Anda di halaman 1dari 9

Sejarah Imunologi

http://widhiesworld.blogspot.com/2012/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html
BAPAK IMUNOLOGI
Imunologi berasal dari gabungan dua kata, yaitu immunis (berarti bebas dari beban)
dan logos (berarti ilmu). Secara sederhana, imunologi didefinisikan sebagai suatu mekanisme
perthanan yang dapat dimobilisasi tubuh untuk memerangi ancaman invasi asing. Asal mula
istilah imunologi berawal dari sebuah serangan wabah cacar di China pada abad XI.
Masyarakat di China pada saat itu mencegah penyakit cacar dengan pengisapan kerak cacar.
Sekitar abad XV, dilakukan penelitian terhadap rspons tubuh terhadap penyakit infeksi dan
imunologi berdasarkan pengalaman penyakit cacar. Para ahli saat itu menemui sebuah fakta
yaknui apabila seseorang telah mengalami cacar, maka ia tidak akan mengalami cacar untuk
kedua kalinya karena adanya sistem kekebalan tubuh.
Lady Mary Mortley Montage pada abad XVIII mempopulerkan metode
penyembuhan cowpox dengan variolasi, namun carai ini sangatlah berbahaya dan dapat
menimbulkan kefatalan, sehingga metode penyembuhan ini dilarang. Adapun pada 1881,
Louis Pasteur melakukan vaksinasi dengan teknik pembiakkan mikroorganisme secara invitro. Teknik ini dilakukan dengan memproduksi vaksin pesteurella aviseptica (kolera ayam
yang sudah dilemahkan). Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh Paul Ehrlich, seorang ahli
hematologi Jerman yang dijuluki sebagai Bapak Imunologi. Beliau berhasil menemukan
lima tipe sel darah putih, tipe anemia serta cara pengobatan dengan kemoterapi pada tahun
1908.
Sejarah imunologi erat kaitannya dengan wabah cacar yang melanda beberapa negara
di waktu itu. Berikut merupakan sejarah dari penyakit cacar yang juga merupakan cikal bakal
tergagasnya imunologi.
Pengertian sistem imun
Adapun dalam perkembangannya Imunologi: ada 3 tahap tahap perkembangan
imunologi terdiri dari:
1. Tahap empirik Mithridates Eupatoris VI, Dr. Edward Jenner (1749-1823).
2. Tahap ilmiah Louis Pasteur (1822-1895), Pfeifer (1889). Elie Metchnikoff (18451916): mekanisme efektor. Fodor (1886), Behring dan Kitasato (1890): imunitas
humoral. Wright dan Douglas (1903): opsonin.
3. Tahap modern: JF. A.P. Miller : peran sentral kelenjar timus. Muncul cabang-cabang
baru dalam imunologi. 1980: Benacerraf, Dausset, dan Snell dapat Nobel dengan sistem
HLA. 1984: Milstein dan Kohler memproduksi antibodi monoklonal. 1987: Susumu
Tonegawa dapat Nobel dengan diversitas antibodi.
Kerja Sistem imunitas
Kerja dari sistem imun sendiri cukup menarik, dan dapat dibagi menjadi:
1. Innate immunity, atau sering disebut imunitas alamiah, merupakan mekanisme pertama
yang akan terjadi saat infeksi berlangsung, terjadi secara cepat terhadap infeksi mikrobia,
dan terjadi antara jam ke-0 sampai jam ke-12 infeksi. Mekanisme tersebut melibatkan (1)
penghalang fisik dan kimiawi, seperti epitel dan senyawa antimikrobia yang dihasilkan

