Anda di halaman 1dari 93

http://alifaprilia.blogspot.com/2012/09/makalah-bimbingan-dan-konselingbelajar.

html
https://katresna72.wordpress.com/2010/09/11/download-gratis-kumpulanmakalah-bk/(fokus)
http://www.ziddu.com/download/8103677/KASSERTIVETRAININGUNTUKMENG
ATASIKETAKBERDAYAANDIRI.zip.html
http://downloads.ziddu.com/download/8103675/kusResolusiKonflikAntarTema
nSebayadiKalanganRemaja.zip.html/eng

Mario Haling
* Yang MemBuat_u T'senyum & m'nangis kRn_a Adalah
Amazing Yang Terbaik UntukMU *
Jumat, 28 September 2012

Makalah Bimbingan dan Konseling Belajar

Kata Pengantar
Puji syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmatnya kepada kami,
sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Tema makalah kami kali ini adalah Bimbingan dan Konseling belajar dimana di dalamnya
terdapat berbagai halyang berhubungan erat dengan Bimbingan Konseling diantaranya,
pengertian belajar, kesulitan belajar, diagnosis dan identifikasi masalah belajar, bimbingan
terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar dan sebagainya.
Harapan kami makalah ini dapat memberikan informasi untuk semua pihak, dan melalui kata
pengantar ini kami lebih dulu mohon maaf apabila dalam makalah ini ada yang salah atau kurang
tepat di hati pembaca. Kami sadar makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun selalu kami harapkan.
Akhir kata, kami sampaikan banyak terima kasih, semoga Allah SWT memberkahi usaha kita
semua dan memberikan manfaat. Amin

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman judul
Kata Pengantar01
Daftar Isi.02
A.Pendahuluan..03
B.Pembahasan...04
Bagian I...04
Bagian II.07
Bagian III...10
Bagian IV...12
Bagian V.17
Bagian VI....20
Bagian VII..27
Bagian VIII.31
C.Penutup35

A. PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Manusia adalah makhluk individu dan sosial yang
memiliki
kelemahan
dan kelebihan.Selain itu, manusia tidak dapat hidup dan tidak berdaya tanpa bantuan oang
lain. Bantuan yang diberikan oleh manusia lain itu sebagai perwujudan bahwa manusia adalah
makhluk sosial. Bermacam-macam cara yang dilakukan oleh masing-masing individu dalam
membantu individu lainnya. Misalnya para guru membantu para orang tua dalam mendidik
anaknya. Anak berperansebagai peserta didik sehingga setiap guru harus mempunyai tanggung

jawab untuk ikut berperan dalam membentuk kepribadian yang lebih baik dan mengajarkan ilmu
agar kelak dapat menjadi insan yang berintelektual dan berguna bagi keluarga dan lingkungan
sekitarnya. Meskipun peran guru ini sebenarnya bukan komponen utama dalam menentukan
kepribadian peserta didiknya.
Buchori (1982:92) mengungkapkan kepribadian berarti integrasi dari seluruh sifat
seseorang baik sifat-sifat yang dipelajarinya maupun sifat-sifat yang diwarisinya, yang
menyebakan kesan yang khas, unik pada orang lain.
Oleh karena itu dalam belajar dan bimbingan konseling ini di butuhkan berbagai faktor
yang harus di mengerti oleh pendidik. Dan untuk itu juga disini kami ingin memberikan sedikit
informasi mengenai berbagai hal yang ada dalam proses Bimbingan dan Konseling belajar

B. PEMBAHASAN
Bagian I

A. Pengertian belajar, hakikat bimbingan dan belajar


Belajar adalah sebuah proses yang menjadikan perubahan kepribadian manusia,
dimana perubahan tersebut dapat dilihat dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah
laku. Misalnya, dalam ilmu pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya fikir,
dan kemampuan-kemampuan yang lain.
Sementara itu, ada juga yang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah
mencari ilmu, ada juga yang mengartikan belajar dengan istilah menyerap pengetahuan, dalam
hal ini perlu dipertanyakan, Apakah pola belajar yangseperti itu bisa membuat seseorang menjadi
tumbuh dn berkembang ? Atau hanya mampu menyerap dan merafalkannya saja tanpa tahu arti
dari hal yang dipelajarinya secara jelas ?
Tidak sedikit juga yang memformulasikan dengan arti yang berbeda-beda karena adanya
kenyataan bahwa perbuatan belajar itu sendiri bermacam-

macam.
ahli di bawah ini :

Sebagaimana definisi baelajar menurut para

* Winkel : Belajar adalah suatu aktivitas mental / psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilakn perubahan - perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan sikap-sikap.
*Nasution : Belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan.
*Ernest H. Hilgard : Belajar adalah dapat melakukan sesuatu yang dilakukan
sebelum ia belajar atau bila kelakuannya berubah sehingga lain caranya menghadapi sesuatu
situasi daripada sebelum itu.
*Ahmadi A. : Belajar adalah proses perubahan dalam diri manusia.
*Oemar H. : Belajar adalah bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang
yang dinyatakan dalam cara-cara berperilaku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
* Cronbanc : Belajar sebaik-baiknya adalah dengan mengalami dan dalam mengalami
itu menggunakan panca indranya.
*Noehi Nasution : Belajar adalah suatu proses yang memungkinkan timbulnya
atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil terbentuknya respon utama, dengan syarat
bahwa perubahan atau munculnya perilaku baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan
atau adanya perubahan sementara karena suatu hal.
*Snelbecker : Belajar adalah harus mencakup tingkah laku dari tingkat yang paling
sederhana sampai yang kompleks dimana proses perubahan tersebut harus bisa dikontrol sendiri
atau dikontrol oleh faktor-faktor eksternal.
*Witerington

: Belajar

adalah

suatu

proses

perubahan

dalam kepribadian

sebagaimana dimanifestasikan dalam perubahan penguasaan pola-pola respontingkah laku yang


baru nyata dalam perubahan ketrampilan, kebiasaan, kesanggupan, dan sikap.
Berdasarkan definisi-definisi belajar diatas, maka dapat di simpulkan bahwa secara umum
belajar dapat di pahami sebagai tahapan perubahan tingkah laku yang relative menetap dan
terjadi sebagai hasil pengalaman dan interaksi yang disebabkan adanya latihan.
Sedangkan hakikat bimbingan dan belajar itu sendiri adalah bagian dari proses
pembelajaran yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan pemikiran atas

kekuatannya dalam menentukan dan mengarahkan kehidupannya, yang pada akhirnya dapat
memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam
masyarakat.

Sama halnya dengan belajar, bimbinagn juga mempunyai banyak definisi menurut para ahli
antara lain :
* Crow&Crow, 1960 : Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang, baik lakilaki atau perempuan, yang memiliki kepribadian yang memadai dan terlatih dengan baik kepada
individu-individu setiap manusia untuk membantunya mengatur kegiatan hidupnya sendiri,
mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan sendiri, dan menanggung
bebannya sendiri.
* Shrtzen dan Stone, 1981, : Guidance is the process of helping individuals to understan
themselves and their world. Menurut definisi tersebut, bimbingan diartikan sebagai proses
membantu perorangan untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya.
* Frank Parson,1951 : Merumuskan pengertian bimbingan dalam beberapa aspek yakni
bimbingan diberikan kepada individu untuk memasuki suatu jabatan dan mencapai kemajuan
dalam jabatan. Pengertian ini masih sangat spesifik yang berorientasi karir.
* Bernad & Fullmer,1969 : Bimbingan dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri
individu. Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri
dengen lingkungannya.
* Mathewson,1969 : Bimbingan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankan
proses belajar yang sistematik dan sebagai pendidikan dan pengembangan yang menekankan
sebagai bentuk pendidikan dan pengembangan diri, tujuan yang diinginkan diperoleh melalui
proses belajar.
Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli maka dapat diambil
kesimpulan tentang pengertian bimbingan yang lebih luas, adalah Suatu proses pemberian
bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis, yang dilakukan oleh seorang ahli
yang telah mendapat latihan khusus untuk itu, dimaksudkan agar individu dapat memahami
dirinya, lingkungannya serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan

untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan
kesejahteraan masyarakat.
Bagian II
B. Masalah-masalah belajar dan kesulitan belajar.
Dalam melakukan sebuah proses pembelajaran tentu saja tidak hjarang kita
mengalami kesulitan dalam belajar, pada dasarnya kesulitan belajar tidak hanya dialami oleh
siswa yang berkemampuan belajar rendah, tapi juga siswa yang berkemampuan tinggi dan ratarata (normal). Hal itu disebabkan oleh factor-faktor tertentu dalam mencapai hasil yang sesuai
dengan harapan, dalam referensi lain jugan dijelaskan kesulitan belajar adalah suatu kondisi
dimana dalam proses belajar itu di tandai hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai
hasil yang sesuai dengan target masing-masing individu.
Masalah kesulitan belajar ini tentunya disebabkan berbagai faktor diantaranya :
A. Faktor Intern yaitu faktor yang ada di dalam diri siswa yang meliputi :
a. Faktor fisiologi yaitu factor fisik dari siswa itu sendiri misalnya sakit atau cacat tubuh.
b. Faktor psikologis yaitu berbagai hal yang berkenaan dengan berbagai perilaku yang di butuhkan
dalam belajar misalnya kesiapan, ketenangan, rasa aman, selain itu yang juga termasuk dalam
factor psikologis adalah IQ yang dimiliki oleh siswa. Siswa yang memiliki IQ cerdas (110
140 ) atau genius (diatas 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran dengan cepat.
Sedangkan siswa yang tergolong IQ sedang (90 110) tidak terlalu memiliki masalah walaupun
pencapaiannya tidak terlalu tinggi. Sementara siswa yang memiliki IQ dibawah 90 atau bahkan
60 tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar, untuk itu maka orang
tua serta guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki siswa didiknya.

B. Faktor Ekstern yaitu dari luar diri siswa yang meliputi :


a. Faktor-faktor sosial yaitu cara mendidik orang tua ketika berada dirumah. Anak-anak yang tidak
mendapatkann perhatian cukup tentu akan berbeda dengan anak-anak yang mendapatkan
perhatian cukup atau bahkan lebih dari lingkungan keluarganya. Hal itu juga mempengaruhi
potensi belajar anak.
b. Faktor Non sosial misalnya faktor guru di sekolah, alat-alat pembelajaran, kondisi kelas serta
kurikulum pembelajaran dan beberapa faktor lain yang terdapat pada literature dan hasil riset
( harwell 2001) yaitu :
1. Faktor keturunan/bawaan.
2. Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau premature.

3. Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu
yang merokok, menggunakan obat-obatan (drugs), atau meminum alkohol
selama masa kehamilan.
4. Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma
kepala, atau pernah tenggelam.
5. infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan
kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah.
6.
Awal
masa
kanak-kanak
yang
sering
berhubungan
dengan
aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya.
Riset menunjukkan bahwa apa yang terjadi selama tahun-tahun
awal kelahiran sampai umur 4 tahun adalah masa-masa kritis yang penting
terhadap pembelajaran ke depannya. Stimulasi pada masa bayi dan kondisi
budaya juga mempengaruhi belajar anak. Pada masa awal kelahiran samapi
usia 3 tahun misalnya, anak mempelajari bahasa dengan cara mendengar
lagu, berbicara kepadanya, atau membacakannya cerita. Pada beberpa
kondisi, interaksi ini kurang dilakuan, yang bisa saja berkontribusi terhadap
kurangnya kemampuan fonologi anak yang dapat membuat anak sulit
membaca.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah kondisi
dimana anak dengan kemampuan IQ rata-rata / diatas rata-rata namun
memiliki ketidakmampuan / kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan
hambatan dalam proses presepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta
pemusatan perhatian, penguasaan diri dan fungsi IQ sensori motorik.
Hal ini merupakan masalah yang cukup kompleks yang sering membuat para
orang tua binggung mencari jalan keluarnya, untuk itu di perlukan
kesiagaaan dalam mengatasi berbagai hal yang bisa saja terjadi pada siswa.
Masalah disiplin juga tidak kalah pentingnya. Anak-anak
seharusnya sejak kecil sudah harus di tanamkan jiwa disiplin. Jika tidak,
sangat menentukan perkembangan karakter anak tersebut. Dalam
kebudayaan Bugis - Makassar ada istilah macangga-cangga atau
memandang enteng persoalan. Sering menunda-nunda jadwal belajar. Dalam

menghadapi perilaku anak seperti ini, hendaknya tidak mudah iba / kasihan
sehingga mengambil alih tugas anak, akan tetapi sebagai orang tua kita
harus mengajarkan kedisiplinan kepada anak semacam itu, agar dia tidak
memudahkan hal-hal yang seharusnya dia lakukan sendiri.

Bagian III
C. Latar belakang masalah atau kesulitan belajar.
Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari nenurunya
kinerja akademik atau belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan denga
munculnya kelainan perilaku (Misbehavior) siswa seperti kesukaan berteriak di dalam kelas,
megusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah dan sering keluar saat jam pelajaran
berlansung.
Dalam kegiatan pembelajaran, kita juga seringkali di hadapkan dengan sejumlah karakteristik
siswa yang beraneka ragam, antara
lain :

Menurut Eysenck 1964 (dalam Buchori 1982) menyatakan tipe kepribadian dibagi menjadi tiga,
yaitu:

a.

Kepribadian Ekstrovert: dicirikan dengan sifat sosiabilitas, bersahabat, menikmati kegembiraan,


aktif bicara, impulsif, menyenangkan spontan, ramah, sering ambil bagian dalam aktivitas
social.
b. Kepribadian Introvert: dicirikan dengan sifat pemalu, suka menyendiri, mempunyai kontrol diri
yang baik.
c. Neurosis: dicirikan dengan pencemas, pemurung, tegang, bahkan kadang-kadang disertai dengan
simptom fisik seperti keringat, pucat, dan gugup.
Menurut Mahmud 1990 (dalam Suadianto 2009) menyatakan kepribadian terbagi menjadi dua
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

belas kepribadian, yang meliputi kepribadian sebagai berikut:


Mudah menyesuaikan diri, baik hati, ramah, hangat VS dingin.
Bebas, cerdas, dapat dipercaya VS bodoh, tidak sungguh-sungguh, tidak kreatif.
Emosi stabil, realistis, gigih VS emosi mudah berubah, suka menghindar (evasive), neurotik.
Dominat, menonjolkan diri VS suka mengalah, menyerah.
Riang, tenang, mudah bergaul, banyak bicara VS mudah berkobar, tertekan, menyendiri
Sensitif, simpatik, lembut hati VS keras hati, kaku, tidak emosional.
Berbudaya, estetik VS kasar, tidak berbudaya.
Berhati-hati, tahan menderita, bertanggung jawab VS emosional, tergantung, impulsif, tidak
bertanggung jawab.
Petualang, bebas, baik hati VS hati-hati, pendiam, menarik diri.
Penuh energi, tekun, cepat, bersemangat VS pelamun, lamban, malas, mudah lelah.
Tenang, toleran VS tidak tenang, mudah tersinggung.
Ramah, dapat dipercaya VS curiga, bermusuhan.

Tetapi, umumnya manusia mempunyai tipe campuran atau kombinasi antara ekstrovert dan
introvert yang disebut ambivert.
Pada periode anak sekolah, kepribadian anak belum terbentuk sepenuhnya seperti orang dewasa.
Kepribadian mereka masih dalam proses pengembangan. Wijaya (1988) menyatakan
karakteristik anak secara sederhana dapat dikelompokkan atas:
1. Kelompok anak yang mudah dan menyenangkan.
2. Anak yang biasa-biasa saja.
3. Anak yang sulit dalam penyesuaian diri dan sosial, khususnya dalam melakukan kegiatan
pembelajaran di dekolah..
Melalui beberapa teori diatas, kita dapat mencari tahu bagimana dan seperti apa karakteristik
anak didik kita sehingga kita bisa dengan mudah mengambil tindakan dan metode apa yang kita
gunakan dalam melakukan pembelajaran.

Bagian IV
D. Diagnosis & identifikasi siswa yang mengalami masalah belajar / kesulitan belajar.
Pada dasarnya belajar adalah usaha aktif seseorang untuk memperoleh sesuatu
sehingga terbentuk perilaku baru menuju arah yag lebih baik. Tapi kenyataannya para pelajar
sering kali tidak mampu mencapai tujuan belajarnya sehingga membuatnya merasa gagal dan
frustasi atas potensi diri yang dimilikinya, dan pada akhirnya menimbulkan masalah bagi
perkembangan pribadinya. Sementara itu dalam menghadapi masalah adakalanya siswa
cenderung tidak bisa menyelesaikannya sendiri, atau bahkan tidak tahu pasti dimana pokok
masalah yang sebenarnya ia hadapi. Adapula yang tampak seolah-olah tidak mempunyai
masalah, tapi sebenarnya dia mampunyai masalah yang cukup berat. Biasanya hal ini terjadi
pada siswa yang cenderung menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Disinilah sekolah berperan
penting untuk membantu menyelesaikan masalah anak dididknya. Sesuai yang diketahui sekolah
sebagai lembaga pendididkan formal sekurang-kurangnya harus memiliki 3 fungsi utama yaitu :
a.

Fungsi pengajaran yakni membantu siswa dalam memperoleh kecakapan di bidang pengetahuan
dan ketrampilan.
b. Fungsi administrasi yaitu segenap proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik
personal, spiritual maupun material yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan
disekolah sepertipelaksanaan pengelolaan pendidikan di sekolah sehingga kita mengenal adanya
administrasi Sekolah Dasar, Lanjutan, Perguruan Tinggi dan sebagainya, diantaranya
kepemimpinan Kepala Sekolah, Supervisi dan sebagainya.
c. Fungsi pelayanan siswa yakni memberikan bantuan khusus untuk memperoleh pemahaman diri,
pengarahan, dan integrasi social yang lebih baik untuk menyesuaikan diri dengan pribadi
maupun lingkungannya. Dan setiap fungsi pendididkan itu pada dasarnya bertanggung jawab
terhadap proses pendididkan pada umumnya.

Diagnosis merupakan istilah teknis yang diambil dari bidang medis.


