Anda di halaman 1dari 24

Suksesnya kegiatan operasi penanggulangan

bencana sangat tergantung pada kemampuan


menerapkan pengetahuan manajemen bencana.
Jika prinsip-prinsip manajemen bencana dapat
diaplikasikan dengan baik, tentu perangkat
pengendali operasi menjadi hal yang prinsip dan
mutlak diperlukan. Pengendalian operasi yang
efektif dan terstruktur merefleksikan kinerja yang
baik dan untuk dapat mencapai hal tersebut perlu
adanya tempat pengendalian operasi yang disebut
Posko.

Pedoman Posko Penanggulangan Bencana PMI


bertujuan untuk mambantu personil Posko dalam
memahami tugas pokok dan fungsi serta mampu
mengelola posko standar PMI dengan baik.

Petunjuk Pelaksanaan

POSKO

PENANGGULANGAN
BENCANA
Markas Pusat Palang Merah Indonesia
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 96, Jakarta 12790 - Indonesia
Telp. +62 21 7992325,
Fax. +62 21 7995188
Email: pmi@palangmerah.org
website: www.palangmerah.org

Petunjuk Pelaksanaan

POSKO
PENANGGULANGAN
BENCANA

2008

Judul buku:

PETUNJUK PELAKSANAAN
POSKO PENANGGULANGAN BENCANA
Juklak Posko PB PMI ini merupakan acuan yang dipergunakan sebagai standar
penetapan posko PMI di berbagai tingkatan di seluruh Indonesia.

Penyusun:
Palang Merah Indonesia (PMI)
Desain sampul & Layout:
Redshop, Jakarta
Penerbit:
Palang Merah Indonesia (PMI)
Didukung oleh:
Palang Merah Perancis
Copyright
2008
All right reserved
Cetakan 1, Februari 2008
ISBN : 978-979-3575-26-1

Kata Pengantar

KATA PENGANTAR
Penyelenggaraan penanggulangan bencana PMI yang cepat, tepat dan terkoordinasi sesuai
dengan prinsip-prinsip Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah adalah tujuan utama
pelayanan tanggap darurat bencana PMI. Beberapa mekanisme penanganan bencana telah
dibuat sebagai pedoman penyelenggaraan di setiap jenjang PMI. Petunjuk pelaksanaan
pengelolaan posko penanggulangan bencana PMI ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari
isi Protap tanggap darurat bencana PMI dalam pengorganisasian Tanggap Darurat Bencana.
Juklak ini berisikan petunjuk tata cara pelaksanaan sesuai dengan fungsi masing-masing yang
telah ditetapkan dalam Protap secara terkoordinir sehingga tindakan yang dilakukan dapat
mencapai sasaran yang maksimal secara berdayaguna dan berhasil guna. Beberapa hal yang
tertuang di dalam juklak ini antara lain jenis, fungsi dan tugas posko; persyaratan standar
posko PB (Penanggulangan Bencana)PMI; struktur organisasi dan mekanisme kerja dan
anggaran posko.
Kita bersama menyadari dalam operasi tanggap darurat bencana di lapangan sampai saat ini,
koordinasi serta pengelolaan informasi menjadi hambatan yang selalu ditemui. Sampai saat
ini kita telah mempunyai produk kebijakan penanggulangan bencana, penyiapan sumber
daya manusia melalui pelatihan berstandar serta perlengkapannya. Perangkat operasional
tersebut kesemuanya membutuhkan tempat pengendalian operasi untuk menjamin
efektifitas kinerja secara terstruktur yang disebut Posko.
Buku ini diharapkan menjadi pedoman penyelenggaraan posko di setiap jenjang PMI sehingga
koordinasi serta pengelolaan informasi terkait penanggulangan bencana dapat berjalan
dengan efektif dan terstruktur guna menunjang operasional di lapangan.
Kami menyadari bahwa Juklak Pengelolaan Posko Penanggulangan Bencana ini jauh dari
sempurna sehingga dibutuhkan masukan dan saran dari semua pihak sebagai bahan
penyempurnaan. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam
penyusunan Juklak ini, semoga Juklak Pengelolaan Posko PB ini dapat menjadi acuan yang
baik bagi PMI dalam upaya peningkatan kapasitas PMI dalam hal penanggulangan bencana.

