Anda di halaman 1dari 9

kut ulasan mengenai Tolak Ukur Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Ideal.

Silahkan
disimak!
Menurut Shoim Prambudi (2010), beberapa hal yang menjadi tolak ukur kepala sekolah
yang ideal adalah terlaksananya beberapa hal dibawah ini:
1) Kewirausahaan Sekolah
Persaingan dan perubahan yang terjadi dalam konteks multi dimensional mensyaratkan
kemampuan kepala sekolah yang handal untuk melakukan beraneka ragam pekerjaan.
Dengan demikian, dari waktu ke waktu persyaratan kepala sekolah ideal senantiasa
berubah sehingga pertumbuhan profesionalismenya harus terus menerus juga
dirangsang.
2) Manajemen Sekolah
Pengelolaan sekolah adalah esensial yang baik disemua kerjasama yang dikoordinasi,
di semua tingkat organisasi, yang mana pelaksanaannya sering ada kendala atau sering
ada masalah. Kendala dan masalah dapat muncul pada setiap kegiatan manajemen.
Oleh karena itu, bagaimana upaya sekolah untuk mengurangi kendala dan
memecahkan masalah merupakan tanggung jawab kepala sekolah sebagai seorang
manajerial di sekolah.
3) Penyusunan Rencana Strategis dalam Pengembangan Sekolah
UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menetapkan manajemen
berbasis sekolah (school based management) sebagai prinsip utama yang harus
dipegang teguh dalam pengelolaan semua satuan pendidikan. Ketentuan ini kemudian
dipertegas dalam peraturan pemerintah (PP) nomor 19 tahun 2005 tentang standar
nasional pendidikan. Pasal 49 ayat (1) pada peraturan pemerintah ini menyatakan:
pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian,
kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.
4) Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah Dasar
Depdiknas merupakan direktorat jenderal yang dibentuk melalui PP No. 8 tahun 2005.
Salah satu direktorat di bawahnya adalah direktorat tenaga kependidikan yang
mempunyai tugas pokok melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan,
pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi dibidang pembinaan tenaga
kependidikan pada pendidikan formal.
Salah satu kompetensi kepala sekolah/madrasah yang tercantum dalam peraturan
pemerintah nomor 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah/madrasah tersebut
adalah mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan
program dan pengambilan keputusan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi
bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.
Sekian artikel dari Materi Inside mengenai Tolak Ukur Kepemimpinan Kepala Sekolah
Yang Ideal, yang dapat kalian jadikan acuan untuk belajar.
Kepemimpinan kepala sekolah, Sekolah sebagai pendidikan formal bertujuan
membentuk manusia yang berkepribadian, dalam mengembangkan intelektual peserta
didik dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kepala sekolah sebagai
pemimpin pendidikan perannya sangat penting untuk membantu guru dan muridnya.

