Anda di halaman 1dari 34

Bahaya Anemia buat Ibu Hamil

Besar Kecil Normal


TEMPO.CO, Jakarta - Kusbandrio, Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat Kabupaten
Lebak, Banten, tak henti memutar otak. Berbagai upaya telah dia lakukan, tapi angka
kematian ibu melahirkan di wilayahnya masih tetap tinggi.
"Penyebab terbesar akibat perdarahan. Hal itu dimungkinkan karena banyak ibu hamil
mengalami anemia atau kekurangan zat besi," kata Kusbandrio pada temu media tentang
suplementasi zat besi pada ibu hamil, di Hotel Four Season, Jakarta, Kamis lalu, 30 Agustus
2012. Merujuk hasil sebuah survei pada 2007 lalu, ia melanjutkan, "Sebanyak 35 persen ibu
hamil di Lebak mengalami anemia."
Data Dinas Kesehatan Kabubaten Lebak 2008 menyebutkan angka kematian ibu mencapai
246 per 100 ribu kelahiran hidup. Angka itu masih di atas angka kematian ibu di Indonesia,
yang menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007, mencapai 228 per 100 ribu
kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan target Millenium Development Goals Indonesia
2015, yakni 102 per 100 ribu kelahiran hidup, jelas penurunan angka kematian ibu di Lebak
masih jauh dari harapan.
Masih tingginya angka kematian ibu melahirkan juga terjadi di Kabupaten Purwakarta, Jawa
Barat. Salah satu penyebabnya, sama dengan di Lebak, yakni ibu mengalami perdarahan
akibat kekurangan zat besi. Kenyataan pahit ini diakui oleh Tomi Herutomo, Kepala Seksi
Promosi Kesehatan Purwakarta, yang hadir dalam temu media.
Menurut Direktur Micronutrient Initiative Indonesia Elvina Karyadi kekurangan zat besi pada
ibu hamil di Indonesia memang masih menjadi masalah besar. Elvina, yang juga dokter
spesialis gizi klinik, menyatakan prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia mencapai 4050 persen. Padahal, anemia pada ibu hamil bisa menyebabkan banyak masalah. Antara lain,
bayi lahir prematur, bayi berat lahir rendah, dan mendongkrak risiko kematian pada bayi yang
dilahirkan. "Pada anemia yang berat juga bisa meningkatkan risiko kematian ibu dalam
proses persalinan, kata Elvina pada kesempatan yang sama.

Zat besi (Fe) adalah mineral yang sangat dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah
(hemoglobin). Beberapa makanan yang menjadi sumber zat besi adalah daging merah, hati,
kacang-kacangan, dan sayuran hijau. Asupan vitamin C yang cukup akan membuat
penyerapan zat besi di dalam tubuh menjadi lebih baik. Sebaliknya, teh dan kopi akan
menurunkan penyerapan zat besi dalam tubuh.
Literatur menyebutkan, pada masa kehamilan, volume darah ibu hamil bertambah. Saat usia
kehamilan cukup bulan, volume darah ini akan bertambah 40-45 persen dibandingkan
sebelum hamil. Akibatnya, anemia fisiologis akan terjadi pada kehamilan trisemester pertama
dengan jumlah kadar hemoglobin sebesar 10-12 gram per desiliter. Ini akan diidentifikasi
sebagai anemia kehamilan jika kadar hemoglobin kurang dari 11 gram per desiliter. Karena
itulah, suplementasi zat besi pada wanita hamil penting dilakukan.
Sebenarnya upaya mengatasi anemia pada ibu hamil sudah dilakukan pemerintah sejak 1970an. Melalui program suplementasi tablet tambah darah secara cuma-cuma, ibu hamil
diberikan 90 tablet yang mesti diminum selama masa kehamilan sampai masa nifas. Tablet ini
berisi 60 miligram zat besi dan 0,25 miligram asam folat. Repotnya, berdasarkan hasil Riset
Kesehatan Dasar 2010, meskipun 80,7 persen perempuan usia 10-59 tahun telah
mendapatkan tablet ini, namun hanya 18 persen yang mengkonsumsi tuntas hingga 90 tablet.
Ketidakpatuhan mengkonsumsi suplemen tambah darah dan kurangnya pengetahuan manfaat
zat besi menjadi penyebab rendahnya angka konsumsi tablet ini pada ibu hamil. Banyak ibu
hamil yang tidak mau minum karena ada keluhan, misalnya mual," kata Tomi, "Hal itu terjadi
karena ketidaktahuan mereka tentang risiko yang terjadi jika ibu hamil mengalami anemia.
Dokter Ridwan Gustiana, Ketua Yayasan IBU, yang juga hadir dalam temu media,
menguatkan pernyataan Tomi. Menurut dia, rasa mual mestinya tidak menjadi halangan bila
dibanding manfaat tablet tambah darah selama kehamilan. Hal lain yang mendorong
keengganan ibu hamil mengonsumsi tablet ini adalah kekhawatiran nanti bayinya akan
menjadi hitam. Padahal, persepsi itu salah besar. Meski zat besi berwarna hitam, kata dia,
"Namun, zat itu tidak berpengaruh pada warna kulit bayi."

