Anda di halaman 1dari 15

PENERAPAN SANKSI ADMINISTRASI TERHADAP KASUS PENCEMARAN AIR OLEH PT.

KALTIM PRIMA COAL DI SUNGAI BANDILI KABUPATEN KUTAI TIMUR


(Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup)

THE APPLICATION OF ADMINISTRATIVE SANCTIONS IN CASES OF WATER


POLLUTION BY PT. KALTIM PRIMA COAL IN THE EAST KUTAI REGENCY BANDILI
RIVER
(IN TERMS OF ACT NO. 32 OF 2009 ON THE THE PROTECTION AND ENVIRONMENTAL
MANAGEMENT)

Siti Kamsiah
Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Samarinda

ABSTRACT
Environmental contamination that occurred in recent times due to lack of
knowledge about treating waste generated in the pollution. River pollution in the East
Kutai Regency Bandili that have occurred due to river water pollution from mining waste
by PT. Kaltim Prima Coal (KPC), overflowed at high rainfall. The form of a written
warning is because the parties had promised to resolve the issue as soon as possible.
Otherwise it is not because of deliberate contamination of PT. Kaltim Prima Coal (KPC)
East Kutai regency.

Keywords: water pollution and administrative sanctions

ABSTRAK
Pencemaran lingkungan yang terjadi pada masa sekarang dikarenakan
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang mengolah limbah yang dihasilkan dalam
pencemaran. Pencemaran yang terjadi di Sungai Bandili Kabupaten Kutai Timur yang
telah terjadi pencemaran air sungai dikarenakan limbah dari penambangan oleh PT.
Kaltim Prima Coal (KPC), meluap pada curah hujan yang tinggi. Pencemaran yang terjadi
akibat jebolnya settling pond milik PT. Kaltim Prima Coal Kabupaten Kutai Timur,
sehingga luapan limbah yang berada di kolam penampungan meluap ke arah sungai dan
mencemari Sungai Bandili Kabupaten Kutai Timur.
Kata Kunci : pencemaran air dan sanksi administrasi

PENDAHULUAN
Pada saat ini, pencemaran terhadap lingkungan berlangsung di mana-mana
dengan laju yang sangat cepat. Sekarang ini beban pencemaran dalam lingkungan sudah
semakin berat dengan masuknya limbah industri dari berbagai bahan kimia termasuk
logam berat.
Pencemaran lingkungan yang terjadi di masyarakat dewasa ini, dikarenakan
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bagaimana cara pengelolaan limbah yang
dihasilkan dalam pencemaran, jika ini dibiarkan akan berakibat pada pencemaran udara,
pencemaran tanah dan pencemaran air.
Seperti hal yang terjadi di Sungai Bandili Kecamatan Sangatta, Kabupaten Kutai
Timur. Dengan jebolnya settling pond milik PT. Kaltim Prima Coal (KPC) ini,
mengakibatkan limbah yang berada di kolam penampungan mengalir ke arah Sungai
Bandili di Kabupaten Kutai Timur yang mengakibatkan pencemaran air.
Lokasi Settling Pond Lower Melaso1 oleh PT. Kaltim Prima Coal (KPC) telah
ditemukan aliran air limbah cair dan aliran air lumpur yang cukup besar yang mengalir ke
Sungai Sangatta.
Oleh karena itu, pihak PT. Kaltim Prima Coal (KPC) diminta untuk bertanggung
jawab atas terjadinya pencemaran air tersebut. Badan Lingkungan Hidup (BLH)
Kabupaten Kutai Timur memberikan sanksi administrasi berupa surat teguran kepada
PT. Kaltim Prima Coal (KPC) agar segera menghentikan pembuangan lumpur dari kolam
pengendapan lumpur pada areal tambang, menampung untuk mengurangi pelimbahan
air ke Sungai Bandili, serta segera untuk melakukan kajian teknis ulang yang mampu
menampung kapasitas yang berlebihan khususnya pada kondisi curah hujan di atas ratarata.
Telah di duga terjadi ambang batas yang melebihi batas baku mutu air Sungai
Bandili di Kabupaten Kutai Timur, berdasarkan laporan dari Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) melanggar Pasal 99 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Berdasarkan laporan yang ada, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai
Timur menegaskan kepada PT. Kaltim Prima Coal (KPC), agar segera menghentikan
pembuangan lumpur dari kolam pengendapan lumpur (sludge drying bed), mengangkut
lumpurnya pada areal tambang dan memompa air yang berada di Settling Pond Lower
Melaso ke kolam lain yang dapat menampung untuk mengurangi pelimbahan air ke
Sungai Bandili.2
Lokasi Settling Pond Lower Melaso harus segera membuat kajian teknis ulang
yang mampu menampung kapasitas yang berlebihan khususnya pada kondisi curah
hujan di atas rata-rata.

