Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH ANALISIS JURNAL

BLOK SENSORY PERCEPTION


SEMESTER IV

Disusun oleh :
Ai Lelly Rosmaya

G1D013021

Wilis Putri Arista

G1D013075

Yuniar Dwina Putri

G1D013071

Dwi Setiyaningsih

G1D013063

Doni Fitri Firdaus

G1D013077

Anis Khairunnisa

G1D013004

Bayu Nurwicaksono

G1D013084

Sukmawati Cita Lestari

G1D013047

Zakiyatul Ulya

G1D013036

Marta Magdalena

G1D013019

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2015

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada
anak, mulai tampak sebelum usia 3 tahun. Kondisi ini menyebabkan mereka tidak
mampu

berkomunikasi

maupun

mengekspresikan

keinginannya,

sehingga

mengakibatkan terganggunya perilaku dan hubungan dengan orang lain (Levy, 2009).
Prevalensi autis beberapa tahun terakhir ini mengalami kenaikan yang signifikan. Center
for Diseases Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat pada bulan Maret 2013
melaporkan, bahwa prevalensi autis meningkat menjadi 1:50 dalam kurun waktu setahun
terakhir. Hal tersebut bukan hanya terjadi di negara-negara maju seperti Inggris,
Australia, Jerman dan Amerika namun juga terjadi di negara berkembang seperti
Indonesia. Prevalensi autis di dunia saat ini mencapai 15-20 kasus per 10.000 anak atau
berkisar 0,l5-0,20%. Jika angka kelahiran di Indonesia 6 juta per tahun maka jumlah
penyandang autis di Indonesia bertambah 0,15% atau 6.900 anak per tahunnya(Pratiwi
dan Dieny, 2014).
Perilaku autis digolongkan menjadi dua jenis yaitu perilaku yang eksesif
(berlebihan) dan perilaku defisit (berkekurangan). Perilaku eksesif adalah perilaku yang
hiperaktif dan tantrum (mengamuk) seperti menjerit, mengepak, mengigit, mencakar,
memukul, dan termasuk juga menyakiti diri sendiri (self abuse). Perilaku defisit adalah
perilaku yang menimbulkan gangguan bicara atau kurangnya perilaku sosial seperti
tertawa atau menangis tanpa sebab serta melamun. Perilaku autis dapat ditangani dengan
beberapa langkah diantaranya melalui pengobatan medis, terapi psikologis, tata laksana
perilaku, dan pengaturan diet (Pratiwi dan Dieny, 2014).
Adapun gejala karakteristik dari autis yaitu kegagalan interaksi sosial secara
kualitatif (non verbal multiple behavior). Terlihat dari ekspresi wajah, tatapan mata,
sikap badan tidak memadai, tidak ada respon timbal balik, dan tidak mampu
membagikan kesenangan secara spontan. Kedua, kegagalan komunikasi verbal secara
kualitatif, seperti terlambat bicara, kegagalan memulai atau mempertahankan
percakapan, penggunaan kata berulang-ulang, tidak mampu bermain sesuai usianya,
tidak bervariasi, monoton, dan tidak ada imitasi. Dan gejala khas ketiga yang bisa
terlihat adalah terdapat pola perilaku stereotipik, mempertahankan perilaku tertentu dan
diulang-ulang. Misalnya, flapping (bertepuk tangan), twisting (berputar-putar), insist dan

persistent preoccupation dengan obyek tertentu (seperti, memutar-mutar roda terus


