Anda di halaman 1dari 50

DAFTAR ISI

Daftar isi i
BAB I Pendahuluan..

BAB II Tinjauan Umum 2


Definisi.

Epidemiologi.

Klasifikasi

Etiologi.. 4
Manifestasi Klinis.. 8
Diagnosa 9
Pemeriksaan Penunjang

10

BAB III Penatalaksanaan.

13

BAB IV Kesimpulan

18

Daftar Pustaka..

19

BAB I
PENDAHULUAN

Perdarahan saluran cerna akut merupakan keadaan gawat darurat yang harus ditangani
secara cepat dan tepat karena dapat menyebabkan kematian. Sementara perdarahan
saluran cerna yang sifatnya kronik walaupun tidak terlihat nyata namun bila tidak
ditangani juga sangat berbahaya. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi dimana saja pada
traktus digestivus dari mulut sampai dengan anus. Darah dapat terlihat pada tinja atau
muntahan atau dapat saja berupa perdarahan tersembunyi yang hanya dapat dilihat
dengan pemeriksaan laboratorium. Perdarahan saluran cerna bagian bawah sebagian
besar terjadi pada usia tua. Dahulu, kematian yang disebabkan oleh perdarahan saluran
cerna bagian bawah yang akut sangat tinggi. Hal ini terutama disebabkan oleh kesulitan
5
untuk menemukan sumber pendarahan. Namun, seiring dengan kemajuan dan
pembangunan di bidang teknologi medis, khususnya kolonoskopi dan angiografi, telah
menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh perdarahan saluran cerna bagian
bawah sebesar 5-10% selama dekade terakhir. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh
peningkatan kemampuan dalam mencari sumber pendarahan, dalam resusitasi dan juga
perawatan medis yang lebih baik. Penyebab utama kehilangan darah dari saluran
5
pencernaan bagian bawah yang akut adalah divertikulosis dan angiodisplasia. Sementara
itu, penyebab utama perdarahan saluran cerna bagian bawah yang kronik adalah
5
keganasan dan penyakit di daerah perianal. Perdarahan saluran cerna bagian bawah yang
kronik terjadi secara bertahap dan sebentar-sebentar, sehingga seringkali pasien tidak
5
menyadarinya dan membutuhkan rawat inap di rumah sakit.

BAB II
TINJAUAN UMUM

II.1 Definisi
Perdarahan saluran cerna bagian bawah umumnya didefinisikan sebagai perdarahan yang
3
berasal dari usus di sebelah bawah ligamentum Treitz.
Hematochezia diartikan sebagai darah segar atau berwarna merah maroon yang keluar
melalui anus dan merupakan manifestasi tersering dari perdarahan saluran cerna bagian
bawah. Namun, perdarahan dari saluran pencernaan bagian atas yang masif juga dapat
1,3
menimbulkan hematochezia.
Melena diartikan sebagai tinja berwarna hitam seperti ter, lengket, dengan bau yang khas.
Melena timbul bila hemoglobin dikonversi menjadi hematin atau hemokrom lain oleh
1,2
bakteri setelah 14 jam. Umumnya melena menunjukkan perdarahan di saluran cerna
bagian atas atau usus halus, namun melena dapat pula berasal dari perdarahan kolon
2
sebelah kanan dengan perlambatan mobilitas. Tidak semua kotoran hitam adalah melena
karena bismuth, atau obat-obat yang mengandung besi ( obat penambah darah ) dapat
1,3
pula menyebabkan feces menjadi hitam.
Darah Samar timbul bilamana ada perdarahan ringan namun tidak sampai merubah warna
1,3
feces. Darah samar dapat diketahui dengan tes Guaiac.
Darah yang bisa dideteksi oleh tes Guaiac minimal 5-10ml/hr, sementara saluran cerna
secara normal sebenarnya kehilangan darah 0,5-1,5 ml/hari yang biasanya tidak terdeteksi
1
dengan tes Guaiac.
II.2 Epidemiologi
Penyebab utama perdarahan saluran cerna bagian bawah adalah diverticulosis, malformasi
1
arteri vena (AVM), dan kolitis iskemik. Dari keseluruhan perdarahan saluran cerna, 20%nya
adalah perdarahan saluran cerna bagian bawah , dan biasanya tidak lebih berat dari
perdarahan saluran cerna bagian atas. Perdarahan SCBB ini biasanya terjadi pada orang tua
1
1
berusia antara 63-77 tahun. Sebanyak 80% biasanya berhenti secara spontan. Dalam dekade
terakhir , kasus perdarahan saluran cerna meningkat secara