oleh sel epitel, (2) sel fagosit (neutrofil dan maktofag) dan sel natural killer, (3) protein
darah, termasuk sistem komplemen dan mediator inflamasi lainnya, dan (4) protein
sitokin yang mengatur sel-sel pada mekanisme ini. Innate immunity terjadi karena tubuh
dapat mengenali struktur mikroba yang masuk, bisa karena sebelumnya mikroba tersebut
sudah pernah menginfeksi tubuh, atau karena struktur mikroba tersebut mirip seperti
struktur mikroba lain yang pernah menginfeksi tubuh. Kelemahan dari mekanisme ini
adalah tidak dapat mengenali struktur yang sama sekali baru menginfeksi tubuh. Untuk
infeksi tersebut, adaptive immunity yang berperan.
2. Adaptive immunity, atau imunitas spesifik, terjadi ketika innate immunity gagal
menghalau infeksi karena benda asing yang masuk memiliki struktur yang sama sekali
baru bagi tubuh. Mekanisme ini terjadi sekitar 1 hingga 5 hari setelah infeksi. Secara
singkat, makanisme ini akan mencoba membuat "ingatan" baru tentang struktur benda
asing yang masuk ke tubuh, kemudia bereaksi untuk menghalau benda asing tersebut. Sel
yang terlibat pada mekanisme ini adalah limfosit, baik sel T limfosit maupun sel B
limfosit. Adaptive immunity sendiri terbagi menjadi 2, yaitu:
a. Imunitas humoral, yaitu imunitas yang dimediasi oleh molekul di dalam darah, yang
disebut antibodi. Antibodi dihasilkan oleh sel B limfosit. Mekanisme imunitas ini
ditujukan untuk benda asing yang berada di di luar sel (berada di cairan atau jaringan
tubuh). B limfosit akan mengenali benda asing tersebut, kemudian akan memproduksi
antibodi. Antibodi merupakan molekul yang akan menempel di suatu molekul spesifik
(antigen) di permukaan benda asing tersebut. Kemudian antibodi akan menggumpalkan
benda asing tersebut sehingga menjadi tidak aktif, atau berperan sebagai sinyal bagi selsel fagosit.
b. Imunitas selular, yaitu imunitas yang dimediasi oleh sel T limfosit. Mekanisme ini
ditujukan untuk benda asing yang dapat menginfeksi sel (beberapa bakteri dan virus)
sehingga tidak dapat dilekati oleh antibodi. T limfosit kemudian akan menginduksi 2 hal:
(1) fagositosis benda asing tersebut oleh sel yang terinfeksi, dan (2) lisis sel yang
terinfeksi sehingga benda asing tersebut terbebas ke luar sel dan dapat di dilekati oleh
antibodi.
Lapisan sistem imun pada manusia

Klasifikasi
sistem
imun
Sistem
imun
terbagi
menjadi
dua,
yaitu
non
spesifik
dan
spesifik
Sistem
Imun
nonspesifik
Mekanisme fisiologi imunitas nonspesifik berupa komponen normal tubuh yang selalu
ditemukan pada individu sehat dan siap mencegah mikroba masuk tubuh dan dengan cepat
menyingkirkan mikroba tersebut. Disebut nonspesifik karena tidak ditunjukkan terhadap
mikroba tertentu, telah ada dan siap berfungsi sejak lahir. Mekanismenya tidak menunjukkan
spesifisitas terhadap bahan asing dan mampu melindungi tuduh terhadap banyak patogen
potensial. Sistem tersebut merupakan pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan
berbagai
macam
mikroba
dan
dapat
memberikan
respon
langsung.
Sistem imun nonspesifik terbagi menjadi tiga, yaitu perthanan fisik, pertahanan biokim,
pertahanan
hormonal,
dan
pertahanan
selular.
A.
Pertahanan
Fisik/
Mekanik
Dalam sistem pertahanan fisik atau mekanik, kulit, selaput lender, silia saluran napas, batuk,
dan
bersin,
merupakan
garis
pertahanan
terdepan
terhadap
infeksi.
B.
Pertahanan
Biokimia
Kebanyakan mikroba tidak dapat menembus kulit yang sehat, namun beberapa dapat masuk
tubuh melalui kelenjar sebaseus dan folikel rambut.. pH asam keringat dan sekresi sebaseus,
berbagai asam lemak yang dilepas kulit memiliki efek denaturasi terhadap protein membrane
sel
sehingga
dapat
mencegah
infeksi
yang
terjadi
melalui
kulit.
Pertahanan
Eksternal
Tubuh
Udara yang kita hirup, kulit dan saluran cerna, mengandung banyak mikroba, biasanya
berupa bakteri dan virus, kadang jamur, atau parasit. Sekresi kulit yang bekterisidal, asam
lambung, mucus dan silia di saluran napas membantu menurunkan jumlah mikroba yang

