Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa , karena atas kehendak-Nya lah
kami selaku tim penulis bisa menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya .
Adapun maksud dan tujuan penulis membuat makalah ini , adalah untuk memenuhi salah satu
tugas dari mata kuliah pengetahuan bahan, dan juga untuk menambah wawasan mengenai
karakteristik dari bahan keramik.
Dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini tentu saja penulis mengakui bahwa makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan , baik dari segi isi , teori , dan sistematika penulisannya . Maka
dari itu karena belum luasnya wawasan kami, kami sangat terbantu bila pembaca memberikan
kritik dan saran yang bersifat membangun dan dapat menyempurnakan makalah ini dari segi
manapun .
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua baik untuk hari
ini dan untuk masa yang akan datang .
Amin .

Bandung, 20 November 2013

Penulis

D
BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Perkembangan teknologi material keramik pada saat ini telah diarahkan kepada spesifikasi
kegunaannya dalam berbagai kebutuhan, antara lain : kebutuhan rumah tangga, industri mekanik,
elektronika, cordierite, refraktori, teknologi ruang angkasa, keramik berpori , dan lain
sebagainya.
Industri keramik telah bermula dalam tahun 4500 sebelum Masehi yang di usahakan oleh
penduduk di perkampungan neolitik di dalam daerah Shanxi di negeri China. Industri keramik
pada masa itu hanya tertumpu pada penghasilan tembikar.Tembikar tertua di temui di England,
dapat di kesan kembali pada pertama tahun masehi dan penaklukan Roma. Antara masa itu dan
1500 tahun Masehi, perkembangan yang paling penting adalah porselin yang dapat memantulkan
cahaya. Aktiviti di England bermula dengan tembikar eistercian pada awal abad ke enam belas.
Abad ketujuh belas mulai nampak permulaan industri tembikar Inggris melalui Tofst bersaudara
yang membuat tembikar slip di Staffordshire. Dalam abad ke delapan belas menampakkan bibit
perkembangan yang telah menjadikan industri tembikar sebagaimana yang terdapat pada hari ini.
Di bagian akhir abad ini pengenalan api elektro telah membawa kepada bibit permulaan industri
porselin elektro.
Dalam tempoh selepas perang dunia kedua, industri keramik tertumpu kepada produksi yang
boleh memberikan ciri-ciri yang istimewa serta Modern. Ia dihasilkan daripada bahan mentah
alami atau sintetis atau campuran yang melibatkan metode berteknologi modern. Keramik jenis
ini digolongkan kepada keramik Modern atau advance keramik.
1.2

Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan keramik ?
2. Apa saja komposisi keramik ?
3. Bagaimana sifat dari bahan keramik?
4. Apa saja jenis-jenis bahan keramik ?
5. Bagaimana proses pembuatan keramik ?
6. Bagaimana metoda uji bahan keramik ?
7. Apa saja kegunaan dan manfaat dari keramik ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui definisi dari keramik ?
2. Untuk mengetahui komposisi dari bahan keramik ?

3. Untuk mengetahui sifat dari bahan keramik?


4. Untuk mengetahui jenis-jenis bahan keramik ?
5. Untuk mengetahui proses pembuatan keramik ?
6. Untuk mengetahui metoda uji bahan keramik ?
7. Untuk mengetahui kegunaan dan manfaat dari keramik ?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Definisi

Keramik pada awalnya berasal dari bahasa Yunani,keramikos, yang artinya suatu bentuk dari
tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran. Kamus dan ensiclopedia tahun 1950-an
mendefinisikan keramik sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk menghasilkan barang dari
tanah liat yang dibakar seperti gerabah, genteng, porselin, dan sebagainya. Tetapi saat ini tidak
semua keramik berasal dari tanah liat. Definisi pengertian keramik terbaru mencakup semua
bahan bukan logam dan anorganik yang berbentuk padat. (Yusuf, 1998;2)
2.2

Komposisi Keramik

Komposisi keramik pada umumnya terdiri dari 4 : Tanah Liat (clay), Kwarsa (flint), feldsfar, dan
serbuk kaca (cullet).
2.2.1

Clay/tanah liat mengandung hidrated aluminum silica (Al2O3.2SiO2.2H2O)

