Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kemajuan di bidang ekonomi, sosial dan teknologi, selain membawa
dampak positif juga membawa dampak negatif terhadap gaya hidup dan pola
konsumsi makanan pada masyarakat Indonesia. Ketidaktahuan dan kurangnya
pemahaman masyarakat cenderung beralih

ke makanan jadi atau siap saji.

Umumnya makanan siap saji sangat kaya lemak dan kolesterol. gaya hidup seperti
ini akan berdampak buruk bagi kesehatan dan dapat meningkatkan

risiko

munculnya penyakit degeneratif.1


Menurut WP. Castelli Framing Heart Study, sebuah proyek penelitian
epidemiologi Amerika, kolesterol merupakan unsur terpenting yang sangat
mendasar pada proses pengapuran pembuluh darah koroner dan kemungkinan
dihinggapi penyakit jantung koroner (PJK) ternyata akan menurun secara
proporsional 2% untuk setiap penurunan kolesterol 1% dari kadar semula. salah
satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler adalah kadar kolesterol tinggi
atau yang disebut hiperkolesterolemia.2
Hiperkolesterolemia mempengaruhi sekitar 20% orang dewasa diatas usia
20 tahun di amerika serikat Prevalensi tertinggi terjadi pada wanita antar usia 65
dan 74 tahun sedangkan di Indonesia berdasarkan data dari Departemen
Kesehatan prevalensi hiperkolesterolemia adalah 9,3% diantara usia 25-34 tahun
dan meningkat 15,5% diantara mereka yang berusia 55-64 tahun.3,4
Hiperkolesterolemia atau kolesterol berlebih bukanlah suatu penyakit
namun merupakan suatu gangguan metabolisme yang ditandai dengan adanya
peningkatan kadar kolesterol total dalam darah. Kolesterol merupakan senyawa

lemak kompleks yang dihasilkan oleh tubuh untuk bermacam-macam fungsi


antara lain untuk memproduksi beberapa hormon, membuat asam empedu, dan
fungsi lainnya. Dua per tiga dari seluruh kolesterol yang ada didalam tubuh
diproduksi oleh hati dan sisanya berasal dari makanan yang diserap oleh sistem
pencernaan. Selama pemasukan makanan seimbang dengan kebutuhan tubuh,
maka tidak akan memberikan pengaruh yang negatif.5
Kolesterol bisa menyerang siapa saja, bertubuh gemuk, atau bertubuh
kurus dan tidak dapat menutup kemungkinan pada usia muda. menurut American
Heart Association (AHA) orang yang tidak gampang gemuk ia kurang peduli
pada jenis makanan yang dikonsumsi kecenderungan kurang menyadari bahaya
kolesterol pada dirinya.6,7
Kolesterol harus dikontrol secara rutin, terutama apabila seseorang mulai
menginjak dewasa, karena proses ateroklerosis(proses pembentukan plak pada
pembuluh darah) sesungguhnya sudah mulai secara diam-diam sejak usia masih
muda.8
Dari uraian diatas kolesterol bisa menyerang orang yang tidak mudah
gemuk dan tidak menutup kemungkinan pada usia muda sekalipun. Untuk itu
penulis tertarik untuk melakukan penelitian melihat adanya

gambaran kadar

kolesterol total pada mahasiswa semester 7 fakultas kedokteran Umum


Universitas Samratulangi (Unsrat) dengan indeks massa tubuh (IMT) 18,5-22,9
kg/m2.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas, maka dapat
dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Bagaimana gambaran kadar

kolesterol total pada mahasiswa semester 7 fakultas kedokteran umum unsrat


dengan IMT 18,5-22,9 kg/m2.