Didalam kepemimpinnya kepala harus dapat memahami, mengatasi dan memperbaiki


kekurangan-kekurangan yang terjadi di lingkunagn sekolah.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan seorang kepala sekolah harus mampu
meningkatkan kinerja para guru atau bawahannya. Banyak faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja sesorang, sebagai pemimpin sekolah harus mampu memberikan
pengaruh-pengaruh yang dapat menyebabkan guru tergerak untuk melaksanakan
tugasnya secara efektif sehingga kinerja mereka akan lebih baik.
Sebagai pemimipin yang mempunyai pengaruh, ia berusaha agar nasehat, saran dan
jika perlu perintahnya di ikuti oleh guru-guru. Dengan demikian ia dapat mengadakan
perubahan-perubahan dalam cara berfikir, sikap, tingkah laku yang dipimpinnya. Dengan
kelebihan yang dimilikinya yaitu kelebihan pengetahuan dan pengalaman, ia membantu
guru-guru berkembang menjadi guru yang profesional. image
Dalam melaksanakan fungsi kepemimpinannya kepala sekolah ahrus melakaukan
pengelolaan dan pembinaan sekolah melalui kegiatan administrasi, manajemen dan
kepemimpinan yang sangat tergantung pada kemampuannya. Sehubungan dengan itu,
kepala sekolah sebagai supervisor berfungsi untuk mengawasi, membangun,
mengkoreksi dan mencari inisiatif terhadap jalannya seluruh kegiatan pendidikan yang
dilaksanakan di lingkungan sekolah. Disamping itu kepala sekolah sebagai pemimpin
pendidikan berfungsi mewujudkan hubungan manusiawi (human relationship) yang
harmonis dalam rangka membina dan mengembangkan kerjasama antar personal, agar
secara serempak bergerak kearah pencapaian tujuan melalui kesediaan melaksanakan
tugas masing-masing secara efisien dan efektif.
Oleh karena itu, segala penyelenggaraan pendidikan akan mengarah kepada usaha
meningkatkan mutu pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh guru dalam melaksanakan
tugasnya secara operasional. Untuk itu kepala sekolah harus melakukan supervisi
sekolah yang memungkinkan kegiatan operasional itu berlangsung dengan baik.
Melihat pentingnya fungsi kepemimpinan kepala sekolah sebagai supervisor dalam
pengawasan kinerja guru Pendidikan Agama Islam, maka usaha untuk meningkatkan
kinerja yang lebih tinggi bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah bagi kepala
sekolah. Karena kegiatan berlangsung sebagai proses yang tidak muncul dengan
sendirinya. Pada kenyataannya banyak kepala sekolah yang sudah berupaya secara
maksimal untuk meningkatkan kualitas pendidikan, salah satu caranya memotivasi para
guru-guru akan memilki kinerja lebih baik tapi hasilnya masih lebih jauh dari harapan.
kepemimpinan kepala sekolah.
Kelemahan terbesar dari lembaga pendidikan di Indonesia adalah karena tidak
mempunyai basis pengembangan budaya yang jelas. Lembaga pendidikan kita hanya
dikembangkan berdasarkan model ekonomi untuk menghasilkan sumber daya manusia
pekerja ( abdi dalam ) yang sudah dirancang menurut tata nilai ekonomi yang berlaku
( kapitalistik ) ( Mubiato, 2002 : 98 ).
Dengan demikian tidak mengherankan bila keluaran pendidikan hanya ingin menjadi
manusia pencari kerja dan tidak berdaya, bukan manusia kreatif pencipta keterkaitan
kesejahteraan dalam siklus rangkai manfaat yang beraneka ragam. Untuk mendorong
terjadinya upaya pembudayaan di lembaga pendidikan ini adalah meletakkan basis
budayana yang mengakar pada sumber nilai setempat yang utuh mencakup semua

