Anda di halaman 1dari 14

PORTOFOLIO

Topik

: Uretritis Gonorrhoeae

Tanggal (kasus)

Tanggal presentasi

Tempat presentsi

: Aula Komite Medik RSUD Banjar Baru

Pembimbing

: Pendamping PIDI

Obyektif presentasi :
-

Manajemen
Deskripsi : Laki-laki, 17 tahun, BAK berdarah
Tujuan : Penanganan kegawat daruratan

Bahan bahasan

: Kasus

Cara membahas

: Presentasi dan diskusi

Data pasien :
-

Nama
Nama klinik
Terdaftar sejak

: Tn. Abdi Mustofa / 17 tahun


: RSUD Banjarbaru
: 10 Maret 2015

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Uretritis Gonorrhoeae/Laki-laki,17 tahun, buang air
kecil berdarah sejak 2 jam sebelum masuk rumah sakit, sebelumnya BAK bernanah.
2. Riwayat pengobatan : Pengobatan dengan ampisilin dengan dosis yang tidak diketahui
pasien.
3. Riwayat kesehatan/Penyakit : Buang air kecil bernanah sekitar 2 bulan yang lalu.
4. Riwayat penyakit kelurga : 5. Riwayat pekerjaan : Tidak bekerja
6. Pemeriksaan Fisik :
Vital Sign
Keadaan umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Komposmentis, GCS E4M5V6

Tekanan darah

: 110/60 mmHg

Nadi

: 84 kali/menit

Nafas

: 21 kali/menit,

Suhu

: 36,8 oC

Status Generalis :
Kulit

: Kulit lembab, warna sawo matang, turgor baik

Kepala

: Normocephal, rambut sukar dicabut, distribusi merata

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor,


refleks cahaya (+/+), edema palpebra (-/-)

Hidung

: Rhinore (-), epistaksis (-)

Telinga: Nyeri tekan tragus (-), cairan (-), darah (-)


Mulut

: Tidak ada kelainan

Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran


tiroid (-)

Thorax

: Simetris, retraksi (-), spider nevi (-)


Jantung
Inspeksi

: Pulsasi ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Teraba pulsasi ictus cordis di ICS V linea midclavicula


Sinistra

Perkusi

: Batas atas ICS II linea parasternal sinistra


Batas kanan ICS IV linea parasternal dekstra
Batas kiri ICS V linea midclavicula sinistra

Auskultasi

: Bunyi jantung I/II regular, murmur (-), gallop (-)

Paru
Inspeksi

: Pergerakan sama kanan dan kiri, retraksi (-)

Palpasi

: Nyeri tekan (-), vocal fremitus simetris

Perkusi

: Sonor kanan = kiri

Auskultasi
Abdomen

Ekstremitas

: Inspeksi

:Vesikuler (+/+), ronkhi basal (-/-), wheezing (-/-)


: Datar, caput medusa (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) N

Palpasi

: hepar tidak teraba

Perkusi

: Timpani (+) pada semua region

: Akral hangat, refilling kapiler < 2, edema (-/-)

Anogenitalia

: Bentuk dan ukuran dalam batas normal, pus (+), OUE eritema (+)
edema ()

Hasil pembelajaran :
2

1. Diagnosis Uretritis Gonorrohoeae


2. Penanganan Uretritis Gonorrohoeae
3. Prognosis Uretritis Gonorrohea
Rangkuman hasil pembelajaran :
1. Subyektif : Pasien mengeluh BAK berdarah sejak dua jam sebelum masuk rumah
sakit. Keluhan nyeri saat buang air kecil sudah dirasakan pasien sejak tiga hari
sebelumnya. pasien juga mengaku adanya nanah kental berwarna kuning kehijauan.
Pasien mengatakan sebelumnya pasien sempat berhubungan seks dengan pekerja seks
komersil. Adanya panas badan disangkal. Pasien mengaku sudah coba meminum
ampisilin namun keluhan tidak berkurang bahkan pasien merasa nanah yang keluar
semakin banyak.
2. Objektif :
Hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada kasus ini diagnosis ditegakkan
berdasarkan:
a.

Pada anamnesa didapatkan keluhan nyeri saat buang air kecil. Pasien mengaku
bahwa ini ketiga kalinya pasien mengalami keluhan serupa. Sebelumnya
pasien mengalami keluarnya sekret berwarna keputihan seperti nanah dari
penisnya. Tidak terasa nyeri. Pasien mengaku telah melakukan hubungan
seksual dengan pekerja seks komersil sekitar empat hari yang lalu tanpa
menggunakan kondom. Sebelumnya pasien sudah coba minum ampisilin
(seperti sebelumnya saat pasien mengalami keluhan serupa sekitar dua bulan
lalu) namun keluhan tidak berkurang.

b.

