Anda di halaman 1dari 17

BAB II

SEJARAH SINGKAT IKHWAN AL-MUSLIMIN

A. Situasi Sosial Politik Mesir dan Munculnya Ikhwan al-Muslimin


Sejarah telah mencatat bahwa Mesir sejak zaman kuno 4000 tahun
SM telah mempunyai peradaban tinggi, sehingga Mesir menjadi daerah yang
mempunyai peranan penting dalam sejarah perkembangan Islam, baik zaman
modern atau pun pra modern. Peranan yang dimainkan Mesir dalam sejarah
perkembangan Islam tampak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan,
pendidikan dan kebudayaan.1
Negara Mesir terletak pada persimpangan jalan antara Asia dan
Afrika,

memiliki

proses

strategis

disamping

tanah

yang

subur,

membangkitkan minat para penakluk dan negara-negara besar pada masa


lampau. Nilai strategis Mesir bertambah lagi dengan digalinya terusan Suez
pada tahun 1869 M yang berada di bawah kontrol Inggris yang menyadari
betapa pentingnya terusan ini bagi kepentingan imperiumnya.
Agama Islam masuk ke Mesir pada masa khalifah Umar bin Khattab,
dibawah pimpinan Amr bin Ash yang menjadi gubernur pada tahun 632-660
M. Periode modern Mesir mulai tahun 1800 M, dan seterusnya merupakan
zaman kebangkitan umat Islam. Gerakan pembaharuan dimulai sejak
pemerintahan M. Ali Pasya (1765-1849 M), al-Tahtawi (1801-1873 M),
Jamaluddin al-Afghani (1837-1897 M), dan M. Abduh (1849-1905 M).2
Mesir resmi dijadikan protektorat Inggris pada tahun 1914. Namun
negeri itu telah berada di bawah pengaruh Inggris sejak seperempat terakhir
abad ke-19. Dengan demikian respons masyarakat Mesir terhadap barat telah
terlihat sejak akhir 1870-an. Kegiatan dan kunjungan Jamaluddin al-Afghani
(w.1897), pemimpin pembaharuan politik keagamaan Islam pada akhir abad
ke-19 ke Cairo dicurigai. Memang pada 1879 terjadi demonstrasi besar1

M. Chirzin, Jihad Menurut Sayyid Qutb Dalam Tafsir Dzilal, (Solo; Era Intermedia,
2001), hlm. 19.
2
Ibid, hlm. 21-24.

10

11

besaran di Cairo yang melibatkan ulama, wartawan, tuan tanah dan anggota
militer. Dua tahun kemudian, sejumlah anggota tentara Mesir dibawah
Ahmad Urabi merebut kantor kementrian peperangan dan membentuk
pemerintahan sendiri. Inggris, yang merasa memiliki Mesir, mengambil jalan
militer untuk menumpas semua kegiatan tersebut. Sejumlah tokoh, termasuk
Muhammad Abduh diusir dari Mesir. Sejak 1882, Inggris secara defacto
menguasai Mesir, walau institusi Khidiwi tetap dipertahankan. Yang jelas,
ksisis 1879-1882 telah memberikan warna politik lebih jelas kepada
kelompok elit Mesir yang risih dengan pemerintahan khidhiwi dan juga
ampur tangan eropa. Bahkan sejak tahun 1899, Mesir telah disatukan dengan
sudah sebagai kondominium Inggris.3 Langkah pertama kali yang dilakukan
Inggris setelah menumpas kegiatan tersebut adalah menghilangkan fungsi
kehidupan parlemen dan membentuk kembali tentara Mesir di bawah
pengawasan mereka, serta mengangkat para penasehat dari pihak mereka
untuk menduduki berbagai kementrian.
Pada masa Khudhiwi Abbas Hilmi yang menggantikan khudiwi
Taufik tahun 1892, timbul partai al-Hizbul Wahtahi yang dipimpin oleh
Mustafa Kamil tahun 1907. Partai ini menyebarkan semangat nasionalisme
dan persatuan seluruh rakyat sehingga dengan satu komando mengusir
Inggris dari Mesir. Pada tahun 1908 Musthafa meninggal tetapi gerakan
nasional terus berlanjut yang ditandai dengan berdirinya tiga partai nasional
dengan tujuan yang sama yaitu al-Hizbul Wathani di bawah pimpinan Abdul
Khalik Tsaurt, Hizbul Ummah di bawah pimpinan Syaikh Hasan Abdul
Razik dan Hizbul Islam di bawah pimpinan Syaikh Ali Yusuf. Setelah pecah
perang dunia I tahun 1914, Inggris mencatat Khudiqi Abbas II karena
memihak Turki dan Jerman melawan sekutu dan mengangkat Husein Kamil
sebagai gantinya, dengan demikian Inggris berhasil memutuskan hubungan
antara Mesir dan Turki. Hal ini menimbulkan kemarahan rakyat.4
3

Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Houve,
t.th.), hlm. 327.
4
Mahadi Fadulullah, Titik Temu Agama dan Politik, Analisa Pemikiran Sayyid Qutb, (Solo:
Ramadhani, 1991), hlm. 18.

