Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan hidayat-Nya, limpahan Rezki, kesehatan, dan kesempatan. Sehingga
makalah tentang Stress dan Adaptasi selesai.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rosnalisa M,
Psi selaku dosen matakuliah Psikologi yang telah memberikan bimbingan dan
arahan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kelompok ini, dan rekan teman
teman yang selalu berdoa dan memberikan motivasi kepada kami. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih sangat
banyak kekurangannya.
Oleh sebab itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari parpembaca demi
kesempuranannya makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga Tuhan Y.M.E
memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan
dan dapat menjadikan bantuan ini sebagai ibadah dan pelajaran untuk kami sendiri.
Amin
Jakarta, April 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini perubahan tata nilai kehidupan (perubahan psikososial) berjalan begitu cepat
karena pengaruh globalisasi, modernisasi, informasi, industrialisasi, serta ilmu pengetahuan
dan teknologi. Hal tersebut berpengaruh terhadap pola hidup, moral, dan etika. Beberapa
contoh perubahan pola hidup, misalnya pola hidup sosial religius berubah individualistis,
materialistis, dan sekuler, pola hidup produktif ke pola hidup konsumtif dan mewah serta
ambisi karier yang menganut asas moral dan etika hukum.
Modernisasi dan perkembangan teknologi membawa perubahan tentang cara berpikir
dalam pola hidup bermasyarakat, sehingga perubahan tersebut membawa pada kosekuensi di
bidang kesehatan fisik dan bidang kesehatan jiwa.
Manusia harus selalu menyesuaikan diri dengan kehidupan dunia yang selalu berubahubah. Manusia sebagaimana dia ada pada suatu ruang dan waktu, merupakan hasil interaksi
antara jasmani, rohani, dan lingkungan. Ketiga unsur tersebut saling mempengaruhi satu
dengan yang lain. Dalam segala masalah, kita harus mempertimbangkan ketiganya sebagai
suatu keseluruhan (holistik) sehingga manusia disebut makhluk somato-psiko-sosial.
Setiap individu memiliki intensitas atau derajat perasaan yang berbeda walaupun
menghadapi stimulus yang sama. Perasaan dan emosi biasanya disifatkan sebagai keadaan
dari diri individu pada suatu saat, misalnya orang merasa terharu melihat banyaknya warga
masyarakat yang tertimpa musibah kebanjiran.(Drs.Sunaryo, M.Kes , 2004 : 149)
Sumber gangguan jasmani (somatik) maupun psikologis adalah stress. Penyesuaian
yang berorientasi pada tugas disebut adaptasi dan yang berorientasi pada pembelaan ego
disebut mekanisme pertahanan diri.

Pemahaman tentang stres dan akibatnya penting bagi upaya pengobatan maupun
pencegahan gangguan kesehatan jiwa. Masalah stress sering dihubungkan dengan kehidupan
modern dan nampaknya kehidupan modern merupakan sumber gangguan stress lainya.
Perlu diperhatikan bahwa kepekaan orang terhadap stress berbeda. Hal ini juga bergantung
pada kondisi tubuh individu yang turut menampilkan gangguan jiwa.
Stress merupakan gangguan kesehatan jiwa yang tidak dapat dihindari, karena
merupakan bagian dari kehidupan. Perubahan psikososial dapat merupakan tekanan mental
(stressor psikososial) sehingga bagi sebagian individu dapat menimbulkan perubahan dalam
kehidupan dan berusaha beradaptasi untuk menanggulanginya
B. Tujuan Penulisan
1. Memahami pengertian dari stress
2. Mengetahui tingkatan dari stress
3. Mengetahui jenis-jenis dari stress
4. Mengetahui faktor yang mempengaruhi respon terhadap stressor
5. Mengetahui konsep adaptasi dalam kehidupan manusia
C. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari stress?
2. Bagaimana tingkatan dari stress?
3. Apa sajakah jenis-jenis dari stress?
4. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi respon terhadap stressor?
5. Bagaimanakah konsep adaptasi dalam kehidupan manusia?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Stress
Stress adalah segala situasi dimana tuntutan non specific mengharuskan seorang
individu untuk berespon atau melakukan tindakan (Selye, 1976). Menurut Vincent
Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brecht (2000) bahwa yang dimaksud Stress
adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan
kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu di
dalam lingkungan tersebut.
Stress adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam, yang menimbulkan
suatu ketegangan dalam diri seseorang (Soeharto Heerdjan, 1987). Secara umum, yang
dimaksud Stress adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan,
perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut, Stres adalah
gangguan pada tubuh dan pikiran akibat tekanan, perubahan, ketegangan, emosi dan
lain-lain yang menimbulkan dampak pada fisik dan psikologi seseorang.
Stressor adalah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor
menunjukkan suatu kebutuhan yang tidak terpenuhi dan kebutuhan tersebut bisa
kebutuhan fisiologis, psikologis, sosial, lingkungan , perkembangan dan kebutuhan
cultural. Stresor, faktor yang menimbulkan stress, dapat berasal dari sumber internal
( yaitu diri sendiri) maupun eksternal ( yaitu keluarga, masyarakat, dan lingkungan).
Internal. Faktor internal stress bersumber dari diri sendiri. Stressor individual dapt
timbul dari tuntutan pekerjaan atau beban yang terlalu berat, kondisi keuangan,
ketidakpuasan dengan fisik tubuh, penyakit yang dialami, masa pubertas, karakteristik
atau sifat yang dimiliki, dsb.

