...................... (4)

Bila kita bekerja dengan unit SI, maka kita bisa menukan g = 9,81 m/dt2 dan p = 3,14,
sehingga:

L 1,56T 2

...................... (5)

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa panjang gelombang di perairan dalam hanya
ditentukan oleh perioda gelombang. Dengan kata lain, di perairan dalam panjang gelombang dapat
diketahui hanya dengan mengukur perioda gelombang.
Selanjutnya, bila persamaan (1) dan persamaan (4) dikombinasikan, maka kita dapat dengan
mudah mendapatkan kecepatan gelombang:

L g .T

T
2

...................... (6)

Persamaan (6) ini memperlihatkan bahwa di laut dalam, gelombang dengan perioda yang panjang
merambat lebih cepat dari pada gelombang dengan perioda yang pendek.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Untuk perairan dangkal, dimana d/L <1/20:

L T gd

..........................(8)

Karena C=L/T, maka:

C gd

...................... (9)

Dari persamaan (9) terlihat bahwa, di lingkungan perairan dangkal, bila perairan makin
dangkal, maka kecepatan gelombang makin rendah. Demikian pula sebaliknya, bila perairan makin
dalam maka kecepatan gelombang di perairan dangkal makin besar.

4.2.1.3. Energi dan kekuatan gelombang


Bila kita perhatikan gerakan gabus yang mengapung di laut ketika gelombang melintas, kita
akan melihat bahwa gabus itu bergerak naik turun dan sementara itu juga bergerak maju dan
mundur. Gerakan gabus tersebut sesungguhnya memperlihatkan gerakan melingkar (lihat Gambar 1)
dengan diameter sama dengan tinggi gelombang H dan dengan periode T. Keadaan tersebut
menunjukkan bahwa gelombang sesungguhnya adalah rambatan energi dan momentum melalui
permukaan air. Air laut itu sendiri tidak bergerak atau berpindah mengikuti rambatan gelombang.
Ketika gelombang merambat, permukaan air laut naik. Hal itu menunjukkan air memberi
energi potensial kepada gelombang. Pada waktu yang sama, gerakan air laut yang melingkar (orbital
motion) ketika gelombang lewat, memberikan energi kinetik. Dengan demikian, energi gelombang
adalah energi total yang merupakan gabungan energi potensial (Ep) dan energi kinetik (Ek).
Sehingga:

E Ep Ek
1
E gH 2 ...................... (10)
8
dimana:

E = energi gelombang
= densitas air laut

g = percepatan gravitasi
H = tinggi gelombang

Dari persamaan (10) terlihat bahwa energi gelombang sangat ditentukan oleh tinggi
gelombang.
Kekuatan gelombang (wave power) atau energy flux adalah banyaknya energi gelombang
yang disalurkan pada arah rambatan gelombang. dan dinyatakan dengan persamaan:

P ECn .................. (11)


dimana:

P = kekuatan gelombang atau wave power.


E = energi gelombang

C = kecepatan gelombang
n = angka gelombang

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Untuk laut dalam, n = , dan untuk perairan dangkal, n = 1.


Untuk perairan dangkal, bila persamaan (11) dan (9) dikombinasikan maka akan
diperoleh:

P nE gd

.................. (11)

Persamaan ini memperlihatkan bahwa di perairan dangkal, makin bila kedalaman air bertambah
maka kekuatan gelombang akan bertambah pula.
Untuk perairan dalam, bila persamaan (11) dan (6) dikombinasikan, maka akan tampak
bahwa gelombang yang memiliki perioda yang panjang lebih kuat daripada gelombang yang
memiliki perioda pendek.

4.2.1.4. Perambatan gelombang laut dalam


Gelombang di laut dalam hadir dalam bentuk kelompok gelombang dan terjadi karena
tiupan angin.
Kecepatan merambat kelompok gelombang di laut dalam, dimana energi gelombang dan
kelompok gelombang secara keseluruhan merambat adalah:

Cg
dimana:

1
1 g .T
C

2
2 2

................. (13)

Cg = kecepatan kelompok gelombang


C = kecepatan individu gelombang

g = percepatan gravitasi
T = periode gelombang

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa kecepatan gelombang merambat tergantung pada periode,
dimana gelombang denga periode yang lebih panjang akan merambat lebih cepat dari pada
gelombang dengan periode yang lebih pendek.
Bila gelombang dengan periode T tercetus di suatu tempat yang berjarak R dari suatu
tempat, misalnya A (Gambar 2), maka waktu tob pertama kali gelombang sampai di titik A adalah:

tob

R 4R

C g g .T

.................. (14)

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Gambar 2. Kelompok gelombang bergerak dari daerah sumber menuju ke lokasi


pengamatan di titik A. Dikutip dari Komar (1976) dengan modifikasi.

Selanjutnya, tob adalah waktu gelombang dengan perioda T pertama sampai, dan lama tiupan angin
D, maka gelombang yang terakhir sampai di titik A adalah tob + D. Untuk fetch yang panjang, ada
error yang perlu dikoreksi.
Bila gelombang melintasi samudera, setelah meninggalkan daerah pembentukannya, maka
ia akan kehilangan energi selama dalam perjalanan. Hal itu dapat terjadi karena:
1) Peredaman internal oleh viskositas air,
2) Penyebaran gelombang ke arah yang lain karena variasi arah tiupan angin,
3) Angin yang bertiup berlawanan arah dengan arah rambatan gelombang, dan
4) Interaksi dengan gelombang-gelombang lain, baik dengan gelombang yang terjadi oleh tiupan
angin yang sama, maupun dengan gelombang yang terjadi oleh tiupan angin yang lain.

4.2.2. Gelombang Pecah


Bila gelombang dari laut dalam menuju ke pantai, maka ketika gelombang itu memasuki
perairan dangkal, akan terjadi perubahan bentuk. Perubahan bentuk itu mulai terjadi ketika
kedalaman air sama dengan panjang gelombang, dan mulai berubah secara tegas ketika
kedalaman air panjang gelombang (batas air dalam menurut teori gelombang Airy). Perubahan
bentuk yang terjadi pada gelombang itu adalah kecepatan dan panjang gelombang berkurang,
tinggi gelombang bertambah, sedang periode gelombang tetap. Di bagian perairan yang tidak jauh
di belakang zona tempat gelombang pecah (breaker zone), puncak-puncak gelombang menjadi
bertambah runcing dan dipisahkan oleh lembah yang relatif datar (Gambar 3). Akhirnya, gelombang
pecah setelah menjadi sangat curam dan tak stabil. Gelombang menjadi tidak stabil karena
kecepatan gerakan partikel-partikel air di puncak gelombang melebihi kecepatan fase gelombang.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Gambar 3. Gambaran transformasi gelombang dari perairan dalam ketika


mendekati pantai. Dikutip dari Komar (1976) dengan modifikasi..

Gambar 4. Macam-macam gelombang pecah di pantai. Gambar sebelah kiri adalah tiga tipe
gelombang pecah yang mudah di kenal. Gambar sebelah kanan diperoleh dari rekaman film,
dan menunjukkan adanya satu jenis pecahan transisi, jenis Collapsing, antara Plunging dan
Surging. Tanda panah menunjukkan titik awal pecahnya gelombang. Dari Komar (1976).

Dikenal ada empat tipe gelombang pecah (Gambar 4), yaitu:


1) Spilling breaker. Pecahan gelombang jenis ini terjadi bila gelombang menjalar di pantai dengan
dasar yang landai. Pada pecahan jenis ini, puncak gelombang yang tidak stabil turun sebagai
white water (gelembung-gelembung dan buih).
2) Plunging breaker. Pecahan jenis ini terjadi bila gelombang menjalar di pentai yang miring. Pada
pecahan jenis ini, gelombang yang mendekat ke pantai memiliki lereng depan yang menghadap
ke daratan menjadi vertikal, puncak gelombang kemudian menggulung ke depan, dan akhirnya
menghunjam ke depan.
3) Surging breaker. Pecahan jenis ini terjadi bila lereng pantai sangat curam. Pada pecahan jenis
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

ini, puncak gelombang naik seperti akan menghunjam ke depan, tetapi kemudian dasar
gelombang naik ke atas permukaan pantai sehingga gelombang jatuh dan menghilang.
4) Collapsing breaker. Pecahan ini adalah bentuk menengah antara pecahan tipe plunging dan
surging.
Tipe gelombang pecah di atas, dari urutan satu sampai tiga adalah tiga macam gelombang pecah
yang umum mudah dikenal. Adapun tipe gelombang yang ke-empat, adalah tipe gelombang pecah
transisi antara plunging breaker dan surging breaker. Tipe ini ditemukan oleh Galvin tahun 1968
yang mempelajari gelombang mempergunakan film berkecepatan tinggi (Komar, 1976).

4.2.3. Refraksi Gelombang


Ketika gelombang air dalam memasuki perairan dangkal, gelombang itu mengalami
refraksi (refraction, Gambar 5), yang menyebabkan arah rembatan gelombang berubah sesuai
dengan berkurangnya kedalaman air. Keterkaitan antara perubahan arah dengan perubahan
kedalaman dapat kita lihat pada hubungan antara kedalaman air dan kecepatan gelombang seperti
terliat pada persamaan (9). Karena sifat tersebut, maka ketika memasuki perairan dangkal
gelombang akan membelok ke bagian perairan yang lebih dangkal. Perubahan arah gelombang itu
terjadi sedemikian rupa sehingga puncak gelombang cenderung sejajar dengan garis kontur
kedalaman.
Topografi dasar laut yang tidak teratur dapat menyebabkan gelombang mengalami refraksi
yang sangat rumit dan menghasilkan variasi tinggi gelombang dan energi di sepanjang pantai.
Gelombang akan mengalami refraksi dan divergensi di atas perairan yang dalam di atas palungpalung pantai (Gambar 5, atas) sehingga di bagian pantai yang berhadapan dengan palung akan
terjadi pengurangan tinggi gelombang. Sementara itu, di pantai yang terletak di kedua sisinya terjadi
konvergenasi dan gelombang menjadi lebih tinggi.
Bila gelombang mendekati suatu tanjung (headland), maka gelombang akan mengalami
refraksi dan konvergensi atau dibelokkan ke arah tanjung tersebut, sehingga energi gelombang
terkonsentrasi ke arah tanjung atau headland itu (Gambar 5, bawah).

Gambar 5. Pola divergen (atas) dan konvergen


(bawah) pada gejala refraksi gelombang di daerah
palung dan tanjung. Dari Komar (1976).
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

4.2.4. Difraksi Gelombang


Gejala difraksi gelombang terjadi apabila gelombang melewati suatu penghalang, seperti
pulau, tanjung atau bangunan teknik di pantai. Apabila gelombang datang terhalang oleh suatu
rintangan, maka gelombang akan membelok di sekitar ujung rintangan dan masuk ke daerah
terlindung (daerah bayangan atau shadow zone) di belakang rintangan. Dalam difraksi terjadi
transfer energi yang sejajar dengan puncak gelombang atau tegak lurus dengan arah penjalaran
gelombang (Gambar 6). Transfer energi itu menyebabkan terjadinya gelombang di daerah bayangan
meskipun tidak sebesar gelombang di luar daerah bayangan.

Gambar 6. Difraksi gelombang di daerah


bayangan suatu penghalang gelombang di lepas
pantai. Dari Komar (1976).

4.2.5. Jenis-jenis Gelombang Menurut Penyebabnya


Gelombang dapat terjadi karena berbagai sebab alamiah. Berdasarkan faktor yang
menyebabkan timbulnya gelombang dan karakter gelombang yang terjadi, gelombang dapat
dibedakan menjadi beberapa macam. Berikut ini akan diuraikan secara singkat mengenai macammacam gelombang tersebut.

4.2.5.1. Gelombang karena tiupan angin (wind-generated wave).


Gelombang ini terjadi di permukaan laut karena angin yang bertiup di atas permukaan laut.
Bila angin bertiup melintasi permukaan laut, maka akan terjadi transfer energi dari angin ke laut, dan
di bidang antar-mukanya (interface, permukaan laut) terjadi gelombang. Ada hubungan antara
kecepatan angin dengan energi gelombang, panjang gelombang, tinggi gelombang, dan periode
gelombang. Di perairan dalam faktor lain yang berpengaruh terhadap gelombang adalah konstansi
tiupan angin (wind constancy) dan lama tiupan angin (wind duration). Tabel 4.1 memperlihatkan
hubungan antara kecepatan angin dan panjang fetch dengan berbagai parameter gelombang.
Dari tabel tersebut terlihat bahwa angin dengan kecepatan tertentu dapat menghasilkan
gelombang dengan ketinggian dan periode yang lebih tinggi bila fetch diperpanjang. Selanjutnya,
bila bila angin yang bertiup di atas permukaan laut tidak memenuhi waktu minimum, maka
ketinggian dan periode gelombang optimum tidak akan tercapai.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012
Tabel 4.1. Waktu minimum dan kondisi yang diperlukan untuk menghasilkan karakteristik yang
optimum gelombang. Dikutip dari Swan, (1983)
Panjang fetch (km)

80

800

Kecepatan angin 25 km/jam


Tinggi gelombang (m)
Periode (dt)
Durasi (jam)

0,5
2,7
2,2

1,0
4,0
14,2

1,4
5,0
103,0

Kecepatan angin 50 km/jam


Tinggi gelombang (m)
Periode (dt)
Durasi (jam)

1,1
4,0
1,6

2,6
6,4
9,2

4,9
9,0
61,0

Kecepatan angin 100 km/jam


Tinggi gelombang (m)
Periode (dt)
Durasi (jam)

2,4
5,8
1,1

6,1
9,7
6,3

13,7
15,0
44,0

(Generalisasi nilai-nilai dari kurva peramalan gelombang laut dalam yang dikembangkan oleh Bretschneider dari
U.S. Coastal Engineering Research Center)

Gambar 6A. Gelombang samudera karena tiupan angin badai. Pada dasarnya badai bertiup melingkar, dan
gelombang sesungguhnya bergerak menjauhi pusat lingkaran angin ke segala arah. Gamar di atas hanya
menggambarkan pembentukan gelombang pada satu arah. Garis putus-putus adalah batas relatif dari sistem
angin. Dikutip dari Ingmanson dan Wallace (1985) dengan modifikasi.

Gambaran mekanisme terjadinya gelombang karena tiupan angin diberikan oleh Ingmanson
dan Wallace (1985) berikut (Gambar 6A). Bayangkan suatu permukaan laut yang licin tanpa angin
dan tanpa gelombang sama sekali. Selanjutnya bayangkan angin secara bertahap bertiup
menggerakkan permukaan air. Angin yang bertiup (breeze) dengan kecepatan 0,5 knot dapat
menimbulkan riak (ripples, rippel) dipermukaan laut. Rippel terbentuk sebagai respon permukaan
laut atas variasi tekanan angin yang bergerak dipermukaan laut dan respon atas gaya gesekan yang
timbul dari angin terhadap permukaan laut. Rippel menyebabkan makin banyak bagian permukaan
laut yang terbuka terhadap tiupan angin, dan kemudian gesekan dan tekanan secara bertahap
meningkatkan ukuran rippel menjadi gelombang kecil. Permukan laut menjadi berombak (choppy)
dengan gelombang bergerak secara garis besar dalam arah yang sesuai dengan tiupan angin. Biola
kecepatan angin meningkat, maka tinggi gelombang rata-ratapun juga meningkat. Selanjutnya,
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

lamanya angin bertiup serta panjang lintasan angin (fetch) mempengaruhi ukuran gelombang.
Kemudian, bila tiupan angin berhenti atau gelombang keluar dari sistem tiupan angin (storm
system), maka gelombang berubah menjadi alun (swell). Alun terus bergerak, dan bila mencapai
pantai akan mengalami perubahan dan menjadi gelombang pecah seperti yang telah diuraikan
sebelumnya di depan.

4.2.5.2. Gelombang internal (internal wave).


Gelombang ini terjadi di dalam laut, terjadi di antara dua massa air laut yang berbeda
densitasnya. Kehadiran gelombang ini tidak terlihat langsung secara visual di permukaan laut.
Kehadirannya dapat diketahui dari pengamatan secara sistimatis terhadap berbagai parameter air laut
seperti temperatur, salinitas dan densitas; atau gerakan perlahan dari slick di permukaan laut.
Slick tersebut dapat tersusun oleh plankton, sedimen berbutir halus, atau air permukaan laut yang
tercemar.

4.2.5.3. Gelombang Badai (storm surge atau storm wave)


Gelombang ini terjadi karena tiupan angin badai. Fenomena gelombang ini umum terjadi di
daerah Subtropis dimana badai sering terjadi. Di daerah pesisir, gelombang ini dapat menyebabkan
air laut naik ke daratan, dan menimbulkan kerusakan.

4.2.5.4. Seiche.
Femomena seiche adalah fenomena gelombang stasioner, yaitu gelombang yang tidak
memperlihatkan gerakan maju dari bentuk gelombang yang terjadi. Pada gelombang jenis ini, di
tempat-tempat tertentu, permukaan air akan tetap stasioner sementara permukaan air yang lainnya
bergerak naik turun (Gambar 7). Gelombang ini umumnya terjadi di perairan tertutup, seperti danau;
atau perairan semi tertutup, seperti teluk. Di danau, seiche terjadi karena tiupan angin badai, atau
perubahan tekanan udara (atmosfir) yang cepat. Di daerah teluk, seiche dapat terjadi karena pasang
surut atau tsunami.
Di danau, periode dominan dari gelombang seiche dapat dihitung sebagai lebar danau
dengan jarak L. Bila kita memandang tinggi air maksimum sebagai puncak gelombang seiche, maka
gelombang harus berjalan sejauh 2L sebelum puncak berikutnya terlihat. Selanjutnya, karena
sebagian besar danau lebih dimensi lebarnya lebih besar daripada dalamnya, maka seiche
merupakan gelombang perairan dangkal yang merambat dengan kecepatan (gH). Dengan demikian
periode gelombang seiche adalah:

T 2 L gH ..............(15)
Rumus tersebut dikenal sebagai Formula Merian (Beer, 1997).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

10

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Gambar 7. Dua macam pola fenomena seiche. Dari


Ingmanson dan Wallace (1973).

4.2.5.5. Gelombang karena longsoran (landslide surge atau landslide wave)


Gelombang jenis ini terjadi karena batuan atau es yang dalam jumlah besar longsor dan
masuk ke laut.

4.2.5.6. Tsunami atau seismic wave


Tsunami sering disebut gelombang pasang (tidal wave), tetapi sesungguhnya gelombang ini
tidak ada hubungannya dengan pasang surut air laut. Tsunami disebut juga sebagai seismic wave
karena kejadiannya dicetuskan oleh gerakan kerak bumi yang cepat dan tiba-tiba. Tsunami dapat
terjadi karena: (1) gempa bumi yang berasosiasi dengan terjadinya patahan vertikal di dasar laut,
atau (2) longsoran di dasar laut (Gambar 8), atau (3) letusan gunungapi di laut. Tsunami adalah
gelombang yang sangat panjang. Panjangnya dapat mencapai 240 km, dan dapat merambat dengan
kecepatan 760 km/jam. Di daerah pesisir, gelombang tsunami yang naik ke darat dapat mencapai
ketinggian 30 meter dan masuk ke darat sampai 3,5 km. Indonesia sangat berpotensi terkena
bencana tsunami (Tabel 4.2). Kejadian tsunami yang terkenal di Indonesia terjadi tahun 1883, yaitu
tsunami yang terjadi karena letusan Gunung Krakatau. Sementara itu, tsunami yang terjadi karena
gempa antara lain terjadi di Flores tahun 1992, Banyuwangi 1994, Biak 1996, dan Aceh 2004.
Contoh dari tsunami yang terjadi karena longsoran bawah laut adalah tsunami yang terjadi pada
tahun 1988 di sebelah utara Papua New Guinea (Synolakis dan Okal, 2002).
Tsunami adalah gelombang yang memiliki panjang gelombang yang sangat panjang, dapat
mencapai 240 km. Dengan panjang gelombangnya yang sedemikian besar itu, maka meskipun di
samudera yang memiliki kedalaman rata-rata 4600 m, gelombang tsunami relatif masih sangat
panjang. Dengan demikian maka gelombang tsunami akan berkelakuan seperti gelombang perairan
dangkal (Ingmanson dan Wallace, 1985), yang kecepatannya tergantung pada kedalaman air seperti
ditunjukkan oleh persamaan (9).
Beberapa tsunami terdiri dari satu paket yang terdiri dari tiga atau empat gelombang dengan
interval kedatangan setiap gelombang sekitar 15 menit (Ingmanson dan Wallace, 1985). Gelombang
yang pertama belum tentu yang paling besar. Sebelum gelombang tsunami mencapai pantai,
biasanya air laut di dekat pantai tertarik ke laut sehingga dasar laut tersingkap ke udara.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

11

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Gambar 8. Gambaran dua pencetus tsunami. (a) patahan bawah laut, (b) longsoran bawah laut. Dari
Ingmanson dan Wallace (1985).

Tabel 4.2. Kejadian tsunami di Indonesia dalam periode 1990 2006.


No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10

Lokasi
Alor, Nusa Tenggara
Flores, Nusa Tenggara
Banyuwangi, Jawa Timur
Biak, Papua
Obi, Makulu
Banggai, Maluku
Manokwari, Papua
Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam
Buru, Maluku
Pangandaran, Jawa Tengah

Tahun
1991
1992
1994
1996
1998
2000
2002
2004
2006
2006

Kawasan
Timur
Timur
Barat
Timur
Timur
Timur
Timur
Barat
Timur
Barat

Sumber: Diolah dari Fauzi dan Ibrahim (2002), Gambar 1; Setyawan (2002). Nomor urut 8 - 10 dari
penulis.

Gambar 8A. Penyebaran peristiwa tsunami di Indonesia periode 1990-2006. Data dari Tabel 4.2.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

12

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

4.2.6. Tipe-tipe Gelombang Menurut Periodenya


Gelombang di permukaan laut dapat juga diklasifikasikan secara memuaskan berdasarkan
pada periode gelombangnya (Beer, 1997) seperti diperlihatkan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Tipe-tipe gelombang permukaan. Dikutip dari Beer (1997) dengan
modifikasi
Periode (T)
<1 detik
1 detik
10 detik
Menit
Jam

Tipe Gelombang
Capillary waves
Wind waves (chop)
Swell
Seiches
Pasang surut

Kenampakan Umum sebagai


Ripples, Riak
Gelombang
Breakers, Alun
Gelombang pelabuhan
Pasang surut

Angin adalah pembangkit utama gelombang maupun alun. Wind waves atau chop atau
gelombang memiliki panjang gelombang yang pendek, melonjak-lonjak (bumpy), puncak-puncak
gelombang tajam, dan tampak pada kondisi berangin. Swell atau alun adalah gelombang yang
bergerak lambat, bergerak dengan tenang (gently rolling waves) dan menghempas ke pantai
meskipun pada kondisi laut yang tenang. Alun dihasilkan oleh badai yang terjadi sangat jauh dari
daerah pengamatan gelombang. Sebaga contoh, alun di pantai California adalah hasil dari badai di
sekitar Selandia Baru. Di pihak lain, wind waves atau chop terjadi karena tiupan angin yang keras
yang dihasilkan oleh angin lokal. Sementara itu, capillary waves atau ripple atau riak terbentuk pada
gelombang besar, meskipun saat itu tidak ada angin, dan tampak sangat bila ada angin.

4.3. PASANG SURUT


4.3.1. Penyebab Pasang Surut
Pasang surut adalah gerak fluktuasi muka air laut karena pengaruh gaya gravitasi Matahari
dan Bulan. Jarak yang lebih dekat antara Bulan dan Bumi dibandingkan dengan jarak Matahari dan
Bumi, menyebabkan gaya gravitasi Bulan berpengaruh lebih besar terhadap pasang surut
dibandingkan gaya gravitasi Matahari. Besarnya gaya gravitasi Bulan yang berpengaruh terhadap
pasang surut adalah 2,2 kali lebih besar dari pada gaya gravitasi Matahari.
Bumi dan Bulan bersama-sama ber-revolusi mengelilingi bary center, yaitu titik pusat
gravitasi bersama di antara dua benda langit (Gambar 9). Di dalam sistem Bumi Bulan, bary
center terletak sekitar 1718 km dari permukaan Bumi. Gaya gravitasi Bulan menyebabkan air laut di
Bumi menggelembung ke arah luar pada sisi Bumi yang menghadap ke arah Bulan. Pada sisi
sebaliknya, gaya sentrifugal yang terjadi karena gerak Bumi menyebabkan terjadi gelembungan ke
arah luar yang ke-dua. Dengan demikian, Bumi memiliki dua gelembungan atau air pasang yang
terlihat pada garis lurus terhadap Bulan, dan air surut yang terjadi pada sisi arah garis yang tegak
lurus terhadap Bulan.
Bumi berbentuk oblate spheroid, artinya adalah diameter ekuatorial lebih besar dari pada
diameter polar (kutub). Bumi ber-revolusi pada sumbunya sehari sekali terhadap matahari. Lama
satu hari matahari (solar day) adalah 24 jam, 0 menit, dan 0 detik.
Posisi bumi tidak tepat di pusat orbit Bulan yang berbentuk ellips. Jarak rata-rata Bulan
terhadap Bumi adalah 384.404 km, pada perigee (titik terdekat) jarak Bulan adalah 356.400 km, dan
pada apogee (titik terjauh) adalah 406.700 km. Panjang waktu satu hari bulan (lunar day) adalah
24 jam dan 50,47 menit.
Orbit Bumi mengelilingi matahari juga berbentuk ellips. Jarak rata-rata bumi terhadap pusat
Matahari adalah 150.000.000 km. Jarah terdepat pada posisi perihelion yang terjadi pada bulan
Januari adalah 147.000.000 km, dan jarak terjauh pada aphelion terjadi pada bulan July yaitu
153.000.000 km. Panjang satu orbit yang disebut dengan tropical year adalah 365 hari, 5 jam, 48
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

13

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

menit, dan 46 detik.

Gambar 9. Gaya-gaya yang menghasilkan pasang surut di Bumi. Gambar kiri: dari Weisberg dan
Parish (1974), dengan modifikasi; gambar kanan: dari Triatmodjo (1999).

Selanjutnya, adalah fakta bahwa bidang orbit bulan miring terhadap bumi dengan sudut 5 o9
dan sumbu rotasi Bumi miring terhadap bidang orbit Matahari sebesar 23o27. Dengan demikian
deklinasi Bulan terhadap ekuator berkisar dari 28o36 sampai 18o18, dan pasang surut bervariasi
sesuai dengan deklinasi itu.

4.3.2. Kurva Pasang Surut


Gambaran kondisi pasang surut dapat ditampilkan secara visual dalam bentuk kurva pasang
surut. Kurva tersebut menggambarkan ketinggian air laut pada suatu waktu tertentu. Sumbu x
menunjukkan waktu, sedang sumbu y menunjukkan ketinggian muka laut (Gambar 10). Tinggi
pasang surut adalah jarak vertikal yang diukur dari puncak air tertinggi sampai posisi air terendah.
Periode pasang surut adalah waktu yang diperlukan dari posisi muka air tertinggi (atau terrendah)
sampai ke muka air tertinggi (atau terrendah) berikutnya. Periode ketika muka laut bergerak naik
disebut periode pasang, sedang periode ketika muka laut bergerak turun disebut periode surut.

Gambar 10. Kurva pasang surut. Dari Triatmodjo (1999).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

14

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

4.3.3. Tipe-tipe Pasang Surut


Tipe pasang surut yang terjadi di bumi tidak sama di semua tempat. Perbesaan tipe pasang
surut ini terjadi karena: (1) bentuk dan konfigurasi cekungan yang mempengaruhi gerakan air, (2)
kondisi topografi dasar laut lokal, dan (3) pengaruh efek Coriolis.

Gambar 11. Contoh empat tipe pasang surut. Dari Pethick (1992).

Secara umum, ada 4 tipe pasang surut (Gambar 11), yaitu:


1) Pasang surut harian tunggal (diurnal tide). Pada pasang surut tipe ini, perubahan pasang surut
harian menghasilkan satu kali pasang dan satu kali surut. Periode pasang surut ini 24 jam 50
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

15

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

menit 47 detik. Faktor yang menyebabkannya adalah rotasi bumi dan deklinasi matahari dan
bulan.
2) Pasang surut harian ganda (semidurnal tide). Pada pasang surut tipe ini, dalam satu hari terjadi
dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi yang hampir sama. Periode pasang surut ini
rata-rata 12 jam 24 menit 23,5 detik. Faktor yang menyebabkannya adalah rotasi bumi.
3) Pasang surut campuran dominan harian ganda (mixed tide predominant semidiurnal). Pada
tipe ini, dalam satu hari terjadi dua kali pasang surut dan dua kali surut dengan tinggi dan
periode berbeda.
4) Pasang surut campuran dominan harian tunggal (mixed tide predominant diurnal). Pada tipe
ini, dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut, tetapi kadang-kadang terjadi dua
kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda.
Penyebaran tipe-tipe pasang surut yang terdapat di kawasan Kepulauan Indonesia dan
sekitarnya dapat dilihat pada Gambar 11a.

Gambar 11a. Distribusi tipe-tipe pasang surut di kawasan Kepulauan Indonesia an


sekitarnya. Dikutip dari Triatmodjo (1999).

4.3.4. Variasi Pasang Surut


Variasi pasang surut dapat dibedakan menjadi:
1) Variasi harian (Gambar 12) adalah variasi yang terjadi dalam satu hari matahari. Variasi ini
terjadi karena gerak rotasi Bumi dan gerak revolusi Bulan mengelilingi Bumi. Ada perbedaan
antara hari matahari dan hari-bulan (lunar day). Lama hari bulan adalah 24 jam 50,47 menit.
Jadi, setiap hari pasang yang terjadi di suatu tempat selalu terlambat sekitar 50 menit dari hari
sebelumnya.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

16

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Gambar 12. Rekaman pasang surut yang disederhanakan. Memperlihatkan


variasi harian pasang surut. Dari Pethick (1992).

Gambar 13. Siklus pasang surut dalam satu bulan lunar month.
Memperlihatkan variasi pasang surut bulanan. Dari Pethick (1992).

2) Variasi bulanan (Gambar 13) yaitu variasi yang tejadi dalam periode satu bulan. Variasi ini
terjadi karena revolusi Bulan mengelilingi Bumi. Periode Bulan mengelilingi Bumi adalah 29,5
hari, sehingga pada setiap hari-bulan, pasang surut bergeser. Selain itu, gerak revolusi Bulan
terhadap Bumi menyebabkan pada waktu-waktu tertentu posisi Matahari Bumi Bulan berada
pada satu garis lurus, dan pada waktu-waktu yang lain membentuk sudut siku-siku dengan Bumi
sebagai titik sudutnya. Pada susunan yang membentuk garis lurus dengan Bumi berada di
tengah, terjadi Bulan Purnama; sedang bila Bulan berada di tengah, terjadi Bulan Mati. Pada
saat Purnama di setiap tanggal 15 hari bulan, terjadi pasang purnama (spring tide at full moon),
sedang pada saat bulan mati di setiap tanggal 1 hari bulan, terjadi pasang bulan mati atau pasang
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

17

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

bulan baru (spring tide at new moon). Pada saat terjadi susunan Matahari Bumi Bulan
membentuk sudut siku-siku di setiap tanggal 7 dan 21 hari bulan, terjadi pasang yang rendah
atau pasang kecil (pasang perbani atau neap tide).

Gambar 14. Siklus pasang surut yang memperlihatkan variasi


tahunan. Dari Pethick (1992).

3) Variasi tahunan (Gambar 14) adalah vaiasi yang terjadi dalam periode satu tahun. Variasi ini
terjadi karena gerak revolusi Bumi mengelilingi Matahari, sumbu rotasi bumi yang membentuk
sudut 23,5o terhadap bidang orbit Bumi, dan karena bentuk orbit Bumi terhadap matahari yang
berbentuk ellips. Posisi sumbu rotasi yang menyudut terhadap sumbu bidang orbit itu
menyebabkan pasang surut berdeviasi antara 23,5o Lintang Selatan dan 23,5o Lintang Utara.
Dalam periode satu tahun, dua kali Matahari berada pada posisi equinoxe posisi Matahari
tepat berada di khatulistiwa, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 21 September. Pada saat itu terjadi
High spring tide (pasang tinggi yang tinggi atau equinoctial spring tide). Pada ketika yang
lain, dalam periode satu tahun, dua kali Matahari berada pada posisi soltice posisi Matahari
posisi tinggi, yaitu satu kali berada di posisi Lintang Utara tanggal 21 Juni, dan satu kali
berada di posisi Lintang Selatan tanggal 21 Desember. Pada saat-saat itu terjadi Low spring
tide (pasang tinggi yang rendah atau soltice spring tide) (Gambar 14). Kemudian, lintasan orbit
Bumi yang berbentuk ellips membuat pada waktu tertentu Bumi sangat dekat dengan Matahari.
Pada saat itu di Bumi akan terjadi pasang tertinggi dan surut terrendah sepanjang tahun.
Kemudian, secara kasar berdasarkan pada variasi tinggi air pasang surut, menurut Davies
(1964 vide Komar, 1976) pasang surut dapat dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu:
1). Mikrotidal (microtidal), kisaran pasang surut < 2 meter.
2). Mesotidal (mesotidal), kisaran pasang surut 2 - 4 meter.
3). Makrotidal (macrotidal), kisaran pasang surut > 4 meter.
Selanjutnya disebutkan bahwa pasang surut jenis mikrotidal dan mesotidal umumnya
dijumpai di pantai-panti terbuka di tepi samudera, dan laut-laut yang terkurung daratan seperti Laut
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

18

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Mediterania, Laut Hitam dan Laut Merah. Pasang surut makrotidal dijumpai secara lokal di telukteluk di sepanjang pantai. Penyebaran variasi pasang surut di seluruh dunia disajikan pada Gambar
14a.

Gambar 14a. Penyebaran variasi pasang surut di seluruh dunia menurut Davies (1964).
Dikutip dari Komar (1976) dengan modifikasi.

4.4. ARUS
Dalam skala global, berbicara tentang arus berarti berbicara tentang sirkulasi massa air
global. Untuk kemudahan, kita dapat membedakan sirkulasi massa air menjadi dua bagian yang
saling berkaitan satu sama lain, yaitu: (1) sirkulasi massa air permukaan yang sebagian besar
disebabkan oleh sirkulasi atmosferik atau angin, dan (2) sirkulasi laut dalam, yaitu pergerakan massa
air yang disebabkan oleh perubahan densitas massa air yang disebabkan oleh perubahan temperatur
dan salinitas.

4.4.1. Sirkulasi-Massa Air Permukaan


Air laut dalam gerakan yang konstan melintasi samudera, membentuk gerakan berputar
raksasa yang bergerak searah jarum jam di Hemisfer Utara (Northern Hemisphere) dan bergerak
berlawanan arah dengan gerak jarum jam di Hemisfer Selatan (Southern Hemisphere). Setiap
gerakan berputar, atau gyre (gir), dapat dibagi menjadi beberapa aliran kecil dengan karakteristik
yang bervariasi (Gambar 15).
Setiap samudera memiliki pola arusnya sendiri dalam bentuk gerakan massa air yang
melintasi zona iklim yang satu ke zona iklim lain. Meskipun demikian, setiap samudera memiliki
pola umum sirkulasi permukaan yang sama satu sama lainnya, karena faktor-faktor yang
mencetuskan arus dan memodifikasinya sama di seluruh dunia.

4.4.2. Faktor-faktor Yang Berpengaruh


Angin yang bertiup melintasi permukaan laut menciptakan friksi yang menyebabkan air
bergerak. Gerakan air tersebut adalah fungsi dari kecepatan angin dan energ yang ditransfer ke
permukaan laut. Kecepatan arus permukan yang ditimbulkan oleh tiupan angin hanya 3% dari
kecepatan angin (Ingmanson dan Wallace, 1985).
Arus-arus permukaan dapat dipandang sebagai fungsi dari kecepatan angin dan pola-pola
angin. Karena angin bertiup dengan pola tertentu di sekeliling Bumi (Gambar 15a,dan 15b), maka
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

19

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

kita dapat mengharapkan bahwa arus-arus permukaan juga akan menikuti pola yang sama. Namun
ternyata tidak demikian, karena ada benua-benua, pulau-pulau di tengah samudera, dan pematangpematang laut yang membuatnya terdistorsi. Selain itu faktor fisik tersebut, banyak faktor yang
mempengaruhi pola pergerakan arus permukaan, tetapi di sini hanya akan diuraikan dua faktor yang
utama, yaitu efek Coriolis dan Transportasi Ekman.

Gambar 15. Pola sirkulasi massa air global. Dari Weisberg dan Parish (1974).

Gambar 15a. Pola angin global menurut Sturman dan Tapper (1996) untuk kawasan 40S
0 40U. Dikutip dari Tapper (2002) dengan modifikasi. ITCZ = intertropical
convergence zone.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

20

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Gambar 15b. Pola sirkulasi atmosfer global. Dikutip dari Berner


dan Berner (1987).