Settling Pond Lower Melaso, nama tempat Settling Pond (Kolam penampungan) yang
berada di PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur.
2
Surat Keputusan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Timur, 2010, Nomor
010/1227/6.2.BLH/XI/2010, tentang Sanksi Administrasi.

PERUMUSAN MASALAH
1.

2.

Apakah penerapan sanksi administrasi yang dilakukan oleh Badan Lingkungan


Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur sudah sesuai dengan Pasal 76 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup ?
Apa yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur dalam
pengawasan sanksi administrasi yang diberikan kepada PT. Kaltim Prima Coal
(KPC) ?

METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian :
Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penulisan hukum ini adalah
yuridis empiris. Penelitian hukum secara yuridis empiris yaitu mengkaji hukum yang
dikonsepkan sebagai perilaku nyata, sebagai gejala sosial yang sifatnya tertulis, yang
dialami setiap orang dalam hubungan hidup bermasyarakat.3
Waktu dan Lokasi Penelitian :
Waktu dan jadwal penelitian yang dilakukan oleh penulis dilaksanakan selama 6
(enam) bulan yaitu mulai 15 Nopember 2011 dan berakhir sampai dengan 15 Mei 2012
dengan mengambil lokasi di Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur dan PT.
Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur.
Sumber Data :
1. Data Primer, yaitu :
data yang diperoleh dari hasil penelitian lapangan berupa hasil observasi dan
wawancara kepada pihak terkait.
2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh berupa :
Buku-buku, penelusuran internet, hasil penelitian (hukum) skripsi, maupun tesis,
jurnal serta literatur-literatur yang relevan dan mendukung penelitian ini.
Metode Pengumpulan Data :
1. Data Primer diperoleh melalui penelitian lapangan dengan metode: Observasi,
Wawancara.
2. Data Sekunder, diperoleh melalui : Studi dokumen, Studi kepustakaan.

Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, halaman 155.

Analisis Data :
Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif, artinya penelitian yang
bermaksud untuk membuat (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian - kejadian
selanjutnya dipisah berdasarkan materi bab per bab, sehingga memudahkan
penyusunan selanjutnya dianalisis dan dijadikan dasar dalam membuat suatu
kesimpulan terhadap penerapan sanksi administrasi terhadap pencemaran air oleh PT.
Kaltim Prima Coal (KPC) di Sungai Bandili Kabupaten Kutai Timur.

PEMBAHASAN
1. Apakah Penerapan Sanksi Administrasi Menurut Pasal 76 Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Yang
dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur.
Pasal 76 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup yang mengatur tentang sanksi administratif,
menjelaskan bahwa setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan jika dalam
pengawasan ditemukan pelanggaran terhadap izin lingkungan maka dapat
dikenakan sanksi administratif.
Sesuai yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, sanksi administratif terdiri atas :4
a. Teguran tertulis
Pemberian surat peringatan atau teguran keras kepada penanggung jawab
kegiatan agar memenuhi persyaratan baku mutu limbah dalam jangka
waktu yang ditetapkan.
b. Paksaan pemerintah
Kewenangan pejabat tata usaha negara untuk atas biaya pelanggar guna
menyingkirkan, mencegah, melakukan, atau mengembalikan pada keadaan
semula apa yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan,
yang telah atau sedang diadakan, dibuat atau ditempatkan, diusahakan,
dilalaikan (ditelantarkan), dirusak atau diambil.
c. Pembekuan izin lingkungan
Dilakukan apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak
melaksanakan paksaan Pemerintah.
d. Pencabutan izin lingkungan
Dilakukan karena tidak memenuhi persyaratan baku mutu limbah atau
emisi setelah jangka waktu yang ditetapkan dilampaui dan apabila
pengusaha yang bersangkutan tidak menunjukkan itikad memenuhi
ketentuan yang berlaku.
Akibat dari pencemaran yang terjadi karena jebolnya settling pond milik PT.
Kaltim Prima Coal meluap pada saat curah hujan yang tinggi, telah ditemukan aliran
air limbah yang cukup deras mengalir ke arah Sungai Bandili. Dengan adanya bukti
4
Pasal 76 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.