menerus). Hal itu tentu akan membuat proses perkembangan anak menjadi terhambat.
Salah satu penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan
kemampuan interaksi sosial pada anak autis yaitu dengan melakukan pengajaran
pralinguistik yang merupakan tahapan perkembangan bahasa. Bahasa adalah suatu
sistem simbol lisan yang arbiter yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa
untuk berkomuniksi dan berinteraksi antara sesamanya, berlandaskan pada budaya yang
mereka miliki bersama. Meskipun anak-anak penderita autis tesebut mempunyai
kesulitan dalam berkomunikasi dan berbahasa, tetapi mereka tetap mempunyai
keunikan. Bahkan ada di antara mereka yang menciptakan bahasa mereka sendiri.
Kemampuan pemerolehan bahasa adalah sesuatu yang unik untuk manusia. (Yusuf,
2005).
Menurut Jamaris (2006) perkembangan bahasa pada anak tidak lepas dari faktor
lingkungan. Lingkungan merupakan tempat di mana seorang anak tumbuh dan
berkembang, sehingga lingkungan banyak berperan dalam membentuk kepribadian dan
karakter seseorang. Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan
yang mempengaruhi perkembangan anak, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat.
Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orangtua dan orangorang terdekat.Keluarga bagi seorang anak merupakan lembaga pendidikan non formal
pertama, di mana mereka hidup, berkembang, dan matang. Dalam sebuah keluarga,
seorang anak pertama kali diajarkan pada pendidikan. Melalui pendidikan dalam
keluarga tersebut anak mendapatkan pengalaman, kebiasaan, ketrampilan berbagai sikap
dan bermacam-macam ilmu pengetahuan. Hal itulah yang melandasi dilakukannya
penelitian tentang peningkatan interaksi sosial berhubungan dengan pengajaran
pralinguistik lingkungan pada anak pra sekolah dengan autis.
1.2. Tujuan
1.2.1. Mahasiswa mampu menganalisis jurnal keperawatan tentang gangguan sensori
presepsi
1.2.2. Mahasiswa menerapkan landasan teori yang berhubungan dengan jurnal tentang
gangguan sensori presepsi tersebut
1.2.3. Mahasiswa mampu mengimplikasikan jurnal yang sudah dianalisis pada
keperawatan
1.3. Manfaat

BAB 2. RESUME JURNAL


ABSTRAK
TUJUAN
Anak dengan autisme kurang tertarik untuk memulai dan mempertahankan interaksi
sosial. Intervensi dengan menggunakan teknik bermain rutin dapat membuat kerangka untuk
mengembangan dan mempertahanankan interaksi sosial antara anak tersebut dan lawan
bicaranya.
METODE
Enam anak tidak bicara berumur 5 sampai 8 tahun dengan autism belajar untuk
memulai interaksi socsal dalam bermain rutin. Teknik Prelinguistic Milieu Teaching (PMT)
digunakan untuk mengajarkan anak berkomunikasi dengan sengaja selama bermain rutin.
Intervensi berfokus pada interaksi social anak dengan orang dewasa. Pengaruh dari intervensi
dievaluasi menggunakan desain multiple baseline pada partisipan.
HASIL
Pada permulaan studi, partisipan menunjukan sedikit kekonsistenan untuk berinteraksi
dengan yang lainnya. Dengan intervensi, semua anak menunjukan peningkatan kemampuan
untuk meneruskan interaksi social, buktinya adalah peningkatan jumlah interaksi komunikatif
selama bermain rutin. Partisipan juga menunjukan peningkatan dalam hal memulai
komunikasi yang disengaja.
KESIMPULAN
Perkembangan dari komunikasi prelinguistik yang disengaja dalam rutinitas sosial
membuat peluang untuk orang dewasa mengajarkan kemampuan besosial dan berkomunikasi
kepada anak usia sekolah dengan autisme yang tidak berbicara.
ISI
Karakteristik yang ditemukan pada anak autis adalah kelemahan dalam melakukan
interaksi social. Anak dengan autisme menunjukan sedikit timbal balik sosial dan mengalami
kekurangan dalam perilaku nonverbal, seperti tatapan mata, ekspresi muka, postur tubuh, dan
gesture untuk berkomunikasi dan mengatur interaksi social (American Psychiatric
Association, 1994).
Komunikasi disengaja digambarkan sebagai perilaku yang dimaksudkan untuk
mengartikan komunikasi orang lain, mengetahui jika pendengar akan menerima pesan dan
melakukannya. Anak dengan autism terkadang tida mengalami perkembangan kemampuan
kominikasi disengaja, mereka mungkin mengembangkan maksud komunikasi yang tidak
tepat, termasuk perilaku aneh seperti bertepuk tangan atau perilaku menantang seperti
penggasakan, ketika mereka sudah dewasa (Murphy et al., 2005, Schuler, Prizant, &
Wetherby, 1997).
Perilaku buruk yang sering ditunjukan oleh anakdenga autism adalah menghalangi
interaksi dengan orang dewasa yang akan sangat berpengaruh untuk perkembangan
kemampuan komunikasi disengaja. Karakteristik ini meliputi, membatasi minat, cemas, selfinjury, melakukan aktivitas berlebih, kurang perhatian, perlawanan untuk berubah, dan respon
sensori abnormal. Anak dengan autism mungkin akan memiliki kesulitan belajar dalam
interaksi social.