Jakarta, Desember 2007


Pengurus Pusat
PALANG MERAH INDONESIA
Sekretaris Jenderal

IYANG D. SUKANDAR

Daftar Isi

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi

Halaman
i
iii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Umum
B. Maksud dan Tujuan
C. Dasar
D. Pengertian Pokok

1
1
1
2
2

BAB II

JENIS, FUNGSI, DAN TUGAS POSKO PB PMI


A. Jenis
B. Tugas dan Fungsi
1. Posko PB PMI Pusat
2. Posko PB PMI Daerah
3. Posko PB PMI Cabang
4. Posko PB Darurat Lapangan

3
3
3
3
3
4
4

BAB III

PERSYARATAN STANDAR POSKO PB PMI


A. Persyaratan
B . Peralatan Standar Posko PB
1. Posko PB PMI Pusat
2. Posko PB PMI Daerah
3. Posko PB PMI Cabang
4. Posko PB Darurat Lapangan
C. Kegiatan Posko PB
1. Dalam Situasi Normal
2. Dalam Situasi Darurat
D. Personil Posko PB

5
5
5
5
5
6
6
7
7
7
7

BAB IV

STRUKTUR ORGANISASI DAN MEKANISME KERJA


A. Struktur Organisasi
1. Posko PB PMI Pusat
2. Posko PB PMI Daerah
3. Posko PB PMI Cabang
4. Posko PB Darurat Lapangan

9
9
9
9
9
9

iii

iii

Daftar Isi

iv

iv

B. Mekanisme Kerja
1. Posko PB PMI Pusat
2. Posko PB PMI Daerah
3. Posko PB PMI Cabang
4. Posko PB Darurat Lapangan

10
10
10
11
11

BAB V

ANGGARAN POSKO PB

13

BAB VI

PENUTUP

15

Pendahuluan

BAB

A.

PENDAHULUAN

Umum
Suksesnya kegiatan operasi penanggulangan bencana sangat tergantung pada
kemampuan menerapkan pengetahuan manajemen bencana. Jika prinsip-prinsip
manajemen bencana dapat diaplikasikan dengan baik, tentu perangkat pengendali
operasi menjadi hal yang prinsip dan mutlak diperlukan. Pengendalian operasi yang
efektif dan terstruktur merefleksikan kinerja yang baik dan untuk dapat mencapai hal
tersebut perlu adanya tempat pengendalian operasi yang disebut Posko.
PMI sesuai dengan mandatnya, dituntut harus mampu menyediakan pelayanan kepada
masyarakat korban bencana secara efektif dan efisien serta sesuai dengan Prinsipprinsip Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Untuk mencapai penyediaan
pelayanan yang efektif dan efisien, telah banyak usaha yang dilakukan seperti penyiapan
sumber daya manusia yang berkualitas, peralatan yang standar, manual atau guideline
yang jelas, demikian pula beberapa Protap telah diberlakukan.
Yang kurang mendapat perhatian PMI adalah ide pembentukan Posko PMI. Hingga sejauh
ini hanya satu atau dua PMI Daerah yang telah mengelola posko yang beroperasi 24 jam.
Bagi PMI Daerah dan PMI Cabang yang belum memiliki posko, hal tersebut disebabkan
oleh keterbatasan dana operasional. Sedangkan beberapa PMI Daerah yang memiliki
cukup dana belum memahami pentingnya keberadaan Posko di tingkat PMI Daerah dan
PMI Cabang.
Untuk hal tersebut, PMI Pusat memandang perlu menerbitkan Petunjuk Pelaksanaan
(Juklak) Posko Penanggulangan Bencana (PB) PMI yang selanjutnya diharapkan mampu
menjadikan panduan bagi PMI Daerah dan PMI Cabang dalam mendirikan posko, baik
posko untuk menunjang usaha kesiapsiagaan maupun posko tanggap darurat.
Dengan diterbitkannya Juklak Posko PB PMI ini, PMI Daerah dan PMI Cabang memiliki
kesamaan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan standar posko PB PMI dan
bagaimana mengoperasikannya secara efektif dan efisien.