12

Disisi lain, pembangunan ekonomi yang berorientasi kepada pasar


menimbulkan berbagai akibat. Disatu pihak, ekonomi Mesir menjadi
tergantung pada produk pertanian tunggal, kapas. Akibatnya pengembangan
industri lain menjadi tidak layak. Di pihak lain, ketimpangan ekonomi yang
tercipta karena industri dan tetesan uang kapas mendorong munculnya tokoh
politik dan pejuang sosial keagamaan di kalangan terpelajar. Katalis
perjuangan

nasional

mereka

sering

dihubungkan

dengan

peristiwa

penembakan burung dara oleh sekelompok tentara Inggris di pekan Binsaway


pada tahun 1906. Masyarakat Mesir dari segala lapisan bersatu mengutuk
tindakan brutal tentara yang membalas terbunuhnya seorang rekan mereka
dengan menghabisi nyawa empat petani dan menghajar puluhan lainnya.5
Pada tahun 1918, Saad Zaghlul bersama tokoh-tokoh politik Mesir
melahirkan partai Wafd (delegasi) yang kemudian mengirimkan delegasi ke
London pada bulan Nopember untuk menjelaskan situasi dan tuntutan rakyat
Mesir, tetapi delegasi itu tidak pernah mendapatkan izin meninggalkan
Mesir. Tiga tahun kemudian, kelompok nasionalis bangkit menuntut otonomi
politik kemerdekaan penuh. Hal itu ditandai dengan mengadakan
pemogokan, demonstrasi dan pergolakan. Akhirnya pada Februari 1922,
protektorat dihapuskan dan Mesir menjadi merdeka dengan beberapa syarat.
Setahun kemudian, konstitusi diumumkan dan pemerintahan Mesir
ditetapkan sebagai monarki konstitusional. Pada tiga dasawarsa pertama abad
20, gerakan nasionalis dan politik di Mesir hampir dimonopoli oleh
kelompok sekkuler. Tetapi tidak berarti kelompok Islam menjadi pasif,
namun memang mereka lebih bertumpu kepada pembaruan sosial
keagamaan. Yang jelas ketidakseimbangan inilah yang menggugah semangat
nasionalisme Hasan al-Bana dalam menyikapi keadaan sosial politik saat itu.
Hal ini dibuktikan dengan mendirikan sebuah gerakan Islam yang dinamai
dengan Ikhwan al-Muslimin dengan program yang berorientasi tegas kepada
Islam.6
5
6

Taufik Abdullah, (eds), Op.cit,


Ibid, hlm. 328.

13

Disisi lain, dalam diri individu Hasan al-Bana sendiri sudah tertanam
jiwa nasionalisme yang diajarkan oleh keluarganya juga pemahaman
mengenai agama, sehingga dalam hidupnya ia juga melakukan dakwah di
masjid-masjid, pasar dan mushalla-mushalla dengan mengajarkan syiar-syiar
Islam secara praktis.
Dengan kecerdasannya, Hasan al-Bana melihat bahwa ada beberapa
kelompok masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk menyukseskan misi
dakwahnya di jalan Allah. Masyarakat tersebut dibaginya menjadi empat
kelompok, yakni para pemuka agama, para tokoh tarekat dan tasawuf,
sesepuh masyarakat dan para pengunjung pada perkumpulan-perkumpulan.
Karena ia bersifat santun dan sopan dan kadang-kadang juga ia memberikan
hadiah seperti buku-buku keagamaan, cenderamata, maka dengan sendirinya
dapat menarik simpatik mereka dan otomatis ia diterima dengan lapang dada.
Begitulah berkat kepiawaian dan kesungguhan di awal kegiatan
dakwahnya Imam Hasan al-Bana berhasil menarik hati sebagian masyarakat,
menyatukan mereka dalam kebaikan, menghidupkan semangat yang ada
dalam dada mereka untuk menegakkan Islam sekaligus mempraktekkannya
dalam kehidupan mereka. Jalan dakwah ini berlangsung kurang lebih satu
tahun lamanya.7
Pada bulan Zulkaidah 1346 H / Maret 1928 M, ia didatangi oleh
enam orang8 yang mengaku tertarik pada kepribadiannya dan terkesan pada
pola-pola dakwahnya. Mereka menyatakan kepada Imam Hasan al-Bana
tentang ketertarikan mereka terhadap cara-cara dakwah yang al-Bana lakukan
dan mereka bermaksud menggabungkan diri. Mereka juga menawarkan
sebagian dari kekayaan yang mereka miliki untuk kepentingan tersebut.
7

Ali Abdul Halim Mahmud, Ikhwan al-Muslimin, Konsep Gerakan Terpadu, Jilid I,
(Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 25.
8
Enam orang tersebut adalah Hafidz Abdul Hamid berprofesi sebagai tukang kayu, Ahmad
al-Husyari berprofesi sebagai tukang potong rambut, Fuad Ibrahim berprofesi sebagai penyewa
dan montor sepeda dan Abdurrahman Hasbullah yang b erprofesi sebagai sopir. Kesemuanya
pekerja dari perkemahan Inggris, untuk mengetahui perkataan mereka kepada Hasan al-Bana pada
waktu ingin bergabung dapat dilihat di, Imam Ghazali Said, Ideologi Kaum Fundamentalis,
Pengaruh Pemikiran al-Maududi Terhadap Gerakan Jamaah Islamiyyah Trans Pakistan-Mesir,
(Surabaya: Diantama, 2003), hlm. 156.