4.4.2.1. Efek Coriolis


Fenomena ini muncul sebagai konsekuiensi dari gerak rotasi Bumi. Gejala ini diungkapkan
pertama kali oleh Gaspard G.. Coriolis (1792-1843), seorang ahli matematika dan fisika bangsa
Perancis, di abad ke-19. Efek ini adalah gerak semu dari suatu objek yang bergerak melintasi
permukaan Bumi, sementara itu Bumi berrotasi di bawahnya. Efek ini mempengaruhi semua objek
yang bergerak melintasi permukaan Bumi, seperti arus laut, angin, dan peluru kendali. Gambaran
dari efek ini adalah seperti pada Gambar 16.

Gambar 16. Efek Coriolis di berbagai tempat di Bumi.


Dari Weisberg dan Parish (1974).

Bila seseorang berdiri pada satu titik di Hemisfer Utara dan menghadap ke arah gerakan
arus, maka akan orang tersebut akan melihat bahwa arus berbelok ke arah kanan. Sebaliknya, bila
hal yang sama dilakukan di Hemisfer Selatan, maka arus akan terlihat berbelok ke arah kiri.
Pengaruh dari efek Coriolis tersebut menyebabkan terjadinya gerakan arus berputar searah gerak
jarum jam di Hemisfer Utara, dan gerak berputar berlawanan arah gerak jarum jam di Hemisfer
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

21

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Selatan.

4.4.2.2. Transportasi Ekman


Angin adalah tenaga penggerak pertama dan utama yang menggerakkan arus-arus
permukaan. Meskipun demikian, sesungguhnya garakan arus tidak tepat searah dengan arah tiupan
angin, melainkan membentuk sudut ke arah kanan. Demikian pula, arus di permukaan samudera
tidak memberikan efek yang sama ke seluruhan kedalaman perairan, tetapi terbatas beberapa ratus
meter. Gerak menyimpangnya arah arus dari arah angin yang menggerakkannya itu adalah karena
pengaruh dari efek Coriolis terhadap gerakan arus. Hal ini pertama kali dijelaskan oleh V.W. Ekman
(1874-1954) seorang ahli oseanografi bangsa Norwegia, pada tahun 1905. Sejarahnya, Nansen
secara kualitatif mengamati Gunung Es yang hanyut ke arah kanan dari angin angn yang bertiup di
Hemisfer Utara. Dia kemudian mengkomunikasikan hal itu kepada Ekman yang kemudian
mengembangkan teori kuantitatif upper-layer wind-driven circulation (sirkulasi lapisan atas yang
digerakkan oleh angin).
Bayangkan bahwa P adalah tubuh air (Gambar 17,a). Ketika angin bertiup di atasnya, terjadi
gaya friksi Ft yang searah dengan arah tiupan angin dan kemudian menggerakkan massa air itu serah
dengan arah angin. Setelah aris bergerak, segera gaya Coriolis Fc bekerja ke arah kanan dengan
sudut tegak lurus dengan arah tiupan angin, dan menyebabkan aliran Vo berbelok ke kanan (di
Hemisfer utara, dan ke kiri di Hemisfer selatan). Pada saat yang sama, massa air yang bergerak itu
menunculkan gaya gesekan dengan massa air di sebelah bawahnya. Secara sederhanya dapat
dikatakan bahwa Vo berarah 45o terhadap arah angin. Dengan logika yang sama, arah gerakan arus
di bawahnya akan terus menyimpang sebesar 45o dari arah arus di atasnya. Sampai kedalaman
tertentu, arah arus akan berlawanan arah dengan Vo. Apabila arah-arah arus itu digambarkan pada
satu bidang, maka akan tergambar Spiral Ekman (Gambar 17,d). Kedalaman DE dimana air bergerak
berlawanan arah dengan air di permukaan Vo, disebut sebagai depth of frictional influence
(kedalaman pengaruh friksi). Kedalaman ini diambil sebagai ukuran kedalaman pengaruh angin
permukaan terhadap gerakan air laut. Lapisan ini disebut sebagai Lapisan Ekman (Pickard dan
Emery, 1995). Arah transportasi massa air yang menyudut 90o terhadap arah angin permukaan
disebut Transportasi Ekman (Ingmanson dan Wallace, 1985).

Gambar 17. Spiral Ekman. Dari Pickard dan Emery (1995).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

22

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

4.4.3. Sirkulasi Laut-Dalam


Gerakan air-dalam terjadi karena perbedaan densitas air laut. Perbedaan densitas air laut
terutama karena variasi salinitas dan temperatur air laut. Sirkulasi massa air laut yang terjadi karena
perbedaan densitas itu disebut Thermohaline circulation (sirkulasi termohalin). Kata
thermohaline berasal dari kata thermo yang berarti panas, dan haline yang berarti garam
atau halite Jadi sirkulasi termohalin adalah gerakan massa air yang terjadi karena perubahan
densitas air laut yang disebabkan oleh perubahan temperatur dan salinitas. Sirkulasi termohalin di
samudera terjadi karena peningkatan densitas di lapisan permukaan, baik karena pendinginan
langsung maupun karena pencairan es yang melepaskan garam-garam ke laut. Sirkulasi ini adalah
proses konveksi dimana air dingin dengan densitas tinggi terbentuk di daerah lintang tinggi turun
dan secara perlahan mengalir ke arah ekuator. Sirkulasi termohalin berjalan sangat lambat, karena
itu tidak dapat dilihat secara langsung. Sebagian besar informasi tentang sirkulasi ini diperoleh dari
pengukuran temperatur, salinitas, densitas di bawah laut.
Siskulasi thermohalin terjadi di Samudera Atlantik, Pasifik dan Hindia. Secara keseluruhan,
sel-sel sirkulasi thermohalin bergabung membawa massa air berkeliling dunia, membangun suatu
sistem transportasi massa air yang kemudian disebut Global Ocean Conveyor System (Gambar
17a). Dalam sistem sirkulasi seperti itulah massa air laut global terjadi.
Sistem sirkulasi massa air global yang tampak di dalam Gambar 17a adalah sistem sirkulasi
yang terjadi di masa sekarang. Sebagaimana kita ketahui bahwa, dalam sejarah Bumi konfigurasi
benua-benua selalau berubah, oleh karena itu, sistem sirkulasi massa air global di masa lalu tentu
berbeda dengan yang ada pada masa sekarang.

Gambar 17a. Global Ocean Conveyor System. Dikutip dari Skinner dan Porter (2000) dengan
modifikasi.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

23

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

4.4.4. Arus-arus dengan Sebab Khusus


Selain dari arus-arus yang berskala global, ada arus-arus lain yang bersifat lokal yang
penting yang terjadi karena sebab-sebab khusus, seperti arus sepanjang pantai, arus rip, arus turbid,
arus pasang surut, upwelling dan downwelling.

4.4.4.1. Arus sepanjang pantai (longshore current)


Arus sepanjang pantai adalah arus yang bergerak sejajar dengan garis pantai. Arus ini timbul
karena dua sebab: (1) gelombang yang mendekati pantai dengan arah tegak lurus terhadap garis
pantai, dan (2) gelombang datang mendekati pantai dengan sudut miring. Arus sepanjang pantai ini
berperanan dalam transportasi sedimen menyusur pantai (Gambar 18).

4.4.4.2. Arus Rip (Rip current)


Arus rip adalah arus yang bergerak ke arah laut dengan arah yang tegak lurus atau miring
terhadap garis pantai. Arus ini adalah arus balik yang timbul setelah gelombang mencapai garis
pantai, dan kehadirannya umumnya berasosiasi dengan arus sepanjang pantai dalam suatu sistem
sirkulasi sel (cell circulation system). Arus ini berperanan dalam transportasi sedimen dari pantai ke
arah laut. (Gambar 18).

4.4.4.3. Arus Turbid (Turbidity current)


Arus turbid adalah arus dasar laut yang terjadi karena perbedaan densitas air laut. Perbedaan
densitas itu terjadi karena kandungan muatan sedimen. Arus ini telah berhasil dihasilkan dalam
percobaan di laboratorium. Di alam arus ini dapat terjadi di danau atau waduk. Di samudera, arus
turbid dicetuskan oleh gempa bumi, longsoran bawah laut, dan badai. Di daerah muara sungai, arus
turbid dapat terjadi pada waktu banjir.

Gambar 18. Pola pembentukan arus


sepanjang pantai dan arus rip. Dari Komar
(1976).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

24

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

4.4.4.4. Arus pasang surut


Arus pasang surut adalah arus yang terjadi berkaitan dengan peristiwa pasang surut. Arus ini
terjadi pada saat periode pasang dan periode surut. Arus ini terlihat jelas di daerah estuari atau muara
sungai. Arus ini mempengaruhi pola pengendapan muatan sedimen dan pola penyebaran alur-alur
sungai di kawasan delta sungai.

4.4.4.5. Upwelling dan Downwelling


Telah dibicarakan di depan bahwa tiupan angin menyebabkan gerakan air laut horizontal.
Selain itu, tiupan angin dapat juga menimb ulkan gerakan vertikan yang dikenal sebagai upwelling
bila air bergerak naik, dan downwelling bila air bergerak turun. Selanjutnya, juga telah kita
bicarakan tentang Efek Coriolis dan Transportasi Ekman, dua fenomena gerakan massa air karena
tiupan angin.
Sebagai contoh, bila angin bertiup ke arah selatan dengan sejajar pantai barat Amerika
maka, bila di belahan Bumi utara akan terjadi trasportasi massa air kearah laut, yang kemudian
diikuti oleh naiknya massa air dari bagian laut yang lebih dalam ke permukaan (Gambar 20).
Peristiwa naiknya massa air itulah yang disebut sebagai upwelling. Upwelling menyebabkan massa
air laut dalam yang dingin dan kaya akan nutrient dan oksigen terlarut naik ke permukaan, sehingga
menyebabkan kawasan tersebut menjadi sangat tinggi produktifitasnya, sangat kaya secara biologi
atau merupakan daerah yang subur bagi perikanan. Sekitar 90% aktifitas perikanan tangkap dunia
berada di daerah upwelling (Ingmanson dan Wallace, 1985). Sebaliknya, di pantai barat Peru yang
terletak di belahan Bumi selatan, upwelling terjadi bila angin bertiup ke arah utara. Kemudian,
berdasarkan tempat kejadiannya, yaitu kawaan pesisir, maka dua contoh upwelling yang disebutkan
di atas dikenal sebagai Coastal upwelling (upwelling daerah pesisir).
Selain di daerah pesisir, upwelling dapat juga terjadi di sepanjang ekuator, sehingga disebut
sebagai Equatorial upwelling (Gambar 21). Arus ini terjadi di Samudera Pasifik dan Atlantik. Angin
yang bergerak di sepanjang ekuator dari timur ke barat, karena pengaruh Spiral Ekman
menyebabkan massa air membelok ke utara di belahan Bumi utara, dan ke selatan di belahan
Bumi selatan. Selanjutnya, massa air di ekuator yang terdorong ke samping itu menyebabkan
naiknya masa air yang lebih dingin dari kedalaman yang lebih dalam ke permukaan. Kemudian,
karena massa air yang lebih hangat memiliki densitas yang lebih rendah, maka bila angin bertiup
kencang, permukaan air di bagian barat lebih tinggi daripada di bagian timur. Efek selanjutnya
adalah, lapisan termoklin yang merupakan batas antara air hanyat dan yang lebih dingin akan
miring. Di bagian timur lebih tinggi daripada di bagian barat. Di Samudera Pasifik bagian timur,
termoklin hampir mencapai permukaan.

Gambar 20. Upwelling yang terjadi di Hemisfer utara, di daerah


pantai barat Benua Amerika atau bagian timur Samudera Pasifik.
Dikutip dari Ingmanson dan Wallace (1985).
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

25

Oseanografi, Gerakan Air Laut


5/22/2012

Gambar 21. Equatorial upwelling dan arus-arus yang berasosiasi dengannya.


Sumber: [http://www.atmos.washington.edu/gcg/RTN/Figures/RTN12.html].
Akses: 9 Npember 2006.

DAFTAR PUSTAKA
Beer, T., 1997. Environmental Oceanography, 2nd edition. CRC Press, London, 367.
Fauzi dan Ibrahim, G., 2002. Lessons learned from large tsunami that occurred in Indonesia. Paper
presented in International Workshop on Tsunami Risk and Its Reduction in the Asia-Pacific
Region, Bandung, March 18-19, 2002.
Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1973. Oceanology: an introduction, Wadsworth Publishing
Company, Inc., Belmont, 325 p.
Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1985. Oceanology: an introduction, Wadsworth Publishing
Company, Inc., Belmont, 530 p.
Komar, P.D., 1976. Beach Processes and Sedimentation, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliff, New
Jersey, 429 p.
Pethick, J., 1992. An Introduction to Coastal Geomorphology, Edward Arnold, London, 260 p.
Pickard, G.L. and Emery, W.J., 1995. Descriptive Physical Oceanography: an introduction, 5 th ed.,
Butterworth Heinemann, London, 320 p.
Ross, D.A., 1977. Introduction to Oceanography, Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey,
438 p.
Setyawan, W.B., 2002. Bahaya Tsunami dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Year Book Mitigasi
Bencana 2002. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan
dan Kawasan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 16-22.
Skinner, B.J. and Porter, S.C., 2000. The Dynamic Earth: an introduction to physical geology, 4 th
edition. John Wiley & Sons, Inc., New York, 575 p.
Swan, B., 1983. The Coastal Geomorphology of Sri Lanka: an introdustory survey. Dept. of
Geography, University of New England, Armidale, New South Wales: 182 p.
Synolakis, C.E. and Okal, E.A., 2002. The 1988 Papua New Guinea tsunami: evidence for an
underwater slump (abstract). Presented in International Workshop on Tsunami Risk and Its
Reduction in the Asia Pasific Region, Bandung, March 18-19, 2002.
Tapper, N., 2002. Climate, climatic variability and atmospheric circulation patterns in the Maritimr
Continent region. In: P. Kershaw, B. David, N. Tapper, D. Penny and J. Brown (editors),
Bridging Wallaces Line: the environmental and cultural history and dynamic of the SEAsian_Australian region. Advances in Geoecology 34, International Union of Soil Sciences
(IUSS), Reiskirchen, Germany, 5-28.
Triatmodjo, B., 1999. Teknik Pantai, Beta Offset, Yogyakarta, 397 p.
Weisberg. J. and Parish, H., 1974. Introductory Oceanography. McGraw-Hill Kogashuka, Ltd.,
Tokyo, 320 p.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

26

Oseanografi, Lingkungan Laut


5/22/2012
Edit terakhir: 9 Nop 2006

5. LINGKUNGAN LAUT
5.1. PENDAHULUAN
Kehidupan di lingkungan laut sangat bervariasi. Tumbuhan dan hewan hadir dalam berbagai
ukuran, bentuk, warna, dan cara hidup. Berbagai kelompok hewan dan tumbuhan tampak hadir dalam
jumlah yang berbeda-beda, baik dalam hal jumlah jenis atau spesiesnya, jumlah individu, maupun
luas areal penyebarannya.
Penelitian dasar oleh ilmuwan tentang biologi laut ditekankan pada bagaimana hewan dan
tumbuhan berinteraksi satu sama lain dan lingkungan tempat hidupnya. Pengetahuan tentang
lingkungan ini meliputi pengetahuan detil tentang sifat kimia air laut yang penting bagi kehidupan di
laut, dan pemahaman tentang proses-proses biologi yang mendasar. Sementara itu, penelitian terapan
difokuskan terutama pada efek dan bagaimana mendeteksi polusi yang terjadi di laut, dan bagaimana
meningkatkan produksi makanan dari laut serta obat-obatan (Ross, 1977).
Di dalam bab ini uraian akan difokuskan pada laut sebagai lingkungan yang mendukung
kehidupan di laut. Adapun hal tentang tumbuhan dan hewan di laut, polusi dan sumberdaya hayati laut
akan iuraikan di dalam bab-bab mendatang.

5.2. LAUT SEBAGAI LINGKUNGAN BIOLOGIS


Organisme laut secara terus menerus berhubungan langsung dengan air laut. Dengan
demikian, kondisi fisika dan kimia air laut akan dengan cepat mengenai organisme itu. Suatu hal yang
menguntungkan adalah karakter fisika dan kimia air laut cenderung relatif stabil, dan organisme laut
tidak dihadapkan pada perubahan kondisi lingkungan yang mendadak sebagaimana dialami oleh
organisme yang hidup di darat. Organisme laut dipengaruhi secara langsung oleh sifat kimia laut,
karena organisme laut itu mendapatkan berbagai unsur kimia untuk proses kehidupannya dari air laut.
Berikut ini diuraikan beberapa sifat fisika dan kimia air laut yang penting bagi kehidupan laut.

5.2.1. Sifat-sifat Air Laut Yang Penting Secara Biologis


Beberapa sifat air laut yang penting bagi kehidupan tumbuhan dan hewan di laut adalah
sebagai berikut:
1). Kemampuan melarutkan (sebagai pelarut). Air laut dapat melarutkan dan membawa banyak
material untuk memenuhi kebutuhan berbagai mineral dan gas yang dibutuhkan bagi
kehidupan organisme laut.
2). Densitas (pendukung kehidupan). Air laut itu sendiri memberikan dukungan bagi banyak
organisme, dan sampai pada tingkat tertentu menghilangkan kebutuhan akan struktur rangka
tubuh. Sebagai cotoh: ubur-ubur dan berbagai hewan kecil dapat mengapung di laut, dan laut
dapat mendukung kehidupan ikan paus yang sangat besar.
3). Sebagai larutan penyangga (buffer). Sifat ini membuat air laut tetap netral dan melawan
perubahan untuk menjadi lebih asam ataupun lebih basa atau alkalin. Air laut bersifat sedikit
alkalin dengan pH 7,5 8,4. Sifat alkalin ini diperlukan oleh organisme untuk membentuk
cangkang dari kalsium karbonat (CaCO3). Bila air laut bersifat asam, maka karbonat akan
larut. Keuntungan lain adalah, dalam kondisi buffer, barbon dalam bentuk CO 2 dapat hadir
dalam jumlah besar di dalam air laut dengan tidak merubah pH. Karbon diperlukan oleh
tumbuhan untuk memproduksi material organik.
4). Transparansi. Air laut yang transparan membuat sinar dapat menembus air laut sampai
kedalaman yang besar. Sinar dibutuhkan dalam proses fotosintesis. Dengan demikian, proses
fotosintesis tidak hanya terjadi pada kedalaman beberapa meter dari permukaan laut,
melainkan dapat mencapai kedalaman sampai 200 meter, tergantung pada tingkat kejernihan
air.
5). Kapasitas panas dan panas laten penguapan yang tinggi. Kedua sifat ini mencegah
terjadinya perubahan temperatur air laut yang cepat, yang membahayakan kehidupan laut.
6). Mengandung banyak unsur kimia. Unsur kimia yang ada di dalam air laut sangat penting
Page 1 of 7

Oseanografi, Lingkungan Laut


5/22/2012
Edit terakhir: 9 Nop 2006

bagi kehidupan organisme laut. Rasio beberapa unsur itu di dalam air laut sama dengan yang
dikandung oleh cairan tubuh dari sebagian besar organisme laut. Kesamaan antara medium
luar (air laut) dan medium dalam (cairan tubuh) sangat penting bagi proses osmosis.
Organisme laut harus melawan tekanan osmosis untuk mempertahankan komposisi cairan
dalam tubuhnya. Di lingkungan laut, ada kesamaan antara cairan tubuh dengan medium luar,
sehingga hanya sedikit tekanan osmosis yang terjadi. Keadaan ini berarti hanya sedikit energi
yang dibutuhkan untuk mempertahankan cairan tubuh, dan banyak energi yang dapat dipakai
untuk pertumbuhan.

5.2.2. Karakter Umum Samudera Sebagai Lingkungan Biologis


Beberapa kondisi parameter lingkungan air laut yang mempengaruhi kehidupan organisme
laut adalah:
1). Temperatur berkisar dari -2oC sampai 40oC. Di samudera, banyak kawasan yang sangat
luas memiliki kisaran temperatur yang seragam.
2). Salinitas berkisar dari mendekati nol di estuari dan dekat pantai sampai sekitar 4 di Laut
Merah. Meskipun demikian, di permukaan samudera terbuka, salinitas air laut sangat konstan
berkisar antara 3,3 3,7. Di air yang lebih dalam, salinitas lebih seragam dengan kisaran
normal 3,46 3,5.
3). Kedalaman laut berkisar dari nol meter sampai mencapai ribuan meter meter di palung
atau cekungan samudera.
4). Tekanan berkisar dari 1 atm di permukaan laut sampai lebih dari 1000 atm di perairan yang
sangat dalam. Dari permukaan, tekanan air laut bertambah 1 atm untuk setiap turun 10 meter
kedalaman.
5). Penetrasi cahaya dapat mencapai 1000 meter.
6). Oksigen terlarut berkisar dari lingkungan yang aerob sampai anaerob.
7). Sirkulasi. Sirkulasi air laut sangat penting secara biologis, antara lain karena: (1) membawa
oksigen dari permukaan laut ke bagian-bagian laut yang dalam, (2) membawa nutrien dari air
yang dalam ke permukaan laut, sehingga dapat dipergunakan oleh tumbuhan, dan (3) sebagai
mekanisme penyebaran bahan buangan (waste products), telur-telur, larva-larva atau individu
dewasa dari berbagai kehidupan laut.
Semua parameter-parameter lingkungan itu membuat di laut terdapat berbagai variasi kondisi
lingkungan hidup organisme, yang disetiap lingkungan itu dihuni oleh organisme yang spesifik.
Berikut ini akan diuraikan tentang pembagian dari lingkungan laut dan karakter umumnya.

5.3. KLASIFIKASI LINGKUNGAN LAUT


Berasarkan pada dua komponen utamanya, yaitu bumi sebagai wadah dan massa air sebagai
sesuatu yang diwadahi, lingkungan laut dapat dibedakan menjadi dua lingkungan utama, yaitu: (1)
lingkungan bentik (benthic), yang mengacu kepada dasar samudera atau dasar laut, dan (2)
lingkungan pelagis (pelagic), yang mengacu kepada massa air laut. Kedua kelompok utama
lingkungan laut itu meliputi dasar laut dan perairan dengan kisaran kedalaman yang sangat besar,
mulai dari nol meter di tepi laut sampai kedalaman ribuan meter di daerah palung. Oleh karena itu,
kedua lingkungan itu dibedakan lagi menjadi beberapa zona lingkungan berdasarkan beberapa
parameter lingkungan laut. Beberapa penulis seperti Hedgpeth, 1957 vide Nybaken, 1993, Ross,
1977, Ingmanson dan Wallace, 1985, dan Webber dan Thurman, 1991, telah membagi-bagi
lingkungan laut menjadi berapa zona. Dasar yang dipakai untuk menentukan batas-batas dari setiap
zona lingkungan itu adalah salinitas, kedalaman air, kedalaman penetrasi cahaya, dan temperatur air.
Kriteria yang paling umum dipakai adalah kedalaman air. Beberapa skema zonasi pernah diajukan dan
direview oleh Menzies at al. (1973 vide Nybakken, 1991). Tidak skema zonasi tunggal yang diterima
secara universal. Sebab utamanya adalah karena kurangnya informasi tentang ekologi. Zonasi
lingkungan laut yang dipakai disini adalah seperti pada Gambar 5.1, dan Tabel 5.1.

Page 2 of 7

Oseanografi, Lingkungan Laut


5/22/2012
Edit terakhir: 9 Nop 2006

Gambar 5.1. Zonasi lingkungan laut. Dikutip dari Webber dan Thorman (1991) dengan
modifikasi.
Tabel 5.1.A. Zonasi lingkungan laut dangkal.
Cahaya Zona Pelagis Kisaran Kedalaman (m)

Zona Bentik
Kisaran Kedalaman (m)
Supralitoral
Di atas pasang tinggi
Litoral
Pasang tinggi surut rendah
Eufotik
Inner
Surut rendah (0 ) - 50
Neritik
0 - 200
Sublitoral
Outer
50 (?) - 200
Sumber: Kompilasi dari Ross (1977), Ingmanson dan Wallace (1985), dan Webber dan Thurman (1991).
Tabel 5.1. B. Zonasi lingkungan laut dalam.
Cahaya
Zona Pelagis
Kisaran Kedalaman (m)
Zona Bentik
Eufotik (99%)
Epipelagis
0 200
Sublitoral
Disfotik (1%)
Mesopelagis
200 1000 (?)
Batial
Batipelagis
1000 (?) 4000 (?)
Afotik (0%)
Abisalpelagis
4000 (?) - 6000
Abisal
Hadalpelagis
> 6000
Hadal
Catatan: (?) = batas tidak tentu.
Sumber: Hedgpeth (1957 vide Nybakken, 1993) dengan modifikasi.

Kisaran kedalaman (m)


0 200
200 4000 (?)
4000 (?) 6000
> 6000

Berdasarkan pada posisinya terhadap konfigurasi benua dan samudera, lingkungan pelagis
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) lingkungan neritik (neritic)atau sistem neritik, yaitu yang
mengacu kepada air laut dangkal yang menutupi paparan benua; kedalamannya mencapai 200 meter,
dan (2) lingkungan oseanik (oceanic) atau sistem oseanik, yaitu yang mengacu kepada air laut dalam
yang menutupi lereng benua sampai cekungan samudera; kedalamannya lebih dari 200 meter.
Lingkungan oseanik dibedakan menjadi lima zona lingkungan, yaitu: (1) epipelagis
Page 3 of 7

Oseanografi, Lingkungan Laut


5/22/2012
Edit terakhir: 9 Nop 2006

(epipelagic) dari permukaan laut sampai kedalaman 200 meter, (2) mesopelagis (mesopelagic)
dari 200 sampai 700-1000 meter, (3) batipelagis (bathypelagic) dari 700-1000 sampai 2000-4000
meter, (4) abisalpelagis (abyssalpelagic) dari 2000-4000 sampai 6000 meter, dan hadalpelagis
(hadalpelagic) kedalaman lebih dari 6000 meter. Sementara itu, berdasarkan pada penetrasi sinar
matahari, lingkungan pelagis dapat dibedakan menjadi tiga zona, yaitu: (1) eufotik (euphotic)
mulai dari permukan laut sampai batas kedalaman dimana 99% sinar matahari diserap; mencakup
kedalaman sampai 200 meter atau sebanding dengan zona neritik atau epipelagis, (2) disfotik
(dysphotic) dari batas bawah zona eufotik sampai kegelapan total; kedalaman dari 200 1000 meter
atau sebanding dengan zona mesopelagis, dan (3) afotik (aphotic) zona tidak ada sama sekali
cahaya yang menembus; mencakup zona batipelagis, abisal pelagis, dan hadal. Kedalaman 1000 meter
yang menjadi awal dari zona afotik adalah batas dari deep scattering layer (DSL), yaitu suatu zona
penghamburan suara (sound scatter) di dalam jalur gelombang yang sempit. DSL bergerak naik ke
permukaan di malam hari dan turun di siang hari. Fenomena DSL ini berkaitan dengan aktivitas
hewan laut (Ingmanson dan Wallace, 1985). Hewan-hewan laut yang yang ada di dalam jalur itu
berkisar dari hewan-hewan mikriskopis zooplankton sampai copepoda, udang, ikan dan cumi-cumi.
Sementara itu, lingkungan bentik dengan dasar yang sama seperti pelagis, dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu: (1) lingkungan litoral (littoral) atau sistem litoral, yaitu dasar laut yang berupa
paparan benua; kedalaman mencapai 200 meter, dan (2) lingkungan laut dalam (deep sea) atau sistem
laut dalam, yaitu dasar laut mulai dari lereng benua sampai cekungan samudera; kedalaman air lebih
dari 200 meter.
Selanjutnya, berdasarkan pada kedalaman air, lingkungan litoral dapat dibedakan menjadi
tiga, yaitu: (1) supralitoral (supralittoral) dasar laut di atas pasang tinggi, (2) eulitoral (eulittoral)
mulai dari dasar laut batas pasang tinggi sampai surut rendah, dan (3) sublitoral (sublittoral) mulai
dari dasar laut surut rendah sampai dengan kedalaman 200 meter. Pembagian ini umum diterima oleh
ilmuwan. Webber dan Thurman (1991), lingkungan sublitoral dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1)
inner sublittoral kedalaman dari surut rendah (0 meter) sampai kedalaman 50 meter yang
merupakan batas tumbuhan yang menempel dapat tumbuh dan berfotosintesis, dan (2) outer
sublittoral kedalaman dari 50 meter sampai 200 meter. Ross (1977) menetapkan batas zona eulitoral
ke arah laut sampai kedalaman 40 60 meter, yang merupakan batas tumbuhan yang menempel dapat
tumbuh dan berfotosintesis. Batas dari Ross itu identik dengan batas sisi laut dari zona inner
sublittoral dari Webber dan Thurman (1991). Sedang zona sublitoral dari Ross (1977) identik dengan
zona outer sublittoral dari Webber dan Thurman (1991).
Lingkungan laut dalam berdasarkan kedalaman air, dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
(1) batial (bathyal) kedalaman dari 200 sampai 2000-4000 meter, (2) abisal (abyssal) kedalaman
dari 2000-4000 sampai 6000 meter, dan (3) hadal (hadal) kedalaman > 6000 meter.
Batas kedalaman pembagian zona lingkungan bentik batial dan abisal, bertepatan dengan
batas kedalaman antara lingkungan pelagis batipelagis dan abisalpelagis. Lingkungan Menurut
Ingmanson dan Wallace (1985), batas antara batial dan abisal ditentukan pada kedalaman 2000 meter
dengan anggapan bahwa sebagian besar lantai samudera terletak di kedalaman dari 2000 sampai 6000
meter. Ross (1977) juga menempatkan batas antara batial dan abisal pada kedalaman 2000 meter,
meskipun tanpa penjelasan. Di pihak lain, beberapa buku teks Biologi Laut menempatkan batas itu
pada kedalaman 4000 meter (seperti Weber dan Thurman, 1991; McConnaughey, 1974). Sementara
itu, Hedgpeth (1957 vide Nybakken, 1993), dengan mempertimbangkan parameter temperatur
menempatkan batas antara batipalagis abisalpelagis pada kisaran kedalaman dari 2000 sampai
4000 meter, yaitu bertepatan pada kedalaman dengan temperatur 4oC. Selain itu, ia juga
menempatkan batas antara mesopelagis batipelagis pada kisaran kedalaman dari 700 sampai 1000
meter, yaitu pada kedalaman dengan temperatur 10oC.
Berikut ini akan diberikan uraian lebih lanjut tentang karakteristik dari berbagai zona
lingkungan laut tersebut di atas.

Page 4 of 7

Oseanografi, Lingkungan Laut


5/22/2012
Edit terakhir: 9 Nop 2006

5.4. KARAKTERISTIK LINGKUNGAN LAUT


5.3.1. Lingkungan Bentik
5.4.1.1. Lingkungan Suparlitoral
Lingkungan supralitoral berada di atas pasang tinggi. Lingkungan ini lebih banyak tersingkap
ke udara, dan hanya akan tergenang pada saat air laut mengalami pasang tertinggi. Sehari-harinya,
lingkungan ini basah oleh air laut oleh cipratan air dari gelombang yang pecah di pantai atau bila
terjadi badai.
Kondisi permukaan lingkungan ini sangat kasar. Organisme yang hidup di lingkungan ini
hampir terus menerus tersingkap ke udara, dan hanya basah bila terjadi air laut pasang tertinggi,
cipratan air dari gelombang yang pecah di pantai atau bila terjadi badai. Hewan yang hidup di
lingkungan ini, sama di seluruh dunia.

5.4.1.2. Lingkungan Eulitoral


Umum diterima bahwa lingkungan eulitoral, sering juga disebut litoral, meliputi daerah yang
secara periodik tersingkap ke udara pada waktu laut surut (daerah pasang surut atau intertidal). Lebar
daerah pasang surut (intertidal) tergantung pada kisaran tinggi pasang surut dan kemiringan lereng
dasar laut. Hewan yang hidup di daerah ini adalah hewan yang sanggup bertahan terhadap pukulan
gelombang. Ross (1977) menarik batas sisi laut lingkungan ini sampai daerah dengan kedalaman 40
sampai 60 meter. Batas sisi laut dari lingkungan ini adalah sampai kedalaman dimana sebagian besar
tumbuhan yang menempel masih dapat tumbuh dan mendapatkan cukup cahaya untuk fotosintesis.
Hewan dan tumbuhan di kawasan ini sangat banyak dan bervariasi. Selain itu, kawasan ini
juga sangat baik untuk mempelajari kondisi lingkungan biologi laut, karena kondisi lingkungan ini
dapat diamati secara langsung dengan cara menyelam.

5.4.1.3. Lingkungan Sublitoral


Lingkungan sublitoral mencakup daerah dengan kedalaman 200. Menurut Ross (1977) batas
sisi laut lingkungan ini bahkan sampai 400 meter. Batas ini didasarkan pada kedalaman maksimum
dimana algae (tumbuhan) dapat hidup,. Batas bawah lingkungan ini umumnya bertepatan dengan
batas bawah zona eufotik. Selain itu batas sisi laut dari lingkungan ini bertepatan dengan tepi paparan
benua.
Faktor lingkungan yang penting adalah cahaya dan temperatur. Selain itu, faktor lain yang
kadang-kadang juga penting adalah kondisi geologi dasar perairan, gelombang, dan arus. Beberapa
hal yang penting yang perlu dicatat dari lingkungan ini adalah bahwa di lingkungan ini terbentuk
delta-delta, terumbu karang, atau alur-alur bawah laut (submarine canyon).
Pada rentangan dari lingkungan eulitoral sampai sublitoral, terdapat penurunan kehidupan
tumbuhan dan peningkatan kehidupan hewan laut. Adanya berbagai jenis hewan yang bernilai
ekonomis itu menyebabkan kawasan sublitoral yang sangat ekstensif dieksploitasi oleh para nelayan
komersil.

5.4.1.4. Lingkungan Laut Dalam


Lingkungan laut dalam yang meliputi lingkungan batial, abisal, dan hadal, kosong dari
kehidupan tingkat tinggi, tetapi bakteri dapat hidup di lingkungan yang dalam ini.
Kondisi oseanografi di lingkungan laut dalam ini seragam. Temperatur turun perlahan sesuai
dengan kedalaman, salinitas relatif konstan, dan tekanan meningkat 1 atm setiap turun dengan
kedalaman 10 meter. Organisme yang hidup di dalam lingkungan ini sebagian besar tersusun oleh air.
Oleh karena itu, tekanan tidak mempengaruhi proses kehidupan hewan laut dalam.
Kondisi oseanografi yang seragam di dalam lingkungan ini menunjukkan bahwa musim
musim memiliki pengaruh yang kecil terhadap berbagai fenomena kehidupan, seperti musim
berkembang biak, yang di perairan dangkal dipengaruhi oleh musim.
Page 5 of 7

Oseanografi, Lingkungan Laut


5/22/2012
Edit terakhir: 9 Nop 2006

Makanan di lingkungan laut dalam tidak sebanyak di lingkungan litoral. Hewan-hewan laut
dalam diperkirakan mendapat makanan dari material organik yang jatuh dari perairan dekat
permukaan ke dasar samudera.
Zona hadal meliputi daerah palung laut dalam, temperatur mencapai <1oC, dan tekanan
mencapai 600 atm. Jumlah hewan di daerah ini kira-kira sepersepuluh kehidupan di zona abisal.

5.4.2. Lingkungan Pelagis


5.4.2.1. Lingkungan Neritik
Lingkungan neritik pelagis umumnya memperlihatkan kondisi keanekaragaman yang tinggi
bila di lingkungan itu terdapat air tawar yang masuk dari aliran sungai. Organisme yang hidup di
lingkungan ini dengan demikian harus bertahan hidup dalam kisaran salinitas yang lebar.
Nutrien yang masuk ke dalam lingkungan ini berasal dari laut dalam yang masuk melalui
mekanisme upwelling yang terjadi karena angin di daerah pesisir, dan dari daratan yang masuk
melalui aliran sungai. Banyak ikan dan berbagai tipe makanan dari laut diambil dari daerah ini.

5.4.2.2. Lingkungan Oseanik


Telah disebutkan di depan bahwa lingkungan oseanik dibedakan menjadi zona eufotik,
dysfotik, dan afotik. Berdasarkan kedalamannya dari permukaan laut, lingkungan eufotik oseanik
setara dengan lingkungan neritik. Meskipun demikian, terdapat perbedaan kondisi lingkungan
diantara keduanya yang disebabkan oleh perbedaan kedekatan fisiknya dengan daratan. Berbeda
dengan lingkungan neritik, salinitas di lingkungan eufotik oseanik relatif konstan, temperatur turun
sesuai kedalaman dan perubahan temperatur terbesar terjadi pada kedalaman sekitar 100 meter di
daerah termoklin. Temperatur air permukaan bervariasi sesuai dengan posisi lintang. Nutrien biasanya
rendah di perairan permukaan dan meningkat sesuai dengan kedalaman. Secara biologis, zona eufotik
oseanik memiliki produktifitas rendah dibandingkan zona neritik.
Zona disfotik adalah zona dengan penetrasi sinar matahari kurang dari 1%. Hanya sedikit
sinar biru yang masuk ke dalam zona ini. Batas bawah zona ini adalah daerah dengan oksigen
minimum dan sinar matahari nol persen. Di dalam zona ini bakteri mengurai fitoplankton dan
zooplankton yang mati dan tenggelan ke dalam zona ini dari zona eufotik. Pengurai itu menghasilkan
nutrien. Nutrien tersebut kemudian dibawa kembali ke dalam zona eufotik dengan mekanisme
upwelling. Deep scattering layer (DSL) terdapat di dalam zona ini dengan ketebalan 50 sampai 200
meter. DSL bergerak ke arah permukaan pada malam hari dan turun lagi pada pagi hari, dan juga
bergerak sedikit naik turun bila ada awan lewat di atasnya. Fenomena naik turunnya DSL terjadi
karena hewan-hewan laut yang ada di dalam DSL naik ke atas untuk memakan plankton di malam
hari dan kembali ke kedalaman di siang hari untuk menghindari predator (Ingmanson dan Wallace,
1985).
Zona afotik adalah zona bertemperatur sangat rendah, tekanan sangat tinggi, dan tanpa sinar.
Zona ini meliputi zona batipelagis, abisalpelagis, dan hadal. Zona abisalpelagis adalah satu dari
beberapa unit ekologi terbesar di dunia, karena tiga per empat dari volume total samudera terletak di
dalam zona ini. Di dalam zona ini, densitas air naik sesuai dengan pertambahan kedalaman, dan
stratifikasi air laut terjadi karena densitas. Sementara itu, temperatur turun dengan bertambahnya
kedalaman. Temperatur di dasar laut sekitar 1,6oC.