aspek kemanusiaan, sehingga membuka peluang pengembangannya sesuai dengan


kreatifitas dan inisiatif yang dikelola dalam lembaga pendidikan itu. image
Menjadi Kepala Sekolah Profesional idealnya harus memahami secara komprehensif
bagaimana kinerja dan kemampuan manajerialnya dalam memimpin sebuah sekolah
sehingga sekolah itu bernuansa sekolah yang berbudaya. Dengan demikian diharapkan
alumni sekolah itu memilikibudaya yang jelas sesuai dengan perkembangan
masyarakat. Dengan demikian, Made Pidarta ( 1994 : 145 ), mengatakan bahwa di
lembaga pendidikan itu siswa harus (1) memahami sosiologi dan pendidikan, (2)
Kebudayaan dan pendidikan, (3) Masyarakat dan sekolah , (4) Masyarakat Indonesia
dan pendidikan, dan (5) Dampak konsep pendidikan.
Kualitas SDM sangat dipengaruhi oleh pendidikan. Dengan demikian bidang pendidikan
adalah bidang yang menjadi tulang punggung pelaksanaan pembangunan nasional.
Tujuan pendidikan, khususnya di Indonesia adalah membentuk manusia seutuhnya
yang Pancasilais ( UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 ), dimotori oleh pengembangan
afeksi. Tujuan khusus ini hanya bias ditangani dengan ilmu pendidikan bercorak
Indonesia sesuai dengan kondisi Indonesia dan dengan penyelenggaraan pendidikan
yang memakai konsep sistem.
Oleh karena itu Kepala sekolah harus : (a) memiliki wawasan jauh kedepan (visi) dan
tahu tindakan apa yang harus dilakukan (misi) serta paham benar tentang cara yang
akan ditempuh (strategi); (b) memiliki kemampuan mengkoordinasikan dan
menyerasikan seluruh sumberdaya terbatas yang ada untuk mencapai tujuan atau untuk
memenuhi kebutuhan sekolah (yang umumnya tak terbatas); (c) memiliki kemampuan
mengambil keputusan dengan terampil (cepat, tepat, cekat, dan akurat); (d) memiliki
kemampuan memobilisasi sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan dan yang
mampu menggugah pengikutnya untuk melakukan hal-hal penting bagi tujuan
sekolahnya; (e) memiliki toleransi terhadap perbedaan pada setiap orang dan tidak
mencari orang-orang yang mirip dengannya, akan tetapi sama sekali tidak toleran
terhadap orang-orang yang meremehkan kualitas, prestasi, standar, dan nilai-nilai; (f)
memiliki kemampuan memerangi musuh-musuh kepala sekolah, yaitu ketidakpedulian,
kecurigaan, tidak membuat keputusan, mediokrasi, imitasi, arogansi, pemborosan, kaku,
dan bermuka dua dalam bersikap dan bertindak.
Sumberdaya meliputi sumberdaya manusia dan sumberdaya selebihnya. Sumberdaya
manusia terdiri dari sumberdaya manusia jenis manajer/pimpinan dan sumberdaya
manusia jenis pelaksana. Sedang sumberdaya selebihnya meliputi uang, peralatan,
perlengkapan, bahan, bangunan, dsb. Yang perlu digarisbawahi, agar sekolah berjalan
dengan baik, diperlukan kesiapan sumberdaya, terlebih-lebih sumberdaya manusia.
Kesiapan sumberdaya manusia = kesiapan kemampuan + kesiapan kesanggupan.
Kesiapan kemampuan menyangkut kualifikasi, sedang kesiapan kesanggupan
menyangkut pemenuhan kepentingan sumberdaya manusia. Jika pemimpin, anak buah,
staf, kepala, ketua, bawahan, pembantu pimpinan dan apapun peran dan jabatan yang
disandang seseorang, mampu melaksankan tugas, peran serta fungsinya sesuai
dengan tanggungjawabnya. Diyakini kasus-kasus yang berhubungan dengan lemahnya
manajemen organisasi/kelembagaan akan dapat direduksi.
Seseorang akan dihargai profesionalitasnya, kepribadiannya dan bahkan kinerjanya
apabila ia mampu mengahsilkan produktifitas kerja yang senantiasa berada dalam track

record yang baik, mampu melaksanakan kewajibannya secara ajeg sesuai dengan track
yang harus ia lewati.
Bukankah apabila kita ingin ketahuan siapa diri kita sesungguhnya maka kita harus
berbuat sebanyak-banyaknya berbuat .
Ada beberapa kiat untuk menata sisrtem manajemen kelembagaan yang efektif :
1. Bangunlah manajemen kelembagaan berdasarkan komunikasi yang baik. Komunikasi
yang interaktif, dialogis, tidak underpressure, tapi komunikasi yang dibangun atas dasar
komitmen dan pengertian yang bisa diterima oleh semua pihak. Komunikasi jenis ini bisa
dijalin melalui pengembangan sistem budaya kerja yang tidak mengutamakan
kekuasaan tapi cenderung lebih mengutamakan kekeluargaan, silaturahmi dan rasa
memiliki yang tinggi dari semua pihak terkait ( Stake holders dan share holders )
2. Membangun kondisi organisasi yang bisa menciptakan kepuasan (Satisfaction) dari
semua pihak. Jadilah pemimpin yang bijak, berlaku adil, familiar, terbuka, mau dikritik,
jujur, demokrasi dan bertanggung jawab, sebaliknya jadilah bawahan yang sebaikbaiknya bawahan.
3. Memulai perubahan dari diri kita masingmasing.
Jangan mengharapkan orang lain mangubah sesuat yang telah ada.
Inisiatif harus dari diri kita.
Bukankah jika inginmengubah dunia maka harus dimulai dari mengubah diri sendiri, dan
yang terpenting ubahlah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus
lebih baik dari hari ini.
4. Banyak berkarya dan berbuat.
Produktifitas dan kinerja kita akan diukur dari kuantitas dan kualitas dari apa yang telah
kita lakukan.
5. Belajar dan belajar terus memahami dan mengerti orang lain.
Jangan egois, jangann menganggap bahwa diri kita penting dimata orang lain, belum
tentu orang lain butuh kita.
6. Menjaga hati dan mulut kita.
Menjaga hati dari fikiran-fikiran negatif terhadap orang lain, dan menjaga mulut agar
senantiasa mencerminkan beapa bersihnya diri kita. Jagalah mulutmu, karena mulutmu
adalah pedangmu dan bahkan harimaumu.
7. Memahami diri sendiri.
Memahami dan mengerti siapa diri kita seindiri melulaui analisiss diri, analisis posisi,
bukankan musuh yang paling bersar di dunia ini adalah diri kita sendiri.