signifikan. Mortalitas akibat perdarahan saluran cerna bagian bawah adalah 3,6 %,
3
sementara tingkat mortalitas akibat perdarahan saluran cerna bagian atas adalah 3,57%.
Pasien perdarahan saluran cerna bagian bawah yang dirawat di rumah sakit memiliki
angka mortalitas yang lebih tinggi, yaitu sebanyak 23% dibandingkan pasien yang rawat
1
jalan, hanya sebesar 3.6%.

II.3 Klasifikasi
a.

Perdarahan akut

Pasien pasien yang mengalami perdarahan berat dan kontinyu harus dirawat di rumah
sakit. Penting untuk diingat bahwa pada 10-15% kasus yang pada awalnya bermanifestasi
sebagai perdarahan saluran cerna bagian bawah ternyata memiliki sumber perdarahan di
1
saluran cerna bagian atas. Petunjuk kemungkinan terjadinya perdarahan saluran cerna
bagian atas yang diawali dengan hematochezia adalah ketidakstabilan hemodinamik
2
( hipotensi, takikardi,perubahan posisi mengakibatkan perubahan pada tekanan darah) ,
1

melena, dan riwayat perdarahan saluran cerna bagian atas. Pemasangan NGT membantu
menegakkan diagnosa perdarahan saluran cerna bagian atas pada pasien dengan
1
perdarahan saluran cerna bagian bawah yang berat.

b. Outlet-type bleeding
Yang dimaksud outlet-type bleeding adalah terlihat darah selama atau sesudah defekasi
pada kertas toilet atau handuk, tapi tanpa gejala ataupun faktor resiko khusus untuk ca

colorectal. Pasien outlet-type bleeding yang berusia muda, lebih dianjurkan


menggunakan fleksibel sigmoidoskopi dibandingkan kolonoskopi.
c.

Perdarahan kronik-intermitten

Manifestasi klinis pada pasien ini adalah tes Guaiac positif, atau anemia atau keduanya.
Biasanya terjadi pada pasien-pasien rawat jalan yang tidak menyadari terjadinya
perdarahan saluran cerna bagian bawah namun mengalami anemia kronis. Walaupun
begitu jika anemi yang timbul sudah berat dan terdapat gejala-gejala kardiopulmoner
maka pasien tersebut harus dirawat inap untuk monitoring,evaluasi dan tata laksana lebih
lanjut. Pada pasien-pasien ini harus dievaluasi dengan kolonoskopi. Berdasarkan studi,
sekitar 25-41% dari pasien ini ditemukan kelainan pada endoskopi saluran cerna bagian
atasnya. Jadi, bila dengan kolonoskopi tidak ditemukan sumber perdarahan maka sebaik
1
nya dilakukan endoskopi.

II.4 Etiologi
Penyebab perdarahan saluran cerna bagian bawah : a. Perdarahan divertikel kolon

Divertikel adalah kantong yang terjadi karena penonjolan kearah luar usus melalui
lapisan otot . Proses terbentuknya divertikel berhubungan dengan kebiasaan makan
pasien. Pasien dengan divertikel mempunyai kebiasaan makan makanan yang tidak atau
kurang berserat, akibatnya tinja yang terbentuk keras dan volumenya kecil, sehingga
kolon harus berkontraksi lebih keras untuk menggiring tinja keluar, maka sering timbul
tekanan tinggi dalam kolon biasanya di bagian bawah. Tekanan yang besar ini dapat
menekan celah lemah pada dinding usus. Paling sering divertikel ditemukan di bagian
sigmoid . Kelainan ini lebih sering ditemukan usia lebih dari 50 tahun. Pasien dengan
divertikel yang cukup banyak disebut divertikulosis. Bila divertikel ini meradang disebut
divertikulitis. Penonjolan ini besarnya berkisar antara beberapa milimeter sampai dua cm.
Leher divertikel dan pintunya biasanya sempit. Kadang-kadang di dalamnya terbentuk
fecolith.

