Anda di halaman 1dari 23

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
I. ANATOMI FISIOLOGI SALURAN KEMIH
A. Ginjal
Ginjal merupakan organ retroperitoneal. Ginjal kanan terletak sedikit lebih
rendah dibanding ginjal kiri, hal ini disebabkan adanya hati yang mendesak
ginjal sebelah kanan. Kutub atas ginjal kiri adalah tepi atas iga 11 (vertebra
T12), sedangkan kutub atas ginjal kanan adalah tepi bawah iga 11 atau iga 12.
Adapun kutub bawah ginjal kiri adalah processus transversus vertebra L2
sedangkan kutub bawah ginjal kanan adalah pertengahan vertebra L3. Dari
batas-batas tersebut dapat terlihat bahwa ginjal kanan posisinya lebih rendah
dibandingkan ginjal kiri.

Unit fungsional ginjal disebut nefron. Nefron terdiri dari korpus


renalis/ Malpighi (yaitu glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus
proksimal, lengkung Henle, tubulus kontortus distal yang bermuara pada
tubulus pengumpul. Di sekeliling tubulus ginjal tersebut terdapat pembuluh
kapiler,yaitu arteriol (membawa darah dari dan menuju glomerulus) serta
kapiler peritubulus (memperdarahi jaringan ginjal). Berdasarkan letakya
nefron dapat dibagi menjadi nefron kortikal, yaitu nefron di mana korpus
renalisnya terletak di korteks yang relatif jauh dari medula serta hanya
sedikit saja bagian lengkung Henle yang terbenam pada medula, dan nefron
juxta medula, yaitu nefron di mana korpus renalisnya terletak di tepi
medula, memiliki lengkung Henle yang terbenam jauh ke dalam medula dan

11

pembuluh-pembuluh darah panjang dan lurus yang disebut sebagai vasa


rekta.
Ginjal diperdarahi oleh arteri dan vena renalis. A. renalis merupakan
percabangan dari aorta abdominal, sedangkan v.renalis akan bermuara pada
vena cava inferior. Untuk persarafan simpatis ginjal melalui segmen T10-L1
atau L2, melalui n.splanchnicus major, n.splanchnicus imus dan n.lumbalis.
Saraf ini berperan untuk vasomotorik dan aferen viseral. Sedangkan
persarafan simpatis melalui n.vagus. Fungsi ginjal adalah memegang
peranan

penting

mempertahankan

dalam
suasana

pengeluaran

zat-zat

keseimbangan

toksis

cairan,

atau

racun,

mempertahankan

keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan mengeluarkan
sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.
Tahap pembentukan urin adalah :

Proses Filtrasi ,
Di glomerulus terjadi penyerapan darah, yang tersaring adalah bagian
cairan darah kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh
simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat,
bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus ginjal. cairan yang di saring

disebut filtrate gromerulus.


Proses Reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glikosa,
sodium, klorida, fospat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi
secara pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus proximal. sedangkan pada
tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium dan ion bikarbonat
bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif (reabsorbsi

fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.


Proses sekresi
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke
papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar.

B. Ureter
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil
penyaringan ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju

12

vesica urinaria. Terdapat sepasang ureter yang terletak retroperitoneal,


masing-masing satu untuk setiap ginjal. Adanya katup uretero-vesical
mencegah aliran balik urine setelah memasuki kandung kemih. Terdapat
beberapa tempat di mana ureter mengalami penyempitan yaitu peralihan
pelvis renalis-ureter, fleksura marginalis serta muara ureter ke dalam vesica
urinaria. Tempat-tempat seperti ini sering terbentuk batu/kalkulus. Ureter
diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis, a.iliaca
communis, a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan
persarafan ureter melalui segmen T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis,
pleksus aorticus, serta pleksus hipogastricus superior dan inferior.

C. Vesica urinaria
Vesica urinaria, sering juga disebut kandung kemih atau buli-buli,
merupakan tempat untuk menampung urine yang berasal dari ginjal melalui
ureter, untuk selanjutnya diteruskan ke uretra dan lingkungan eksternal
tubuh melalui mekanisme relaksasi sphincter. Vesica urinaria terletak di
lantai pelvis (pelvic floor), bersama-sama dengan organ lain seperti rektum,
organ reproduksi, bagian usus halus, serta pembuluh-pembuluh darah,
limfatik dan saraf. Dinding vesica urinaria terdiri dari otot m.detrusor (otot
spiral, longitudinal, sirkular). Terdapat trigonum vesicae pada bagian
posteroinferior dan collum vesicae. Trigonum vesicae merupakan suatu
bagian berbentuk mirip-segitiga yang terdiri dari orifisium kedua ureter dan
collum vesicae, bagian ini berwarna lebih pucat dan tidak memiliki rugae
walaupun dalam keadaan kosong. Vesicae urinaria diperdarahi oleh
a.vesicalis superior dan inferior. Namun pada perempuan, a.vesicalis
inferior digantikan oleh a.vaginalis. Sedangkan persarafan pada vesica
urinaria terdiri atas persarafan simpatis dan parasimpatis. Persarafan
simpatis

melalui n.splanchnicus minor, n.splanchnicus

imus, dan

n.splanchnicus lumbalis L1-L2. Adapun persarafan parasimpatis melalui

13

n.splanchnicus pelvicus S2-S4, yang berperan sebagai sensorik dan


motorik.

D. Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica
urinaria menuju lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada
pria dan wanita. Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga
berfungsi sebagai organ seksual (berhubungan dengan kelenjar prostat),
sedangkan uretra pada wanita panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu, Pria
memiliki dua otot sphincter yaitu m.sphincter interna (otot polos terusan
dari m.detrusor dan bersifat involunter) dan m.sphincter externa (di uretra
pars membranosa, bersifat volunter), sedangkan pada wanita hanya
memiliki m.sphincter externa (distal inferior dari kandung kemih dan
bersifat volunter). Pada pria, uretra dapat dibagi atas pars pre-prostatika,
pars prostatika, pars membranosa dan pars spongiosa.

Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae


dan aspek superior kelenjar prostat. Pars pre-prostatika dikelilingi otot
m. sphincter urethrae internal yang berlanjut dengan kapsul kelenjar
prostat. Bagian ini disuplai oleh persarafan simpatis.

Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang melewati/menembus


kelenjar prostat. Bagian ini dapat lebih dapat berdilatasi/melebar
dibanding bagian lainnya.

Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek dan


tersempit. Bagian ini menghubungkan dari prostat menuju bulbus
penis melintasi diafragma urogenital. Diliputi otot polos dan di
luarnya oleh m.sphincter urethrae eksternal yang berada di bawah
kendali volunter (somatis).

14

Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling panjang,


membentang dari pars membranosa sampai orifisium di ujung kelenjar
penis. Bagian ini dilapisi oleh korpus spongiosum di bagian luarnya
Sedangkan uretra pada wanita berukuran lebih pendek (3.5 cm)

dibanding uretra pada pria. Setelah melewati diafragma urogenital, uretra


akan bermuara pada orifisiumnya di antara klitoris dan vagina (vagina
opening). Terdapat m. spchinter urethrae yang bersifat volunter di bawah
kendali somatis, namun tidak seperti uretra pria, uretra pada wanita tidak
memiliki fungsi reproduktif.9

II. BATU SALURAN KEMIH


A.
Definisi
Batu di dalam saluran kemih (calculus uriner) adalah massa keras seperti
batu yang berada di ginjal dan salurannya dan dapat menyebabkan nyeri,
perdarahan, penyumbatan aliran kemih, atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di
dalam ginjal (nephrolith) maupun di dalam kandung kemih (vesicolith). Proses
pembentukan batu ini disebut urolithiasis.10
Batu buli-buli atau vesikolithiasis sering terjadi pada pasien yang
menderita gangguan miksi atau terdapat benda asing di buli-buli. Gangguan
miksi terjadi pada pasien-pasien hiperplasia prostat, striktura uretra, divertikel
buli-buli atau buli-buli neurogenik. Kateter yang terpasang pada buli-buli pada
waktu yang lama, adanya benda asing lain yang secara tidak sengaja

15

dimasukkan ke dalam buli-buli seringkali manjadi inti untuk terbentuknya batu


buli-buli. Selain itu batu buli-buli dapat berasal dari batu ginjal atau batu ureter
yang turun ke buli-buli.
Vesikolithiasis dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah
anggur. Batu yang berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan
biasanya dapat keluar bersama dengan urine ketika berkemih. Batu berada di
saluran kemih bagian bawah yaitu di kandung kemih dan uretra dapat
menghambat buang air kecil. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis
maupun tubulus renalis dapat menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis
(nyeri kolik yang hebat di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang yang
menjalar ke perut juga daerah kemaluan dan paha sebelah dalam). Hal ini
disebabkan karena adanya respon ureter terhadap batu tersebut, dimana ureter
B.

akan berkontraksi yang dapat menimbulkan rasa nyeri kram yang hebat.
Etiologi11
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan
gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi,
dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara
epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinsik yaitu
keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh
yang berasal dari lingkungan sekitarnya.
Faktor intrinsik itu antara lain adalah :
a. Herediter (keturunan). Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.
b. Umur. Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
c. Jenis kelamin. Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak
dibandingkan dengan pasien perempuan.
Beberapa faktor ekstrinsik diantaranya adalah:
a. Geografi
Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran
kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagi
daerah stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di Afrika Selatan
hampir tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih.
b. Asupan air
Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air
yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.