Artikel
ANEMIA PADA IBU HAMIL

1. DEFINISI ANEMIA

Anemia pada masyarakat dikenal sebagai Penyakit Kurang Darah yaitu keadaan dimana kadar
Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal

Anemia berbeda dengan Tekanan darah Rendah

Tekanan rendah adalah kurangnya kemampuan otot jantung untuk memompa darah keseluruh
tubuh sehingga menyebabkan kurangnya aliran darah yang sampai ke otot dan bagian tubuh
lainnya

2. BATAS NORMAL KADAR HEMOGLOBIN

Berdasarkan WHO, batas normal kadar HB adalah :

- Anak balita

11 gr %

- Anak usia sekolah

12 gr %

- Remaja putri / WUS :

12 gr %

- Ibu hamil

11 gr %

- Ibu menyusui > 3 bln :

12 gr %

- Pria Dewasa

13 gr %

3. TANDA-TANDA KURANG DARAH (ANEMIA)

5 L (Lemah, Letih, Lesu, Lelah, Lalai)

Pusing dan pandangan mata berkunang-kunang

Gampang ngantuk

Lidah, bibir, kuku, kelopak mata, telapak tangan pucat sekali

Wajah/muka pucat

4. PENYEBAB ANEMIA

Kurang makan makanan yang banyak mengandung zat besi dan vitamin B12 seperti sayuran
hijau, buah berwarna, hati, daging

Adanya penyakit kronis seperti malaria, kecacingan dan tumor ganas

Adanya perdarahan akibat kecelakaan dan sering melahirkan

Jarak kelahiran anak terlalu dekat

Ibu hamil bekerja terlalu berat

Adanya cacing tambang dalam usus

5. GOLONGAN RAWAN TERHADAP ANEMIA

Anak Balita

Anak usia sekolah

Ibu hamil dan menyusui serta

Tenaga kerja wanita

6. BAHAYA ANEMIA

Bagi ibu hamil dapak menyebabkan keguguran, persalinan dini, perdarahan waktu
melahirkan, berat badan bayi yang dilahirkan rendah (2.500 gram), kematian janin dalam
kandungan

Bagi ibu menyusui produksi ASI berkurang sehingga menggangu anak yang sedang disusui

Bagi anak usia sekolah dapat menurunkan prestasi belajar dan terganggu aktivitas fisik

Bagi tenaga kerja wanita dapat menyebabkan penurunan produktifitas kerja

Mudah terkena infeksi dan penyakit lainnya serta gangguan pertumbuhan

7. PENCEGAHAN ANEMIA

Pilih makanan yang banyak mengandung zat besi seperti hati, ikan, daging, sayuram yang
berwarna hijau serta kacang-kacangan

Cukup makan makanan yang mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi
seperti buah-buahan segar

Setiap hari ibu Hamil minum 1 pil (tablet) tambah darah (Fe) sampai masa nifas

Bila keadaan gawat segera hubungi dokter atau puskesmas terdekat

8. CARA MEMBERIKAN PIL TAMBAH DARAH

Setiap ibu hamil harus datang ke Posyandu, untuk memperoleh 30 pil (tablet) tambah darah
setiap bulannya selama 3 bulan

Setiap hari, ibu hamil minum 1 pil tambah darah sesudah makan yang cukup untuk sebulan
(ingat, 1 hari minum 1 pil)

9. IBU HAMIL IDAMAN

Sehat, bugar dan cantik

Janin tumbuh sehat

Tidak mudah terserang penyakit

Terhindar dari keguguran

Mengurangi risiko kematian bila mengalami perdarahan

CONTOH MENU SEHARI

Pagi

Nasi
Empal daging
Tumis Kacang Panjang

Jam 10.00

Bubur kacang hijau

Siang

Nasi
Ikan goreng
Tempe bacam

Sayur Bayam + Jagung


Pepaya

Malam

Nasi
Pepes Ikan
Cah Tahu + Kapri
Tumis Sawi + Worte
Pisang

askep anemia pada kehamilan


ANEMIA PADA IBU HAMIL
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr%
(Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar
haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II
(Saifuddin, 2002). Anemia dalam kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat besi, jenis
pengobatannya relatif mudah, bahkan murah.
Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia.
Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga
terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18%
dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10
minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002).
Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin
berat dengan adanya kehamilan.
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan
tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab
anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:
1. Kurang gizi (malnutrisi)

2. Kurang zat besi dalam diit


3. Malabsorpsi
4. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain
GEJALA ANEMIA PADA IBU HAMIL
Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunangkunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada
anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.
KLASIFIKASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN.
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:
1. Anemia Defisiensi Besi
Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu, keperluan
zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet
besi.
a. Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero
bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini
program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis
anemia (Saifuddin, 2002).
b. Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya
gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua (Wiknjosastro,
2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau
2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).
Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil
anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual
muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan
menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil

pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:


1. Hb 11 gr% : Tidak anemia
2. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
3. Hb 7 8 gr%: Anemia sedang
4. Hb < 7 gr% : Anemia berat
Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari,
sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan
massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit.
Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 810 mg zat besi. Perhitungan makan
3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 2025 mg zat besi perhari. Selama kehamilan
dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga
kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).
2. Anemia Megaloblastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan
vitamin B12.
Pengobatannya:
a. Asam folik 15 30 mg per hari
b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
d. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.
3. Anemia Hipoplastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru.
Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap,

pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.


4. Anemia Hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari
pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan,
kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh
infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa
jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu
penderita ini.
EFEK ANEMIA PADA IBU HAMIL, BERSALIN DAN NIFAS
Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai.
Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan: Abortus, Missed Abortus
dan kelainan kongenital. Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: Persalinan
prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia aintrauterin
sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa
mengakibatkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his baik primer maupun
sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena
ibu cepat lelah. Saat post partum anemia dapat menyebabkan: tonia uteri, rtensio placenta, pelukaan
sukar sembuh, mudah terjadi febris puerpuralis dan gangguan involusio uteri.
SIMPULAN
Kejadian anemia pada ibu hamil harus selalu diwaspadai mengingat anemia dapat meningkatkan
risiko kematian ibu, angka prematuritas, BBLR dan angka kematian bayi. Untuk mengenali kejadian
anemia pada kehamilan, seorang ibu harus mengetahui gejala anemia pada ibu hamil, yaitu cepat
lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia),
konsentrasi hilang, napas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada
kehamilan muda.
KEPUSTAKAAN
Mochtar, R. 1998 . Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC
Saifudin, A.B. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:
YBP-SP