Keluhan dan tandanya dapat berupa keluhan mulai dari yang ringan seperti mual, nyeri
pada perut kiri bawah, sembelit dan diare oleh karena gangguan pengerasan usus sampai
keluhan berat seperti pecahnya usus, abses dan perdarahan. Pecahnya usus ditandai

dengan perut yang menjadi tegang dan terasa nyeri. Abses ditandai dengan adanya massa
di perut kiri bawah yang sangat nyeri disertai keluhan

sembelit, demam dan keadaan umum penderita buruk. Perdarahan baru nyata setelah
keluar perdarahan saat penderita BAB, dan mungkin terjadi anemia. Pada penderita usia
lanjut, dapat terjadi perdarahan yang hebat sehingga menyebabkan syok dan tidak jarang
memerlukan transfusi darah.
b. Angiodisplasia
Angiodisplasia (vascularectasis) diklasifikasikan sebagai penyebab perdarahan saluran
cerna bagian bawah secara bertahap atau kronis. Lima puluh empat persen dari
angiodisplasia kronis menyebabkan perdarahan di dalam usus. Angiodisplasia adalah lesi
degeneratif yang berkaitan dengan penuaan. Dua pertiga pasien dengan angiodisplasia
berusia di atas 70 tahun. Patogenesis angiodisplasia tidak diketahui,mungkin disebabkan
oleh parsial, obstruksi intermiten,mulai dari vena-vena submukosa sampai terjadinya
dilatasi, sehingga hubungan arteriovenosa didirikan. Angiodisplasia didiagnosis dengan
5
menggunakan kolonoskopi dan angiography.
c.

Arteriovenous Malformation

AVM dilaporkan sebagai sumber perdarahan saluran cerna bagian bawah pada 3-40%
pasien. AVMs biasanya kelainan kongenital dan ditemukan di usus pada 1-2% dari
spesimen autopsi. AVMs adalah suatu kelainan pada mukosa dan submukosa pembuluh
darah memiliki komunikasi langsung antara arteri dan vena tanpa campur tangan kapiler.
Lebih dari setengahnya berlokasi di kolon kanan, dan 47% persen pasien mengalami
hematochezia yang tanpa nyeri serupa dengan perdarahan yang disebabkan oleh penyakit
divertikular, dapat pula muncul berupa perdarahan yang kronik dan intermitten. Faktor
resikonya adalah orang tua, berusia lebih dari 60 tahun, lokasi di sisi kanan kolon , dan
pada pasien yang memiliki penyakit gagal ginjal kronis dan stenosis aorta. Pemeriksaan
terbaik untuk AVMs adalah angiography.
d. Kolitis
Kolitis merupakan istilah yang menunjukkan adanya proses peradangan atau inflamasi
pada kolon. Kolitis sering diawali dengan infeksi, toksin, produk bakteri, yang terjadi
pada individu yang rentan . Pelepasan bahan toksin menimbulkan reaksi inflamasi yang