B.

Maksud dan Tujuan


1. Maksud
Maksud diterbitkannya buku ini adalah untuk menjadikan panduan bagi PMI dalam
mengelola posko PB.
2.

Tujuan
Juklak Posko PB PMI bertujuan untuk mambantu personil Posko dalam memahami
tugas pokok dan fungsi serta mampu mengelola Posko standar PMI dengan baik.

1
1

Pendahuluan

B. Dasar
1. Undang-Undang no. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
2. KEPPRES RI no. 25 tahun 1950 tentang Pengesahan dan Pengakuan atas pendirian
Perhimpunan Palang Merah Indonesia.
3. KEPPRES RI no. 246 tahun 1963 tentang Perhimpunan Palang Merah Indonesia dan
Tugas Pokok PMI.
4. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PMI.
5. Pokok-pokok Kebijakan dan Rencana Strategis PMI tahun 2004 - 2009.
6. Program kerja PMI.
C. Pengertian Umum
1. Posko adalah ruang pusat pengendalian kegiatan yang dilaksanakan PMI dalam
penyebaran informasi kepada masyarakat dan Pemerintah.
2. Posko Penanggulangan Bencana (PB) adalah ruang pusat pengendalian kegiatan
penanggulangan bencana yang meliputi kegiatan merencanakan,
mengkoordinasikan dan pemantauan (monitoring).
3. Posko Darurat Lapangan adalah pusat pengendalian kegiatan operasional tanggap
darurat di lokasi bencana.

2
2

Jenis, Fungsi dan Tugas Posko

BAB

II

JENIS, FUNGSI DAN TUGAS POSKO

A.

Jenis
Jika dilihat dari aspek tingkatan penanganan bencana oleh PMI dan kebutuhan dalam
melaksanakan kegiatan Penanggulangan Bencana, maka Posko dibagi menjadi 4 jenis
yaitu:
1. Posko PB PMI Pusat
2. Posko PB PMI Daerah
3. Posko PB PMI Cabang
4. Posko PB Darurat Lapangan

B.

Tugas dan Fungsi


1. Posko PB PMI Pusat
a. Mengkordinasikan seluruh Posko PB PMI Daerah.
b. Membantu perencanaan operasional di tingkat pusat.
c. Meningkatkan peran dan fungsi Posko PB PMI Daerah .
d. Menyediakan dan membagi informasi yang terkait dengan kegiatan yang
dilaksanakan pada tingkat nasional kepada mitra-mitra dan instansi-instansi
terkait.
e. Menyediakan dan memutakhirkan database.
f. Mengambil alih tugas dan fungsi apabila Posko PB PMI Daerah tidak dapat
melaksanakan fungsinya.
g. Memfasilitasi pemenuhan kebutuhan di lapangan dengan mengkoordinasikannya
kepada pihak-pihak yang terkait baik secara internal dan eksternal apabila
diperlukan.
h. Membuka akses komunikasi dan berbagi informasi kepada instansi lintas sektoral
terkait di tingkat nasional.
i. Melalui Posko PB PMI Daerah, Posko PB PMI Pusat senantiasa memberikan
pembinaan teknis serta motivasi demi kemajuan kegiatan yang dilaksanakan.
2. Posko PB PMI Daerah
a. Mengkordinasikan seluruh Posko PB PMI Cabang.
b. Membantu perencanaan operasional tingkat daerah.
c. Meningkatkan peran dan fungsi Posko PMI Cabang.
d. Menyediakan dan membagi informasi yang terkait dengan kegiatan yang
dilaksanakan pada tingkat daerah.
e. Mengkoordinasikan kegiatan penanggulangan bencana melalui Posko PB PMI
Cabang
f. Mengambil alih tugas dan fungsi apabila Posko PB PMI Cabang tidak dapat
melaksanakan fungsinya.

