Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

Ulkus Kornea

PEMBIMBING: DR. YULIA, SP. M


DISUSUN OLEH:
CAHYANING TIAS
G4A013072

Latar Belakang
Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea sampai

lapisan stroma akibat kematian jaringan kornea


Ulkus kornea dapat mengenai semua umur.
Insidensi ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000 penduduk di
Indonesia (Ilyas, 2008).
Predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma,
pemakaian lensa kontak terutama yang dipakai hingga keesokan harinya,
dan kadang-kadang tidak diketahui penyebabnya (Ilyas, 2008).
Penelitian di United Kingdom melaporkan beberapa faktor yang
berkaitan dengan meningkatnya resiko terjadinya invasi pada kornea
didapatkan insidensi terjadinya ulkus kornea meningkat sehingga 8 kali
ganda pada mereka yang tidur sambil memakai lensa kontak berbanding
dengan mereka yang memakai lensa kontak ketika jaga (Lange 2000;
Basic and Clinical Science Course, 2008; Ilyas, 2008; Riordan, 2008).

Tujuan Penulisan
Memberikan gambaran definisi, etiopatogenesis,
gejala klinis, diagnosis, penatalaksanaan serta
komplikasi ulkus kornea

Definisi
Ulkus (tukak) kornea merupakan hilangnya sebagian

permkaan kornea akibat kematian jaringan kornea.


Terbentuknya ulkus pada kornea terjadi karena
adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru
dan sel radang (Ilyas, 2008)

Anatomi dan Fisiologi Kornea


A. Anatomi
Kornea berasal dari bahasa latin cornum=seperti tanduk
Selaput bening mata yang tembus cahaya
Menutup bola mata sebelah depan.
Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lekuk melingkar
pada persambungan ini disebut sulkus skleralis.
Kornea memiliki diameter horizontal 11-12 mm dan
berkurang menjadi 9-11 mm secara vertikal oleh adanya
limbus.
Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di
tengah, sekitar 0,65 mm di tepi

B. Histologi

Dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan


yang terdiri atas (Farouqui, 2011):
Epitel
terdiri atas lima lapis sel epitel tidak bertanduk yang
saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal
dan sel gepeng
Membrana Bowman
Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang
merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti
stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapisan
ini tidak mempunyai daya regenerasi

Stroma
Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan
lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer
serat kolagen ini bercabang
Membrana Descemet
Membrane aselular; merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel
endotel dan merupakan membran basalnya. Bersifat sangat elastis dan
berkembang terus seumur hidup, tebal 40 um
Endotel
Berasal dari mesotehum, berlapis satu, bentuk heksagonal, tebal 20-40 um.
Kornea bersifat avaskuler, mendapat nutrisi secara difus dari humor aqous dan
dari tepi kapiler. Bagian sentral dari kornea menerima oksigen secara tidak
langsung dari udara, melalui oksigen yang larut dalam lapisan air mata, sedangkan
bagian perifer menerima oksigen secara difus dari pembuluh darah siliaris anterior
(Biswell, 2008; Riordan, 2008).

C.

Fisiologi
Kornea memiliki tiga fungsi utama (Lange, 200; Biswell,
2008):
Sebagai media refraksi cahaya terutama antara udara
dengan lapisan air mata prekornea.
Transmisi
cahaya
dengan
minimal
distorsi,
penghamburan dan absorbsi.
Sebagai struktur penyokong dan proteksi bola mata
tanpa mengganggu penampilan optikal.

ETIOPATOGENESIS
Ulkus kornea biasanya terbentuk akibat:
1. Infeksi bakteri, jamur, virus, protozoa
2. Penggunaan Lensa Kontak
3. Hipoksia dan Hiperkapnia
4. Alergi dan Toksisitas
5. Kekuatan Mekanik
6. Efek Osmotik

Tipe Ulkus Kornea


1.

Ulkus Kornea Tipe Sentral

ulkus infeksi akibat kerusakan pada epitel


Lesi terletak di sentral, jauh dari limbus vaskuler
Etiologi ulkus kornea sentral biasanya bakteri, virus, jamur

2. Ulkus Kornea Tipe Perifer (marginal)


Kebanyakan ulkus kornea marginal bersifat jinak namun
sangat sakit
timbul akibat konjungtivitis bakteri akut atau menahun
Ulkus ini timbul akibat sensitisasi terhadap produk bakteri;
antibodi dari pembuluh limbus bereaksi dengan antigen
yang telah berdifusi melalui epitel kornea
berbentuk khas yang biasanya terdapat daerah jernih antara
limbus kornea dengan tempat kelainannya

GEJALA DAN TANDA KLINIS


nyeri yang ekstrim
fotopobia
penipisan kornea dengan defek pada epitel yang nampak pada

pewarnaan fluoresen
biasanya juga terdapat tanda-tanda uveitis anterior seperti miosis,
aqueus flare (protein pada humor aqueus) dan kemerahan pada
mata
pemeriksaan terhadap bola mata biasanya eritema, dan tanda-tanda
inflamasi pada kelopak mata dan konjungtiva, injeksi siliaris
biasanya juga ada
ilkus biasanya berbentuk bulat atau oval, dengan batas yang tegas.
Pemeriksaan dengan slit lamp dapat ditemukan tanda-tanda iritis
dan hipopion

DIAGNOSIS
1.