C. TUJUAN PENELITIAN
Mengetahui gambaran kadar kolesterol total pada mahasiswa semester 7
fakultas kedokteran umum unsrat dengan IMT 18,5-22,9 kg/m2.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Memberikan informasi mengenai kadar kolesterol total pada
mahasiswa semester 7 fakultas kedokteran umum unsrat dengan
IMT 18,5-22,9 kg/m2
2. Sebagai bahan referensi atas sumber data untuk penelitian
selanjutnya
3. Menambah wawasan dan pengalaman bagi penulis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KOLESTEROL

1.

DEFINISI KOLESTEROL

Kolesterol terdapat di dalam jaringan dan lipoprotein plasma, yang bisa dalam
bentuk kolesterol bebas atau gabungan dengan asam lemak rantai-panjang sebagai
ester kolesteril. Unsur ini disentesis di banyak jaringan dari asetil-KoA dan
akhirnya dikeluarkan dari tubuh di dalam empedu sebagai garam kolesterol atau
3

empedu. Kolesterol mempunyai bermacam-macam fungsi antara lain untuk


membentuk beberapa jenis hormon, membuat asam empedu, dan fungsi lainnya.
Dua per tiga dari seluruh kolesterol yang ada didalam tubuh diproduksi oleh hati
dan sisanya berasal dari makanan yang diserap oleh sistem pencernaan.10,2
Kolesterol menjalankan tiga fungsi utama :11
1. Kolesterol membantu membentuk selubung luar sel.
2. Kolesterol membentuk asam empedu yang mencerna makanan di usus.
3. Kolesterol memungkinkan tubuh membentuk vitamin D dan hormonhormon, seperti estrogen pada wanita dan testosteron pada pria.
2.

SUMBER KOLESTEROL

Kolesterol tubuh berasal dari dua sumber, yaitu dari makanan yang disebut
kolesterol eksogen dan yang diproduksi sendiri oleh tubuh yang disebut kolesterol
endogen. Kolesterol hanya terdapat di dalam makanan asal hewan. Sumber utama
kolesterol adalah hati, ginjal, dan kuning telur. Setelah itu daging, susu penuh, dan
keju serta udang dan kerang. Ikan dan daging ayam sedikit sekali mengandung
kolesterol.12,13

Daftar makanan yang mengandung kolesterol dari per 10 gr makanan,


mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi :14
Nama Makanan (per 10 gr)
Putih telor ayam

Kolesterol (mg)
Sehat

Teripang

Sehat

Ubur-ubur

Sehat

Daging ayam pilihan tanpa kulit

50

Sehat

Daging bebek pilihan tanpa kulit

50

Sehat

Daging sapi pilihan tanpa lemak

60

Sehat

Daging babi pilihan tanpa lemak

60

Sehat

Daging kambing tanpa lemak

70

Sehat

Iga sapi

100

Sekali-sekali

Iga babi

105

Sekali-sekali

Daging sapi berlemak

125

Sekali-sekali

Daging babi berlemak

130

Hati-hati

Kepiting

150

Hati-hati

Udang

160

Hati-hati

Susu sapi

250

Berbahaya

Susu sapi cream

280

Berbahaya

Jeroan sapi

380

Berbahaya

Jeroan babi

420

Berbahaya

Kerang putih/remis/Tiram

450

Berbahaya

Terlor Ayam

500

Berbahaya

Cumi-cumi

1170

Pantang

Kuning telor ayam

2000

Pantang

Otak sapi

2300

Pantang

Otak babi

3100

Pantang

Kategori

Telor burung puyuh

3640

Pantang

Kolesterol tidak disentesis oleh tumbuhan, sayuran dan buah berperan


penting dalam diet rendah kolesterol. Diet rendah kolesterol Langkah I dan
Langkah II yang dianjurkan oleh NCEP dapat dilihat pada tabel 1.15
Tabel 1.
Terapi Diet pada Peningkatan Kolesterol Darah
Diet langkah I
<300 mg/hari
30%b

Diet langkah IIa


<200 mg/hari
30%

Lemak jenuh

8-10%

<7%

Lemak polyunsaturated

10%

10%

15%
55%
-15%
Untuk mencapai dan

15%
55%
-15%
mempertahankan berat

Zat gizi
Kolesterolb
Lemak total

Lemak monounsaturated
Karbohidrat
Protein
Kalori

tubuh ideal

Diet langkah II diterapkan apabila setelah 3 bulan mendapat diet langkah I kadar

kolesterol darah tidak turun ke tingkat yang diinginkan.


b

Kecuali angka-angka yang dicantumkan dalam mg/hari, semua angka adalah

presentase dari kalori total yang dimakan setiap hari.