itu, masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Bandili dan Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) Kabupaten Kutai Timur melaporkan hal ini ke Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur untuk minta menindaklanjuti pencemaran yang
terjadi.
Masyarakat itu sendiri mengaku, semenjak terjadi pencemaran di Sungai
Bandili mereka tidak dapat memanfaatkan air sungai tersebut seperti biasanya.
Sedangkan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kutai Timur
mengeluhkan pencemaran ini karena sumber air yang dipakai ialah air Sungai
Bandili dan karena air sungai bercampur dengan lumpur, maka Perusahaan Daerah
Air Minum (PDAM) Kabupaten Kutai Timur tidak dapat menggunakan sebagaimana
mestinya.
Oleh karena itu, pihak dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai
Timur meminta kehadirannya dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
Kabupaten Kutai Timur, PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur, dan
perwakilan masyarakat untuk membicarakan bagaimana jalan keluar dari masalah
pencemaran ini. Dan berdasarkan keterangan yang didapat, dari Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur memberikan sanksi administrasi berupa
teguran tertulis kepada PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur untuk
segera memperbaiki settling pond agar mampu menampung limbah sehingga di
kemudian hari, jika terjadi curah hujan yang tinggi tidak dikhawatirkan lagi
meluapnya limbah tersebut.
Sanksi administrasi seperti yang telah disebutkan dalan Pasal 76 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup tidak membebaskan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dari
tanggung jawab pemulihan dan pidana.
Berkenaan dengan sanksi yang diberikan Badan Lingkungan Hidup (BLH)
Kabupaten Kutai Timur terhadap PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai
Timur untuk menerapkan teguran tertulis, sesuai dengan Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,
penerapan sanksi administratif ini diberikan jika di dalam suatu lingkungan terdapat
pelanggaran dan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang menyebabkan
kelestarian lingkungan menjadi tidak sehat.
Pihak PT. Kaltim Prima Coal (KPC) diminta untuk bertanggung jawab atas
terjadinya pencemaran air tersebut. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten
Kutai Timur memberikan sanksi administrasi berupa surat teguran kepada PT.
Kaltim Prima Coal (KPC) agar segera menghentikan pembuangan lumpur dari kolam
pengendapan lumpur pada areal tambang, menampung untuk mengurangi
pelimbahan air ke Sungai Bandili, serta segera untuk melakukan kajian teknis ulang
yang mampu menampung kapasitas yang berlebihan khususnya pada kondisi curah
hujan di atas rata-rata.
Sanksi tersebut dikenakan kepada pelanggar ketentuan administrasi dimulai
dengan sanksi teringan semacam peneguran atau peringatan teguran tertulis, dapat
pula dilanjutkan dengan paksaan pemerintah agar memperbaiki instalasi
pengolahan limbahnya agar limbah yang dihasilkan sesuai dengan ketentuan,
sekaligus dapat pula dilakukan paksaan pemerintah atau uang paksa agar dilakukan
tindakan penyelamatan, penanggulangan, dan/atau pemulihan atas beban biaya
penanggung jawab usaha atau kegiatan, dan dapat juga diwajibkan membayar

denda administrasi. Dapat diperintahkan pula agar dilakukan audit lingkungan


secara sukarela untuk memverifikasi ketaatan terhadap peraturan perundangundangan lingkungan hidup yang berlaku. Dan terakhir pencabutan izin usaha,
apabila semua itu tidak membuat pengusaha atau penanggung jawab usaha jera
dan tetap melanggar peraturan perundang-undangan dapat dikenakan sanksi yang
lebih berat lagi berupa pencabutan izin sementara atau tetap. Atau apabila
dipandang lebih bijaksana dilanjutkan dengan proses pidananya tanpa harus
melakukan pencabutan izin tetap karena dapat berdampak luas terhadap hajat
hidup orang banyak.
Dengan lemahnya penegakan hukum administrasi ini sangat berpengaruh
terhadap efektifitas penegakan hukum pidana. Apabila penegakan hukun
mencampuradukkan didayagunakan secara benar, maka catatan catatan tingkat
penataan suatu kegiatan yang dihimpun secara periodik akan sangat membantu
proses penyidikan, terutama dalam menentukan unsur elemen mental dari
seseorang yang diduga melakukan perbuatan pidana lingkungan.5
Pendayagunaan hukum administrasi atau penegakan hukum administrasi ini
berkaitan dengan penegakan hukum lingkungan oleh lembaga pemerintah, yang
dilakukan oleh instansi pemberi izin atas suatu kegiatan atau usaha. Peran optimal
dari instansi terkait dalam penerapan sanksi administrasi sangat diharapkan.
Namun harapan terhadap aparat penegak hukum administrasi agar dapat bekerja
secara lebih efektif dan efisien terhadap pelanggaran perizinan, ternyata tidak atau
kurang diandalkan.
Menurut Didi Suryadi,6 alasan diberikannya sanksi administrasi kepada PT.
Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur yang berupa teguran tertulis ini
karena pihak terkait sudah berjanji akan menyelesaikan masalah tersebut
secepatnya. Selain itu pencemaran ini bukan dikarenakan kesengajaan dari PT.
Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur. Namun akibat faktor cuaca,
sehingga limbah penampungan yang dimiliki melebihi kapasitas. Pihak Badan
Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur belum mengarahkan masalah ini ke
pidana karena belum ada indikasi kesengajaan. Penegakan hukum administrasi
seyogyanya ditegakkan semenjak suatu usaha atau kegiatan mulai memajukan izin
usahanya.