Rutinitas bermain sangat berguna dalam mengajarkan tentang interaksi social dan
komunikasi disengaja pada anak muda. Rutinitas bermain memberikan kesempatan interaksi
antara anak dan orang tua yang memperbolehkan anak untuk mengobservasi proses
komunikasi.
Satu intervensi yang dapat digunakan untuk mengajarkan anak berinteraksi secara
konsisten menggunakan perilaku nonverbal dalam rutinitasnya adalah dengan menggunakan
Prelinguistic Milieu Teaching (PMT). PMT dirancang untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi prelinguistic pada anak. Prosedur dari PMT adalah membiarkan anak bermain
secara rutin dalam lingkungan yang natural.
Brady and Bashinski (2008) menerapkan medifikasi pada PMT kepada 9 anak yang
menunjukan kekurangan yang signifikan, termasuk kehilangan pendengaran dan penglihatan.
Selama intervensi, semua partisipan menunjukan peningkatan dalam komunikasi disengaja.
Untuk memeriksa efek dari PMT, maka digunakan dua pertanyaan, yaitu apa efek PMT pada
perkembangan berkomunikasi yang disengaja pada anak? Dan apa efek PMT pada permulaan
berkomunikasi disengaja pada anak?
METODE
DESIGN STUDY
Menggunakan metode multiple baseline dimana tiap anak menjalankan kontrolnya
masing-masing dengan membandingkan perubahan nilai dari variable dipenden (contohnya
komunikasi anak) sebelum dan sesudah dikenalkan pada variable independen (PMT) untuk
mengetahui dampak dari tindakan yang ditetapkan.
PARTISIPAN
Enam anak dengan autism berpartisipasi dalam studi ini. Semua partisipan sesuai
dengan criteria inklusi, yaitu terdiagnosa autis oleh physician atau psychologist,
menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa dominan didalam rumah, kurangnya fungsionil
kominikasi (seperti tidak konsisten menggunakan vokalisasi, tatapan mata, atau gestur untuk
berkomunikasi), memiliki pendengaran, penglihatan, dan kemampuan motorik yang normal,
dan perkembangan bahasa pada usia kurang dari 18 bulan untuk menerima dan
mengekspresikan bahasa.
Pertama, orang tua partisipan akan diwawancara dan ditanyai beberapa pertanyaan
yang berhubungan denga kemampuan berkomunikasi anaknya. Kemudian dilanjutkan dengan
benerapa penilaian lainnya, seperti penilaian menggunakan The Childhood Autism Rating
Scale (CARS) bertujuan untuk mengklasifikasikan seberapa parah autism pada anak. The
ReceptiveExpressive Emergent Language Scale, Third Edition (REEL3) ditunjukan ketika
interview dengan orang tua untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan
perkembangan umur dengan kemampuan anak untuk menerima dan mengekspresikan bahasa.
Karena REEL-3 hanya digunakan pada anak usia diatas 3 tahun, nilai standar dan tingkat
persentil tidak dapat menjadi patokan.
Semua partisipan tergolong memiliki level autism sedang sampai berat, dengan nilai
total CARS antara 38 sampai 48. Semua partisipan menunjukan ekspresif berbahasa antara 5
dan 9 bulan dan menerima bahasa antara 5 dan 12 bulan.

