Anda di halaman 1dari 9

PERAN MAHASISWA DALAM MENANGGULANGI KORUPSI DI MASA DEPAN??

Secara definisi, korupsi adalah suatu tindakan penyalahgunaan waktu, infrastruktur, uang,
inventaris, wewenang dan kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu
guna menguntungkan bagi seseorang ataupun suatu kelompok tersebut. Korupsi sebenarnya tidak
sebatas hanya pada uang saja, melainkanjuga bisa berupa waktu, kekuasaan, infrastruktur, dan
inventaris pemerintahan yang tetentunya bertujuan untung memberikan untung bagi pribadi
maupun kelompok. Tapi kesemua aspek tersebut tidak mungkin dilakukan salah satunya saja.
Karena saling berkaitan dan tidak mungkin dipisahkan dalam tindakan korupsi tersebut. Kita
ambil contoh, seorang melakukan korupsi, pada awalnya hanya mangkir dari tugas saja, tapi
kemudian dia menggunakan inventaris pemerintahan untuk keperluan dia diluar urusan
pekerjaannya yang secara otomatis dia menyalahgnakan kekuasaannya sampai akhrnya dia
menilap uang rakyat untuk kepentingannya sendiri.
Kalo kita bicara tentang Negara kita tercinta, Indonesia adalah salah satu negara terkorup
di dunia, yang menempati urutan ke-3 di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina menurut data
ICW. Yang lebih membuat kita miris lagi adalah, dana untuk bantuan bencana alam dan orang
miskin ikut masuk ke kantong para manusia laknat ini. benar-benar perbuatan yang sangat
terkutuk yang ujung-ujungnya menghancurkan generasi muda dan memiskinkan orang Indonesia
saja.
Namun anehnya kasus-kasus korupsi yang benar-benar terlihat di depan mata sangat
susah dibongkar sehingga kasus-kasus korupsi hanya sebagian yang terungkap, bahkan ada
istilah tebang pilih dalam artian kalau membahayakan kedudukan pejabat tertentu kasus tersebut
akan dipeti eskan sedangkan bila tidak berbahaya kepada dirinya dan hanya kepada lawan
politiknya kasus tersebut akan diusut sampai tuntas.
Korupsi itu bagaikan suatu penyakit komplikasi akut yang penyebarannya lebih cepat dan
hebat dibandingkan dengan penyakit AIDS sekalipun. Dan penyakit ini jelas memmbutuhkan
banyak dokter-spesialis yang ahli untuk menangani dan menananggulangi penyakit tersebut.
Salah satunya adalah Gerakan Mahasiswa. Karena Mahasiswa adalah Agent of Change
yang independen dan benar-benar merasakan penderitaan rakyat akibat korupsi itu.
Coba kita telaah dan ingat lagi sejarah di tahun 1998 dimana hancurnya Era Orde Baru
dan lahirnya Reformasi yang merupakan perjuangan keras seluruh masyarakat terutama
mahasiswa. Ada sesuatu yang tertinggal dan belum terselesaikan dalam rangka reformasi
Indonesia ke arah yang lebih baik. Jika menilik dan mencermati gerakan yang telah digagas oleh
angkatan 98, kita akan menemukan bahwa reformasi memiliki 2 agenda besar : 1).
Menumbangkan symbol rezim orde baru (Presiden Soeharto), dan 2). Mengisi pos-pos reformasi
dengan kekuatan non status Quo untuk mengubah kebijakan arah Indonesia. Dalam
implementasinya, tampaknya ada sesuatu yang terlupa dalam analisis mahasiswa saat itu, yakni
kekuatan orde baru yang seolah-olah menjadi bersayap ke seluruh elemen pemerintahan setelah
simbol mereka tumbang. Bukankah begitu??
Terbukti cengkraman orde baru semakin kokoh ke sektor-sektor penguasaan hajat hidup
orang banyak. Korupsi di BUMN menempati peringkat tertinggi jauh meninggalkan peringkat
kedua dan ketiganya, DPR/DPRD dan Pemerintah Daerah. Sesuatu yang salah adalah karena kita
sendiri melupakan tujuan utama kita dalam menghancurkan Orde Baru dan melahirkan
Reformasi. Kita malah sibuk dalam mencari kursi kosong yang telah ditinggalkan oleh
bandit-bandit OrBa. Belum lagi ditambah aliansi-aliansi strategis terpecah setelah soeharto
lengser. Masing-masing elemen gerakan menjadi euforian dan melupakan kekuatan utamanya,
kesatuan gerak. Kesalahan ini ternyata harus ditebus dengan harga yang mahal, keterpurukan