Kondisi Geografis Kabupaten Kutai Timur


Kabupaten Kutai Timur terletak pada 115 5626 BT - 118 5819 BT dan 1
171 LS - 1 5239 LU. 44 Kabupaten Kutai Timur semula terdiri dari 5 kecamatan,
kemudian berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 1999, dimekarkan menjadi
11 kecamatan. Pada tahun 2005, berdasarkan Perda Nomor 12 Tahun 2005, Kabupaten
Kutai Timur dimekarkan lagi menjadi 18 kecamatan.
Wilayah Kabupaten Kutai Timur seluas 35.747 km atau 3.429.260 Ha
merupakan 17% dari luas wilayah Propinsi Kalimantan Timur, dengan batas wilayah
sebagai berikut :

5
6

Ibid, halaman 202 203.

Didi Suryadi adalah Kepala Badan Lingkungan Hidup, wawancara dilakukan di Badan
Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur pada hari Kamis, pukul 11.35 wita.

Tabel 1. Batasan Wilayah di Kabupaten Kutai Timur.


Bagian
Utara

Selatan

Batasan
Berbatasan dengan Kecamatan Taliyasan dan Kecamatan Kelay (Kabupaten
Berau).
Berbatasan dengan Bontang Utara dan Kecamatan Marang Kayu (Kabupaten
Kutai Kartanegara).
Berbatasan dengan Selat Makasar dan Laut Sulawesi.

Timur
Barat

Berbatasan dengan Kecamatan Kembang Janggut dan Kecamatan Tabang


(Kabupaten Kutai Kartanegara).

Sumber Data : Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur Tahun 2012.
Topografi Kabupaten Kutai Timur bervariasi antara 0 7 meter hingga lebih dari
1000 meter dari permukaan laut. Kawasan yang relatif datar dan landai hanya terdapat
di Kecamatan Sangatta, Muara Bengkal, Muara Ancalong dan sebagian Muara Wahau
dan Sangkulirang. Wilayah dengan daerah pegunungan dan perbukitan mempunyai
areal paling luas yaitu 1.608.915 ha dan 1.429.9222,5 ha sedangkan dataran atau landai
536.212,5 ha yang terdiri dari daratan, rawa dan perairan berupa sungai dan danau.
Sebagian besar wilayah Kabupaten Kutai Timur mempunyai kelerengan di atas 15%,
wilayah dengan kelerengan di atas 40% mempunyai areal cukup luas. Wilayah dengan
ketinggian 500 meter di atas permukaan laut mempunyai sifat berbukit sampai
bergunung dengan kelerengan lebih dari 40% dan sangat potensi erosi.

Gambaran Umum Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur


Kabupaten Kutai Timur terbentuk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 47
Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten
Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur, Kota Bontang. Selanjutnya Pemerintahan
Kabupaten Kutai Timur membentuk dinas, badan dan instansi teknis untuk menjalankan
pemerintahan. Pada saat itu juga terbentuklah Dinas Lingkungan Hidup.7
Selanjutnya dengan adanya Peraturan Daerah Nomor 03 Tahun 2009 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat Wilayah Kabupaten Kutai Timur, Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah, Lembaga Teknis Daerah, dan Lembaga Teknis
Lainnya, Kabupaten Kutai Timur diterbitkan tanggal 10 Februari 2009. Pada peraturan
daerah tersebut di dalamnya memuat kedudukan, tugas, fungsi, dan susunan organisasi
Badan Lingkungan Hidup.