3
3

Jenis, Fungsi dan Tugas Posko

g. Menyediakan dan memutakhirkan database.


h. Memfasilitasi pemenuhan kebutuhan di lapangan dengan mengkoordinasikan
kepada pihak-pihak yang terkait baik secara internal (menyampaikan kepada
Posko PB PMI Pusat) dan eksternal (lintas sektoral tingkat daerah).
i. Membuka akses komunikasi dan berbagi informasi kepada Instansi lintas sektoral
terkait di tingkat daerah.
j. Melalui Posko PB PMI Cabang, Posko PB PMI Daerah senantiasa memberikan
pembinaan teknis serta motivasi demi kemajuan kegiatan yang dilaksanakan.
3. Posko PB PMI Cabang
a. Secara langsung mengkoordinasikan dan mengendalikan posko darurat
lapangan.
b. Membuat perencanaan operasional tingkat cabang.
c. Menyediakan dan membagi informasi vertikal (PMI Daerah yang ditembuskan ke
PMI Pusat) dan horizontal (dengan dinas-dinas terkait) mengenai kegiatan yang
dilaksanakan pada tingkat Cabang dan instansi-instansi lintas sektoral.
d. Menyediakan dan memutakhirkan database.
e. Membuat perencanaan operasi tanggap darurat (Renops)
f. Memfasilitasi pemenuhan kebutuhan di lapangan dengan mengkoordinasikan
kepada pihak-pihak yang terkait baik secara internal (menyampaikan kepada
Posko PB PMI Daerah) dan eksternal (lintas sektoral terkait tingkat
kabupaten/kota).
g. Membuka akses komunikasi dan berbagi informasi kepada instansi lintas sektoral
terkait di tingkat kabupaten/kota.
4. Posko PB Darurat Lapangan
a. Secara langsung mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan operasi
tanggap darurat lapangan.
b. Menyediakan informasi selengkap mungkin yang berkaitan dengan operasi yang
dilaksanakan kepada PMI Cabang, PMI Daerah, dan PMI Pusat.
c. Pusat sumber informasi kegiatan yang dilaksanakan PMI di lapangan.
d. Pusat kegiatan operasi tanggap darurat di lapangan.

Catatan:
Penetapan Posko PB darurat lapangan disesuaikan dengan kebutuhan, apabila
tidak dibutuhkan maka Posko PB PMI Cabang sekaligus berfungsi sebagai posko
pengendali kegiatan di lapangan.

Persyaratan Standar Posko PB PMI

BAB

III

PERSYARATAN STANDAR POSKO PB PMI

A.

Persyaratan Fisik
1. Posko PB PMI Pusat, Daerah dan Cabang terletak pada bagian bangunan kantor
masing-masing.
2. Ukuran ideal ruangan Posko PB PMI Pusat adalah 10 x 15 m, Posko PB PMI Daerah 5 x 10
m, Posko PB PMI Cabang 5 x 10 m.
3. Ruangan/bangunan layak untuk ditempati, aman, cukup ventilasi, mudah diakses,
tersedia penerangan listrik, dll.
4. Tersedia kamar istirahat untuk regu jaga.
5. Tersedia lapangan parkir.
6. Khusus untuk posko PB darurat lapangan dapat mempergunakan tenda pleton atau
memanfaatkan bangunan yang masih layak dihuni.

B.