menyebabkan perubahan mukosa dan dinding. Kolitis dibagi 2, yaitu kolitis ulseratif non
spesifik dan kolitis Crohn. Kolitis ulseratif berlangsung lama dan disertai masa remisi
dan eksaserbasi yang berganti-ganti. Tanda dan gejala klinis yang penting adalah nyeri
6
abdomen, diare dan perdarahan rektum. Diagnosis banding antara lain : kolitis infeksi,
IBS, divertikulitis, enteritis radiasi, dan kanker kolon. Walaupun tidak ada tes darah yang
spesifik untuk kolitis iskemik, namun biasanya terdapat kenaikan leukosit, amilase,
kreatin fosfokinase dan serum laktat. Foto rontgen polos biasanya tidak ditemukan
sesuatu yang khas, meskipun tanda edema submukosa dan pneumatosis dapat dilihat
biasanya pada pasien dengan penyakit lanjut.Diagnosa dengan CT scan mungkin
memperlihatkan penebalan segmental kolon yang terkena. Evaluasi endoskopi dengan
sigmoidoskopi atau kolonoskopi dapat digunakan untuk menegakkan diagnosa pada
pasien yang tidak jelas diagnosanya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda peritonitis
5
atau perforasi.
e.

Penyakit perianal

Contohnya adalah hemoroid dan fissura ani, biasanya menimbulkan perdarahan dengan
warna merah segar tetapi tidak bercampur dengan feces. Polip dan karsinoma kadang
menimbulkan perdarahan yang mirip dengan yang disebabkan oleh hemoroid, oleh
karena itu pada perdarahan yang diduga dari hemoroid perlu dilakukan pemeriksaan
untuk menyingkirkan kemungkinan polip dan karsinoma kolon. Pemeriksaan dilakukan
menggunakan anoskopi dan kolonoskopi. Kelainan perianal diterapi dengan obat
(suppositoria, pelumas, hydroxitison) tetapi sering kambuh sehingga skleroterapi /
5
koagulasi, ligasi, atau intervensi bedah dapat dipertimbangkan.
f.

Neoplasia kolon

Baik tumor ganas dan jinak di usus bisa mirip divertikulosis, dan kebanyakan terjadi pada
usia tua.Neoplasma jarang menyebabkan perdarahan masif. Perdarahan bisa berupa
sebentar-sebentar, atau kebanyakan kasus adalah perdarahan tersembunyi ( occult blood).
Dulu, diagnosis dibuat menggunakan barium enema, namun kini dengan menggunakan
kolonoskopi dan biopsi diagnosa dapat langsung dilakukan. Pengelolaan

tumor saluran cerna bagian bawah adalah dengan eksisi, baik dibantu oleh endoskopi atau
melalui operasi.5

g. Divertikulum Meckel

Divertikulum Meckel adalah suatu kelainan bawaan, yang merupakan suatu kantung
(divertikula) yang menonjol dari dinding usus halus. Divertikula bisa mengandung
jaringan lambung maupun jaringan pankreas. Divertikulum meckel adalah suatu sisa dari
struktur perkembangan yang tidak diserap seluruhnya pada masa perkembangan janin.
Penyebab yang pasti dari tidak diserapnya sisa struktur tersebut tidak diketahui. Sekitar
2% dari jumlah penduduk memiliki divertikulum meckel, tetapi hanya sebagian kecil
yang menunjukkan gejala.
Divertikulum meckel biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi kantungnya dapat
melepaskan asam dan menyebabkan ulkus, sehingga terjadi perdarahan melalui rektum
yang tidak disertai nyeri. Tinja biasanya berwarna keunguan atau kehitaman. Pada remaja
dan orang dewasa, divertikulum lebih cenderung menyebabkan penyumbatan usus,
sehingga timbul nyeri kram dan muntah. Bisa terjadi peradangan mendadak pada
divertikulum yang disebut divertikulitis akut. peradangan ini menyebabkan nyeri perut
yang hebat, seringkali disertai muntah.Jika tidak menimbulkan gejala, maka tidak perlu
dilakukan pengobatan khusus. Jika terjadi perdarahan, maka dilakukan pengangkatan
divertikulum disertai pengangkatan jaringan usus di sekitarnya yang telah mengalami
kerusakan.Jika tidak ditemukan kerusakan pada jaringan usus di sekitarnya, maka yang
dibuang hanya divertikulumnya. Untuk memperbaiki anemia, mungkin perlu diberikan
zat besi tambahan. Jika terjadi perdarahan yang hebat, mungkin perlu dilakukan transfusi
darah.
II.4 Manifestasi Klinis Perdarahan akut :