SELENGKAPNYA di: ANEMIA PADA IBU HAMIL askep askeb | asuhan-keperawatankebidanan.co.cc


http://www.asuhan-keperawatan-kebidanan.co.cc/2010/12/anemia-pada-ibu-hamil.html

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL


DENGAN ANEMIA
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN ANEMIA

A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr%
(Wiknjosastro, 2002).
Anemia adalah suatu kondisi dimana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga
normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41 % pada pria atau Hb < 12 g/dl dan
Ht <37 % pada wanita. (Arif Mansjoer,dkk. 2001)
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada
trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifudin, 2002)

2. Epidemiologi /Insiden Kasus


Apabila seorang wanita mengalami anemia selama hamil ,kehilangan darah pada saat melahirkan
,bahkan kalaupun minimal ,tidak ditoleransi dengan baik .Ia beresiko membutuhkan transfusi
darah.Sekitar 80% kasus anemia pada wanita hamil merupakan anemia defisisiensi besi. Dan 20 %
lainnya mencakup kasus anemia herediter dan berbagai anemia didapat,termesuk anemia asam
folat,anemia sel sabit,dan talasemia. Badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO)
melaporkan bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami defisiensi besi sekitar 35-75% serta
semakin meningkat seiring dengan pertambah usia kehamilan. Menurut WHO 40% kematian ibu

dinegara berkembang berkaitan dengan anemia pada kehamilan dan kebanyakan anemia pada
kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut.

3. Etiologi
Menurut Mochtar( 1998) penyeban anemia pada umunya adalah :
1) Perdarahan
2) Kekurangan gizi seperti : zat besi, vitamin B 12dan asam folat.
3) Penyakit kronik, seperti gagal ginjal, abses paru, bronkiektasis, empiema, dll.
4) Kelainan darah
5) Ketidaksanggupan sum-sum tulang membentuk sel-sel darah.
6) Malabsorpsi

Penyebab anemia pada kehamilan :


1)

Meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin

2)

Kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi ibu hamil

3)

Pola makan ibu terganggu akibat mual selama kehamilan

4)

Adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi (Fe)

5)

Pada wanita akibat persalinan sebelumnya dan menstruasi.

Faktor Resiko Anemia pada Ibu Hamil


1) Umur < 20 tahun atau > 35 tahun\
2) Perdarahan akut
3) Pekerja berat
4) Makan < 3 kali dan makanan yang dikonsumsi kurang zat besi

4. Patofisiologi
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang
makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65%
dimulai pada trimester ke II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya
sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus.
Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan
peningkatan sekresi aldesteron.

5. Klasifikasi
Anemia dalam kehamilan dapat dibagi sebagai berikut :
1) Anemia defisiensi besi (62,3%)
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan besi.
Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena
gangguan resorpsi, gangguan penggunaan, atau karena terlapau banyaknya besi ke luar dari badan,
misalnya pada pendarahan. Keperluan akan besi bertambah dalam kehamilan , terutama pada
trisemester terakhir. Apabila masuknya besi tidak bertambah dan kehamilan, maka mudah terjadi
anemia defisiensi besi, lebih lebih pada kehamilan kembar.
2) Anemia megaloblastik( 29,0%)3
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena difisiensi asam folat ( pteroylglutamic
acid, jarang sekali karena difiesiensi vitamin B12( cynocobalamin).
3) Anemia Hipoblastik ( 8, 0%)
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena gangguan sumsum tulang kurang mampu
membuat sel sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan. Darah tepi
menunjukan gambara normositer dan normokrom, tidak ditemukan ciri ciri defisiensi besi, asam
folat, atau vitamin B12. Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini belum diketahui
dengan pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar Roentgen, racunatau obat obatan.
4) Anemiahemolitik
Anemia hemolitik disebakan karena pengghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari
pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila hamil maka anemianya
akan menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis henolitik

pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia. Secara umum anemia hemolitik dapat dibagi
dalam 2 golongan besar, yakni :
(1) Golongan yang disebabkan oleh faktor intrakorpuskuler, seperti pada sferositosis, eliptositosis,
anemia hemolitik herediter , thalasemia, anemia sel sabit, hemoglobinopatia C, D, G, H, I, dan
paraxysmal noctural haemoglobinuria.
(2) Golongan yang disebabkan oleh faktor ekstrakorpuskular , seperti pada infeksi ( malaria, sepsis, dsb),
keracunan arsenikum , neoarsphenamin, timah, sulfonamid, kinin, paraquin, pimaquin, nitrofuratoin
( Furadantin), racun ular pada defisiensi G6PD , antagonismus rhesus atau ABO, leukemia, penyakin
Hodgkin, limfasarkoma, penyakit hati, dll. ( Ilmu Kebidanan, 451-457)

6. Gejala Klinis
Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang
kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun( anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek,( pada
anemia parah), dan keluhan mual muntah pada hamil muda, palpitasi.

7. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Palpasi

: konjungtiva, wajah pucat.

: turgor kulit, capillary refill, pembesaran kelenjar limfa, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus.
Auskultasi : auskultasi DJJ dan denyut jantung ibu

8. Pemeriksaan Diagnostik.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemui :
1) Pemeriksaan Hb Sahli, kadar Hb < 10 mg/%
2) Kadar Ht menurun ( normal 37% - 41% )
3) Peningkatan bilirubin total ( pada anemia hemolitik )
4) Terlihat retikulositosis dan sferositosis pada apusan darah tepi
5) Terdapat pansitopenia, sumsum tulang kosong diganti lemak

9. Penatalaksanaan

1) Therapy pengobatan
(1) Therapy oral
Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi
mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet besi akan diserap dengan
maksimal jika diminum 30 menit sebelum makan. Biasanya cukup diberikan 1 tablet/hari, kadang
diperlukan 2 tablet. Kemampuan usus untuk menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian
zat besi dalam dosis yang lebih besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan
pencernaan dan sembelit. Zat besi hampir selalu menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini
adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya. Dan biasanya asupan nutrisi yang
mengandung zat besi cenderung lebih tinggi pada ibu hamil daripada wanita normal. Umumnya
asupan nutrisi meningkat 2 kali lipat daripada wanita normal.Pengobatan yang lain:
Asam folik 15 30 mg per hari
Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.
(2) Therapi parenteral
Diberikan jika penderita tidak tahan akan obat besi peroral ada gangguan penyerapan oenyakit saluran
pencernaan atau apabila kehamilannya sudah tua. Therapy parenteral ini diberikan dalam bentuk ferri.
Secara intramusculus dapat disuntikan dextran besi (imferon) atau sorbitol besi (Jectofer)

a. Pencegahan.