Peralatan Standar Posko PB


1. Posko PB PMI Pusat
a. Peralatan komunikasi, minimal 3 sambungan telepon dan 1 mesin fax, internet
dapat diakses 24 jam, radio band (rig) menjangkau wilayah nasional dan lokal,
Handy Talky (HT) minimal 5 buah, telepon satelit.
b. Peralatan kantor, minimal 5 desktop, 3 unit laptop, 2 unit printer (fix dan
portable), meubeler untuk meja kerja staf, meja pertemuan, lemari untuk
arsip, Alat Tulis Kantor (ATK), foto copy portable.
c. Piranti keras (hardware): Hazard map masing-masing daerah versi cetak, data
base hazard dan kapasitas daerah versi cetak, data base contact person internal
dan eksternal versi cetak, data base informasi transportasi, data base instansi
terkait, 1 unit white board ukuran besar, TV, LCD, screen dan 10 unit papan flip
chart, dan alat Global Positioning System (GPS) untuk sejumlah cabang yang
ada di daerah.
d. Piranti lunak (Software): Hazard map masing-masing daerah, data base hazard
dan kapasitas daerah, data base contact person internal dan eksternal, data
base informasi transportasi, data base instansi terkait.
e. Standar personil kits sejumlah regu jaga.
2. Posko PB PMI Daerah
a. Peralatan komunikasi, 1 sambungan telepon dan mesin fax, internet dapat
diakses 24 jam, radio band menjangkau wilayah daerah dan lokal, dan HT.
b. Peralatan kantor, minimal 1 komputer desktop, meja kerja staf, meja

1
5
5

Persyaratan Standar Posko PB PMI

c.

d.
e.
2.

pertemuan, lemari arsip, dan ATK.


Peta rawan bencana masing-masing kabupaten/kota versi cetak, data base
hazard dan kapasitas kabupaten/kota versi cetak, data base contact person
internal dan eksternal versi cetak, data base informasi transportasi, data base
instansi terkait, 1 unit white board ukuran besar, TV, dan 1 unit papan flip chart,
dan ....
Standar personil kits sejumlah regu jaga yang dimiliki dan loker.
1 unit kendaraan operasional yang setiap saat dapat dipergunakan.

Posko PB PMI Cabang


a. Peralatan komunikasi, 1 sambungan telepon dan mesin fax, dapat akses
internet, radio komunikasi menjangkau wilayah cabang setempat dan lokal dan
HT.
b. Peralatan kantor, minimal 1 desktop, meja kerja staf, meja pertemuan, cup
board untuk arsip dan ATK.
c. Peta rawan bencana masing-masing kecamatan versi cetak, data base hazard
dan kapasitas kecamatan versi cetak, data base contact person internal dan
eksternal versi cetak, data base informasi transportasi, database instansi
terkait, 1 unit white board ukuran besar, 1 komputer desktop, TV, screen dan 10
unit papan flip chart.
d. Standar personil kits sejumlah regu yang dimiliki.
e. 1 unit kendaraan operasional.

3. Posko PB Darurat Lapangan


a. Peralatan komunikasi.
b. Peralatan kantor, komputer (desktop atau laptop), meja kerja, ATK sesuai
kebutuhan di lapangan.
c. Peta rawan bencana wilayah yang terkena bencana, data base hazard dan
kapasitas wilayah operasi, data base contact person internal dan eksternal,
data base informasi transportasi, data base instansi terkait, 1 unit white board
ukuran besar, sangat efektif apabila tersedia LCD dan screen, papan flip chart
sesuai kebutuhan.
d. Format-format pelaporan.
e. Alat transportasi
Catatan:
Peralatan yang dibutuhkan harus berdasarkan kebutuhan di lapangan.
Pemenuhan persyaratan fisik disesuaikan dengan kapasitas setempat.