a.Sinkop : takikardia, kepala pusing,melayang


b.Syok : - tekanan darah turun (sistolik< 90 mmHg atau turun > 30 mmHg dari semula)

takikardi, nadi cepat (> 100x/mnt) denyut kecil, lemah atau tidak teraba.
muka (kulit, mukosa) pucat
akral dingin
e.berkurangnya pembentukan air kemih.
f. berkurangnya aliran darah ke otak (bingung, disorientasi, rasa mengantuk dan syok)
Perdarahan Kronik:
Akibat kehilangan darah kronik:
anemia def.Fe
palpitasi
lemas
sesak napas
anoreksia
insomnia.

II.5 Diagnosa
Tentukan penyebab atau lokasi perdarahan, dilakukan setelah status hemodinamik stabil (
1
pada perdarahan akut )
Anamnesis : tanyakan volume perdarahan, berapa kali mengalami perdarahan , juga
penting ditanyakan kepada pasien mengenai riwayat penyakit terdahulu, apakah pasien
menderita tukak peptik,penyakit hati kronik, kelainan saluran cerna
bawah (hemorroid,kolitis, ca). Penting pula mengetahui riwayat penyakit sekarang ,
1
beberapa petunjuk misalnya jika pasien mengaku:
Feses terbungkus darah, biasanya menandakan perdarahan akibat hemoroid.
Darah bercampur dengan feses, menandakan sumber perdarahan yang lebih proksimal.
Diare berdarah, terdapat tenesmus ani, biasanya merupakan gejala Irritable Bowel

Disease (IBD).
Diare berdarah, demam dan nyeri abdomen ,biasanya adalah pasien dengan kolitis
Jika terdapat nyeri saat defekasi biasanya adalah hemoroid atau fissura anal.

Jika feses berubah ukurannya menjadi bentuk panjang seperti pensil disertai penurunan
berat badan biasanya adalah pasien kanker kolon.
Perdarahan yang terjadi tanpa disertai nyeri biasanya terjadi pada pasien penyakit
divertikular , AVM, atau proctitis
Tanyakan pula apakah terdapat sesak, nyeri dada, lightheadedness, dan kelemahan.

Pemeriksaan fisik 1) cek tanda vital : a.Kesadaran


b.Tekanan darah : hipotensi orthostatik timbul pada kehilangan 15% volume darah.1 Bila
penderita syok tek. sistolik < 90 mmHg dan nadi > 100x/mnt,berkeringat dingin, muka
pucat, akral dingin maka kehilangan darah sekitar 40%.
Nadi
d.Pernafasan e. Suhu
Mata : ada tidaknya anemis
Turgor kulit menurun
Ekstremitas : akral dingin, ujung-ujung jari sianotik 5)Auskultasi Jantung : irama cepat atau
lambat

6)Abdomen : teraba massa atau tidak, ukuran hepar, splenomegali.

auskultasi : peristaltik usus menurun atau tidak


7) Colok dubur : darah (+/-), palpasi massa (+/-), identifikasi feses, dan lakukan tes
1
Guaiac.

c. Pemeriksaan laboratorium :

darah : cito dan pemeriksaan darah lengkap . Selanjutnya perlu dicek Hb dan Ht tiap 6
jam
Elektrolit
BUN / serum creatinin
Liver Function Test

Faktor pembekuan : Prothrombin Time (PT)

: activated Partial Thrombin Time (aPTT)