14

Dengan segala senang hati, Imam Hasan al-Bana menyambut baik niat
mereka itu. Imam Hasan al-Bana kemudian mengusulkan nama Ikhwan alMuslimin bagi kelompok mereka itu. Alasan karena tujuan mereka bersatu
padu dalam sebuah persaudaraan tersebut semata-mata untuk mengabdi
kepada Islam jadi sangat tepat jika kelompok tersebut diberi nama
Persaudaraan Islam (Ikhwan al-Muslimin).9

B.

Gambaran Umum Gerakan Ikhwan al-Muslimin


Al-Ikhwan al-Muslimin yang didirikan di Mesir pada tahun 192810
adalah gerakan Islam terpenting abad ke-20 danmenjadi prototipe bagi
gerakan Islam lain di berbagai negeri mulsim. Sebagian dari prinsip ideologis
Ikhwan al-Muslimin dapat dipahami dengan latar gerakan Islam sebelumnya.
Sebelum Ikhwan al-Muslimin, gerakan salafiyah di Mesir juga menyadari
berbagai persoalan masyarakat muslim Mesir dan dunia Islam. Ikhwan alMuslimin, sebagaimana halnya salafiyah, beranggapan bahwa umat Islam
mundur dan terbelakang dibandingkan dengan negeri-negeri Barat yang
menjajah banyak negeri di dunia Islam, y ang m enjadi sumber ideologi
modern di dunia Islam. Selain itu, Ikhwan al-Muslimin juga sepakat dengan
keharusan kembali kepada sumber asli agama Islam.11 Berbeda dengan
salafiyah, gerakan ini terlibat lebih banyakd alam berbagai kehidupan
masyarakat khususnya dalam bidang dakwah, pendidikan dan berbagai
layanan sosial. hal ini dimaksudkan agar dapat menjangkau publik yang lebih
luas.12
Ikhwan al-Muslimin pada umumnya dan Hasan al-Bana pendirinya
khususnya dipengaruhi oleh tokoh pembaharu gerakan salafiyah. Dalam
kumpulan karya Hasan al-Bana Majmuah Rasail al-Imam Asy-Syahid

Abdul Halim Mahmud, Op.cit, hlm. 26.


Mochtar Efendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, (Palembang: Universitas Sriwijaya,
2001), hlm. 418.
11
harun Nasution, (Eds), Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), hlm.
411, Anggaran Dasar Ikhwan al-Muslimin, pasal II ayat F.
12
Taufik Abdullah (Eds), Ensiklopedi Tematis Hukum Islam, Dinamika Masa Kini,
(Jakarta: Ichtiar Baru Van Houve, t.th.), hlm. 87.
10

15

Hasan al-Bana, disebutkan bahwa Ikhwan al-Muslimin adalah gerakan


salafiyah karena mengajak umat kembali pada sumber agama yang paling
asli yaitu kitab suci al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Ikhwan al-Muslimin
juga mengangut berbagai ajaran tasawuf karena landasan semua kebajikan
adalah pemurnian jiwa, pembersihan hati dan kehormatan diajarkan dalam
tasawuf. Dalam perkembangan lebih jauh, Ikhwan al-Muslimin juga
mengambil alih pola hubungan syeh-murid yang dikenal dalam dunia tarekat.
Selain gerakan dakwah, menurut Hasan al-bana, Ikhwan al-Muslimin
juga merupakan pengelompokkan politik yang menuntut reformasi
hubungankekuasaan dalam tubuh umat Islam dan juga hubungan dengan
kalangan di luar Islam. Oleh karena Islam mengajak umatnya menuntut
pengetahuan, maka gerakan ini juga gerakan intelektual yang aktif dalam
bidang pelatihan dan pendidikan. Selaras dengan ini al-Ikhwan al-Muslimin
juga mendorong pemikiran sosial karena ingin mengkaji dan mengobati
berbagai penyakit masyarakat Islam. Karena agama mengajarkan umat
supaya berusaha, gerakan ini juga tidak mengabaikan usaha ekonomi.
Dengan prinsip ideologi itu, Ikhwan al-Muslimin menampilkan Islam
sebagai jalan dan sistem hidup yang komprehensif13 maksudnya gerakan ini
memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia. Sebagai agama yang
alami, Islam tidak mengabaikan aspek gerakan lain yang hanya
memperhatikan politik namun mengabaikan agama, atau kelompok tarekat
yang hanya memperhatikan soal spiritual namun mengabaikan kehidupan
sosial politik.
Selaras dengan pandangan yang komprehensif tersebut, kelompok ini
melontarkan berbagai kegiatan dalam bidang pendidikan, seperti pendidikan
ideologi (at-Tarbiyat al-Aqaidiyyah), pendidikan spiritual (at-Tarbiyah alRuhaniyah), pendidikan akhlak (at-Tarbiyat al-Khuluqiyah), pendidikan
13

Ibid, hlm. 88. Dalam pandangan al-Bana, aspek-aspek asasi dalam Islam yang
komprehensif itu meliputi ; 1. Aspek politik dalam ucapannya Islam adalah negara dan tanah air
atau pemerintah dan rakyat, 2. Aspek moralitas, aspek kultural dan ilmiah, aspek undang-undang
dan peradilan, aspek ekonomi atau amteri, aspek perjuangan, dakwah, aqidah dan ibadah.
Mengenai pendapatnya tentang aspek-aspek tersebut, lihat Yusuf Qardhwi, Menyatukan Pikiran
para Pejuang Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1993), Cet. I, hlm. 63.

