Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MAKALAH HUKUM PAJAK

Subjek Pajak Penghasilan

Nama

: Ellen Setya H

NPM

: 2013200047

Kelas

:C

Dosen : Dr. Oyok Abuyamin, S.H,.M.H.,M.Si

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
BANDUNG

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat dan rahmat-Nya saya bisa menyelesaikan makalah
tentang Subjek Pajak Penghasilan. Makalah ini diajukan guna
memenuhi nilai tugas pertama tugas mata kuliah Hukum Pajak.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, oleh karena itu, kritik serta saran yang
sekiranya bersifat membangun sangat saya harapkan demi
sempurnya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu
pengetahuan bagi kita semua.

Bandung, 25 Agustus 2015


Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................1
Kata Pengantar...........................................................................................2
Daftar Isi......................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang............................................................................................4
Rumusan Masalah......................................................................................5
Tujuan Makalah...........................................................................................6
Manfaat Makalah.........................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Pustaka.........................................................................................7
BAB III PEMBAHASAN
Pembahasan dan Analisis.........................................................................12
BAB IV PENUTUP
Penutup.....................................................................................................17
Daftar Pustaka...........................................................................................18

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Rochmat Soemitro, pajak adalah gejala masyarakat, artinya
pajak hanya ada di dalam masyarakat1. Masyarakat adalah kumpulan
manusia yang pada suatu waktu berkumpul untuk tujuan tertentu. Negara
adalah masyarakat yang mempunyai tujuan tertentu. Kelangsungan hidup
negara juga berarti kelangsungan hidup masyarakat dan kepentingan
masyarakat. Untuk kelangsungan hidup masing-masing diperlukan biaya.
Biaya hidup individu, menjadi beban dari individu yang bersangkutan dan
berasal dari penghasilannya sendiri. Biaya hidup negara adalah untuk
kelangsungan alat-alat negara, administrasi negara, lembaga negara, dan
seterusnya, dan harus dibiayai dari penghasilan negara.
Pada mulanya pajak bukan merupakan suatu pungutan melainkan
hanya berupa pemberian secara sukarela oleh rakyat kepada raja dalam
memelihara kepentingan negara, seperti menjaga keamanan negara,
menyediakan jalan umum, membayar gaji pegawai dan lain-lain. Bagi
penduduk yang tidak melakukan penyetoran maka ia diwajibkan melakukan
pekerjaan-pekerjaan untuk kepentingan umum untuk beberapa hari lamanya
dalam satu tahun.
Penghasilan negara adalah berasal dari rakyatnya melalui pungutan
pajak, dan atau dari hasil kekayaan alam yang ada di dalam negara itu
(natural resources).Dua sumber itu merupakan sumber terpenting yang
memberikan penghasilan kepada negara. Penghasilan itu untuk membiayai
1