II.6 Pemeriksaan Penunjang a. Kolonoskopi


Kolonoskopi dapat digunakan untuk menunjukan gambaran seluruh mukosa kolon dan
rectum. Sebuah standar kolonoskopi panjangnya dapat mencapai 16ANO0 cm.
Kolonoskopi merupakan cara yang paling akurat untuk dapat menunjukkan polip dengan
ukuran kurang dari 1 cm dan keakuratan dari pemeriksaan kolonoskopi lebih baik
daripada barium enema yang keakuratannya hanya sebesar 67%. Sebuah kolonoskopi
juga dapat digunakan untuk biopsi, polipektomi, mengontrol perdarahan dan dilatasi dari
1.
striktur.
Kolonoskopi merupakan prosedur yang sangat aman dimana komplikasi utama
(perdarahan, komplikasi anestesi dan perforasi) hanya muncul kurang dari 1,3% pada
1
pasien. Komplikasi lebih sering terjadi pada kolonoskopi terapi daripada diagnostik
kolonoskopi, perdarahan merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi terapeutik,
sedangkan perforasi merupakan komplikasi utama dari kolonoskopi diagnostic
Merupakan pemeriksaan terbaik untuk perdarahan saluran cerna bagian bawah, bisa
untuk diagnostik maupun terapeutik. Akurasi untuk diagnosa dengan kolonoskopi adalah
1
48% -90%. Terlihatnya darah segar pada ileum terminalis mengindikasikan sumber
perdarahan bukan berasal dari kolon.

b. Urgent Colonoscopy
Adalah tindakan kolonoskopi yang dilakukan dalam 24 jam setelah episode perdarahan.
Pada pasien ini dilakukan persiapan awal yang minim dengan air atau gliserin enema.
Baru-baru ini digunakan polietilen glikol . Penyakit yang paling sering ditemukan oleh
kolonoskopi mendesak adalah kolitis iskemik transien .Urgent colonoscopy dianggap
aman dan berguna untuk pemeriksaan pada perdarahan saluran cerna bagian bawah akut
9
dan hemostasis.
c. Flexible Sigmiodoskopi

Flexible sigmoidoscopi dapat menjangkau 65 cm kedalam lumen kolon dan dapat


mencapai bagian proksimal dari kolon kiri.1 Dapat digunakan tanpa sedatif dan dengan
persiapan enema yang minimal. Lima puluh persen dari kanker kolon dapat terdeteksi
dengan menggunakan alat ini. Flexible sigmoidoscopi tidak dianjurkan digunakan untuk
indikasi terapeutik polipektomi, kauterisasi dan semacamnya; kecuali pada keadaan
khusus, seperti pada ileorektal anastomosis. Flexible sigmoidoscopi setiap 5 tahun
dimulai pada umur 50 tahun merupakan metode yang direkomendasikan untuk screening
seseorang yang asimptomatik yang berada pada tingkatan risiko menengah untuk
menderita kanker kolon. Sebuah polip adenomatous yang ditemukan pada flexible
sigmoidoscopi merupakan indikasi untuk dilakukannya kolonoskopi, karena meskipun
kecil (<10 mm), adenoma yang berada di distal kolon biasanya berhubungan dengan
neoplasma yang letaknya proksimal pada 6-10% pasien.
d. Anoskopi
Anoskopi berguna hanya untuk diagnosa perdarahan yang sumbernya adalah di daerah
anorectal dan anal canal, termasuk di dalamnya adalah hemoroid interna dan fissura anal.
Lebih diutamakan daripada fleksibel sigmoidoskopi untuk mendeteksi hemoroid pada
.1
pasien rawat jalan
e. Barium Enema: adalah suatu teknik radiografi dengan menggunakan media kontras
barium sulfat kemudian difoto dengan sinar X sehingga akan tampak gambaran usus dan
bisa melihat apabila ada kebocoram obstruksi akibat polip atau massa. Pada pasien muda
dengan hematochezia minimal yang dengan fleksibel sigmoidoskopi memberikan hasil
1
negatif, barium enema merupakan alternatif dibandingkan kolonoskopi.
h.Angiography: merupakan satu cara visualisasi untuk mendiagnosa kelainan pada
pembuluh darah seluruh tubuh dengan menggunakan sinar X. Perdarahan yang bisa
1
dideteksi oleh angiography adalah perdarahan yang masif yaitu sekitar 0,5-1,5 ml/min.
II.7 Komplikasi
a.