Tanah liat sebagai bahan pokok untuk pembuatan keramik, merupakan salah satu bahan yang
kegunaannya sangat menguntungkan bagi manusia karena bahannya yang mudah didapat dan
pemakaian hasilnya yang sangat luas. Kira-kira 70% atau 80% dari kulit bumi terdiri dari batuan
merupakan sumber tanah liat. Tanah liat banyak ditemukan di areal pertanian terutama
persawahan. Dilihat dari sudut ilmu kimia, tanah liat termasuk hidrosilikat alumina dan dalam
keadaan murni mempunyai rumus: Al2O3.2SiO2.2H2O dengan perbandingan berat dari unsurunsurnya: Oksida Silinium (SiO2) 47%, Oksida Aluminium (Al2O3) 39%, dan Air (H2O) 14%
(Gatot, 2003 dalam Abdullah, 2005).
Bentuknya seperti lempengan kecil-kecil hampir berbentuk segi enam dengan permukaan yang
datar. Bentuk kristal; seperti ini menyebabkan tanah liat bila dicampur dengan air mempunyai
sifat liat (plastis), mudah dibentuk karena kristal-kristal ini meluncur di atas satu dengan yang
lain denga air sebagai pelumasnya (Astuti, 1997 dalam Trisnawanti, 2008).

Mineral liat terbentuk dari hasil hancuran iklim terhadap mineral primer atau batuan yang
mengandung mineral feldspar, mika, piroksin dan eamfibol. Pada dasarnya mineral liat dapat
dibedakan atas 2 kelompok senyawa, yaitu liat silikat dan liat bukan silikat. Liat silikat kemudian
dibedakan pila dalam 3 tipe yaitu : tipe 1:1, 2:1, dan tipe 2:2. Tipe dalam hal ini menunjukkan
perbandingan antara Si-tetraeder dengan Al-oktaeder. Dengan mengetahui tipe mineral liat juga
dapat ditentukan tingkat hancuran suatu tanah. Tanah yang mengandung liat 1:1 menunjukkan
suatu tanah yang lebih tua daripada tanah berliat tipe 2:1. Karena Si telah habis tercuci.
Disamping liat silikat amorfus, yaitu alofan. Liat bukan silikat merupakan kelompok senyawa
hidrus oksida besi dan aluminum. Nama hidrus oksida mencerminkan asosiasi antara molekul air
dan oksida (Hakim, 1986).
Tanah liat memiliki sifat-sifat yang khas yaitu bila dalam keadaan basah mempunyai sifat plastis
tetapi bila dalam keadaan kering akan menjadi keras, sedangkan bila dibakar akan menjadi padat
dan kuat. Pada umumnya, masyarakat memanfaatkan tanah liat (lempung) sebagai bahan baku
pembuatan bata dan gerabah.
Dari penjelasan mengenai tanah liat diatas, dapat disimpulkan :

fungsi tanah liat

: mempermudah proses pembentukan keramik

Sifat dan keadaan bahan

berbutir kasar

rapuh

dalam keadaan basah mempunyai sifat plastis tetapi bila dalam keadaan kering akan
menjadi keras

bila dibakar akan menjadi padat dan kuat

sangat tahan api.

2.2.2

Kwarsa (flint), Kwarsa merupakan bentuk lain dari batuan silica (SiO2)
Tujuan pemakaian kwarsa ini ialah:

Mengurangi susut kering, jadi mengurangi retak-retak dalam pengeringan.

Mengurangi susut waktu dibakar dan mempertinggi kwalitas.

Merupakan rangka selama pembakaran.

Sifat-sifat dan keadaan bahan :


Memiki ukuran partikel yang halus .

Sifat plastis yang tinggi .

Memiliki kekuatan kering yang tinggi

Penyusutan pada saat pengeringan dan pembakaran tinggi.

Warna setelah pembakaran abu-abu muda karena unsur besinya lebih tinggi dibanding
kaolin.