5.5. LINGKUNGAN KHUSUS


5.5.1. Lingkungan Hidrotermal Laut Dalam
Lingkungan ekosistem lubang hidrotermal laut dalam (deep-sea hydrothermal-vent
ecosystem) pertama kali ditemukan pada tahun 1977 ketika kapal selam Alvin dipakai untuk
mempelajari lubang hidrotermal di Galapagos Rift di lingkungan laut dalam dengan kedalaman 2,5
km (Igmanson dan Wallace, 1985). Lingkungan ini sangat kaya secara biologis. Temperatur di dekat
lubang mencapai 400oC, tekanan tinggi, dan air bersifat asam dengan pH mencapai 2,8. Perairan
banyak mengandung methan dan sulfur.
Page 6 of 7

Oseanografi, Lingkungan Laut


5/22/2012
Edit terakhir: 9 Nop 2006

Secara biologis, lingkungan ini sangat produktif, tetapi produser primer fotosintesis tidak
ditemui. Produktifitas yang tinggi terjadi karena aktifitas bakteri autotrophic (chemosynthetic).
Bakteri tersebut mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfur dan menggunakan energi kimia untuk
mensintesa protein, karbohidarat dan lemak.

5.5.2. Estuari
Estuari atau mulut sungai adalah lingkungan transisi di antara sungai dan laut. Kondisi fisik
lingkungan ini, seperti bentuk, panjang, lebar dan dalamnya, sangat ditentukan oleh sejarah geologi
estuari tersebut. Secara fisik, konfigurasi lingkungan estuari menyerupai sebuah teluk.
Di dalam estuari terjadi pertemuan antara air tawar dari aliran sungai dan air laut. Fenomena
itu membuat salinitas air di dalam estuari sangat bervariasi, mulai dari salinitas air laut sampai kurang
dari 5% di tempat masuknya air sungai. Pola penyebaran salinitas di dalam estuari sangat rumit. Hal
itu karena dalam estuari terjadi pola arus yang sangat kompleks sebagai hasil dari interaksi antara
pasang surut, aliran air sungai, rembesan air tawar, dan efek Coriolis.
Nutrien banyak masuk ke dalam estuari dari daratan melalui aliran sungai. Suplai nutrien
yang banyak dan ditambah sinar matahari membuat lingkungan estuari sangat subur.

DAFTAR PUSTAKA
Ingmanson, D. E. and Wallace, W. J., 1985. Oceanography: an introduction, 3rd ed., Wadsworth
Publishing Company, Belmont, California, 530 p.
McConnaughey, B. H., 1974. Introduction to Marine Biology, 2nd ed., The C.V. Mosby Company,
Saint Louis, 544 p.
Nybakken, J. W., 1993. Marine Biology: an ecological approach, 3rd ed., HarperCollins College
Publisher, New York, 462 p.
Ross, D. A., 1977. Introduction to Oceanography, Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, New
Jersey, 437 p.
Weber, H. H. and Thruman, H. V., 1991. Marine Biology, 2nd ed., HarperCollins Publisher Inc., New
York, 424 p.

Page 7 of 7

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

6. KEHIDUPAN DI LAUT
6.1. PENDAHULUAN
Kehidupan di laut sangat beraneka ragam. Biologi Laut (Marine Biology) adalah cabang
ilmu yang mempelajari seluruh organisme dan habitatnya di laut dan estuari di seluruh dunia, dan
juga mempelajari faktor-faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi keberadaannya. Organisme laut
dipelajari untuk berbagai tujuan, seperti: (1) penelitian ilmu dasar, (2) analisis dampak lingkungan,
(3) eksploitasi sumberdaya alam, (4) kesejahteraan hidup, dan (5) penentuan lokasi prioritas untuk
konservasi.
Organisme pada mulanya hanya dibedakan menjadi dua kelompok besar atau kingdom,
yaitu hewan dan tumbuhan. Perkembangan ilmu dan teknologi menyebabkan perubahan skema
klasifikasi itu. Sekarang, skema klasifikasi yang umum diterima adalah yang membagi organisme
menjadi lima kingdom, yaitu: Monera (bakteri), Plantae (tumbuhan yang sesungguhnya), Metazoa
atau Animalia (hewan bersel banyak), Protozoa (organisme bersel tunggal), dan Fungi (jamur)
(Webber dan Thurman, 1991). Hampir semua kelompok itu mempunyai anggota yang hidup di laut
dengan fungsi ekologis yang jelas, kecuali Fungi. Kelompok Fungi hanya sedikit yang hidup di laut
dan tidak memuli peran ekologis yang jelas. Oleh karena itu, Fungi tidak kita bicarakan di sini.
Selanjutnya, untuk mempermudah penguraian, kelompok organisme itu dikelompokkan lagi
berdasarkan pada karakteristiknya dalam memperoleh energi, yaitu (1) bakteri organisme
dekomposer yaitu organisme yang memperoleh energi dengan cara menguraikan organisme yang
mati atau melalui sintesa material inorganik, (2) flora atau tumbuhan semua organisme berklorofil
yang dapat menghasilkan makanannya sendiri atau produser primer, dan (3) fauna atau hewan
semua organisme yang memperoleh energi dengan cara memakan tumbuhan atau hewan lain.
Di dalam bab ini akan diperkenalkan macam-macam organisme, proses-proses biologi, dan
habitatnya yang umum di lingkungan laut dan estuari.
Dalam mempelajari kehidupan di laut, kita dapat mempelajarinya melalui pendekatan
sistimatika atau klasifikasi atau melalui pendekatan cara hidupnya (mode of existence) di lingkungan
laut. Studi organisme melalui pendekatan sistimatikanya dilakukan bila kita hanya ingin
mempelajari organisme untuk mengetahui perkembangannya atau hubungan evolusinya. Adapun
mempelajari organisme melalui pendekatan cara hidupnya dilakukan bila kita mempelajari
organisme dan hubungannya dengan lingkungan tempat hidupnya. Disini, dipakai pendekatan yang
ke-dua sebagai titik tolak dalam mempelajari kehidupan di laut.

6.2. CARA HIDUP ORGANISME DI LAUT


Pada dasarnya ada tiga cara hidup organisme di laut, yaitu planktonik, bentonik, dan
nektonik. Organisme yang hidup secara planktonik disebut plankton, secara bentonik disebut bentos,
dan secara nektonik disebut nekton. Selanjutnya akan diuraikan secara singkat tentang ketiga cara
hidup tersebut.

6.2.1. Plankton
Kata plankton berasal dari bahasa Yunani yang berarti bergerak dari satu tempat ke
tempat lain. Kelompok organisme ini biasanya kecil dengan kekuatan untuk berpindah tempat
sangat lemah atau terbatas, dan berpendah tempat terutama karena arus laut. Plankton dapat berupa
hewan (zooplankton) maupun tumbuhan (fitoplankton). Sebagian besar plankton berukuran
mikroskopis, tetapi ada juga yang berukuran besar seperti ubur-ubur atau ganggang Sargassum.
Plankton meliputi kelompok terbesar organisme di laut. Selain itu, banyak hewan laut memiliki fase
kehidupan sebagai plankton; biasanya ketika baru lahir.

6.2.2. Bentos
Kata bentos berasal dari bahasa Yunani yang berarti dalam atau laut dalam. Bentos adalah
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

organisme yang hidup di atas atau di bawah dasar laut. Beberapa organisme bentos pada fase awal
kehidupannya memiliki bentuk larva planktonik. Beberapa tipe kehidupan bentonik adalah (1)
menggali lubang di dasar laut, seperti cacing, (2) merayap perlahan di atas permukaan dasar laut,
seperti bintang laut, (3) menimbun diri di dasar laut, seperti teripang, dan berbagai jenis moluska,
dan (4) menambatkan diri di dasar laut, seperti koral, dan berbagai jenis tumbuhan laut.

6.2.3. Nekton
Kata nekton berasal dari bahasa Yunani yang berarti berenang. Nekton meliputi hewan
yang dapat berenang bebas, bebas dari gerakan arus. Kelompok ini meliputi berbagai bentuk
kehidupan hewan tingkat tinggi, seperti ikan, ikan paus, dan berbagai jenis mamalia laut. Tumbuhan
tidak termasuk di dalam kelompok ini.
Nekton memiliki kemampuan secara aktif mencari makanan dan menghindar dari predator.
Kelompok hewan ini juga dapat bermigrasi jarak jauh ke seluruh samudera, dan dijumpai di
permukaan laut atau di dekat dasar permukaan laut, atau di laut dalam di atas dasar laut.

6.3. BAKTERI
Bakteri adalah makhluk bersel tunggal prokaryotik (Gambar 6.1). Bakteri laut memainkan
peranan penting di dalam lingkungan laut sebagai pengurai (decomposer) material organik, sebagai
pengubah (transformer) yang merubah berbagai substrat organik menjadi senyawa-senyawa
inorganik, dan sebagai agen yang mempengaruhi sifat-sifat fisika-kimia sistem pesisir yang dangkal
(Kennish, 1994).

Gambar 6.1. Berbagai macam bentuk bakteri di laut.


Dari Webber dan Thurman (1991).

Di alam terdapat lebih dari 5000 spesies bakteri yang dapat diklasifikasikan dengan berbagai
cara. Dalam kaitannya dengan peranannya di dalam lingkungan, klasifikasi berdasarkan pada cara
bakteri memperoleh energi bermanfaat, karena secara tegas menunjukkan fungsinya di dalam
lingkungan. Berdasarkan pada cara memperoleh energi, bakteri dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

(1) bakteri heterotropik yang mendapatkan energi dengan menguraikan material organik dari
organisme lain yang mati, (2) bakteri fotosintetik (autotrofik) yang memperoleh energi melalui
proses fotosintesis, dan (3) bakteri kemosintetik (chemosyntethic) yang mendapatkan energi dari
oksidasi senyawa inorganik, seperti besi, ammonia, dan sulfur.
Berdasarkan pada kemampuannya memperoleh energi atau makanannya, bakteri secara
garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu (1) bakteri autotropik yang dapat
memenuhi kebutuhan makananya secara mandiri melalui fotosintesis dengan bantuan sinar
matahari, atau melalui kemosistesis (sintesa kimiawi, chemosynthetic), dan (2) bakteri
heterotropik yang memenuhi kebutuhan makanannya melalui sumber lain di luar dirinya atau
organisme lain.
Bakteri heterotropik, berdasarkan pada keterlibatan oksigen dalam proses respirasinya,
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) bakteri heterotropik aerobik yang melibatkan molekul
oksigen dalam respirasinya; bakteri kelompok ini hadir di dalam lingkungan yang mengandung
oksigen atau lingkungan oksidasi, dan (2) bakteri heterotropik anaerobik (fermentasi) yang
tidak melibatkan molekul oksigen dalam respirasinya; bakteri kelompok ini hadir di dalam
lingkungan yang tidak mengandung oksigen atau lingkungan reduksi.
Bakteri adalah transformer utama di lingkungan anoxis lingkungan yang tidak
mengandung oksigen. Kondisi anaerobik secara khas ada di dalam lapisan-lapisan sedimen yang
dalam, di dalam sistem yang memiliki sirkulasi air yang sangat buruk karena pembatasan fisik, dan
di beberapa daerah yang mengalami polusi. Kedalam zona anaerobik di dalam sedimen adalah
fungsi dari sifat-sifat fisika-kimia dan proses-proses biologi.
Metabolisme mikroba anaerobik menghasilkan sejumlah unsur penting yang dapat
dipergunakan oleh organisme aerobik. Ada dua jalur dekomposisi anaerobik, yaitu: (1) fermentasi;
fermentasi oleh bakteri menghasilkan hidrogen, karbon dioksida, ammonia, dan sekelompok
senyawa organik seperti alkohol dan asam lemak, dan (2) dissimilatory sulfate reduction; bakteri
pereduksi sulfat mempergunakan ion sulfat sebagai terminal yang menerima elektron selama
dekomposisi material organik, dan menghasilkan hidrogen sulfida (H2S) yang memberikan warna
hitam di dalam sedimen (Kennish, 1994).

6.4. FITOPLANKTON
Fitoplankton adalah tumbuhan mikroskopis terdiri dari berbagai spesies yang berbentuk
uniselular (sel tunggal, unicellular), filamen (lempengan, filamentous), atau berbentuk rantai, yang
mengapung bebas di air permukaan (zona fotik) samudera dan peraira pesisir. Fitoplankton meliputi
berbagai jenis kelompok alga yang sebagian besar merupakan organisme autotropik.
Berdasarkan ukurannya, fitoplankton dibedakan menjadi ultraplankton ( < 5 m),
nanoplankton ( 5 70 m), mikroplankton ( 70 100 m), dan makroplankton ( > 100 m). Di
dalam opeasional, plankton dibedakan menjadi dua fraksi berdasarkan pada jaring plankton yang
dipergunakan. Semua fitoplankton tertahan oleh jaring plankton (bukaan 64 m), dan yang lolos
dari jaring plankton disebut nanoplankton.
Jenis-jenis plankton yang utama adalah diatom (klas Bacillariophyceae), dinoflagellata (klas
Dinophyceae), coccolithophore (klas Prymnesiophyceae), silicoflagellata (klas Chrysophyceae), dan
blue-green algae (klas Cyanophyceae).
Diatom (Gambar 6.2.A) sering mendominasi komunitas fitoplankton di daerah berlintang
tinggi, perairan dekat pantai di daerah temperat, dan di dalam sistem upwelling. Diatom cenderung
tenggelam di dalam perairan yang nonturbulen, walaupun morfologi, fisiologi, dan adaptasi fisik
mendukung pengapungannya.
Dinoflagellata (Gambar 6.2.B)juga tersebar luas di lingkungan samudera dan estuari, dan
dominan di banyak daerah subtropis dan tropis, dan melimpah di daerah temperate. Sebagian
dinoflagellata berreproduksi secara sexual, dan sebagian besar secara asexual. Laju reproduksi
bervariasi, tergantung pada kondisi lingkungan. Sebagian besar dinoflagellata bersifat autotrofik.
Sejumlah spesies dinoflagellata menghasilkan racun yang bila dilepaskan ke perairan sering dapat
menyebabkan kematian massal pada ikan, kerang-kerangan, dan organisme lain. Efek dari racun itu
sangat jelas pada saat terjadi peristiwa Red Tide, saat terjadi blooming (ledakan populasi) algae.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

6.2.B. Macam-macam Dinoflagelata.

6.2.A. Macam-macam Diatom.

6.2.C. Coccolith.

6.2.D. Silikoflagelata.

6.2.E. Cyanobacteria atau Blue-green algae.

Gambar 6.2. Macam-macam jenis fitoplankton di laut. Dari Webber dan Thurman (1991).

Coccolithophore adalah algae uniselular (Gambar 6.2.C), yang melimpah di perairan


samudera terbuka di daerah tropis dan subtropis, dan kadang-kadang juga di lingkungan pesisir.
Sebagian besar plankton ini bersifat autotropik, dan beberapa bersifat heterotropik di bawah zona
fotik.
Silicoflagelata (Gambar 6.2.D) adalah organisme bersel tunggal yang kecil yang disebut
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

nanoplankton dan memiliki skeleton eksternal berkomposisi silika.


Blue-green algae (Gambar 6.2.E) adalah sebutan lain bagi cyanobacteria atau blue-green
bacteria. Organisme ini memiliki pigmen phycocyanin yang dapat menyebabkannya berwarna biruhijau atau merah, dan klorofil yang membuat organisme ini dapat melakukan fotosintesis.
Kemampuannya melakukan fotosintesis menyebabkannya dikelompokkan ke dalam kelompok
fitoplankton. Trichodesmium adalah salah satu jenis blue-green algae yang dapat blooming dan
memberi warna merah, dan mengeluarkan racun yang dapat mematikan organisme lain. Laut Merah
mendapatkan namanya karena fenomena ini. Di lingkungan laut, blue-green algae penting karena
kemampuannya melakukan fiksasi nitrogen merubah ammonia menjadi nitrit dan nitrat.
Organisme ini berperanan penting dalam memperkaya nutrien di perairan terumbu karang (Webber
dan Thruman, 1991).
Penyebaran populasi fitoplankton tidak merata, tergantung pada respon organisme itu
terhadap kondisi hidrografi, sinar, dan distribusi nutrien, predasi dan simbiosis, dan agregasi
mekanik oleh proses-proses fisik.
Produktifitas fitoplankton berkaitan dengan laju fiksasi karbon (sintesis organik), yang
ditentukan dengan pengukuran laju fotosintesis atau respirasi. Metode yang biasa dipergunakan
untuk menaksir produktifitas fitoplankton adalah dengan mengukur: (1) oksigen yang dilepas selama
fotosintesis, (2) penyerapan karbon dioksida, (3) pH, (4) laju pemunculan biomassa alga yang baru
pada suatu waktu, dan (5) penyerapan radioaktif 14C. Metode radioaktif adalah metode yang sangat
luas diterima dalam memperkirakan produktifitas plantonik primer di laut. Produktifitas fitoplankton
sangat bervariasi dalam ruang dan waktu.
Produktifitas primer fitoplankton adalah fungsi dari interaksi sejumlah faktor fisik, kimia,
dan biologi, dan faktor yang sangat penting adalah cahaya, temperatur, sirkulasi air, salinitas, nutrien
dan pemangsaan (grazing). Energi cahaya dipandang sebagai faktor pembatas yang mengontrol
distribusi fitoplankton. Variasi musiman penyinaran matahari pada lintang tertentu menghasilkan
pola produksi musiman yang berbeda di daerah tropis, temperate, boreal, dan kutub.
Banyak penyinaran matahari di laut tergantung pada sudut datang sinar matahari sepanjang
hari, musim dalam setahun, posisi lintang, dan kondisi iklim lokal seperti tutupan awan. Di dalam
kolom air, absorpsi dan penyebaran sinar oleh molekul-molekul air, partikel suspensi, dan material
terlarut mengurangi sinar. Sinar dan temperatur mempengaruhi blooming (ledakan populasi)
fitoplankton musiman di dalam sistem di lingtang tinggi dan menengah.
Nutrien diperlukan bagi pertumbuhan dan produksi fitoplankton yang memadai. Unsur
nutrien yang utama adalah nitrogen, fosfor, dan silikon. Peristiwa blooming fitoplankton terjadi bila
di perairan terdapan kandungan nutrien yang tinggi dan perairan banyak mendapat penyinaran sinar
matahari.

6.5. ZOOPLANKTON
Zooplankton (Gambar 6.3) dapat diklasifikasikan berdasarkan pada ukuran atau lama
kehidupan planktoniknya. Berdasarkan pada lamanya kehidupan planktonik, zooplankton
diklasifikasikan menjadi:
1). Holoplankton organisme tetap dalam bentuk plankton sepanjang hidupnya: copepod,
cladoceran, dan rotifer.
2). Meroplankton hewan yang hanya sebagian dari siklus hidupnya sebagai plankton: larva
invertebrata bentos, cordata bentos, dan ikan.
3). Tychoplankton zooplankton demersal yang secara periodik terhambur menjadi plankton oleh
arus dasar, adukan gelombang, dan bioturbasi: amphipod, isopod, cumacean, dan mysid.
Berdasarkan pada ukurannya, zooplankton dapat dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu:
1). Mikrozooplankton (< 202 m), seperti: protozoa dan tintinid, larva meroplankton dari
invertebrata bentik, dan copepod nauplii.
2). Mesozooplankton (202 500 m), seperti: cladocerans, copepod, rotifer, dan meroplankton
besar.
3). Makrozooplankton (>500 m), terdiri dari tiga kelompok, yaitu: (1) ubur-ubur (jellyfish:
hydromedusa, combjellies, true jellyfish), (2) crustacea: amphipod, isopod, mysid shrimp, true
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

shrimp, dan (3) cacing polychaeta.

6.3.B. Rotifer

6.3.A. Copepod

6.3.C. Amphipod.

6.3.D. Isopod.

6.3.E. Radiolaria.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

6.3.F. Tintinid.
Gambar 6.3. Macam-macam zooplankton. Dari Webber dan Thurman (1991), kecuali 6.3.B dari Ingmanson
dan Wallace (1985).

Sejumlah faktor biotik dan abiotik mempengaruhi dinamika dan struktur komunitas
zooplankton. Sinar adalah faktor lingkungan utama yang mengatur migrasi vertikal organisme ini.
Perubahan penyinaran pada saat matahari terbit dan terbenam menyababkan gerakan vertikan
populasi zooplankton.
Zooplankton memainkan peranan penting dalam rantai makanan di laut dan estuari sebagai
perantara antara produsen primer (fitoplankton) dan konsumen sekunder. Beberapa zooplankton juga
omnivora.

6.6. FLORA BENTOS


Jenis-jenis flora bentos sangat bervariasi, mulai dari tumbuhan tingkat rendah seperti
algae, sampai tumbuhan tingkat tinggi seperti mangrove, dan hidup diberbagai habitat di wilayah
pesisir. Makrofita (alga dan tumbuhan vascula) menyusun fraksi utama biomassa bentik di dalam
sistem pesisir. Sedimen dasar sering kosong dari makroalga yang biasanya menempel di permukaan
keras, termasuk struktur-struktur buatan manusia, cangkang hewan, batu, dan pantai batu (rocky
shore). Makrofita sering hanyut secara pasif di atas dasar laut estuari dan perairan pesisir. Padang
rumput yang padat dari tumbuhan vascula (misalnya: seagrass) umumnya terdapat di perairan
dangkal daerah subtidal. Rumput rawa garam (salt mars) adalah kenampakan yang mudah dijumpai
di daerah pasang surut daerah temperate, sedang mangrove di daerah tropis.
Flora bentos yang hidup di habitat-habitat dekat pantai dapat dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu: mikroflora dan makroflora.

6.6.1. Mikroflora
Mikroflora, yang sangat ekstensif berkembang di dalam habitat pasang surut. Koloni
mikroflora bersel tunggal atau berfilamen melekat pada sedimen dan juga menempel di permukaan
batuan, tumbuhan lain, binatang, dan barang-barang buatan manusia. Flora yang termasuk kelompok
ini adalah (Gambar 6.4) alga merah (Rhodophyta), alga coklat (Phaeophyta), dan alga hijau
(Chlorophyta).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

6.6.1.1. Alga Merah


Alga merah (Rhodophyta) (Gambar 6.4.A) umumnya hidup di pantai batu (rocky coast).
Flora ini adalah tumbuhan yang relatif kecil, biasanya kurang dari satu meter panjangnya. Beberapa
genera alga ini, seperti Porphyra, tumbuh di daerah pasang surut (intertidal zone). Beberapa spesies
alga merah tumbuh di perairan yang lebih dalam yang tidak terpengaruh oleh gelombang.

6.4.A. Alga merah.

6.4.B. Alga coklat.

6.4.C. Alga hijau.


Gambar 6.4. Macam-macam mikroflora bentos. Dari Webber
dan Thurman (1991).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

Satu kelompok utama dari alga merah, yaitu coralline algae (genus Corallina) dijumpai di
seluruh dunia. Coralline algae adalah komponen penting dari terumbu karang, yang membantu
memperkuat struktur terumbu melalui penyemenan.
Warna merah alga ini berasal dari pigmen phycoerythrin. Banyak pigmen ini di dalam alga
merah bervariasi. Di dalam habitat pasang surut, alga ini kadang-kadang berwarna hujau, hitam, atau
ungu. Di perairan yang lebih dalam, alga ini berwarna merah terang (brilliant rose red).
Beberapa ekstrak alga merah dipergunakan secara komersil sebagai perekat (sizing), kanji
(starch), dan perekat cat (paint binder), dan diproduksi dalam bentuk agar komersil yang
dipergunakan untuk media ilmiah (scientific media), dalam obat-obatan, dan berbagai keperluan
lain.

6.6.1.2. Alga Coklat


Alga coklat (Phaeophyta) (Gambar 6.4.B) sering tumbuh besar. Sebagian alga ini hanya
berbentuk filamen-filamen bercabang sederhana, dan sebagian lainnya berupa ganggang raksasa
(seaweeds) yang dapat mencapai panjang 60 meter. Alga ini tumbuh terutama di zona pasang surut
bawah (lower intertidal) dan di zona subtidal, dan melekat pada substrat. Warna coklat alga ini
berasal dari pigmen fucoxanthin. Jenis alga ini adalah makanan penting bagi herbivora.
Beberapa alga ini hidup terapung-bebas (free-floating) di laut yang jauh dari pantai.
Contohnya genus Sargassum yang membentuk kelompok-kelompok raksasa di perairan Atlantik
Utara bagian barat di Laut Sargasso.
Alga coklat dapat dimanfaatkan sebagai makanan tambahan, pupuk, dan sumber bagi
berbagai jenis garam.

6.6.1.3. Alga Hijau


Alga hijau (Chlorophyta) memiliki ukuran, bentuk, sejarah hidup (life history), dan habitat
yang sangat bervariasi. Alga ini memiliki pigmen chlorophyll dan carotenoid. Di lingkungan laut,
alga ini adalah produsen primer.
Di laut, jenis yang besar dari alga ini menempel pada substrat yang keras dan membentuk
lapisan (mat) yang besar. Contoh dari kelompok ini adalah Penicillus, Halimeda, dan Ulva (Gambar
6.4.C).
Beberapa jenis alga ini hidup secara komensalisme di dalam cangkang moluska, dan
beberapa hidup di dalam sel protista dan hewan. Alga ini memberikan oksigen dan karbohidrat, yang
merupakan hasil fotosintesis, kepada hewan tempat hidup.

6.6.2. Makroflora
Makroflora terdiri dari kelompok komunitas tumbuhan utama, yaitu rumput rawa garam
(salt marsh), lamun (seagrass), dan bakau atau mangrove (mangrove). Secara global, rawa garam
terdapat dalam kisaran daerah mid-temperate sampai lingtang tinggi. Di daerah tropis, posisi rawa
garam digantikan oleh mangrove. Lamun memiliki penyebaran yang luas, dan dapat dijumpai di
perairan dangkal di berbagai posisi lintang, kecuali di daerah kutub.

6.6.2.1. Rumput Rawa Garam


Tumbuhan rawa garam mendominasi vegetasi zona intertidal di daerah-daerah lintang
menengah dan tinggi. Beberapa genera tumbuhan rawa garam yang kosmopilitan adalah Spartina,
Juncus, dan Salicornia (Gambar 6.5). Perairan pesisir yang terlindung, yang didalamnya terjadi
sedimentasi dan tingkat erosi rendah, adalah lokasi ideal bagi pembentukan rawa garam.
Sistem rawa garam minimal memberikan lima fungsi ekologi yang penting, yaitu (1)
sebagai produsen primer, (2) habitatnya sebagai sumber makanan, tempat berlindung dan
reproduksi, (3) akar-akar vegetasi menahan sedimen dan mengurangi erosi, (4) sebagai sumber dan
tempat pencucian trace metal dan nutrien, dan (5) tumbuhan yang mati menjadi sumber bahan
organik.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

Gambar 6.5. Macam-macam rumput rawa garam. Dari Webber dan Thurman (1991).

6.6.2.2. Lamun / Seagrass


Lamun hanya tumbuh terbatas di antara daerah intertidal bagian bawah dan subtidal di
lingkungan estuari dan perairan pesisir. Tumbuhan ini memiliki akar, rhizoma, batang dan daun
(Gambar 6.6.A), dan dapat tumbuh membentuk hamparan seakan padang rumput yang dijumpai di
daratan, yang kemudian disebut sebagai padang lamun atau seagrass bed (Gambar 6.6.B). Dengan
pola pertumbuhan yang demikian itu, lamun menciptakan habitat bagi berbagai jenis organisme laut.

6.6.A.

6.6.B.

Gambar 6.6. Morfologi eksternal Lamun (6.6.A, dari Tomascik et al., 1997), dan padang lamun (6.6.B,
internet)

Pertumbuhan dan distribusi lamun sangat dipengaruhi oleh salinitas, cahaya, dan tingkat
kekeruhan perairan. Di perairan keruh di estuari, pertumbuhan lamun terbatas pada kedalaman
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

10

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

kurang dari satu meter, sedang di perairan yang beraira jernih, lamun dapat tumbuh sampai
kedalaman 30 meter.
Lamun memiliki beberapa fungsi ekologis yang penting, seperti:
1). Sebagai pempentuk habitat, sehigga dikenal adanya ekosistem lamun (seagrass ecosystem).
Banyak populasi invertebrata dan ikan mempergunakan habitat lamun sebagai tempat asuhan
(nursery ground), tempat mencari makan (feeding ground), dan tempat berkembang biak
(reproduction ground).
2). Sebagai produsen primer yang penting karena memiliki produktifitas primer yang tinggi.
3). Detritus dalam jumlah besar yang dihasilkan oleh lamun sangat penting bagi aliran energi pada
banyak ekosisten estuari.
4). Berperan dalam siklus unsur-unsur nutrien yang penting.
5). Struktur tumbuhan dan cara tumbuhnya menyebabkan lamun dapat menangkap sedimen dan
mengurangi erosi.
6). Tumbuhan lamun itu sendiri menjadi makanan bagi herbivora seperti penyu dan dugong.

6.6.2.3. Mangrove
Mangrove (Gambar 6.7) adalah tumbuhan halofita yang dapat membentuk hutan di zona
supratidal sampai subtidal dangkal di perairan tropis dan subtropis. Tumbuhan ini tumbuh dengan
baik di perairan yang terlindungi, lagoon pasang surut, dan estuari yang terletak di antara 25 oN
sampai 25oS. Mangrove memperlihatkan pola pertumbuhan berzonasi yang berkaitan antara lain
dengan toleransi terhadap salinitas, dan genangan pasang surut.

6.7.A. Hutan mangrove, di Pulau Bangka.

6.7.B. Mangrove soliter, di Cirebon, Jawa Barat.

Gambar 6.7. Mangrove. Bisa membentuk hutan mangrove di pantai (6.7.A) dan bisa tumbuh soliter (6.7.B).
Oleh: Wahyu Budi Setyawan, 2006.

Mangrove memiliki beberapa fungsi ekologi yang penting seperti:


1). Sebagai pembentuk habitat, sehingga dikenal adanya ekosistem mangrove.
2). Memiliki produktifitas primer yang tinggi.
3). Berbagai jenis hewan mempergunakan mangrove sebagai habitat, seperti: serangga, reptil, dan
berbagai jenis mamalia.
4). Jumlah besar detritus yang dihasilkan oleh mangrove sangat penting bagi aliran energi.
5). Sistem perakaran mangrove dapat berperanan sebagai pelindung garis pantai, meningkatkan
stabilitas tebing, meningkatkan pertambahan garis pantai, dan meringankan bahaya erosi.
6). Bernilai ekonomis, baik dari vegetasi mangrove itu sendiri maupun dari berbagai jenis
kehidupan yang menjadikan mengrove sebagai habitatnya.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

11

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

6.7. FAUNA BENTOS


6.7.1. Macam-macam Fauna Bentos
Secara garis besar, macam-macam fauna bentos adalah dari kelompok filum-filum berikut
ini:
1). Porifera. Filum ini adalah hewan multiseluler yang paling sederhana yang secara umum dikenal
sebagai sponge. Sponge (Gambar 6.8.A) adalah organisme bentos yang hidup di berbagai
lingkungan. Organisme ini menempel di dasar laut dan dijumpai di berbagai kedalaman.
Siliceous sponge sangat melimpah di perairan dalam bila dibandingkan dengan jenis sponge
yang lain.
2). Cnidaria. Filum ini sebelumnya sebagai Coelenterata. Klas yang penting dari filum ini adalah
Anthozoa, yang meliputi sebagian besar koral, anemon laut, dan alcyonarian. Koral penting
karena skeleton kalkareousnya dapat membentuk terumbu karang, yang dapat membentuk
ekosistem terumbu karang di laut. Koral hidup di perairan dangkal dan hangat di daerah tropis
dan subtropis. Kelas lainnya adalah Cubozoa (Ubur-ubur Kotak), Hydrozoa (Hidroid, Koral
Api), dan Scyphozoa (Ubur-ubur). Koral akan dibahas lagi pada ekosistem terumbu karang.
3). Brachiopoda. Kelompok hewan ini penting bagi geologis karena banyak terawetkan sebagai
fosil. Pada suatu waktu dalam sejarah geologi, hewan ini pernah sangat pelimpah, tetapi
sekarang sedikit. Hewan ini memiliki dua cangkang kalkareous yang bertangkup, hidup
menempel pada substrat dengan menggunakan penyangga (stalk) atau burrowing (Gambar
6.8.B), terutama di daerah litoral.
4). Annelida. Filum hewan ini adalah kelompok cacing bersegmen, dan sebagian besar spesiesnya
adalah fauna bentos. Klas yang penting dari filum ini adalah Polychaeta yang tersebar luas di
lingkungan laut, dan umumnya dijumpai di zona intertidal (Gambar 6.8.C). Sebagian besar
Annelida adalah organisme bentos yang bergerak di permukaan dasar laut (surface crawler), dan
sebagian lagi adalah organisme pembor (burrower).

6.8.A. Sponge.

6.8.B. Brachiopoda.

6.8.C. Polychaeta.

Gambar 6.8. Beberapa macam fauna bentos. Sumber: Gambar 6.8.A dari Missouri Botanical Garden (2002);
Gambar 6.8.B dan C dari Webber dan Thurman (1991).

5). Arthropoda. Kelompok hewan berkerangka luar (external skeleton) yang bersegmen-segmen.
Sub-filum yang penting adalah Crustacea, karena sangat umum dijumpai di lingkungan laut.
Beberapa jenis crustacea memiliki nikai ekonomi penting, yaitu kepiting (crab), udang, dan
lobster dari klas malacostraca, order Decapoda. Klas Cirripoda (Barnacles) adalah hewan yang
hidup menempel permanen pada substrat di lingkungan laut (Gambar 6.9). Sekilas, hewan ini
mirip dengan moluska karena memiliki cangkang kalkareous yang berat.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

12

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

Gambar 6.9. Barnakel, hewan yang hidup di dalam


kerangka luar karbonatan yang menempel permanen
pada substrat di lingkungan laut. Dari Webber dan
Thurman (1991).

6). Moluska. Sebagian besar filum moluska adalah hewan bertubuh lunak yang dilindungi oleh
cangkang yang keras. Ada tiga kelas moluska yang sangat umum yang merupakan hewan
bentos, yaitu Polyplacophora (Amphineura), Gastropoda, Pelecypoda (Bivalvia).

6.10.A. Chiton

6.10.C. Pelecypoda atau Bivalvia.

6.10.B. Gastropoda.

Gambar 6.10. Macam-macam moluska. Dari Webber dan Thurman (1991).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

13

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

Klas Polyplacophora adalah kelas dari hewan Chiton yang memiliki cangkang
bersegmen (Gambar 6.10.A). Hewan ini hidup di bawah permukaan sedimen,
ukurannya 2 30 cm.
Klas Gastropoda adalah kelas yang sangat umum dari filum moluska ini. Hidupnya di
lingkungan laut di atas dasar yang keras dan lunak. Ciri cangkang gastropoda adalah
berbentuk tabung atau kerucut terputar (coiled) (Gambar 6.10.B). Cangkang gastropoda
sangat disukai oleh kolektor cangkang karena ukiran dan warna cangkang yang sangat
indah dan mengesankan.
Klas Pelecypoda (Bivalvia) hidup membenamkan diri di dalam sedimen pasiran dan
lumpuran. Hewan ini mempunyai dua cangkang yang setangkup (Gambar 6.10.C).
Sebagian besar bivalvia adalah filter feeder.
7). Echinodermata. Semua anggota filum ini adalah hewan laut bentos. Filum ini dibedakan
menjadi lima kelas, yaitu Asteroidea, Ophioroidea, Echinonoidea, Holothuroidea, dan Crinoidea.
Klas Asteroidea dikenal sebagai bintang laut (sea star) (Gambar 6.11.A). Hidup di atas
substrat keras (rocky), berpasir, dan berlumpur.
Klas Ophiuroidea memiliki bentuk yang sama dengan bintang laut, tetapi umumnya
lebih kecil, dan kakinya lebih kecil dari pada bintang laut (Gambar 6.11.B). Kaki yang
kecil itu menyebar radial dari tubuh yang berbentuk cakram. Hidup di atas dan di bawah
batu, dan di atas lumpur di zona intertidal sampai perairan dangkal.
Klas Echinoidea memiliki tubuh ditumbuhi jarum-jarum (Gambar 6.11.C). Bentuk
tubuhnya membulat (contohnya: bulu babi), atau memipih (contohnya: sand dollar).
Bulu babi (Acanthaster) adalah hewan pemakan koral. Pertumbuhan populasinya
dapat terjadi sangat cepat dan berkembang dengan cepat pula. Hewan ini dapat
menyebabkan keruskan yang meluas dalam waktu singkat di kawasan terumbu karang.
Klas Holothuroidea dikenal sebagai teripang (sea cucumber, timun laut) (Gambar
6.11.D). Bertubuh lunak dan memanjang. Hewan ini adalah deposit feeder yang hidup di
permukaan atau menggali substrat pasir dan lumpur. Hewan ini memiliki nilai ekonomi
yang tinggi dan banyak dibudidayakan.
Klas Crinoidea dikenal sebagai lilia laut (sea lilies) (Gambar 6.11.E). Hewan ini terdiri
dari dua tipe, yaitu yang hidup menempel (sessile) dan bergerak bebas. Hidup di
perairan tropis mulai dari subtidal dangkal sampai perairan dalam.