Anamnesis
adanya gejala subjektif yang dikeluhkan oleh pasien,
dapat berupa mata nyeri, kemerahan, penglihatan
kabur, silau jika melihat cahaya, kelopak terasa berat.
adanya riwayat trauma, kemasukan benda asing,
pemakaian lensa kontak, adanya penyakit vaskulitis
atau autoimun, dan penggunaan kortikosteroid jangka
panjang

2. Pemeriksaan Fisik
Visus
adanya penurunan visus pada mata yang mengalami infeksi
oleh karena adanya defek pada kornea sehingga
menghalangi refleksi cahaya yang masuk ke dalam media
refrakta
Slit lamp
Seringkali iris, pupil, dan lensa sulit dinilai oleh karena
adanya kekeruhan pada kornea.
Hiperemis didapatkan oleh karena adanya injeksi
konjungtiva ataupun perikornea.

3.

Pemeriksaan Penunjang
Tes fluoresein
Didapatkan hilangnya sebagian permukaan
kornea. Untuk melihat adanya daerah yang
defek pada kornea. (warna hijau menunjukkan
daerah yang defek pada kornea, sedangkan
warna biru menunjukkan daerah yang intak).
Pewarnaan gram dan KOH
Untuk menentukan mikroorganisme penyebab
ulkus, oleh jamur.
Kultur
Kadangkala dibutuhkan untuk mengisolasi
organisme kausatif pada beberapa kasus.

PENATALAKSANAAN
Bila terdapat ulkus yang disertai dengan pembentukan

sekret yang banyak, jangan dibalut karena dapat


menghalangi pengaliran sekret infeksi dan memberikan
media yang baik untuk perkembangbiakan kuman
penyebabnya.
Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali sehari
Antisipasi kemungkinan terjadinya glaucoma sekunder
Diberi antibiotika yang sesuai dengan kausa.
Biasanya cukup diberi lokal kecuali pada kasus yang
berat.
Terapi kortikosteroid (masih kontroversi)

Berikut adalah kriteria pemberian kortikosteroid yang


direkomendasikan (Basic and Clinical Science Course, 2008):
Kortikosteroid tidak boleh diberikan pada fase awal
pengobatan hingga organisme penyebab diketahui dan
organisme tersebut secara in vitro sensitif terhadap
antibiotik yang telah digunakan.
Pasien harus sanggup datang kembali untuk kontrol untuk
melihat respon pengobatan.
Tidak ada kesulitan untuk eradikasi kuman dan tidak
berkaitan dengan virulensi lain.

Pengobatan dihentikan bila sudah terjadi epitelisasi dan mata


terlihat tenang, kecuali bila penyebabnya pseudomonas yang
memerlukan pengobatan tambahan 1-2 minggu. Pada tukak
kornea dilakukan pembedahan atau keratoplasti apabila
dengan pengobatan tidak sembuh atau terjadinya jaringan
parut yang mengganggu penglihatan.

KOMPLIKASI
neovaskularisasi dan endoftalmitis
penipisan kornea yang akan menjadi perforasi,
uveitis
sinekia anterior
sinekia posterior
glaukoma
katarak

PROGNOSIS
Prognosis dari ulkus kornea tergantung dari cepat

lambannya pasien mendapat pengobatan, jenis


mikroorganisme penyebab, dan adanya penyulit maupun
komplikasi.
Ulkus kornea biasanya mengalami perbaikan tiap hari dan
sembuh dengan terapi yang sesuai.
Jika penyembuhan tidak terjadi atau ulkus bertambah
berat, disgnosis dan terapi alternatif harus
dipertimbangkan.

DAFTAR PUSTAKA
Basic and Clinical Science Course. External Disease and Cornea, part 1, Section 8, American

Academy of Ophthalmology, USA 2008-2009 P.38-9; 45-9; 179-92


Biswell R. Cornea In Vaughn D, Asbury T, Eva PR, eds. General Ophtalmology 17th ed. USA
Appleton Lange; 2008. p. 126-49
Boles, SF, MD. Lens Complication & Management QEI Winter 2009 Newsletter. Citied on August
9 th, 2011.jam 9/10/2011
Farouqui SZ, Central Sterile Co rnea Ulceration. Citied on August 9 th, 2011. Available from:
www.emedicine.com
Ilyas S. Mata Merah dengan penglihatan Turun Mendadak. In: Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. 3rd
ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004. P.147-67
Ilyas S. Anatomi dan Fisiologi Mata. Dalam : Ilyas S. Ilmu Penyakit mata Edisi ketiga. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI ; 2008. H.l-13.
Lange Gerhard K.Ophtalmology. 2000. New York: Thieme. P. 117-44
Mills TJ, Corneal Ulceration and Ulcerative Keratitis in Emergency Medicine. Citied on August
9, 2011. Avaible from: http://www.emedicine.com/emerg/topic 115.htm.
Netter Atlas of Human Anatomy.
Riordan P. Anatomy & Embriology of the Eye. In: Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eve P. General
Ophtalmology. 17th ed. USA: Appleton & Lange; 2008. P.8-10

TERIMA KASIH