Rochmat Soemitro, Pengantar Singkat Hukum Pajak, Eresco,


Bandung, 1892

kepentingan umum yang akhirnya juga mencakup kepentingan pribadi


individu seperti kesehatan masyarakat, pendidikan, kesejahteraan dan
sebagainya. Jadi, dimana ada kepentingan masyarakat, disana timbul
pungutan pajak sehingga pajak adalah senyawa dengan kepentingan umum.
Pungutan pajak memang pada dasarnya mengurangi penghasilan
ataupun kekayaan individu akan tetapi sebaliknya merupakan penghasilan
masyarakat yang kemudian di kembalikan lagi kepada masyarakat, melaui
pengeluaran-pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang
akhirnya kembali lagi kepada seluruh masyarakat yang bermanfaat bagi
rakyat, baik yang membayar maupun tidak. Seperti yang dikatakan oleh
Rohmat Soemitro bahwa membayar pajak itu tidak saja berarti kewajiban ikut
serta memikul beban negara (pengeluaran negara), tetapi juga merupakan
hak untuk serta memikul sebagian dari beban negara, sesuai dengan
kemampuannya.2
Pajak mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan bernegara,
khususnya didalam pembangunan karena pajak merupakan sumber
penghasilan negara untuk membiayai semua pengeluaran, termasuk
pengeluaran pembangunan. Sistem pemungutan pajak di indonesia adalah
Self Assessment System yang berarti wajib pajak diberikan kepercayaan
untuk memperhitungkan, menyetorkan, dan melaporkan sendiri atas pajak
yang terhutang terhadap negara. Disamping cara Self Assessment System
terdapat cara lain yaitu sistem pemotongan (withholding system). Withholding
System merupakan cara yang paling mudah yang dilakukan pemerintah untuk
memungut pajak, yaitu dengan cara mewajibkan wajib pajak untuk melakukan
pungutan dan pemungutan pajaknya oleh pihak lain. Dengan cara ini maka
pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk memungut
pajak.
Dalam pemungutan pajak subjek dan objek pajak harus jelas. Oleh
karena itu harus dikelola dengan baik dan benar sehingga data wajib pajak
sesuai. Selain itu, tarif pajak harus ditentukan berdasarkan ketentuan yang
berlaku saat itu. Dengan demikian para wajib pajak dapat rutin dan patuh
membayar pajak. Subjek pajak adalah orang, badan atau kesatuan lainnya
yang telah memenuhi syarat-syarat subjektif, yaitu bertempat tinggal atau
2

Ibid, hlm. 87

berkedudukan di Indonesia. Subjek pajak baru menjadi wajib pajak bila telah
memenuhi syarat-syarat obyektif. Objek pajak adalah apa yang dikenakan
pajak. Mengingat penting dan strategisnya objek pajak karena menyangkut
apa yang dikenakan atau tidak dikenakannya pajak atas objek dimaksud,
sehingga dalam UU perpajakan kita selalu dengan tegas dinyatakan apa yang
menjadi objek setiap jenis pajak.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah-masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa dasar hukum dari subjek pajak penghasilan?
2. Apa definisi dari pajak penghasilan?
3. Siapa saja yang menjadi subjek pajak?

C. TUJUAN MAKALAH
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa saja yang menjadi dasar hukum dari subjek pajak penghasilan
2. Definisi dari pajak penghasilan
3. Siapa saja yang berhak menjadi subjek pajak

D. MANFAAT MAKALAH
1. Dapat mengetahui secara lebih jelas tentang subjek pajak dan pengertian
dari pajak penghasilan serta dasar hukum yang menjadi landasan bagi
subjek pajak penghasilan tersebut

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN PUSTAKA

Sebelum membahas tentang Pajak Penghasilan, ada baiknya kita


mengatahui tentang arti dari kata pajak itu sendiri. Karena dengan memahami
tentang arti dari pajak itu sendiri, kita akan lebih mudah mempelajari dan
mengerti tentang seluk-beluk perpajakan di Indonesia.
Pengertian pajak sendiri menurut Undang-undang Nomor 28 tahun
2007 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) adalah
kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Adapun di dalam pajak terdapat 5 unsur pokok dalam definisi pajak yaitu:
1. Iuran / pungutan
2. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang
3. Pajak dapat dipaksakan
4. Tidak menerima kontra prestasi
5. Untuk membiayai pengeluaran umun pemerintah
Jenis-jenis Pajak:
Secara umum jenis pajak dibedakan menjadi pajak pusat dan pajak
daerah. Contoh dari
pajak pusat adalah:
1. Pajak Penghasilan (PPh)
2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

3. Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM)


4. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Akan tetapi sejak tahun 2012, khusus untuk jenis pajak Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), pengelolaan terhadap jenis pajak ini sebagian dialihkan
kepada Pemerintah Daerah (Pemda).