16

sosial (at-Tarbiyyah al-Ijtimaiyyah) Pendidikan intelektual ((at-Tarbiyyah alAqliyyah), pendidikan politik (at-Tarbiyah al-Siyasah) dan pendidikan olah
raga (at-Tarbiyah al-Jismiyah).
Selain itu gerakan ini juga mengembangkan berbagai metode
pendidikan non formal. Salah satunya adalah usrah yang banyak diikuti dan
ditiru gerakan Islam lain, Usrah artinya keluarga.14 Namun yang dimaksud
adalah forum yang terdiri dari berberapa anggota dengan kegiatan utama
konsultasi, saling menasehati, melatih ajaran dan praktek keagamaan.
Sebagai kekuatan politik, Ikhwan al-Muslimin juga berpartisipasi
dalam politik pemilihan umum Mesir. Partisipasi pertama kali diawali pada
tahun 1940-an. Dalam periode belakangan, kelompok ini berpartisipasi dalam
politik umum di Mesir sejah tahun 1984. Namun akrena ada larangan partai
keagamaan, peran serta tersebut dilakukan melalui aliansi dengan partai lain.
Sebagai contoh, calon-calon Ikhwan al-Muslimin pada pemilihan anggota
parlemen 1984 beraliansi dengan partai Wafd, sebuah partai oposisi sekuler
di Mesir. Pada tahun 1987 bersekutu dengan partai liberal yang juga beraliran
sekuler dan menginginkan pengurangan dalam kehidupan politik dan
perluasan kebebasan politik, dan juga dengan partai buruh sosialis yang
sekuler

berlatar

belakang

ideolodi

Naserisme

yang

menginginkan

peningkatan peran negara dalam kehidupan ekonomi.


Partisipasi Ikhwan al-Muslimin dalam politik pemilihan umum
terlepas dari ciri-ciri internal gerakan ini, misalnya ideologi dan struktur
organisasinya menunjukkan bahwa partai ini dan kelompok Islam lainnya
dapat berpartisipasi dalam politik sesuai dengan prosedur demokrasi yang
ada. Dengan cara ini, gerakan sosial Islam dapat memberikan sumbangan
pada perkembangan lembaga demokrasi di lingkungannya.15

14

Ali Abdul Halim Mahmud, Wasail at-Tarbiyyat inda Ikhwan al-Muslimin, Dirasah
Tahliliyyah Tarikhiyyah, terj. Wahid Ahmadi, Fahruddin Nursam, Perangkat-perangkat Tarbiyah
Ikhwan al-Muslimin, (Solo: Era Intermedia, 1999), hlm. 126. Untuk mengetahui hakekat usrah
dalam pandangan Ikhwan al-Muslimin dapat dilihat di buku ini hlm. 126-219.
15
Lihat Mahdi Fadlullah, Loc.cit, hlm. 20.

17

Jika keberhasilan suatu gerakan sosial dilihat dari seberapa jauh


gerakan itu bebergian dari tempat asalnya, maka grerakan ini merupakan
gerakan Islam yang sangat berhasil. Selain di Mesir, Ikhwan al-Muslimin
juga menyebar ke seluruh penjuru Arabia seperti Suriah, Yordania, Sudan
dan Afrika Utara. Kadang-kadang organisasi ini diakui secara formal,
termasuk sebagai partai politik. Ini dilakukan pemerintah dalam rangka
mencari dan memperluas basis dukungan. Akan tetapi ada kalanya tidak
diakui eksistensinya secara legal, seperti di Mesir dengan undang-undang
yang melarang adanya partai keagamaan.
Ikhwan al-Muslimin dalam pikiran dan gerakannya mewakili
masyarakat Mesir yang semakin resah dengan ulah pemimpin politik dan
intelegensia sekuler. Perubahan politik yang dicapai sejak 1922 hanya lebih
menguntungkan kelompok elit. Ikhwan al-Muslimin bangun dengan program
sosial dan keagamaan yang relevan dengan masyarakat luas. Dari segi
ideologi, tidak banyak berbeda dengan gerakan pemurnian sebelumnya.
Namun kemudian lebih menonjol dengan struktur organisasi, orientasi
modernitas dan sistem aktivitasnya. Dalam pengembangan pengaruh dan
pengefektifan organisasi yang rapi dan pendukung serta anggota

yang

berdedikasi tinggi, berbagai sekolah, klinik, masjid, pusat industri dan


koperasi di kelola, seakan kelompok ini membangun jaringan otonom atau
paling tidak masyarakat mandiri. Populatirasnya semakin meningkat saat
manuver politiknya menjadi menonjol.