8. Mau dikrtik oleh orang lain.


Demi kemajuan kita harus senantiasa mau dikritik oleh orang lain, terbuka terhadap
saran dan pendapat orang lain dan bahkan mampu memenej kritik itu menjadi sesuatu
yang bermanfaat bagi masa depan kita.
Defenisi Konseptual Menjadi Kepala Sekolah Profesional
Berdasarkan semantiknya, Anton Muliono ( 1989 : 702 ), mengemukakan bahwa Profesi,
adalah bidang pekerjaan yang dilandasai pendidikan keahlian ( ketrampilan, kejuruan )
tertentu, Profesional, adalah memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya,
Profesionalisme, adalah sifat professional, dan profesionalisasi adalah proses membuat
suatu badan menjadi professional. Sedangkan, proteksi, adalah perlindungan hukum
secara juridis formal. Selanjutnya, A.S Hornby ( 1952 : 989 ), said that professionalism is
The mark or qualities of a profession. Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa
profesionalisme mencakup, antara lain ; budaya profesi, kualifikasi, kompetensi,
ketrampilan, komitmen, konsitensi, etos kerja, kode etik dan dedikasi.
Profesi guru, adalah karya profesi. Engkoswara ( 2004 : 29 ) mengatakan bahwa karya
profesi memerlukan kemampuan dasar, yakni ; membaca dan belajar sepanjang hayat,
etos dan etika kerja, dan ketrampilan nalar dan ketrampilan tangan. Guru sebagai
tenaga kependidikan wajib dan mutlak memiliki karya profesi tersebut, sehingga dengan
memiliki ketrampilan dasar itu, maka seorang guru akan menjadi professional. Seorang
guru akan professional , jika memiliki sifat pribadi manusia Indonesia. Lebih lanjut,
Engkoswara ( 2004 : 31 ), mengatakan bahwa sifat dan budaya manusia Indonesia itu
memiliki, yakni ; (1) Budaya Utama ( sehat, baik dan jujur ), (2) Budaya Profesi ( cerdas,
terampil, dan ahli, (3) Budaya Penyerta ( indah ), sedangkan sifat manusia Indonesia,
adalah, (1) sifat utama ( sehat, iman, taqwa, berbudi pekerti luhur, patriorisme, tangguh
dan penuh disiplin, (2) sifat profesi ( cerdas, produktif, dan professional ), dan (3) sifat
penyerta ( kreatif ).
Profesional dapat berkembang menjadi jabatan professional, sejalan dengan itu
Komarudin ( 2000 : 205 ), mengatakan bahwa professional berasal dari bahasa Latin,
yaitu Profesia yang berarti ; pekerjaan, keahlian, jabatan, jabatan guru besar.
Demikian halnya kepala sekolah, adalah merupakan jabatan fungsional yang diberi
sebagai tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Dengan demikian muncullah
terminology bagaimana menjadi kepala sekolah professional.
Terminologi professional melahirkan teriminologi baru, yakni profesionalisme. Freidson
( 2970 : 28 ), mengemukakan bahwa profesionalisme adalah sebagai komitmen untuk
ide-ide professional dan karier. Secara operatif, Syaiful ( 2002 : 199 ) menegaskan
bahwa profesionalisme memiliki aturan dan komitmen jabatan keilmuan teknik dan
jabatan yang akan diberikan kepada pelayan masyarakat agar secara khusus
pandangan-pandangan jabatan dikoreksi secara keilmuan dan etika sebagai
pengukuhan terhadap profesionalisme. Profesionalisme tidak dapat dilakukan atas
dasar perasaan, kemauan, pendapat atau semacamnya, tetapi benar-benar dilandasi
oleh pengetahuan secara akademik.
Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat dirumuskan bahwa yang disebut Kepala
Sekolah professional harus dapat membedakan mana ilmu yang esensial berkaitan
dengan disiplin ilmunya dan tidak esensial sesuai dengan tuntutan professional.

