Anda di halaman 1dari 25

PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA NABI

Disyariatkannya Islam
Pada QS. Asy-Syura: 13 secara lahiriah hanya disebutkan lima orang rasul
pembawa syariat agama islam, yakni Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad
Saw.38 Pengkhususan penyebutan ini bukanlah dimaksudkan untuk membatasi
atau menafsirkan ajaran dan syariat nabi-nabi lainnya, melainkan hanya
menunjukkan bahwa kelima rasul itu adalah nabi-nabi besar(akabir al-anbiya)
penyandang gelar ulul azmi yang memiliki
37

Tafsir al-munir Jz25/37

38

Sebagian utama, seperti asy-Syahrastani dalam bukunya Al-Milal wa an-Nihal, menjadikan ayat

ini sebagai dalil bahwa syariat itu mulai diberlakukan sejak zaman Nabi Nuh. Dr.Muhammad
Mahmud Hijazi dalam At-Tafsir al-Munir (III/362) mengatakan bahwa Nuh adalah rasul pertama
kali yang diutus dengan membawa syariat yang sesuai dengan zamannya.

Syariat agung dan pengikut yang banyak. Dengan demikian, bisa dikatakan
bahwa pada masa kerasulan lima nabi itulah syariat Islam mengalami masa-masa
kebangkitan dan kejayaan yang puncaknya tercapai pada masa Nabi Muhammad
Saw. Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin banyaknya penduduk
dunia serta semakin majunya kebudayaan dan peradaban umat manusia. Oleh
karena itulah, penyebutan lima nabi itu sudah mewakili nabi-nabi lainnya.
Ayat tersebut menegaskan bahwa tujuan Islam disyariatkan semenjak masa Nabi
Adam hingga Nabi Muhammad Saw adalah menegakkan dan memelihara agama.
Yang dimaksud ad-din dalam konteks ini adalah :
1. Bertauhid dan beriman kepada Allah
2. Taat kepada rasul-rasulNya, dan
3. Menerima syariat-syariat Nya.39
Ketiga hal itu adalah pokok-pokok/dasar-dasar agama yang selalu ditegakkan dan
dipelihara oleh ajaran Islam pada masa nabi siapapun. Yang pertama berkenaan
dengan materi paling mendasar dari ajaran Islam, yakni tauhid dan iman, yang
sama antara nabi yang satu dengan yang lainnya. Dan inilah yang menjadi sasaran

utama dalam penegakan dan pemeliharaan agama, sebab dalam ayat tersebut
selanjutnya dinyatakan bahwa agama Islam ini terasa sangat berat bagi orangorang musyrik. Sedangkan yang kedua dan ketiga menyangkut komitmen dasar
dalam melaksanakan ajaran Islam yang boleh jadi pada sebagian taklif-nya ada
perbedaan dari nabi yang satu ke nabi lainnya; namun semuanya kembali pada
suatu komitmen, yakni tunduk,patuh,dan berserah diri. Dalam kesimpulan
penafsiran ayat tersebut.
Munculnya Sebuah Keyakinan Beragama
Ilmu tauhid adalah sebuah ilmu untuk mengenal Allah SWT dalam arti untuk
mengetahui menyakini bahwa Allah adalah maha pencipta alam semesta dan tidak
ada yang menyekutukanya. Secara historis menyatakan bahwa tauhid telah ada
sejak lama dengan adanya sejarah Nabi Adam dan penerusnya. Dari hal tersebut
terbukti dengan adanya manusia yang mendiami bumi telah percaya, yakin bahwa
Allah SWT itu Esa.

Semua Nabi yang berjumlah 25 itu semuanya mengajarkan kepada umatnya


tentang arti penting beragama serta melakukan kebaikan dan ketauhidtan
terhadap sang pencipta jagat alam raya dengan mengajarkan kaidah-kaidah
keyakinan yang bersifat tunggal yaitu Allah SWT.
Dimensi lain dari agama adalah dengan cara hidup seseorang di muka bumi dann
untuk mengenal demensi keyakinan dalam beragama diperlukan metode dan
sejarah. Maka mengetahui pertumbuhan dan perkembangan keyakinan dalam
beragama. Maka diperlukan tinjauan dari beberapa aspek yang membawa nilai
positif, yang diantaranya telah di naskan oleh Allah SWT yang ditunjukan dengan
ayat al Qur'an. Dalam surat Al Baqarah ayat 213 :

Artinya : "Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka
Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan
bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia

tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu
melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah
datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara
mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada
kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan
Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepadajalan yang
lurus".
Sejarah telah membuktikan bahwa nabi-nabi telah menyatukan manusia dan hanya
di utus untuk melakukan kebaikan dan untuk memurnikan akal pikiranya. Dari
kekuatan akal dan pola pikir yang diajarkan oleh para nabi akan dapat menimbang
baik dan buruk karena mereka diberi petunjuk oleh Allah .
Sejarah Ilmu Tauhid Zaman Nabi Adam, Nuh dan Ibrahim
Nabi Adam adalah nenek moyang manusia yang pertama. Setelah ia beranak cucu
banyak, ia ditugaskan Allah menjadi Nabi kepada anak cucunya. Adam
mengajarkan tauhid kepada anak cucunya secara murni sehingga merekapun taat
dan tunduk kepada ajaran Adam yang meng-Esakan Allah SWT.
Karena fitrah manusia yang suka dipimpin dan diatur, jika pemimpinya sudah
tidak ada lagi atau wafat. Maka kehilangan pemimpin itu mengakibatkan
penyimpangan-penyimpangan dari ajaran yang lurus menjadi keadaan yang tidak
teratur dan tidak terkendali. Sehingga Allah membangkitkan atau mengutus
kembali Nabi-nabi setelah Nabi Adam wafat untuk menuntun dan memimpin
umat manusia.