6

Walaupun sebagian besar jaringan hewan dapat mensintesis kolesterol


yang diperlukan lebih besar dari kolesterol yang diperoleh dari makanan, tempat
utama pembentukan kolesterol adalah hati dan usus.15
3.

FUNGSI KOLESTEROL

Kolesterol dalam tubuh mempunyai fungsi untuk membangun dan


memperbaiki membran-membran sel, sintesa asam empedu dan vitamin D,
precusor hormone progrestine, glucocorticoidds, mincralocorticoids, androgens
dan estrogen.16
Dalam membran sel, kolesterol juga berfungsi dalam

intraseluler

transportasi, sel konduksi signaling dan saraf. Kolesterol sangat penting untuk
struktur dan fungsi invaginated caveolae dan berlapis clathrin lubang, termasuk
endositosis bergantung pada caveola dan bergantung pada clathrin. Peran
kolesterol dalam endositosis seperti dapat diselidiki oleh menggunakan metil beta
cyclodextrin (MCD) untuk menghapus kolesterol dari membran plasma.
Kolesterol juga terlibat dalam sel signaling proses, membantu dalam pembentukan
lipid membran plasma. 17
Dalam sel kolesterol adalah prekusor molekul dalam beberapa lintasan
biokimia organisme. Dalam hati, kolesterol menjadi empedu yang kemudian
disimpan dalam empedu. Empedu-empedu garam yang solubilize lemak dalam
saluran pencernaan dan membantu usus penyerapan lemak molekul serta vitamin
yang larut Vitamin A, Vitamin D, Vitamin E, dan Vitamin K. Kolesterol molekul
prekusor penting dalam vitamin D dan hormon steroid, termasuk kortisol hormon

kelenjar adrenal dan aldosteron serta progesteron hormon seks, estrogen, dan
testosteron dan turunannya.17
4. PEMBENTUKAN KOLESTEROL
Pada fase awal pembentukan kolesterol, dua molekul asetil KoA sitosol
berkondensasi membentuk asetoasetil KoA (Gbr.1). Molekul asetil KoA lainnya
berikatan dengan asetoasetil KoA membentuk HMG-KoA. Reaksi biosentesis
kolesterol berikutnya dikatalisis oleh HMG-KoA reduktase. Enzim ini mengubah
HMG-KoA menjadi mevalonat, dengan menggunakan ekivalen pereduksi yang
disediakan oleh NADPH. Disebagian besar jaringan, pembentukan kolesterol
dikontrol oleh pengaturan umpan balik; disini kolesterol, sebagai akhir jalur ini,
menekan pembentukan HMG-KoA reduktase. Di hati, kecepatan pembentukan
kolesterol jauh lebih tinggi daripada di jaringan lain karena kolesterol berfungsi
sebagai prekusor garam empedu.18
Mevalonat mengalami fosforilasi oleh ATP dan selanjutnya mengalami
dekarboksilasi untuk membentuk isopentenil pirofosfat. Unit-unit isopren ini
dapat berkondensasi membentuk kolesterol. Pada biosintesis kolesterol, unit
isopren berkondensasi membenntuk geranil pirofosfat. Terjadi penambahan satu
unit isopren lagi untuk menghasilkan farsenil pirofosfat. Kondensasi 2 farnesil
pirofosfat menghasilkan skualen, suatu senyawa yang mengandung 30 atom
karbon. Setelah oksidasi pada karbon 3, skualen mengalami siklisasi membentuk
lanosterol yang memiliki empat cincin yang membentuk inti steroid pada
kolesterol. Melalui serangkaian reaksi, terjadi pembebasan 3 dari lanosterol
sewaktu zat ini diubah menjadi kolesterol.18

Gambar.1. Pembentukan kolesterol. Semua karbon pada kolesterol berasal dari


asetil KoA.