6
6

Persyaratan Standar Posko PB PMI

C. Kegiatan Posko PB
Ditinjau dari aspek kegiatan, fungsi posko PB dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Dalam situasi normal
a. Mencari, menerima, mengolah dan menyebarkan informasi yang berkaitan
dengan upaya-upaya pengurangan risiko.
b. Menyelenggarakan administrasi posko meliputi pencatatan, perencanaan dan
pelaporan.
c. Menyelenggarakan pengecekan perlengkapan pendukung posko dan
perlengkapan operasional agar senantiasa siap pakai.
2. Dalam masa tanggap darurat
a. Posko PB PMI Pusat melaksanakan dukungan kegiatan operasi posko PB PMI
Daerah seperti pengumpulan data, hasil asesmen dan hal-hal yang perlu
didukung oleh PMI Pusat.
b. Posko PB PMI Daerah mengkoordinasikan kegiatan posko PB PMI Cabang seperti
pengumpulan data, hasil asesmen dan hal-hal yang perlu didukung oleh PMI
Daerah dan PMI Pusat.
c. Posko PB PMI Cabang menyelenggarakan kegiatan operasi tanggap darurat sesuai
dengan Rencana Operasional (Renops) tanggap darurat yang telah ditetapkan.
d. Membangun komunikasi antar posko PB PMI.
D. Personil Posko PB
Yang dimaksud dengan personil posko PB adalah KSR/TSR/SATGANA PMI yang secara
khusus ditunjuk untuk melaksanakan tugas jaga di posko.
1. Persyaratan Personil Posko
a. Pada saat situasi normal personil posko adalah anggota KSR/TSR dan dalam
situasi bencana dilaksanakan oleh Satgana.
b. Telah mengikuti orientasi pengelolaan posko.
c. Memiliki ketrampilan berkomunikasi yang baik.
d. Menguasai komputer minimal Word dan Excel.
e. Mampu mengoperasionalkan radio komunikasi.
f. Memiliki disiplin, loyalitas dan integritas yang tinggi.
g. Khusus untuk personil posko di lapangan sangat diharapkan memenuhi
persyaratan dimaksud, jika tidak memungkinkan dapat menunjuk relawan, staf
atau pengurus yang telah berpengalaman mengendalikan operasi atau terlibat
dalam operasi tanggap darurat.

7
7

Struktur Organisasi dan Mekanisme Kerja

BAB

IV

STRUKTUR ORGANISASI DAN


MEKANISME KERJA

A. STRUKTUR ORGANISASI
1. Posko PB PMI Pusat
a. Penanggung jawab
b. Kordinator operasional
c. Wakil
d. Petugas posko PB yang terdiri dari:
1) Seksi administrasi dan pelaporan
2) Seksi informasi dan komunikasi
e. Personil posko PB minimal berjumlah

: Sekretaris jenderal
: Kepala divisi PB
: Ka.Sub.Div Respon

: 4 orang

2. Posko PB PMI Daerah


a. Penanggung jawab
: Pengurus Daerah bidang PB
b. Pelaksana Harian
: Sekretaris/Kepala Markas
c. Kordinator operasional
: Kabid .Pelayanan/PB
d. Petugas posko PB (terdiri dari staf posko yang ditunjuk secara khusus)
1) Seksi administrasi dan pelaporan
2) Seksi informasi dan komunikasi
e. Personil posko PB minimal berjumlah : 4 orang
3. Posko PB PMI Cabang
a. Penanggung jawab
: Pengurus Cabang bidang PB
b. Pelaksana Harian
: Sekretaris/Kepala Markas
c. Kordinator operasional
: Kasi. Pelayanan/PB
d. Seksi (terdiri dari staf posko yang ditunjuk secara khusus)
1) Seksi administrasi dan pelaporan
2) Seksi informasi dan komunikasi
e. Personil posko PB minimal berjumlah : 2 orang
4.

Posko PB Darurat Lapangan


a. Penanggung jawab
b. Kordinator
c. Wakil kordinator
d. Seksi-Seksi
1) Seksi administrasi dan keuangan
2) Seksi bantuan/relief
3) Seksi infokom
4) Seksi logistik dan transportasi
5) Seksi mobilisasi relawan

: Kordinator Lapangan
: Staf/Relawan yang ditunjuk
: Staf/Relawan yang ditunjuk
:

9
9

Persyaratan Standar Posko PB PMI

6) Lain-lain (sesuai kebutuhan)


e. Jumlah personil posko PB darurat lapangan disesuaikan dengan kebutuhan di
lapangan atau besarnya operasi tanggap darurat yang dilakukan.
B.