16

c. Diet
Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya
penyakit batu saluran kemih.
d. Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak
C.

duduk atau kurang aktivitas atau sedentary life.


Patogenesis12,13
Secara teoritis batu dapat terbentuk di seluruh saluran kemih terutama
pada tempat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (stasis
urine), yaitu pada sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan
pada pelvikalises (stenosis uretero-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika
kronis seperti pada hyperplasia prostat benigna, stiktura, dan buli-buli
neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang memudahkan terjadinya
pembentukan batu.
Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahan-bahan organik
maupun anorganik yang terlarut dalam urine. Kristal-kristal tersebut tetap
berada dalam keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urine jika tidak ada
keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya presipitasi kristal.
Kristal-kristal yang saling mengadakan presipitasi membentuk inti batu
(nukleasi) yang kemudian akan mengadakan agregasi dan menarik bahanbahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar. Meskipun ukurannya
cukup besar, agregat kristal masih rapuh dan belum cukup mampu menyumbat
saluran kemih. Untuk itu agregat kristal menempel pada epitel saluran kemih
(membentuk retensi kristal), dan dari sini bahan-bahan lain diendapkan pada
agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup besar untuk menyumbat
saluran kemih.

17

Kondisi metastabel dipengaruhi oleh suhu, pH larutan, adanya koloid di


dalam urine, laju aliran urine di dalam saluran kemih, atau adanya korpus
alienum di dalam saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu. Kandungan
batu kemih kebayakan terdiri dari 75 % kalsium,

15 % batu

tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat), 6 % batu asam urat, 1-2 %


sistin (cystine). Faktor- faktor yang mempengaruhi batu saluran kemih adalah
Hiperkalsiuria
Suatu keadaan dimana kadar kalsium di dalam urin lebih besar dari 250300 mg/24 jam, disebabkan karena, hiperkalsiuria idiopatik (meliputi
hiperkalsiuria disebabkan masukan tinggi natrium, kalsium dan protein),
hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau

kelebihan kalsium
Hipositraturia

18

Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih,


khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I
(lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, dan diare dan

masukan protein tinggi.


Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu

pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin yang berlebih.


Penurunan jumlah air kemih. Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.
Hiperoksalouria.
Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini
disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium
intestinal, dan penyakit usus kecil atau akibat reseksi pembedahan yang

mengganggu absorbsi garam empedu.


Batu Asam Urat. Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih
rendah, dan hiperurikosuria (primer dan sekunder).
Batu Struvit.
Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dengan
organisme yang memproduksi urease. Batu dapat tumbuh menjadi lebih
besar membentuk batu staghorn dan mengisi seluruh pelvis dan kaliks
ginjal. Kuman penyebab infeksi ini adalah golongan kuman pemecah urea
atau urea splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah
urine menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak,
seperti pada reaksi: CO(NH2)2+H2O2NH3+CO2. Sekitar 75% kasus batu
staghorn, didapatkan komposisi batunya adalah matriks struvit-karbonatapatit atau disebut juga batu struvit atau batu triple phosphate, batu fosfat,
batu infeksi, atau batu urease, walaupun dapat pula terbentuk dari
campuran antara kalsium oksalat dan kalsium fosfat.1

Suasana basa ini yang memudahkan garam-garam magnesium,


ammonium, fosfat dan karbonat membentuk batu magnesium amoniun fosfat
(MAP) atau (Mg NH4PO4.H2O) dan karbonat apatit (Ca10[PO4]6CO3. Karena

19

terdiri atas 3 kation Ca++ Mg++ dan NH4+) batu jenis ini dikenal dengan nama
batu triple-phosphate. Kuman-kuman yang termasuk pemecah urea
diantaranya

adalah

Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobacter,

Pseudomonas, dan Stafilokokus. Meskipun E.coli banyak menyebabkan


infeksi saluran kemih, namun kuman ini bukan termasuk bakteri pemecah
urea.
D.

Klasifikasi Batu Saluran Kemih


Komposisi kimia yang terkandung dalam batu ginjal dan saluran
kemih dapat diketahui dengan menggunakan analisis kimia khusus untuk
mengetahui adanya kalsium, magnesium, amonium, karbonat, fosfat, asam
urat oksalat, dan sistin.
a. Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan BSK
yaitu sekitar 70%-80% dari seluruh kasus BSK. Batu ini kadang-kadang
di jumpai dalam bentuk murni atau juga bisa dalam bentuk campuran,
misalnya dengan batu kalsium oksalat, batu kalsium fosfat atau campuran
dari kedua unsur tersebut. Terbentuknya batu tersebut diperkirakan terkait
dengan kadar kalsium yang tinggi di dalam urine atau darah dan akibat
dari dehidrasi. Batu kalsium terdiri dari dua tipe yang berbeda, yaitu:
-

Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat, warna cokat/


hitam dengan konsentrasi

asam oksalat yang tinggi pada air kemih.

Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite (dehidrat) yaitu


batu berwarna kuning, mudah hancur daripada whewellite.

b. Batu asam urat


Lebih kurang 5-10% penderita BSK dengan komposisi asam urat.
Pasien biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat dibentuk hanya oleh
asam urat. Kegemukan, peminum alkohol, dan diet tinggi protein
mempunyai peluang lebih besar menderita penyakit BSK, karena keadaan
tersebut dapat meningkatkan ekskresi asam urat sehingga pH air kemih
menjadi rendah. Ukuran batu asam urat bervariasi mulai dari ukuran kecil
sampai ukuran besar sehingga membentuk staghorn (tanduk rusa). Batu

20

asam urat ini adalah tipe batu yang dapat dipecah dengan obat-obatan.
Sebanyak 90% akan berhasil dengan terapi kemolisis.
c. Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini
disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman penyebab infeksi
ini adalah golongan kuman pemecah urea atau urea splitter yang dapat
menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi bersuasana basa
melalui hidrolisis urea menjadi amoniak. Kuman yang termasuk pemecah
urea di antaranya adalah : Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter,
Pseudomonas, dan Staphiloccocus. Ditemukan sekitar 15-20% pada
penderita BSK
Batu struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki. Infeksi
saluran kemih terjadi karena tingginya konsentrasi ammonium dan pH air
kemih >7. Pada batu struvit volume air kemih yang banyak sangat penting
untuk membilas bakteri dan menurunkan supersaturasi dari fosfat.
d. Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena gangguan
ginjal. Merupakan batu yang paling jarang dijumpai dengan frekuensi
kejadian 1-2%. Reabsorbsi asam amino, sistin, arginin, lysin dan ornithine
berkurang, pembentukan batu terjadi saat bayi. Disebabkan faktor
keturunan dan pH urine yang asam. Selain karena urine yang sangat
jenuh, pembentukan batu dapat juga terjadi pada individu yang memiliki
riwayat batu sebelumnya atau pada individu yang statis karena imobilitas.
Memerlukan pengobatan seumur hidup, diet mungkin menyebabkan
pembentukan batu, pengenceran air kemih yang rendah dan asupan
protein hewani yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam air kemih
E.

Batu Ginjal Dan Ureter


Batu ginjal terbentuk pada tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal, dan bahkan bisa mengisi seluruh kaliks ginjal.
Batu yang mengisi pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal memberikan

21

gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu staghorn. Kelainan


atau obstruksi pada sistem pelvikalises ginjal mempermudah timbulnya batu
saluran kemih.
Batu yang tidak terlalu besar didorong oleh peristaltik otot-otot sistem
pelvikalises dan turun ke ureter menjadi batu ureter. Tenaga peristaltik ureter
mencoba untuk mengeluarkan batu hingga turun ke buli-buli. Batu yang
ukurannya kecil (<5 mm) pada umumnya dapat keluar spontan sedangkan
yang lebih besar seringkali tetap berada di ureter dan menyebabkan reaksi
radang (periureteritis) serta menimbulkan obstruksi kronis berupa hidroureter
atau hidronefrosis.
Tanda tanda ureterolitiasis:
1. kolik
a. serangan nyeri
b. mual / muntah
c. kegelisahan
2. nyeri alih ke regio inguinal
3. perut kembung (ileus paralitik)
4. hematuria
5. batu tampak pada pencitraan
Gambaran Klinis
Keluhan yang dialami pasien tergantung pada posisi atau letak batu,
besar batu dan penyulit yang telah terjadi. Keluhan yang paling sering adalah
nyeri pinggang, bisa berupa nyeri kolik atau bukan kolik. Karena peristalsis,
akan terjadi gejala kolik, yakni nyeri yang hilang timbul yang disertai
perasaan mual dengan atau tanpa muntah dengan nyeri alih khas. Selama batu
bertahan di tempat yang menyumbat, selama itu kolik akan berulang ulang
sampai batu bergeser dan memberi kesempatan air kemih untuk lewat.
Batu yang terletak di sebelah distal ureter dirasakan oleh pasien
sebagai nyeri pada saat berkemih atau sering kencing. Hematuria seringkali
dikeluhkan oleh pasien akibat trauma pada mukosa saluran kemih yang
disebabkan oleh batu. Kadang-kadang hematuria didapatkan dari pemeriksaan
urinalisis.