C. Tokoh-tokoh Ikhwan al-Muslimin dan Karya-karyanya


1. Hasan Al-Bana
Hasan al-Bana dilahirkan pada tahun 1906 (1325 H) di kota
Mahmudiyyah, propinsi Buhairoh, Mesir. Ayahnya, Syekh Ahmad
Abdurrohman al-bana, seorang ulama besar yang juga hafal al-Quran.
Sebagai anak seorang ulama, Hasan al-Bana memperoleh pendidikan
dasar keagamaannya di lingkungan keluarga. Kemudian, ia dimasukkan
ayahnya ke sekolah dasar ar-Rosyad ad-Dinniyah. pada usia 12 tahun,

18

Hasan al-bana pernah menyaksikan praktek dzikir tarekat al-Hasafiyah


yang diselenggarakan setelah sholat isya. Disitu Hasan al-Bana
merangkap kesan tetang kelapangan hati dan kesalehan orang-orang tua
serta kerendahan orang-orang muda. Sejak itulh nama syekh Hasafiyahy,
guru tarekat tersebut, melekat kuat dalam hatinya, sangat mengagumi
syekh Hasafi. Fenomena ini, kekaguman Hasan al-Bana terhadap syekh
Hasafi dan tarekatnya untuk seorang anak berusia 12 tahun merupakan
sesuatu yang luar biasa.
Pada tahun 1920 (1339 H) ia pindah ke sekolah guru, Dar alMuallimin di Damanhur. Rupanya pesona tarekat al-Hasafiyah semakin
memenuhi jiwanya. Akhirnya pada tahun 1922 ia berbaiat atau berikrar
menjadi anggota tarekat tersebut. Setahun kemudian (1923) ia pindah ke
sekolah Dar al-Ulum Kairo. Ia menyelesaikan belajarnya di Dar al-Ulum
pada tahun 1927., kemudian ia diangkat menjadi guru di salah satu
sekolah di kota Ismailiyah, sekitar terusan suez. Selain mengajar, ia pun
mulai mengembangkan kegiatan dakwah yang lebih terorganisir.
Sebagaimana diketahui, sejak di bangku sekolah ia telah merintis
kegiatan dakwah dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan yang kurang
terorganisir. Akhirnya pada tahun 1928 bersama enam orang temannya,
ia berhasil membentuk perhimpunan al-Ikhwan al-Muslimin.16 Yaitu
suatu gerakan yang memperjuangkan ajaran Islam sebagai ajaran dasar
dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.17
Pada tahun 1932, Hasan al-Bana pindah ke Kairo, Ibu Kota
Mesir, bersama dengan markas umum Ikhwan al-Muslimin. Di pusat
kegiatannya yang baru ini, bersama orang-orang terdekatnya, ia kerap
kali mengadakan perjalanan rutin ke berbagai propinsi dalam
mengembangkanmisinya. Sampai akhirnya ide dan semangat Ikhwan alMuslimin tersebut ke seluruh Mesir. Semangat keislaman Hasan al-bana
16

Harun Nasution, (eds)., Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), hlm.

304.
17

Mokhtar Efendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, (Palembang: percetakan Universitas


Sriwijaya, 2001), Cet. II, hlm. 309.

19

agaknya memperlihatkan sesuatu yang khas. Ia memiliki pengertian yang


khusus tentang Islam. Menurutnya, sungguh keliru anggapan yang
menyatakan Islam hanya terdiri dari aspek rohaiah dan ibadah.
Sesungguhnya ia menegaskan bahwa Islam tidak hanya doktrin agama
yang menyangkut aspek kerohanian dan penyembahan, melainkan juga
meliputi semangat kebangsaan, tanah ari, pedang dan tentu saja alQuran.
Semangat dan pemahaman keislaman seperti inilah yang
dijadikan tema utama dakwahnya. Dalam hal aqidah dan syariat, selain
ia mengajak umat untuk kembali kepada sumber utama Islam, al-Quran
as-Sunnah juga berusaha menghapuskan pertentangan-pertentangan
madzhab, terutama dalam madzhab fiqh. Sikap dan pandangan Islam
Hasan al-Bana yang moderat namun tegas ini agaknya sangat
dipengaruhi oleh keluasan sumber bacaan dan semangat sufistiknya,
sesungguhnya sejak kecil semangat bocahnya sudah tumbuh terutama
atas pengaruh dan bimbingan ayahnya. Selain pengetahu7an keislaman
dan riwayat Nabi, ia juga sangat menggemari karya-karya sastr5a,
termasuk cerita rakyat dan kepahlawanan. Bahkan ia banyak juga
membaca buku teoritis yang menyangkut berbagai disiplin modern,
seperti psikologi, ilmu hukum, ilmu pendidikan dan etika juga filsafat
dan logika.18
Untuk membantu mekanisme perjuangan Ikhwan al-Muslimin
Hasan al-Bana menerbitkan sebuah mingguan, al-Muslimin, dan majalah
an-Nazir. Selain melalui ceramah dan pertemuan-pertemuan melalui
media tersebutlah ia menyarakan semangat dan orientasi perjuangannya.
Setelah tersebar ke seluruh wilayah Mesir, Hasan al-Bana menghendaki
Ikhwan al-Muslimin menjadi gerakan internasional. Karena itu sejak
tahun 1940-am gerakan ini meluaskan wilayahnya ke seluruh dunia Arab.
Bahkan ia mengirimkan perutusannya ke berbagai negara Islam. Hasan
al-Bana tewas pada 12 Februari 1949 tepatnya pukul 21.00 waktu

20

setempat oleh dua orang agen rahasia pemerintah ketika ia keluar dari
kantor Syubbanul Muslimin di Kairo.19 Peristiwa ini terjadi pada masa
Ibrahim Abdul Hadi yang menggantikan Nuqrasy sebagai perdana
menteri dengan bekerjasama dengan istana dan agen rahasia imperialis
Inggris.