Pemeriksaan fisik pada pasien ini didapatkan adanya sekret purulenta (pus)
pada gland penis. Osteum uretra eksternum kemerahan dan edema.

Dapat ditarik kesimpulan diagnosis kerja pasien tersebut adalah uretritis gonore
melalui hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Sementara itu tidak dilakukan
pemeriksaan penunjang karena pasien menolak.
Assessment
Menurut WHO, uretritis gonokokus dan non gonokokus merupakan masalah
kesehatan lingkungan yang sangat penting. Penyakit ini ditransmisikan terutama
malalui hubungan seksual dengan partner yang terinfeksi. Penyakit ini juga dapat
menular melalui cairan tubuh yang terinfeksi sehingga ibu dapat menularkan
infeksi ini ke bayinya selama persalinan. Penyakit ini dapat mengenai pria dan
3

wanita, serta lebih mudah menyebar pada individu yang memiliki banyak partner
seksual (Talhari, et al., 1997).
Diagnosis etiologis IMS merupakan suatu masalah yang terdapat di banyak
tempat, berkaitan dengan kendala waktu, ketersediaan sumber daya, pembiayaan,
dan keterjangkauan pengobatan. Masalah lain yang tidak kalah penting muncul
akibat beragamnya tingkat sensitivitas dan spesifisitas hasil tes laboratorium yang
akan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap hasil tes laboratorium.
Bilamana fasilitas laboratorium tersedia, juga diperlukan petugas laboratorium
yang terampil dan terlatih untuk dapat melaksanakan semua prosedur teknis
laboratoris. Semua kelengkapan ini wajib ditunjang dengan fasilitas uji mutu
eksternal yang memadai. Hanya ada beberapa fasilitas kesehatan di Indonesia yang
memiliki sarana laboratorium dan kemampuan sumber daya manusia yang
memadai untuk melakukan diagnosis IMS secara etiologis.
Untuk mengatasi hal tersebut telah dilaksanakan dan dikembangkan
penatalaksanaan kasus IMS berdasarkan pendekatan sindrom untuk semua fasilitas
kesehatan dasar. Penanganan kasus IMS berdasarkan pendekatan sindrom
dilaksanakan melalui identifikasi sekelompok keluhan dan gejala sebagai sindrom
yang mudah dikenali, dan selanjutnya ditetapkan pengobatannya terhadap sebagian
besar atau hampir semua mikro-organisme yang diyakini sebagai penyebab
sindrom tersebut. World Health Organization (WHO) telah mengembangkan satu
perangkat yang sudah disederhanakan dan mudah dimengerti (dalam bentuk bagan
alur atau algoritme) untuk memandu para petugas kesehatan dalam melakukan
penatalaksanaan kasus IMS dengan pendekatan sindrom.
Penanganan kasus IMS dengan pendekatan sindrom untuk duh tubuh uretra
pada pria dan ulkus genital baik pada pria maupun wanita telah terbukti
manfaatnya dan memadai untuk dilaksanakan. Cara ini telah berhasil mengobati
sebagian besar orang yang terinfeksi dengan IMS dengan cara murah, sederhana
dan sangat berhasil guna.
Definisi
Gonore adalah infeksi menular seksual pada epitel dan umunya
bermanifestasi sebagai cervicitis, uretritis, proctitis, dan conjungtivitis. Bila tidak
4

diterapi, infeksi ini dapat menimbulkan komplikasi lokal seperti endometritis,


salpingitis, TOA, bartolinitis, peritonitis, dan perihepatitis pada pasien wanita,
periuretritis dan epididimitis pada pasien pria, dan oftalmia neonatorum pada
neonatus.

Gonokokemia

diseminata

merupakan

kejadian

jarang

yang

bermanifestasi sebagai lesi kulit, tenosinovitis, arthritis, dan pada kasus jarang
endokarditis atau meningitis.
Gonore terutama mengenai pasien muda, kulit berwarna, tidak menikah,
penduduk kota dengan tingkat pendidikan rendah. Jumlah kasus yang diilaporkan
mungkin hanya mewakili setengah dari jumlah kasus sebenarnya, hal ini
disebabkan kurangnya pelaporan, diterapi sendri, dan terapi nonspesifik tanpa
diagnose yang ditegakkan secara laboratorium. Jumlah kasus gonore yang
dilaporkan di AS meningkat dari 250.000 pada awal 1960 menjadi 1,01 juta pada
1978. Puncak insiden gonore terjadi pada 1975 dengan 468 kasus / 100.000
populasi di AS. Puncak insiden ini dipengaruhi oleh interaksi beberapa variabel,
termasuk peningkatan akurasi diagnosis, perubahan pola penggunaan kontrasepsi
dan perubahan perilaku seksual.
Insiden gonore lebih tinggi pada negara berkembang daripada negara maju.
Insiden infeksi menular seksual di negara berkembang sulit ditentukan secara
tepat karena terbatasnya pendataan dan criteria diagnosis yang bervariasi.
Penelitian di Afrika telah menunjukkan bahwa infeksi menular seksual
nonulceratif seperti gonore merupakan faktor transmisi HIV.
Anamnesis
Untuk menggali faktor risiko perlu ditanyakan beberapa hal tersebut di bawah
ini. Berdasarkan penelitian faktor risiko oleh WHO (World Health Organization)
di beberapa negara (di Indonesia masih belum diteliti), pasien akan dianggap
berperilaku berisiko tinggi bila terdapat jawaban ya untuk satu atau lebih
pertanyaan di bawah ini:
1.
2.
3.
4.