(1) Makanlah makanan yang kaya akan sumber zat besi secara teratur.
(2) Makanlah makanan yang kaya sumber vitamin C untuk memperlancar penyerapan zat besi.
(3) Jagalah lingkungan sekitar agar tetap bersih untuk mencegah penyakit infeksi dan penyakit cacingan.
(4) Hindari minum teh, kopi, susu coklat setelah makan karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

10. Komplikasi

Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai.
Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan : abortus, missed abortus
dan kelainan kongenital.
Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan : persalinan prematur, perdarahan
antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia aintrauterin sampai kematian, BBLR,
gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan kematian.
Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his baik primer maupun sekunder, janin akan
lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat
post partum anemia dapat menyebabkan: tonia uteri, rtensio placenta, pelukaan sukar sembuh, mudah
terjadi febris puerpuralis dan gangguan involusio uteri.

B.KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
1) Aktivitas
Keletihan, kelemahan, malaise umum.
Kehilangan produktifitas, penurunan semangat untuk bekerja
Toleransi terhadap latihan rendah.
Kebutuhan untuk istirahat dan tidur lebih banyak
2) Sirkulasi

Riwayat kehilangan darah kronis,

Palpitasi.

CRT lebih dari dua detik

3) Integritas Ego
Cemas, gelisah, ketakutan
4) Eliminasi

Konstipasi.

Sering kencing.

5) Makanan / cairan

Nafsu makan menurun

Mual/ muntah

6) Nyeri / kenyamanan

Lokasi nyeri terutama di daerah abdomen dan kepala.

7) Pernapasan
Napas pendek pada saat istirahat maupun aktifita

8)

Seksual

Dapat terjadi pendarahan pervagina


Pendarahan akut.sebelumnya
Tinggi fundus tidak sesuai dengan umurnya.

2. Diagnosa yang mungkin muncul:


1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah

2) Gangguan perfungsi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen ke jaringan/ke sel
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen
4) Risiko cedera terhadap janin
5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan mengenai anemia
6) PK Anemia.

3. Rencana asuhan keperawatan


1) Dx 1 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah.
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ....x.... jam diharapkan kebutuhan nutrisi klien
terpenuhi dengan kriteria hasil:
-

Berat badan klien dalam batas normal.

Klien tidak mengalami mual-muntah

Klien tidak menunjukkan penurunan nafsu makan


Intervensi
Mandiri

1. Tentukan keadekuatan kebiasaan asupan mutrisi dulu/sekarang dengan menggunakan batasan 24 ja.
Perhatikan kondisi rambut kuku dan kulit.
R: kesejahteraan janin dan ibu tergantung pada nutrisi ibu selama kehamilan sebagaimana selama 2
tahun sebelum kehamilan.
2. Dapatkan riwayat kesehatan; catat usia (khususnya kurang dari 17 tahun, lebih dari 35 tahun).
R: remaja dapat cenderung malnutrisi/anemia, dan klien lansia mungkin cenderung obesitas/diabetes
gestasional.
3. Pastikan tingkat penegetahuan tentang kebutuhan diet.
R: menentukan kebutuhan belajar khusus. Pada periode pranatal, laju basal metabolik meningkatkan
(khususnya pada kehamilan lanjut) karena peningkatan aktivitas tiroid yang berhubungan dengan
pertumbuhan fetus dan jaringan pada ibu, menjadi potensial risiko terhadap klien dengan nutrisi
buruk. Penambahan 800 mg zat besi diperlukan selama kehamilan untuk perkembangan jaringan

ibu/janin dan kondisi janin di dalam rahim. Selama trismester ketiga, kebutuhan terhadap zat besi
minimal, dan diet seimbang dengan peningkatan kebutuhan kalori biasanya adekuat.
4. Berikan informasi tertulis/verbal yang tepat tentang diet pranatal dan suplemen vitamin/zat besi setiap
hari.
R: materi referensi yang dapat dipelajari dirumah kemudian meningkatkan kemungkinan klien
memilih diet seimbang.
5. Evaluasi motivasi/sikap dengan mendengar keterangan klien dan meminta umpan balik tentang
informasi yang telah diberikan.
R: bila klien telah termotivasi untuk emmperbaiki diet, evaluasi lebih lanjut atau intervensi lain
mungkin dapat diindikasikan.
6. Tanyakan keyakinan berkenaan dengan diet sesuai budaya dan hal-hal yang tabu selama kehamilan.
R: dapat menunjukkan motivasi untuk mengikuti anjuran pemberi layanan kesehatan. Sebagai contoh
beberapa budaya menolak zat besi, meyakini bahwa ini mengeraskan tulang ibu dan emmbuat sulit
melahirkan.
7. Perhatikan adanya pika/ngidam. Kaji pilihan bahan bukan makanan dan tingkat motivasi untuk
memakannya.
R: memakan bahan bukan makanan pada kehamilan mungkin didasarkan pada kebutuhan
psikologis,fenomena budaya, respon terhadap lapar, dan/atau respon tubuh terhadap kebutuhan nutrisi.
(misalnya mengunyah es dapat menandakan anemia). Catatan: mencerna kanji untuk pakaian dapat
menimbulkan anemia defisiensi; dan mencerna lempung/tanah liat dapat mengakibatkan gangguan
fekal/BAB.
8. Timbang berat badan klien; pastikan berat badan pregravid biasanya. Berikan informasi tentang
penambahan pranatal yang optimum.
R: ketidak adekuatan penambahan berat badan pranatal dan/atau di bawah berat badan normal masa
kehamilan, meningkatkan risiko reetardasi pertumbuhan intrauterin (IUGR) pada janin dengan berat
badan lahir rendah. Penelitian menemukan adanya hubungan positif antara kegemukan ibu pregravid
dan peningkatan angka morbiditas perinatal berkenaan dengan kelahiran preterm.
9. Tinjau ulang frekuensi dan beratnya mual/muntah.
R: mual/muntah trimester pertama dapat berdampak negatif pada status nutrisi pranatal, khususnya
pada periode kritis perkembangan janin.

