Anda di halaman 1dari 4

KORPORASI DALAM LINGKARAN KORUPSI

RONY SAPUTRA
DIREKTUR LBH PERS PADANG
ANGGOTA INTEGRITAS SUMBAR
Sejenak kita kendorkan otak dari hiruk pikuk politik yang terjadi belakangan
ini. Saatnya kita coba kembali menyelami semangat pemberantasan korupsi
di negeri ini yang beberapa waktu diusik oleh berilaku kriminalisasi penegak
hukum. Sebagaimana kita ketahui bahwa pelaku tindak pidana korupsi tidak
saja orang perorang, tetapi juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
yang dalam bahasa undang-undang disebut dengan korporasi.
Utrecht mengartikan korporasi sebagai badan yang menurut hukum
berwenang menjadi pendukung hak atau setiap pendukung hak yang tidak
berjiwa. Satjipto Raharjo menyebutkan korporasi sebagai badan hasil
ciptaan hukum yang terdiri dari corpus, yaitu struktur fisiknya dan
kedalamnya unsur memasukkan unsur animus yang mempunyai badan dan
kepribadian, oleh karena badan hukum itu ciptaan hukum, maka oleh
penciptanya kematiannya ditentukan oleh hukum. Dalam UU No. 31 Tahun
1999 Jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan UU No. 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (PTPK), disebutkan setiap
orang adalah orang perorang dan korporasi, Korporasi diartikan sebagai
kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisasi baik merupakan
badan hukum maupun bukan badan hukum. Sebagai pendukung hak,
dikendalikan oleh kumpulan orang, memiliki tujuan/kepentingan maka
terhadap korporasi tentu bisa dimintakan pertanggungjawaban atas
perbuatan yang dilakukannya.
Dalam kenyataannya diketahui bahwa korporasi berbuat dan bertindak
melalui manusia (Pengurus atau orang lain). Jadi pertanyaan pertama
adalah bagaimana konstruksi hukumnya bahwa perbuatan oleh pengurus
(orang lain) dapat dinyatakan sebagai perbuatan korporasi yang melawan
hukum pidana? Pertanyaan kedua bagaimana konstruksi hukumnya bawha
pelaku korporasi dapat dinyatakan mempunyai kesalahan dan karena itu
dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana? Berhubung dalam hukum
pidana Indonesia dikenal asas tidak dapat dipidana apabila tidak ada
kesalahan
Dalam pertanggungjawaban pidana pidana korporasi, setidaknya ada 3
(tiga) model pertanggungjawaban, yaitu pengurus korporasi sebagai
pembuat dan penguruslah yang bertanggung jawab; korporasi sebagai
pembuat dan penguruslah yang bertanggung jawab; dan korporasi sebagai
pembuat dan juga sebagai yang bertanggung jawab. Ketiga ajaran di atas
dianut oleh UU PTPK. Hal ini bisa ditemukan dalam Pasal 20 Ayat (1) UU
PTPK. Pasal ini menegaskan bahwa terkait dengan tindak pidana korupsi
yang dilakukan oleh korporasi, maka pertanggungjawaban bisa dimintakan
kepada pengurus, korporasi atau pengurus dan korporasi.