Pasangan seksual > 1 dalam 1 bulan terakhir


Berhubungan seksual dengan penjaja seks dalam 1 bulan terakhir
Mengalami 1/ lebih episode IMS dalam 1 bulan terakhir.
Perilaku pasangan seksual berisiko tinggi.

Diagnosis
Diagnosis pasien IMS dapat ditegakkan berdasarkan pendekatan sindrom
bagi sarana pelayanan kesehatan yang tidak memiliki fasilitas laboratorium, atau
secara etiologis berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium sederhana.
Pasien laki-laki yang datang dengan keluhan duh tubuh uretra dan atau nyeri
pada saat kencing agar diperiksa terlebih dulu ada tidaknya duh tubuh. Bilamana
tidak tampak duh tubuh, agar dilakukan milking, yaitu pengurutan uretra mulai
dari pangkal penis ke arah muara uretra. Bila masih belum terlihat, dianjurkan
untuk tidak kencing sekurangkurangnya 3 jam sebelum diperiksa.
Pada pemeriksaan dengan pendekatan sindrom tanpa tanpa sarana
laboratorium, dapat digunakan bagan 1. DUH TUBUH URETRA PADA LAKILAKI

DENGAN

PENDEKATAN

SINDROM

Bila

tersedia

mikroskop,
6

pemeriksaan terhadap sediaan hapusan uretra, dapat dilihat peningkatan jumlah


leukosit polimorfonuklear dan dengan pengecatan Gram dapat terlihat kuman
gonokokus intrasel. Pada laki-laki, bila ditemukan lebih dari atau sama 5 leukosit
polimorfonuklear per lapangan pandang dengan pembesaran tinggi (X 1000),
merupakan indikasi terdapat ureteritis (radang saluran kemih).
Pada fasilitas kesehatan yang memiliki alat bantu mikroskop atau sarana
laboratorium, maka dapat digunakan bagan alur Bagan 1a. DUH TUBUH
URETRA LAKI-LAKI DENGAN MIKROSKOP.
Kuman patogen penyebab utama duh tubuh uretra adalah Neisseria
gonorrhoeae (N.gonorrhoeae) dan Chlamydia trachomatis (C.trachomatis). Oleh
karena itu, pengobatan pasien dengan duh tubuh uretra secara sindrom harus
dilakukan serentak terhadap kedua jenis kuman penyebab tersebut. Bila ada
fasilitas laboratorium yang memadai, kedua kuman penyebab tersebut dapat
dibedakan, dan selanjutnya pengobatan secara lebih spesifik dapat dilakukan.
Etiologi uretritis non-gonokokus terutama disebabkan oleh C.trachomatis,
sehingga dalam pengobatannya ditujukan untuk klamidiosis.
Uretritis akut merupakan manifestasi klinis yang sering terjadi pada infeksi
gonokokus pada pria. Waktu inkubasi setelah terpapar kuman adalah antara 2
sampai dengan 7 hari, walau bagaimanapun interval dapat lebih panjang dan
kadang-kadanag pada beberapa orang tidak menunjukkan gejala (asimptomatik).
Stren Por1A, lebih cenderung menyebabkan manifestasi uretritis yang ringan dan
asimptomatiktend berbanding stren Por1B. Discharge uretra dan disuria, tanpa
frekuensi atau urgensi, merupakan tanda yang mencolok. Discharge awalnya
sedikit dan tetapi akan menjadi banyak dan purulenta dalam jangka waktu satu
sampai dua hari. Walau bagaimanapun, adalah sulit dalam menentukan penyebab
uretrritis hanya berdasarkan manifestasi klinis saja. Kebanyakan kasus di United
States hari ini tidak hanya disebabkan oleh N. gonorrhoeae dan/ atau C.
trachomatis. Walaupun beberapa organism dapat menyebabkan kondisi tersebut
diatas, kebanyakan kasus tidak memiliki etiologic agen yang spesifik.