Profil dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur Tahun 2012.

Perijinan Limbah Cair di Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur


Adapun langkah proses perijinan limbah cair adalah sebagai berikut :
Persyaratan Administrasi :
a. Identifikasi pemohon izin
b. Ruang lingkup air limbah yang akan di mohonkan izin
c. Sumber dan karakteristik air limbah
d. Lokasi titik penataan dan pembuangan air limbah
e. Jenis dan kapasitas produksi bulanan senyatanya
f. Jenis dan bahan baku yang digunakan
g. Hasil pemantauan kualitas sumber air
h. Sarana dan prosedur penanggulangan keadaan darurat
Waktu Proses Perijinan :
a. 10 (sepuluh) hari dari permohonan izin
b. 30 (tiga puluh) hari setelah dilakukan peninjauan dan verifikasi lokasi atau titik
pemantauan oleh tim dari Badan Lingkungan Hidup hingga penerbitan izin
c. Masa berlaku 1 (satu) tahun
d. SK diterbitkan oleh Bupati

Pemantauan Kualitas Air Sungai


Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan dan sumber
daya alam yang dapat diperbaharui serta mempunyai fungsi yang sangat kompleks.
Sedangkan sumber air antara lain air sungai, air danau, dan air tanah. Air sungai
merupakan salah satu sumber air yang memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai sumber
air bagi kehidupan manusia dan tempat habitat biota air.
Peningkatan pencemaran pada badan perairan sungai dapat terjadi akibat
bahan-bahan kimia (kandungan logam berat) yang dihasilkan dari kegiatan industri
tersebut maupun aktivitas masyarakat (limbah domestik) yang berada di sepanjang
bantaran sungai. Hal inilah yang menimbulkan masalah diantaranya gangguan kesehatan
dengan munculnya berbagai penyakit akibat konsumsi air tercemar karena digunakan
untuk pemenuhan kehidupan sehari-hari serta terganggunya kehidupan biota air.
Mengingat sangat pentingnya keberadaan kualitas sumber daya air ini, maka
kesinambungan kelestarian kualitasnya perlu dijaga dan dipertahankan, agar dalam
pemanfaatannya dapat berkelanjutan baik kualitas maupun kuantitasnya.
Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan pemantauan kualitas air
Sungai Sangata, untuk mengetahui sejauh mana kondisi kualitas air yang ada dari
pengaruh pencemaran lingkungan. Untuk mengetahui sejauh mana pengelolaan
lingkungan yang dilakukan oleh pelaku kegiatan dan usaha dilakukan pengawasan secara
berkala. Pengawasan ini bertujuan agar pengelolaan lingkungan dilaksanakan sesuai
aturan yang ada dan yang telah disepakati dalam dokumen pengelolaan lingkungan RKL
dan RPL. Berikut adalah tabel kegiatan usaha yang telah dilakukan pengawasan di Badan
Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur :

Tabel 2. Kegiatan Usaha yang Telah Dilakukan Pengawasan Tahun 2010-2011.

Pertambangan
Perkebunan
Kehutanan
Kegiatan Lainnya

Sumber Data : Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur Tahun 2010 - 2011.
Gambaran Umum PT. Kaltim Prima Coal
PT. Kaltim Prima Coal (KPC) merupakan perusahaan tambang batu bara yang
mulai beroperasi sejak tahun 1992 di Kabupaten Kutai Timur. Berdasarkan Perjanjian
Kontrak Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) yang ditandatangani pada
tanggal 8 April 1982, pemerintah memberikan izin kepada PT. Kaltim Prima Coal (KPC)
untuk melaksanakan eksplorasi, produksi dan memasarkan batu bara dari wilayah
perjanjian sampai dengan tahun 2021. Wilayah Perjanjian Kontrak Karya Pengusahaan
Pertambangan Batu Bara (PKP2B) ini mencakup daerah seluas 90.938 ha di Kabupaten
Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur.8
PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur tidak hanya mengambil
sumber daya alam yang tak terbarukan, akan tetapi juga melakukan usaha mitigasi
lingkungan serta meningkatkan sumber daya terbarukan dengan menjaga hubungan
baik dengan para pemangku kepentingan. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan
kemampuan masyarakat dan lembaga masyarakat serta pemerintah, selain itu juga
menumbuhkan iklim usaha dan budaya kerja yang lebih baik bagi masyarakat di area
sekitar operasi tambang PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur.
Tingkat ketergantungan masyarakat Kutai Timur terhadap sektor tambang batu
bara yang masih cukup tinggi (sebesar 86,17 %) merupakan persoalan yang mendapat
perhatian dari KPC. Hal ini membuat visi PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai
Timur untuk menjadi pemasok utama batu bara termahal kelas dunia tidak sebatas
hanya pada produksi batu bara untuk pemenuhan permintaan dunia, tetapi juga
pelaksanaan tanggung jawab sosial secara aktif dalam hal melestarikan lingkungan serta
meningkatkan kemandirian ekonomi lokal. Sebagai bukti nyata pelaksanaan tanggung
jawab sosialnya, PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur memprakarsai
program-program yang mendukung kemandirian ekonomi lokal yang selaras dengan
program penutupan tambang.