22

Jika didapatkan demam harus curiga urosepsis dan ini merupakan


kedaruratan di bidang urologi. Dalam hal ini harus secepatnya ditentukan letak
kelainan anatomik pada saluran kemih dan segera dilakukan terapi berupa
drainase dan pemberian antibiotik.
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok pada daerah
kosto-vertebra, teraba ginjal pada sisi sakit akibat hidronefrosis, terlihat tandatanda gagal ginjal, retensi urin.

Gambar. Batu ginjal


F.

Batu Kandung Kemih


Vesikolitiasis sering terjadi pada pasien yang menderita gangguan miksi
atau terdapat benda asing di buli-buli. Gangguan miksi terjadi pada pasien
hiperplasia prostat, striktur uretra, divertikel buli-buli, atau buli-buli
neurogenik. Kateter yang terpasang pada buli-buli dalam waktu yang lama,
adanya benda asing lain yang secara tidak sengaja masuk ke dalam buli-buli
seringkali menjadi inti untuk terbentuknya batu buli-buli. Selain itu
vesikolitiasis dapat berasal dari batu ginjal atau batu ureter yang turun ke bulibuli.
Gejala khas vesikolitiasis adalah berupa gejala iritasi, antara lain disuria
hingga stranguri, perasaan tidak enak waktu kencing, dan kencing tiba-tiba
berhenti kemudian menjadi lancar kembali dengan perubahan posisi tubuh
ataupun menetes dan disertai dengan nyeri karena batu menghalangi aliran
kemih akibat penutupan leher kandung kemih. Nyeri pada saat miksi sering
kali dirasakan pada ujung penis, skrotum, perineum, pinggang, sampai kaki.

23

Pada anak, nyeri yang bersangkutan akan menyebabkan anak menarik


penisnya sehingga tidak jarang dilihat penis yang agak panjang. Bila pada
sakit tersebut penderita berubah posisi, suatu saat air kemih akan dapat keluar
karena letak batu yang berpindah. Bila selanjutnya terjadi infeksi sekunder,
selain nyeri, sewaktu miksi juga akan terdapat nyeri menetap suprapubik.
G.

Diagnosis
a. Anamnesis dan Pemeriksaan fisik
Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh
letaknya, besarnya, dan morfologinya. Walaupun demikian, penyakit ini
mempunyai tanda umum, yaitu hematuria, baik hematuria nyata maupun
mikroskopik. Selain itu, bila disertai infeksi saluran kemih, dapat juga
ditemukan kelainan endapan urin, bahkan mungkin demam atau tanda
sistemik lain.

b. Pemeriksaan Penunjang
1)

Laboratorium
Pemeriksaan Urin:
-

Pemeriksaan urinalisis makroskopik didapatkan gross hematuria.


Pemeriksaan berat jenis urin (normal: 1003-1035), adanya
peningkatan berat jenis menunjukkan adananya kerusakan pada

tubulus ginjal.
Pemeriksaan pH

urin

(normal:

4,5-6,5),

pH

urin

>8

mengindikasikan adanya infeksi saluran kemih oleh bakteri


diantaranya karena Proteus yang mengeluarkan urea sehingga urin
menjadi alkalis dan kemungkinan terbentuk batu fosfat..
Sedangkan pH urin <5 menunjukkan adanya asidosis metabolik.
Bisa juga pH urin lebih asam dan kemungkinan terbentuk batu
-

asam urat.
Adanya nitrit menunjukkan adanya infeksi saluran kemih.

24

Adanya leukosit menunjukkan adanya proses inflamasi.


Protein pada urin (normal: <150mg/ hari), pada pasien dengan
proteinuri 3-3,5 g/ hari biasanya sudah muncul gejala sindroma
nefrotik. Proteinuria juga disebut albuminuria adalah kondisi
abnormal dimana urin berisi sejumlah protein. Kebanyakan
protein terlalu besar untuk melewati filter ginjal ke dalam urin.
Namun, protein dari darah dapat bocor ke dalam urin ketika
glomeruli rusak. Proteinuria merupakan tanda penyakit ginjal
kronis (CKD), yang dapat disebabkan oleh diabetes, tekanan darah
tinggi, dan penyakit yang menyebabkan peradangan pada ginjal.
Sebagai akibat fungsi ginjal menurun, jumlah albumin dalam urin

akan meningkat.
Dapat pula ditemukan leukosit yang menandakan adanya infeksi
dan inflamasi, serta adanya eritrosit sebagai tanda kerusakan dan

perdarahan saluran kemih.


Sel epitel juga sering ditemukan sebagai tanda kerusakan jaringan
jika jumlahnya meningkat, epitel skuamosa berasal dari jaringan
di vesika urinaria, uretra atau vagina, sedangkan epitel tubular

berasal dari tubulus ginjal.