5. TRANSPORT KOLESTEROL
Kolesterol dalam makanan diserap dari usus dan bersama dengan lipid
lain, termasuk kolesterol yang disintesis dalam usus, diinkorporasikan ke dalam
chylomicron dan VLDL. Dari kolesterol yang diserap, 80-90% di dalam getah
bening diesterifikasi dengan asam lemak berantai panjang. Bila sisa chylomicron
beraksi dengan hati, banyak dari ester kolesterilnya dihidrolisis dan kolesterol
diambil oleh hati. VLDL yang dibentuk dalam hati mengangkut kolesterol ke
dalam plasma.19

Keseimbangan ester kolesteril dengan kolesterol bebas dalam plasma


memakan waktu beberapa hari pada manusia. pada umumnya, kolesterol bebas
mudah bertukar diantara jaringan dan lipoprotein, sedangkan ester kolesteril
bertukar di antara lipoprotein lipoprotein utama hanya pada spesies (misalnya,
manusia) yang memiliki protein pemindah ester kolesteril. Sebagian besar ester
kolesteril plasma terbentuk dalam HDL, hasil reaksi transesterifikasi antara
kolesterol dan asam lemak pada posisi 2 dari fosfatidikolin, yang dikatalisis oleh
lesitin: kolesterol asiltransferase (LCAT) . sebagai

Satu fraksi HDL

mengandung struktur berbentuk cakram yang merupakan HDL jernih yang baru
terbentuk dan tidak dapat mengambil kolesterol karena tidak adanya LCAT. LDL
mengandung partikel lebih besar yang mempunyai komposisi lipid agak serupa
dengan VLDL (-VLDL). Juga terdapat sebagai subfraksi LDL abnormal, yakni
lipoprotein X, hanya ditemukan pada pasien dengan kolestasis. VLDL nya juga
abnormal, bergerak sebagai -lipoprotein pada elektroforesis.19
Dengan demikian, HDL merupakan kendaraan yang mungkin, dalam
kombinasi dengan LCAT, untuk mengangkut kolesterol, sebagai ester, dari
jaringan ekstrahepatik kembali ke hati. Sebagian dari kolesterol HDL dapat
dipindahkan ke VLDL dan chylomicron dan diolah kembali. Akhirnya. Semua
kolesterol yang ditujukan untuk dibuang dari tubuh harus memasuki hati dan
diekskresi dalam empedu, baik sebagai koelsterol maupun sebagai asam kolat
dalam garam empedu.19
B

Indeks Massa Tubuh

10

Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Massa Index (BMI) dihitung
sebagai berat badan dalam kilogram (kg) dibagi tinggi badan dalam meter
dikuadratkan (m2) dan tidak terikat pada jenis kelamin. IMT secara signifikan
berhubungan dengan kadar lemak tubuh. IMT hanya berlaku untuk orang dewasa
yang berusia 18 tahun ke atas, tidak diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil
dan olahragawan. Disamping itu pula tidak diterapkan dalam keadaan khusus
(penyakit) lainnya seperti edema, asites, dan hepatomegali.20
IMT dipakai untuk mengukur jumlah lemak tubuh secara tidak langsung,
cepat, non invasif dan murah. Dari rumus tersebut IMT lah yang paling
berkorelasi dengan jumlah lemak tubuh, sehingga patokan ini paling banyak
digunakan dalam klinik.21

Tabel 1.1.
Klasifikasi IMT penduduk Asia

11

IMT juga merupakan cara yang sederhana untuk memantau status gizi
yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang
dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan
berlebih akan meningkatkan risiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu,
mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai
usia harapan hidup yang panjang.22