Shock Hipovolemi

Gagal Ginjal Akut

b. Efek samping transfusi darah : reaksi hemolitik, infeksi.


BAB III
PENATALAKSANAAN HEMATOSCHEZIA

Tujuan :

- stabilisasi hemodinamik

stop perdarahan aktif


cegah perdarahan ulang.
Resusitasi penderita : ( A B C )
a. Pasang infus : - Nadi > 100x/ mnt infus koloid atau NaCl 0.9%
untuk mengetahui jml kehilangan darah, penderita tidur terlentang ukur nadi / tek. darah
lalu penderita didudukkan dan bila nadi naik > 10x/ mnt & tek. Darah sistolis turun > 10
8
mmHg maka kehilangan darah adalah sekitar 20%.
b. Pernafasan : O2 2-4 ltr/menit
2.Ambil contoh darah (cross matched blood untuk transfusi)

3.Periksa hemoglobin,hematokrit,trombosit,leukosit (Hb kurang sesuai dengan jumlah


perdarahan pada tahap akut oleh krn belum terjadi hemodilusi, perlu waktu minimal 8
jam)
Pemberian transfusi segera pada :
penderita syok
perdarahan terus-menerus
gejala-gejala angina pectoris
hematokrit < 20%

Pasien resiko tinggi : orang tua, CHD, Sirosis hepatis diberikan transfusi PRC sampai
Hematokrit > 30 %
Koagulopati dan trombositopenia harus dikoreksi segera. Trombosit harus dipertahankan
diatas 50.000/ml dan kagulopati harus dikoreksi dengan vitamin K atau

dengan fresh frozen plasma. Vitamin K harus diberikan oral kecuali pada pasien sirosis
atau obstruksi bilier, yang mana pada pasien ini diberikan secara subkutan. Status
hemodinamik merupakan indikator yang lebih baik untuk pemberian darah daripada Hb.
Transfusi diberikan sampai hemodinamik stabil atau Hematokrit 25 30%
4.Medikamentosa :
Paerdarahan akut : Transamin 3x1 kaps : Vit K 3x1 tab

Beberapa perdarahan dapat diobati secara medikamentosa:

Hemoroid, fissura ani, dan ulkus rekti diobati dengan bulk-forming agent, sitz baths dan
menghindari mengedan. Kombinasi estrogen-progesteron dapat mengurangi perdarahan
pada pasien angiodisplasia , dan IBD biasanya memberi respon terhadap obat-obatan anti
inflamasi.
5. Observasi dan monitoring terus tanda-tanda vital: observasi tanda-tanda hemodinamik
yaitu tekanan darah, nadi, pernapasan, temperatur. Biasanya tekanan darah (sistolik) 110
mmHg, pernafasan cepat, nadi 110 x/menit, suhu antara 38 39 derajat Celcius, kulit
dingin pucat atau cyanosis pada bibir, ujung-ujung ekstremitas, sirkulasi darah ke ginjal
berkurang, menyebabkan urine berkurang.

Pasien dengan

perdarahan SCBB akut


Perdarahan ringan-sedang
Evaluasi dan
perdarahan berat

resusitasi

Upper endoscopy
Pertimbangkan
Tangani sebagai perdrahan
perdarahan SCBA
SCBA
Pasang NGT