B. Pengertian Pajak
Kegiatan yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat baik materiil maupun
spiritual, dimana tujuan tersebut perlu banyak memperhatikan masalah
pembiayaan pembangunan. Salah satu usaha untuk mewujudkan
kemandirian suatu bangsa atau Negara dalam pembiayaan pembangunan
yaitu menggali sumber dana yang berasal dari dalam negeri berupa pajak.
Pajak digunakan untuk membiayai pembangunan yang berguna bagi
kepentingan bersama. Pembebanan pajak oleh pemerintah yang berbentuk
pemungutan pajak terhadap wajib pajak, pada hakikatnya merupakan
perwujudan dari pengabdian kewajiban dan peran serta wajib pajak untuk
langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan yang
diperlukan untuk pembiayaan Negara dan pembangunan nasional.
Namun satu hal yang harus diingat bahwa pajak bukanlah merupakan
iuran yang sifatnya sukarela, akan tetapi iuran yang dapat dipaksakan,
sehingga kelalaian dalam memenuhi kewajiban perpajakan dapat merugikan
wajib pajak yang bersangkutan, dengan kemungkinan-kemungkinan surat
paksa, sita dan lelang serta sanksi-sanksi pidana yang dapat diancam
dengan pidana kurungan atau penjara. Membayar pajak bukanlah merupakan
tindakan sederhana tetapi terdapat banyak hal yang bersifat emosional. Pada

dasarnya, tidak seorangpun yang senang membayar pajak dan bertahan


terhadap pembayaran pajak.
Seiring dengan perkembangan perekonomian Indonesia akan diikuti
pula dengan kebijakan-kebijakan dibidang pajak, oleh karena itu pajak
merupakan fenomena yang selalu berkembang dimasyarakat. Apabila
membahas pengertian pajak banyak para ahli yang memberikan batasan
mengenai pajak.
Menurut Muda Markus dan Lalu Hendry Yujana mengatakan bahwa
harta kekayaan rakyat yang berdasarkan Undang-undang sebagian wajib
pajak diberikan oleh rakyat kepada Negara, tanpa mendapat kontraprestasi
yang diterima rakyat secara individual dan langsung dari negara serta bukan
merupakan penalti, yang berfungsi sebagai dana untuk penyelenggaraan
Negara, dari sisanya jika ada digunakan untuk pembangunan serta berfungsi
sebagai instrumen untuk mengatur kehidupan sosial ekonomi masyarakat. 3
Menurut Rochmat Soemitro mengungkapkan bahwa pajak adalah iuran
rakyat kepada kas Negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang
langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran
umum. 4
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri
yang melekat pada pengertian pajak, adalah :
1. Pajak dipungut berdasarkan Undang-undang serta aturan pelaksanaannya
yang sifatnya dapat dipaksakan.
2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi
individual oleh pemerintah.
3
4

Muda Markus dan Lalu Hendry Yujana, Pajak Penghasilan, 2002 hlm. 9

Rochmat Soemitro, Perpajakan Teori dan Kasus, 2004 hlm. 613

3. Pajak dipungut oleh Negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah


daerah.
4. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila
dari pemasukannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk membiayai
public investment.
5. Pajak dapat pula mempunyai tujuan selain budgeter yaitu mengatur.

C. Pengertian Pajak Penghasilan (PPh)

Muda Markus dan Lalu Hendry Yujana


Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek
pajak atas penghasilan yang diperolehnya dalam satu tahun pajak

D. Pengertian Subjek Pajak


Subjek pajak diartikan sebagai orang yang dituju oleh Undang-undang
untuk dikenakan pajak. Pajak Penghasilan (PPh) yang dikenakan terhadap
subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya
dalam tahun pajak. Sedangkan menurut Waluyo dan Wirawan yang dimaksud
dengan subjek pajak adalah:
1. Orang Pribadi
2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
3. Badan
4. Bentuk Usaha Tetap (BUT)5

E. Dasar Hukum
Pajak Penghasilan sendiri telah diatur serta memiliki kekuatan hukum yang
tertuang di dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak
Penghasilan. Adapun Undang-Undang ini terlah beberapa kali mengalami
perubahan, dan yang terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2008 Tentang Perbuahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7
Thaun 1983 Tentang Pajak Penghasilan (UU PPh)