2.2.3

titik lebur tinggi sekitar 1728C


Feldspar

Feldspar adalah suatu kelompok mineral yang berasal dari batu karang yang ditumbuk dan dapat
memberikan sampai 25 % flux (pelebur) pada badan keramik. Bila keramik dibakar, feldspar
akan meleleh (melebur) dan membentuk leburan gelas yang menyebabkan partikel tanah dan
bahan lainnya melekat satu sama lain. Pada saat membeku, bahan ini memberikan kekuatan pada
badan keramik. Feldspar tidak larut dalam air, mengandung alumina, silika dan flux yang
digunakan untuk membuat gelasir suhu tinggi.
Feldspar pada saat ini nerupakan group mineral dengan jumlah mineral yang paling besar di
kerak bumi, membentuk sekitar 60% batuan terrestrial (Indiani, 2009). Kebanyakan feldspar
yang tersedia berupa sodium feldspar, potassium feldspar dan feldspar campuran. Feldspar
kebanyakan digunakan pada aplikasi-aplikasi industri yang membutuhkan kandungan feldspar
yang berupa alumina dan alkali.
Rumus kimia feldspar secara umum adalah XAl(Al,Si)Si2O8 dengan X adalah potassium,
sodium, kalsium atau barium. Secara khusus rumus kimia feldspar dapat dilihat pada Tabel 1.
Jenis Feldspar
Albite
Anorthite
Orthoclase
Celsian

Rumus Kimia
Na(Si,Al)O
Ca(Si,Al)O
K(Si,Al)O
Ba(Si,Al)O

3
Table 2.1. Jenis-jenis feldspar
Sumber: K. McPhee (1959) dalamIndiani (2009)

2.2.4

Serbuk Kaca/Cullet

Cullet adalah serbuk kaca yang sangat kecil. Kaca biasanya dihasilkan dari campuran silicon atau
bahan dioksida (SiO2) yang merupakan benda amorf, dibentuk melalui prosesan pemadatan dari
peleburan tanpa kristalisasi. Kaca kadang-kadang dianggap sebagai cairan kental (viskos)
kareana bukan kristalin atau amorf. Akan tetapi hanya beberapa cairan yang dapat membentuk
kaca. Pada suhu tinggi, kaca merupakan cairan sejati, dan pada fase cair ini struktur dari bahanbahan anorganik belum beraturan dan atom-atomnya selalu bergerak terus-menerus.
2.3

Sifat

Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya.
Oleh karena itu sifat keramik juga tergantung pada lingkungan geologi di mana bahan diperoleh.
sifat yang umum dan mudah dilihat secara fisik pada kebanyakan jenis keramik adalah britle atau
rapuh, hal ini dapat kita lihat pada keramik jenis tradisional seperti barang pecah belah, gelas,
kendi, gerabah dan sebagainya, coba jatuhkan piring yang terbuat dari keramik bandingkan
dengan piring dari logam, pasti keramik mudah pecah, walaupun sifat ini tidak berlaku pada jenis
keramik tertentu, terutama jenis keramik hasil sintering, dan campuran sintering antara keramik
dengan logam. sifat lainya adalah tahan suhu tinggi, sebagai contoh keramik tradisional yang
terdiri dari clay, flint dan feldfar tahan sampai dengan suhu 1200 C, keramik engineering seperti
keramik oksida mampu tahan sampai dengan suhu 2000 C. kekuatan tekan tinggi, sifat ini
merupakan salah satu faktor yang membuat penelitian tentang keramik terus berkembang. Secara
umum sifat keramik meliputi :
1. Keras, kuat, tetapi bersifat getas atau mudah pecah.
2. Tahan terhadap korosi.
3. Kapasitas panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah.
4. Sifat listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor, konduktor bahkan superkonduktor.
5.

Dapat bersifat magnetik dan non magnetik.

2.4

Jenis-jenis Keramik

Pada prinsipnya keramik terbagi menjadi dua, yaitu:


2.4.1

Keramik tradisional

Keramik tradisional yaitu keramik yang dibuat dengan menggunakan bahan alam, seperti kuarsa,
kaolin, dll. Yang termasuk keramik ini adalah: barang pecah belah (dinnerware), keperluan
rumah tangga (tile, bricks), dan untuk industri (refractory).
2.4.2