masuk dalam tubuh, sedangkan epitel yang sehat biasanya dapat menjegah mikroba masuk
kedalam tubuh. Dalam darah dan sekresi tubuh, enzim lisosom memusnahkan banyak bakteri
dengan mengubah banyak bakteri dengan mengubah dinding selnya. Imuglobulin A juga
merupakan pertahanan permukaan mukosa memusnakan banyak bakteri dengan mengubah
dinding selnya. Imunoglobin A juga merupakan pertahanan permukaan mukosa.
Mekanisme imunitas nonspesifik terhadap bakteri pada tingkat sawar fisik seperti kulit atau
permukaan
mukosa.
1. Bakteri yang bersifat simbiotik atau komensal yang ditemukan pada kulit menempati
daerah terbatas pada kulit dan menggunakan hanya sedikit nutrient, sehingga kolonisasi
kolonisasi
oleh
mikroorganisme
patogen
sulit
terjadi.
2. Kulit merupakan sawar fisik efektif dan pertumbuhan bakteri dihambat sehingga agen
patogen yang menempel akan dihambat oleh pH rendah dari asam laktat yang terkandung
dalam
sebum
yang
dilepas
kelenjar
keringat.
3. Sekret dipermukaan mukosa mengandung enzim destruktif seperti lisozim yang
menghancurkan
dinding
sel
bakteri
4. Saluran napas dilindungi oleh gerakan mukosiliar sehingga lapisan mukosa secara terus
menerus
digerakkan
menuju
arah
nasofaring.
5. Bakteri ditangkap oleh mukus sehingga dapat disingkirkan dari saluran napas
6. Sekresi mukosa saluran napas dan saluran cerna mengandung peptida antimikrobial yang
dapat
memusnahkan
mikroba
pathogen.
7. Mikroba patogen yang berhasil menembus sawar fisik dan masuk ke jaringan dibawahnya
dapat simusnahkan dengan bantuan komplemen dan dicerna oleh fagosit.
Lisozim dalam keringat, ludah, air mata, dan air susu ibu, melindungi tubuh terhadap
berbagai kuman positif-Gram oleh karena dapat menghancurkan lapisan peptidoglikan
dinding bakteri. Air susu ibu juga mengandung laktosidase dan asam neuraminik yang
mempunyai
sifat
antibakterial
terhadap
E.koli
dan
stafilokokus.
Asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik, antibodi dan empedu dalam usus halis
membantu menciptakan lingkungan yang dapat mencegah infeksi banyak mikroba.
Laktoferin dan transferin dalam serum mengikat besi yang merupakan metabolit esensial
untuk
hidup
beberapa
jenis
mikroba
seperti
pseudomonas.
Pertahanan
Humoral
1.
Komplemen
Berbagai macam bahan yang berperan dalam pertahanan humoral seperti komplemen,
interferon,
CRP
dan
kolektin.
Sistem kerja antara antibidi dan komplemen kedunya ditemukan dalam serum normal. Serum
normal
dapat
memusnahkan
beberapa
bakteri
gram
negatif.
Antibodi diinduksi oleh infeksi subklinis (antara lain flora normal) dan oleh komplemen
dapat
menghancurkan
membran
lapisan
LPS
dinding
sel.
Komplemen terdiri atas sejumlah besar protein yang apabila diaktifkan akan memberikan
proteksi
terhadap
infeksi
dan
berperan
dalam
respon
inflamasi.
Komplemen dapat diaktifkan secara langsung oleh mikroba atau produknya (jalur alternatif
dalam imunitas nonspesifik) atau oleh antibodi (jalur klasik dalam imunitas spesifik)
Fungsi

komplemen:

