Anda di halaman 1dari 6

Metallogenic Province Timah Di Indonesia

Sejarah Timah bermula dari upaya metalurgi pertama ciptaan manusia , yakni
proses pencampuran yang menghasilkan perunggu, suatu proses yang memanfaatkan
tembaga dan timah. Tembaga adalah logam yang telah dikenal oleh manusia sejak
12.000 tahun SM dan dipergunakan secara luas di Mesir , sementara timah merupakan
logam yang di ketahui bersamaan dengan proses pencampuran itu, tidak diketahui dari
mana sebenarnya sumber bijih timah didapat pada masa itu. Bahkan banyak ahli
menyatakan bahwa proses penciptaan perunggu terjadi dengan melebur bijih tembaga di
wilayah wilayah yang secara alamiah cebakan bijih tembaganya juga mengandung
bijih timah(Batmen,1950)Proses metalurgi yang secara tidak sengaja ini sangat
dimungkinkan karena beberapa cadangan tembaga di Asia Kecil memang berasosiasi
dengan Timah, seperti diwilayah Turki Utara, Armenia Selatan, Iran.
The Southeast Asia Tin Belt (sabuk Timah Asia tenggara ) membentang mulai
dari Burma Tengah( Negara bagian Shan sebelah selatan) hingga Tenasserim dan
berlanjut ke selatan meliputi Thailand Barat, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya
Barat, ke gugusan pulau Karimun kundur, Singkep, Bangka, Belitung, Pulau
Kalimantan, berakhir diKalimantan Barat.Penamaan Tin Belt, member arti bahwa dari
segi geologi, daerah timah di Indonesi mempunyai kesamaan dengan geologi daerah
Semenanjung Malaya maupun Thailand.Jalur timah Asia Tenggara ini pada bagian
wilayah Indonesia, dua pertiga bagiannya berada di dasar laut, dengan sisa sisa
daratan berupa sederetan pulau pulau yang bertebaran sejak pulau Karimun, Kundur,
Singkep, Bangka hingga Pulau Belitung dan pulau Karimata. Secara geografis
merupakan gugus pulau yang terletak antara 98T 110T dan 3U 9S. Endapan timah di
Indonesia merupakan endapan sekunder yaitu berupa alluvial.Secara geologi cadangan
timah di Indonesia terutama terdapat dalam rangkaian kepulauan Karimun, Kundur,
Singkep, Bangka , Belitung. Namun demikian juga sangat mungkin secara geologis pula
timah terdapat di Kepulauan Riau, Riau Darat, Aceh, Jambi, dan Palembang walaupun
sebagian besar timah di wilayah tersebut tidak mencapai jumlah yang ekonomis untuk
ditambang.

Genesa Timah

Secara umum endapan timah berdasarkan genesanya terdiri dari endapan timah primer dan
endapan timah sekunder. Genesa endapan timah primer terbentuk akibat dari intrusi batuan granit
biotite , dan pada daerah kontak batuan endapan malihan biasanya berasosiasi dengan tourmaline
dan urat kuarsa timah pada zaman Triasic atas. Proses terbentuknya bermula dari adanya tekanan
panas dari dalam bumi (Pneumatik hydrothermal) yang menyebabkan cairan magma yang bersifat
asam mengandung gas SnF4 menerobos dan mengisi celah-celah rekahan, kemudian kontak dengan
lapisan tanah penutup yang berupa pasir, lanau, ataupun schist dan membeku secara perlahanlahan maka terjadilah reaksi kimia dasar yang membentuk endapan timah primer.
SnF4 + 2H2O
SnCl4 + 2H2O

SnO2 + 4HF
SnO2 + 4Cl

SnO2 yang dikenal dengan kasiterite, merupakan senyawa Sn yang utama. Seiring proses
pembekuan mulailah terbentuk mineral-mineral ikutan, seperti : monazite (CeLaYTh), ilmenite
(FeTiO3), xenotime (YPO4), zircon (ZrSiO4), tourmaline (HgAl3(BOH)), dan sebagainya. Dalam
proses kelanjutan dialam tropis yang panas dan lembab akan terjadi proses pelapukan, baik secara

mekanik ataupun kimiawi yang kemudian berlanjut dengan proses erosi. Hasil pelapukan tersebut
diangkut oleh air hujan lewat sungai-sungai dan terendapakan sepanjang aliran sungai dan lembah.
Kasiterite sebagai mineral berat akan terendapkan lebih dulu, sedangkan kwarsa, zircon, monazite,
ilmenite, dan xenotime sebagai mineral yang lebih ringan akan mengendap kemudian.
Proses pengendapan yang menghasilkan timah sekunder dapat dibagi tiga tahapan, yaitu :
Tahapan Pendahuluan ( Early Stage )
Terbentuk karena proses pelapukan kimiawi yang dilanjutkan dengan proses pengendapan.
Pada tahap ini terbentuk Primitive Placer Deposit yang pada umumnya diketemukan pada
kedalaman