6.11.A. Macam-macam Bintang Laut atau Sea Strar. Dari Webber dan Thurman (1991).

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

14

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

6.11.B. Ophiuroid atau Brittle Star.

6.11.C. Macam-macam Echinoid.

6.11.D. Holothuroid atau teripang atau timun laut.

6.11.E. Crinoid atau lilia laut.

Gambar 6.11. Macam-macam Echinodermata. Dari Webber dan Thurman (1991), kecuali 6.11.D dari Asikin
Djamali, koleksi pribadi, 2006.
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

15

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

6.7.2. Klasifikasi Fauna Bentos


Berdasarkan pada ukurannya, fauna bentos dapat empat kelompok (Kennish, 1994), yaitu:
1). Mikrofauna lolos saringan 0,04 1 mm. Kelompok ini sebagia besar terdiri dari protozoa.
2). Meiofauna tertahan pada saringan 0,04 1 mm. Meiofauna dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu (1) meiofauna temporer meiofauna yang berupa juvenil, dan (2) meiofauna permanen
seperti: nematoda, rotifer, dan ostracoda. Komposisi spesies meiofauna di suatu lokasi tertentu
sebagian ditentukan oleh tipe sedimen. Misalnya, meiofauna di endapan pasir adalah vermiform,
yang hidup di dalam rongga antar butiran. Pada endapan berlumpur, meiofauna pembor sangat
dominan.
Dari daerah intertidal sampai subtidal, distribusi meiofauna setempat-setempat. Hal ini
karena pengaruh berbagai faktor lingkungan (seperti: temperatur, selinitas, pengeringan, dan
ukuran butir sedimen), dan interaksi biologis (seperti: pemangsaan, kompetisi, dan bioturbasi).
Salinitas sangat mempengaruhi densitas kehadiran meiofauna di suatu tempat. Makin tinggi
salinitas, kehadirannya makin tinggi. Perubahan komposisi spesies dan kelimpahannya juga
berkaitan dengan perubahan temperatur musiman.
Distribusi vertikal meiofauna di dalam sedimen dipengaruhi oleh konsentrasi oksigen
terlarut, kelimpahan material organik, ukuran butir sedimen, dan pemangsaan selektif.
3). Makrofauna tertahan pada saringan 0,5 2,0 mm. Komposisi spesies dan kelimpahan
makrofauna bentos memiliki variasi temporal dan spasial yang lebar. Perubahan besar
kelimpahan makrofauna selama setahun disebabkan oleh periodisitas normal reproduksi,
rekruitmen, dan mortalitas.
4). Megafauna fauna kesar yang dapat di-identifikasi dengan mata telanjang.
Fauna bentos dapat juga diklasifikasikan berdasarkan pada kebiasaan hidup dan adaptasi
menjadi: (1) epifauna yang hidup di atas dasar laut atau menempel pada substrat, dan (2) infauna
yang hidup di dalam sedimen dasar laut.
Selanjutnya, berdasarkan pada kebiasaan makannya (feeding habit), fauna bentos dapat
dibedakan menjadi lima macam, yaitu: (1) suspension feeder pemakan suspensi, (2) deposit
feeder pemakan endapan sedimen, (3) herbivor pemakan tumbuhan, (4) carnivor pemakan
hewan, dan (5) scavenger pemakan detritus.

6.7.3. Distribusi Spasial Makrofauna Bentos


Distribusi spasial makrofauna bentos dapat dibedakan menjadi tiga tingkat, yaitu (1)
distribusi lokal seperti lokasi-lokasi di dalam suatu estuari, (2) distribusi regional seperti dalam
skala estuari, dan (3) distribusi global. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran itu adalah
faktor fisika, kimia, dan biologi. Faktor-faktor tersebut juga mempengaruhi morfologi fungsional,
dan sifatnya (behavior).
Komposisi spesies dan distribusi lokal makrofauna bentos berkaitan dengan berbagai faktor
fisik, seperti: gelombang dan arus, karakter sedimen, dan kedalaman air; faktor biologi, seperti:
pemangsa dan kompetisi; faktor kimia, seperti: konsentrasi oksigen. Sementara itu, komposisi
spesies makrofauna di dalam suatu habitat sangat dipengaruhi oleh tipe sedimen (ukuran butir
sedimen).
Pola distribusi skala besar dari makrofauna bentos dipengaruhi oleh: (1) gradasi perubahan
kondisi lingkungan, dan (2) penyebaran larva dan keberhasilan rekruitmen.
Pada skala global, sangat sedikit makrobentos yang mempunyai penyebaran kosmopolitan.
Spesies-spesies fauling (penempel, Gambar 6.12) cenderung memiliki penyebaran yang luas.
Distribusi skala global dapat terjadi karena: (1) migrasi dewasa, (2) hanyut terbawa arus (rafting),
dan (3) aktifitas manusia.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

16

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

12.A.

12.B.

Gambar 12. Organisme makrobentos yang merupakan spesies-spesies fauling yang menempel pada jaring
keramba, di Bangka Timur (12.A) dan pada Current meter di Teluk Kombal, Lombok Barat (12.B). Oleh:
Wahyu Budi Setyawan, 2006.

6.7.4. Diversitas
Secara sederhana, diversitas adalah banyaknya jenis di dalam suatu komunitas tertentu.
Makin banyak jenis organisme di dalam suatu komunitas, berarti diversitasnya makin tinggi.
Penjelasan lebih jauh tentang diversitas akan diberikan di dalam bab Ekologi Laut.
Tampak perbedaan yang nyata antara fauna bentos di paparan benua pada berbagai
lingkungan dengan fauna bentos laut dalam. Bila kita bergerak dari habitat bentik di paparan benua
zona supratidal, intertidal, subtidal, terus ke sepanjang lereng benua di laut dalam zona batial,
maka fauna bentos (seperti: bivalvia, polychaeta, gastropoda, foraminifera bentos) menurun sedang
diversitas spesiesnya maningkat. Selanjutnya, dari tinggian benua sampai ke dataran abisal,
diversitas spesies menurun lagi. Pengecualian terjadi pada deep-sea hydrothermal vent (lubang
hidrotermal laut dalam) di pematang tengah samudera. Di kawasan tersebut komunitas
memperlihatkan karakteristik biomassa dan diversitas seperti halnya komunitas perairan dangkal
(Kennish, 1994). Produksi primer kemosintetik yang tinggi (high chemosynthetic primary
production) pada semburan hidrotermal memberikan nutrisi langsung menyuburkan populasi
kehidupan di lingkungan itu.

6.8. NEKTON
Hewan yang termasuk dalam kategori ini adalah Klas Chepalopoda dari Filum Moluska,
udang dari Klas Malacostraca dari Subfilum Crustacea dari Filum Arthropoda, ikan, mamalia laut,
dan reptilia laut.

6.8.1. Chepalopoda
Kelompok hewan ini mempunyai kemampuan berenang yang aktif. Hewan yang termasuk
dalam kelompok ini antara lain cumi-cumi dan gurita (Gambar 6.13). Ukurannya dapat mencapai 12
meter. Beberapa jenis hewan dari kelompok ini mempunyai nilai ekonomis.

6.8.2. Udang
Udang ada yang hidup sebagai fauna bentos dan ada yang sebagai nekton. Hidup di perairan
pesisir sampai laut dalam. Hewan ini mempunyai nilai ekonomis sangat penting.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

17

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

Gambar 6.13. Macam-macam Chepalopoda. Dari Webber dan Thurman (1991).

6.8.3. Ikan
Ikan adalah hewan laut yang sangat dikenal dan memiliki nilai ekonomis sangat penting.
Ada tiga kelas vertebrata laut yang memiliki spesies yang biasa kita sebut sebagai ikan, yaitu:
1). Klas Cyclostomata ikan yang tidak memiliki rahang (Gambar 6.14). Hidup terutama sebagai
parasit.
2). Klas Chondrichthyes kelompok ikan bertulang rawan. Anggota kelompok ini adalah ikan pari
(Gambar 15) dan ikan hiu (Gambar 6.16). Ikan hiu umumnya dijumpai di lingkungan laut
dalam, sedang ikan pari cenderung dijumpai di lingkungan bentos dan berenang di atas
permukaan dasar laut.
3). Klas Osteichthyes kelompok ikan bertulang keras.
Jenis-jenis ikan di daerah epipelagis dan mesopelagis berbeda satu sama lain. Jenis-jenis
ikan epipelagis, seperti ikan tuna, cenderung untuk menjadi besar (lebih dari 1 meter panjangnya),
bersifat aktif, dan karnivora. Jenis-jenis ikan di daerah ini sebagian besar adalah ikan daerah tropis,
tetapi secara teratur bermigrasi ke daerah temperate untuk mencari makan pada musim semi.
Sebaliknya, ikan-ikan mesopelagis umumnya kecil (panjang sekitar 15 cm) dan memakan plankton.
Pergerakan utama ikan mesopelagis adalah migrasi harian secara vertikal.
Kemudian, berdasarkan pada pola hidupnya, ikan dapat dibedakan menjadi:
1). Ikan demersal ikan-ikan yang hidup di dasar atau dekat dasar laut. Ikan-ikan kelompok ini
memiliki tubuh yang panjang seperti belut dan lebih panjang dari pada tubuh ikan-ikan pelagis
dan berenangnya relatif lambat .
2). Ikan pelagis ikan-ikan yang hidup jauh dari dasar laut atau di tengah air (mid-water) dan dekat
ke permukaan laut. Ikan-ikan kelompok ini ada yang melakukan migrasi jarak jauh seperti ikan
tuna dan salmon. Sebagian migrasi ikan berkaitan dengan kegiatan reproduksi dan mencari
makan. Yang dimaksud dengan migrasi adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain yang
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

18

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

dapat diprediksi pada waktu yang dapat diprediksi (Webber dan Thurman, 1991). Jarak migrasi
terdekat sekitar 25 km.

Gambar 6.16. Macam-macam ikan tanpa rahang. Dari


Webber dan Thurman (1991).

Gambar 6.15. macam-macam ikan pari. Dari Webber


dan Thurman (1991).

Gambar 6.16. Macam-macam ikan hiu. Dari Webber dan Thurman (1991).
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

19

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

6.8.4. Reptilia Laut


Reptilia laut adalah hewan amfibi yang hidup di perairan tropis dangkal dekat pantai.
Hewan yang termasuk kelompok ini adalah ular laut dan penyu (Gambar 6.17). Ular laut adalah
predator yang memakan ikan kecil-kecil; sedang penyu makanannya sangat bervariasi, antara lain
daun lamun, ubur-ubur, sponge, dan kepiting. Penyu dimakan oleh ikan hiu.

Gambar 6.17. Macam-macam penyu. Dari Webber dan Thurman (1991).

6.8.5. Mamalia Laut


Ada tiga kelompok mamalia laut, yaitu:
1). Serenian terdiri dari dugong (Gambar 6.18.A), manatee, dan sea cow. Kelompok ini adalah
herbivora, dan sebagian besar hidup di daerah tropis, dan memakan lamun.
2). Pinniped terdiri dari anjing laut, singa laut, dan walrus (Gambar 6.18.B). Hewan ini terutama
dijumpai di daerah temperate dan kutub. Kelompok hewan ini banyak menghabiskan waktu di
darat.
3). Cetacean terdiri dari ikan paus, dan lumba-lumba (dolphin) (Gambar 6.18.C). Semuanya
adalah carnivora. Kelompok hewan ini melakukan migrasi yang ditentukan oleh pola makan dan
reproduksi.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

20

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

Gambar 6.18.A.

Gambar 6.18.B.

Gambar 6.18.C.
Gambar 6.18. Macam-macam mamalia laut: Dugong (6.18.A), macam-macam Pinniped (6.18.B), dan macammacam anggota Cetacea (6.18.C). Dari Webber dan Thurman (1991).
Materi Pembekalan Peserta
1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

21

Oseanografi, Kehidupan di Laut


5/22/2012

DAFTAR PUSTAKA
Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1985. Oceanography: an introduction, 3rd ed., Wadsworth
Publishing Company, Belmont, California, 530 p.
Kennish, M.J. (ed.), Practical Handbook of Marine Science, 2nd ed., CRC Press, Boca Raton,
Florida, 566 p.
McConnaughey, B.H., 1974. Introduction to Marine Biology, The C.V. Mosby Company, Saint
Louis, 544 p.
Missouri Botanical Garden, 2002. Ocean Animals: Sponge.
[http://www.mbgnet.net/salt/coral/indexfr.htm]. Akses: 1 Juli 2007.
Nybakken, J.W., 1993. Marine Biology: an ecological approach, HarperCollins College Publisher,
New York, 462 p.
Ross, D.A., 1977. Introduction to Oceanography, 2nd ed., Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs,
New Jersey, 437 p.
Tomascik, A., Mah, A.J., Nontji, A. and Moosa, M.K., 1997. The Ecology of the Indonesian Seas,
Part Two. The Ecology of Indonesia Series, Vol. VIII. Periplus Edition, Singapore, 6431388.
Webber, H.H. and Thurman, H.V., 1991. Marine Biology, 2nd ed., HarperCollins Publisher Inc.,
New York, 424 p.

Materi Pembekalan Peserta


1st International Earth Science Olympiad IESO 2007 di Seoul, Korea Selatan

22

Bagian III
METEOROLOGI

SUMBER: Earth Science; twelfth edition, Oleh Edward J.


Tarbuck, Frederick K. Lutgens, dan Dennis Tasa; Pearson
International Edition.

KOMPOSISI, STRUKTUR, DAN TEMPERATUR ATMOSFER

1.1.

Karakteristik Atmosfer

Cuaca ialah kondisi atmosfer pada tempat tertentu dan rentang waktu yang
pendek. Sedangkan iklim ialah kondisi umum cuaca pada suatu tempat dalam satu
periode yang panjang. Unsur-unsur yang penting yang dapat diukur secara terus menerus
untuk menentukan cuaca dan iklim ialah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Temperatur udara
Kelembaban
Jenis dan jumlah awan
Jenis dan jumlah presipitasi
Tekanan udara
Kecepatan dan arah angin

Gas komponen atmosfer

Jika uap air, debu, dan komponen variabel lainnya dihilangkan dari atmosfer, maka
komposisi udara kering akan berupa nitrogen (N) sekitar 78% dan oksigen (O 2) sekitar 21%
volume atmosfer. Karbon dioksida (CO2) meskipun hanya sekitar 0,036%, berperan
penting karena dapat menyerap radiasi panas dari bumi dan menjaga atmosfer bumi
tetap hangat. Di antara komponen variabel udara, uap air yang paling penting karena
merupakan sumber untuk membentuk awan dan presipitasi, dan seperti CO 2 juga mampu
menyerap panas.
Ozon (O3) merupakan oksigen yang membentuk triatomik, terkonsentrasi di kisaran
ketinggian 10 50 km dan sangat penting untuk kehidupan di bumi karena mampu
menyerap radiasi ultraviolet yang berbahaya dari matahari.

Atmosfer secara gradasi semakin ke atas semakin menipis sehingga tidak ada batas
yang tegas di bagian paling atas. Berdasarkan temperaturnya atmosfer dibagi menjadi 4
lapisan secara vertikal.
a.
Troposfer: lapisan paling bawah. Temperatur biasanya berkurang mengikuti
peningkatan ketinggian. Laju penurunan temperatur umumnya bervariasi, namun ratarata 6,5OC/km. Pada dasarnya semua fenomena cuaca terjadi di troposfer.
b.
Stratosfer: menunjukkan adanya pemanasan karena terdapat ozon yang
menyerap radiasi ultraviolet.
c.
Mesosfer: temperatur menurun kembali seperti pada troposfer.
d.
Termosfer: lapisan atmosfer dengan fraksi massa paling kecil. Tidak ada
batas jelas pada bagian atasnya.

Struktur vertikal atmosfer

2 gerak utama dari bumi ialah:


Rotasi: putaran bumi pada sumbunya, menghasilkan siklus harian siang dan malam
Revolusi: pergerakan bumi pada orbitnya mengitari matahari.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan adanya pergantian musim. Yang utama
ialah karena sumbu rotasi bumi miring sebesar 23 O dari tegak lurus terhadap bidang
orbit mengitari matahari dan sumbunya menunjuk ke arah yang relatif tetap (bintang
utara). Dan sebagai konsekuensinya, orientasi bumi terhadap matahari selalu berubahubah. Hal ini mengakibatkan fluktuasi sudut matahari dan berimplikasi pada perubahan
panjang siang dan malam. Dan inilah yang disebut pergantian musim.

1.2.

Pemanasan Atmosfer

Transfer panas

3 mekanisme transfer panas:


Konduksi: transfer panas melalui material dan aktivitas molekular.
Konveksi: transfer panas dengan pergerakan massa atau substansi dari satu
tempat ke tempat lain.
Radiasi: transfer panas melalui gelombang elektromagnetik

Gelombang elektromagnetik

Radiasi elektromagnetik ialah energi yang dipancarkan dalam bentuk sinar, yang
disebut gelombang elektromagnetik. Semua radiasi dapat memancarkan energi melalui
ruang hampa. Perbedaan yang penting untuk dicermati pada gelombang elektromagnetik
ialah panjang gelombangnya, yang berkisar dari yang palin panjang yaitu gelombang
radio dan yang paling pendek sinar gamma. Cahaya tampak hanya sebagian dari
gelombang elektromagnetik yang dapat kita lihat. Ada beberapa hukum yang mengontrol
radiasi ketika terjadi pemanasan atmosfer:
Semua obyek meradiasikan energi
Obyek yang lebih panas meradiasikan lebih banyak energi dibanding obyek yang
lebih dingin
Semakin panas temperatur obyek yang meradiasi, semakin pendek panjang
gelombang radiasi maksimum
Obyek yang dapat menyerap radiasi dengan baik, juga dapat meradiasikan
energinya dengan baik

Penurunan temperatur secara umum seiring dengan kenaikan ketinggian di


troposfer, menunjukkan bahwa atmosfer mengalami pemanasan yang lebih intensif dari
bagian bawah (tanah). Dari seluruh energi matahari yang mengenai bagian atas
atmosfer, sekitar 50%-nya diserap oleh permukaan bumi. Bumi, meradiasikan kembali
energi yang diterimanya dalam bentuk radiasi gelombang panjang. Kemudian radiasi ini
diserap oleh atmosfer, yang dilakukan oleh molekul uap air dan karbondioksida, yang
berperan dalam pemanasan atmosfer.

1.3.

Pengontrol Temperatur

Faktor-faktor yang mempengaruhi variasi temperatur di suatu tempat dengan


tempat yang lain ialah:
Perbedaan penerimaan radiasi matahari (sebab utama)
Pemanasan yang tidak sama antara daratan dan perairan. Daratan lebih cepat
untuk terpanaskan dan menjadi lebih hangat daripada air, dan lebih cepat terdinginkan
dan menjadai lebih dingin daripada air.
Altitude (ketinggian)
Posisi geografis
Tutpan awan dan albedo
Arus laut

Distribusi temperatur dapat digambarkan dengan peta isotherm, yang merupakan


garis yang menghubungkan tempat-tempat yang bertemperatur sama. Perbedaan
temperatur antara bulan Januari dan Juli dapat dijelaskan dengan dasar pengontrol
temperatur.

UAP AIR, AWAN, DAN PRESIPITASI

2.1.

Air di Atmosfer

Uap air, ialah gas yang tidak berwarna dan berbau, yang dapat berubah-ubah fase
(padat, cair, atau gas) pada temperatur dan tekanan yang dapat dialami di permukaan
bumi. Proses-proses perubahan fase tersebut merupakan evaporasi, kondensasi,
peleburan, pembekuan, sublimasi, dan deposisi. Pada tiap proses tersebut terjadi
penyerapan atau pelepasan kalor laten.

Perubahan wujud air

Kelembaban ialah istilah yang menggambarkan jumlah uap air yg dikandung oleh
udara. Metode untuk menyatakan kelembaban ada beberapa cara:
1.
mixing ratio: massa uap air dalam udara dibagi massa udara kering.
Umumnya dalam gr/kg
2.
tekanan uap: merupakan sebagian dari tekanan atmosfer total yang
disebabkan karena mengandung uap air
3.
kelembaban relatif: perbandingan jumlah uap air yang dikandung oleh
udara dengan jumlah total uap air yang dapat dikandung oleh udara tersebut pada
temperatur tertentu. Umumnya dinyatakan dalam persen.
4.
Titik embun: temperatur yang harus dicapai oleh udara untuk menjadi
jenuh.
Kelembaban relatif dapat berubah dengan 2 cara. Pertama, dengan menambah
atau mengurangi jumlah uap air dalam udara. Kedua, dengan merubah temperatur
udara. Jika udara mendingin, kelembaban relatif bertambah.

Kelembaban relatif yang bervariasi terhadap temperatur

Embun pada jaring laba-laba (kiri) dan Psikrometer putar (kanan)

2.2.

Pembentukan Awan

Pendinginan udara seiring naik dan mengembangnya udara, karena tekanan udara
yang rendah ialah proses dasar pembentukan awan. Perubahan temperatur akibat
tertekan atau mengembangnya udara disebut perubahan temperatur adiabatik. Udara
tak jenuh mengalami peningkatan temperatur ketika tertekan dan mengalami penurunan
temperatur ketika mengembang dengan kecepatan perubahan temperatur 10 OC/1000 m
perubahan ketinggian, dan disebut laju adiabatik kering. Jika udara naik cukup tinggi,
maka akan cukup dingin untuk menyebabkan kondensasi dan membentuk awan. Mulai
titik kondensasi tersebut, udara akan mengalami laju adiabatik basah, jika terus naik,
dengan kecepatan penurunan temperatur 5-9 OC/1000 m. Perbedaan kecepatan
9

adiabatik basah dan kering disebabkan oleh uap air yang telah terkondensasi melepaskan
panas laten, sehingga mengurangi kecepatan udara mendingin.

Pembentukan awan dengan pendinginan adiabatik

Ada 4 mekanisme yang dapat menyebabkan udara bergerak naik, yaitu:


a.
pengangkatan orografis: ketika dataran yang tinggi, seperti pegunungan,
bertindak sebagai penghalang bagi udara yang mengalir.
b.
Frontal wedging: ketika massa udara dingin bertindak sebagai penghalang
bagi udara yang lebih hangat dan lebih ringan, sehingga udara yang lebih hangat naik.
c.
Konvergensi: ketika udara bergerak bersama-sama dan terbentuk gerakan
ke atas.
d.
Pengangkatan konvektif lokal: terjadi ketika pemanasan pada suatu
permukaan tidak merata, sehingga udara yang lebih ringan karena pemanasan tersebut
bergerak naik.

Pengangkatan orografis dan frontal wedging (atas), konvergensi dan pengangkatan konvektif lokal
(bawah)

10

Stabilitas udara dapat diketahui dengan melihat temperatur atmosfer pada


ketinggian yang bervariasi. Udara disebut tidak stabil apabila laju penurunan temperatur
lingkungannya (laju penurunan temperatur seiring bertambahnya ketinggian di troposfer)
lebih besar daripada laju adiabatik kering.
Agar terjadi kondensasi, udara harus dalam kondisi jenuh uap air. Kejenuhan
terjadi jika udara mencapai titik embunnya atau ketika kandungan uap airnya
ditambahkan. Kondesasi juga dapat terjadi di dekat permukaan. Dalam pembentukan
awan dan kabut, inti kondensasi juga memiliki peran yang besar.

2.3.

Jenis Awan dan Presipitasi

Awan diklasifikasikan berdasarkan bentuk dasarnya dan ketinggiannya. Ada 3


bentuk dasar awan:
a.
b.
c.
langit)

cirrus (tinggi, putih, tipis, berserat)


cumulus (gumpalan, terpisah-pisah)
stratus (lembaran atau lapisan yang menutupi sebagian besar atau seluruh

Awan cirrus

11

Klasifikasi Awan

Sementara, berdasarkan ketinggian ada 4 kategori:


a.
b.
c.
d.

awan
awan
awan
awan

tinggi (bagian dasarnya umumnya di atas 6000 meter)


menengah (2000-6000 meter)
rendah (dibawah 2000 meter)
yang tumbuh vertikal

Kabut didefinisikan sebagai awan yang bagian dasarnya sangat dekat atau tepat di
atas tanah. Kabut terbentuk ketika udara mendingin hingga dibawah titik embunnya atau
ada penambahan uap air dalam udara yang membuatnya jenuh uap air. Ada beberapa
jenis kabut:
a.
b.
c.
d.
e.

kabut
kabut
kabut
kabut
kabut

adveksi
radiasi
upslope
steam
frontal (presipitasi)

Untuk membentuk presipitasi, jutaan tetes air di awan harus bergabung untuk
membentuk tetes hujan yang besar. Ada 2 mekanisme pembentukan presipitasi yang
telah dirumuskan:
1.
dalam awan yang temperaturnya dibawah titik beku, maka Kristal es
terbentuk dan jatuh dalam bentuk kepingan es. Pada ketinggian yang lebih rendah,
kepingan es mencair dan menjadi tetes hujan sebelum mencapai tanah.
2.
Tetes air hujan yang besar terbentuk di dalam awan yang cukup hangat dan
mengandung inti higroskopik (water-seeking) seperti partikel garam. Ketika tetesan ini
bergerak turun, mereka bertumbukan dan bergabung dengan tetes air yang lebih kecil.
Setelah banyak tumbukan, tetes air ini menjadi cukup besar dan dan jatuh ke tanah
sebagai hujan.

12

Proses Bergeron (pembentukan kepingan es) (kiri) dan Hailstone terbesar (kanan)

Ada beberapa bentuk presipitasi: rain, snow, sleet, freezing rain (glaze), hail, dan
rime

13

TEKANAN UDARA DAN ANGIN

3.1.

Memahami Tekanan Udara

Udara memiliki berat. Di permukaan laut, udara memberikan tekanan 1 kg/cm 2.


Tekanan udara ialah gaya yang diberikan oleh berat udara yang di atas. Seiring
bertambahnya ketinggian, udara yang menekan dan berada di atas semakin sedikit,
sehingga tekanan udara dikatakan menurun seiring bertambahnya ketinggian, pertamatama dengan cepat, kemudian menjadi melambat kemudian. Satuan yang digunakan oleh
meteorologist untuk mengukur tekanan atmosfer ialah milibar. Tekanan muka air laut
standar ialah 1013,2 milibar. Dan isobar ialah garis pada peta cuaca yang
menghubungkan tempat-tempat dengan tekanan udara yang sama.
Barometer raksa mengukur tekanan udara menggunakan sekolom raksa dalam pipa
kaca yang disegel pada bagian ujungnya dan dibalik dalam secawan raksa. Ketika
tekanan udara meningkat, kolom raksa di pipa akan naik; dan sebaliknya, ketika tekanan
udara turun, tinggi kolom raksa juga turun. Barometer raksa mengukur tekanan atmosfer
dalam satuan inci raksa, yang merupakan tinggi kolom raksa dalam barometer. Tekanan
atmosfer standar di muka laut sama dengan 29,92 inci raksa. Barometer aneroid (tanpa
air) terdiri dari rongga logam yang bergerak tertekan ketika tekanan udara naik dan
mengembang ketika tekanan udara turun.

Barometer Raksa (kiri) dan Isobar (kanan)

Faktor Penyebab Angin


Angin ialah aliran udara yang horizontal dari area yang bertekanan tinggi ke area
bertekanan rendah. Angin dikontrol oleh kombinasi gaya berikut:
1.

Gaya gradien-tekanan (sejumlah perubahan tekanan pada jarak tertentu)


14

2.
Efek Coriolis (efek pembelokan akibat rotasi bumi, ke kanan di Hemisfer
Utara, ke kiri di Hemisfer Selatan)
3.
Gesekan dengan permukaan bumi (memperlambat gerakan udara dan
mengubah arah angin).

Efek Coriolis (atas) dan Efek Gesekan (bawah)

Angin udara atas, disebut angin gesotropik, bertiup sejajar isobar dan menunjukkan
keseimbangan antara gaya gradien tekanan dan efek Coriolis. Angin ini bergeraklebih
cepat dibanding angin permukaan karena gesekan sangat sedikit. Gesekan berperan
memperlambat udara, dan mengakibatkan efek Coriolis pada angin tersebut juga
berkurang. Dan menghasilkan pergerakan angin yang memotong isobar menuju ke daerah
bertekanan lebih rendah.

3.2. Pusat Tekanan dan Angin


Ada 2 jenis pusat tekanan, yaitu:
1.
2.

siklon, atau pusat tekanan rendah.


Antisiklon, atau pusat tekanan tinggi.

15

Angin siklon dan antisiklon

Pada belahan bumi utara, angin di sekitar siklon, bergerak berlawanan arah jarum
jam dan mengarah ke pusat. Di sekitar antisiklon, angin bergerak searah jarum jam dan
mengarah menjauhi pusat. Di belahan bumi selatan, efek Coriolis menyebabkan angin
bergerak searah jarum jam di sekitar siklon, dan berlawanan arah jarum jam di sekitar
antisiklon. Karena udara bergerak naik dan mendingin secara adiabatik di pusat siklon,
sehingga kondisi siklon sering berasosiasi dengan cuaca berawan dan hujan. Dan
sebaliknya di pusat antisiklon, udara bergerak turun, dan menghangat, sehingga tidak
terbentuk awan dan presipitasi, dan cuaca cerah.

Pola aliran udara, permukaan dan ketinggian

Pembagian zona tekanan global:


1.
2.
3.
4.

equatorial low
subtropical high
subpolar low
polar high

16

Sirkulasi udara jika bumi tidak berotasi (kiri) dan Sirkulasi udara pada Bumi yang berotasi (kanan)

Angin global permukaan juga berasosiasi dengan zona tekanan ini. Yakni angin
pasat, angin timuran, dan angin baratan.

Tekanan pada permukaan

Khusus di belahan bumi utara, adanya perbedaan temperatur musiman yang besar
di kontinen, menyebabkan terganggunya pola pembagian zona tekanan dan angin.
Misalnya pada musim dingin, temperatur yang rendah dan tekanan udara yang besar
pada daratan menyebabkan terbentuknya sistem tekanan tinggi musiman, yang angin
bertiup dari tempat itu. Dan pada musim panas, daratan terpanaskan dan tekanan udara
17

rendah terbentuk di atas daratan, menyebabkan arah angin bertiup mengarah ke daratan
tersebut. Perubahan arah angin musiman ini disebut muson.
Di lintang tengah, 30 60 derajat, pola umum angin baratan terganggu oleh adanya
migrasi siklon dan antisiklon. Jalur yang dilalui oleh sistem pusat tekanan ini terkait erat
dengan adanya aliran udara atas dan arus jet kutub. Posisi arus jet kutub, yang diikuti
oleh siklon, bergerak ke arah ekuator, dan dibatasi oleh musim dingin dan musim panas.

3.3. Sistem angin regional


Angin lokal, ialah angin berskala kecil yang dihasilkan oleh gradien tekanan yang
bersifat lokal. Contohnya:
1.
angin darat dan laut (terbentuk pada sepanjang pesisir, disebabkan oleh
perbedaan tekanan harian karena perbedaan pemanasan daratan dan lautan)

2.
angin gunung dan lembah (angin harian seperti angin laut dan darat, namun
pada daerah pegunungan dimana udara di sepanjang lereng mengalami perbedaan
pemanasan dengan udara pada elevasi yang sama di atas lembah)

3.
angin Chinook dan Santa Ana (angin yang hangat dan kering terbentuk
ketika udara turun pada sisi bawah angin (leeward) di gunung, dan mengalami
kompresi sehingga menghangat.
Ada 2 pengukuran dasar dari angin, yakni pengukuran arah dan kecepatan. Angin
selalu diberi nama berdasarkan arah datangnya angin tersebut bertiup. Arah angin diukur
dengan wind vane dan kecepatan angin diukur dengan anemometer.
El Nino ialah nama yang diberikan untuk peristiwa pemanasan laut secara periodic
yang terjadi di Pasifik tengah dan timur. El Nino berasosiasi dengan periode terjadinya
pengurangan gradien tekanan yang menyebabkan angin pasat melemah. El Nino memicu
terjadinya cuaca ekstrim di banyak belahan dunia. Sedangkan La Nina, terjadi ketika
18

temperatur permukaan pada Pasifik bagian timur lebih dingin dari temperatur rataratanya.

Kondisi normal (atas), kondisi El Nino (bawah)

Distribusi global presipitasi dipengaruhi oleh pola global tekanan udara dan angin,
lintang, dan distribusi daratan dan perairan

19

POLA CUACA DAN BADAI

4.1. Massa Udara


Massa udara ialah tubuh udara, biasanya berukuran 1600 km (1000 mil) atau lebih,
yang dicirikan oleh kesamaan temperatur dan uap air pada ketinggian tertentu. Tempat
massa udara berasal disebut source region. Jika massa udara bergerak ke tempat lain, ia
akan tetap membawa sifat temperatur dan kelembabannya, dan dapat mempengaruhi
daerah yang dilaluinya.

Kerusakan akibat tornado

Massa udara diklasifikasikan berdasarkan pada kondisi alamiah permukaan dan


lintang source region-nya. Continental (c) ialah symbol untuk massa udara yang berasal
dari daratan dan biasanya kering. Maritime (m) ialah massa udara yang terbentuk di atas
perairan dan umumnya lembab. Polar (P) dan arctic (A) ialah massa udara yang berasal
dari lintang tinggi dan dingin. Tropical (T) ialah massa udara yang terbentuk di lintang
rendah dan hangat. Berdasarkan skema klasifikasi ini, jenis dasar massa udara ialah
continental polar (cP), continental arctic (cA), continental tropical (cT), maritime polar
(mP), dan maritime tropical (mT).

20

Massa udara dingin dari Kanada yang bergerak ke selatan

Klasifikasi massa udara berdasarkan regional

Massa udara mP

21

4.2. Front
Front ialah batas antara 2 massa udara yang
berbeda densitas, salah satunya lebih hangat, dan
seringkali lebih tinggi kandungan uap airnya. Front
hangat terjadi ketika posisi front di permukaan
bergerak karena udara hangat menempati territorial
yang ditutupi oleh udara dingin. Sepanjang front
panas, massa udara hangat menindih massa udara
yang lebih dingin, yang cenderung bergerak mundur.
Ketika udara hangat bergerak naik, udara tersebut
akan mengalami pendinginan adiabatik yang
menghasilkna awan dan presipitasi ringan moderat
dalam satu area yang luas. Front dingin terbentuk
ketika udara dingin secara aktif bergerak masuk ke
daerah yang ditutupi oleh udara yang lebih hangat.
Front dingin sekitar dua kali lebih miring dan
bergerak lebih cepat dibanding front panas. Karena
perbedaan ini presipitasi sepanjang front dingin lebih
intens dan berdurasi pendek daripada presipitasi
pada front panas.

Pembentukan front panas (atas) dan front dingin (bawah)

22

Penghasil cuaca utama di lintang tengah ialah pusat tekanan rendah yang besar
yang secara umum bergerak dari barat ke timur, yang disebut siklon lintang tengah.
Yang umumnya membawa cuaca berbadai, sirkulasi berlwanan arah jarum jam di
belahan bumi utara, dan aliran udara mengarah ke pusat. Kebanyakan siklon lintang
tengah memiliki front dingin dan sering pula front panas yang memanjang dari pusat
daerah tekanan rendah. Konvergensi dan gaya pengangkatan ke atas sepanjang front
menmicu pembentukan awan dan sering menghasilkan presipitasi. Siklon lintang tengah
bersama front yang berasosiasi dengannya, jika melewati suatu daerah, sering akan
membawa perubahan cuaca mendadak di daerah tersebut. Cuaca tertentu yang dialami
oleh suatu daerah akibat siklon, dipengaruhi oleh jalur yang dilalui oleh siklon tersebut.

Model siklon lintang tengah

23

Pergerakan udara di atmosfer atas

4.3. Badai
Thunderstorms disebabkan oleh pergerakan ke atas udara yang hangat, lembab,
tidak stabil, yang dipicu oleh sejumlah proses-proses yang berbeda. Umumnya
berasosiasi dengan awan cumulonimbus yang menghasilkan hujan deras, guntur, petir,
dan kadang-kadang hujan es serta tornado.

