Anda di halaman 1dari 20

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................


DAFTAR TABEL........................................................................................

v
vi

I. PENDAHULUAN ......................................................................................
A. Latar Belakang................................................................................
B. Tujuan.............................................................................................

1
1
7

II. TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................................


A. Definisi ...........................................................................................
B. Anatomi ..........................................................................................
C. Histologi .........................................................................................
D. Fisiologi Konjungtiva.....................................................................
E. Etiologi ..........................................................................................
F. Klasifikasi .....................................................................................
G. Patofisiologi ...................................................................................
H. Diagnosis.........................................................................................
I. Tatalaksana .....................................................................................
J. Prognosis ........................................................................................

8
8
8
9
10
12
13
16
17
19
23

III.

KESIMPULAN.....................................................................................

24

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

25

DAFTAR GAMBAR
Gambar1. Anatomi konjungtiva..................................................................
Gambar2. Histologi konjungtiva.................................................................
Gambar3. Perdarahan konjungtiva..............................................................

9
10
19

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Konjungtiva merupakan lapisan paling luar yang melapisisklera atau
konjungtiva bulbi dan palpebra bagian dalam (konjungtiva pelpebra) yang
bersifat basah dan tipis. Di konjungtiva banyak ditemukan saraf dan pembuluh
darah kecil yang rapuh. Pembuluh darah tersebut dapat pecah dan
mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva yang tampak sebagai patch merah
terang atau merah gelap1.
Sebuah studi epidemiologi yang dilakukan oleh Kaimbo Wa Kaimbo
mengenai epidemiologi perdarahan subkonjungtiva di Kongo pada tahun
1999-2004, didapatkan kesimpulan bahwa frekuensi terjadinya perdarahan
subkonjungtiva adalah sebesar 0.8% dari jumlah keseluruhan pasien penyakit
mata (6843 pasien). Jenis perdarahan yang ditemukanadalahkarena trauma
kepala dan 28 pasien (48.3%) mengalami perdarahan subkonjungtiva
spontan.Perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi di semua kelompok umur,
namun hal ini dapat meningkat kejadiannya sesuai dengan pertambahan umur.
Penelitian epidemiologi di Kongo rata-rata usia yang mengalami perdarahan
subkonjungtiva adalah usia 30.7 tahun. Perdarahan subkonjungtiva sebagian
besar terjadi unilateral (90%).2
Pada perdarahan subkonjungtiva tipe spontan tidak ditemukan
hubungan yang jelas dengan suatu kondisi keadaan tertentu (64.3%). Kondisi
hipertensi memiliki hubungan yang cukup tinggi dengan angka terjadinya
perdarahan subkonjungtiva (14.3%). Kondisi lainnya namun jarang adalah
muntah,

bersin,

malaria,

hipoglikemia,

penyakit

sickle

cell

dan

melahirkan.Pada kasus melahirkan, telah dilakukan penelitian oleh oleh Stolp

W dkk pada 354 pasien postpartum dengan perdarahan subkonjungtiva.


Bahwa kehamilan dan proses persalinan dapat mengakibatkan perdarahan
subkonjungtiva.3
Sebagian besar tidak ada gejala simptomatis yang berhubungan dengan
perdarahan subkonjungtiva selain terlihat darah pada bagian sklera. Namun
pasien dapat pula mengeluh mengalami nyeri ketika terjadi perdarahan
subkonjungtiva pada permulaan. Ketika perdarahan terjadi pertama kali, akan
terasa penuh dibawahkonjungtiva palpebre1. Meski demikian, secara umum
perdarahan subkonjungtiva bersifat simptomatis sehingga butuh anamnesis
dan pemeriksaan yang teliti untuk menegakkan diagnosis yang tepat dan
penanganan yang tepat.
B. TUJUAN
Penulisan referat ini bertujuan untuk mengetahui definisi perdarahan
subkonjungtiva, penyebab, penatalaksanaan, dan prognosisnya sehingga dapat
dijadikan sebagai referensi tambahan ilmu kesehatan mata khususnya untuk
penatakelolaan perdarahan konjungtiva.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Perdarahan subkonjungtiva adalah perdarahan yang terjadi dibawah
konjungtiva karena rapuhnya pembuluh darah kecil di konjungtiva1.
B. ANATOMI
Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan
dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva
palpebralis)

dan

permukaan

anterior

sklera

(konjungtiva

bulbaris).

Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan


melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat
ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan membungkus jaringan
episklera menjadi konjungtiva bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar
ke septum orbital di forniks dan melipat berkali-kali. Adanya lipatan-lipatan
ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar permukaan
konjungtiva sekretorik4
Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan arteria
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama
dengan banyak vena konjungtiva membentuk jaringan vaskular konjungtiva
yang sangat banyak4. Konjungtiva juga menerima persarafan dari percabangan
pertama nervus V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit5.

Gambar 1. Anatomi Konjungtiva


C. HISTOLOGI
Secara histologis, lapisan sel konjungtiva terdiri atas dua hingga lima
lapisan sel epitel silindris bertingkat, superfisial dan basal 6. Sel-sel epitel
superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus
yang diperlukan untuk dispersi air mata. Sel-sel epitel basal berwarna
lebihpekat

dibandingkan

pigmen4.Stroma

sel-sel

konjungtiva

superfisial

dibagi

menjadi

dan

dapat

satu

mengandung

lapisan

adenoid

(superfisialis) dan satu lapisan fibrosa (profundus). Lapisan adenoid


mengandung jaringan limfoid dan tidak berkembang sampai setelah bayi
berumur 2 atau 3 bulan. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung
yang melekat pada lempeng tarsus dan tersusun longgar pada mata4.

Gambar 2. Histologi Konjungtiva


D. FISIOLOGI KONJUNGTIVA
Konjungtiva merupakan membran mukus yang transparan yang
membentang di permukaan dalam kelopak mata dan permukaan bola mata
sejauh dari limbus. Ini memiliki suplay limfatik yang tebal dan sel
imunokompeten yang berlimpah. Mukus dari sel goblet dan sekresi dari
kelenjar aksesoris lakrimal merupakan komponen penting pada air mata.
Konjungitva merupakan barier pertahanan dari adanya infeksi. Aliran limfatik
berasal dari nodus preaurikuler dan submandibula, yang berkoresponden
dengan aliran di kelopak mata.8

Konjungtiva terdiri atas 3 bagian, yaitu konjungtiva palpebra, forniks


dan

konjungtiva

bulbi.Konjungtiva

palpebra

dimulai

dari

hubungan

mukokutaneus pada tepi kelopak dan bergabung ke lapis tarsal posterior 4.


Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan
melekat erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat
ke posterior (pada forniks superior dan inferior) dan membungkus jaringan
episklera dan menjadi konjungtiva bulbaris5. Konjungtiva forniks merupakan
konjungtiva peralihan konjungtiva palpebra dan bulbi9.
Konjungtiva bulbi yang menutupi sklera anterior dan bersambung
dengan epitel kornea pada limbus. Punggungan limbus yang melingkar
membentuk palisade Vogt. Stroma beralih menjadi kapsula Tenon kecuali pada
limbus dimana dua lapisan menyatu.(sidarta ilyas, ilmu penyakit mata)
konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di forniks dan
melipat berkali kali. Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan
memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik. (duktus duktus kelenjar
lakrimalis bermuara ke forniks temporal superior). Kecuali di limbus (tempat
kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu sejauh 3 mm), konjungtiva bulbaris
melekat longgar ke kapsul tenon dan sklera di bawahnya. Lipatan konjungtiva
bulbaris tebal, mudah bergerak dan lunak (plika semilunaris) terletak di
kanthus internus dan membentuk kelopak mata ketiga pada beberapa binatang.
Struktur epidermoid kecil semacam daging (karunkula) menempel superfisial
ke bagian dalam plika semilunaris dan merupakan zona transisi yang
mengandung elemen kulit dan membran mukosa9.
E. ETIOLOGI

Perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi pada semua golongan usia,


ras, dan jenis kelamin dengan proporsi yang sama. Etiologi perdarahan
subkonjungtiva yaitu4:
1. Spontan atau idiopatik biasanya yang rupture adalah pembuluh darah
konjungtiva.
2. Batuk, berusaha, bersin, dan muntah.
3. Hipertensi. Pembuluh darah konjungtiva merupakan pembuluh darah yang
rapuh, sehingga jika ada kenaikan tekanan mudah rutur dan menyebabkan
perdarahan subkonjungtiva.
4. Gangguan perdarahan yang diakibatkan oleh penyakit hati, diabetes, SLE,
dan kekurangan vitamin C, serta gangguan faktor pembekuan.
5. Penggunaan antibiotic, NSAID, steroid, vitamin D, dan kontrasepsi.
6. Infeksi sistemik yang menyebabkan demam seperti meningococcal
septicemia, scarlet fever, demam tifoid,kolera, malaria dan virus misalnya
pada influenza.
7. Gejala sisa oprasi mata
8. Trauma
9. Menggosok mata
F. KLASIFIKASI
1. Perdarahan subkonjungtiva tipe spontan2,3,4,5
Sesuai namanya perdarahan subkonjungtiva ini adalah terjadi secara tibatiba (spontan). Perdarahan tipe ini diakibatkan oleh menurunnya fungsi
endotel sehingga pembuluh darah rapuh dan mudah pecah. Keadaan yang
dapat menyebabkan pembuluh darah menjadi rapuh adalah umur,
hipertensi,arterisklerosis, konjungtivitis hemoragik, anemia, pemakaian
antikoagulan dan batuk rejan. Perdarahan subkonjungtiva tipe spontan ini
biasanya terjadi unilateral. Namun pada keadaan tertentu dapat menjadi
bilateral atau kambuh kembali; untuk kasus seperti ini kemungkinan

diskrasia darah (gangguan hemolitik) harus disingkirkanterlebih dahulu.


(vaughan, 124)
2. Perdarahan subkonjungtiva tipe traumatic2,3,4,5
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien sebelumnya mengalami trauma
di mata langsung atau tidak langsung yang mengenai kepala daerah orbita.
Perdarahanyang terjadi kadang kadang menutupi perforasi jaringan bola
mata yang terjadi. Pada fraktur basis kranii akan terlihat hematoma kaca
mata karena berbentuk kacamata yang berwarna biru pada kedua mata
(racoon eyes). Trauma tumpul yang mengenai konjungtiva dapat
menyebabkan dua hal, yaitu :
a. Edema konjungtiva
Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lendir dapat menjadi
kemotik padasetiap kelainannya, demikian pula akibat trauma tumpul.
Bila kelopak terpajan ke dunia luar dan konjungtiva secara langsung
kena angin tanpa dapatmengedip, maka keadaan ini telah dapat
mengakibatkan edema konjungtiva.
Kemosis adalah nama yang diberikan untuk edema atau
pembengkakan pada konjungtiva. Pembuluh darah konjungtiva
membesar karena kompresi venaorbital dan dalam kasus yang parah
konjungtiva dapat menjadi edema sehingga terbentuk sebuah kantong
berisi cairan menggantung di bawah kelopak mata. Hal ini terjadi
terutama dengan peradangan tetapi juga dapat terjadi secara terpisah,
misalnya karena abnormalitas aliran orbita atau obat-obatan tertentu.
Selain itu kemosis konjungtiva mungkin terjadi karena alergi,
meskipun agen penyebabnya seringkali tidak dapat ditemukan.
Pengeringan (xerosis) darikonjungtiva ditandai oleh permukaan