Menurut Thorndike dan Hagen (Abin Syamsudin, 2000: 307), diagnosis diartikan sebagai:
1. Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang
dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejalagejalanya(symptons).
2. Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik
atau kelemahan-kelemahan dan sebagainya yang esensial.
3. Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang seksama atas gejala-gejala
atau fakta tentang suatu hal.
Dari pengertian di atas, terlihat bahwa dalam pekerjaan mendiagnosis bukan hanya
mengidentifikasi jenis, karakteristiknya dan latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit
tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan
menyarankan tindakan pemecahannya.
Sedangkan kesulitan belajar siswa sendiri mencakup pengetian yang luas,
diantaranya :
(a) learning disorder;
(b) learning disfunction;
(c) underachiever;
(d) slow learner,
(e) learning diasbilities.
Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar
seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang
mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya
terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga
hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa
yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya,
mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan
lemah-gemulai.
2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa
tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan
adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya.
Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok
menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka
dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.

3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi
intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.
Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan
tergolong sangat unggul (IQ = 130 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja
atau malah sangat rendah.
4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar,
sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain
yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa
tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi
intelektualnya.
Bila diamati, ada sejumlah siswa yang mendapat kesulitan dalam mencapai
hasil belajar secara tuntas dengan variasi dua kelompok besar. Kelompok pertama merupakan
sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan, akan tetapi sudah hampir
mencapainya. Siswa tersebut mendapat kesulitan dalam menetapkan penguasaan bagian-bagian
yang sulit dari seluruh bahan yang harus dipelajari.
Kelompok yang lain, adalah sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat
ketuntasan yang diharapkan karena ada konsep dasar yang belum dikuasai. Bisa pula ketuntasan
belajar tak bisa dicapai karena proses belajar yang sudah ditempuh tidak sesuai dengan
karakteristik murid yang bersangkutan. Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak
sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara
menyeluruh.
Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat
rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami,
mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.
Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas
akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek
psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi
gejala kesulitan belajar, antara lain :
1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh
kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada
siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari
kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.

4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpurapura, dusta dan sebagainya.
5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak
mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau
mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah
tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu.
Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau
menyesal, dan sebagainya.

Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga
mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai
tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :
1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat
keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran
tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran
tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat
digolongkan ke dalamunder achiever.
3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai
prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke
dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi
pengulang (repeater)
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan
belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat
ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar.

Bagian V
E. Bimbingan / Bantuan Terhadap Siswa Yang Mengalami Masalah Belajar / Kesulitan
Belajar.
Siswa yang hadir di sekolah untuk memperoleh layanan pembelajaran terdiri dari
beragan jenis keunggulan dan permasalahan. Setiap siswa ini, memiliki kemampuan atau
kelebiahan yang berbeda beda begitu pula dengan kekurangan atau ketidakmampuannya. Dari
berbagai kekurangan atau ketidakmampuan yang menjadi masalah bagisiswa salah satunya
adalah kesulitan untuk belajar, jangankan anak berbakat atau berpotensi, anak bodohpun
membutuhkan atau lebih membutuhkan seseorang yang data memahami serta menghargai
kekurangan atau ketidakmampuannya, atau orang yang mampu memecahkan masalahnya itu.
Hal ini dikarenakan karena sifat dasar anak berbeda beda, baik tempramennya, gesca, sikap,
maupun emosinya. Begitu juga dengan siswa yang kesulitan belajar, akan berbeda dengan anak
yang normal lainnya dan begitu jelas.
Bimbingan belajar merupakan bagian yang sangat penting dalam kegiatan belajar
mengajar dengan tujuan agar siswa dapat memahami diri sendiri, mampu mengatasi masalah/
kesulitan yang dialami siswa tersebut, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan
dapat menyalurkan potensi yang dimilikinya. Alasan pemberian bimbingan belajar karena
kesulitan dalam belajar itu termasuk dalam masalah pribadi yang dapat menghambat tujuan
pembelajaran.
Pemberian bimbingan belajar siswa, guru perlu memperhatikan hal-hal yang melatar belakangi
siswa mengalami kesulitan belajar. Namun dalam praktiknya guru dalam mengatasi kesulitan
belajar siswa hanya mengulangi materai yang pernah diajarkan, belum dikuasai siswa dan tidak
melihat penyebab utama siswa tidak menguasai materi pelajaran itu. Kondisi ini berakibat pada
pemecahan kesulitan belajar anak tidak dapat terselesaikan dengan baik. Salah satu langkah awal
dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut adalah dengan mencari penyebab kesulitan belajar
yang dialami siswa mencari solusi pemecahan yang tepat dan mengambil tindakan yang tepat
untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami siswa tersebut.

Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu kegiatan yang prosesnya rumit, karena tidak
sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan

yang harus dilakukan terutama bila 2diinginkan hasil belajar yang lebih baik. Salah satu cara
meningkatkan hasil belajar adalah mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.
Mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa melalui pemberian
bimbingan belajar merupakan bagian tugas guru sebagai pendidik. Hal ini
sejalan dengan Fetty Kartikawati (1977) mengemukakan bimbingan adalah
suatu proses pemberitahuan yang terus menerus dan sistematis dari
pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam
pemahaman diri, Penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri
dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri
dengan lingkungan, secara umum, anak/siswa yang kesukitan belajar atau
siswa yang mengarah kepada siswa bodoh dapat diartikan sebagai anak
yang mempunyai masalah kelemahan atau kekurangan dalam hal berpikir
atau intelegensinya kurang.
Betapapun pentingnya bimbingan harus diberikan kepada siswa
tertentu, karena tugas utama seorang guru harus berpase pada
terselenggaranya Proses Belajar Mengajar (PBM). Oleh karena itu sejumlah
kemungkinan layanan bimbingan hanya beberapa saja yang benar-benar
berkaitan secara langsung dengan PBM, tugas lainnya merupakan kompetnsi
dari layanan khusus bimbingan dan pelayanan di sekolah. Kegiatan
bimbingan itu berjalan paralel dan berdampingan serta berurutan logis
dengan kegiatan Evaluasi dan Pengajaran dalam kerangka suatu pola PBM
yang lengkap.
Adapun beberapa Metode yang digunakan dalam bimbingan ini,
antara lain:
a.Observasi (pengamatan)
Observasi yakni teknik atau cara mengamati suatu keadaan atau suatu
kegiatan (tingkah laku) anak di kelas. Karena sikapnya mengamati, maka alat
yang cocok untuk teknik ini adalah Panca Indra penglihatan yang memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Dilakukan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu.
2. Direncanakan secara sistematis.
3. Hasil yang dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan.
4. perlu diperiksa ketelitiannya.
Teknik observasi ini dapat dikelompokan kedalam beberapa jenis, yaitu:
1.Observasi Sehari-hari, saat kita melakukan Proses Belajar Mengajar.

2.Observasi Sistematis
3.Observasi Partisipatif
4.Observasi Nonpartisipatif
b. Dokumentasi
Dokumentasi ini meliputi Lapor dan Buku Leger karena kita bisa tahu
perkembangan anak dari hasil catatan guru selama Proses Belajar Mengajar
di nilai anak yang mengalami kelemahan atau ketidak mampuan (anak
bodoh) akan menunjukan tingkat prestasi yang jauh tertinggal dari anakanak normal lainnya. Tapi disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak.
c. Wawancara
Wawancara merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan informasi melalui
komunikasi langsung dengan sesponden (orang yang diminta informasi) atau
orang yang bersangkutan dengan bimbingan.

Bagian VI
F. Keterampilan dalam memecahkan kasus / kesulitan belajar.
Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan
sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat
menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami
kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam
belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan
oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan

dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada


akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di
bawah semestinya. Dan untuk itu kita sebagai pendidik harus mempunyai
keterampilan dalam memecahkan masalah kesulitan belajar anak didik kita,
agar masalah tersebut tidak semata-mata menjadi beban bagi anak didik
dan juga kita sebagai pengajar.
Hal ini dapat ditempuh
melalui berbagai cara antara lain :
a. Menerapkan Model Pembelajaran yang menyenangkan.
Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E.
Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap
sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)
(2)
Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative
Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5)
Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction).
Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut
(1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)
Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa
disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada
keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata,
sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan
kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan


kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai
sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya
menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur
lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik
belajar.
Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan
lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual,
yaitu :

1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik
2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari
umum ke khusus)
3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep sementara;
(b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain; dan (c)
merevisi dan mengembangkan konsep.
4. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
(2) . Bermain Peran (Role Playing)
Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang
diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan
hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang
menyangkut kehidupan peserta didik.
Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi,
kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu
kejadian Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi
hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan
mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat
mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai
strategi pemecahan masalah.

(3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)


Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)
merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara
aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Dengan
meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator
pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan
mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan

kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal
yang menguntungkan peserta didik.
Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur
berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.


Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan
Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.
Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.
(4) Belajar Tuntas (Mastery Learning)
Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua
peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang
maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik
memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus
dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi
pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan
bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap
peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan
pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan
pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan
belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan
setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar
melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para
peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan
dasar untuk memperoleh balikan (feedback). Tujuan utama evaluasi adalah
memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan
oleh peserta didik.
Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan dalam hal apa
para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan,
sehinga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan ,dan menguasai bahan
belajar secara maksimal (belajar tuntas).

Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas
dalam hal berikut :
(1) pelaksanaan tes secara teratur untuk
memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk
mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress
test);
(2) peserta didik baru dapat
melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai
bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang
ditentukan;
(3) pelayanan bimbingan dan konseling
terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh,
melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).
Di samping implementasi dalam pembelajaran secara klasikal, belajar
tuntas banyak diimplementasikan dalam pembelajaran individual. Sistem
belajar tuntas mencapai hasil yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah
media, baik hardware maupun software, termasuk penggunaan komputer
(internet) untuk mengefektifkan proses belajar.
(5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)
Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan
bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah
untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman
penggunaannya untuk para guru. Pembelajaran dengan sistem modul
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa
yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar apa yang
harus digunakan.
2. Modul meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak
mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus : (1) memungkinkan peserta didik
mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik
mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada
tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.

3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan
pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk

melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar tapi lebih dari itu,
modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi dan berdiskusi.
4. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat
menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak menimbulkan
pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.
5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik,
terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.
Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan
beberapa komponen, diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2)
lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan
(6) kunci jawaban.
Komponen-komponen tersebut dikemas dalam format modul, sebagai
berikut :
1. Pendahuluan; yang berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal yang harus
dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.
2. Tujuan Pembelajaran; berisi tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai peserta didik,
setelah mempelajari modul. Dalam bagian ini dimuat pula tujuan terminal dan tujuan akhir, serta
kondisi untuk mencapai tujuan.
3. Tes Awal; yang digunakan untuk menetapkan posisi peserta didik dan mengetahui kemampuan
awalnya, untuk menentukan darimana ia harus memulai belajar, dan apakah perlu untuk
mempelajari atau tidak modul tersebut.
4. Pengalaman Belajar; yang berisi rincian materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus, diikuti
dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta didik tentang tujuan belajar yang
dicapainya.
5. Sumber Belajar; berisi tentang sumber-sumber belajar yang dapat ditelusuri dan digunakan oleh
peserta didik.
6. Tes Akhir; instrumen yang digunakan dalam tes akhir sama dengan yang digunakan pada tes
awal, hanya lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul.
Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah
mengorganisasikan dan mengatur proses belajar, antara lain : (1)
menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu peserta didik
yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan
tugas; (3) melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik.

Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya


strategi Pembelajaran Inkuiri.
Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan
secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki
sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis,
analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan
penuh percaya diri.
Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi- kondisi umum yang
merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa,
yaitu :
a. aspe
k sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang
mengundang siswa
berdiskusi;
b. berfokus pada hipotesis yang
perlu diuji
kebenarannya;
c. penggunaan
fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan
validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam
pengujian hipotesis,
Proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah; kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah; (b)
melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah.
2. Mengembangkan hipotesis; kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini
adalah : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan
merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan merumuskan
3. Menguji jawaban tentatif; kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit peristiwa, terdiri dari :
mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data; (b)
menyusun data, terdiri dari : mentranslasikan data, menginterpretasikan data dan
mengkasifikasikan data.; (c) analisis data, terdiri dari : melihat hubungan, mencatat persamaan
dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan keteraturan.

4. Menarik kesimpulan; kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan;
dan (b) merumuskan kesimpulan
5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi

Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan


sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat
membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi
kemudahan bagi kerja kelompok.
Dari berbagai uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kesulitan dalam
pembelajaran atau belajar merupakan suatu hal yang sering ditemui oleh
para pendidik, terutama guru. Sebagai upaya untuk memberikan terapi
terhadap permasalahan kesulitan belajar maka dapat ditempuh melalui
berbagai media diantaranya media pembelajaran dan pembelajaran lain,.
Metode dan media pembelajaran ini juga berfungsi sebagai wadah bagi guru untuk
melakukan serangkaian upaya untuk anak didiknya seperti kegiatan refleksi, penemuan masalah,
pemecahan masalah melalui beragam strategi untuk meningkatkan keterampilan dalam
mengelola pembelajaran.

Bagian VII
G. Peran Bimbingan dan Konseling dalam mengatasi kesulitan belajar.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan
bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,

bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Bimbingan dan konseling merupakan suatu program yang terintegrasi dalam keseluruhan
proses
pembelajaran.
Kegiatan
bimbingan
dan
konseling
pada
dasarnya adalah usaha sadar yang dilakukan oleh guru pembimbing bersama siswanya
untuk mencapai kemandirian dalam keseluruhan proses kehidupan, baik sebagai individu,
anggota kelompok,keluarga atau masyarakat pada umumnya. Banyaknya terjadi kasuskasus menyimpang dari aturan sekolah yang berlaku, yang disebabkan oleh factor-faktor dari
dalam maupun dari luar. Artinya baik masalah yang datang atau timbul dari sokolah itu sendiri
maupun
dari
luar
sekolah ,
seperti keluarga masyarakat ,
maupun lingkungannya itu sendiri. Jadi kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru
pembimbing serta staf staf yang ada disekolah tidak mampu mengatasi itu semua.
Jadi disini di butuhkan atau dihadirkan seorang guru yang bisa mengatasi itu semua.
Dimana guru tersebut telah memenuhi kriteria, dan keahlian dalam bidang tersebut yaitu
mengatasi masalah siswa nya.

Dalam hal ini Bimbingan dan Konseling dapat memberikan layanan dalam :
(a) bimbingan belajar, (b) bimbingan sosial, (c) bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah
pribadi.
a. Bimbingan belajar
Bimbingan ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan
kegiatan belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah. Bimbingan ini antara lain meliputi:
1. Cara belajar, baik secara kelompok ataupun individual
2. Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar
3. Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran
4. Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu
5. Cara, proses dan prosedur tentang mengikuti pelajaran

Di samping itu Winkel (1978) mengatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling
mempunyai peranan penting untuk membantu siswa, antara lain dalam hal:
1. Mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka lagi
mereka, baik sekarang maupun yang akan datang
2. Mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajarnya. Misalnya masalah hubungan
muda-mudi, masalah ekonomi, masalah hubungan dengan orang tua/keluarga dan
sebagainya.
b. Bimbingan sosial
Dalam proses belajar dikelas siswa juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan
kelompok. Bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam memecahkan dan
mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan masalah sosial, sehingga terciptalah
suasana belajar mengajar yang kondusif. Menurut Abu Ahmadi (1977) bimbingan sosial ini
dimaksudkan untuk :
1. Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuai.
2. Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai.
3. Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah tertentu.
c.

Bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi


Bimbingan dimaksudkan untuk membantu siswa dalam mengatasi masalah-masalah
pribadinya, yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Siswa yang mempunyai masalah dan
belum dapat diatasi/ dipecahkannya, akan cenderung mengganggu konsentrasinya dalam belajar,
akibatnya prestasi belajar yang dicapai rendah. Dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C
tentang pedoman bimbingan dan penyuluhan. Menurut Ibu St. Rafah ada beberapa masalah
pribadi yang memerlukan bantuan konseling yaitu masalah akibat konflik antara lain :
1. Perkembangan intelektual dengan emosionalnya
2. Bakat dengan aspirasi lingkungannya
3. Kehendak siswa dengan orang tua atau lingkungannya
4. Kepentingan siswa dengan orang tua atau lingkungannya
5. Situasi sekolah dengan situasi lingkungan
6. Bakat pendidikan yang kurang bermutu dengan kelemahan/keengganan mengambil
pilihan.
Peran bimbingan dan konseling dalam mengatasi kesulitan belajar.

Tujuan pendidikan nasional berlaku bagi semua jenis sekolah dan dilaksanakan dengan
ciri-ciri khas dari setiap jenjang pendidikan sekolah. Dengan kata lain, tujuan institusional harus
diselaraskan dengan tujuan pendidikan nasional dan merupakan suatu konsentrasi yang harus
membawa tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Untuk mencapai tujuan pendidikan siswa perlu dapat bimbingan agar mereka dapat
membina sebanyak mungkin dari pengalaman disekolah. Akan tetapi kemampuan guru dalam
membimbing anak didiknya terbatas, sedangkan masalah yang dihadapi anak didik semakin hari
semakin kompleks. Dari semacam kondisi inilah peranan bimbingan dan penyuluhan diperlukan,
dalam rangka memanimalisasi kesulitan yang dihadapi oleh siswa.

Tujuan akhir pelayanan bimbingan ini sama dengan tujuan pendidikan di sekolah, tetapi
cara untuk sampai pada tujuan itu lain yang digunakan dalam bidang-bidang pendidikan
sebagaimana yang dikemukakan oleh W.S. Winkel :
Bimbingan disekolah menengah merupakan bidang khusus dalam keseluruhan pendidikan
sekolah yaitu memberikan pelayanan yang ditangani oleh ahli-ahli yang telah disiapkan untuk
itu.
Ciri khas dari pelayanan ini terletak dalam hal memberikan bantuan mental atau psikologis
kepada murid dalam membulatkan perkembangannya. Tujuan dari pemberian bimbingan ialah
supaya setiap murid berkembang sejauh mungkin untuk mengambil manfaat sebanyak mungkin
dari pengalamannya disekolah, mengingat ciri-ciri pribadinya dan tuntunan kehidupan dalam
masyarakat sekarang. (Winkel, 1991:28)
Dengan adanya peranan dan bimbingan terserbut diharapkan semua persoalan yang
dihadapi anak didik dapat diantisipasi sedini mungkin. Menurut Bimo Walgito bimbingan dan
penyuluhan di sekolah dapat dilaksanakan dengan bermacam sifat :
1. Preventif, yaitu bimbingan yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah jangan sampai
timbul kesulitan yang menimpa diri anak atau individu.
2. Korektif, yaitu memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh individu.
3. Preservatif, yaitu memelihara atau mempertahankan yang telah baik, jangan sampai menjadi
keadaan yang tidak baik (Walgito, 1984:26)
Dari uraian diatas dapat ditarik benang merah bahwa peranan dari pada bimbingan dan
penyuluhan sangat diperlukan oleh siswa dalam rangka untuk mencapai tujuan dari pada
pendidik dan pengajaran.