Seperti halnya umat Nabi Adam, setelah wafat olehnya maka umatnya kocar kacir
tidak berketentuan, porak-poranda sepeninggal beliau. Maka Allah mengutus
Nabi Nuh sebagai pengatur dan pemimpin umat manusia setelah nabi Adam.
Sehingga Nabi Nuh disebut sebagai bapak atau nenek moyang kedua.

Kemudian sepeninggal Nabi Nuh, umat kehilangan pemimpin lagi dan kacaulah
kembali. Hingga Allah mengutus Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim selain mengajarkan
tauhid juga mengajarkan syariah, yang diantaranya disyariatkan dalam agama
yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai bukti adanya hubungan yang erat
antara syariah Ibrahim dan syariah Muhammad. Diantara Nabi Ibrahim dan
Muhammad. Allah juga mengutus banyak Nabi yang dinataranya adalah Nabi
Musa dan Isa AS.
Sejarah Ilmu tauhid pada masa Rasulullah
Kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah ditugaskan untuk mengembalikan dan
memimpin umat kepada tauhid, mengakui ke-Esaan Allah SWT dengan ikhlas dan
semurni-murninya, seperti apa yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Ibrahim
dahulu. Agama yang sebenarnya tidak asing lagi bagi bangsa Arab. Tauhid yang
diajarkan oleh Nabi Muhammad itu seperti apa yang telah digariskan dalam al
Qur'an dan Hadits.

Segala sifat-sifat Allah sudah terkandung dalam al Qur'an sehingga di masa Rasul
tidak ada orang yang menanyakannya. Karena mereka sudah jelas dalam hal
tersebut. Mereka hanya menanyakan masalah-masalah yang berhubungan dengan
ibadah seperti shalat, puasa, zakat, amal shaleh, dan lain-lain. Mereka semua
sepakat menetapkan bahwa sifat-sifat Allah itu Azali, yaitu : Qudrat, Iradah, Ilmu,
Hayyat, Sama', Bashar, Kalam, dan lain-lain.

Dalam masa nabi belum terjadi berbedaan yang mendalam karena masyarakat
pada waktu itu masih di persatukan dan semua di kemblikan kepada nabi sebagai
utusan Allah. Mengenai tauhid yang berkembang pada saat itu masih bersifat
murni dan belum terobang-abang oleh masalah kekuasaan dan politik yang
memicu perpecaah umat islam.

Perkembangan Ilmu Tauhid setelah Rasulullah Wafat

Di masa sahabat, ketauhidan tidak ada bedanya dengan zaman rasul. Sampai akhir
abad pertama hijriah, barulah ada kegoncangan-kegoncangan setelah munculnya
seseorang bernama Jaham Ibnu Shafwan di negeri Persi yang tidak mengakui
adanya sifat-sifat Allah yang Azali itu, banyak di antara kaum muslimin yang
terpengaruh oleh ajaran itu, bahkan ada yang menguatkan keyakinannya.
Adapun kaum muslimin yang tetap murni ketauhidannya menentang pendapat
Jaham dengan menyatakan bahwa pendapat itu "sesat". Akan tetapi, di kala
ulama-ulama sibuk membicarakan dalil untuk menolak pendapat Jaham itu, tibatiba timbul pula suatu aliran yang bernama Mu'tazilah yang dietuskan oleh Washil
ibnu Atha'. Ia membenarkan pendapat Jaham : yang menafikan sifat-sifat Allah.
Kemudian muncul pula seorang yang bernama Muhammad bin Koram Abu
Abdullah As Sijistany, pemimpin golongan Karamiyah yang menentang golongan
Mu'tazilah dengan menetapkan sifat-sifat Allah. Tetapi cara mereka menentang
terlalu berlebihan sehingga menyerupai Allah sebagai yang berjisim. Semenjak itu
dikenal dengan paham Karamiah atau Mujassimah.

Perseteruan paham ini berlangsung hingga Khalifah Makmun (Daulah


Abbassiyah), hingga tampil seorang yang terkenal dengan nama Abu Hasan Ali Al
As'ary yang melahirkan jalan tengah antara kedua pendapat yang bertentangan
tersebut. Beliau mengemukakan alasannya dengan dalil aqli dan naqli, sehingga
banyaklah para ulama yang tertarik serta ikut menyebarkannya.

Maka tersebar ajaran ini keseluruh Iraq yang kemudian ke Syam. Dan setelah
Shalahudin al Ayyubi menguasai Mesir, selain madzhab Syafi'I i menyiarkan
madzhab ini, sehingga akhirnya rakyat Mesir menganut madzhab Asy'ariyah
dalam tauhid dan madzhab Syafi'iyyah dalam fiqh. Madzhab As'ariyah juga
berkembang pula di negeri mahrabi yaitu sebelah utara Afrika, yang dipelopori
oleh salah satu murid Imam Ghazali yang akhirnya mereka namakan juga

madzhab ini dengan madzhab Muwahhidin, yang kemudian negaranya pun


bernama kerajaan Muwahhidin.