Tahapan perkembangan thunderstorm

Tornado ialah badai yang berskala lokal, destruktif, dan berdurasi pendek,
berasosiasi dengan thunderstorms, yang berbentuk kolom udara yang berotasi dan
memanjang ke bawah dari awan cumulonimbus. Tornado paling sering muncul di
sepanjang front dingin pada siklon lintang tengah, umunya pada musim semi.

24

Perkembangan mesosiklon

Skala intensitas tornado Fujita

Hurricane ialah badai terbesar yang terjadi di Bumi, merupakan siklon tropis
dengan kecepatan angin lebih dari 119 km/jam. Badai ini terbentuk di atas lautan tropis
dan disokong oleh kalor laten yang dilepaskan ketika uap air dalam jumlah yang besar
berkondensasi. Hurricane terbentuk paling sering pada akhir musim panas ketika
temperatur permukaan laut mencapai 27OC atau lebih tinggi dan mampu untuk memasok
kalor dan uap air yang dibutuhkan oleh udara. Hurricane akan berkurang intensitasnya
apabila
1. Bergerak ke lautan yang dingin yang tidak dapat menyuplai kalor dan uap air
yang memadai.
2. Bergerak ke daratan.
3. Mencapai lokasi yang tidak tersedia aliran udara ke atas dalam skala besar.

25

Pandangan satelit hurricane Floyd

Penampang melintang hurricane

26

Skala hurricane Saffir-Simpson

27

IKLIM

Iklim ialah agregat kondisi cuaca untuk satu daerah dalam jangka waktu yang
panjang. Sistem iklim di Bumi melibatkan pertukaran energy dan uap air yang terjadi
antara atmosfer, hidrosfer, batuan, biosfer, dan kriosfer (es dan salju yang ada di
permukaan bumi).

Zona iklim

Klasifikasi iklim membutuhkan informasi yang sangat banyak, yang dapat


membantu dalam memahami dan memfasilitasi analisis dan penjelasan. Temperatur dan
presipitasi ialah elemen yang sangat penting dalam mendeskripsikan iklim. Sudah banyak
klasifikasi iklim yang dibuat, dengan masing-masing memiliki nilai berdasarkan tujuan
pembuatannya.
Klasifikasi Koppen, yang menggunakan nilai
temperatur dan presipitasi rata-rata bulanan dan
tahunan, dan merupakan sistem klasifikasi yang sudah
digunakan secara luas. Batas-batas yang digunakan
Koppen secara umum berdasarkan batas asosiasi
tumbuhan tertentu. Ada 5 kelompok iklim utama, dengan
subdivisi yang telah diakui.

Iklim pada 2 kota berbeda (kiri) dan Efek bayangan hujan (kanan)

28

Tiap kelompok didesain dengan huruf capital. Empat kelompok iklim (A, C, D, dan
E) didefinisikan berdasarkan karakteristik temparatur, dan yang kelima, kelompok B,
kriteria utamanya ialah presipitasi.

5.1. Iklim A
Humid tropical (A) climates: tanpa musim dingin, dengn seluruh bulan memiliki
temperatur rata-rata di atas 18OC.

Hutan hujan tropis

Wet tropical climates (Af dan Am): terletak di dekat ekuator, konstan memiliki
temperatur tinggi dan curah hujan yang cukup untuk mendukung tumbuh suburnya
vegetasi (hutan hujan tropis).

Sabana Afrika

Tropical wet and dry climates (Aw): terletak di arah kutub dari wet tropic dan di
arah ekuator dari subtropical deserts, dimana hutan hujan digantikan oleh padang
rumput dan pohon-pohon yang tahan dengan kondisi kering tersebar pada sabana. Ciri
yang paling khusus dari iklim ini ialah karakter curah hujan yang berbeda setiap musim.

5.2. Iklim B
Dry (B) climates: presipitasi tahunan lebih kecil dari potensi hilangnya air akibat
evaporasi, dibagi atas 2 arid atau deserts (BW) dan semiarid atau stepa (BS).
29

Perbedaan keduanya hanya kecil, dengan semiarid yang merupakan marjinal atau arid
dengan kondisi lebih lembab.
Gurun dan stepa pada lintang rendah akan memberikan cuaca yang cerah, karena
pergerakan udara yang ke bawah akibat sabuk tekanan tinggi subtropics. Gurun dan
stepa lintang tengah secara prinsip ada karena posisinya berada di bagian tengah
benua/daratan yang memisahkannya jauh dari lautan. Karena banyak gurun lintang
tengah terletak pada daerah bawah angin (leeward) dari pegunungan, maka gurun
lintang tengah dapat juga diklasifikasikan sebagai rain shadow deserts.

5.3. Iklim C
Middle-latitude climates with mild winters (C): temperatur rata-rata bulan
terdingin ialah di bawah 18OC dan di atas -3OC. ada beberapa kelompok dari iklim C.

Iklim lintang tengah

Humid subtropical climates (Cfa): terletak di sebelah timur benua, pada lintang
25-40 derajat. Musim panas ditandai dengan cuaca yang panas dan gerah, dan musim
dingin yang sejuk.
Marine west coast climate (Cfb, Cfc): pengaruh massa udara maritime
menyebabkan musim dingin dan musim panas yang sejuk.
Dry-summer subtropical climates (Csa, Csb): terletak di pantai barat kontinen
pada lintang 30-45 derajat. Pada musim panas region ini didominasi oleh kondisi yang
stabil dan kering, berasosiasi dengan tekanan tinggi subtropics oseanik. Pada musim
dingin kemungkinan untuk terkena badai siklon dari front kutub.

5.4. Iklim D
Humid middle-latitude climates with severe winters (D): sangat terpengaruh oleh
keberadaan daratan, sehingga iklim ini tidak ada di belahan bumi selatan. Iklim ini
30

memiliki cirri musim dingin yang keras. Temperatur rata-rata bulan terdingin ialah -3OC
atau lebih rendah, dan bulan terpanas rata-ratanya dapat melebihi 10OC.

Iklim lintang tengah

Humid continental climates (Dfa, Dfb, Dwa, Dwb): dibatasi oleh sisi timur amerika
utara dan Eurasia, dan berkisar pada lintang 40-50 utara. Musim panas dan dingin dapat
digolongkan relatif keras. Presipitasi umumnya lebih besar pada musim panas dibanding
musim dingin.
Subarctic climates (Dfc, Dfd, Dwc, Dwd): terletak di utara humid continental
climates dan selatan polar tundras. Cirri yang paling menonjol pada iklim ini ialah
dominasi musim dingin pada sepanjang tahun. Namun sebaliknya, pada musim panas
temperaturnya sangat hangat, meskipun durasinya sangat pendek. Kisaran temperatur
tertinggi di bumi terjadi di wilayah ini.

5.5. Iklim E
Polar (E) climates: tiada musim panas, rata-rata temperatur pada bulan terhangat
di bawah 10OC. ada 2 jenis iklim polar.
Tundra climate (ET): tidak ditemukan pepohonan, pada belahan bumi utara.
Ice cap climate (EF): tidak satu bulanpun dalam setahun yang temperaturnya di
atas 0OC. akibatnya, tidak ada vegetasi yang dapat tumbuh, dan bentang alam satusatunya ialah es dan salju yang permanen sepanjang tahun.

31

Ice cap climate

5.6. Perubahan dan Variasi Iklim


Jika dibandingkan dengan tempat yang dekat dan lebih rendah, iklim pada dataran
tinggi akan lebih dingin dan biasanya lebih basah. Karena atmosfer sangat dipengaruhi
oleh ketinggian dan penyinaran, sementara iklim menggambarkan variasi dan
kemampuan atmosfer setempat untuk berubah.
Manusia telah memodifikasi lingkungan selama ribuan tahun. Dengan mengubah
atau menghilangkan tumbuhan yang menutupi tanah, dan dengan itu manusia juga telah
mengubah faktor-faktor klimatologi, seperti albedo, laju evaporasi, dan angin
permukaan.
Dengan menambahkan kadar karbondioksida dan gas-gas sisa (metana, nitrogen
oksida, dan kloroflurokarbon) maka kita telah berkontribusi secara signifikan dalam
terjadinya global warming.

Erupsi Pinatubo dan Efek El Nino

32

Ketika ada satu komponen dari sistem iklim yang berubah, saintis harus dapat
memperkirakan kemungkinan outcome yang terjadi, yang disebut climate-feedback
mechanisms. Perubahan yang dilakukan untuk memperkuat perubahan awal disebut
positive-feedback mechanisms. Dan sebaliknya, apabila perubahan yang dilakukan untuk
melawan dan cenderung untuk mengimbangi perubahan awal, disebut negative-feedback
mechanisms.

Iklim global juga terpengaruh oleh aktivitas manusia dalam kontribusi berupa
menambahkan kandungan aerosol pada atmosfer (kecil, seringkali mikroskopik, partikel
cair dan padat yang terbawa oleh udara). Dengan memantulkan sinar matahari kembali
ke angkasa, aerosol memberikan efek pendinginan.

Peningkatan gas rumah kaca dan perubahan temperatur

Efek yang dihasilkan oleh aerosol pada hari ini ialah hasil dari emisi aerosol pada 2
minggu sebelumnya, sementara karbondioksida memiliki rentang waktu yang lebih
panjang dan mempengaruhi iklim untuk puluhan tahun.

Konsentrasi dan emisi karbondioksida

33

Karena sistem iklim sangat kompleks, maka untuk memprediksi perubahan yang
spesifik pada satu regional karena peningkatan kadar karbondioksida di atmosfer tentu
sangat sulit dan sangat spekulatif. Namun begitu, beberapa konsekuensi dari pemanasan
global yang telah diketahui ialah:
1.
2.
3.
4.

Mengubah distribusi sumber daya air dunia.


Kemungkinan meningkatkan muka air laut.
Perubahan dalam pola cuaca, mislanya peningkatan intensitas siklon tropis.
Peningkatan luas es Laut Arktik.

34

Bagian IV
ASTRONOMI
SUMBER: Earth Science; twelfth edition, Oleh Edward J.
Tarbuck, Frederick K. Lutgens, dan Dennis Tasa, Penerbit:
Pearson International Edition; Astronomy principles and
practice by A.E Roy; Astrofisika by Winardi Sutantyo; Diktat
Pelatihan Astronomi tingkat Nasional; Philips Pocket Star
Atlas by John Cox; Software Starry Night
(www.StarryNight.com); Wikipedia (www.wikipedia.com);

PENDAHULUAN
Astronomi adalah ilmu yang erat kaitannya dengan ilmu Matematika dan Fisika,
konsekuensinya untuk menguasai materi olimpiade Astronomi diperlukan dasar yang
kuat dari ilmu-ilmu tersebut. Pengetahuan Astronomi umum dan kemampuan
berbahasa Inggris (beberapa soal akan diberikan dalam bahasa Inggris) akan membantu
anda, namun yang lebih utama adalah kemampuan Matematika, Fisika, serta
kemampuan analisis anda.
Untuk mempelajari materi astronomi dalam diktat ini, akan lebih mudah bagi
anda apabila telah menguasai materi-materi dibawah ini,
Matematika :
- Trigonometri dasar (dalam derajat dan radian)
- Logaritma
- Lingkaran & persamaan lingkaran
- Dimensi dua dan tiga
- Grafik Y-X, Grafik Log Y-X, Grafik Y-Log X, Grafik Log Y Log X
Fisika :
- Mekanika Dasar
- Gerak Parabola dan jatuh bebas.
- Gerak Melingkar
- Persamaan Energi
- Momentum dan tumbukan.
Diktat ini hanya memberikan materi astronomi yang bukan bersifat pengetahuan
umum atau hapalan. Materi pengetahuan umum kami asumsikan dapat anda cari
sendiri dari literatur atau internet, meskipun nantinya dalam olimpiade anda tidak akan
banyak menemukan pertanyaan yang bersifat murni hapalan (biasanya dibutuhkan
analisa dan pemahaman konsep astronomi) apalagi untuk tingkat propinsi keatas.
Untuk mempersiapkan diri menghadapi olimpiade tingkat kota (OAKK) anda
disarankan untuk memperdalam pengetahuan umum astronomi, serta memperkuat
dasar matematika dan fisika anda minimal setingkat materi kelas 3 SMU, sebab materi
ujian juga mencakup pelajaran tersebut. Namun fisika dan matematika tidak lagi masuk
materi ujian untuk tingkat propinsi, sehingga anda sudah dapat berkonsentrasi pada
materi astronomi saja terutama bab-bab awal dari diktat ini. Sedangkan untuk tingkat
nasional, selain harus sudah menguasai diktat ini (dan mungkin membaca bacaan
Astronomi tingkat lanJut), anda harus pula mempersiapkan diri untuk ujian praktek
yang meliputi observasi, simulasi observasi, dan pengolahan data. Nilai uJian praktek
dalam Astronomi cukup besar dan sangat berpengaruh dalam perolehan nilai.

--=

SELAMAT BERJUANG

=--

Daftar Isi :
1

Fenomena Geosentrik
1.1
Bola langit
1.2
Bintang & Rasi Bintang
1.3
Matahari
1.4
Planet
1.5
Periode Sinodis Planet
1.6
Bulan
1.7
Gerhana, Transit, Okultasi
1.8
Presesi & Nutasi
1.9
Objek Langit Lain

4
5
8
9
13
14
15
16
16

Pengukuran Sudut dan Paralaks


2.1
Sudut
2.2
Jarak / diameter Sudut
2.3
Paralaks Trigonometri

18
18
19

Astrofisika 1
3.1
Gelombang
3.2
Hukum Pancaran
3.3
Terang bintang
3.4
Magnitudo
3.5
Spektrum
3.6
Kelas spectrum
3.7
Diagram HR
3.8
Evolusi Bintang

22
23
25
26
28
29
31
32

Mekanika 1
4.1
Hukum Kepler
4.2
Hukum Gravitasi Newton
4.3
Mekanika Orbit Lingkaran
4.4
Titik Netral dan Titik Pusat Massa
4.5
Gaya Pasang Surut

38
41
43
45
48

5
5.1
5.2
5.3
5.4
5.5
5.6
5.7
5.8

Tata Koordinat
Koordinat Geografis
Koordinat Horizon
Koordinat Ekuatorial
Koordinat Ekliptika
Konsep Waktu
Siang dan Malam
Bintang Sirkumpolar
Tiang Dan Bayangan

51
52
53
55
55
59
61
63
2

5.9
6
6.1
6.2

Koreksi Ketinggian Pengamat


Astrofisika 2
Absorpsi
Gerak Bintang

65

68
68

1. FENOMENA GEOSENTRIK
Bab ini disebut fenomena geosentrik, sebab kita menggunakan asumsi bumi
diam dan benda-benda langit lain mengitarinya.
Benda-benda langit terletak pada jarak yang berbeda-beda. Namun untuk
memudahkan pemetaan posisi bintang bagi pengamat di Bumi, semuanya diasumsikan
berada pada jarak yang sama jauhnya, seolah-olah ditempatkan pada suatu bola
khayalan mahabesar yang menyelubungi bumi, yang disebut bola langit. Dalam bola
langit kita memperhitungkan arah dari suatu bintang tanpa mempedulikan jaraknya.
1.1
BOLA LANGIT
Bola langit memiliki bagian-bagian yang penting, yaitu ekuator langit, Kutub Langit
Utara (KLU), Kutub Langit Selatan (KLS), dimana masing-masing adalah perpanjangan
dari saudaranya di bola Bumi.

KLU
lintasan tahunan matahari
(ekliptika)

Titik Aries

ekuator langit
lintasan harian matahari
(berubah-ubah)
lintasan harian bintang

Gambar 1:Bola langit

Bagian lain yang penting ialah ekliptika (Bidang edar tahunan matahari) , dan titik
aries dan titik libra(perpotongan ekuator langit-ekliptika).
Bagi pengamat di bumi (yang diam), bola langit tampak berputar (lihat tanda panah)
dengan arah timur ke barat atau dilihat dari arah Utara searah jarum jam, dengan
periode 23 jam 56 menit. Akibat dari putaran bola langit, semua bintang akan nampak
bergerak mengikuti lintasan harian bintang. Sementara matahari akan mengikuti
lintasan harian matahari. Perlu diingat bahwa selama bola langit berputar, matahari
pun bergerak mengikuti lintasan tahunan, sehingga membutuhkan 1 derajat atau 4

menit tambahan untuk memenuhi satu putaran lintasan hariannya, sehingga periode 1
hari matahari ialah 24 Jam.
Bola langit akan berbeda-beda penampakannya tergantung pada posisi pengamat di
permukaan bumi.

Di ekuator (lintang 00):


Pada pengamat yang berada di ekuator, Ekuator
langit akan nampak tegak lurus horizon, dan
kutub langit utara akan berimpit dengan arah
utara. Lintasan harian bintang akan tegak lurus
horizon.

Di lintang utara (00< lintang <900):


Pada pengamat di lintang utara. Kutub langit
utara akan tampak naik dari arah Utara
sebesar lintang pengamat tersebut. Misalnya
untuk pengamat di lintang 300 Utara, maka
KLU akan naik 300 dari titik Utara. Ekuator
langit akan membentuk sudut 900 terhadap
arah KLU, dan lintasan harian bintang akan
sejajar dengan ekuator langit.

KLU

KLU

Di
Kutub Utara (lintang 900):
Pengamat di kutub Utara akan melihat KLU tepat
di atas kepala (zenith), dan ekuator langit tepat
berimpit dengan horizon. Maka, ia dapat melihat
semua bintang yang berada di Utara ekuator
langit (deklinasi positif) tidak akan pernah
tenggelam (sirkumpolar), dan lintasan harian
bintang akan sejajar horizon.

1.2

BINTANG & RASI BINTANG


Titik-titik yang berkelap-kelip di langit yang disebut bintang sebenarnya masingmasing adalah sebuah benda serupa Matahari kita. Karena jaraknya yang sangat jauh
cahayanya tampak sangat redup dibandingkan dengan cahaya Matahari kita. Bahkan
pada zaman dahulu orang membedakan antara Matahari dengan bintang. Padahal
sesungguhnya matahari bukan suatu bintang yang spesial.

Menurut imajinasi manusia, bintang-bintang di langit nampak membentuk polapola yang menggambarkan bentuk khusus. Oleh karena itu bintang-bintang yang dekat
arah datang cahayanya dikelompokan dan dinamai berdasarkan figur yang terbentuk
olehnya (rasi bintang), yang kebanyakan berdasarkan mitos dan legenda setempat.
Namun, akibatnya penamaan menjadi berbeda-beda
bergantung pada tempat. Misalnya rasi disamping
dikenal sebagai rasi Scorpio (kalajengking) oleh bangsa
Yunani, namun oleh orang Jawa disebut rasi Kelapa
Doyong, karena dinilai mirip pohon kelapa yang
miring.

Di zaman modern ini, rasi bintang digunakan bukan hanya untuk menamai bentuk,
namun juga untuk membagi daerah. Seluruh bola langit dibagi ke dalam 88 daerah rasi
bintang, yang dinamakan berdasarkan tata penamaan orang Yunani.
Tiga belas diantara rasi-rasi bintang itu dilintasi oleh matahari sepanjang tahun, dan 12
diantaranya dinamakan rasi zodiak. Seseorang dikatakan memiliki rasi Aries bila saat
dia lahir matahari berada di rasi tersebut. Satu rasi lagi Ophiucus (sang pemegang ular)
tidak diikutsertakan dalam zodiak namun letaknya berada diantara rasi scorpio dan
Sagittarius.
Bintang paling terang dalam satu rasi dinamakan bintang Alpha (misal Alpha cygnii
adalah bintang paling terang dari rasi cygnus), kedua Beta, ketiga Gamma, dan
seterusnya menurut abjad Yunani.

Bintang-bintang dalam satu rasi tidak harus


dekat dalam kenyataannya, namun hanya
tampak dekat dilihat dari bumi. Sebagai contoh
bintang Alpha Centauri yang merupakan bintang
terdekat dengan matahari, berjarak 4,26 tahun
cahaya, sementara Beta Centauri berjarak 360
tahun cahaya, namun keduanya nampak
bersebelahan dilihat dari bumi.

Berikut adalah daftar beberapa rasi, dan kapan dia bisa dilihat di meridian pengamat
(lingkaran besar yang melalui KLU, Zenith, dan KLS) saat tengah malam waktu lokal.
Rasi
Bintang terang / hal menarik
Waktu
Andromeda
Alpheratz (), terdapat galaksi Andromeda, ikut
Oktober
membentuk segiempat Pegasus
Aquila
Altair (), (Altair-Deneb-Vega membentuk Summer
Juli
Triangle)
Auriga
Capella ()
Desember
Bootes
Arcturus()adalah bintang terterang diUtara ekuator langit
April
Canis Major
Sirius () adalah bintang paling terang di seluruh langit
Desember
Canis Minor
Procyon ()
Desember
Carina
Canopus ()
Desember
Cassiopeia
Berbentuk seperti hurup M atau W
September
Centaurus
Rigil Kent (), Agena/Hadar ().
Maret
Crux
Acrux (), Mimosa (), dikenal sebagai rasi salib
Maret
selatan/layang-layang, sebagai penunjuk arah selatan.
Cygnus
Deneb ()
Agustus
Eridanus
Achernar ()
September
Gemini
Castor (), Pollux (), (kenyataannya Pollux lebih terang Desember
dari Castor), merupakan rasi zodiak paling utara.
Leo
Regulus (), Denebola ()
Februari
Lyra
Vega ()
Juni
Orion
Betelgeuse (), Rigel (), 3 bintang sabuk Orion (Alnitak, November
Alnilam, Mintaka), dikenal sebagai rasi Waluku/bajak
Oktans
Rasi yang ada tepat di arah Kutub Langit Selatan
Pisces
Rasi tempat dimana titik Aries berada sekarang
September
Sagittarius
Tidak ada bintang yang menonjol, namun membentuk
Juni
figure mirip poci (teapot), titik winter solstice (titik
Capricorn) berada di sini sekarang.
Scorpio
Antares (), merupakan rasi zodiak paling selatan.
Mei
Taurus
Aldebaran (), ciri : huruf V taurus, terdapat gugus bintang November
Pleiades yang terkenal sebagai ekor dari banteng, titik
summer solstice (titik cancer) berada di sini sekarang.
Ursa Major
Dubhe(),Merak(),dikenal sebagai rasi biduk/gayung
Maret
sebagai penunjuk arah utara.
Ursa Minor
Polaris (), bintang yang berada di arah Kutub langit Utara
Virgo
Spica (), titik dimana titik libra berada sekarang.
Maret
15 bintang paling terang di langit dan magnitudo tampak (skala keterangan) masingmasing ialah:
1.Sirius (-1,46)
5. Vega (0,03)
9. Achernar (0,46)
13. Aldebaran(0,85)
2.Canopus (-0,72)
6. Capella (0,08)
10. Betelgeuse(0,50) 14. Acrux (0,87)
3.Rigil Kent (-0,27)
7. Rigel (0,12)
11. Agena (0,60)
15. Antares (0,96)

4. Arcturus (-0,04)

8. Procyon (0,34)

12. Altair (0,77)

1.3
MATAHARI
Ketika siang hari tiba, langit yang penuh bintang akan tertutupi oleh cahaya Matahari
yang mendominasi langit. Sebenarnya langit berwarna biru karena adanya fenomena
penyebaran cahaya matahari (scattering) oleh atmosfer Bumi, dimana cahaya dengan
panjang gelombang terpendek (biru) akan paling efisien disebarkan.
Di bola langit, Matahari memiliki lintasan tahunan yaitu bidang ekliptika. Dimana
Matahari akan menempuh lintasan tersebut dengan periode satu Tahun. Apabila kita
mengambil acuan bintang tertentu, periode tersebut bernilai 365,25636 hari atau 1 tahun
sideris. Namun apabila kita mengambil acuan titik Aries, periode tersebut bernilai
365,2422 hari atau 1 tahun tropis. Mengapa terdapat perbedaan dalam dua periode
tersebut ?
Ekliptika

C
B
23,50

Ekuator langit

Akibat lintasan ekliptika yang berinklinasi terhadap ekuator, deklinasi Matahari (jarak
sudut Matahari terhadap ekuator langit) akan berubah-ubah dari +23,5 0 hingga 23,50.
Deklinasi Matahari juga berhubungan dengan panjang siang, perubahan musim, dan
titik terbit Matahari di suatu tempat (problem yang sering keluar ialah mengenai
panjang bayangan tongkat di suatu tempat, prinsip dasar yang harus anda ingat ialah
panjang bayangan tongkat akan nol pada pukul 12 waktu local hanya saat deklinasi
matahari = lintang pengamat) .
Dari gambar diatas, keadaan yang tercapai bila Matahari berada pada titik-titik tersebut
ialah,
KEADAAN A (Titik Aries, deklinasi 00, bujur ekliptika 00) dicapai saat 21 Maret.
Disebut titik Vernal equinox (equinox = sama), karena panjang siang sama di semua
tempat di muka bumi yaitu 12 jam. Titik ini adalah titik awal musim Semi bagi lintang
sedang Utara. Matahari akan terbit tepat di titik timur dan tenggelam tepat di titik barat
di semua tempat di Bumi.
KEADAAN B (Titik Cancer, deklinasi +23,50, bujur ekliptika 900 ) dicapai saat 22 Juni.
Disebut titik Summer solstice (sol stice = berhentinya matahari), karena pada saat ini
Matahari berhenti menambah deklinasinya ke Utara dan mulai berbalik ke Selatan. Saat

itu, tercapai lama siang terpanjang (lebih dari 12 jam) bagi belahan bumi Utara, dan
lama siang terpendek bagi belahan Bumi selatan. Titik ini adalah titik awal musim
Panas bagi lintang sedang Utara. Matahari akan terbit di titik terbit paling jauh ke
Utara dari titik Timur, dan akan terbenam di titik terbenam paling jauh ke Utara dari
titik Barat. Apabila dilihat dari Ekuator, Matahari akan terbit 23,50 ke Utara dari Titik
Timur, dan terbenam 23,50 di Utara titik Barat.
KEADAAN C (Titik Libra)dicapai saat 23 September. Disebut titik Autumnal Equinox.
Panjang siang sama untuk semua bagian Bumi. Titik ini adalah titik awal musim gugur
bagi lintang sedang Utara. Matahari akan terbit di titik Timur di semua bagian Bumi.
KEADAAN D (Titik Capricornus) dicapai tanggal 22 Desember. Disebut titik Winter
solstice. Lama siang terpendek bagi belahan bumi Utara. Merupakan titik awal musim
dingin bagi lintang sedang Utara. Matahari akan terbit di titik terbit paling jauh ke
selatan dari titik Timur.
Utara

23,50

Lintasan harian

Timur

22 Juni

21 Maret
23 September

22 Desember

Titik terbit Matahari pada tanggal-tanggal


tertentu di lintang 00
Sebelum terbenam atau sesudah terbit Matahari tidak berbentuk bulat sempurna (saat
jauh dari horizon diameter sudut matahari sekitar 0,50) namun akan berbentuk agak
benjol. Ini disebabkan karena efek refraksi atmosfer yang menyebabkan kedudukan
benda langit nampak lebih tinggi dari sebenarnya, dan efek ini berdampak paling kuat
bagi benda langit di dekat horizon, sehingga bagian piringan matahari yang lebih dekat
ke horizon akan naik.

1.4
PLANET
Para astronom sejak zaman dahulu telah menyadari bahwa tidak semua benda melekat
di bola langit. Ada beberapa objek yang tidak tunduk pada gerakan bola langit,
misalnya matahari. Selain itu termasuk planet-planet yang artinya pengembara, sebab
planet tampak bergerak terhadap latar belakang bintang-bintang.
Di langit, planet-planet dapat dibedakan dari bintang, karena cahayanya yang tidak
berkelap-kelip. Hal tersebut disebabkan oleh dekatnya jarak planet dengan bumi. Selain
itu, diameter sudut planet akan jauh lebih besar dari diameter sudut bintang (yang
berupa benda titik) dan dari teleskop akan tampak seperti piringan.

Planet-planet tidak akan ditemui terlalu jauh dari ekliptika bumi sebab bidang orbit
semua planet hanya membentuk sudut kecil terhadap ekliptika. Maka planet-planet
bisasanya ditemui berada pada rasi zodiak.
Planet-planet yang dapat dilihat oleh mata telanjang hanya Merkurius, Venus, Mars,
Jupiter, dan Saturnus. Astronom terlatih dan beberapa orang dengan kemempuan
khusus dapat melihat planet Uranus, yang sangat redup dan berada pada batas
penglihatan manusia normal.
Planet-planet juga memiliki fase (seperti layaknya bulan) yang tergantung pada posisi
matahari, planet, dan bumi. Akibatnya terang (magnitudo) semu akan berubah-ubah.
Sudut pisah antara suatu planet dengan matahari dilihat dari bumi disebut sudut
elongasi.
Diamati dari Bumi dari hari ke hari, planet akan terlihat bergerak dengan latar belakang
bintang-bintang, dengan arah barat ke timur (berlawanan arah bola langit). Gerakan ini
disebut gerak direct dan menggambarkan arah yang benar dari arah revolusi planet
inferior mengitari Matahari. Namun ada kalanya planet tampak bergerak dari timur ke
barat dan disebut gerak retrograd.
Gambar disamping menunjukkan konfigurasi
planet inferior. Gerak retrograd terjadi ketika
planet melintas diantara Bumi dan Matahari
(saat bergerak dari B ke F). Namun karena
kebanyakan planet inferior hanya dapat
diamati saat senja/fajar maka gerak retrograd
ini tidak teramati.
Posisi Planet inferior :
C Elongasi Timur Maksimum (ETM)- senja
D Konjungsi Inferior
E Elongasi Barat Maksimum (EBM)- fajar
A Konjungsi Superior
Perlu diingat bahwa keadaan C dan E terjadi
saat sudut Matahari-planet inferior-Bumi 900.
Sekarang perhatikan kembali gambar diatas, dan sekarang tukar Bumi menjadi yang di
orbit dalam, sehingga gambar di atas menunjukkan konfigurasi planet superior.
Posisi Planet superior, saat Bumi di posisi..
A Konjungsi ( Elongasi 0 )
C Kuadratur Barat ( Elongasi 900)
D Oposisi (Elongasi 1800 maks-)
E Kuadratur Timur ( Elongasi 900)

10

Gerak retrograd bagi planet superior terjadi karena


semakin dekat suatu planet ke Matahari, semakin
cepat kecepatan orbitnya, maka akan ada periode
ketika Bumi melintas diantara planet superior dan
Matahari, planet akan tersusul oleh bumi, sehingga
tampak bergerak mundur, seperti diilustrasikan
gambar disamping. Gerak retrograd selalu terjadi
beberapa waktu sebelum dan sesudah planet superior
mencapai fase oposisi.
Seandainya kita mengetahui waktu antara satu oposisi
ke oposisi berikutnya atau satu fase ke fase yang sama
lagi (Periode Sinodis) yang dapat diamati dengan mudah dari bumi, dapatkah anda
menghitung periode revolusi planet tersebut terhadap matahari ? (Perhitungan ini
dipakai Astronom purba untuk menghitung secara kasar periode revolusi suatu planet,
dan nantinya berujung pada jarak planet ke Matahari)
a. Merkurius
Merkurius sangat sulit untuk dilihat, karena sebagai planet inferior dan terdekat dengan
Matahari, sudut elongasi Venus tidak pernah lebih besar dari 280. Saat terbaik melihat
Merkurius adalah sekitar 40 menit sebelum Matahari terbit atau setelah Matahari
terbenam. Merkurius akan tampak seperti bintang yang sangat terang (magnitudo
tampak saat elongasi maksimal, bervariasi sekitar 0,2), terletak 6 18 derajat diatas
horizon di daerah yang terpendarkan oleh cahaya matahari yang tersembunyi.
Merkurius akan mencapai elongasi maksimum timur (tampak senja) berikutnya tanggal
2 Juni 2007, 28 September 2007. Dan akan mencapai elongasi maksimum barat (tampak
pagi) berikutnya tanggal 22 Maret 2007, 21 Juli 2007, 9 November 2007. Dari satu ETM
ke ETM berikutnya dibutuhkan waktu sekitar 4 bulan (periode sinodis 115,88 hari).
Sementara dari ETM ke EBM hanya butuh 45 hari, sementara dari EBM ke ETM butuh
sekitar 75 hari.
b. Venus
Venus adalah benda paling terang ketiga di langit dengan magnitudo tampak saat
elongasi bervariasi disekitar 4,2 (sekitar 15 kali lebih terang dari Sirius). Seperti halnya
Merkurius, Venus tidak akan jauh dari Matahari. Saat elongasi maksimum (sekitar 460),
untuk mata telanjang Venus akan tampak seperti bintang, namun dengan binokular /
teleskop akan terlihat seperti sabit.
Venus akan mencapai ETM (saat senja) berikutnya tanggal 10 Juni 2007 dan 14 Januari
2009. Mencapai EBM (saat fajar) berikutnya tanggal 29 Oktober 2007, dan 9 Juni 2009.
Periode Sinodis planet Venus sekitar 19 Bulan (583,92 hari). Dari ETM ke EBM butuh 20
minggu dan dari EBM ke ETM butuh 63 minggu.

11

c.Mars
Seperti halnya semua planet superior, 1-2 bulan setelah fase konjungsi, planet akan
tampak mulai pagi hari di sebelah timur, setiap harinya lalu Planet akan terbit lebih
awal. Saat kuadratur barat, planet akan terbit tengah malam dan mencapai meridian
saat fajar. Ketika fase oposisi dimana planet akan mencapai kecerlangan maksimal,
(untuk Mars dengan magnitudo sekitar 1 sampai 2.8), dia akan terbit sekitar saat
matahari terbenam (senja), melintas meridian saat tengah malam, dan tenggelam saat
fajar. Mars akan terlihat seperti bintang berwarna merah yang sangat terang dan
sepintas mirip dengan bintang Antares, yang dinamakan dengan nama dari lawanlawan dewa perang Yunani/Romawi (Mars = Ares) yaitu Antares atau anti-Ares.
Dari satu oposisi ke oposisi berikutnya membutuhkan sekitar 780 hari, dan gerak
retrograd akan dimulai sekitar lima minggu sebelum setiap oposisi dan berlangsung 10
minggu, mencakup jarak 150 di langit. Oposisi Mars berikutnya akan terjadi tanggal 24
Desember 2007, dan 29 Januari 2010.
d. Jupiter
Jupiter akan nampak oleh mata telanjang saat oposisi dengan magnitudo sekitar 2,5;
akan lebih terang dari bintang manapun. Dengan teleskop kecil, kita bahkan bisa
melihat satelit-satelit Jupiter yang terbesar (Bulan Galilean) bergerak mengitarinya.
Oposisi Jupiter akan berlangsung sekitar satu bulan lebih lambat setiap tahun, dengan
setiap oposisi akan berlangsung sekitar 30 0 lebih timur dari sebelumnya. Gerak
Retrograd akan berlangsung selama 8 minggu sebelum dan sesudah oposisi, dan
mencakup jarak 100. oposisi Jupiter berikutnya ialah tanggal 5 Juni 2007 dan 9 Juli 2008.
e. Saturnus
Magnitudo semu dari Saturnus saat oposisi akan sekitar 0,7; tidak terlalu terang dan
akan tampak seperti bintang biasa namun kita dapat membedakannya dengan mudah.
Dengan teleskop kita dapat mengamati cincin Saturnus yang anggun, dan cincin ini
akan berbeda-beda penampakannya dari bumi tergantung posisi Bumi-Saturnus saat
itu. Saturnus akan kembali ke oposisi dua minggu lebih lambat setiap tahun, dengan
setiap oposisi berlangsung kurang lebih 130 lebih ke timur dari oposisi sebelumnya.
Gerak retrograd akan berlangsung 10 minggu sebelum oposisi, berlangsung selama 20
minggu dan mencakup 70 di langit. Oposisi berikutnya akan berlangsung tanggal 24
Februari 2008 dan 8 Maret 2009.
f. Uranus & Neptunus
Bagi pengamat biasa, Uranus tidak akan terlihat lewat mata telanjang. Namun bagi
pengamat yang berpengalaman akan dapat mengamati Uranus saat cuaca bagus dan di
tempat sangat terpencil dari lampu kota. Uranus akan terlihat seperti bintang yang
sangat redup sehingga sulit dibedakan, sehingga lebih mudah dengan bantuan
binokuler dan peta bintang yang akurat, sebab magnitudonya saat oposisi hanya sekitar

12

+5,5 yang sangat dekat dengan batas penglihatan manusia. Maka tidak heran Uranus
adalah planet pertama yang memiliki penemu, yaitu oleh William Herschel tahun
1781. Herschel adalah orang pertama yang menyatakan cahaya redup Uranus sebagai
cahaya sebuah Planet.
Neptunus akan memiliki magnitudo 7,9 dan jauh dibawah batas penglihatan manusia,
sehingga hanya dapat diamati melalui teleskop.
1.5
PERIODE SINODIS PLANET
Astronom purba mengetahui periode orbit planet mengelingi matahari dengan
mengamati periode dari satu oposisi planet ke oposisi berikutnya. Bagaimana metoda
perhitungan mereka ?