10

konjungtiva yang tumpul yang sedikit bersinar atau tidak sama sekali.
Selanjutnya keratinisasi dari sel epitel dapat terjadi. Xerosis biasanya
berkembang sebagai akibat dari paparan jangka panjang (lagoftalmos)
atau defisisensi air mata mayor. Kekurangan vitamin A jarang terjadi,
tetapi biasanya khas untuk xerosis, yang sering ditekankan diregio
fisura palpebra atau Bitots spot.
Kemotik konjungtiva yang berat dapat mengakibatkan palpebra
tidak menutupsehingga bertambah rangsangan terhadap konjungtiva.
Pada edemakonjungtiva dapat diberikan dekongestan untuk mencegah
pembendungancairan di dalam selaput lendir konjungtiva. Sedangkan
jika telah terjadikemotik konjungtiva berat dapat dilakukan diinsisi
sehingga

cairankonjungtiva

kemotik

keluar

melalui

insisi

tersebut(Sidarta ilyas, 261)Selain karena trauma tumpul kemosis


konjungtiva juga dapat diakibatkan olehkonjungtivitis alergika.
(Vaughan, Oftalmologi umum 102)
Penyebab kemosis konjungtiva adalah sebagai berikut:

Gangguan infeksi: Mukormikosis, rhinocerebral/phycomyco's,


gonokok

ataumeningokok

dan

terutama

konjungtivitis

adenovirus
Peradangan: iritasi, benda asing
Alergi, gangguan autoimun: conjunctival contact allergy,

skleritis/episkleritis,konjungtivitis alergi, konjungtivitis vernal


Gangguan vaskuler dan vena, arteriosklerosis: trombosis sinus
kavernosus,angioedema

11

Gangguan vegetatif, autonomik, endokrin: peningkatan tekanan

intrakranial,oftalmopati tirotoksis
Trauma: trauma kimia, trauma tumpul
Obat-obatan: antibiotik, ACE inhibitor, analgetik
b. Hematoma subkonjungtiva
Bila perdarahan ini timbul sebagai akibat trauma tumpul maka
perlu dipastikan bahwa tidak terdapat robekan di di bawah jaringan
konjungtiva atau sklera.Kadang-kadang hematoma subkonjungtiva
menutupi keadaan mata yang lebih buruk seperti perforasi bola mata.
Pemeriksaan funduskopi adalah perlu padasetiap penderita dengan
perdarahan subkonjungtiva akibat trauma.Apabila tekanan bola mata
rendah dengan pupil lonjong disertai tajam penglihatanmenurun dan
hematoma subkonjungtiva maka sebaiknya dilakukan eksplorasi bola
mata untuk mencari kemungkinan adanya ruptur bulbus okuli.
G. PATOFISIOLOGI
Perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi secara spontan, akibat trauma
ataupun infeksi. Perdarahan dapat berasal dari pembuluh darah konjungtiva
atau episklera yang bermuara ke ruang subkonjungtiva.Secara kasat mata kita
akan melihat bahwa konjungtiva pada keadaan normal berwarna bening.
Apabila menggunakan alat pembesar maka kita akan menemukan pembuluh
pembuluh darah yang kecil. Ketika pembuluh-pembuluh darah ini rapuh atau
pecah karena ruda paksa tertentu maka darah akan keluar mengisi ruangan
diantara konjungtiva bulbi dan sklera. Selaput yang tadinya bening kemudian
akan menjadi merah. Warna merah pada konjungtiva pasien memberikan rasa
was- was sehingga pasien akan segera minta pertolongan pada dokter11.