Sehubungan dengan terminology itu, Paure ( 1972 : 25 ), menegaskan bahwa


professional harus mereduksi lama pendidikan untuk memberikan kualifikasi bagus
tanpa mengurangi standar dan metodologi pengajaran yang tepat, percepatan proses
belajar, menyeleksi ilmu yang diberikan.
Korelasi Profesional Dengan Sosial Budaya
Sekolah harus memperhatikan pengembangan nilai-nilai pada diri peserta didik di
sekolah. Karena salah satu fungsi sekolah adalah untuk memperbaiki mental anak-anak,
seperti harapan yang disampaikan oleh Coleman. Sekolah berfungsi sebagai alat
kontrol social dan perubahan social.
Menjadi kepala sekolah professional harus memperhatikan banyak hal dalam diri siwa
selama dalam lingkungan sekolah. Made ( 1994 : 156 ), mengemukakan bahwa
sosiologi atau sosiologi pendidikan dapat dideskripsikan sebagai berikut ; (1) Sosiologi
menunjukkan pentingnya kegiatan sosialisasi anak-anak dalam pendidikan, (2)
Memberikan bantuan dalam upaya menganalisis proses sosialisasi anak-anak. Seperti
konsep tentang interaksi social, kontak social, komunikasi, bentuk social, dan
sebagainya, (3) Kelompok social dan lembaga masyarakat dengan berbagai bentuknya,
termasuk sekolah, (4) Dinamika kelompok, yang sudah tentu berlaku juga dalam dunia
pendidikan, (5) Konsep-konsep untuk mengembangkan kelompok social dan lembagalembaga masyarakat, (6) Nilai-nilai yang ada di masyarakat serta keharusan sekolah
untuk mengembangkan aspek itu pada diri siswa, (7) Peranan pendidikan dalam
masyarakat, dan (8) Dukungan masyarakat terhadap pendidikan.
Memahami akan hal itu, para pendidik ( guru ) dan kepala sekolah professional
hendaklah menantang diri agar proses pendidikan di sekolah tidak ketinggalan zaman,
agar dapat membantu siswa berpacu antarteman sekelas atau dengan yang lainnya.
Dengan demikian guru dan kepala sekolah harus meningkatkan profesinya agar
memiliki kualitas yang sejajar dengan para pendidik di negara-negara maju. Misalnya di
Amerika, Jepang dan negara maju lainnya.
3.2 Korelasi Profesi Dengan Budaya
Engkoswara ( 2004 : 31 ), mengatakan bahwa sifat dan budaya manusia Indonesia itu
memiliki, yakni ; (1) Budaya Utama ( sehat, baik dan jujur ), (2) Budaya Profesi ( cerdas,
terampil, dan ahli, (3) Budaya Penyerta ( indah ), sedangkan sifat manusia Indonesia,
adalah, (1) sifat utama ( sehat, iman, taqwa, berbudi pekerti luhur, patriorisme, tangguh
dan penuh disiplin, (2) sifat profesi ( cerdas, produktif, dan professional ), dan (3) sifat
penyerta ( kreatif ).
Untuk merealisasikan sifat dan budaya tersebut di kalangan pendidikan, tenaga
kependidikan mutlak memilikinya dan mampu menatanya dengan harmonis di dalam
kehidupan sehari-hari. Demikian juga halnya bagi guru dalam menjalankan rutinitasnya,
bahwa sifat dan budaya manusia Indonesia itu harus tercermin dalam keseharian guru
baik di sekolah maupun di luar sekolah ( di rumah ). Engkoswara ( 2004 : 63 ),
mengemukakan dalam menegakkan budaya harmoni ada tiga nilai praksis ( aktual )
yang harus ditata secara harmoni, yakni (1) Budaya Utama, adalah budaya atau nilai
yang berlaku bagi kita semua orang sebagai mahluk Tuhan Yang Mahaesa yang
mempunyai cirri universal, yang mempunyai hak dan kewajiban yang relatif bersamaan,