Bagian VIII
H. Belajar Efektif dan Efisien.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sengaja untuk
mendapatkan perubahan yang lebih baik, misalnya : dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak
terampil menjadi terampil, dari belum dapat melakukan sesuatu menjadi dapat melakukan
sesuatu dan lain sebagainya. Perubahan tersebut merupakan perubahan yang timbul karena
adanya pengalaman dan latihan. Jadi belajar bukanlah suatu hasil, akan tetapi merupakan
suatu proses untuk mencapai tujuan dalam rangka memenuhi kebutuhan menuntut
ilmu.
-Proses belajar adalah mengalami,
berereaksi dan melampaui ( under going ).
--Disengaja, bahwa proses belajar
timbul karena ada suatu niatan
Landasan utama dalam mencapai keberhasilan belajar adalah kesiapan mental. Tanpa
kesiapan mental, maka tidak akan dapat bertahan terhadap berbagai kesukaran (kesulitan) yang
dihadapi selama belajar.
Setiap peserta didik hendaknya mempunyai minat yang besar terhadap semua mata diklat
yang diterima di sekolah. Suka atau tidak suka semua mata diklat harus ditempuh. Sikap
membenci mata diklat tidak ada manfaatnya, yang terbaik adalah mengambil sikap positif
dengan berusaha menyukai semua mata diklat yang diajarkan. Karena suka tidak suka mata
diklat tersebut harus ditempuh pada jenjang pendidikan yang mereka ikuti.
Belajar Efektif dan Efisien bukan hanya tentang mengatur waktu dan kesiapan belajar,
tapi juga tentang bagaimana memilih gaya belajar yang tepat. Agar mendapatkan hasil belajar
yang optimal, proses belajar mesti kita sesuaikan denga gaya belajar yang sesuai dengan diri kita,
misalnya :
* Gaya Belajar Visual yaitu belajar dengan cara melihat, membayangkan dan memperhatikan
secara langsung objek yang
dipelajari.
*Gaya Belajar Audio
yaitu belajar dengan cara mendengarkan dari sumber ajar (diterangkan, radio/kaset, nada, irama,
suasana heboh, suasana gaduh dll)
* Gaya Belajar
Kinesthetic yaitu belajar dengan cara bergerak, merasa, menyentuh, menggengam, menangkap,
menekan (dingin, kasar, tebal, tipis dll)
Ada juga yang menggunakan metode-metode belajar yang lain, antara lain :
1. Belajar Bersama.
Metode ini seringkali di katakan metode yang paling efektif karena dalam
suasana belajar berkelompok yang cukup santai otak menjadi lebih rileks

menerima ilmu - ilmu yang akan di serap. Selain itu hal - hal yang belum di
ketahui akan lebih mudah di selesaikan dengan bekerja sama.
2. Membuat Intisari Dari Setiap Pelajaran.
Membuat rangkuman atau ringkasan dari setiap pelajaran yang anda
dapatkan baik di sekolah maupun di tempat lain atau lewat belajar bersama
diatas. hal ini akan lebih efisien mengingat intisari atau kesimpulan dari
setiap pelajaran yang sudah dibaca ulang ini akan menjadi Kata-kata kunci
yang nanti berguna waktu kita mengulang pelajaran selama ujian.
3. Disiplin Dalam Belajar.
Kedisiplinan memang perlu diterapkan dalam belajar, seperti disiplin waktu
dan disiplin dalam berkonsentrasi pada pelajaran. Dengan adaya sifat disiplin
dalam diri Anda, dapat dipastikan pelajaran yang Anda lakukan dapat efektif
dan efisien.
4. Aktif Bertanya dan Ditanya.
Jika ada hal yang belum jelas, kita harus berani menayakan hal itu baik
kepada guru, teman atau orang tua. Dari situ juga kita bisa manjadi pelajar
yang aktif dan berpengetahuan, biasanya kalau kita menanyakan sesuatu,
kita pasti akan ingat jawabannya. Dan itu sangat membantu dari pada siswasiswa yang pasif dalam pembelajaran.

Dan berikut ini beberapa Tips belajar efektif dan efisien.


1. Menciptakan suasana yang kondusif dalam belajar.
Tak kalah pentingnya dan harus diingat dalam menciptakan suasana
yang kondusif untuk merangsang dorongan berprestasi belajar perlu
diperhitungkan unsur perasaan.
Karena unsur perasaan
lebih dominan dan melatarbelakangi segala aktivitas
seseorang.
Dengan kata lain produktif atau tidaknya aktivitas
seseorang sangat tergantung pada unsur perasaan dalam melaksanakan
aktivitas tersebut.
Oleh karena itu, kita juga harus memperhitungkan dan memperhatikan
unsur perasaan untuk mewujudkan harapan.Tentunya kita semua

mengetahui bahwa kegembiraan bersifat menggerakkan. Segala sesuatu


yang dilakukan dengan gembira (senang hati), tentunya akan
menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Sedangkan kekecewaan atau unsur
tertekan bersifat melembekkan atau melemahkan. Suatu aktivitas yang
dilaksanakan karena ada tekanan atau kekecewaan, tentunya akan
menghasilkan sesuatu yang mengecewakan atau ketidakpuasan atau mutu
yang rendah. Oleh karena itu, suasana gembira harus senantiasa terpelihara
dapat belajar dengan baik dan memunculkan gagasan-gagasan yang brilian.
Begitu juga terangsang mengaktualisasikan dirinya sepenuhnya dalam
mencapai harapan-harapan kita.
2. Mengembangkan jiwa kompetitif
Untuk memacu dorongan berprestasi yang baik perlu dikembangkan
suasana kompetetif yang sehat dan konstruktif diarahkan menjadi dirinya
sendiri. Disadarkan dirinya punya potensi yang siap untuk dikembangkan.
Kemauan atau hasrat harus dibangkitkan, agar dirinya senantiasa merasa
tertantang untuk ingin tahu segala-galanya dan ingin selalu menonjol lebih
dari yang lainnya.
Tentunya kita menyadari orang yang tetap bertahan hidup, memiliki
tempat dan memegang peranan penting di tengah-tengah masyarakat,
hanyalah orang-orang yang memiliki kecakapan yang brilliant dan tahu
mempergunakan, menempatkan kelebihannya tersebut. Bagi mereka yang
tidak dapat mendayagunakan kemampuan secara optimal akan tersisih atau
terpinggirkan dan hanya menjadi kelompok marginal.
Hidup ini merupakan kompetisi, hanya orang-orang yang mampu
memanfaatkan peluang secara optimal yang berhasil mendapatkan tempat
utama.
Hal yang perlu kita ingat, bahwa setiap orang memiliki kesempatan
dan peluang yang sama untuk berkembang mengaktualisasikan diri dan
yang berhasil adalah yang benar-benar menyadari potensi yang dimilikinya
dan mampu menggunakan kemampuannya tersebut pada proses kemajuan
dirinya.
Kita jangan terpaku hanya dengan slogan IQ harus jenius baru bisa
jadi orang. IQ itu hanya satu persen saja yang mendorong
seseorang berhasil dengan baik dan yang 99 persen adalah
kemauan dan kerja keras untuk mewujudkan impian dan
mengetahui cara yang efektif untuk merealisasikan impian

tersebut. Banyak yang memiliki IQ tinggi, namun pada akhirnya


mubazir, karena tidak mendapatkan pengarahan yang
tepat untuk mendayagunakan kelebihan kemampuannya tersebut.
Banyak orang yang berhasil malah dengan IQ pas-pasan, namun
mendapat bimbingan dan pengarahan kemampuannya dengan
tepat
Untuk memperoleh keunggulan dalam suasana kompetetif adalah
tugas kita memberi bekal pola berpikir, pola berbuat yang terencana,
sistematis dan cara-cara yang efektif. Dengan ini kita diharapkan mampu
mengarahkan perujukan dalam pengembangan bakat-bakat khusus.
3. Mengembangkan rasa percaya diri
Sumber energi yang membangkitkan dorongan berprestasi dari dalam
diri adalah rasa percaya diri. Oleh karena itu, sangat perlu ditumbuhkan atau
dibangkitkan keyakinan terhadap kemampuan dirinya untuk dapat
mempelajari berbuat atau melakukan sesuatu. Keyakinan dalam hati akan
membuat diri berusaha keras dan mencari cara untuk mewujudkan
keyakinannya
itu
dengan
banyak
membaca
sehingga
wawasan
pengetahuannya luas.

C. PENUTUP

A.Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling ditujukan untuk
membimbing dan mengarahkan individu melalui usahanya sendiri untuk menentukan dan
mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi serta bertujuan agar
individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal / sesuai dengan potensi yang
dimilikinya. Bimbingan konseling juga perlu diaplikasikan dalam sekolah karena dengan
itu pula kesulitan-kesulitan praktisi pendidikan terutama yang terjadi pada siswa dapat
teratasi dengan penanganan yang tepat. Selain itu juga dapat mengimprovisasikan potensi siswa
sehingga siswa mampu mengenal pribadinya dan dapat mengaktualisasikan potensi
yang dimiliki secara tepat.

B.Saran
Suatu kemampuan dapat berkembang secara optimal apabila mendapat bimbingan
dan konseling yang terarah.
Demikianlah makalah ini kami paparkan, saran dan kritik yang membangun bagi
pembaca sangat diperlukan guna kesempurnaan makalah ini, terima kasih.

CONTOH MAKALAH MASALAH BELAJAR SISWA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala
usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan
belajar. Masalah belajar yang terjadi dikalangan murid sering kali terjadi dan
menghambat kelancaran proses belajar siswa.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa
kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh
murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa muridmurid yang pandai atau cerdas.

1.2

Tujuan
Tujuan dari observasi ini adalah:

1.

Untuk mengetahui penyebab kesulitan belajar siswa.

2.

Untuk mengetahui solusi apa saja yang diberikan oleh pihak BK dalam mengatasi
masalah belajar siswa.

1.3

Rumusan Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka beberapa
masalah yang dapat dirumuskan dan akan dibahas dalam Makalah ini adalah apa
saja penyebab kesulitan belajar pada siswa? Dan bagaimana solusi yang bisa di
berikan untuk menanggulangi masalah belajar pada siswa.

1.4

Hipotesis
Penelitian ini dilakukan berangkat dari keyakinan penulis setelah melakukan
pengenalan masalah. Adapun keyakinan atau hipotesis tersebut adalah masalah
belajar siswa dapat disebabkan beberapa faktor baik internal maupun eksternal dari
diri siswa. Kemungkinan masalah belajar ini muncul di sebabkan oleh metode guru
dalam mengajar, kondisi emosional siswa, materi yang diajarkan tidak sesuai
dengan kemampuan siswa, dan pandangan siswa terhadap pelajaran tertentu.

1.5

Sistematika Penulisan
Cover
Daftar Isi
BAB I

Pendahuluan

BAB II

Metodologi

BAB III

Hasil dan Pembahasan

BAB IV

Rekomendasi

BAB V

Penutup

Daftar pustaka
BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

2.1

Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan ialah:

a.

Observasi

b.

Tinjauan pustaka

c.

Wawancara
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, digunakan metode
observasi, wawancara dan kepustakaan. Adapun observasi dilakukan di SMA NEGERI
1 BANDUNG tepatnya di Jalan Dago 396, Bandung. Wawancara dilakukan dengan
salah satu

guru BK di sekolah tersebut. Untuk menambah informasi, penulis

mencari literatur yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.


2.3

Waktu Penelitian

Observasi dan wawancara dilakukan pada Kamis, 4 November 2010 pukul 08.30
WIB di Jalan Dago 396, Bandung.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Tinjauan Pustaka


Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak
disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin
atau perlu dihilangkan. menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan
suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian
belajar dapat didefinisikan Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu
untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
Menurut Gagne (1984: 77) bahwa belajar adalah suatu proses dimana suatu
organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari definisi masalah
dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut
:
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid
dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa
kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak
menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh
murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa muridmurid yang pandai atau cerdas.
Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan
belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas
psikis berkenaan dengan bahan belajar.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :
1.

Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses


belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.

2.

Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan


siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak
menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan
psikologis lainnya.

3.

Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat


potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya
tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan
tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 140), namun prestasi
belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

4.

Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses
belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan
sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

5.

Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala


dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar
di bawah potensi intelektualnya.

Faktor-Faktor yang dialami dan dihayati oleh siswa dan hal ini akan sangat
berpengaruh terhadap proses belajar:
1.

Faktor-Faktor Internal Belajar


Sikap Terhadap Belajar
Selama melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari
pembelajaran tersebut. Pemahaman siswa yang salah terhadap belajar akan
membawa kepada sikap yang salah dalam melakukan pembelajaran. Sikap siswa ini
akan mempengaruhinya terhadap tindakan belajar. Sikap yang salah akan
membawa siswa mersa tidak peduli dengan belajar lagi. Akibatnya tidak akan
terjadi proses belajar yang kondusif.
Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya
proses belajar. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan
melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu belajar akan menjadi rendah. Oleh
karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus menerus.
Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada
pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun
proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian guru perlu melakukan
berbagai strategi belajar mengajar dan memperhatikan waktu belajar serta selingan
istirahat. Menurut seorang ilmuan ahli psikologis kekuatan belajar seseorang
setelah tiga puluh menit telah mengalami penurunan. Ia menyarankan agar guru
melakukan istirahat selama beberapa menit. Dengan memberikan selingan
istirahat, maka perhatian dan prestasi belajar dapat ditingkatkan.
Mengolah Bahan Belajar
Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menrima isi
dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan
belajar merupakan nilai nilai dari suatu ilmu pengetahuan, nilai agama, nilai

kesusilaan, serta nilai kesenian. Kemampuan siswa dalam mengolah bahan


pelajaran menjadi makin baik jika siswa berperan aktif selama proses belajar.
Kemampuan Berprestasi
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu
proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia
lakukan. Siswa menunjukan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas
belajar atau menstransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari di sekolah
diketahui bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik.
Kemampuan berprestasi tersebut terpengaruh pada proses-proses penerimaan,
pengaktifan, pra-pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk
pembangkitan pesan dan pengalaman.
Rasa Percaya Diri Siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan
berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya
pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi
merupakan tahap pembuktian perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan
sejawat siswa. Semakin sering siswa mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik
maka rasa percaya dirinya akan meningkat. Dan apabila sebaliknya yang terjadi
maka siswa akan merasa lemah percaya dirinya.
Intelegensi Dan Keberhasilan Belajar
Intelegensi merupakan suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan
untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan
lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi actual bila siswa
memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari. Dengan perolehan
hasil belajar yang rendah, yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau
kurangnya kesungguhan belajar, berarti terbentuknya tenaga kerja yang bermutu
rendah. Hal ini akan merugikan calon tenaga kerja itu sendiri. Oleh karena itu pada
tempatnya mereka didorong untuk melakukan belajar dibidang kterampilan.
Kebiasaan Belajar
Kebiasaan-kebiasaan belajar siswa akan mempengaruhi kemampunanya
dalam berlatih dan menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. Kebiasaan
buruk tersebut dapat berupa belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur,
menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang
terlambat bergaya pemimpin, bergaya jantan seperti merokok. Kebiasaan-kebiasaan
buruk tersebut dapat ditemukan di sekolah-sekolah pelosok, kota besar, kota kecil.
Untuk sebagian kebiasaan tersebut dikarenakan oleh ketidakmengertian siswa
dengan arti belajar bagi diri sendiri.
Cita-Cita Siswa

Cita-cita sebagai motivasi intrinsic perlu didikan. Didikan memiliki cita-cita


harus ditanamkan sejak mulai kecil. Cita-cita merupakan harapan besar bagi siswa
sehingga siswa selalu termotivasi untuk belajar dengan serius demi menggapai citacita tersebut. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan
berprestasi maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan
kemampuannya sendiri.
2.

Faktor-Faktor Eksternal Belajar


Faktor-faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut:

Guru Sebagai Pembina Siswa Belajar


Guru adalah pengajar yang mendidik . Ia tidak hanya mengajar bidang studi
yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi
bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh
menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. Sebagai seorang pribadi ia juga
mengembangkan diri menjadi pribadi utuh. Sebagai seorang diri yang
mengembangkan keutuhan pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan
diri, pemenuhan kebutuhan hidup sebagai manusia.

Prasarana Dan Sarana Pembelajaran


Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi
pembelajaran yang baik. Hal ini tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan
prasarana menentukan jaminan melakukan proses pembelajaran yang baik. Justru
disinilah muncul bagaimana mengolah sarana dan prasaranapembelajaran sehingga
tersenggara proses belajar yang berhasil dengan baik.

Lingkungan Sosial Siswa Di Sekolah


Tiap siswa dalam lingkungan sosial memiliki kedudukan, peranan dan
tanggung jawab sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti
hubungan sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi hubungan akrab
kerjasama, kerja berkoprasi, berkompetisi, bersaing, konflik atau perkelahian.

Kurikulum Sekolah
Kurikulum yang diberlakukan di sekolah adalah kurikulum nasional yang
disahkan oleh pemerintah, atau yayasan pendidikan. Kurikulum disusun
berdasarkan tuntutan kemajuan masyrakat. Dengan kemajuan dan perkembangan
masyrakat timbul tuntutan kebutuhan baru dan akibatnya kurikulum sekolah perlu
direkonstruksi. Adanya rekonstruksi itu menimbulkan kurikulum baru. Perubahan
kurikulum sekolah menimbulkan masalah seperti tujuan yang akan dicapai mungkin
akan berubah, isi pendidikan berubah, kegiatan belajar mengajar berubah serta
evaluasi berubah.

3.

Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar

Kesulitan belajar ini merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai
jenis pernyataan (manifestasi). Karena guru bertanggung jawab terhadap proses
belajar-mengajar, maka ia seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala
kesulitan belajar. Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha memberikan
bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.
Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid
dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu :
1)

Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu


sendiri ), antara lain:

Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat


bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan ( alergi,
asma, dan sebagainya ).

Ketidakseimbangan mental ( adanya gangguan dalam fungsi mental ),


pertimenampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung
kurang.

Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri
(maladjustment ), tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan
emosi.

Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang
perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering
bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

2)

Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ),


yaitu :
a). Sekolah, antara lain :

Sifat kurikulum yang kurang fleksibel

Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru)

Metode mengajar yang kurang memadai

Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar


b). Keluarga (rumah), antara lain :

Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis.

Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya

Keadaan ekonomi.

Menurut Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah, terutama guru.


Guru yang akrab dengan murid, menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan
suka memberi petunjuk kalau murid menghadapi kesulitan, akan dapat
menimbulkan perasaan sukses dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan
keyakinan diri dalam diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang memiliki
penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya, sehingga murid-muridnya juga
akan memiliki penilaian diri yang positif.
Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang
menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan
akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga
anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi
oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar
memperhatikan peserta didiknya.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin keberhasilan belajar
adalah :
1)

Identifikasi masalah siswa

2)

Diagnosa

3)

Prognosa

4)

Pemberian Bantuan

5)

Follow up (tindak lanjut)


Upaya-Upaya Penanggulangan Masalah Belajar :

1. Perhatikan Mood
2. Siapkan Ruang Belajar
3. Komunikasi
4. Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
5. Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya
6. Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai
kesulitan.
7. Memperkirakan alternatif pertolongan.

3.2 Hasil Observasi


Observasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui penyebab kesulitan
belajar siswa dan untuk mengetahui solusi apa yang diberikan oleh pihak BK
(Bimbingan Konseling) dalam mengatasi masalah belajar siswa.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan diketahui penyebab kesulitan
belajar siswa, diantaranya sebagai berikut :
1.

Keadaan kelas yang kurang kondusif. Penataan ruangan yang tidak menunjang
dalam kegiatan pembelajaran.

2.

Cara mengajar guru yang tidak memfasilitasi berbagai gaya belajar siswa dan
sikap guru yang dictator.

3.

Pandangan siswa terhadap suatu mata pelajaran yang menganggap mata


pelajaran itu sulit sehingga siswa merasa segan dan terbebani untuk
mempelajarinya.

4.

Adanya faktor dari lingkungan luar seperti masalah keluarga dan masalah
ekonomi.
Adapun solusi yang diberikan oleh pihak BK (Bimbingan Konseling) dalam
mengatasi masalah belajar siswa, yaitu :

1.
2.
3.

Melakukan pendekatan terhadap siswa


Pencarian data tentang masalah yaitu dengan berkomunikasi dengan orang tua
siswa dan wali kelas.
Melakukan konsultasi secara privat.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari hasil observasi yang kita lakukan, dapat kita ketahui bahwa ada 2 faktor yang
dapat membuat siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran, yaitu:

Faktor internal belajar siswa, meliputi sikap siswa dalam belajar, motivasi belajar
siswa, konsentrasi siswa, cara mengolah pembelajaran, rasa percaya diri siswa,
kebiasaan belajar, dan cita-cita siswa.

Faktor eksternal belajar siswa, meliputi guru sebagai pembina siswa belajar,
sarana dan prasarana, lingkungan siswa di sekolah dan kurikulum sekolah.
Adapun solusi yang diberikan oleh pihak BK (Bimbingan Konseling) dalam
mengatasi masalah belajar siswa, yaitu :

Melakukan pendekatan terhadap siswa


Pencarian data tentang masalah yaitu dengan berkomunikasi dengan orang tua
siswa dan wali kelas.
Melakukan konsultasi secara privat.

4.2 Saran
Agar proses belajar mengajar siswa dapat berlangsung secara optimal, diperlukan
pendekatan yang lebih intensif dari guru BK. Sehingga siswa dapat terus terpantau
bagaimana perkembangannya dalam proses pembelajaran.

http://solikhaton.blogspot.com/2013/12/contoh-makalah-masalah-belajarsiswa.html

Faktor-Faktor Makro yang Menyebabkan Anak Malas Belajar


26 Februari 2011katresna72Tinggalkan komentarGo to comments

Rate This

Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.


Nama Penulis : Prof. Sarlito Wirawan Sarwono
Guru Besar Fakultas Psikologi UI
Tanggal: 3 Juni 2003
Topik: Mengatasi Malas Belajar Pada anak
Bulan-bulan tertentu menjelang Ebtanas dan UMPTN, setiap tahun, adalah musimnya orangtua
mengkonsultasikan anak-anaknya untuk tes bakat pada psikolog. Persoalan orangtua (belum tentu
persoalan anak juga) adalah bahwa anaknya, walaupun sudah kelas 3 SMU, belum jelas mau memilih
jurusan apa di perguruan tinggi. Karena takut bahwa anaknya gagal di tengah jalan, maka orangtua
pun mengkonsultasikan anaknya kepada psikolog.
Sementara itu, dari pengamatan saya di ruang praktek, di pihak anaknya sendiri kurang nampak ada
urgensi pada permasalahan yang sedang dihadapinya. Rata-rata anak memang ingin lulus UMPTN di
Universitas-universitas favorit (UI, ITB), tetapi tidak terbayangkan betapa ketatnya persaingan yang
harus dihadapinya1. Kalau tidak lulus UMPTN, pilihan untuk PTS (Perguruan Tinggi Swasta) masih
banyak. Kalau tidak diterima di Trisakti atau Atmajaya, masih banyak PTS yang lain. Bagi yang
orangtuanya mampu, kuliah di luar negeri2 bahkan lebih banyak lagi peluangnya.
Tidak adanya perasaan urgensi (kegawatan) lebih nampak lagi pada hampir-hampir tidak adanya
persiapan yang serius. Kebanyakan anak tidak mempunyai kebiasaan belajar yang teratur, tidak
mempunyai catatan pelajaran yang lengkap, tidak membuat PR, sering membolos (dari sekolah
maupun dari les), seringkali lebih mengharapkan bocoran soal ulangan/ujian atau menyontek untuk
mendapat nilai yang bagus.
Di sisi lain, cita-cita mereka (yang karena kurang baiknya hubungan anak-orangtua, sering dianggap
tidak jelas) adalah sekolah bisnis (MBA). Dalam bayangan mereka, MBA berarti menjadi direktur atau
manajer, kerja di kantor yang mentereng, memakai dasi atau blazer dan pergi-pulang kantor
mengendarai mobil sendiri. Hampir-hampir tidak terbayangkan oleh mereka proses panjang yang
harus dilakukan dari jenjang yang paling bawah untuk mencapai posisi manajer atau direktur tsb.

Sikap jalan pintas ini bukan hanya menyebabkan motivasi belajar yang sangat kurang, melainkan
juga menyebabkan timbulnya gaya hidup yang mau banyak senang, tetapi sedikit usaha, untuk masa
sepanjang hidup mereka. Dengan perkataan lain, anak-anak ini selamanya akan hidup di alam mimpi
yang sangat rawan frustrasi dan akibat dari frustrasi ini bisa timbul banyak masalah lain3.
Teori Brofenbrenner
Untuk memahami mengapa anak-anak bersikap jalan pintas sehingga malas belajar (banyak yang
sejak SD), dan untuk membantu orangtua mencari cara pencegahan serta jalan keluarnya, saya
mengajak anda sekalian untuk mengkaji sebuah teori yang dikemukakan oleh Brofenbrenner4.
Teori Brofenbrenner yang berparadigma lingkungan (ekologi) ini menyatakan bahwa perilaku
seseorang (termasuk perilaku malas belajar pada anak) tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan
dampak dari interaksi orang yang bersangkutan dengan lingkungan di luarnya.
Adapun lingkungan di luar diri orang (dalam makalah ini selanjutnya akan difokuskan pada anak atau
siswa SD-SLTA) oleh Brofenbrenner di bagi dalam beberapa lingkaran yang berlapis-lapis (lihat
diagram**):
1. Lingkaran pertama adalah yang paling dekat dengan pribadi anak, yaitu lingkaran sistem mikro
yang terdiri dari keluarga, sekolah, guru, tempat penitipan anak, teman bermain, tetangga, rumah,
tempat bermain dan sebagainya yang sehari-hari ditemui oleh anak.
2. Lingkaran kedua adalah interaksi antar faktor-faktor dalam sistem mikro (hubungan orangtua-guru,
orangtua-teman, antar teman, guru-teman dsb.) yang dinamakannya sistem meso.
3. Di luar sistem mikro dan meso, ada lingkaran ketiga yang disebut sistem exo, yaitu lingkaran lebih
luar lagi, yang tidak langsung menyentuh pribadi anak, akan tetapi masih besar pengaruhnya, seperti
keluarga besar, polisi, POMG, dokter, koran, televisi dsb.
4. Akhirnya, lingkaran yang paling luar adalah sistem makro, yang terdiri dari ideologi negara,
pemerintah, tradisi, agama, hukum, adat, budaya dsb.
Makalah ini, dengan mengikuti teori Brofenbrenner tersebut di atas, akan menguraikan bagaimana
sistem makro yang terjadi di dunia dan Indonesia, melalui sistem-sistem lain yang lebih kecil (exo,
meso dan mikro) berpengaruh pada kepribadian dan perilaku anak, termasuk perilaku malas belajar
yang sedang kita biacarakan ini.
Sistem Makro
Kiranya hampir semua orangtua dan pendidik (dan semua orang juga) merasakan bahwa jaman
sekarang ini terlalu banyak sekali perubahan. Para orangtua dari generasi Tembang Kenangan tidak
bisa mengerti, apalagi menikmati, lagu-lagu favorit anak-anak mereka yang dibawakan oleh Dewa
atau Westlife group. Bahkan generasi yang remaja di tahun 1980-an (generasi Stevie Wonder, Lionel
Richie) juga sulit menerima lagu-lagu sekarang. Sulitnya, di kalangan generasi muda sendiri juga
terdapat banyak versi musik (rap, reggae, house, salsa dsb.) yang masing-masing punya penggemar
masing-masing. Di sisi lain musik-musik tradisional seperti keromcong dan gending Jawa, juga
mengalami perubahan versi sehingga muncul musik campur-sari yang sekarang sedang populer di
masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk generasi mudanya. Sementara itu, musik
dangdut, yang tadinya monopoli masyarakat lapis bawah, justru berkembang menjadi lebih universal
dengan mulai memasuki dunia kelas menengah atas.
Perubahan-perubahan yang drastis dan sekaligus banyak ini juga terjadi pada bidang-bidang lain.
Wayang orang dan wayang kulit yang saya gemari di masa kecil dan merupakan kegemaran juga dari

ayah saya dan nenek-moyang saya, sekarang praktis tidak mempunyai lahan hidup lagi. Modifikasi
dari kesenian tradisional (wayang kulit berbahasa Indonesia dan berdurasi hanya 2 jam diselingi musik
dang dut, atau ketoprak humor), hanya bisa mengembangkan penggemarnya sendiri tanpa bisa
mengangkat kembali kesenian tradisional sebagai mana bentuk aslinya.
Dalam setiap sektor kehidupan yang lain pun terdapat perubahan yang cepat. Karena itu jangan heran
jika istilah-istilah prokem di jaman tahun 1980-an sudah tidak dimengerti lagi oleh anak-anak gaul
angkatan 1990-an yang punya gaya bahasa funky tersendiri. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi perkembangannya adalah yang paling cepat. Anak SD sekarang sudah terampil
menggunakan komputer, sedangkan eyang-eyang mereka menggunakan HP saja masih sering salah
pencet. Video Betamax yang sangat modern di tahun 1980-an, sekarang sudah menjadi barang
musium dengan adanya VCD (Video Digital Disc) dan yang terbaru DVD (Digital Video Disc; yang
sebentar lagi pasti akan usang juga).
Dampak dari perubahan cepat ini sangat dahsyat sekali. Jika dalam bidang sosial budaya kita hanya
mengamati kekacauan yang sulit dimengerti, dalam politik, perkembangan dan perubahan yang
teramat sangat cepat ini telah meruntuhkan beberapa negara (Rusia, Yugoslavia), setidak-tidaknya
telah menimbulkan banyak konflik yang menggoyangkan stabilitas dalam negeri dan menelan banyak
korban harta dan jiwa (seperti yang sedang terjadi di Indonesia).
Para ilmuwan, setelah menganilis situasi yang dahsyat di seluruh dunia tsb. di atas, menyimpulkan
bahwa saat ini kita sedang memasuki era Postmodernism (disingkat: Posmo)5 . Menurut para pemikir
Posmo, jaman sekarang kira-kira sama dahsyatnya dengan jaman revolusi industri (ditemukannya
mesin uap, listrik, mesiu dsb.) di akhir abad XIX yang juga berdampak berbagai peperangan, revolusi
(perancis, Rusia), depresi ekonomi, kemerdekaan berbagai negara kolonial, penyakit menular dsb.
yang kemudian kita kenal sebagai jaman modern. Perbedaan antara jaman modern dengan jaman
sebelumnya adalah bahwa kendali kekuasaan (dalam bidang sosial, budaya, ekonomi dan politik)
beralih ke tangan-tangan pemilik modal, pekerja, pemikir dsb., dari penguasa sebelumnya yaitu para
raja, bangsawan, tuan tanah dsb. Dalam bidang musik misalnya, supremasi Beethoven sudah diambil
alih oleh Elvis Presley, sedangkan kekuasaan Paus di Roma sudah tersaingi oleh berbagai versi agama
Kristen lain yang tersebar di seluruh dunia (termasuk versi Katolik Roma di Philipina, misalnya). Di
Jawa, misalnya, pusat kebudayaan di Kraton Mataram6, segera beralih ke Ismail Marzuki dan Chaeril
Anwar setelah revolusi kemerdekaan. Dalam politik, ideologi yang berdasarkan feodalisme beralih ke
ideologi komunisme (revolusi Rusia) atau liberalisme (revolusi kemerdekaan Amerika Serikat). Tetapi
di zaman tradisional maupun di zaman modern, masih terasa adanya pusat-pusat kekuasaan, yang
oleh manusia (dari sudut pandang psikologi) sangat diperlukan sebagai patokan atau pedoman hidup,
sebagai tolok ukur untuk menilai mana yang benar atau salah, baik atau buruk, indah atau jelek.
Di dalam politik, misalnya, sampai dengan awal tahun 1990-an masih ada dua kekuatan utama di
dunia (super powers) yaitu blok Barat (AS dan Eropa Barat) dan blok Timur. Upaya negara-negara
dunia ke-3 untuk membangun KTT Non-Blok tidak banyak artinya, karena anggota-anggotanya tetap
saja terpecah antara yang condong ke Blok Barat dan Blok Timur.
Tetapi di jaman Posmo ini, tidak ada lagi pusat-pusat kekuasaan seperti itu. Tidak ada tokoh, aliran,
partai politik, ideologi, dan sebagainya yang mampu menonjol atau dominan dalam waktu yang cukup
lama. Semua orang, aliran, ideologi dsb. bisa bisa timbul-tenggelam setiap saat. Bahkan agama pun,
yang merupakan pranata yang paling konservatif, berubah-ubah dengan cepat sekali dengan timbultenggelamnya berbagai aliran, sekte dan bahkan agama-agama baru. Maka dapat dimengerti bahwa

masyarakat awam di lapis bawah akan terperangkap dalam kebingungan-kebingungan karena hampir
tidak ada tolok ukur yang dapat dijadikan pegangan dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari.
Sistem Exo
Pengaruh Posmo pada sistem exo dapat dilihat dan dirasakan dengan perubahan drastis dalam
berbagai pranata sosial, politik dan ekonomi. Di Indonesia kita dapat menyimaknya dalam berbagai
gejala seperti berubahnya fungsi Polri dari aparat pertahanan dan keamanan menjadi fungsi
keamanan, ketertiban dan penegakkan hukum (karena itu Polri keluar dari ABRI). Dalam bidang
perekonomian, pemerintah kehilangan kendalinya terhadap sistem moneter, karena begitu banyaknya
yang bisa ikut bermain dalam sistem moneter, sehingga nilai valuta asing menjadi sangat fluktuatif.
Dalam bidang pendidikan, sistem pendidikan nasional, yang tadinya seragam untuk seluruh Indonesia,
makin bervariasi dengan banyaknya sekolah yang berorientasi pada bermacam-macam agama,
sekolah yang bekerja sama dengan luar negeri, sekolah-sekolah alternatif yang dikelola LSM dan
sebagainya, sementara di tingkat perguruan tinggi berkembang terus-menerus berbagai gelar baru
(bahkan ada gelar-gelar palsu) dan peraturan-peraturan Depdiknas pun berubah-ubah setiap saat.
Di bidang media massa dan sarana komunikasi dan perhubungan, terdapat makin banyak alternatif.
Jika di tahun 1960-an hanya ada radio dan telpon yang diputar dengan tangan dan hubungan ke luar
Jawa sangat langka dan lama, sekarang sudah tersedia berbagai alternatif seperti televisi fax (dari
satu stasiun saja di tahun 1963, menjadi puluhan stasiun dengan sarana satelit), HP, internet, fax, bus
antar propinsi (dari Banda Aceh sampai Kupang), pesawat udara (sehingga Jakarta-Jayapura hanya
beberapa jam saja) dsb., sehingga hampir tidak ada lagi daerah yang masih terisolir seperti
Kabupaten Lebak di zaman Max Havelaar.
Dalam bidang kehidupan berkeluarga, sistem kekerabatan (keluarga besar) sudah makin ditinggalkan
orang dan beralih ke pada sistem keluarga inti. Bahkan akhir-akhir ini sudah banyak orang yang
memilih untuk tidak menikah (single family) atau menjadi orangtua tunggal (single parent family).
Rata-rata usia menikah makin meningkat (di kalangan menengah-ke atas sudah mencapai 26 tahun
dan 30 tahun bagi wanita dan pria). Psangan nikah pun ditentukan sendiri oleh anak, bukan orangtua.
Upacara-upacara perkawinan masih dilakukan secara tradisional, tetapi hanya simbolik saja, karena
upacara-upacara itu sama sekali tidak mencerminkan kehidupan yang sesungguhnya dari pasangan
yang bersangkutan (uoacaranya berbahasa Jawa, padahal pengantin sama sekali tidak mengerti
bahasa Jawa, bahkan sangat boleh jadi psangan sudah berhubungan seks jauh sebelum upacara adat
yang disakralkan itu).
Sistem Meso dan Mikro
Yang dimaksud dengan sistem Mikro adalah orang-orang yang terdekat dengan anak dan setiap hari
berhubungan dengan anak (ayah-ibu, kakak-adik, oom, tante, opa, pembantu, supir, teman sekolah,
guru dsb.), maupun tempat-tempat di mana anak sehari-hari berada (rumah, lingkungan tetangga,
kebun, sekolah, kota dsb.). Interaksi antara unsur-unsur dalam sistem Mikro tersebut dinamakan
sistem Meso.
Sehubungan dengan berkembangnya Posmo (yang oleh Alvin Toffler dinamakan The Third Wave
QUOTATION), maka sistem Mikro dan Meso anak juga akan berubah drastis. Orangtua, guru, guru
ngaji, orangtuanya teman-teman, apalagi televisi, tidak lagi satu bahasa dan seia-sekata dalam
mendidik anak-anak. Di masa lalu, setiap ucapan orangtua hampir selalu konsisten dengan arahan
guru di sekolah atau omongan orang-orang di surau atau di pasar. Tetapi sekarang apa yang dikatakan
orangtua sangat berbeda dengan yang ditayangkan di TV, atau dengan omongan orangtuanya teman,
atau nasihat ibu guru. Bahkan antara ayah dan ibu saja sering tidak sepaham, karena ibu-ibu jaman