yang semakin menjadi-jadi dalam masyarakat kita. Kapitalis semakin mengurat akar dalam
kehidupan bangsa Indonesia.
Budaya konsumtif dan having fun telah menjadi tren. Sekarang musuh gerakan
mahasiswa tidak hanya sebuah Tirani kekuasaan yang tampak, tapi juga yang tidak tampak kini
telah menampar kaum idealis. Gerakan mahasiswa kini blur dalam mengambil tindakan. Masingmasing elemen gerakan tidak berada dalam satu strategi yang sama dalam mengisi perbaikan.
Kekuatan mahasiswa yang utama, intelektual, idealism, dan kebersamaan perlahan mulai
melemah.
Kebersamaan dalam mengusung satu gerakan yang sama harus tercerai berai oleh
egoisme dan syahwat gerakan : popularitas jalanan.Ditambah dengan kapasitas internal kaum
muda mahasiswa saat ini yang sudah pas-pasan, membuat kita menjadi gagap dalam mengambil
tindakan terhadap perbaikan bangsa Indonesia. Kita menjadi tidak percaya diri dan pesimis
bahwa mahasiswa mampu mengambil langkah-langkah perbaikan bangsa. Kita juga sudah
melupakan sejarah, dimana Moehammad Natsir dalam usia berkisar 21-24 tahun mampu
merumuskan perbaikan bangsa dan berdiskusi serius panjang lebar dengan Soekarno selaku
presiden Indonesia. Melemahnya budaya diskusi, menulis, berpikir sesuatu untuk perbaikan
bangsa telah menjadi ciri kaum muda sekarang. Melihat sesuatu yang salah dalam gerakan
mahasiswa, ditambah dengan menurunnya idealisme mahasiswa serta terjangkitnya mahasiswa
dengan virus-virus neoliberalisme apakah kita selaku mahasiswa akan tetap diam saja?
Bukankah fitrah pemuda sebagai anashir Al Ishlah (Unsur perbaikan)?.
Tentu saja tidak jawabannya! Walaupun dengan kondisi pincang, namun kita harus tetap
berjuang. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menggenapi kekuatan kita dan perkecil
kekurangannya. Semua tindakan kita tidak akan melempem jika kita tidak massif dalam
bergerak.
Pertama, secara kultural, kita selaku mahasiswa bisa memberikan sebuah pendidikan kepada
masyarakat (civic education) yang terlebih dahulu kita para mahasiswa wajib memahami betul
apa itu Civic education. Pendidikan yang diberikan terbagi menjadi dua bagian, sektor kejiwaan
(erat kaitannya dengan agama) dan sektor intelektual (perubahan pola piker masyarakat).
Pendidikan ini akan menjadi acuan bagi masyarakat dalam memilah dan menganalisa kasus
korupsi yang terjadi dalam institusi-institusi masyarakat.
Kedua, masih bermain secara kultural, jika mahasiswa mampu berartikulasi dalam sebuah
gerakan formal (BEM/UKM), tetap mengagendakan pengawalan APBD/APBN dalam rangka
terus menjadi pressure group bagi pemerintah. Setidaknya koruptor akan menjadi lebih awas
terhadap perilakunya. Namun dalam mengawasi dana APBD ini, mahasiswa tentunya harus tegas
dan tidak tebang pilih jika terjadi penyelewengan, dan disertai dengan bukti yang nyata dan
akurat dalam mengusut perkara tersebut.
Ketiga, jika kita tetap konsisten melakukan gerakan anti korupsi dan mampu bererak masif,
membentuk sebuah LSM bisa menjadi kekuatan yang dahsyat. Yang tentu nya LSM tersebut
harus besifat Independen dalam bergerak tanpa terpengaruh oleh oknum-oknum bejat yang
menyiksa rakyat.
Keempat, Mahasiswa harus lebih cerdas dalam menyampaikan aspirasi mereka kepada wakilwakil keparat masyarakat ini, jangan hanya berkoar-koar dan melakukan tindakan anarkis yang
tidak permah di gubris oleh para wakil-wakil bejat itu,bahkan tindakan anarkis itu cenderung
merugikan masyarakat dan merusak fasilitas umum juga. Iya kan?? Cara cerdas dalam berdemo
itu bisa memanfaatkan kekuatan pers yang pada saat ini lebih berani damn bebas tidak seperti
pada jaman orde baru bro!! seperti membuat film-film dokumenter tentang korupsi yang bisa