MEKANISME KERJA
I. Posko PB PMI Pusat
a. Informasi bencana yang diterima oleh personil posko diolah dan dikaji yang
dipimpin oleh kordinator posko.
b. Informasi yang masuk ke posko berupa informasi kejadian bencana di daerah.
c. Informasi yang diterima dapat berupa laporan bencana yang memerlukan dan
atau tidak memerlukan bantuan.
d. Informasi relevan yang diterima oleh posko harus diteruskan kepada Pelaksana
Harian secara berkala atau atas permintaan.
e. Informasi yang sampai pada Pelaksana Harian selanjutnya dipelajari dan
Pelaksana Harian segera menugaskan koordinator posko untuk menindaklanjuti
informasi yang dimaksud.
f. Informasi yang bersifat darurat dan memerlukan bantuan Posko PMI Pusat,
maka Sekretaris Jenderal (Sekjen) selaku Pelaksana Harian menyiapkan
kebijakan yang perlu ditetapkan.
g. Informasi dimaksud pada point f diatas disampaikan kepada penanggung jawab
posko dalam hal ini Sekjen dan dilaporkan ke Ketua Umum PMI dengan tembusan
ke seluruh kepala divisi terkait.
h. Jika informasi tersebut bersifat laporan kejadian bencana yang tidak
memerlukan intervensi PMI Pusat, maka PMI Pusat berkewajiban memantau
perkembangan di lapangan.
i. Pelaksanaan operasi diputuskan oleh Pelaksana Harian dan disampaikan kepada
penanggung jawab posko.
2.

10
10

Posko PB PMI Daerah


a. Informasi bencana yang diterima oleh personil posko diolah dan dikaji yang
dipimpin oleh kordinator posko.
b. Informasi yang masuk ke posko berupa informasi kejadian bencana di daerah.
c. Informasi yang diterima dapat berupa laporan bencana yang memerlukan dan
atau tidak memerlukan bantuan.
d. Informasi relevan yang diterima oleh posko harus diteruskan kepada Pelaksana
Harian untuk selanjutnya di laporkan kepada penanggung jawab posko.
e. Informasi yang bersifat darurat dan memerlukan bantuan posko PB PMI Pusat,
maka Sekretaris atau Kepala Markas selaku Pelaksana Harian menyiapkan halhal yang perlu diinformasikan.
f. Informasi dimaksud pada point f diatas dilaporkan penanggung jawab posko

Persyaratan Standar Posko PB PMI

g.

h.

3.

4.

dalam hal ini Ketua PMI Daerah.


Jika informasi tersebut bersifat laporan kejadian bencana semata, maka PMI
Daerah berkewajiban memantau perkembangan di lapangan dan
menyampaikan informasi tersebut ke posko PB PMI Pusat.
Keputusan melaksanakan operasi diputuskan oleh Pelaksana Harian
(Sekretaris/Kepala Markas) dan dilaporkan kepada penanggung jawab posko
(Ketua PMI Daerah).

Posko PB PMI Cabang


a. Informasi bencana yang diterima oleh personil posko diolah dan dikaji yang
dipimpin oleh koordinator posko.
b. Informasi yang diterima oleh posko harus diteruskan kepada Pelaksana Harian.
c. Pelaksana Harian akan mempelajari informasi dengan segera dan
memerintahkan kepada koordinator posko untuk merespon informasi yang
dimaksud.
d. Informasi yang bersifat darurat dan memerlukan dukungan Markas PMI Daerah,
maka Sekretaris atau Kepala Markas Cabang selaku Pelaksana Harian
mengajukan permohonan dukungan kepada PMI Daerah. Apabila PMI Daerah
tidak dapat menyiapkan hal-hal yang diperlukan, maka posko PB PMI Daerah
dapat menyampaikan kepada posko PB PMI Pusat.
e. Informasi dimaksud pada point f diatas dilaporkan kepada penanggung jawab
posko dalam hal ini Ketua PMI Cabang.
f. Jika informasi yang bersifat laporan kejadian bencana, maka PMI Cabang
berkewajiban memantau perkembangan di lapangan dan meneruskan informasi
tersebut ke posko PB PMI Daerah.
g. Keputusan melaksanakan operasi diputuskan oleh Pelaksana Harian
(Sekretaris/Kepala Markas) dan dilaporkan kepada penanggung jawab posko
(Ketua PMI Cabang).
Posko PB Darurat Lapangan
a. Posko PB darurat lapangan dibentuk berdasarkan kebutuhan operasi dan
struktur organisasinya merujuk pada struktur organisasi standar di atas.
b. Semua kegiatan operasi yang dilaksanakan tetap di bawah koordinasi Pengurus
PMI Cabang dan secara teknis Pengurus PMI Cabang dapat menunjuk Koordinator
Operasi Tanggap Darurat.
c. Koordinator Operasi Tanggap Darurat bertanggung jawab terhadap Pengurus PMI
Cabang.
d. Semua bentuk kegiatan administrasi dan pelaporan ditujukan kepada Pengurus
PMI Cabang berdasarkan hasil laporan masing-masing sektor di lapangan.