B3

B2

A2
A3

A1

B1

Perhatikan gambar diatas yang menunjukan orbit 2 planet A dan B yang dilihat dari
kutubnya dan diasumsikan orbitnya berbentuk lingkaran. Menurut pengamat di planet
A, oposisi planet B terjadi pada posisi 1. Setelah oposisi, kedua planet akan bergerak
dengan kecepatan sudut masing-masing, dimana planet A akan bergerak dengan

360
, yaitu 360 derajat dibagi dengan periode sideris/orbit A.
TsidA
360
Lalu, Kecepatan sudut planet B B =
.
TsidB
kecepatan sudut A =

Karena periode orbit kedua planet berbeda, maka kecepatan sudut kedua planet pun
berbeda, sehingga akan membuat perbedaan sudut setiap satuan waktu. Karena
kecepatan sudut planet A lebih besar, maka perbedaan sudut per satuan waktu kedua
planet ialah

A B =

360
360

TsidA TsidB

13

Oposisi berikutnya (keadaan 3) akan tercapai apabila perbedaan sudut mencapai 3600,
sehingga akan satu garis kembali. Dimana waktu yang diperlukan disebut periode
sinodis, atau

T sin =

360
,
A B

Dengan menggabungkan dua persamaan di atas didapat persamaan

1
1
1
=

T sin TsidA TsidB

(1.1)

Persamaan diatas berlaku bagi semua planet atau benda lain yang mengelilingi matahari
dengan orbit mendekati lingkaran. Bila pengamat berada di bumi dan mengamati planet
Mars, maka bumi menjadi planet A dan Mars menjadi planet B. Keadaan harus ditukar
dalam kasus pengamat di bumi mengamati planet Venus.
Contoh soal :
Seorang pengamat mengamati bahwa dari satu oposisi ke oposisi berikutnya Mars
membutuhkan waktu 2,14 tahun bumi. Berapakah periode revolusi Mars ?
Jawab :
Periode orbit bumi = 1 tahun
Periode sinodis Mars = 2,14 tahun.

Atau

1
1
1
=

T sin TsidBumi TsidMars


1
1
1
=

TsidMars TsidBumi T sin


1
1
1
=
= 0,5327
TsidMars 1 2,14

Maka

Tsid Mars = 1,88 tahun

Maka,

1.6
BULAN
Bulan adalah satelit alami Bumi satu-satunya. Dan Bulan
memiliki periode revolusi yang sama dengan periode rotasi
sebesar 27,32 hari, akibatnya Bulan akan selalu menampakan
bagian yang (nyaris) sama kepada bumi. Periode Revolusi
diukur dengan acuan posisi Bulan terhadap bintang tertentu.
Orbit bulan memiliki kemiringan sekitar 50 terhadap ekliptika,
sehingga akan nampak memiliki kemiringan 18,50 hingga 28,50
terhadap ekuator langit. Setiap hari, bulan terbit terlambat
sekitar 48-56 menit.

Barat

Akibat konfigurasi Bulan-Bumi-Matahari yang berubah-ubah, bulan tampak memiliki


fase-fase. Namun waktu yang dibutuhkan dari satu purnama ke purnama berikutnya
tidak sama dengan periode revolusinya, yaitu sekitar 29,53 hari dan disebut periode

14

sinodis. Bagaimana kita membedakan fase awal (waxing) dengan fase akhir (waning) ?
Pertama waktu terbit bulan akan berbeda-beda sesuai fasenya. Kedua, jika bagian barat
dari Bulan yang tersinari matahari, maka ia sedang berada dalam fase awal, seperti
gambar sabit awal diatas.
Mengapa bulan membutuhkan waktu lebih lama dari kuartir awal ke kuartir akhir
dibanding dari kuartir akhir ke kuartir awal ?

1.7
GERHANA, TRANSIT, DAN OKULTASI
Inklinasi orbit bulan terhadap ekliptika membuat tidak setiap konjungsi/oposisi terjadi
gerhana. Gerhana hanya akan terjadi apabila bulan,bumi, dan matahari berada pada
satu garis DAN satu bidang. Keadaan itu hanya akan terjadi bila saat konjungsi/oposisi
bulan berada pada titik simpul bidang orbit bulan dan ekliptika (analogi titik simpul
ialah serupa dengan titik aries dan libra untuk bidang ekuator dengan ekliptika).
Gerhana total hanya akan terjadi apabila saat terjadi gerhana, Bumi/Bulan memasuki
Umbra. Gerhana Matahari cincin terjadi apabila
hanya perpanjangan kerucut Umbra (antumbra)
yang sampai ke bumi. Saat gerhana bulan, bulan
tidak akan gelap total, melainkan agak kemerahan
karena adanya refraksi cahaya matahari oleh
atmosfer bumi, yang jatuh di permukaan bulan.
Besar kerucut Umbra akan maksimal apabila jarak
benda penghalang dengan pengamat minimal, dan
jarak sumber cahaya maksimal.
Diameter benda penghalang juga berpengaruh,
misalnya besar kerucut umbra bumi jauh lebih besar
dari besar kerucut umbra bulan.

Bagian piringan matahari sebelah mana (barat atau timur) yang akan tertutup Bulan
duluan ketika gerhana matahari Total ?
Saat Venus / Merkurius berada pada Konjungsi Inferior, ada kemungkinan terjadi
transit, Yaitu lewatnya planet di depan matahari, layaknya gerhana, namun diameter
sudut benda penghalang jauh lebih kecil dari benda yang dihalangi. Transit tidak terjadi
di setiap kunjungsi Inferior karena orbit Venus memiliki inklinasi 3,40 terhadap
ekliptika. Apabila diameter benda penghalang jauh lebih besar dari benda yang
dihalangi, disebut okultasi, misalnya bulan lewat didepan planet Saturnus.

15

1.8
P

PRESESI & NUTASI

Saat ini, sumbu rotasi Bumi memiliki kemiringan


23,50 terhadap ekliptika, dan arah sumbu Rotasi
(hampir) ke arah bintang polaris. Namun ternyata
dari catatan peradaban dulu, arah sumbu rotasi
bukan ke arah polaris, tapi ke arah Thuban ( Draco).
Ternyata fenomena yang menyebabkannya ialah
presesi sumbu Bumi. Yaitu peristiwa berubahnya
arah kemiringan sumbu rotasi bumi (dengan
mempertahankan besar kemiringan) , dengan periode
sekitar 26.000 tahun. Pada gambar di samping, garis
tebal menunjukan kemiringan sumbu bumi saat ini
(mengarah ke titik P), dan garis putus-putus
menunjukkan kemiringan bumi 13.000 tahun
mendatang (arah titik P). Akibat presesi, bintang
terang (yang terdekat dengan) kutub Utara Langit

berubah-ubah diantaranya
Thuban-Polaris-Er Rai ( Cepheus)-Alderamin ( Cepheus)-Vega ( Lyra).Penyebab
presesi ialah pengaruh gravitasi Bulan dan matahari terhadap bentuk bumi yang tidak
bulat sempurna. Seperti gasing yang berputar mengalami gangguan. Selain bintang
kutub, Presesi menyebabkan titik Aries bergerak, dahulu ada di rasi Aries, dan sekarang
berada di rasi Pisces. Begitu pula titik Libra, yang sekarang ada di rasi Virgo saat ini.
Presesi juga menyebabkan asensio rekta dan deklinasi bintang berubah.
Dalam presesi, ternyata sumbu rotasi tidak bergerak mulus dan agak bergoyang yang
disebut Nutasi. Nutasi menyebabkan sumbu rotasi bergoyang dari lintasan presesinya
dengan amplitudo sekitar 9 detik busur.
1.9
OBJEK LANGIT LAINNYA
a. Galaksi, Nebula, Kluster Bola
Apabila kita mengamati langit di tempat yang jauh dari polusi cahaya kota, dan
di malam tanpa Bulan, maka kita akan mendapati di langit terdapat kabut putih tipis
yang membentang luas seperti sungai di angkasa, namun bentuknya tidak berubah, dan
tampak bergerak mengikuti bola langit. Sebenarnya itu adalah bagian galaksi bima
sakti (milky way) galaksi dimana matahari berada. Terlihat seperti kabut karena terlalu
jauhnya bintang-bintang tersebut sehingga mata kita tidak bisa membedakan satu sama
lain, dan hanya menangkap energi cahaya redup gabungannya.
Arah pusat galaksi bima sakti kira-kira sekitar arah rasi Sagittarius, dan arah
berlawanan arah pusat galaksi ialah arah rasi Auriga. Sehingga kita bisa melihat kabut
putih tersebut sangat pekat di daerah dekat Sagittarius.Galaksi diluar Bima Sakti karena
jaraknya yang sangat jauh tidak akan tampak oleh mata telanjang kecuali 4 galaksi :
Awan Magellan besar di rasi Dorado, Awan Magellan kecil di rasi Tucana, Galaksi

16

Andromeda(M31) di rasi Andromeda, dan galaksi Triangulum (M33) di rasi


Triangulum.
Galaksi, Nebula, dan Globular Cluster didaftar oleh Astronom Perancis Charles
Messier dalam katalog yang dinamakan atas namanya. Benda-benda itu diberi kode
M1, M2, M3 dan seterusnya hingga M110. Hingga kini penamaan Messier masih dipakai
meskipun perkembangan teleskop menunjukkan ada lebih dari 110 benda-benda
tersebut. Dalam keperluan pendataan objek redup langit modern dibuat katalog baru
misalnya NGC, HIP, TYC, dan lain lain.
b. Komet
Komet atau bintang berekor ialah anggota tata surya yang dari bumi terlihat
gerakannya sangat tidak tunduk terhadap gerakan bola langit, dan terlihat hanya saat
tertentu lalu menghilang. Masyarakat zaman dahulu belum bisa memprediksi dan
menghitung gerakan dan posisi komet, ketidaktahuan tersebut menimbulkan ketakutan
pada masyarakat zaman dahulu bahwa komet adalah pembawa pesan khusus dari
langit atau bencana. Barulah setelah ilmu pengetahuan astronomi berkembang, dan
Edmund Halley (teman dari Isaac Newton) berhasil memprediksi kedatangan komet
dan posisinya di langit, masyarakat mulai percaya bahwa komet hanyalah salah satu
anggota tata surya yang mengelilingi matahari dan tunduk pada hukum-hukum
Newton.
Bagi pengamat dengan mata telanjang, beberapa Komet akan tampak cemerlang
dan memiliki ekor yang panjang dan selalu melawan arah dari Matahari, dengan
magnitudo bervariasi dan maksimal saat paling dekat dengan matahari. Kebanyakan
komet hanya dapat dilihat dengan bantuan alat. Komet yang memiliki lintasan elips
(biasanya memiliki eksentrisitas elips mendekati 1, artinya sangat lonjong) disebut
komet periodic, karena akan mengitari matahari dengan suatu periode tertentu.
Misalnya komet Halley dengan periode 76 tahun bumi. Komet-komet yang memiliki
lintasan parabola hanya akan mendekati Matahari sekali dan tidak akan kembali lagi.
c. Planet Kerdil dan Asteroid
Planet kerdil di tata surya ada 3 : Pluto, Ceres, dan Eris. Ketiganya hanya akan
terlihat dengan bantuan teleskop. Begitu pula dengan Asteroid dan benda-benda kecil
tata surya lainnya.
d. Meteoroid
Meteoroid adalah benda-benda serpihan yang berada di Tata surya. Karena
massanya kecil, kadangkala ia tertarik oleh gravitasi suatu planet dan jatuh ke planet
tersebut. Saat memasuki bumi, akibat gesekannya dengan atmosfer ia akan tampak
seperti bintang jatuh/bintang beralih, disebut meteor. Apabila Meteor tidak terbakar
habis di atmosfer dan mencapai permukaan bumi disebut meteorit.

Mengapa Meteor akan terlihat paling banyak di langit setelah tengah malam
menjelang pagi ?

17

2. PENGUKURAN SUDUT DAN PARALAKS


2.1
SUDUT
Dalam kehidupan sehari-hari sudut dinyatakan dalam satuan
derajat, dimana 360 derajat sama dengan satu lingkaran penuh.
Namun ternyata angka 360 tersebut tidak memiliki latar belakang
ilmiah yang pasti, maka dirumuskan satuan sudut radian dimana
1 radian didefinisikan sebagai besar sudut yang dibentuk oleh
busur lingkaran sepanjang jari-jari lingkaran tersebut (lihat
gambar disamping). Maka besar sudut satu lingkaran penuh
(dalam radian) ialah sudut yang dibentuk oleh busur lingkaran
sepanjang keliling lingkaran tersebut atau senilai 2 radian.

r
r

Besar satu derajat dibagi-bagi lagi ke dalam 60 bagian yang sama besar untuk
memperbesar keakuratan, dimana satu bagiannya ( 1/60 derajat) disebut satu menit busur
(dinyatakan dengan ). Satu menit busur juga dibagi-bagi lagi kedalam 60 bagian sama
besar yang disebut satu detik busur ().
Dapat kita tarik kesimpulan bahwa :

1 Radian =
3600 / 2

21600 / 2
1.296.000/ 2

57,29578 0
3437,75
206265

JARAK SUDUT
Lebar bentangan sudut suatu benda dilihat oleh pengamat pada jarak tertentu disebut
jarak sudut.

2.2

Besar diameter sudut benda () dengan lebar r, dan berada pada


jarak d dari pengamat, dinyatakan dengan persamaan sederhana

tan =

r
d

(2.1)

(Diameter sudut sebesar 1didapat bila kita meletakkan tiang sepanjang 1 m pada jarak
206.265 m atau sekitar 200 km)
Dalam pengukuran diameter sudut benda-benda langit dengan kondisi d >> r (d jauh
lebih besar dari r), maka berlaku

tan

Dengan syarat besar sudut dinyatakan dalam radian. Contohnya tangen 0,01
0,010000333 (gunakan kalkulator dalam mode radian).

18

Maka persamaan (2.1) akan menjadi

(rad ) =

r
d

(2.2)

( 0 ) = 57,29

r
d

(2.2a)

r
d

(2.2b)

Bila dinyatakan dalam derajat menjadi

Dalam detik busur menjadi

(" ) = 206265

Perlu diingat, untuk benda piringan (misalnya matahari), apabila faktor r ialah radius
matahari, maka akan menyatakan setengah diameter sudut matahari.

2.3

PARALAKS TRIGONOMETRI

S1

S2

B2

B1

Perhatikan gambar kedudukan bumi (B), matahari (M),


dan bintang (S) di samping! Pada suatu saat bumi
berada di kedudukan B1, maka saat itu pengamat di
bumi akan melihat bintang memiliki kedudukan S1.
Akibat
revolusi
bumi
mengelilingi
matahari,
kedudukan bintang akan berubah-ubah relatif terhadap
bintang-bintang jauh yang ada di latar belakangnya,
misalnya saat bumi di B2, bintang akan nampak di S2.
Sudut B1 S B2 disebut 2 sudut paralaks. Adapun
yang disebut sudut paralaks ialah sudut B1 S M.
Besar sudut paralaks (p) ialah

tan p =

jarak B1 M
jarak S M

Persamaan di atas analog dengan persamaan (2.1) dan memenuhi syarat SM >> B1M.
Maka sudut paralaks dalam detik busur dapat dinyatakan dengan

p (" ) = 206265

r
d

Dimana r adalah jarak bumi-matahari dan d adalah jarak bintang-matahari (keduanya


harus dalam satuan yang sama, misalkan meter). Namun karena sudut p mendekati nol,

19

maka cosinus p mendekati 1 dan SB1 SM. Maka besaran d dapat dianggap sebagai
jarak bintang ke bumi.
Bila r dan d dinyatakan dalam satuan astronomi (SA) atau astronomical unit (AU)
dimana 1 SA = jarak (rata-rata) bumi-matahari, maka persamaan paralaks menjadi

p (" ) =

206265
d ( SA)

Dari persamaan diatas kita bisa lihat bahwa benda yang memiliki jarak 206265 SA akan
memiliki sudut paralaks 1 detik busur.
Untuk mempersingkat persamaan, ditetapkan satuan panjang baru yaitu parsec
(parallax second) dimana satu parsec didefinisikan sebagai jarak bintang yang memiliki
sudut paralaks sebesar satu detik busur diukur dari bumi. Sehingga 1 SA = 1/206265
parsec. Bila persamaan (2.4) kita nyatakan r dan d dalam satuan parsec kita akan
mendapat persamaan
(2.7)
1

p(" ) =

Persamaan (2.6) memberikan hubungan yang sangat sederhana antara besar sudut
paralaks yang diamati dari bumi dengan jarak bintang tersebut terhadap bumi. Dari sini
kita bisa mengukur seberapa jauh sebuah bintang tanpa harus meninggalkan bumi,
disinilah hebatnya ilmu astronomi.
Apabila pengukuran dilakukan bukan dari bumi, maka persamaan (2.7) akan menjadi

p (" ) =

r
d

(2.7b)

Dimana besaran r ialah jarak posisi pengamat terhadap matahari dinyatakan dalam SA.
Tentunya semakin jauh suatu bintang, sudut paralaksnya akan semakin kecil, semakin
sulit pula untuk mengukurnya dengan tingkat keakuratan yang baik. Maka metode ini
hanya dapat dipakai untuk menentukan jarak bintang-bintang yang tidak terlalu jauh
dari matahari. Untuk menentukan jarak bintang-bintang yang jauh digunakan metode
paralaks spektroskopi.

Contoh soal :
1. Berapakah sudut paralaks bintang Centauri (jaraknya = 4,26 tahun cahaya) diukur
dari
a) bumi
b) mars (jarak Matahari-mars = 1,52 SA)

20

Jawab :

a) Jarak centauri = 4,26 tahun cahaya = 4,26 x 365,25 x 24 x 60 x 60 x kecepatan


cahaya = 4,033 x 1016 m
1 parsec = 206265 SA = 206265 x 1,5 x 1011 = 3,093 x 1016 m
Maka didapat jarak centauri = 1,3 parsec
Maka paralaks centauri dari bumi =
=

p(" ) =

1
d

1
= 0,77 detik busur
1,3

r
b) Paralaks centauri dari Mars = p M (" ) = d

1,52
= 1,17 detik busur
1,3

21

3. ASTROFISIKA 1
3.1

GELOMBANG

Dalam penelitian bintang, satu-satunya informasi yang bisa didapat ialah cahaya dari
bintang tersebut. Cahaya adalah gelombang elektromagnet, yang merambat tegak lurus
arah getarannya (transversal). Dalam perambatannya, jarak yang ditempuh cahaya per
detik yaitu panjang gelombang ( ) dikalikan banyak gelombang dalam satu detik ( f ),
selalu konstan (disebut c), dinyatakan dengan
c= f
.(3.1)
Dimana besar c dalam ruang vakum ialah = 299.792 km/s, atau mendekati 3x108 m/s.
Karena banyak gelombang dalam satu detik (frekuensi) ialah kebalikan dari periode
gelombang ( T ), maka bentuk lain dari persamaan (3.1) ialah

c=

..(3.1 b)
T

Apabila c dalam m/s, maka harus dalam meter dan T dalam detik.

Contoh soal :
Berapakah waktu yang dibutuhkan cahaya dengan panjang gelombang 4500 Angstrom
()
untuk menempuh jarak sebesar satu panjang gelombangnya?
Jawab :

T=

4500 x10 10 m
=
= 1,5x10-15 detik.
c
3 x108 m / s

Berdasarkan panjang gelombangnya, cahaya dibedakan menjadi :


Gelombang Radio
1 mm <
Inframerah
7500 1 mm
Visual
3800-7500
Ultraviolet

100-3800

Sinar X

1 100

Sinar Gamma

<1

22

Mata manusia normal hanya mampu melihat cahaya dengan panjang gelombang visual,
sementara untuk panjang gelombang lainnya, perlu digunakan detektor lain.
Gelombang visual dibagi lagi menjadi daerah warna-warna :
Merah
6300-7500
Merah-Oranye
6000-6300
Oranye

5900-6000

Kuning

5700-5900

Kuning-hijau

5500-5900

Hijau

5100-5500

Hijau-biru

4800-5100

Biru

4500-4800

Biru-Violet

4200-4500

Violet

3800-4200

HUKUM PANCARAN
Sifat-sifat pemancaran cahaya bintang ternyata mendekati sifat-sifat pancaran benda
hitam (benda ideal yang menyerap semua energi cahaya yang diterimanya), yaitu
bintang memancarkan cahaya pada seluruh panjang gelombang, mulai dari sinar
gamma hingga gelombang radio, namun intensitas (kekuatan) pancarannya tidak
merata untuk semua panjang gelombang, artinya ada panjang gelombang tertentu
dimana bintang akan paling kuat memancarkan cahaya.

3.2

Secara matematis, panjang gelombang dimana intensitas mencapai maksimum


berbanding terbalik dengan suhu efektif benda. Hal tersebut dinyatakan oleh hukum
pergeseran Wien,

maks =

0,2898
........................................(3.2)
Tef

Dimana dinyatakan dalam cm, dan temperatur dalam Kelvin.


Contoh Soal :
Apabila matahari memiliki suhu 5880 K, maka pada panjang gelombang berapakah
matahari akan memancarkan intensitas terbesar ?
Jawab :

maks =

0,2898 0,2898
= 4,928 x10 5 cm = 4928 .
=
Tef
5880

Matahari memancarkan cahaya dengan intensitas maksimum pada bagian Hijau-biru


dari gelombang visual.
Dari hukum Wien, kita dapat menjelaskan mengapa bintang-bintang berwarna biru
lebih tinggi temperaturnya dari bintang-bintang berwarna merah atau kuning.

23

Besaran-besaran yang penting untuk diketahui dalam penyebaran cahaya bintang yaitu:
1. Energi yang melewati satu satuan luas permukaan bintang untuk satu panjang
gelombang secara tegak lurus disebut intensitas spesifik atau B (T ) . Dinyatakan
dengan persamaan B (T ) =

2hc 2
1
Dimana h = konstanta planck, k =
5
hc / kT
e
1

konstanta Boltzmann, c = kecepatan cahaya, dan T = temperatur benda

2. Energi yang melewati satu satuan luas permukaan bintang untuk seluruh panjang
gelombang secara tegak lurus disebut intensitas atau B (T ) . Yaitu merupakan integrasi
persamaan intensitas spesifik, untuk seluruh panjang gelombang. Dinyatakan dengan
persamaan B (T ) =

4
T Dengan adalah konstanta stefan-boltzmann=5,67x10-8 W/m2K4.

3. Energi yang melewati satu satuan luas permukaan bintang ke segala arah disebut
radiance ( ), dinyatakan dengan persamaan = .B(T ) = T 4
4. Energi yang melewati seluruh permukaan bintang ke segala arah disebut luminositas
(L). Luminositas ini juga menyatakan daya yang dipancarkan bintang dan menentukan
kecerlangan asli sebuah bintang. Didapat dari mengalikan radiance dengan luas
permukaan bintang, atau dinyatakan oleh
L = 4r 2T 4 ................................................. (3.3)
Dimana r adalah radius permukaan bintang (m)dan luminositas memiliki satuan Watt
(dapat diibaratkan bintang adalah bola lampu yang watt-nya sangat besar).

Intensitas / Intensitas spesifik

Radiance

Luminositas

24

Contoh soal :
Sebuah bintang radiusnya setengah radius matahari, namun suhunya 4 kali suhu
matahari, apabila keduanya berada pada jarak yang sama dari pengamat, bintang
manakah yang akan tampak lebih terang ? Berapa perbandingan terangnya ?
Jawab :

L
4r 2T 4
r
=
2
4 =
r
LM 4rM TM
M

TM

1 2 4 4
= = 64
2 1

Bintang tersebut akan tampak 64 kali lebih terang dari matahari.

3.3
TERANG BINTANG
Tingkat keterangan suatu bintang di langit ditentukan oleh seberapa besar energi
cahaya yang kita terima dari bintang tersebut. Namun apakah bintang yang memiliki
luminositas paling besar akan tampak paling terang di langit ? Jawabannya tentu saja
tidak, apabila bintang tersebut terletak sangat jauh, tentu cahaya yang datang akan
redup. Hal ini menegaskan faktor lain yang mempengarhi keterangan bintang, yaitu
jarak.
Energi
yang
diterima
pengamat
(Elluminance/flux) ialah sama dengan
luminositas bintang dibagi dengan luas
permukaan sebuah bola yang memiliki
radius jarak bintang dari pengamat. Hal
ini karena bintang meradiasikan cahaya
d
ke segala arah, dan dianggap energi
total yang dipancarkan tidak berubah.
Pengamat (E)
Luminositas (L)
Maka energi (E) yang diterima
pengamat berjarak d dari suatu bintang
berluminositas L ialah

E=

L
4 d 2

..............(3.4)

Dimana L bersatuan Watt, d dalam meter, sehingga E dalam W/m2.


Bentuk-bentuk lain dari persamaan elluminance/flux antara lain,
Dengan menggabungkan persamaan 3.3 dan 3.4, didapat hubungan
2

r
E = T 4 ..........................................................(3.5)
d

Apabila anda ingat persamaan 2.2 maka bisa kita masukkan ke persamaan 3.5, didapat

E = ( RAD ) T 4
2

Atau dalam detik busur,

"
4
E =
T ...............................................(3.6)
206265

Dimana ialah setengah diameter sudut matahari

25

Contoh Soal :
Apabila diukur energi yang diterima bumi dari matahari per satuan luas ialah 1380
W/m2, dan jarak bumi-matahari = 1,5 x 1011 m, maka hitung berapa energi yang
dipancarkan matahari per detiknya !
Jawab :

L = E.4d 2
= (1380 w / m 2 ).4 (1,5 x1011 m) 2
= 3,9x1026 Watt.
Dapat dilihat bahwa per detiknya matahari memancarkan energi sebesar 3,9x1026 Joule.

3.4
MAGNITUDO
Untuk menyatakan terang suatu bintang, astronom biasa menggunakan satuan
magnitudo, yang merupakan logaritma dari jumlah energi yang diterima. Hipparchos
(astronom yunani kuno) membagi bintang-bintang menjadi enam satuan magnitudo
dimana bintang paling terang memiliki magnitudo 1 dan yang paling redup 6.
Seiring dengan semakin majunya teknologi pengamatan, skala magnitudo pun
didefinisikan semakin tegas. Oleh pogson dinyatakan bintang bermagnitudo 1 seratus
kali lebih terang dari bintang bermagnitudo 6. Atau setiap beda satu magnitudo, akan
berbeda terang sebesar

100 = 2,512 . Secara matematis dinyatakan,

E1
m m
= ( 2,512 ) 2 1
E2

........................................(3.7)

Perhatikan letak E dan m bintang pertama dan kedua! Dapat dilihat bahwa bintang
yang lebih terang akan memiliki magnitudo lebih kecil / lebih negatif.
Dari skala pogson, terdapat bintang yang magnitudonya lebih kecil dari satu, misalnya
Sirius, bintang kedua paling terang di langit, memiliki magnitudo -1,46. Bahkan
Matahari (yang paling terang di langit) memiliki magnitudo -26,7. Magnitudo yang kita
lihat di langit dinamakan magnitudo semu atau apparent magnitude.
Contoh Soal :
Berapa perbandingan terang bintang Sirius dengan bintang Procyon (magnitudo semu =
+0,34) ?
Jawab:

ES
mP mS
1,8
= ( 2,512 )
= (2,512) ( 0,34 )( 1, 46 ) = ( 2,512) = 5,24
EP
Di langit, Sirius 5,24 kali lebih terang dari Procyon

26

Magnitudo semu suatu bintang gagal menunjukan terang asli (luminositas) suatu
bintang, karena ada satu faktor yang mempengaruhi yaitu jarak bintang. Sebagai
contoh, bintang yang luminositasnya tinggi namun jarak dari pengamat sangat jauh
akan memiliki magnitudo semu besar (redup di langit).
Untuk menghapus pengaruh faktor jarak bintang, maka dibuat sistem magnitudo yang
meletakkan semua bintang pada jarak yang sama, yaitu 10 parsec dan disebut
magnitudo mutlak. Secara sederhana, magnitudo mutlak ialah magnitudo semu yang
akan diamati apabila bintang berada pada jarak 10 parsec dari pengamat.
Penurunan persamaan magnitudo mutlak didapat dari persamaan 3.7 :

E1
E2
E
Log 1
E2
E
Log 1
E2
E
Log 1
E2
E
2,5 Log 1
E2

= ( 2,512 )

m 2 m1

= Log ( 2,512 )

m 2 m1

= m2 m1 ( Log 5 100 )
2
= m2 m1 ( )
5
= m2 m1

....................................(3.7 b)

(Persamaan 3.7 b ialah bentuk lain dari persamaan magnitudo semu)


Sekarang misalkan E1 dan m1 adalah yang teramati sekarang di jarak d parsec, dan E 2
dan m2 adalah yang akan diamati pada jarak 10 parsec, maka

2
4

d
= m m
2,5 Log
2
1

2
4 (10)
10
5 Log = m2 m1
d
Magnitudo yang teramati di jarak 10 parsec (m2) ialah magnitudo mutlak dan kita
nyatakan dengan M, sementara magnitudo semu (m1) kita nyatakan dengan m.

d
10
m M = 5 Log d 5Log10
m M = 5 Log d 5 .................................(3.8)
m M = 5 Log

Dimana m M disebut modulus Jarak.

27

3.5
SPEKTRUM
Apabila kita lewatkan cahaya matahari melalui sebuah prisma, maka akan terbentuk
apa yang dinamakan spektrum cahaya yang terdiri dari warna merah, jingga, kuning,
hingga ungu. Dengan prinsip yang serupa ternyata kita bisa mengamati spektrum
cahaya bintang lain, dan dapat menarik banyak informasi penting.
Pembentukan spektrum dinyatakan oleh Kirchoff dalam 3 hukumnya, yaitu
1. Hukum Kirchoff 1
Sumber cahaya yang memiliki kerapatan tinggi akan memancarkan spektrum
yang kontinu pada seluruh panjang gelombang

Gas
tekanan
tinggi
Pengamat
2. Hukum Kirchoff 2
Sumber cahaya yang memiliki kerapatan rendah akan memancarkan spektrum
hanya pada panjang gelombang tertentu (garis emisi).

Gas
tekanan
rendah
Pengamat
3. Hukum Kirchoff 3
Apabila berkas cahaya dari benda bertekanan tinggi melewati benda bertekanan
rendah sebelum sampai di pengamat, maka spektrum yang akan teramati ialah
spektrum kontinu yang diselingi garis-garis gelap (garis absorpsi).

Gas
tekanan
tinggi
Pengamat
Gas Tekanan rendah
Bila gas bertekanan rendah pada hukum 3 = hukum 2, maka letak garis-garis emisi dan
absorpsi akan sama.

28

Untuk mengamati spektrum biasa digunakan alat Spektrograf, yang memiliki sebuah
prisma atau kisi cahaya di dalamnya, untuk menguraikan spektrum.
Apabila kita melihat spektrum suatu bintang, maka kita akan mengamati spektrum
seperti pada ilustrasi hukum kirchoff 3. Sehingga dapat disimpulkan bahwa cahaya dari
pusat bintang (gas bertekanan tinggi) melewati atmosfer bintang tersebut (gas
bertekanan rendah) sebelum sampai ke pengamat.
Perlu diperhatikan bahwa setiap unsur apabila dipijarkan akan memiliki garis yang
khas, layaknya sidik jari sebuah unsur. Maka kita dapat mengidentifikasi unsur apa saja
yang dikandung oleh sebuah bintang dengan mengamati garis absorpsi yang muncul.
Misalnya pada bintang A ditemui garis-garis helium (sidik jari unsur helium), dan pada
bintang B ditemui garis-garis Titanium Oksida. Maka dapat kita simpulkan bahwa pada
bintang A memiliki unsur helium, dan bintang B mengandung unsur Titanium Oksida.

3.6
KELAS SPEKTRUM BINTANG
Astronom membentuk suatu sistem klasifikasi bintang yang didasari atas karakteristik
garis absorpsi spektrum bintang tersebut. Klasifikasi awal ialah bintang diurutkan
berdasarkan kekuatan / ketebalan garis-garis hidrogen (Antonia Maury). Bintang yang
paling kuat garis hidrogennya dikelompokkan dalam kelas A, berurut abjad hingga
kelas Q yang memiliki garis hidrogen paling lemah.

Kelas A

Kelas Q

Klasifikasi Maury disempurnakan oleh Annie Cannon, rekannya di Observatorium


harvard. Cannon mengklasifikasikan bintang berdasarkan temperatur permukaannya.
Hal ini dapat dilakukan dengan melihat panjang gelombang dimana terdapat intensitas
pancaran terbesar, dan menerapkan hukum pergeseran Wien. Intensitas maksimum
ditunjukkan oleh bagian paling terang dari spektrum, dan panjang gelombangnya dapat
diukur. maks
maks

Karena ke kanan panjang gelombang naik, maka bintang yang sebelah kiri tentu lebih
panas (hukum Wien).

29

Namun, untuk bintang yang jauh, perbedaan antara intensitas maksimum dan
sekitarnya akan menjadi tidak jelas, sehingga sulit untuk diamati. Alternatif lain
penentuan kelas bintang ialah dengan mengamati garis hidrogen, berdasarkan
pengetahuan bahwa kekuatan garis hidrogen berhubungan dengan suhu bintang.
Pada suhu tertentu, garis hidrogen akan paling jelas, untuk suhu diatas atau
dibawahnya, garis akan semakin tidak jelas. Suhu ideal tersebut dicapai oleh bintang
kelas A.
Lalu diamati dari kelas A sampai Q, bahwa ada beberapa kelas yang sama dan berulang,
sehingga beberapa dihapus dan digabung, sehingga membentuk klasifikasi bintang
modern sebagai berikut,
Kelas
O
B
A
F
G
K
M

Temperatur
30.000 K <
10.000-30.000 K
7500-10.000 K
6000-7500 K
5000-6000 K
3500-5000 K
2000-3500 K

Warna Bintang
Biru Kuat
Biru Lemah
Putih kebiruan
Putih
Kuning
Kuning-Merah
Merah

Garis hidrogen
Sangat Lemah
Sedang
Kuat
Sedang
Lemah
Sangat Lemah
Sangat Lemah

Garis lain
He Terionisasi
He Netral; Si terionisasi
Mg,Si,Ti, Fe terionisasi
Ca, Fe terionisasi; Fe netral
Ca terionisasi, Pita CH
Logam netral
Pita Titanium Oksida

Untuk memudahkan mengingat urutan kelas ini biasa digunakan singkatan Oh Be A


Fine Girl, Kiss Me, atau anda boleh membuat sendiri sesuka hati.

30

3.7
DIAGRAM H-R
Apabila kita membuat grafik kartesius dengan kelas spektrum bintang sebagai absis
(sumbu-x) dan luminositas bintang sebagai ordinat (sumbu-y), lalu kita memplot
bintang-bintang yang telah kita ketahui karakter fisisnya ke dalam grafik tersebut, kita
akan mendapati bahwa bintang-bintang memiliki kecenderungan untuk mengisi daerah
tertentu dalam grafik tersebut.
Grafik tersebut dibuat pertama kali oleh Ejnar Hertzprung dan Henry Russell pada
1910, dan dinamakan Diagram Hertaprung-Russell atau Diagram H-R, dan merupakan
lompatan besar dalam pemahaman manusia terhadap evolusi bintang.
Skema diagram H-R :

Luminositas (Matahari = 1)
100 000
10 000
1000
100
10
1
0,1
0,01
0,001
0,0001
0,00001

Ia Maharaksasa Terang
Ib Maharaksasa
II Raksasa Terang
III Raksasa

IV Sub Raksasa

V Deret Utama

Katai Putih

Kelas Spektrum /
Logaritma Temperatur

Kelas spektrum bintang berhubungan dengan temperaturnya, maka akan lebih akurat
apabila kita memplot diagram H-R dengan absis logaritma temperatur, atau grafik y
terhadap log x, yang berbeda dengan grafik y terhadap x biasa, dimana temperatur
tertinggi terletak di sebelah kiri.
Secara umum, bintang dengan temperatur semakin tinggi akan terletak semakin ke kiri,
dan bintang dengan daya pancar semakin besar akan terletak makin ke atas. Dari
persamaan 3.3, kita dapat pula menentukan ukuran sebuah bintang. Misalnya di daerah
kiri bawah, kita akan menemui bintang-bintang dengan temperatur tinggi, namun
memiliki daya pancar rendah, sehingga pasti ukurannya kecil dan disebut katai putih.
Begitu pula dengan daerah kanan atas, yang pasti memiliki ukuran besar, sehingga
disebut raksasa atau maharaksasa.
Banyak bintang yang teramati berada pada daerah V dimana luminositas bintang
seimbang dengan temperaturnya, sehingga mengindikasikan ukuran yang proporsional.
Bintang-bintang ini disebut deret utama.

31

3.8
EVOLUSI BINTANG
Bintang ternyata mengikuti jenjang kehidupan yang serupa dengan manusia. Mereka
lahir, remaja, dewasa, tua, sekarat, dan akhirnya mati. Yang berbeda hanyalah usia
bintang jauh lebih lama dari usia terpanjang hidup manusia, sehingga perubahan yang
terjadi tidak bisa diamati secara akurat oleh manusia.
Yang dapat kita lakukan ialah mengamati bintang-bintang yang masing-masing berada
pada tahap kehidupan yang berbeda-beda, dan merangkaikan potongan-potongan
puzzle tersebut sehingga kita bisa memahami, atau setidaknya membayangkan suatu
gambaran utuh mengenai alur kehidupan bintang. Tentunya seiring semakin majunya
ilmu pengetahuan manusia, semakin akurat pula gambaran yang kita bentuk.
A. Awal kehidupan bintang

Tempat banyak bintang baru


terbentuk di Eagle Nebula
Foto : Wikipedia

Semua bintang berawal dari awan gas antarbintang.