SETTING and ROUTINES


Dalam semua sesi bermain akan diikutsertakan anggota keluarga dari anak. Mainan
dan peralatan akan diatur menyerupai lingkungan rumah anak untuk mendukung teknik PMT.
DATA COLLECTION and CODING
Semua pengkajian, garis dasar, intervensi, dan sesi tindaklanjut direkam untuk tujuan
pengumpulan data. Kamera di atur oleh orang dewasa sebelum tiap-tiap sesi. Jika anak
berpindah ke ruangan lain, maka orang dewasa juga harus memindahkan kamera tersebut.
Setelah sesi selesai, semua video akan diputar ulang dan dikodekan di laboratory universitas.
Penilaian permenit dihitung dari membagi nilai total komunikasi disengaja anak dengan nilai
total waktu dalam satu sesi. Tindakan tidak dihitung ketika kepala anak tidak terjangkau oleh
pantauan kamera, dan terkadang anak akan mematikan kamera, jika itu terjadi maka tidak
dapat dimasukan dalam total waktu sesi.
PROSEDUR
Semua sesi berlangsung antara 25-30 menit, Semua anak menerima 14 sesi perawatan
(dua kali per minggu). Sebuah fase tindak lanjut dilakukan setelah 4 sampai 6 minggu
istirahat untuk mengevaluasi apakah kemampuan komunikasi yang diperoleh dalam
intervensi dipertahankan atau tidak. Evaluasi awal, sesi awal, dan sesi pengobatan yang
dilakukan oleh penulis pertama, yang merupakan ahli patologi bicara dan bahasa yang
berlisensi dan boardcertified analis perilaku dengan pengalaman intervensi PMT. Dalam
uraian berikut penelitian, penulis ini akan disebut sebagai "orang dewasa."
Sebelum intervensi, dilakukan pengukuran kemampuan berkomunikasi pada masingmasing peserta. Selama sesi awal, orang dewasa (peneliti) berinteraksi dengan alami tanpa
menggunakan teknik PMT. Orang dewasa dipertahankan untuk tetap dekat dengan anak dan
memperahatikan ekspresi nonverbal anak ketika beraktifitas. Jika anak mecoba
berkomunikasi maka orang dewasa akan menanggapi dengan cara membuat komentar netral
(misalnya, Oh. iya). Selama sesi intervensi, setiap anak diajarkan untuk menggunakan
vokalisasi, gerak tubuh, dan tatapan mata menggunakan teknik PMT yang dijelaskan
sebelumnya dalam protokol penelitian dan buku pelajaran (McCauley & Fey, 2006).
PMT dirancang untuk menciptakan konteks yang dapat meningkatkan komunikasi.
konteks didirikan dengan mengatur lingkungan dan menggunakan rutinitas bermain dengan
tujuan menciptakan kesempatan bagi anak untuk memulai komunikasi. Orang dewasa
mengikuti perhatian anak, memotivasi, dan meniru vokalisasi anak. Apabila pola bermain
anak terganggu maka orang dewasa akan berusaha untuk ikut terlibat. Misalnya, jika anak
terlibat dalam bermain berulang dengan bola, orang dewasa akan mencoba untuk bergabung
dan membuat permainan yang lebih interaktif dengan menciptakan permainan "menangkap"
dengan bola. Selanjutnya, orang dewasa melakukan serangkaian episode mengajar. Sebuah
episode Pengajaran umumnya dimulai dengan orang dewasa menciptakan situasi di mana
anak cenderung untuk berkomunikasi dan berakhir dengan konsekuensi alami (Warren et al.,
2006). "Konsekuensi Alam" termasuk merespon sesuai permintaan atau tersenyum dan
mengangguk ketika anak berkomunikasi. Dan apabila anak telah diberi kesempatan untuk

berkomunikasi dan ia tidak melakukan, maka orang dewasa akan mendorong anak untuk
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa bahasa tubuh kepada anak.
Kesimpulan setelah dilakukan intervensi selama enam minggu, dua sampai tiga lebih
sesi intervensi telah dilakukan untuk mengamati pemeliharaan kemampuan yang ditargetkan.
Selama waktu istirahat ketika intervensi, tidak ada kontak antara orang dewasa dengan anak.
Orang tua tidak diperintahkan untuk menggunakan teknik PMT dan tidak secara resmi dilatih
untuk menerapkan teknik PMT. Namun, karena orangtua hadir pada semua sesi intervensi
dan ketika ada pertanyaan maka orang dewasa (peneliti) menjawab dengan baik, diantisipasi
bahwa orang tua bisa menggunakan beberapa teknik pengobatan.
ANALISIS DATA
Hasil penelitian didapat berdasarkan analisis visual dan kalkulasi ukuran efek.
Penentuan efek dengan metode analisis visual berdasarkan pada perubahan variabilitas, trend,
dan level dari data diantara tiap tiap fase. Trend data mendeskripsikan arah poin data
melewati waktu; apakah perilakunya stabil, naik, atau turun. Variabilitas mendeskripsikan
varian poin data dari pengukuran. Sementara level mendeskripsikan rata-rata pengukuran dari
poin-poin data tiap fase. Efek akan terlihat jika data menunjukkan (a) rendah, perilaku dasar
stabil dan (b) trend naik dan secara keseluruhan level data naik pada variabel independen
(intervensi). Pemilihan efek pada analisis ini adalah peningkatan angka atau jumlah
perbedaan. IRD merupakan perbedaan proporsi dari skor tinggi diantara fase dasar dan
intervensi. IRD dikalkulasikan sebagai perbedaan diantara dua proporsi independen dan
secara komputasi identik dengan resiko relatif (Relative Risk) pada analisis regresi logistik.
Resiko relatif telah diterima sebagai metode untuk menentukan efikasi perawatan atau
treatment di dunia medis.