sekarang sudah sadar jender, punya penghasilan sendiri (bahkan kadang-kadang lebih besar dari
suaminya), jadi merasa berhak juga untuk memutuskan dalam lingkungan rumah tangga.
Buat orangtua sendiri, yang dirasakan adalah bahwa anak tidak lagi hanya mendengarkan orangtua
sendiri. Anak makin sering membantah, bahkan melawan orangtua, karena ia melihat banyak contoh
di luar yang tidak sama dengan apa yang dikatakan orangtuanya. Jika anak dilarang menyetir pad usia
14 tahun, ia segera bisa menunjuk anak lain yang diijinkan nyetir sejak SD; jika anak disuruh sholat,
ia segera mengacu pada Pak De-nya yang tidak sholat. jika ia dilarang pulang malam, ia malah pulang
pagi, karena semua temannya mengajaknya ke disko atau ke kafe.
Anak
Sementara itu, anak sendiri tetap saja anak seperti sejak jaman dahulu kala. Semasa kecil anak-anak
membentuk kepribadiannya melalui masukan dari lingkungan primernya (keluarga). Sampai usia 5-8
tahun ia masih menerima masukan-masukan (tahap formative). Menjelang remaja (usia ABG) ia mulai
memberontak dan mencari jati dirinya dan akan makin menajam ketika ia remaja (makin sulit diatur)
sehingga masa ini sering dinamakan masa pancaroba.
Masa pancaroba ini pada hakikatnya merupakan tahap akhir sebelum anak memasuki usia dewasa
yang matang dan bertanggung jawab, karena ia sudah mengetahui tolok ukur yang harus diikuti dan
mampu menetapkan sendiri mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk dan mana yang
indah dan jelek.
Tetapi masa pancaroba dalam diri individu itu akan lebih sulit mencapai kemantapan dan kematangan
jika kondisi di dunia luar juga pancaroba terus, seperti halnya di era Posmo ini. Dampaknya adalah
timbulnya generasi remaja dan dewasa muda yang terus berpancaroba sampai dewasa. Generasi
inilah yang saya temui di ruang praktek dengan kebingungan memilih jurusan yang mana, bimbang
karena pacarnya tidak disetujui orangtua, kehabisan akal karena hamil di luar nikah atau karena tidak
bisa keluar dari kebiasaan menyalah gunakan Narkoba.
Perubahan Paradigma
Menghadapi era Posmo yang serba tidak jelas ini, kesalahan paling besar, tetapi yang justru paling
sering dilakukan, adalah mendidik anak berdasarkan tradisi lama dan tanpa alternatif. Artinya, semua
yang diajarkan oleh orangtua mutlak harus diikuti, orangtua penya hak dan kekuasaan atas anak,
anak harus berbakti kepada orangtua dsb. Di sekolah para guru pun masih sering berpatokan pada
pepatah guru adalah digugu/dipatuhi dan ditiru), sehingga benar atau salah guru harus
selaludipatuhi. Demikian pula dalam bidang agama, bahkan politik (masing-masing elit politik dan
kelompok mahasiswa merasa dialah yang paling benar).
Jika dihadapakan terus-menerus dengan pendekatan otoriiter, maka anak-anak yang sedangserba
kebingungan akan makin bingung sehingga makin tidak percaya diri, atau justru makin memberontak
dan menjadi pelanggar hukum. Karena itu dalam era sistem Makro yang diwaranai oleh Posmo ini,
pendidikan pada anak harus berorientasi pada pengembangan kemampuan anak untuk membuat
penilaian dan keputusan (judgement) sendiri secara tepat dan cepat. Dengan perkataan lain, anak
harus dididik untuk menilai sendiri yang mana yang benar/salah, baik/tidak baik atau indah/jelek dan
atas dasar itu ia memutuskan perbuatan mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Anak yang dididik
untuk selalu mentaati perintah orangtua, dalam pemberrontakannya akan mencari orang lain atau
pihak lain (dalam sistem Mikro-nya) yang bisa dijadikannya acuan baru dan selanjutnya ia akan
mentaati saja ajakan atau arahan orang lain itu (yang sangat boleh jadi justru menjerumuskan).

Penutup
Harus diakui bahwa menjadi orangtua atau pendidik jaman sekarang sangat sulit. Pertama, karena
kebanyakan orantua belum pernah mengalami situasi seperti sekarang ini di masa kecilnya; kedua,
karena mereka cenderung meniru saja cara-cara mendidik yang dilakukan oleh orangtua atau senior
merekasendiri di masa lalu; dan yang ketiga, memang sangat sulit untuk mengubah pola pikir
seseorang dari pola pikir tradisional dan pola pikir alternatif sesuai dengan tuntutan jaman sekarang.
Tetapi bagaimana pun berat dan sulitnya, upaya itu harus dilakukan, karena kalau tidak maka kita
akan menjerumuskan generasi muda kita dalam kesulitan yang lebih besar.
Catatan kaki
* Dibacakan pada seminar Mengatasi Malas Belajar Pada anak, diselenggarakan oleh POMDA FPsi UI,
Jakarta 5 Mei 2001.

https://katresna72.wordpress.com/2011/02/26/faktor-faktor-makro-yangmenyebabkan-anak-malas-belajar/

BAB I
PENDAHULUAN
Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan
untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Masalah belajar yang terjadi
dikalangan murid sering kali terjadi dan menghambat kelancaran proses belajar siswa.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan
dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalahmasalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi
juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
1.2

Tujuan dari observasi ini adalah:

1.

Untuk mengetahui penyebab kesulitan belajar siswa.

2.

Untuk mengetahui solusi apa saja yang diberikan oleh pihak BK dalam mengatasi masalah

belajar siswa.
1.3

Rumusan Masalah

Dengan melihat latar belakang yang telah dikemukakan, maka beberapa masalah yang dapat
dirumuskan dan akan dibahas dalam Makalah ini adalah apa saja penyebab kesulitan belajar pada
siswa? Dan bagaimana solusi yang bisa di berikan untuk menanggulangi masalah belajar pada
siswa.
1.4

Hipotesis

Penelitian ini dilakukan berangkat dari keyakinan penulis setelah melakukan pengenalan masalah.
Adapun keyakinan atau hipotesis tersebut adalah masalah belajar siswa dapat disebabkan
beberapa faktor baik internal maupun eksternal dari diri siswa. Kemungkinan masalah belajar ini
muncul di sebabkan oleh metode guru dalam mengajar, kondisi emosional siswa, materi yang
diajarkan tidak sesuai dengan kemampuan siswa, dan pandangan siswa terhadap pelajaran
tertentu.
1.5

Sistematika Penulisan Cover

Daftar Isi
BAB I

Pendahuluan

BAB II

Metodologi

BAB III

Hasil dan Pembahasan

BAB IV

Rekomendasi

BAB V

Penutup

Daftar pustaka

BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
2.1

Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan ialah:

a.

Observasi

b.

Tinjauan pustaka

c.

Wawancara

Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, digunakan metode observasi, wawancara
dan kepustakaan. Adapun observasi dilakukan di SMA NEGERI 1 BANDUNG tepatnya di Jalan
Dago 396, Bandung. Wawancara dilakukan dengan salah satu guru BK di sekolah tersebut. Untuk
menambah informasi, penulis mencari literatur yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
2.3

Waktu Penelitian

Observasi dan wawancara dilakukan pada Kamis, 4 November 2010 pukul 08.30 WIB di Jalan Dago
396, Bandung.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Tinjauan Pustaka
Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah sesuatu yang tidak disukai adanya,
menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain, ingin atau perlu dihilangkan. menurut
pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam
tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Gagne (1984: 77) bahwa belajar adalah suatu proses dimana suatu organisasi berubah
perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dari definisi masalah dan belajar maka masalah belajar
dapat diartikan atau didefinisikan sebagai berikut :
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran
proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan.
Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan
dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalahmasalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi
juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses
belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :


1.

Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang

terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.


2.

Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak

berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya
subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya.
3.

Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi

intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh :
siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat
unggul (IQ = 130 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
4.

Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia

membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf
potensi intelektual yang sama.
5.

Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak

mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Faktor-Faktor yang dialami dan dihayati oleh siswa dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap
proses belajar:
1.

Faktor-Faktor Internal Belajar

Sikap Terhadap Belajar


Selama melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari pembelajaran
tersebut. Pemahaman siswa yang salah terhadap belajar akan membawa kepada sikap yang salah
dalam melakukan pembelajaran. Sikap siswa ini akan mempengaruhinya terhadap tindakan belajar.
Sikap yang salah akan membawa siswa mersa tidak peduli dengan belajar lagi. Akibatnya tidak
akan terjadi proses belajar yang kondusif.
Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Lemahnya
motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya mutu belajar
akan menjadi rendah. Oleh karena itu motivasi belajar pada diri siswa perlu diperkuat terus
menerus.
Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan
perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk
memperkuat perhatian guru perlu melakukan berbagai strategi belajar mengajar dan memperhatikan
waktu belajar serta selingan istirahat. Menurut seorang ilmuan ahli psikologis kekuatan belajar
seseorang setelah tiga puluh menit telah mengalami penurunan. Ia menyarankan agar guru
melakukan istirahat selama beberapa menit. Dengan memberikan selingan istirahat, maka perhatian
dan prestasi belajar dapat ditingkatkan.

Mengolah Bahan Belajar


Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menrima isi dan cara pemerolehan
ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar merupakan nilai nilai dari suatu
ilmu pengetahuan, nilai agama, nilai kesusilaan, serta nilai kesenian. Kemampuan siswa dalam
mengolah bahan pelajaran menjadi makin baik jika siswa berperan aktif selama proses belajar.
Kemampuan Berprestasi
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu proses belajar. Pada
tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia lakukan. Siswa menunjukan bahwa ia
telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau menstransfer hasil belajar. Dari pengalaman
sehari-hari di sekolah diketahui bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik.
Kemampuan berprestasi tersebut terpengaruh pada proses-proses penerimaan, pengaktifan, prapengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk pembangkitan pesan dan
pengalaman.
Rasa Percaya Diri Siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi
perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam
proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian perwujudan diri yang
diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa. Semakin sering siswa mampu menyelesaikan tugasnya
dengan baik maka rasa percaya dirinya akan meningkat. Dan apabila sebaliknya yang terjadi maka
siswa akan merasa lemah percaya dirinya.
Intelegensi Dan Keberhasilan Belajar
Intelegensi merupakan suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak
secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan
tersebut menjadi actual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari.
Dengan perolehan hasil belajar yang rendah, yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau
kurangnya kesungguhan belajar, berarti terbentuknya tenaga kerja yang bermutu rendah. Hal ini
akan merugikan calon tenaga kerja itu sendiri. Oleh karena itu pada tempatnya mereka didorong
untuk melakukan belajar dibidang kterampilan.
Kebiasaan Belajar
Kebiasaan-kebiasaan belajar siswa akan mempengaruhi kemampunanya dalam berlatih dan
menguasai materi yang telah disampaikan oleh guru. Kebiasaan buruk tersebut dapat berupa
belajar pada akhir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah
hanya untuk bergengsi, datang terlambat bergaya pemimpin, bergaya jantan seperti merokok.
Kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dapat ditemukan di sekolah-sekolah pelosok, kota besar, kota
kecil. Untuk sebagian kebiasaan tersebut dikarenakan oleh ketidakmengertian siswa dengan arti
belajar bagi diri sendiri.
Cita-Cita Siswa

Cita-cita sebagai motivasi intrinsic perlu didikan. Didikan memiliki cita-cita harus ditanamkan sejak
mulai kecil. Cita-cita merupakan harapan besar bagi siswa sehingga siswa selalu termotivasi untuk
belajar dengan serius demi menggapai cita-cita tersebut. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita
dengan kemampuan berprestasi maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan
kemampuannya sendiri.
2.

Faktor-Faktor Eksternal Belajar

Faktor-faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut:

Guru Sebagai Pembina Siswa Belajar

Guru adalah pengajar yang mendidik . Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan
keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang mengajar siswa
adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. Sebagai
seorang pribadi ia juga mengembangkan diri menjadi pribadi utuh. Sebagai seorang diri yang
mengembangkan keutuhan pribadi, ia juga menghadapi masalah pengembangan diri, pemenuhan
kebutuhan hidup sebagai manusia.

Prasarana Dan Sarana Pembelajaran

Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal
ini tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan melakukan proses
pembelajaran

yang

baik.

Justru

disinilah

muncul

bagaimana

mengolah

sarana

dan

prasaranapembelajaran sehingga tersenggara proses belajar yang berhasil dengan baik.

Lingkungan Sosial Siswa Di Sekolah

Tiap siswa dalam lingkungan sosial memiliki kedudukan, peranan dan tanggung jawab sosial
tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti hubungan sosial tertentu. Dalam
kehidupan tersebut terjadi hubungan akrab kerjasama, kerja berkoprasi, berkompetisi, bersaing,
konflik atau perkelahian.

Kurikulum Sekolah

Kurikulum yang diberlakukan di sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah,
atau yayasan pendidikan. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyrakat. Dengan
kemajuan dan perkembangan masyrakat timbul tuntutan kebutuhan baru dan akibatnya kurikulum
sekolah perlu direkonstruksi. Adanya rekonstruksi itu menimbulkan kurikulum baru. Perubahan
kurikulum sekolah menimbulkan masalah seperti tujuan yang akan dicapai mungkin akan berubah,
isi pendidikan berubah, kegiatan belajar mengajar berubah serta evaluasi berubah.
3.

Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar

Kesulitan belajar ini merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis pernyataan
(manifestasi). Karena guru bertanggung jawab terhadap proses belajar-mengajar, maka ia
seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala kesulitan belajar. Pemahaman ini merupakan
dasar dalam usaha memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.
Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke
dalam dua kategori yaitu :

1)

Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ), antara lain:
Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara,

gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan ( alergi, asma, dan sebagainya ).

Ketidakseimbangan mental ( adanya gangguan dalam fungsi mental ), pertimenampakkan

kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.

Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri

(maladjustment ), tercekam rasa takut, benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.

Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan

minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti
pelajaran.
2)

Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), yaitu :

a). Sekolah, antara lain :

Sifat kurikulum yang kurang fleksibel

Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru)

Metode mengajar yang kurang memadai

Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar

b). Keluarga (rumah), antara lain :

Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis.

Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya

Keadaan ekonomi.

Menurut Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah, terutama guru. Guru yang akrab dengan
murid, menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau murid
menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan sukses dalam diri muridnya dan hal ini
akan menyuburkan keyakinan diri dalam diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang
memiliki penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya, sehingga murid-muridnya juga akan
memiliki penilaian diri yang positif.
Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid
maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau
kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang
murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar
memperhatikan peserta didiknya.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk menjamin keberhasilan belajar adalah :
1)

Identifikasi masalah siswa

2)

Diagnosa

3)

Prognosa

4)

Pemberian Bantuan

5)

Follow up (tindak lanjut)

Upaya-Upaya Penanggulangan Masalah Belajar :


1. Perhatikan Mood
2. Siapkan Ruang Belajar
3. Komunikasi
4. Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
5. Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya
6. Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan.
7. Memperkirakan alternatif pertolongan.

3.2 Hasil Observasi


Observasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui penyebab kesulitan belajar siswa dan
untuk mengetahui solusi apa yang diberikan oleh pihak BK (Bimbingan Konseling) dalam mengatasi
masalah belajar siswa.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan diketahui penyebab kesulitan belajar siswa,
diantaranya sebagai berikut :
1.

Keadaan kelas yang kurang kondusif. Penataan ruangan yang tidak menunjang dalam

kegiatan pembelajaran.
2.

Cara mengajar guru yang tidak memfasilitasi berbagai gaya belajar siswa dan sikap guru yang

dictator.
3.

Pandangan siswa terhadap suatu mata pelajaran yang menganggap mata pelajaran itu sulit

sehingga siswa merasa segan dan terbebani untuk mempelajarinya.


4.

Adanya faktor dari lingkungan luar seperti masalah keluarga dan masalah ekonomi.

Adapun solusi yang diberikan oleh pihak BK (Bimbingan Konseling) dalam mengatasi masalah
belajar siswa, yaitu :
1.

Melakukan pendekatan terhadap siswa

2.

Pencarian data tentang masalah yaitu dengan berkomunikasi dengan orang tua siswa dan wali

kelas.
3.

Melakukan konsultasi secara privat.

MAKALAH MENGATASI RASA MALAS BELAJAR SISWA


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Dari hasil observasi yang kita lakukan, dapat kita ketahui bahwa ada 2 faktor yang dapat membuat
siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran, yaitu:

Faktor internal belajar siswa, meliputi sikap siswa dalam belajar, motivasi belajar siswa,

konsentrasi siswa, cara mengolah pembelajaran, rasa percaya diri siswa, kebiasaan belajar, dan
cita-cita siswa.

Faktor eksternal belajar siswa, meliputi guru sebagai pembina siswa belajar, sarana dan

prasarana, lingkungan siswa di sekolah dan kurikulum sekolah.


Adapun solusi yang diberikan oleh pihak BK (Bimbingan Konseling) dalam mengatasi masalah
belajar siswa, yaitu :

Melakukan pendekatan terhadap siswa


Pencarian data tentang masalah yaitu dengan berkomunikasi dengan orang tua siswa dan

wali kelas.

Melakukan konsultasi secara privat.