Alasan pembenar dimintakannya pertanggungjawaban pidana korporasi


adalah: pertama, karena dalam berbagai tindak pidana ekonomi dan fiskal,
keuntungan yang diperoleh korporasi atau kerugian yang diderita
masyarakat dapat sedemikian besar, sehinggi tidak akan mungkin seimbang
bila pidana hanya dijatuhkan pada pengurusnya saja; kedua, dengan hanya
memidana pengurus saja, tidak atau belum ada jaminan bahwa korporasi
tidak akan mengulangi tindak pidana lagi, dengan demikian memidana
korporasi dapat menaati peraturan yang bersangkutan. Selain itu pada
tahun 1990 dalam Kongres PBB ke-8 menegaskan agar ada tindakan
terhadap perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam perkara korupsi.
Selain itu dalam dokumen kongres PBB Ke-9 tahun 1995 di Kairo
menegaskan lagi perihal korporasi sebagai subjek dalam tindak pidana
korupsi, yang intinya korporasi, asosiasi kriminal atau individu mungkin
terlibat dalam penyuapan para pejabat untuk berbagai alasan yang tidak
semuanya bersifat ekonomis. Namun dalam banyak kasus, masih saja
penyuapan digunakan untuk mencapai keuntungan ekonomis. Tujuannya
ialah membujuk para pejabat untuk memberikan berbagai bentuk perlakuan
khusus/istimewa, antara lain: a). memberi kontrak, b).
mempercepat/memperlancar ijin, dan c). membuat pengecualianpengecualian atau menutup mata terhadap pelanggaran-pelanggaran
aturan.
Namun sejak UU PTPK disahkan, tercatat baru ada 2 (dua) kasus yang
korporasi dimintakan pertanggungjawaban pidana padahal dari banyak
kasus korupsi yang diungkap dipersidangan, banyak yang sebenarnya
melibatkan korporasi sebagai subjek pelaku tindak pidana korupsi. Kasus
tindak pidana korupsi pertama yang terdakwanya adalah korporasi adalah
kasus tindak pidana korupsi penyalahgunaan Pasar Sentra Antasari
Banjarmasin pada 2010. Perkara yang penyidikannya ditangani oleh Kejati
Kalimantan Selatan yang kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari)
Banjarmasin hingga selanjutnya disidangkan di Pengadilan Tipikor
Banjarmasin dengan menjadikan PT Giri Jaladhi Wana sebagai Terdakwanya.
Kemudian kasus kedua adalah perkara tindak pidana korupsi penggunaan
jaringan frekuensi radio 2,1 GHz/3G oleh PT Indosat Tbk dan PT IM2. Dalam
perkara ini PT Indosat dijadikan sebagai tersangka/Terdakwa.
Tindak pidana dalam UU PTPK yang dapat dimintakan pertanggungjawaban
pada korporasi adalah tindak pidana yang dapat merugikan keuangan
negara, tindak pidana suap menyuap, dan tindak pidana perbuatan curang.
Namun lagi-lagi kita tidak menemukan dalam praktik bahwa korporasi
dimintakan pertanggungjawaban oleh penuntut umum. Hal ini tentu
berakibat pada semakin leluasanya korporasi yang jelas-jelas mendapatkan
keuntungan besar bebas dari tanggungjawab.
Pada kasus sederhana misalnya terkait dengan korupsi pengadaan barang
dan jasa yang bisanya melibatkan pihak ketiga yaitu korporasi/perusahaan.
Pada kasus di atas sangat memungkinkan menarik korporasi sebagai subjek
yang dapat dimintakan pertanggungjawaban, karena setiap tindakan
pengurus/pimpinan perusahaan bisa dipastikan untuk dan atas nama

korporasi. Dalam kasus lain, misalnya suap menyuap dalam kasus pajak,
bendahara perusahaan yang memberi suap supaya pajak perusahaannya
bisa lebih murah, terhadap perusahaannya/korporasinya haruslah juga
dimintakan pertanggungjawaban, karena dengan perbuatan bendahara
telah menguntungkan dan untuk kepentingan perusahaan.
Pada Kasus suap wisma atlet SEA GAMES yang menjerat Mindo Rosalina
Manulang, seharusnya penyidik, penuntut umum juga menjerat PT Anak
Negri sebagai korporasi, karena suap yang dituduhkan kepada Mindo
Rosalina Manulang tidak bisa dilepaskan dari jabatannya sebagai Direktur
Pemasaran PT Anak Negri dan besar kemungkinan tindakan suap itu
dilakukan untuk kepentingan PT Anak Negri. Dengan tidak ditariknya PT
Anak Negri, maka korporasi itu tentu akan tetap bisa beroperasi dan
melakukan usaha-usaha yang mungkin saja akan dapat merugikan
keuangan negara dikemudian hari.
Terkait dengan korporasi ditarik sebagai subjek yang dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidana dalam kasus korupsi memang masih menjadi
perdebatan terutama dalam praktik, perdebatan ini terjadi karena dalam
Pasal 20 ayat (7) UU PTPK terhadap Korporasi pidana pokok yang dapat
dijatuhkan adalah pidana denda dengan ketentuan maksimum ditambah
1/3. Namun harus dipahami bahwa selain pidana pokok juga ada pidana
tambahan, pada wilayah inilah penuntut umum dan hakim dapat
memberikan efek jera pada korporasi yang korupsi. Sebagaimana yang
diatur dalam Pasal 18 UU PTPK, pidana tambahan bisa berupa pencabutan
seluruh atau sebagian hak-hak tertentu. Atau dalam dengan menjatuhkan
sanksi yang lebih progressif yaitu melarang pengurus mendirikan atau
menjalankan korporasi dalam jangka waktu tertentu, memerintahkan
korporasi untuk melakukan pekerjaan sosial, menghukum korporasi untuk
mengembalikan kerugian keuangan negara termasukmengganti seluruh
biaya negara yang telah terpakai selama proses hukum.
Diakhir tulisan ini, penulis berfikir bahwa sudah saatnya seluruh korporasi
baik pengurus, korporasi atau pengurus dan korporasi yang terlibat dalam
tindak pidana korupsi di mintakan pertanggungjawaban pidananya, karena
dalam tindak pidana korupsi, korporasi adalah pihak yang paling
diuntungkan, kurang adil rasanya jika pertanggung jawaban itu hanya
dibebankan kepada person/orang secara individu di dalam korporasi atas
tindakpidana yang dilakukan oleh korporasi.