Selanjutnya pada abad kedelapan hijriyah, seoarang yang bernama Taqiuddin Abul
Abbas bin Taimiyah Al Harry dari Syam, muncul menyokong dan ingin
mempertahankan madzhab salaf yang tadi. Dia memusatkan dan menumpahkan
kegiatannya untuk mempertahankan salaf dan menentang As'ariyah. Pendirian
Ibnu Taimiyyah ini masih agak asing dan tidak mendapat tanah yang subur karena
telah mendalamnya faham-faham yang diajarikan oleh madzhab As'ariyah. Dan
keadaan seperti hal tersebut juga di negara-negara islam lainnya.

Semenjak Rasulullah wafat, pemerintahan dipegang oleh khulafaurrasyidin yang


kemudian dipimpin oleh khalifah Umawiyah dan setelah itu oleh daulah
Abbasyiah. Sejak akhir pemerintahan Umawiyah, dunia islam mulai kemasukan
kebudayaan-kebudayaan asing yang datang dari persi, Yunani, India, dan
sebagainya. Di kala pemerintahan Abbassiyah, yaitu ketika khalifah Makmun,
umat islam telah sampai pada puncak kemajuan ilmu pengetahuan dan
kebudayaan yang tinggi.

Dari sejak masuknya kebudayaan asing (falsafah dari agama lain) itu, maka
lahirlah perbedaan pandangan dalam ilmu Tauhid. Di masa itu timbul golongangolongan seperti Jahamiah, Mu'tazilah, Khawarij, dan sebagainya yang saling
berdebat satu sama lain, saling kafir-mengkafirkan. Terutama ahli Sunnah yang
sangat banyak musuhnya, semua ribak (musuh) menjadi lawannya.

Akan tetapi di zaman khalifah Makmun semua aliran itu dapat dikatakan lenyap
atau tidak berpengaruh lagi, kecuali Mu'tazilah yang masih subur karena
mendapat lindungan dan sokongan dari khalifah Makmun. Sehingga setelah
wafatnya khalifah, Mu'tazilah tidak mendapat perlindungan lagi bahkan mereka

mendapat serangan dan mengalami kemunduran akibat dari semua aliran-aliran


yang dahulu tumbuh kembali.

Golongan Mu'tazilah terus menerus mengalami kemunduran sehingga muncul


seorang pemimpin golongan ahli sunnah yang bernama imam as'ary. Di zaman ini,
semua madzhab dikatakan lumpuh tak berdaya apalagi setelah tumbuh musuh
baru yang lebih kuat, yaitu golongan ahli falsafah. Yang kemudian ahli falsafa h
ini dihancurkan oleh seorang pendekar islam yang bernama Imam Ghazali.
Beliau tidak melarang orang berfalsafah, tetapi janganlah orang mencampurkan
falsafah dengan agama, terutama ketauhidan. Dan supaya falsafah itu jangan
dipengaruhi agama, apalagi falsafah yang mungkin bertentangan dengan agama.
Yang menentang pencampuradukan falsafah dengan agama itu bukan Imam
Ghazali saja, melainkan banyak tokoh-tokoh di belakangnya yang hendak
membendung gelombang falsafah terhadap agama. Seperti Fakhrudin Ar Razi dan
Ibnu Taimiyah dan lain-lain. Agar keyakinan terhadap Allah SWT selalu terjaga
dan tanpa harus menjatuhkan atau bersifat fanatik terhadap golongan yang lain
karena berbeda penafsiran.
PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN
Khulafaurrasyidin mempunyai arti pemimpim yang bijaksana sesudah nabi
muhammad wafat.
Para sahabat yang disebut khulafaurrasyidin terdiri dari empat orang khalifah
yaitu:
1.

Abu bakar Shidik

2.

Umar bin Khattab

3.

Usman bin Affan

4.

Ali bin Abi Thalib dan berikut adalah sedikit kebijakan masing-masing,

Abu bakar
Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafa At-Tammi. Di
zaman pra Islam bernama Abdul Kabah, kemudian diganti oleh Nabi menjadi
Abdullah. Ia termasuk salah seorang sahabat yang utama (orang yang paling awal)
masuk Islam. Gelar Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera
membenarkan nabi dalam berbagai pristiwa, terutama Isra dan Miraj.
Abu Bakar memangku jabatan khalifah selama dua tahun lebih sedikit, yang
dihabiskannya terutama untuk mengatasi berbagai masalah dalam negeri yang
muncul akibat wafatnya Nabi.
Langkah-langkah kebijakan Abu Bakar,
1.

Menumpas nabi palsu

2.

Memberantas kaum murtad

3.

Menghadapi kaum yang ingkar zakat

4.

Mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran

Umar bin Khattab


Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab r.a. sudah di peraktikkan konsep
dasar hubungan antara negara dan rakyat, pentingnya tugas pegawai pelayanan
politik dan menjaga kepentinggan rakyat dari otoritas pemimpin. Umar r.a.
melakukan pemisahan antara kekuasaan peradilan dengan kekusaan eksekutif,
beliau memilih hakim dalam sistem peradilan yang independen guna memutuskan
persoalan masyarakat. Sistem peradilan ini terpisah dari kekusaan eksekutif, dan
ia bertanggung jawab terhadap khalifah secara langsung.
Usman bin Affan
Pada masa-masa awal pemerintahannya, Utsman melanjutkan sukses para
pendahulunya, terutama dalam perlusan wilayah kekusaan Islam. Daerah-daerah
sterategis yang sudah dikuasai Islam seperti Mesir dan Irak. Karya monumental

Utsman yang dipersembahkan kepada umat Islam ialah penyusunan kitab suci AlQuran.
Penyusunan Al-Quran, yaitu Zaid bin Tsabit, sedangkan yang mengumpulkan
tulisan-tulisan Al-Quran antara lain Adalah dari Hafsah, salah seorang Istri Nabi
SAW. Kemudian dewan itu membuatbeberapa salinan naskah Al-Quran untuk
dikirimkan ke berbagai wilayah kegubernuran sebagai pedoman yang benar untuk
masa selanjutnya.
Ali bin Abi Thalib
Setelah Usman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali bin Abi Thalib
sebagai

khalifah.

Ali

memerintah

hanya

enam

tahun.

Selama

masa

pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun


dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan setabil. Setelah menduduki jabatan
khalifah, Ali memecat para gubernur yang di angkat oleh Usman. Dia yakin
bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia
juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Usman kepada penduduk dengan
menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali siatem
distribusi pajak tahunan dia antara orang-orang Islam sebagaimana pernah
ditetapkan Umar.
Tidak lama setelah itu, Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakkan Thalhah,
Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh
Usman dan mereka menuntut bela terhadap darah Usman yang telah ditumpahkan
secara zalim. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat
kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan
perkara itu secara damai. Namun, ajakan tersebut ditolak. Akhirnya pertempuran
yang dahsyat pun berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal
(Unta) Karena Aisyah dalam pertempuran itu menunggang unta. Ali berhasil
mengalahkan lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh ketika hendak melarikan
diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA


Awal masuknya Islam di Indonesia
Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti
animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa
Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaankerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan
Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan
sebagainya. Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima
dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian,
persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang
paling penting juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan
membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan.
Tentang kapan Islam datang masuk ke Indonesia, menurut kesimpulan seminar
masuknya Islam di Indonesia pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di Medan, Islam
masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah atau pada abad ke tujuh masehi.
Menurut sumber lain menyebutkan bahwa Islam sudah mulai ekspedisinya ke
Nusantara pada masa Khulafaur Rasyidin (masa pemerintahan Abu Bakar
Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib), disebarkan
langsung dari Madinah.
Cara masuknya Islam di Indonesia, yaitu
Perdagangan
Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak
dagang dengan orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti
kerajaan Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin
ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke Nusantara (Indonesia).
Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari keuntungan rohani
yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan
agama Islam.

10

Kultur
Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media
kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa.
Misalnya Sunan Kali Jaga dengan pengembangan kesenian wayang. Ia
mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang yang bertema Hindu dengan
ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan gamelannya. Kedua kesenian
tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat Indonesia khususnya jawa
sampai sekarang. Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anakanak, seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.
Berikut adalah sunan sunan yang ada di Indonesia,
Sunan Gresik

Sunan Gresik merupakan salah satu tokoh walisongo yang pertama kali
menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali paling senior
diantara para wali lainnya. Sunan Gresik merupakan keturunan ke-22 dari Nabi
Muhammad Saw. Sunan Gresik lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal
abad 14, dan wafat pada tahun 1419. Makamnya berada di desa Gapura Wetan,
Gresik, Jawa Timur.

Sunan Ampel

11

Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh walisongo yang paling besar jasanya
dalam perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Sunan Ampel adalah bapak dari
para wali, dari dakwah yang disampaikan oleh Sunan Ampel menghasilkan para
pendakwah baru di tanah Jawa. Sunan Ampel merupakan keturunan ke-22 dari
Nabi Muhammad Saw. Sunan Ampel lahir di Champa, pada tahun 1401, dan wafat
pada tahun 1481 di Demak. Dimakamkan di sebelah barat Mesjid Ampel,
Surabaya.
Sunan Bonang
Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel yang berarti cucu dari Sunan

Gresik. Sunan Bonang belajar agama di pesantren ayahnya Ampel Denta, dan
beliau berdakwah di Kediri yang mayoritas penduduknya beragama Hindu,
disanan Sunan Bonang mendirikan sebuah Masjid Sangkal Daha. Sunan Bonang
merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Bonang lahir di
Tuban, pada tahun 1465 M, dan wafat pada tahun 1525 dimakamkan di daerah
Tuban, Jawa Timur.

Sunan Drajat

12

Sunan Drajat adalah anak dari Sunan Ampel yang berarti cucu dari Sunan Gresik.
Sunan Drajat dikenal dengan kegiatan sosialnya, Sunan Drajat mempelopori
penyatuan anak-anak yatim dan orang sakit. Sunan Drajat berdakwah kepada
masyarakat kebanyakan dan beliau menekankan kedermawanan, kerja keras, dan
kemakmuran masyarakat. Selain itu, Sunan Drajat juga dikenal sangat cerdas,
beliau lebih mengusahakan kesejahteraan rakyatnya lalu setelah itu memberikan
pemahaman mengenai ajaran Islam. Sunan Drajat merupakan keturunan ke-23
dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Drajat lahir di Ampel, pada tahun 1470 M, dan
wafat di Sedayu Gresik pada tahun 1522.
Sunan Kudus

Sunan Kudus adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung dengan Syarifah Dewi
Rahil binti Sunan Bonang. Sunan Kudu merupakan keturunan ke-24 dari Nabi
Muhammad Saw. Sunan Kudus lahir di Al-Quds, Palestina, pada tahun 9
September 1400 M, dan wafat pada tahun 5 Mei 1550 M. Sunan Kudus
dimakamkan di Masjid Menara Kudus, Kauman, Kudus, Jawa Tengah.