Pada pemeriksaan sedimen urin, ada 4 jenis sedimen yang sering
ditemukan diantaranya sedimen hialin (tidak menandakan adanya
kelainan), sedimen granular (patologis: gangguan pada glomerulus
atau tubulus), sedimen seluler (sedimen seluler merah dan putih)
menandakan adanya inflamasi, sedimen lilin (menandakan

penyakit kronis ginjal),


Selain itu dapat pula dijumpai kristal-kristal pembentuk batu.
Pembentukan batu dapat disertai kristaluria namun adanya
kristaluria tidak selalu terjadi pembentukan batu. Macam-macam
krisaluria yang dapat ditemukan diantaranya: kristal kalsium
oksalat, tripel fosfat, asam urat, sistin, leusin, tirosin, kolesterol,
kristal dalam urin asam (natrium urat, amorf urat), kristal dalam
urin alkali (amonium urat, ca fosfat, amorf fosfat, ca karbonat).

25

Pemeriksaan

kultur

urin

mungkin

menunjukkan

adanya

pertumbuhan kuman pemecah urea.12


Pemeriksaan Darah:
- Pemeriksaan faal ginjal bertujuan untuk mencari kemungkinan
terjadinya penurunan fungsi ginjal dan untuk mempersiapkan
-

pasien menjalani pemeriksaan foto IVP.


Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai faktor
penyebab timbulnya batu saluran kemih, antara lain kalsium,

oksalat, fosfat, maupun urat.


Pemeriksaan darah lengkap, dapat menentukan kadar hemoglobin
yang menurun akibat terjadinya hematuria. Bisa juga didapatkan
jumlah lekosit yang meningkat akibat proses peradangan di ureter.

2)

Radiologis
Foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan
adanya batu radioopak di saluran kemih. Batu-batu jenis kalsium
oksalat dan kalsium fosfat bersifat radioopak, sedangkan batu asam
urat bersifat radio lusen.
Foto BNO-IVP untuk melihat lokasi batu, besarnya batu, apakah
terjadi bendungan atau tidak. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP
tidak dapat dilakukan, pada keadaan ini dapat dilakukan retrograde
pielografi atau dilanjutkan. Dengan anterograd pielografi, bila hasil
retrograd pielografi tidak memberikan informasi yang memadai. Pada
foto BNO batu yang dapat dilihat disebut sebagai batu radioopak,
sedangkan batu yang tidak tampak disebut sebagai batu radiolusen.
Berikut ini adalah urutan batu menurut densitasnya, dari yang paling
opak hingga yang paling bersifat radiolusen, kalsium fosfat, kalsium
oxalat, Magnesium, amonium fosfat, sistin, asam urat, xantine.
Jenis Batu

Radioopasitas

Kalsium

Opak

Magnesium Amonium Fosfat

Semiopak

26

Urat/Sistin

Non Opak
Tabel Gambaran Batu

Pielografi Intravena (IVP)


Pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan anatomi dan, fungsi
ginjal. Juga untuk mendeteksi adanya batu semi-opak ataupun batu
non-opak yang, tidak terlihat oleh foto polos abdomen.

Gambar. Pielografi Intravena

Ullrasonografi
USG dikerjakan bila tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP yaitu
pada keadaan seperti allergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun
dan pada wanita yang sedang hamil. Terlihat pada gambar echoic shadow jika
terdapat batu.
CT-scan
Teknik CT-scan adalah tehnik pemeriksaan yang paling baik untuk
melihat gambaran semua jenis batu dan juga dapat terlihat lokasi dimana
terjadinya obstruksi.
H.

Diagnosis Banding
Beberapa diagnosa banding dari batu kandung kemih antara lain ialah:
1.

Kolik Ginjal dan Ureter


27

2.

Hematuria
Bila terjadi hematuri perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan
apalagi bila hematuria terjadi tanpa nyeri. Selain itu batu saluran kemih
yang bertahun-tahun, dapat menyebabkan terjadinya tumor yang umumnya
karsinoma epidermoid, akibat rangsangan dan inflamasi.

3.

Tumor ginjal
Pcrlu dipertimbangkan kemungkinan tumor ginjal mulai dari jenis
ginjal polikistik hingga tumor Grawitz, bila ada batu ginjal dengan
hidronefrosis.

4.

Tumor ureter
Pada batu ureter, terutama

dari jenis radiolusent, bila disertai

hematuria yang tidak disertai dengan kolik, perlu dipertimbangkan


kemungkinan tumor ureter walaupun tumor ini jarang ditemukan.
5.

Tumor kandung kemih


Perlu dibandingkan dengan tumor kandung kemih terutama bila batu
yang terdapat dari jenis radiolusen.

