Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian
Keputasan

Menteri

Negara

lingkungan

hidup

No.32Kep-

48/MENLH/11/1996, tentang baku tingkat Kebisingan menyebutkan: kebisingan


adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan
waktu tertuntu

yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan

kenyamanan lingkungan.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 8/Menkes/Per/XI/1987,
kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak diinginkan sehingga mengganggu
dan atau dapat membahayakan kesehatan. Bising ini merupakan kumpulan nadanada dengan bermacam-macam intensitas yang tidak diingini sehingga
mengganggu ketentraman orang terutama pendengaran.
Menurut Doelle (1993): suara atau bunyi secara fisis merupakan
penyimpangan tekanan, pergeseran partikel dalam medium elastis seperti misalnya
udara. Secara fisiologis merupakan sensasi yang timbul sebagai akibat propagasi
energi getaran dari suatu sumber getar yang sampai ke gendang telinga.
Menurut Ikron I Made Djaja, Ririn A.W, (2005) bising adalah bunyi yang
tidak dikehendaki yang dapat mengganggu dan atau membahayakan kesehatan.
b. Jenis jenis kebisingan
Menurut Sumamur PK (1996:58) jenis jenis kebisingan yang sering
ditemukan adalah :
a. Kebisingan yang kontinyu dengan spektrum frekuensi luas, seperti mesin,
kipas angin, dapur pijar dan lain lain.
b. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi sempit, misalnya gergaji
sirkuler, katup gas dan lain lain.
c. Kebisingan terputus putus (intermittent) seperti lalu lintas, suara kapal
terbang dilapangan udara.
d. Kebisingan impulsif, misalnya pukulan tukul, tembakan bedil, ledakan.
e. Kebisingan impulsif berulang seperti mesin tempa di perusahaan.
c. Pengukuran kebisingan (Sound Level Meter)

Sound Level Meter adalah instrumen dasar yang digunakan dalam


pengukuran kebisingan. Sound Level Meter terdiri atas mikropon dan sebuah
sirkuit elektronik termasuk attenuator, 3 jaringan perespon frekuensi, skala
indikator dan amplifier. Tiga jaringan tersebut distandarisasi sesuai standar Sound
Level Meter. Tujuannya adalah untuk memberikan pendekatan yang terbaik dalam
pengukuran tingkat kebisingan total. Respon manusia terhadap suara bermacammacam sesuai dengan frekuensi dan intensitasnya. Telinga kurang sensitif
terhadap frekuensi lemah maupun tinggi pada intensitas yang rendah. Pada tingkat
kebisingan yang tinggi, ada perbedaan respon manusia terhadap berbagai
frekuensi. Tiga pembobotan tersebut berfungsi untuk mengkompensasi perbedaan
respon manusia.
Standar Kebisingan
Setelah pengukuran kebisingan dilakukan, maka perlu dianalisis apakah
kebisingan tersebut dapat diterima oleh telinga. Nilai Ambang Batas yang
disingkat NAB untuk kebisingan di tempat kerja adalah intensitas tertinggi dan
merupakan nilai rata-rata yang masih dapat diterima tenaga kerja tanpa
mengakibatkan hilangnya daya dengar yang tetap untuk waktu kerja yang terus
menerus tidak lebih dari 8 jam sehari dan 40 jam seminggu.
Standar pengukuran kebisingan mengacu pada Keputusan Menteri Tenaga
Kerja RI Kep 51/Men/1999 tentang nilai ambang batas faktor fisik di tempat
kerja.

Waktu Pemaparan

Intensitas (dB A)

Jam

85

88

91

94
Menit

30

97

15

100

7,5

103

3,75

106

1,88

109

0,94

112
Detik

28,12

115

14,06

118

7,03

121

3,52

124

1,75

127

0,88

13

0,44

133

0,22

136

0,11

139

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui intensitas kebisingan di suatu tempat kerja.
2. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran kebisingan.
3. Mahasiswa mampu menganalisis hasil pengukuran kebisingan.

BAB II
CARA KERJA PRAKTIKUM
A. ALAT DAN BAHAN
1. Sound Level Meter
2. Lembar data
B. CARA KERJA
1. Persiapan Alat
a. Pasang baterai pada tempatnya
b. Tekan tombol power
2. Pengukuran
a. Pilih selector pada posisi :
Fast untuk jenis kebisingan kontinyu
Slow untuk jenis kebisingan impilsive/terputus putus
b. Pilih selector range intensitas kebisingan
c. Tentukan lokasi pengukuran
d. Setiap lokasi pengukuran dilakukan pengamatan selama 1 2 menit, dengan 6
kali pembacaan. Hasil pengukuran adalah angka yang ditunjukkan pada
monitor
e. Catat hasil pengukuran dan hitung rata rata kebisingan sesaat (Lek)
Lek = 10 Log (10L1/10+10L2/10+10L3/10+.....)dB

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL
Lembar data pengukuran kebisingan
Nama alat
: Sound Level Meter
Kelompok
: I (Gedung A, Gedung Baru, Parkir Bis)
Tanggal
: 26 April 2014
Hasil Pengukuran kebisingan

No
1
2
3

Lokasi
R. Kelas A.2.2
R. Ujian KTI
Parkir Bis

Intensitas Kebisingan (dB A) pada


detik ke1
20
40
60
80
100
48.4 48.0 50.5 56.3 57.6 48.0
4.9 52.5 54.4 53.0 52.4 54.8
18.7 59.8 51.3 46.3 55.3 57.4

Range

L ek

9.6
49.9
41.1

61 dB
60 dB
63 dB

B. PEMBAHASAN
Pengukuran kebisingan dilakukan oleh kelompok I di Gedung A (R. Kelas A.2.2),
Gedung Baru (R. Ujian KTI) dan Parkir Bis. Pengukuran kebisingan dilakukan
menggunakan alat ukur bernama Sound Level Meter.
Dari hasil pengukuran intensitas kebisingan yang dilakukan, didapatkan parkir bis
merupakan tempat yang memiliki intensitas kebisingan tertinggi, dengan nilai Lek 63
dB. Sedangkan R. Ujian KTI merupakan tempat yang memiliki intensitas kebisingan
terendah dari 3 lokasi pengamatan, dengan nilai Lek 60 dB.
Untuk range dari 3 lokasi pengamatan, didapatkan informasi range tertinggi terdapat
pada R. Ujian KTI sebesar 49.9. Sedangkan untuk range terendah yaitu pada R.Kelas
A.2.2 sebesar 9.6

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Kep 51/Men/1999 tentang


nilaiambang batas faktor fisik di tempat kerja, hasil pengukuran kebisingan yang
kelompok kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. R. Kelas A.2.2 didapatkan nilai Lek = 61 dB. Sehingga kebisingan tersebut dapat
diterima oleh telinga.
2. R. Ujian KTI didapatkan nilai Lek = 60 dB. Sehingga kebisingan tersebut dapat
diterima oleh telinga.
3. Parkir Bis didapatkan nilai Lek = 63 dB. Sehingga kebisingan tersebut dapat
diterima oleh telinga.
B. SARAN
Dalam melakukan praktikum kebisingan agar dapat melakukan pengukuran secara
benar agar tidak terjadi kesalahan, yang akan berefek pada kesehatan tenaga kerja
yang bersangkutan.