13

Sunan Giri

Sunan Giri merupakan salah satu tokoh walisongo yang mendirikan kerajaan Giri
Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Sunan Giri
membangun sebuah Pesantren Giri disebuah perbukitan di Desa Sidomukti,
Kebomas. Dalam Bahasa Jawa Giri berarti Gunung, sejak itulah beliau dikenal
masyarakat dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Giri lahir di Blambangan, pada
tahun 1442, dan wafat pada tahun 1506 M dimakamkan diatas bukit didaerah
Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas.
Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh walisongo yang sangat lekat dengan
Muslim di tanah Jawa, dan beliau terkenal dengan kemampuannya memasukkan
pengaruh Islam ke tradisi Jawa. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan
kebudayaan sebagai salah satu sarana berdakwah, seperti wayang kulit dan
tembang suluk. Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450, dan wafat pada tahun 1513
dimakamkan di Desa Kadilangu, Demak. Makam Sunan Kalijaga masih sering
diziarahi banyak orang.

14

Sunan Muria
Sunan Muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama
Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Nama Sunan Meria berasal dari salah satu nama
gunung yaitu Gunung Muria yang terletak di daerah kota Kudus, Jawa Tengah.
Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal di
Kesultanan Demak. Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan
berbagai masalah. Sunan Muria lahir pada abad ke-15 M, dan wafat pada tahun
1551 makamnya menyatu dengan Masjid Suna Muria disalah satu puncak Gunung
Muria.

Sunan Gunung Jati


Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh walisongo yang banyak berjasa
menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, beliau masih keturunan dari Raja
Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Sunan Gunung Jati berdakwah di Kota Cirebon
dan menjadi pemerintahaan kota Cirebon yang sesudahnya menjadi Kesultanan
Cirebon. Sunan Gunung Jati lahir di Kairo, Mesir pada tahun 1448, dan wafat
pada tahun 19 September 1568 dimakamkan di Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.

15

Pendidikan
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam
pengembangan Islam di Indonesia. Para dai dan muballig yang menyebarkan
Islam diseluruh pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk
Ribandang yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur
adalah keluaran pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar ke
pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa
Tenggara. Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam
memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh Indonesia.
Kekuasaan Politik
Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat
dari para Sultan. Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat
dakwah dan menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya
di seluruh Nusantara. Raja Gowa-Tallo di Sulawesi selatan melakukan hal yang
sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa. Dan para Sultan di
seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong menolong
dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan ini menjadi cikal bakal
tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.
Kerajaan kerajaan Islam
Kerajaan Samudra Pasai

16

Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang


berada di Sumatra. Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Sultan Malik Al Saleh
dan mengalami kejayaan. Hal ini dibuktikan Kerajaan Samudera Pasai mampu
memperluas wilayahnya dan menjalin hubungan perdagangan dengan Arab. Pada
masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik aI Tahir, ada kunjungan Ibnu Battutah
yang mengadakan perjalanan India-Cina (kembali tahun 1345). Peranan Kerajaan
Samudera Pasai dalam persebaran agama Islam yaitu:
1. Menjadi pusat studi Islam di Asia sehingga banyak orang-orang asing yang
menetap di Samudera Pasai.
2. Penyebaran agama Islam melalui perluasan pengaruh politik. Hal ini
dibuktikan dengan berhasil merintis munculnya Kerajaan-Kerajaan Islam
di Jawa.
3. Samudera Pasai menggunakan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan
laut yang menghubungkan daerah Pasai dengan Arab, India, dan Cina.
Sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan besar, Samudera Pasai memiliki
fungsi sebagai
4. Tempat merambah perbekalan.
5. Tempat mengurus masalah perkapalan.
6. Tempat mengumpulkan komoditas dagang yang akan dikirim ke
luar.Tempat menyimpan barang yang akan diantar ke daerah lain.
Adanya perpecahan di dalam kerajaan telah melahirkan kemunduran politik dan
perdagangan terlebih lagi, munculnya Kerajaan Malaka yang letaknya lebih
strategis.
Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh merupakan kelanjutan dari Kerajaan Samudera Pasal yang
didirikan oleh Sultan Ibrahim.Kerajaan Aceh mengalami masa kejayaan pada
masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang berhasil menaklukkan daerahdaerah di sekitar Aceh sekaligus mengislamkan daerah tersebut dalam usahanya
untuk memperluas wilayah kekuasaan Sultan Iskandar Muda bekerja sama dengan
Sultan Turki untuk memperkuat pasukannya. Kerajaan Aceh mengembangkan diri
dan dapat mempersatukan beberapa daerah di Aceh, yaitu Daya, Pedir, Lingga,