Waluyo dan Wirawan, Perpajakan Indonesia, 2000;42

1
0

BAB III
PEMBAHASAN
A. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat
Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan
2. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 574/KMK.04/2000 yang telah diubah
beberapa kali terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 601/KMK.03/2005 tentang Organisasi-organisasi Internasional dan
Pejabat Perwakilan Organisasi Internasional yang Tidak Termasuk sebagai
Subjek Pajak Penghasilan
Adapun undang-undang yang masih berlaku yaitu Undang- Undang 36 Tahun
2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun
1983 Tentang Pajak Penghasilan merupakan perubahan keempat dari
Undang-Undang Pajak Penghasilan yang pertama yaitu Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan.

B. Definisi Pajak Penghasilan


1. Pajak Penghasilan
Definisi dari pajak penghasilan ini tercantum di dalam Pasal 1 UndangUndang Nomor 10 Tahun 1994 yang berbunyi: Pajak Penghasilan
dikenakan terhadap Subjek Pajak atas Penghasilan yang diterima atau
diperolehnya dalam tahun Pajak.
2. Berkenaan dengan penghasilan yang diterima
Di dalam penjelasan Pasal 1 Undang-Undang Nomor. 36 Tahun 2008
dijelaskan bahwa berkenaan dengan penghasilan yang diterima
dinyatakan bahwa:
a. Pajak Penghasilan terhadap subjek pajak.
Undang-Undang ini mengatur pengenaan Pajak Penghasilan terhadap
subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau
diperolehnya dalam tahun pajak
b. Apabila menerima atau memperolah penghasilan, subjek pajak
tersebut dikenai pajak apabila menerima atau memperoleh
penghasilan

1
1

c. Subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan, dalam


UU ini disebut dengan Wajib Pajak
d. Pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya selama satu
tahun pajak/ dapat pula dikenai pajak untuk penghasilan dalam bagian
tahun pajak, Wajib pajak dikenai pajak atas penghasilan dalam bagian
tahun pajak apabila kewajiban pajak subjektinya dimulai atau berakhir
dalan tahun pajak
e. Tahun Pajak dan Tahun Buku , yang dimaksud dengan Tahun Pajak
dalam Undang-Undang ini adalah tahun kalender, tetapi WP dapat
menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender,
sepanjang tahun buku tersebut meliputi jangka waktu 12 ( dua belas)
bulan.

C. Subjek Pajak
Secara garis besar subjek pajak adalah pihak-pihak (orang maupun
badan) yang akan dikenakan pajak, sedangkan objek pajak adalah segala
sesuatu yang akan dikenakan pajak. Wajib pajak adalah subjek pajak yang
telah memenuhi syarat-syarat objektif sehingga kepadanya diwajibkan pajak.
Dengan perkataan lain. Setiap wajib pajak adalah subjek pajak.
Subjek pajak adalah orang, badan atau kesatuan lainnya yang telah
memenuhi syarat-syarat subjektif, yaitu bertempat tinggal atau
berkedudukan di Indonesia. Subjek pajak baru menjadi wajib pajak bila telah
memenuhi syarat-syarat obyektif.
Subjek pajak tidak identik dengan subjek hukum, oleh karena itu untuk
menjadi subjek pajak tidak perlu menjadi subjek hukum. Sehingga firma,
perkumpulan, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan dapat
menjadi subjek pajak. Demikian juga orang gila, anak yang masih di bawah
umur dapat menjadi subjek atau wajib pajak, tetapi untuk mereka perlu
ditunjuk orang atau wali yang dapat dipertanggungjawabkan untuk
memenuhi kewajiban-kewajibannya.
a. Subjek Pajak dari Pajak Penghasilan (PPh)