I.

Penatalaksanaan
Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih secepatnya
harus dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Indikasi
untuk melakukan tindakan atau terapi pada batu saluran kemih adalah jika
batu telah menimbulkan obstruksi, infeksi, atau harus diambil karena suatu
indikasi sosial. Obstruksi karena batu saluran kemih yang telah menimbulkan
hidroureter atau hidronefrosis dan batu yang sudah menimbulkan infeksi
saluran kemih, harus segera dikeluarkan. Kadang kala batu saluran kemih
tidak menimbulkan penyulit seperti diatas, namun diderita oleh seorang yang
karena pekerjaannya (misalkan batu yang diderita oleh seorang pilot pesawat
terbang) memiliki resiko tinggi dapat menimbulkan sumbatan saluran kemih
pada saat yang bersangkutan sedang menjalankan profesinya dalam hal ini
batu harus dikeluarkan dari saluran kemih. Pilihan terapi antara lain :
Terapi Konservatif

28

Sebagian besar batu ureter mempunyai diameter <5 mm. Seperti


disebutkan sebelumnya, batu ureter <5 mm bisa keluar spontan. Terapi
bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan
pemberian diuretikum, berupa :
b.

Minum minimal 2 liter/ hari

c.

- blocker

d.

NSAID
Batas lama terapi konservatif adalah 6 minggu. Di samping ukuran

batu syarat lain untuk observasi adalah berat ringannya keluhan pasien,
ada tidaknya infeksi dan obstruksi. Adanya kolik berulang atau ISK
menyebabkan observasi bukan merupakan pilihan. Begitu juga dengan
adanya obstruksi, apalagi pada pasien-pasien tertentu (misalnya ginjal
tunggal, ginjal trasplan dan penurunan fungsi ginjal) tidak ada toleransi
terhadap obstruksi. Pasien seperti ini harus segera dilakukan intervensi.

Tindakan Operasi
Penanganan vesikulolithiasis, biasanya terlebih dahulu diusahakan
untuk mengeluarkan batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi.
ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi)
Alat ESWL adalah pemecah batu yang yang diperkenalkan pertama
kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal,
batu ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa melalui tindakan
invasive atau pembiusan. Prinsip dari ESWL adalah memecah batu
menjadi fragmen-fragmen kecil dengan menggunakan gelombang kejut
yang dihasilkan oleh mesin dari luar tubuh, sehingga mudah
dikeluarkan melalui saluran kemih.
Komplikasi ESWL untuk terapi batu ureter hampir tidak ada. Tetapi
SWL mempunyai beberapa keterbatasan, antara lain bila batunya keras
(misalnya kalsium oksalat monohidrat) sulit pecah dan perlu beberapa
kali tindakan. Juga pada orang gemuk mungkin akan kesulitan.
Penggunaan ESWL untuk terapi batu ureter distal pada wanita dan
anak-anak juga harus dipertimbangkan dengan serius. Sebab ada

29

kemungkinan terjadi kerusakan pada ovarium. Meskipun belum ada


data yang valid, untuk wanita di bawah 40 tahun sebaiknya
diinformasikan sejelas-jelasnya.

Gambar Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi

Endourologi
Tindakan Endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk
mengeluarkan batu saluran kemih yang terdiri atas memecah batu, dan
kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang
dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih. Alat itu dimasukkan
melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses
pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik, dengan memakai
energi hidraulik, energi gelombang suara, atau dengan energi laser.
Beberapa tindakan endourologi antara lain:
a. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) yaitu mengeluarkan batu
yang berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukkan alat
30

endoskopi ke sistem kalises melalui insisi pada kulit. Batu


kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi
fragmen-fragmen kecil.

Keuntungan dari PNL, bila batu kelihatan, hampir pasti


dapat diambil atau dihancurkan; fragmen dapat diambil semua
karena ureter bisa dilihat dengan jelas. Prosesnya berlangsung
cepat dan dengan segera dapat diketahui berhasil atau tidak.
Kelemahannya adalah PNL perlu keterampilan khusus bagi ahli
urologi.
b. Litotripsi (untuk memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan
memasukkan alat pemecah batu/litotriptor ke dalam buli-buli),
c. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi.
Keterbatasan URS adalah tidak bisa untuk ekstraksi langsung
batu ureter yang besar, sehingga perlu alat pemecah batu seperti
yang disebutkan di atas. Pilihan untuk menggunakan jenis
pemecah batu tertentu, tergantung pada pengalaman masingmasing operator dan ketersediaan alat tersebut.
d. Ekstraksi Dormia (mengeluarkan batu ureter dengan menjaringnya
melalui alat keranjang Dormia).
Bedah Terbuka
Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai
untuk

tindakan-tindakan

endourologi,

maupun

laparoskopi,

pengambilan batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka.