Setelah

tewasnya

al-Bana

terjadilah

penangkapan

dan

penyiksaan serta pembunuhan besar-besaran kepada anggota Ikhwan alMuslimin.20

2. Sayyid Qutb
Pada hakekatnya tidak ada sumber yang jelas untuk mengetahui
kelahiran Sayyid Qutb ataupun permulaan hidupnya. Akan tetapi
karangannya Thiflun Min al-Qoryah adalah sebuah literatur yang
mengisahkan kehidupannya.
Sayyid Qutb masuk sekolah tingkat dasar di desanya ketika
berusia 6 tahun dan ia menamatkan belajarnya selama 4 tahun. Sesudah
itu ia terpaksa diam di rumahnya selama 2 tahun karena meletusnya
pemberontakan Saad Zaghlul yang menghalangi kepergiannya ke Kairo.
Untuk tinggal di tempat saudara laki-laki ibunya demi melanjutkan
belajarnya, mengingat alat transportasi pada waktu itu terputus. Bila
pemberontakan Saad Zaghlul berkecamuk pada tahun 1918 dan
18

Harun Nasution, Op.cit,


Peristiwa terbunuhnya jam 08.15, ketika itu Imam al-Bana keluar ditemani oleh shahabat
karibnya al-Ustadz Abdul Karim Mansur SH menuju taksi yang telah dipesan sebelumnya, dan alLaitsi mengantarkannya sampai ke pintu. Tiba-tiba muncullah pesuruh kantor Jamiyyah asSyubban berkata kepada al-laitsi Ada telepon untuk tuan yang menanyakan hasil pembunuhan alBana. Al-Laitsi bergegas masuk ke rumah dan tiba-tiba lampu di seluruh jalan Ramses itu padam,
dan Imam al-Bana melihat bahwa sekelilingnya telah menjadi gelap. semua orang yang berada di
kedai-kedai kopi di pinggir jalan itu diperintahkan meninggalkan tempat-tempat tersebut,
sementara itu, jalur lalu lintas yang seyogyanya melalui jalan Ramses dialihkan, sehingga Imam
al-bana tidak mendapatkan taksi lain kecuali yang saat itu sudah berada di dekat kantor Jamiyyah
Syubban. Begitu Imam al-Bana diiringi shahabatnya, Dr. Abdul Karim Mansur masuk ke dalam
mobil terdengarlah letusan senapan yang ditembakkan oleh orang-orang jahat dari kegelapan.
Setelah menembak mereka langsung kabur dengan mobil hitam milik polisi dengan nomor 9979.
Lebih jelas, lihat Abdul Mutaal al-Jabari, Pembunuhan Hasan al-Bana, (Bandung: Pustaka,
1986), hlm. 161-175.
20
Imam Al-Ghazali Said, Ideologi Kaum Fundamentalis, Pengaruh Pemikiran Politik alMaududi terhadap gerakan jamaah Islamiyyah Trans Pakistan-Mesir, (Surabaya: Diantara, 2003),
hlm. 167.
19

21

berkelanjutan sampai akhir tahun 1920, maka bisa ditentukan bahwa


Sayyid Qutb dilahirkan pada tahun 1906.21
Ia adalah Sayyid Ibn Haji Qutb ibn Ibrahim, dilahirkan dalam
asuhan keluarga yang sederhana di desa Koha terletak di propinsi Asyyut. Ayahnya seorang beragama dan cukup terpandang diantara
penduduk desa itu. Ia seorang anggota partai nasional yang dipimpin oleh
Mustafa Kamil. Adapun ibunya adalah seorang taat beragama sebagai
keturunan dari keluarga yang terkenal. Ia memperhatikan pendidikan
Sayyid, penuh kasih sayang kepadanya dengan menanamkan hasrat dan
cita-cita serta menggoreskan rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan dalam
jiwanya. Dia mempunyai dua orang saudara perempuan dan seorang adik
laki-laki.22
Masa kehidupan Sayyid Qutb dapat dibagi menjadi empat
periode. Periode pertama, sejak lahirnya sampai tahun 1919, de3ngan ciri
khas pendidiikan agama yang diambil dari kedua orang tuanya dan dari
sekolah yang ada di desanya, dia telah hafal al-Quran dengan sempurna
pada usia sepuluh tahun.
Periode kedua, antara tahun 1920-1935 dimana ia pergi ke Kairo
menyelesaikan studinya di Madrasah Tsanawiyah, kemudian masuk ke
fakultas Darul Ulum dan keluar dengan berijazah dalam jurusan bahasa
dan sastra Arab. Empat tahun setelah itu ia mempelajari sejarah,
geografi, sastra arab, bahasa Inggris, ilmu sosial, ilmu pendidikan, ilmu
pasti, fisika dan yang terakhir agama.
Periode ketiga, antara tahun 1939-1951 yang memberikan
gambaran tentang awal perubahan menuju ideologi Islam. pada tahun
1939 ia menerbitkan sebuah makalah dalam majalah al-Mukhtatif dengan
tema taswiru al-Fanni Fi al-Quran yang mengungkapkan keindahan seni
pada beberapa ayat serta kemukjizatannya. Pada tahun 1945 muncul dua
buah bukunya al-Taswir al-Farni fi al-Quran danmasyahid al-Qiyamah fi
21

28.