1.
Komplemen
dapat
menghancurkan
sel
membran
banyak
bakteri
2. Komplemen dapat berfungsi sebagai faktor kemotaktik yang mengerahkan makrofag ke
tempat
baktei
3. Komplemen dapat diikat pada permukaan bakteri yang memudahkan mekrofag untuk
mengenal
(opsonisasi)
dan
memakannya.
2.
Interferon
Interferon adalah sitokin berupa glikoprotein yang diproduksi makrofag yang diaktifakan, sel
NK dan berbagai sel tubuh yang mengandung nukleus dan dilepas sebagai respons terhadap
infeksi
virus.
3.
CRP
(C-Reactive
Protein)
CRP merupakan salah satu protein fase akut, termasuk golongan protein yang kadarnya
dalam darah meningkat pada infeksi akut sebagai respon imunitas nonspesifik. CRP mengikat
berbagai mikroorganisme yang membentuk kompleks dan mengaktifkan komponen jalur
klasik.

Pertahanan

Selular

fagositosis, makrofag dan sel NK berperan dalam sistem imun nonspesifik selular.
1.
Fagositosis
Setelah dimobilisasi, sel-sel fagosit seperti PMN neutrofil, monosit, makrofag, akan
menyarang sel target dengan cara menelan dan menghancurkannya. Bila menemukan sel
target, sel fagosit bergerak ke arah objek karena efek kemotaksis, lalu terjadi perlenglekatan
sel target pada fagosit. Melalui mekanisme endositosis, sel target ditelan dan dihancurkan.
Penghancuran intraseluler ini, melalui suatu seri reaksi biokimia yang kompleks, melibatkan
berbagai
enzim
dan
senyawa
kimia
lainnya.
Fagositosis terutama dilakukan oleh fagosit mononuklear, polinuklear leukosit (neutrofil)
Fagosit
mononuklear
Sistem fagosit mononuklear (MPS), meliputi kelompok sel yang terdistribusi di seluruh
tubuh, efektig untuk mengeliminasi zat asing dan hancuran dari darah, limfe, serta jaringan.
Fagosit
polimorfonuklear
leukosit
(neutrofil)
Neutrofil bertindak sebagai sel fagosit utama, sedangkan eusinofil efeknya jauh lebih lemah.
Jumlah neutrofil (PMN) normal sekitar 60-70% dari total lekosit didalam pembuluh darah
kecil
orang
dewasa.
2.
Sel
NK
Sel NK (natural killer) merupakan subset limfosit yang berasal dari sel precursor di dalam
sumsum tulang, dan limfa atau timus. Sel NK matang jarang ditemukan di dalam nodus
limfatik atau timus. Sel NK dapat diidentifikasi melalui adanya antigen khas yang berbeda.
Semua NK mengekspresikan CD56 dan CD16, tetapi tidak mengekspresikan CD3/TCR.
Dalam keadaan matang, banyak sel NK yang mirip beberapa sel T, yaitu berupa limfosit
dengan granula yang besar. Bila dilihat dari morfologi dan karakteristik individu normal, 10-