10. Pantau kadar hemoglobin (Hb)/hematokrit (Ht).


R: mengidentifikasi adanya anemia dan potensial penurunan kapasitas pembawa oksigen ibu. Klien
dengan kadar Hb kurang dari 12 g/dL atau kadar Ht kurang atau sama dengan 37 % dipertimbangkan
anemia pada trimester pertama.
11. Ukur pembesaran uterus.
R: malnutrisi ibu berefek negatif terhadap pertumbuhan janin dan memperberat penurunan

komplemen sel otak pada janin, yang mengakibatkan kemunduran perkembangan janin
dan
kemungkinan lebih lanjut.
Kolaborasi
1. Buat rujukan yang perlu sesuai indikasi (misalnya, pada ahli diet, pelayanan sosial)
R: mungkin diperlukan bantuan tambahan terhadap pilihan nutrisi; dapat membatasi anggaran
keuangan.
2. Rujuk pada program makanan wanita, bayi, anak-anak dengan tepat.
R: yayasan penyelenggara program makanan suplemen membantu meningkatkan secara optimal
nutrisi ibu/janin.

2) Dx 2 : Gangguan perfungsi jaringan berhubungan dengan penurunan suplai oksigen ke jaringan/ke


sel
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x24 jam,perfusi ke jaringan/ke sel efektif
dengan kriteria hasil :
-

Tidak terdapat perubahan karakteristik kulit (rambut, kuku, kelembaban)

Tidak terdapat kebiruan pada kulit

CRT dalam batas normal (kembali dalam kurun waktu kurang dari 2 detik)

Intervensi :
Mandiri

1.

Perhatikan status fisiologis ibu, status sirkulasi dan volume darah.


R: kejadian perdarahan potensial merusak hasil kehamilan, kemungkinan menyebabkan hipovolemia
atau hipoksia uteroplasenta.

2. Lakukan pemeriksaan fisik CRT dengan menekan kuku pasien.


R: keadaan capillary refill test yang tidak kembali dalam waktu kurang dari 2 dapat menandakan
anemia.
3. Auskultasi dan laporkan DJJ, catat bradikardi, atau takikardi. Catat perubahan pada aktivitas janin
(hipoaktif atau hiperaktif).
R: mengkaji berlanjutnya hipoksia janin. Pada awalnya janin berespon pada penurunan kadar oksigen
dengan takikardia dan peningkatan gerakan. Bila tetap deficit, bradikardia dan penurunan aktivitas
terjadi.
4.

Catat kehilangan darah ibu mungkin dan adanya kontraksi uterus.


R: Bila kontraksi uterus disertai dilatasi serviks, tirah baring dan medikasi mungkin tidak efektif
ddalam mempertahankan kehamilan. Kehilangan darah ibu secara berlebihan menurunkan perfusi
plasenta.

5.

Anjurkan tirah baring pada posisi miring kiri


R: menghilangkan tekanan vena kava inferior dan meningkatkan sirkulasi plasenta atau janin dan
pertukaran oksigen.
Kolaborasi

1. Berikan suplemen oksigen pada klien


R: meningkatkan ketersediaan oksigen untuk ambilan janin.sehingga kapasitas oksigen yang dibawa
janjin meningkat.
2. Lakukan/ ulang NST sesuai indikasi
R: mengevaluasi secara elektronik respon DJJ terhadap gerakan janin, bermanfaat dalam menentukan
kesejahteraan janin (tes reaktif) versus hipoksia (nonreaktif).
3. Ganti kehilangan darah/ cairan ibu.

R: mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transport oksigen. Bila penyimpanan
oksigen menetap, janin kehabisan tenaga untuk melakukan mekanisme koping, dan kemungkinan SSP
rusak / janin meninggal.

3) Dx 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai


oksigen.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x24 jam diharapkan pasien dapat beraktivitas
dengan baik.
Kriteria hasil :
-

Nadi dan tekanan darah dalam batas normal (nadi 60-100x/menit; TD 90/60-140/90 mmHg)

Pasien tidak mengeluh lemah dan lelah

Intervensi :
Mandiri
1. Jelaskan alasan perlunya tirah baring, penggunaan posisi rekumben lateral kiri/miring, dan penurunan
aktivitas.
R : Tindakan ini ditujukan untuk mempertahankan janin jauh dari serviks dan meningkatkan perfusi
uterus. Tirah baring dapat menurunkan peka rangsang uterus.
2. Berikan tindakan kenyamanan seperti gosokan punggung, perubahan posisi, atau penurunan stimulus
dalam ruangan (mis. Lampu redup)
R : Menurunkan tegangan otot dan kelelahan serta meningkatkan rasa nyaman.
3. Berikan latihan gerak pada pasien secara bertahap (aktif dan pasif).
R. aktivitas dan latihan sangat penting bagi pasien yang mengalami intoleransi aktivitas
karena
kurang latihan akan menyebabkan otot menjadi atrofi.
4. Kelompokkan aktivitas sebanyak mungkin, seperti pemberian obat, tanda vital, dan pengkajian.

R : Meningkatkan kesempatan klien untuk beristirahat lebih lama diantara interupsi untuk tindakan
berikutnya
5. Berikan periode tanpa interupsi untuk istirahat/tidur.
R : Meningkatkan istirahat, mencegah kelelahan, dan dapat meningkatkan relaksasi.
6. Berikan aktivitas pengalihan, seperti membaca, mendengarkan radio, dan menonton televisi, atau
kunjungan dengan teman yang dipilih atau keluarga.
R : Membantu klien dalam koping dengan penurunan aktivitas.

