Anda di halaman 1dari 3

Epilepsi Simtomatik Pasca Encephalitis yang Didiagnosis Awal Sebagai Sindroma

Epilepsi

A. Epilepsi
a. Definisi
Epilepsi adalah kelainan yang ditandai dengan adanya epileptic seizures yang timbul
lebih dari 2 kali dalam waktu lebih dari 24 jam tanpa penyebab dan tidak dihasut
(unprovoked).1,2 Epileptic seizures merupakan gangguan paroksismal terhadap perilaku,
fungsi motorik, atau fungsi autonom atau kombinasi dari ketiganya, yang berhubungan
dengan peningkatan aktivitas synchronous dari sistem saraf pusat.2
b. Etiologi
Bangkitan kejang atau serangan epilepsi dapat dicetuskan oleh inaktivitas sinaps
inhibisi, atau oleh stimulasi berlebihan pada sinaps eksitasi, atau oleh perubahan pada
keseimbangan neurotransmitter-palsu yang memblokade aksi neurotransmitter alamiah.1
Secara etiologi, maka epilepsi dapat dibagi menjadi1,2,3:
Epilepsi Idiopatik, yakni penyebab epilepsi tidak diketahui. Pasien dengan kelainan
ini tidak menunjukkan manifestasi cacat otak dan tidak bodoh. Sebagian dari
golongan ini disebabkan oleh abnormalitas konstitusional dari fisiologi serebral yang
disebabkan oleh interaksi beberapa faktor genetik.
Epilepsi simptomatik, terjadi bila fungsi otak terganggu oleh berbagai kelainan
intrakranial atau ekstrakanial.
c. Patofisiologi
Hingga saat ini belum diketahui dengan baik mekanisme terjadinya bangkitan
epilepsi, namun diketahui beberapa faktor yang ikut berperan, misalnya1,4:
Gangguan pada membran sel neuron.
Potensial membran sel neuron bergantung pada permeabilitas sel tersebut terhadap ion
kalium dan natrium yang dapat diganggu dan berubah oleh berbagai hal seperti
perubahan konsentrasi ion ekstraseluler, stimulasi mekanis atau kimiawi, perubahan
pada membran oleh penyakit atau jejas, atau pengaruh kelainan genetik.1,4
Gangguan pada mekanisme inhibisi prasinaps dan pasca-sinaps.
Pada keadaan normal didapatkan keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi. Efek
inhibisi meningkatkan tingkat polarisasi membran sel, kegagalan dalam mekanisme
ini mengakibatkan terjadinya lepas muatan listrik yang berlebihan sehingga terjadi
hipersinkronisasi.1,4
Sel glia
Sel glia memiliki fungsi mengatur kadar ion kalium ekstraselular disekitar sel neuron
dan terminal presinaps yang pada keadaan cedera(gliosis), fungsi ini dapat terganggu
dan meningkatkan eksitabilitas sel neuron disekitarnya.1,4
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar bangkitan epilepsi berasal dari
sekelompok sel neuron yang abnormal di otak disebut fokus epileptik, kemudian menyebar
melalui jalur-jalur fisiologis-anatomis dan melibatkan daerah disekitarnya atau daerah yang
lebih jauh letaknya di otak.1,2,4 Aktivitas yang berlebihan pada sel neuron dapat memberikan
tiga kemungkinan:
1

1. Aktivitas ini tidak menjalar ke sekitarnya, hanya terlokalisasi pada kelompok neuron
tersebut, kemudian berhenti.
2. Aktivitas ini menjalar sampai jarak tertentu, namun tidak melibatkan seluruh otak,
kemudian menjmumpai tahanan dan berhenti.
3. Aktivitas menjalar ke seluruh otak dan kemudian berhenti.
d. Manifestasi Klinis

e. Diagnosis
f. Penatalaksanaan
B. Sindroma Epilepsi
a. Definisi
Sindrom epilepsi adalah epilepsi yang ditandai adanya sekumpulan gejala dan tanda
klinis yang terjadi bersama-sama, meliputi jenis serangan, etiologi, anatomi, faktor pencetus,
umur onset, berat penyakit, kronisitas dan kadang-kadang prognosis.1
b. Klasifikasi Sindroma Epilepsi
Sindroma epilepsi pada anak diklasifikasikan dengan memperhatikan onset usia
terjadinya kejang, perkembangan kognitif dan pemeriksaan fisik neurologis, deskripsi tipe
kejang dan temuan pada EEG termasuk irama background sehingga dapat diklasifikasi dalam
sindrom yang spesifik. 3
Tabel 1. Klasifikasi Epilepsi dan Sindroma Epilepsi3

Epilepsi terkait lokasi (Fokal, Parsial)


Idiopatik
Benign childhood epilepsy with centrotemporal spikes
Childhood epilepsy with occipital paroxysms
Simtomatik
Subklasifikasi ini bergantung pada lokasi anatomis yang diketahui dari
riwayat klinis, tipe kejang yang sering terjadi, interinctal dan ictal EEG,
serta hasil pemeriksaan penunjang imaging
Terkait lokasi tetapi tidak jelas simptomatik atau idiopatik

Epilepsi Umum
Idiopatik
Benign neonatal familial convulsions
Benign neonatal convulsions
Benign myoclonic epilepsy in infancy
Childhood absence epilepsy (pyknoepilepsy)
Juvenile absence epilepsy
Juvenile myoclonic epilepsy (impulsive petit mal)
Epilepsy with grand mal seizures upon awakening
Other generalized idiopathic epilepsies that do not conform exactly to the
syndromes just described
Epilepsi umum kriptogenik atau simtomatik
2

West syndrome (infantile spasms)


Lennox-Gastaut syndrome
Epilepsy with myoclonic astatic seizures
Epilepsy with myoclonic absences
Simtomatik
Penyebab Non-spesifik
Early myoclonic encephalopathy
Penyakit spesifik yang mendasari terjadinya epilepsi
EPILESI DAN SINDROMA YANG TIDAK TEMASUK SEBAGAI
EPILEPSI FOKAL ATAU UMUM
Epilepsi dengan kejang umum dan fokal
Neonatal seizures
Severe myoclonic epilepsy in infancy
Epilepsy with continuous spike-and-wave patterns during slow-wave sleep
Acquired epileptic aphasia (Landau-Kleffner syndrome)
Without unequivocal generalized or focal features
All cases with GTCS in which the EEG findings do not allow classification as
definitely
SINDROMA SPESIAL
Kejang terkait situasi
Kejang demam
Isolated seizures or isolated status epilepticus
Acute symptomatic seizures:e.g., alcohol withdrawal seizures, eclampsia, uremia
Catatan: CPS (complex partial seizures); EEG (electroencephalogram); GTCS, (generalized
tonic-clonic seizures); SPS (simple partial seizures).
Pengklasifikasian dari sindroma epilepsi ini
memberikan manfaat dalam
meningkatkan penatalaksanaan, pemilihan obat, penentuan kandidat untuk operasi epilepsi
dan memberikan gambaran prognosis yang akurat dan terencana bagi pasien dan keluarga.3

c. nmm