(2) Budaya profesi, adalah nilai yang berlaku bagi manusia sebagai mahluk sosial yang
mempunyai karakteristik yang bersamaan dalam kelompok-kelompok tertentu, dan (3)
Budaya penyerta, adalah nilai yang berlaku bagi manusia sebagi mahluk pribadi yang
bersifat unik dan hakiki.
Tahapan perkembangan yang harus ditempuh dalam suatu proses profesionalisasi
adalah terkait dengan sejumlah pelayanan. Kepala sekolah professional harus dapat
mengkomunikasikan segala tugas pokok dan fungsinya dalam manajemen sekolah.
Fungsi manajemen sekolah harus dapat diberdayakan seoptimal mungkin sesuai
dengan standar kompetensi yang dimiliki sebagi pimpinan ( manajer ). Pendidikan
adalah enkultusasi. Manan ( 1989 : 79 ), mengemukakan bahwa pendidikan adalah
suatu proses membuat orang kemasukan budaya, membuat orang berperilaku
mengikuti budaya yang memasuki dirinya. Enkulturasi ini terjadi di mana-mana, disetiap
tempat hidup seseorang dan setiap waktu. Dalam hal inilah akan muncul pengenalan
kurikulum yang sangat luas, yaitu semua lingkungan tempat hidup manusia. Suatu
budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan atau pertimbangan bagi anak dalam
mengembangkan dirinya. Ada kalanya bagioan budaya akan dipakai terus, ada kalanya
diperbaiki dan ada kalanya dibuang atau diganti dengan yang baru. Hal ini tergantung
bagaimana pembinaan pendidik, pengaruh lingkungan, dan hasil penilaian anak itu
sendiri.
Kepala sekolah professional harus cerdas dan intelek serta bijaksana. Sebagai kepala
sekolah dengan fungsinya sebagai manajer di sekolah harus memperhatikan cirri-ciri
profesionalisasi. Robert W. Rihe ( 1974 : 87 ), mengemukakan bahwa cirri-ciri
profesionalisasi jabatan fungsional ada 7, antara lain ; (1) Kepala sekolah bekerja sama
dan tidak semata-mata hanya memberikan pelayanan kemanusiaan bukan usaha untuk
kepentingan pribadi, (2) Memiliki pemahaman serta ketrampilan yang tinggi, (3) Memiliki
lisensi hokum dalam memimpin sekolah, (4) Memiliki publikasi yang dapat melayani
para guru sehingga tidak ketinggalan zaman, (5) Mengikuti aneka kegiatan seminar
pendidikan ( workshop ), (6) Jabatannya sebagai suatu karier hidup, dan (7) Meiliki nilai
dan etika yang berfungsi secara nasional maupun local.
Kinerja dan produktifitas kepala sekolah professional harus dapat diukur dengan para
meter yang ada, yakni standar pelayanan minimal. Standar pelayanan minimal mengacu
kepada konteks sisial budaya pendidikan yang ada di sekolah. Misalnya, sekolah
berbasis budaya lingkungan. Sekolah bernuansa basis lingkungan budaya dapat tampak
dalam pengelolaan lingkungan sekolah. Misalnya dengan penanaman aneka tanaman
rindang atau pembuatan apotek dan warung hidup di lingkungan sekolah. Sekolah akan
tampak rindang dan sejuk sehingga warga sekolah dapat menikmati lingkungan dengan
nyaman dan teduh sehingga warga sekolah akan merasa betah di sekolah dalam
berbagai situasi yang ada.
Kegiatan manajerial sekolah yang biasanya mencakup dalam lingkup manajemen
pendidikan. Komponen manajemen pendidikan meliputi 5-M, yakni ; Sumber daya
manusia ( Man ), finasial ( Money ), substansi ( Material ), metode ( Method ), dan
Fasilitas ( Machine ). Kepala sekolah sebagai sumber daya manusia yang professional
harus mampu mengelola sekolah sesuai dengan fungsi sekolah sebagai wiyata
mandala. Kepala sekolah sebagai manajer harus mampu mengelola keuangan sebagai
pembiayaan pendidikan di sekolah baik pembiayaan langsung maupun pembiayaan
tidak langsung . Kepala sekolah sebagai guru harus mampu memerikan bimbingan
kepada semua warga sekolah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Kepala