+/- upper endoscopy

Kolonoskopi

Sumber
Hasil pemeriksaan (-)
teridentifi

kasi
Tidak

Perdarahan berhenti
Arteriography

Terapi
Ya

sesuai

kebutuhan
Endoskopi kapsul

Intensitas
Gambaran klinis
Infus IV /
Tujuan akhir

Perdarahan

transfusi

Perdarahan

Denyut nadi dan Hb


- Mempertahankan

Ringan

normal

akses

intravena

sampai
diagnosis

jelas

memasatikan

tersedia darah

Perdarahan

Denyut
nadi
menggan

Mempertahankan Hb> 9 g/dl

Sedang

istirahat > 100x/mnt


tikan cairan

dan`/
atau Hb <
meminta
4

10g/dl

unit preparat

PRC

Perdarahan

Kolaps
dan
atau
gantikan
mempertahankan vol

Hebat

syok

cairan
urin
>
0,5

tek. Sistolik
dengan cepat
ml/kgBB/jam

<
100
pastikan
-

mempertahankan tek

mmHg

tersedia
sistolik >100 mmHg

denyut
nadi
darah
mempertahankan Hb

>100x/mnt
lakukan
> 9 g/dl

transfusi

menurut

pengkajian

klinis

dan

kadar HB/Ht

6. Terapi Bedah
Pada beberapa diagnostik , seperti divertikulum Meckel atau keganasan , bedah
merupakan pendekatan utama setelah keadaan pasien stabil.

Tanda-tanda vital
hemodinamik tidak stabil

Resusitasi

Tes darah Golongan darah dan crossmatch


tanda kehilangan cairan/
perdarahan berkurang

Infus NaCl

Perdarahan aktif

Endoskopi

PRC dan

elektif

factor lain jika


Perdarahan aktif,dicurigai di

dibutuhkan

SCBB

Kemungkinan perda-

lokasi perdarahan

Kolonoskopi

Rahan di SCBA

segera atau
tak teridentifikasi

scintigrafi

eritrosit +

-Endoskopi

angiografi

Endoskopi

SCBA

SCBA

Normal

-OMD

segera

follow

Lokasi perdarahan

through

-Enteroskopi

Ditemukan

Perdarahan berulang

Kauterisasi

elektrik , injeksi

Suplemen

zat sklerotik,

zat besi
perdarahan cukup

angiografi

banyak ,perlu

embolisasi

transfusi darah

Pertimbangan:

Angiografi

BEDAH

Enteroskopi

operasi

Kolektomi

pasial

IV.KESIMPULAN

Hematoschezia adalah perdarahan saluran cerna bagian bawah yang berwarna merah
segar atau merah marun, dan pendarahan ini terletak di bawah ligamentum Treitz ke anus.
Kemungkinan penyebab hematoschezia adalah divertikulosis, angiodisplasia, neoplasma,
kelainan perianal,divertikulum Meckeli, infeksi dan non-infeksi kolitis, intususepsi.
Dalam kebanyakan kasus pendarahan adalah sepele dan sebentar-sebentar, kecuali untuk
divertikulosis, yang menyebabkan pendarahan yang cukup hebat. Diagnosis dan terapi
hematoschezia bisa sebagian besar dilakukan melalui endoskopi, hanya sebagian kecil
bagian memerlukan intervensi bedah untuk diagnosis. Untuk kasus hematochezia yang
akut, diperlukan penatalaksanaan yang tepat karena perdarahan yang masif beresiko
kematian, diperlukan pantauan terus terhadap tanda-tanda vital pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Greenberger,Norton.Blumberg,Richard.Burakoff,Robert: Current Diagnosis and


Treatment Gastroenterology,Hepatology,&Endoscopy. McGraw-Hill,Lange.2009
343-351.

Kasper,Dennis.Braunwald,Eugene.Hauser,Stephen, et al.Harrisons Principles of


th
Internal Medicine, 16 edition.McGraw Hill: 235-238.
Sudoyo,Aru.Setiyohadi,Bambang.Idrus,Alwi.et al.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
Edisi 4.Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta 2006 : 289-297.
Syamsi,Rusi Muhaimin.WHO: Penggunaan Klinis Darah.EGC,Jakarta 2004:161.
Wandono,Hadi. Acta Med Indonesia Vol 39 .October - December 2007

Malueka,Rusdi Ghazali: Radiologi Diagnostik.Pustaka Cendekia


Press,Yogyakarta:2006.
http:// www.kalbe.co.id diakses tanggal 08/11/09
http://www.akademik.unsri.ac.id diakses tanggal 08/11/09
http://content.karger.com/ProdukteDB/produkte.asp diakses tanggal 09/11/09