15% limfosit di dalam darah perifer dan 1-2% di dalam limfaberupa sel NK.
Imunologi Oral, Kelainan Dalam Rongga Mulut, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta 2002 , Prof.dr.Arjatmo Tjakronegoro, PhD,Sp, dan dr. Hendra Utama, Sp.FK
5.
Mekanisme
sistem
imun
Secara garis besar, sistem imun menurut sel tubuh dibagi menjadi sistem imun humoral dan
sistem
imun
seluler.
Sistem imun humoral terdiri atas antibody (Imunoglobulin) dan sekret tubuh (saliva, air mata,
serumen,
keringat,
asam
lambung,
pepsin,
dll).
Sedangkan sistem imun dalam bentuk seluler berupa makrofag, limfosit, neutrofil beredar di
dalam
tubuh
kita.
Tubuh kita mempunyai banyak sekali mekanisme pertahanan yang terdiri dari berbagai
macam sistem imun yaitu organ limfoid (thymus, lien, sumsum tulang) beserta sistem
limfatiknya. Organ tubuh kita yang juga termasuk dalam mekanisme pertahanan tubuh yaitu
jantung,
hati,
ginjal
dan
paru-paru.
Sistem limfatik baru akan dikatakan mengalami gangguan jika muncul tonjolan kelenjar yang
membesar dibandingkan pada umumnya. Hal ini dikarenakan kelenjar limfe sedang
berperang
melawan
kuman
yang
masuk
ke
dalam
tubuh.
Organ limfoid seperti thymus sendiri mempunyai tanggung jawab dalam pembentukan sel T
dan penting bagi para bayi baru lahir, karena tanpa thymus, bayi yang baru lahir akan
mempunyai sistem imun yang buruk. Leukosit (sel darah putih) dihasilkan oleh Thymus, lien
dan sumsum tulang. Leukosit bersirkulasi di dalam badan antara organ tubuh melalui
pembuluh limfe dan pembuluh darah. Dengan begitu, sistem imun bekerja terkoordinasi baik
memonitor tubuh dari kuman ataupun substansi lain yang bisa menyebabkan
problem
bagi
tubuh.
Ada dua tipe leukosit pada umumnya, yaitu fagosit yang bertugas memakan organisme yang
masuk ke dalam tubuh dan limfosit yang bertugas mengingat dan mengenali yang masuk ke
dalam tubuh serta membantu tubuh menghancurkan mereka. Sedangkan sel lainnya adalah
netrofil, yang bertugas melawan bakteri. Jika kadar netrofil meningkat, maka bisa jadi ada
suatu
infeksi
bakteri
di
dalamnya.
Limfosit sendiri terdiri dari dua tipe yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit dihasilkan oleh
sumsum tulang, tinggal di dalamnya dan jika matang menjadi limfosit sel B, atau
meninggalkan sumsum tulang ke kelenjar thymus dan menjadi limfosit sel T. Limfosit B dan
T mempunyai fungsi yang berbeda dimana limfost B berfungsi untuk mencari target dan
mengirimkan tentara untuk mengunci keberadaan mereka. Sedangkan sel T merupakan
tentara yang bisa menghancurkan ketika sel B sudah mengidentifikasi keberadaan mereka.
Jika terdapat antigen (benda asing yang masuk ke dalam tubuh) terdeteksi, maka beberapa
tipe sel bekerjasama untuk mencari tahu siapa mereka dan memberikan respons. Sel-sel ini
memicu limfosit B untuk memproduksi antibodi, suatu protein khusus yang mengarahkan
kepada suatu antigen spesifik. Antibodi sendiri bisa menetralisir toksin yang diproduksi dari
berbagai macam organisme, dan juga antibodi bisa mengaktivasi kelompok protein yang
disebut komplemen yang merupakan bagian dari sistem imun dan membantu menghancurkan
bakteri,
virus,
ataupun
sel
yang
terinfeksi.
11. Histologi
1. Trombosit