17

Perlak, Tamiang, Samudera Pasai, dan Lamuni, di bawah kekuasaan Sultan Ali
Mughayat Syah (1514-1528). Beberapa faktor yang mendorong berkembangnya
Kerajaan Aceh adalah,
1. Letaknya strategis di jalur perdagangan.
2. Pelabuhari Olele memliki syarat yang baik sebagal pelabuhan.
3. Pedalaman Aceh menghasilkan lada yang melimpah.Aceh makin ramai
dan berperan penting setelah Malaka dikuasai Portugis.
Sultan Ali Mughayat Syah adalah raja pertama Kerajaan Aceh. Setelah Sultan Ali
Mughayat Syah wafat, pemerintahan beralih kepada putranya yang bergelar
Sultan Salaluddin. Selama menduduki tahta, Ia tidak mempedulikan pemerintahan
kerajaannya. Keadaan kerajaan mulai goyah dan mengalami kemerosotan yang
tajam. Kerajaan Aceh mengalami kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda
(1607-1636). Corak pemerintahannya terdiri atas,
1. Pemerintahan sipil oleh golongan bangsawan (teuku).
2. Pemerintahan agama oleh golongan ulama (tengku).
Berikut ini beberapa tindakan yang dilakukan Iskandar Muda untuk memperkuat
kerajaan Aceh.
1. Memperluas

daerah

kekuasaan

ke

Semeranjung

Malaka

dengan

dikuasainya kerajaan Kedah, Perak, Johor, dan Pahang. Daerah pantai


barat dan timur Sumatera dikuasainya sampai ke Pariaman yang
merupakan jalur masuk Islam ke Minaangkabau.
2. Untuk memperlemah kekuasaan Portugis, Iskandar Muda membuka kerja
sama dengan Belanda dan lnggris dengan mengizinkan kongsi dagang
mereka, yaitu VOC dan EIC untuk membuka kantor cabangnya di Aceh.
3. Menyerang Portugis di Malaka dan sempat mengalahkan Portugis di Pulau
Bintan pada tahun 1614.Mendirikan
4. Masjid Baiturrahman di pusat ibukota kerajaan Aceh.
5. Pengganti Sultan Iskandar Muda adalah Sultan Iskandar Thani. Pada masa
kepemimpinan Sultan Iskandar Thani, Kerajaan Aceh mengalami
kemunduran disebabkan oleh,
6. Timbulnya pertikaian antara bangsawan dan ulama.
7. Banyak daerah yang melepaskan diri dan Kerajaan Aceh.

18

8. Pada tahun (1641) muncul kekuatan Belanda di Selat Malaka.


Kerajaan Demak
Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan
oleh Raden Patah. Letak Kerajaan Demak berada di tepi pantai utara Jawa.
Peranan Kerajaan Demak dalam pensebaran agama Islam adalah,
1. Menjadi pusat persebaran agama Islam di Jawa yang dilakukan oleh para
wali.
2. Mengadakan perluasan wilayah di daerah-daerah sekitar pesisir pantai
utara Jawa yang kemudian diislamkan melalui pendekatan politik, sosial,
dan budaya.
Beberapa raja Demak antara lain,
Raden Patah (1475-1518): Pada waktu Ia memerintah, dilakukan pengembangan
wilayah ke pesisir utara Jawa Barat dengan tujuan mencari wilayah strategis.
Tujuan politisnya adalah untuk mematahkan hubungan Kerajaan Pajajaran dengan
Portugis di Malaka. Tujuan ekonomisnya adalah menguasal Pelabuhan Cirebon,
Sunda Kelapa, dan Banten yang yang sangat potensial untuk mengekspor lada.
Pati Unus (1518-1521): Masa kekuasaan Pati Unus hanya sekitar tiga tahun. Pada
tahun 1511, Malaka direbut oleh Portugis sehingga para pedagang Indonesia
kehilangan mitra dagang yang vital. Di samping itu, jatuhnya Malaka sangat
memukul Demak, tetapi juga memberi keuntungan pada Demak. Para pedagang
yang enggan mengakui monopoli pendagangan Portugis di Malaka, menciptakan
pos-pos pendagangan baru seperti Banten, Cirebon, Jepara, Gresik, dan masih
banyak lagi.
Sultan Trenggono (1521-1546): Raja terbesar dan Kesultanan Demak adalah
Sultan Trenggono. Adanya Perjanjian Henrique de Leme dengan Pajajaran untuk
mendirikan benteng di Sunda Kelapa merupakan ancaman terhadap keberadaan
Demak. Oleh karena itu, pada tanggal 22 Juni 1527, Sultan Trenggono mengutus
Fatahiliah memimpin pasukan Demak untuk merebut Sunda Kelapa. Sunda
Kelapa berhasil dikuasal dan diubah namanya menjadi Jayakarta. Banten juga

19

dapat dikuasai pada tahun 1525. Dalam usaha perluasan wliayah, Sultan
Trenggono akhirnya wafat dalam pertempuran merebut Pasuruan tahun 1546.
Masa pemerlntahan Sultan Trenggono merupakan puncak persebaran Islam yang
dilakukan di seluruh wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Cirebon, Sunda Kelapa,
dan Banten. Ajaran agama Islam dapat berkembang pesat di Jawa pada saat
Kerajaan Demak berkuasa yang didukung oleh para wali atau sunan. Tindakantindakan penting yang pemah dilakukan Sultan Trenggono adalah sebagai berikut.
1. Menegakkan agama Islam.
2. Membendung perluasan daerah yang dilakukan oleh Portugis.
3. Menguasal dan mengislamkan Banten, Cirebon, dan Sunda Kelapa
(perluasan ke wilayah Jawa Barat dipimpin oleh Fatahiliah/Faletehan).
4. Berhasil meraklukkan Mataram, Singasari, dan Blambangan.
Selanjutnya pusat pemerintahan Kerajaan,Demak di pindahkan ke Pajang. Alasan
pemindahan itu antara lain,
1.
2.
3.
4.