sekolah fungsinya sebagai pimpinan harus mampu metode kepemimpinan atau model
kepemimpinannya yang layak dan pantas diterapkan sesuai dengan norma, dan
demikian juga kepala sekolah sebagai pimpinan harus mampu memberdayakan semua
fasilitas yang ada dalam menunjang kemajuan pendidikan di sekolah.
Korelasi trugas pokok dan fungsi kepala sekolah dalam tatanan manajerial sekolah,
idealnya mampu mengimplementasikan gaya kepemimpinannya sesuai dengan budaya
sekolah. Kepala sekolah professional harus mampu mendorong semua warga sekolah
untuk melestarikan budaya sekolah sehingga tercermin dalam setiap perilaku atau sikap
warga sekolah dalam kehidupan sehari-harinya. Motivasi intrinsic akan mendorong
kepala sekolah untuk terus berpacu dalam menggalakkan budaya sekolah. Demikian
halnya motivasi ekstrinsik akan mendukung kepemimpinan kepala sekolah demi
terciptanya budaya sekolah dengan sistem social yang ada pada komunitas sekolah dan
masyarakat ( orang tua ).
Kesimpulan
Menjadi Kepala Sekolah professional harus memelihara budaya sekolah dengan sistem
social yang ada dalam warga sekolah dalam konteks social budaya pendidikan di
masyarakat. Sosial budaya pendidikan. Sosial budaya dan pendidikan dapat
dideskripsikan, sebagai berikut :
Kebudayaan adalah cara hidup dan kehidupan manusia yang diciptakan manusia itu
sendiri sebagai warga masyarakat.
Fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia, adalah : penerus keturunan dan
pengasuh anak, pengembang kehidupan berekonomi, transmisi budaya, meningkatkan
iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Mahakuasa, pengendalian social dan rekreasi
Isi kebudayaan, antara lain ; gagasan, ideology, norma, teknologi, ilmu, kesenian,
kepandaian, dan benda
Kepala sekolah professional adalah kepala sekolah yang memegang teguh nilai dan
etika serta budaya profesi sesuai dengan konteks social budaya pendidikan di
masyarakat
5. Sifat dan budaya manusia Indonesia itu memiliki, yakni ; (1) Budaya Utama ( sehat,
baik dan jujur ), (2) Budaya Profesi ( cerdas, terampil, dan ahli, (3) Budaya Penyerta
( indah ), sedangkan sifat manusia Indonesia, adalah, (1) sifat utama ( sehat, iman,
taqwa, berbudi pekerti luhur, patriorisme, tangguh dan penuh disiplin, (2) sifat profesi
( cerdas, produktif, dan professional ), dan (3) sifat penyerta ( kreatif ).
6. Di kalangan pendidikan, tenaga kependidikan mutlak memilikinya dan mampu
menatanya dengan harmonis di dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga halnya bagi
guru dalam menjalankan rutinitasnya, bahwa sifat dan budaya manusia Indonesia itu
harus tercermin dalam keseharian guru baik di sekolah maupun di luar sekolah ( di
rumah ).
Dalam menegakkan budaya harmoni ada tiga nilai praksis ( aktual ) yang harus ditata
secara harmoni, yakni (1) Budaya Utama, adalah budaya atau nilai yang berlaku bagi
kita semua orang sebagai mahluk Tuhan Yang Mahaesa yang mempunyai cirri universal,
yang mempunyai hak dan kewajiban yang relatif bersamaan, (2) Budaya profesi, adalah
nilai yang berlaku bagi manusia sebagai mahluk sosial yang mempunyai karakteristik
yang bersamaan dalam kelompok-kelompok tertentu, dan (3) Budaya penyerta, adalah
nilai yang berlaku bagi manusia sebagi mahluk pribadi yang bersifat unik dan hakiki.

Saran
Menjadi Kepala Sekolah professional idealnya menjunjung tinggi budaya profesi.
Dengan budaya profesi, kepala sekolah tersebut sudah memiliki ke-7 ciri-ciri jabatan
fungsional yang tertuang dalam profesionalisasi. Profesionalisme wajib ditingkatkan agar
kualifikasi yang dimilikinya dapat tercermin dalam manajerial serta gaya kepemimpinan
yang dimilikinya. Dengan demikian, Kepala Sekolah professional akan lebih tampil
percaya diri dalam mengelola sekolah secara professional sesuai dengan sistem social
budaya pendidikan yang ada dalam komunitas pendidikan formal.

MENJADI KEPALA SEKOLAH PROFESIONAL


OLEH : Drs. H. Inayatulah, M..Pd