Profil dari PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur Tahun 2011.

Tabel 3. Rencana Strategis Jangka Panjang Pelaksanaan Pembangunan Berkelanjutan


PT. Kaltim Prima Coal Kabupaten Kutai Timur.
2005 - 2010

2010 2015

2015 - 2020

2021 2025

Studi pengembangan
pertanian

Implementasi studi
pengembangan
pertanian

Pengembangan
pertanian

Pengembangan
industri
Pertanian

Pelatihan intensif
Studi Perikanan

Pemanfaatan lahan
Rehabilitasi

Industri perikanan
Pelayanan/jasa

Pelayanan/jasa

Indentifikasi lahan

Pengembangan
Pertanian

Pengembangan
teknologi
agribisnis

Pengembangan
ekspor
Agribisnis

Tambang 50%
Non tambang 50%

Tambang 35%
Non tambang 65%

Tambang 5%
Non tambang 95&

Studi tata ruang


Analisa potensi
Tambang 65%
Non Tambang 35%

Sumber Data : PT. Kaltim Prima Coal Kabupaten Kutai Timur Tahun 2010.
Sampai dengan tahun 2010, PT . Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur
akan melakukan identifikasi lahan dan tata ruang serta kajian pengembangan pertanian
dan perikanan baik di daerah bekas tambang maupun di luar tambang. Kajian dan studi
ini dilaksanakan untuk menjajaki kemampuan daya dukung lingkungan dan mencari
potensi pengembangan sumber daya alam yang terbarukan.
2. Apa Pengawasan Sanksi Administrasi oleh Badan Lingkungan Hidup Kabupaten
Kutai Timur terhadap PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur.
Berkaitan dengan pengawasan, dalam Pasal 71 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
dalam kewenangannya Menteri, gubernur, atau bupati/walikota wajib melakukan
pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas
ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Dalam melaksanakan pengawasan menteri, gubernur, atau bupati/walikota
menetapkan pejabat pengawas lingkungan hidup yang merupakan pejabat
fungsional dan wajib melakukan pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan terhadap izin lingkungan. Menteri juga dapat melakukan
pengawasan terhadap ketaatan penaggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang
izin lingkungannya diterbitkan oleh pemerintah daerah jika pemerintah
menganggap terjadi pelanggaran yang serius di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.