0 10 meter dari permukaan tanah. Primitive Placer Deposit terdiri dari:

a. Residual Deposit, adalah endapan yang terjadi akibat pelapukan batu induk dan tidak mengalami
pengangkutan.
b. Elluvial Deposit, adalah endapan hasil pelapukan yang dilakukan oleh air hujan tetapi belum
diangkut oleh air hujan.
c. Colluvial Deposit, adalah endapan hasil pelapukan yang terjadi akibat peluncuran tanah, tetapi
pada suatu tempat yang agak rata terhenti, lalu diikuti oleh proses pengayaan
d. Kaksa, adalah endapan biji timah yang langsung berada diatas batuan dasar.
Tahapan Pertengahan ( Middle Stage )
Pada tahap ini mineral yang telah lapuk diangkut dan diendapkan sehigga membentuk
endapan alluvial yang biasa diketemukan pada kedalaman kurang dari 30 m. Endapan alluvial
tersebut meliputi:
a. Mincan, adalah endapan timah yang berada diantara dua over burden dan membuat seolah-olah
orebody ini melayang.
b. Kaksa, adalah endapan bijih timah yang langsung berada diatas batuan dasar ( granit).
Tahapan Lanjut ( Advanced stage )
Pada tahap ini material yang diangkut dan diendapkan mengalami proses pengendapan
kembali akibat perubahan muka air laut selama masa Pleistosen, sehingga membenuk Modern
Placer Deposite yang meliputi antara lain :

a. Alluvial Deposite, adalah endapan yang telah mengalami transportasi yang relatif jauh, baik yang
disebabkan oleh air hujan maupun oleh aliran sungai yang kemudian diendapkan didaerah
lembah sungai. Ciri dari bentuknya ,mempunyai butiran yang halus dan membulat.
b. Beach Deposite, adalah endapan hasil pelapukan yang diangkut oleh air hujan dan aliran air
sungai, lalu diendapkan dipantai dengan bantuan ombak laut.
Lapisan endapan kaksa ini biasanya terdapat pada lembah - lembah sungai purba, dimana
merupakan hasil erosi pada granit. Tipe-tipe endapan timah kaksa antara lain:
a. Endapan Kaksa Dangkal, yaitu dengan kedalaman maksimal 5 meter, ketebalan lapisan tanah
penutup sekitar 3 meter dan ketebalan lapisan timah 2 meter.
b. Endapan Kaksa Agak Dalam, yaitu dengan kedalaman 3 13 meter, ketebalan lapisan tanah
penutup sekitar 10 meter dan ketebalan lapisan timah 3 meter.
c. Endapan Kaksa Dalam, yaitu dengan ketebalan 10 20 meter, ketebalan lapisan tanah penutup
sekitar 15 meter dan ketebalan lapisan timah 5 meter,.
d. Endapan Kaksa Sangat Dalam, yaitu dengan ketebalan < 20 meter, ketebalan lapisan tanah
penutup sekitar 30 meter dan ketebalan lapisan timah 10 meter.
Endapan alluvium muda yang mengandung lapisan timah mincan juga dijumpai di daerah
Bemban dengan penyebarannya sesuai dengan arah lembah. Endapan ini sering terdapat pada atas
endapan alluvium tua. Ciri khas endapan ini adalah kandungan bahan organik yang berwarna hitam
dan bersifat humus, terdapat pada jenis tanah lempungan atau pasir lepas. Pasir ini berbutir kasar
tetapi jarang dijumpai fragmen-fragmen yang berukuran gravel.