Trombosit / tromboplasmid : badan kecil tanpa nucleus dan tak berwarna yang ditemukan
dalam darah semua mamalia. Trombosit : cakram bikonveks tipis, berdiameter 2-3 m, bulat
lonjong bila dilihat dari atas dan fungsiform bila dilihat dari samping. 150.000-350.000/
mm3 Pada sediaan apusan darah terpulas tampak 2 zona konsertik : zona perifer biru-pucat
disebut hialomer dan daerah pusat yang lebih tebal disebut granulomer, yang mengandung
granul azurofil kecil-kecil. Pada mikrografelektron, hialomer tampak jarang electron dan
tidak mengandung organel. Pada potongan melalui ekuator, unsure paling mencoloknya
adalah berkas mikrotubul itu tampak sebagai kelompok bintik bulat pada kedua ujung
trombosit. Cincin mikrotubul di bawah membrane ini berfungsi untuk mempertahankan
bentuk
cakram
keping.
Trombosit dibentuk dalam sumsum tulang melalui fragmentasi sitoplasma megakarosit yaitu
sel besar dengan nucleus banyak. Trombosit terus dibentuk dan dilepaskan ke dalam darah,
tempat trombosit bertahan hidup 9 sampai 10 hari. Meskipun tidak memiliki nucleus dan
tidak sanggup membuat protein, trombosit tetap dapat melakukan berbagai aktivitas sel-sel
utuh. Trombosit mengkonsumsi oksigen dan mempunyai metabolism aktif yang bergantung
pada enzim pembangkit energy dari satu atau dua mitokondria kecil dalam sitoplasmanya.
Granul azurofilnya menimbun subtansi yang disentesis dalam megakariosit sebelum
dilepaskan.
Didalam hialomer trombosit terdapat lebih banyak aktin dan myosin bila dibandingkan jenis
sel lain, kecuali otot. Dalam trombosit yang beredar, trombosit terutama terdapat dalam
bentuk monomer, tetapi pengaktifan trombosit selama proses pembekuan agaknya mengawali
polimerasi aktin dan myosin menjadi bentuk filament yang diperlukan untuk kontraksi.
Granulomer trombosit mengandung beberapa ribosom dan sebaran partikel glikogen.
Terdapat pula bangunan membrane berbentuk bulat atau memanjang yang merupakan
potongan kanalikuli kecil bermuara pada 10 atau lebih tempat dipermukaan. Bangunan ini
merupakan jalur utama pemasukan solute dan pengeluaran produk sekresi setelah trombosit
diaktifkan.
Fungsi dari trombosit itu untuk membekukan darah.
2. Leukosit
Berbagai jenis sel darah putih, bersama-sama disebut leukosit, memiliki nucleus dan tidak
berwarna dalam keadaan segar. Bentuk bulat dalam peredaran darah, tetapi berupa sel
smeboid pleimorfik dalam jaringan.
LEUKOSIT Granular
Leukosit Eosinofil memasuki darah dari sumsum tulang dan beredar hanya 6-10 jam sebelum
berimigrasi kedalam jaringan ikat, tempat eosinofil mengahabiskan sisa 8-12 hari dari jangka
hidupnya. Eosinofil merupakan 1-3 % dari leukosit darh dan diperkirakan bahwa untuk setiap
eosinofil dalam darah, terdapat 300 di dalam jaringan. Eosinofil berdiameter 9 m dalam
larutan, dan 12 m dalam sedian darah. Nukleusnya kurang bersegmen dan kromatinya
kurang kasar disbanding neutrofil. Pada manusia, nukleusnya berlobus dua. Kompleks golgi
kecil dan sedikit mitokondria terdapat di sekitar pusat sel bebas-granul yang mengandung
sepasang sentriol. Terdapat sedikit sekali reticulum endoplasma. Granul spesifik adalah
ciripaling mencolok dalam sitoplasma. Struktur ultra eosinofil ini bervariasi antar spesies.
Granul itu mengandung satu atau lebih Kristal berbentuk bervariasi. Eosinofil mengandung