Sebagian memiliki kandungan materi-materi berat seperti
oksigen atau silikon dalam beberapa persen massa, namun
kebanyakan hanya mengandung zat paling sederhana di
alam semesta, hidrogen.
Adanya gangguan dari lingkungan, membuat awan gas
tersebut menjadi tidak stabil dan terbentuk kumpulankumpulan massa yang masing-masing berotasi dan
mengerut akibat gravitasi penyusunnya. Saat itu
terbentuklah protobintang, yang boleh disebut sebagai
janin bintang.

Seiring dengan menyusutnya protobintang, suhu dan tekanan di pusat menjadi semakin
tinggi. Apabila kedua variabel tersebut mencapai suatu nilai tertentu, maka terpiculah
reaksi inti berantai yang mengubah hidrogen menjadi deuterium lalu menjadi helium.
Tekanan radiasi ke arah luar tersebut mampu melawan tekanan gravitasi ke arah dalam,
sehingga mencegah keruntuhan gravitasi lebih lanjut.
Saat pertama kali terjadi reaksi inti tersebut boleh disebut sebagai momen kelahiran
bintang, dimana untuk pertama kali dia bisa memancarkan energinya sendiri untuk
menerangi alam semesta yang gelap.
Apabila awan antarbintang memiliki massa yang terlalu sedikit, maka panas dan
tekanan di inti tidak akan cukup untuk memicu reaksi inti hidrogen-deuterium-helium,
dengan kata lain ia adalah bintang yang gagal terbentuk. Benda seperti ini disebut
sebagai katai coklat. Ada beberapa katai coklat yang mampu menghasilkan reaksi inti
hidrogen-deutrium, namun semua katai coklat akan tampak sangat redup, dan akan
berpendar dalam waktu yang sangat lama. Kita dapat membayangkan katai coklat
akan tampak serupa dengan planet Jupiter yang diterangi matahari, namun memiliki
massa dan ukuran yang jauh lebih besar.

32

B. Masa stabil bintang


Evolusi bintang, sesungguhnya adalah pertarungan antara dua gaya, yaitu gaya
gravitasi ke arah pusat bintang melawan gaya tekan radiasi ke luar. Ukuran bintang
akan stabil apabila besarnya kedua gaya tersebut sama. Keadaan tersebut tidak tercapai
segera setelah pembakaran pertama, namun bintang harus melewati masa remaja
yang tidak stabil terlebih dahulu meskipun sangat singkat.
Setelah dalam tahap sebelumnya kedudukan bintang dalam diagram H-R berubah-ubah
secara cepat, pada saat bintang telah mencapai keadaan stabil barulah dia akan
mencapai titik yang tetap di diagram tersebut, yaitu di daerah deret utama, dimana dia
akan menghabiskan waktu paling lama dalam hidupnya, yang juga merupakan masa
dewasa suatu bintang. Letak setiap bintang di deret utama tidak sama dan
bergantung pada massa awal bintang, dimana bintang bermassa lebih besar akan
terletak lebih ke atas (pada sabuk deret utama), memenuhi hubungan luminositas
bintang pangkat tiga sebanding dengan massa bintang.
Bintang bermassa besar akan memiliki gaya gravitasi ke dalam yang juga besar,
sehingga membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk mengimbanginya, yang
akhirnya mengakibatkan proses pembakaran yang lebih boros pula. Akibatnya, semakin
besar massa bintang, semakin cepat dia kehabisan bahan bakar dan meninggalkan
deret utama. Bintang berukuran sedang seperti matahari akan menghabiskan 10 miliar
tahun bumi untuk berada di deret utama, dan saat ini sedang berada kira-kira di tengahtengah masa tersebut. Bintang-bintang bermassa 20 kali massa matahari hanya akan
memiliki waktu sekitar beberapa juta tahun saja, dan berlaku sebaliknya untuk bintang
bermassa kecil.

Perjalanan hidup bintang bermassa sama dengan matahari di dalam


diagram H-R, dimulai dari awan antar bintang (titik 1), lalu tahap
protobintang (2), mencapai kestabilan di deret utama (3), mengembang
menjadi raksasa merah (4) dan pensiun sebagai katai putih (5)
GRAFIK : Wikipedia

33

C. Pasca deret utama


Akibat pembakaran terus menerus jumlah hidrogen di pusat semakin kecil, sementara
terjadi tumpukan abu sisa pembakaran berupa helium. Pada akhirnya hidrogen di
pusat akan habis dan pusat bintang akan mengalami keruntuhan gravitasi.
Bagi bintang yang memiliki massa sedang atau besar ( > 0,5 massa matahari),
mengerutnya inti akan menyebabkan suhu dan tekanan di inti begitu besar, sehingga
memicu terjadinya reaksi termonuklir kedua, yang mengubah helium menjadi karbon.
Akibatnya bintang akan mempunyai dua reaksi pembakaran, yaitu fusi helium di inti,
dan fusi hidrogen di kulit inti.
Meningkatnya Laju pembakaran hidrogen dan adanya tambahan energi dari fusi helium
akan menyebabkan bintang mengembang, bagi bintang bermassa sedang akan menjadi
raksasa merah, dan bintang bermassa besar akan menjadi maharaksasa. Proses ini juga
menyebabkan suhu permukaan bintang turun, sehingga warnanya akan menjadi lebih
merah dari saat dia di deret utama. Awal terjadinya fusi helium biasanya ditandai oleh
peristiwa helium flash, yaitu peningkatan kecerlangan secara tiba-tiba suatu bintang
akibat fusi kedua tersebut.
Pembakaran helium hanya akan terjadi apabila massa bintang cukup besar untuk
memberikan suhu dan tekanan tertentu di pusat. Maka bintang bermassa kecil tidak
akan berkembang menjadi raksasa atau maharaksasa, tetapi melewati masa yang sangat
lama dan ukuran yang relatif stabil hingga akhirnya kehabisan hidrogen di inti untuk
dibakar.

D. Akhir hidup bintang


Bagi bintang dengan massa sedang hingga besar, proses fusi tidak hanya berhenti pada
reaksi helium menjadi karbon. Pada akhirnya proses yang sama yang menyebabkan
pembakaran helium akan terulang lagi, sehingga memaksa terjadinya reaksi fusi ketiga,
karbon menjadi neon yang terjadi di inti. Sementara itu di kulit inti masih terjadi
pembakaran helium, dan diatas lapisan helium masih terjadi fusi hidrogen.
Proses diatas terus berlanjut hingga berturut-turut terjadi reaksi fusi neon menjadi
oksigen, neon-magnesium, oksigen-silikon, dan proses lain yang semuanya
membutuhkan suhu dan tekanan yang semakin tinggi untuk dapat terjadi, sehingga
hanya bintang bermassa sangat besarlah yang bisa mencapai tahap reaksi akhir :
pembentukan inti besi, yang merupakan unsur paling berat yang bisa dibentuk di inti
bintang.

34

Hasilnya di akhir hidupnya, bintang akan dalam


keadaan berlapis-lapis seperti bawang, yang
terdiri dari zat-zat yang pernah dibentuknya
mulai dari hidrogen yang paling luar, lalu helium
dibawahnya, dan seterusnya. Lapisan terdalam
ditentukan oleh massa bintang. Di pusat bintang
bermassa seperti matahari akan diisi oleh karbon,
karena tidak akan mampu membentuk inti Neon.
Sementara pada bintang yang lebih besar bisa
ditemui Oksigen. Dan pada bintang bermassa
sangat besar baru akan ditemui pusat besi.

Lapisan-lapisan bintang bermassa


sangat besar, di akhir hidupnya sesaat
sebelum terjadi keruntuhan gravitasi
Foto : Wikipedia

Setelah bintang tidak mampu lagi membakar


materi di inti, maka saat itulah bintang akan
mendekati keruntuhan gravitasi. Yaitu dimana
energi yang dihasilkan tidak mampu menahan
gaya gravitasinya sendiri, akibatnya bintang akan
menyusut

Seiring menyusutnya ukuran bintang, tekanan degenerasi elektron semakin besar


karena elektron-elektronnya akan semakin rapat. Bagi bintang bermassa kurang dari
1,44 massa matahari (batas ini dirumuskan oleh ilmuwan India-Amerika Subramaniyan
Chandrasekhar) tekanan tersebut akan cukup untuk menghentikan keruntuhan
gravitasi, dan bintang akan berhenti mengerut saat berukuran tidak jauh dari ukuran
bumi, dan disebut bintang katai putih.
Katai putih akan menjadi akhir dari kehidupan matahari, setelah sebelumnya akan
membentuk nebula planeter, yaitu awan gas yang terbentuk ketika terjadi pembakaran
helium, dimana lapisan terluar bintang akan lepas dan meninggalkan bintang. Kabut
tersebut biasa terbentuk pada bintang semassa matahari.
Meskipun telah pensiun, bintang katai putih masih akan melakukan reaksi fusi dan
akan menghabiskan bahan bakarnya secara perlahan selama sisa hidupnya, hingga
akhirnya berhenti memproduksi energi, dan mati sebagai bintang katai gelap. Masa
hidup bintang-bintang bermassa kecil ini sangat lama, sehingga umur alam semesta saat
ini belum cukup untuk membentuk bahkan satu katai gelap pun.

35

Bagi bintang yang memiliki massa diatas batas Chandrasekhar, tekanan degenerasi
elektron tidak kuasa menahan laju keruntuhan bintang. Sementara dia terus menyusut,
suhu dan tekanan akan meningkat secara drastis, hingga akhirnya mencapai suatu titik
dimana seluruh permukaannya, yang pada dasarnya merupakan bahan bakar, dari
mulai hidrogen hingga yang terdalam, akan terpicu oleh suatu reaksi berantai yang tibatiba, layaknya satu gedung penuh bubuk mesiu yang diledakkan secara serentak dan
tiba-tiba. Hasilnya adalah suatu ledakan mahadashyat yang disebut supernova.
Kecerlangan bintang bisa meningkat jutaan kali lipat akibat supernova, bahkan sekitar
1000 tahun yang lalu, terdapat catatan dari astronom Cina yang mengamati adanya
bintang yang tiba-tiba menjadi sangat terang sehingga dapat dilihat di siang hari.
Setelah diamati posisinya saat ini, yang tampak disana ialah nebula sisa supernova yang
disebut crab nebula. Dapat disimpulkan bahwa bintang yang tampak di siang hari
tersebut adalah suatu bintang yang mengalami supernova.
Supernova melepaskan energi yang luar biasa besar
dan sebagian materi bintang dimuntahkan dari
permukaannya. Bahkan supernova adalah salah satu
sumber pengotor awan gas antarbintang, sehingga
memiliki unsur berat seperti oksigen, besi, dan
silikon yang terbentuk di inti bintang. Keberadaan
unsur-unsur berat tersebut di bumi dan bahkan di
dalam tubuh kita mengindikasikan awan gas
antarbintang yang membentuk matahari, dahulu
setidaknya telah terpengaruh oleh supernova.
Crab Nebula (M1) yang merupakan
sisa supernova, dimana ditengahnya
ditemui sebuah pulsar.
Foto : Wikipedia

Setelah supernova, jalan hidup bintang bergantung


pada massanya. Bagi bintang yang massanya
dibawah 3 massa matahari (batasnya sendiri masih
berupa perkiraan), materi yang tersisa dari supernova akan terus menyusut hingga
ukuran sangat kecil (hanya beradius sekitar 10 km saja), dimana tekanan neutron
mampu menolak keruntuhan lebih lanjut. Saat itu gaya elektromagnet yang
memisahkan dua inti atom telah terkalahkan, sehingga atom-atom menjadi sangat rapat
dan dekat sehingga tampak seperti bola-bola neutron. Bintang seperti ini disebut
bintang neutron. Dapat dibayangkan bagaimana kerapatan bintang neutron ini, dimana
satu sendok teh permukaanya bisa memiliki massa hingga 20 ton!
Bintang neutron adalah pemancar gelombang radio yang sangat kuat, dan akibat
rotasinya, dan arah sumbu rotasinya terhadap bumi, gelombang radio yang diterima
oleh bumi tampak seperti denyutan-denyutan dengan periode tertentu. Semula diduga
denyutan tersebut adalah sinyal dari makhluk dari luar angkasa. Namun setelah diteliti
lebih lanjut dapat dipastikan gelombang tersebut berasal dari bintang neutron yang

36

berputar cepat, dan disebut PULSAR (Pulsating Radio Source). Semakin kecil radius
bintang neutron, rotasinya semakin cepat karena kekekalan momentum sudut.
Bagi bintang-bintang yang massanya melebihi 3 massa matahari, setelah supernova,
bahkan tekanan neutron pun sudah tidak mampu lagi mencegah keruntuhan bintang.
Akibatnya tidak ada lagi gaya apapun yang bisa melawan gaya gravitasi. Akibatnya
bintang akan menyusut hingga satu titik singularitas dimana bahkan cahaya tidak lagi
bisa melepaskan diri dari permukaannya (karena massa yang besar dan radius yang
luar biasa kecil) kerana kecepatan lepas di permukaannya melebihi kecepatan cahaya.
Benda seperti ini disebut sebagai lubang hitam atau black hole.
Keberadaan lubang hitam sendiri diprediksikan secara teori dan telah dibuktikan secara
observasi. Meskipun cahaya tidak bisa meninggalkan permukaan black hole (otomatis
kita tidak bisa mendeteksi black hole tersebut), namun apabila black hole tersebut
adalah anggota dari sistem bintang ganda (sistem dua bintang yang mengitari pusat
massa sistem) dia akan dapat dideteksi. Bila di dekatnya ada sebuah bintang lain yang
masih hidup dan jaraknya cukup dekat maka akan terjadi perpindahan materi dari
bintang ke black hole membentuk suatu piringan akresi (piringan yang berupa materi
yang berpindah dan bergerak mengitari benda tujuan secara spiral dengan radius yang
semakin lama semakin mengecil).
Jumlah black hole di alam semesta ini diperkirakan cukup banyak. Kemungkinan benda
yang ada di pusat galaksi-galaksi adalah Black Hole, sebab dibutuhkan massa yang
sangat besar untuk bisa menggerakkan satu galaksi agar tunduk pada dirinya.

***

37

4. MEKANIKA

4.1
HUKUM KEPLER
Pencarian manusia akan pertanyaan bagaimana benda-benda langit sesungguhnya
bergerak, telah didengungkan secara berabad-abad dan telah banyak gagasan dan teori
(baik dengan dasar logika maupun murni khayalan) yang mencoba menjelaskannya.
Pada abad ke-16 muncul banyak Astronom yang mulai menentang paham Geosentris
yang telah lama diimani. Salah satunya adalah Tycho Brahe, astronom Denmark yang
melakukan pengamatan dengan peralatan minimum, namun dengan akurasi yang
sangat baik.
Adalah murid Brahe, Johannes Kepler, yang kemudian berhasil merumuskan teori dasar
tentang pergerakan planet-planet, berdasarkan data pengamatan yang dikumpulkan
Brahe.
A.Hukum kepler pertama
Hukum Kepler pertama berbunyi,
orbit setiap planet berbentuk elips dengan matahari berada di salah satu
fokusnya
Elips adalah bentuk bangun datar yang merupakan salah satu dari irisan kerucut (selain
lingkaran, hiperbola, dan parabola). Dimana eksentrisitas elips bernilai antara 0 dan 1.
Lintasan suatu planet mengelilingi matahari akan berupa sebuah elips, dan matahari
akan selalu berada di salah satu dari dua focus elips tersebut.
Skema dan parameter elips :

Planet
Sudut Anomali Benar

b
Aphelium

Fokus

Perihelium

Berlaku persamaan :
(4.1) c 2 + b 2 = a 2
(4.2)

eksentrisitas (e) =

c
a

Fokus

a = setengah sumbu
mayor
b = setengah sumbu
minor
c = jarak focus

(4.3)

Jarak perihelium = (a c) = a (1 - e)

(4.4)

Jarak aphelium = (a + c) = a (1+ e)

38

Hukum pertama kepler jelas-jelas menentang pernyataan Nicolaus Copernicus yang


menyatakan bahwa orbit planet berbentuk lingkaran dengan matahari berada di pusat
lingkaran. Dan terbukti dari hasil pengamatan bahwa orbit elips Kepler dapat
memberikan posisi yang lebih akurat dibandingkan orbit lingkaran.
Kesalahan Copernicus ini dapat dipahami sebab meskipun memiliki lintasan elips,
namun eksentrisitas orbit planet mendekati nol, sehingga sekilas akan tampak
mendekati lingkaran, bahkan untuk perhitungan-perhitungan sederhana kita boleh
mengasumsikan orbit planet adalah lingkaran.

B. Hukum kepler kedua


Hukum kepler kedua berbunyi,
vektor radius suatu planet akan menempuh luas areal yang sama untuk selang
waktu yang sama
Vektor radius ialah garis hubung antara planet dengan pusat gravitasi (matahari).
Gambaran dari hukum kepler kedua ialah
P2
P1

P3

F
P4

Apabila Planet membutuhkan waktu yang sama untuk menempuh P1 P2 dan P3 - P4,
maka luas areal P1 F P2 akan sama dengan P3 - F - P4, begitu pula sebaliknya.
Dengan kata lain kita dapat menyatakan bahwa kecepatan angulernya konstan.
Karena planet selalu mematuhi hokum kepler, maka konsekuensi dari hukum kedua
kepler ini ialah kecepatan linear planet di setiap titik di orbitnya tidaklah konstan,
tetapi bergantung pada jarak planet. Contohnya planet akan bergerak paling cepat saat
dia ada di perihelium, dan akan bergerak paling lambat saat dia ada di aphelium.

39

C. Hukum kepler ketiga


Hukum kepler ketiga berbunyi
pangkat tiga sumbu semi major orbit suatu planet sebanding dengan kuadrat
dari periode revolusi planet tersebut
Kepler menemukan hubungan diatas, atau apabila sumbu semi mayor kita nyatakan
dengan a dan periode revolusi planet kita nyatakan dengan T, maka secara matematis
hukum ketiga kepler dapat ditulis

a3
= konstanta (4.5)
T2
Ternyata untuk benda-benda yang mengelilingi pusat gravitasi yang sama, besarnya
kontanta akan sama, misalnya bagi planet Venus dan planet Bumi, atau bagi Io dan
Europa. Untuk benda-benda yang memenuhi syarat tersebut berlaku

a
a1
a
= 2 2 = 32 = ... = konstanta (4.5 b)
2
T1
T2
T3
Apabila benda yang kita tinjau adalah planet yang mengitari matahari, dan kita
nyatakan a dalam Satuan Astronomi dan T dalam tahun, maka kita akan mendapati

a planet

T planet

a planet

T planet

2
3

abumi

Tbumi

=1

a planet = T planet

(4.5 c)

Persamaan 4.5 c adalah bentuk sederhana dari hukum kepler 3, namun hanya bisa
digunakan apabila a dinyatakan dalam Satuan Astronomi, T dalam tahun dan pusat
gravitasi adalah benda bermassa sama dengan matahari.
Perlu diingat bahwa hukum kepler tidak hanya berlaku pada planet di tata surya saja,
namun juga berlaku pada satelit planet-planet, asteroid, komet, pada sistem bintang
ganda, dan lain-lain.

40

4.2
HUKUM GRAVITASI NEWTON
Sebelum era Newton, bidang mekanika benda langit merupakan bidang yang
berdasarkan pengamatan empiris. Baru dengan kejeniusannya Newton dapat
menjelaskan fenomena alam yang terjadi secara teoritis dan mampu menerangkan
mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi.
Dua pertanyaan, mengapa apel jatuh dari pohon dan mengapa bulan mengitari bumi,
yang tampak sebagai dua hal yang sama sekali berbeda dan tidak berhubungan,
ternyata dijawab Newton oleh satu kata : Gravitasi.
Hukum Gravitasi Newton sendiri berbunyi,
semua partikel materi di alam semesta menarik semua partikel lain dengan gaya
yang sebanding dengan produk massa dan berbanding terbalik dengan pangkat dua
dari jarak antara keduanya,
atau secara matematis,

F =G

m1m2
r2

................................................ (4.6)

Dimana F ialah gaya gravitasi (newton), m1 dan m2 adalah massa kedua benda
(kilogram), r adalah jarak kedua benda (meter), dan G ialah konstanta gravitasi
universal yang besarnya 6,67 x 10-11 N.m2.kg-2 .
Lalu menurut persamaan gaya yang kita ketahui, bahwa gaya ialah perkalian antara
massa dan percepatan benda, atau

F = ma ,
bila kita gabungkan dengan persamaan 4.6 kita akan mendapat,

ma = G

m1m2
r2

Apabila kita tinjau benda 1 sebagai pemberi gaya gravitasi dan kita nyatakan dengan M,
lalu benda 2 sebagai objek yang terkena pengaruh gaya kita nyatakan sebagai m, kita
akan dapat,

ma = G

mM
, atau
r2

41

a=G

M
r2

............................................................. (4.7),

yaitu persamaan kuat medan gravitasi atau lebih dikenal sebagai percepatan gravitasi,
yang dalam fisika dinyatakan sebagai g, yang ternyata bergantung pada massa benda
sumber dan jarak benda.
Energi potensial gravitasi yang dimiliki sebuah benda, sebanding dengan produk
massa benda tersebut dan massa benda sumber, serta berbanding terbalik dengan jarak
antara kedua benda, serta bernilai selalu negatif, sebab energi potensial gravitasi selalu
bersifat seolah-olah kekurangan energi, atau dinyatakan dengan,

E p = G

Mm
r

.........................................(4.8).

Potensial gravitasi yang dimiliki sebuah benda didefinisikan sebagai energi potensial
gravitasi per satuan massa, atau dinyatakan

V=

Ep
m
V = G

M
r

.............................................(4.9)

Dimana perlu diingat bahwa massa benda yang berpengaruh ialah benda sumber
gravitasi saja.
Contoh soal :
Urutkan benda-benda berikut sesuai dengan percepatan gravitasinya (dari nilai
kecil ke besar) mengelilingi Bumi:
sebuah stasiun luar angkasa dengan massa 200 ton dan berjarak 6580 km dari
Bumi
seorang astronot dengan massa 60 kg dan berjarak 6580 km dari Bumi
sebuah satelit dengan massa 1 ton dan berjarak 418000 km dari Bumi
Bulan dengan massa 7,4 1019 ton dan berjarak 384000 km dari Bumi
Jawab :
Percepatan gravitasi sebanding dengan massa benda pusat, dan berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak. Namun untuk keempat benda massa benda pusat sama (Bumi),
sehingga kita hanya perlu melihat faktor jarak. Maka urutan benda-benda dari
percepatan gravitasi terbesar hingga terkecil ialah : 1) stasiun luar angkasa dan astronot;
2)Bulan; 3)satelit. Perlu diperhatikan bahwa massa masing-masing benda sama sekali
tidak berpengaruh.

42

MEKANIKA ORBIT SEDERHANA


Bulan mengalami gaya tarik gravitasi ke arah bumi, namun mengapa bulan tidak
pernah jatuh ke bumi padahal tidak ada gaya yang tampak menahan atau menarik
bulan ke arah berlawanan ?

4.3

Ternyata bulan dapat mempertahankan posisinya terhadap bumi ialah karena


melakukan revolusi mengelilingi bumi, sehingga gaya gravitasi akan berlaku sebagai
gaya sentripetal bagi putaran bulan, analoginya adalah apabila kita memutar bola
bertali, maka bola tersebut adalah bulan, dan gravitasi adalah tali tersebut, atau kita
nyatakan

Fsentripetal = Fgravitasi
Orbit bulan berupa elips, namun memiliki eksentrisitas mendekati nol, sehingga dapat
kita dekati sebagai sebuah lingkaran. Maka radius orbit dapat kita asumsikan tetap,
sehingga dapat kita nyatakan,
2

mvorbit
Mm
=G 2
r
r
GM
vorbit =
r

................................... (4.10)

Dimana vorbit ialah kecepatan orbit mengelilingi benda pusat (yang besarnya selalu
konstan), dan bergantung pada massa benda pusat dan jarak. Persamaan 4.10 hanya
berlaku bagi benda-benda yang mengelilingi benda pusat gravitasi dengan orbit
lingkaran.
Untuk gerak melingkar, berlaku

v =r

(gabungkan dengan pers. 4.10)

( =

2
, dengan T = periode)
T

GM
r
GM
2r 2 =
r
2 3
r = GM
2
( ) 2 r 3 = GM
T
4 2 r 3
= GM
T2
r 3 GM
=
T 2 4 2

r =

43

Karena lingkaran adalah elips yang memiliki eksentrisitas 0, maka berlaku a =r,
sehingga menjadi

a 3 GM
........................................... (4.11)
=
T 2 4 2
Uraian diatas adalah salah satu pembuktian hukum kepler 3. Dimana sebelum
dirumuskannya hukum gravitasi oleh Newton, tidak dapat dibuktikan orang (termasuk
Kepler sendiri !). Dan Newton mampu menentukan nilai konstanta dari ruas kiri
persamaan 4.5, yaitu sebesar GM / 4 2 .
Persamaan 4.11 adalah bentuk umum hukum kepler 3, dan berlaku untuk semua orbit
yang terpengaruh oleh gravitasi, baik itu lingkaran, elips, parabola, atau hiperbola.
Bagi benda-benda yang mengelilingi matahari, atau mengelilingi bintang dengan massa
sama dengan massa matahari Persamaan 4.11menjadi :
3

GM solar
a1
=
2
4 2
T1
Bagi benda-benda yang mengelilingi bintang bermassa selain matahari menjadi
3

GM star
a2
=
2
4 2
T2
Apabila kita bagi kedua persamaan di atas didapat

a2 3
2
T M
2 = star
a13 M solar
2
T
1

Apabila a dinyatakan dalam satuan astronomi, dan T dalam tahun, maka kita dapat
memasukkan persamaan 4.5 c kedalam persamaan diatas

a2 3
2
T M
2 = star
1
M solar

44

Dan bila kita nyatakan semua massa bintang dalam massa matahari, ruas kanan dapat
kita ganti menjadi

= M star

.................................................(4.12)

Dengan catatan a dinyatakan dalam SA, T dalam tahun, dan Mstar dinyatakan dalam
massa matahari. Bila kita masukan matahari sebagai bintang yang kita tinjau, kita akan
mendapati persamaan 4.12 menjadi persamaan 4.5 c. Dapat kita simpulkan persamaan
4.12 ialah bentuk umum hukum kepler 3 bagi benda bermassa berbeda dengan
matahari.
Contoh soal :
Jika matahari kita massanya diperbesar hingga menjadi dua kali massa sekarang, tapi
susunan tata surya sama sekali tidak berubah, berapa lama waktu yang akan Bumi
butuhkan untuk satu kali mengelilingi matahari ?
Jawab :

= M star

T=
T=

a3
M star
1
tahun
2

= 258 hari

4.4

TITIK NETRAL DAN TITIK PUSAT MASSA

A. Titik Netral
Pada sistem tiga benda (dua sumber gravitasi, dan satu benda objek), terdapat titik-titik
dimana gaya gravitasi dari kedua benda saling meniadakan, sehingga apabila benda
objek ditempatkan di titik tersebut, maka benda tersebut akan diam relatif terhadap
kedua benda sumber gravitasi (mengalami keseimbangan gravitasi). Titik-titik tersebut
disebut titik netral, atau titik Lagrange.

45

Dari gambar disamping, dapat


dilihat posisi kelima titik Lagrange
(L1,L2,L3,L4,L5).

L1

Penurunan
titik-titik
ini
menggunakan
kurva
potensial
gravitasi dalam ruang dimensi tiga,
dan pertama kali dipecahkan oleh
matematikawan
Prancis
Josef
Lagrange.

SUMBE
R1

L2

SUMBER
2
L4

L5

L3

Yang paling mudah tentunya titik


Lagrange kedua, yang letaknya
berada di antara kedua benda
sumber. Dan secara sederhana dapat
dihitung
letaknya
dengan
menyamakan gaya gravitasi dari
kedua benda sumber.

Contoh soal :
Bila jarak bumi-bulan adalah 384400 km, dan massa bumi = 81 kali massa bulan. maka
tentukan jarak titik netral -yang berada di antara bumi dan bulan- terhadap pusat bumi !
Jawab :
Secara logika, letak titik netral pasti harus lebih dekat ke Bulan daripada Bumi karena
massa Bulan lebih kecil dari bumi. Maka keadaan soal bisa digambarkan,

384400 - X

Bulan

Bumi
Lalu,

FBumi = FBulan
GM m m
GM B m
=
2
x
(384400 x) 2
384400 x
=
x

Mm
MB

384400 x = x

Mm
MB

46

Mm
+ x = 384400
MB

x(

Mm
+ 1) = 384400
MB
x=

x=

384400
Mm
+1
MB
384400
1
+1
81

x = 345960 km
Jadi, letak titik netral ialah 345960 km dari pusat bumi.

B. Titik Pusat Massa


Pada sistem dua benda, sesungguhnya kedua benda selalu saling mengitari pusat massa
sistem. Hal tersebut berlaku juga untuk matahari dan planet-planetnya. Jika kita tinjau
sistem matahari-Jupiter, kita sekilas akan melihat Jupiter bergerak mengelilingi
Matahari. Namun apabila kita perhatikan lebih seksama, ternyata matahari dan Jupiter
keduanya mengitari pusat massa sistem Jupiter-Matahari, namun letak titik itu sangat
dekat dengan pusat matahari, sehingga gerakan matahari tidak kentara terlihat,
melainkan hanya bergoyang sedikit saja. Hal serupa terjadi bagi sistem Bumi-Bulan,
Jupiter-Ganymede, dan lain-lain, namun tidak bagi Pluto-Charon, dimana letak titik
pusat massa sistem berada di luar permukaan Pluto.
Secara sederhana, prinsip menghitung letak titik pusat massa (untuk sistem dua benda)
serupa dengan cara menghitung letak titik tumpu suatu penggaris yang diberi beban
berbeda di kedua sisinya.

Contoh Soal :
Bila jarak bumi-bulan adalah 384400 km, dan massa bumi = 81 kali massa bulan, hitung
letak titik pusat massa sistem Bumi-Bulan, diukur dari pusat bumi !

47

Jawab :
Keadaan Sistem Bumi-Bulan dapat digambarkan,

384400 - X

Bulan

Bumi
Lalu,

m1a1 = m2 a 2
M B x = M m (384400 x )
M B x = 384400 M m M m x
M B x + M m x = 384400M m
x( M B + M m ) = 384400M m
384400 M m
x=
(M B + M m )
384400(1)
x=
(81 + 1)
x = 4687 km

Karena jari-jari permukaan bumi sekitar 6400 km, maka jelas titik pusat massa sistem
berada di dalam permukaan bumi, 4687 km dari pusat bumi.

4.5
GAYA PASANG SURUT
Kita telah mengenal peristiwa naiknya muka air laut di saat bulan purnama dan bulan
baru, namun apa yang sebenarnya menJadi penyebab fenomena tersebut ?
Gaya pasang surut didefinisikan sebagai selisih gaya gravitasi di permukaan benda
dengan di pusat benda. Pada terapan umumnya gaya ini tidak hanya menyebabkan
naiknya permukaan air laut di bumi saJa, namun Juga menyebabkan komet yang lewat
terlalu dekat dengan matahari akan pecah, atau satelit yang terlalu dekat dengan planet
induknya akan terpecah membentuk cincin.

48

Perhatikan gambar berikut, dengan asumsi kemiringan orbit Bulan terhadap ekuator 0.
B

Ke bulan
D

Kita akan menghitung besar gaya pasang surut oleh bulan kepada bumi. Gaya pasang
surut di titik A didefinisikan sebagai selisih gaya di permukaan dengan gaya di pusat,
atau dinyatakan

FPASU A = FA FC
GMm
GMm

=
2
(d R)
d2

Dengan d ialah Jarak bulan ke bumi (dari pusat ke pusat), R ialah radius permukaan
bumi (kita sumsikan berupa bola sempurna), M adalah massa bumi, dan m adalah
massa bulan.

1
1

2
2
2
d
d 2dR + R

= GMm

d 2 (d 2 2dR + R 2 )
4

GMm
=
3
2 2
d

2
d
R
+
d
R

d 2 (d 2 2dR + R 2 )

= GMm
4
3
2 2
d 2d R + d R

2dR R 2

4
3
2 2
d 2d R + d R

= GMm

R2

2R
d
d
= GMm 4 .
d
2R R 2
1
+

d d2

49

Karena d Jauh lebih besar daripada R (d >> R), maka persamaan menJadi

1 2R 0
.

3
d 1 0 + 0

= GMm

2GMmR
........................................(4.13)
d3

FPASUA=

Melalui penurunan yang sama akan diperoleh gaya pasang surut di masing-masing titik
FPASUB=

GMmR
d3

(setengah FPASUA)

FPASUC= 0
FPASUD= -

2GMmR
d3

(negatif dari FPASUA)

Atau bila digambar dalam diagram gaya di seluruh permukaan akan berbentuk :

Ke bulan

Dimana tinggi permukaan air laut akan mengikuti diagram diatas, terbesar di ekuator,
dan terus menurun hingga terkecil di kutub. Perlu dilihat bahwa besar gaya pasang
surut di titik A akan sama dengan di titik D, hanya berlawanan arah. Sehingga
walaupun Bulan ada di sisi kanan Bumi dalam gambar, sisi kiri bumi Juga akan
menggelembung dengan besar yang sama. Hal inilah yang menyebabkan pasang saat
Purnama sama dengan pasang saat Bulan Baru. Dan setiap hari, pengamat di
permukaan bumi akan mengalami 2 kali pasang dan 2 kali surut, akibat rotasi bumi.
Persamaan 4.13 berlaku umum bagi dua benda yang saling mempengaruhi karena
gravitasi.

50

5. TATA KOORDINAT

Dalam astronomi, amatlah penting untuk memetakan posisi bintang atau benda langit
lainnya, dan menerapkan system koordinat untuk membakukan posisi tersebut. Prinsip
dasarnya sama dengan penentuan posisi suatu tempat di pemukaan bumi.
5.1
KOORDINAT GEOGRAFIS
Dalam pelajaran geografi atau ketika melihat peta atau bola dunia, tentu anda telah
sangat familiar dengan kata-kata seperti lintang, bujur, dan kutub. Parameter penting
dalam koordinat geografis antara lain:

Meridian
Greenwich

KU

Bujur

Lintang

Ekuator

KS
1. Lintang
Diukur dari ekuator, ke arah kutub Utara disebut lintang Utara (positif), ke arah
sebaliknya disebut lintang selatan (negatif). Lintang Utara maupun Selatan membentang
hingga 900, dan masing-masing berujung di Kutub rotasi bumi. Garis-garis lintang
berupa lingkaran-lingkaran kecil (lingkaran yang mengelilingi permukaan bola dengan
diameter bukan diameter bola), kecuali lintang 90 utara maupun selatan yang berupa
titik.
2. Bujur
Diukur dari meridian Greenwich, yaitu bujur yang melalui kota Greenwich, ke timur
disebut bujur timur, dan ke barat disebut bujur barat, masing-masing membentang
sejauh setengah lingkaran, dan garis 1800 BT berimpit dengan garis 1800 BB. Garis-garis
bujur berupa lingkaran-lingkaran besar (lingkaran yang mengelilingi permukaan bola
dengan diameter sama dengan diameter bola, contohnya ekuator)

51

5.2
KOORDINAT HORIZON
Apabila koordinat geografis melakukan pemetaan pada bola bumi, maka koordinat
horizon melakukan pemetaan pada bola horizon. Apa itu bola horizon? Coba lihat
gambar berikut.

Zenit
KU

Nadir

Pengamat

Ekuator

KS

Terlihat
bahwa
pengamat
di
permukaan bola tersebut mempunyai
sebuah
bola
horizon
yang
menyelubunginya.
Dapat
disimpulkan bahwa setiap pengamat
di tempat berbeda akan memiliki
bola horizon yang berbeda pula.
Bola horizon yang sebenarnya jauh
lebih
besar,
bahkan
hingga
memotong bola langit. Bahkan bola
horizon pada dasarnya ialah bola
langit yang terlihat dari posisi
tertentu.

Sekarang kita tinjau bola langit itu sendiri. Parameter penting dalam koordinat horizon
antara lain,

Z
Z = Titik Zenith, titik yang berada
tepat diatas pengamat

Alt

N=Titik Nadir, titik yang berada


tepat dibawah pengamat
U,T,S,B = titik-titik cardinal, atau
titik-titik arah mata angin. Berturutturut ialah arah Utara, Timur,
Selatan, dan Barat

Azimuth T
S

U
B
Horizon
/cakrawala
N

52

Sedangkan koordinat horizon terdiri atas :


1. Altitude : Analog dengan lintang. Merupakan ketinggian benda diatas horizon,
positif kearah zenith, negative kearah nadir. Rentangnya dari +900 hingga -900.
Misalkan benda yang berada tepat di titik Zenith akan mempunyai altitude 900,
dan benda yang berada tepat di horizon altitudenya 00. Perlu diingat bahwa
salah satu syarat suatu bintang terlihat (bagi pengamat dengan ketinggian 0
meter) ialah memiliki altitude positif.