RELIABILITAS
Reliabilitas diukur dengan persetujuan pengkajian intraobserver (IOA) atau
membandingkan pengamatan dari hasil variabel diantara para observer. Proses ini terdapat
sesi double coding untuk menurunkan resiko subjektivitas dan bias yang mungkin terjadi jika
hanya dengan satu observer. IOA dievaluasi melalui dua indikasi : persetujuan persentasi dan
prevalensi serta pengaturan bias kappa. Hal tersebut mengindikasikan desain untuk mengkaji
persetujuan yang pasti diantara para observer. Untuk menentukan jumlah kegiatan untuk
mempertahankan interaksi secara rutin, angka tertinggi dari kegiatan anak pada aktivitas
tunggal yang rutin per sesi dan dibandingkan diantara observer.

TREATMENT FIDELITY
Fidelitas perawatan termasuk penentuan akurasi dari implementasi intervensi.
Aplikasi akurat dari teknik PMT dievaluasi secara relatif terhadap tiap periode pengajaran
kegiatan komunikasi anak. Proses pengajaran termasuk serangkaian petunjuk, model, dan

konsekuensi alami yang termasuk didalamnya adalah aksi atau kegiatan komunikasi anak.
Satu kegiatan mengajar umumnya meliputi (a) mengusahakan situasi dimana anak anak
merasa senang untuk berkomunikasi, (b) menggunakan teknik yang spesifik (dorongan atau
model) jika dibutuhkan, dan (c) merespon atau menanggapi usaha anak untuk berkomunikasi
(kepatuhan, inisiasi, atau memperbaiki). Komunikasi setiap anak dikaji dan dinilai apakah
para orang tua mengimplementasikan teknik dibwah ini dengan baik atau tidak :
1. Enabling Context (Konteks yang memadai)
Speech Language Pathologist (SLP) menciptakan situasi dimana partisipan mau untuk
berkomunikasi dan menunggu anak untuk berusaha berkomunikasi. SLP mengikuti arahan
anak untuk motivasi rutin.
2. Prompting (Pemicu)
Jika anak tidak ada inisiatif untuk beriknteraksi, SLP menggunakan picuan atau dorongan
yang tepat supaya anak dapat berkomunikasi sesuai dengan apa yang anak inginkan. SLP
digunakan tidak untuk dua picuan sebelum berpindah ke interaksi. Jika anak berinisiatif
untuk memulai komunikasi, tidak ada picuan atau dorongan yang harus diguanakan.
3. Respon Terhadap Komunikasi
SLP berespon secara tepat terhadap usaha anak untuk berkomunikasi. Respon yang
tepat meliputi mengimitasi atau menirukan anak, memberikan anak benda-benda kesukaan
atau aktivitas yang diinginkannya, atau memperbaiki dengan kata-kata yang sesuai dengan
apa yang diusahakan anak untuk berkomunikasi.
Treatment fidelity dikalkulasi untuk masing-masing tiga variabel dengan membagi
jumlah episode dengan implementasi yang tepat dan jumlah total episode dikalikan 100%.
Rata-rata treatment fidelity untuk orang dewasa yang menciptakan konteks yang memadai
adalah 100% untuk seluruh partisipan. Rata-rata treatment fidelity untuk orang dewasa yang
menggunakan pacuan atau dorongan positif adalah 100% untuk seluruh partisipan. Rata rata
treatment fidelity untuk respon terhadap komunikasi anak adalah 98% secara keseluruhan
dengan rentang dari 94% sampai 100%. Persentase yang tinggi tersebut mendukung bahwa
intervensi berjalan dengan akurat.

VALIDASI SOSIAL
Validasi sosial diukur dengan membandingkan skala rating antara data awal dan
intervensi untuk hal-hal yang merepresentasikan sosial-ekonomi dan aspek praktik dari
intervensi. Dua puluh empat siswa yang sudah lulus menjawab tujuh pertanyaan yang telah
diadaptasi dari pengkajian validasi sosial menggunakan skala 5-point Likert-type.
Pertanyaannya meliputi apakah intervensi menyenangkan, bermanfaat, rehabilitatif, dan
mudah digeneralisasikan. Validasi sosial dikaji dengan memeriksa perubahan skala rating
pada validasi sosial sebelum dan selama perawatan (baseline rating vs treatment rating)

secara rata-rata untuk tiap partisipan. Intervensi akan dikategorikan lebih valid secara sosial
jika pada kuisioner rating untuk intervensi lebih tinggi dan rating untuk baseline lebih rendah.