Eksternal. Faktor eksternal stress dapat bersumber dari keluarga, masyarakat, dan
lingkungan. Stressor yang berasal dari keluarga disebabkan oleh adanya perselisihan
dalam keluarga, perpisahan orang tua, adanya anggota keluarga yang mengalami
kecanduan narkoba, dsb. Sumber stressor masyarakat dan lingkungan dapat berasal dari
lingkungan pekerjaan, lingkungan sosial, atau lingkungan fisik.
B. Pendekatan-pendekatan Stress
Menurut Sarafino (1990), Sutherland dan Cooper

(1990)

stress

dapat

dikonseptualisasikan dari berbagai macam titik atau pandang :


1. Stress sebagai stimulus
Adalah pendekatan yang menitikberatkan pada lingkungan dan menggambarkan
stress sebagai suatu stimulus (atau stress sebagai variabel bebas). Pendekatan
seperti ini biasanya digunakan individu ketika dia berbicara tentang stress dalam
kehidupan sehari-hari, seperti : Banyak stress di tempat kerja.
2. Stress sebagai respon
Adalah pendekatan yang memfokuskan pada reaksi seseorang terhadap stressor
dan menggambarkan stress sebagai suatu respon (atau stress sebagai variabel
tergantung). Respon yang dialami itu mengandung dua komponen, yaitu :
komponen psikologis, yang meliputi prilaku, pola pikir, emosi, dan perasaan stress;
dan komponen fisiologis, berupa rangsangan-rangsangan fisik yang meningkat.
Stress sebagai suatu respon ini juga dikenal dalam ilmu medis dan sering dipandang
sebagai perspektif fisiologis. Konsep General Adaptation Syndrome dari Selye dan
fight or flight reaction dari Cannon
3. Stress sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan
Adalah pendekatan yang menggambarkan stress sebagai suatu proses yang
meliputi hubungan antara individu dengan lingkungan. Interaksi antara manusia
dengan lingkungan yang saling mempengaruhi disebut sebagai hubungan
transaksional (Van Broeck, 1979; Sutherland dan Cooper, 1990; Sarafino, 1990). Di
dalam proses hubungan ini termasuk juga proses penyesuaian

C. Penggolongan Stress
Menurut Sri Kusmiati dan Desminiarti (1990), apabila ditinjau dari penyebabnya
stress dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Stress fisik, disebabkan oleh suhu atau temperatur yang terlalu tinggi atau rendah,
suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat arus listrik.
2. Stress kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormon,
atau gas.
3. Stress mikrobiologik, disebabkan oleh virus, bakteri, atau parasit yang menimbulkan
penyakit.
4. Stress fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan, organ, atau
sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.
5. Stress proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh gangguan
pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.
6. Stress psikis/emosional, disebabkan oleh gangguan hububgan interpersonal, sosial,
budaya, atau keagamaan.
D. Penyebab Stress
Menurut Maramis (1999), ada empat sumber atau penyebab stress Psikologis,
yaitu :
1. Frustasi
Timbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral melintang.
Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik
(kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi,
pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain).
2. Konflik
Timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam-macam keinginan,
kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya approach-approach conflict, approach-avoidance
conflict, avoidance -avoidance conflict.
3. Tekanan
Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari
dalam diri individu.

4. Krisis
Krisis yaitu keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stress pada individu,
misalnya kematian orang yang disayangi, kecelakaan dan penyakit yang harus segera
operasi. Keadaan stress dapat terjadi beberapa sebab sekaligus, misalnya frustasi,
konflik dan tekanan.