Tindakan bedah dilakukan jika batu tidak merespon terhadap bentuk

31

penanganan lainnya. Batu buli-buli dapat dipecahkan dengan litotripsi


ataupun jika terlalu besar memerlukan pembedahan terbuka yaitu
vesikolitomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang
J.

berada di vesica urinaria.


Komplikasi
Komplikasi batu saluran kemih biasanya obstruksi, infeksi sekunder,
dan iritasi yang bekepanjangan pada urotelium yang dapat menyebabkan
tumbuhnya keganasan yang sering berupa karsinoma epidermoid.
Sebagai akibat obstruksi, khususnya di ginjal atau ureter, dapat terjadi
hidronefrosis dan kemudian berlanjut dengan atau tanpa pionefrosis yang
berakhir dengan kegagalan faal ginjal yang terkena. Bila terjadi pada kedua
ginjal, akan timbul uremia karena gagal ginjal total. Hal yang sama dapat juga
terjadi akibat batu kandung kemih, lebih-lebih bila batu tersebut membesar
sehingga juga menganggu aliran kemih dari kedua orfisium ureter.
Khusus pada batu uretra dapat terjadi divertikulum uretra. Bila
obstruksi berlangsung lama, dapat terjadi ekstravasasi kemih dan terbentuklah

K.

fistula yang terletak proksimal dari batu ureter


Pencegahan
Pencegahan yang dilakukan adalah berdasarkan atas kandungan unsur
yang menyusun batu saluran kemih yang diperoleh dari analisis batu.
Umumnya pencegahan dapat berupa menghindari dehidrasi dengan minum
cukup dan diusahakan produksi urine sebanyak 2-3 liter per hari, diet untuk
mengurangi kadar zat-zat komponen pembentuk batu, aktifitas harian yang
cukup dan pemberian medikamentosa.
Beberapa diet yang dianjurkan untuk mengurangi kekambuhan adalah
diet rendah protein karena protein akan memacu ekskresi kalsium urin dan
menyebabkan suasana urin menjadi lebih asam. Diet rendah oksalat, diet
rendah garam karena natriuresis akan memicu timbulnya hiperkalsuria dan
diet rendah purin.

DAFTAR PUSTAKA

32

1.

Passerotti C, Chow JS, Silva A, Schoettler CL, Rosoklija I, Perez-Rossello


J, Cendron M, Cilento BG, Lee RS, Nelson CP, Estrada CR, Bauer SB, Borer
JG,Diamond DA, Retik AB, Nguyen HTJ Urol. 2009. Ultrasound versus
computerized tomography for evaluating urolithiasis. Oct;182(4 Suppl):1829-34.
doi: 10.1016/j.juro.2009.03.072. Epub 2009 Aug 19..Department of Urology

2.

Herman, Pola Batu Saluran Kemih di RS Dr. Kariadi, 1989-1993. Karya Tulis
Tahap Akhir PPDS I Bedah. Bag. Ilmu Bedah FK Undip. Semarang. 1995.

3.

Saptahadi dan Rifki Muslim. Analisa Batu Saluran Kemih pada Dewasa dan
Anak di RSUP Dr. Kariadi 1994-1995. Naskah MABIXII, Surabaya, 1996

4.

Price, S. A., Wilson, Lorraine M., Patofisologi


ProsesProses Penyakit. Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 2005.

5.

Sjabani, M., Ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed 4. Pusat Penerbitan
IlmuPenyakit Dalam FK UI. Jakarta; 2006

6.

Junqueira L.E., Carneiro J., Kelley R.O. Basic Histology. 11 thed. Boston:
Mc Graw-Hill. 2005.

7.

Rahardjo D, Hamid R. Perkembangan penatalaksanaan batu ginjal di RSCM


tahun 1997-2002. J I Bedah Indones 2004; 32(2):58-63.

8.

Cronan JJ. Contemporary concepts in imaging urinary


obstruction. Radiol Clin North Am. May 1991;29(3):527-42. [Medline].

9.

Van de Graaf KM. Human anatomy. 6th ed. US: The McGraw-Hill
Companies; 2001.

10.

Guyton dan Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi II. EGC: Jakarta.
2007.

11.

Purnomo, Basuki. Dasar-dasar Urologi. edisi kedua. Sagung seto: Jakarta.


2007.

12.

Sjamsuhidayat. De jong, wim. Buku ajar ilmu Bedah. Hlmn 1024-1034. EGC
: Jakarta. 2005.

13.

Glenn, James F. Urologic Surgery Ed.4. Philadelphia : Lippincott-Raven


Publisher. 1991.

Konsep

Klinis

tract

33