HASIL
Penelitian terhadap jumlah kegiatan anak yang digunakan untuk mempertahankan
interaksi sosial secara rutin dilakukan untuk menjawab pertanyaan apakah efek PMT pada
perkembangan interaksi sosial dengan bermain salient secara rutin. Gambar 1 menunjukkan
jumlah aktivitas anak maksimum untuk mempertahankan interaksi sosial selama aktivitas
tunggal rutin pada tiap sesi. Awalnya menunjukkan datar, tingkatnya rendah pada komunikasi
internasional tetapi sedikit kemampuan untuk mempertahankan aktivitas tunggal yang rutin
selama sesi (rentang rata-rata 0.3-2.5 acts). Level yang rendah ini akan menandakan bahwa
mereka tidak secara konsisten berpartisipasi pada permainan rutin sebelum perawatan.
Selama intervensi, partisipan mendemonstrasikan perkembangan yang terlihat , sedikitnya
memperlihatkan sedikit peningkatan pada komunikasi dibandingkan dengan baseline atau
fase awal.
Data lanjutan menunjukkan bahwa sebagian besar pastisipan dapat mempertahankan
kemampuan mereka yang sudah meningkat untuk mengembangkan interaksi selama aktivitas
rutin bahkan setelah 6 minggu tidak dilakukan intervensi. Pertanyaan kedua tentang apakah
efek dari PMT pada inisiasi partisipan dalam interaksi sosial diukur tingkatannya tiap menit
dengan menghitung jumlah berapa kali inisiatif anak untuk berkomunikasi dengan orang
dewasa selama masing-masing sesi dibagi jumlah waktu (dalam menit) pada tiap sesi.
Gambar 2 menunjukkan frekuensi inisiatif anak untuk berkomunikasi tiap sesi pada seluruh
partisipan. Semua partisipan stabil pada fase awal atau baseline, dengan hampir tidak ada
usaha komunikasi selama sesi awal. Tingkat inisiasi komunikasi maksimum pada partisipan
adalah 2 selama sesi awal, hanya sedikit yang memperoleh 1. Hasil ini menunjukkan
konsisten dengan laporan orang tua mengenai tipe komunikasi tiap-tiap anak.
Hasil mengindikasikan bahwa para partisipan tidak mendemonstrasikan komunikasi yang
intens sebelum intervensi. Selama intervensi, terjadi peningkatan inisiasi komunikasi yang
intens dibandingkan dengan sebelumnya pada ke enam anak. Seluruh partisipan dapat
mempertahankan atau meningkatkan kemampuan komunikasi mereka selama follow up.
Diskusi
Tujuan dari studi ini adalah untuk meneliti penggunaan intervensi PMT pada populasi
anak usia sekolah yang telah didiagnosa dengan autisme sedang-tinggi dan keterlambatan
komunikasi yang parah. Premis utama dari PMT adalah komunikasi prelinguistik
menyediakan fondasi untuk pengembangan komunikasi linguistik di masa yang akan datang.
Tetapi, anak-anak dengan usia lebih tua yang melanjutkan untuk mendemonstrasikan defisit
komunikasi yang parah mungkin tidak memiliki potensi untuk mengembangkan komunikasi
linguistik. Ketika anak menunjukkan komunikasi prelenguistik yang persisten sampai usia
sekolah, edukator menghadapi pertanyaan apakah menggunakan pendekatan yang fungsional

ataukah developmental sebagai intervensi komunikasinya. Tujuan utama dari mengajar