4.2 Saran
Agar proses belajar mengajar siswa dapat berlangsung secara optimal, diperlukan pendekatan yang
lebih intensif dari guru BK. Sehingga siswa dapat terus terpantau bagaimana perkembangannya
dalam proses pembelajaran.

http://makalahinyong.blogspot.com/2014/01/makalah-cara-mengatasikesulitan.html

BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011

MASALAH - MASALAH BELAJAR


A. Definisi Masalah Belajar
Masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat
sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya sebagai
suatu hal yang tidak mengenakan. Prayitno (1985) mengemukakan bahwa masalah adalah
sesuatu yang tidak disukai adanya, menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri dan atau orang lain,
ingin atau perlu dihilangkan. Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar
merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dari definisi masalah dan belajar maka masalah belajar dapat diartikan atau didefinisikan
sebagai berikut :
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat
kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan.
Masalah-masalah Belajar adalah segala masalah yang terjadi selama proses belajar itu
sendiri. Masalah-masalah belajar tetap akan dijumpai. Hal ini merupakan pertanda bahwa belajar
merupakan kegiatan yang dinamis, sehingga perlu secara terus menerus mencermati perubahanperubahan yang terjadi pada siswa.
Masalah-masalah belajar baik intern maupun ekstern dapat dikaji dari dimensi guru
maupun dimensi siswa, sedangkan dikaji dari tahapannya, masalah belajar dapat terjadi pada
waktu sebelum belajar, selama proses belajar dan sesudah, sedangkan dari dimensi guru, masalah
belajar dapat terjadi sebelum kegiatan belajar, selama proses belajar dan evaluasi hasil belajar.
Masalahnya sering kali berkaitan dengan pengorganisasian belajar.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya :
(a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e)
learning disabilities.
Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang
terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami
kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau
terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang
dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa
dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan
dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak
berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya

3.

4.

5.
B.
1.
a.

b.

c.

d.

e.

f.

subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang
yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun
karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan
volley dengan baik.
Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual
yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang
telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ =
130 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia
membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf
potensi intelektual yang sama.
Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak
mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Faktor Faktor Kesulitan Belajar
Faktor Internal
Ciri Khas/Karekteristik Siswa
Dapat dilihat dari kesediaan siswa untuk mencatat pelajaran, mempersiapkan buku, alatalat tulis atau hal-hal yang diperlukan. Namun, bila mana siswa tidak memiliki minat untuk
belajar, maka siswa tersebut cenderung mengabaikan kesiapan belajar.
Sikap Terhadap Belajar
Sikap siswa dalam proses belajar, terutama sekali ketika memulai kegiatan belajar
merupakan bagian penting untuk diperhatikan karena aktivitas belajar siswa banyak ditentukan
oleh sikap siswa ketika akan memulai kegiatan belajar. Namun, bila lebih dominan sikap
menolak sebelum belajar maka siswa cenderung kurang memperhatikan atau mengikuti kegiatan
belajar.
Motivasi Belajar
Di dalam aktivitas belajar, motivasi individu dimanefestasikan dalam bentuk ketahanan
atau ketekunan dalam belajar, kesungguhan dalam menyimak, mengerjakan tugas dan
sebagainya. Umumnya kurang mampu untuk belajar lebih lama, karena kurangnya kesungguhan
di dalam mengerjakan tugas. Oleh karena itu, rendahnya motivasi merupakan masalah dalam
belajar yang memberikan dampak bagi ketercapaianya hasil belajar yang diharapkan.
Konsentrasi Belajar
Kesulitan berkonsentrasi merupakan indikator adanya masalah belajar yang dihadapi
siswa, karena hal itu akan menjadi kendala di dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan.
Untuk membantu siswa agar dapat berkonsentrasi dalam belajar tentu memerlukan waktu yang
cukup lama, di samping menuntut ketelatenan guru.
Mengelolah Bahan Ajar
Siswa mengalami kesulitan di dalam mengelolah bahan, maka berarti ada kendala
pembelajaran yang dihadapi siswa yang membutuhkan bantuan guru. Bantuan guru tersebut
hendaknya dapat mendorong siswa agar memiliki kemampuan sendiri untuk terus mengelolah
bahan belajar, karena konstruksi berarti merupakan suatu proses yang berlangsung secara
dinamis.
Menggali Hasil Belajar

g.

h.

1)
2)
3)
4)
5)
i.

Bagi guru dan siswa sangat penting memperhatikan proses penerimaan pesan dengan
sebaik-baiknya terutama melalui pemusatan perhatian secara optimal. Guru hendaknya berupaya
mengaktifkan siswa melalui pemberian tugas, latihan, agar siswa mampu meningkatkan
kemampuan dalam mengolah pesan-pesan pembelajaran.
Rasa Percaya Diri
Salah satu kondisi psikologis seseorang yang berpengaruh terhadap aktivitas fisik dan
mental dalam proses pembelajaran adalah rasa percaya diri. Rasa percaya diri umumnya muncul
ketika seseorang akan melakukan atau terlibat di dalam suatu aktivitas tertentu di mana
pikirannya terarah untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkannya. Hal-hal ini bukan
merupakan bagian terpisah dari proses belajar, akan tetapi merupakan tanggung jawab yang
harus diwujudkan guru bersamaan dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan.
Kebiasaan Belajar
Adalah perilaku belajar seseorang yang telah tertanam dalam waktu yang relatif lama
sehingga memberikan ciri dalam aktivitas belajar yang dilakukan.
Ada beberapa bentuk kebiasaan belajar yang sering dijumpai :
belajar tidak teratur
daya tahan rendah
belajar hanya menjelang ulangan atau ujian
tidak memiliki catatan yang lengkap
sering datang terlambat, dan lain-lain
Factor Fisiologis
Faktor fisiologi adalah factor fisik dari anak itu sendiri. seorang anak yang sedang sakit,
tentunya akan mengalami kelemahan secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran,
memahami pelajaran menjadi tidak sempurna. Selain sakit factor fisiologis yang perlu kita
perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat
tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran,
kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli,
bisu, dan lain sebagainya. Faktor fisiologi adalah factor fisik dari anak itu sendiri. seorang anak
yang sedang sakit, tentunya akan mengalami kelemahan secara fisik, sehingga proses menerima
pelajaran, memahami pelajaran menjadi tidak sempurna. Selain sakit factor fisiologis yang perlu
kita perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah
cacat tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang
pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta cacat tubuh yang tetap (serius)
seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.

2. Faktor-faktor Eksternal Belajar


a. Sekolah, antara lain :
Letak sekolah yang terlalu bising
Sifat kurikulum yang kurang fleksibel
Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru)
Metode mengajar yang kurang memadai
Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar
b. Keluarga (rumah), antara lain :

c.

Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis.


Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
Keadaan ekonomi.
Lingkungan
Lingkungan yang tidak mendukung seperti mabuk-mabukan, merokok dll.
Lingkungan yang menganggap pendidikan itu tidak penting

C. Alternatif mengenal & mengatasi kesulitan belajar


Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :
1) Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya
atau di bawah potensi yang dimilikinya.
2) Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang
sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
3) Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal
dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
4) Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura,
dusta dan sebagainya.
5) Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak
mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat
pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
6) Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung,
pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam
menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga
mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai
tujuan-tujuan belajar.
Menurut Burton bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :
1) Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau
tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah
ditetapkan oleh guru (criterion reference).
2) Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat
kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam
under achiever.
3) Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi
kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau
belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)
Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami
kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria
ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan
pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan
dengan potensi; dan (4) kepribadian.

Upaya-Upaya Penanggulangan Masalah Belajar


1) Perhatikan Mood
Untuk mengenal mood anak, seorang ibu harus mengenal karakter dan kebiasaan belajar
anak. Apakah anak belajar dengan senang hati atau dalam keadaan kesal. Jika belajar dalam
suasana hati yang senang, maka apa yang akan dipelajari lebih cepat ditangkap. Bila saat belajar,
ia merasa kesal, coba untuk mencari tahu penyebab munculnya rasa kesal itu. Apakah karena
pelajaran yang sulit atau karena konsentrasi yang pecah. Nah di sini tugas orangtua untuk
menyenangkan hati si anak.
2) Siapkan Ruang Belajar
Kesulitan belajar anak bisa juga karena tempat yang tersedia tidak memadai. Karena itu,
coba sediakan tempat belajar untuk anak. Selain itu, saat mengajari anak ini Anda bisa
melakukannya dengan menularkan cara belajar yang baik. Misalnya bercerita kepada anak
tentang bagaimana dahulu ibunya menyelesaikan mata pelajaran yang dianggap sulit. Biasanya
anak cepat larut dengan cerita ibunya sehingga ia mencoba mencocok-cocokkan dengan apa
yang dijalaninya sekarang.
3) Komunikasi
Masa kecil kita, pelajaran yang disukai tergantung bagaimana cara guru itu mengajar.
Tidak bisa dipungkiri perhatian terhadap mata pelajaran, tentu ada kaitan dengan cara guru
mengajar di kelas.
Sempatkan juga waktu dan dengarkan anak-anak bercerita tentang bagaimana cara guru
mereka mengajar di sekolah. Jika, anak Anda aktif maka banyak sekali cerita yang lahir termasuk
bagaimana guru kelas memperhatikan baju, ikat rambut, dan sepatunya. Khusus soal komunikasi
ini, biarkan anak-anak bercerita tentang gurunya. Sejak dini biasakan anak berperilaku sportif
dan pandai menyampaikan pendapatnya. Selamat mencoba.
4) Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami
kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi
Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam record academic kemudian dibandingkan dengan
nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati
tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas,
berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list
Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dan guru pembimbing.
5) Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya, dengan cara mendeteksi kesulitan
belajar pada bidang studi tertentu, seperti catatan keterlambatan penyelesaian tugas,
ketidakhadiran, kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.
6) Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan.
7) Memperkirakan alternatif pertolongan. Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang
bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif).
Kamu bisa mencari latar belakang penyebab kesulitan belajarmu bersama guru
pembimbing, Misalnya kamu bisa menganalisis dokumen diri yang meliputi identitas, riwayat

1.

2.

3.

4.

5.

pendidikan, prestasi belajar, keluarga, minat, bakat, cita-cita, kecerdasan, lingkungan sosial,
riwayat kesehatan, catatan/komentar guru mata pelajaran dan orang tua, kedudukanmu dalam
kelompok sosial, dan sebagainya. Dari sini kemungkinan besar kamu akan memahami mengapa
kamu sekarang mengalami kesulitan belajar.
Berikut ini beberapa alternatif dalam kesulitan belajar :
Observasi Kelas
Pada tahap ini observasi kelas dapat membantu mengurangi kesulitan dalam tingkat
pelajaran, misalnya memeriksa keadaan secara fisik bagaimana kondisi kelas dalam kegiatan
belajar, cukup nyaman, segar, sehat dan hidup atau tidak. Kalau suasana kelas sangat nyaman,
tenang dan sehat, maka itu semua dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih semangat lagi.
Pemeriksaan Alat Indera
Dalam hal ini dapat difokuskan pada tingkat kesehatan siswa khusus mengenai alat
indera. Diupayakan minimal dalam sebulan sekali pihak sekolah melakukan tes atau pemeriksaan
kesehatan di Puskesmas / Dokter, karena tingkat kesehatan yang baik dapat menunjang pelajaran
yang baik pula. Maka dari itu, betapa pentingnya alat indera tersebut dapat menstimulasikan
bahan pelajaran langsung ke diri individu.
Teknik Main Peran
Disini, seorang guru bisa berkunjung ke rumah seorang murid. Di sana seorang guru
dapat leluasa melihat, memperhatikan murid berikut semua yang ada di sekitarnya. Di sini guru
dapat langsung melakukan wawancara dengan orang tuanya mengenai kepribadian anak,
keluarga, ekonomi, pekerjaan dan lain-lain. Selain itu juga, guru bisa melihat keadaan rumah,
kondisi dan situasinya dengan masyarakat secara langsung.
Tes Diagnostik Kecakapan/Tes IQ/Psikotes
Dalam hal ini seorang guru dapat mengetahui sejauh mana IQ seseorang dapat dilihat
dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis dan sederhana. Dengan latihan psikotes
dapat diambil beberapa nilai kepribadian siswa secara praktis dari segi dasar, logika dan privasi
seseorang.
Menyusun Program Perbaikan
Penyusunan program hendaklah dimulai dari segi pengajar dulu. Seorang pengajar harus
menjadi seorang yang konsevator, transmitor, transformator, dan organisator. Selanjutnya
lengkapilah beberapa alat peraga atau alat yang lainnya yang menunjang pengajaran lebih baik,
karena dengan kelengkapan-kelengkapan yang lebih kompleks, motivasi belajarpun akan dengan
mudah didapat oleh para siswa.
Hendaklah semua itu disadari sepenuhnya oleh para pengajar sehingga tidak ada lagi
kendala dan hambatan yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Selain itu tingkat kedisiplinan
yang diterapkan di suatu sekolah dapat menunjang kebaikan dalam proses belajar. Disiplin dalam
belajar akan mampu memotivasi kegiatan belajar siswa.

Alternatif lain yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan
tetapi sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan
beberapa langkah berikut ini :
a) Menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian
tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi
siswa.

b) Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan adanya


perbaikan.
c) Menyusun program perbaikan.
Dalam menyusun program pengajaran perbaikan diperlukan adanya ketetapan sebagai
berikut :
a) Tujuan pengajaran remedial
Contoh dari tujuan pengajaran remedial yaitu siswa dapat memahami kata tinggi,
pendek dan gemuk dalam berbagai konteks kalimat.
b) Materi pengajaran remedial
Contoh materi pengajaran remedial yaitu dengan cara lebih khusus dalam
mengembangkan kalimat-kalimat yang menggunakan kata-kata seperti di atas.
c) Metode pengajaran remedial
Contoh metode pengajaran remedial yaitu dengan cara siswa mengisi dan mempelajari
hal-hal yang dialami oleh siswa tersebut dalam menghadapi kesulitan belajar.
d) Alokasi waktu
Contoh alokasi waktu remedial misalnya waktunya Cuma 60 menit.
e) Teknik evaluasi pengajaran remedial
Contoh teknik evaluasi pengajaran remedial yaitu dengan menggunakan tes isian yang
terdiri atas kalimat-kalimat yang harus disempurnakan, contohnya dengan menggunakan kata
tinggi, kata pendek, dan kata gemuk.
Selanjutnya untuk memperluas wawasan pengetahuan mengenai alternatif-alternatif atau
cara-cara pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan mempelajari bukubuku khusus mengenai bimbingan dan penyuluhan. Selain itu, guru juga sangat dianjurkan untuk
mempertimbangkan penggunaan model-model mengajar tertentu yang dianggap sesuai sebagai
alternatif lain atau pendukung cara memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.
Keaktifan siswa tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila
hanya fisik anak yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar
tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya dengan siswa tidak belajar, karena siswa
tidak merasakan perubahan di dalam dirinya, padahal pada hakekatnya belajar adalah
perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang telah berakhirnya melakukan aktivitas
belajar.
Penerapan sikap dan pembentukan kepribadian pada diri siswa harus dioptimalkan,
mengingat keberhasilan suatu proses pembelajaran bukan diukur oleh adanya penambahan dan
perubahan pengetahuan serta keterampilan saja, namun nilai sikap harus terakomodasi, sebab
dengan perubahan sikap akan menentukan terhadap perubahan kognitif ataupun psikomotor.
Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses, yaitu
proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat
menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengjar
adalah proses memberikan bimbingan, bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah interaksi antara guru dengan peserta
didik dan antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, serta dengan lingkungannya
sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Agar proses belajar mengajar
tersebut berlangsung secara efektif selain diperlukan alat peraga sebagai pelengkap yang

digunakan guru dalam berinteraksi dengan peserta didik diperlukan pula aturan dan tata tertib
yang baku agar dalam pelaksanaannya teratur dan tidak menyimpang.
Dari hakikat proses belajar mengajar, pembelajaran merupakan proses komunikasi, maka
pembelajaran seyogyanya tidak atraktip melainkan harus demokrasi. Siswa harus menjadi subjek
belajar, bukan hanya menjadi pendengar setia atau pencatat yang rajin, tetapi siswa harus aktif
dan kreatif dalam berbagai pemecahan masalah. Dengan demikian guru harus dapat memilih dan
menentukan pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan kemampuannya, kekhasan bahan
pelajaran, keadaan sarana dan keadaan siswa.

@ Data terlampir
Dari analisis hasil ulangan harian semester 1 materi pelajaran IPA BIOLOGI yang
mendapatkan nilai di bawah rata-rata ada 3 orang yaitu Bayu Setiawan, Dicky setiawan putra
dan mikhael adi kurniawan, Ketiga anak ini di mungkinkn mengalami kesulitan belajar karena
mereka mendapatkan nilai di bawah rata-rata, rata rata kelas yaitu 65. Kemungkinan Pemberian
bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan yaitu pengajaran remedial, bimbingan belajar
pribadi, dan bimbingan belajar kelompok.
http://ranikurniasih.blogspot.com/2011/10/masalah-masalah-kesulitanbelajar.html

MAKALAH KESULITAN BELAJAR


PUBLISHED MEI 20, 2012 BY PURPLENITADYAH

1 Vote

BAB I
PENDAHULUAN

1. a.

Latar belakang

Keberhasilan dalam melaksanakan suatu tugas merupakan dambaan


setiap orang. Berhasil berarti terwujudnya harapan. Hal ini juga
menyangkut segi efisiensi, rasa percaya diri, ataupun prestise. Lebihlebih bila keberhasian tersebut terjadi pada tugas atau aktivitas yang
berskala besar. Namun perlu disadari bahwa pada dasarnya setiap
tugas atau aktivitas selalu berakhir pada dua kemungkinan : berhasil
atau gagal.
Belajar merupakan tugas utama siswa, di samping tugas-tugas yang
lain. Keberhasilan dalam belajar bukan hanya diharapkan oleh siswa
yang bersangkutan, tetapi juga oleh orang tua, guru, dan juga
masyarakat. Tentu saja yang diharapkan bukan hanya berhasil, tetapi
berhasil secara optimal. Untuk itu diperlukan persyaratan yang
memadai, yaitu persyaratan psikologis, biologis, material, dan
lingkungan sosial yang kondusif.
Bila keberhasilan merupakan dambaan setiap orang, maka kegagalan
juga dapat terjadi pada setiap orang. Beberapa wujud ketidak
berhasilan siswa dalam belajar yaitu : memperoleh nilai jelek untuk

sebagian atau seluruh mata pelajaran, tidak naik kelas, putus sekolah
(dropout), dan tidak lulus ujian akhir.
Kegagalan dalam belajar sebagaimana contoh di atas berarti rugi
waktu, tenaga, dan juga biaya. Dan tidak kalah penting adalah dampak
kegagalam belajar pada rasa percaya diri. Kerugian tersebut bukan
hanya dirasakan oleh yang bersangkutan tetapi juga oleh keluarga dan
lembaga pendidikan. Oleh karena itu upaya mencegah atau setidak
tidaknya meminimalkan, dan juga memecahkan kesulitan belajar
melalui diagnosis kesulitan belajar siswa merupakan kegiatan yang
perlu dilaksanakan.