membangkitkan semangat masyarakat dalam memberantas korupsi, atau dengan cara


mengadakan diskusi dan kajian tentang korupsi yang disiarkan oleh media massa baik cetak
maupun elektronik.
Kelima, mahasiswa mengadakan doa dan dzikir akbar lintas agama secara serentak guna
memohon pertolongan kepada Tuhan YME agar dihapuskannya korupsi di bumi pertiwi ini, dan
bagi koruptornya diberikan azab yang sangat pedih baik didunia maupun di akhirat. Amin.
Keenam, mahasiswa harus membuat badan sendiri yang setatusnya setara dengan komisi
pemberantasan korupsi (KPK) dan badan ini bukanlah LSM namun suatu badan resmi seperti
KPK, yang bertujuan jelas, membantu KPK dalam menanggulangi korupsi dan membuat citra
mahasiswa tidak dipandang sebelah mata oleh pemerintah dan menunjukan bahwa mahasiswa
juga ikut berperan penting dalam membangun Reformasi ini.
Ketujuh, mahasiswa dilibatkan dalam menentukan APBN dan APBD agar semakin sempitnya
peluang para tikus-tikus itu dalam bergerak, misalkan tidak dilibatkan dalam menentukan
tersebut, maka pemerintah harus transparan dalam membuat anggaran tersebut serinci-rincinya
agar jelas kemana arah dana tersebut disalurkan.
Kedelapan, mahasiswa tidak hanya mengawasi kinerja para pejabat saja, tetapi juga harus
mengawasi para penegak hokum di Indonesia seperti, pengadilan, kepolisian dan Mahkamah
Agung.
Namun mahasiswa sendiri harus konsisten, sabar, bersatu dan gigih dalam pelaksanaan
gerakan-gerakan tersebut. Jika mahasiswa itu sendiri plin-plan, sembrono, grasak-grusuk, tindak
tegas dan berani otomatis korupsi tidak mungkin hilang bahkan akan bertambah banyaknya
tikus-tikus di Negara kita tercinta ini. Tapi, jika mahasiswa telah berjuang semaksimal mungkin
namun korupsi tetap saja tidak bisa hilang, maka tinggal kita tunggu saja kehancuran Negara
kita. Pasti!!
Wallahualam bishawab

Bab 1
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Tindak perilaku korupsi akhir-akhir ramai di perbincangkan, baik di media massa
maupun maupun media cetak. Tindak korupsi ini mayoritas dilakukan oleh para pejabat tinggi
negara yang sesungguhnya dipercaya oleh masyarakat luas untuk memajukan kesejahteraan
rakyat sekarang malah merugikan negara. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan bagi
kelangsungan hidup rakyat yang dipimpin oleh para pejabat yang terbukti melekukan tindak
korupsi. Maka dari itu, di sini kami akan membahas tentang korupsi di Indonesia dan upaya
untuk memberantasnya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa arti dari korupsi ?
2. Mengapa harus mahasiswa yang memiliki peran dalam memberantas korupsi ?
3. Peran dan upaya apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa?