3. Plan
Diagnosis : susp. Uretritis GO
Rencana Pemeriksaan : Pewarnaan Gram
Pengobatan :
1. Injeksi Seftriakson 1 gram IM (dosis tunggal)
2. Sefiksim 2 x 200 mg per oral selama 3 hari
3. Edukasi pasien mengenai pemakaian kondom dan faktor resiko
Resistensi antimikroba terhadap patogen IMS telah meningkat di berbagai tempat
di dunia ini sehingga menyebabkan rejimen pengobatan yang berharga murah tidak
lagi efektif atau manjur. Rekomendasi untuk menggunakan obat yang lebih efektif
seringkali harus mempertimbangkan biaya dan kemungkinan penyalahgunaan.
Kebijakan obat yang berbeda, misalnya menyediakan obat yang kurang efektif di
tingkat pelayanan kesehatan perifer serta obat yang lebih efektif yang biasanya lebih
mahal di tingkat pelayanan kesehatan rujukan, hanya akan menambah jumlah
kegagalan pengobatan, komplikasi, kasus-kasus yang dirujuk, serta mengurangi
keyakinan terhadap pelayanan kesehatan. Hal semacam ini sangat tidak dianjurkan.
Obat-obat yang digunakan untuk pengobatan IMS di semua tingkat fasilitas
layanan kesehatan harus memberikan kemanjuran paling tidak 95%. Kriteria
pemilihan obat IMS dapat dilihat pada kotak 1.

10

11

Pemberian Cephalosporins generasi ketiga yaitu cefixime 400 mg (peroral) dan


ceftriaxone 250 mg (intramuskular), keduanya sebagai single dose, menjadi terapi
pilihan utama pada infeksi gonococcal (urethra, cervix, rectum, atau pharynx) yang
belum ada komplikasi. Antimicrobial tersebut diperkirakan dapat memberikan efek
membaik pada 95% dari kasus infeksi urogenita. (efficacy terapi pada infeksi
anorectal diperkirakan sama pada infeksi urogenital).
Oleh karena co-infection dengan C. trachomatis sering terjadi, terapi harus
dikombinasikan juga dengan terapi yang sesuai dengan agen tersebut (contohnya
azithromycin atau doxycycline) yang sangat efektif dalam melawan infeksi
12

chlamydial. Pemberian terapi ganda tersebut diatakan sangat efektif dalam rangka
mengurangi kost diagnosis dimana memandangkan infeksi Chlamydia sering
menyertai infeksi gonococcal (10 hingga 30%). Infeksi gonococcal yang belum ada
komplikasi pada penderita dengan penicillin-allergic yang tidak dapat menerima
terapi quinolones dapat diberikan terapi spectinomycin.
Sekiranya gejala masih menetap, kultur terhadap kuman N. gonorrhoeaeharus
dilakukan dan sekiranya didapatkan kuman gonococcus yang lain, harus dilakukan uji
sensitifitas antimikrobial.
Prognosis
Sebagian besar infeksi gonore memberikan respons yang cepat terhadap
pengobatan dengan antibiotik. Prognosis baik jika diobati dengan cepat dan lengkap.
Pasien harus menghentikan kontak seksual sampai pengobatan selesai. Penjelasan
pada pasien mengenai sumber penyakit dan kemungkinan untuk tertular kembali serta
komplikasinya dapat menurukan angka kekambuhan. Edukasi mengenai penggunaan
kondom, pendidikan moral, agama, dan seks.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Garcia AL, Madkan VK, Tyring SK. Gonorrhea and Other Venereal Disease. In: Wolff
K, Goldsmith LA, Katz SI, editors. Fizpatrick's Dermatology in General Medicine.
7th ed. New York: Mc Graw Hill; 2008. p. 2032-2038
2. Daili SF. Gonore. In: Sjaiful Fahmi Daili WI, Farida Zubier, editor. Infeksi Menular
Seksual. Jakarta: FKUI; 2006. p. 65-71.
3. Bignell C; IUSTI/WHO. 2009 European (IUSTI/WHO) guideline on the diagnosis
and treatment of gonorrhoea in adults. Int J STD AIDS. 2009 Jul;20(7):453-7
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman Nasional Penanganan
Infeksi Menular Seksual
5. Bignell C, Garley J. Azithromycin in the treatment of infection with Neisseria
gonorrhoeae. Sex Transm Infect. 2010 Nov;86(6):422-426. Review
6. Massari V, Dorlans Y, Flahault A: Persistent increase in the incidence of acute male
urethritis diagnosed in general practices in France. Br J Gen Pract 2006, 56:110-114

14