Menurut Basuki Isnawan,9 berdasarkan pada surat teguran itu, pengawasan


dilakukan karena ada pengetahuan masyarakat. Dan kemudian Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur langsung menurunkan Tim untuk meninjau
secara langsung ke lapangan sampai perbaikan yang dilakukan PT. Kaltim Prima
Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur segera selesai untuk memperbaiki secepatnya.
Langkah awal pada saat diketahuinya adanya dugaan pencemaran yang
terjadi di Sungai Bandili, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur
sebelumnya melakukan klarifikasi aduan dengan pihak PT. Kaltim Prima Coal (KPC)
Kabupaten Kutai Timur untuk mengetahui apakah dugaan pencemaran air tersebut
benar asalnya dari limbah perusahaan tersebut. Kemudian, Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur mengadakan pertemuan dengan pihak PT.
Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur untuk melakukan perjanjian
perbaikan.
Pada awalnya tim dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai
Timur ini mengalami sedikit kesulitan, karena pada saat peninjauan langsung ke
lapangan pihak PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur belum ada yang
melakukan perbaikan. Setelah diminta untuk segera dan secepatnya diperbaiki,
setelah itu barulah PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur langsung
memperbaiki serta membuat kolam penampungan limbah yang sekiranya mampu
untuk menampung limbah dengan kapasitas besar. Tetapi saat ini kondisi Sungai
Sangatta sudah agak membaik, kekeruhan air sudah tidak seperti sebelumnya.
Lemahnya fungsi pengawasan dan pemantauan ini oleh instansi terkait
serta kurang tanggapnya aparatur dalam menangani persoalan lingkungan
menjadikan pendayagunaan hukum administrasi sangat lemah sekali peranannya.
Oleh karena itu harus diciptakan suatu sistem kelembagaan yang efisien dan efektif
mulai tingkat pusat sampai daerah yang profesional.10
Jika penanggung jawab usaha apabila tetap tidak mematuhi ketentuan
peraturan perundang undangan yang berlaku, dapat dikenakan tindakan atau
sanksi administrasi maupun sanksi pidana.
Peran serta masyarakat juga sangat diperlukan dalam pengelolaan
lingkungan hidup. Seperti yang tertuang dalam Pasal 70 ayat (1) yang berupa,
pengawasan sosial, pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan,
penyampaian informasi dan/atau laporan.
Pemerintah dapat menciptakan iklim yang baik agar peran serta itu terjadi
secara maksimal dan positif. Salah satu penciptaan iklim yang baik itu dapat
dilakukan dengan membuat berbagai peraturan perundang undangan, baik di
tingkat pusat maupun tingkat daerah. Adanya berbagai peraturan perundang
undangan itu pada intinya untuk merangsang keterlibatan peran serta masyarakat
lebih besar lagi dalam melaksanakan pembangunan. Akan tetapi, menurut Sukardi11
masih saja ada keterbatasan tertentu yang menyebabkan peran serta masyarakat
tidak bisa maksimal dan positif. Keterbatasan itu dapat berasal dari pihak

Basuki Isnawan adalah Staf Sub Bidang Pengawasan, wawancara dilakukan di Badan
Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur pada hari Jumat, 13 April 2012 pukul 09.00 wita.
10
Op. Cit, halaman 199.
11
Sukardi adalah Ketua RT. 68 Kecamatan Sangatta Utara, wawancara dilakukan di
Kabupaten Kutai Timur pada hari Rabu, 25 April 2012 pukul 10.00 wita.

masyarakat sendiri, atau berasal dari pihak lainnya yang memang tidak
menghendaki, baik secara sosial politik maupun secara ekonomis.
Pembangunan berkelanjutan dengan melibatkan peran serta semua pihak
yang berkepentingan telah menjadi paradigma baru untuk melibatkan pihak pihak
tertentu. Banyak alasan dapat diberikan untuk menyertakan masyarakat dalam
pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam dengan melalui konsultasi dengan
masyarakat yang tinggal di wilayah yang akan terkena kebijakan, program atau
proyek pembangunan, dimungkinkan untuk merumuskan persoalan dengan lebih
efektif, mendapatkan informasi dan pemahaman di luar jangkauan dunia ilmiah,
merumuskan alternatif penyelesaian masalah yang secara sosial akan dapat
diterima, dan membentuk perasaan memiliki terhadap rencana dan penyelesaian,
sehingga memudahkan penerapan.
Pada umumnya, instrument penegakan hukum administrasi sangat banyak
memuat upaya upaya yang lebih menitikberatkan kepada pembinaan atau
pencegahan bila dibandingkan dengan penindakan atau penghukuman, seperti
misalnya pengawasan. Biasanya instansi pemberi izin tidak memiliki kegiatan
pengawasan dan pemantauan yang terencana dan terprogram dengan baik.
Kegiatan pengawasan, pemeriksaan dan pemantauan baru dilakukan setelah timbul
keluhan masyarakat tentang adanya pencemaran atau kerusakan lingkungan.
Kelemahan utama penegakan hukum administrasi lingkungan adalah tidak adanya
Program tetap (Protap) yang baku, sehingga tidak ada standarisasi prosedur
penegakan hukum administrasi lingkungan.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Penerapan sanksi administrasi menurut Pasal 76 Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dilakukan
oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur, dengan alasan diberikannya
sanksi administrasi kepada PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur yang
berupa teguran tertulis ini karena pihak terkait sudah berjanji akan menyelesaikan
masalah tersebut secepatnya. Selain itu pencemaran ini bukan dikarenakan kesengajaan
dari PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur. Namun akibat faktor cuaca,
sehingga limbah penampungan yang dimiliki melebihi kapasitas. Pihak Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur belum mengarahkan masalah ini ke pidana karena
belum ada indikasi kesengajaan.
Pengawasan sanksi administrasi oleh Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai
Timur terhadap PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur ini dilakukan dengan
cara pengawasan aktif yang langsung menurunkan Tim untuk meninjau secara langsung
ke lapangan sampai perbaikan yang dilakukan PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten
Kutai Timur segera selesai sesuai dengan janjinya untuk memperbaiki secepatnya.
Langkah awal pada saat diketahuinya adanya dugaan pencemaran yang terjadi di Sungai
Bandili, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur sebelumnya melakukan
klarifikasi aduan dengan pihak PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai Timur untuk
mengetahui apakah dugaan pencemaran air tersebut benar asalnya dari limbah