E. Tahapan stress
Menurut Dr.Robert J. Van Amberg (1979), sebagaimana dikemukakan oleh Prof.
Dadang Hawari (2001) bahwa tahapan stress ada 6 tahapan, yaitu sebagai berikut :
1. Stress tahap pertama (paling ringan), yaitu stress yang disertai perasaan nafsu
bekerja yang besar dan berlebihan, mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa
memperhitungkan tenaga yang dimiliki, dan penglihatan menjadi tajam.
2. Stress tahap kedua, yaitu stress yang disertai keluhan, seperti bangun pagi tidak segar
atau letih, lekas capek pada saat menjelang sore, lekas lelah sesudah makan, tidak
dapat rileks, lambung atau perut tidak nyaman, jantung berdebar, dan punggung
tegang. Hal ini karena cadangan tenaga tidak memadai.
3. Stress tahap ketiga, yaitu tahapan stress dengan keluhan, seperti defekasi yang tidak
teratur, otot semakin tegang, emosional, insomnia, mudah terjaga dan sulit tidur
kembali, koordinasi tubuh terganggu, dan mau jatuh pingsan.
4. Stress tahap keempat, yaitu tahapan stress dengan keluhan, seperti tidak mampu
bekerja sepanjang hari, aktivitas pekerjaan terasa sulit dan menjenuhkan, kegiatan
rutin terganggu, gangguan pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya
ingat menurun, serta timbul ketakutan dan kecemasan.
5. Stress tahap kelima, yaitu tahapan stress yang ditandai dengan kelelahan fisik dan
mental, ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan yang sederhana dan ringan,
gangguan pencernaan berat, meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung, dan panik.

6. Stress tahap keenam (paling berat), yaitu tahapan stress dengan tanda-tanda seperti
jantung berdebar keras, sesak napas, badan gemetar, dingin, dan banyak keluar
keringat, loyo, serta pingsan atau collaps.
F. Reaksi-reaksi terhadap stress
Stress dapat menimbulkan berbagai macam reaksi, baik reaksi terhadap tubuh
maupun terhadap psikologis. Adapun reaksi tubuh terhadap stress sebagai berikut.
1. Rambut
Rambut semula yang berwarna hitam pekat, lambat laun akan mengalami
perubahan warna. Ubanan terjadi sebelum waktunya, demikian pula dengan
kerontokan rambut.
2. Mata
Ketajaman mata seringkali terganggu. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola
mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga mempengaruhi fokus lensa
mata.
3. Telinga
Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdenging (tinitus).
4. Daya pikir
Kemampuan mengingat, berpikir, dan konsentrasi menurun. Seringkali menjadi
pelupa dan mengeluh sakit kepala pusing.
5. Ekspresi wajah
Orang yang stress wajahnya nampak tegang, dahi berkerut, mimik wajah nampak
serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum atau tertawa dan kulit muka
kedutan.
6. Mulut
Mulut dan bibir terasa kering sehingga seseorang sering minum. Selain itu, pada
tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga ia sukar untuk menelan, hal ini
disebabkan karena otot-otot lingkar di tenggorokan mengalami spasme (muscle
cramps) sehingga serasa tercekik.
7. Kulit
Reaksi kulit bermacam-macam, pada kulit dari sebagian tubuh terasa panas atau
dingin dan bahkan keringat berlebihan. Reaksi lain kelembaban kulit yang berubah,

kulit menjadi lebih kering. Selain itu, bisa terkena penyakit kulit, seperti munculnya
eksim, urtikaria (biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat
(acne) berlebihan, juga sering dijumpai kedua belah tapak tangan dan kaki
berkeringat.
8. Sistem Pernafasan
Pernafasan seseorang yang sedang mengalami stres dapat terganggu misalnya
nafas terasa berat dan sesak disebabkan terjadi penyempitan pada saluran pernafasan
mulai dari hidung, tenggorokan dan otot-otot rongga dada. Nafas terasa sesak dan
berat dikarenakan otot-otot rongga dada (otot-otot antar tulang iga) mengalami
spasme dan tidak atau kurang elastis sebagaimana biasanya. Sehingga ia harus
mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu
timbulnya penyakit asma (asthma bronchiale) disebabkan karena otot-otot pada
saluran nafas dan paru-paru mengalami spasme.
9. Sistem Kardiovaskuler
Sistem jantung dan pembuluh darah dapat terganggu faalnya karena stres.
Misalnya, jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar (dilatation) atau
menyempit (constriction) sehingga yang bersangkutan nampak mukanya merah atau
pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama di bagian ujung jari-jari tangan atau
kaki juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan. Selain daripada itu
sebagian atau seluruh tubuh terasa panas (subfebril) atau sebaliknya terasa
dingin.
10. Sistem Pencernaan
Seringkali seseorang