komunikasi yang intensif adalah untuk mendapatkan arti dari komunikasi intens yang
konsisten dan jelas. Tetapi jika anka memiliki potensi bentuk komunikasi liguistik yang
berkembang, maka mengajari anak tersebut dengan bentuk prelinguistik mungkin bukan cara
yang tepat.
Secara keseluruhan, intervensi PMT untuk anak usia sekolah dengan autism yang parah
disertai ketidakmampuan komunikasi yang baik dapat menyediakan jalan melalui
peningkatan fungsi keseluruhan. Walaupun komunikasi simbolis tidak tercapai, efek
perkembangannya jelas dan konsisten berarti komunikasi merupakan sesuatu yang
bermanfaat dan baik. Kapasitas komunikasi prelinguistik yang menetap dapat memperlebar
rentang dari keseluruhan interaksi fungsional pada lingkungan sosial anak. Dengan kapasitas
komunikasi yang konsisten dan mudah dipahami oleh orang lain, anak dengan kemampuan
komunikasi prelinguistik bisa mendapat arti untuk berkomunikasi secara konsisten. Kasus
lain pada anak dengan usia yang lebih tua, dan anak yang tidak mampu berbicara,
kemampuan komunikasi dapat meningkat dengan frekuensi komunikasi yang intensif dengan
orang tua. Jadi, anak meningkatkan kemampuan komunikasinya dengan mengetahui arti yang
jelas dan transparan dari berkomunikasi dan orang tua atau care giver meningkatkan interaksi
yang responsive untuk menciptakan interaksi yang lebih kompleks dan konsisten.
CLINICAL IMPLICATIONS
Intervensi komunikasi langsung dengan menggunakan teknik PMT berhasil dalam
mengajar anak-anak dengan tingkat fungsi perkembangan yang rendah untuk meningkatkan
komunikasi dalam interaksi sosial. Temuan positif memiliki implikasi untuk perencanaan
pengobatan untuk anak-anak dengan keterlambatan komunikasi yang parah. Tujuan yang
tepat untuk anak-anak ini mungkin termasuk mengajarkan perilaku komunikatif yang mudah
diidentifikasi dalam interaksi sosial. Menggunakan bahan bermain sesuai dengan tahapan
perkembangan dan rutinitas, PMT mungkin merupakan intervensi yang tepat untuk
mengajarkan keterampilan tersebut.
Tujuan intervensi antara lain untuk meningkatkan tingkat interaksi sosial dan
komunikasi, yang penting bagi anak untuk dapat berbaur di lingkungan sehari-hari. Guru dan
orang tua dapat bekerjasama untuk mendukung rutinitas sosial yang signifikan ketika anak
berada dalam 2 situasi. Namun, pelaksanaan PMT itu bukan tanpa tantangan bagi kelompok
anak-anak. beberapa karakteristik perilaku umum pada anak-anak dengan autisme
menghambat pengembangan rutinitas bermain sosial dalam proses intervensi. Anak-anak
dengan autisme sering melakukan perilaku yang menantang. Selain itu, beberapa anak yang
tidak tahan terhadap lingkungan yang ramai, dapat mempersulit dalam meningkatkan atau
membangun langkah-langkah dalam rutinitas sosial. Misalnya, Sam (partisipan) terkadang
menjadi kaku dalam menyelesaikan semua rutinitas dalam urutan tertentu.
korelasi statistik variabel peserta untuk perubahan variabel independen tidak dapat
dihitung. Namun, beberapa variabel pretreatment telah diidentifikasi yang mungkin
berdampak pada respon peserta tersebut terhadap intervensi. Peringkat keparahan autis yang
lebih rendah dan perkembangan bahasa yang lebih tinggi adalah karakteristik dari pemain

terbaik di dalam kelompok. Dengan demikian, kandidat terbaik untuk intervensi ini adalah
orang-orang yang (a) memiliki tingkat bahasa perkembangan 9-12 bulan, (b) menunjukkan
gejala autisme yang lebih ringan, dan (c) memiliki prilaku menantang yang rendah. Usia
kronologis tampaknya tidak berpengaruh di dalam kelompok anak-anak.
LIMITATIONS and FUTURE RESEARCH
Penelitian ini menunjukkan hasil yang positif untuk intervensi PMT pada tingkat dan
pemeliharaan komunikasi anak-anak usia sekolah dengan autisme. Namun, penelitian ini
merupakan eksplorasi awal dari dampak PMT pada populasi. Ada keterbatasan yang harus
diperhatikan sebelum hasil ini dapat digeneralisasi untuk populasi yang lebih banyak dengan
cacat lebih parah. Intervensi ini memiliki efek yang jelas dan anak-anak mengalami
peningkatan kemampuan berkomunikasi.
Pada penelitian di masa depan, mungkin sebelum anak diberikan intervensi akan dilakukan
pemeriksaan yang ketat bagaimana kemampuan anak berkomunikasi dengan pengasuhnya.
Penelitian lebih lanjut dengan kelompok yang lebih besar dari peserta diperlukan untuk lebih
memahami berbagai jenis dan variasi individu dalam tren kelompok untuk anak-anak dengan
autisme. Penelitian di masa depan juga harus memasukkan komponen keterlibatan orang tua,
yang digunakan dalam hubungannya dengan intervensi PMT. Selain itu, langkah berikutnya
yang penting yaitu mengevaluasi efek dari intervensi PMT dilaksanakan langsung di ruang
kelas.
Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan teknik PMT berhasil
meningkatkan kemampuan komunikasi dan inisiasi keterampilan komunikasi dalam enam
anak usia sekolah yang mengalami autism (Yoder & Warren, 1998)