juga sedikit granul azurofil. Granul eosinofil mengandung beberapa hidrolase lisosom,
termasuk sulfatase aril, glukuronidase-, fosfat asam, histamine, dan rebonuklease.
Basofil : leukosit granular yang paling sedikit jumlahnya hanya 0,5% dari hitung jenis
leukosit. Dengan mikrograf electron basofil tampak memiliki kompleks golgi kecil dan
sedikit mitokondria. Granul basofil mengandung histamine dan kopolisakarida. Leukosit
memiliki sejumlah sifat seperti sel mast jaringan ikat. Basofil hidupnya lebih pendek dan sel
mast relative panjang hidupnya. Sel mast relative terpaku ditempat, sementara basofil dengan
cepat dapat dikerahkan ketempat yang dibutuhkan. Keduanya melepaskan histamine bila
mengalami degranulasi dan karena memiliki fungsi serupa. Pada beberapa orang antigen
tertentu menginduksi pembentukan segolongan imunoglobin yang disebut IgE.
Netrofil merupakan leukosit granular yang paling banyak. Dalam jumlah absolute, terdapat
3000-6000 per mm3 diameter 7 m dalam darah. Neutrofil mudah dkenali nukleusnya yang
khas, terdiri atas dual obi atau lebih yang saling berhubungan melalui benang tipis. Pertama
kali dilepas dari sumsum tulang ke dalam darah, nukleusnya berbentuk lonjong atau
memanjang. Neutrofiil adalah garis pertahanan pertama tubuh terhadap invasi oleh bakteri.
Mediator kimia yang dilepas pada tempat infeksi terbawa oleh darah sumsum tulang, tempat
mediator ini menginduksi peningkatan produksi dan pembebasan netrofil ke dalam darah.
Neutrofil adalah granulosit. Neutrophils have a multi-lobed nucleus. Neutrofil memiliki
multi-lobed inti. Lobus dipisahkan oleh seutas benang tipis. Karena bentuk nukleus, neutrofil
yang juga disebut "polymorphonuclear neutrofil", "" poli "" PMN ", atau" polymorph ""
PMN. "Adalah singkatan untuk neutrofil polymorphonuclear. Dengan demikian, itu adalah
neutrofil, yang granulocyte sebuah Histologi petunjuk dari Sarah Bellham: Poli adalah dari
bahasa Yunani "polys", yang berarti banyak"Poli" juga kadang-kadang digunakan sebagai
nama panggilan untuk leukosit polymorphonuclear.
LEUKOSIT Non Granular
Limfosit adalah golongan yang kedua terbanyak, berkisar 20-35% dari leukosit. Pada sediaan
darah, limfosit berupa sel bulat kecil berdiameter 7-12m, dengan ukleus berlekuk yang
terpulas gelap dan sedikit sitoplasma bru terang. Tidak ada granul spesifik, tetapi mungkin
memiliki granul azurofil. Limfosit adalah agen utama bagi respon imun tubuh. System imun
menyediakan mekanisme untuk pengenalan mikroorganisme dan benda asing lain yang
memasuki tubuh dan menetralkan kemungkinan pengaruh buruknya. Permukaan bakteri
mengandung banyak protein dan polisakarida yang bersifat antigen. Bila pertama kali
bertemu dengan limfosit-B, sebuah antigen merangsang sel untuk membuat dan menyisipkan
dalam membrannya molekul immunoglobulin yang memiliki daerah pengenalan spesifik
untuk antigen itu. Sedangkan limfosit T berpartisipasi dalam respone imun dengan mengatur
aktivasi
limfosit-B.
Monosit :berjumlah 3-8% dari leukosit yang beredar. Monosit berasal dari sumsum tulang,
dan beredar dalam darah selama satu atau dua hari kemudian bermigrasi melalui dinding
venul pasca-kapiler kedalam jaringan ikat organ diseluruh tubuh. Di situ, monosit
berdiferensiasi menjadi makrofag jaringan. Monosit dalam darah tak mempunyai fungsi
berarti, dan semata-mata merupakan sel-sel cadangan bergerak yang sanggup berkembang
menjadi fagosit rakusyang melahap sel-sel tua dan debris sel dalam jaringan normal dan
berperan aktif pertahanan tubuh terhadap invasi bakteri. Monosit juga berperan penting dalam
respone imun humoral sengan mengolah antigen dan menyajikan pada limfosit.

Mekanisme terjadinya gatal-gatal


Saat alergen masuk ke dalam tubuh, sistem imunitas atau kekebalan tubuh bereaksi secara
berlebihan dengan membuat antibodi yang disebut Imunoglobulin E. Imunoglobulin E
tersebut kemudian menempel pada sel mast. Pada tahap berikutnya, alergen akan mengikat
Imunoglobulin E yang sudah menempel pada sel mast. Ikatan tersebut memicu pelepasan
senyawa Histamin dalam darah. Peningkatan Histamin menstimulasi rasa gatal melalui
mediasi ujung saraf sensorik