yang

stress

mengalami

gangguan

pada

sistem

pencernaannya. Misalnya, pada lambung terasa kembung, mual dan pedihd. Hal ini
disebabkan karena asam lambung yang berlebihan (hiperacidity). Dalam istilah
kedokteran disebut gastritis atau dalam istilah awam dikenal dengan sebutan

penyakit maag. Selain gangguan pada lambung tadi, gangguan juga dapat terjadi
pada usus, sehingga yang bersangkutan merasakan perutnya mulas, sukar buang air
besar atau sebaliknya sering diare.
11. Sistem Perkemihan.
Orang yang sedang menderita stress faal perkemihan (air seni) dapat juga
terganggu. Frekuensi untuk buang air kecil lebih sering dari biasanya, meskipun ia
bukan penderita kencing manis (diabetes mellitus).
12. Sistem Otot dan tulang
Orang yang menderita stress seringkali juga mengalami gangguan pada otot dan
tulang (musculoskeletal). Otot terasa sakit seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang.
Selain itu, keluhan-keluhan pada tulang persendian sering pula dialami, misalnya
rasa ngilu atau rasa kaku bila menggerakan anggota tubuhnya. Masyarakat awam
sering mengenal gejala ini sebagai keluhan pegal-linu.
13. Sistem Endokrin
Gangguan pada sistem endokrin (hormonal) pada mereka yang mengalami stress
adalah kadar gula yang meninggi, dan bila hal ini berkepanjangan bisa
mengakibatkan yang bersangkutan menderita penyakit kencing manis (diabetes
mellitus). Gangguan hormonal lain misalnya pada wanita adalah gangguan
menstruasi yang tidak teratur dan rasa sakit (dysmenorrhoe).
Sedangkan reaksi psikologis terhadap stress antara lain :
1. Kecemasan
Kecemasan merupakan respon yang paling umum Merupakan tanda bahaya yang
menyatakan diri dengan suatu penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan.
Jantung berdebar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan
susah tidur.
2. Kemarahan dan agresi
Merupakan perasaan jengkel sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan
sebuah ancaman. Reaksi umum lain terhadap situasi stress yang mungkin dapat

menyebabkan agresi. Agresi adalah kemarahan yang meluap-luap, dan orang


melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar.Kadang-kadang
disertai perilaku kegilaan, tindakan sadis dan usaha membunuh orang.
3. Depresi
Keadaan yang ditandai dengan hilangnya gairah dan semangat. Terkadang disertai
rasa sedih yang berkepanjangan.

G. Adaptasi
Ada beberapa pengertian tentang mekanisme penyesuaian diri, antara lain :
a) Menurut Soeharto Heerdjan (1987), Penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku
yang tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan.
b) Penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai keadaan lingkungan, tetapi juga
mengubah lingkungan sesuai keadaan (keinginan diri)(W.A.Gerungan , 1996).
Jadi, adaptasi adalah suatu perubahan yang menyertai individu dalam
merespons terhadap perubahan yang ada di lingkungan dan dapat memengaruhi
keutuhan tubuh baik secara fisiologis maupun psikologis yang akan menghasilkan
perilaku adaptif.
H. Dimensi Adaptasi
Adaptasi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu :
1. Adaptasi fisiologis
Indikator adaptasi ini bisa terjadi secara lokal atau umum. Lebih mudah
diidentifikasi dan secara umum dapat diamati atau diukur. Namun demikian,
indikator ini tidak selalu teramati sepanjang waktu pada semua klien yang
mengalami stress, dan indikator tersebut bervariasi menurut individunya. Tanda vital
biasanya meningkat dan klien mungkin tampak gelisah dan tidak mampu untuk
beristirahat serta berkonsentrasi. Indikator ini dapat timbul sepanjang tahap stress.

Contoh :
i.
Seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan yang berat dan
ii.

tidak merasa mengalami gangguan apa-apa pada organ tubuh.