12

Secara klinis, perdarahan subkonjungtiva tampak sebagai perdarahan


yang datar, berwarna merah, di bawah konjungtiva dan dapat menjadi cukup
berat sehingga menyebabkan kemotik kantung darah yang berat dan menonjol
di atas tepi kelopak mata.
Karena struktur konjungtiva yang halus, sedikit darah dapat menyebar
secara difus di jaringan ikat subkonjungtiva dan menyebabkan eritema difus,
yang biasanya memiliki intensitas yang sama dan menyembunyikan pembuluh
darah. Konjungtiva yang lebih rendah lebih sering terkena daripada bagian
atas. Pendarahan berkembang secara akut, dan biasanya menyebabkan
kekhawatiran, meskipun sebenarnya tidak berbahaya. Apabila tidak ada
kondisi trauma mata terkait, ketajaman visual tidak berubah karena perdarahan
terjadi murni secara ekstraokulaer, dan tidak disertai rasa sakit.
Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Mimura T dkk yang berjudul
lokasi dan luasnya perdarahan subkonjungtiva di univeritas tokyo. Pada
penelitian ini bertujuan untuk mencari area mana dari konjungtiva yang sering
mengalami perdarahan, sebelumnya area konjungtiva dibagi menjadi 8 area
yaitu superior, nasal superior, nasal, inferior nasal, inferior, inferior temporal,
temporal dan temporal superior. Hasil penelitian ini menyimpulkan
perdarahan subkonjungtiva memperlihatkan adanya hubungan antara usia dan
peningkatan luas dan predominan perdarahan subkonjungtiva di area inferior,
sedangkan untuk perdarahan subkonjungtiva traumatik biasalnya dideteksi
perdarahan di area temporal.12
H. DIAGNOSIS

13

Diagnosis dibuat secara klinis dan anamnesis tentang riwayat dapat


membantu penegakan diagnosis dan terapi lebih lanjut. Ketika ditemukan
adanya trauma, trauma dari bola mata atau orbita harus disingkirkan. Apabila
perdarahan subkonjungtiva idiopatik terjadi untuk pertama kalinya, langkahlangkah diagnostik lebih lanjut biasanya tidak diperlukan. Dalam kejadian
kekambuhan, hipertensi arteri dan kelainan koagulasi harus disingkirkan4.
1. Anamnesis
Pada anamnesis biasanya ditemukan keluhan mata menjadi merah
pada bagian putih, pusing, berair, dalam waktu 24 jam sejak munculnya
warna merah, bentuknya semakin membesar kemudian mengecil, awalnya
merah cerah, lama kelamaan berwarna agak gelap.Harus ditanyakan juga
apakah ada riwayat trauma yang mendahului keluhan, mengangkat benda
berat, batuk kronis,atau hipertensi3.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik bisa dilakukan dengan memberi tetes mata
proparacaine (topikal anestesi) jika pasien tidak dapat membuka mata
karena sakit; dan curiga etiologi lain jika nyeri terasa berat atau terdapat
fotofobia. Tanda yang ditemukan pada perdarahan subkonjungtiva adalah5:
a. Tampak adanya perdarahan di sclera dengan warna merah terang (tipis)
atau merah tua (tebal).
b. Tidak ditemukan tanda

peradangan,

meskipun

peradangan ringan.
c. Lingkungan sekitar peradangan tampak normal.

14

ada

biasanya

Gambar 3. Perdarahan subkonjungtiva


3. Pemeriksaan penunjang8
a. Pemeriksaan lain yaitu dengan penlight. Pada konjungtiva ditemukan
patch kemerahan.
b. Tekanan darah perlu dievaluasi untuk mengetahui risiko hipertensi
c. Cek darah lengkap untuk memastikan adanya gangguan pembekuan
darah.
d. Jika pasien memiliki riwayat perdarahan subkonjungtiva berulang,
pertimbangkan

untuk

memeriksa

waktu

pendarahan,

waktu

prothrombin, parsial tromboplastin, dan hitung darah ditambahkan


dengan jumlah trombosit, serta protein C dan S.