C. Tujuan
1. Mengetahui arti korupsi.
2. Mengetahui mengapa harus mahasiswa.
3. Mengetahui peran dan upaya yang dilakukan oleh mahasiswa.

Bab 2
Pembahasan
Pengertian Korupsi
Kata korupsi sudah bukan hal yang asing bagi kita. Korupsi berasal dari bahasa latin
Corruptio (Fockema Andreae: 1951) atau Corruptus (Webster Student Dictionary: 1960).
Selanjutnya dari bahasa latin itu turun ke dalam bahasa Eropa seperti Inggris: Corruption,
Corrupt kemudian dalam bahasa Belanda yaitu Corruptie. Kemudian arti kata korupsi yang telah
diterima dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia disimpulkanoleh Poerwadarminta dalam
Kamus Umum Bahasa Indonesia: Korupsi ialah perbuatan yang buruk seperti pengertian
penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya (Poerwadarminta : 1976). Sedangkan
pengertian korupsi menurut UU No 31 Tahun 1999 jo UU No.20 tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah perbuatan setiap orang baik pemerintahan maupun
swasta yang melanggar hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain
atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara.
Arti harifiah adalah Kebusukan, keburukan, kebejatan, ke tidak jujuran, dapat di suap,
Tidak bermoral, penyimpangan dari ke sucian.Menurut perspektif hukum, definisi korupsi di
jelaskan dalam 13 pasal ( UU No.31 Tahun 1999 jo. UU No 20 Tahun 2001 ) Merumuskan 30
bentuk / Jenis tindak pidana korupsi, yang di kelompokan SBB :
1. Kerugian keuangan negara
2. Suap menyuap
3. Penggelapan dalam jabatan
4. Pemerasan
5. Perbuatan curang
6. Benturan kepentingan dalam pengadaan
7. Gratifikasi
Korupsi sudah merebak di hampir seluruh lapisan masyarakat dan sepertinya sudah
menjadi sebuah kebudayaan masyarakat Indonesia maka tidak mengherankan apabila negara
seringkali mengalami kerugian finansial yang cukup signifikan. Misalnya pada tahun 2006,
negara menderita kerugian akibat tindakan korupsi, terutama dalam sektor BUMN sehingga

mencapai angka yang cukup mengejutkan yaitu Rp 161 triliun. Angka ini mengalami akselerasi
yang cukup cepat karena sebelumnya di tahun 2005 yaitu Rp 125 triliun (data ICW 2006). Akibat
tindak kejahatan korupsi ini juga meletakkan Indonesia pada posisi 134 dari 163 negara (yang
diurutkan dari negara terbersih sampai ke negara terkorup) dan TI Perception Index Indonesia
2,4. Jumlah kasus juga banyak terjadi, terutama di daerah Barat, Jakarta, Sumatra Selatan dan
Bangka Belitung yang mencapai 14-17 kasus per tahun. Banyaknya uang negara yang mengalir
di kantong-kantong orang-orang tidak bertanggung jawab tentu menimbulkan beberapa dampak
menurut Soejono Karni yaitu:

a. Rusaknya sistem tatanan masyarakat.