Keramik halus

Fine ceramics (keramik modern atau biasa disebut keramik teknik, advanced ceramic,
engineering ceramic, techical ceramic) adalah keramik yang dibuat dengan menggunakan

oksida-oksida logam atau logam, seperti: oksida logam (Al2O3, ZrO2, MgO,dll).
Penggunaannya: elemen pemanas, semikonduktor, komponen turbin, dan pada bidang medis.
(Joelianingsih, 2004)
Jenis Keramik Menurut Kepadatan
1. Gerabah (Earthenware)
Dibuat dari semua jenis bahan tanah liat yang plastis dan mudah dibentuk dan dibakar pada suhu
maksimum 1000C. Keramik jenis ini struktur dan teksturnya sangat rapuh, kasar dan masih
berpori. Agar supaya kedap air, gerabah kasar harus dilapisi glasir, semen atau bahan pelapis
lainnya. Gerabah termasuk keramik berkualitas rendah apabila dibandingkan dengan keramik
batu (stoneware) atau porselin. Bata, genteng, paso, pot, anglo, kendi, gentong dan sebagainya
termasuk keramik jenis gerabah. Genteng telah banyak dibuat berglasir dengan warna yang
menarik sehingga menambah kekuatannya.
2. Keramik Batu (Stoneware)
Dibuat dari bahan lempung plastis yang dicampur dengan bahan tahan api sehingga dapat
dibakar pada suhu tinggi (1200-1300C). Keramik jenis ini mempunyai struktur dan tekstur
halus dan kokoh, kuat dan berat seperti batu. Keramik jenis termasuk kualitas golongan
menengah.
3. Porselin (Porcelain)
Adalah jenis keramik bakaran suhu tinggi yang dibuat dari bahan lempung murni yang tahan api,
seperti kaolin, alumina dan silika. Oleh karena badan porselin jenis ini berwarna putih bahkan
bisa tembus cahaya, maka sering disebut keramik putih. Pada umumnya, porselin dipijar sampai
suhu 1350C atau 1400C, bahkan ada yang lebih tinggi lagi hingga mencapai 1500C. Porselin
yang tampaknya tipis dan rapuh sebenarnya mempunyai kekuatan karena struktur dan teksturnya
rapat serta keras seperti gelas. Oleh karena keramik ini dibakar pada suhu tinggi maka dalam
bodi porselin terjadi penggelasan atau vitrifikasi. Secara teknis keramik jenis ini mempunyai
kualitas tinggi dan bagus, disamping mempunyai daya tarik tersendiri karena keindahan dan
kelembutan khas porselin. Juga bahannya sangat peka dan cemerlang terhadap warna-warna
glasir.
4. Keramik Baru (New Ceramic)
Keramik yang secara teknis, diproses untuk keperluan teknologi tinggi seperti peralatan mobil,
listrik, konstruksi, komputer, cerobong pesawat, kristal optik, keramik metal, keramik multi
lapis, keramik multi fungsi, komposit keramik, silikon, bioceramic, dan keramik magnit. Sifat
khas dari material keramik jenis ini disesuaikan dengan keperluan yang bersifat teknis seperti
tahan benturan, tahan gesek, tahan panas, tahan karat, tahan suhu kejut seperti isolator, bahan
pelapis dan komponen teknis lainnya.
2.5

Proses pembuatan keramik

1. Penyiapan bahan mentah


meliputi : penggalian bahan mentah, penimbunan dan penggilingan.
1. Penggalian bahan mentah, bahan mentah yang digunakan untuk keramik pada umumnya
adalah lempung/tanah liat. Sebagian besar
lempung merupakan
bentuk endapan yang terletak di permukaan bumi sehingga penggaliannya dilakukan
dengan cara terbuka.
2. Penimbunan, bahan mentah hasil galian sebaiknya ditimbun dahulu.
Selama
dalam penimbunan, lempung ini diberikan air, jika perlu direndam dalam air. Hal ini
perlu dilakukan agar partikel-partikel yang semula di bawah dan kurang menyerap air
menjadi lebih lapuk dan menyerap air. Selain itu juga untuk melarutkan garam sulfat
yang merugikan. Pada saat penimbunan ini, biasanya juga dilakukan pencampuran
dengan bahan lain, misalnya pasir.
3. Penggilingan, Untuk lempung yang berbentuk bongkahan yang keras, sebelum ditimbun
digiling terlebih dahulu. Penggilingan dilakukan dengan menggunakan kollegrang yang
dasamya berlubang-lubang untuk mendapatkan susunan besar butir yang lebih homogen.
Selama digiling didalam alat ini, bahan yang sudah menjadi tepung ditambah dengan air
sambil digiling, sehingga keluar dari kollegrang, bahan sudah berbentuk lempung basah.
Untuk mendapatkan lempung yang lebih homogen, dilakukan penggilingan lagi di
pugmill (mixer). Selesai dari pugmill, bahan diolah lagi di dalam extruder. Di dalam alat
ini lempung diaduk dan ditekan, sehingga dihasilkan lempung yang benar-benar padat
berbentuk kolom segi empat atau bulat.
4. Pembentukan Produk Keramik
Proses pembentukan produk keramik sangat menentukan sifat fisik suatu produk keramik. Cara
pembentukan keramik tergantung pada : tujuan pemakaian, sifat bentuknya dan bahan dasamya.
Ada empat cara pembentukan produk keramik, yaitu :
1. Cara pembentukan dengan proses lempung lembek (soft mud process).
Cara ini biasanya digunakan untuk membentuk produk keramik yang pembentukannya
dikehendaki dengan lembek sehingga dapat dilakukan pembentukan dengan tangan. Cara ini
biasanya dipakai untuk benda-benda khusus yang tidak dapat dikerjakan dengan alat lain,
misalnya untuk produk keramik halus yang cara pembentukannya dengan proses putar. Di dalam
proses ini, lempung bersifat lembek dengan kandungan air 25 ay 40 %, dengan syarat lempung
masih cukup Ikuat menahan beratnya sendiri sehingga tidak terjadi perubahan bentuk.
1. Cara pembuatan dengan proses lempung kaku (Stiff mud).