11
11

12

Anggaran Posko PB

BAB

V
II

ANGGARAN POSKO PB

Yang dimaksud dengan anggaran posko PB adalah anggaran yang mencakup dana rutin dan
dana operasional.
1. Belanja rutin terdiri dari insentif petugas posko, pemeliharaan peralatan, pengadaan
ATK.
2. Belanja operasional terdiri dari mobilisasi personil, pengadaan peralatan, logistik dan
transportasi.
3. Sumber dana:
a. Dana yang dialokasi untuk operasional penanggulangan bencana.
b. Sponsorship.
c. Bantuan yang tidak mengikat.

13
13

14

BAB

II
VI

PENUTUP
Juklak posko PB PMI ini merupakan acuan yang dipergunakan sebagai standar
penetapan posko PMI di berbagai tingkatan di seluruh Indonesia.

15
15

Dalam melakukan kegiatan dan


pelayanan, PMI berpegang pada Tujuh
Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah, yaitu:
1.

KEMANUSIAAN
Gerakan Palang Merah dan Bulan
Sabit Merah (Gerakan) lahir dari
keinginan untuk memberikan
pertolongan kepada korban yang
terluka dalam pertempuran
tanpa membeda-bedakan
mereka dan untuk mencegah
serta mengatasi penderitaan
sesama manusia yang terjadi di
mana pun. Tujuannya ialah
melindungi jiwa dan kesehatan
serta menjamin penghormatan
terhadap umat manusia.
Gerakan menumbuhkan saling
pengertian, persahabatan,
kerjasama dan perdamaian abadi
antarsesama manusia.

2.

KESAMAAN
Gerakan memberi bantuan
kepada orang yang menderita
tanpa membeda-bedakan
mereka berdasarkan
kebangsaan, ras, agama, tingkat
sosial atau pandangan politik.
Tujuannya semata-mata ialah
mengurangi penderitaan orang
per orang sesuai dengan
kebutuhannya dengan
mendahulukan keadaan yang
paling parah.

3.

KENETRALAN
Gerakan tidak memihak atau
melibatkan diri dalam
pertentangan politik, ras, agama
atau ideologi.

4.

KEMANDIRIAN
Gerakan bersifat mandiri. Setiap
Perhimpunan Nasional sekalipun
merupakan pendukung bagi
pemerintah di bidang
kemanusiaan dan harus menaati
peraturan hukum yang berlaku di
negara masing-masing, namun
Gerakan bersifat otonom dan
harus menjaga tindakannya agar
sejalan dengan Prinsip Dasar
Gerakan.

5.

KESUKARELAAN
Gerakan memberi bantuan atas
dasar sukarela tanpa unsur
keinginan untuk mencari
keuntungan apapun.

6.

KESATUAN
Didalam satu negara hanya boleh
ada satu Perhimpunan Nasional
dan hanya boleh memilih salah
satu lambang yang digunakan:
Palang Merah atau Bulan Sabit
Merah. Gerakan bersifat terbuka
dan melaksanakan tugas
kemanusiaan di seluruh wilayah
negara yang bersangkutan.

7.

KESEMESTAAN
Gerakan bersifat semesta.
Artinya, Gerakan hadir di seluruh
dunia. Setiap Perhimpunan
Nasional mempunyai status yang
sederajat, serta memiliki hak &
tanggung jawab yang sama dalam
membantu satu sama lain.