2. Azimuth: serupa dengan bujur, yaitu posisi benda diukur dari Utara-Timur-

Selatan-Barat. Rentangnya dari 00 hingga 3600, atau dari 0 jam hingga 24 jam.
Sebagai contoh titik arah tenggara akan memiliki azimuth 1350, dan titik barat
laut sebesar 3150. Bintang dalam gambar contoh diatas memiliki koordinat
horizon sekitar azimuth 900 dan altitude +450.

5.3
KOORDINAT EKUATORIAL
Koordinat ekuatorial memetakan posisi suatu benda (biasanya suatu benda langit) di
bola langit, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, tanpa memperdulikan posisi
pengamat.
A. Sistem RA-DEC
Terdapat dua jenis koordinat ekuatorial, yang pertama ialah system Asensio Recta (RA
atau ) dan Deklinasi (DEC), Skema koordinat ekuatorial system pertama ialah :
Dari pembahasan bab 1, tentunya anda masih
ingat bahwa gambar disamping menunjukkan
bola langit. Koordinat ekuatorial terdiri atas:

KLU

1. Deklinasi : serupa dengan lintang, yaitu


ketinggian sebuah benda diukur dari ekuator
langit. Ke arah Kutub Langit Utara positif, dan
sebaliknya negative. Dari +900 hinga -900.

RA+
Ekuator
Langit
Titik Aries
KLS

DEC+

2. Asensio Recta : yaitu posisi bintang diukur


sepanjang ekuator langit dari titik Aries (boleh
dibilang meridian Greenwichnya Bola langit)
positif bila diukur berlawanan arah dengan
putaran bola langit dan pergerakan bintangbintang. Misalnya bila bintang-bintang terbit
di timur dan tenggelam di barat, asensio recta
diukur dari barat ke timur di langit. Bernilai 00
hingga 3600 atau 0 jam hingga 24 jam.

53

B. Sistem HA-DEC
Sistem kedua dari koordinat ekuatorial ini lebih merupakan gabungan antara koordinat
horizon dan koordinat ekuatorial. Skema yang menunjukkannya ialah :

KLU

Gambar
disamping
adalah
gambar pengamat di lintang
sekitar 600, karena altitude KLU
dari horizon sebesar 600. Maka
posisi ekuator langit pun akan
tegak lurus terhadap KLU.

HA
T

DEC

Apabila
sistem
RA-DEC
menggunakan titik Aries, maka
sistem ini menggunakan titik
sigma (), yaitu titik perpotongan
ekuator langit dengan meridian
pengamat/bujur pengamat yaitu
lingkaran besar yang melalui titik
Utara, Zenit, dan Selatan.

U
B

Ekuator langit

KLS

1. Deklinasi, persis sama dengan yang digunakan oleh sistem RA-DEC.


2. Hour Angle, diukur dari titik sigma sepanjang ekuator langit, positif apabila searah
dengan putaran bola langit dan pergerakan bintang (otomatis berlawanan dengan arah
asensio rekta). Bernilai 0 sampai 24 jam, atau +12 jam hingga -12 jam.
Hour Angle juga merupakan posisi
bintang dari titik kulminasinya
(mencapai meridian pengamat).
Seringkali HA dinyatakan dalam +2
jam, atau -3 jam, yang berturut-turut
berarti mencapai kulminasi 2 jam
yang lalu, serta membutuhkan 3 jam
lagi untuk mencapai kulminasi.
Otomatis semua benda yang ada di
meridian pengamat akan memiliki
hour angle 0 jam.

KLU

DEC
T
U

RA

B
Apabila bintang digambar atas kita
gambar dalam sistem RA-DEC,
apabila posisi titik aries (yang
berubah-ubah setiap saat) kita
tentukan, akan kita dapati seperti
gambar disamping

Titik Aries
KLS
Ekuator langit
N

54

5.4
KOORDINAT EKLIPTIKA
Koordinat ekliptika serupa dengan koordinat ekuatorial sistem RA-DEC, namun hanya
berbeda lingkaran besar acuannya saja. Apabila ekuatorial menggunakan lingkaran
ekuator langit, maka koordinat ekliptika menggunakan bidang ekliptika, yaitu bidang
edar bumi mengelilingi matahari, yang memiliki kemiringan 23,50 dari ekuator.

KLU
Koordinat ekliptika terdiri atas:

KUE
Ekuator
Langit

LE+
BE+

Ekliptika
Titik Aries

KSE
KLS

1. Lintang Ekliptika, diukur dari bidang


ekliptika, positif ke arah Kutub utara
ekliptika (KUE). Berkisar antara +900
hingga -900. Lintang ekliptika sering
disebut juga lintang langit.
2. Bujur Ekliptika, diukur dari titik aries
sepanjang ekliptika, positif searah dengan
asensio rekta positif, atau diukur
berlawanan arah putaran bola langit.
Diukur dari 00 sampai 3600. Bujur
ekliptika sering disebut juga bujur langit.
Tanggal 21 Maret bujur ekliptika matahari
00, dan semakin hari semakin positif.

Dari pembahasan bab 1 tentu anda masih ingat bahwa Ekliptika dan ekuator langit
berpotongan di dua titik, Aries dan Libra. Titik Aries disebut juga sebagai titik
nodal naik (ascending node) dalam koordinat ekliptika, sebab bila kita mengukur
bujur ekliptika secara positif sepanjang ekliptika, kita akan melintasi titik aries
dengan arah sedang naik atau melintasi belahan bola langit selatan ke belahan
bola langit utara. Dengan alasan sebaliknya, titik Libra disebut titik nodal turun.

5.5

KONSEP WAKTU

A. Waktu Matahari
Waktu yang kita kenal, misalnya waktu yang ditunjukkan oleh jam tangan kita atau jam
dinding, ternyata sesungguhnya mendasarkan perhitungannya pada fenomena
astronomi. Waktu yang biasa kita pakai sehari-hari disebut waktu lokal surya rata-rata
atau waktu lokal rata-rata saja (Local Mean Time), dan perhitungannya berdasarkan
posisi matahari di langit.

55

Waktu Lokal Rata-rata, dihitung berdasarkan sudut jam dari matahari dilihat dari posisi
pengamat, atau dinyatakan

Local Mean Time = HA sun + 12 jam

............................. (5.1)

Dari sini kita mengetahui bahwa jam tangan kita, adalah peralatan astronomi yang
cukup canggih, yang (jika presisi) mampu menunjukkan dimana posisi matahari setiap
saat. Pukul 24.00 misalnya, menunjukkan matahari ada di kulminasi bawahnya.
Mengapa harus ditambah 12 jam ? Bayangkan apabila kita tidak menambahkan 12 jam
pada persamaan tersebut, maka pukul 00.00 akan dicapai saat hour angle matahari 00.00
juga, yang berarti kita akan berganti hari di tengah-tengah aktivitas kita, betapa
repotnya? Maka kita sesuaikan persamaan agar pergantian hari terjadi saat kebanyakan
orang sedang beristirahat.
Mengapa disebut waktu rata-rata? Ternyata akibat kecepatan orbit bumi yang tidak
konstan (dalam orbit elips) maka panjang satu hari juga berbeda-beda, tidak tepat 24
jam. Maka diambillah waktu rata-rata yang dipakai agar lebih simpel.
Kita juga tahu bahwa pada bujur yang berbeda, matahari akan mencapai meridian pada
waktu yang berbeda-beda pula (bujur lebih timur akan lebih dulu). Maka perlu ada
waktu standar yang dipakai sebagai patokan. Maka ditetapkan waktu lokal rata-rata di
kota Greenwich atau di bujur 00 (Greenwich Mean Time), sebagai waktu standar,
disebut Universal Time.
Kemudian bola bumi dibagi menjadi 24 zona waktu, dimana setiap zona memiliki bujur
standar untuk menentukan waktu zona (untuk Zona GMT +7 atau zona WIB, bujur
acuannya ialah bujur 1050 BT). Lalu berdasarkan perbedaan waktu zona dengan waktu
greenwich setiap zona diberi nama. Misalnya zona GMT +2 artinya waktu zona tersebut
8 jam lebih dulu dari waktu Greenwich.

B. Waktu Sideris
Alkisah seorang astronom bernama Alif berniat mengamati bintang Aldebaran setiap
malam minggu di pinggir pantai. Malam minggu pertama Alif mencatat bahwa bintang
Aldebaran terbit pukul 19.00 dalam waktu jam tangannya. Seminggu kemudian Alif
berencana mengabadikan terbitnya bintang Aldebaran yang tepat di horizon, dan dia
datang tepat pukul 19.00. Apa yang akan dia amati? Ternyata Aldebaran tidak tepat di
horizon melainkan sudah tinggi di langit, rencananya pun gagal. Dimana letak
kesalahannya?

56

Tentu saja kesalahan Alif ialah dia menggunakan jam yang salah. Jam tangan selalu
menggunakan waktu surya sebagai acuannya. Sedangkan semua benda langit lain
(termasuk bintang) tidak tunduk pada waktu surya. Perhatikan gambar berikut!

Arah rotasi

Gambar yang kiri menunjukkan matahari dan salah satu benda bola langit (dalam hal
ini diambil contoh titik aries) nampak berimpit dilihat oleh pengamat di bumi. Satu hari
kemudian, bumi sudah berpindah posisinya akibat revolusi. Namun titik Aries yang
letaknya sangat jauh mendekati tak hingga, hanya akan bergeser sedikit. Peristiwa ini
analog dengan apabila anda melihat dua pohon, satu terletak tepat di depan anda dan
yang lainnya berada di jarak sangat jauh. Ketika anda berlari ke samping anda akan
melihat pohon yang lebih dekat akan seolah-olah bergeser, sementara pohon yang jauh
akan nampak relatif diam.
Akibatnya bumi perlu berotasi sedikit lebih jauh agar mendapati matahari berada di
atas kepala lagi. Perbedaan ini ternyata sebesar 4 menit perhari, sehingga bintangbintang akan terbit 4 menit lebih cepat setiap hari (dalam jam surya).
Lalu waktu apa yang harus kita gunakan untuk mengamati bintang ? Tentunya kita
harus membuat sistem waktu dimana acuannya terletak di bola langit, sehingga
bergerak bersama-sama bintang-bintang. Maka diputuskan sistem tersebut akan
dihitung berdasarkan posisi dari titik Aries di langit, jam tersebut disebut jam sideris,
atau disebut waktu sideris lokal (Local Sidareal time).

57

Waktu sideris lokal akan mengikuti persamaan

Local Sidereal Time = HA ................................................(5.2)


Dimana kita tidak perlu menambahkan 12 jam atau berapapun, sebab aktivitas harian
kita tidak bergantung pada jam sideris. Jadi apabila kita melihat titik Aries ada di
meridian, maka dapat dipastikan saat itu LST = 00.00.
Dapat dipastikan bahwa satu kali putaran bola langit, atau selang waktu suatu bintang
dari kulminasi (meridian) kembali ke kulminasi lagi ialah 23 jam 56 menit (dalam jam
tangan kita), yang menunjukkan waktu rotasi bumi yang sebenarnya.
Perhatikan gambar berikut !

KLU

HA*
T
U

RA*
B

Titik Aries
Ekuator langit
N

HA

KLS

Dapat dilihat bahwa ternyata terdapat hubungan


HA titik aries =RA bintang + HA bintang
Gabungkan dengan persamaan 5.2, didapat
LST=RA +HA

..............................................(5.3)

Dan persamaan 5.3 ini berlaku untuk semua bintang. Jadi apabila kita mengetahui
asensio recta suatu bintang, dan LST saat itu, kita dapat meramalkan Hour angle
bintang di langit. Dapat dilihat betapa pentingnya LST bagi pengamatan astronomi.
Apabila yang kita kaji adalah titik aries (RA = 0) maka persamaan 5.3 akan
menghasilkan persamaan 5.2

58

Karena Hour Angle setiap benda di meridian adalah nol, maka dari persamaan 5.3
dapat diturunkan
LST = RA bintang di meridian

.......................................(5.4)

Persamaan 5.4 memudahkan kita menghitung RA, sebab titik aries sendiri di langit
bukan sebuah bintang, dan hanyalah titik imajiner sehingga tidak bisa ditentukan
posisinya dengan pandangan mata. Alternatif penentuan LST ialah dengan melihat
bintang apa yang ada di Meridian. Misalkan kita melihat bintang Centauri (RA =
14jam38men) berada di meridian, maka dapat dipastikan saat itu LST akan menunjukkan
pukul 14.38.
Satu hal yang perlu diingat adalah bintang akan terbit pada waktu yang sama dalam
LST, jadi pada kasus pengamat Alif tadi, apabila jam tangannya adalah jam sideris,
tentu dia akan berhasil.
Bagaimana hubungan antara LST dan LMT? Apabila kita perhatikan seksama, maka
pukul 00.00 LMT akan sesuai dengan pukul 00.00 LST apabila matahari ada di bujur
ekliptika 1800, atau dengan kata lain tepat berseberangan dengan titik aries, atau seperti
sudah kita pelajari di Bab I, terjadi pada tanggal 23 September.
Pada tanggal 24 September pukul 00.00, LST sudah berjalan 4 menit lebih cepat sehingga
akan menunjukkan pukul 00.04, dan seterusnya perbedaan bertambah 4 menit setiap
hari, untuk kembali mencapai 00.00 LMT = 00.00 LST pada tanggal 23 September tahun
berikutnya. Hubungan ini memudahkan kita menghitung LST (secara pendekatan)
untuk waktu kapan saja.

5.6
SIANG DAN MALAM
Berapa lama sebuah benda akan berada di atas horizon ditentukan oleh dua faktor :
deklinasi benda tersebut dan lintang pengamat. Dalam hal benda tersebut adalah
matahari, maka saat matahari berada di atas horizon dinamakan waktu siang, sementara
sisanya disebut malam.
Penurunan persamaan waktu membutuhkan pengetahuan terhadap persamaan
trigonometri untuk segitiga bola, yang mungkin belum anda pelajari. Adapun
persamaan waktu tersebut ialah

cos H = tan DEC tan Latitude .....................................(5.5)


Dimana H ialah setengah busur siang, atau setengah busur diatas horizon. Persamaan
5.5 berlaku bagi objek bola langit maupun Matahari.

59

Setelah mendapat nilai H, kita dapat menentukan berapa lama matahari akan berada di
atas horizon, dengan persamaan:

T=

2.H
x12 jam
180 0

............................................(5.6 a)

Dimana 12 jam sesungguhnya ialah setengah hari matahari.


Sehingga apabila benda yang kita tinjau bukan matahari, melainkan benda yang
melekat di bola langit, setelah mendapat nilai H, kita gunakan persamaan lain

T=

2.H
x11 jam58menit
180 0

...........................................(5.6 b)

Tentunya 11 jam 58 menit ialah setengah hari sideris.


Dari persamaan matahri bisa kita simpulkan bahwa untuk pengamat di lintang 00
(ekuator), kapanpun akan memiliki panjang siang hari 12 jam dan malam 12 jam. Di
kutub, persamaan 5.5 tidak akan memberikan hasil. Khusus untuk pengamat di kutub,
akan mengalami siang selama 6 bulan lalu berganti dengan malam selama 6 bulan.
Daerah-daerah yang bisa mengalami panjang siang/malam lebih dari 24 jam ialah
daerah di dalam lingkaran kutub utara maupun selatan, (lintang >+66,50 atau < -66,50).
Contoh soal :
Bila ada pengamat berada pada lintang +54, maka berapa lama malam terpendek dan
terpanjang yang akan dialami pengamat tersebut ?
Jawab :
a) Malam terpendek (siang terpanjang) bagi tempat di belahan bumi Utara, akan
tercapai tanggal 22 Juni saat deklinasi Matahari +23,50. Maka,

cos H = tan DEC tan Latitude


cos H = tan(23,5) tan(54)
cos H = 0,599
H = 126 0 48'

Maka panjang siang terpanjang

2.(126 0 48' )
x12 jam =16 jam 54 menit
180 0

Maka panjang malam terpendek ialah 24 jam 16 jam 54 menit = 7 jam 06 menit
b) Malam terpanjang (siang terpendek) bagi tempat di belahan bumi Utara, akan
tercapai tanggal 22 Desember saat deklinasi Matahari +23,50. Maka dengan cara yang
sama akan didapat panjang malam terpanjang = 16 jam 54 menit.

60

5.7

BINTANG SIRKUMPOLAR

KLU

Bintang X
DEC

Latitude

Bintang Y

KLS

Gambar diatas menunjukan bola langit bagi pengamat di lintang utara. Apabila
diperhatikan bintang X, yang memiliki lintasan harian dengan kulminasi bawah tepat di
horizon (titik Utara). Otomatis bintang-bintang yang memiliki deklinasi lebih besar dari
bintang X akan memiliki kulminasi bawah di atas horizon. Apabila kulminasi bawah
suatu bintang berada di atas atau tepat di horizon, maka bintang tersebut tidak akan
pernah tenggelam, atau selalu ada di langit kapanpun, disebut bintang sirkumpolar
artinya bintang yang mengitari (sirkum) kutub (polar).
Syarat suatu bintang agar tidak pernah tenggelam bagi pengamat di belahan bumi
utara ialah
DEC > 90 0 Latitude ....................................................(5.7 a)

Sekarang perhatikan bintang Y, dimana kulminasi atasnya berada tepat di horizon (titik
selatan). Maka otomatis, bintang-bintang dengan deklinasi lebih kecil dari bintang Y
akan memiliki kulminasi atas di bawah horizon, sehingga tidak akan pernah terbit
ataupun terlihat di langit.
Syarat suatu bintang agar tidak pernah terbit bagi pengamat di belahan bumi utara ialah

DEC < (90 0 Latitude) ....................................................(5.8 a)

61

Bagi pengamat di lintang selatan, bola langit akan tampak

KLS

Bintang Y
DEC

Bintang X
U

Latitude

KLU

Perlu diperhatikan bahwa pengamat di belahan bumi selatan ini memiliki posisi lintang
negatif dari posisi pengamat di gambar sebelumnya.
Dengan cara yang sama, maka syarat suatu bintang tidak pernah tenggelam bagi
pengamat di belahan bumi selatan ialah

DEC < (90 0 + Latitude)

.........................................(5.7 b)

Disini perlu diperhatikan bahwa lintang pengamat dinyatakan dalam negatif, sebab
berada di lintang selatan (ketinggian KLU bernilai negatif).
Syarat suatu bintang tidak pernah terbit bagi pengamat di belahan bumi selatan ialah

DEC > 90 0 + Latitude

.........................................(5.8 b)

Contoh Soal :
Dapatkah bintang Centauri (deklinasi = -600) dilihat oleh pengamat di kota Moscow,
Russia (lintang +600) ?
Jawab :
Batas deklinasi bintang yang tidak pernah terlihat di Moscow ialah DEC < (90 0 60 0 )
, yaitu DEC < 30 . Karena alpha centauri memenuhi syarat tersebut, maka bintang
tersebut tidak pernah bisa dilihat dari Moscow.

62

5.8
TIANG DAN BAYANGAN
Suatu tiang yang berada di lintang tertentu, hanya akan kehilangan bayangannya,
apabila matahari berada tepat di zenith. Syarat matahari melintasi zenith (pada pukul
12.00 waktu lokal) ialah deklinasi matahari = lintang pengamat. Misalnya tiang yang
ditancapkan di lintang +23,50, akan kehilangan bayangannya pada pukul 12.00 siang
tanggal 22 Juni. Tiang yang berada di lintang lebih besar dari +23,50 atau lebih kecil dari
-23,50 tidak akan pernah kehilangan bayangannya.
Apabila suatu matahari tidak melintasi zenith, maka panjang bayangan tiang pada
pukul 12.00 siang waktu lokal hanya akan mencapai keadaan terpendek. Panjang
bayangan dan panjang tiang berkorelasi pada ketinggian matahari dari horizon.

Apabila X adalah tinggi tiang, dan Y adalah panjang bayangan


terpendek (tercapai pukul 12.00), maka ketinggian matahari dapat
dicari dari persamaan sederhana

X
Alt
Y

Tan Altitude =

X
......................................(5.9)
Y

Contoh Soal :
Seorang ilmuwan Jepang yang tinggi tubuhnya 168 cm sedang survey di Papua,
berkomunikasi dengan koleganya di Tokyo melalui telpon genggam untuk mengetahui
koordinat geografisnya. Komunikasi dilakukan tepat pada saat bayangan tubuh
ilmuwan itu di tanah kira-kira paling pendek dan arahnya ke Selatan, dengan panjang
bayangan 70 cm. Tayangan di Tokyo saat itu bayangan benda-benda yang terkena sinar
matahari juga terpendek, dan ketinggian matahari saat itu 680 koordinat geografis
Tokyo adalah 1390 42 BT dan 35037. Tentukanlah koordinat geografis tempat ilmuwan
Jepang itu berada !
Jawab :
Tokyo berada di lintang +350 37, maka bola
langit di tokyo pada saat panjang bayangan
benda-benda terpendek (matahari di
kulminasi atas) seperti disamping.

KLU

T
Perlu diingat bahwa lintang pengamat =
ketinggian KLU
= U.O.KLU = +350 37

O
B

KLS

63

Lalu ketinggian matahari dari horizon ( HOS)= 680, saat itu ketinggian matahari pasti
diukur dari titik S, mengapa ? karena apabila matahari berada 680 diatas U, maka
deklinasi matahari akan lebih besar dari +23,50, yang tidak mungkin terjadi.
Maka deklinasi matahari,
HO = ZOS ( 0S + ZOH)
= 900 ((900- ZO )+(900- HOS))
(ingat bahwa ZO = UO.KLU)
= 900-((900-35037)+( 900-680)
= + 130 37
Lalu perlu kita perhatikan bahwa di posisi ilmuwan Jepang diperoleh informasi bahwa
panjang bayangan tubuhnya = 70 cm. Maka dari informasi yang ada, kita dapat
menggambarkan bola horizon ilmuwan tersebut :

Z
168

70

N
Dapat dilihat bahwa ketinggian matahari dari horizon = , Dimana

168
70
67

tan =
Dari
ketinggian
matahari,
dan
deklinasinya
yang
sudah kita hitung, kita
dapat menggambarkan
bola langit ilmuwan
tersebut
dengan
lengkap,
seperti
disamping.

KLS

T
U
KLU

O
B

64

Perlu diingat bahwa karena bayangannya mengarah ke selatan, maka matahari haruslah
berada di sebelah utara Zenith, maka = UOH.

Untuk mengetahui posisi ilmuwan, kita harus mencari KLU.OU, yang merupakan
lintang pengamat, maka
KLU.OU = KLU.O - ( UOH + HO )
(Ingat bahwa HO = deklinasi matahari)
= 900- (670+13037)
= 90 23
Perlu diingat bahwa karena ketinggian KLU negatif, maka ilmuwan berada di lintang
negatif, yaitu lintang 90 23 Lintang Selatan.
Karena panjang bayangan terpendek di Tokyo dan di tempat ilmuwan dicapai pada
waktu yang sama, maka keduanya pasti berada pada satu bujur yang sama (karena
waktu matahari mencapai kulminasi sama), yaitu 1390 42 BT.
Maka koordinat geografis pengamat ialah 1390 42 BT dan 90 23 LS.

5.9
KOREKSI KETINGGIAN PENGAMAT
Bagi seorang pengamat di tempat yang memiliki suatu ketinggian di atas permukaan
laut, maka apa yang akan diamati olehnya tidak akan sama dengan pengamat di
ketinggian 0. Dua orang pengamat dengan buJur yang sama, namun yang satu berada
di tempat yang lebih tinggi mengamati matahari terbit. Tentunya pengamat yang berada
di tempat yang lebih tinggilah yang akan melihat matahari terbit duluan, sebab dia
dapat melihat lebih dalam, atau Jarak ke horizon (jarak terjauh permukaan bumi yang
bisa dilihat) semakin jauh.

h
B
R
O

Gambar di samping menunJukkan seorang


pengamat di ketinggian h diatas permukaan
bumi. Jarak ke horizon bagi pengamat tersebut
ialah jarak AB = d, dimana OBA adalah sikusiku.
Maka berlaku hukum phytagoras :
AB2 = AO2 OB2

d = AO 2 OB 2
=

( R + h) 2 R 2

65

2 Rh + h 2
=

h( 2 R + h)

Karena h << R , maka dapat kita nyatakan sebagai


= 2 Rh
Bila kita nyatakan h dan R dalam meter, dan kita masukkan nilai Jari-Jari bumi ke dalam
persamaan di atas kita akan mendapatkan

d = 3570 h

(meter )

..........................................(5.10)

Persamaan 5.10 adalah persamaan umum Jarak pengamat ke horizon laut.

Sudut AAB, disebut sudut kedalaman (angle of dip) = . Dimana berlaku

cos A' AB = sin OAB


OB
cos =
OA
R
cos =
R+h
2
Untuk sudut yang kecil berlaku cos = 1
, berlaku bila sudut dinyatakan dalam
2
radian, sehingga menJadi

2
R
=
2
R+h
2

R+h
R
=

2
R+h R+h
2

h
=
2
R+h
2h
(rad ) =
R+h

Karena h << R , maka dapat kita nyatakan sebagai

(rad ) =

2h
R

Bila kita ingin nyatakan dalam menit busur, h dan R dalam meter, dan kita masukkan
nilai radius bumi ke dalam persamaan kita akan mendapati

(' ) = 1930 h (menit busur) ....................................(5.11)

66

Persamaan 5.11 memberikan hubungan yang sederhana antara sudut dengan ketinggian
pengamat. Perlu diingat bahwa persamaan 5.10 dan 5.11 tidak memperhitungkan efek
refraksi atmosfer. Dimana refraksi bisa menyebabkan bintang-bintang tampak lebih
tinggi dari posisi sebenarnya (untuk benda di dekat horizon, altitude akan naik sekitar
34 menit busur, dan pengaruhnya makin kecil ke arah zenith dan bernilai 0 untuk benda
yang berada tepat di Zenith).
Contoh Soal :
Pilot sebuah pesawat terbang berada pada ketinggian 10.000 m dari permukaan laut.
Berapa jarak ke horizon yang dapat ia lihat ?
Jawab :
Jarak ke horizon d=3570 h , maka
d= 3570 10000
= 357 km

67

6. ASTROFISIKA 2

6.1
ABSORPSI
Meskipun nampak kosong, namun ruang antar bintang sesungguhnya memiliki materi
yang cukup untuk melemahkan cahaya bintang. Pengaruh dari absorpsi ini bisa
diabaikan untuk bintang-bintang dekat, namun tidak untuk bintang-bintang Jauh.
Salah satu efeknya ialah pada persamaan modulus Jarak atau persamaan 3.8, dimana
persamaan tersebut sesungguhnya hanya berlaku bagi bintang-bintang dekat. Untukbintang-bintang Jauh perlu ada koreksi absorbsi sehingga persamaan menJadi

m M = 5 Log d 5 + A .............................................(6.1)
Dimana A adalah besarnya absorpsi oleh materi antarbintang. Besarnya absorpsi tidak
hanya bergantung pada Jarak saJa, namun Juga bergantung pada temperature bintang
dan panJang gelombang yang dipancarkan (dengan intensitas maksimum) oleh bintang.
Dimana panJang gelombang yang lebih pendek akan lebih mudah diserapdaripada
panJang gelombang yang lebih panJang.

6.2

GERAK BINTANG

A. Gerak Radial
Alam semesta ini tidaklah statis, sehingga Jarak antar bintang pun tidaklah konstan,
namun bagaimana kita bisa mendeteksi suatu bintang apakah bergerak mendekati atau
menJauhi bumi ?
Tentu dalam pelaJaran fisika anda pernah mempelaJari tentang efek Doppler, dimana
ambulan yang bergerak mendekati kita bunyi sirinenya lebih keras dibanding ambulan
yang bergerak menJauhi kita. Ternyata efek Doppler ini berlaku Juga untuk cahaya,
dimana apabila suatu bintang bergerak mendekati kita, maka panJang gelombangnya
akan mendekati biru, sedangkan bila menJauh, akan tampak mendekati merah.
Pergeseran panJang gelombang ini dapat diamati dengan mengamati garis-garis
spectrum bintang. Pergeseran ini diamati untuk komponen gerak bintang yang seJaJar
garis pandang atau disebut gerak radial.

68

Perhatikan gambar berikut!

c
Spektrum bintang a
Spektrum bintang b
Spektrum bintang c

Seorang pengamat mengamati spektrum tiga bintang kembar yang masing-masing


berbeda keadaan, bintang a diam terhadap pengamat, bintang b bergerak mendekat,
dan bintang c bergerak menJauh. Ternyata dari hasil pengamatan, spectrum bintang a
akan sesuai dengan yang diamati di laboratorium / perhitungan. Pada spectrum bintang
b, garis-garis absorpsi telah bergeser ke sebelah kiri (panJang gelombang memendek),
sedangkan pada bintang c garis-garis absorpsi bergeser ke sebelah kanan (panJang
gelombang memanJang).
Semakin besar pergeseran spectrum bintang tersebut, semakin besar pula kecepatan
sebenarnya (kecepatan radial) bintang tersebut. Dinyatakan oleh persamaan

1 + Vr

c 1
=
diam
1 Vr
c

(6.2)

Dimana diam adalah panJang gelombang yang diamati di laboratorium (panJang


gelombang diam), adalah besar pergeseran panJang gelombang akibat gerak radial
bintang (dinyatakan dengan obs diam ) yang akan bernilai negatif bila bintang
bergerak mendekat dan positif bila menJauh, Vr adalah kecepatan radial bintang, dan c
adalah kecepatan cahaya. Perlu diingat bahwa satuan diam dan harus sama, bgitu
pula satuan Vr dan c, karena persamaan 6.2 berupa perbandingan.

69

Apabila benda yang kita tinJau bergerak dengan kecepatan rendah dan tidak mendekati
kecepatan cahaya, atau memenuhi syarat Vr << c (kecepatan radial Jauh lebih kecil dari
kecepatan cahaya). Maka persamaan 6.2 akan menJadi persamaan yang lebih sederhana

Vr
=
diam
c

..(6.3)

B. Gerak Tangensial
Bintang tidak hanya bergerak seJaJar dengan garis pandang kita, namun komponen
gerak yang bergerak tegak lurus garis pandang kita disebut gerak tangensial.
Gerak tangensial lebih mudah untuk diamati, sebab pergerakannya akan tampak nyata
di langit, tentunya dalam Jangka waktu sangat lama. Oleh karena itu perlu ada
penyesuaian RA dan Deklinasi bintang pada catalog bintang secara berkala, agar posisi
tetap akurat.
Besarnya gerak tangensial bergantung pada Jarak bintang, dan besar pergeseran di
langit (proper motion), dan dinyatakan oleh persamaan

Vt = d ,
Dimana Vt adalah kecepatan tangensial (m/s), adalah kecepatan sudut atau proper
motion yang tampak di langit(rad/s), dan d adalah Jarak bintang (m).

Agar lebih mudah, kita nyatakan satuan Vt dalam km/s, dalam detik busur per tahun
(karena besar pergeseran sangat kecil), dan d dalam parsec, maka persamaan diatas
menJadi

Vt = 4,74 d

(6.4)

Apabila kita gabungkan dengan persamaan 2.7, kita akan dapat

Vt =

4,74
p

...(6.5)

Dimana p adalah besar paralaks bintang.

70

C. Gerak Linear

V
Vr
Vt

Garis pandang

Besar gerak sesungguhnya bintang (gerak linear) ialah resultan dari dua komponennya,
gerak radial dan tangensial, dan besarnya dinyatakan oleh

V = Vr 2 + Vt 2

(6.6)

************

SUMBER : Astronomy principles and practice by A.E Roy; Astrofisika by Winardi


Sutantyo; Diktat Pelatihan Astronomi tingkat Nasional; Philips Pocket Star Atlas by
John
Cox;
Software
Starry
Night
(www.StarryNight.com);
Wikipedia
(www.wikipedia.com);

71

7. TATA SURYA

Planet-planet dapat dikelompokkan menjadi dua:


- Planet terrestrial (=seperti Bumi) (Merkurius, Venus, Bumi, Mars)
- Planet Jovian (=seperti Jupiter) (Jupiter, saturnus, Uranus, dan neptunus)

Orbit planet

Jika dibandingkan dengan planet Jovian, planet terrestrial lebih kecil, lebih padat,
lebih banyak mengandung material batuan, kecepatan rotasi yang lambat, dan
atmosfernya tipis.

Data-data planet

72

Permukaan bulan menampakkan beberapa keunikan:


Impact craters: dihasilkan oleh
tumbukan puing interplanetary yang
bergerak
dengan
sangat
cepat
(meteoroid).
Highland: cerah, kawah yang
padat,
melingkupi
sebagian
besar
permukaan bulan.
Maria: gelap, dataran rendah yang
cukup mulus. Merupakan kawah hasil
tumbukan yang sangat besar, kemudian
tertutupi oleh lapisan demi lapisan fluida
lava yang sangat basaltik.
Lunar regolith: lapisan seperti
tanah yang menutupi seluruh bidang
permukaan bulan, berwarna abu-abu,
tersusun oleh puing-puing yang tidak
kompak,
dihasilkan
dari
tabrakan
meteorik pada miliaran tahun lalu.

Hipotesis
pembentukan
Bulan
diperkirakan bahwa ada objek yang
seukuran Mars yang menabrak Bumi, dan
kemudian menghasilkan Bulan. Dan
saintis menyimpulkan bahwa permukaan
Bulan berevolusi dalam 4 tahap:
-

The original crust (highlands)


The Highlands
Maria basins
Youthful rayed craters

Merkurius merupakan planet yang


kecil, padat, tidak memiliki atmosfer,
dan planet yang memiliki temperature
paling ekstrim.
Venus, planet paling cerah di langit,
memiliki atmosfer yang tebal, 97%-nya
merupakan CO2, permukaannya lunak dan
vulkanik yang tidak aktif, tekanan permukaan atmosfer 90 kali lebih tinggi daripada
Bumi, dan temperature permukaannya 475OC.

73

Permukaan Merkurius (kiri), dan Venus (kanan)

Mars, planet merah, memiliki CO2 dalam atmosfer hanya 1% seperti Bumi, ada badai
debu yang besar, banyak sekali vulkanik yang tidak aktif, banyak tebing yang besar, dan
beberapa lembah yang masih diperdebatkan apakah itu bekas dilalui oleh sungai
sebagaimana di Bumi.

Mars (kiri) dan bukti keberadaan air di Mars (kanan)

74

Pembentukan alam semesta

Jupiter, planet terbesar, berotasi sangat cepat, Nampak memiliki sabuk yang
disebabkan oleh arus konveksi yang besar yang dikontrol oleh panas dari dalam planet,
memiliki Great Red Spot yang ukurannya bervariasi, memiliki cincin yang tipis, dan
sedikitnya 63 bulan yang berotasi mengelilinginya (salah satunya Io, yang mungkin objek
tata surya yang paling aktif vulkaniknya).

Jupiter dan Great Red Spot

Bulan-bulan terbesar Jupiter (Io, Europa, Ganymede, dan Callisto)

75

Komposisi planet, jarak ke matahari, dan titik leleh

Saturnus, dikenal dengan sangat baik karena system cincinnya. Memiliki atmosfer
yang dinamis dengan angin yang mencapai kecepatan 930 mil/jam, dan badai yang mirip
dengan Great Red Spot di Jupiter.

Wahana Cassini mendekati Saturnus (atas) dan cincin Saturnus (bawah)

Uranus dan Neptunus, sering disebut planet kembar karena kemiripan struktur dan
komposisinya. Cirri yang unik dari Uranus ialah cara berotasinya yang miring. Neptunus,
memiliki awan berwarna putih seperti cirrus di atas awan utamanya, memiliki Great
76

Dark Spot yang seukuran Bumi, diasumsikan merupakan badai besar yang berotasi, mirip
dengan Great Red Spot di Jupiter.

Uranus dan Neptunus

Anggota-anggota kecil dari tata surya ialah asteroid, komet, meteoroid, dan planet
kerdil. Kebanyakan asteroid terletak di antara orbit Mars dan Jupiter. Asteroid ialah
batuan dan puing-puing logam dari nebula tata surya yang tidak pernah berakresi
menjadi planet.

Orbit asteroid yang tidak beraturan

Komet terbentuk dari es (air, amoniak, metana, karbondioksida, dan karbon


monoksida) dengan potongan-potongan kecil dari material batuan dan logam. Banyak
yang mengorbit dalam orbit yang memanjang hingga lebih jauh dari Pluto.

77

Ekor komet yang menjauh dari matahari

Meteroroid, partikel padat kecil yang bergerak di ruang antar planet, menjadi
meteor jika memasuki atmosfer Bumi menguap dengan mengeluarkan kilatan cahaya.
Hujan meteor terjadi ketika Bumi bertemu dengan kumpulan besar meteoroid, yang
kemungkinan merupakan material yang lepas dari komet. Meteorit ialah sisa dari
meteoroid yang ditemukan di Bumi.

Hujan meteor yang besar

Pluto dimasukkan ke dalam kelompok baru dalam tata surya, yaitu objek planet
kerdil (dwarf planets).

78