Keraton Demak mengalami kehancuran total akibat peran saudara.


Mendekati daerah yang subur.
Menjauhi musuh-musuh politik yang ada di sekitar Demak.
Mendekati daerah pendukungnya.

Beberapa akibat dari runtuhnya Kerajaan Demak adalah,


1. Tidak adanya kerajaan maritim yang mampu menguasai perdagangan
nasional dan menghadapi bangsa asing.
2. Pindahnya pusat kekuasaan ke pedalaman yang memunculkan kembali
kerajaan agraris di Jawa Tengah.

Kerajaan Banten
Kerajaan Banten merupakan kerajaan Islam yang berada di Jawa Barat yang
didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Raja pertama yang memerintah adalah Sultan
Hasanudin yang berhasil memperluas pengaruh agama Islam di Banten. Kerajaan
Banten mampu berkembang pesat, antara lain karena didukung oleh fakta,

20

1. Banten mempunyal komoditas ekspor yang penting, misalnya ada,


sehingga menjadi daya tarik bagi pedagang asing.
2. Islamisasi di Banten menjadikan Banten sebagai pusat politik Kerajaan
Banten.
3. Banten merupakan pelabuhan penting di Selat Sunda.
4. Pelabuhan Banten memenuhi syarat sebagai pelabuhan yang balk.
Persebaran agama Islam yang dilakukan Kerajaan Banten menggunakan
pendekatan politik dan ekonomi. Untuk pendekatan politik, dilakukan dengan cara
memperluas wilayah kekuasaan Banten dan mengislamkan daerah-daerah yang
berhasli dikuasainya, sedangkan pendekatan ekonomi dilakukan dengan cara
memengaruhi para pedagang yang berdagang di Banten untuk memeluk agama
Islam, sebb Banten merupakan kota pelabuhan yang penting. Di samping Banten,
pelabuhan Iainnya adalah Jayakarta. Kerajaan Banten mengalami kemunduran
sejalan dengan masuknya VOC melalul Penjanjian Banten, di mana Banten
kehilangan peranan sebagai pelabuhan yang bebas.
Kerajaan Mataram Islam
Kerajaan Mataram Islam merupakan kelanjutan dan kekuasaan Demak, yang
didirikan oleh Sutawijoyoyang bergelar Panembahan Senopati Ing Alogo Sayidin
Panotogomo (kepala tentara dan pengatur agama). Panembahan Senopati bercitacita menjadikan Mataram sebagai pusat budaya Jawa dan agama Islam. Untuk
mewujudkan cita-citanya tersebut, cara yang digunakan dengan melakukan
ekspansi wilayah kekuasaan di seluruh Pulau Jawa, kecuali daerah Banten,
Blambangan, dan Batavia yang belum dapat dikuasai. Pusat Kerajaan Mataram
terletak di Yogyakarta. Sultan Agung membagi sistem pemerintahan Kerajaan
Mataram seperti berikut.
1. Kutanegara, daerah pusat keraton. Pelaksanaan pemerintahan dipegang
oleh Patih Lebet (Patih Dalam) yang dibantu Wedana Lebet (Wedana
Dalam).
2. Negara Agung, daerah sekitar Kutanegara. Pelaksanaan pemerintahan
dipegang Patih Jawi (Patih Luar) yang dibantu Wedana Jawi (Wedana
Luar).

21

3. Mancanegara, daerah di luar Negara Agung. Pelaksanaan pemerintahan


dipegang oleh para Bupati.
4. Pesisir, daerah pesisir. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh para
bupati atau syahbandar.
Raja-raja Mataram Islam antara lain,
Panembahan Senopati (1586-1601).
Mas Jolang (1601-1613): Dalam usahanya mempersatukan kerajaan-kerajaan
Islam di pantai untuk memperkuat kedudukan politik dan ekonomi Mataram, Mas
Jolang gugur dalam pertempuran di Krapyak sehingga dikenal dengan sebutan
Panembahan Soda Krapyak.
Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645): Raja terbesar di Mataram Islam
adalah Sultan Agung. Kerajaan Mataram mengalami masa kejayaannya pada masa
pemerinntahan Sultan Agung. Hal itu dapat dilihat dari kemajuan sector pertanian.
Keagamaan dapat berkembang pesat serta dapat mengatur pemerintahan dengan
balk. Sultan Agung juga memelopori pembuatan kalender Jawa yang merupakan
penggabungan antara kalender Saka dengan kalender Hijriah. Sepeninggal Sultan
Agung, Mataram Islam mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh perang
saudara dan beberapa pemberontakan seperti: Pemberontakan Trunojoyo (16741679); Pemberontakan Untung Suropati (1681-1706); Perang perebutan mahkota
1 (1704-1708); Perang perebutan mahkota 2 (1719-1724); Perang perebutan
mahkota 3 (1747-1755).
Perang perebutan mahkota in diakhiri dengan Perjanjian Giyanti (1755)dan
Perjanjian Salatiga (1757) yang membagi wilayah Mataram menjadi empat
bagian.
Kerajaan Cirebon
Kerajaan Cirebon didirikan oleh Fatahiliah atau Sunan Gunung Jati. Pada masa
pemerintahan Fatahiliah, Cirebon dapat berkembang pesat. Hal ini dapat dilihat
dan perluasan wilayah yang berhasil dilakukan oleh Fatahiliah, persebaran agama
Islam berkembang pesatdan Cirebon mampu menjadi pusat perdagangan dan