Masa yang dipakai berupa lempung kau yang cukup berat bila dicetak/dibentuk dengan tangan..
Kadar air lempung kaku dalam cara ini kurang lebih 15 ay 30 %. Biasanya cara ini memerlukan
alat pembentuk extruder sehingga dari alat ini dikeluarkan suatu kolom tanah yang kaku.
Kemudian kolom tanah ini dibentuk/dipotong, lalu dibentuk kembali menjadi produk tertentu.
Cara ini biasanya dipakai dalam pembuatan produk keramik berat dan keramik banhan
bangunan, misalnya genteng keramik, bata merah, bata berlubang, pipa tanah dan bentuk produk
keramik kasar lainnya.
1. Cara Pembentukan dengan masa slip.
Cara ini dipakai bila lempung yang akan dicetak disiapkan dalam bentuk bubur yang halus sekali
dan berbentuk lumpur cair. Biasanya lempung terdiri dari susunan butiran yang halus sekali.
Kandungan air dalam lempung ini 12 ay 50 %. Cara ini biasanya dilakukan dengan membuat
cetakan dari gips yang telah dibakar dan dengan cara mencetak tersebut dapat dibuat produk
yang sama. Selain itu,juga memungkinkan untuk membentuk benda-benda yang sulit dibentuk
dengan cara tangan atau mesin. Cara pembuatan ini biasanya digunakan untuk membuat produk
sanitair (doset, wastafel,
1. Cara Pembentukan dengan proses kering.
Dalam cara ini dipakai lempung/masa campuran yang berkadar air rendah 4 ay 12 %, sehingga
masa tadi lembab. Cara membentuknya biasanya dengan alat kempa (press) yang bertekanan
tinggi untuk mendapatkan produk yang mempunyai kepadatan tinggi pula. Cara ini umumnya
dipakai untuk membuat produk keramik yang mempunyai kepadatan tinggi tetapi hasil
bakarannya tidak sampai meleleh, misalnya dalam pembuatan produk ubin keramik, bata klinker
dan bata tahan api.

3. Pengeringan keramik keramik


Pada saat keramik selesai dibentuk, biasanya mengandung air antara 7-30 % Itergantung cara
pembentukkannya. Keramik ini masih dalam kondisi mentah dan basah sehingga untuk
mengurangi kadar aimya perlu dikeringkan lebih dulu. Tujuan pengeringan adalah untuk
mnguapkan air yang masih terkandung di dalam produk Imentah tadi, sehingga pada saat dibakar
tidak banyak terjadi kerusakan, tidak berubah sifat maupun bentuknya.
Pada saat pengeringan, akan terjadi penyusutan karena air di dalam bahan mentah akan menauao
sehinaaa butir-butir masa I emouna akan mendekat satu sama lain.Penyusutan akan terhenti
apabila air yangmenguap telah mencapai A A/ 1/3 kali. Apabila penyusutan telah selesai,
makaA produk kering sudah tidak mengalami perubahan bentuk lagi .
Pengeringan produk mentah dilakukan dengan 2 cara, yaitu :