4) Dx 4 : Risiko cedera terhadap janin


Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .x.diharapkan risiko cedera pada janin
dapat tertanggulangi, dengan kriteria hasil :
-

Denyut jantung bayi dalam batas normal (120-160 x/menit)

Hasil USG tidak menunjukan tanda tanda abnormalitas.

Tinggi fundus arteri sesuai umur kehamilan

Intervensi
Mandiri
1.

Perhatikan kondisi ibu yang berdampak pada sirkulasi janin.


R: Faktor yang mempengaruhi atau menurunkan sirkulasi/oksigenasi ibu mempunyai dampak yang
sama pada kadar oksigen janin/plasenta. Janin yang tidak mendapatkan cukup oksigen untuk
kebutuhan metabolisme anaerob yang menghasilkan asam laktat yang menimbulkan kondisi asidosis.

2. Ajari ibu untuk mengobservasi gerakan janin


R: secara normalnya dalam kandungan janin bergerak dan merupakan tanda yang sehat pada janin.
Jika janin tidak bergerak perlu diwaspai terjadi cedera pada janin akibat kekurangan nutrisi.
3.

Kaji terhadap mual/muntah berlebihan.


R: Memajankan perkembangan janin pada status asidotik dan malnutrisi dan dapat memperberat IUGR
dan pertumbuhan otak yang buruk.

4.

Bantu dalam screening dan kelainan genetik.

R: Kelainan seperti anemia sel sabit mengharuskan tindakan yang khusus untuk mencegah efek negatif
dalam pada pertumbuhan janin.
5.

Diskusikan efek negatif yang potensial terjadi akibat kelainan genetik


R: Retardasi pertunbuhan intrauterus/pascanatal, malformasi dan retardasi mental dapat terjadi.

6.

Pantau DJJ selama krisis sel sabit


R: Asidosis /hipoksia ibu, khusus pada trimester ketiga dapat mengakibatkan kelainan SSP janin.
Krisis berulang mempredisposisikan klien dan janin pada peningkatan mortalitas dan laju morbiditas.

7. Lakukan pemeriksaan leofold untuk mengetahui keadaan janin terutama mengukur tinggi fundus.
R: tinggi fundus sesuai usia kehamilan merupakan satu tanda bahwa pertumbuhan janin dalam
kandungan ibu tidak mengalami gangguan.

Kolaborasi
1.

Berikan suplemen oksigen sesuai kebutuhan


R: meningkatkan ketersediaan oksigen untuk ambilan janin, khususnya pada adanya anemia berat atau
bila sirkulasi maternal menurun

2.

Ultrasonografi
R: Penyakit anemia dapat mengakibatkan IUGRnya menurun

5) Dx 5 ; Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan mengenai anemia


Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x24 jam diharapkan pengetahuan pasien
mengenai anemia menjadi adekuat.
Kriteria hasil :
-

Dapat menjelaskan kembali mengenai pengertian anemia

Dapat mengikuti instruksi dan prosedur perawatan

Dapat menunjukkan prilaku kesehatan yang positif untuk menanggulangi anemia

Intervensi :
Mandiri
1.

Kaji kesiapan klien untuk belajar.


R : Faktor-faktor seperti ansietas atau kurang kesadaran tentang kebutuhan terhadap informasi dapat
mempengaruhi kesiapan untuk belajar. Penyerapan informasi ditingkatkan bila klien termotivasi dan
siap untuk belajar.

2.

Libatkan orang terdekat dalam proses belajar-mengajar.


R : Dukungan dari orang terdekat dapat membantu menghilangkan ansietas yang nantinya
menguatkan prinsip-prinsip belajar dan mengajar.

3.

Berikan informasi tentang perawatan tindak lanjut bila klien pulang.


R : Klien mungkin perlu kembali untuk keteraturan pemantauan dan/atau tindakan.

4.

Anjurkan periode istirahat reguler 2 sampai 3 kali sehari pada posisi miring kiri setelah pulang. Bila
tirah baring dilanjutkan, anjurkan klien menggunakan sebagian waktu dalam sehari di tempat tidur.
R : Tingkatkan relaksasi dan kurangi kelelahan. Bila klien bangun dan bergerak, istirahat di kamar
tidur dapat memaksimalkan istirahat. Namun, klien yang sepenuhnya tirah baring dapat merasa
terisolasi dan bosan tanpa perubahan pandangan.

5.

Anjurkan pemberian intake yang adekuat, banyak nutrisi untuk kebutuhan ibu dan janin.
R : Intake nutrisi yang adekuat dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ibu dan janin terutama zat besi,
asam folat, vit. B 12, dll. Dan berikan informasi kepada pasien tentang dampak obat-obatan terutama
SF yang dapat menyebabkan mual dan muntah oleh karena itu ajarkan cara memakan obat dengan
benar misalnya mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C untuk membantu
mempercepat reabsorpsi obat dan menganjurkan pasien untuk tidak meminum kopi atau teh selama
meminum obat karena akan memperlambat reabsorpsi obat.