Seseorang yang mampu mengatasi stress, wajahnya tidak pucat, tangannya

tidak berkeringat dan tidak gemetar.


2. Adaptasi psikologis
Adaptasi psikologis bisa terjadi secara :
a) Sadar, individu mencoba memecahkan atau menyesuaikan diri dengan masalah
b) Tidak sadar , menggunakan mekanisme pertahanan diri (defence mechanism)
c) Menggunakan gejala fisik atau psikofisiologik/psikosomatik.
Apabila seseorang mempunyai kesulitan atau hambatan dalam beradaptasi, baik
berupa tekanan, perubahan, maupun ketegangan emosi dapat menimbulkan stress.
3. Adaptasi Perkembangan
Stres yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk
menyelesaikan tugas perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, seseorang
biasanya menghadapi tugas perkembangan dan menunjukkan karakteristik perilaku
dari tahap perkembangan tersebut. Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu
atau menghambat kelancaran menyelesaikan tahap perkembangan tersebut. Dalam
bentuk yang ekstrem, stress yang berkepanjangan dapat mengarah pada krisis
pendewasaan.
4. Adaptasi Sosial Budaya
Mengkaji stressor dan sumber koping dalam dimensi sosial mencakup penggalian
bersama klien tentang besarnya, tipe, dan kualitas dari interaksi sosial yang ada.
Stresor pada keluarga dapat menimbulkan efek disfungsi yang mempengaruhi klien
atau keluarga secara keseluruhan (Reis & Heppner, 1993). Misalnya klien dari suku
Afrika-Amerika mungkin lebih menyukai mendapatkan dukungan sosial dari
anggota keluarga ketimbang dari bantuan professional (Murata, 1994).
5. Adaptasi Spiritual
Orang menggunakan sumber spiritual untuk mengadaptasi stress dalam banyak
cara, tetapi stress dapat juga bermanifestasi dalam dimensi spiritual. Stress yang

berat dapat mengakibatkan kemarahan pada Tuhan, atau individu mungkin


memandang stressor sebagai hukuman. Stresor seperti penyakit akut atau kematian
dari orang yang disayangi dapat mengganggu makna hidup seseorang dan dapat
menyebabkan depresi. Ketika perawatan pada klien yang mengalami gangguan
spiritual, perawat tidak boleh menilai kesesuaian perasaan atau praktik keagamaan
klien tetapi harus memeriksa bagaimana keyakinan dan nilai telah berubah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Stress adalah suatu ketidakseimbangan diri atau jiwa dan realitas kehidupan setiap
hari yang tidak dapat dihindari perubahan yang memerlukan penyesuaian. Sering
dianggap sebagai kejadian atau perubahan negatif yang dapat menimbulkan stress,
seperti cedera, sakit atau kematian orang yang dicintai, putus cinta. Perubahan positif
juga dapat menimbulkan stress, seperti naik pangkat, perkawinan, jatuh cinta.
Sedangkan stress yang terjadi pada setiap individu berbeda-beda tergantung pada
masalah yang dihadapi dan kemampuan menyelesaikan masalah tersebut. Jika
masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik maka individu tersebut akan senang,
sedangkan jika masalah tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik dapat
menyebabkan individu tersebut marah-marah, frustasi hingga depresi.

Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam
berespon terhadap stress.. Ada banyak bentuk adaptasi. Adaptasi fisiologis
memungkinkan homeostasis fisiologis. Namun demikian mungkin terjadi proses
yang serupa dalam dimensi psikososial dan dimensi lainnya. Suatu proses adaptif
terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan eksternal menyebabkan
penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan demikian adaptasi adalah suatu
upaya untuk mempertahankan fungsi yang optimal
B. Saran
Setelah kita tahu lebih banyak tentang stress, mudah-mudahan bisa membantu
kita semua untuk dapat menghadapi setiap stress yang dialami dengan bijaksana.
Segala persoalan dalam hidup bukanlah untuk dihindari tapi untuk dihadapi dengan
bijaksana. Caranya adalah dengan memperlengkapi diri kita dengan skill hidup (life
skill) yang terbaik untuk menghadapinya.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Sunaryo, M.Kes (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC


Suliswati, Yenni Sianturi, dkk (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Jakarta : EGC
Fadilla, Avin. 1999. Beberapa Teori Psikologi Lingkungan. Diakses pada : April
2015. http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/hidupdikota_ avin.pdf
www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/.../bab7-stres_lingkungan.pdf.
April 2015

Diakses

pada:

Anda mungkin juga menyukai