1. Pengeringan alami, yaitu suatu cars pengeringan yang memanfaatkan matahari dan suhu
di sekitar benda tersebut.A Kecepatan pengeringan alami tergantung oleh : suhu udara di
sekitarnya, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara.
2. Pengeringan buatan, yaitu cara pengeringan dengan menggunakan tungku pemanas
sehingga radiasi panas dari tungku dimanfaatkan untuk mengeringkan keramik mentah
tadi.
3. Pembakaran Keramik
Pembakaran produk keramik bertujuan untuk mendapatkan produk yang bersifat tidak berubah
bentuknya, keras, cukup kuat menahan beban, tahan air, padat dan tahan terhadap pengaruh
cuaca lainnya.
Proses yang terjadi pada keramik selama pembakaran terdiri dari beberapa tahap, yaitu :
1. Tahap penguapan air mekanis sisa pengeringan.
Jumlah air yang terkandung di dalam bahan mentah keramik setelah pengeringan A 3 Se 10 0/0.
Pada tahap awal pembakaran, perlu dilakukan pengeringan air bebas ini. Pada tahap ini,
pembakaran dilakukan secara perlahan-lahan dengan suhu relatif rendah ( 40 SOAK ) untuk
menghindari penguapan secara mendadak yang menyebabkan benda retak. Kenaikan suhu
pembakaran biasanya diatur antara 5 atau OAK/jam.
1. Tahap Penguapan air mineral.
Pada umumnya air yang terkandung di dalam masa lempung tidak lepas pada suhu di bawah
200AC dan umumnya lepas pada suhu di atas 500)5. 0C 700)5.0C. Pada tahap ini, benda
keramik menjadi lebih berpori dan kurang kuat.
1. Tahap Pembakaran Cepat.
Pada tahap ini dimaksudkan agar terjadi sedikit peleburan pada dinding partikel lempung
sehingga partikel satu dengan yg lainnya melekat. Untuk beberapa produk keramik yang
memerlukan penyerapan air rendah, maka dilakukan peleburan lebih lanjut sehingga pori-pori
yang ditinggalkan air bebas maupun air mineral menjadi tertutup.
Jenis jenis tungku pembakaran :
1. Tungku berkala (periodik). Tungku yang digunakan untuk pembakaran secara berkala, dimana
sejumlah bahan keramik dibakar sekaligus sampai masak kemudian tungku didinginkan lagi dan
hasil bakarannya dibongkar. Demikian dilakukan berulang secara berkala. Cara ini terlalu boros
karena panas yang hilang banyak sekali, terutama panas untuk memanasi badan tungku dan
sewaktu tungku dingin kembali.
Jenis-jenis tungku berkala :

1. Tungku ladang, tungku yang biasa digunakan untuk membakar bata merah, bersifat tidak
permanen. Lamanya pembakaran dari mulai memanasi tungku sampai tungku dingin
kembali adalah 5 Se 7 hari. Hasil bakaran pada umunya menghasilkan rendamen rendah
(60%).
2. Tungku berkala permanen. Tungku ini berbentuk ruangan permanen (berbentuk segi
empat dan lingkaran). Pada sisi bawah tungku diberi lubang-lubang pembakaran. Hasil
bakaran pada umumnya merata dan menghasilkan rendamen antara 70 Se 85 0/0.
2. Tungku Kontinu
Tungku yang bekerja secara terus menerus (tak berhenti) kecuali produksi berhenti. Proses
pembakaran berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan, dan hasilnya diambil setiap hari atau
dalam jangka waktu tertentu.
Jenis tungku ini ada 2, yaitu :
1. Tungku kamar, dikenal dengan tungku Hofman. Berbentuk lorong yang bersekatsekat
menjadi beberapa ruangan. Dengan tungku ini hasil produksi cukup besar, dimana 1
kamar menghasilkan A 3500 bata dan lebih hemat bahan bakar. Umumnya dipakai untu
produksi keramik bangunan skala besar (bata & genteng).
2. Tungku terowongan. Berbentuk terowongan yang beratap. Pemabakaran dari samping,
masa yang dibakar berjalan melalui lorong ini dengan kereta/lori. Jenis tungku ini
termasuk modern untuk saat ini dg bahan bakar cair atau gas. Umumnya dipakai untuk
produksi keramik halus, produk-produk keramik missal yang mutu dan harganya tinggi
seperti produk sanitair.
2.6
2.6.1