1
2

Secara umum pengertian subjek pajak adalah siapa yang dikenakan


pajak. Secara praktik termasuk dalam pengertian subjek pajak meliputi
orang pribadi dan warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan,
badan, dan bentuk usaha tetap. Berdasarkan Pasal 2 ayat 1 UU No. 36
Tahun 2008, Subjek pajak tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut :
1) Orang Pribadi dan Warisan yang Belum Terbagi sebagai Satu
Kesatuan Menggantikan yang Berhak
Kedudukan orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal
atau berada di Indonesia ataupun di luar Indonesia. Orang pribadi tidak
melihat batasan umur dan juga jenjang sosial ekonomi, dengan kata lain
berlaku sama untuk semua (non dicrimination).
Sedangkan warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
merupakan subjek pajak pengganti, menggantikan menggantikan mereka
yang berhak yaitu ahli waris. Penunjukan ahli warisan tersebut dimaksudkan
agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut
tetap dapat dilakasanakan, demikian juga dengan tindakan penagihan
selanjutnya.
2) Badan
Badan adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha atau tidak melakukan usaha yang
meliputi :
1. Perseroan Terbatas (PT)
2. Perseroan Komanditer
3. Perseroan atau perkumpulan lainnya
4. Badan usaha milik negara (BUMN) atau badan usaha milik daerah
(BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun.
5. Firma
6. Kongsi
7. Koperasi
8. Dana pensiun
9. Persekutuan
10. Yayasan
11. Organisasi massa
12. Organisasi sosial politik
13. Bentuk usaha tetap
14. Bentuk usaha lainnya.

3) BUMN dan BUMD

1
3

Badan Usaha Milik negara dan badan usaha milik daerah merupakan
subjek pajak tanpa memperhatikan nama dan bentuknya sehingga
setiap unit tertentu dari badan pemerintah, misalnya lembaga, badan,
dan sebagainya yang dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah
daerah yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan untuk
memperoleh penghasilan merupakan subjek pajak.
4) Perkumpulan
Dalam pengertian perkumpulan termasuk pula asosiasi, persatuan,
perhimpunan, atau ikatan dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan
yang sama.
5) Bentuk Usaha Tetap
Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang digunakan
oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam dalam jangka waktu 12 bulan, atau
juga badan yang didirkan atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia
untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat
berupa :
1. Tempat kedudukan manajemen
2. Cabang perusahaan
3. Kantor perwakilan
4. Gedung kantor
5. Pabrik
6. Bengkel
7. Pertambangan dan penggalian sumber alam
8. Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi
9. Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan atau kehutanan
10. Gudang
11. Ruang untuk promosi atau penjualan
12. Proyek konstruksi, instalasi atau proyek perakitan
13. Pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau oleh orang
lain
14. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak
bebas
15. Agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan
tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi atau
menanggung resiko di Indonesia
16. Komputer, agen elektronik atau peralatan otomatis yang dimiliki sewa
atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk
menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

1
4

1
5

BAB IV
PENUTUP
Dari penjelasan yang ditelah disampaikan oleh makalah ini dapat
disimpulkan bahwa:
1. Dasar hukum bagi pajak penghasilan (PPh) pada awalnya adalah
Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan,
akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman maka undangundang ini mengalami pembaharuan sebanyak empat kali. Sehingga
dasar hukum bagi pajak penghasilan yang berlaku hingga sekarang
adalah Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Perubahan
Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan.
2. Definisi dari Pajak Penghasilan tercantum didalam Pasal 1 Undangundang Nomor 10 Tahun 1994 yang berbunyi bahwa dikenakan
terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau
diperolehnya dalam Tahun Pajak
3. Subjek Pajak
Yang menjadi subjek pajak adalah:
1. Orang pribadi
2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan
3.
4.
5.
6.

yang berhak
Badan
BUMN dan BUMD
Perkumpulan
Bentuk Usaha Tetap

1
6

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.

Soemitro, Rochmat. 1892. Pengantar Singkat Hukum Pajak. Bandung: Eresco


Soemitro, Rochmat. 1991
http:forum.kompas.com
Markus, Muda., dan Hendry Yujana. 2002. Pajak Penghasilan
5. Soemitro, Rochmat. 2004. Perpajakan Teori dan Kasus. Bandung:Eresco

1
7