Maududi Fadullah, Titik Temu Agama dan Politik, (Solo: Ramadhani, 1991), Cet. I, hlmn.

22

al-Quran. Ia mengatakan terus terang bahwa al-Quran telah menawan


dan menyulapnya karena susunannya yang mengagumkan serta isinya
yang rapi lagi menyeluruh.23 Pada tahun 1949 ia mengkritik kebudayaan
modern, ia mengatakan bahwa kebudayaan modern itu kebudayaan
materialis yang kosong dari nilai-nilai rohani. Pada tahun 1949 ia pergi
ke Amerika Serikat sebagai utusan kebudayaan dalam rangka mengkaji
sistem pendidikan. Ia tinggal disana selama dua setengah tahun dengan
berpindah-pindah antara Washington dan California. Sewaktu disana ia
mengirim surat kepada kawannya Taufik al-hakim yang isinya
mengkritik kebudayaan Amerika yang bertentangan dengan nilai-nilai
rokhani.
Periode keempat antara mulai tahun 1951-1965, dimana ia
mencapai puncak ketinggian sastranya danikut serta dalam kelompok alIkhwan al-Muslimin sebagai ahli fikir dalam partai yang ide-idenya
sangat dihargai (menjabat sebagai seksi dakwah). Kendatipun ia belum
menjabat sebagai pemimpin, karena ia harus menjadi anggota dalam
waktu yang lama, ia mengajak mereka agar kembali menuju ideologi
Islam seperti dimuat dalam surat kabat al-Ikhwan al-Muslimin, yang
pada tahun 1954 pimpinan redaksinya dipecat.
Sayyid Qutb percaya penuh dengan pikirannya yang mendorong
untuk merealisir idenya. Ia ikut serta dalam partai al-Ikhwan alMuslimin, yang pada tanggal 27 Oktober 1954 dituduh berusaha untuk
menggulingkan presiden Gamal Abdul Naser, shingga ia ditanggap dan
dipenjarakan bersama kawan-kawannya selama 15 tahun dengan
dipekerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar. tetapi ia hanya menjalani
hukuman selama 10 tahun di limantarah beberapa mil dari Kairo dan
sisanya sebagai grasi atas permohonan presiden Irak pada waktu itu yang
bernama Abdul Salam Arif secara pribadi kepada Presiden Galam Abdul
Naser ketika ia berkunjung ke Kairo pada tahun 1964.
22
23

Ibid, hlm. 29.


Ibid, hlm. 33.

23

Sayyid Qutb menulis bukunya dalam berbagai judul, baik sastra,


sosial, pendidikan, politik, filsafat, maupun agama. Karya-karyanya telah
dikenal secara luas dunia Arab dan Islam. Jumlah karangannya telah
mencapai 24 buku diantaranya fi dzilalil Quran dalam tiga puluh juz.,
selain buku-buku yang tidak kita ketahui sampai sekarang.
Buku-buku tersebut bisa diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Buku-buku sastranya bersifat mengkritik meliputi :
1) Muhimmat al-Syair fi al-Hayat (1932)
2) Al-Taswir al-Kanni Fi al-Quran (1945)
3) Masyahid al-Qiyamah Fi al-Quran (1945)
4) Al-Naqdu al-Adabi; Ushuluhu Wa manahijuhu
5) Naqdu Kitabi Mustaqbali al-Tsaqafah Fdi al-Misri
b. Buku-buku Cerita
1) Thiflun min al-Qoryah (1945)
2) Al-Athiyafu al-Arbaah (kerjasama)
3) Asywak
4) Al-Madinah al-Mashurah
c. Buku-buku pendidikan dan pengajaran
1) Al-Qashashu al-Dini (kerjasama dengan Abdul Hamid Jaudah)
2) Al-Jadid fi al-Lughah al-Arabiyah (Kerjasama dengan orang
lain)
3) Al-Jadid fi al-Mahfudzat
d. Buku-buku agama
1) Al-Adalah al-Ijtimaiyyah (1948)
2) Maarakatu al-Islam wa Rasamaliyah (1950)
3) Al-Salamu al-Alami Wa al-Islam (1951)
4) Nahwa Mujtamain Islami (1952)
5) Fi Dzilal al-Quran (1953-1964)
6) Khasaishu al-Taswir al-Islam
7) Al-Islam wa Musykilat al-Hadlarah
8) Dirosat al-Islamiyah

24

9) Hadza al-Din
10) Al-Mustakbalu lihadza al-Din
11) Maalim fi al-Thariq (1965).

3.