12

DAFTAR PUSTAKA
1. Badrialaily. Studi tentang pola konsumsi serat pada mahasiswa.
[skripsi]. Bogor: INSTITUT PERTANIAN BOGOR;2004
2. Listian L, Purbosari TY. Kadar Kolesterol Total Pada Usia 25-60
Tahun. Electronic Journal UMSurabaya
3. Wellness:
http://www.wellness.com/reference/conditions/highcholesterol
4. Sukmaniah S, Bardosono S, Oetoro S, Permadhi I, Lestarina L. The
effect of phytosterol in low fat milk on serum lipid levels among mildmoderately hypercholesterolemic subjects. Medical Journal of
Indonesia. 2008; 17 : 6.
5. Brata H.W. Hubungan pola makan, obesitas, keteraturan berolahraga
dan kebiasaan merokok dengan kejadian hiperkolesterolemia. Unismus
Digital Library. 2010; 15:24:52-1-2
6. Prakoso R.A. Awas Kolesterol. Yogyakarta: Aulya Publishing; 2012.
40
7. Pfizer

Ring

peduli

koletserol

http://www.pedulikolesterol.com/kontrolkolesterol/gayahidupread.php
?id=9720110712145430055044500377
8. Stapleton PA, Goodwill AG, James ME, Brock

RW, Frisbee JC.

Hypercholesterolemia and microvascular dysfunction: interventional


strategis. Journal of Inflamation. 2010; 7:54 -1
9.
13

10. Mayes PA.Sintesis,pengangkutan,dan ekskresi kolesterol.In:Murray


RK,Granner DK,Mayes PA,Rodwell VW,editors.Biokimia Harper.
Edisi 25. Jakarta:Buku kedokteran EGC;2001.270
11. Freeman MW,Junge C. Memahami kolesterol.Kolesterol rendah
jantung sehat.Jakarta:Bhuana ilmu populer;2008.2
12. Rahmat D, Wiradimadja. Pendugaan kadar kolesterol daging danm
telur berdasarkan kadar kolesterol darah pada puyuh jepang. Jurnal
ilmu ternak. 2011;11:35.
13. Sukeksi A,Anggraini H. Kadar kolesterol darah pada penderita obesitas
di kelurahan korpri sambiroto semarang. Jurnal ilmu kesehatan.
2009;2:27
14. Fitnella V. Awas,bahaya
books;2009.49-51.
15. Marks
DB,Marks

laten
AD,Smith

kolesterol.Yogyakarta. In azna
CM.Biokimia

kedokteran

dasar.Indonesia.Buku kedoktean EGC;2012.516.


16. Anonim : http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtptunimus-gdlsitimasrip-5300-2-bab2.pdf
17. News medical : http://www.news-medical.net/health/CholesterolPhysiology-(Indonesia).aspx
18. Marks
DB,Marks
AD,Smith

CM.Biokimia

kedokteran

dasar.Indonesia.Buku kedoktean EGC;2012.516-18


19. Mayes PA.Meatabolisme lipid II.peranan
jaringan.In: Mayes
PA,Granner DK, Rodwell VW,Martin DW,editors. Biokimia Harper.
Edisi 20. Indonesia:Buku kedokteran EGC;1987.281-282
20. Anonim. Indeks massa tubuh.
http://www.lontar.ui.ac.id/file?
21.

file=digital/126760-S-5637-Hubungan%20indeks-Literatur.pdf
Anonim. Korelasi antara derajat perlemakan hati berdasarkan
ultrasonografi dengan indeks massa tubuh dan profil enzim hati.
http://118.97.33.150/jurnal/files/f02dc054f5981a9bdbaa348b5a5cd670.
pdf

14

22. Ristianingrum I, Rahmawati I, Rujito L. Hubungan antara indeks


massa tubuh dengan tes fungsi paru. Mandala of health. 2010;4:105-06

15