b. Ekonomi biaya tinggi dan sulit melakukan efisiensi.
c. Munculnya berbagai masalah sosial di masyarakat.
d. Penderitaan sebagian besar masyarakat di sektor ekonomi, administrasi,
politik, maupun hukum yang pada akhirnya menimbulkan sikap frustasi, ketidak
percayaan, apatis terhadap pemerintah yang berdmpak kontraproduktif terhadap pembangunan.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan sebelumnya maka sangat penting dalam menangani
tindakan korupsi. Maka ada beberapa strategi menurut Hong Kong dengan ICAC-nya dengan
pendekatan tiga pilar yaitu:
a. Strategipreventif
Upaya pencegahan korupsi melalui perbaikan sistem dan prosedur dengan membangun budaya
organisasi yang mengedepankan prinsip-prinsip fairness, transparency, accountability and
responsibility yang mampu mendorong setiap individu untuk melaporkan segala bentuk korupsi
yang terjadi.
b. Strategi Investigative
Upaya memerangi korupsi melalui deteksi, investigasi dan penegakan hukum terhadap para
pelaku korupsi.
c. Strategi Edukatif
Upaya pemberantasan korupsi dengan mendorong masyarakat untuk berperan serta memerangi
korupsi dengan sesuai dengan kapasitas dan kewenangan masing-masing maka masyarakat perlu
ditanamkan nilai-nilai kejujuran (integrity) serta kebencian terhadap korupsi melalui pesan-pesan
moral.

Pentingnya Peran Mahasiswa


Tiga pilar strategi yang dijelaskan di atas pada intinya membutuhkan usaha keras dari
pemerintah dalam memberantas korupsi juga sangat penting dalam melibatkan partisipasi
masyarakat/mahasiswa.
Penjelasan sebelumnya telah dipaparkan bahwa pentingnya peran masyarakat dalam
memberantas korupsi. Masyarakat yang akan dibahas dalam artikel ini adalah masyarakat
intelektual atau kaum terpelajar terutama mahasiswa. Mengapa harus mahasiswa? Karena
mahasiwa adalah elemen masyarakat yang paling idealis dan memiliki semangat yang sangat
tinggi dalam memperjuangkan sesuatu. Selama ini mahasiswa dipandang bisa cukup signifikan

dalam mempengaruhi perubahan kebijakan atau struktur pemerintahan. Di sisi lain mahasiswa
juga bisa mempengaruhi lapisan masyarakat lainnya untuk menuntut hak mereka yang selama ini
kurang diperhatikan oleh pemerintah. Peran mahasiswa bisa dilihat dalam sejarah perjuangan
kemerdekaan mengenai kebangkitan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda yang
mana dipelopori oleh para mahasiswa kedokteran Stovia. Presiden pertama Indonesia, Soekarno
sang Proklamator Kemerdekaan RI merupakan tokoh pergerakan dari kalangan mahasiswa.
Selain itu peristiwa lain yaitu pada tahun 1996, ketika pemerintahan Soekarno mengalami
keadaan politik yang tidak kondusif dan memanas kemudian mahasiswa tampil dengan
memberikan semangat bagi pelaksanaan Tritura yang akhirnya melahirkan orde baru. Akhirnya,
ketika masa orde baru, mahasiswa juga menjadi pelopor dalam perubahan yang kemudian
melahirkan reformasi.
Begitulah perjuangan mahasiswa dalam memperjuangkan idealismenya yaitu untuk
memperoleh cita-cita dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan di masyarakat. Maka
tentunya mahasiswa dituntut utuk benar-benar konsisten atau memegang teguh idelisme mereka.
Memang tidak dipungkiri sekarang ini banyak mahasiswa yang sudah luntur idealismenya karena
terbuai dengan budaya konsumtif dan hedonisme. Hal tersebuut ternyata membuat mereka
semakin berfikir dan bertindak apatis terhadap fenomena yang ada di sekitar mereka dan
kecenderungan memikirkan diri mereka sendiri. Padahal perjuangan mahasiswa tidak berhenti
begitu saja ada hal lainnya yang menanti untuk diperjuangankan oleh mereka, yaitu dalam
melawan dan memberantas korupsi. Bentuk bentuk peran serta mayarakat dalam
pemberantasan tindak pidana korupsi menurut UU No. 31 tahun 1999 antara lain adalah SBB :
1. Hak Mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan tindak pidana
korupsi
2. Hak untuk memperoleh layanan dalam mencari, memperoleh, dan memberikan informasi
adanya dugaan telah tindak pidana korupsi kepada penegak hukum
3. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak
hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi
4. Hak memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporan yg di berikan kepada penegak
hukum waktu paling lama 30 hari
5. Hak untuk memperoleh perlindungan hukum
6. Penghargaan pemerintah kepada mayarakat