1. b.

Rumusan Masalah

Apa yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar dalam


mata pelajaran IPS?
1. c.

Tujuan penelitian

Untuk mengetahui penyebab kesulitan belajar siswa dalam mata


pelajaran IPS.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. A.

TEORI-TEORI BELAJAR

Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulusrespons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons
makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam
lingkungannya. Proses yang menunjukkan hubungan yang terusmenerus antara respons yang muncul serta rangsangan yang diberikan
dinamakan suatu prosess belajar (Tan, 1981:91)
1. 1.

Teori Conditioning

Bentuk paling sederhana dalam belajar ialah conditioning. Karena


conditioning sangat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya,
para ahli sering mengambilnya sebagai contoh untuk menjelaskan
dasar-dasar dari semua proses belajar. Meskipun demikian, kegunaan
conditioning sebagai contoh bagi belajar, masih menjadi bahan
perdebatan (Walker, 1967).
1. 2.

Teori Psikologi Gestlat

Teori belajar menurut psikologi Gestlat sering kali disebut insigt full
learning atau field teori. Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik
dengan teori ini, yaitu organismic, pattern, holistic, interegation,
configuration, dan closure. Perintis teori Gestalt ini ialah Chr. Von
Ehrenfels, dengan karyanya Uber Gestaltqualitation (1890). Aliran ini
menekankan pentingnya keseluruhan yaitu sesuatu yang melebihi
jumlah unsure-unsurnya dan timbul lebih dulu dari pada bagianbagiannya. Pengikut-pengikut aliran psikologi Gestalt mengemukakan
konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi aliran-aliran lain . Bagi
yang mengikuti aliran Gestalt perkembangan itu adalah proses
diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer ialah
keseluruhan , sedangkan bagian bagiannya adalah sekunder; bagianbagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari pada keseluruhan
dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain ;
keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya.

1. B.
PENGERTIAN DAN GEJALA-GEJALA KESULITAN
BELAJAR
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesulitan belajar. Blassic
dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3),
menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak
antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik
yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang
mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal
inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan
penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian,
ataupun fungsi motoriknya.
Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 5) menganggap kesulitan
belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh
adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan
tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan,
mungkin bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses
belajarnya.

Kesulitan atau masalah belajar dapat dikenal berdasarkan gejala yang


dimanifestasikan dalam berbagai bentuk perilaku, baik secara kognitif,
afektif, maupun psikomotorik. Menurut Warkitri dkk. (1990 : 8.5 8.6),
individu yang mengalami kesulitan belajar menunjukkan gejala sebagai
berikut.
1. Hasil belajar yang dicapai rendah dibawah rata-rata
kelompoknya.
2. Hasil belajar yang dicapai sekarang lebih rendah disbanding
sebelumnya.
3. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang
telah dilakukan.
4. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar.
5. Menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh
dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang
tidak menyesal, dst.
6. Menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya
membolos, pulang sebelum waktunya, dst.
7. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya
mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dst.
1. C.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR

Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326),


faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat
berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang
bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari
luar diri yang bersangkutan.
1. 1.

Faktor Internal

Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari
dalam diri mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
1. Faktor kejiwaan, antara lain :
1.

Minat terhadap mata kuliah kurang;

2.

Motif belajar rendah;

3.

Rasa percaya diri kurang;

4.

Disiplin pribadi rendah;

5.

Sering meremehkan persoalan;

6.

Sering mengalami konflik psikis;

7.

Integritas kepribadian lemah.

2. Faktor kejasmanian, antara lain :


1.

Keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);

2.

Adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;

3.

Adanya gangguan pada fungsi indera;

4.

Kelelahan secara fisik.

1. 2.

Faktor Eksternal

Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada


atau berasal dari luar mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi
dua : faktor instrumental dan faktor lingkungan.
1. Faktor Instrumental

Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar


mahasiswa antara lain :
1. Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak
memadai;
2. Kurikulum yang terlalu berat bagi mahasiswa;
3. Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan
baik;
4. Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan
kebutuhan.

1. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik.
Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :
1. Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;
2. Lingkungan sosial kampus yang tidak kondusif;
3. Teman-teman bergaul yang tidak baik;
4. Lokasi kampus yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

1. A.

Variabel Penelitian

Variabel penelitian dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang akan


menjadi objek atau penelitian, sering pula dinyatakan bahwa variabel
penelitian itu sebagai faktor-faktor yang berperan dalam gejala yang
akan diteliti. Variabel yang kami gunakan dalam penelitian ini meliputi
kesulitan belajar.

1. B.

Populasi

Populasi adalah seluruh unsur atau elemen yang menjadi anggota


dalam suatukesatuan yang akan diteliti. Adapun populasi yang kami
ambil adalah seluruh siswa SMP Negeri 12 Bandung.

1. C.

Sampel

Sampel adalah wakil dari populasi yang diteliti. sampel yang kami
gunakan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri 12
Bandung yaitu sebanyak 45 orang yang diambil secara acak.

1. D.

Metode Penelitian

Di dalam melakukan penelitian mengenai Diagnostik Kesulitan Belajar


Siswa dalam Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 12 Bandung, metode
yang kami gunakan adalah deskriftif.

1. E.

Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data

Dikarenakan metode yang kami gunakan dalam melakukan penelitian


adalah metode kuesioner atau metode angket dan telaah buku, maka
otomatis instrumen atau alat pengukur data yang kami gunakan
berupa kuesioner atau angket dan hasil dari telaah buku dengan
pendekatan penelitian berupa pendekatan kualitatif berupa kata-kata
atau kalimat.

1. F.

Pelaksanaan Penelitian

Adapun kegiatan waktu penyebaran angket kami laksanakan pada :


Hari

: Rabu

Tanggal

: 04 Mei 2011

Tempat

: SMP Negeri 12 Bandung

Jam

: 10.00 WIb

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. A.

Pembahasan Secara Khusus

Berikut disajikan tabel-tabel dari pertanyaan yang diajukan pada siswasiswi yang dijadikan sampel yaitu sebanyak 45 siswa-siswi SMP Negeri
12 Bandung dari sampel yang dilakukan secara acak, berikut hasil
penelitian beserta pembahasannya.

a. Kelas

Jumlah

Persentase

Pembahasan :

VII

VIII

IX

10

27

22,2%

60%

17,8%

Sebanyak 10 responden dengan persentase 22,2% menjawab kelas VII,


27 responden dengan persentase 60% menjawab kelas VIII, dan 8
responden dengan persentase 17,8% menjawab kelas IX.

b. Jenis Kelamin
Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

15

30

Persentase

33,3%

66,7%

Pembahasan :
Sebanyak 15 responden dengan persentase 33,3% menjawab berjenis
kelamin laki-laki, dan 30 responden dengan persentase 66,7%
menjawab berjenis kelamin perempuan.

c. Usia
12 Tahun

Jumlah

13 Tahun

14 Tahun

15 Tahun

15

21

Persentase

13,3%

33,3%

46,7%

6,7%

Pembahasan :
Sebanyak 6 responden dengan persentase 13,3% menjawab berusia
12 tahun, 15 responden dengan persentase 33,3% menjawab berusia
13 tahun, 21 responden dengan persentase 46,7% menjawab berusia
14 tahun, dan 3 responden dengan presentase 6,7% menjawab berusia
15 tahun.

d. Merasa nyaman untuk belajar pada saat ini

Jumlah

Persentese

Ya

Tidak

Biasa saja

25

20

55,6%

44,4%

Pembahasan :
Sebanyak 25 responden dengan persentase 55,6% menjawab merasa
nyaman untuk belajar saat ini, 0 responden dengan persentase 0%
menjawab tidak merasa nyaman untuk belajar pada saat ini, dan 20
responden dengan persentase 44,4% menjawab biasa saja
untukbelajar pada saat ini.

e. Apakah pelajaran IPS sulit untuk dipahami


Ya

Tidak

Biasa Saja

Jumlah

27

Persentase

20%

20%

60%

Pembahasan :
Sebanyak 9 responden dengan persentase 20% menjawab pelajaran
IPS sulit untuk dipahami, 9 responden dengan persentase 20%
menjawab pelajaran IPS tidak sulit untuk dipahami, dan 27 responden
dengan persentase 60% menjawab pelajaran IPS biasa saja untuk
dipahami.

f. Penyebab kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS


Materi
yang
kurang
menarik

Guru yang
membosankan

Kurang
minat
terhadap
mata
pelajaran
IPS

Sarana
dan
prasarana
yang
kurang
lengkap

Alasan
lain

Jumlah

21

Persentase

15,6%

46,7%

13,3%

6,7%

17,8%

Pembahasan :
Sebanyak 7 responden dengan persentase 15,6% menjawab penyebab
kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS adalah materi yang kurang
menarik, 21 responden dengan persentase 46,7% penyebab kesulitan
belajar dalam mata pelajaran IPS adalah guru yang membosankan, 6
responden dengan persentase 13,3% menjawab penyebab kesulitan
belajar dalam mata pelajaran IPS adalah kurang minat terhadap
pelajaran IPS, 3 responden dengan persentase 6,7% menjawab
penyebab kesulitan belajar dalam mata pelajaran IPS adalah sarana
dan prasarana yang kurang lengkap, dan 8 responden dengan
persentase 17,8% menjawab penyabab kesulitan belajar dalam mata
pelajaran IPS dengan alasan lain seperti :
-

Biasa saja

Anak-anaknya main terus jika guru sedang


menerangkan
-

Banyak materi

Banyak hafalan

Pelajarannya rumit

Banyak yang harus dibaca.

g. Pernahkah mendapat nilai dibawah rata-rata dalam mata pelajaran


IPS

Ya

Tidak

Jumlah

35

10

Persentase

77,8%

22,2%

Pembahasan :
Sebanyak 35 responden dengan persentase 77,8% menjawab pernah
mendapat nilai dibawah rata-rata dalam mata pelajaran IPS dan 10
responden dengan persentase 22,2% menjawab tidak pernah
mendapat nilai dibawah rata-rata dalam mata pelajaran IPS.

h. Merasa menjadi seseorang yang asing di kelas anda sendiri


Ya

Tidak

Biasa saja

Jumlah

24

25

Persentase

53,3%

55,6%

Pembahasan :

Sebanyak 0 responden dengan persentase 0% menjawab merasa


menjadi seseorang yang asing di kelas sendiri, 24 responden dengan
persentase 53,3% menjawab tidak merasa menjadi seseorang yang
asing di kelas sendiri dan 25 responden dengan persentase 55,6%
menjawab biasa saja.

1. Perasaan saat ini


Merasa bosan
dengan
rutinitas
sekolah yang
menoton

Tidak
memiliki
semangat
untuk belajar
dikelas.

Alasan
lain

Jumlah

12

29

Persentas
e

26,7%

8,9%

64,4%

Pembahasan :
Sebanyak 12 responden dengan persentase 26,7% menjawab
perasaan saat ini adalah merasa bosan dengan rutinitas sekolah yang
menoton, 4 responden dengan persentase 8,9% menjawab perasaan

saat ini adalah tidak memiliki semangat untuk belajar di kelas, dan 29
responden dengan persentase 64,4% menjawab alasan lain yaitu:
-

Merasa senang belajar di sekolah.

Lebih semangat lagi untuk belajar agar mendapat juara.

Merasa nyaman

1. Hasil Wawancara
Nama

: Regita D. A

Kelas

: VIII F

Usia

: 14 tahun

Menurut dia, guru yang baik itu adalah guru yang bisa diajak curhat,
ngajarnya tenang, serta guru yang bisa mengerti sifat muridnya,
karena rata-rata guru sekarang, selalu ingin dimengerti oleh muridnya,
padahal itu salah.
Pendapat dia juga tentang mata pelajaran IPS itu mudah dipahami
karena IPS berkaitan dengan lingkungan social dan pelajaran IPS itu
mengasikkan. Saran dia agar pembelajaran IPS di dalam kelas agar
lebih menarik dan mudah mengerti yaitu guru harus menerangkan
dengan jelas.

Nama

: Adistya. O

Kelas

: IX-B

Usia

: 14 tahun

Menurut dia guru yang baik dan bisa membuat merasa nyaman di
kelas yaitu guru yang memberikan banyak tanya jawab kepada
muridnya, serta harus ada kisi-kisi di setiap akhir pelajaran.
Pendapat dia tentang mata pelajaran IPS itu sulit untuk dipahami
karena pelajaran IPS itu harus lebih banyak membacanya dan lebih
banyak materinya. Dia juga berkata bahwa jarang sekali dia
berkonsultasi dengan guru BK bahwa dia mengalami kesulitan belajar
dalam mata pelajaran IPS, malah dia sering dipanggil guru BK karena
sering bolos sekolah dan kesiangan masuk sekolah.
Saran dia agar pembelajaran IPS di dalam kelas agar lebih menarik
dan mudah dimengerti yaitu guru harus ada kerjasama antara guru
dan murid.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

1. A.

Kesimpulan

Kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi


akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh.
Factor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar, yaitu:
-

Faktor Internal

Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari
dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor
kejiwaan dan faktor kejasmanian.
-

Faktor eksternal

Berdasarkan observasi yang kami lakukan di SMP Negeri 12 Bandung,


kebanyakan siswa mengalami kesulitan belajar dikarenakan guru yang
membosankan sehingga mereka tidak tertarik terhadap mata pelajaran
yang disampaikan.
Ada beberapa kasus kesulitan belajar yang terjadi di SMP Negeri 12
Bandung, yaitu :

1. Kasus kesulitan belajar dengan latar belakang kurangnya


pemahaman tentang pelajaran IPS itu sendiri karena kebanyakan
responden menjawab bahwa pelajaran IPS itu biasa saja. Biasa
saja di sini maksudnya, menganggap pelajaran IPS itu susahsusah gampang atau gampang-gampang susah untuk dipahami.
2. Kasus kesulitan belajar yang berlatar belakang sikap negatif
terhadap guru. Berdasarkan data yang terkumpul, guru yang
membosankan menjadi salah satu faktor penyebab kesulitan
belajar dalam mata pelajaran IPS.
3. Kasus kesulitan belajar yang berlatar belakang responden pernah
mendapatkan nilai di bawah rata-rata dalam mata pelajaran IPS.

1. B.

Saran (Remedial)

1.

Guru IPS harus secara ekstra dalam menjelaskan pelajaran


IPS, agar siswa pun mampu memahami apa yang di bahas dalam
mata pelajaran IPS.

2.

Sebaiknya seorang guru IPS harus lebih kreatif dalam


menyampaikan materi, sehingga siswa tidak merasa bosan baik
bosan terhadap guru ataupun dengan pelajarannya dan akhirnya
pun siswa dapat menangkap apa yang disampaikan oleh guru
tersebut.

3.

Guru IPS harus melakukan remedial sehingga siswa


mempunyai kesempatan kembali dalam memperbaiki nilainya
tersebut.

4.

Sebaiknya guru BK tidak hanya melayani dan


memperhatikan siswa yang nakal. Tetapi juga, harus
memperhatikan siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar.

https://purplenitadyah.wordpress.com/2012/05/20/makalah-kesulitan-belajar-2/

Peranan Bimbingan dan Konseling (BK) semakin penting di sekolah, terutama untuk mengatasi kesulitan
belajar siswa. Hampir dapat dipastikan bahwa dalam satu sekolah akan didapati murid-murid yang
memiliki masalah kesulitan belajar. Siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut harus diarahkan dan
diberi motivasi dalam bentuk bimbingan dan penyuluhan.
Untuk menyelenggarakan layanan ini dengan baik, salah satu syarat pokok yang dikuasai adalah
memahami hakikat bimbingan dan konseling itu sendiri. Bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses
pemberi bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut
dapat memahami dirinya sendiri, sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara
wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta
kehidupan pada umumnya (Sukardi, 1995: 6).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa bagi yang mendapat penyuluhan nantinya akan
dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan memberikan sumbangan yang berarti kepada kehidupan
masyakat pada umumnya. Dikatakan demikian, karena dengan bimbingan akan membantu individu
mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai makhluk sosial.
Bimbingan dapat juga diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan
sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri,
penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang
optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan (Sukardi, 1983: 12).
Dalam pengertian lain dikatakan bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada
seseorang (individu) atau sekelompok orang agar mereka itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi
yang mandiri. Kemandirian ini mencakup lima fungsi pokok, yakni (1) mengenal diri sendiri dan
lingkungannya; (2) menerima diri sendiri dan lingkungannya secara positif dan dinamis; (3) mengambil
keputusan; (4) mengarahkan diri; dan (5): mewujudkan diri. (Partowisastro: 1983: 7)
Dengan membandingkan pengertian bimbimbingan sebagaimana yang telah dikutip di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang diberikan kepada seseorang atau
sekelompok orang secara terus menerus dan sistematis oleh pembimbing agar individu atau sekelompok
individu menjadi pribadi yang mandiri. Kemandirian yang menjadi tujuan usaha bimbingan ini mencakup
lima fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi yang mandiri yaitu:
1.
Mengenal
diri
sendiri
dan
lingkungannya
2.
Menerima
diri
sendiri
dan
lingkungannya
secara
3.
Mengambil
4.
Mengarahkan
diri
5. Mewujdukan diri sendiri.

sebagaimana
positif
dan

adanya
dinamis
keputusan
sendiri

Pemberian bimbingan dapat dilakukan dengan berbagai cara, serta menggunakan berbagai saluran dan
bahan yang ada, misalnya memberi mereka kesempatan untuk membaca dan menelaah sebuah buku
tentan sopan-santun, tata tertib, disiplin, cara belajar yang efektif, dan sebagainya.
Kata konseling dalam bahasa Indonesia diartikan dengan penyuluhan, yaitu bagian dari bimbingan, baik
sebagai layanan maupun sebagai teknik. Layanan penyuluhan merupakan jantung hati dari usaha
layanan bimbingan secara keseluruhan.