perusahaan tersebut. Kemudian, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur
mengadakan pertemuan dengan pihak PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Kabupaten Kutai
Timur untuk melakukan perjanjian perbaikan.
Saran
Pemerintah Daerah diharapkan dapat memberikan kebijakan-kebijakan yang
sesuai dalam pemberian izin terhadap kelestarian lingkungan.
Dalam setiap usaha dan/atau kegiatan dilakukan pemantauan oleh pihak yang
berwenang agar tidak terjadi lagi meluapnya limbah penambangan di dalam settling
pond yang tempat penampungannya kurang memadai.
Setiap kegiatan usaha dalam melakukan pekerjaannya juga memperhatikan
kapasitas kolam penampungan yang sekiranya mampu menampung dalam kapasitas
yang besar dan tidak merugikan masyarakat di sekitar jika telah terjadi pencemaran
lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Danusaputro, Munadjat, (1980), Hukum Lingkungan, Buku I Umum, Binacipta, Jakarta.
Erwin, Muhammad, (2009), Hukum Lingkungan Dalam Sistem
Kebijaksanaan
Pembangunan Lingkungan Hidup, Reflika Aditama, Bandung.
Hamzah, Andi, (2008), Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika, Yogyakarta.
Hardjasoemantri, Koesnadi, (1996), Hukum Lingkungan, Universitas Terbuka, Jakarta.
Machmud, Syahrul, (2007), Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, CV. Mandar Maju,
Bandung.
Marzuki, Peter Mahmud, (2010), Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta.
Muhammad, Abdulkadir, (2004), Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.
Pudyatmoko, Y. Sri, (2009), Perizinan dan Upaya Pembenahan, Grasindo, Jakarta.
Rangkuti, Siti Sundari, (2005), Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan
Nasional, Airlangga, Surabaya.
Sastrawijaya, Tresna, A., (2009), Pencemaran Lingkungan, Rineka Cipta, Jakarta.
Siahaan, N.H.T, (2009), Hukum Lingkungan, Erlangga, Jakarta.
Sunggono, Bambang, (1997), Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Suryabrata, Sumadi, (2003), Metodologi Penelitian, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sutamihardja, (1978), Kualitas dan Pencemaran Lingkungan, Intitut Pertanian Bogor.
Sodikin, (2003), Penegakan Hukum Lingkungan, Djambatan, Jakarta.
Soekanto, Soerjono, (1986), Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum,
Rajawali, Jakarta.
Wardhana, Wisnu Arya, (1995), Dampak Pencemaran Lingkungan, Andi Offset,
Yogyakarta.

Peraturan Perundang-undangan
Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 140).
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4161).
Surat Keputusan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kutai Timur, 2010, tentang
Sanksi Administratif Nomor 010/1227/6.2.BLH/XI/2010.
Surat Laporan Perusahaan Daerah Air Minum, 2010, tentang Kualitas Sungai Sangatta,
Nomor 690/114/PDAM-KT/XI/2010.

CURRICULUM VITAE
Nama
NIM
Tempat/Tgl. Lahir
Alamat
Jenis Kelamin
Agama
Fakultas
Program Studi
Konsentrasi
No. Telp/Hp
Email
Facebook
Twitter

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Siti Kamsiah
0810015004
Samarinda, 17 Januari 1991
Jl. Pramuka 1 No. 10 Rt. 06 Samarinda
Perempuan
Islam
Hukum
S1 Ilmu Hukum
Hukum Lingkungan
085332736591
adhe.jan91@gmail.com
adheaya42@ymail.com
S1ti_y22

PENDIDIKAN FORMAL
Tingkat

Nama Sekolah

Tahun

TK

TK Barunawati III Samarinda

1995 - 1996

SD

SDI Al-Khairiyah Samarinda

1996 - 2002

SMP

SMP Kesatuan 1 Samarinda

2002 - 2005

SMU

SMK N 3 Samarinda

2005 - 2008

S1

Hukum Universitas Mulawarman

2008 - 2012