Upaya Mahasiswa
Faktanya fenomena korupsi selalu tidak berhenti menggrogoti negeri kita, korupsi
merupakan kejahatan yang bukan hanya merugikan negara tetapi juga masyarakat. Artinya
keadilan dan kesejahteraan masyarakat sudah mulai terancam. Maka saatnya mahasiswa sadar
dan bertindak. Adapun upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh mahasiswa adalah:

a.

Menciptakan lingkungan bebas dari korupsi di kampus.


Hal ini terutama dimulai dari kesadaran masing-masing mahasiswa yaitu menanamkan
kepada diri mereka sendiri bahwa mereka tidak boleh melakukan tindakan korupsi walaupun itu
hanya tindakan sederhana, misalnya terlambat datang ke kampus, menitipkan absen kepada
teman jika tidak masuk atau memberikan uang suap kepada para pihak pengurus beasiswa dan
macam-macam tindakan lainnya.
Memang hal tersebut kelihatan sepele tetapi berdampak fatal pada pola pikir dan
dikhawatirkan akan menjadi kebiasaan bahkan yang lebih parah adalah menjadisebuahkarakter.
Selain kesadaran pada masing-masing mahasiswa maka mereka juga harus memperhatikan
kebijakan internal kampus agar dikritisi sehingga tidak memberikan peluang kepada pihak-pihak
yang ingin mendapatkan keuntungan melalui korupsi. Misalnya ketika penerimaan mahasiswa
baru mengenai biaya yang diestimasikan dari pihak kampus kepada calon mahasiswa maka perlu
bagi mahasiswa untuk mempertanyakan dan menuntut sebuah transparasi dan jaminan yang jelas
dan hal lainnya. Jadi posisi mahasiswa di sini adalah sebagai pengontrol kebijakan internal
universitas.
Dengan adanya kesadaran serta komitmen dari diri sendiri dan sebagai pihak pengontrol
kebijakaninternal kampus maka bisa menekan jumlah pelaku korupsi. Upaya lain untuk
menciptakan lingkungan bebas dari korupsi di lingkungan kampus adalah mahasiswa bisa
membuat koperasi atau kantin jujur. Tindakan ini diharapkan agar lebih mengetahui secara jelas
signifikansi resiko korupsi di lingkungan kampus.Mahasiswa juga bisa berinisiatif membentuk
organisasi atau komunitas intra kampus yang berprinsip pada upaya memberantas tindakan
korupsi. Organisasi atau komunitas tersebut diharapkan bisa menjadi wadah mengadakan diskusi
atau seminar mengenai bahaya korupsi. Selain itu organisasi atau komunitas ini mampu menjadi
alat pengontrol terhadap kebijakan internal kampus.
Sebagai gambaran, SACW yang baru saja dibentuk pada kabinet KM (semacam BEM)
ITB 2006/2007 lalu sudah membuat embrio gerakannya. Tersebar di seluruh wilayah Indonesia,
anggota SACW dari UIN Padang sudah mulai mengembangkan sayap. Begitu pula mereka yang
berada di UnHalu Sulawesi sudah melakukan investigasi terhadap rektorat mereka yang ternyata
memang
terjerat
kasus
korupsi.
b. Memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang bahaya melakukan korupsi.
Upaya mahasiswa ini misalnya memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai
bahaya melakukan tindakan korupsi karena pada nantinya akan mengancam dan merugikan
kehidupan masyarakat sendiri. Serta menghimbau agar masyarakat ikut serta dalam
menindaklanjuti (berperan aktif) dalam memberantas tindakan korupsi yang terjadi di sekitar
lingkungan mereka. Selain itu, masyarakat dituntut lebih kritis terhadap kebijakan pemerintah
yang dirasa kurang relevan. Maka masyarakat sadar bahwa korupsi memang harus dilawan dan
dimusnahkan dengan mengerahkan kekuatan secara massif, artinya bukan hanya pemerintah saja
melainakan seluruh lapisan masyarakat.
c. Menjadi alat pengontrol terhadap kebijakan pemerintah.
Mahasiswa selain sebagai agen perubahan juga bertindak sebagai agen pengontrol dalam
pemerintahan. Kebijakan pemerintah sangat perlu untuk dikontrol dan dikritisi jika dirasa
kebijakan tersebut tidak memberikan dampak positif pada keadilan dan kesejahteraan masyarakat
dan semakin memperburuk kondisi masyarakat. Misalnya dengan melakukan demo untuk