Mineral Utama dan Mineral Asosiasinya


Di Pulau Bangka mineralisasi berlangsung disekitar badan granit yang berhubungan dengan
magma asam dan menembus lapisan batuan sedimen (disebut intrusi granit) sehingga deposit
ditemukan di daerah kontak (Contact Zone). Dalam proses kelanjutannya terjadi proses pelapukan
baik kimiawi maupun mekanis, yang kemudian berlanjut dengan proses erosi, dan tertransportasi
lewat sungai. Bijih timah terdiri dari mineral Cassiterite (SnO 2) sebagai mineral utama dan selalu
diikuti pula oleh beberapa mineral assosiasi serta sekelompok gangue mineral.

a. Mineral utama
Mineral utama bijih timah adalah Cassiterite (SnO 2). Mineral ini secara alami terbentuk dari
proses hydrothermal magmatik. Timah di Indonesia (Bangka, Belitung, Singkep, dan sekitarnya)
pada umumnya merupakan timah sekunder, walaupun dibeberapa tempat ditemukan timah primer.
Bentuk dan system kristal Cassiterite tetragonal system. Warna mineral ini coklat atau hitam,
dengan ukuran butiran yang umum terdapat +200 mesh.
b. Mineral assosiasi
Mineral assosiasi yang umum terdapat dalam bijih timah pada umumnya juga merupakan
mineral sekunder, dengan proses pengkayaan atau terendapnya mineral tersebut bersamaan dengan
pengendapan timah. Mineral assosiasi yang umum terdapat dalam bijih timah berdasarkan sifat fisik
mineral dan karakteristiknya dapat ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Sifat Fisik Mineral Ikutan dan Karakteristik
No

Mineral

1. Cassiterite

Rumus Kimia

Berat
Jenis

SnO2

6,8 7,1

2.

Ilmenite

FeTiO3

4,5 5

3.

Monazite

(CeLaYTh) PO4

4,6 5,3

4.

Xenotime

YPO4

4,4 5,3

5.

Zirkon

ZrSiO4

4,2 4,7

6.

Pyrite

FeS2

4,8 5

7.

Marcasite

FeS2

4,8 5

8.

Hematite

Fe2O3

5 5,2

9.

Topaz

10. Limonite

Al2SiO4
(FOH)2
2FeO33H2O

3,5 3,6
3,6 4

Warna
Kuning, Coklat,
Kuning kemerahan,
Coklat kehitaman,
Coklat tua
Hitam besi, Hitam
keabuan
Kuning, Jaringjaring hijau
Kuning keabuabuan
Putih bening hingga
kuning, kehijauan
Kuning, Kuning
tembaga muda
Kuning tembaga
muda, kuning
keabuan
Hitam besi, abu-abu
besi
Tidak berwarna,
Merah jambu, Ungu
Coklat tua sampai

Kekerasan
Kelistrikan Kemagnetan
(SM)
67

Conduktor Non magnetic

56

Conduktor

5 5,5
45
7,5

Magnetic

Non
Magnetic
Conduktor
Non
Magnetic
Conduktor
Non
Non Magnetic
Conduktor

6 6,5

Conduktor Non Magnetic

6 6,5

Conduktor Non Magnetic

5,5 6,5
8
5 5,5

Conduktor

Magnetic

Non
Non Magnetic
Conduktor
Conduktor
Magnetic

FeOF2O3

Hitam
Hijau kehitaman,
3 3,2
Hitam
2,6
Tidak berwarna,
2,65
Bening putih
Kuning keputihan,
2,9
Coklat, Coklat
hitam
Merah, Merah
4,2 4,3 kehitaman, Kuning
tua, Coklat
4,9 5,2
Hitam bersih
3,8 4 Kuning kecoklatan

11. Tourmaline HgAl3(BOH)2S14O19


12.

Quartz

SiO2

13.

Anatase

TiO2

14.

Rutile

TiO2

15. Magnetite
16.

Siderite

FeCO3

17.

Spinel

MgAl2O3

18.

Galena

19. Wolframite
20. Colombite
21.

Tantalite

22.

Kaoline

7 7,5
7

Conduktor Non Magnetic

6 6,5

Conduktor

5,5 6

Conduktor
Magnetic
Non
Magnetic
Conduktor
Non
Non Magnetic
Conduktor
Conduktor
Magnetic

3,5 4

3,5 4,1 Biru violet, Hijau

PbS

7,4 7,6

(Fe, Mn)WO4

7,1 7,5

(Fe, Mn)Nb2O6(Fe,
5,5 - 8,2
Mn)Ta2O6
(Fe, Mn)(Nb, Ta)2O6 7,1 7,5
Al2O3.2SiO2.2H2O

2 2,6

Biru kehitaman
Hitam, Coklat,
kelabu gelap
Hitam, Hitam
kecoklatan
Hitam
Putih

Non
Non Magnetic
Conduktor
Non
Non Magnetic
Conduktor

Magnetic

5 5,5

Conduktor

Magnetic

Conduktor

Magnetic

Conduktor
Magnetic
Non
Non Magnetic
Conduktor

2 2,5