I. TATALAKSANA
Perdarahan subkonjungtiva tidak perlu tatalaksana khusus karena
perdarahan pada subkonjungtiva tersebut akan terabsorbsi dengan baik selama
3-4 minggu. Untuk mencegah perdarahan yang lebih luas dapat diberikan
vasokonstriktor dan multivitamin. Air mata buatan untuk iritasi ringan dan
mengobati faktor resikonya untuk mencegah risiko perdarahan berulang.
Kompres dingin diberikan untuk pengobatan dini.Pada bentuk-bentuk berat
yang menyebabkan kelainan dari kornea, dapat dilakukan sayatan dari
15

konjungtiva untuk drainase dari perdarahan. Pemberian air mata buatan juga
dapat membantu pada pasien yang simtomatis10.
Asam traneksamat merupakan inhibitor fibrinolitik sintetik bentuk
trans dari asam karboksilat sikloheksana aminometil.Secara in vitro, asam
traneksamat 10 kali lebih poten dari asam aminokaproat.Asam traneksamat
merupakan competitive inhibitor dari aktivator plasminogen dan penghambat
plasmin. Plasmin sendiri berperan menghancurkan fibrinogen, fibrin dan
faktor pembekuan darah lain, oleh karena itu asam traneksamat dapat
digunakan untuk membantu mengatasi perdarahan akibat fibrinolisis yang
berlebihan4.
Indikasi :

Fibrinolisis pada menoragia, epistaksis, traumatic hyphaemia,


neoplasma tertentu, komplikasi

pada persalinan (obstetric complications) dan berbagai prosedur


operasi termasuk operasi kandung kemih, prostatektomi atau
konisasi serviks.

Hemofilia pada pencabutan gigi dan profilaksis pada angioedema


herediter.

Kontraindikasi :

Penderita yang hipersensitif terhadap asam traneksamat.

Penderita perdarahan subarakhnoid.

Penderita dengan riwayat tromboembolik.

Tidak diberikan pada pasien dengan pembekuan intravaskular aktif.

Penderita buta warna.

Dosis :

16

Fibrinolisis lokal : angioneuritik edema herediter; 1-1gram (oral) 23 x sehari.

Perdarahan abdominal setelah operasi : 1 gram 3 x sehari (injeksi


IV pelan-pelan) pada 3 hari pertama, dilanjutkan pemberian oral 1
gram 3-4 x sehari (mulai pada hari ke-4 setelah operasi sampai
tidak tampak hematuria secara makroskopis). Untuk mencegah
perdarahan ulang dapat diberikan peroral 1 gram 3-4 x sehari
selama 7 hari.

Perdarahan setelah operasi gigi pada penderita hemophilia

Efek samping :

Gangguan pada saluran pencernaan (mual, muntah, diare) gejala ini


akan hilang bila dosis dikurangi.

Hipotensi jarang terjadi.

Peringatan dan perhatian :

Hati-hati jika diberikan pada penderita gangguan fungsi ginjal


karena risiko akumulasi.

Hati-hati jika diberikan pada penderita hematuria.

Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui.

Hati-hati pada setiap kondisi yang merupakan predisposisi


trombosis.

Hati-hati pemberian pada anak-anak.

Perdarahan subkonjungtiva harus segera dirujuk ke spesialis mata jika


ditemukan kondisi berikut ini :
1. Nyeri yang berhubungan dengan perdarahan.

17

2. Terdapat perubahan penglihatan (pandangan kabur, ganda atau kesulitan


untuk melihat)
3. Terdapat riwayat gangguan perdarahan
4. Riwayat hipertensi
5. Riwayat trauma pada mata.