Evaluasi

1. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi dengan tidak adanya mual muntah


2. Tidak terdapat perubahan karakteristik pada kulit(rambut, kuku,dan kelembapan)

3. Pasien dapat beraktivitas dengan baik dengan tidak mengeluh lemah dan lelah
4. Tidak adanya risiko cedera pada janin dengan tinggi fundus sesuai kehamilan
5. Pengetahuan pasien mengenai anemia menjadi adekuat dengan mengikuti tindakan dan prosedur
perawatan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bobak dkk. 2005. Buku Ajar Keperawtan Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC
2. Prawirahardjo,Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka.
3. Saifudin,A.B.2002. Buku Acuan Pelyanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta:YBP-SP.
4. Doenges, M.E ( 2001). Rencana Perawatan Maternal/ Bayi Pedoman Untuk Perencanaan &
Dokumentasi Perawatan Klien. Edisi 2. Jakarta : EGC
5. Manjoer,Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI:Media Aekulatius
6. Winkyosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta:YBP-SP
7. http://library.usu.ac.id/download/fk/fk-arlinda%20sari2.pdf.
8. http://www.motherandchildhealth.com/Prenatal/postpartum_anemia.html
9. http://usph.wordpress.com/2007/08/15/asupan-90-tablet-besi-dan-anemia-ibu-hamil/

Resiko Kehamilan pada Usia Dini (PRIMI MUDA)


Diposkan oleh kadek nurya Label: Keperawatan Maternitas

Kehamilan Usia Muda


Smart Nurse - Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya, emosional ibu
belum stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa muncul akibat ketegangan
saat dalam kandungan, adanya rasa penolakan secara emosional ketika si ibu mengandung bayinya.
(Ubaydillah, 2000).

Resiko Tinggi Kehamilan pada Usia Muda


Risiko kehamilan pada ibu yang terlalu muda biasanya timbul karena mereka belum siap secara psikis
maupun fisik. Secara psikis, umumnya remaja belum siap menjadi ibu. Bisa saja kehamilan terjadi
karena "kecelakaan". Akibatnya, selain tidak ada persiapan, kehamilannya pun tidak dipelihara
dengan baik. Kondisi psikis yang tidak sehat ini dapat membuat kontraksi selama proses persalinan
tidak berjalan lancar sehingga kemungkinan operasi sesar lebih besar. Risiko fisiknya pun tak kalah
besar karena beberapa organ reproduksi remaja putri seperti rahim belum cukup matang untuk
menanggung beban kehamilan. Bagian panggul juga belum cukup berkembang sehingga bisa
mengakibatkan kelainan letak janin. Kemungkinan komplikasi lainnya adalah terjadinya keracunan
kehamilan/preeklamsia dan kelainan letak plasenta (plasenta previa) yang dapat menyebabkan
perdarahan selama persalinan. Risiko yang bisa terjadi:
1. Keguguran
Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya : karena terkejut, cemas,
stres.
2. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan.
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang belum siap dalam

suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan
juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun. Cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan
ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang,
keadaan psikologi ibu kurang stabil. selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan
(genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit
sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri.
3. Mudah terjadi infeksi
Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan terjadi infeksi saat hamil
terlebih pada kala nifas.
4. Anemia kehamilan / kekurangan zat besi
Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi
pada ibu hamil. Fungsi gizi pada ibu hamil adalah untuk menjaga kesehatan ibu, pertumbuhan organ
janin, kelancaran persalinan dan mempersiapkan produksi ASI. Tambahan zat besi dalam tubuh
fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah merah janin dan
plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi anemis
5. Keracunan Kehamilan (Gestosis).
Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan
terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia
memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian.
Adapun akibat resiko tinggi kehamilan usia dibawah 20 tahun antara lain:
~Bagi Ibu:
1. Perdarahan
Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah dalam
proses involusi. Selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah yang tertinggal
didalam rahim), proses pembekuan darah yang lambat dan juga dipengaruhi oleh adanya sobekan
pada jalan lahir.
2. Kemungkinan keguguran / abortus.
Disebabkan oleh faktor-faktor alamiah dan juga abortus yang disengaja, baik dengan obat-obatan
maupun memakai alat.
3. Persalinan yang lama dan sulit.
Penyebab dari persalinan lama dipengaruhi oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelainan

kekuatan his dan mengejan serta pimpinan persalinan yang salah


4. Kematian ibu.
Kematian pada saat melahirkan yang disebabkan oleh perdarahan dan infeksi.
~Dari bayinya :
1. Kemungkinan lahir belum cukup usia kehamilan.
Adalah kelahiran prematur yang kurang dari 37 minggu (259 hari). hal ini terjadi karena pada saat
pertumbuhan janin zat yang diperlukan berkurang.
2. Berat badan lahir rendah (BBLR)
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan yang kurang dari 2.500 gram. kebanyakan hal ini
dipengaruhi kurangnya gizi saat hamil, umur ibu saat hamil kurang dari 20 tahun. dapat juga
dipengaruhi penyakit menahun yang diderita oleh ibu hamil.
3. Cacat bawaan
Agar kesakitan, kecacatan bahkan kematian pada ibu atau bayinya tidak terjadi dibutuhkan upaya
pencegahan proaktif sejak awal kehamilan, selama kehamilan serta menjelang persalinan. Hal ini
harus dilakukan bersama-sama oleh tenaga kesehatan, wanita hamil, suami, keluarga serta
masyarakat.
Agar risiko berkurang, ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan ibu dan keluarga jika hamil
pertama di usia rawan, yaitu:
1. Konsultasikan kehamilan pada ahlinya karena ibu yang hamil di usia rawan memerlukan
pengawasan khusus selama kehamilan dan pada proses persalinan. Sebaiknya ibu ditangani dokter
spesialis dan bukan bidan atau dokter umum. Bila kondisi tidak memungkinkan, setidaknya ibu
pernah satu dua kali berkonsultasi dengan dokter spesialis agar mendapat pemeriksaan yang khusus
dan teliti, seperti pemeriksaan panggul, tekanan darah dan pemeriksaan USG.
2. Proses persalinan sebaiknya dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang memenuhi standar.
"Rumah sakit yang tidak memiliki NICU (Neonatal Intensive Care Unit) tentu tak dapat memberikan
fasilitas yang memadai bagi bayi yang lahir prematur. Padahal risiko ini bisa terjadi pada ibu yang
hamil di usia rawan. Sarana dan prasarana yang baik juga berguna bila terjadi suatu kelainan pada
proses persalinan, misalnya ibu mengalami perdarahan.
3. Berkonsultasi dengan ahli gizi. Terutama untuk ibu yang hamil di usia sangat muda. Umumnya,

