Anda di halaman 1dari 3

4.

MEMANTAU KESEJAHTERAAN JANIN


A. Pertumbuhan dan Perkembangan Janin
1. Pertumbuhan
Dalam 2 minggu setelah ovulasi ada beberapa tahapan: (a) ovulasi, (b) fertilisasi, (c)
pembentukan blastokista, yaitu 1 minggu setelah ovculasi, (d) implantasi.

Mudigah
Bentuk mudigah dimulai sejak 3 minggu setelah fertilisasi, kira-kira pada minggu
haid yangn diperkirakan akan datang. Pada saat ini lempeng mudigah telah
terbentuk dan besar kantong khorion dapat mencapai 1 cm.
Pada minggu ke-4 setelah ovulasi, kantong khorion mencapai 2-3 cm dan besar
mudigah mencapai 4-5 mm.
Pada akhir minggu ke-6 setelah fertilisasi, panjang janin ialah 22-24 mm dan
kepala relatif lebih besar dari badan; pada sat ini tangan sudah tampak.

Janin

Disebut janin ialah saat mulai minggu ke-10 dihitung dari HPHT. Saat ini janin
panjang janin telah mencapai 4 cm. Kebanyakan organ mengalami pertumbuhan
dan pematangan dari struktur yang tebentuk pada periode mudigah.

2. Perkembangan
Sistim susunan syaraf pusat mengkoordinir fungsi fungsi otot spesifik janin.
Karna itu penilaian pergerakan janin bertindak sebagai suatu ukuran integritas dan
fungsi susunan syaraf. Pergerakan janin dapat spontan, berasal dari janin itu sendiri
atau akibat rangsangan dari luar. Pergerakan spontan, non refleks adalah otonom
dan berlangsung sebelum timbulnya reaksi rangsangan. Pegerakan refleks
disebabkan karena rangsangan luar seperti suara, vibrasi, sentuhan dan sinar, atau
oleh rangsangan suara oleh ibu.
Ehstrona dan Wood et al mengatakan bahwa aktifitas maksimal per hari
pergerakan janin berlangsung sekitar 32 minggu. Setelah 36 minggu, dimana janin
tumbuh dan volume cairan amnion berkurang, dapat menerangkan mengapa
pergerakan yang dirasakan ibu tersebut berkurang.
Timor Tisch et al menerangkan bahwa berkurangnya aktifitas pada aterm
mungkin juga berhubungan dengan waktu janin tidur, yang bertambah dengan
makin maturnya janin. Lebih lanjut mereka menerangkan periode yang lama dan
istirahat janin, sampai 75 menit, akan mengurangi gerakan-gerakan berputar. Dan
keadaan inin merupakan hal yang biasa dan dari janin yang sehat pada trimester
ketiga.

B. Evaluasi Kesejahtaran dan Pertumbuhan Janin


Penilaian kesejahtaraan janin yang konvensional umumnya
dikerjakan dengan cara-cara yang tidak langsung, seperti pengukuran berat
badan ibu, palpasi abdomen, pengukuran tinggi fundus, maupun penilaian
gejala atau tanda fisik ibu yang diduga dapat mengancam kesejahteraan
janin (misalnya, hipertensi, pendarahan pervaginam dan sebagainya).
Dalam konseb obstetric modern, khususnya dibidang perinatologi,
janin dipandang sebagai individu yang harus diamati dan ditangani
sebagaimana layaknya seorang pasien (fetus as a patient). Janin perlu
mendapat pemeriksaan fisik untuk mengetahui apakah kondisinya aman,
atau dalm bahaya ( pertumbuhan terhambat, cacat bawaan dan sebagainya).
Pemeriksaan tersebut dimungkinkan terutama dengan bantuan peralatan
elektronik seperti USG.