J. PROGNOSIS
Prognosis perdarahan subkonjungtiva secara umum baik.Perdarahan
subkonjungtiva akan diabsorpsi sendiri oleh tubuh dalam waktu 1 2 minggu,
sehingga tidak ada komplikasi serius yang terjadi. Namun adanya perdarahan
subkonjungtiva harus segera dirujuk ke dokter spesialis mata jika ditemui
berbagai hal seperti yang telah disebutkan diatas. Pada perdarahan
subkonjungtiva yang sifatnya menetap atau berulang (kambuhan) harus
dipikirkan keadaan lain. Penelitian yang dilakukan oleh Hicks D dan Mick
Amengenai perdarahan subkonjungtiva yang menetap atau mengalami
kekambuhan didapatkan kesimpulan bahwa perdarahan subkonjungtiva yang
menetap merupakan gejala awal dari limfoma adneksa okuler4.
Prognosis perdarahan subkongtiva umumnya:
Ad vitam
: bonam
Ad sanam
: bonam
Ad visam
: bonam
Ad kosmetika
: bonam
Kontrol 3 minggu atau jika perdarahan semakin meluas

18

III.

KESIMPULAN

1. Perdarahan subkonjungtiva adalah perdarahan yang terjadi pada kelopak


mata dibagian bawah.
2. Etiologi perdarahan subkonjungtiva diantaranya karena proses yang terjadi
secara spontan misal pada hipertensi, atau dapat terjadi akibat traumatik.
3. Diagnosis
perdarahan
subkonjungtiva
ditegakkan
berdasarkan
ditemukannya anamnesis dan pemeriksaan fisik yaitu ditemukannya patch
kemerahan di subkonjungtiva, pemeriksaan lain (laboratorium) diperlukan
untuk menyingkirkan sebab lain.
4. Penatalaksanaan perdarahan subkonjungtivayaitu dengan mengatasi
perdarahan (dapat diberikan asam traneksamat), serta terapi suportif
dengan kompres dingin pada kelopak mata yang sakit.

19

5. DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidarta. Masalah Kesehatan Anda. 2005. FK UI. Jakarta
6.
2. Kaimbo D, Kaimbo Wa. Epidemiology of traumatic and spontaneous
subconjunctival haemorrhages in Congo. Congo. 2008. Diakses pada
tanggal 8 Februari 2012, dari http//pubmed.com/Epidemiology of
traumatic and spontaneous subconjunctival haemorrhages in
Congo/943iure.
7.
3. Stolp W, Kamin W, Liedtke M, Borgmann H. [Eye diseases and control of
labor. Studies of changes in the eye in labor exemplified by
subconjunctival hemorrhage (hyposphagmas)] . Johanniter-Krankenhauses
Bonn. Jerman. Diakses pada tanggal 8 Februari 2012.
8.
4. Vaughan, Daniel G. Oftalmologi Umum. 2000. Widia Meka. Jakarta
9.
5. K Lang, Gerhard. Ophthalmology A Short Textbook.2000. Thieme
Stuttgart. New York.
10.
6. Ganong, William F. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
11.
7. Schlote, Pocket Atlas of Ophthalmology 2006 Thieme.
12.
8. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. 2008. FK UI. Jakarta.
13.
9. Graham, R. K. Subconjuntival Hemorrhage. 1st Edition. 2009. Medscapes
Continually Updated Clinical Reference. Diakses tanggal 8 Februari 2012,
darihttp://emedicine.medscape.com/article/1192122-overview
14.
10. American Academy. 2009. Subconjunctival Haemorrhages. Amerika
15.
11. Parmeggiani F et all. Prevalence of factor XIII Val34Leu polymorphism in
patients affected by spontaneous subconjunctival hemorrhage. Ferrara,
Itali.
Diakses
pada
tanggal
8
Februari
2012,
dari
http//pubmed.com/Prevalence of factor XIII Val34Leu polymorphism in
patients affected by spontaneous subconjunctival hemorrhage/42u3-upr2
16.
12. Incorvaia C et all. Recurrent episodes of spontaneous subconjunctival
hemorrhage in patients with factor XIII Val34Leu mutation. Ferrara, Itali.
Diakses
pada
tanggal
8
Februari
2012,
dari
http//pubmed.com/ac12/Recurrent
episodes
of
spontaneous
subconjunctival hemorrhage in patients with factor XIII Val34Leu
mutation/9372.

20