Yusuf al-Qardhawi
Ia lahir di desa Shaf al-Thurab, Mesir bagian barat, pada tanggal
9 September 1926.24 Sejak usia dua tahun, ia telah ditinggal wafat
ayahnya dan diasuh oleh pamannya, sehingga Yusuf menganggap
pamannya sebagai ayahnya sendiri.
Ia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang taat
beragama. Ketika umurnya menginjak usia lima tahun, ia mulai
menghafal al-Quran dan hafal semuanya saat usianya belum genap
sepuluh tahun. Lantaran suaranya yang merdu dan bacaannya yang fasih,
Yusuf Qardhawi yang masih belum dewasa itu sering disuruh menjadi
imam, terutama untuk shalat jahirah, yaitu shalat maghrib, isya dan
subuh.25
Seusai menamatkan pendidikannya di Mahad tantha dan mahad
sanawi,

26

Yusuf melanjutkan studinya ke fak. Ushuluddin, Universitas

Al-Azhar Kairo.l Kecerdasannya mulai tampak ketika ia berhasil


menyelesaikan kuliahnya tersebut dengan predikat lulus terbaik tahun
1952/1953.27 Kemudian melanjutkan pendidikan ke jurusan khusus
bahasa Arab di Al-Azhar selama dua tahun.
Yusuf Qardhawi bergabung dengan al-Ikhwan al-Muslimin,
sebagai gerakan Islam modern terbesar, sekaligus pusat pembaharuan
keislaman dan aktivitas islami sejak duduk di tingkat akhir sekolah dasar

24

Yusuf Qardhawi, Pasang Surut Gerakan Islam ke Arah Perbandingan, (Jakarta: Media
Dakwah, 1987), hlm. 93.
25
Yusuf Qardhawi, Fatwa-fatwa Komtemporer, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm.
154.
26
Ibid
27
Ibid

25

atau sekolah menengah di kota Tanta.28 Di awal 1946, al-Ikhwan alMuslimin memusatkan kegiatan para pelajar yang disponsorinya di
berbagai universitas, sekolah al-Azhar dan sekolah lanjutan lainya untuk
memperkuat dukungan terhadap masalah nasional serta memperluas
gerakan mengutuk penjajah Inggris.
Semenjak usia

muda, Yusuf

al-Qardhawi telah banyak

mewariskan karya tulis, baik yang sudah dicetak atau masih dalam
bentuk manuskrip, karena ia termasuk penulis produktif. Beberapa
karangan kitab beliau meliputi berbagai bidang, yakni :
a.

Tentang fiqih dan ushul fiqh


1) Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam
2) Fatawa al-Mutsirat Juz I
3) Fatawa al-Mutsirat Juz II

b.

Tentang Ekonomi Islam


1) Fiqh Zakat (2 juz)
2) Muskilat al-Fiqr wa Kafa alajaha al-Islami
3) Bai al-Murabahat li al-Amri bi al-Shira

c.

Tentang Ilmu al-Quran dan al-Sunnah


1) Al-Sabru fi al-Quran
2) Al-Aqlu wa al-Ilmi fi al-Quran
3) Kayfa Nataammal Maa al-Quran al-Adzim
4) Kayfa Nataammal al-Sunnah al-Nabawiyyah

d.

Tentang Aqidah al-Islamiyyah


1) Wujud Allah
2) Hakikat al-Tauhid

e.

Tentang Fiqh Ibadah menurut Al-Quran dan Al-Sunnah

28
Ketika itu al-Qardhawi diundang oleh organisasi pelajar cabang Ikhwan al-Muslimin di
Thanta untuk ikut memeriahkan acara kebudayaan dengan membacakan puisi yang bertema
keislaman. Dengan senang hati al-Qardhawi memenuhi undangan tersebut dan untuk pertama
kalinya naik di atas mimbar Ikhwan untuk membacakan puisi yang dibuatnya sendiri. Sejak itulah
al-Qardhawi menganggap dirinya sebagai salah seorang anggota Ikhwan. Kemudian setelah itu ia
diangkat sebagai salah satu anggota seksi dakwah yang dipimpin oleh seorang dai besar, Al-Bahi
al-Khulli.

26

1) Al-hayat al-Rabaniyyat wa al-Ilmi


2) Al-Niyat wa al-Ikhlas
3) Al-Tawakkul
f.

Tentang Dakwah dan Pendidikan


1) Thaqafat al-Daiyyah
2) Al-Tarbiyah al Islamiyah wa Madrqasah Hasan al-Bana
3) Al-Rasul wa al-Ilmi

g.

Tentang bimbingan Kebangkitan dan Gerakan Islam.


1) al-Syahwat al-Islamiyyat Bayna al-Juhud
2) Al-Syahwat al-Islamiyyat Bayna al-Ikhtilaf al-Mishri wa
Tafarruq al-Madzmim
3) Al-Syahwat al-Islamiyyat wa al-Humum al-Wathan al-Arabi alIslami

h.

Tentang silsilah : Kepastian intisari Islam.


1) Al-Hulul al-Mustawridat wa Kayfa al-Junnat ala Ummatina
2) Baynat al-Hill al-Islami wa Shubuhat al-Ilmaniyyin wa alMustaqribin
3) Al-Hill al-Islami Faridat wa al-Darurat.

i.

Tentang Persatuan Pola Pikir para pekerja menurut Islam.


1) Shum al-Islam
2) Al-Marjiyyat al-Ulya Fi al-Islam li al-Quran wa al-Sunnah
3) Mawqif