Teknik Pengukuran
Resistivitas

Menurut Xiangdong (1996) dalam Indiani (2009) resistivitas adalah besarnya tegangan yang
diberikan terhadap luas penanmpang suatu bahan tertentu dibagi besarnya arus yang mengalir
dan panjang tersebut.
=RAl
dengan merupakan resistivitas bahan (cm), l merupakan panjang bahan (cm), R merupakan
hambatan bahan (), dan A merupakan luas penampang bahan (cm2).
Untuk menentukan resistivitas berbentuk silinder dapat menggunakan (Griffiths, 1986):
=2RLln(a)

Resistivas listrik suatu bahan merupakan ukuran kemampuan bahan tersebut unutk memindahkan
muatan listrik dibawah pengaruh medan listrik. Standar isolator untuk tengan rendah berdasarkan
resistivitasnya memiliki resistivitas ~ 107cm, untuk isolator tegangan menengah maka harus
memiliki resistivitas 109-1014 cm, dan untuk isolator tegangan tinggi maka resistivitasnya harus
lebih dari 1014 cm.
2.6.2

Densitas

Densitas merupakan suatu ukuran massa per unit volume dan dinyatakan dalam gram per
centimeter kubik (g/cm3) atau pound per inch kuadrat (lb/in 2). Pengukuran densitas yang
dilakukan adalah jenis densitas ruah (bulk density) berdasarkan metode Archimedes dimana
menghitung ruah diberikan pada persamaan (Yusup, 1998):
b=mkmb-(mg-mkw)air
dengan bmerupakan bulk density (g/cm3), air merupakan densitas air (1g/cm3), mb merupakan
masa basah (g), mk merupakan massa kering (g), mg merupakan massa ketika beban digantung
dalam air (g), dan mkw merupakan massa kawat penggantung.
2.6.3

Kuat Tekan

Kuat tekan didefinisikan sebagai ketahana suatu bahan terhadap beban yang dilakukan sampai
bahan tersebut pecah. Secara umum dapat diketahui hubungan antara kekuatan terhadap tekanan
(pembebanan yang diberikan) adalah sebagai berikut:
P=FA
dimana P = kekuatan tekan (Pa), F adalah pembebanan dalam satuan newton (N) dan A adalah
luas penampang dalam satuan m2.
2.6.4

Susut Bakar

Pengukuran susut bakar dilakukan pada sampel uji berbentuk silinder. Susut bakar ini terdiri dari
dua bagian yaitu:
1. Susut bakar volum adalah perbandingan perubahan volum dengan volum(V) sampel
sebelum dilakukan pempakaran yang dinyatakan sebagai berikut:
% susut bakar volum = V0-V1V0x 100%
dengan Vo volume sampel yang belum dibakar (cm3), V1 adalah volume sampel yang telah
dibakar (cm3)
1. Susut bakar volum adalah perbandingan perubahan massa mdengan massa sampel
sebelum dilakukan pembakaran (m0)yang dinyatakan sebagai berikut:

% susut bakar volum = m-m1m0x 100%


dengan mo massa sampel yang belum dibakar (gram), m1 adalah massa sampel yang telah dibakar
(gram).
Susut bakar umumnya terjadi akibat hilangnya air karena penguapan dan terjadinya reaksi cat
aditif dalam keramik dan butiran menyatu aktif terhadap butiran besar. Kekosongan yang terjadi
akan diisi oleh fluks (pelebur), hal inilah yang mungkin dapat menyebabkan kekurangan massa
dan sampel.
Dalam kehidupan sehari-hari, karamik memiliki banyak kegunaan, misalnya saja dapat dibuat
sebagai guci, genteng, maupun peralatan lainnya. Agar peralatan yang di buat dapat bertahan
lama dan memiliki kualitas yang baik, oleh karena itu proses pembuatan dan juga bahan baku
yang digunakan harus sesuai dengan standar yang ada, di Indonesia ini standar yang digunakan
adalah SNI ( Standar Nasional Indonesia ). Berikut adalah beberapa SNI yang membahas
mengenai keramik :