BAB 3. PEMBAHASAN
3.01. Analisis Jurnal
Autis merupakan kondisi introversi mental dengan perhatian yang tertuju pada ego
sendiri. Anak yang mengalami gangguan ini akan terlihat lebih emosional, ditandai dengan
adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi,
dan interaksi sosial (Fadhli, 2010). Secara umum, anak yang mengalami gangguan ini akan
mengalami efek pada sistem pencernaan, syaraf, dan kekebalan tubuh.
Autis merupakan kelainan syaraf yang unik, karena tidak ada tes medik yang dapat
membedakan diagnosis autis. Jika seorang anak mengalami autis, ketika dipanggil namanya
dia tidak merespon. Bayi juga terlihat kurangmenjalin hubungan mata dengan orang lain.
Ketika berumur satu tahun, ia belum bisa menunjuk. Setelah lebih dari satu tahun,
perkembaangan bahasanya agak terlambat. Jika sudah bisa berbahasa, penggunaannya tidak
secara produktif meskipun kosa katanya bagus. Secara garis besar, dia tidak memperhatikan
keberadaan orang lain, mungkin juga membuat kontak dengan anak lain, tetapi tidak tahu
bagaimana harus bertindak. Saat mengikuti permainan, ia terlihat kasar, mengulang-ulang dan
nampak gelisah.
Menurut Fadhli (2010), untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau
tidak, digunakan standar internasional tentang autis. ICD-10 International Classification of
Diseases 1993 dan DSM-IV Diagnostic and Statstic Manual 1994 merumuskan kriteria
diagnosis untuk mengetahui anak mengalami autis atau tidak. Terdapat tiga gangguan (1), (2),
dan (3), dan untuk menentukan anak autis atau tidak setidaknya ada minimal 2 gejala dari
gangguan (1), dan masin-masing 1 gejala dari gangguan (2) dan (3).
(1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada 2 dari
gejala di bawah ini:
a. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai seperti kontak mata
sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, dan gerak gerik kurang tertuju.
b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya.
c. Tidak ada empati dan tidak dapat merasakan apa yang diraskana orang lain.
d. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.
(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala di
bawah ini:
a. Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak
berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal.

b. Bila anak bisa berbicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi.
c. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.
(3) Adanya suatru pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan
kegiatan. Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini:
a. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan
berlebihan.
b. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada
gunanya.
c. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang. Seringkali sangat
terpukau pada bagian-bagian benda

Daftar pustaka
Referensi
Jamaris, M. (2006). Perkembangan dan pengembangan anak usia taman kanak-kanak.
Jakarta: Grasindo.
Levy, Susan E; David S. Mandell; Robert T. Schultz. (2009). Autism. National Institutes of
Health, 374 (9701): 1627-1638, doi:10.1016/S0140-6736(09)61376-3.
Pratiwi, R.A. dan Dieny, F.F. (2014). Hubungan skor frekuensi diet bebas gluten bebas casein
dengan skor perilaku autis. Journal of Nutrition College. Vol. 3.
Yusuf, S. (2005).Psikologi perkembangan anak dan remaja.Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental
disorders (4th ed.). Washington, DC: Author.
Murphy, G., Beadle-Brown, J., Wing, L., Could, J., Shah, A., & Holmes, N. (2005).
Chronicity of challenging behaviours in people with severe intellectual disabilities
and/or autism: A total population sample. Journal of Autism and Developmental
Disorders, 35, 405418
Brady, N. C., & Bashinski, S. M. (2008). Increasing communication in children with
concurrent vision and hearing loss. Research and Practice for Persons with Severe
Disabilities, 33(12), 5970.
McCauley, R. J., & Fey, M. E. (2006). Treatment of language disorders in children.
Baltimore, MD: Brookes.
Watt, N., Wetherby, A., & Shumway, S. (2006). Prelinguistic predictors of language outcome
at 3 years of age. Journal of Speech, Language, and Hearing Research, 49, 1224
1237.
Yoder, P., & Warren, S. F. (1998). Maternal responsivity predicts the prelinguistic
communication intervention that facilitates generalized intentional communication. Journal
of Speech, Language, and Hearing Research, 41, 12071219.
Fadhli, A. 2010. Buku pintar kesehatan anak. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Anggrek.