22

menjalin hubungan perdagangan dengan Cina. Wafatnya Fatahiliah diganti


olehPanembahan Ratu. Cirebon berhasil dikuasal VOC dan Iayahnya dibagi
menjadi tiga yaltu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan yaitu pada tahun 1681.
Kerajaan Gowa Tallo
Kerajaan Gowa Tallo terletak di wilayah Makassar yang didirikan oleh Sultan
Alaudin dan Sultan Abduliah, yang berhasil menyebarkan pengaruh kekuasaan
Kerajaan Gowa TaIlo dan menyebarkan agama Islam di daerah Bima, Sumbawa,
Manado, Gorontalo, dan Tomini. Kerajaaan Gowa Tallo mengalami masa
kejayaannya

pada

masa

pemerintahan Sultan

Hasanudin yang

berhasil

memperkuat kekuasaan Gowa Talio. Makassar berkembang pesa tdan menjadi


pusat perdagangan di Indonesia Timur. Hal inl disebabkan,
Makassar memiliki syarat yang balk untuk pelabuhan.
1. Letaknya strategis untuk perdagangan.
2. Perpindahan jalur perdagangan setelah Malaka dikuasai Portugis.
3. Melemahnya perdagangan di pantai utara Jawa akibat politik Sultan
Agung yang bersifat agraris.
Akan tetapi, kedatangan VOC di Makassar menyebabkan Kerajaan Gowa Tallo
berhasil dikuasai oleh Belanda. Kemunduran Makassar diawali dengan perang
Makassar yang diakhiri dengan kekalahan di pihak Makassar, kemudian dilakukan
Perjanjian Bongaya.
Kerajaan Ternate dan Tidore
Kerajaan Ternate dan Tidore berada di Maluku yang berhasil menyebarkan
pengaruh agama Islam melalul pendekatan politik dengan perluasan wilayah dan
pendekatan ekonomi melalui hubungan perdagangan. Raja yang memerintah
adalah Sultan Zainal Abidin. Kegiatan penyebaran agama Islam oleh Ternate dan
Tidore ditunjang oleh kedudukannya sebagai penghasil dan pusat perdagangan
rempah-rempah. Banyak pedagang muslim yang tertarik untuk menjalin hubungan
perdagangan sekaligus mengenalkan ajaran agama Islam. Ramainya perdagangan
rempah-rempah di Maluku mendorong munculnya persekutuan dagang, yaitu,

23

1. Uli lima (persekutuan dagang lima) yang dipimpin Kerajaan Ternate.


2. Uli siwa (persekutuan dagang sembilan) yang dipimpin Kerajaan Tidore.
Kerajaan Banjar
Kerajaan Banjar didirikan oleh Raden Samudra. Setelah masuk Islam, ia
dinobatkan menjadi Sultan Banjar dengan gelar Sultan Suryanulah. Kerajaan
Banjar memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam di Kalimantan
Selatan, sebab dipengaruhi oleh Ietaknya di dekat sungai, sehingga banyak para
pedagang

dan

luar

Kalimantan

yang

berdagang

rempah-rempah

yang

menyebabkan persebaran agama Islam lebih lancar.


Setelah kerajaan islam runtuh kemudian muncul tokoh tokoh seperti pendiri
Nahdatul ulama dan Muhammadiyah yang sampai sekarang garis besar agama
Islam menganut diantara dua golongan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Muin, Taib Thohir, Ilmu Kalam, Jakarta : Widjaya, 1973.
Abbas, Sirojuddin, Iitiqod Ahlussunah Wal-jamaah, Jakarta : Pustaka Tarbiyah,
2003.
Annonymous1. http://www.saefudin.info/2008/12/perkembangan-islam-diindonesia.html#.VO4dOXysWPQ. Diakses pada 21 Februari 2015.
Annonymous2. http://informasiana.com/sejarah-kerajaan-islam-di-indonesia/.
Diakses pada 24 Februari 2015.

24

Annonymous3.http://www.ficripebriyana.com/2014/03/dakwah-walisongo-suksesajarkan-islam-di-indonesia.html.Diakses pada 24 Februari 2015.


Hasbi Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad, Sejarah dan Pengatar Ilmu Kalam,
Semarang : Pustaka Riski Putra, 1999.
Jaya, Yahya. Prof. Dr. M.A, Teologi Agama Islam, Padang: Angkasa Raya, 2000.
Kaelany HD. 2010. Islam Agama Universal Edisi Revisi. Jakarta: Midada Rahma
Press.
Muchotob Hamzah,M Imam Aziz, Tafsir Maudhu`I ,Jakarta :Gramedia.2004
Nata, Habudin, Metodologi Stadi Islam, Teori Penelitian Agama, Jakarta : Raja
Grafindo Persada, 2007.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : Pt. Raja Grafindo Presada. 1998.

25