pengetahuan kehamilan yang dimiliki masih kurang sehingga pola makannya pun kurang baik,
misalnya meskipun hamil dia tetap mengonsumsi junk food. Di sinilah ahli gizi berperan
membimbing pola makannya agar menjadi lebih baik. Pola makan yang baik dapat menghindari
anemia, hipertensi dan diabetes pada ibu hamil.
4. Lakukan tes amniosentesis pada awal kehamilan bagi wanita berusia 35 tahun atau lebih pada
kehamilan pertama untuk menemukan kemungkinan sindrom down dan abnormalitas kromosom lain.
5. Penuhi konsumsi 0,4 miligram asam folat setiap hari selama 3 bulan sebelum kehamilan (pada
kehamilan yang direncanakan). Bila tidak, asam folat bisa diberikan pada 3 bulan pertama kehamilan
untuk mengejar ketinggalan kebutuhannya.
6. Lakukan aktivitas untuk menjaga kondisi fisik selama hamil. Senam hamil pun sangat disarankan
untuk mempelancar proses persalinan. Terakhir, pasrahkan semua kepada kekuasan-Nya.

Bayi Sungsang
Letak janin bergantung pada proses adaptasinya di dalam rahim. Jadi, tak perlu khawatir jika posisi
sungsang terjadi di bawah usia kehamilan 32 minggu. Pada usia kehamilan ini, jumlah air ketuban
relatif lebih banyak sehingga janin masih dapat bergerak bebas. Dari yang posisinya sungsang
kemudian berputar menjadi melintang lalu berputar lagi sehingga posisi kepala di bagian bawah
rahim. Pada kehamilan belum cukup bulan frekuensi letak sungsang menjadi lebih tinggi. Memasuki
usia kehamilan 37 minggu ke atas, posisi sungsang sudah sulit untuk berubah karena bagian terendah
janin sudah masuk ke pintu atas panggul. Namun semestinya di trimester ketiga, bokong janin dengan
tungkai terlipat yang ukurannya lebih besar daripada kepala akan menempati ruangan yang lebih besar
yakni di bagian atas rahim. Sedangkan kepala berada dalam ruangan yang lebih kecil, di segmen
bawah rahim.
Penyebab bayi sungsang ada dua, yaitu:
1. Faktor janin, mungkin karena ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan ruangan rahim ibu.
Akibatnya janin bebas berputar, baik ke atas maupun ke bawah. Di Indonesia, bila berat bayi di bawah
3 kg dan ibunya telah beberapa kali melahirkan, ada kemungkinan akan menjadi sungsang.
Sebaliknya, bila si bayi terlalu besar dan posisi kepala masih di atas. Pada saat kepala akan melewati
panggul menuju posisi normal, akhirnya terpental kembali karena ruangan panggul ibu terlalu sempit
sehingga kepala bayi sulit berputar ke arah bawah. Pada kasus bayi kembar, kemungkinan sungsang
menjadi lebih besar sebab janin yang kepalanya berputar ke arah bawah lebih dulu akan membuat
rongga panggul ibu susah dilalui janin kembarannya.

2. faktor ibu, antara lain karena bentuk rahim yang tidak normal, panggul sempit, air ketuban yang
terlalu banyak, adanya tumor, plasenta di bawah, dan lainnya.
Mengatasi bayi sungsang:
1. Menungging seperti waktu sujud, atau disebut juga knee-chest position (lutut menempel pada
dada). Posisi sujud tetapi dada harus menempel ke matras atau kasur atau lantai.Agar tidak sesak
kepala menoleh ke kanan atau kiri. Dengan cara ini diharapkan bokong janin akan lepas atau
menjauhi pintu panggul atas sehingga janin dapat berputar dengan mudah. Posisi knee-chest ini
sebaiknya dilakukan secara rutin 3x/hari, masing-masing selama 10 menit. Latihan ini efektif jika
dilakukan sampai usia kehamilan 34 minggu (pada kehamilan pertama) sampai 36 minggu (kehamilan
kedua dan seterusnya).
2. Cara versi luar (externalcephalic versin/ECV). Sesuai dengan namanya, versi luar adalah tindakan
mengubah posisi janin sungsang dari luar tubuh ibunya. Cara manual dari luar perut apabila
kehamilan sudah memasuki minggu ke-34 sampai -36. Setelah 36 minggu janin menjadi lebih tidak
banyak bergerak sehingga kemungkinan berhasilnya tindakan ini menjadi lebih kecil. Namun, kalau
berhasil, posisi janin tidak akan berubah lagi. Cara ini (versi luar) sebaiknya dilakukan oleh dokter
spesialis kebidanan yang sudah berpengalaman. Hal ini dikarenakan memutar posisi janin dari luar
dapat membahayakan nyawa janin
3. Senam hamil dilakukan untuk memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut,
otot-otot dasar panggul, ligamen dan jaringan serta jaringan ikat yang berperan dalam mekanisme
persalinan, melenturkan persendian-persendian yang berhubungan dengan proses persalinan,
membentuk sikap tubuh yang prima sehingga dapat membantu mengatasi keluhan-keluhan, letak janin
dan mengurangi sesak napas, menguasai teknik-teknik pernapasan dalam persalinan dan dapat
mengatur diri pada ketenangan
4. Menempelkan earphone dengan lagu-lagu di bagian bawah perut sesering mungkin. Earphone
diletakkan dibawah perut, persis diatas vagina sehingga harapannya kepala bayi akan memutar ke
arah sumber musik
5. Menempelkan sesuatu yang dingin-dingin di bagian pantat bayi (perut ibu bagian atas) yang
bertujuan membuat bayi menghindar dari rasa dingin sehingga memutar ke bawah. Cara konsentrasi
dan sering bicara sama bayi agar posisinya memutar. Ibu membayangkan posisi bergerak memutar
dari atas ke bawah. Hal ini dilakukan karena pengaruh ikatan batin yang erat.