Sukardi (1983: 16) memberikan pengertian konseling sebagai suatu jenis layanan yang merupakan
bagian terpadu dari bimbingan. Konseling diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua orang
individu, di mana yang seorang (konselor) berusaha membantu yang lain (klien) untuk mencapai
pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan maslah-masalah yang dihadapinya pada
waktu yang akan datang.
Usaha yang dilakukan di dalam konseling ini hendaknya merupakan usaha yang laras, yaitu seimbang
dan sesuai dengan masalah yang dialami oleh klien dan kemampuan konselor sendiri. Karena konseling
merupakan pertemuan yang paling akrab antara dua orang, yaitu konselor dan klien, maka keakraban ini
harus dibina dengan baik, sehingga tercipta suasana keterbukaan dan kekeluargaan. Hal ini penting
dalam upaya menggali permasalahan dan menemukan solusi yang tepat.
Dengan memperhatikan pengertian bimbingan dan konseling sebagaimana yang telah diuraikan di atas,
maka hendaknya usaha bimbingan dan konseling tersebut tidak dilakukan oleh sembarang orang,
melainkan oleh tenaga yang terlatih untuk itu. Keahlian yang dibutuhkan dalam bidang ini adalah
mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap dan pandangan yang hendaknya disertai oleh kematangan
pribadi dan kemauan yang kuat untuk melakukan bimbingan dan konseling.
Kepustakaan:
Sukardi, Dewa Ketut. 1983. Organisasi Administrasi Bimbungan dan Konseling di Sekolah. Surabaya:
Usaha
Nasional.
Sukardi, Dewa Ketut. 1995. Proses Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Partowisastro, H. Koestoer. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah-sekolah. Jakarta: Erlangga.

http://www.tuanguru.com/2011/12/peranan-bk-dalam-mengatasi-kesulitanbelajar.html

A.
Latar
Belakang
Topik utama dalam pendidikan adalah manusia, karena manusia adalah subjek sekaligus objek
pendidikan. Manusia sebagai subjek bertanggung jawab untuk membina, memelihara, melestarikan, dan
mengembangkan kebudayaan yang ada di dalam masyarakatnya. Tanggung jawab itu tidak mungkin
terlaksana dengan baik tanpa dibarengi kualitas dari manusia itu sendiri. Hal ini sejalan dengan UUD
1945 yang di dalamnya dinyatakan tujuan membentuk negara kesatuan RI untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Tujuan tersebut dijabarkan dalam sistem pendidikan nasional (Indar, 1994:85).
Globalisasi dan perkembangan IPTEK yang semakin cepat dewasa ini mengharuskan bangsa Indonesia
untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan handal untuk menghadapi berbagai
tantangan, seperti krisis multidimensi yang melanda bangsa ini. Krisis tersebut telah menyebar ke semua
aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, hukum, moral, maupun kebudayaan dan bahkan bidang
pendidikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai peran dan konsep pendidikan dalam menghadapi
keadaan tersebut.
Konsep-konsep pendidikan pada masa lampau masih memiliki berbagai kelemahan dalam melahirkan
manusia-manusia yang berkualitas, karena kebijakan pendidikan masih bertumpu pada kepentingan
politik penguasa. Oleh karena itu, pada masa kini diperlukan konsep-konsep baru atau paradigma baru
pendidikan untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan yang semakin kompleks.
B.
Pengertian
Paradigma
Kata 'Paradigma" dalam bahasa Inggris adalah "paradigm" yang berarti "model" (Echols dan Shadily,
1992:417). Sedangkan Barker menyatakan bahwa kata "paradigma" berasal dari bahasa Yunani yaitu
"Paradeigma", yang juga berarti model, pola, dan contoh. (Barker, 1999:38).
Menurut istilah, Adam Smith mendefinisikan paradigma sebagai cara kita memahami kehidupan, seperti
air bagi ikan.
William Harmon menulis bahwa paradigma adalah cara yang mendasar dalam memahami, berfikir,
menilai, dan cara mengerjakan sesuatu yang digabungkan dengan visi tentang kehidupan tertentu.
Sedangkan Barker sendiri mendifinisikan paradigma sebagai seperangkat peraturan dan ketentuan
(tertulis maupun tidak) yang melakukan dua hal: (1) ia menciptakan atau menentukan batas-batas; dan
(2) ia menjelaskan kepada anda cara untuk berperilaku di dalam batas-batas tersebut agar menjadi orang
yang berhasil (Barker, 1999: 38-40).
Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, tampaklah bahwa paradigma adalah cara dan pola
yang mendasari pemahaman, penilaian, peraturan, dan pedoman dalam mengerjakan sesuatu. Jadi,
"paradigma baru" berarti cara atau pola baru dalam melakukan sesuatu.
Dengan demikian, bila dihubungkan dengan paradigma baru pendidikan nasional, maka dapatlah
dipahami bahwa haruslah ada cara-cara baru atau pola baru dalam pendidikan nasional. Dengan kata
lain bahwa kesalahan-kesalahan konsep pendidikan pada masa lalu perlu diadakan pembaruan.
Pembaruan yang dimaksud harus berorientasi pada kemajuan masa depan.
C.
Paradigma
Baru
Pendidikan
Nasional
Pembaruan pendidikan tidak mungkin terjadi tanpa adanya pembaruan paradigma. Pembaruan
paradigma pendidikan nasional harus dapat mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan

internal dan global. Paradigma tersebut haruslah mengarah kepada lahirnya generasi bangsa Indonesia
yang bersatu dan demokratis. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan dan penyusunan kurikulum
yang sentralistik harus diubah dan disesuaikan dengan tuntutan pendidikan yang demokratis. Demikian
pula dalam menghadapi gelobalisasi, maka proses pendidikan haruslah dapat meningkatkan kemampuan
berkompetisi di dalam kerja sama, inovatif, dan meningkatkan kualitas. Oleh sebab itu, paradigma baru
pendidikan nasional dapat mengembangkan kebhinekaan menuju satu masyarakat Indonesia yang
bersatu dan demokratis.
Dengan demikian, paradigma baru pendidikan nasional haruslah dituangkan dalam bentuk kebijakan
pemerintah. Kebijakan tersebut dapat dijabarkan dalam berbagai program pengembangan pendidikan
nasional secara bertahap dan berkelanjutan (Tilaar, 2000:19).
Kebijakan dan peran pendidikan yang berorientasi kemajuan ke masa depan itu adalah dapat melahirkan
manusia Indonesia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang memiliki moral yang
tinggi dan intelektual yang memadai untuk mengenal atau menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Manusia berkualitas yang hendak dilahirkan melalui pendidikan itu, tidak mungkin terealisasikan jika
pendidikan kita masih berorientasi pada nilai akademik saja, tetapi juga berorientasi pada bagaimana
seorang peserta didik mampu belajar dari pengalaman lingkungan, dan kehebatan para ilmuwan,
sehingga ia bisa mengembangkan potensi intelektualnya. (Sidi, 2001:26).
Orientasi pendidikan tersebut di atas tidak dapat terlaksana jika pendidikan kita tidak memiliki visi yang
jelas. Sidi (2001:25-27) menawarkan empat visi pendidikan yang harus diterapkan untuk menghasilkan
manusia yang berkualitas. Pertama, kita hendaknya mengubah paradigma teaching menjadi learning
(mengajar menjadi belajar). Dalam paradigma ini, peserta didik tidak lagi disebut siswa, tetapi pebelajar.
Jadi peserta didik belajar menyatakan pendapatnya dengan kritis atau bagaimana ia berpikir (learning to
think). Kedua, belajar untuk berbuat (learning to do). Jadi target yang ingin dicapai adalah keterampilan
peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah (how to solve the problem). Ketiga, belajar hidup
bersama (learning to live together). Jadi, pendidikan berorientasi pada pembentukan peserta didik yang
mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai latar belakang sosial. Di sinilah
peserta didik diarahkan untuk mengenal nilai-nilai seperti, HAM, perdamaian, toleransi, dan pelestarian
lingkungan hidup. Keempat, belajar menjadi diri sendiri (learning to be). Visi ini beorientasi pada usaha
untuk menghasilkan manusia yang mandiri, memiliki harga diri, dan tidak hanya mengharapkan materi
dan kedudukan. Kelima, metode pengajaran harus membentuk suasana yang mengaktifkan potensi
emosional, agar otak kanan terbuka sehingga daya pikir intuitif dan holistik dapat terangsang untuk
belajar.
D.
Penutup
Paradigma baru pendidikan adalah pola atau konsep-konsep baru pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional. Tujuan pendidikan adalah melahirkan sumber daya manusia yang mampu
menghadapi berbagai tantangan masa depan. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional haruslah
memiliki visi-misi yang jelas, strategi-strategi baru, dan konsep-konsep baru dalam proses dan
pengelolaan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan IPTEK dan perubahan sosial
yang terjadi.

Kepustakaan:
Barker, Joel Arthur. Paradigma Upaya Menemukan Masa Depan. Batam: Interajsar, 1999.
Echols,
M.John. Kamus
Inggris
Indonesia.
Jakarta:
Gramedia,
1992.
Indar,
Djumberansyah. Filsafat
Pendidikan.
Surabaya:
Karya
Abditama,
1994.
Sidi, Indra Djati . Menuju Masyarakat Belajar, Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta:
Paramadina,
2001.
Tilaar, HAR. Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya,
1999.
__________. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta, 2000.

Makalah Bimbingan dan Konseling:


Mengatasi Kesulitan Belajar
Belajar menurut Qomar Hamalik adalah : sesuatu bentuk pertumbuhan atau perubahan
dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru, berkat
pengalaman dan pelatihan (Hamalik, 1990:2).
Pemecahan kesulitan belajar menurut H. Koestoer Partowisastro dalam bukunya Diagnosa
dan pemecahan kesulitan belajar siswa ada beberapa tahapan dalam melakukannya,
yaitu : menelaah status siswa,memperhatikan sebab-sebab kesulitan belajar dan proses
pemecahan
kesulitan
belajar.
(Partowisastro,
1984:72).
a.
Menelaah
status
siswa
Menelaah status siswa adalah usaha meneliti hasil belajar siswa atau murid untuk
mengetahui sampai sejauh mana pelajaran yang mereka serap dan kesulitan-kesulitan apa
yang mereka hadapi dalam proses belajar.
b.
Mengidentifikasi
dan
klasifikasi
sebab-sebab
kesulitan
belajar
siswa
Mengidentifikasi kasus merupakan langkah yang pertama dilakukan oleh Counselor atau
guru dalam rangka mencetak atau mengecek eksistensi status siswa. Mengidentifikasi
dimaksudkan untuk mengetahui hakekat dan luasnya kesulitan belajar yang dialami oleh
siswa
atau
yang
dihadapi
oleh
siswa.
Menurut
I.
Djumhur
dan
Moh.
Surya
mengatakan
bahwa
:
Langkah identifikasi dimaksudkan untuk mengetahui hal-hal khusus beserta gejala-gejala
yang nampak. Dalam langkah ini pembimbing mencatat kasus-kasus yang perlu mendapat
dan memilih kasus yang mana yang akan mendapatkan bantuan lebih dahulu. (Ahmadi,
1978:104).
Langkah identifikasi adalah langkah pemula dalam pemecahan problematika yang ada. Oleh
karena itu perlu adanya penetapan yang jitu dan follow upnya adalah mengklasifikasikan
kasus yang ada sehingga memudahkan untuk menentukan kasus mana yang didahulukan
penyelesaiannya dan bentuk apa terapinya. Sebagaimana telah diterangkan di atas. Bahwa
identifikasi perlu diluruskan pada pengklasifikasian gejala-gejala kesulitan yang dihadapi
oleh siswa. Klasifikasi dimaksudkan untuk terpilihnya permasalahan yang ada sehingga
memberikan kemudahan langkah-langkah berikutnya.
Sebab-sebab kesulitan belajar menurut Koestoer Parto Wisastro dan A. Hadi Saputra, yaitu :
a).
Disebabkan
oleh
gangguan
alat
tubuh
b).
Disebabkan
oleh
kecerdasan
yang
kurang
c).
Disebabkan
oleh
gangguan
alat
penerimaan
d).
Disebabkan
oleh
gangguan
perasaan
e). Disebabkan oleh kesalahan tingkah laku (Partowisastro, 1984:26).
Sedangkan menurut Qomar Hamalik faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesulitan
belajar
siswa,
yaitu
:

a)
Faktor-faktor
yang
bersumber
dari
diri
sendiri
b)
Faktor-faktor
yang
bersumber
dari
lingkungan
sekolah
c)
Faktor-faktor
yang
bersumber
dari
lingkungan
keluarga
d) Faktor-faktor yang bersumber dari lingkungan masyarakat (Hamalik, 1990:117)
Dari dua pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penyebab dari kesulitan belajar
siswa yang satu dengan yang lain adalah berbeda, ini berarti upaya mengetahui sebab
kesulitan belajar siswa yang penting dalam rangka usaha memberikan untuk memecahkan
masalah yang sedang dihadapi oleh siswa.
Luas dan kompleknya kesulitan belajar yang dialami oleh siswa memerlukan kontiunitas
proses bimbingan dan penyuluhan secara berkala sehingga tidak terjadi ketimpang tindihan
problem itu. Melihat macam-macam sebab kesulitan belajar diatas, pembimbing perlu
mengadakan klasifikasi sebab-sebab kesulitan belajar.
Dari berbagai sebab kesulitan belajar tersebut, maka timbullah kesulitan belajar yang
ditandai
dengan
sikap
dan
tingkah
laku
sebagai
berikut
:
a)
Hasil
belajar
rendah,
dibawa
rata-rata
kelas
b)
Hasil
yang
dicapai
tidak
seimbang
dengan
usaha
yang
dilakukan
c) Menunjukkan sikap yang kurang wajar, suka menentang, dusta dan sebagainya.
d) Menunjukkan tingkah laku yang berlainan (suka mengganggu, mengisolir diri, tak mau
mencatat
dan
sebagainya).
e) Menunjukkan gejala emosional diri yang tidak wajar (mudah tersinggung, melamun,
pemarah
dan
sebagainya)
(Ahmadi,
1978:161)
Hal ini berarti perlu ada bantuan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
c. Memberikan Diagnosa terhadap kesulitan belajar siswa dan pemecahannya
I. Djumhur dan Moh. Surya dalam pendapatnya mengatakan bahwa Diagnosa adalah
langkah untuk menelaah masalah kasus dan latar belakangnya (Ahmadi, 1978:161)
Pada langkah diagnosa mempergunakan cara atau tehnik pengumpulan data. Setelah
terkumpul data dan jelas latar belakang yang terjadi pada permasalahan itu, Counselor
menetapkan masalah yang dihadapi oleh Counselo dan menemukan jalan keluar untuk
pemecahan dari problem tersebut.
Diagnosa sebagai langkah dalam bimbingan ini, mempunyai langkah-langkah atau tahapan
diagnosa, seperti yang dilontarkan oleh Koestoer P. dan A. Hadi Saputra sebagai berikut :
1)
Tahap
pertama,
menelaah
status
siswa
2)
Tahap
kedua
perkiraan
sebab
3)
Pemecahan
kesulitan
(Partowisastro,
1984:10)
(a)
Menelaah
status
siswa
Tahapan ini merupakan tahap identifikasi hakikat dan luas kesulitan siwa, sesuai dengan
pengertian bahwa fungsi diagnosa itu adalah menetapkan masalah yang dihadapi atau
mempertegas
dan
menetapkan
latar
belakang
masalah
yang
dihadapi.
(b)
Perkiraan
Sebab
Langkah perkiraan sebab merupakan perkiraan atau prediksi semacam ramalan, sebab
apakah yang mendasari pola belajar anak sehingga anak memperlihatkan atau melakukan
belajar yang hasilnya seperti itu atau dengan bahasa yang lebih gampang kenapa anak
punya kelebihan dan kekurangan.

Koestoer
Partowisastro
mengatakan
bahwa
:
Pada tahap ini teori psikologi menjadi penting, artinya yang dimaksud teori dalam hal ini
adalah pernyataan mengenai hubungan diantara faktor-faktor pribadi manakah yang telah
menyebabkan kesulitan tersebut. (Partowisastro, 1984:36)
Dengan pernyatan di atas dapat dipahami bahwa setiap hasil kegiatan atau setiap hasil
belajar yang ditampilkan oleh siswa baik hasil itu positif atau negatif, mempunyai penyebab
dari pola belajar yang dimiliki oleh siswa. Dengan realitas ini penting sekali bagi
pembimbing untuk mendeteksi sebab-sebab tersebut sehingga bisa mediagnosanya.
(c)
Pemecahan
Kesulitan
Pada tahap ini seorang pembimbing diharapkan membantu siswa yang menghadapi
permasalahan bisa menghilangkan atau menyingkirkan kesulitan yang dihadapinya.
Bantuan yang diberikan kepada siswa berupa cara untuk menghilangkan kesulitan sesuai
dengan sebab-sebab yang melatar belakangi kenapa siswa itu menampilkan tingkah laku
atau hasil yang seperti yang pembimbing ketahui.
Seperti yang diungkapkan didepan, ada langkah diagnosa untuk menetapkan masalah yang
dihadapi beserta latar belakangnya. Untuk memecahkanmasalah atau langkah selanjutnya
adalah langkah untuk menentukan jenis bimbingan yang sesuai dengan sebab-sebab
kesulitan tersebut yang dikenal dengan langkah diagnosa.
Menurut I. Djumhur dan M. surya dalam lontaran pemikirannya mengatakan bahwa
Diagnosa adalah langkah untuk menentukan atau menetapkan jenis bantuan atau jenis
terapi yang dilaksanakan untuk membimbing kasus. (Ahmadi, 1990:105).
Pada penentuan jenis bimbingan, seorang pembimbing harus punya data yang sudah
matang dari hasil diagnosa yang dilakukan sebelumnya agar tidak salah dalam menentukan
jenis bantuan kepada siswa yang bersangkutan, maksudnya adalah pembimbing paham
betul tersebut siswa yang akan diberi bantuan mengenai sebab-sebab dan latar belakang
kesulitan belajar. Kemidian pada tahap selanjutnya adalah melakukan pemecahan atau
pelaksanaan bimbingan.
I. Djumhur P. dan M. Surya mengatakan bahwa terapi adalah Langkah pelaksanaan bantuan
atau bimbingan (Ahmadi, 1990:103).
Langkah di atas adalah pelaksanaan dari pemecahan kesulitan belajar siswa yaitu kegiatan
bimbingan secara kesinambungan atau kontinue dan sistimatis serta membutuhkan adanya
pengamatan yang cermat, sehingga pembimbing bisa mendeteksi apakah ada kemajuan
kearah positif atau masih tetap seperti semual. Metode terapi ini pembimbing bisa memilih
sesuai dengan situasi dan kondisi serta eksistensi dari konselee.
August 16th, 2010 | Tags: Makalah Bimbingan dan Konseling: Mengatasi Kesulitan Belajar |
Category: Pendidikan

http://kuliahgratis.net/makalah-bimbingan-dan-konseling-mengatasikesulitan-belajar/