SNI 15-1325-1989 BATUAN PIROPILIT UNTUK PEMBUATAN KERAMIK


HALUS

SNI 03-2095-1998 GENTENG KERAMIK

SNI 1147-1989-A MASSA BADAN KERAMIK GERABAH HALUS KERAS PLAT


TETES PORSELIN

2.7

Kegunaan Keramik

Hampir sebagian besar orang telah menggunakan produk-produk yang terbuat dari keramik,entah
itu untuk kebutuhan rumah tangga seperti mangkok, piring, cangkir,teko,tempayan dll. Atau
keramik yang digunakan untuk bahan bangunan, seperti batu-bata,genteng keramik, tegel
keramik , pipa-pipa keramik untuk pembuangan. Ada juga keramik yang digunakan untuk
keperluan keperluan khusus dan dibuat secara khusus pula misalnya keramik isolator yang
digunakan untuk kebutuhan industri perlistrikkan.
Dengan berkembangnya teknologi maka kini bahkan keramik telah digunakan didalam berbagai
keperluan bidang science seperti bidang kedokteran yang dikenal dengan bio ceramics, misalnya
beberapa organ tubuh manusia yang rusak ternyata dapat digantikan dengan bahan keramik
seperti tulang dan gigi.Keramik juga banyak digunakan di dalam dunia elektronik. Ternyata
banyak bagian dari dari produk elektronik yang dibuat dari bahan keramik .
Dalam bidang teknologi kedirgantaraan maupun antariksa, ternyata bagian-bagian tertentu dari
pesawat terbang maupun pesawat luar angkasa terbuat dari bahan keramik. Sebagai contoh,
pesawat antariksa ulang alik Columbia dan Discovery ternyata seluruh badan pesawat bagian
luarnya dilapisi dengan mantel yang tahan api yang terbuat dari keramik yang ringan (light

refractory brick) yang tahan terhadap suhu yang sangat tinggi. Tanpa dilapisi bahan keramik
tersebut maka pesawat antariksa tidaklah mungkin dapat terbang menjelajah luar angkasa, karena
ketika kembali ke bumi akan mengalami gesekan dengan atmosfir yang mengakibatkan
terjadinya suhu yang sangat tinggi itu.
Bahan keramik juga digunakan dibidang teknologi nuklir. Hal ini disebabkan karena bahan
keramik, selain tahan terhadap suhu yang sangat tinggi, juga sekaligus penghantar panas yang
sangat buruk . Bahkan bahan keramik merupakan bahan satu satunya yang tahan terhadap radiasi
nuklir,sehingga reactor nuklir dimanapun menggunakan bahan keramik sebagai pelindung, agar
radiasi tidak menyebar kemana-mana karena sangat membahayakan .
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keramik merupakan suatu bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran
yang pada umumnya terbuat dari tanah liat, kwarsa, feldsfar, dan serbuk kaca. Sifat keramik
ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan mineral bawaannya yang secara umum
meiliki sifat :
1. Keras, kuat, tetapi bersifat getas atau mudah pecah.
2. Tahan terhadap korosi.
3. Kapasitas panas yang baik dan konduktivitas panas yang rendah.
4. Sifat listriknya dapat menjadi isolator, semikonduktor, konduktor bahkan superkonduktor.
5. Dapat bersifat magnetik dan non magnetik.
Keramik biasanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti mangkok, piring,
cangkir,teko,tempayan dll. Atau keramik yang digunakan untuk bahan bangunan, seperti batubata,genteng keramik, tegel keramik , pipa-pipa keramik untuk pembuangan.

DAFTAR PUSTAKA
Aninom. 2013. Keramik. http://id.wikipedia.org/wiki/Keramik [20 Oktober 2013]
Eko. 2013. Kliping Seni Rupa Terapan Keramik. http://www.slideshare.net/eko123/klipingseni-rupa-terapan-keramik [20 Oktober 2013]
Sergio.2011.Proses Pembuatan Produk Keramik. http://www.ilmusipil.com/proses-pembuatanproduk-keramik [26 November 2013]
SNI 15-1325-1989 BATUAN PIROPILIT UNTUK PEMBUATAN KERAMIK HALUS
SNI 03-2095-1998 GENTENG KERAMIK
SNI 1147-1989-A MASSA BADAN KERAMIK GERABAH HALUS KERAS PLAT TETES
PORSELIN