menekan pemerintah atau melakukan jajak pendapat untuk memperoleh hasil negosiasi yang
terbaik.
d. Memiliki tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial terkait
dengan kepentingan publik.
e. Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh.
f. Melakukan kontrol sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa hingga ke
tingkat pusat/nasional.
g. Membuka wawasan seluas-luasnya pemahaman tentang penyelenggaraan peme-rintahan
negara dan aspek-aspek hukumnya.
h. Mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif dalam setiap
pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat luas.

PENUTUP
a. Kesimpulan
Dari teori yang telah kami sajikan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Korupsi adalah tindakan yang harus diberantas segera karena mengancam keadilan dan
kesejahteraan masyarakat. Sehingga perlu peran serta semua lapisan masyarakat. Mahasiswa
adalah salah satu bagian masyarakat yang mempunyai pengaruh signifikan dalam memperngarhi
kebijakan pemerintah dan menggerakkan lapisan masyarakat yang lain. Sehingga pemberantasan
korupsi bisa lebih efektif. Upaya-upaya yang dilakukan mahasiswa adalah menciptakan
lingkungan bebas dari korupsi di kampus, memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang
bahaya melakukan korupsi dan menjadi alat pengontrol terhadap kebijakan pemerintah. Maka
mahasiwa harus lebih berkomitmen dalam memberantas korupsi supaya upaya mereka berjalan
semaksimal mungkin.
Meski demikian, pemberantasan korupsi jangan menajadi jalan tak ada ujung, melainkan
jalan itu harus lebih dekat ke ujung tujuan. Upaya-upaya untuk mengatasi persoalan korupsi
dapat ditinjau dari struktur atau sistem sosial, dari segi yuridis, maupun segi etika atau akhlak
manusia.

b. Saran

Perlu dikaji lebih dalam lagi tentang teori upaya pemberantasan korupsi di Indo-nesia agar
mendapat informasi yang lebih akurat.
Diharapkan para pembaca setelah membaca makalah ini mampu mengaplikasi-kannya di
dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

http://harissoekamti.blogspot.com/2011/10/makalah-tentang-upaya-upaya.html#ixzz2h2ErTGUQ
Mochtar. 2009. Efek Treadmill Pemberantasan Korupsi : Kompas
Risbiyantoro, Mohamad, 2005. Peranan Mahasiswa dalam Memerangi Korupsi, Op cit.
Erica, Peran Gerakan Mahasiswa dalam Pemberantasan Korupsi, dalam
http://ericamourissa.ngeblogs.com, 2007
Qyonglee. 2008. Mahasiswa dan Korupsi. Dalam http://qyonglee.multiply.com.
http://munajathati.wordpress.com/2012/05/19/peran-dan-upaya-mahasiswa-dalam-memberantaskorupsi/
Pengertian Dasar-Dasar Korupsi. Dalam http://antikorupsi.org.
http://wawasanfadhitya.blogspot.com/2012/08/upaya-pemberantasan-korupsi-di-indonesia.html